Posts from the ‘MOZAIK MANAJEMEN’ Category

RAHASIA BISNIS ORANG PADANG


Oleh : Bustami Narda *

images(1)   ORANG PADANG DAN ORANG MINANG
Kalau kita berada di Jakarta, di Surabaya, di Medan sekali pun, setiap orang yang berasal dari Provinsi Sumatra Barat(Sumbar) akan dikatakan orang dengan sebutan orang Padang. Dari kabupaten atau kota mana pun di Sumbar asalnya, orang akan mengatakan dia orang Padang.

Orang mana pun yang mendirikan rumah makan, kalau masakannya berasal dari masakan Sumtra Barat, orang akan menamakannya rumah makan Padang. Meskipun pada rumah makan tersebut dijelaskan hanya masakan Padang. Tak peduli apakah berasal dari Kota Payakumbuh, Kabupaten Pasaman, Kabupaten Dharmas Raya dan lain sebagainya di Sumbar, tetap akan disebut rumah makan masakan Padang. Masyarakat luas menyebutnya rumah makan Padang.

Namun, sesungguhnya Padang itu adalah sebuah kota. Dia adalah ibu kota Provinsi Sumbar. Jika anda ke Sumtra Barat, kalau anda menanyakan teman anda berasal dari Padang, orang akan menganggapnya orang yang berasal dari Kota Padang. Orang Payakumbuh, orang Solok, dia akan dikatakan di Sumtra Barat orang Payakumbuh dan orang Solok. Bukan orang Padang. Jadi, kalau ada teman anda orang Padang, tanyakan saja di mana dia di Padang. Apakah benar-benar di Kota Padang atau hanya sekadar sebutannya saja orang Padang, sedangkan dia berasal dari Payakumbuh, 50 Kota, Solok dan lain sebagainya.

Maksud dari sebutan orang Padang di Jakarta, Surabaya, Bandung dan lain sebagainya itu, lebih tepatnya adalah orang Minang. Suku atau etnis Minang adalah nama suku dari orang yang berada di alam Minangkabau. Minangkabau jauh lebih luas dibandingkan Padang. Bahkan jauh lebih luas lagi dari Provinsi Sumtra Barat. Minangkabau meliputi Provinsi Sumtra Barat, sebahagian Provinsi Jambi, sebahagian Provinsi Bengkulu, sebahagian Provinsi Riau dan sebahagian Provinsi Sumtra Utara.

Dalam sejarah alam Minangkabau dikatakan, bahwa alam Minangkabau itu meliputi,” Sipisak Sipisau Hanyuik (di Provinsi Bengkulu) sampai ke Durian Ditakuak Rajo (di Provinsi Riau), terus ke tempat Buayo Putiah Daguak (di Provinsi Jambi), sampai ke Sikilang Aia Bangih (di Provinsi Sumatra Utara). Tempat-tempat yang disebutkan dalam Bahasa Minang ini meliputi sebahagian dari provinsi-provinsi yang disebutkan tadi. Untuk lebih komunikatif dan lebih mudahnya kita memahami, dalam buku ini saya sengaja menyebut orang Minang atau orang Sumatra Barat dengan sebutan orang Padang. *

(2)  ORANG PADANG DALAM BERBISNIS
Perlu diakui, bahwa sejak lama orang Padang sudah terkenal ulet dalam berbisnis. Mereka tak mau jadi anak buah. mereka maunya hanya jadi bos, meskipun hanya dengan mendorong satu gerobak sate hilir mudik lorong menjajakan dagangannya siang dan malam.

Jiwa bisnis orang Padang sudah terbentuk semenjak dari nenek moyangnya tempo dulu secara turun temurun. Semenjak dahulu kala orang Padang sudah terkenal senang merantau. Merantau merupakan wujud dari kemauan kerasnya menjadi seorang pebisnis, menjadi seorang pengusaha. Mereka suka sekali pergi ke negeri orang. Mereka pergi bukan membawa modal agar bisa berbisnis di rantau orang. Bukan demikian. Mereka merantau mengadu nasib. Bahkan mereka dibekali hanya dengan semangat,”Merantaulah bujang(buyung) dahulu, di kampung belum berguna”.

Jadi secara tak langsung, para anak muda Padang seperti ada yang menyuruh pergi merantau, dan setelah ada gunanya di kampung nanti baru boleh pulang. Maksudnya, merantaulah ketika miskin, dan sesampai di rantau orang berusahalah sekuat tenaga dan pikiran. Setelah berhasil kelak baru boleh pulang. Inilah yang membuat orang Padang punya semangat baja di rantau orang untuk mengubah nasibnya. Mereka berjuang mati-matian di rantau orang, agar kelak bisa pulang kampung membawa keberhasilan.Semangat seperti ini sungguh sangat berguna di dalam berbisnis. Orang pemalas, orang yang hanya menerima kondisi kehidupan apa adanya saja, taklah akan bisa berhasil dalam berbisnis.

Orang Padang tak segan-segan memulai usaha dengan menjual peniti, sisir rambut dan ikat pinggang di emperan-emperan toko, di pangkal jembatan penyeberangan, dalam memperjuangkan perubahan nasibnya. Prinsip mau mulai melangkah dari bawah, mau berusaha dari nol seperti ini sungguh sangat perlu bagi seorang pebisnis. Dan orang Padang memilikinya.
Orang Padang dalam berbisnis benar-benar sulit mencari tandingannya. Dia tak segan-segan melakukan apa saja asal halal demi untuk berjalan selangkah demi selangkah dalam memulai kariernya di dunia bisnis.
Dia mau saja jadi tukang cuci piring di rumah makan. Tetapi sambil bekerja sebagai tukang cuci piring, pikirannya selalu menjelajah kian kemari mencari peluang usaha, agar suatu saat yang tak terlalu lama nanti bisa buka usaha rumah makan sendiri. Orang Padang tak segan-segan kerja bangunan, namun sambil membanting tulang sebagai buruh kasar, pikirannya akan selalu menelusup kian kemarin mencari peluang usah, agar suatu ketika yang tak terlalu lama nanti dia bisa memulai usaha berjualan bahan bangunan atau memulai usaha perumahan atau properti. Orang Padang menjadi pekerja bukan hanya sekadar bekerja saja di sana, tetapi sambil bekerja dia selalu berupaya untuk bisa nanti menjadi pengusaha seperti yang dilakoni bosnya.

Yang membuat orang Padang berhasil mencapai keinginannya itu adalah karena dia tak hanya sekadar bermimpi, tak hanya sekadar berangan-angan, tetapi benar-benar mau memulai mempraktikkannya secara nyata.
Begitu dia dapatkan ide untuk melakukan usaha, dia mulai tanpa harus mempersiapkan modal yang banyak, tanpa harus mendapatkan tempat usaha yang bagus, tanpa memikirkan terlalu lama, apakah lokasinya refresentatif atau tidak. Bahkan dia tak peduli sama sekali apakah akan dicemoohkan orang ataukah tidak. Baginya yang penting lakukan dulu, mulai dengan apa adanya. Kalau hanya bisa melakukan usaha dengan berjualan peniti, sisir rambut sesuai modal; usaha yang dimiliki di emperan toko, di pangkal jembatan penyeberangan, di pinggir jalan, lakukan saja itu. Mulai saja dari sana. Jangan tunggu punya modal untuk membeli barang dagangan jutaan rupiah dan bisa menyewa toko belasan atau puluhan juta rupiah.

Demikian pula, bagi orang Padang dalam berbisnis, cibiran, cemooh, ledekan dan lain sejenisnya itu dia jadikan dorongan untuk bisa berhasil. Bukan sebaliknya membuat dirinya kecut, bukan membuat semangatnya turun dan bukan pula menjadikannya mundur.

Kalau ada orang mematahkan semangatnya untuk memulai usaha, bukannya membuat dia tak jadi melakukan usaha, tetapi sebaliknya membuatnya semakin terdorong untuk cepat-cepat memulainya.
Anda tentu ada yang sudah tahu, bahwa orang Padang terkenal dengan cemoohnya. Dalam bahasa Padang disebut cameeh. Orang yang bermental kerupuk akan dengan mudah patah arang olehnya. Orang Padang dalam berbisnis memakai mental baja. Itulah salah satu kunci sukses orang Padang dalam berbisnis.

Orang Padang dalam berbisnis tidak mengenal tempat, apakah harus di kampung, di rantau dan di mana saja. Mengapa dia bisa demikian? Adalah karena orang Padang mampu menyesuaikan diri dengan kondisi di mana dia berada. Orang Padang sangat piawai menyesuaikan diri kepada alam di mana dia berada. Anda bisa melihat orang Padang ada di mana-mana. Di mana saja dia berada, dia mampu menyesuaikan diri dengan tingkah laku masyarakat setempat.  Orang Padang pergi merantau bukan membawa orangtua, bukan membawa karib kerabat, tetapi di rantau itulah dia mencari orangtua dan mencari karib kerabat. Pepatah Minang mengatakan, ”Ditinggalkan orangtua di kampung, haruslah dicari pula orangtua di rantau orang”. Pantun Minang mengatakan:

Kalau anda pergi ke pekan,
hiu beli belanak beli,
ikan Padang beli dahulu
Kalau anda pergi berjalan(merantau),
ibu cari, dunsanak(famili) cari,
induk semang cari dahulu.

Kalau pandai berkain panjang,
bisa lebih dari kain sarung.
Kalau pandai berinduk semang,
bisa lebih dari ibu kandung.

Pantun ini menjadi pegangan orang Padang pergi merantau, sehingga dia bisa dengan cepat menyesuaikan diri di mana dia berada. Selanjutnya bagi orang Padang yang pergi merantau, sebelum berangkat biasanya dia dinasehati oleh orangtua dan mamak(pamannya), yang antara lain bunyinya:

Kalau engkau pergi merantau,
hati-hati di rantau orang.
Ingatlah ranting yang akan mencucuk.
Ingatlah pohon yang akan menimpa.
Hati-hati dengan yang di atas,
waspadai yang di bawah kalau menimpa.
Ingat sebelum ken.
melantai sebelum terpuruk.
Mandi haruslah di hilir-hilir.
Berbicara di bawah-bawah.

Semua ini adalah kata-kata kiasan, yang mengajarkan kepada seseorang yang akan pergi mengadu nasib di rantau orang, agar berhati-hati, jangan sombong dan jangan pula merasa rendah diri. Kalau berbicara jangan besar mulut, tetapi jangan pula merasa kecut. Jadi, maksud agar mandi hilir-hilir berbicara di bawah-bawah itu, adalah agar jangan sombong, jangan suka membusungkan dada, tetapi jangan pula terlalu merendah, yang bisa membuat merasa rendah diri, tak bersemangat.

Dengan berbekalkan prinsip-prinsip hidup inilah orang Padang mengubah nasibnya berjuang mencapai kesuksesan dalam berbisnis di mana saja di muka bumi ini. Orang Padang tak pernah memilih-milih tempat usaha. Di mana saja di muka bumi ini, orang Padang bisa menjalankan usaha, bisa memperjuangkan nasib dan bisa sukses.

Satu hal yang menjadi rahasia kesuksesan orang Padang pula dalam berbisnis, dia fokus pada tujuan hidupnya dalam situasi dan kondisi apa pun juga. Kalau sudah dia putuskan merantau untuk berdagang atau berbisnis, dia tidak akan pernah mengubah tujuannya itu. Dia akan tetap memperjuangkan itu terus menerus tanpa kenal lelah.

Siapa pun orang yang mengajaknya untuk beralih ke tujuan lain, dia tak akan menurutinya. Dan kalaupun terpaksa melakukan pekerjaan lain, muara dari pekerjaannya itu tetap akan dia arahkan kepada tujuannya semula. Jadi, orang Padang tak mudah mengubah haluan dalam hidupnya. Sekali dia menentukan sikap menjadi pengusaha, akan diperjuangkannya terus sampai tercapai. *

(3)  PRINSIP ORANG PADANG DALAM BERBISNIS
Kalaulah ada orang di bulan atau di planet lainnya bermukim, orang Padang akan berdagang ke sana. Orang Padang tak peduli, apakah di bulan, di matahari, planet mars, di Papua, di Mesir dan di mana saja, asal ada peluang usaha, dia akan berbisnis di sana.

Utamanya bagi orang Padang, dalam berbisnis tak mengenal ruang dan waktu. Baginya, ada satu prinsip, ” Di mana ada gula di sana ada semut. Semut harus piawai mencari dan mendapatkan gula. Misalkan gula adalah uang, orang Padang adalah semutnya. Dia tidak mau menunggu, tetapi mendatangi. Menurutnya, keberhasilan bukan didapat, tetapi harus diraih. Kalau bisa didapat, tak perlu dicari tetapi cukup ditunggu saja. Karena harus diraih, maka harus dicari, harus direbut dengan kerja keras dan usaha maksimal.

Dalam hal ini, ada beberapa prinsip orang Padang dalam berbisnis yang patut ditiru, sebagai berikut :

1). Melangkah Dari Bawah. Dalam berbisnis harus mau melangkah dari bawah. Tak peduli meskipun untuk mengawali usaha yang dijalani harus terlebih dahulu dimulai dari berjualan jarum pentul, berjualan sendok makan dari rumah ke rumah. Orang yang maunya langsung jadi pengusaha besar dalam memulai usaha, sulit bisa mencapai keberhasilan. Sebab, mustahil bisa menginjak anak tangga ke delapan atau sembilan tanpa terlebih dahulu menginjak anak tangga pertama, kedua dan seterusnya. Prinsip inilah yang membuat orang Padang tidak merasa malu memulai usaha dari bawah atau dari kondisi yang sangat kecil sekalipun.

2). Selalu Fokus. Dalam berbisnis harus selalu fokus pada tujuan atau target yang telah ditetapkan untuk dicapai. Jangan mudah berubah-ubah haluan. Dalam perjalanan mengembangkan usaha, tak tertutup kemungkinan akan ditemui berbagai kendala, rintangan dan hambatan, bahkan kegagalan. Akan tetapi semua itu jangan sampai membuat pikiran berubah. Sekali memasang tekad, jangan sampai goyah. Niat menjadi seorang pengusaha sukses, tekad menjadi seorang pebisnis berhasil, jangan sampai berubah niat menjadi petani atau nelayan gara-gara dalam perjalanan meniti karier usaha bertemu dengan kesulitan. Jadikanlah kesulitan itu suplemen penambah kekuatan untuk terus maju pantang mundur dalam mencapai cita-cita yang telah ditancapkan ketika memulai usaha dulu. Banyak sekali orang yang gagal mencapai tonggak cita-cita yang telah ditancapkannya sejak lama, karena dalam perjalanan menuju ke sana dia menemui rintangan, hambatan bahkan kegagalan yang tak mampu dilewatinya. Padahal kalau dia tegar, kalau dia tidak mundur, beberapa langkah lagi tonggak yang dia tancapkan itu akan didapatkannya. Dalam prinsip bisnis orang Padang, sebelum yang dia inginkan tercapai, meskipun langit runtuh, bumi bergoyang, namun dia akan tetap berjuang.

3). Sepenuh Hati. Dalam berbisnis harus sepenuh hati. Maksudnya, jangan berbisnis setengah-setengah. Setiap detak jantung orang Padang yang sedang menjalankan bisnis, selalu menyebut usaha yang tengah dilakoninya. Setiap aliran darah orang Padang yang sedang berbisnis, selalu mengalir usaha yang sedang ia lakukan. Artinya, usaha yang sedang dilakukan haruslah membuatnya asyik. Kalau sudah demikian, dia tidak menempatkan bisnis pada lapisan kedua atau ketiga dalam hidupnya, tetapi berada pada lapisan pertama. Orang Padang meyakini benar bahwa setiap usaha yang dilakukan setengah-setengah, hasilnya pun besar kemungkinan akan setengah-setengah pula. Karena itu, usaha yang dilakukan, bisnis yang dijalani haruslah sepenuh hati. Jangan sekali-kali menjadikan bisnis yang sedang dijalankan sebagai tempat pelarian karena tidak ada pekerjaan lain. Jadikanlah bisnis sebagai tumpuan hidup, sebagai kebanggaan diri, sebagai pengangkat prestise di tengah-tengah masyarakat.

4). Tidak Ragu-Ragu. Dalam berbisnis, orang Padang sangat melarang ragu-ragu. Sikap ragu-ragu akan membuat bisnis berantakan. Setelah diambil keputusan melangkah, langsunglah melangkah. Jangan berpikir lagi balik ke belakang. Dalam pepatah orang Padang dikatakan, asa hilang dua terbilang, kalau tak berhasil biar nyawa berpulang. Maksudnya, kalau sudah ditetapkan melakukan sesuatu, langsung lakukan. Dalam berjuang, termasuk memperjuangkan hidup dalam berbisnis, daripada balik gagal lebih baik mati di medan juang. Jadi, tidak ada keraguan sedikit pun. Sikap inilah yang membuat orang Padang ada di mana-mana dan mau bekerja keras dalam bentuk apa pun juga, demi tercapai cita-cita kesuksesan hidupnya. Sekali layar terkembang, baginya berpantang surut ke belakang.
Semua itu tadi sangat berguna bagi siapa pun dalam berbisnis. Bukan hanya berguna bagi orang Padang saja. Anda pun perlu memakai prinsip tersebut untuk menjadi seorang pengusaha sukses.

(4)  JIWA BISNIS ORANG PADANG
Jiwa bisnis orang Padang telah terbentuk sejak lama. Telah terkenal ke mana-mana, bahwa orang Padang adalah orang pebisnis, orang yang berjiwa dagang. Jiwa bisnis orang Padang terkenal sangat tajam. Ketajaman jiwa bisnisnya itu diiringi oleh kemauannya yang sangat keras, pantang menyerah dan mau memulai dari nol.

Jiwa bisnis orang Padang bisa pula dikatakan terbentuk dari kondisi alam kampung halamannya. Sumatra Barat tidak banyak memiliki industri, tidak kaya oleh pabrik dan hasil tambang. Dulu hanya ada dua yang cukup dikenal, yakni PT. Semen Padang di Kota Padang dan Tambang Batu Bara Ombilin di Kota Sawah Lunto. Sekarang tambang Batu Bara Ombilin telah boleh dikatakan tak beraktivitas lagi. Cadangan batu baranya telah habis. Tinggal lagi hanya PT. Semen Padang. Itulah yang menyebabkan masyarakatnya terbiasa bekerja keras, memutar otak mengadu nasib di rantau orang.

Kemiskinan orang Padang dari sisi industri, pabrik dan tambang, telah membuat jiwa bisnisnya tinggi. Ini pulalah agaknya, yang menyebabkan Sumtra Barat dikenal sebagai tempat berdirinya industri otak.
Orang yang dari kecil hidup ditempa kesulitan, dan tidak bisa banyak menggantungkan harapan kepada pihak lain, biasanya cerdas, kreatif, inovatif dan tak mudah menyerah.

Seorang pebisnis biasanya memerlukan kecerdasan, kreatifitas dan inovatif. Sebab dengan demikian, dia akan bisa melakukan kegiatan bernas, melakukan hal-hal yang bersifat baru yang belum dilakukan orang lain.
Jiwa bisnis sangat memerlukan yang disebutkan ini, guna menjadikan bisnis yang dijalankan seseorang lancar, sukses dan mencapai hasil yang benar-benar memenuhi kepuasan pelakunya. Itu pulalah bedanya antara jiwa bisnis dengan jiwa pekerja. Jiwa bisnis memerlukan kemandirian, memerlukan kegesitan, keuletan, agar usaha bisa berkembang, agar bisnis bisa berhasil.

Bagi orang Padang, jiwa bisnis demikian sudah seperti tertanam dalam dirinya, sehingga orang Padang lebih dikenal sebagai orang yang kreatif, inovatif, gesit, ulet dan pandai menyesuaikan diri dengan kondisi di mana dia berada.

Karena jiwa bisnis orang Padang demikian kental dalam dirinya, di mana saja dia berada, dalam kondisi apa saja dan sesulit apa pun, dia bisa memainkan keuletannya untuk menjalankan bisnis.Sebenarnya jiwa bisnis seperti ini tidak saja milik orang Padang, tetapi milik semua orang, dan sekaligus bisa juga milik anda. Tinggal lagi bagaimana bisa anda membangkitkan jiwa bisnis tersebut dalam diri anda.

Anda boleh saja mengatakan tidak memiliki jiwa bisnis sama sekali. Akan tetapi sadarilah bahwa dalam diri anda pasti ada jiwa bisnis, seperti dalam diri saya dan dalam diri siapa pun. Namun mungkin selama ini anda belum tahu bahwa anda memilikinya.

Setiap orang pasti ingin hidup lebih baik dari hari ke hari. Kalau dia sedang memiliki sebuah sepeda, pasti ada keinginannya untuk memiliki motor. Kalau sudah memiliki motor, pasti ada keinginannya untuk memiliki mobil. Kalau sedang memiliki sepasang pakaian, pastilah ada keinginannya untuk memiliki dua atau tiga pasang pakaian. Untuk mencapai keinginannya tadi tentu dia menginginkan memiliki uang. Sebab dengan uang itulah dia membelinya. Untuk mendapatkan uang pastilah ada keinginannya memiliki mata pencaharian. Untuk itu tentu harus ada usaha. Kalau sudah keinginan berusaha pastilah dia menginginkan usahanya tersebut berkembang, bertambah maju dan bertambah sukses dari waktu ke waktu. Rentang perjalanan itu tadilah yang disebut bisnis. Kalau selama ini anda belum tahu, maka dengan ini anda pastilah mengetahui. Dan dengan ini pastilah anda akan mengatakan bahwa anda punya jiwa bisnis pula. Kalau anda sudah mengetahui bahwa anda pun punya jiwa bisnis, mulailah berusaha, mulailah berbisnis dan jangan terlalu banyak pikir untuk memulainya.

Orang Padang memulai usaha, pun seperti anda juga. Tak akan jauh berbeda. Sekali lagi ingin saya tekankan, yakinkan diri anda bahwa anda memiliki jiwa bisnis, dan langsung bereaksi melakukan bisnis apa saja yang anda yakini akan berhasil. *

(5)  MERANTAU DENGAN SEMANGAT MENGUBAH NASIB
Kata John C. Maxell, ”Kenyataan hidup mengajarkan, bukan peluang yang menciptakan kemauan, tetapi kemauanlah yang menciptakan peluang”. Pantun orang Padang mengatakan, ”Keratau Medang di hulu, berbuah berbunga belum. Merantaulah bujang (buyung) dahulu, di rumah berguna belum”.

Keduanya ini sama-sama memberikan dorongan kepada semua orang untuk tidak takut menghadapi tantangan, untuk selalu siap menderita demi mencapai sesuatu keberhasilan. Orang yang maunya senang saja, tak mau menghadapi tantangan, rintangan dan hambatan, tak akan mencapai titik keberhasilan yang berarti.Sesungguhnya, merantau merupakan gambaran kehidupan orang Padang yang ulet, gesit, berjiwa wirausaha, mandiri dan rela mengalami kesulitan demi untuk mendapatkan kesuksesan.

Menurut orang Padang, orang merantau sama seperti benih padi yang dipindahkan dari lokasi persemaian ke sawah. Padi yang tidak pernah pindah dari persemaiannya ke sawah, tak akan mau besar dan sulit untuk berbuah. Orang yang tak pernah merantau, sulit sekali bisa sukses dalam hidupnya. Paling tidak, untuk memperjuangkan hidup, untuk mencapai keberhasilan, pergilah merantau.

Bagaimana agar bisa berhasil hidup merantau? Bertekadlah merantau untuk mengubah nasib kepada yang lebih baik. Dengan tekad demikian, kita melihat betapa gesitnya orang Padang berusaha di rantau.Orang Padang berusaha di rantau tak mengenal lelah. Siang, malam, pagi, dan sore, seakan tak ada hari baginya selain untuk berusaha, selain untuk memperjuangkan hidup, selain untuk mencari uang.

Dengan berbekalkan semangat mengubah nasib, orang Padang merantau bisa pulang membawa keberhasilan, membawa kesuksesan. Orang Padang di rantau orang selalu teringat kampung halamannya. Orang Padang merantau selalu ingat pantun tadi, yakni biarlah kini dia merantau karena masih miskin, dan setelah berhasil nanti, setelah bisa membangun kampung halaman melalui keberhasilannya di rantau orang nanti, setelah berguna nanti, baru dia akan pulang.

Kalau anda ke Padang saat lebaran tiba, anda akan menyaksikan orang Padang Pulang Basamo (pulang bersama). Mereka pulang berombongan dengan mobil pribadinya berderet-deret, dan jangan lupa bahwa mereka pulang dengan biaya masing-masing. Kenapa bisa pulang bersama dengan biaya masing-masing? Karena mereka pulang membawa keberhasilan. Sesampai di kampung mereka akan mengeluarkan uang pribadi masing-masing pula untuk membangun kampung halamannya. Mereka akan mengeluarkan uang untuk membangun masjid, gedung sekolah, jalan kampung, rumah gadang dan lain sebagainya.

Ada satu kampung di Kabupaten Solok, bernama Sulit Air. Kampung Sulit Air itu merupakan daerah sulit. Topografinya berbukit-bukit. Air sulit di sana. Namanya saja Sulir Air. Anda tentu dapat membayangkan bagaimana keadaan kampung itu. Namun jika lebaran datang, kampung itu seakan seperti show room mobil-mobil mewah. Sepanjang jalan di kampung itu penuh berjejer mobil-mobil mewah. Jalannya mulus. Rumah gadangnya bagus. Gedung sekolahnya bagus-bagus pula. Ada di sana Pondok Pesantren Modern yang sangat bagus. Kenapa demikian? Adalah karena peran serta perantaunya sangat besar dalam membangun kampung halamannya. Para perantau dari Sulit Air terkenal sukses. Banyak sekali pengusaha sukses asal Sulit Air pada berbagai kota besar di Indonesia dan luar negeri. Mereka tak banyak yang menjadi Pegawai Negeri. Tetapi sangat banyak yang menjadi pengusaha sukses.
Seorang pengusaha sukses asal Sulit Air, H. Rainal Rais suatu kali mengatakan kepada saya, modal utamanya merantau hanyalah tekad. Dia berangkat dari Sulit Air dulunya, pergi merantau ke Jakarta tak membawa apa-apa, kecuali tekad.

Sesampai di rantau, berbagai kesulitan hidup ia alami. Namun dia tak mengeluh. Dia tetap berusaha, tetap berinisiatif untuk mencari peluang-peluang usaha yang bisa ia lakukan. Dia bertekad, sebelum berhasil belum akan pulang ke kampung. Alhasil, dia menjadi pengusaha sukses. Setelah menjadi orang sukses di rantau, perhatiannya ke kampung sungguh sangat besar. Dia benar-benar membuktikan, bahwa setelah berguna barulah dia pulang.

Begitulah orang Padang merantau. Dia merantau bukan main-main, bukan membesar-besarkan badan, bukan menghabiskan uang yang dibawanya dari kampung. Dia merantau benar-benar pergi memperjuangkan hidup.
Semangat merantau orang Padang ini sangat penting artinya untuk modal dasar seseorang dalam berbisnis. Dan bagi orang Padang, memang dijadikannya ini sebagai modal utama dalam berbisnis.

Orang Padang menjadikan tekadnya yang kuat, semangatnya yang membaja, sebagai bekal menghadang medan kehidupan dalam meraih sukses. Orang Padang tak mudah menyerah karena kepahitan hidup. Orang Padang dalam memperjuangkan kesuksesan, hampir sama seperti air yang berada dalam plastik. Semakin tertekan, semakin terdesak, dia semakin kuat, semakain bersemangat untuk menembus kantong plastik tersebut.
Anda dalam berbisnis pun harusnya demikian pula. Tirulah kunci sukses orang Padang dalam berbisnis. Kalau anda orang Padang generasi baru tumbuh sekarang, jangan sampai tak mewarisi rahasia kesuksesan orang Padang pendahulu anda dalam berbisnis. Kalau anda bukan orang Padang, jangan segan-segan meniru rahasia sukses orang Padang dalam berbisnis.
Dalam berbisnis, dalam menjalankan usaha, meniru tak jadi persoalan. Bahkan lebih baik meniru kesuksesan orang lain ketimbang anda tak bisa dan tak pula mau tahu dengan rahasia kesuksesan bisnis orang lain. Yang tak boleh, meniru uang orang lain(membuat uang palsu). Namun kalau meniru rahasia sukses orang lain, boleh saja.

Semangat mengubah nasib sangat penting bagi seseorang. Orang yang tak mau mengubah nasib kepada yang lebih baik dari sebelumnya, akan sangat merugi dalam hidupnya. Orang itu tak akan sukses dalam melakukan usaha apa pun juga. Kalau dalam agama dianjurkan agar hijrah atau pindah untuk mengubah nasib ke arah yang lebih baik, meneladani hijrah(pindah) yang pernah dilakukan Rasululullah saw dari Mekah ke Madina, kita harus pula mau hijrah kepada yang lebih baik dari sebelumnya. Bagi orang Padang, merantau merupakan upaya mengubah nasib yang paling digemarinya. *

(6)  AWAK BUKAN CARI KERJA TETAPI CARI UANG
”Awak bukan cari kerja tetapi cari uang”. Inilah kalimat yang selalu memotivasi orang Padang untuk menjadi pengusaha atau pebisnis yang ulet. Sebagai seorang yang sudah memilih membulatkan tekad mencari uang dan bukan mencari kerja, orang Padang ke mana saja pergi selalu menyimpan impian dalam hatinya untuk menjadi seorang pengusaha sukses.

Karena itu pulalah orang Padang lebih enjoi berjualan es tebak di pinggir jalan, mendorong gerobak sate dari lorong ke lorong, daripada bekerja di tempat orang lain. Walaupun berjualan es tebak atau sate, ini adalah usaha sendiri. Itu menurutnya lebih baik ketimbang jadi pekerja. Kalau ada yang kelihatan bekerja di tempat orang lain, seperti tukang batu, tukang angkat, dia akan selalu memeras otaknya sambil memeras keringat agar secepatnya berhenti bekerja di sana, dan segera buka usaha sendiri walaupun dengan sangat sederhana sekali.

Karena itulah, di mana-mana orang Padang selalu mengatakan cari uang, bukan cari kerja. Menurutnya, tak ada gunanya cari kerja kalau tak akan mendapatkan uang. Agar dapat uang, apalagi uang sebanyak-banyaknya, harus berusaha. Karena itu, harus diusahakannya selalu dengan berbagai taktik dan strategi agar menjadi pengusaha.

Seorang pekerja sulit sekali bisa menjadi orang kaya raya. Namun seorang pengusaha sukses, jelaslah jadi orang kaya raya. Karena itu, orang Padang sebagai orang yang berjiwa bisnis, selalu ingin jadi pengusaha dan enggan jadi pekerja.Banyak sekali orang merasa puas jika telah memiliki gaji besar ketika bekerja pada suatu tempat. Dia tak ada lagi berniat untuk membuka usaha sendiri karena takut dengan segala resiko.

Namun bagi orang Padang lain halnya. Dia selalu berpikir, bahwa sebesar apa pun gaji seorang pekerja pada suatu perusahaan, pastilah akan lebih besar penghasilan pemilik perusahaan tersebut dibandingkan dengan gajinya. Mustahil akan besar pula gajinya dibandingkan penghasdilan pemilik perusahaan tersebut. Sebagai orang yang berjiwa bisnis, orang Padang tak pernah merasa puas sebagai pekerja, karena masih ada penghasilan orang di perusahaan tersebut di atas gajinya.

Dengan demikian, di mana pun orang Padang bekerja, dia akan selalu memutar otak agar suatu saat nanti dia memiliki perusahaan seperti bosnya sekarang itu.Hal ini cocok sekali dengan prinsip orang yang berada di negara maju. Sebab, orang di negara maju selalu berpikir bagaimana bisa menjadi pengusaha atau pebisnis. Bukan berpikir bagaimana bisa menjadi pekerjaan. Sedangkan di negara berkembang atau negara miskin, rakyatnya masih berpikir bagaimana bisa mendapatkan pekerjaan.

Seperti dikemukakan dalam buku berjudul,”The Power Of Mimpi yang ditulis Akbar Kaelola, inilah suatu fakta yang menjelaskan bahwa Indonesia tertinggal oleh negara Singapura, Amerika Serikat, Rusia, Brasil, China dan India. Negara Indonesia masih berkategori negara buruh, belum lagi negara bisnis

Bahkan David McClelland mengemukakan, untuk bisa suatu negara makmur, paling tidak membutuhkan 2% dari warganya menjadi intreprenur. Fakta menunjukkan, tahun 2007 Indonesia baru memiliki 0,18% atau 400.000 intrepreneur atau pengusaha dari jumlah pendudukny yang telah mencapai 230 juta jiwa lebih.

Seharusnya, apabila dilihat dari jumlah penduduk Indonesia, negeri ini telah memiliki 4,4 juta jiwa intrepreneur. Sebab, sebagai bahan perbandingan bagi Indonesia, tahun 2005 saja, Singapura sudah punya 7,2 % intrepreneur. Sedangkan Amerika Serikat pada tahun 2007 telah memiliki 11,5 % intrepreneur.

Sebagai akibat dari masih kurangnya pengusaha di negara Indonesia, membuat pengangguran semakin hari semakin tak terkendali. Semakin hari semakin menggunung tinggi dan menakutkan. Sesuai data Februari tahun 2007, negeri ini memiliki 740.206 penganggur tamatan perguruan tinggi. Yang menakutkan lagi, selang waktu beberapa bulan, pada Agustus 2006 sampai Februari 2007, jumlah pengangguran lulusan perguruan tinggi naik menjadi 66.578 jiwa atau 9,88 %.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kalau bangsa ini masih saja berkutat sebagai bangsa buruh, yang sehari-hari penduduknya selalu mencari kerja dan tidak membuat usaha, pengangguran tentu akan semakin menggunung. Kalau pengangguran bertambah banyak, maka sudah dapat dipastikan kemiskinan akan semakin menggila atau semakin tak terkendali.

Karena itu, prinsip orang Padang yang mengatakan mereka cari uang bukan cari kerja, sungguh sudah saatnya dikedepankan untuk menjadikan negeri ini menjadi negeri yang makmur. Kalau tidak, negeri yang memiliki kekayaan alam melimpah ruah ini akan tetap saja menjadi negeri buruh, menjadi negeri penumpuk pengangguran, menjadi negeri miskin, yang akibatnya tak jauh berbeda dengan ayam yang mati kelaparan di lumbung padi. *

(7)  SI PADANG ORANG PANGGALE
Di mana-mana di seantero dunia ini sudah terkenal, bahwa si Padang itu adalah orang panggale. Si Padang maksudnya adalah orang Padang(orang Sumatra Barat/orang Minang. Panggale maksudnya adalah pedagang, pebisnis atau pengusaha).

Jika ditarik kembali ke belakang, orang Padang yang menjadi pedagang-pedagang besar atau pengusaha-pengusaha sukses itu telah melakoni dunia bisnis dan sudah menguasai kemajuan perekonomian Samudra Hindia semenjak abad ke-7.

Selama berabad-abad, pedagang asal Padang telah menguasai bisnis tambang dan pertanian. Mereka pun telah menjadi pebisnis sangat berpengaruh di pantai barat dan pantai timur Sumtra.  Kendatipun peranan perdagangan Padang(Minangkabau) mengalami penurunan semenjak dikuasainya pantai barat Sumatra oleh Belanda di abad ke-19, namun pada pasca kemerdekaan Republik Indonesia di tahun 1950-an, pengusaha asal Padang kembali banyak yang sukses di pentas nasional. Sebut saja misalnya, pengusaha sukses Hasyim Ning, Rahman Tamin, Agus Musin Dasaad, Sidi Tandao, Abdul Latif dan sederet nama lainnya.

Bagi orang Padang, berdagang tak saja hanya sekadar untuk mencari uang semata, tetapi sekaligus juga untuk menunjukkan eksisten dirinya kepada orang lain sebagai seorang yang merdeka.

Sebagai orang yang hidup di dalam lingkungan masyarakat yang egaliter, orang Padang selalu berusaha membentuk dirinya untuk menjadi seorang pemimpin. Dengan demikian, dia tidak menyiapkan diri untuk diperintah-perintah, untuk disuruh-suruh. Orang Padang lebih memilih menjadi pemimpin kelompok masyarakat kecil dibandingkan menjadi anak buah di kelompok masyarakat besar. Itulah sebabnya, kalau diperhatikan, banyak sekali orang Padang yang lebih memilih menjadi pendorong gerobak sate Padang, menjual peniti atau sisir di emperan-emperan toko atau bersorak-sorak menjual kain tiga seribu di kaki lima, daripada menjadi pekerja kantoran. Hanya dengan menjadi pengusaha kemerdekaan dalam berusaha bisa dinikmati seratus persen. Tidak akan pernah didapati di kantoran.

Berkembangnya kultur pebisnis bagi orang Padang, taklah pula terlepas dari adanya harta pusaka tinggi dalam ketentuan adat Minang. Dalam hal ini, harta pusaka tinggi menjamin kepemilikan tanah dan keberlangsungannya pada setiap kaum. Dengan kepemilikan tanah tersebut, posisi masyarakat tidak saja hanya sebagai penggarap tanah semata, melainkan juga sekaligus sebagai pebisnis, pedagang atau pengusaha yang bisa menjual secara langsung hasil garapannya ke pasaran. Di samping itu, kultur merantau yang sudah mendarah daging bagi orang Padang, telah membuat budaya mandiri, budaya kerja keras dan kerja cerdas yang telah tertanam kokoh dalam dirinya. Bahkan orang Padang lebih mengutamakan budaya kerja cerdas daripada kerja keras. Kerja cerdas menunjukkan seseorang berusaha sekuat tenaga secara cerdas, dengan memutar otak untuk bisa mengubah keadaan dari yang sedang dia alami. Sedangkan pekerja keras, hanya semata-mata bekerja dengan mengandalkan kekuatan tenaga tanpa diiringi kekuatan pikiran.

Apabila diperhatikan, orang Padang melakoni berbagai jenis usaha. Namun yang terlihat lebih dominan, antara lain sebagai berikut :

1) Usaha restoran. Berbicara tentang restoran. Siapa yang tak kenal dengan restoran Padang. Di mana-mana sangat dikenal restoran atau rumah makan masakan Padang. Sebut saja rumah makan Sederhana yang dirinstis pengusaha sukses Bustaman yang punya tak kurang dari 60 cabang di seluruh Indonesia. Di samping itu, rumah makan Simpang Raya, restoran Sari Ratu dan lain sebagainya. Ada pula yang dikenal dengan Nasi Kapau. Kapau terletak di Kabupaten Agam, Sumatra Barat. Nasi Kapau sangat terkenal ke mana-mana. Sejenis nasi ramas namun masakannya sangat enak. Ada pula restoran Kubang yang berasal dari Kabupaten 50 Kota, Sumtra Barat. Martabak Kubang sangat terekenal ke mana-mana. Dari Kabupaten Padang Pariaman, Sumtra Barat sangat terkenal pula sate-nya. Semua ini tak saja menguasai nusantara, tetapi menyeruak ke berbagai belahan dunia.

2) Tekstil. Pedagang tekstil asal Padang selama ini telah mendominasi pasar tradisional di kota-kota besar seluruh nusantara. Di Jakarta misalnya, pedagang asal Padang mendominasi pusat-pusat perdagangan di Pasar Tanah Abang, Pasar Senen, Pasar Blok M, Pasar Jati Negara dan Pasar Bendungan Hilir. Selain di jakarta, di daerah-daerah juga demikian. Di Medan misalnya, pedagang tekstil asal Padang mendominasi Pasar Sukaramai. Di Pekan Baru pedagang asal Padang mendominasi Pasar Pusat dan Pasar Bawah. Sedangkan di Surabaya, pedagang tekstil asal Padang akan banyak ditemui di Pasar Turi.

3) Kerajinan. Orang Padang pun banyak pula yang menggeluti dunia binas dari hasil kerajinan. Antara lain jenis kerajinan yang menjadi ajang bisnis orang Padang; kerajinan perak, emas dan sepatu. Pada umumnya mereka berasal dari Silungkang, Sawah Lunto dan Pandai Sikek. Perdagangan barang antik pun banyak pula digeluti pedagang asal Padang. Mereka lebih banyak berasal dari Sungai Puar, Kabupaten Agam, Sumatra Barat. Di Jakarta banyak sekali ditemui di Cikini, Jakarta Pusat dan di Ciputat, Tanggerang Selatan.

4) Percetakan. Bisnis percetakan merupakan jenis usaha yang cukup banyak pula digeluti pebisnis orang Padang. Pada umumnya percetakan yang ditekuninya, percetakan undangan dan buku. Bahkan tak sedikit pula usaha percetakan ini yang berkembang pesat menjadi usaha penerbitan buku dan toko buku. Kebanyakan yang menekuni usaha ini dari pebisnis asal Sulit Air, Kabupaten Solok, Sumatra Barat. Antara lain pengusaha sukses yang bergerak di bidang ini Muhammad Arbie, Rainal Rais dan sejumlah yang lainnya.

5) Hotel dan Travel. Bisnis pariwisata yang bergerak di bidang perhotelan dan travel, sungguh sangat banyak digeluti oleh pengusaha Padang. Di Jakarta, antara lain ada hotel Ambhara, Hotel Sofyan, Hotel Grand Mahakam dan sejumlah yang lainnya. Sedangkan jaringan usaha hotel Grand Menteng adalah jaringan bisnis hotel terbesar yang dimiliki oleh orang Padang. Jenis usaha travel, antara lain yang digeluti pengusaha asal Payakumbuh, Sumtra Barat, yang didirikan Rahimi Sutan, di bawah bendera Natrabu Tour.

6) Pendidikan. Bisnis di bidang pendidikan merupakan bisnis yang sangat digandrungi pula oleh pengusaha Padang. Pada umumnya, mereka yang bergerak pada dunia bisnis pendidikan berawal dari mereka sebagai karyawan di dunia pendidikan baik negeri maupun swasta. Setelah terasa matang, mereka buka sendiri, baik berupa sekolah, bimbingan belajar maupu perguruan tinggi. Pada mulanya mereka akan tampak sebagai seorang pekerja biasa, baik menjadi guru, pegawai tata usaha dan lain sebagainya. Namun diam-diam mereka akan berupaya mendalami pemahaman terhadap bisnis dunia pendidikan tersebut di tempat mereka bekerja. Setelah mendapatkan rasa percaya diri, mereka akan langsung mulai buka sendiri. Mereka tak peduli membuka dalam bentuk yang sangat sederhana dan kecil sekali pun. Mereka tak peduli ditertawakan orang. Di Jakarta sedikitnya ada tiga perguruan tinggi milik orang Padang. Yakni; Universitas Jayabaya didirikan Moeslim Taher, Universitas Persada Indonesia YAI didirikan Julius Sukur dan Universitas Borobudur didirikan Basir Barthos.

7) Media. Sesungguhnya bakat menulis orang Padang yang sudah terkenal ke mana-mana semenjak dahulu, ternyata telah mampu melahirkan perusahaan media yang berskala besar di Indonesia. Sebut saja; koran Oetoesan Melajoe yang didirikan Sutan Maharaja tahun 1915. Di samping itu ada lagi majalah Panji Masyarakat didirikan Hamka, koran Pedoman didirikan Rosihan Anwar, koran Waspada didirikan Ani Idrus, majalah Kartini didirikan Lukmar Umar, majalah Femina dirikan putra-putri Sutan Takdir Alisjahbana dan jaringan TV One didirikan Abdul Latif.

8) Keuangan. Bisnis di dunia industri keuangan, tak sedikit pula digeluti orang Padang. Antara lain jenis usaha yang dilakoninya, perbankan, sekuritas dan asuransi. Pengusaha sukses Sutan Sjahsam misalnya, adalah perinstis pasar modal di Indonesia. Adik kandung perdana menteri Indonesia pertama, Sutan Sjahrir ini adalah seorang pialang dan saham, dan pendiri perusahaan sekuritas, Perdana. Di bisnis perbankan, ada pengusaha sukses Anwar Sutan Saidi yang mendirikan Bank Nasional tahun 1930.

Dari sini, terlihatlah bahwa si Padang memang benar–benar orang
Panggale. Orang Padang berupaya untuk tidak memilih menjadi orang yang disuruh-suruh. Karena itulah mereka sebagian besar memilih menjadi pengusaha.Hidup sebagai seorang pengusaha, diyakininya hidup yang benar-benar merdeka. Tak diatur-atur harus masuk jam sekian dan pulang jam sekian. Pengusaha merdeka berinovasi, berkreativitas untuk kemajuan usahanya. Orang kantoran, apalagi pegawai negeri, diatur oleh berbagai ketentuan, yang jika salah sedikit saja berbahaya.

Di dunia usaha, keliru atau gagal merupakan hal biasa yang bisa dijadikan pembelajaran untuk diwaspadai di masa datang. Sedangkan di dunia kantoran terutama pegawai negeri atau BUMN/BUMD, sama sekali tidak boleh salah atau keliru. Kalau salah atau keliru, penjara menunggu. Sebab kesalahan atau kekeliruan dianggap penyimpangan atau penyelewengan.
Dengan demikian, kalau anda ingin hidup merdeka, merdeka dalam berinovasi dan berkreativitas, bebas melakukan kegiatan dengan memeras otak dan keringat semaksimal mungkin, bebas mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya, bebas menjadi orang kaya raya, jadilah pengusaha, jadilah pebisnis dan jadilah pedagang. *

(8)  PULANG MISKIN DICUEKIN PULANG KAYA DISANJUNG
Salah satu hikmah dari merantau yang merupakan kultur orang Padang, adalah menjadikan diri mandiri. Hidup di rantau orang jauh dari sanak saudara. Tak ada tempat mengadukan nasib.

Seandainya badan ditimpa sakit, tanggungkanlah sendiri. Sekiranya tak ada uang untuk makan, tahanlah lapar sendiri. Seandainya ingin berusaha, carilah modal sendiri. Kalau sudah membuka usaha, seandainya ingin berkembang, berusahalah sendiri.

Hidup sebatang kara di rantau orang merupakan tempaan bagi seseorang untuk bisa hidup mandiri, tak mudah mengadukan nasib pada orangtua, pada sanak saudara, pada teman sejawat dan lain sebagainya.
Seandainya tetap di kampung, jika menganggur, tak akan terlalu pusing. Bisa minta uang pada orangtua, bisa minta rokok pada teman sejawat dan bisa mengutang atau meminjam pada sanak saudara kiri dan kanan. Di rantau orang, semua itu tak akan ada.Karena itu, bagi orang Padang merantau boleh dikatakan suatu kewajiban. Kalau belum pernah merantau, kalau hanya tinggal di kampung saja, dapat dikatakan belum bisa lagi disebut mampu hidup mandiri, karena belum terbiasa lagi hidup getir, hidup susah dan hidup menderita.

Satu hikmah lagi yang bisa diambil untuk menjadi pengusaha tangguh dari kultur merantau orang Padang, dengan merantau orang Padang punya semangat pantang menyerah, punya tekad kuat untuk mengubah nasib kepada yang lebih baik.

Seorang perantau Padang akan malu pulang ke kampung jika belum berhasil. Dia akan merasa khawatir dicuekin kalau pulang miskin. Dan sebaliknya dia yakin akan disanjung kalau pulang kaya raya. Karena itu, orang Padang di rantau orang benar-benar memeras otak dan keringat, mengeluarkan seluruh kemampuannya dalam menjalankan strategi dan taktik untuk bisa mengubah hidupnya kepada yang lebih baik.

Bagi orang Padang, bergerak di bidang bisnis merupakan satu-satunya jalan hidup yang paling tepat untuk mengubah nasib. Mereka pulang ingin membawa mobil, ingin membawa uang banyak. Jika ini diharapkan dari kerja kantoran, sulit sekali. Bahkan mungkin terasa mustahil. Karena harus pulang kaya raya, di dalam meniti kehidupan di rantau, orang Padang memegang teguh prinsip dalam berusaha, sebagai berikut :

1) Dapat dipercaya. Orang Padang dalam berusaha memegang teguh kepercayaan orang. Sebab, kepercayaan merupakan modal utama dalam menjalankan usaha. Sekali saja orang kehilangan kepercayaan dari seseorang, selamanya yang bersangkutan akan sulit memperolehnya kembali. Karena itu, kepercayaan merupakan prinsip orang Padang yang tidak bisa ditawar-tawar. Kehilangan kepercayaan berarti kehilangan jalan hidup untuk mengubah nasib kepada yang lebih baik. Karena itu, orang Padang selalu bertekad untuk dapat dipercaya.

2) Berani. Dalam berbisnis, orang Padang selalu berani melakukan tindakan. Seorang pengusaha, seorang pedagang atau pebisnis yang selalu ragu-ragu, apalagi takut melakukan tindakan, tak akan pernah bisa berkembang. Karena itu keberanian dalam melakukan tindakan untuk kemajuan usaha yang sedang dijalankan sangat diperlukan. Orang Padang memilikinya.

3) Ulet. Keuletan orang Padang dalam berbisnis sangat terkenal selama ini. Karena keuletannya ini pulalah rata-rata mereka berhasil sukses. Orang Padang tak mengenal menyerah, tak mengenal lelah dan tak mengenal putus asa dalam berbisnis. Seluruh prinsip ini sangat diperlukan dalam berbisnis.

4) Punya mimpi besar. Seorang pebisnis harus memiliki mimpi besar. Mimpi besar di sini artinya punya keinginan yang besar dalam mencapai kesuksesan. Dengan adanya mimpi besar itu, dia merasa terdorong untuk bekerja keras, untuk berjuang sekuat tenaga dan pikiran dalam mencapai mimpi besar yang bergayut di benaknya. Orang Padang punya mimpi besar tersebut. Antara lain mimpi besarnya, kalau nanti sudah sukses, dia akan pulang kampung saat lebaran tiba, guna memberikan bantuan untuk pembangunan tanah kerlahirannya. Untuk bisa memberikan bantuan, tentu harus sukses. Mungkin saja bantuannya dalam bentuk membangun masjid, membangun jalan desa atau membangun rumah gadang. Uang yang diperlukan untuk semua ini bukan sedikit. Karena itu, di rantau harus sukses. Kalau ongkos pulang saja susah mencarinya, bagaimana pula akan membantu membangun kampung halaman saat pulang lebaran.

5) Rendah hati. Dalam berusaha di rantau orang, salah satu modal yang harus dimiliki pula adalah rendah hati. Dengan memiliki sifat rendah hati, dia seseorang mudah menarik simpati orang. Kalau simpati orang sudah didapatkan, jaringan bisnis akan mudah dibuat. Jika jaringan bisnis sudah luas, usaha yang dilakukan akan berjalan lancar dan akan mudah berkembang. Karena itu, sifat rendah hati menjadi salah satu modal usaha bagi orang Padang. Dan dengan ini, orang Padang dikenal mudah bergaul. Dia tidak sombong. Sifat sombong diyakini pengusaha Padang menjauhkan rezeki. Sebaliknya sifat rendah hati mendatangkan rezeki. D sinilah perlunya pepatah yang sekaligus telah menjadi falsafah hidup orang Padang seperti yang telah saya kemukakan sebelum ini dipegang teguh, yang mengatakan, bahwa kalau mandi hilir-hilir, berkata di bawah-bawah. Hati-hati dengan yang di atas, waspadai yang di bawah kalau menimpa. Ingat sebelum kena, pasang lantai sebelum terpuruk. Semua ini adalah kata kiasan yang mengharuskan seseorang rendah hati, menjauhi sifat sombong.

6) Menepati janji. Orang Padang memegang prinsip wajib hukumnya menepati janji. Orang yang suka tak menepati janji atau suka mangkir janji, akan sulit dipercaya orang. Seperti dikatakan pada poin pertama tadi, kepercayaan adalah modal utama dalam berusaha. Kalau berjanji pukul 07.00, harusnya pukul 6.55 sudah hadir. Lebih baik menunggu daripada ditunggu. Dalam hal berjanji ini, pepatah orang Padang mengatakan, bahwa kalau licin bertongkat keris, kalau hujan berpayung destar, namun janji tetap harus ditepati. Jangan ada alasan untuk tidak menepati janji. Kalau ada utang dan berjanji akan membayarnya tanggal 16 Februari, tanggal 15 Februari harusnya sudah siap. Dengan ini, untuk menemui tanggal 16 sudah siap. Jangan sampai kalau berjanji membayar utang tanggal 16, tanggal 20 baru akan diusahakan. Berutang dalam berbisnis biasa, bahkan lebih baik. Namun dengan catatan, jangan sampai utang tak dibayar. Apalagi kalau sempat tidak ada niat untuk membayar utang. Walaupun bisa tak dibayar utang dengan berbagai dalih, dengan beribu alasan, tetapi ingatlah bahwa ke depan nanti orang tempat berutang itu tak akan pernah lagi mempiutangi. Malahan mungkin akan diinformasikannya kepada orang lain agar jangan dipinjami. Karena itu, menepati janji bagi orang Padang sungguh sangat penting artinya.

7) Fokus. Satu hal yang sangat penting pula, adalah fokus pada setiap usaha, pada setiap kegiatan yang dilakukan. Kalau beranjak dari kampung pergi merantau untuk mengubah nasib kepada yang lebih baik, setiba di rantau harus fokus kepada tujuan semula itu. Apa pun godaan dan rayuan setiba di rantau untuk berubah haluan kepada yang lain, jangan sampai terpedaya. Jangan setiap sebentar tujuan hidup berubah. Orang Padang pergi merantau selalu fokus pada perjuangan mengubah nasib kepada yang lebih baik. Itu pulalah yang menyebabkan mereka tak segan-segan bersorak-sorak berdagang di kaki lima. Sebab di balik itu dia punya mimpi sangat besar, ingin jadi pengusaha sukses, ingin memperlihatkan pada orang kampungnya setelah berhasil nanti.

8) Berusaha sambil berdoa. Seperti diketahui, orang Padang terkenal dengan kekuatan adat dan agamanya. Dengan berbekalkan ini pulalah orang Padang bisa sukses dalam meniti kariernya sebagai pengusaha sukses yang dimulainya dari bawah. Antara berdoa dengan berusaha harus sejalan. Jangan berdoa saja tanpa berdoa. Sebaliknya jangan pula berusaha saja tanpa berdoa. Dalam memperjuangkan hidup, dalam perjuangan untuk mencapai kesuksesan, salah satu prinsip yang dipakai orang Padang adalah berusaha sambil berdoa.

Semua prinsip yang dipakai orang Padang ini sungguh sangat penting artinya bagi Siapa pun dalam melakukan usaha. Sebab, dengan ini seseorang akan dihargai orang, akan dipercayai orang, akan disegani dan dihormati orang. Anda bisa meniru prinsip-prinsip orang Padang ini. *

(9)  JADI BOS YES, JADI ANAK BUAH NO
Sikap hidup memilih menjadi bos dan menjauhi menjadi anak buah, merupakan sikap hidup yang membuat orang Padang sebahagian besar memilih jalan hidupnya sebagai pengusaha atau pebisnis.

Orang Padang sebahagian besar bersikap, tak nyaman menjadi pekerja, menjadi pegawai kantoran, karena diperitah-perintah, disuruh-disuruh, dengan gaji sudah ditentukan setiap bulan. Tak ada ketentuan, semakin sering disuruh-suruh atau diperintah-perintah semakin besar pula gaji.

Sikap memilih jadi bos dengan segala resiko yang sudah siap dihadapinya ini telah terpatri di hati orang Padang semenjak dia kecil. Bahkan semenjak masih bayi, orang Padang telah menidurkan anaknya melalui bernyanyi dengan menyenandungkan pantun-pantun pemotivasi. Antara lain yang selalu disenandungkan seorang ibu kalau menidurkan anaknya,” Anak kandung cepatlah besar. Setelah engkau besar nanti, jadilah pembangkit batang terendam. Jadilah penuntut malu oleh ibunda. Jadilah tempat mengadukan nasib dan tempat berlindung oleh orang di kampung !”.

Senandung yang dilagukan dengan irama memukau sehingga anaknya tidur dengan nyenyak ini, merupakan kata-kata pemotivasi bagi si anak.
Kata-kata pembangkit batang terendam merupakan kata-kata penggugah hati agar si anak setelah dewasa nanti bisa menjadi pengangkat harkat dan martabat keluarganya. Penuntut malu berarti bisa menjadi pejuang bagi keluarganya kalau nanti ada persoalan-persoalan yang dialami keluarganya. Tempat mengadukan nasib dan tempat berlindung bagi orang di kampung, maksudnya agar bisa nanti si anak ini setelah dewasa tempat orang di kampung atau orang lain meminjam jika terdesak uang, mendapatkan solusi dalam suatu kesulitan hidup. Atau, bisa pula untuk berlindung bagi orang di kampung dari berbagai kesulitan dan kesusahan hidup. Jadi, tidak hanya sebatas bisa membahagiakan dirinya saja, melainkan diharapkan juga bisa membias kepada orang lain.

Satu hal lagi yang merupakan penanaman sikap jadi bos bagi orang Padang, adalah ketika masih bayi, ada semacam kebiasaan dilakukan orang Padang beberapa hari setelah si bayi lahir, yakni dilangsungkanlah acara turun mandi. Dalam acara turun mandi itu, akan disuguhi ke lidah si bayi cabe dan garam. Ini maksudnya, semenjak dari bayi si anak telah diingatkan bahwa setelah dewasa nanti harus bisa mandiri, harus mau berusaha keras dalam memperjuangkan hidup. Jadi maksudnya, rasakanlah dari sekarang pedasnya cabe dan asinnya garam. Setelah dewasa nanti, kalau ingin merasakan pedasnya cabe berjuanglah mendapatkan cabe dan kalau ingin merasakan asinnya garam berjuanglah untuk mendapatkan garam. Jangan ditunggu pemberian orang dan jangan jadi orang pemalas. Kalau pemalas tak akan bisa merasakan pedasnya cabe dan asinnya garam.

Semangat yang ditanamkan di sini adalah semangat menjadi bos. Sebab semangat bos adalah semangat jadi pemimpin. Semangat jadi pemimpin adalah semangat berada di garis depan dengan segala resiko yang harus dihadapi.Semangat bos, untuk memperoleh penghasilan besar harus berjuang keras dan berjuang cerdas, harus bekerja keras dan bekerja cerdas, harus perbanyak bangun ketimbang tidur, harus menjauhi sikap hidup berleha-leha dan membudayakan sikap hidup memeras keringat dan memutar otak. Bekerja keras di sini bukan berarti sebagai pekerja, tetapi sebagai seorang bos yang tak mau santai-santai saja.

Jadi, menjadi bos memang sudah menjadi sikap hidup orang Padang. Untuk bisa menjadi bos, sudah barang tentu harus menghindari jadi pegawai kantoran. Untuk jadi bos harus mau membuka usaha sendiri.
Farrah Gray, seorang anak kulit hitam Afro Amerika yang hidup di pemukiman kumuh bersama ibunya yang sudah bercerai dengan ayahnya dengan 5 orang beradik kakak, dapat menjadi pemotivasi bagi anda dan saya dalam mengubah hidup ke arah yang lebih baik, dengan sikap hidup menjadi bos.

Kendatipun Farrah Gray hidup dalam keluarga miskin, namun cita-citanya bukan jadi pekerja untuk dapat makan pagi dan petang. Namun sebaliknya dia punya mimpi besar ingin menjadi bos, ingin punya perusahaan. Si kecil Farrah Gray, kecil-kecil sudah berani membuat kartu nama dengan nama Farrah Gray yang di bawahnya bertuliskan, ”CEO ABAD 21”. Bayangkan, betapa beraninya dia. Namun apa yang terjadi? Ketika baru saja berumur 14 tahun, Farrah Gray telah menjadi seorang miliarder di negara adi daya Amerika Serikat. Sejak kapan Farrah memulai kariernya? Lelaki yang selalu tampak bersemangat itu lahir 9 September 1984, dan memulai karier di dunia usaha semenjak berumur 6 tahun.

Dengan ini terlihat sekali bahwa dorongan atau motivasi yang menjadikan seseorang punya mimpi besar dalam menghadapi kehidupannya ke depan sangatlah penting. Orang Padang telah mendapatkan itu semenjak kecil.
Semangat menjadi bos telah didapatkannya semenjak kecil. Semangat menjadi bos telah merasuk ke darah daging orang Padang semenjak dia masih dalam gendongan ibundanya.

Setelah besar, orang Padang mengimplementasikan semangat itu dalam bentuk nyata dengan pergi merantau. Di rantaulah orang Padang menemukan jati didirnya sebagai seorang yang harus hidup mandiri demi untuk mencapai mimpi besarnya menjadi seorang bos, menjadi seorang pemilik perusahaan dan menjadi seorang pengusaha sukses.*

(10)  PENGUSAHA PADANG DAN PENGUSAHA CINA
Apabila diperhatikan, pengusaha Padang dengan pengusaha Cina memiliki banyak kemasaan. Kendatipun dalam beberapa hal mungkin memiliki perbedaan. Namun pada intinya, pengusaha Padang dan pengusaha Cina sama-sama pekerja keras dan pekerja cerdas, sama-sama punya semangat pantang menyerah dan sama-sama memegang teguh kejujuran. Keduanya pun sama-sama terkenal karena keuletannya dalam menjalankan usaha.
Disamping itu, baik pengusaha Padang maupun pengusaha Cina, sama-sama punya kultur hidup merantau. Orang Cina sangat dikenal sebagai orang perantau. Di belahan dunia mana pun ada orang Cina. Dan mereka pun dikenal pandai menyesuaikan diri.

Dari sisi kesabaran memperjuangkan usaha, baik pengusaha Padang maupun pengusaha Cina, tampak sama-sama memilikinya. Kesabaran pengusaha Padang dalam berjuang untuk bisa menjadi pengusaha sukses, seperti telah disinggung dalam bab terdahulu, mereka rela berpanas-panas berjualan peniti, sisir dan ikat pinggang di pinggir-pinggir jalan. Mereka pun mau bersorak-sorak di pasar-pasar tradisional untuk menjual pakaian tiga seribu. Orang Cina pun tak kalah sabarnya. Mereka pun mau mengawali berusaha dari bawah. Mereka relah bertahun-tahun, bahkan berpuluh-puluh tahun hidup menderita untuk sebuah mimpi besar menjadi seorang pengusaha sukses.

Secara umum banyak sekali kesamaan antara pengusaha Padang dengan pengusaha Cina. Dan semua kesamaannya ini bisa anda jadikan sebagai suatu pedoman untuk membuka, menjalankan dan mengembangkan usaha.
Kalau pengusaha Padang memiliki prinsip teguh tentang memegang kepercayaan, pengusaha Cina pun demikian pula. Bagi orang Cina, kepercayaan sungguh sangat tinggi nilainya. Kalau anda mendapat kepercayaan dari seorang pengusaha Cina, anda akan menjadi orang kaya raya. Sebab, bagi pengusaha Cina, kalau seseorang sudah dipercayainya, dia akan mau memodali anda berusaha. Uang bagi orang Cina tak jadi persoalan, kalau sudah bisa dia percayai. Tetapi anda harus ingat, sekali saja anda diketahuinya tak jujur, sekali saja anda mencoba mengkhianati kepercayaan yang diberikannya, selama hidupnya tidak akan pernah lagi anda dia percayai. Tidak mudah mendapatkan kepercayaan orang Cina.
Karena itu, baik pengusaha Padang maupun pengusaha Cina, harus mampu anda jadikan mereka mempercayai anda, jika anda ingin berhubungan lama dengannya. Sebenarnya kepercayaan ini amat penting, tidak saja terhadap orang Padang atau orang Cina, tetapi terhadap siapa saja.

Dari segi disiplin, baik pengusaha Padang maupun pengusaha Cina, sama-sama disiplin dalam masalah keuangan. Bagi pengusaha Cina, satu sen uang sangat berarti. Bagi pengusaha Padang pun demikian pula.
Mungkin karena itu pulalah, maka banyak orang mengatakan, bahwa pengusaha Cina dan pengusaha Padang selama ini yang menguasai perdagangan di Tanah Abang, di Blok M dan lain sebagainya.
Namun dari segi merantau, kalau orang Cina terkenal dengan istilah ”merantau Cina”-nya, tetapi orang Padang merantau bukan demikian. Merantau Cina yang dimaksudkan di sini, orang Cina merantau benar-benar pergi untuk selamanya. Di mana saja dia berada, orang Cina pada umumnya menganggap di sana kampung halamannya. Seakan-akan dia tak ingat pulang kampung lagi. Namun orang Padang merantau, selalu ingat pulang kalau sudah berhasil. Bagi orang Padang, suatu kepuasan tersendiri kalau bisa mengeluarkan uangnya sebanyak mungkin untuk membangun kampung halamannya. Di Pariaman, Sumatra Barat misalnya, ada istilah badoncek. Maksudnya, kalau lebaran datang mereka pulang kampung bersama-sama. Sebelum kembali ke rantau mereka akan mengadakan suatu pertemuan dengan masyarakat di kampungnya Dalam pertemuan itu mereka akan saling mengeluarkan uang secara bersama-sama untuk membangun kampung halamannya. Dalam kegiatan badoncek ini ada satu orang yang mengumumkan melalui pengeras suara setiap ada yang memberikan sumbangan. Semua orang akan mendengarkan siapa saja yang memberikan sumbangan. Biasanya akan berlomba-lomba mnengeluarkan uang saat acara badoncek tersebut. Hal ini sangat besar dampak positifnya untuk kemajuan pembangunan kampung halamannya masing-masing.

Bagi seseorang yang akan pergi merantau, biasanya ada nasehat dari orangtua dan pamannya, yang mengatakan agar jangan pergi merantau seperti merantau Cina. Maksudnya, jangan sampai merantau tak ingat lagi kampung halaman selama-lamanya. Namun begitu, tidak sedikit pula orang Padang yang merantau tak pulang-pulang sampai mati. Tidak sedikit pula yang semenjak pergi merantau tak ada kabar beritanya ke kampung.
Namun yang jelas, banyak sekali persamaan pengusaha Padang dengan pengusaha Cina. Dan semua ini patut anda ambil menjadi pedoman dalam meniti karier di dunia usaha. *

(11)  RUMAH MAKAN PADANG KAPAN ADA DI BULAN?
Suatu pertanyaan yang menggelitik, adalah kapan rumah makan Padang ada di bulan? Namun melihat keuletan orang Padang dalam berbisnis, asal ada peluang pasar di bulan, rumah makan Padang akan berdiri di sana.
Artinya, sungguh sangat ulet orang Padang dalam berbisnis. Kalau saja ada orang bermukim di bulan sana, kemungkinan besar akan berdiri rumah makan Padang di sana. Bahkan kalau ada orang bermukim di mata hari, orang Padang akan memberanikan diri pula mendirikan rumah makan di sana.

Orang Padang tak memilih-milih tempat usaha, tak mau berpikir berlama-lama untuk mendirikan usaha. Asal ada peluang, dia akan masuk. Dan dalam berbisnis memang harus demikian. Berbisnis taklah berteori, tetapi melakukan praktik secara langsung. Orang yang banyak berteori tak pas untuk melakukan usaha. Sebab, teori adakalanya tak sama dengan kenyataan praktik di lapangan. Bahkan banyak sekali yang tak sesuai dengan praktik di lapangan. Usaha memerlukan praktik di lapangan.
Teori berjalan tak selamanya cocok dengan praktik berjalan. Teori berenang tak selamanya cocok dengan praktik berenang. Teori berbisnis tak selamanya cocok dengan praktik berbisnis di lapangan.

Orang Padang dalam berbisnis tak berpatokan seratus persen pada teori, tetapi selalu berpedoman pada pengalaman lapangan secara praktis. Itulah yang menyebabkan bisnis orang Padang lancar.Orang Padang tak peduli di puncak gunung, di pinggiran kali, di pusat kota dan di mana saja untuk melakukan kegiatan bisnisnya. Baginya, asal ada peluang usaha, asal ada terbetik peluang pasar, dia akan langsung berbisnis di sana.

Ketika Timor Timur melepaskan diri dari Negara Indonesia, sesaat setelah berlangsung referendum, banyak sekali orang Padang yang berbisnis di sana terkena imbasnya. Maksudnya, orang Padang banyak sekali yang berbisnis di sana. Di samping orang Padang banyak yang pulang ke kampung halamannya kembali, atau pindah ke daerah lain di Indonesia, banyak juga yang memilih tinggal di sana. Inilah bukti, bahwa jangankan di Timor Timur (Timor Leste-sekarang), di bulan pun orang Padang berani berbisnis, jika sudah ada konsumen di sana.

Mengapa secekatan itu orang Padang berbisnis? Dapat dijelaskan, sebagai berikut:

1) Tidak Mau Manja. Pengusaha Padang tidak mau hidup bermanja-manja. Dia rela hidup menderita, hidup dengan pahit getir demi untuk mencapai mimpi besarnya menjadi orang kaya raya. Orang Padang punya satu prinsip, yakni,” Di mana bumi diinjak, di sanalah langit harus dijunjung. Di mana ranting di patah, di sanalah sumur harus disauk. Janganlah beraja di rantau raja dan bersultan di rantau sultan”. Maksudnya, di maman pun berada harus dituruti atau dipatuhi setiap ketentuan yang ada di sana. Jangan sekali-kali menyombongkan diri dan jangan sekali-kali membawa adat kebiasaan kita ke rantau orang.

2) Teguh Pendirian. Pengusaha Padang terkenal teguh pendiriannya. Dia tak mudah terpengaruh atau terpedaya oleh hal-hal yang tidak menguntungkan kepada usaha yang sedang ia lakukan. Prinsip yang dipegang pengusaha Padang dalam hal ini,”Dihembus orang jangan mudah gembung, dihirup orang jangan mudah kempis”. Maksudnya, jangan mudah terpedaya oleh masukan kiri dan kanan, yang tak ada manfaatnya bagi kesuksesan usaha yang sedang dijalankan.

3) Pantang Menyerah. Bagi orang Padang, dalam berbisnis berpantang menyerah. Tak ada kamus menyerah, meski sesulit apa pun kendala yang dia hadapi. Biar makan sekali sehari pun, dia tak akan menyerah, tak akan putus asa dan tak akan pernah tak melanjutkan kariernya di dunia usaha. Pengusaha itu akalnya seribu satu. Pengusaha Padang yakin betul dengan itu. Namun apabila mengalami kegagalan, dia akan menjadikan kegagalan itu sebagai guru, sehingga ke depan semakin hati-hati, semakin matang dan semakin arif bijaksana. Pepatah orang Padang mengatakan, ”Tuhan bersifat kadim, manusia bersifat gawa”. Maksudnya, Tuhan-lah yang bisa punya sifat pasti, tak pernah salah, tak pernah keliru. Sedangkan manusia punya sifat kilaf, keliru, salah dan lain sebagainya. Karena manusia punya sifat itu tadi, maka dia harus banyak belajar dari segala kekhilafan, kesalahan dan kekeliruannya tersebut, dalam menuju mimpi besarnya ke depan agar tercapai. Jadi, kegagalan pun tak perlu diratapi dan disesali, tetapi dijadikan pelajaran untuk mencapai keberhasilan.

4) Tidak Mendua Hati. Dalam berbisnis, bagi orang Padang berpantang mendua hati. Maksudnya, tidak ada cabang pikiran kepada yang lain selain berbisnis, selain menjalankan usaha dan selain berdagang.Tidak dikenal dalam perdagangan orang Padang, sambil berdagang ada pula pikiran untuk bertani dan lain sejenisnya. Kalau akan berbisnis, betul-betul berbisnis. Kalau akan bertani, bertani betul. Jangan nyambil berdagang. Jangan setengah-setengah. Dalam pepatah orang Padang dikatakan,”Kalau tak kaya, berani pakai. Maksudnya, dalam mengarungi kehidupan ini harus benar-benar fokus pada satu jalan hidup. Jangan setengah-tengah. Orang yang punya banyak cabang pikiran dalam mengarungi kehidupan ini biasanya selalu ragu atau terlalu banyak pertimbangan. Orang yang dibalut ragu atau yang terlalu banyak pertimbangan, akan mengalami kegagalan. Sebab, karena selalu ragu, tak bisa mengambil keputusan, akhirnya tak ada yang dilaksanakan satu pun. Jadi, kalau sudah diambil keputusan, harus dijalankan, tanpa menghiraukan tantangan, rintangan dan hambatan. Sekali layar terkembang, berpantang surut ke belakang.

5) Dekatkan Diri Pada Yang Maha Kuasa. Orang Padang yang sejak dari kecilnya telah mendapatkan ilmu agama melalui mengaji di surau, di dalam menjalankan usaha, di dalam berbisnis selalu mendekatkan dirinya kepada Yang Maha Kuasa. Kebiasaan beusaha sambil berdo’a sudah menjadi darah daging bagi orang Padang. Sebab dalam agama sudah dijelaskan, bahwa manusia hanya diharuskan berusaha semaksimal mungkin, dan selanjutnya harus diserahkan kepada Yang Maha Kuasa dengan cara berdo’a.
Dengan berpegang teguh kepada beberapa hal ini, pengusaha Padang terbukti bisa menjalankan usahanya di mana saja. Tak peduli di bulan sekali pun, kalau sudah ada konsumen atau pasar di sana.

Dengan ini dapat dikatakan, bahwa jika ada pertanyaan, kapan rumah makan Padang ada di bulan? Jawabnya adalah apabila ada konsumen atau pasar di sana nanti. Jika ada konsumen atau pasar di sana, peluang pasar tersebut akan diambil oleh orang Padang, meskipun yang merinstis jalan ke sana bukan dia.. *

(12) KEULETAN ORANG PADANG DALAMN BERBISNIS
Tak bisa lagi dipungkiri, bahwa keuletan orang Padang dalam berbisnis telah terkenal ke mana-mana. Bahkan seperti dikatakan dalam bab terdahulu, kalaulah sekarang ada konsumen atau pasar di bulan, orang Padang akan membuka rumah makan Padang di sana. Keuletan orang Padang dalam berbisnis, sungguh mengagumkan semua orang. Dia tak peduli dengan berbagai hambatan dan rintangan. Bahkan segala hambatan dan rintangan itu dia jadikan sebagai suplemen untuk lebih berani dan lebih bersemangat lagi melangkah ke depan menuju mimpi besarnya menjadi pengusaha sukses.

Ada beberapa hal menyangkut keuletan orang Padang yang mungkin bisa menjadi pedoman bagi anda dalam menjalankan usaha :

1) Berpantang Ketinggalan. Dalam berbisnis atau menjalankan usaha, orang Padang menyatakan berpantang ketinggalan. Maksud ketinggalan di sini adalah terlambat dari orang lain dalam menangkap peluang bisnis. Agar tak ketinggalan, dia selalu ulet dalam memantau, mengamati dan memperhatikan peluang-peluang usaha yang bisa ditangkapnya. Begitu peluang usaha melintas, akan dia sabet langsung tanpa banyak pertimbangan, tanpa banyak pikir. Suatu contoh, saat lebaran tinggal lagi sekitar 3 bulan ke depan. Dari sekarang biasanya dia sudah mempersiapkan dagangannya yang sesuai dengan kebutuhan lebaran tersebut. Bisa saja, berbagai jenis kue, pakaian bagi yang punya usaha di bidang pakaian jadi dan berbagai hal lainnya. Begitu datang lebaran nanti, dia langsung bisa star.

2) Hebat Melobi. Kemampuan orang Padang dalam melobi, tak diragukan lagi. Dalam berbisnis, kemampuan lobi sangat diperlukan. Dengan kemampuannya melobi, orang Padang dalam berbisnis mampu meyakinkan orang, apakah dia konsumen atau pelanggan, perbankan dan lain sebagainya untuk memperoleh pinjaman atau berbagai hal lainnya yang berkaitan dengan usaha yang sedang ia jalankan. Sehebat apa pun hasil produk suatu perusahaan, kalau orang tidak yakin dengan kehebatannya, niscaya tidak akan pernah laku di pasaran. Karena itu, kemampuan melobi sangat penting di sini. Dengan lobi yang bagus, pun akan bisa pula membuat jaringan bisnis semakin luas kiri dan kanan, atas dan bawah, hulu dan hilir.

3) Tidak Pemalas. Malas adalah penyakit yang harus dihindari oleh siapa pun, terutama dalam berbisnis. Orang pemalas tak akan bisa maju. Orang Padang sudah terkenal ulet. Orang ulet mustahil pemalas. Bagi orang Padang, dalam berbisnis tak kenal kata malas. Sebaliknya harus mau menjadi pekerja keras, mau bersimbah keringat dan mau melangkah dari bawah. Kalaulah orang pemalas yang punya peluang besar untuk kaya raya, Indonesia mungkin saat ini telah menjadi sebuah negara kaya raya. Tetapi malangnya, malas itu pangkal miskin dan rajinlah yang menjadi pangkal kaya. Bagi orang Padang tak ada dalam diri seseorang yang boleh menyebabkan dia pemalas. Sebaliknya, kekurangan dan kelebihan yang ada pada dirinya haruslah dia jadikan untuk mendorong semangat menjadi rajin. Seperti dikatakan dalam prinsip hidup orang Padang, ” Orang buta bisa untuk penghebus lesung(tempat penumbuk padi atau tepung), orang pekak bisa untuk pelepas senjata, orang ganteng atau cantik bisa untuk menanti tamu dalam berpesta, orang bertampang jelek sekali ada juga gunanya, yakni untuk pengupaskulit pisang”. Jadi, semua manusia di muka bumi ini dalam prinsip hidup orang Padang bisa berkiprah, bisa berkreativitas, asalkan mau memeras keringat, mau berusaha.

4) Pemberani. Sikap pemberani yang dimiliki orang Padang dalam berbisnis, bukan main pula besar manfaatnya. Sebab, seorang pebisnis jika tak berani, tak akan pernah satu ide pun bisa dia jalankan. Sebab semua yang akan dilakukan itu pasti ada tantangannya. Orang penakut mana mungkin bisa menghadapi tantangan. Pemberani di sini bukan maksudnya berani membabi buta tanpa perhitungan. Tetapi berani yang penuh perhitungan. Pemberani di sini bukan pula senangnya hanya berkelahi. Berani di sini maksudnya adalah berani mencoba, berani melakukan, berani bereaksi dengan ide-ide bisnis yang telah ada pada pikirannya. Orang berani akan sukses jika dia mampu menghindari hal-hal yang mungkin menggagalkannya. Orang berani akan terjungkal kalau keinginannya hanya menabrak tantangan yang ada di depannya saja. Kemampuan menghindar itu akan dilakukan pemberani cerdas atau pemberani otak. Tetapi berani menabrak, berani membabi buta akan dilakukan oleh pemberani fisik atau pemberani tak cerdas. Pemberani fisik akan dengan mudah dilkalahkan oleh pemberani cerdas. Dalam berbisnis yang dibutuhkan bukan pemberani fisik, tetapi pembrenai cerdas atau otak.

5) Tegas. Ketegasan dalam berbisnis sangat penting. Ketegasan akan menghilangkan keragu-raguan, akan menghilangkan kebimbangan dan akan menghilangkan rasa was-was yang terlalu besar. Apa yang dialakukan pebisnis yang memiliki ketegasan akan tampak jelas, akan terang benderang, tidak abu-abu. Orang Padang dalam berbisnis, tegas. Sekali diputuskan untuk melangkah, dengan jelas dan dengan tanpa ragu-ragu dia akan melakukannya. Dan dalam berbisnis, kejelasan tujuan yang hendak dicapai sangat penting. Jangan seperti kapal berlayar di tengah lautan yang tak tentu pulau hendak dituju. Begitu sauh diangkat, begitu tali dilepaskan, begitu kapal bergerak dari dermaga, harus jelas pulau yang hendak dituju. Kalau tak demikian, anda akan terkatung-katung di tengah lautan lepas. Lapangan dunia usaha adalah bagaikan lautan luas yang sulit sekali menentukan di mana tepinya.

Lima hal pokok keuletan orang Padang ini sangat penting artinya dalam
mengembangkan usaha bagi siapa saja. Karena itu, tak salah kalau anda mempedomani pula kelima hal ini. *

(13)  SEMANGAT MEMBANGKIT BATANG TERENDAM DALAM MEMBANGUN USAHA
Membangkit batang terendam merupakan kalimat sakti orang Padang dalam memperjuangkan hidupnya. Khusus dalam membangun usaha, kalimat pendek ini sangat besar artinya bagi orang Padang.

Batang atau pohon kayu terendam adalah tamsilan dari suatu kehidupan yang terbenam, yang terpuruk, miskin. Jadi, seseorang yang berjuang bangkit dari keterpurukan itu, disebutlah membangkit batang terendam.
Bayangkan, betapa sulitnya mengangkat pohon kayu yang telah terbenam di dasar air, seperti di dasar sungai yang deras atau di dasar lautan yang demikian dalam. Untuk membangkitnya membutuhkan semangat yang tinggi, membutuhkan mental yang kuat, membutuhkan kemauan keras yang bukan main. Namun kalau terangkat nanti, betapa tingginya rasa puas yang dimiliki si pembangkit batang terendam tersebut. Dan semangat inilah yang dipatrikan orang Padang kepada anak-anaknya mulai sejak kecil, mulai semenjak dari buayaian, mulai semenjak si bayi dibuai disenandungkan ibunya.

Semangat membangkit batang terendam ini pulalah yang diterapkan orang Padang dalam membangun usahanya. Seorang yang tengah membangun usaha, baik saat memulai, mengembangkan atau melanjutkannya, disebut membangkit batang terendam. Semangat ini sungguh sama seperti suntikan motivasi yang sangat kuat bagi orang Padang dalam berbisnis.
Mungkin banyak yang bertanya selama ini, kenapa orang Padang itu dalam membangun usaha seperti tak kenal lelah, seperti tak kenal putus asa dan ada-ada saja ide yang muncul di benaknya untuk membangun kerajaan bisnisnya. Rahasianya adalah dia punya suplemen penguat yang disebut dengan membangkit batang terendam.

Bagi orang Padang, daripada membawa kegagalan pulang, lebih baik larek (larut atau tak pulang-pulang), dan tetap saja di rantau sampai mati. Sebab, kegagalan berjuang mengubah nasib di rantau orang, sama saja dengan tak mampu membangkit batang terendam.

Jika diperhatikan, semangat membangkit batang terendam ini sangat besar artinya dalam mencapai kesuksesan bagi orang Padang dalam membangun usaha. Tak berlebihan agaknya jika dikatakan sama dengan semangat ara kiri orang Jepang.Orang Padang akan merasa tak ada gunanya hidup di dunia ini kalau tidak akan terbangkit batang terendam. Tak ada gunanya pulang kampung dari rantau kalau tak akan terbangkit batang terendam.

Dengan kesuksesan membangun usaha, dengan kesuksesan jadi konglomerat, akan mengangkat harkat dan martabat diri sendiri, keluarga dan kaum yang yang sebelumnya mungkin tak begitu dipandang orang di kampung.

Semangat ini sungguh sangat besar artinya bagi orang Padang di dalam memicu semangatnya memperjuangkan hidup melalui membangun usaha. Dengan semangat ini orang Padang mau berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu untuk bersenang-senang kemudian.Keberhasilan seseorang dalam sisi apa saja, terutama dalam sisi bisnis, sangat tergantung kepada motivasi yang ada pada dirinya. Kalau motivasi dirinya dalam berbisnis lemah, maka usahanya akan lemah pula. Kalau motivasi dirinya kuat, maka bisnisnya akan sukses pula. Karena itu, dalam berbisnis motivasi sangat diperlukan. Mustahil seorang pengusaha akan sukses dalam meniti kariernya kalau dia tidak termotivasi untuk menjalankan bisnisnya. Karena motivasi adalah daya dorong yang dimiliki seseorang untuk mencapai apa yang diinginkannya. Seperti saya katakan tadi, orang Padang punya motivasi yang sangat ampuh, yaitu membangkit batang terendam.

Anda sebagai pengusaha, orang yang berencana memulai usaha atau yang sudah dalam tahap mengembangkan usaha, sangat memerlukan motivasi seperti yang dmiliki pengusaha Padang ini. Anda boleh saja mengambil motivasi orang Padang ini untuk anda jadikan pemotivasi diri anda.
Tidaklah benar kalau hanya orang Padang yang boleh memanfaatkannya. Sebab, semangat membangkit batang terendam ini boleh dimiliki oleh siapa saja yang mau maju dalam menjalankan usahanya. Rasa malu gagal, rasa terhina kalau tak sukses, harus anda jadikan pemicu semangat untuk lebih giat lagi berusaha dalam membangun dan mengembangkan usaha anda. Semoga anda menjadi seorang pengusaha sukses yang disegani di mana saja anda berada. Amin…!

(14)  BERANI BERUSAHA CARA ORANG PADANG
Agaknya, cara orang Padang berusaha tak jauh berbeda dengan cara orang lain. Namun seperti dikatakan pada bab terdahulu, orang Padang itu punya motivasi yang kuat, sehingga dia berani seperti tentara di medan perang, pantang menyerah sebelum berhasil. Lebih dari itu, yang membuat orang Padang itu sukses berusaha, dia tak pernah mengharapkan modal usaha berupa uang yang banyak dalam memulai usaha. Dia pun seakan-akan tak peduli dengan modal usaha uang tersebut sama sekali.

Bagi orang Padang, modalnya dalam memulai dan menjalankan usaha, cukup hanya dengan bermodalkan kesabaran saja. Dia bisa sabar bertahun-tahun hidup menderita untuk memperjuangkan sebuah mimpi besar yang ingin dicapainya. Tak banyak orang yang bisa sabar seperti itu, tetapi dalam kenyataannya orang Padang bisa.

Bagi orang Padang yang telah menjadi pengusaha sukses di rantau orang, kalau ada sanak familinya dari kampung mendatanginya untuk mencari penghidupan, dia tak langsung mengambilnya sebagai pekerja atau pegawai di perusahaannya. Dia hanya akan mempersilakan menginap di rumahnya. Setelah beberapa hari, dia akan memberinya modal untuk berdagang asongan, seperti berdagang asongan rokok di jalanan.

Untuk diingat, dia hanya satu kali itu saja akan memberi. Ketika modal itu diserahkannya, dia akan menekankan bahwa hanya sekali itu akan memberi. Kalau bisa hidup berkelanjutan oleh modal yang diberikannya itu, silakan berlanjut terus sampai besar dan menjadi pengusaha sukses. Sebaliknya kalau tak bisa mengembangkan usaha tersebut, tak akan pernah lagi diberinya. Malah dia akan memberinya ongkos pulang kampung. Gaya seperti ini rata-rata diberikan pengusaha sukses asal Padang kepada familinya yang coba mendatanginya dari kampung untuk berusaha.
Maksudnya memperlakukan seperti ini, supaya dia sadar bahwa hidup ini tidak gampang. Karena hidup tak gampang, dia tak boleh menjadi orang yang bertangan di bawah terus. Sekali diberi modal usaha, besoknya diberi lagi. Akhirnya dia akan menjadi peminta-minta, akan menjadi pengemis. Kalau diberi terus menerus, semangat juangnya untuk mencapai keberhasilan tak akan muncul. Orang Padang tak menginginkan sanak familinya menjadi pengemis. Daripada menjadi pengemis, daripada menjadi peminta-minta terus menerus dengan alasan untuk modal, lebih baik pulang saja ke kampung. Mungkin dia lebih baik menokak tanah menjadi petani di kampung. Mungkin itu kerja yang cocok untuk dia.
Dengan ini, seorang yang sepenakut apa pun, akan berani melakukan usaha. Sebab, kalau sempat modal yang diberikan familinya yang pengusaha sukses itu habis, tak bakalan ditambahnya lagi. Malahan hanya akan diberinya ongkos pulang kampung. Kalau sempat ini terjadi, bukan main beratnya rasa malu yang akan berada di pundaknya. Dia akan diledek orang kampung dengan mengatakan,”Sudah jelas bodoh, merantau pula. Bikin malu saja”.

Jadi, karena dia harus bisa mengembangkan usaha dengan modal yang diberikan padanya tadi, dia harus berani bertarung di pasar dengan sesama penjaja rokok asongan lainnya. Dia harus menang. Dia tak boleh kalah. Kalah berarti pulang miskin ke kampung. Kalau itu terjadi, malunya bukan main. Berani bertarung ini bukan berkelahi, tetapi berani mengadu strategi dan taktik di antara sesama pedagang asongan.

Untuk keberanian berkelahi, sulit terdengar orang Padang tawuran di rantau orang. Ini dikarenakan orang Padang selalu memegang prinsip bahwa merantau bukan mencari lawan tetapi mencari uang.Lagi pula, karena demikian beratnya beban moral sebagai orang yang ingin mencapai mimpi besar di rantau orang, membuat dia tak sempat lagi memikirkan yang lain-lain selain memikirkan bagaimana agar usahanya berhasil. Tak ada lagi waktu baginya untuk memikirkan yang tak penting, yang di luar jalur usahanya. Dia berhenti memikirkan usahanya kalau telah tertidur. Namun begitu tersentak tengah malam atau terbangun di pagi hari, langsung dia teringat pada usahanya, langsung dia teringat kepada modal usahanya yang hanya segitu banyaknya, ingat dia bahwa jika sempat tak berujung dagangannya, dia akan pulang kampung dengan miskin. Dia akan pulang dengan menyandang rasa malu yang bukan main beratnya.
Orang Padang akan sangat malu kalau baru beberapa bulan merantau lantas pulang. Semakin lama merantau, semakin menambah kewibawaannya setiba di kampung. Apalagi kalau perantau yang sudah lama tak pulang-pulang itu pulang kampung membawa keberhasilan.
Keberanian orang Padang dalam berusaha, toh disebabkan pula oleh kekuatan agama dan adat yang dipakainya dalam kehidupan sehari-hari semenjak kecil. Semenjak kecil, semenjak masih tidur di surau bagi yang lelaki, dia telah diajarkan hidup dalam ikatan agama dan adat yang kuat. Adat Minang yang sangat terkenal ke mana-mana itu sendinya adalah syarak(agama). Sedangkan syarak yang menjadi pegangan hidup dan mati baginya itu sendinya adalah kitabullah(kitab Allah swt, yakni Al-Qur’an). Bagi orang Padang sangat dikenal sebutan,”Adat bersendi syarak, syarak bersendi kitabullah. Syarak mengatakan, adat memakaikan”.

Ke mana pun dan langkah apa pun yang dilakukan orang Padang dalam menjalankan usaha, taklah pernah dia merasa takut. Sebab, untuk apa dia takut karena dia yakini bahwa Allah swt selalu bersamanya. Bisnis yang dijalankan orang Padang selalu berpedoman kepada adat dan agama. Etika yang diajarkan oleh adat dan agama, menjadi pedoman bagi orang Padang dalam berbisnis, dalam menjalankan usaha.

Menurut keyakinan orang Padang, kalau sudah bersandar kepada ketentuan Allah swt dan Rasul, tak ada lagi gunanya ragu, khawatir dan takut berbuat dalam menjalankan usaha.

Bisnis yang dilandasi adat dan agama, tak akan keluar dari ketentuan etika dan moral. Orang yang mematuhi ketentuan adat dan agama tidak akan mau menipu dalam berbisnis, tidak akan mau mangkir dalam berjanji dan tidak akan mau merugikan orang lain untuk mendapatkan keuntungan besar.

Dalam adat Minang dan agama Islam diajarkan, bahwa janji binasa mangkir, titian binasa lapuk. Apabila dipercaya dilarang berkhianat. Berani karena benar, takut karena salah. Seseorang yang merasa berada di garis kebenaran, dia akan berani. Sebaliknya seseorang yang dalam hati nuraninya merasa bersalah, dia akan merasa takut. Semua ini sangat penting artinya bagi seorang pebisnis.*

(15)  MODAL SATU GEROBAK DAPAT UANG SEGEROBAK
Kalau anda berjalan-jalan pada malam hari di kota-kota besar, seperti Jakarta, Surabaya, Medan, Semarang dan lain sebagainya, anda akan menemukan para pedagang sate dengan sebuah gerobak dorong.
Pada umumnya hanya dua saja asal orang ini, kalau tak berasal dari Padang berarti dia berasal dari Madura. Sate yang terkenal pun dua itu pula, sate Padang dan sate Madura.

Apabila dilakukan investigasi secara mendalam dengan teknik investigasi atau dengan teknik wawancara yang bagus, pada umumnya orang Padang yang berjualan sate itu akan mengatakan bahwa dia berjualan sate ini menginginkan suatu waktu nanti jadi bos sate. Atau, dia akan mengatakan dagang sate ini sebagai batu loncatan untuk menjadi pengusaha sukses. Apalagi kalau anda menanyakan kepada pedagang sate yang masih bujangan atau lajang.Apa yang tersirat dapat diambil dari sini? Sekecil apa pun profesi yang sedang dijalani orang Padang, dia tak akan mau berpikir hanya sampai di situ. Dia tetap akan berpikir bagaimana agar bisa lebih baik kehidupannya dari waktu ke waktu.

Seperti berjualan sate ini, misalnya. Seorang pedagang sate yang berkeliling dari lorong ke lorong menjajakan dagangannya dengan satu gerobak sate akan bisa suatu waktu nanti menjadi bos atau juragan sate.
Caranya, si pedagang sate dengan satu gerobak ini harus memutar otak, bagaimana agar dapat menyisihkan keuntungan berjualan sate ini sedikit demi sedikit setiap malam sepulang berjualan. Setelah sampai uangnya untuk membuat satu gerobak sate, dia buat satu gerobak lagi. Bagaimana menjalankan usaha berjualan sate karena tenaga tak ada lagi? Dia cari orang yang bisa dipercaya, dan dia buat perjanjian bagi hasil dengan pedagang sate tersebut. Untung dari hasil penjualan dua gerobak sate tersebut dia sisihkan lagi untuk membuat satu lagi gerobak sate berikutnya. Begitu selanjutnya. Akhirnya nanti si penjaja sate yang pada awalnya hanya punya satu gerobak sate tersebut akan memiliki banyak gerobak sate nanti. Kalau sudah banyak, uang yang masuk dari setiap gerobak sate tersebut tentu makin banyak pula. Mungkin saja gerobak satenya yang beroperasi setiap malam bisa mencapai 5, 10, 20, 30, 50 dan begitu selanjutnya. Apabila dia memiliki 20 gerobak sate yang berjualan setiap malam, dan satu gerobak sate bisa menghasilkan untung Rp 100.000,- saja, berarti dalam satu malam dia berhasil mengumpulkan uang Rp 2.000.000,- Sesuai informasi yang saya dapatkan dari pedagang sate gerobak itu di Jakarta, Semarang, Surabaya dan Medan, rata-rata mereka yang saya tanya mengaku bisa memperoleh untung Rp 200.000 sampai Rp 250.000 setiap malam. Dengan memutar otak cara begini, dia akan bisa terus berupaya untuk menambah gerobak sate miliknya setiap bulan, setiap tiga bulan, setiap enam bulan dan seterusnya.

Inilah cara orang Padang menjalankan usahanya, sehingga dari usaha yang teramat kecil sekalipun pada suatu saat nanti dia bisa menjadi bos, menjadi pengusaha sukses. Dia tak mau cukup saja dengan yang sudah ada. Dia tak mau cepat puas. Selalu ingin bertambah, ingin bertambah dan bertambah.
Kalau tidak dengan jiwa bisnis, besar kemungkinan si tukang sate tersebut akan begitu saja keadaan hidupnya sampai mati. Dia akan puas dengan satu gerobak sate saja. Sebab dengan mendapatkan uang Rp 100.000,- atau Rp 200.000,- satu malam menurutnya sudah besar karena sudah bisa menghidupi keluarganya. Padahal apabila dia berpikir lebih jauh lagi, kalau dia tak puas dengan yang sudah didapatkannya itu, tentu akan selalu dia berjuang untuk menambah gerobak sate dengan memakai orang lain untuk menjalankannya. Kita dapat mengambil pelajaran dari seorang Rangga Utama. Seperti diuraikannya pada majalah Elshinta, edisi Februari 2011, bahwa dengan uang pesangon PHK(Pemutusan Hubungan Kerja) di tempat dia bekerja sebesar Rp 3.000.000,- pada awalnya, lelaki masih muda ini akhirnya bisa menjadi bos kuliner Pecel Lele Lela. Dari usaha yang benar-benar dari bawah ini, Rangga pada bulan Februari 2011 telah bisa memiliki 27 cabang kuliner Pecel Lele Lela dengan omset telah mencapai Rp 1,8 milyar. Bayangkan, pasaran hidangannya hanya berkisar Rp 12.000,-/porsi.

Jadi, sebenarnya tidak saja orang Padang yang harus bisa bermodalkan satu buah gerobak untuk mendapatkan uang segerobak. Siapa pun bisa. Namun tentu harus punya kemauan keras. Di sinilah berlakunya pendapat, bahwa anda adalah apa yang anda pikirkan. Kalau anda berpikir kecil, maka hasil yang akan anda dapatkan kecil pula. Sebaliknya kalau anda berpikir besar yang akan anda peroleh besar pula. Untuk itu, anda harus berpikir besar. Anda harus punya mimpi besar untuk kesuksesan usaha anda.Anda jangan sampai mengatakan tidak bisa, tidak mungkin, tidak mampu, pada hal usaha anda belum apa-apa dibandingkan usaha orang yuang sudah sekian jauh sebelum anda. Orang yang anda lihat sukses itu, yakinilah bahwa bukanlah karena dia santai, bukanlah karena dia malas berusaha dan bukan pula karena dia tak bersemangat. Dia berhasil karena berusaha keras, karena memutar otak, karena tak kenal lelah, karena tak kenal siang dan malam dalam berusaha untuk mencapai impiannya.Kalau dengan modal besar mendapatkan untung besar, sudah biasa. Kalau anda menginginkan yang luar biasa, harus anda capai untung besar dengan modal seadanya. Yang paling menggelikan sekali, sudahlah modal besar, untung kecil pula. Bahkan bangkrut pula.

Mulai hari ini, saya sarankan kepada anda agar meniru cara berbisnis orang Padang, karena cara berbisnis orang Padang itu benar-benar menakjubkan, benar-benar luar biasa. Bahkan saya sarankan kepada anda, termasuk kepada diri saya sendiri, agar meniru siapa pun dia kalau anda pandang dia punya kelebihan, punya keistimewaan dalam melakukan usaha, dalam berbisnis. Sebab dalam berbisnis tidak dilarang meniru. Apa salahnya meniru kepada orang yang telah berhasil berbisnis dibandingkan kita yang belum lagi berhasil mau mencoba.

Jangan anda cepat-cepat mengatakan tak mungkin mendapatkan uang segerobak dengan modal hanya satu gerobak sate, es tebak dan lain sebagainya. Kuncinya, anda harus berpikir besar, bermimpi besar, dan anda selalu mengejar pikiran dan mimpi anda itu terus menerus tanpa kenal lelah, tanpa kenal putus asa. Sebab, itu merupakan bahagian dari rahasia orang Padang untuk mencapai kesuksesan dalam berbisnis. *

(16)  ADAT DAN SYARAK KUNCI KEKUATAN BISNIS ORANG PADANG
Mungkin anda bertanya-tanya, apa sih kekuatan bisnis orang Padang itu? Kunci kekuatan bisnis orang Padang terletak pada adatnya yang bersendikan syarak, syaraknya yang bersendikan kepada kitabullah.
Yang dimaksudkan dengan adat adalah kebiasaan yang sudah turun temurun diwarisinya dari generasi ke generasi, yang dikenal dengan adat Minangkabau. Yang dimaksud dengan syarak adalah agama. Sendi adalah dasar atau landasan. Sedangkan yang dimaksudkan dengan kitabullah adalah kitab Al-Qur’an, yakni kitab suci umat Islam.

Dengan demikian, yang menjadi pegangan bagi orang Padang itu dalam berbisnis adalah adatnya yang bersendikan kepada agama, dan agamanya bersendikan kepada Al-Qur’an dan ditambah lagi dengan hadist Nabi Muhammad saw.Kekuatan adat dan agama yang antara satu dengan yang lain tidak bisa dilepaspisahkan, merupakan kunci kekuatan bisnis orang Padang. Adat dan agama orang Padang itu tidak membolehkan berkhianat kalau dipercaya. Seorang pengusaha, seorang pebisnis harus jujur. Jujur kepada pelanggan atau konsumen, sehingga barang yang jelek dikatakan jelek dan barang yang bagus dikatakan bagus. Jujur kepada sesama pengusaha, sehingga tidak boleh menipu teman sesama pengusaha, seperti menohok teman seiring. Jujur kepada anak buah atau pegawai, tidak boleh mengatakan usaha rugi kalau memang beruntung. Jangan gara-gara enggan menaikkan gaji pegawai, setiap mendapatkan untung dikatakan juga rugi. Apalagi kalau sempat tidak membayar gaji pegawai sesuai ketentuan yang sudah ada. Jujur kepada Allah swt, harus mau membayar zakat sesuai ketentuan agama. Dan jujur kepada negara, harus taat membayar pajak sesuai ketentuan yang ada. Jadi, curang dilarang agama. Selanjutnya disiplin. Agama memerintahkan agar setiap orang disiplin. Dalam agama sudah diatur, bahwa shalat isya 4 rakaat, shalat subuh 2 rakaat, shalat magrib 3 rakaat, shalat zuhur 4 rakaat dan shalat asyar 4 rakaat. Waktu shalat itu sudah ditentukan pula. Shalat magrib harus senja hari, syalat isya harus malam hari, shalat subuh harus benar-benar diwaktu subuh dan shalat asyar harus antara shalat zuhur dengan shalat magrib. Karena harus dilakukan dengan displin, tak boleh shalat subuh 4 rakaat atau shalat magrib 2 rakaat. Kalau dua rakaat ya 2 rakaat. Jangan sampai ditambah dan dikurangi.

Dalam berbisnis pun demikian pula. Orang bisnis harus disiplin. Kalau berjanji menyetor uang tanggal 12 Januari, jangan disetor tanggal 20 Januari. Harus tanggal 12 Januari. Kalau menjual jeruk 2 kg, harus benar-benar 2 kg. Jangan sampai yang dibayar konsumen 2 kg tetapi berat jeruknya hanya 1,5 kg. Dalam agama perbuatan ini merupakan dosa.
Dalam agama tidak diperbolehkan hidup boros atau berfoya-foya. Dalam berbisnis pun tidak diperbolehkan pula hidup berfoya-foya. Seorang pebisnis atau pengusaha yang hidupnya berfoya-foya, usahanya ada harapan akan segera bangkrut.

Adat dan agama melarang orang sombong. Seorang pebisnis atau pengusaha yang sombong, biasanya tak akan bisa bertahan lama menjadi pengusaha sukses. Biasanya orang sombong sangat mudah jatuhnya. Orang sombong senang sekali menyepelekan orang lain, menganggap enteng orang lain. Seorang pembeli atau seorang konsumen yang merasa sakit hatinya atau jengkel perasaannya melihat kesombongan pebisnis atau pengusaha, dia tak akan mau berhubungan dengan pebisnis sombong itu. Kalau saja dalam sehari ada 1 orang pembeli atau pelanggan menghilang karena kesombongan pebisnis atau pengusaha tersebut, dalam jangka waktu yang tak terlalu lama, usaha si sombong itu pastilah akan bangkrut.
Dengan demikian, kunci sukses usaha orang Padang itu sangat ditentukan oleh kekuatannya dalam menaati adat dan agama yang dianutnya, yang diamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Anda bisa memperhatikan, setiap orang Padang yang kaya raya, pastilah dia dekat dengan Tuhan, taat terhadap adat dan agamanya. Sebagai bukti, orang Padang yang sudah kaya raya di rantau orang, kalau dia pulang banyak sekali yang mau diangkat menjadi datuk oleh kaumnya. Datuk di Minangkabau merupakan gelar pusaka yang sangat tinggi nilainya dalam sebuah kaum. Dia merupakan pimpinan adat di kaumnya. Kalau saja orang Padang yang kaya raya itu enggan dengan adat dan agamanya, pastilah dia akan menolak diberi gelar datuk.

Demikian pula, setiap orang Padang yang sukses di rantau orang, ketika pulang ke kampungnya, dia bersicepat membangun rumah ibadah, baik surau maupun masjid. Bahkan tidak sedikit orang kaya perantau Padang yang ketika pulang kampung langsung membangun sebuah surau atau masjid dengan uang pribadinya sendiri. Ini menunjukkan bahwa orang Padang selalu memegang teguh adat dan agamanya.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kekuatan bisnis orang Padang terletak pada komitmennya yang demikian kuat terhadap adat dan agamanya. Dia tak mau bermanja-manja, bermalas-malasan, karena agama menyuruhnya bekerja keras, berusaha maksimal. Bahkan, begitu selesai shalat subuh, tak boleh lagi melakukan shalat sunat, karena harus langsung bertebar di muka bumi ini untuk berusaha sesuai dengan profesi masing-masing.

Dalam agama diajarkan untuk tidak mudah lupa daratan. Ingatlah selalu bahwa rezeki yang dinikmati manusia itu merupakan pemberian dari Allah swt yang diberikan-Nya melalui perantaraan usaha umat-Nya. Karena itu, semakin sukses orang Padang, biasanya dia akan semakin rendah hati. Sebab, kesuksesannya itu disadarinya dalah karena dia semakin merasakan banyaknya pemberian Yang Maha Kuasa. Seorang mamak atau paman biasanya akan mengajarkan kepada keponakannya yang berumur menjelang remaja, bahwa dalam hidup hendaklah memakai sifat padi, semakin berisi semakin merunduk. Maksudnya, semakin sukses, semakin kaya raya haruslah makin rendah hati, dan harus pula makin pandai bersyukur kepada Yang Maha Kuasa. Orang yang tidak pandai bersyukur kepada Allah swt, rezekinya akan dikurangi-Nya. Sebaliknya orang yang pandai bersyukur kepada Allah swt, rezekinya akan ditambah-Nya. Jadi, inilah kekuatan bisnis orang Padang. *

(17)  FALSAFAH HIDUP ORANG PADANG DALAM BERBISNIS
Semenjak dari kecil, semenjak beberapa hari baru lahir, sebenarnya orang Padang sudah diajari oleh orangtuanya menghadapi kehidupan yang garang. Hidup yang garang adalah kehidupan seorang pebisnis.Akan mudah terjungkal, kalau seorang pebisnis senang bermanja-manja, suka hidup santai. Dengan disuguhi cabe dan garam ketika acara turun mandi terhadap seorang bayi yang baru saja lahir sekitar 2 bulan, menunjukkan bahwa orang Padang menginginkan anaknya kelak bisa hidup mandiri. Kalau hendak merasakan pedasnya cabe, berusahalah!

Demikian pula, jika ingin merasakan asinnya garam, haruslah dengan berusaha pula! Jangan cengeng. Jangan sok manja. Berjuanglah, bekerja keraslah, dan rasakanlah garangnya dunia ini !Setelah tumbuh remaja, pergilah merantau. Rasakanlah hidup sendirian di rantau orang. Kalau ingin berhasil hidup di rantau orang, berusahalah. Kalau bermalas-malasan, akan mati tertelungkup di kolong jembatan. Tak akan ada sanak saudara mengirimi uang dari kampung.Apa yang ditanamkan kepada orang Padang mulai sejak bayi hingga remaja dan seterusnya itu tadi, adalah sebagai wujud nyata dari falsafah hidup orang Padang dalam berbisnis.

Bagi orang Padang, berbisnis bukanlah pelarian, bukanlah pekerjaan sampingan dan bukan pula sebagai perintang-rintang hari, menunggu penerimaan pegawai negeri dibuka. Berbisnis bagi orang Padang adalah garis kehidupannya, yang harus dia turuti dari waktu ke waktu.
Orang Padang berbisnis benar-benar untuk bisa mengangkat harkat dan martabatnya di mata masyarakat banyak. Orang Padang berbisnis untuk mencapai kejayaan hidupnya.

Sesuai ajaran agama, orang Padang mengajarkan kepada anak cucunya dari generasi ke generasi, bahwa kalau ingin kaya berdaganglah. Sebab, dengan berdagang, dengan berbisnis, dengan meniti karier di dunia usaha, terbuka lebar jalan menuju kaya raya tanpa harus korupsi.

Seorang pengusaha tidak dibatasi penghasilannya. Dia boleh memperoleh uang sebanyak-banyaknya dari hasil kerja kerasnya. Pegawai kantoran sudah punya plafon gaji dan tambahan dari gaji, sehingga apabila melambung di atas itu patut dicurigai.Seorang pengusaha memiliki rumah sepuluh buah dengan berpuluh-puluh tingkat dengan bangunan yang sangat mewah sekalipun tak ada yang mencurigai. Sebab rezeki pengusaha itu tak ada batasannya. Tetapi kalau seorang pegawai kantoran, terutama pegawai negeri, membangun rumah mewah, memiliki mobil mewah tahun terbaru, menyekolahkan anak-anaknya pula ke luar negeri, akan janggal kelihatannya. Orang akan bertanya, duit dari mana dia pergunakan untuk semua itu?Sebagai orang yang hidup di lingkungan masyarakat egaliter, orang Padang tak ingin dicurigai kekayaannya. Itulah sebabnya orang Padang sebahagian besar memilih jalan hidupnya di dunia usaha.

Bagi orang Padang menjadi pejabat negara atau pemerintah taklah merupakan suatu hal yang mencengangkan. Sebab bagi orang Padang, pemimpin itu hanya ditinggikan seranting didahulukan selangkah. Maksudnya, pemimpin bagi orang Padang bukanlah segala-galanya. Dia hanya memiliki sedikit(selangkah) di depan dan sedikit(seranting) di atas masyarakat banyak lainnya. Kalau dia salah akan dengan mudah ditarik atau direnggutkan yang dipimpinnya.

Bagi orang Padang sangat tabu merunduk-runduk, menyembah-nyembah kepada pemimpinnya, baik kepada pemimpin pemerintahan maupun kepada pemimpin yang ada di kaumnya sendiri.

Bagi orang Padang, kalau akan menginjak-injak harga dirinya, apa pun resiko akan dia hadapi, seperti resiko dipecat dan lain sebagainya. Dalam pepatah dikatakan, ”Raja benar raja disembah, raja tak benar raja disanggah”. Maksudnya, siapa pun, meskipun dia pemimpin, kalau benar dihargai, tetapi kalau tak benar harus diprotes, harus ditantang. Sebab menurut keyakinan orang Padang, kebenaran adalah di atas segala-galanya. Seperti dikatakan dalam pepatah, ”Kemenakan beraja kepada mamak(pamam), mamak beraja kepada penghulu(datuk dalam kaum), penghulu beraja kepada yang benar, dan kebenaran berdiri sendiri”.

Falsafah hidup seperti inilah yang membuat orang Padang memilih jalan hidup di jalur bisnis. Sebab prinsip-prinsip orang Padang itu tadi, mencerminkan bahwa dia suka berada dalam kerangka berpikir yang merdeka, tanpa ada tekanan. Orang yang bisa dalam meniti kariernya berpikir merdeka, merdeka bertindak, merdeka berkreativitas dan merdeka berinovasi, adalah yang meniti karier di dunia usaha. Seorang pengusaha tak diatur-atur kapan harus masuk kantor, kapan harus pulang kantor, dan kapan harus istirahat. Seorang pengusaha tak apa berkeliling dunia tanpa diatur-atur oleh siapa pun. Baginya yang penting, ke mana pun dia pergi, usahanya tetap jalan, uang tetap mengalir melalui berbagai perusahaan yang dimilikinya.

Kalau seorang pejabat pemerintahan, semakin tinggi jabatan akan semakin sibuk, semakin pusing, semakin cepat pergi ke kantor dan semakin lambat pulang kantor. Sebaliknya seorang pengusaha, semakin banyak perusahaannya, semakin tinggi jabatannya di perusahaan, seperti menjadi seorang Presiden Komisaris(Preskom) atau Komisaris Utama(Komut), dia semakin bisa santai. Sebab dia hanya tinggal menggaji orang-orang pintar untuk menjalankan perusahaannya. Berbeda sekali pemimpin di pemerintahan dengan pemimpin di perusahaan.

Dengan demikian, kalau anda ingin benar-benar merdeka dalam meniti karier, jalanilah karier di jalur bisnis. Dan jangan segan-segan memulai karier dari bawah, dari nol, supaya anda dapat merasakan kenikmatan dari hasil usaha anda itu. Kesuksesan tanpa didahului oleh penderitaan tak memiliki makna.

Jadi, falsafah hidup orang Padang ini bukan saja bisa berlaku semata untuk orang Padang. Namun lebih luas dari itu, bisa berlaku untuk siapa saja yang ingin hidup di jalur bisnis.Dan yakinlah anda, bahwa semakin maju perkembangan dunia, karier sebagai pengusaha akan semakin mendapat tempat yang terhormat di tengah-tengah masyarakat. Akan jauh mengalahkan tempat karier seorang pekerja, seperti pegawai kantoran.
Di negara-negara maju telah lama orang menempatkan posisi pengusaha sebagai posisi yang terhormat, yang sangat dihargai, jauh di atas posisi orang kerja kantoran, yang makan gaji.

Pengusaha merupakan pembayar pajak terbesar. Pemerintah di negara maju sangat menyadari peranan pengusaha dalam menjadikan negaranya makmur, karena pengusaha merupakan pemasok uang yang sangat besar untuk membiayai pembangunan di negaranya. *

(18)  ORANG PADANG BERBISNIS MEMAKAI FALSAFAH BERSILAT
Orang Padang terkenal pandai bersilat. Karenanya, sejak dahulu hingga kini sangat terkenal orang Padang sebagai pendekar. Semenjak kecil, semenjak masih berumur beranjak remaja, mereka telah diajari bersilat.
Malam hari di surau, sebelum tidur mereka akan diajari oleh para pendekar bersilat, setelah selesai belajar mengaji (membaca kitab suci Al-Quran). Setelah belajar bersilat, mereka diajari lagi berpidato adat. Maka tak hayal lagi kalau orang Padang terkenal sebagai orang yang jago berdiplomasi atau bernegosiasi. Anda tentu ingat dengan Agus Salim, Mr. Muhammad Yamin, M. Natsir, Sutan Syahrir dan sederet nama lainnya, yang merupakan orang-orang jago berdiplomasi. Kepiawaian berdiplomasi sangat penting dalam pemerintahan. Sedangkan negosiasi sungguh sangat penting dalam berbisnis.

Bagi orang Padang, dalam berbisnis mereka memakai falsafah bersilat yang disejalankannya dengan kemampuan bernegosiasi. Di mana, dalam bersilat mata harus liar, tangan dan kaki harus lincah, dan mata hati harus mampu menembus rasa yang mungkin mengungkap kemungkinan-kemungkinan di luar dugaan bisa terjadi.

Dalam berbisnis, falsafah bersilat ini sangat penting. Harus lincah, harus punya feeling yang tajam, sehingga mampu mempergunakan mata hati yang bisa menelusup ke mana-mana secara tajam. Dengan demikian, ibaratkan sebuah peperangan, kalau hal ini sudah mampu bergerak secara maksimal, persaingan bisnis akan bisa dimenangkan.

Dalam falsafah bersilat orang Padang, beradu kekuatan secara pisyik harus dihindari. Karena itu, dalam bersilat orang Padang sangat mahir dengan gerak dan gerik. Artinya, mereka tak akan menyerang duluan, tetapi setiap lawan datang menyerang akan terpental dengan sendirinya. Di sinilah lahirnya pepatah, ” Lawan tidak dicari, tetapi kalau datang tidak akan dielakkan”. Orang Padang tidak akan mencari lawan. Namun kalau datang juga, toh tak akan pernah orang Padang lari.

Falafah ini sangat penting artinya dalam berbisnis. Dalam berbisnis tidak boleh menganggap siapa pun sebagai lawan bisnis. Semua orang haruslah dianggap teman bisnis. Malahan semakin banyak teman bisnis tentu akan semakin baik, semakin bagus dan akan membuat jaringan bisnis semakin luas.

Dan dengan memakai falsafah bersilat, dalam menjalankan usaha, seorang pengusaha harus selalu siap menghadapi berbagai tantangan, rintangan dan hambatan yang mungkin saja sewaktu-waktu bisa terjadi.
Artinya, seorang pengusaha tidak boleh lalai, lengah, apalagi terlena atau lupa daratan karena suatu keberhasilan yang dia dapatkan. Dia harus selalu ingat dengan berbagai kemungkinan yang bisa saja sewaktu-waktu menghantamnya.

Kalau kita mau mengingat kembali ke belakang, siapa menyangka pada tahun 1997-’98 akan terjadi badai krisis besar yang melanda para pengusaha Indonesia. Betapa banyak perusahaan-perusahaan besar yang rontok berjatuhan waktu itu. Namun yang bisa bertahan dari terpaan badai besar itu adalah pengusaha yang selalu waspada, yang tak pernah lengah dari berbagai kemungkinan yang bisa saja sewaktu-waktu terjadi di luar dugaan. Mereka ini, walaupun sedikit goncang, tetapi cepat bisa stabil kembali. Mereka tak sampai rontok atau gulung tikar. Ibaratkan orang yang sedang bersilat, hanya sedikit sempoyongan ketika terkena tendangan lawan, namun kemudian bisa cepat kembali berdiri kokoh.

Dalam falsafah bersilat orang Padang, setiap ada gerakan di ujung sana, di sini kita harus tahu, sehingga bisa secepat kilat mengambil langkah. Kalau tak cepat tahu, ketika nanti serangan datang kita akan kelabakan, kita akan dengan mudah jatuh. Kalau anda melihat orang Padang bersilat, mereka sulit beradu fisyik, mereka jarang beradu kekuatan. Namun mereka akan jatuh karena gerakan lawan dari jauh. Hanya karena gerakan ujung jari lawan bisa tumbang. Bahkan bisa menyembur darah dari hidung, telinga dan mulut seketika.

Di dunia usaha, semakin halus permainan dalam bernisnis maka akan semakin cantik kelihatannya seorang pebisnis dalam mencapai kesuksesannya. Seorang pebisnis yang hebat, sedikit saja terjadi perubahan di belahan dunia sana, dia di sini sudah bisa mengambil sikap. Tidak perlu pula dia harus pergi ke sana dulu.

Dengan memakai falsafah bersilat, orang Padang dalam berbisnis mampu menggerakkan seluruh kekuatan yang ada, sehingga tidak ada yang tak berfungsi dari seluruh jenis kemampuan yang dimilikinya.

Apabila disejalankan dengan kemampuannya dalam bernegosiasi, maka kemampuan negosiasi dalam berbisnis sangat menentukan sukses atau tidaknya seseorang dalam menjalankan bisnisnya.Kemampuan negosiasi sangat penting bagi siapa pun dalam menjalankan usahanya. Apa pun jenis usaha yang dijalankan seorang pengusaha, negosiasi amat menentukan kesuksesannya. Dalam berjualan memerlukan negosiasi, dalam berjanji perlu negosiasi, dalam membuat kontrak memerlukan negosiasi, dalam kerja sama dengan pihak kedua atau ketiga memerlukan negosiasi. Karena itu, negosiasi amat penting bagi seorang pengusaha. Kemampuan bersilat dan bernegosiasi inilah yang dipelajari orang Padang semenjak mereka masih kecil, ketika masih tidur di surau.

Setelah lengkap kemampuan bersilat dan bernegosiasi, barulah mereka pergi merantau, mengadu nasib di negeri orang, jauh dari sanak saudara, jauh dari kaum kerabat, hidup mandiri meniti karier menuju masa depan yang lebih baik dengan penuh suka dan duka.Anda tak perlu belajar bersilat dan belajar berpidato adat pula ke Padang. Atau, bagi anda orang Padang yang sudah lahir dan besar di rantau orang, tak perlu pula harus pulang ke kampung belajar bersilat dan belajar berpidato adat agar campin bernegosiasi. Namun yang penting, anda harus memahami falsafah bersilat dalam berbisnis.Maksudnya, dalam berbisnis, dalam menjalankan usaha, dalam meniti karier sebagai seorang pengusaha anda jangan sekali-kali pernah lengah, terlena apalagi sampai lupa daratan. Anda harus selalu waspada terhadap berbagai kemungkinan yang bisa saja terjadi sewaktu-waktu tanpa anda duga. Di tengah-tengah kesuksesan yang sedang anda nikmati, bukan mustahil akan datang dengan tiba-tiba badai krisis menerpa bisnis anda. Kalau anda sudah hati-hati, waspada dan tak lupa daratan, sekiranya datang badai dengan tiba-tiba, anda akan dengan sikap bisa berdiri kokoh, tak hilang keseimbangan.

Berbisnis tak ubahnya dengan bersilat, yang mengharuskan seorang pebisnis selalu hati-hati, selalu arief dengan gerak gerik yang terjadi di sekitarnya, dan di samping itu harus selalu memperluas sasaran silat, sehingga semakin hari daerah sasaran silat semakin luas, semakin luas dan semakin luas. Kalau dalam bisnis, inilah yang dikenal dengan jaringan bisnis. Semakin luas jaringan bisnis seorang pengusaha akan semakin sukses seorang pengusaha dalam meniti kariernya di dunia usaha.
Seorang pebisnis, seorang pengusaha harus punya keinginan mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya, harus punya keinginan memperluas kerajaan bisnisnya seluas-luasnya, tanpa ada batasan dan tanpa dibatas-batasi.

Ada beberapa hal yang harus dipersiapkan untuk menghadapi berbagai kemungkinan yang datang tidak diduga dalam berbisnis :

1) Persiapkan Uang di Bank. Untuk menghadapi berbagai kemungkinan yang bisa saja terjadi tanpa diduga sebelumnya, salah satunya adalah dengan mempersiapkan uang tabungan di bank. Anda jangan terlena dengan usaha anda yang sedang sukses. Anda harus menabung di bank dengan jumlah yang banyak. Dengan demikian, seandainya ada hantaman badai seperti kerugian usaha, anda masih punya simpanan yang merupakan cadangan modal untuk melanjutkan usaha atau untuk membuka usaha lain. Kalau tidak ada simpanan di bank, anda bisa kalang kabut karena hanya berharap bisa mendapatkan pinjaman dari bank. Bank biasanya tidak semudah yang dibayangkan meminjamkan uang kepada seorang pengusaha yang usahanya sedang jatuh.

2) Buat Jaringan Bisnis Seluas-luasnya. Selagi anda punya kesempatan, buatlah jaringan bisnis seluas-luasnya. Jaringan bisnis bisa melalui kerja sama bisnis sejenis atau dengan jalan memasuki organisasi bisnis. Dengan ini, seandainya terjadi hal-hal yang tak diinginkan dalam tubuh perusahaan anda, anda masih punya banyak teman, punya banyak jaringan yang bisa minta dibantu mencarikan solusi tentang permasalahan yang sedang dihadapi perusahaan anda. Kalau anda berdiri sendiri saja, tanpa ada jaringan atau tanpa memasuki organisasi usaha, anda akan menanggungkan sendiri tanpa bisa menggapai ke kiri dan ke kanan kalau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Semakin luas jaringan bisnis anda, semakin banyak organisasi bisnis yang anda masuki, anda akan semakin punya banyak kesempatan untuk berbagi apabila terjadi hal-hal yang tak diinginkan dalam perusahaan anda.

3) Perbanyak Jenis Usaha. Ketika usaha anda telah mulai berkembang, berusahalah memperbanyak jenis usaha, sehingga usaha anda tidak hanya satu jenis saja. Kalau jenis usaha anda banyak, apabila terkena masalah satu, seperti mengalami kerugian, yang lainnya bisa mengimbangi. Tetapi kalau hanya satu jenis usaha saja, apabila kolap satu, maka gelaplah dunia ini bagi anda. Selagi ada kesempatan, bukalah usaha sebanyak-banyaknya. Di sinilah pentingnya kemampuan anda menjalankan usaha dengan mempergunakan orang lain.

4) Jadilah Yang Terbaik Dari Yang Lain. Anda harus menjadi yang terbaik dari pengusaha lain dari berbagai sisi, seperti dari sisi pelayanan, dari sisi kualitas produk, dari sisi kedisiplinan dan lain sebagainya. Apabila anda yang terbaik, ketika datang badai krisis menghantam pengusaha di sekitar anda, anda tetap akan bisa berdiri karena kepercayaan masyarakat akan tetap berpihak kepada anda. Kalau ada orang lain yang baik atau terbaik, anda harus lebih baik dan lebih terbaik dari semua itu.
Dengan mempedomani keempat hal ini, diharapkan seorang pebisnis akan mampu bertahan apabila ada terjadi berbagai kemungkinan yang tidak diinginkan dalam tubuh perusahaan.Memang harus diakui, bahwa tidak mudah bertahan dalam gelombang atau badai yang menimpa perusahaan, seperti krisis moneter dan lain sebagainya. Akan tetapi harus bisa bertahan. Biasanya pengusaha asal Padang, di sinilah dia piawai memainkan langkah seperti seorang pendekar sedang bersilat.*

(19)  1001 AKAL BERBISNIS ORANG PADANG
Sebenarnya, kelebihan orang Padang dalam berbisnis adalah terletak pada akalnya yang 1001. Akal pengusaha Padang yang 1001 inilah yang membuat mereka tak kehabisan akal apabila mengalami permasalahan dalam berbisnis.

Begitu orang Padang memulai usaha, sekecil apa pun usaha yang mulai dijalankannya, dia akan menekuninya. Dia akan menjalankannya dengan serius, tanpa merasa gengsi, tanpa merasa berkecil hati dan tanpa berpikir suatu saat nanti akan menyerah. Mengapa demikian? Sebab dengan akalnya yang 1001 tersebut, dia selalu mampu memikirkan apa yang akan dialaminya sekian tahun, sekian belas tahun atau sekian puluh tahun ke depan, dengan usaha yang sekarang sangat kecil dilakukannya ini.Ketika dia sedang menjual sisir dan ikat pinggang di pinggir jalan, ketika dia sedang mencuci piring untuk penyambung hidup, dia tak pernah kehabisan akal. Dia selalu akan berpikir bagaimana supaya bisa nanti jadi pengusaha sukses.

Banyak orang tak habis pikir, kenapa orang Padang kok begitu banyak akalnya dalam berbisnis? Kenapa kok ada-ada saja yang bisa dijadikannya sebagai objek bisnis. Bagi orang lain tak masuk akal, tetapi ternyata baginya bisa maju, berkembang dan menjadikannya sebagai seorang pengusaha sukses.Banyak pula orang heran dan bertanya-tanya, kenapa kok orang Padang itu pergi merantau rata-rata dalam kondisi sangat sederhana atau bisa disebut sangat miskin, tetapi bisa menjadi orang kaya raya di rantau orang, sehingga mencengangkan tatkala pulang kampung.
Bagi orang Padang, membawa harta pusaka atau harta peninggalan nenek moyang ke rantau orang untuk modal usaha dan lain sejenisnya merupakan malu besar yang bukan kepalang.

Orang Padang merantau akan merasa percaya diri kalau pergi apa adanya. rantau orang atau di mana saja. Sebab dengan itulah mereka akan bisa mencapai sukses dalam meniti kariernya sebagai seorang pedagang, pebisnis atau pengusaha.Karena itu, tak pernah orang Padang pusing karena tak punya modal uang yang banyak untuk memulai usaha. Tetapi bagi orang Padang yang menakutkan adalah apabila kehilangan akal dalam memulai usaha. Berapa pun banyaknya modal usaha berupa uang di kantong, kalau sudah kehilangan akal, taklah akan bisa usaha dijalankan dengan baik.Karena itu, orang Padang dulunya, kalau akan pergi merantau bukanlah dibekali dengan uang banyak. Namun dia akan dibekali dengan kemampuan bersilat dan kemampuan mengaji. Kemampuan bersilat sangat berguna untuk bisa berusaha dengan 1001 akal. Sedangkan kemampua mengaji atau memahami agama, supaya di rantau orang tidak tergelincir kepada hal-hal yang dilarang oleh agama.

Banyak uang saja bagi orang Padang belumlah cukup. Akan menjadi lengkap apabila uang yang banyak diiringi dengan akhlak yang baik. Akhlak yang baik akan sangat bergantung kepada sejauh mana dia bisa mendalami dan mengamalkan agamanya. Dan sejauh mana pula dia mampu memahami dan mengimplementasikan adatnya dalam kehidupan sehari-hari.Kalau seseorang yang sudah kaya raya lantas taat pula beragama dan berbudi luhur pula, itu namanya adalah sudah bisa disebut seseorang yang hidup bahagia berakhlak mulia.

Bagi orang Padang belum lengkap kalau seseorang hanya baru berada pada sebatas kaya raya, tetapi sama sekali tidak berbudi, tidak berakhlak mulia. Karena itu, seseorang yang kaya raya haruslah bisa menjaga diri, sesuai dengan adat dan agama.

Di sinilah perlunya 1001 akal tadi, sehingga tidak saja akal itu semata-mata untuk kepentingan mendapatkan uang saja, melainkan juga bisa dipergunakan untuk bisa hidupnya bermanfaat bagi orang lain, bisa tempat mengadukan nasib oleh orang lain, bisa pula tempat berguru oleh orang lain dan bisa menjadi teladan dalam berbagai aspek kehidupan oleh orang lain.

Dengan 1001 akal ini, membuat seorang pengusaha tidak kapok kalau mengalami kegagalan, tidak menyerah kalau mengalami kesulitan dan tidak pula merasa takut memulai usaha. Apabila mengalami semua itu tadi, dia bisa mempergunakan akalnya tersebut untuk bangkit lagi dari kegagalan, bisa berpikir dengan berbagai ide apabila mengalami kesulitan dan tak pernah merasa gentar memulai usaha karena akalnya yang banyak. Tertumbuk biduk dikelokkan, tetrumbuk akal dipikirkan. Dalam berbisnis, jangan pernah anda kehilangan akal.*

(20)  POLITIK BISNIS ORANG PADANG
Orang Padang terkenal piawai berpolitik. Semenjak dari era sebelum kemerdekaan, era kemerdekaan sampai ke era setelah kemerdekaan, banyak sekali tokoh-tokoh dari Padang yang tampil dalam perpolitikan nasional. Kita sebut sajalah nama Muhammad Hatta, Sutan Syahrir, Agus Salim, Mr. Muhammad Yamin dan sederet nama yang lainnya hingga hari ini.

Dalam hal ini saya tak akan bercerita tentang dunia perpoolitikan kenegaraan tersebut. Saya akan mengemukakan dalam kesempatan ini menyangkut politik bisnis orang Padang.

Politik bisnis orang Padang sudah terbukti mampu membuat orang Padang itu sukses dalam dunia bisnis di mana pun mereka berada. Di kota-kota besar seperti Jakarta, Medan dan lain sebagainya, orang Padang banyak yang sukses berbisnis dalam berbagai jenis usaha. Keberhasilannya ini taklah terlepas dari kepiawaiannya menjalankan politik bisnis.
Dalam menjalankan politik bisnisnya, orang Padang mencapai kesuksesan dikarenakan kemampuannya menyesuaikan diri dengan kondisi di mana dia menjalankan usaha.

Demikian pula, dikaitkan dengan dunia politik, orang Padang dalam menjalankan usahanya mampu menyesuaikan dengan kondisi perpolitikan yang sedang terjadi di tempat dia menjalankan usaha tersebut.
Karena itu, dia tak pernah terkesan melawan arus, yang bisa membuat tersendat usaha yang sedang dijalankannya gara-gara ketidakmampuannya menyesuaikan diri dengan kondisi politik yang ada di sekitarnya.

Pengusaha Padang tak mau masuk mencampuri perpolitikan yang sedang terjadi di tempat dia berusaha. Dia tak mau terpengaruh oleh dunia perpoltikan yang ada di tempatnya berusaha. Akan tetapi dia tidak pula berarti tidak mengerti dengan perpolitikan di mana dia menjalankan usaha. Orang Padang diam-diam selalu memahami perpolitikan yang sedang berjalan di mana dia menjalankan usaha.

Dengan demikian, dalam politik bisnis orang Padang, dia selalu mampu mengembangkan usahanya, dengan mendapatkan dukungan dari pemerintahan di mana dia menjalankan usaha.

Dalam hal ini, ada beberapa hal yang dilakukan pebisnis asal Padang agar politik bisnis bisa menjadikan usahanya berjalan dan berkembang sesuai dengan perkembangan politik yang terjadi di tempatnya menjalankan usaha:

1) Taati Aturan Perundang-undangan Yang Berlaku. Dalam menjalankan usaha, dalam berbisnis, haruslah taat terhadap aturan perundang-undangan yang berlaku di mana saja usaha sedang berjalan. Jangan sekali-kali dalam berbisnis, dalam menjalankan usaha, melakukan hal-hal yang bertentangan dengan aturan perundang-undangan yang berlaku di daerah setempat. Karena itu, seorang pengusaha harus memahami perkembangan di tempat dia berusaha. Jangan hanya terpaku kepada usahanya saja, tanpa mau tahu dengan kondisi di sekitarnya.

2) Pahami Perkembangan Politik Di Tempat Menjalankan Usaha. Sebagai seorang pengusaha, haruslah selalu bisa membaca perkembangan politik di tempat menjalankan usaha. Memahami bukan berarti harus masuk ke dalamnya, bukan berarti harus terlibat di dalamnya. Tetapi harus mampu memahami, sehingga berdampak positif kepada kelancaran usaha. Suatu contoh, kalau berusaha atau berbisnis di satu tempat yang mendominasi masyarakatnya partai ”A”, atau di suatu negara yang sedang berkuasa partai ”A”, jangan sampai berlawanan dengan partai tersebut. Contoh berlawanan di sini, di suatu negara yang sedang berkuasa partai ”A” anda jangan sampai mengumumkan telah membantu partai ”B”. Atau, jangan anda ikut-ikutan berbicara kian kemari turut pula membenci partai ”B” jika mendengar orang sedang mempergunjingkannya. Mungkin saja orang itu oposisi dari partai tersebut dan mungkin juga dia intelijen dari partai tersebut. Kalau bisa, upayakanlah mendekati partai sedang berkuasa tersebut. Kegunaannya bukan untuk kepentingan politik bagi anda, tetapi semata-mata untuk kelancaran usaha anda. Paling tidak, dengan memahami perkembangan politik di tempat anda menjalankan usaha tersebut, anda akan mampu tidak menjadi pengusaha yang dibenci oleh partai yang berkuasa atau partai oposisi. Kalau sempat anda dibenci partai sedang berkuasa, apa pun alasannya, kelancaran usaha anda akan terpengaruh olehnya.

3) Dekati Pihak Mana pun. Sebagai seorang pengusaha, haruslah berusaha dekat dengan pihak mana pun, terutama tentu dengan pihak yang sedang berkuasa. Apalagi kalau anda berada di negara kerajaan. Di negara kerajaan anda harus mampu mendekati pihak kerajaan. Dan jangan sekali-kali anda berlawanan dengan pihak kerajaan. Mendekati di sini bukan dalam artian negatif, tetapi dalam artian positif. Mungkin anda bisa melakukan pendekatan melalui menjalin hubungan baik secara pribadi dengan orang-orang kerajaan yang dibangun secara beransur-ansur, mungkin juga dengan cara turun tangan dalam masalah kemanusiaan, dalam masalah sosial dan lain sebagainya.

4) Jaga Profesionalitas. Jagalah selalu profesionalitas sebagai seorang pengusaha. Maksudnya, hindari terlibat ke dalam salah satu pihak, ke dalam salah satu partai. Kecuali kalau anda memang telah memutuskan untuk terjun ke dunia politik. Tetapi kalau hanya sebatas ingin melanggengkan usaha, sebaiknya tidak terlibat langsung secara praktis dalam salah satu partai mana pun. Selalulah berada di jalur bisnis yang sedang anda geluti. Bagi orang Padang, di sinilah berlakunya pepatah,”Di mana bumi dipijak, di sana langit dijunjung. Di mana ranting dipatah, di sana sumur disauk. Di mana negeri dihuni, di sana ketentuan dipatuhi. Jangan ingin pula menjadi raja di negeri raja, dan jangan pula ingin menjadi sultan di negeri sultan”.

Jadi, politik bisnis orang Padang itu sebenarnya terletak pada kemampuannya menempatkan diri sesuai dengan perkembangan politik yang sedang terjadi pada tempat-tempat dia menjalankan usaha.
Politik bisnis orang Padang bukan masuk ke dunia politik praktis untuk melanggengkan usahanya. Tetapi berusaha memahami perkembangan politik yang sedang terjadi, dan berusaha menyesuaikan diri dengan perkembangan politik yang sedang terjadi tersebut untuk kelancaran usaha yang sedang dijalankannya. *

(21)  RAHASIA BISNIS ORANG PADANG
Adalah merupakan sebuah pertanyaan yang selalu muncul dari waktu ke waktu, tentang apa sesungguhnya yang menjadi rahasia bagi orang Padang, sehingga dia sukses dalam berbisnis, yang hanya orang Cina sebagai tandingan utamanya di negeri ini?

Selaku pengusaha pribumi, kepiawaian orang Padang dalam berbisnis sulit sekali ditandingi. Suatu bukti, usaha restoran yang sangat dikenal di seantero bumi persada Indonesia, adalah restoran Padang. Di mana-mana kita akan menemukan restoran Padang. Sebutlah Bundo Sati, Sari Bundo, Sederhana, Sri Ratu dan banyak sekali nama restoran Padang lainnya. Bahkan tak saja di Indonesia, di negara lainnya seperti di Malaysia, Singapura dan sederet negara lainnya di dunia, restoran Padang pun tumbuh bagaikan cendawan di musim hujan.

Pada jenis usaha lainnya, orang Padang pun banyak sekali yang menonjol, yang menggambaran kesuksesan bisnis orang Padang. Seperti telah disinggung juga pada bab terdahulu, sebutlah pada jenis usaha travel biro. Siapa yang tak kenal dengan travel biro Natrabu, usaha travel biro yang sudah sangat melegenda di tanah air ini. Usaha penerbitan demikian pula. Siapa yang tak kenal dengan penerbit dan toko buku Gunung Agung yang berpusat di Bandung, dan lain sebagainya. Dalam bisnis hotel, sebutlah jaringan hotel Grand Menteng di Jakarta, hotel Grand Mahakam dan banyak lagi. Di dunia perbankan pun bukan sedikit pula pengusaha Padang yang sukses. Mungkin anda masih ingat dengan Bank Nasional yang didirikan Anwar Sutan Saidi tahun 1930. Inilah beberapa contoh kesuksesan orang Padang di dunia usaha.

Apabila kita perhatikan satu persatu dari setiap orang Padang yang mengalami kesuksesan di dunia usaha ini, pada umumnya mereka bukanlah terdiri dari orang kaya turun temurun. Artinya, bukanlah mereka kaya karena harta bawaan atau harta turunan dari nenek moyangnya tempo dulu.
Bahkan rata-rata bisa dikatakan mereka berasal dari orang miskin sebelumnya. Kebanyakan dari mereka, pergi merantau dari kampung dengan pakaian hanya sekadar terpasang di badan. Namun setelah lama berjuang dengan berbagai kekerasan hidup yang mereka alami di negeri orang, mereka menjadi orang sukses di dunia usaha.

Banyak orang mengatakan, bahwa kemauan merantau-lah yang membuat orang Padang menjadi orang sukses, menjadi orang kaya raya. Kenapa demikian? Sebab, menurut adat Minang, harta pusaka turunnya kepada perempuan, sesuai dengan garis keturunan dalam adat Minang yang matrilineal(garis keturunan pada ibu). Kaum lelaki sama sekali tidak dapat apa-apa dari harta pusaka, seperti sawah dan ladang, rumah dan lain sebagainya. Laki-laki hanya pihak yang berwenang mengawasi. Sebagai pemegang hak memiliki adalah kaum perempuan.Mungkin mengingat tak punya hak apa-apa dari harta pusaka dalam kaumnya inilah, maka kaum lelakinya memilih hidup berjuang di rantau orang untuk mendapatkan kekayaan milik pribadi. Begitu sampai di rantau, mereka selalu bekerja keras untuk mencapai cita-citanya menjadi orang sukses, menjadi orang yang bisa mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Dalam berjuang di rantau orang mereka selalu ingat bahwa jika sempat gagal mengubah nasib di rantau orang, kalau pulang nanti bisa-bisa tidur di surau menghabiskan sisa umur dengan mengharapkan nasi pemberian famili perempuan sepiring pagi – sepiring petang. Lebih dari itu, seperti rumah, sawah dan ladang tak bakalan dapat. Seperti dikatakan tadi, semuanya menjadi hak milik perempuan.

Boleh jadi hal ini yang membuat kaum lelaki Padang sukses hidup di rantau orang menjadi pebisnis ulung di mana mereka berada. Ketentuan adat mereka yang menetapkan bahwa kaum lelaki tidak mendapat bagian sama sekali dalam harta pusaka yang sifatnya turun temurun dalam kaumnya, membuat mereka termotivasi untuk mendapatkan harta sendiri sebanyak-banyaknya. Mereka dengan sendirinya termotivasi untuk bekerja keras, untuk menjadi pengusaha, meskipun memulainya dari bawah.
Seiring dengan ketentuan adat Minang yang mengharuskan laki-laki beranjak ke rumah perempuan apabila dia sudah menikah, sehingga semua harta milik orangtua mereka harus ditinggalkan untuk famili perempuannya, otomatis membuat kaum laki-lakinya selalu berpikir bagaimana agar bisa menjadi orang yang ulet berusaha. Sebab, kepergiannya yang tanpa modal apa-apa ke rumah istrinya begitu menikah, tak mungkin akan menjadi orang kaya raya nanti kalau tidak ulet berusaha.
Kondisi adatnya inilah agaknya yang membuat orang Padang itu ulet berbisnis, punya motivasi tinggi dalam berusaha, dan tak mengenal menyerah, tak mengenal putus asa saat berusaha mencapai kesuksesan dalam hidupnya.

Di sini dapat diambil hikmahnya, bahwa orang yang terlahir dari sebuah lingkungan tidak banyak harapan akan mendapatkan kebahagiaan dari pemberian orang lain atau lingkungan keluarganya sendiri, mempunyai semangat yang kuat dan motivasi yang tinggi untuk mengubah nasibnya sendiri kepada yang lebih baik.Sebaliknya, orang yang punya banyak harapan akan mendapatkan kebahagiaan dari pemberian orang atau lingkungannya sendiri, cenderung mempunyai semangat agak rendah dan suka hidup santai.

Mungkin ini pulalah yang menyebabkan adakalanya anak orang kaya raya atau anak seorang pejabat tinggi yang kehidupannya semenjak kecil bergelimang kemewahan, masa depannya kurang beruntung. Setelah orangtuanya meninggal dunia, setelah harta orangtuanya yang berlimpah ruah tinggal bersamanya, lama kelamaan habis satu persatu. Akhirnya dia hidup dalam penderitaan yang sebelumnya mungkin tak pernah ia bayangkan. Namun sebaliknya, bagi mereka yang tak terlena oleh kesuksesan orangtuanya itu, dia jauh-jauh hari mempersiapkan diri dengan semangat dan motivasi diri yang tinggi untu menjadi seorang yang mau bekerja keras, guna melanjutkan dan meningkatkan kesuksesan orangtuanya.Kembali kepada pokok pembicaraan pada bab ini. Keberhasilan orang Padang dalam berbisnis bukanlah karena dia mampu mengelola harta kekayaan orangtuanya, bukanlah karena dia pandai mengendalikan harta pusaka turunan dari nenek moyangnya. Sama sekali bukan demikian.

Keberhasilan yang dia capai adalah dikarenakan ketekunannya dalam menjalankan usaha yang dia mulai dari bawah. Selama bertahun-tahun, bahkan rata-rata berpuluh-puluh tahun menekuni dunia usaha merangkak lambat-lambat dari bawah, dengan segala pahit, getir dan penuh penderitaan yang dialaminya tanpa diketahui banyak orang, barulah dia mencapai kesuksesan.

Di samping yang mencapai sukses, yang berhasil pulang kampung membawa kesuksesan, tidak sedikit pula dari mereka yang hilang lenyap saja di rantau orang. Tak tahu kabar beritanya sampai mati. Namun karena demikian kuatnya motivasi yang tertanam dalam dirinya, karena demikian bulatnya tekadnya dalam memperjuangkan hidup, dia malah lebih memilih hilang lenyap di rantau orang daripada pulang membawa kegagalan. Seperti ada sebuah sumpah dalam diri orang Padang yang merantau memperjuangkan kehidupan. Yakni,” Asa(satu) hilang dua terbilang, ketiga nyawa berpulang”. Maksudnya, dalam berjuang mencapai kesuksesan hidup bagi orang Padang, pertama hilang dari kampung, pergi merantau. Kedua, setelah merantau memperoleh kesuksesan dan menjadi orang terkenal. Kalau nyampang gagal, telah bersedia nyawa berpulang ke haribaan-Nya. Itulah bentuk kebulatan tekad orang Padang dalam memperjuangkan kesuksesan dalam hidupnya. Bukan main-main.
Tekad ini pulalah yang membuat orang Padang dalam berusaha, dalam berbisnis atau berdagang, benar-benar tekun, sabar dan tak mementingkan menjadi orang kaya mendadak atau kaya raya secara instan. Menurut keyakinan orang Padang, setiap yang mudah mendapatkannya, mudah pula perginya. Setiap yang dicapai secara instan atau secara cepat, akan cepat pula habisnya. Sebaliknya setiap yang dengan susah payah mendapatkannya, sulit pula perginya. Setiap yang dengan lambat atau berlama-lama mendapatkannya, lama pula bertahannya.
Jadi rahasia bisnis orang Padang, antara lain adalah mereka bisa tekun, sabar dan bekerja keras tanpa kenal lelah selama berpuluh-puluh tahun, jatuh bangun, tanpa mengenal putus asa dalam berjuang untuk mencapai keinginan menjadi orang sukses dalam meniti karier sebagai seorang pebisnis, pedagang atau pengusaha. *

(22)  FALSAFAH BERAKIT KE HULU BERENANG KE TEPIAN DALAM BISNIS ORANG PADANG
Orang Padang seringkali mengatakan dalam pepatahnya,”Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenag-senang kemudian”. Pepatah ini seakan-akan telah mendarah daging di tengah-tengah kehidupan bisnis orang Padang.Pepatah ini pulalah yang membuat orang Padang lebih memilih hidup susah dahulu untuk mencapai kesenangan kemudian. Orang Padang pun sangat meyakini, bahwa sejauh-jauh mendaki, pasti akan bertemu dengan penurunan. Selama-lama menderita akan bertemu nantinya dengan kesenangan. Tinggal lagi, apakah kita sabar atau tidak. Kalau tak sabar, bisa jadi tak ketemu penurunan tersebut nantinya, karena baru setengah pendakian telah berbalik ke belakang. Atau, bisa jadi di saat-saat akan sampai kepada penurunan, lantas balik kanan karena tak sabar lagi menelusuri pendakian yang membikin bosan dan sangat melelahkan.

Di sinilah dituntut seseorang sabar. Di sini pulalah dikehendaki seseorang menekuni pekerjaannya. Kesabaran dan ketekunan-lah yang bisa menjadikan seseorang terhindar dari jiwa putus asa. Orang yang tak mengenal putus asa, tak akan mengenal berhenti berjuang untuk mencapai yang diimpikannya.

Seorang pebisnis, seorang pedagang atau pengusaha yang tak mengenal putus asa, yang tak mengenal lelah, yang mau menghadapi tantangan, rintangan, hambatan bahkan kegagalan sekalipun, akan berjibaku terhadap impian yang dicita-citakannya. Dia akan menjadikan semua itu tadi sebagai suplemen, sebagai penambah kekuatan, sebagai penambah tenaga dan semangat di dalam mengarungi berbagai suka dan duka, guna menuju kesuksesan yang dicita-citakannya.

Seseorang yang memiliki prinsip hidup bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian, adalah orang yang telah memiliki target dalam perjuangan hidupnya. Karena telah memiliki target capaian, dia tak meraba-raba, dia pun tak sekadar menunggu nasib yang datangnya dengan tiba-tiba. Dia benar-benar mengejarnya, dia benar-benar memperjuangkannya, dan dia benar-benar merebutnya dengan segala kekuatan, kemampuan dan semangat yang ada.

Itulah yang menyebabkan orang Padang pada umumnya memiliki semangat tak pernah pudar dalam mencapai kesuksesanya berbisnis. Bayangkan, dari berjualan peniti, dari berjualan sisir dan ikat pinggang di pinggir jalan, dari mengosong-osong kotak berisi rokok, permen dan tisu di pasar-pasar tradisional, dari berjualan sumbu kompor di emperan-emperan toko, setelah sekian puluh tahun kemudian dia bisa menjadi pengusaha sukses. Dia bisa memiliki sejumlah perusahaan, baik berupa hotel, restoran, bank dan lain sebagainya.

Orang yang punya target capaian dalam hidupnya, taklah akan pernah mengenal putus asa, taklah akan pernah mengenal berhenti dalam memperjuangkan hidupnya sebelum tercapai apa yang telah ditargetkannya itu. Seorang yang ingin meniti karier di dunia bisnis, haruslah memiliki target capaian dalam kariernya. Seseorang yang tidak punya target capaian, dia akan mudah terombang ambing, dia akan mudah berputus asa, dan dia tidak akan tahan banting apabila diterpa badai dan gelombang hidup ketika meniti kariernya. Jadi, target capaian itu sama dengan impian, sama pula dengan garis finish yang hendak dicapai oleh seorang pelari. Seorang pelari yang tidak punya garis finish yang hendak ditujunya, pastilah tak akan memiliki semangat untuk berlari kencang. Sebab, apalah gunanya berlari kencang, sementara garis finish yang hendak dicapai tidak ada. Sama pula jadinya dengan sebuah kapal yang tengah berlayar di tengah lautan lepas, yang tidak punya pantai hendak dituju.

Karena itu, bagi orang Padang, sebelum dia melangkah, sebelum dia terjun ke rantau, dia telah menetapkan target yang hendak dicapainya dalam meniti karier sebagai seorang yang ingin hidup di dunia bisnis, di dunia perdagangan dan di dunia usaha. Setelah mulai bergerak, dia tak pernah berputus asa, tetapi sebaliknya selalu bersemangat karena ada harapan kesuksesan yang dalam bayangannya, yang dalam mimpi besarnya telah menanti di sana. Dia tidak berjalan tanpa tujuan.

Jadi, ketika memilih bersakit-sakit dahulu dalam menelusuri jalan hidupnya sebagai orang yang tidak akan menjadi tenaga gajian pada puncak kariernya nanti, dia telah menargetkan kesenangan atau kesuksesan yang ia inginkan nanti nun di sana. Dia kejar itu terus, dia kejar terus dengan semangat yang selalu menyala-nyala. Bukan dengan semangat hangat-hangat tahi ayam. Dia berikhtiar dengan segala daya dan upaya. Dia berdoa serta berserah diri kepada Yang Maha Kuasa agar mimpi besarnya, agar cita-cita kesuksesannya, agar target capaian yang telah ditetapkannya bisa diraihnya dengan gemilang pada saatnya nanti.

Dalam bisnis orang Padang tidak dikenal menampungkan tangan saja, tidak dikenal berusaha tanpa ada target yang hendak dicapai, tidak dikenal berusaha seperti kapal berlayar di tengaha lautan tanpa tahu pantai tujuan yang hendak dicapai.

Dalam berusaha, penetapan awal jenis usaha yang menjadi titik fokus, sungguh perlu pula. Dengan demikian, tidak menjadi orang yang tiap sebentar bertukar jenis usaha. Suatu contoh, sebulan belakangan berjualan mangga. Baru saja beberapa orang langganan didapatkan, bulan berikutnya pindah lagi berjualan ikan. Baru dikenal oleh beberapa pelanggan sebagai pedagang ikan, bulan berikutnya pindah lagi berjualan es tebak. Akhirnya tak satu pun usaha yang fokus.

Pada awal-awal berusaha memang pasti akan ditemukan kesulitan, hambatan dan rintangan yang disebabkan oleh banyak hal, seperti pengalaman yang kurang, pelanggan yang belum ada dan lain sebagainya. Tetapi jangan dijadikan hal itu sebagai penyebab tiap sebentar berubah jenis usaha. Sebab, apa pun jenis usaha yang dilakoni, kalau baru digeluti pastilah akan mengalami kekurangan pengalaman. Karena itu, haruslah bisa bertahan, sehingga makin lama akan semakin memahami jenis usaha tersebut.Terhadap seorang pengusaha, yang bagus adalah memperbanyak jenis usaha, tapi bukan menukar tiap sebentar jenis usaha. Memperbanyak jenis usaha, sama dengan memperbanyak sumber uang masuk. Tetapi kalau menukar tiap sebentar jenis usaha, sama dengan menjadikan diri selalu pada status pengusaha pemula.

Orang yang tiap sebentar menukar jenis usaha, bisa diindikasikan sebagai orang yang tak mampu bertahan ketika datang kesulitan atau goncangan. Orang ini tidak punya daya tahan yang kuat untuk menghadapi tantangan yang makin besar usahanya akan semakin besar pula tantangan yang menghadang di depannya.

Anda cobalah menyaksikan pohon kayu di hutan. Pohon kayu yang mampu menjulang tinggi, rimbun dan besar, adalah yang telah lolos dari berbagai terpaan angin dan badai. Bagaimana dengan yang masih kecil sudah bertumbangan? Itulah yang tidak lolos, yang tidak tahan terhadap terpaan angin, serangan badai dan topan. Seorang pengusaha sukses adalah yang telah berhasil lolos dari segala bentuk terpaan gelombang hidup selama dia meniti karier di dunia usaha yang digelutinya. Bagaimana dengan yang tidak tahan terhadap segala tantangan itu tadi? Itulah yang bertumbangan ketika masih menjadi pengusaha pemula.

Apabila dikaitkan dengan falsafah bisnis orang Padang yang dikenal dengan bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian, pengusaha pemula yang bertumbangan tadi, atau pengusaha pemula yang tiap sebentar menukar jenis usaha ini adalah termasuk kepada jenis pengusaha pemula yang tidak tahan bersakit-sakit dahulu untuk bersenang-senang kemudian. Sebab, sesuatu yang baru, apalagi menjadi pengusaha, pebinis atau pedagang, sudah barang tentu yang lebih banyak ditemuinya adalah kesulitan. Jarang sekali yang menemui kemudahan begitu terjun mengawali karier di dunia usaha. Saya belum pernah mendengar ada orang yang begitu mengawali karier sebagai pengusaha, pedagang atau pebisnis, langsung sukses. Kecuali mungkin orang yang melanjutkan usaha warisan dari orangtuanya. Itu pun belum bisa dipastikan langsung sukses tanpa ada kesulitan atau rintangan sedikit pun.Karena itu, bagi anda yang mau bersakit-sakit dahulu untuk mengharapkan bisa bersenang-senang kemudian, janganlah takut menghadapi tantangan atau kesulitan, dan jadilah anda bagaikan pohon kayu menjulang tinggi yang berhasil lolos dari terpaan angin, topan dan badai.*

(23)  JANJI BISNIS ORANG PADANG
Di dunia bisnis, baik sebagai seorang pedagang biasa, pengusaha pemula atau pengusaha sukses, janji merupakan suatu hal yang sangat penting artinya bagi kelanjutan perkembangan suatu usaha.

Bagi orang Padang, janji merupakan kekayaan yang bisa dijadikan modal utama dalam menjalankan usaha. Biarlah modal berupa uang kurang atau seadanya, asalkan modal kepercayaan banyak atau kuat.

Kenapa dalam hal ini saya sebutkan bagi orang Padang? Sebab, menurut adat Minang, janji merupakan hal yang amat penting. Seseorang akan dapat dilihat baik atau buruk budi pekertinya, ketika melihat komitmennya dalam berjanji.Bahkan dalam pepatah orang Padang dikatakan, ” Titian(jembatan) binasa lapuk, janji binasa mangkir. Kalau hujan bertudung destar, kalau licin bertongkat keris, namun janji harus ditepati”.

Jadi, melihat kepada pepatah ini, orang Padang sungguh sangat menganggap penting artinya janji. Dalam pepatah lain dikatakan, ” Sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak akan percaya”. Maksudnya, sekali saja seseorang ketahuan tak menepati janji atau tak lolos ujian dalam berjanji, selama hidup orang tak akan percaya kepadanya. Janji bagi orang Padang adalah utang yang sulit sekali bisa dibayar apabila telah sempat satu kali mangkir.

Apabila dikaitkan dengan dunia bisnis, janji di dunia bisnis sungguh sangat penting artinya. Modal utama bagi seorang pebisnis, pedagang atau pengusaha adalah kepercayaan yang diwujudkan dengan janji.
Kalaulah seorang pelaku bisnis suka mangkir janji, tak bisa dipercaya, alamat yang bersangkutan akan menemui kegagalan dalam maniti kariernya di dunia bisnis. Mustahil seorang pebisnis akan mampu berkembang bisnisnya jika orang tidak percaya kepadanya. Apalagi dalam agama sangat dilarang apabila berjanji mangkir dan dipercaya khianat.
Ketika seorang anak akan pergi merantau, orangtua dan pamannya biasanya akan memberikan nasehat atau wejangan, yang antara lain yang sangat menjadi penekanan bagi mereka adalah, jangan sampai tak bisa dipercaya. Sebab kepercayaan merupakan modal utama dalam merenangi alam kehidupan di mana saja berada.

Dalam menjalankan usaha, seperti telah kita singgung juga pada pembicaraan sebelumnya, modal kepercayaan merupakan modal yang paling utama dan mutlak harus dimiliki.Kendati pun modal uang berlimpah, jika modal kepercayaan tak dimiliki, taklah bakalan berkembang usaha yang sedang dijalankan tersebut. Karena itu, modal kepercayaan sungguh sangat melebihi pentingnya modal dari sisi lain. Apalah artinya modal usaha berupa uang berlimpah ruah, jika setiap konsumen tak percaya kepada si pengusaha tersebut. Pembeli hasil produk adalah konsumen. Uang banyak tersebut lama kelamaan akan ludes, jika setiap usaha yang dibuat tak pernah mendapat kepercayaan dari masyarakat.

Apalah artinya modal usaha berupa uang banyak, kalau tak seorang pun masyarakat mempercayai janji yang dikemukakan si pengusaha tersebut. Suatu contoh, si pengusaha tadi berjanji akan menyerahkan barang produknya setiap tanggal 25 sebanyak 35 ton. Tapi tak ada orang yang percaya dikarenakan sebelumnya janji pengusaha tersebut tak ada yang tepat waktu. Bahkan lebih banyak yang mangkir dibandingkan yang menepati janji. Berjanji tanggal 25, sudah tanggal 29 atau 31 belum juga tentu ujung pangkalnya.

Demikian pula, kalau berjanji akan menyetorkan uang setiap tanggal 15, setelah tanggal 25 atau setelah ditagih berulang kali belum juga ada setoran tersebut. Selalu berjanji dan berjanji lagi.Karena itu, di dunia bisnis, janji benar-benar modal utama yang jauh melebihi modal uang dan yang lainnya. Apabila kepercayaan orang sudah hilang, jangan harap usaha yang dilakukan akan bisa berkembang.

Itulah sebabnya, orang Padang terutama yang terjun ke dunia usaha, benar-benar memegang teguh janji. Kalau kita ingin dipercaya, tepatilah janji, jauhi kebohongan dan anggaplah kebohongan tersebut malapetaka yang bisa menghancurluluhkan usaha yang dibangun dengan susah payah sebelumnya. Belum ada hingga hari ini saya mendapat informasi, ada pengusaha yang sukses atau menjadi orang kaya raya karena suka berbohong atau karena suka mangkir janji.

Jangan sekali-kali menganggap janji itu hal sepele. Sekecil apa pun janji, haruslah ditepati, kalau kita ingin mendapatkan kepercayaan dari semua orang. Dan jangan sekali-kali membiasakan diri mangkir janji, karena kebiasaan itu sangatlah tidak baik.Bayangkan, kalau bank yang sedianya akan mengucurkan kredit kepada perusahaan anda Rp 20 milyar tiba-tiba batal gara-gara anda tidak dipercaya, karena ketika diberinya kredit Rp 250 juta dulunya tidak anda bayar sesuai perjanjian.

Demikian pula, dapat anda bayangkan, betapa ruginya anda ketika uang kontan akan dipinjamkan seorang rekan bisnis anda Rp 10 milyar tiba-tiba batal, hanya gara-gara seorang rekan bisnisnya memperlihatkan kwitansi pinjaman anda yang tidak anda bayar kepadanya sesuai perjanjian sebesar Rp 100 juta.Karena itu, latihlah diri anda untuk bisa menepati janji, untuk bisa tidak mangkir janji. Kalau sudah terbiasa, enak sekali rasanya. Dunia ini terasa lapang apabila semua orang bisa mempercayai kita. Jangan sampai ada sekali saja anda lancung ke ujian, karena seumur hidup anda orang tak bakalan percaya lagi.

Adat Minang benar-benar menekankan pada pentingnya menepati janji. Orang yang tak menepati janji dianggap orang rendah budi, orang yang tak berakhlak karena dia sudah tidak lagi bisa dipercaya.

Ada beberapa hal yang bisa dipedomani, agar selalu bisa dipercaya orang:
1) Berjanjilah Sesuai Kemampuan Untuk Bisa Menepati. Agar anda bisa dipercaya orang, ketika berjanji, buatlah janji yang sudah dipertimbangkan akan bisa ditepai. Jangan sekali-kali membuat janji yang sudah diperkirakan tidak akan bisa ditepati. Bukan tak ada orang yang membuat janji di luar kemampuannya untuk menepati. Suatu contoh, anda sangat memerlukan uang. Ada orang yang bisa meminjamkannya kepada anda, dengan catatan harus anda bayar kembali pada tanggal yang ditentukannya. Di satu sisi anda sangat memerlukan uang tersebut. Namun di sisi lain anda merasa tidak akan mampu membayar sesuai tenggat waktu yang ditentukan pemiliknya tersebut. Dalam kemelut ini, anda lantas mengatakan akan membayarnya sesuai waktu yang sudah ditentukannya itu. Padahal dalam hati anda sudah dapat anda pastikan tidak akan mampu membayarnya sesuai janji tersebut. Ini memang sangat dilematis. Akan tetapi tak ada salahnya anda berterus terang mengatakan tidak bisa mengembalikan uang tersebut sesuai jadwal yang sudah ditentukannya. Namun anda harus pula terus terang mengatakan sangat membutuhkannya. Mungkin anda katakan terus terang, agar diundur satu minggu, dua mingggu atau satu bulan dari jadwal yang ditentukannya itu. Yakinlah anda, bahwa keterusterangan anda akan membuat hatinya lentur. Tetapi dengan catatan anda harus benar-benar menepati janji.

2) Jangan Biasakan Mangkir Janji. Mangkir janji itu apabila dibiasakan memang akan terasa indah. Apalagi mangkir terhadap utang. Tetapi anda harus ingat, jangan sampai membiasakan diri mangkir janji. Mangkir janji adalah kebiasaan buruk, kebiasaan tak terpuji. Apabila kebiasaan tersebut anda turuti, anda akan dinilai masyarakat sebagai seorang yang memiliki prilaku tak terpuji. Dapat tentunya anda bayangkan, betapa rendahnya nilai anda dari mata sesama manusia, kalau sudah memperoleh prediket sebagai orang yang berprilaku tak terpuji. Ingatlah, bahwa janji bukanlah biasa mangkir. Sebaliknya, janji adalah binasa kalau sempat mangkir. Sama seperti titian, bukanlah biasa lapuk. Tetapi adalah binasa lapuk.

3) Jauhi Sifat Pembohong. Seseorang yang punya kebiasaan pembohong, sama artinya dengan mangkir janji. Karena itu, anda harus bisa dipercaya, agar anda selalu bisa dianggap sebagai orang yang punya komitmen teguh dalam menepati janji. Apabila anda mendapat cap sebagai seorang pembohong, sepanjang apa pun titel anda, sebanyak apa pun uang anda dan setinggi apa pun pangkat anda, di mata orang banyak anda adalah orang yang memiliki derajat jauh di kulit tanah. Anda akan dipandang hina oleh semua orang. Karena itu, jauhilah sifat pembohong dan dekatilah sifat jujur atau berterus terang.

4) Jadikan Kepercayaan Modal Utama. Kalau anda ingin sukses dalam berbisnis, jadikanlah kepercayaan sebagai modal utama. Dengan menjadikan kepercayaan sebagai modal utama, anda tidak akan mau menyia-nyiakan kepercayaan orang. Sebab sebagai seorang pebisnis, sebagai seorang pedagang atau pengusaha, sudah barang tentu anda tidak akan mau kehilangan modal dalam menjalankan usaha. Apalagi kalau sampai modal utama yang hilang. Karena itu, jadikanlah kepercayaan sebagai modal utama, agar bisa selalu dipercaya orang.

Memang harus diakui, bahwa tidaklah mudah menjadi orang yang bisa dipercaya.Akan tetapi anda akan kehilangan segala-galanya, apabila tidak bisa lagi dipercayai orang.Sesungguhnya kekayaan yang paling tinggi nilainya yang melekat pada diri seseorang adalah kepercayaan. Tidak akan ada lagi arti seseorang, kalau tidak bisa dipercaya oleh orang lain. Dengan demikian, jadilah anda seorang yang bisa dipercaya orang. *

(24) CARA CERDIK PANDAI ORANG PADANG DALAM BERBISNIS
Dalam kehidupan sehari-hari orang Padang, ada yang dikenal dengan, ”Cerdik pandai”. Menurut Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, penerbit Lintas Media Jombang, yang ditulis Indrawan WS, ”cerdik” berarti: punya akal pintar, mampu/pandai memecahkan persoalan, cepat memahami situasi yang sulit dan menemukan pemecahannya, banyak akal. Sedangkan ”pandai” berarti: pintar, cerdik. Dengan demikian, orang cerdik pandai bisa diartikan orang yang arief bijaksana.

Kearifan dan kebijaksanaan ini sangatlah penting artinya bagi orang Padang dalam menggeluti dunia usaha. Seorang pebisnis, seorang pedagang atau pengusaha, bagi orang Padang adalah orang yang arief bijaksana. Dengan kata lain, dia adalah orang yang pintar, cerdas, cepat memahami situasi sulit, dan bisa pula dengan segera menemukan pemecahan malasah atau solusinya.

Seorang yang arief bijaksana, dalam pepatah Minang dikatakan, ”Cedpat tangan tidak melukai, cepat kaki tidak memecah”. Maksudnya, benar-benar bisa mengambil langkah dengan cepat dan tepat, baik dalam situasi sulit maupun dalam kondisi normal.

Bagi orang Padang, dalam meniti karier di dunia usaha, cerdik saja belum cukup dan pandai saja belum pula lengkap. Karenanya, sangat diperlukan seorang yang cerdik dan pandai.Orang yang cerdik dan pandai, setahun orang akan ditimpa musibah kelaparan, dia sudah tahu. Jauh-jauh hari harga gabah akan naik atau turun, dia sudah bisa membaca, dia sudah dapat memahami.

Jadi, orang Padang berdagang tidak hanya sekadar berdagang saja, melainkan melengkapi diri dengan kearifan dan kebijaksanaan. Setiap langkah yang diambilnya selalu ada pertimbangan. Tetapi bukan berarti terlalu lama baru bisa mengambil keputusan. Atau terlalu cepat pula dalam mengambil keputusan.Seorang pengusaha kalau terelalu gegabah mengambil keputusan, bisa-bisa mengalami kerugian. Sebaliknya, terlalu lambat pula dalam mengambil keputusan, bisa pula rugi besar. Karena itu, kecepatan dan ketepatan dalam mengambil keputusan atau langkah sangatlah penting.

Bagaimana agar bisa dengan cepat dan tepat mengambil keputusan atau langkah dalam berbisnis? Di sinilah perlunya keberanian mencoba. Dengan ini akan muncul yang disebut dengan kemahiran. Orang yang sudah terasah otaknya oleh keberanian mencoba, tingkat kecerdasannya akan tinggi. Orang yang telah memiliki tingkat kecerdasan tinggi karena selalu diasah otaknya, dia akan arief dan bijaksana.

Dalam berbisnis, suatu langkah atau keputusan untuk melangkah apabila diambil dengan arief dan bijaksana, tingkat keberuntungannya akan sangat tinggi dan tingkat kerugiannya akan sangat rendah.Seorang pengusaha selalu dituntut bertindak cepat dan tepat dalam menangkap sebuah peluang usaha. Untuk ini, sangat diperlukan kemahiran dalam mengambil langkah atau keputusan tadi, sehinga bisa diambil langkah atau keputusan yang tepat, yang membawa untung besar terhadap perusahaan.Orang Padang membagi masyarakat kepada tiga golongan. Pertama alim ulama, kedua cerdik pandai dan ketiga bundo kanduang. Alim ulama adalah tergolong kepada orang yang memahami atau yang ditokohkan di bidang agama. Cerdik pandai adalah orang yang tergolong kepada pemimpin formal dan non formal termasuk di dalamnya pengusaha, seperti tokoh atau pemimpin dari segi pemerintahan, tokoh atau pemimpin dari segi adat dan swasta lainnya, termasuk di dalamnya pengusaha. Sedangkan bundo kanduang adalah tokoh atau pemimpin dari golongan kaum perempuan.

Seorang pengusaha atau seorang yang meniti karier di dunia usaha, sungguh sangat dituntut arief dan bijaksana, agar usahanya sukses. Kalau tidak demikian, besar kemungkinan tidak tahan hempasan badai dan gelombang.Cerdik pandai di sini bukan pula harus berpendidikan tinggi. Akan tetapi dia harus memiliki pengalaman hidup yang banyak, tingkat kecerdasan yang tinggi, sehingga mampu cepat menyesuaikan diri dengan situasi di mana dia menjalankan usaha.
Banyak sekali orang Padang yang berhasil menjadi pengusaha sukses, yang bukan seorang yang berpendidikan tinggi. Namun dia sudah kaya pengalaman, sudah banyak asam garam kehidupan di dunia bisnis yang dia alami.

Dalam berbisnis, dalam menjalankan usaha, pendidikan formal sangat perlu. Tetapi bukan berarti pendidikan formal itu segala-galanya bagi seseorang untuk sukses dalam menjalankan usahanya. Ini dapat dibuktikan, banyak sekali pengusaha yang berhasil sukses, terutama pengusaha asal Padang, yang bukan memiliki pendidikan formal tinggi. Banyak sekali di antara mereka yang ketika memulai usaha hanya mengantongi ijazah pendidikan seadanya. Jangankan untuk mendapatkan ijazah tamatan perguruan tinggi, untuk mendapatkan pakaian seadanya saja orangtua mereka susah. Jangankan untuk menempuh pendidikan sampai ke jenjang S2 atau S3, untuk makan pagi dan petang saja susah orangtuanya memenuhi. Tetapi toh akhirnya mereka bisa menjadi pengusaha sukses.

Kalau demikian, apa sesungguhnya yang dimilikinya? Jawabnya adalah, mereka itu merupakan orang cerdik pandai. Orang yang punya kearifan dan kebijaksanaan yang demikian tinggi. Hal ini mereka peroleh, antara lain dari pengalaman yang sudah demikian banyak mereka alami selama meniti karier sebagai pebisnis, pedagang atau pengusaha dari bawah.
Pengalaman panjang dipenuhi oleh lika-liku kehidupan yang berbumbu suka dan duka selama berpuluh-puluh tahun-lah yang membuat mereka para pengusaha sukses itu bisa menjadi bintang, bisa menggapai mimpi besarnya.Memang benar pendapat pengusaha sukses Bob Sadino yang mengatakan, bahwa kematangan seorang pengusaha itu dalam meniti kariernya sebagai seorang pengusaha memakan waktu sekitar 30 tahun.
Kematangan di sini, mungkin lebih mendekati pada pengertian kemampuan seseorang menjadi pengusaha yang tergolong kepada taraf tingkatan masyarakat cerdik pandai tadi.

Dari itu, seorang yang berkeinginan menjadi pengusaha sukses, sekali lagi, sungguh sangat memerlukan ketabahan, kesabaran, ketekunan, ketelatenan, keuletan, dan lain sebagainya. Sebab waktu yang diperlukan untuk mencapai kesuksesan itu bukanlah singkat. Bayangkan, mencapai sekitar 30 tahun. Para pengusaha Padang yang menikmati kesuksesan sekarang ini, rata-rata telah mencapai waktu selama itu dalam meniti kariernya. Bahkan banyak yang lebih dari 30 tahun.

Anda harus bisa mencapai puncak kematangan yang berbuah kesuksesan itu. Karena itu, anda harus tabah, anda harus sabar, anda harus ulet, anda harus telaten, dan anda harus punya motivasi yang kuat untuk bisa mencapai tingkatan sebagai seorang pengusaha sukses. Jauhilah sifat putus asa, jauhi rasa takut mencoba memulai usaha. Dunia usaha bukanlah dunia angan-angan, tetapi dunia nyata yang harus dijalani dengan melakukannya. Lakukanlah! Mulailah segera! Dan jalani terus!*

(25) ORIENTASI ORANG PADANG DALAM BERBISNIS
Mungkin ada benarnya, kalau ada orang berpendapat, bahwa orang Padang dalam berbisnis benar-benar tak peduli siang dan malam, tak hirau terhadap lawan dan kawan. Seakan-akan tiada hari baginya selain untuk mengurus bisnisnya.

Kalau anda berjalan-jalan di Tanah Abang Jakarta, di Pasar Sukaramai Medan, di Pasar Pusat Pekan Baru, di Pasar Angso Duo Jambi, di samping di tempat-tempat lainnya, anda akan melihat betapa pedagang, pebisnis atau pengusaha asal Padang disibukkan oleh usahanya dengan kesibukan yang bukan main tinggi intensitasnya.Memang benar, mereka seperti tak peduli dengan apa pun yang terjadi di sekelilingnya. Mereka benar-benar sibuk dengan usahanya. Semua ini adalah menujukkan bahwa orang Padang itu benar-benar tekun dalam berbisnis.

Orang Padang dalam berbisnis memiliki orientasi jauh ke kesuksesan hari depan atau jangka panjang. Karena itu, usaha yang dilakukannya bukan acak-acakan, bukan hanya untuk kepentingan hidup jangka pendek.
Bagi orang Padang yang menekuni dunia bisnis sebagai jalan hidupnya, dia mengharapkan anak cucunya nanti bisa mewarisi usaha yang sedang ia jalankan sekarang. Jangan sampai usaha yang sedang ia jalankan itu turut pula mati ketika dia dijemput kelak oleh Yang Maha Kuasa.

Kalau dibilang menjanjikan, jauh lebih menjanjikan perusahaan untuk diwariskan kepada anak cucu nanti dibandingkan jabatan di pemerintahan. Suatu contoh, kalau sekarang seseorang menjadi bupati, walikota, gubernur, menteri, kepala dinas, anggota DPR dan lain sebagainya, ketika dia meninggal nanti, semua itu taklah bisa diwariskannya kepada anak dan cucunya. Akan tetapi kalau perusahaan, jika kelak dia meninggal dunia, anak cucunya akan bisa mewarisinya. Tinggal lagi bagaimana dia mempersiapkan anak cucunya tersebut untuk sebagai pelanjutnya. Suatu contoh, mantan Presiden Soeharto begitu meninggal, sama sekali tidak bisa mewariskan jabatan Presiden kepada anaknya. Di saat dia hidup saja sudah diambil alih oleh orang lain. Namun Rachmat Gobel bisa mewarisi kepemimpinan ayahnya sebagai generasi kedua dari kerajaan bisnis milik orangtuanya, H. Thayeb Mohammad Gobel(alm) sebagai perintis dan pemimpin kerajaan bisnis elektronik Indonesia di bawah bendera Panasonic-Gobel.

Karena itu, orang Padang tidak terlalu terkejut terhadap seseorang yang memperoleh pangkat tinggi di pemerintahan. Namun dia lebih mengagumi seseorang yang sukses di dunia usaha. Ini mungkin juga dipengaruhi oleh sifat orang Padang yang hidup di lingkungan masyarakat egaliter.
Orang egaliter lebih memilih hidup di alam merdeka, dalam artian tidak berada pada tatananan diperintah-perintah, disuruh-suruh, apalagi dibentak-bentak. Mereka lebih memilih pada kehidupan yang setara. Seperti pepatah Minang mengatakan,”Berselang kayu talam tungku, di sana api baru bisa hidup”. Maksudnya, untuk mengambil suatu keputusan haruslah melalui perdebatan, pembicaraan dalam tatanan kehidupan masyarakat yang setara, tidak ada yang terlalu tinggi dan terlalu rendah. Tidak ada yang terlalu dahulu dan terlalu di belakang. Perselangan pendapatlah yang membuat lahirnya kesepakatan yang bernas. Di lingkungan pemerintah sulit sekali menemukan hal ini.

Jadi, orang Padang dalam berbisnis, dalam menelusuri karier di dunia usaha, pun lebih berorientasi kepada eksistensi diri. Posisi seorang pengusaha cukup dihargai di tengah-tengah masyarakat.Profesi sebagai pengusaha cukup terhormat di tengah-tengah masyarakat. Bahkan orang Padang memandang pengusaha itu sebagai sebuah profesi yang mengagumkan karena mereka lahir dari jerih payahnya sendiri, disebabkan hasil keringatnya sendiri. Sulit terdengar pengusaha yang lahir karena dikarbit. Namun tak jarang kita mendengar pejabat karbitan.

Orang Padang memandang kesuksesan seorang pengusaha tak bisa disamakan dengan kesuksesan seorang pejabat pemerintahan. Kesuksesan seorang pengusaha pasti melalui proses yang panjang, yang penuh dengan suka duka dan penuh dengan pengalaman cukup berarti. Sedangkan kesuksesan seorang pejabat pemerintahan, adakalanya bagaikan simsalabim. Tanpa proses yang panjang dan penuh pengalaman pahit dan getir, seseorang bisa saja menjadi pejabat negara, seperti anggota DPRD, DPR, MPR, DPD, Gubernur, Bupati dan Walikota. Kadangkala untuk pejabat karier di pemerintah pun sudah terbawa-bawa pula gaya perjalanan karier pada lingkungan pejabat negara itu.Karena itu, orang Padang memandang kesuksesan di dunia usaha sungguh sangat besar artinya dalam kehidupan di tengah-tengah masyarakat. Apalagi bagi seseorang yang sebelumnya benar-benar hidup dalam kondisi kemiskinan yang amat memprihatinkan. Nilai perjuangannya, nilai ketekunan, ketabahan, keuletan dan kesabaran yang dimiliki seorang pengusaha sukses, mendapat tempat tersendiri di tengah orang Padang.

Seandainya eksistensi pengusaha sudah sama di seluruh wilayah Republik Indonesia seperti di tengah-tengah orang Padang, tentu perkembangan dunia usaha di negeri ini akan semakin maju pesat. Keinginan menjadikan 2 % dari seluruh penduduk suatu negara menjadi pengusaha untuk bisa menjadikan negara tersebut makmur, mungkin segera akan tercapai di negeri ini. *

(26) KEYAKINAN BISNIS ORANG PADANG
Banyak orang merasa heran, dari mana datangnya keyakinan orang Padang itu dalam berbisnis, sehingga dia mau memulai karier dari kondisi yang benar-benar dari bawah, dari nol dan dari kemiskinan yang benar-benar miskin.Kalau kebanyakan seseorang dikatakan miskin apabila dia tidur di atas rumah belantai tanah, makan dengan nasi dan sambal seadanya, baju sekadar yang terpakai di badan. Kemiskinan kebanyakan orang Padang yang pada akhirnya menjadi seorang yang kaya raya itu, melebihi kondisi si miskin yang disebutkan itu tadi.

Kemiskinan orang Padang yang setelah sekian puluh tahun didera penderitaan muncul menjadi seorang pengusaha sukses itu, tidak saja sekadar tidur di rumah berlantai tanah, tetapi sama sekali tidak punya rumah tempat tinggal. Kemiskinannya tidak sebatas berbaju hanya sekadar yang terpakai di badan, tetapi baju yang dia pakai itu pun pinjaman dari temannya pula. Tidak saja sekadar nasi dan sambal seadanya untuk makan, tetapi sampai-sampai tidak punya nasi dan sambal sama sekali berhari-hari, sehingga terpaksa menahan tak makan.

Kalau demikian, bisakah dia dikatakan lebih miskin dari pengemis yang sedang menadahkan tangan di pinggiran jalan menunggu belas kasihan orang? Bisa jadi. Dan memang demikianlah adanya mereka.
Lantas, keyakinan apa yang membuat orang Padang itu tidak pernah putus asa dan selalu punya harapan akan bisa suatu saat nanti menggapai mimpi besarnya nun sekarang sedang menanti jauh di sana?

Inilah yang patut dikagumi dari keteguhan hati, kekuatan mental dan ketabahan serta kesabaran orang Padang itu dalam menahan penderitaan, demi sebuah mimpi besar menjadi pengusaha sukses.Bukan tak pernah dia menangis setelah didera terus menerus oleh penderitaan hidup. Akan tetapi tangisnya bukanlah tangis keputusasaan. Sebaliknya, tetesan air matanya yang keluar itu adalah air mata motivasi, air mata pendorong semangatnya untuk selalu berjuang, berjuang dan berjuang sampai tercapai kesuksesan sesuai dengan impian yang sedang bergelayut di kepalanya.Seberat apa pun kesulitan hidup yang dia alami, semangatnya tak pernah kendur, apalagi menyerah. Malahan sebaliknya, setiap tetesan keringatnya yang keluar, selalu berisikan dorongan semangat untuk lebih gesit lagi berusaha, untuk lebih ulet lagi bekerja, sehingga cepat tercapai yang dicita-citakannya.

Lagi pula, semangat orang Padang dalam berbisnis, sama seperti air yang dibungkus dengan plastik. Semakin dipencet plastiknya, tekanan airnya semakin kuat hendak menembus plastik tersebut.Semakin kuat tekanan penderitaan hidup menderanya, semakin kuat pula semangatnya untuk bangkit, semakin kuat dorongan dari dalam dirinya untuk mengubah nasib kepada yang lebih baik, dan semakin kokoh keyakinannya mengatakan bahwa di balik penderitaan ini akan ada kesuksesan. Keyakinanya pun mengatakan bahwa keputusasaan hanya akan menjadikan kegagalan. Karena itu, dalam sebuah perjuangan harus dijauhi keputusasaan. Sebab, keputusasaan hanya akan menggagalkan keinginan.

Keyakinan orang Padang dalam berbisnis, ternyata telah mampu membuatnya menjadi orang yang sukses dalam berbisnis. Kalaulah tidak karena kekuatan keyakinannya, mustahil akan mampu mereka menjadi bintang dunia bisnis di pentas nasional bahkan internasional.
Keyakinan telah membuat orang Padang menjadi percaya diri, menjadi berjiwa optimis, menjadi berpikiran jernih dan jujur, menjadi seorang yang dekat dengan agamanya dan menjadi orang yang mampu menggapai cita-cita sebagai seorang pengusaha sukses.Tidak mudah menanamkan keyakinan diri pada seseorang, karena membutuhkan ketangguhan prinsip, membutuhkan keteguhan pendirian, sehingga tidak mudah goyah ketika rintangan, halangan dan hambatan silih berganti datang dari kiri dan kanan, depan dan belakang, atas dan bawah.

Dengan demikian, keyakinan sungguh sangat menentukan keberhasilan seseorang dalam memperjuangkan keinginannya untuk menjadi seorang pengusaha sukses. Tanpa keyakinan yang benar-benar kuat, berat sekali melanjutkan usaha keras ketika kesulitan datang menghadang.Orang yang memiliki keyakinan terhadap sesuatu yang diinginkannya bisa dia capai, dia akan tetap fokus kepada usahanya untuk mencapai yang diinginkannya itu, tanpa mempedulikan apa pun rintangan dan hambatan. Demikian pula dengan seseorang yang punya keyakinan terhadap keberhasilannya dalam mencapai keinginan untuk menjadi seorang pengusaha sukses. Dia akan tetap fokus dalam berusaha untuk mencapainya, tanpa mempedulikan hambatan dan rintangan apa pun juga. Setiap ada hambatan dan rintangan, dia anggap sebagai pendorong semangatnya untuk lebih bekerja keras lagi, untuk lebih ulet lagi dalam menjalankan usaha.

Dengan keyakinan yang tinggi, tidak ada kesulitan yang tidak bisa teratasi, tidak ada kepahitan hidup yang tidak bisa terlewati, dan tidak ada pula mimpi kesuksesan yang tidak bisa dicapai. Karena itu, dalam meniti karier di dunia usaha, keyakinan sungguh sangat penting dan sungguh sangat menentukan keberhasilan seseorang dalam kariernya.

Dalam menjalankan usaha, keyakinan akan menjadikan cara berpikir seseorang jauh ke depan, akan menjadikan seseorang berwawasan luas. Semua ini akan sangat besar dampaknya terhadap perluasan jaringan bisnisnya atau akan berdampak positif sangat besar terhadap perkembangan usaha yang sedang ia jalankan.

Ada beberapa hal yang bisa dijadikan untuk memperkuat keyakinan dalam menjalankan usaha atau dalam menggeluti dunia bisnis yang rata-rata dilakukan pengusaha asal Padang :
1) Tentukan Keinginan Yang Hendak Dicapai. Dengan telah adanya keinginan yang hendak dicapai dalam meniti karier di dunia usaha atau dunia bisnis, anda akan memperoleh keyakinan yang kuat dalam berjuang habis-habisan untuk mencapainya. Anda belum akan berhenti berusaha sebelum yang anda inginkan itu tercapai.
2) Tentukan Target Berapa Lama Keinginan Anda Itu Baru Akan Bisa Dicapai. Untuk memperkuat keyakinan anda, haruslah anda tentukan target berapa lama anda harus berusaha, bekerja keras, berjuang tanpa kenal lelah, baru yang anda inginkan itu bisa dicapai. Anda harus meyakinkan diri anda, bahwa usaha anda akan bisa berhasil. Kekuatan keyakinan anda itu akan sangat menetukan keberhasilan anda mencapai keinginan anda.

3) Dekatkan Diri Kepada Yang Maha Kuasa. Dalam upaya memperkuat keyakinan anda untuk mencapai kesuksesan dalam menjalankan usaha, dekatkanlah diri anda selalu kepada Yang Maha Kuasa. Dengan demikian, anda akan rajin berdo’a kepada-Nya, anda akan rajin berserah diri kepada-Nya. Selanjutnya, anda akan semakin yakin bahwa Yang Maha Kuasa akan menolong dalam mencapai keinginan anda. Keyakinan yang dilandasi oleh kedekatan diri kepada Yang Maha Kuasa, akan menjadikan anda memiliki keyakinan yang hakiki, yakni keyakinan yang tidak mendahului kekuasaan-Nya, tetapi keyakinan yang anda miliki itu adalah keyakinan yang berada dalam ridha-Nya.

Dengan anda miliki tiga hal ini sebagai untuk memperkuat keyakinan anda dalam menjalankan usaha, anda akan merasa mendapatkan kekuatan tersendiri, yang merupakan kekuatan dalam lindungan-Nya.Percayalah anda, bahwa keyakinan yang anda miliki itu akan mampu menjadi kekuatan yang amat berarti bagi anda dalam meniti karier sebagai seorang pebisnis, pedagang atau pengusaha. Orang Padang dalam menggeluti dunia usahnya memakai hal ini.*

(27)  KEBAIKAN MEMBERI DALAM BISNIS ORANG PADANG
Dalam kepercayaan orang Padang sesuai dengan agama dan adat yang dianutnya, bahwa semakin banyak memberikan kelebihan harta kekayaan yang dimiliki, baik berupa uang atau sejenis yang lainnya kepada orang lain, baik untuk perorangan maupun untuk kepentingan umum, akan semakin banyak pula kembalinya sebagai wujud dari pembalasan dari Yang Maha Kuasa.

Sangat dipercayainya bahwa seseorang yang suka memberi, sama dengan seseorang itu suka menaburkan kebaikan. Setiap kebaikan yang ditaburkan, maka dia akan menerima kebaikan pula yang jauh lebih besar dari kebaikan yang ditaburkannya itu.

Dengan demikian, kalau dibawakan kepada prinsip bisnis, memberikan bantuan, pertolongan atau sumbangan itu tidak ada ruginya. Sebaliknya hanya akan semakin menambah besar keuntungan yang akan didapat.
Sebagai implementasi dari kepercayaan orang Padang itu, betapa banyaknya bantuan baik untuk perorangan maupun untuk kepentingan orang banyak dari hasil pemberian orang Padang di kampung halamannya, setelah dia sukses.

Orang Padang setelah menjadi orang sukses tidak segan-segan mengeluarkan uang pribadinya puluhan milyar untuk pembangunan masjid, surau, rumah sekolah, jalan umum dan lain sebagainya.
Banyak sekali masjid yang dibangun seseorang dengan uang pribadinya, yang nilai bangunannya memakan biaya puluhan milyar berdiri di Sumtra Barat sekarang. Tidak jarang pula orang Padang yang telah sukses berani mengeluarkan uang pribadinya puluhan milyar untuk membangun jalan umum, membangun gedung sekolah dan lain sebagainya. Sangat banyak pula orang Padang yang telah sukses memberikan bantuan untuk orang miskin di kampung halamannya.

Semua ini dia lakukan tak lain adalah karena dia meyakini bahwa kebaikan memberi itu sangat tinggi dinilainya di mata sesama manusia dan dalam pandangan Yang Maha Kuasa.

Jadi, dalam prinsip bisnis orang Padang, uang yang didapat bukanlah harus untuk dia semuanya. Dalam harta kekayaan yang dimilikinya, ada hak orang lain, seperti anak yatim, fakir miskin, orang terlantar, dan orang banyak lainnya yang harus dikeluarkan melalui zakat, infak, sedakah dan sumbangan lainnya. Kalau disimpan bukannya akan membuat uang atau harta kekayaannya bertambah banyak, tetapi hanya akan membuat berkurang tanpa diduga-duga.

Apabila diperhatikan, memang harus diakui bahwa orang yang suka memberi, kekayaannya selalu bertambah-tambah. Artinya, tak ada kurangnya harta kekayaan atau uang yang ia miliki karena kesukaannya memberi.

Pada berbagai kabupaten dan kota di Sumatra Barat, anda akan dapat membuktikan bahwa di daerah yang banyak orang sukses, daerahnya atau kampungnya akan terlihat lebih maju dibandingkan dengan di daerah atau di kampung yang kurang orang suksesnya.

Jadi, salah satu dari sekian banyak rahasia kesuksesan bisnis orang Padang itu, termasuk di dalamnya dilatarbelakangi keyakinan yang dia miliki bahwa memberi itu bukanlah merugikan tetapi melipatgandakan harta kekayaan.
Keinginan memberi ini pun salah satu dari sekian banyak daya dorong bagi orang Padang dalam berusaha keras untuk memperjuangkan hidupnya berubah kepada yang lebih baik dari waktu ke waktu.Sebab, semakin sukses dia dalam menjalankan usaha, semakin tercapai prediket kaya raya bagi seseorang, dengan sendirinya akan semakin terbuka peluang baginya untuk memberi lebih banyak.

Dalam berusaha terbayang di benaknya, bahwa jika suatu saat nanti dia menjadi seorang yang kaya raya, dia akan bisa membangun masjid, surau, rumah adat, jalan kampung, memberi bantuan kepada fakir miskin, anak yatim dan lain sebagainya. Bayangan itu membuat dia semakin bersemangat menjalankan usaha.Ukuran kesuksesan seseorang bagi orang Padang, dapat dilihat dari seberapa besar dia mampu memberi kepada orang atau pihak lain. Orang yang sama sekali belum mampu memberi, berarti belum sedikit pun berhasil. Bagi yang sudah memberi, berarti sudah mulai ada keberhasilan. Selanjutnya, bagi yang sudah bisa memberi dengan jumlah besar, seperti kemampuannya dalam membangun rumah ibadah berupa masjid dan surau sendirian, membangun rumah adat sendirian, membangun jalan kampung sendirian, membangung gedung sekolah sendirian, berarti yang bersangkutan sudah masuk kategori orang sukses.
Seseorang yang berhasil sukses dalam hidupnya, dia akan pulang dengan segala persiapan memberi. Namun bagi yang belum sukses, biasanya dia enggan pulang sebelum berhasil sukses.

Pada setiap lebaran tiba, banyak orang Padang yang pulang ke kampungnya dari rantau secara bersama-sama, yang disebutnya ”Pulang Basamo(pulang bersama)”. Dalam pulang basamo ini, akan terlihat mana yang sukses, mana yang hampir sukses dan mana pula yang belum sukses. Hal ini dapat dilihat dari besar kecilnya dia memberi kepada orang atau pihak lain di kampungnya.

Dan ini pun secara tak langsung sekaligus membuat ketokohan seseorang bisa diukur. Dalam hal ini bukan berarti orang Padang itu mata duitan atau materialistis. Tetapi memperlihatkan bahwa orang Padang itu telah memandang bisnis atau usaha adalah suatu posisi yang sangat mampu mendongkrak harkat dan martabat seseorang. Orang Padang sudah sejak lama tidak hanya memberikan posisi yang istimewa dalam masyarakat kepada pegawai, pejabat pemerintah atau pejabat negara. Tetapi sudah sejak lama sangat memberi tempat terhormat pula kepada posisi seorang pengusaha di tengah-tengah masyarakat.Karena demikian tinggi penilaian masyarakat kepada seorang pengusaha, orang Padang sudah sejak lama berpacu, berlomba-lomba terjun ke dunia usaha, dan berusaha keras selalu untuk bisa mencapai posisi pengusaha sukses.

Orang Padang yakin benar bahwa semakin sukses seseorang dalam menjalankan usahanya, akan semakin suka pula dia memberi. Semakin suka seseorang memberi, akan semakin maju kampung halamannya. Begitulah guliran rangkaian rantai kesuksesan orang Padang, sehingga menjadi seorang yang sukses di dunia usaha adalah impian bagi orang Padang.

Orang yang sukses di dunia usaha, seseorang yang berhasil mencapai anak tangga pengusaha sukses, menurut orang Padang sangat berpeluang untuk menjadi seorang orang kaya raya yang penuh berkah. Alasannya cukup tepat. Orang yang kaya raya karena menjadi seorang pengusaha, dia kaya benar-benar karena hasil kerja kerasnya, karena kucuran keringatnya. Bukan karena hasil korupsi. Uang yang dia cari dengan usahanya sendiri sambil berdoa kepada Yang Maha Kuasa, apabila dia berikan pula sebahagian dengan ikhlas kepada orang lain atau untuk kepentingan umum dan agama, sudah barang tentu akan beroleh berkah dari-Nya. Seseorang yang kaya raya dan beroleh berkah dari-Nya, sesungguhnya dialah orang yang memperoleh kebahagiaan yang sesungguhnya. Kita semua tentu mengharapkannya. Semoga!*

(28)   KISAH-KISAH INSPIRATIF PENGUSAHA PADANG

Apabila ditelusuri satu persatu perjalanan karier orang Padang yang sukses di dunia usaha, sungguh sangat menarik. Banyak sekali yang dapat diambil pelajaran dari mereka. Antara lain; kegigihannya, kesabarannya, keuletannya dan kemauannya yang demikian keras untuk mengubah nasib kepada yang lebih baik.

Tidak mudah melengkapi diri dengan semua ini. Namun dengan kebulatan tekadnya, dengan keyakinannya, orang Padang yang telah memilih menerjunkan dirinya ke dunia usaha, ternyata mampu. Inilah di antara mereka:

BASRIZAL KOTO “PERNAH MAKAN SEKALI SEHARI KARENA MISKIN”
Sosok pengusaha Basrizal Koto, memberikan inspirasi kepada siapa saja yang mengenal lebih jauh tentang dirinya. Dia adalah seorang yang gigih, ulet dan sekaligus juga seorang yang sabar.

Kehidupannya sejak kecil sungguh sangat menyedihkan. Bayangkan, untuk makan sekali sehari saja, si ibunya harus meminjam beras ke tetangga di kampung kelahirannya, Kampung Ladang, Pariaman, Sumatra Barat.
Ayah Basko, begitu dia akrab dipanggil, hanyalah seorang petani kecil di Kampung Ladang. Karena kesusahan hidup yang tak terperikan lagi, ayahnya pak Ali Absyar pergi merantau ke Provinsi Riau. Ketabahan ibu Djaninar, orang tua Basko yang dipanggilnya amak, dalam menghadapi segala kegetiran hidup yang selalu membekas di hati Basko, sungguh telah menjadi kekuatan tersendiri baginya untuk bangkit, untuk bekerja keras, untuk berusaha dengan segala kemampuan yang ada padanya, tanpa kenal lelah dan putus asa.

Ketika telah duduk di bangku kelas lima SD, Basko mengambil kesimpulan, bahwa kemiskinan harus dilawan dan bukan hanya dinikmati. Bertolak dari pikiran demikian, mengingat kondisi kehidupan orangtuanya yang begitu susah, Basko mohon izin pada amak-nya pergi merantau. Dia memilih merantau ke Pekan Baru.Walau dengan berat hati, ibu Djaninar melepas anaknya juga pergi. Namun sebelum Basko pergi, si amak ini meminta kepada Basko agar di rantau orang nanti menerapkan K3. Maksud dari K3 tersebut; pandai-pandai berkomunikasi, manfaatkan peluang dan kesempatan, dan bekerjalah dengan komitmen tinggi.

Ketiga pesan amaknya ini benar-benar diamalkan Basko. Dia jadikan bagaikan tongkat untuk berjalan di siang hari dan bagaikan bantal untuk tidur di malam hari. Dia jadikan pakaian hidupnya sehari-hari.
Dalam berbisnis, Basko merasakan prinsip yang ada dalam tiga pesan amaknya ini sangat penting. Bahkan dia merasakan ketiga pesan ini benar-benar sangat berpengaruh dalam kesuksesan usahanya.

Setiba di Pekan Baru, dengan bermodalkan tiga pesan amaknya tadi, si kecil Basko setelah subuh berangkat ke terminal bus. Maksudnya mencari pekerjaan sebagai kernet. Berkat kemampuannya berkomunikasi, pada hari pertama datang ke terminal dia langsung dapat pekerjaan membantu supir oplet. Ketika pertama bisa menjadi kernet, Basko bekerja siang malam tanpa kenal lelah. Dia berpikir sambil bekerja, bagaimana agar bisa mendapatkan uang untuk penyewa rumah kontrakan, guna menampung keluarganya dari Kampung Ladang. Beranjak dari seorang kernet oplet, dasar seorang yang visioner, ulet dan berpikir jauh ke depan, Basko mengawali buka usaha dengan berjualan pete. Kendati tak punya uang, namun karena dasar kepercayaan, pete yang belum dibayarnya itu bisa dibawanya, dan dijualnya ke restoran Padang dengan keuntungan lumayan.

Lelaki yang pernah juga menjadi tukang jahit ini semakin hari semakin memperlihatkan kemauannya yang demikian keras dalam menggeluti dunia usaha. Dengan tetap memegang teguh prinsip bijak berkomunikasi, mampu membangun jaringan, taat menepati janji dan bisa menjaga kepercayaan, makin hari bisnisnya semakin lancar. Kian lama jaringan bisnisnya semakin luas.

Lama kelamaan Basko ternyata mampu membangun kerajaan bisnis yang mengagumkan semua orang yang mengenalnya. Usahanya merambah kian kemari, seperti air bah yang tak terbendung. Terakhir perusahaan yang dikelolanya mencapai 15 perusahaan. Sejak tahun 2006, usaha Basko pun telah menggurita ke jasa Televisi kabel dan internet di kawasan Sumtra.

Sejumlah perusahaan Basko yang masuk ke dalam MCB Group miliknya adalah PT. Bako Minang Plaza yang bergerak di bidang usaha perbelanjaan dan hotel. PT. Cerya Riau Mandiri Printing bergerak di bidang percetakan. PT. Cerya Zico Utama bergerak di bidang properti. PT. Bastara Jaya Muda bergerak di dunia tambang batu bara. PT. Riau Agro Mandiri bergerak di bidang usaha penggemukan, impor dan eskpor ternak. PT. Riau Agro Mandiri Perkasa bergerak di bidang usaha pembibitan, pengalengan gading. PT. Indonesia Mesh Network bergerak di bidang usaha TV kabel dan internet. Selanjutnya ada PT. Best Western Hotel yang bergerak di dunia perhotelan.

MUHAMMAD ARBIE : “MEMBELI AL QURAN DI SINGAPURA MENJUALNYA DI MEDAN”
Muhammad Arbie lahir dari pasangan pak L. Sidi Marah(ayah) dan ibu Rafiah(ibu), berasal dari Bayur, Kabupaten Agam, Sumatra Barat. Di kampung kelahirannya, keluarga Arbie, begitu laki-laki kelahiran tahun 1920 ini akrab dipanggil, hidup dalam serba kurang berkecukupan.
Namun semenjak kecil Arbi telah menampakkan jiwa bisnisnya.

Sehari-hari di Bayur, Arbie rajin sekali membantu berjualan di kedai kelontong milik orangtuanya. Namun kegiatannya membantu orangtua berjualan terhenti ketika Arbie pindah ke Sigli mengikuti kakeknya. Di rantau Sigli, Arbie memasuki pendidikan di Holland Indians School(HIS) sambil sekolah di sekolah agama Diniyah selama tiga tahun.

Perjalanan bisnis Arbie, bermula dari membuka usaha pakaian jadi. Ini dijalaninya jauh sebelum zaman kemerdekaan atau di era penjajahan. Usaha ini dia jalani dengan tekun, sehingga makin hari semakin menampakkan perkembangan yang cukup menggembirakan.
Namun setelah berada di era kemerdekaan, Arbie beralih ke usaha penjualan kitab suci Al Quran. Dia membeli Al Quran di Singapura seharga SIN$ 3 dan menjualnya di Medan seharga $ 20.

Arbie sungguh merasa enjoi dengan usaha barunya ini. Keuntungan penjualan Al Quran dia dapatkan berlipat-lipat. Di samping untung secara materi, Arbie pun merasa memperoleh keuntungan berupa pahala. Karena demikian berkembangnya usaha Arbie, dalam waktu satu bulan dia berhasil mampu melunasi kreditnya di bank.

Arbie sebenarnya bisa saja belum melunasi kredit bank dalam tempo satu bulan. Tetapi karena tingkat kejujuran yang demikian tinggi, begitu dapat uang langsung dilunasinya. Menurut prinsip Arbie, kalau bisa melunasi kredit lebih cepat kenapa harus diperlambat.

Arbie tak puas hanya dengan kesuksesannya di dunia usaha yang satu ini saja. Dari keuntungan yang cukup besar dia peroleh dalam usaha berjualan Al Quran, tahun 1949 Arbie membeli mesin cetak letter press. Arbie ingin mengembangkan usaha ke bidang percetakan. Seiring dengan ini, dia pun mendirikan toko buku kecil bernama Pustaka Madju.

Usaha Arbie makin hari semakin menampakkan kesuksesan. Selanjutnya toko buku dia ubah menjadi usaha penerbitan, dan selanjutnya dia jadikan perusahaan PT. Madju Medan Cipta. Akhirnya, perusahaan ini berkembang pesat menjadi perusahaan penerbitan sekaligus percetakan. Usaha penerbitan dan percetakan buku-buku pelajaran yang dijalankan Arbie sangat laris dan berkembang pesat.

Perjalanan karier Arbi di dunia usaha semakin menggurita. Pada tahun 1985 dia berekspansi dengan membuka percetakan baru di kawasan Pulogadung, Jakarta. Percetakan ini bergerak pada usaha mencetak buku-buku pesanan pemerintah untuk program SD Inpres di seluruh Indonesia.

Pengembangan kerajaan bisnis Arbie belum berakhir. Selanjutnya dia membuka usaha baru di bidang perhotelan. Dia membangun dua buah hotel dengan nama Hotel Garuda Plaza dan Hotel Garuda Citra. Belum puas juga dengan kerajaan bisnis yang sudah dia miliki, kemudian Arbie merambah ke dunia usaha bidang kesehatan. Dia mendirikan usaha rumah sakit Permata Bunda dan klinik Bunda.

FAHMI IDRIS : “PENGUSAHA YANG SANGAT MENGHARGAI WAKTU”
Kita di sini tak akan bercerita tentang sepak terjang Fahmi Idris di dunia politik atau sebagai seorang aktivis. Namun hanya tentang dirinya sebagai seorang pengusaha. Orang Padang yang ”gadang” di rantau ini adalah putra dari pak Idris Marah Bagindo. Dalam buku ”101 Orang Minang di Pentas Sejarah”, yang ditulis Hsril Chaniago”, dikatakan bahwa Fahmi Idris menyebut ayahnya bergaya spartan dalam menanamkan disiplin pribadi kepadanya.

Namun akhirnya, si bungsu dari lima orang bersaudara ini, menyadari benar betapa pentingnya penerapan disiplin oleh ayahnya itu baginya setelah dewasa, terutama dalam segi menghargai waktu.Darah bisnis mengalir dari ayahnya. Pak Idris Marah Bagindo adalah seorang pebisnis. Dia punya toko sepatu di Pasar Senen, Jakarta. Dia dan kakaknya pernah diberi tugas oleh ayahnya menjaga toko.

Semasa di SMA, Fahmi yang sempat menjadi Menteri di era Orde Baru dan era reformasi ini telah mulai menggeluti dunia usaha. Contohnya, dia berjualan baju kaos. Saat itu kebetulan sedang marak-maraknya anak-anak muda mencelup baju kaos dengan wantex. Fahmi sengaja membikinnya dua warna. Alasannya, kalau dibikin berbeda-beda warna, jualannya akan lebih laris karena pembeli bisa memilih.

Setiba di perguruan tinggi, aktivis Himpunan Mahasiswa Islam(HMI) yang sekaligus dipercaya sebagai Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia(FE-UI) di tempat Fahmi kuliah ini pada tahun 1967, dia bersama teman sekampusnya Muchtar Mandala yang pernah menjadi Dirut Bank Bukopin, mendirikan bursa buku. Kemudian bursa buku FE-UI yang didirikannya ini berkembang pesat menjadi bursa buku terbesar.
Fahmi mulai menceburkan diri secara serius ke dunia bisnis pada tahun 1969, merinstis usaha bersama rekan-rekannya Adi Sasono dan Sugeng Saryadi, dengan mendirikan Firma Kwarta Daya.

Dari mendirikan Firma Kwarta Daya ini, akhirnya muncullah Fahmi sebagai seorang pengusaha nasional terkemuka. Malahan menurut Fahmi, hidup menjadi pengusaha sangat menyenangkan, karena lebih merdeka menentukan jalan hidup.

Perhatian Fahmi ke kampung halamannya Sumatra Barat sangat besar, baik selaku dia seorang pengusaha maupun selaku dia seorang tokoh nasional di bidang politik dan lain sebagainya.

Apabila diamati, kesuksesan Fahmi di dunia usaha tak terlepas dari kedisiplinannya dalam menghargai waktu, di samping kedisiplinannya dalam bidang yang lain.Fahmi terkesan seorang yang keras dalam berprinsip. Dia tak mau terkena bujuk rayu siapa pun apabila telah menetapkan sebuah keputusan yang akan diturutinya. Dia pun tak takut dengan resiko apa pun kalau sudah mengambil suatu langkah yang menurutnya benar.

Dalam berbisnis, ternyata prinsip seperti ini sangat penting. Kalau tidak kuat prinsip, bisa saja tiap sebentar berubah pendirian terhadap suatu usaha yang akan dijalankan. Kalau tak kuat dengan prinsip, bisa sebentar berjualan es tebak, sebentar lagi bertukar pada berjualan cabe, besok pagi pindah pula berjualan kain dan begitu seterusnya, sehingga tidak ada satu pun usaha yang matang. Kalau ada orang mengatakan usaha ini bagus, itu pula yang dijalankan. Kalau ada pula orang mengatakan usaha ini yang bagus, pindah pula ke usaha itu. Jadi, berpegang teguh pada prinsip yang diyakini akan berhasil, sangat penting di dunia usaha.

RAHIMI SUTAN : “DEKAT DENGAN ORANG TERKENAL MALAYSIA
KARENA RENDANG DAN DENDENG”

Pada awalnya Rahimi Sutan adalah seorang polisi. Dia aktif bertugas di kepolisian RI semasa Pemerintahan Presiden Soekarno. Namun akhirnya, Rahimi muda yang sudah aktif di kepolisian sejak tahun 1951 itu, tahun 1958 banting stir dari profesi polisi pada profesi pengusaha. Dia merintis berdirinya Natrabu yang kepanjangannya adalah,”National Travel Bureau”. Hengkangnya Rahimi dari dunia kepolisian pada dunia bisnis, kemungkinan karena pengaruh jiwa bisnis yang bergelora dalam tubuhnya, sebagai seorang putra asal Padang.

Usaha yang dirintis Rahimi Sutan ini bergerak pada biro perjalanan dan restoran Padang. Semasa jayanya, kantor Natrabu sebagai biro perjalanan tidak saja tersebar di berbagai pelosok tanah air, tetapi juga menyambangi berbagai pelosok dunia. Antara lain berdiri kantor Natrabu di Jepang, San Frasco, New York dan sejumlah negara lainnya di dunia.

Dalam usaha restoran Padang, Natrabu merupakan restoran Padang papan atas yang telah merambah ke berbagai kota besar di tanah air di samping ke sejumlah negara di dunia.

Semenjak usaha travel biro Natrabu berdiri tahun 1958, usaha nasi Padang sudah mendampinginya sebagai usaha sampingan. Namun dalam perjalanan waktu, sampai kini usaha nasi Padang ini pulalah yang tak hanya sekadar bertahan, tetapi malah semakin maju dengan pesat.

Dalam rentang waktu usaha nasi Padang yang dijalankan pria kelahiran Payakumbuh, Sumatra Barat tanggal 17 Juli 1927 ini, dia bisa menempati tempat di Jalan Haji Agus Salim, Jakarta pada sekitar tahun 1965. Tempat berjualan sekaligus dijadikannya sebagai tempat tinggal. Sebelum di sini, usaha nasi Padang milik Rahimi Sutan di Taman Tanah Abang III Nomor 14. Selanjutnya pindah ke Tanah Abang III Nomor 29. Selanjutnya, barulah dia pindah ke Jalan Haji Agus Salim ini, yang nomornya juga 29.

Untuk nasi Padang Natrabu, unggulannya adalah rendang dan dendeng. Dan tak salah lagi kalau dikatakan ibunda Rahimi Sutan, Amay Rokayah sangat berperan penting dalam kesuksesan usaha nasi Padang milik Rahimi Sutan.
Bayangkan, pada awal-awal usaha nasi Padang dia buka, ibunya turut serta dalam urusan meracik bumbu hingga cita rasanya tidak tersaingi oleh nasi Padang lainnya. Amay tak segan-segan menegur karyawan berkaitan dengan makanan yang tidak enak. Ibu Rokayah kelihatan sangat disiplin tentang cita rasa makanan. Gara-gara dendeng, rendang dan ayam goreng berbumbu pedas ini pulalah rumah makan/restoran Padang Natrabu mampu menjadikan mantan Perdana Menteri Malaysia Doktor Mahathir Muhammad sebagai pelanggan setianya.

Setiap Doktor Mahathir Muhammad ke Jakarta, dia tak akan melupakan makan ke restoran Padang Natrabu. Bahkan Doktor Mahathir tak lagi sekadar pelanggan biasa oleh Rahimi Sutan, tetapi sudah menjadi kerabat dekat. Hubungan dekat antara keluarga Dokor Mahathir Muhammad dengan keluarga Rahimi Sutan sudah terjalin akrab karena selera.
Diakui Rahimi Sutan, bahwa anak perempuannya yang melanjutkan usaha ini, yang pernah ia sekolahkan ke swiss untuk belajar tentang restoran dan perhotelan, sudah sangat dekat dengan putri Mahathir Muhammad.

Sebagai seorang pengusaha, tampak sekali keuletan usaha cara Padang pada Rahimi Sutan. Dia mampu menjalin hubungan baik dengan siapa pun, seperti dengan Doktor Mahathir Muhammad. Ini merupakan salah satu kunci kesuksesan usaha yang sangat tinggi nilainya.
Karena itu, sungguh teramat penting belajar kepada para orang Padang yang telah berhasil menjadi pengusaha sukses, karena banyak sekali rahasia kesuksesan seorang pengusaha yang tersimpan pada mereka.

ABDUL LATIEF : PERNAH BERJUALAN TELUR BUSUK
Abdul Latief merupakan salah seorang pengusaha nasional yang mampu menginspirasi banyak orang dalam menjalani karier di dunia bisnis. Dia berbadan kecil, tetapi sangat lincah, pintar, cerdas dan ulet. Buktinya, ketika Indonesia dilanda krisis tahun 1997 yang menyebabkan banyak perusahaan bertumbangan gulung tikar, perusahaan Abdul Latief seperti biasa-biasa saja. Terkesan tak terpengaruh.

Kerajaan bisnis Abdul Latief dia bangun dari bawah. Seperti diungkapkan dalam buku ”101 Orang Minang di Pentas Sejarah” yang ditulis Hasril Chaniago, naluri dagang Abdul Latief sudah tampak semenjak berusia muda.

Semenjak masih kuliah di Akademi Pimpinan Perusahaan misalnya, Latief demikian dia akrab dipanggil, sudah menjadi pedagang bawang dan telur. Bahkan pernah malah kala itu dia kena tipu oleh pemasok telur. Setengah truk telur dari Krawang yang dibelinya ternyata busuk. Namun dasar seorang yang pintar, cerdas dan ulet, dia menjual telur busuk itu kepada panitia perpeloncoan mahasiswa, buat dijadikannya untuk melempar peserta pelonco atau mahasiswa.

Ide Latief ternyata jitu. Telur busuk tersebut laku. Para mahasiswa membelinya. Ketimbang membeli telur bagus yang harganya tentu jauh lebih mahal dari telur busuk, para mahasiswa menerima tawaran Latief.
Abdul Latief yang berasal dari Pasa Gadang, Kota Padang ini, punya ayah Mohammad Latief dan ibu Sitti Rahmah yang merantau ke Aceh. Ayahnya merantau ke Aceh sejak berumur 19 tahun, sehingga Abdul Latief lahir di Kampung Baru, Kota Raja( sekarang bernama Banda Aceh), 27 April 1940.
Latief yang merupakan anak ke enam dari sembilan bersaudara, ketika berusia empat tahun dan adik bungsunya masih bayi, ayahnya meninggal dunia. Kemudian dia diasuh neneknya. Namun dua tahun kemudian nenek Latief pun meninggal dunia pula. Tahun 1950, ketika usia Latief 10 tahun, ibu Sitti Rahmah memboyong anak-anaknya ke Jakarta. Dia asuh dan besarkan anak-anaknya dengan sabar, dengan segala suka dan duka yang bukan main.

Setamat kuliah di Akademi Pimpinan Perusahaan, Latief bekerja di PT. Sarinah Departement Store sambil melanjutkan kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Krisna Dwipayana, Jakarta.

Setelah mengikuti latihan manajemen tentang toserba di Seribu Group Departemen Store Tokyo Jepang selama lima bulan pada tahun 1966 yang dikirim perusahaan tempat Latief bekerja, dan sebelumnya telah pula melakukan studi lapangan keliling negara Eropa, yakni ke Swiss, Jerman, Prancis, Belanda dan Australia, mengenai pengembangan industri kecil dan teknik pemasaran barang-barang kerajinan yang disponsori UNDP dan ILO, dia membuat suatu konsepk baru dan menyodorkan ke atasannya.
Namun apa yang terjadi? Konsep Latief ditolak. Meskipun pimpinannya menganggap konsep itu sangat ideal, tetapi pimpinan beralasan belum bisa dilaksanakan karena pertimbangan kondisi yang belum memungkinkan. Latief merasa buntu karena gagasannya tersebut merasa terhambat. Dasar orang Padang yang cerdas dan pintar, Latief tak tinggal diam. Dia memilih mengambil kemungkinan resiko yang bukan main besarnya. Dia keluar dari perusahaan yang telah memberinya jabatan strategis sebagai pimpinan bagian promosi dan penjualan itu. Begitu keluar, Latief memberanikan diri mendirikan perusahaan sendiri.

Untuk menopang perusahaan yang baru didirikannya itu, Latief lagi-lagi memberanikan diri mengambil pilihan sangat sulit, yakni menjual mobilnya untuk membeli sebuah toko kecil di daerah Grogol Jakarta.
Berawal dari toko kecil di Grogol inilah Latief menanjak naik. Tahun 1972 Latief mendirikan PT. Latief Marda Corporation. Makin berkembang pesat saja usahanya, sehinga dua tahun kemudian Latief mendirikan PT. Indonesia Product Centre(IPC) Sarinah Jaya. Perusahaan yang disebutkan terakhir ini bergerak di bidang usaha barang kerajinan dan garmen. Selanjutnya, perkembangan kerajaan bisnis Latief semakin meluas dan terus meluas. Kerajaan bisnisnya itu kemudian dia satukan dalam holding company raksasa, dengan nama Latief Corporation. Nama ini kemudian ia cantumkan pada dinding pesawat jet pribadinya yang dibelinya tahun 1990-an.

Usaha Latief yang pernah menjadi Menteri Kebudayaan dan Pariwisata dan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi di era Orde Baru ini tidak saja sekadar di Jakarta. Malahan sampai ke luar negeri, seperti Sarinah Jaya Singapore PTE Ltd yang didirikannya di Singapure. Usahanya berkecambah bagaikan pohon yang rindang dengan tidak sedikit cabangnya. Ada usaha tambak udang, hotel, media televisi dan lain sebagainya, yang sangat sulit untuk dihitung satu persatu.

IRMAN GUSMAN : SUKSES MEMBENAHI USAHA KELUARGA YANG TERLILIT UTANG

Seakan tak ada yang kurang dianugerahkan Tuhan kepada pengusaha sukses yang satu ini. Ganteng, masih muda dan energik, cerdas, pintar, pengusaha sukses, pejabat tinggi dan sederet kelebihan lainnya seakan diberikan Tuhan kepada Irman Gusman, laki-laki kelahiran Kota Serambi Mekah Padang Panjang, Sumtra Barat, 11 Februari 1962 ini.

Namun, semudah yang dibayangkankah dia peroleh semua kesuksesan ini, terutama menyangkut kesuksesan dalam menjalankan usahanya? Jelaslah bukan. Penuh perjuangan, tantangan, hambatan dan rintangan pula.
Tetapi, seperti diungkapkan salah seorang bekas karyawannya yang sekarang telah beroleh gelar Doktor, yakni Dr. Ir. H. Prima Ananda, Irman Gusman katanya seorang yang disiplin, mudah bergaul dan selalu optimis.
Irman merupakan seorang pengusaha yang beranjak dari seorang pelanjut usaha orangtuanya. Sepulang dari Amerika Serikat, menamatkan pendidikan di School of Business University of Bridgeport, Connecticut, AS dengan meraih gelar (Master of Business Administration(MBA), dia kembali ke Padang mengurus usaha orangtuanya.

Anak kedua dari tiga belas bersaudara hasil perkawinan H. Gusman Gaus dengan Hj. Janimar Kamili ini, sukses merestrukturisasi dan mengembangkan usaha orangtuanya, PT. Khage Lestari Timber yang sedang terlilit utang.

Setelah berhasil membenahi perusahaan orantuanya tersebut, Irman Gusman tak tinggal diam di Padang. Dia mengembangkan sayap terbang merantau ke Jakarta. Bersama-sama dengan teman sesama alumni Amerika, Irman mendirikan PT. Prinavin Prakarsa.

Irman Gusman yang sekarang Ketua Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia(DPD-RI) untuk periode tahun 2009-2014 ini semakin hari semakin menampakkan kesuksesannya di ibu kota.

Irman juga mengelola bisnis Teknologi Informasi dengan bendera perusahaannya, Kopitime.com. Banyak lagi jabatan penting di dunia usaha yang pernah ia pegang. Di antaranya, Direktur Utama PT. Prinavin Prakarsa yang bergerak di bidang usaha perdagangan dan investasi. Selanjutnya menjadi Komisaris Utama PT. Padang Industrial Park yang bergerak di bidang usaha kawasan industri, Komisaris Utama PT. Guthrie Pasaman Nusantara yang bergerak di bidang usaha perkebunan dan pengolahan kelapa sawit, Komisaris Utama PT. Kaghe Lestari Timber bergerak di bidang usaha pengelolaan dan ekspor kayu. Terakhir dia juga sebagai Komisaris Utama PT. Sumtera Korea Motor.

(29)  PENUTUP
Setelah sekian lama kita bertemu, berbincang dan berbagi pengalaman dalam kesempatan ini, tibalah saatnya kini kita berpisah. Namun dengan harapan, kehadiran buku ini ke hadapan anda akan dapat memberi nilai tambah yang sangat besar bagi anda dalam menapak kehidupan ke depan.
Kita semua tentu menyadari, bahwa kehidupan ke depan semakin akan sarat tantangan dan saingan. Akan tetapi orang yang mau berusaha keras, yang mau mandiri, yang ulet, lincah, optimis dan pantang menyerah, akan menang dan akan sukses.

Memang harus diakui, bahwa hidup ini tak semudah yang dibayangkan orang-orang berjiwa terlalu optimis. Namun sebaliknya, hidup ini tidak pula sesulit yang dibayangkan orang-orang yang berjiwa terlalu pesimis.
Karena itu, jika anda dihadapkan pada dua pilihan, antara terlalu otomis dengan terlalu pesimis, saya ajak anda untuk memilih hidup terlalu optimis. Namun kalau saja bisa memilih empat pilihan; terlalu otimis, optimis, terlalu pesimis dan pesimis, saya ajak anda untuk menjatuhkan pilihan kepada optimis. Jauhilah terlalu pesimis dan pesimis. Sebab kedua-duanya tak ada yang baik dibandingkan dengan terlalu otimis dengan optimis.

Marilah sama-sama kita hadapi kehidupan ke depan dengan penuh semangat, dengan penuh keyakinan bahwa hari esok akan jauh lebih baik dibandingkan dengan hari kemarin atau hari yang sudah berlalu.
Banyak angkatan perang memenangkan peperangan tidak hanya semata-mata karena kemampuannya berperang, tetapi karena semangat otimismenya dalam memenangkan peperangan yang sangat tinggi.
Banyak pengusaha pemula yang berjatuhan dalam membangun usahanya bukan dikarenakan kemampuannya yang kurang, tetapi hanya karena semangat atau jiwa optimisnya yang kurang.

Orang Padang memiliki semangat yang tinggi dalam menjalankan usahanya mulai dari bawah, mulai dari bersorak-sorak di kaki lima sebagai penjual sisir rambut, ikat pinggang dan sumbu kompor. Inilah rahasia bisnis orang Padang yang membuat dia mampu mencapai puncak keberhasilan sebagai seorang pengusaha sukses. Orang Padang tak enggan mendorong gerobak sate dari lorong-lorong sempit di malam hari, dan tak pula malu berjualan pisang goreng di pinggir-pinggir jalan dari sore hingga dinihari.

Sebab di balik kondisi kehidupannya yang demikian pahit, dia punya mimpi besar, ingin menjadi seorang yang kaya raya dengan prediket seorang pengusaha sukses. Dia selalu mengejar mimpi besarnya itu dengan penuh semangat dan jiwa optimis. Rasa enggan dan rasa malunya tertutupi oleh mimpinya yang demikian besar untuk menjadi orang sukses di dunia usaha.
Mengakhiri kesempatan ini, saya kemukakan kepada anda pendapat Jason Jennings dalam bukunya,”Think Big ACT Small”, yang mengatakan bahwa setiap tahun jutaan bisnis baru dimulai di dunia. Ada yang memulai dengan berkantor di rumah. Ada juga yang mengumpulkan modal dari mitra dan teman untuk mencapai mimpinya. Orang lain mendirikan perusahaan manufaktur atau penyedia jasa yang memperjakan ribuan orang. Namun menurut Jason, dalam setiap bisnis baru terdapat dua hal yang pasti: Pertama, ada pemikiran besar sebelum membuat keputusan besar. Kedua, tidak ada satu bisnis pun yang didirikan untuk gagal.

Kedua hal ini jelaslah mengharuskan seseorang berusaha keras, berjiwa optimis, berdo’a kepada Yang Maha Kuasa, supaya menjadi pengusaha sukses yang tangguh dan tahan banting. Selamat memulai, menjalankan dan mengembangkan usaha ! **

DAFTAR PUSTAKA
Akbar Kaelola, Power of Mimpi, PT. Suka Buku, 2011
Bardiatul R, Potret Orang-Orang Luar Biasa, Buku Biri, 2010
Farrah Gray&Fran Harris, Reallionaire, Daras Books, 2009
Hasril Chaniago, 101 Orang Minang Di Pentas Sejarah, Citra Budaya Indonesia, 2010
Indrawan WS, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, Lintas Media, Jombang
Jason Jennings, Think Big ACT Small, PT. Bhuana Ilmu Populer, 2007
Majalah Elshinta, edisi Februari 2011, Tahun 3

Wibsite :

http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/a/abdul-latief/index.shtml
http:id.wikipedia.org/wiki/Basrizal-Koto
http:/id.wikipedia.org/wiki/Muhammad_Arbie
http://www.pelaminanminang.com/dapur_minang.html
Kompas.com

*Seorang wartawan, kolumnis dan penulis buku.

MANAJEMEN JEPANG


Satsuma-samurai-during-boshin-war-period

PENDAHULUAN

1. Sikap Kesungguh-sungguhan Salah Satu Sumber Sukses Jepang

Rakyat Jepang sejak dahulu kala mempunyai satu sikap hidup yang dinamakan “ Makoto “ atau dapat diterjemahkan menjadi kesungguh-sungguhan atau dalam bahasa Inggris “ Sincerety “. Yang dimaksudkan dengan sikap “ Makoto “ adalah sikap yang menjunjung tinggi kemurnian dalam batin dan motivasi, dan yang menolak adanya tujuan yang semata-mata hanya berguna bagi diri sendiri. Apakah dilakukan dengan penuh kejujuran dan kesungguh-sungguhan.

Oleh sebab itu yang menjadi titik pusat perhatian bukanlah hasil perbuatan, melainkan perbuatannya itu sendiri. Dengan begitu, buat orang Jepang sukses atau gagal dalam usaha tidak merupakan perhatian utama. Sebab orang Jepang senantiasa dirangsang bathin maupun lahir. Sehingga apapun yang mereka kerjakan senantiasa dilakukan dengan penuh kesungguh-sungguhan.

Menurut beberapa ahli sosiologi Jepang, sikap kesungguh-sungguhan ini adalah akibat dari ajaran agama Buddha di Jepang. Berdasarkan ajaran ini orang Jepang mempunyai anggapan bahwa untuk menuju kesempurnaan hidup, sebagaimana dikehendaki agama Buddha, seseorang tidak hanya dapat memilih hidup sebagai seorang pendeta, melainkan juga dengan cara hidup bersungguh-sungguhan dalam pekerjaan apapun yang dihadapi.

Itu sebabnya mengapa sikap hidup orang Jepang tidak menjadi materialistis, sekalipun mereka hidup dalam lingkungan yang serba kebendaan. Tidak sedikit pengusaha-pengusaha Jepang Jepang yang termasuk jutawan atau milyarwan yang hidupnya tetap. Salah seorang diantara mereka yang sekarang masih hidup dan aktif dalam usia 85 tahun adalah Toshiwo Doko, penasehat dan bekas ketua Keidanren, dan yang dinamakan “ King maker of Japan “ Toshiwo Doko adalah orang yang memperoleh respek dari seluruh masyarakat Jepang, bukan karena ia pengusaha besar tetapi kehidupannya yang penuh kesungguh-sungguhan, kesederhanaan dan kejujuran.

Kalau di Jepang agama Buddha dapat menghasilkan ajaran yang kemudian membentuk manusia Jepang yang “ Makoto “ apakah agama-agama yang dianut di Indonesia tidak berbuat serupa ? Meskipun agama mempunyai kekuatan terbesar untuk menimbulkan sikap hidup, namun tidak ada salahnya pula kita mengusahakan tumbuhnya sikap kesungguh-sungguhan melalui jalur-jalur lain. Jalur pertama yang penting adalah melalui pendidikan umum, baik di dalam lingkungan keluarga disekolah maupun di luar sekolah. Jalur kedua adalah kepemimpinan di tiap-tiap tingkatan maupun sektor kehidupan.

Ciri-ciri Manajemen Jepang
Pada permulaan Restorasi Meiji ada pemimpin-pemimpin Jepang yang sekembalinya dari Eropa atau AS berpendapat bahwa Jepang pun harus menganut sikap individualisme.Selain itu kita harus menyadari keberhasilan utana Jepang terletak pada pengembangan sumber daya manusia,sehingga dapat mengatasi kelemahnnya dalam ketiadanya sumber-sumber energi dan bahan mentah.

Persamaan sifat masyarakat Indonesia dengan Jepang.Hal-hal yang perlu ditonjolkan adalah :

1.Hubungan antara pemimpin dan kelompok
Hubungan pemimpin dan anggota di Jepang lebih banyak dipengaruhi oleh faktor emosional dibandingkan dengan dunia barat.Sikap kepemimpinan di Jepang banyak dipengaruhi oleh etik bushido yang diwariskan oleh samurai.Kesedrehanaan,patriotisme,keberanian bertindak, kesungguh-sungguhan dalam bekerja,semuanya berpengaruh pada pemimpin dalam segala sektor. Sebagai contoh,di pabrik Komatsu yang memproduksi alat-alat besar ,para anggota setiap minggu mengadakan musyawarah selama 1 jam dalam kelompok kerjanya.

Dalam musyawarah itu mereka membicarakan hal-hal yang perlu dilakukan untuk meningkatkan produktifitas.Perhatian pemimpin yang besar kepda anggota tidak hanya terbatas pada pekerjaan,tetapi juga di luar pekerjaan.Sampai perkawinanpun diatur oleh perusahaan.Karena itu perasaan “turut memiliki” amat besar pada seluruh anggota,termasuk kaum buruh.Jdi dedikasi orang Jepang pada pekerjaannya pada hakekatnya merupakan suatu self-interest.

Kaum buruh di Jepang tidak takut kehilangan pekerjaanya,karena mereka yakin pimpinan kan menemukan pekerjaan baru bagi mereka.Dan memang demikian adanya,dimana pimpinan menganggapkaum buruh tidak sekedar sebagai faktor produksi,mealinkan manusia atau kelompok atau organisasi yang hraus diberikan solidaritasanya.

2. Proses pengambilan keputusan
Proses pengambilan keputusan di Jepang berdasarkan “Buliding Block’’yaitu adanya seksi yang dikepalai seorang Kacho atau kepala seksi. Seksi ini adalah kelompok dalam organisasi yang pertama menghimpun solidaritas anggotanya,jumlah anggotanya berkisar antara 10 sampai 20 orang. Dari seksi ini lahirlah “ringi”, yaitu konsep keputusan”.Ringi sendiri yaitu mencari informasi (inquiry). Cara pengambilan keputusan seperti ini dikritik bahwa terlalu lama dan bertele-tele.Untuk mengurangi waktu perdaran ringi ,maka sekarang dimanfaatkan mesin foto kopi.

3. Management personil
Sistem pekerjaan di Jepang adalah seumur hidup ini berarti bahwa seorang bekerja dalam lingkungan kementrian atau perusahaan tertentu sampai usia pensiun.Ia tidak akan dikeluarkan dan umumnya ia juga tidak pindah ke kementrian atau perusahaan lain.

Ada orang mengatakan orang yang mendapatkan pekerjaan dalam perusahaan Jepang pada hakekatnya dalah memsuki suatu kelompok tertentu (to joint a group).

4. Informasi mempunyai tempat penting
Sebenarnya keunggulan Jepang dalam produksi mobil sekarang ini bukan karena hebatnya Indusru mobil Jepang,tetapi adalah hasil analisa Jepang atas informasi yang dikumpulkan mengenai kedaan minyak bumi ,selera masyarakat AS dan Eropa dan teknologi baru.Karena daya saing tiap-tiap perusahaan tinggi dan selalu berusaha mengalahkan perusahaan sejenis,termasuk yang ada di Jepang,maka pengumpulan informasi dan pemanfaatannya harus sangat intensif.Jepang sering diolok-olok ,bahwa ia hanya pandai meniru hasil orang lain.Ini tidak sepenuhnya benar,pada kenyataanya ketika masih berada di bawah memang ia masih meniru,kemudian ia kemudian mulai menyempurnakan produksinya shingga mengalahkan pihak yang tadinya ditiru.

Berikut ini hendak kami paparkan mengenai manajemen Jepang. Perhatian pokok dalam pembahasan kami adalah manajemen Jepang modern, dan bukan manajemen Jepang tradisional.

a. Sosok yang paling menonjol dari manajemen Jepang adalah sifat.
Bentuk khas dari manajemen Jepang adalah organisasi Gemeinschaft. Terdapat iklim di mana hubungan antar pribadi antara manajer dan karyawan di satu pihak dan antar karyawan di pihak lain bersifat hangat, dan semua pihak bekerja sama berdasarkan keyakinan bersama bahwa kesemuanya merupakan bagian dari perusahaan yang sama.

b. Keteknikan Modern dan Manajemen Modern Diperkenalkan Secara Agresif dan Diintegrasikan dalam “ Gemeinschaft

c. Inovasi dalam manajemen Jepang
Pertama, setelah pengendalian perekonomian oleh Pemerintah dihapuskan, kompetisi bebas mulai berlaku. Dalam manajemen berdasarkan kelompok bebas mulai berlaku. Kedua, inovasi melalui demokratisasi manajemen sesudah perang.Manajemennya adalah kombinasi dari pelbagai unsur seperti penghapuan konservativisme kolot dari manajemen tradisional dipertahankannya “ Gemeinschaft “ yang adalah hakikat manajemen tradisional dan manajemen modern-progresif yang memanfaatkan keteknikan modern serta konsep dan teknik manajemen modern dalam mendekati masalah industrialisasi dalam perekonomian dan masyarakat modern. Misalnya, fasilitas produksi perkaryawan dalam manufaktur di Jepang terus meningkat dari tahun ke tahun.

d. Konsep- konsep Manajerial Manajemen Jepang.
Perusahaan adalah paduan dari modal ( uang dan barang ) dengan manusia-manusianya. Sasaran perusahaan Jepang bukan maksimalisasi keuntungan, tetapi terjaminnya kelangsungan dan perkembangan perusahaan sendiri. Mengejar untung hanyalah sarana, bukan tujuan.

e. Manajemen Oleh Manajer Profesional

f. Ikatan perburuhan
Serikat-serikat buruh di Jepang bergabung secara kolektif dalam merunding masalah upah dan lain-lain yang berkaitan, dengan manajemen. Serikat buruh Jepang juga diorganisasikan menjadi federasi-federasi dalam industri sejenis.

g. Sistem Manajemen Pengintegrasian
Manajeman barat kuat dalam tanggung jawab individual, tetapi lemah dalam tanggung jawab kelompok. Maka dari itu, kalau keduanya diintegrasikan, manajemen modern akan mampu untuk mencapai hasil maksimal yang mungkin. Salah satu contoh integrasi. “ Pengambilan – keputusan – kelompok adalah salah satu hal dimana kelompok terlibat secara intim dalam pengambilan keputusan.

Ciri Khas Praktek Bisnis Jepang

Will Durant, dalam tulisannya, pernah mengatakan bahwa bangsa Jepang adalah bangsa yang kompleks dengan berbagai kontradiksi : penuh perasaan dan realis, peka dan bersikap sosial, periang dan pendiam, mudah tergerak hati dan dapat menahan diri, penuh humor dan menyukai kenikmatan, ramah menyenangkan, tetapi kadang-kala juga kejam.

Kenyataannya, dengan areal kurang dari 0,1 persen luas seluruh muka bumi dan 3,0 persen penduduk dunia; seluruh penghasilan nasional Jepang bisa mencapai tiga kali lipat dari penghasilan Asia Tenggara. Dedikasi demikian tinggi terhadap pekerjaan dan perusahaan yang dimiliki oleh setiap orang Jepang telah membentuk para pengusaha Jepang menjadi “ manusia-manusia organisasi”. Mereka segan menentang orang lain dan yang penting, mereka mau membaurkan diri ke dalam lingkungannya. “ Bertindak bersama atau aksi kolektif “

Beberapa ciri menyolok dari perilaku kehidupan bangsa Jepang dan praktek-praktek bisnis para pengusaha Jepang. Diharapkan agar pengetahuan dan pengertian tentang ciri-ciri khusus ini sedikit banyak bisa membantu orang-orang asing mencapai persetujuan :

  1. Bangsa Jepang segan memamerkan kekuatan bisnis dan keahlian istimewanya secara terus terang dalam menyelesaikan perselisihan hukum lewat perundingan, tanpa melalui saluran pengadilan.
  2. Pada umumnya orang Jepang segan memaksakan hak-haknya.
  3. Ciri-ciri lain yang dipaksakan pada zaman feudal adalah paham bahwa kaum awam tidak boleh memiliki harta kekayaannya.
  4. Bangsa Jepang cenderung menyembunyikan perasaannya.
  5. Jangan beranggapan bahwa setiap orang Jepang yang anda jumpai bisa berbahasa Inggris.
  6. Pada tahun 1970 Jepang memiliki sejumlah besar kaum muda yang, menurut professor Kazuo Noda dari Universitas St. Paul, dianggap sebagai orang asing – bangsa dari kebudayaan lain.

 orang Jepang adalah bangsa yang kompleks : dengan jiwa dan kesombongan orang Perancis, darah panas dan sifat seni orang Itali, semangat dan sifat dagang orang Amerika, kepekaan dan kekikiran orang Yahudi. Semua ini diramu jadi satu menciptakan orang Jepang. Singkatnya orang Jepang adalah bangsa yang sulit dimengerti, tetapi perlu dipelajari. Jepang adalah negeri yang memiliki sejarah dan budaya sangat menarik untuk dipelajari.

Perencanaan Perusahaan Dalam Lingkungan Kebudayaan Jepang

Perencanaan perusahaan adalah proses bertahap dari tindakan yang terorganisasi untuk menjembatani perbedaan antara kondisi yang ada dan aspirasi organisasi satu perusahaan. Merumuskan tujuan-tujuan mencakup pengembangan program untuk mencapai sasaran, pelaksanaan program dan mengorganisasi proses perencanaan itu sendiri.

Faktor-faktor Sosio-Budaya yang Bertentangan dan Penyesuaian Manajerial.

1. Perumusan dan Penilaian Sasaran
Ada dua faktor sosio-budaya penting yang dapat menjelaskan mengapa di dalam proses perencanaan penilaian atas kemungkinan tercapainya sasaran kurang ditekankan. Faktor pertama adalah sifat paternalistis dari pimpinan tertinggi , sedang faktor yang kedua adalah proses pengambilan keputusan yang berorientasikan pada Ringi.

Dengan demikian proses perumusan strategi menjadi suatu hubungan timbal-balik yang penuh rasa sungkan antara pemimpin informal da n pemimpin formal. Yang biasanya juga ditekankan adalah orientasi pada consensus yang diakui dalam proses sebelum usul-usul diajukan yang ditandai oleh pengambilan keputusan kolektif dan pembagian tangung-jawab.

Usul-usul Ringi biasanya diajukan oleh para manajer eselon menengah dengan orientasi pandangan yang lebih bersifat terkotak-kotak daripada pandangan organisasi menyeluruh. Kedua, pada dasarnya Ringi merupakan ancangan bagian demi bagian yang dimaksudkan untuk mengatasi kesukaran khusus. Maka usul-usul Ringi cenderung ditujukan pada persoalan-persoalan jangka pendek. Ketiga, kerangka usaha mencari alternative dalam Ringi mungkin terbatas.

2. Konsistensi Program

Sosiolog Jerman Tonnies dalam awal abad 20 ini membuat dua kategori organisasi sosial yaitu Gesellschafts dan Gemeinschafts. Webster mendifinisikan Gesellschafts tipe-tipe hubungan sosial mekanistis rasional yang ditandai oleh himpunan kontrak impersonal antara dua orang, sedang Gemeinschafts adalah hubungan sosial spontan yang ditandai oleh ikatan perasaan yang kuat dan timbal balik, dan hubungan persaudaraan dalam satu tradisi umum.

Sejajar dengan efisiensi, sbagai sasaran perusahaan. Sifat Gemeinschafts mungkin tidak dengan sendirinya bertentangan dengan sifat Gesellschafts yang menekankan konsep “ rasionalitas dan efisiensi dan akan tetap bertahan di masa mendatang tetapi hal ini sudah umum sekarang ini dalam banyak kelompok sosial di Jepang. Klik-klik yang terjadi ini merintangi hubungan diantara bagian-bagian fungsional yang saling “ bersaing “

3. Legitimasi pengendalian perencanaan

Kurang ditekannya penilaian prestasi individu mengaburkan perumusan pekerjaan dalam organisasi-organisasi Jepang. Meskipun kebanyakan perusahaan besar telah mengembangkan perumusan pekerjaan, ketentuan yang ada jarang dapat menjadi aturan yang mengikat.

Maka rencana merupakan perangkat peraturan yang sudah ditetapkan untuk bertindak. Tetapi Nakane menegaskan bahwa orang Jepang tidak mengikuti aturan melainkan pemimpin.

Ketiga, lebih disukainya komunikasi informal daripada komunikasi formal bukanlah sesuatu yang khas hanya bagi orang Jepang saja. Lebih disukainya komunikasi informal erat berhubungan dengan konflik antara honne dan Tatemae. Honne atau motivasi asli yang terdalam dan nyata memprioritaskan kelompok informal. Demikian perencanaan perusahaan cenderung berjalan tanpa legitimasi Honne.

4. Organisasi Perencanaan

Perusahaan- perusahaan Jepang dikatakan “ man centric “ (berkiblat pada manusia) dalam hal perkembangan struktur. Dalam keadaan demikian sukar mengambil alih bidang 1 dan 2 dari tuan A dan menyerahkannya kepada tuan B demi menciptakan struktur yang lebih baik, sebab tuan A bukan semata-mata hanya diserahi tugas itu saja. Jika tidak ada orang yang cocok untuk tugas baru itu dan yang sudah bekerja dalam perusahaan, seorang terpaksa dilatih untuk tugas baru tersebut, entah orang dari pegawai yang sudah ada entah dari para lulusan baru, sebab kemungkinan ketiga yaitu mempekerjakan orang yang sudah mempunyai pengalaman untuk tugas tersebut tidak lazim dalam praktek sosial Jepang.

5. Mengapa Orang Barat Harus Belajar Dari Jepang.

Aspek-aspek itu ialah kecenderungan para pelaku ekonomi untuk berperilaku sebagai kelompok ( biasanya disebut “ Kelompokisme “ ), kebiasaan mereka mengambil keputusan yang bersifat Konsensus, dan keyakinan mereka yang lebih bertumpu pada pertumbuhan daripada keuntungan, bahkan dengan mengorbankan keuntungan tersebut.

Bagi para pengusaha Barat, “ kelompokisme “ berarti bahwa para majikan Jepang dapat mempercayai armada tenaga kerja mereka yang patuh dan pemerintah yang banyak menaruh perhatian. “ Kelompokisme “ disebabkan oleh banyaknya kesempatan dan kemungkinan untuk mengadakan hubungan sosial yang menghasilkan kecenderungan bangsa Jepang mengadakan hubungan tatap muka.

Komunikasi sosial di Barat biasanya verbal dan terus terang. Sedang kita diberi tahu bahwa komunikasi Jepang biasanya lebih bersifat implisit dari pada eksplisit dan jarang bersifat verbal serta terus terang. Jepang yang keabsahannya diragukan oleh para pengamat Barat. Secara tepat ia mengingatkan institusi hara-kiri Jepang : yaitu kesediaan menerima tanggungjawab dengan atau tanpa kesalahan. Ia menyimpulkan bahwa di Jepang pengambilan keputusan dengan konsensus dan kesediaan menerima tanggungjawab yang mengarah pada penerimaan pujian ataupun celaan, diatur oleh prinsip-prinsip yang sepenuhnya berbeda.

Kedua patokan pokok dari teori-teori pengambilan keputusan Barat adalah pertama, bahwa keputusan itu harus di dasarkan atas pengetahuan seluas mungkin mengenai fakta yang revelan (asas dokumentasi).

Kedua, bahwa keputusan harus diambil atas dasar keahlian orang-orang yang kompeten sebanyak mungkin (asas partisipasi). Tradisi penunjuknya daripada dasar pemikiran tentang pengambilan keputusan yang partisipatif. Orang-orang Jepang mencapai keputusan tertentu tanpa membuat pertimbangan ya – tidak. Kazuo Noda, cendekiawan Jepang, menjelaskan bahwa jalan keluar yang jelas dibiarkan muncul sendiri dari diskusi-diskusi panjang lebar. Jika demikian aspek-aspek konsensus dalam proses pengambilan keputusan di Jepang, yang secara berat sebelah diperhatikan Barat, bersifat marjinal hampir-hampir incidental terhadap esensinya. Mereka menyesuaikan diri dengan kecenderungan untuk membiarkan keputusan-keputusan tersebut muncul dengan sendirinya.

Aspek ketiga dalam perilaku bisnis Jepang, yang menarik perhatian orang Barat, ialah menempatkan prioritas pada keuntungan yang sungguh-sungguh rendah. Rupanya dia lupa bahwa penjualan dengan harga yang lebih murah dari para pesaing merupakan suatu strategi bisnis Amerika yang sudah kuno, walaupun sekarang sudah dilarang baik secara moral maupun legal. Barangkali uraian yang lebih meyakinkan tentang tekanan bisnis Jepang yang lebih pada pertumbuhan daripada keuntungan harus ditemukan dalam ciri kebudayaan Jepang yang sudah banyak dikenal umum, yaitu orientasi ke masa depan. Memang peranan seks baik dalam masa kanak-kanak maupun dewasa dalam kehidupan orang Jepang mungkin memainkan peranan penting terhadap orientasi masa depan dan juga “ kelompokisme “

Dari sisi pandang orang Barat, Ia tak pernah menjadi seorang pencinta ; karena sewaktu dia secara formal menjadi seorang isteri, dia sungguh-sungguh seorang ibu, dan bila dia memenuhi (menyempurnakan) diri, dia berbuat demikian sebagai ibu mertua dari anak menantunya. Anak lelaki, sebagai anak, hanya dapat berkembang menjadi ayah melalui ibunya. Hal ini telah membuat banyak pengamat Barat, dari sisi pandang Barat, memberikan pemimpin Jepang lebih sbagai tokoh keibuan (maternal) dari pada kebapaan (paternal). Masih ada lagi suatu konteks lain dimana seorang Jepang yang sudah dewasa beralih ke dalam peran wanita yang lemah yaitu dalam hubungan dengan ibu mertuanya.

5. Mengapa Orang Barat Harus Belajar Dari Jepang

Aspek- Aspek itu ialah kecenderungan para pelaku pelaku ekonomi untuk berperilaku sebagai kelompok ( biasanya disebut “ kelompokisme “ ), kebiasaan mereka mengambil keputusan yang bersifat konsensus, dan keyakinan mereka yang lebih bertumpu pada pertumbuhan daripada keuntungan , bahkan dengan mengorbankan keuntungan tersebut. Bagi para pengusaha Barat, “ kelompokisme “ berarti bahwa para majikan Jepang dapat mempercayai armada tenaga kerja mereka yang patuh dan pemerintah yang banyak menaruh perhatian.

Hampir tak dapat dihindarkan lagi para cendekiawan Barat cenderung mempertentangkan “ kelompokisme “ Jepang dengan “ alienasi “ Barat. Mereka menguraikan “ alienasi “ disebabkan oleh kurangnya kontak sosial, lawannya mereka menjelaskan “ kelompokisme “ disebabkan oleh banyaknya kesempatan dan kemungkinan untuk mengadakan hubungan sosial yang menghasilkan kecenderungan bangsa Jepang mengadakan hubungan tatap muka. Komunikasi sosial di Barat biasanya verbal dan terus terang . sedang kita diberi tahu bahwa komunikasi Jepang biasanya lebih bersifat implisit daripada eksplisit dan jarang bersifat verbal serta terus terang. Jepang yang keabsahannya diragukan oleh para pengamat Barat.

Secara tepat ia mengingatkan institusi hara kiri Jepang : yaitu kesediaan menerima tangung jawab dengan atau tanpa kesalahan. Ia menyimpulkan bahwa di Jepang pengambilan keputusan dengan consensus dan kesediaan menerima tanggungjawab yang mengarah pada penerimaan pujian ataupun celaan, diatur oleh prinsip-prinsip yang sepenuhnya berbeda.

Kedua patokan pokok dari teori-teori pengambilan keputusan Barat adalah pertama, bahwa keputusan itu harus didasarkan atas pengetahuan seluas mungkin mengenai fakta yang relevan (asas dokumentasi). Kedua, bahwa keputusan harus diambil atas dasar keahlian orang-orang yang kompeten sebanyak mungkin (asas partisipasi). Tradisi penunjuknya daripada dasar pemikiran tentang pengambilan keputusan yang partisipatif. Orang-orang Jepang mencapai keputusan tertentu tanpa membuat pertimbangan ya tidak. Kazuo Noda, cendekiawan Jepang, menjelaskan bahwa jalan keluar yang jelas dibiarkan muncul sendiri dari diskusi-diskusi panjang lebar. Jika demikian aspek-aspek consensus dalam proses pengambilan keputusan di Jepang, yang secara berat sebelah diperhatikan Barat, bersifat marjinal dan hampir-hampir incidental terhadap esensinya. Mereka menyesuaikan diri dengan kecenderungan untuk membiarkan keputusan-keputusan tersebut muncul dengan sendirinya.

Aspek ketiga dalam perilaku bisnis Jepang, yang menarik perhatian orang Barat, ialah menempatkan prioritas pada keuntungan yang sungguh-sungguh rendah. Rupanya dia lupa bahwa penjualan dengan harga yang lebih murah dari para pesaing merupakan suatu strategi bisnis Amerika yang sudah kuno, walaupun sekarang sudah dilarang baik secara moral dan legal. Pada pertumbuhan daripada keuntungan seperti di Amerika, sepenuhnya mengubah permisivitas yang relative berkaitan dengan kode moral.

Barangkali uraian yang lebih meyakinkan tentang tekanan bisnis Jepang yang lebih pada pertumbuhan daripada keuntungan harus ditemukan dalam ciri kebudayaan Jepang yang sudah banyak dikenal umum, yaitu orientasi ke masa depan.

Memang peranan seks baik dalam masa kanak-kanak maupun dewasa dalam kehidupan orang Jepang mungkin memainkan peranan penting terhadap orientasi masa depan dan juga “ kelompokisme “. Ia tak pernah menjadi seorang pencinta ; karena sewaktu dia secara formal menjadi seorang isteri, dia sungguh-sungguh seorang ibu, dan bila dia memenuhi ( menyempurnakan ) diri, dia berbuat demikian sebagai ibu mertua dari anak menantunya.

Hal ini telah membuat banyak pengamat Barat, dari sisi pandang Barat, memberikan pemimpin Jepang lebih sebagai tokoh keibuan ( maternal ) daripada kebapaan ( paternal ). Masih ada lagi suatu konteks lain di mana seorang Jepang yang sudah dewasa beralih ke dalam peran wanita yang lemah : yaitu dalam hubungan dengan ibu mertuanya.

6. Manajemen Jepang di Persimpangan Jalan

Manajemen Jepang pada dasarnya adalah suatu komunitas dan karenanya memiliki ciri-ciri pengambilan keputusan kelompok, pemekerjaan seumur hidup dan sistem senioritas. Di pihak lain manajemen Jepang juga bergantung pada pertumbuhan ekonomi yang pesat, dan justru perkembangan ekonomi yang pesat inilah yang memungkinkan manajemen Jepang berjalan dengan baik dan bahkan amat menentukan keberhasilan manajemen. Di persimpangan jalan ini Jepang jelas mengalami beberapa perubahan sosial ekonomi.

7. Integrasi dalam manajemen Jepang

Dengan kata lain salah satu ciri khas dari pada manajemen Jepang adalah adanya saling hubungan dan jalinan erat antara bentuk fungsi ekonomis dan komunitas orang. Sekarang ini masalah-masalah yang berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi yang semakin lamban, internasionalisasi dan keserasian antara perusahaan dengan kebutuhan-kebutuhan masyarakat makin mendesak dan menuntut pemecahan segera: dan masalah pokok adalah bagaimana perpaduan antara aspek komunitas dari perusahaan Jepang dan aspek fungsi ekonomisnya diwujudkan.

Dengan melihat kembali sejarah perpaduan dua aspek tersebut dalam perusahaan-perusahaan Jepang termasuk revolusi industry di Jepang yang mulai dari restorasi Meiji, dapat disimpulkan bahwa munculnya Jepang sebagai satu-satunya Negara industry di Asia, Negara industri terkuat di luar peradaban Eropa Barat, disebabkan oleh keberhasilan manajemen Jepang memadukan sifat-sifat khas Jepang dengan tuntutan teknologis dari kebudayaan modern Eropa Barat.

Dengan sistem perpaduan baru ini ternyata teknologi manajemen modern berkembang pesat dalam lingkungan perusahaan Jepang, sehingga manajemen Jepang lebih hebat dari pada jaman sebelum perang. Sebab, manajemen Jepang berhasil mencapai kemajuan justru karena Jepang secaraselektif menerapkan dan menggunakan teknik manajemen modern dengan cara praktis, intuitif dan empiris, sesuai aspek komunitas perusahaan Jepang.

Manajemen Jepang di Persimpangan Jalan

1. Manajemen Jepang dalam masa pertumbuhan ekonomi yang lamban.

Satu sistem perpaduan yang khas dalam Manajemen Jepang
Dalam periode pertumbuhan yang pesat, banyak orang mengatakan bahwa manajemen Jepang telah diorganisasikan dengan baik untuk industrialisasi, yang ditandai produksi massa dan bisnis yang besar, yang selanjutnya didukung oleh sikap yang berorientasi kelompok.

Pengintegrasian sistem senioritas dengan meritokrasi dan pemakaian sistem status. Baik secara teoritis maupun factual ada banyak cara untuk mencapai integrasi demikian dalam manajemen Jepang. Integrasi sistem kelompok dan tanggungjawab individual .Masalah lain yang penting dalam manajemen Jepang, di samping hubungan antara sistem kemampuan dan senioritas serta masa kerja adalah hubungan antara sistem kelompok dan tanggungjawab individu.

2. Internasionalisasi dan Manajemen Jepang

Di samping menghadapi masalah pertumbuhan ekonomi yang lamban, manajemen Jepang juga dihadapkan pada masalah internasionalisasi. Masalahnya, apakah manajemen Jepang mampu menghadapi tuntutan internasionalisasi.

3. Manajemen Jepang dan tuntutan untuk mempertimbangkan kebutuhan-kebutuhan masyarakat
Manajemen Amerika Serikat, yang dihadapkan dengan tuntutan perubahan mendasar, menunjukkan perhatian besar pada sistem manajemen Jepang. Mengenai hubungan baik antara pemerintah dan perusahaan maupun di antara perusahaan-perusahaan sendiri, orang mulai meragukan ideologi manajemen Amerika Serikat dan mulai menaruh minat pada ideology manajemen Jepang, sekurang-kurangnya sejauh diharapkan dapat memberikan sumbangan positif bagi manajemen Amerika Serikat.

Sepintas lalu memang kedengaran aneh bahwa perusahaan Jepang memakai teknologi mutakhir yang berasal dari Barat, atau dalam beberapa sector bersaing atau melebihi teknologi Barat tetapi dalam manajemen personalia mempraktekkan kurang logis , birokratis dan tidak masuk akal,

Faktor Personalia dalam Produktivitas Jepang.

Prestasi Bandingan
Suatu bagan yang menggambarkan rerata persentasi perubahan keluaran pembikinan per jam sekolompok Negara pilihan, dalam jangka waktu 15 tahun menunjukkan keberhasilan usaha produktivitas Jepang. Produktivitas telah meningkat dengan 6,8 % setahun antara 1960 dan 1977. Meskipun laju pertumbuhan itu luar biasa, haruslah diingat bahwa pertumbuhan itu telah dimulai dari tingkat yang lebih rendah daripada pertumbuhan di A.S. pada tahun 1977 keluaran per karyawan di Jepang kira-kira 62% dari tingkat produktivitas di A.S dibandingkan dengan 25% pada tahun 1960. Kemajuan itu banyak diperoleh dari teknologi asing karena perjanjian paten dan lisensi dan melalui usah-usaha sistematis untuk memperoleh informasi bebas ( non proprietary information ).

Ikatan Perburuhan
Bentuk itu ialah sikap kerjasama, koordinasi dan komunikasi yang didasarkan pada kebudayaan, yang dapat menciptakan suasana yang baik bagi ketenangan industri.  Hubungan majikan-karyawan bersifat kolaboratif. Suatu corak yang menonjol ialah pengaturan penarikan tenaga kerja seumur hidup yang meliputi hampir sepertiga dari seluruh angkatan tenaga kerja Jepang. Kesetiaan yang dilahirkan karena pekerjaan tetap membangkitkan kesediaan menerima akan tindakan penghematan sementara, seperti yang dikenakan terhadap galangan kapal Sasebo. Contoh lainnya ialah partisipasi dari kira-kira 6 juta pekerja dalam lingkaran pengendalian mutu.

Asal-usul WA
Kemajuan itu telah menuntut lebih dari hanya tenaga kerja yang murah, meniru teknologi yang dikembangkan di Negara lain, dan pemasukan modal dari A.S kemajuan itu telah meminta cara berusaha yang khas yang senada dengan lingkungan Jepang yang khas. Para pengikut Konfusius percaya bahwa semua hubungan manusia diatur oleh suatu hukum alam yang ada di kayangan. Dengan demikian, tujuan pokok dari suatu masyarakat ialah untuk hidup dalam keserasian.

WA dalam manajemen
Dengan mengakui pentingnya Wa, dapatlah dimengerti bahwa keputusan –keputusan Jepang harus diambil memalui suatu proses kelompok yang ingin melestarikan keserasian. Dari sudut pandangan dunia Barat, proses ini disebut ketiadaan tanggungjawab kolektif, dan sampai batas tertentu uraian ini tepat.

Persoalan-persoalan yang berhubungan dengan asas membujuk orang-orang yang menyusahkan ( squeaky-wheel-gets-the-grease ) dihindarkan dengan usaha-usaha sistematis dalam menjamin kepuasan semua pihak.

Cara-cara Barat dalam WA
Industry Jepang mungkin memberikan nilai yang lebih tinggi daripada Wa, akan tetapi para manajer Barat berusaha mengembangkan kerja kelompok. Meskipun ancangan berbeda, hal mana disebabkan karena perbedaan budaya, banyak juga yang serupa. Jaminan adanya penghasilan tahunan, masa jabatan, tunjangan tambahan tertentu dan perlindungan kerja dalam pamong praja merupakan langkah-langkah kea rah jaminan kerja seumur hidup.

8. Harmoni Tempat kerja : Suatu “ keajaiban “

Gaji yang rendah tidak lagi meruapakan keuntungan utama dari perusahaan-perusahaan Jepang di arena internasional, masukan-masukan pemerintahan yang berguna seperti koordinasi, bimbingan, dan penanaman modal juga tidak lagi merupakan monopoli sistem industri Jepang.

Kerelaan Menerima Perubahan Teknologi

Pada masyarakat yang berorientasi pada perubahan, seperti di Jepang dan di A.S, ada sedikit tekanan pada apresiasi dan tunjang-terima terhadap metode dan teknologi baru. Akan tetapi kemungkinan kehilangan kerja, apakah itu nyata atau khayal, menghalangi kesediaan tunjang-terima dari suatu perubahan, terutama apabila tata hubungan pekerja-manajemen ada pada taraf menahan diri. Dalam hal-hal seperti itu, kemajuan teknologi dapat memupuk penentangan aktif pada pihak para pekerja dan pimpinan serikat buruh mereka.

Bagi banyak pekerja Jepang pekerjaan jenjang-karyalah yang menjadi normanya. Namun, di A.S jaminan kerja merupakan fungsi senioritas yang khas, di mana mereka yang “ terakhir masuk” selalu khawatir akan menjadi “ yang pertama ke luar “.

Dalam penelitian 1960-1962, dukungan aktif terhadap “ mesin-mesin dan metode-metode penghematan-kerja baru” tercatat sebesar 39% dari pekerja Jepang dan 22% dari pekerja A.S. Di pihak lain, dalam proporsi yang hampir sama besarnya di antara para penanggap di Jepang dengan di A.S. masing-masing 17% dan 18%, menunjukkan bahwa mereka secara aktif menentang perubahan itu.

Malah, mereka terutama memikirkan agar pelepasan pekerja diperkecil sebanyak mungkin, dan agar mereka yang dipindahkan diberi kesempatan pelatihan bagi jabatan-jabatan pilihan. Mereka yang menentang perubahan itu dengan aktif merosot dari 17% sampai sejumlah 3% antara 1960 dan 1976. Lagipula menggabungkan kedua hal yang “ negative “ itu hanya akan menghasilkan 11% dari keseluruhan jumlajh para penanggap.

Kebanyakan wakil serikat buruh pun makin menunjang-terima kebutuhan dasar perusahaan untuk tetap dapat bersaing dengan baik di pasar dalam negeri maupun di luar negeri. Perusahaan yang berhasil bukan saja dapat lebih memastikan perlindungan jaminan kerja yang lebih besar, tetapi juga dapat membayar gaji dan bonus yang lebih baik dan memberikan kesempatan maju yang lebih baik.

Juga ia ingin membantu rekan-rekannya apabila ia telah menyelesaikan tugas yang telah ditentukan baginya. Tentu saja usaha-usaha kooperatif seperti itu merupakan fakta nyata dari internalisasi yang kuat dari pada sasaran-sasaran organisasi. Sebagai kontras, posisi terakhir dalam skala digambarkan oleh seseorang pekerja yang merasa terdorong untuk hanya berproduksi secara minimal, sekedar diperlakukan untuk dapat mempertahankan pekerjaannya.

Makin berkurangnya tenaga kerja cukup memberikan alas an bagi para manajer Jepang untuk menerapkan tindakan imbangan terhadap biaya tenaga kerja yang meningkat, termasuk program penghematan kerja yang ketat. Misalnya, suatu langkah yang penting ialah pengurangan kenaikan automatis upah dan gaji para senior.

Memang benar bahwa selama permulaan tahun 1970an suatu kampanye “ Ganyang PNB ( produk Nasional Bruto )” telah mendapat pengaruh. Ini mencerminkan tumbuhnya penentangan terhadap apa yang oleh banyak orang dikenal sebagai “ candu kerja “ industry yang mengganggu.

Di Amerika Serikat sudah sejak lama ada kesediaan para pekerja untuk menempatkan pemberian keputusan itu dalam kategori hak-hak istimewa manajemen. 71 % penanggap Jepang yang sekarang menyetujui delegasi semacam itu dibandingkan dengan 47% yang tidak menyetujuinya pada tahun 1960. Gugus pengedalian Mutu dan kelompok-kelompok Jishukanri.

Pada waktu survai tahun 1960 penolakan Jepang ini tidak saja kami tafsirkan sebagai pencerminan perasaan keterlibatan pribadi yang mendalam mengenai soal itu tetapi juga sebagai kecurigaan yang besar terhadap manajemen sebagai badan yang mempunyai wewenang sanksi. Sekarang setiap pekerja dapat dinilai atas tiga dimensi : prestasi (hasil), proses (ancangan), dan potensi (kemungkinan-kemungkinan yang akan datang). Perkembangan “ kekuatan jasa “ (meritocracy), misalnya bukan merupakan gerakan Amerikanisasi.

Singkatnya, dengan penghargaan yang bertambah terhadap penilaian prestasi oleh manajemen, pekerja Jepang menuju kepada tunjang-terima yang lebih banyak terhadap posisi dan tujuan manajemen. Berbeda sekali dengan mereka, para pekerja A.S. menyatakan makin menolak prioritas-prioritas manajemen itu. Ancaman akan kehilangan pekerja Amerika lebih nyata daripada di kalangan pekerja Jepang. Akan tetapi bagi pekerja Jepang yang lebih terbiasa pada jabatan jenjang-karya, suatu ajakan saja untuk “ mengundurkan diri dengan sukarela” sudah merupakan suatu pukulan.

Keikatan pekerja di Jepang dan Amerika Serikat telah menurun selama 15 tahun terakhir ini. Sebahagian hal ini disebabkan oleh luka berat akibat resesi sedunia. Tetapi yang menarik dari data kami ialah bahwa berkurangnya keikatan itu di Jepang tidak begitu parah dibandingkan dengan di Amerika Serikat.Di Jepang, persentasi mereka yang mengatakan bahwa mereka akan tetap tinggal diperusahaan dan bersama-sama menerima nasib masa depan karena keyakinan mereka pada manajemen, merosot dari 46% menjadi 38%.

Data kami menunjukkan bahwa kesediaan yang berkurang untuk tetap tinggal pada perusahaan yang sedang menghadapi tekanan keuangan, di Amerika Serikat lebih besar daripada di Jepang. Sementara kedua Negara itu menderita kerugian, lagi-lagi perusahaan-perusahaan Jepang lebih maju daripada rekan-seimbangnya di Amerika Serikat. Bagi banyak pekerja pria dan wanita, pekerjaan itu sendiri tidak lagi mempunyai arti yang besar. Malahan pekerjaan makin dianggap sebagai alat- sebagai cara untuk mencapai suatu tujuan lainnya. Dengan latar belakang seperti, di Amerika Serikat berkembang suatu tradisi bahwa kehidupan bekerja dan kehidupan pribadi terpisah samasekali.

Pada tahun 1960, kami melihat bahwa para pekerja Jepang cenderung untuk lebih banyak memadukan peranan perusahaan dan kehidupan kerjanya dengan pengalaman hidup mereka daripada para pekerja Amerika-Serikat. Sebaliknya, para pekerja yang telah menikah dan mempunyai anak tidak akan menolak kerja lembur jika ada dan juga tidak akan menolak bersama-sama minum sake dengan rekan-rekan mereka apabila diminta untuk itu sesudah jam-jam kerja.

Di Amerika Serikat ada kenaikan yang jelas dalam pandangan instrument bahwa perusahaan seseorang merupakan “ tempat untuk bekerja semata-mata dan samasekali terpisah dari kehidupan seseorang.

SISTEM PENGGAJIAN JEPANG

Sesudah perang, perburuhan di Jepang tidak berdasarkan kontrak (hukum), melainkan lebih didasarkan pada hubungan manusiawi. Norma dari tata hubungan ini ialah apa yang disebut hubungan kerja seumur hidup (shushin koyo) dan progress upah “ jasa tahunan (nenko joretsu).

Dalam hubungan perburuhan Jepang, norma adalah karyawan dipekerjakan langsung sesudah tamat sekolah dan tetap pada majikan yang sama sampai masa pension pada usia 55-60 tahun. Seumur hidupnya ia diberikan gaji yang bertambah secara teratur menurut progress jasa tahunan nenko. Dalam peraturan ini, sistem penggajian biasanya diatur dalam berbagai bagian, satu untuk upah dan gaji, lainnya untuk “ bonus “ dan lainnya lagi untuk pension dan tunjangan pension.

a. Corak Khusus

Ada tiga corak khusus yang menjadi dasar.
1. Harus ada segi “ seumur hidup “
2. Sistem itu tidak berlaku bagi seluruh tenaga kerja.
3. Sistem itu sekaligus bersifat umum dan khusus.

b. Komponen Gaji
Secara terperinci dapat dikemukakan empat komponen.
1. Gaji Pokok
2. Tunjangan Bulanan
3. Tunjangan musiman
4. Tunjangan pensiun

Tamatan sekolah lanjutan pertama menjadi buruh kasar; tamatan sekolah lanjutan atas menjadi buruh halus; dan tamatan perguruan tinggi ( yang pria ) mulia sebagai karyawan kantor dan dapat mencita-citakan suatu kedudukan manajemen. Namun, perusahaan dapat dihadapkan pada keharusan untuk mempekerjakan orang-orang dengan pengalaman kerja ditempat lain sebelumnya ( chuto saiyo, perekrutan pintas ).

Secara umum gaji dasar itu merupakan bagian yang paling besar dari penghasilan bulanan ( gekkyu ), kira-kira 80%. Suatu corak fundamental ialah bahwa gaji dasar bertambah pada jangka-jangka waktu tertentu dengan teratur, biasanya 12 bulan, dengan cara yang hampir automatis ( teiki shokyu ).

a. Tabel Gaji Dasar

Bagi karyawan pemerintah ada beberapa table untuk berbagai golongan staf : administrative, pendidikan, kesehatan, maritime, penelitian, dan lain-lain.

Khususnya ada empat “ patokan ” dalam tingkat gaji dan bukan berdasarkan pertimbangan yang langsung berhubungan dengan jumlah yang bersangkutan.
1. Gaji permulaan
2. Gerak maju otomatis
3. Gerak maju automatis dengan promosi
4. Promosi gaji

b. Ancangan seumur hidup
Jadi, gaji dasar menggabungkan gerak-maju automatis dengan memperhatikan prestasi. Mengenai pertimbangan yang pertama, yakni gerak-maju gaji, kelangsungan dan keautomatisan adalah pencerminan aspek mata pencaharian dari penghasilan atas suatu pekerjaan.

Tunjangan Bulanan

Tunjangan itu dapat digolongkan sebagai berikut :

  1. Biasanya tunjangan bulanan dapat dijelaskan dengan tegas dari gaji dasar.
  2. Ada berbagai macam tunjangan bulanan, meskipun diberikan nama yang berbeda-beda untuk beberapa jenis yang serupa
  3. Dari jumlahnya, tunjangan bulanan, tidak termasuk pembayaran lembur, berjumlah kira-kira 20% dari penghasilan bulanan dan dalam prakteknya dinyatakan dalam jumlah tertentu.

Secara mudahnya saja, berbagai tunjangan bulanan itu dapat dikelompokkan dalam empat kategori: tunjangan yang berhubungan dengan syarat-syarat kerja, dengan pekerjaan itu sendiri, dengan tanggungjawab, dan dengan kehidupan

1. Yang berhubungan dengan syarat-syarat kerja
– Tokushu sagyo teate ( tunjangan operasi khusus )
– Tokushu kimmi teate ( tunjangan tugas khusus )

2. Yang berhubungan dengan pekerjaan itu sendiri
– Choka kimmu teate ( tunjangan lembur )
– Gino teate ( tunjangan keterampilan )
– Sei-kaikin teate ( tunjangan hadir )

3. Yang berhubungan dengan tanggungjawab

4. Yang berhubungan dengan “ kehidupan “
Kebanyakan tunjangan kehidupan yang bersifat umum itu adalah :
– Tunjangan keluarga ( kazoku teate )
– Tunjangan tempat tinggal ( jutaku teate )
– Tunjangan daerah ( chiiki teate )

Tunjangan Musiman

a. Perhitungan

Yang terakhir ini biasanya 20% lebih tinggi daripada yang semula.
Selama tahun fiscal 1979 ( april 1979 – Maret 1980 )
– Pada musim panas, 1.93 bulan dan 2.26 bulan
– Pada musim dingin, 2.18 bulan dan 2.78 bulan
– Jumlah seluruh tahun, 4.11 bulan ( 621,453 ) dan 5.04 bulan ( 942,001).

b. Keluwesan
Pengecilan rumus bonus adalah jalan lain yang luar biasa; semuanya dilakukan untuk paling sedikit mempertahankan nilai tahun sebelumnya. Di sinilah “ manipulasi “ mulai memainkan peranannya. Misalnya, terutama bagi para manajer, tunjangan itu dibayar dengan cek bank yang diberi tanggal mundur, katakanlah, dua atau tiga bulan kemudian.

Tunjangan Pensiun.  Itu sebab ada dua macam sumbangan :
1. Pada waktu perpisahan “ sukarela “ ( jiko tsugo ) dalam hal prakarsa itu datang dari karyawannya, apapun alasannya: penerima kerja ditempat lain yang lebih baik,alas an keluarga, kesehatan dan sebagainya dan
2. Karena perpisahan yang dipaksakan ( kaisha-tsugo ), bila terjadi kematian atau terisinya semua jabatan ( occupational incapacity ) atau dalam hal diprakasai oleh perusahaan.

a. Perhitungan. Nilai yang pertama biasanya 20% lebih rendah daripada yang terakhir ; namun, sesudah kmasa kerja 20 tahun atau lebih mungkin akan diterapkan nilai yang sama.

b. Keluwesan . Perusahaan-perusahaan prihatin mengenai pertanggungjawaban yang makin bertambah dengan cepat dari tunjangan perpisahan, terutama yang dibayar pada waktu dicapainya batas usia.

Kenaikan Dasar Tahunan
Kenaikan dari gaji dasar memberi pengaruh pada jumlah permulaan dalam table itu. Jumlah yang akan datang mungkin akan ditentukan oleh pertimbangan lain daripada persentasi yang telah disepakati. Misalnya, gaji dasar dari karyawan-karyawan yang lebih tua akan merata, terutama apabila batas usia itu telah diperpanjang; gaji dasar mereka yang setengah tua akan dapat mengalami suatu kelambatan dalam kenaikan automatisnya jika, katakanlah, tunjangan perumahan bulanan dinaikkan atau suatu pemercepatan jika tunjangan ini dianggap terlalu rendah, dan sebagainya.

Antara tahun 1973 dan 1979, tunjangan-tunjangan jabatan meningkat sebagai berikut :
– Kepala Departemen ( bucho )
– Kepala seksi ( kacho )

Tunjangan musiman itu berkurang dengan mengikuti rumus tertentu, tetapi jumlahnya banyak sekali bertambah :
– Buruh kasar
– Buruh Halus

MANAJEMEN PRODUKSI

Mengapa Pabrik Jepang Berjalan Lancar

Jepang adalah pabrik jaman sekarang, beroperasi seperti seharusnya. Para manajer Jepang tidak pernah berhenti menekankan hal-hal yang pokok. Bagi mereka, tiap tahap dari proses pembikinan – dari konstruksi produk sampai distribusi – sama pentingnya. Mereka terus-menerus bekerja untuk memperbaiki konstruksi alat-alat, sistem pengendalian sediaan, dan keterampilan pekerja melalui kerjasama pada semua tingkat. Bahkan sediaan barang olahan sedikit sekali. Bahan mengalir terus secara teratur, dibantu oleh orang-orang yang menangani bahan, oleh peralatan automatis, dan oleh para pekerja sendiri.

Seorang manajer Amerika yang dengan cermat mempelajari perusahaan Jepang dalam industrinya menaksirkan bahwa, walaupun mereka menggunakan peralatan serupa yang terdapat di Amerika Serikat, peralatan itu tahan 2 sampai 3 kali lebih lama. Seorang manajer lainnya menyimpulkan perbedaan sebagai berikut : “ Mereka mempergunakan mesin mereka ; kami menyalagunakan mesin kami”.
– Sistem monitor
– Suasana tidak ada krisis

Manajemen dan Pembikinan

“Mencari butir nasi yang terakhir”
Produk Jepang di seluruh dunia terkenal karena kecermatan, keterandalan, dan daya tahannya. Banyak orang Amerika masih mengganggap reputasi ini tidak pantas, karena “ Dibikin di Jepang “ dulu berarti produk murah dan kasar.

“ Memikirkan mutu in “

Perencanaan : Para manajer memikirkan mutu, pertama, dengan perencanaan cermat dalam tahap desain produk. Diadakan pembicaraan yang tidak habis-habisnya antara personalia teknik, produksi, jaminan mutu, dan penjualan, sebelum rencana terakhir ditentukan.

Pelatihan : Jika produksi sudah dimulai, para manajer berkonsentrasi untuk mematuhi standar itu. Maka, mereka memikirkan mutu produk dengan melatih para pekerja agar menyerahkan produk yang selalu bermutu tinggi, sambil mengembangkan pada mereka harapan untuk menghasilkan mutu tinggi.

Umpan balik: para manajer mendorong para pekerja produksi dan pemeriksa mutu untuk mengindentifikasikan dan memperbaiki tiap masalah mutu yang timbul ( bahkan jika begitu kecil sehingga produk itu masih lolos dari pemeriksaan akhir).

Kesadaran akan waktu
Dalam perjalanan saya, berkali-kali saya dihadapkan dengan bukti konkret adanya perhatian para manajer Jepang terhadap keikatan jangka panjang. Para karyawan seumur hidup, menurut pandangan hidup orang Jepang, merupakan “ modal manusia “ dan modal yang mahal. Kenapa demikian ? satu sebab ialah bahwa mesin yang direncanakan oleh perusahaan sendiri lebih murah karena tidak memerlukan marjin keamanan dan jaminan desain yang para pembikin peralatan bangun dalam mesin untuk keperluan umum mereka.

Mengatasi “ masalah produksi “
Sikap perusahaan Jepang “ kita semua bersama-sama menghadapi hal yang sama juga mengingatkan kita pada tradisi manajemen Amerika mengenai “ marilah kita menyingsingkan lengan baju dan menyelesaikan ini. Tidak adanya elistisme manajerial di Amerika Serikat dulu merupakan sumber ketakjuban bagi orang-orang Eropa, yang tradisi manajerialnya mencerminkan pembagian secara mendalam antara kelas-kelas sosial.

Gugus pengendalian Mutu

– Kemajuan Jepang tidak kebetulan
– Inggris Dibandingkan Dengan Jepang
– Keberhasilan tidak berkaitan dengan kebudayaan
– Harga Inggris yang terlupakan
– Eksperimen Jepang

Sehubungan dengan ini, menurut orang Jepang sistem manajemen Amerika sudah tidak berlaku dan tangungjawab yang jauh lebh besar dapat diberikan kepada para mandor kepala dan para operator. Akibatnya, dikembangkan berbagai program pelatihan luas untuk meningkat keterampilan memimpin para mandor kepala.

– Pelatihan Gugus Pengendalian Mutu
Pelatihan para pemimpin kelompok menjadi faktor penentu bagi keberhasilan kegiatan Gugus Pengendalian Mutu. Proses inilah yang akan menegakkan kembali peranan mandor kepala atau penyelia, dan mutu kepemimpinannya yang akan menentukan tingkat prestasi berikutnya.

– Teknik Dasar Gugus Pengendalian Mutu
Adalah penting untuk menghindarkan pelatihan Gugus yang tidak dapat langsung dicernakan dan digunakan. Gugus Pengendalian Mutu itu akan lebih sering tertegun-tegun, sebagai akibat program pelatihan yang terlalu ambisius, daripada sebaliknya.

– Analisis Pareto
Pareto, seorang ahli ekonomi Italia, di antara dua perang dunia, menemukan hubungan yang hampir universal antara nilai dan kuantitas. Misalnya, dalam suatu toko perusahaan biasanya 20% dari beraneka ragam barang bertanggungjawab atas 80% dari nilai seluruh sediaan.

Pada pokoknya ada 4 langkah dalam pembuatan suatu diagram Sebab dan Akibat.
• Mengenali akibatnya
• Menentukan target
• Membuat diagram
• Merenungkan ide-ide yang dikemukakan oleh diagram itu.

– Anjungan Kepada Manajemen
– Keputusan Pelaksanaan Oleh Manajemen
– Di mana Gugus Dapat Beroperasi ?
– Ukuran Keberhasilan
– Hasil Kegiatan Gugus

Sistem Kanban, membantu penanganan Produksi Tepat Waktu

Sistem Kanban adalah suatu sistem informasi yang secara harmonis mengendalikan “ produksi produk yang diperlukan dalam jumlah yang diperlukan pada waktu yang diperlukan” dalam tiap proses suatu pabrik dan juga di antara perusahaan. Ini dikenal sebagai produksi “ tepat-waktu“.

Jenis-jenis Kanban

Kanban adalah suatu alat untuk mencapai tujuan terakhir produksi “ tepat waktu “ yakni tujuan untuk memproduksi jenis-jenis produk yang diperkirakan dalam jumlah yang diperlukan pada waktu yang diperlukan. Mulai dengan proses berikutnya, berbagai langkah yang menggunakan Kanban adalah :

  1. Langkah 1) kendaraan pengangkut komponen proses berikutnya pergi ke gudang proses sebelumnya dengan jumlah Kanban penarikan yang diperlukan dan kotak-kotak kosong di atas mesin pengangkat barang atau jeep.
  2. Langkah 2) Jika kendaraan pengangkut komponen ke proses berikutnya mengambil komponen-komponen, ia lepaskan kanban-kanban pemesanan-produksi yang dikaitkan kepada unit-unit fisik dalam kotak
  3. Langkah 3) untuk tiap Kanban pemesanan-produksi yang ia lepaskan, ia memasang salah satu dari kanban penarikannya sebagai penggantinya.
  4. Langkah 4) ketika pekerjaan dimulai dalam proses berikutnya, Kanban penarikan harus diletakkan dalam kotak Kanban penarikan.
  5. Langkah 5) dalam proses sebelumnya, Kanban pemesanan produksi harus diambil pada suatu titik waktu tertentu dari tempat penerima Kanban, dan harus ditempatkan ditempat Kanban pemesanan-produksi dalam urutan sama seperti waktu dilepaskan
  6. Langkah 6) memproduksi komponen-komponen sesuai dengan urutan Kanban pemesanan-produksi dalam tempat.
  7. Langkah 7) unit-unit fisik dan Kanban harus bergerak sebagai pasangan ketika diproses.
  8. Langkah 8) ketika unit-unit fisik telah selesai dalam proses ini, barang-barang itu dan Kanban pemesanan-produksi ditempatkan, sehingga pengangkut komponen dari proses berikutnya dapat mengambilnya sewaktu-waktu.
  1. Sistem Kerja Penuh
    Di antara proses mesin yang diautomatisasi di mana tidak ada pekerja, bagaimana mungkin mesin sebelumnya hanya memproduksi unit-unit dalam jumlah yang telah ditarik? Ada berbagai perbedaan kemampuan dan kecepatan produksi antara berbagai mesin, dan mesin sebelumnya mungkin akan melanjutkan pemrosesannya tanpa mempertimbangkan persoalan apapun yang akan terjadi dalam proses mesin berikutnya.

KONSEP PEMASARAN

Logika Sistem Distribusi Jepang

Yang lebih penting lagi ialah bahwa lebih 60% pedagang besar Jepang mempekerjakan kurang dari Sembilan karyawan dan 70% pengecer kurang dari 4 orang staf. Adanya berbagai tingkat dan lapisan mencirikan saluran-saluran distribusi barang-barang konsumsi massa di Jepang seperti : barang makanan, barang bungkusan, obat-obatan, perhiasaan wanita, alat perkakas serta perkakas kecil lainnya.

Pemasaran Barang Konsumsi

Bagi para manajer pemasaran dan penjualan Amerika yang telah dilatih dalam sistem hubungan yang kering dan mudah diputuskan dengan para pedagang besar dan para pengecer, tugas pertama-tama dari pemasaran adalah apa yang saya sebut “ manajemen permintaan” ( demand management) atau secara popular disebut stratg tarik ( pull strategy ). Bagi para manajer pemasaran di Amerika, pengendalian permintaan akhir melalui manipulasi harga dan periklanan merupakan tugas yang menantang, sedang memanajemeni para pedagang besar dan pengecer merupakan tugas yang sekunder.

Manajemen Suplai Jepang

Sebaliknya salah satu tugas yang paling sulit bagi para manajer pemasaran Jepang adalah memanajemeni gugus wiraniaga dan saluran distribusi yang sering disebut “ manajemen suplai atau strategi dorong. Manipulasi harga yang merupakan ciri pemasaran produk konsumsi di Amerika bukan cara atau taktik yang sering digunakan di Jepang.

Pemasaran Produk Industri

Penting nya para manufaktur menjadi satu bagian vital dari hubungan organic antara pensuplai dan pelanggan dimana pun juga, tidak digambarkan secara gambling daripada dalam pemasaran produk industry di Jepang. Di Amerika, para manajer pemasaran industry bersama dengan manajer pembelian dari pelanggan-pelanggan industrinya, mencoba untuk menjual barang industry secara cepat dengan mengubah tiga faktor variavelnya: harga, pengiriman barang serta kualitas. Ketiga faktor ini dianggap sebagai faktor pertawaran yang ekonomis. Karena pada saat pengiriman barang dengan kualitas barang yang telah ditentukan atas ukuran standar yang memadai, harga sering menjadi pokok penawaran tunggal yang sangat penting antara pensuplai dengan agen pembelian.

SIstem Pembikinan Produk di Jepang

Pabrik-pabrik di Jepang baik yang besar maupun yang kecil, selama tiga puluh tahun terakhir ini telah mengembangkan sistem pembikinan produk mereka sendiri. Sistem ini sering menantang kebijaksanaan teknik industry yang lazim berlaku, seperti operasi pembikinan produk dan riset operasi sebagaimana dipikirkan oleh para pensuplai di Amerika.

MANAJEMEN PRODUKSI
Para pensuplai Jepang dengan sistem waktu yang tepat ( sistem kanban ) dalam jadual pabrik memberikan kepuasan terhadap permintaan pelanggan atas jadual pengirim yang tepat. Jadual produksi sering diubah-ubah untuk memenuhi kebutuhan pasar dan penyesuaiannya secara praktis harus dilakukan tidak dalam proses produk atau dalam mensuplai inventarisasi barang.

Perbedaan antara sistem Jepang dan sistem Amerika sudah jelas. Misalkan rata-rata arus produksi dari jenis mobil utuh di Jepang adalah dua hari, dan di Amerika, sebaliknya dengan produser yang sama di Jepang hanya memakan waktu 5 menit. Juga “ sistem waktu yang tepat “ dapat menyebabkan penghematan operasional yang subtansial lewat pengurangan jumlah sediaan.

Pengendalian Kualitas dan peningkatan kualitas

Pada umumnya, sistem produk di Amerika baru mencoba memenuhi kualitas produknya, sedangkan sistem pembikinan produk di Jepang sudah menentukan kualitas produknya. Tuntutan Jepang akan barang bebas cacat bukan hasil dari keadaan sulit masa lalu sebagaimana diyakini oleh para manajer dan insinyur teknik Amerika. Pada dasarnya orang Jepang gandrung akan kualitas produk yang prima berikut ketekunan terus-menerus menelaah sistem produksi yang efisien. Mereka selalu berusaha memperbaiki mutu dan meningkatkan produktivitas usahanya.

Saluran distribusi Jepang: Rintangan tak nyata untuk memasuki pasar Jepang

Mereka yang menghadapi sistem distribusi Jepang mengatakan bahwa sistem itu mungkin merupakan sistem yang paling tidak efisien, paling rumit, dan paling mahal dari sistem di dunia industry manapun.

Sementara efisien industrial Jepang yang banyak diberitakan itu tumbuh, sistem distribusinya tetap merupakan suatu anakronisme aneh yang susah dihilangkan . Jepang masih mempertahankan suatu sistem distribusi kuno yang rumit yang dikembangkan untuk produk pertanian. Secara historis, kebijakan pemerintah yang dimaksudkan untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi diarahkan kepada sektor pembikinan, bukan sektor distribusi dan pemasaran.

Ketika para pengusaha pabrik yang disurvai ditanya secara intensif tentang mengapa mereka memberikan potongan, ternyata jawaban yang diberikan beranekaragam. Jawaban ini dapat dimasukkan dalam 5 kategori besar : untuk mendapatkan jalan masuk ke pasar, untuk memperbaiki distribusi, untuk mendapatkan kerjasama penyaluran, untuk tujuan pengendalian dan untuk sasaran keuangan. Berikut adalah perinciannya :

Untuk mendapatkan jalan masuk ke pasar
1. Memberikan jalan masuk ke pasar
2. Memperluas penjualan produk baru
3. Memperluas penjualan lini produk lemah
4. Menjual sediaan dengan cepat
5. Memperoleh pelanggan baru

Untuk memperbaiki distribusi
1. Memberikan motivasi kepada para distributor
2. Supaya para distributor menangani sediaan
3. Mengusahakan saluran-saluran baru
4. Mengusahakan rute-rute penjualan baru
5. Memberikan marjin yang stabil kepada para distributor
6. Mendapatkan partisipasi dalam sistem penyaluran seorang pengusaha pabrik.

Untuk mendapatkan kerjasama penyaluran
1. Ruangan untuk pemajangan ( display )
2. Lokasi baik untuk produk
3. Kerjasama dalam kampanye penjualan
4. Pemasangan pajangan khusus
5. Kerjasama dalam periklanan
6. Pameran di tempat yang paling ramai dikunjungi pembelanjanya.

Untuk tujuan pengendalian
1. Mempertahankan harga
2. Membatasi transaksi produk pesaing
3. Membatasi pengembalian barang yang telah dijual

Untuk sasaran keuangan
1. Memajukan pembayaran dini
2. Menganjurkan promes jangka pendek
3. Memajukan pembayaran tunai
4. Mendorong pembelian lebih besar
5. Mendorong pengiriman yang tidak terlalu sering

Dari A Ke Z:Tiga belas langkah ke arah Teori Organisasi Z

Teori Z bercirikan kerjasama antar karyawan dan keikatan pada sasaran perusahaan. Pemakaain teori Z mempunyai sasaran untuk mengembangkan kemapuan organisasi orang,bukannya teknologi untuk mencapai produktivitas.

Hal-hal yang harus Anda lakukan agar perusahaan Anda mencapai produktifitas adalah :

  1. Tipe organisasi Z dan peran Anda.
  2. Audit Falsafah Perusahaan Anda.Suatu perumusan yang jelas mengenai sasaran perusahaan dan falsafahnya akan mendorong minat bekerja dan kesetiaan karyawan.
  3. Falsafah dan Pejabat Eksekutif Puncak.
  4. Ciptakanlah struktur dan perangsang.
  5. Kembangkan keterampilan antar pribadi
  6. Ujilah diri Anda sendiri dan Sistem Anda
  7. Libatkan Serikat Buruh
  8. Menstabilkan Pemekerjaan
  9. Perlambat evalusi dan Promosi
  10. Memperluas Jalur Karir
  11. Penerapan pada Tingkat Yang Lebih Rendah
  12. Melihat Kenyataan yang Sebenrnya
  13. Tata hubungan Yang Menyeluruh

Kesimpulan

Dari pembahasan sebelumnya diatas dapat ditarik kesimpulan Jepang menjadi negara maju bukan hanya kebetulan,melainkan kerja keras,disiplin yang tinggi dan manajemen kepemimpinan yang begitu luwes dan bijaksana.Dewasa ini ,pasar Jepang sangat terbuka untuk perusahaan asing,sejauh mereka mau belajar untuk berkelakuan sebagaimana para pesaing mereka orang Jepang.

Perusahaan Amerika dapat mengambil keuntungan dalam hal ini.Malahan lebih penting lagi,bila perusahaan Amerika beroperasi tidak secara nyata di Jepang,mereka akan memperoleh euntungan yang bermanfaat untuk memonitor sikap orang Jepang dan pesaing asing di sana.Pengalaman konsumen yang bersaing masih ada dan pasar industri di Jepang malahan dapat memberikan tambahan dan lapisan persaingan di Amerika.Pengenalan akan praktek pemasan Jepang di samping praktek pemasaran di Amerika dapat membantu manjemen mengenai sistem saluran distribusi.

Dalam setiap pasar yang bersaing sebagaimana di Amerika,alat pesaran tambahan ini akan membuktikan manfaat yang besar.Perusahaan Jepang telah berjuang keras selama seabad untuk mengatasi macam-macam kekurangan dunia yang makin bertambah dan saling bergantung.Memang sistem pesaran Jepang dibentuk dengan upaya perusahaa-perusahaan Jepang untuk mengelola perkembangan perusahaan mereka sebagai akibat kelangkaan sumber daya mereka.Sebagai hasilnya perusahaan Amerika akan mendapatkan pelajaran aktual dlam mengatasi cara-cara untuk dapat bertahan dlam pasar Jepang.

DAFTAR PUSTAKA

  • Abegglen, James, C; Management and Worker,the Japanese Solution,Tokyo Shoie University,Tokyo/Kodasha Int.LTD.c.1973
  • Aso,Makoto & Amano,Ahuo,Education and Japan’s modernization, (Tokyo ),Ministry of Foreign Affairs,1972.
  • Ballon,Robert J.(Hrsg),The Japanese Employee,Tokyo,1969.
    Clark,Rodney,The Japanese Company,New Haren,Yale University press,1979.
  • Nakane,Chie Japanese society (REV.ED ),Harmondsworth,Middlesey,1979.
    Okochi,Kazuo; Karch,Barnard ;Levine,Solomon B (Hrsb.),Workers and Employers in Japan.The Japanese employment relations system,Tokyo 1973.
  • Sasaki,Naoto,Management and Industrial Structure in Japan,Oxford Pergamon Press,1981.
  • Norbury,Paul & Bownes,Geofforey (editor),Business in Japan : a Guide a Japanese BusinessPractice and Procedure –rev. Ed ; London Mac Millan Press,Ltd.1980
  • Yamazaki,Mitsuru Japan’s Community based industries : a Case Study of Small Industry,Tokyo,Asian Productivity Organization,1980.
  • Yakobe,Katsumi (ed. ) ,labour relations in Japan : Fundamentals Characteristics (Tokyo ) Int.Society for education information Inc,1974.
    Defense Agency,The Defense Of Japan 1979
  • Japanese Confederation Of Labour,Introducing Domei.
    Nakane,Chie,The Japanese Society ( L ondon : Weidenfeld And Nicholson,1970)
  • Oriental Economist,Japan Economics Yearbooks 1980/1981 (Tokyo : University of Tokyo Press,1979)

WASPADAI TWITTER


Tidak disangka-sangak kehadiran microblogging Twitter yang setiap pesannya terbats 140 karakter menjadi momok yang menakutkan bagi industri media arus utama (mianstream), baik media cetak, elektronik, maupun online. Mengapa menakutkan?

Alan Rusbridder, kolumnis teknologi Guardian.co.uk, pada 19 november merilis sebuah artikel mengenai 15 alasan mengapa twitter bisa menjadi masalah bagi organisasi media, opininya ini tidak dimaksudkan untuk menakut-nakuti pemilik dan penggita media, melainkan lebih sekadar peringatan semata. Rusbridger justru menyarankan pemilik media berdamai dan tidak ahrus malu mengadopsi kelebihan Twitter dalam mendistribusikan kontennya.

Bagi warga dunia maya(netizen), twitter yang mulai online sejak 15 juli 2006 adalah sebuah keniscayaan. Dengan tekanan waktu dan kesibukan, warga didunia maya ini tidak lagi ngeblog dengan membuat postingan yang panjang lebar. cukup berkicau seperti burung tentang apa yang terjadi dan menginformasikan peristiwa yang menimpanya atau orang lain, pesan sudah smapai secara berantai.

Twitter dikembangkan Jack Dorsey adalah pesan singkat (SMS) virtual yang bekerja di internet. Twitter tidak lebih dari SMS di internet. Sebagaimana sebuah pesan singkat, ia dibatasi hanya 140 karakter. Lantas pesan (tweet) apa yang bisa disampaikan para tweep (penyampai tweet) lewat batasan 140 karakter? Bagaimana mungkin industri media bisa terganggu oleh pesan 140 karakter itu?

Sebelum menjawab serenceng pertanyaan ini, baiknya simak dulu 15 pikiran Rusbridger mengapa media arus utama perlu mewaspadai Twitter :

  1. Distribusi mengagumkan. Benar pesan hanya dibatasi 140 karakter, tetapi didalamnya tersimpan tautan yang mengantarkan siapapun kesebuah situs yang alamat domainnya sudah dipendekan. Lewat pesan viralnya, pesan bisa tersebar. Tidak heran setiap situs yang sadar media sosial melengkapi fiturnya dengan “share on twitter”.
  2. Menempatkan peristiwa lebih dahulu. Meski tidak selalu, banyak berita pertama muncul di twitter sebelum jurnalis menuliskannya. Bahkan breaking news bisa langsung diperoleh di twitter.
  3. Sebagai mesin pencari. Twitter adalah saingan Google. Pengguna twitter yang jumlahnya mendekati angka 200 juta tidak lagi mencari informasi dari google, tetapi langsung memperolehnya dari jutaan tweet yang mengalir setiap saat.
  4. Agregat yang tangguh. Tweeter adalah feed berita pribadi sesuai keinginan penggunanya. tautan dimana berita itu tersimpan bisa langsung di buka.
  5. Bentuk pemasaran yang pantastis. Postingan yang ditulis di web akan lebih cepat tersebar apabila di di-share di twitter karena viral message yang memungkinkan sebuah pesan terus bergulir.
  6. Alat reportase yang hebat. Tidak bisa dipungkiri, sekarang banyak wartawan mencari informasi atau ide berita dari twitter.
  7. Rangkaian percakapan. Twitter memungkinkan penggunanya berinteraksi aktif mengenai topik yang dibicarakan.
  8. Lebih beragam. Pada media tradisional hanya segelintir pembaca/pemirsa yang bisa memberikan umpan balik, di twitter setiap orang bisa “berkicau” sesukanya.
  9. Mengubah “nada” tulisan. Banyak keberanian menulis/bersuara muncul di Twitter. Orang yang semula aktif mendengarkan menjadi aktif berbicara menuangkan gagasannya.
  10. Hilangnya hieraki lapangan. Tidak semata orang terkenal yang didengar, orang biasapun memungkinkan berinteraksi secara intens.
  11. Memiliki nilai berbeda. Untuk informasi, orang tidak lagi bergantung kepada jurnalis profesional sebab jutaan tweep adalah jurnalis itu sendiri yang siap berbagi informasi.
  12. Memiliki rentang perhatian yang panjang. Twitter adalah bentuk “kesadaran” baru, bahkan dengan menggunakan TweetDeck, pengguna bisa mengatur informasi yang dikehendaki berdasarkan subyek atau pertemanannya.
  13. Menciptakan komunitas. Dimungkinkan terbentuknya masyarakat global berdasarkan kepentingan dan minat.
  14. Mengubah pengertian tentang kewenangan. Daripada menunggu pendapat pakar yang dimuat/ditayangkan media, Tweeter mengeser keseimbangan yang disebut kewenangan “peer to peer”
  15. Agen perubahan. Isu yang diciptakan akan mempengaruhi orang lain atau lembaga pemegang kewenangan. Ini yang disebut sebagai kolaborasi kekuatan media.

Bagi pemilik media massa, khususnya media cetak yang jauh dri kultur web, tidak ada alasan untuk takut karena pembaca media cetak punya kulture sendiri. Akan tetapi, kecenderungan orang mengakses informasi secara cepat harus menjadi pertimbangan. Persoalanya Tweeter menghadirkan kecepatan itu.

Cepat tidak identik dengan tepat. Bagaimana jika Tweter mampu mengadopsi jargon kelasik jurnalistik “Get it first, but first get it right”? Ini menjadi persoalan, khususnya bagi media online yang berburu kecepatan, tetapi kadang mengabaikan ketepatan. Kultur Tweeter terbentuk secara alamiah sebab Tweep cenderung mencari Tweet berkualifikasi “right” selain “first“. Bukan semata sebagai konsumen penelan informasi, tetapi menjadi produsen yang memberi feed kepada Tweep lainnya.

Sumber : KOMPAS, 26 November 2010, hal.29.

Kasus indomie


Si Pemberes di Tengah Duka


Perias mayat harus memiliki jiwa seni, panggilan jiwa, dan tidak penakut.

Merias pengantin, selebriti, atau orang yang hendak merayakan sesuatu, itu hal biasa. Namun merias mayat, itu luar biasa. Bayangkan saja, ia mesti berkutat mendandani mayat yang, boleh jadi, tidak keruan rupanya akibat penyakit yang diderita atau kecelakaan yang menimpa. Tak heran bila cuma sedikit yang menjalani profesi ini. Padahal, penghasilannya tidak sedikit.

Sudah tentu, perias mayat tak melulu bermodalkan keberanian. Ia juga mesti memiliki jiwa seni dan panggilan jiwa untuk menekuni profesi ini. Karena inti dari pekerjaan merias adalah membuat obyek riasannya menjadi lebih indah, jiwa seni menjadi hal yang penting. Pasalnya, wajah setiap mayat memiliki kontur berbeda-beda. Nah, jiwa seni inilah yang bakal menuntun si perias dalam memoles wajah mayat agar tampak berseri-seri atau tersenyum. Dengan demikian, keluarga yang ditinggalkan tidak terlampau sedih.Mungkin yang khusus adalah tempatnya. Sebab, tak sembarang tempat menyediakan fasilitas merawat mayat, mulai dari memandikan, merapikan semua organ tubuh jika keadaan tubuhnya rusak, hingga mendandani mayat tersebut supaya tampil layaknya ketika ia masih hidup. Kami jamin pihak keluarga yang ditinggalkan akan puas, ujar Rantje Langkun, Manajer Yayasan Pelayanan Pemakaman (YPP) St. Carolus. Fasilitas salon kecantikan kematianini hanya bisa ditemui di rumah-rumah duka, misalnya, rumah duka RS St. Carolus di Salemba, Jakarta Pusat, dan RS Atmajaya di Pluit, Jakarta Utara.

Meskipun tugas intinya adalah merias, kata Daniel Rusmondo, satu dari lima orang perias mayat di rumah duka St. Carolus, Tapi ada beberapa rambu yang mesti diperhatikan ketika akan merias mayat.Pertama, sang perias harus memakai baju khusus seperti baju dokter, kaus tangan, sepatu karet, dan penutup mulut. Ini untuk menghindari bahaya infeksi atau tertular penyakit yang ditimbulkan dari mayat. Misalnya, mayat yang terkena penyakit kencing manis biasanya kondisinya mudah membusuk, kulitnya mudah terkelupas, dan mengeluarkan cairan dengan bau yang tak sedap.

Penjelasan Daniel tersebut diamini Maria Magdalena Lena Mulyana (Lena), perias mayat dari rumah duka Atmajaya.
Selanjutnya si perias dengan dibantu staf, biasanya tiga orang, mempersiapkan peralatan mandi seperti sabun, sampo, wash lap, dan handuk. Setelah kondisi mayat bersih (baik dalam maupun luar tubuh), mayat diberi pengawet formalin agar tidak cepat busuk dan kulit tidak kisut.

Maka, dimulailah ritual merias: pemberian alas bedak (foundation), bedak, memperindah alis, hingga lipstik. Semuanya membutuhkan waktu sekitar satu jam. Agar wajah obyek tidak tampak pucat, terlebih dahulu dibaluri ramuan dempul seperti lilin buatan Switzerland. Bahan ini bisa tersamar dengan warna kulit. Saya tinggal memoleskan foundation dan bedak, maka mayat akan tampak segar, ujar Lena.

MASIH LANGKA
Boleh jadi, karena syaratnya seperti di atas, itulah yang membuat profesi ini agak langka. Sebagian besar orang yang menekuni profesi ini mengaku terperosok dan tidak ada pilihan lain di tengah sulitnya mencari pekerjaan.
Simak saja pengakuan Daniel yang ditemui TRUST saat sedang merawat mayat yang baru tiba. Saya terpaksa waktu itu. Di tengah susahnya mencari pekerjaan, saya coba melamar ke sini [rumah duka St. Carolus] dan ternyata diterima, ujarnya. Mulanya ia sempat ragu untuk meneruskan pekerjaan ini. Namun, setelah berpikir dan merenung, akhirnya Daniel bisa menerima. Kini, setelah lima tahun berselang, ia sudah mahir merawat dan merias mayat dengan apik dan resik, baik mayat pria maupun wanita.

Dari profesi ini, Daniel mengantongi gaji Rp 750 ribu per bulan. Ini belum termasuk tip dari keluarga yang berduka yang jumlahnya cukup bervariasi, minimal Rp 100 ribu. Dengan penghasilan ini, Daniel mengaku mampu menghidupi keluarga kecilnya, istri dan dua orang anak. Pokoknya, dicukup-cukupin, Mas, ujarnya sambil tersenyum.
Kisah kecantol jadi perias mayat yang dialami Lena lain lagi. Pada 1984, ia diutus ke Lampung untuk melakukan pelayanan kerohanian dari Gereja St. Yosep di Mangga Besar, Jakarta. Di sana, ia sempat bertemu dan akrab dengan seorang perempuan cantik, primadona di kampungnya. Pertemuan itu hanya sesaat saja.

Singkat cerita, perempuan cantik itu kemudian menetap di Jakarta. Namun, malang tak dapat ditolak, ia menderita kanker leher rahim stadium lanjut hingga akhirnya meninggal dunia. Saya merasa bertanggung jawab untuk merawat mayatnya, tutur Lena.

Dari situlah ia mulai mengenal dan tertarik menggeluti profesi ini. Sampai-sampai, di kalangan perias mayat rumah duka Atmajaya, ia dikenal sebagai Lena Mayat. Pasalnya, pada ID badge Yayasan Naga Sakti, pengelola rumah duka Atmajaya, tertulis Lena M. Nah, huruf “M “inilah yang kerap dipelesetkan sebagai singkatan dari kata mayat. Kini, Lena harus merawat 5-10 mayat setiap bulan. Soal penghasilan, ia hanya menyebut kisaran antara Rp 1,5 juta dan Rp 2 juta per bulan, belum termasuk tip minimal Rp 100 ribu.

Pendapatan yang diperoleh Daniel dan Lena sebagai perias mayat tersebut memang bagian dari biaya prosesi pemakaman yang digelar rumah duka tempat mereka bekerja. Kisaran biaya prosesi tersebut sangat relatif. Sebab, kata Rantje dari rumah duka St. Carolus, hal itu berkaitan dengan harga peti mati yang berkisar antara Rp 1 juta dan Rp 25 juta. Khusus untuk keluarga yang tidak mampu, St. Carolus membebaskan segala macam biaya termasuk penyediaan peti jenazah.

Sementara itu, rumah duka Atmajaya memasang tarif sedikit lebih mahal. Konon, pelanggannya adalah orang-orang yang berkantong tebal, khususnya yang beragama Hindu dan Nasrani. Tak heran jika harga petinya berkisar antara Rp 10 juta dan ratusan juta rupiah. Harga ini sudah meliputi peti, perawatan mayat, sewa tempat, dan dekorasi ruangan.

ORANG ASING LEBIH RUMIT
Bagaimana mengurus mayat orang asing? Baik Daniel maupun Lena sepakat bahwa prosesnya lebih rumit. Dimulai dari persiapan peti mati khusus yang harganya minimal Rp 9 juta, pengurusan dokumen, mengurus mayat, hingga mengantarkannya sampai ke negeri asal. Pengiriman mayat harus dilengkapi dokumen keimigrasian dan segel dari Bea dan Cukai.

Karena prosesnya yang rumit, sedikit sekali orang berpengalaman yang mengurus jenazah orang asing. Mungkin hanya Josaphat R. Ranuadmadja (Yosef) yang mampu melaksanakannya. Ia, yang kini berusia sekitar 70 tahun, menekuni pekerjaan tersebut sejak 1983 di Balikpapan, Kalimantan Timur, lewat Yayasan Kasimo. Orang asing yang menggunakan jasanya merupakan karyawan perusahaan modal asing dan lokal di situ.

Kasus Busang pada medio 1990-an meninggalkan kesan mendalam bagi Yosef. Ialah yang mengurus jenazah Antonio de Guzman, geolog penemu cadangan emasterbesar di dunia. Konon, de Guzman tewas bunuh diri meloncat dari helikopter ketika skandal terbuka. Mayatnya sudah rusak ketika ditemukan sepuluh hari kemudian. Pihak kepolisian kesulitan membersihkannya. Akhirnya, Saya masukkan empat liter cairan Baygon lewat anus, dipompa dengan kompresor untuk mengusir belatung, ujar Yosef. Ia ikut dalam proses evakuasi jenazah dari pedalaman Kalimantan Timur hingga mengantar ke Manila.

Begitulah liku-liku profesi perias mayat. Kehadirannya sangat bermakna ketika semua orang tengah berduka. Ia membereskan semuanya, membuat yang meninggal tampak cantik atau gagah, sehingga yang ditinggal tidak begitu bersedih.

Sumber : Majalah TRUST

Susah Melompat Terlalu Jauh


Saat ini makin banyak industri yang berinvestasi untuk mengembangkan produknya. Perusahaan pun kini banyak memburu orang yang ahli membuat desain produk.

BOLEH dibilang hampir semua barang yang kita pergunakan sehari-hari tak lepas dari sentuhan seorang desainer produk. Entah itu peniti, pulpen, telepon genggam, kendaraan bermotor, hingga pesawat terbang. Ironisnya banyak orang bahkan industriwan belum mengenal profesi ini. Singkat kata, hanya sedikit industri yang menggunakan keterampilan mereka.
Padahal menurut Janardana Gandasubrata, seorang desainer produklah yang memadukan beragam fungsi sehingga sebuah benda enak dipandang dan digunakan. Mereka menggabungkan fungsi estetis, material, dan fungsional serta ergonomi sehingga disukai konsumen. Dan untuk menggabungkan tiga fungsi itu bukanlah pekerjaan yang gampang. Tidak semua visi dipenuhi dalam sebuah desain, ada yang menonjolkan estetisnya, ada yang menonjolkan fungsionalnya,ujar desainer produk PT Indovickers Furnitama kepada TRUST.

Umpamanya saja sebuah kursi. Menurut Janardana, sebuah kursi yang bagus kadang tidak memenuhi aspek fungsional. “Kalau diduduki bisa enggak enak, katanya. Tapi, ia menambahkan, kursi seperti itu masih bisa diproduksi karena barangkali orang akan membelinya untuk barang pajangan di sudut rumah.Di sebuah industri, desainer produksi alias despro seolah berfungsi sebagai jembatan antara bagian marketing dan produksi. Biasanya bagian marketing mendapat input tentang hasil penjualan yang bisa menggambarkan kecenderungan selera pasar. Dengan informasi itu despro lalu menerjemahkannya dalam bentuk visual. “Biasanya marketing memiliki data yang menjelaskan selera pasar yang tersegmentasi itu, ujar Hendro Witjaksono, desainer produk PT Kreasindo Jayatama Sukses.

Selain itu, dalam mendesain, despro harus paham betul siapa konsumen yang menjadi sasaran produknya. Ia juga harus tahu, dipatok dengan harga jual berapa benda hasil rancangannya itu. Karena itu, saat menarik garis pada desain grafis, seorang despro harus menemukan bentuk yang memungkinkan diproduksi secara massal dengan harga yang telah ditentukan sebelumnya,tutur Hendro.

Syarat lain, seorang despro mesti bisa bekerja di dua bidang, yakni teknik dan seni. Tak pelak mereka juga mesti terampil menggambar sketsa. “Karena seorang despro pertama kali harus menuangkan gagasannya dalam bentuk sketsa dua dimensi, ujar Hendro.

Tak hanya itu. Seorang desainer produk juga harus punya kemampuan seorang teknisi yang mengerti benar apakah benda yang akan dibuat itu bisa diproduksi dengan mudah. Untuk itu despro harus mengenal sifat-sifat materi dengan baik, apakah itu logam, kayu, atau benda-benda kimia lainnya. Ini juga menjadi alasan lain kenapa despro disebut profesi gabungan antara seni dan teknik. “Despro tidak hanya menciptakan visualisasi dengan baik, tapi juga harus paham cara mewujudkan rancangannya dan dengan materi apa rancangan itu dibuat,tutur Janardana menjelaskan.

Karena seorang despro harus mewujudkan desainnya dalam bentuk jadi, tak jarang dia juga harus memotong besi, menggerinda, mengelas, mengamplas, dan mengecatnya bila perlu. Makanya jarang ada cewek yang tertarik menjadi desainer produk, karena pekerjaannya seperti tukang, kata Hendro.

Menurut Zainuddin Eko Putro, despro PT Malka, perusahaan furnitur yang berlokasi di daerah Cikarang, proses kerja seorang despro lumayan panjang. Mula-mula ia mengumpulkan data-data yang biasa diperolehnya dari marketing. Ia juga mendapat data berupa produk yang sedang tren dan desain yang sudah out of date serta produk kompetitor yang sedang booming.

Dan seperti laiknya desainer pada umumnya, seorang despro pun mesti mengikuti perkembangan desain dunia. Hendro misalnya, agar tak ketinggalan, dia sering kali menjelajah perkembangan desain mobil di internet dan berbagai majalah. Tapi tak hanya majalah mobil yang ia baca, majalah gaya hidup pun disantapnya. Dari membuka-buka majalah itulah, dia bisa mendapatkan inspirasi membuat garis-garis saat mendesain. “Kami bisa terinspirasi dari benda-benda yang sering digunakan konsumen dalam segmen tertentu, katanya.

Selain itu, dari hasil penjelajahannya lewat majalah dan internet, seorang despro bisa menguji apakah sebuah desain bisa diterapkan di Indonesia. Diuji? Ya, karena tidak semua model mobil baru, misalnya, bisa diterapkan di Indonesia. Penyebabnya, kata Hendro, selera desain masyarakat Indonesia tertinggal beberapa tahun dari negara lain. “Karena itu tidak semua model baru bisa diterapkan di sini, mobil bisa tidak laku, ungkap desainer yang mengaku bergaji Rp 3 juta sebulan ini.

Hendro lantas menceritakan sebuah pengalaman uniknya. Suatu ketika ia dan beberapa rekannya mendesain truk dengan model yang sangat futuristik. Saat dipamerkan, banyak orang GAIKINDO yang menilai desainnya bagus. Tapi perusahaan otobus merasa heran dengan desain itu, ujarnya mengenang. Menurut mereka, desainnya tidak mungkin diterapkan di Indonesia karena selera pasar masih pada model-model lama. Dari pengalaman itu ia belajar untuk tidak mendesain produk yang terlalu jauh dari model yang sudah ada. Kalaupun harus ada inovasi model, cukup satu atau dua tingkat di atasnya. Kami sih inginnya melompat jauh, tapi masyarakat belum bisa menerima,ungkapnya.

Setelah mendapatkan ide, proses selanjutnya adalah mempelajari kelemahan dan kelebihan produk itu. Juga, produk kompetitor baik dari sisi kualitas maupun harga. Kemudian despro, engineering, dan marketing menganalisis secara bersama-sama. Mereka meninjau desain itu dari sudut pandang tiap-tiap departemen, kata Zainuddin yang tercatat sebagai alumnus ITS jurusan Desain Produk tahun 1998.

Setelah tercapai kesepakatan, hasil pertemuan itu diolah kembali oleh despro. Setelah despro menindaklanjutinya dengan membuat sketsa untuk mengungkapkan ide-ide yang akan didiskusikan, lalu diambil beberapa alternatif. Biasanya kami mengambil maksimal tiga sketsa untuk dibuat dua dimensional dan tiga dimensional. Setelah itu dirapatkan lagi secara intern, terutama dengan owner dan marketing,ujar Zainuddin. Dari pertemuan itu, diambillah satu alternatif untuk dibuat mock-up atau prototipe.

Bukan berarti dengan selesainya prototipe itu kerja seorang despro sudah berakhir. Hasil prototipe itu akan dibahas lagi dengan mempertimbangkan masukan-masukan dan pengembangan-pengembangan lain dari pihak terkait. Jika semua sepakat, artinya produk yang masih berupa desain itu siap diproduksi secara massal.

Lebih suka beli lisensi ketimbang merancang sendiri
Di Indonesia, sebenarnya profesi ini mulai ada sejak tahun 1980-an. Saat itu Institut Teknologi Bandung mulai menelurkan lulusannya di bidang ini. Tapi dunia industri belum banyak yang membutuhkan sehingga banyak lulusan desain produk lari ke desain grafis, ujar Maya Rakhmi, Design & Engineer PT Indovickers Furnitama. Lulusan Institut Teknologi Sepuluh November tahun 2001 itu adalah salah satu dari sedikit desainer produk perempuan yang terjun di bidang ini. “Kalau tidak salah, baru saya desainer produk wanita yang terjun di bidang ini”,katanya mengaku.

Hal lain yang membuat profesi ini kurang dikenal adalah karena baru sedikit industriwan yang mengenal profesi ini. “Hanya beberapa perusahaan saja yang mengenal profesi ini. Lagi pula, banyak perusahaan yang lebih suka melakukan copy and development dari pada research and
development,” ujar Hendro.

Selain itu banyak industri yang belum merasa butuh. Karena, demikian kata Maya, sering kali industri lokal hanya memunculkan produk yang desainnya beda sedikit dari produk yang sudah ada. Mereka merasa lebih yakin dengan membeli lisensi dari perusahaan luar negeri. Alasannya, biayanya lebih murah dibanding jika harus merancang desain sendiri.

Saat ini, industri yang benar-benar mengakui adanya desainer produk di Indonesia baru industri otomotif, elektronika, dan mebel. Meski begitu, Hendro, Zainuddin, Janardana, maupun Maya pun optimistis dengan masa depan profesi ini. Sebab, ungkap Maya, selain apresiasi dan kesadaran akan desain di Indonesia semakin tinggi, “Perlahan tapi pasti semakin banyak industri yang mulai memakai despro”, ujar wanita yang mengaku bergaji antara Rp 2 juta dan Rp 3 juta per bulan ini.

Sumber : Majalah TRUST

Sang Pencipta Dunia Baru


Bibit-bibit animator lokal mulai bermunculan. Meski bakat menjadi modal utama profesi ini, tak sedikit yang berhasil karena tekun mempelajarinya.

Suasana ruang itu lebih mirip sebagai kamar pribadi daripada tempat kerja. Sebuah poster pahlawan animasi yang berukuran cukup besar menempel di dinding. Di pojok, berdiri sebuah lemari kecil yang penuh dengan disk film dan software. Sebuah dipan dan kulkas kecil berdampingan mengisi sudut lain ruangan.

Hampir tidak ada yang aneh di ruang tersebut, kecuali perangkat keras yang memenuhi ruang itu. Ada empat buah komputer berderet dan sebuah monitor. Di atas tempat tidur tergolek sebuah laptop. Jangan salah, ruang ini bukan tempat reparasi komputer. Kamar itu adalah tempat kerja seorang animator alias tukang membuat rangkaian gambar hidup di layar kaca.Adalah Patar Ferry Christian Pardamaean Napitupulu, seorang animator freelance yang menyulap ruang garasi rumahnya menjadi tempat kerja sekaligus kamar tidur. Ruang seluas sekitar 15 meter dan peralatan seharga tak kurang dari Rp 50 juta itu kini menjadi kebanggaannya.

Padahal, merunut masa lalu, Patar perlu perjuangan yang tak mudah untuk meraih itu semua. Ketika merintis kariernya enam tahun lalu, banyak orang yang menganggap profesi animator tak dapat menjanjikan sebuah hidup yang layak. “Ketika saya mau menekuni profesi ini, orang tua bilang itu tidak akan ada uangnya,tuturnya.

Namun, boleh jadi kini orang tua Patar menyesali ucapannya. Faktanya, profesi itu kini menjadi salah satu pekerjaan yang menjanjikan. Besarnya fulus yang beredar di bisnis animasi membuat sejumlah orang tak ragu lagi untuk mengucurkan dana. Tengok saja salah satu kantor griya animasi Dimensia yang terletak di sebuah apartemen cukup mewah di kawasan bisnis Cempaka Mas di Cempaka Putih, Jakarta.

Lantai delapan apartemen yang sebenarnya untuk rumah hunian itu disulap menjadi kantor. Warna-warni cerah menghiasi dindingnya. Pada salah satu ruang yang terletak di sudut berjajar sepuluh komputer terbaru lengkap dengan peranti multimedia.

Peranti komputer dengan spesifikasi terbaru memang menjadi salah satu senjata seorang animator. Seperti layaknya ilustrator, tugas utama seorang animator adalah menggambar. Bedanya, media gambar mereka tidak lagi kertas lusuh di atas meja dengan penerang seadanya. Seluruh proses kerja animator, mulai membesut gambar, memberi tekstur warna atau merangkai adegan, dilakukan dengan komputer.

Meski terlihat sederhana, untuk menghasilkan sebuah gambar animasi tidaklah mudah. Minimal ada dua tahapan kerja yang mesti dilakukan. Pertama adalah proses animad alias membuat desain model, membangun cerita dan gambar, serta menentukan angle kamera. Selanjutnya hasil kerja itu dimasukkan ke dalam komputer. Sementara proses kedua adalah pasca-animad, yaitu mengedit dan memberi pencahayaan, efek, musik, dan suara.

Tak pelak, karena berhubungan dengan program-program komputer, untuk menggeluti profesi ini, selain mesti jago menggambar, seorang calon animator juga harus menguasai teknologi. Tidak heran jika saat ini yang menekuni profesi animator umumnya jebolan perguruan tinggi, dengan jurusan-jurusan yang dekat dengan desain. “Kebanyakan dari jurusan arsitektur, ujar Deswara Aulia, produser eksekutif rumah produksi Dimensia.

Bermunculan sekolah dengan jurusan animasi
Seorang animator, ujar Deswara, umumnya juga mempunyai hobi yang sama. Biasanya mereka menyukai membaca komik dan menonton film. Banyak pula yang menempuh profesi ini karena hobi tadi. “Saya suka sekali membaca komik dan menonton film,ujarnya.

Saking sukanya, hampir setiap hari dia menonton film. Bahkan sebuah film animasi bisa ditontonnya berkali-kali. Film The Lord of the Ring misalnya, ditontonnya hingga puluhan kali. “Dari menonton, saya mendapat banyak ide tentang desain, kata animator yang pernah bekerja di banyak rumah produksi ini.

Namun menurut Patar, meski kebanyakan yang menekuni profesi itu adalah jebolan universitas, untuk menggelutinya tidaklah sulit. Bahkan itu bisa dilakukan secara autodidak. Caranya dengan banyak membaca buku tentang animasi dan rajin mengutak-atik komputer.

Hal paling membantu, ujar Patar, adalah dengan mengikuti mailing list pencinta animasi di luar negeri. Dari sana pula ia terus tertantang untuk dapat membuat animasi. Jika dikirimi gambar animasi yang bagus, saya seperti tertantang untuk dapat membuatnya. Saya juga tanya-tanya bagaimana cara membuatnya,ujarnya.

Rupanya meningkatnya minat orang untuk mempelajari ilmu animasi ini mendapat respons cepat dari lembaga pendidikan. Sejak dua tahun lalu mulai bermunculan sekolah yang membuka jurusan animasi. Paling tidak di Jakarta terdapat lebih dari lima sekolah animasi seperti Digital Studio, Cyber Media, Lasalle Colege, Next Academy, dan Institut Kesenian Jakarta.

Hanya saja, ujar Deswara, sekolah tidak menjamin seseorang menjadi animator yang baik. Masih ada hal lain yang harus dipelajari oleh seorang animator pemula, yaitu melatih kepekaan. Bagian ini rupanya yang paling sulit. “Ini tidak bisa dipelajari, cetus alumnus Arsitektur Universitas Parahyangan itu, “Ini terbentuk sendiri melalui jam terbang.

Bagi Deswara, profesi ini memang cukup unik. Sebagai animator, ia merasa seperti pencipta suatu dunia yang tidak mengacu sama sekali dengan realitas. Seorang animator benar-benar seperti mencipta dari nol, dari sesuatu yang sebelumnya belum ada sama sekali. “Sepertinya menciptakan sebuah dunia baru, katanya.

Dan karena masih baru, demikian Deswara, sampai sekarang masih sedikit orang yang terjun di profesi ini. Mungkin, belum sampai seratus orang yang benar-benar total terjun ke bidang ini. Apalagi yang menguasai berbagai spesialisasi animasi. Misalnya, untuk spesialis character animation yang bertugas mendesain suatu obyek sehingga benar-benar tampak hidup dan bernyawa. Demikian pula dengan spesialis visual efek animasi yang bertugas memberi efek-efek tertentu pada gambar. Saat ini untuk kedua bidang itu tidak lebih dari lima orang yang dianggap benar-benar menguasai.

Tak pelak, karena masih langka dan banyak yang membutuhkan, harga jual profesi ini pun semakin tinggi. Seorang animator freelance seperti Patar biasanya mematok harga berdasarkan lama kerja dan tingkat kesulitan pengerjaan. Bayaran yang mereka peroleh dihitung berdasarkan proyek. Jika mengerjakan animasi iklan, bayarannya dihitung per iklan. Sementara, untuk sinetron dihitung per episode.

Waktu pengerjaan proyek pun umumnya bervariasi. Tergantung suasana hati dan keseriusan,ujar Patar. Tetapi untuk sinetron, Patar sudah mematok satu episode selesai dalam waktu satu minggu, sedangkan untuk iklan biasanya lebih cepat, sekitar 3 hari. Tapi itu semua tergantung juga tingkat kesulitannya, ujarnya.

Saat ini sebagai freelancer, ia dipastikan menyelesaikan satu episode sinetron per minggu. Harga satu episode yang ia patok ke rumah produksi adalah Rp 5 juta per episode. Artinya, dalam satu bulan Patar mempunyai pendapatan pasti sekitar Rp 20 juta.

Kocek Patar akan makin menggelembung jika ditambah proyek lainnya, seperti membuat iklan dan company profile sebuah perusahaan. Wajar apabila Patar berani meninggalkan pekerjaan lamanya sebagai animator tetap di Starvision. “Padahal saya digaji sebulan Rp 10 juta di sana, ujarnya.

Hanya saja, seorang animator freelance harus siap bekerja berdasarkan musiman. Artinya order pembuatan animasi tak selalu banyak sepanjang tahun. Musim paling ramai untuk para animator adalah ketika tahun ajaran baru. Biasanya pada saat itu banyak iklan yang menggunakan tenaga animator. “Akhir tahun biasanya [order] sepi. Untung saja masih ada sinetron yang ada terus sepanjang tahun,ujar Patar.

Sementara, animator yang bekerja di griya produksi pembayarannya dilakukan dengan sistem gaji tiap bulan. Biasanya seorang animator dengan kualitas biasa saja akan mendapat bayaran sekitar Rp 2,5 juta per bulan. “Sedangkan yang memiliki kualitas lebih baik akan mendapat gaji minimal Rp 5 juta,ujar Patar.

Nah, yang punya bakat menggambar silakan mencoba.

%d blogger menyukai ini: