Posts from the ‘Dinamika penelitian’ Category

ESENSI PENGENDALIAN EKSPERIMEN DALAM ILMU PENDIDIKAN


A. Pendahuluan

Ciri umum pengembangan ilmu pengetahuan adalah dilakukannya penelitian-penelitian ilmiah bagi cabang ilmu pengetahuan yang ada. Makin banyak penelitian dilakukan bagi suatu cabang ilmu maka makin kokoh keberadaan cabang ilmu tersebut di lingkungan keilmuan, dan makin profesional pula kemungkinan penerapan cabang ilmu tersebut.

Ilmu pendidikan, sebagai bagian dari ilmu-ilmu sosial, merupakan cabang ilmu yang relatif muda dan masih harus terus menerus memperjuangkan eksistensinya agar benar-benar berterima serta tidak inferior terhadap cabang-cabang ilmu pengetahuan yang lain, khususnya terhadap ilmu-ilmu alam (natural sciences). Dalam melaksanakan berbagai penelitian ilmiah dalam bidang pendidikan, sebagian ahli pendidikan tentu saja akan sampai pula pada pengamatan hubungan antar fenomena yang bercorak hubungan sebab-akibat (causal relationship). Untuk menjelaskan hubungan kausalitas antar variabel ini jenis penelitian yang perlu banyak dilakukan dan yang mempunyai daya penjelasan terbaik atau terkuat adalah jenis eksperimen.

Untuk melaksanakan dan mendapatkan hasil penelitian jenis eksperimen yang sebaik-baiknya, peneliti atau calon peneliti pendidikan harus benar-benar memahami dahulu ciri-ciri serta persyaratan pelaksanaan penelitian eksperimen itu sendiri. Hal ini perlu demikian adanya agar para peneliti tidak terjebak dalam pengambilan kesimpulan yang salah (bias) atas hasil-hasil penelitiannya. Penelitian jenis eksperimen mempunyai kelebihan dan kekurangan tersendiri sehingga kemungkinan keterpakaiannya dalam suatu cabang ilmu berbeda-beda antara satu dengan yang lain, tergantung pada karakteristik dari cabang-cabang ilmu yang hendak menggunakannya.

Makalah ini mencoba mengangkat sebagian isu penting penelitian jenis eksperimen dalam rangka berandil guna bagi kejelasan dan pemantapan pengembangan penelitian-penelitian pendidikan yang sedang atau akan dilakukan para peneliti pendidikan, khususnya dari kalangan sivitas akademika IKIP dan sejenisnya.

B. Logika Dasar Eksperimentasi

Eksperimentasi dimulai dengan mengembangkan hipotesis hubungan sebab-akibat antara variabel terikat dan variabel bebasnya. Selanjutnya dilakukan berturut-turut: pengukuran nilai (kualitas) variabel terikatnya (pretest), mengenakan perlakuan (kondisi pengubah nilai) terhadap variabel bebasnya, dan mengukur kembali nilai variabel terikatnya (posttest) untuk melihat ada tidaknya perubahan nilai (kualitas). Masalah pokok dalam melaksanakan eksperimen adalah menjaga kondisi eksperimen sedemikian sehingga tidak ada faktor lain yang sempat menyertai jalannya eksperimen yang dapat mengacaukan atau mengaburkan pengukuran hasil penelitian (posttest).

Di sisi lain, suatu eksperimen adalah suatu kegiatan empirik yang ciri hakikinya justru terikat pada ruang dan waktu. Selama berada dalam kondisi ruang dan waktu eksperimen, khususnya yang terkait dengan ruang yang luas dan waktu yang lama, kemungkinan bagi proses eksperimen untuk tidak terganggu dari faktor yang tidak diinginkan sungguh merupakan hal yang sulit terjadi kalau tidak dapat dikatakan mustahil. Seni melaksanakan eksperimen terletak pada usaha dan kemampuan peneliti untuk melindungi jalannya eksperimen dari segala gangguan dari luar yang dapat mempengaruhi hasil eksperimen.

Bobot perlindungan eksperimen dari gangguan luar ini disebut keterlindungan atau closure. Kualitas eksperimen, dan pada gilirannya juga keterpakaian atau kegunaan hasil eksperimen, akan sangat ditentukan oleh bobot atau kekokohan keterlindungannya. Dari sini dapat disimpulkan bahwa pengembangan dan perkembangan berbagai ragam rancangan eksperimen pada hakikatnya adalah aktualisasi dari penguatan keterlindungan ragam rancangan eksperimen termaksud.

C. Penerapan Eksperimen dalam Ilmu-ilmu Alam dan Ilmu-ilmu Sosial

Dalam eksperimen pada ilmu-ilmu alam peneliti secara relatif mempunyai kemampuan melindungi variabel (closure) yang tinggi dengan cara membuat lingkungan buatan sehingga menutup kemungkinan pengaruh dari luar. Di sini dikatakan bahwa peneliti memiliki closure yang sempurna. Di sisi lain, karena ilmu-ilmu sosial terkait dengan subjek yang berujud manusia, pengendalian-pengendalian tersebut akan terikat dengan aspek-aspek etis, moral, dan pertimbangan-pertimbangan hukum. Selain itu, peneliti juga tidak dapat mengubah unsur-unsur pribadi subjeknya, misalnya, seks, umur, status ekonomi, pendidikan, pekerjaan, dan penghasilan.

Jadi, tampak bahwa eksperimen memang merupakan metode yang dapat dan tepat serta umum dipakai untuk mengumpulkan data dalam ilmu-ilmu alam, namun, dengan alasan seperti tersebut di atas, jenis eksperimen memang kurang luas dan cukup sulit serta rumit untuk dapat digunakan dalam ilmu-ilmu sosial. Walaupun demikian, untuk dapat melaksanakan eksperimen, peneliti ilmu-ilmu sosial dapat menggunakan sejumlah kendali yang bercorak simbolik, yaitu tidak dengan mengubah nilai-nilai dari subjeknya, melainkan mempertahankan nilai-nilai itu tetap selama eksperimen dilaksanakan, misalnya, peneliti memang tidak dapat mengubah kelamin subjeknya, tetapi peneliti dapat menganalisis secara terpisah untuk seks yang berbeda.

Dalam sebagian besar eksperimen bidang ilmu-ilmu sosial, khususnya bidang pendidikan, pengendalian penuh kondisi eksperimen umumnya tidak dapat dilaksanakan. Dengan subjek berupa manusia, secara teoritik, akan ada beribu-ribu faktor yang mungkin mengotori suatu eksperimen. Hakikat cara untuk mengurangi pengotoran tersebut adalah membuat eksperimen termaksud sesingkat mungkin (pengendalian aspek waktu) dan dilakukan dalam ruang (tempat) yang terbatas dan terlindung (laboratorium). Bila penyingkatan waktu dan penggunaan laboratorium ini tidak dimungkinkan, maka peneliti harus puas atau sadar untuk menerima kenyataan bahwa hasil eksperimen yang diukurnya (posttest) pasti telah terkotori oleh faktor-faktor lain yang tidak diperhitungkan dalam eksperimen termaksud. Langkah selanjutnya yang perlu diambil adalah bahwa peneliti harus berusaha mengukur semua pengaruh-pengaruh dari luar tersebut, dan kemudian mengeluarkannya dari nilai perbedaan antara posttest dan pretest yang didapatnya, sehingga sisa dari pengeluaran itu dapat dianggap (syah) sebagai hasil perlakukan eksperimen yang dimaksudkan. Bagaimana caranya?

Secara umum, cara yang dapat dilakukan untuk menghindari salah ukur dan salah tafsir terhadap hasil eksperimen adalah menggunakan dua kelompok amatan, yaitu kelompok eksperimen dan kelompok pembanding. Terhadap dua kelompok ini harus dapat dikenai dua asumsi pokok, yaitu, pertama bahwa subjek pada kedua kelompok mempunyai karakteristik yang sama. Kedua, baik pretest maupun faktor-faktor lain yang mempengaruhi subjek pada kedua kelompok mempunyai bobot yang sama pula.

D. Validitas Dalam pada Rancangan Eksperimen

Sekarang telah banyak tersedia rancangan-rancangan eksperimen tertentu yang sengaja dikembangkan untuk meniadakan pengaruh-pengaruh tertentu yang disesuaikan dengan tujuan penelitian eksperimen yang tertentu pula. Rancangan-rancangan khusus tersebut, yaitu rancangan yang mengandung usaha-usaha untuk meyakinkan adanya kebenaran (ketepatan dan kecermatan) hasil eksperimen, adalah hasil aktualisasi usaha untuk meningkatkan validitas dalam (internal validity) dari rancangan-rancangan eksperimen yang bersangkutan.

Untuk rancangan eksperimen yang dapat mengembangkan perlindungan penuh terhadap jalannya eksperimen atau rancangan eksperimen yang dapat mencapai penjelasan yang cukup akurat terhadap proses pengukuran hasil eksperimennya (melaksanakan berbagai usaha kompensasi terhadap segala atau berbagai pengotoran yang mungkin) atau rancangan eksperimen yang mempunyai validitas dalam yang sempurna disebut rancangan eksperimen murni (True Experimental designs). Untuk rancangan eksperimen yang hanya dapat mengembangkan perlindungan sebagian terhadap jalannya eksperimen atau rancangan eksperimen yang hanya dapat mencapai sebagian saja penjelasan yang cukup akurat terhadap proses pengukuran hasil eksperimennya atau rancangan eksperimen yang mempunyai validitas dalam yang hanya memadai disebut rancangan eksperimen kuasi (Quasi Experimental Designs). Sedangkan rancangan eksperimen (rancangan yang mengenakan perlakuan terhadap subjek) namun tidak mengembangkan perlindungan terhadap jalannya eksperimen atau rancangan yang tidak mempunyai validitas dalam yang memadai disebut rancangan pra-eksperimen (Pre-Experimental Designs atau Nondesigns).

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi bobot atau kualitas validitas dalam suatu rancangan eksperimen atau faktor-faktor yang mungkin mengotori jalannya eksperimen berserta kemungkinan kompensasinya adalah sebagai berikut.

1. Pengotoran karena Sejarah (History)

Dalam penelitian istilah “history” dimaksudkan sebagai semua kejadian di luar yang dimaksudkan dari suatu eksperimen yang muncul bersamaan dengan saat dilakukannya suatu eksperimen sehingga sangat mungkin mengukur hasil eksperimen terganggu atau terkotori oleh adanya kejadian tersebut. Untuk menghindari hal ini umumnya digunakan suatu grup pembanding yang dalam segala aspek terkena kejadian luar yang sama dengan kejadian luar yang mengenai kelompok eksperimen. Bedanya hanyalah bahwa kelompok pembanding tidak dikenai perlakuan eksperimen yang hendak diamati. Bila pengukuran nilai yang diamati pada kedua kelompok menunjukkan perbedaan, maka sangat mungkin perbedaan tersebut adalah akibat perlakuan eksperimen itu sendiri.

2. Pengotoran karena Pemilihan (Selection)

Pada suatu eksperimen mungkin saja kelompok subjek yang dikenai perlakuan kebetulam mempunyai karakteristik tertentu yang justru bersesuaian atau bertentangan secara khusus dengan unsur yang dieksperimenkan. Dengan demikian, hasil eksperimen ini menjadi bersifat khusus sehingga tidak dapat digeneralisasikan seperti yang dirancangkan. Untuk menghindari hal ini subjeknya harus dikenai randomisasi pemilihan baik untuk masuk sebagai anggota dalam kelompok eksperimen maupun untuk kelompok pembanding. Untuk usaha randomisasi ini telah tersedia berbagai cara yang perlu dipilih bersesuaian dengan bentuk dan tujuan rancangan eksperimennya.

3. Pengotoran karena Kematangan (Maturation)

Bias kematangan terkait dengan proses perubahan yang terjadi dengan sendirinya dalam diri subjek yang dikenai perlakuan eksperimen. Khususnya untuk jenis eksperimen yang membutuhkan waktu yang lama, sehingga selain terkena perlakuan, subjek yang bersangkutan dengan sendirinya sudah berubah karakteristiknya. Cara mengatasinya adalah juga dengan menyediakan kelompok pembanding yang mempunyai sifat pertumbuhan kematangan yang sama dengan pertumbuhan kematangan kelompok eksperimen. Atau dapat pula dengan cara, kalau dimungkinkan, menggunakan rentang waktu perlakuan yang sangat pendek, sehingga pertumbuhan yang ada masih dapat diabaikan pengaruhnya.

4. Pengotoran karena Tes (Testing)

Pengalaman pernah mengikuti tes yang sejenis, misalnya pretes, sangat mungkin memberikan pengaruh pada proses pengerjaan tes berikutnya, misalnya postes, sehingga hasil postes ini tidak murni lagi menggambarkan pengaruh perlakuan yang dieksperimenkan, melainkan tercampur dengan pengaruh pengalaman mengikuti tes sebelumnya. Kompensasinya adalah dengan menyediakan kelompok pembanding tambahan yang juga dikenai perlakuan namun tidak dikenai pretes.

5. Pengotoran karena Instrumen (Instrumentation)

Pengamat, evaluasi atau evaluator, penginterviu (semacam bentuk instrumen) dan bagian-bagian instrumen penelitian yang lain yang disertakan dalam perjalanan waktu eksperimen sangat mungkin berubah kondisi dari waktu ke waktu, misalnya, kelelahan, kejenuhan, keantusiasan, keterpesonaan, keausan dan lain-lain yang akan mempengaruhi objektvitas pengamatan atau penilaiannya. Dengan demikian pengukuran hasil akhir eksperimen dengan sendirinya ternoda atau terkotori. Kompensasi untuk kondisi ini adalah persiapan antisipatif yang matang terhadap kemungkinan itu sendiri.

6. Pengotoran karena Regresi Statistik (Statistical Regression)

Dalam melakukan analisis statistik tertentu, sangat mungkin ada langkah-langkah yang sengaja dilakukan demi penyederhanaan atau kepraktisan pelaksanaan, misalnya penyeleksian subjek dengan intervalisasi atau kategorisasi kelompok sekor tinggi dan rendah dengan sekor tertentu yang kasar atau berbeda tajam. Langkah-langkah ini tentu saja mengurangi kemurnian pengukuran hasil penelitian, karena akan terjadi kecenderungan pada postes pengisian bagian sekor yang hilang. Yang ekstrem tinggi cenderung direndahkan, sedang yang ekstrem rendah cenderung dinaikkan. Kompensasinya adalah menghindari seleksi dengan sekor ekstrem.

7. Pengotoran karena Subjek Gugur (Experimental Mortality)

Bila yang gugur justru subjek-subjek pokok yang diamati dalam eksperimen jelas hasil akhir eksperimen akan tidak memadai. Kompensasinya adalah menggunakan sampel yang cukup besar dan randomisasi yang cukup sempurna.

8. Pengotoran karena Kestabilan (Stability)

Perubahan-perubahan yang bersifat kebetulan atau spo­radik sangat mengganggu kemurnian hasil eksperimen. Hal ini dapat diketahui dengan berbagai cara tes statistik. Untuk kompensasi hal ini belum ada saran yang dapat diajukan.

9. Pengotoran karena Kombinasi Interaktif (Interactive Combinations of Factors)

Pengotoran ini sangat banyak ragamnya, khususnya eksperimen yang menginklusikan banyak variabel. Kompensasinya adalah dengan pengembangan teoritisasi hubungan antar variabel yang secermat mungkin, termasuk kemungkinan hubungan interaktifnya.

10. Pengotoran karena Harapan (Expectancy)

Karena satu dan lain hal, pelaksana perlakuan eksperimen, secara sadar atau tidak sadar, sangat mungkin mempunyai pengharapan tertentu atas berhasilnya eksperimen. Akibat dari adanya harapan ini sangat mungkin tanpa sadar yang bersangkutan memberikan secara nyata atau tersirat hal-hal atau kunci-kunci keberhasilan eksperimen kepada subjek eksperimen. Dengan demikian pengukuran hasil eksperimen akan dikotori dengan pengaruh harapan pelaksana eksperimen tersebut. Kompensasinya, antara lain, adalah mengkondisi pelaksana agar tidak tahu atau tidak sadar kalau sedang melakukan eksperimen.

E. Kesimpulan

Eksperimen merupakan metode dengan kendali yang tinggi untuk menunjukkan keberadaan hubungan sebab-akibat (causal relationship) antara satu atau lebih variabel bebas dan satu atau lebih variabel terikat. Pada eksperimen yang ideal peneliti melakukan kendali atau kontrol terhadap lingkungan di tempat eksperimen tersebut dilakukan dan menjaga agar kondisi lingkungan tersebut tetap agar faktor-faktor luar tidak mempengaruhi jalannya ekpserimen.

Telah tersedia berbagai rancangan eksperimen yang mempunyai sistem kendali yang berbeda-beda terhadap kemungkinan-kemungkinan pengotoran pengukuran hasil eksperimen. Rancangan ini perlu dipilih oleh calon peneliti sesuai dengan tujuan penelitian serta kemampuan umum penanganannya.

Kepustakaan

Tuckman, B.W. (1978). Conducting Educational Research. Second Edition. New York: Harcourt Brace Jovanovich, publishers.

Bailey, Kenneth D. (1976). Methods of Social Research. London: Collier Macmillan Publishers.

Kenapa menunda skripsi?


Banyak orang yang sering menunda-nunda rencananya. Dan banyak alasan bisa melatarbelakanginya, baik itu menunggu saat yang tepat, atau merasa kurang mantap. Namun procrastination atau menunda-nunda adalah salah satu gejala yang cenderung merugikan.

Sebab saya pun adalah orang yang senang menunda-nunda pekerjaan. Seringkali saya baru akan memulai mengerjakan tugas diakhir batas tenggat waktu. Sebab rasa-rasanya saya baru dapat berpikir jernih ketika under preasure mengejar deadline. Memang sepertinya tidak ada masalah dengan menunda-nunda sebab toh pada akhirnya tugas selesai juga.

Kadang-kadang menunda-nunda sesuatu itu dapat menjadi hal yang positif. Sebab sesuatu yang akan berakibat buruk menjadi tertunda pula.

Sebagai contoh: saya mencintai seorang perempuan yg sangat saya kagumi, akan tetapi rasa-rasanya saya tidak dapat berbuat apa-apasebagai berikut jika saya menyampaikannya bahwa saya sayang dia mungkin dia akan menjawab: maaf saya telah punya pacar! AAA TIIDAAAK! Lebih baik saya tunda-tunda sampai situasi aman dan terkendali istilah ABRI-nyamah. Tetapi tidak semua penundaan membawa maslahat malah seringkali banyak mudharatnya.

Akan tetapi mengapa manusia sering menunda-nunda sesuatu?

Mari kita lihat pendapat psikolog Dr. Lenora M. Yuen, dari California University.

Perfeksionis
Pefeksionis adalah salah-satu penyebab utama penundaan, yaitu sikap yang disebabkan oleh pikiran yang tidak realistis. Dosen saya bercerita tentang seorang mahasiswa yang belum juga menyelesaikan sekripsinya selama 1 tahun. “Padahal dia itu telah mempunyai segudang catatan, tetapi itu tidak akan membuatnya lebih baik,” sebab menurut dosen saya. “Itu terlalu banyak, lebih dari yang dia butuhkan.”

Takut Salah
Penundaan sering kali datang dari ketakutan, lebih tepatnya rasa takut salah. Orang yang seperti ini tidak akan pernah mengetahui kemampuan mereka yang sesungguhnya karena sifatnya yang sering menunda-nunda sesuatu.

Cepat Frustasi
Setiap manusia pada umumnya dapat memahami betapa menyenangkannya dapat menyelesaikan tugas. Tetapi memikirkan pekerjaan bisa sangat tidak tertahankan. Sehingga berakhir tanpa tindakan dan malah Frustasi.

Pemarah
Beberapa orang seringkali menunda-nunda sesuatu ketika mereka marah kepada orang lain (atau lembaga yang bersangkutan). Orang sering marah apabila memilki terlalu banyak hal yang harus dikerjakan, sehingga menunda-nunda adalah jalan untuk mengatakan, “Ini terlalu banyak.”

Tidak Dapat Mengatakan Tidak
Ketika teman mengatakan “Main yu?” maka seorang procrastinatior cenderung untuk tdk bisa mengetakan tidak. Atau mereka mengalami kesulitan untuk mengatakan: “Jika saya main nanti skripsi saya tertunda…” (Oh no. belagu bgt.)

Lebih Senang Bekerja Dalam Tekanan
Orang seperti ini biasanya mengaku akan lebih baik bekerja di dalam tekanan, atau mereka lebih menyukai saat-saat akhir. Namun hal ini bisa manjadikan banyak masalah. (Efek dari interaksi kita dengan orang lain)

Tidak Memiliki Batas Waktu
Ketika kita berkerja tanpa batas waktu, kita bisa mengatakan pada diri kita sendiri “Nanti ajalah dipikir dulu caranya.” Maka mungkin kita tidak akan pernah dapat menyelesaikannya dengan cara hanya memikirkannya.

Memiliki Hal Kecil yang Harus Dilakukan
Hal-hal kecil merupakan penyebab banyaknya penundaan. Hal itu membuat kita sulit bekerja.

Maka apa yang harus dilakukan?

Mengindentifikasi Masalah
Jika Anda seorang procrastinator atau takut akan salah. Maka temukanlah pola kenapa Anda menunda-nunda suatu pekerjaan. Sehingga Anda dapat mengungkap pekerjaan apa yang selalu Anda tunda. Atau memerlukan keterampilan baru (penguasaan materi) guna terbebas dari rasa takut. Atau Anda dapat tidak mengambil pekerjaan yang dapat membuat Anda marah jika mengerjakannya. (Tapi skripasimah wajib!)

Membuat Komitmen
Buatlah komitmen untuk berubah. (Siap. Grak.)

Atur Waktu Memulai
Jika kebanyakan orang menandai batas akhir waktu skripsi. Maka bagi seorang procrastinator menjadwalkan waktu untuk memulai sesuatu sangatlah penting. Hal ini berguna untuk mengetahui lama (atau pendeknya) waktu yang diperlukan untuk menyusun skripsi. Agar tdk berlarut-larut. (Sip lah!)

Menjadwalkan Batas Akhir Kerja
Buatlah potongan ditengah jadwal yang panjang dlm menyelesaikan tugas Anda, misal: enam bulan untuk menyelesaikan skripsi Anda; satu hari khusus untuk main PS! (Yes.)

Mengatur Jadwal
Atur secara teliti berapa waktu yang diperlukan setiap harinya untuk mengerjakan skripsi. Tuliskan janji di kalendar Anda. Lakukan apa yang telah Anda janjikan guna memberikan rasa berhasil terhadap Anda.

Hentikan Pekerjaan Besar Guna Melakukan Hal Kecil
Jika tujuan Anda menyusun sebuah skripsi, maka jangan berfikir harus menyelesaikan 200 halaman, akan tetapi paragraf demi paragraf, satu kata setiap kali.

Berpikir Terlebih Dahulu
Jika Anda memiliki prioritas hal penting dan hal sepele untuk dikerjakan. Maka kerjakanlah hal-hal yang dianggap sepele terlebih dahulu, guna selanjutnya hanya mengerjakan hal yang penting dan mengesampingkan yang sepele. Save file skripsi Anda jika terasa lelah, atau matikan komputer, atau diamlah jika jika tidak ada hal yang lebih baik untuk dikerjakan.

Kerjakan Hal yang Terburuk Terlebih Dahulu
Buatlah jadwal mingguan pertama Anda untuk mengerjakan hal yang paling dibenci oleh Anda. Sehingga akan terlihat lebih mudah selanjutnya. (Siap grak!)

Perbaiki Lingkungan Anda
Buatlah sesuatu yang membosankan terasa lebih menyenangkan. Misalanya dengan memutar musik atau mengundang teman untuk berdiskusi dan berkerjasama. Musik dan percakapan dapat membantu memudahkan pekerjaan Anda, namun demikian akan sedikit memperlambat kinarja Anda. Atau pergilah ke tempat yang sunyi.

Berikan Diri Anda Hadiah
Berikan diri Anda hadiah bagaimanapun jalannya. Si Unyil mengaku hanya karena ia akan menghadiahi dirinya sendiri ia dapat menyelesaikan skripsi sarjananya dengan makanan favoritnya setiap kali ia menyelesaikan beberapa paragraf. (Yes lintuh atuh uy!)

Berkelompok dan Minta Dukungan Teman
Beritahu teman-temanmu apa yang menjadi tujuanmu. Hal ini akan menjadi tekanan yang positif dan dengan berkelompok Anda mungkin akan mendapat bantuan.

Menjaga dan Mencatat Setiap Saat yang Tepat
Catat berapa banyak waktu yang dihabiskan selama Anda melakukan penundaan, berapa banyak Anda menelepon, berapa kali Anda duduk di pertemuan. Dengan demikian Anda dapat melihat berapa banyak waktu yang telah Anda habiskan untuk hal-hal yang kurang berguna.

Buatlah permainan guna mengalahkan sifat menunda-nunda. Biasakan diri Anda untuk tidak hanya memandang hasil akhir tetapi lebih pada sebuah proses keberhasilan kecil yang berturut-turut. Ini adalah ringkasan guna menolong Anda untuk mengalahkan sifat menunda-nunda:

1. Menyatakan tujuan.
2. Atur waktu yang rasional untuk menyelesaikannya.
3. Beri tanda deadline di jadwal Anda.
4. Temukan seseorang yang dapat memberikanmu saran dan motifasi.
5. Berjanjilah pada diri sendiri untuk memberikan hadiah setiap kali Anda menyelesaikan tiap bagian selama proses pengerjaan.

Maka kapan Anda akan memulai skripsi?

%d blogger menyukai ini: