Posts from the ‘MANAJEMEN DIRI’ Category

Dahsyatnya Otak Dan Pikiran Manusia


brainjar_2A.PENDAHULUAN

            Bila diminta membayangkan sosok yang cerdas, siapa yang muncul di benak Anda? Banyak orang akan membayangkan ilmuwan terkenal seperti Albert Einstein atau B.J. Habibie, atau kenalan dan saudarayang punya prestasi cemerlang di sekolah. Gambaran ini tidak salah. Kecerdasan memang identik dengan kemampuan intelektual yang tercermin dalam prestasi dibidang ilmu pengetahuan.

Pertanyaannya,apakah kemampuan intelektual bisa berubah? Kita semua pasti pernah punya temanyang dianggap kurang cerdas, yang kerap kesulitan mengikuti pelajaran disekolah. Atau mungkin kita sendiri pernah dianggap sebagai orang dengan kemampuan intelektual yang kurang. Dapatkah orang seperti ini menjadi lebih cerdas melalui usaha dan proses belajar? Bertambah cerdas di sini bukan hanyabertambah pengetahuan, melainkan benar-benar menjadi punya kemampuanintelektual yang lebih daripada sebelumnya.

Sebagian dari kita mungkin ragu bahwa siswa yang tadinya terseok-seok mencerna pelajaran, di kemudian hari bisa menjadi “berotak encer” dan bersinar di sekolah. Bukankah kecerdasan itu potensi dasar yang terberi, yang ditentukan sejak lahir? Seseorang bisa saja mempelajari hal-hal baru, tapi kapasitas dasarnya untuk belajar itu sendiri tidak akan banyak berubah. Mungkin Anda merasa bahwa kecerdasan adalah semacam bakat untuk bidang akademik. Dan sebagaimana bakat-bakat bidang lain, kecerdasan adalah potensi yang bisa diolah, namun “volumenya” tidak bertambah. Seseorang dengan kecerdasan pas-pasan perlu usaha lebih keras untuk mencapaiprestasi akademik yang baik, dibandingkan seseorang yang memang dari “sononya” sudah cerdas!

Namun apakah asumsi-asumsi ini sejalan dengan hasil penelitian tentang kecerdasan? Untuk menjawabnya, pertama-tama kita perlu menilik dahulu apa yang dimaksud dengan kecerdasan. Dalam ilmu psikologi, istilah yang kerap dikaitkan dengan kecerdasan adalah “inteligensi”. Pada awal abad ke-20, pemerintah Perancis meminta seorang ahli psikologi bernama Alfred Binet membuat tes guna mengidentifikasi siswa yang kemungkinan besar akan mengalami kesulitan mengikuti pelajaran sekolah. Tes buatan Binet ini kemudian disebut sebagai tes inteligensi, dan hasilnya disebut sebagai skor IQ (intelligence quotient).

Setelah Binet, banyak ahli psikologi yang juga mengembangkan tes inteligensi. Pada umumnya, tes-tes inteligensi mengukur kemampuan berpikir secara analitik dengan angka (numerik), kata-kata (verbal), dan/atau visual (ruang dan gambar). Berpikir analitik merujuk pada proses mencari relasi, mengidentifikasi pola, dan menggolong-golongkan objek secara efisien (cepat) dan sistematis. Salah satu cara mengukur kemampuan berpikir analitik adalah memberi seseorang serangkaian bentuk, kemudian memintanya menebak bentuk apa yang secara logis menjadi kelanjutan dari rangkaian tersebut. Cara lain adalah dengan menanyakan kesamaan antara dua konsep, misalnya “pena” dan“pensil”.

Skor IQ memang memprediksi keberhasilan siswa di sekolah. Tampaknya skor IQ juga sulit untuk ditingkatkan secara signifikan. Selain itu, pengaruh faktor keturunan pada skor inteligensi cukup kuat. Kembali ke pertanyaan utama esai ini, apakah berarti kecerdasan kita tidak bisa diubah? Apakah keberhasilan seseorang di sekolah semata-mata masalah “nasib”? Untungnya, jawabannya tidaklah sesuram itu!

Pertama, skor IQ memang memprediksi prestasi sekolah (dan juga prestasi kerja di berbagai bidang), tapi daya prediksinya tidaklah sebesar yang kerap diasumsikan. Untuk prestasi di sekolah, keterampilan belajar seperti cara mencerna bacaan atau kuliah, cara menyiapkan ujian, serta kemampuan menyampaikan gagasan punya andil yang sama atau bahkan lebih besar daripada IQ. Demikian juga untuk prestasi kerja, faktor-faktor seperti seperti kemampuan interpersonal, kemahiran berkomunikasi, dan pengetahuan memiliki sumbangan yang lebih besar daripada IQ

Kedua, skor IQ hanya mencerminkan bagian kecil dari kecerdasan, yakni aspek kecerdasan yang berguna untuk sekolah. Ahli-ahli kognitif seperti Robert Sternberg dan Keith Stanovich menyatakan bahwa aspek-aspek kecerdasan yang berguna dalam kehidupan justru tidak diukur oleh tes IQ. Stanovich menyebutkan dua keterampilan berpikir yang berguna untuk problem solving di banyak konteks, namun tidak diukur oleh IQ.

Yang pertama adalah kebiasaan mencermati dan mendefinisikan masalah secara menyeluruh dan seksama. Kebanyakan orang, termasuk mereka yang ber-IQ tinggi, kerap terjebak untuk memilih jalan singkat dan cepat untuk menyelesaikan persoalan. Padahal, cara cepat dan singkat itu seringkali tidak optimal. Kecenderungan ini tampak dalam cara orang menyelesaikan problem-problem sederhana seperti ini:

“Dina membeli sepatu dan kaus kaki.Ia membayar $110 untuk kedua hal itu. Harga sepatu $100 lebih mahal daripadakaus kaki. Berapa harga sepatu tersebut?”

Kalau Anda seperti saya dan banyak orang lain, maka jawaban yang terpikir pertama adalah angka $100. Tapi ini keliru. Cobalah pikirkan dengan lebih hati-hati. Poin saya adalah bahwa kekeliruan ini merupakan hasil dari kecenderungan alami manusia untuk tergesa-gesa dalam merumuskan masalah yang dihadapi.

Kedua, aspek kecerdasan yang tidak diukur oleh IQ adalah kemampuan untuk menangguhkan asumsi, preferensi, dan keyakinan personal ketika menghadapi masalah. Kebanyakan orang, termasuk yang ber-IQ sangat tinggi, sering bias dalam mengevaluasi pendapat/situasi dan karena itu kerap mengambil keputusan berdasarkan evaluasi tersebut. Ambil contoh berita yang akhir-akhir marak mengenai korupsi yang melibatkan petinggi sebuah partai politik cukup besar. Banyak simpatisan partai tersebut yang menilai bahwa Komisi PemberantasanKorupsi (KPK) “berlebihan” dalam menyidik yang terlibat, dan lunak pada partai lain yang juga tersandung kasus korupsi. Namun mereka yang bukan simpatisan dapat menilai bahwa KPK sudah bertindak dalam koridor hukum.

Kedua keterampilan berpikir di atas ini tidak berkorelasi (atau berkorelasi lemah) dengan inteligensi (IQ). Berita bagusnya, keduanya dapat dilatih dan ditingkatkan. Dengan demikian, kecerdasan dan prestasi sekolah bukanlah masalah nasib semata!

B. SEJARAH PENGUKURAN KECERDASAN

Orang pertama yang berpikir mengenai kemungkinan dilakukannya pengukuran intelegensi atau kecerdasan adalah Galton, sepupu Darwin. Hal yang mendorongnya untuk memiliki pemikiran demikian adalah karena Galton tertarik pada perbedaan-perbedaan individual dan pada hubungan antara hereditas dan kemapuan mental.

Menurut Galton, ada dua kualitas umum yang membedakan antara orang yang lebih cerdas (more intelligent) dengan orang yang kurang cerdas (less intelligent), yaitu energi dan sensitivitas. Menurutnya orang yang cerdas itu memiliki tingkat energi yang istimewa dan sensitivitas terhadap rangsangan di sekitarnya. Semakin cerdas seseorang maka semakin sensitif terhadap rangsangan di sekitar kita. Pada tahun 1883, Galton mendirikan sebuah laboratorium antropometrik di London. Di Laboratorium inilah Galton mempelajari mengenai perbedaan-perbedaan individual.

Di Amerika Serikat, Cattel adalah orang pertama yang menggunakan istilah mental test. Pada tahun 1890 Cattel menerbitkan Mental Test and Measurement. Tes Cattel menekankan sensoy and perceptual task. Ia juga sering melibatkan perbedaan visual dan auditif. Oleh karena itu, tidak heran jika tes kecerdasan sekarang menekankan sensasi dan persepsi begitu kuat, sebagaimana yang dilakukan oleh psikologi pada pertengahan abad ke-19, terutama untuk penglihatan. Pada tahun 1891, Boas merupakan orang pertama yang berusaha membedakan skor tes dengan perkiraan subjektif yang independen dari kemapuan pribadi. Ia mengetes penglihatan, pendengaran dan hapalan 1.500 anak. Pada tahun 1892, Jastrow menyelenggarakan tes sensori dan hapalan terhadap 1.200 anak. Ia berusaha menghubungkan hasil-hasil tesnya dengan estimasi guru mereka atas kemampuan umum 1.200 anak tersebut.

Sejak awal abad ke 20 inteligensi disamakan dengan Intelligent Quotient (IQ). Pada tahun 1911, sebagai permintaan dari mentri pendidikan Perancis, Alfred Binet dan Theodore Simon mengembangkan sebuah tes yang mengidentifikasi resiko kegagalan sekolah pada anak. Tes ini bertujuan untuk menentukan siapa siswa yang beresiko mengalami kegagalan, sehingga ia diberi perhatian khusus. Pada tahun 1912, psikolog Jerman Wilhelm Stern mengemukakan tentang Intelligent Quotient atau IQ, yang mewakili rasio usia mental seseorang terhadap usia kronologis seseorang, yang diukur dengan menggunakan tes. Pada tahun 1920 Lewis Terman, seorang ahli psikometri dari Amerika, memperkenalkan Stanford Binet IQ test, merupakan tes pertama yang menggunakan kertas dan pensil, versi tes yang menggunakan kelompok dan teradministrasi dengan baik. Tes inteligensi dengan cepat menjadi bagian standar dari landasan pendidikan di Amerika.

Sejak saat itu orang-orang mengidentifikasikan inteligensi dengan pengukuran IQ. Hasil karya awal tentang IQ, khususnya hasil karya Terman memainkan peran yang signifikan dalam pengembangan dua keyakinan umum tentang inteligensi: bahwa inteligensi secara mendasar diwariskan dan secara umum bersifat statis dan tidak dapat dirubah.

C. DEFINISI KECERDASAN INTELIGENSI (IQ)

Menurut Mahfudin Shalahudin bahwa intelek adalah akal budi atau inteligensi yang berarti kemampuan untuk meletakkan hubungan-hubungan dari proses berpikir. Selanjutnya dikatakan bahwa orang yang intelligent adalah orang yang dapat menyelesaikan persoalan dalam tempo yang lebih singkat, memahami masalah lebih cepat dan cermat, serta mampu bertindak cepat. Menurut English & English dalam bukunya ” A Comprehensive Dictionary of Psichological and Psychoalitical Terms” dalam Sunarto dan Hartono istilah intellect berarti antara lain :

  1. Kekuataan mental dimana manusia dapat berpikir
  2. Suatu rumpun nama untuk proses kognitif, terutama untuk aktivitas yang berkenaan dengan berpikir ( misalnya menghubungkan, menimbang, dan memahami)
  3. Kecakapan, terutama kecakapan yang tinggi untuk berpikir

Menurut kamus Webster New World Dictionary of the American Language, dalam Sunarto dan Hartono istilah intellect berarti:

  1. Kecakapan untuk berpikir, mengamati atau mengerti; kecakapan untuk mengamati hubungan-hubungan, dan sebagainya. Dengan demikian kecakapan berbeda dari kemauan dan perasaan
  2. Kecakapan mental yang besar,sangat intellegence, dan
  3. Pikiran atau inteligensi

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian intelektual yaitu akal budi atau inteligensi yang berarti kemampuan untuk meletakkan hubungan dari proses berpikir, kemampuan untuk melakukan pemikiran yang bersifat abstrak atau tidak bisa di lihat (abstraksi), serta berpikir logis dan cepat sehingga dapat bergerak dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru. Orang yang intelligent adalah orang yang dapat menyelesaikan persoalan dalam waktu yang lebih singkat, memahami masalahnya lebih cepat dan cermat serta mampu bertindak cepat.

Istilah inteligensi, semula berasal dari bahasa Latin “intelligere” yang berarti menghubungkan atau menyatukan satu sama lain. Menurut William Stern salah seorang pelopor dalam penelitian inteligensi, mengatakan bahwa inteligensi adalah kemampuan untuk menggunakan secara tepat segenap alat-alat bantu dan pikiran guna menyesuaikan diri terhadap tuntutan-tuntutan baru. Sedangkan Leis Hedison Terman berpendapat bahwa inteligensi adalah kesangupan untuk belajar secara abstrak. Di sini Terman membedakan antara concret ability yangitu kemampuan yang berhubungan dengan hal-hal yang bersifat konkrit dan abstract ability yaitu kemampuan yang berhubungan dengan hal-hal yang bersifat abstrak. Orang dikatakan inteligent menurut Terman jika orang tersebut mampu berpikir abstrak dengan baik.

Menurut William H Calvin, dalam How Brain Thinks (Bagaimana otak berpikir), Piaget mengatakan, “Intelligence is what you use when you don’t know what to do (Kecerdasan adalah apa yang kita gunakan pada saat kita tidak tahu apa yang harus dilakukan). Sehingga menurut Calvin, seseorang itu dikatakan smart jika ia terampil dalam menemukan jawaban yang benar untuk masalah pilihan hidup.

Para ahli psikologi lebih suka memusatkan perhatiannya pada masalah perilaku inteligen (intelligence behavior), daripada membicarakan batasan inteligensi. Mereka beranggapan bahwa inteligensi merupakan status mental yang tidak memerlukan definisi, sedangkan perilaku inteligen lebih konkret batasan dan ciri-cirinya sehingga lebih mudah untuk dipelajari. Dengan mengidentifikasi ciri dan indikator perilaku inteligen, maka dengan sendirinya definisi inteligensi akan terkandung didalamnya. Diantara ciri-ciri perilaku yang secara tidak langsung telah disepakati sebagai tanda telah dimilikinya inteligensi yang tinggi, antara lain adalah :

  1. Adanya kemapuan untuk memahami dan menyelesaikan problem mental dengan cepat
  2. Kemampuan mengingat
  3. Kreativitas yang tinggi
  4. Imajinasi yang berkembang

Sebaliknya perilaku yang lamban, tidak cepat mengerti, kurang mampu menyelesaikan problem mental yang sederhana, dan semacamnya, dianggap sebagai indikasi tidak dimilikinya inteligensi yang baik.

Hagenhan dan Oslo menjelaskan bahwa inteligensi merupakan suatu tindakan yang menyebabkan terjadinya perhitungan atas kondisi-kondisi yang secara optimal bagi organisme dapat hidup berhubungan dengan lingkungan secara efektif. Sebagai suatu tindakan, inteligensi selalu cenderung menciptakan kondisi-kondisi yang optimal bagi organisme untuk bertahan hidup dalam kondisi yang ada.

Feldam mendefinisikan kecerdasan sebagai kemampuan memahami dunia, berpikir secara rasional, dan menggunakan sumber-sumber secara efektif pada saat diharapkan dengan tantangan. Dalam pengertian ini kecerdasan terkait dengan kemampuan memahami lingkungan atau alam sekitar, kemampuan penalaran atau berpikir logis, dan sikap bertahan hidup dengan menggunakan sarana dan sumber-sumber yang ada. Sedangkan Henmon mendefinisiakn inteligensi sebagai daya atau kemapuan untuk memahami. Wechsler mendefinisikan inteligensi sebagai totalitas kemampuan seseorang untuk bertindak dengan tujuan tertentu, berpikir secara rasional, serta menghadapi lingkungan dengan efektif.

D. PERAN KECERDASAN INTELIGENSI DALAM BELAJAR

Menurut Nickerson dalam Agus Efendi, diantara pendahulu tes kecerdasan adalah Binet. Hasil tes yang dilakukan oleh Alfred Binet dan koleganya menemukan bahwa peran kecerdasan intelegensi dalam belajar adalah sebagai berikut:

  1. Kecerdasan intelegensi berperan dalam keberhasilan seorang anak dalam proses belajar di sekolah. Anak dengan kemampuan intelegensi yang rendah akan mengalami kesulitan dalam belajar sebaliknya anak dengan kemampuan intelegensi yang tinggi akan mudah dalam mengikuti proses belajar. Sesuai dengan tujuan awal dari tes intelegensi yang dilakukan oleh Alfred Binet adalah untuk mengetahui siswa yang kemungkinan mengalami kegagalan dalam belajar sehingga mereka perlu mendapatkan perhatian khusus.
  2. Kecerdasan intelegensi berperan sebagai direction. Menurut Binet directionmelibatkan pengetahuan mengenai apa yang harus dilakukan dan bagaimana cara melakukannya. Sehingga siswa dengan kemapuan inteleginsi yang tinggi dapat dengan cepat mengetahui apa yang harus dilakukan dan bagaimana cara melakukannya. Ketika guru memberikan suatu tugas tertentu ia dapat dengan cepat mengetahui tindakan apa yang harus ia lakukan.
  3. Kecerdasan sebagai Menurut Binet adaptationmengacu pada upaya membangun strategi untuk melakukan sebuah tugas, lalu berusaha untuk tetap berada dalam strategi tersebut dan mengadaptasinya saat mengimplementasikannya.
  4. Kecerdasan sebagai criticism. Menurut Binet criticismadalah kemampuan untuk mengkritisi pikiran dan tindakan sendiri. Sehingga siswa yang cerdas dapat berpikir kritis dan lebih aktif dalam proses belajar.
  5. Kecerdasan intelegensi berperan dalam memberikan kesempatan belajar bagi anak yang berasal dari keluarga miskin. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh Binet terhadap anak-anak miskin, betapapun pandainya merka, namun mereka tidak pernah diberi kemudahan untuk mendapatkan pendidikan lanjutan. Binet berpikir bahwa lewat tes IQ anak-anak miskin mampu membuktikan mereka lebih cerdas daripada rata-rata anak kebanyakan. Karenanya, seharusnya, mereka bisa memperoleh pendidikan lanjutan, tanpa menghiraukan kedudukan sosial mereka.

E. MULTIPLE INTELLIGENCES(MI)

 Teori Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligences)

Howard Gardner memperkenalkan teori multiple intelligences (MI) untuk menentang pendapat tentang IQ, yang dianggapnya tidak memadai untuk menjelaskan tentang kecerdasan. Teori multiple intelligencesmenggambarkan inteligensi sebagai sesuatu yang plural sebagai penyelesaian masalah, sebagai ukuran kualitatif dan bukan hanya ukuran kuantitatif, yang berbeda antara satu individu dengan yang lain. Sementara dari sudup pandang IQ menanyakan seberapa pintar anda? (How smart are you?), dan teori MI menanyakan Bagaimana anda pintar? (How are you smart?.

Penelitian Gardner telah menguak rumpun kecerdasan manusia yang lebih luas dari pada kepercayaan manusia sebelumnya serta menghasilkan konsep kecerdasan yang sungguh pragmatis. Gardner tidak memandang kecerdasan manusia berdasarkan skor tes standar semata. Gardner menjelaskan kecerdasan sebagai: (1) kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang terjadi dalam kehidupan manusia; (2) kemampuan untuk menghasilkan persoalan-persoalan baru untuk diselesaikan; (3) kemampuan untuk menciptakan sesuatu atau menawarkan jasa yang akan menimbulkan penghargaan dalam budaya seseorang.

Pada awalnya Gardner pada awalnya mengembangkan tujuah kecerdasan independen dan pada tahun 1995 ia memperkenalkan kecerdasan yang ke delapan yaitu naturalis. Kedelapan kecerdasan tersebut adalah sebagai berikut:

  • Kecerdasan musik (musical intelligence)
  • Kecerdasan gerakan-badan (bodily-kinesthetic intelligence)
  • Kecerdasan logika matematika (logical mathematical intelligence)
  • Kecerdasan linguistik (linguistic intelligence)
  • Kecerdasan ruang (spatial intelligence)
  • Kecerdasan antarpribadi (interpersonal intelligence)
  • Kecerdasan intra pribadi (intrapersonal intelligence)
  • Kecerdasan alami (naturalist intelligence)

Lebih lanjut, kecerdasan tersebut dijelaskan dengan rinci oleh Thomas Amstrong.

  1. Linguistic intelligence adalah kemampuan untuk menggunakan kata-kata secara efektif, baik secara lisan maupun tulisan.
  2. Logical mathematical Intelligenceadalah kemampuan untuk menggunakan angka-angka secara efektif, misalnya penggunaan dalam pekerjaan matematika, statistik, akuntansi, perpajakan, dan pemrograman komputer.
  3. Spatial intelligenceadalah kemampuan untuk menangkap dunia ruang pandang (visual spatial world) secara akurat, misalnya untuk menampilkan visi seorang dekorator dan arsitek.
  4. Bodily Kinestetic Intelligence adalah kemampuan menggunakan gerakan badan dalam hal menyampaikan pemikiran dan perasaan.
  5. Musical Intelligenceadalah kemampuan untuk menangkap melalui mata hatinya misalnya musik, dan keahlian musik pada umumnya.
  6. Interpersonal Intelligenceadalah kemampuan untuk menangkap dan membuat perbedaan dalam suasana hati, keinginan, motivasi, dan perasaan orang lain.
  7. Intrapersonal Intelligenceadalah kemampuan untuk membuat gambaran yang akurat tentang diri sendiri (kekuatan dan kelemahan diri sendiri).
  8. Naturalist intelligenceadalah kemampuan untuk memahami alam, melihat bagaimana pola-pola yang terjadi di alam dan mengklasifikasi segala sesuatu tentang alam .

F. PERAN KECERDASAN MAJEMUK (MULTIPLE INTELLIGENCES) DALAM BELAJAR

  1. Kecerdasan Verbal/Linguistik

Kecerdasan linguistik antara lain ditunjukkan oleh kepekaan akan makna dan urutan kata, serta kemampuan membuat beragam pengguaan bahasa. Kemampuan alamiah yang berkenaan dalam kecapakan ini adalah percakapan spontan, dongen, humor, kelakar, membujuk orang untuk mengikuti tindakan, memberi penjelasan atau mengajar. Contoh orang yang memiliki kecerdasan ini adalah Herman Melville, penulis novel Mobby Dick, J.K Rowling penulis buku cerita Harry Potter. Sedangkan di Indonesia terdapat Gunawan Muhammad, Emha Ainun Najib, Taufik Ismail, Andrea Hirata dan lain-lain.

Dalam proses belajar kecerdasan ini sangat berperan terutama sekali dalam pelajaran bahasa. Sedangkan dalam bidang pelajaran lainnya kecerdasan ini sangat dibutuhkan dalam proses belajar seperti dalam kegiatan diskusi. Setiap siswa dalam diskusi harus mampu menyampaikan pendapatnya ataupun menjawab pertanyaan dari siswa lainnya.

  1. Kecerdasan logis matematik

Mereka yang memiliki kecerdasan ini adalah mereka yang bekerja dengan simbol-simbol abstrak dan bisa melihat koneksi antara potongan-potongan informasi yang mungkin terlewatkan oleh orang lain. Para ahli matematika, sains, programer komputer dan akuntan, adalah diantara mereka yang juga tersebut dalam wilayah-wilayah kecerdasan ini.

Peran kecerdasan ini dalam belajar terutama sekali dalam mata pelajaran hitungan seperti Matematika dan mata pelajaran sains seperti Fisika, Kimia, Akuntansi yang semuanya membutuhkan kemampuan logis matematik.

  1. Kecerdasan Spasial

Kecerdasan spasial adalah kecerdasan yang dapat digunakan untuk mengenali objek dan pemandangan di lingkungan aslinya. Kecerdasan ini juga digunakan ketika seseorang membuat lukisan grafis atau simbol-simbol lain seperti peta, diagram, atau bentuk-bentuk geometrik. Dunia lukisan dan ukiran telah menunjukkan sensitivitas terhadap dunia visual dan spasial dengan sangat jelas seperti lukisan Affandi, Leonardo da Vinci, Michael Angelo, dan Picasso.

Dalam belajar kecerdasan spasial ini berperan dalam mempelajari bentuk-bentuk visual dan mengekspresikannya seperti dalam pelajaran menggambar dan mata pelajaran desain grafis pada komputer seperti menggunakan aplikasi corel draw, photo shop dan sebagainya.

4. Kecerdasan Musikal/Ritmis

Kecerdasan musikal adalah kecerdasan yang terkait dengan sensitivitas yang dimiliki seseorang terhadap susunan suara dan kemampuan merespon pola-pola suara ini secara emosional. Dalam proses belajar kecerdasan ini berperan jika siswa diizinkan untuk menciptakan dan menggunakan lagu, ketokan, sorak-sorai, syair dan sajak.

5. Kecerdasan Tubuh/Kinestetik

Kecerdasan tubuh/kinestesis memungkinkan orang untuk mengontrol dan menafsirkan aneka gerak tubuh dan membentuk harmoni pikiran dan tubuh. Contoh orang-orang yang memiliki kecerdasan tubuh yang sangat bagus adalah para atlit di arena olahragara. Seperti para pemain basket dan sepak bola yang begitu lincah memainkan bola dii lapangan.

Dalam proses belajar kecerdasan tubuh ini berperan dalam pelajaran olah raga dan pelajaran lain selama membutuhkan aktivitas fisik. Seorang individu yang kuat dalam kecerdasan tubuh/kinestetis mampu melakukan keterampilan motorik kecil dengan baik dan bisa melakukan aktivitas-aktivitas seperti menyusun, memahat, membongkar, dan mengumpulkan kembali dengan mudah.

6. Kecerdasan Intrapersonal

Merupakan kemampuan untuk mengetahui diri sendiri dan mengambil tanggungjawab atas kehidupan dan proses belajar seseorang. Para siswa dengan keterampilan interpersonal yang kuat mengenali berbagai kekuatan dan keterbatasan mereka dan menantang diri mereka sendiri supaya bisa menjadi jauh lebih baik.

Dalam belajar kecerdasan intrapersonal ini berperan bagi para siswa dalam membuat suatu orientasi pada tujuan, reflektif, dan melihat kesuksesannya sebagai hasil langsung dari perencanaan, usaha, dan ketekunannya sendiri. Aktivitas-aktivitas yang merangsang kecerdasan interpersonal ini di ruang kelas diantaranya adalah kesempatan untuk memecahkan masalah, melatih konsentrasi, menetapkan tujuan, dan menulis dalam catatan-catatan harian pribadi.

7. Kecerdasan Interpersonal

Kecerdasan interpersonal adalah kemampuan untuk memahami dan berinteraksi dengan baik dengan orang lain. Kemampuan ini melibatkan penggunakan berbagai keterampilan seperti kemampuan kerjasama, manajemen konflik, strategi membangun konsensus, kempampuan untuk menghormati, memimpin dan memotivasi orang lian.

Dalam proses belajar kecerdasan ini berperan ketika siswa diberikan kesempatan untuk bekerjasama dimana mereka dapat menjadi sosial, merencanakan secara bersama dan bekerja dengan orang lain demi keuntungan timbal balik.

8. Kecerdasan Naturalis

Merupakan kemampuan menggunakan input sensorik dari alam untuk menafsirkan lingkungan seseorang. Dalam belajar kecerdasan berperan dalam kegiatan menyelidiki, mengklasifikasi, dan mengoleksi berbagai unsur di alam, melakukan berbagai eksperimen ilmiah, dan meneliti solusi-solusi bagi berbagai masalah lingkungan. Semua aktivitas yang membantu para siswa untuk dapat mengklasifikasi kehidupan tanaman dan menyelidiki habitat benda-benda hidup juga dapat menignkatkan kecerdasan naturalis.

G. KECERDASAN EMOSIONAL

  1. Definisi Kecerdasan Emosional

Kecerdasan emosional merupakan kemampuan seperti kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan bertahan menghadapi frustrasi; mengendalikan dorongan hati dan tidak melebih-lebihkan kesenangan; mengatur suasanan hati dan menjaga agar beban stres tidak melumpuhkan kemampuan berpikir, dan berempati. Menurut Steven J Stein dan Howard E. Book kecerdasan emosional adalah serangkaian kemampuan, kompetensi, dan kecakapan nonkognitif yang memengaruhi kemampuan seseorang untuk berhasil mengatasi tuntutan dan tekanan lingkungan.

Keterampilan kecerdasan emosi bekerja secara sinergi dengan keterampilan kognitif. Makin kompleks pekerjaan, makin penting kecerdasan emosi. Emosi yang lepas kendali dapat membuat orang pandai menjadi bodoh. Tanpa kecerdasan emosi, orang tidak akan mampu menggunakan kemampuan kognitif mereka sesuai dengan potensi yang maksimum. Penyebab manusia tidak mencapai potensi maksimum adalah ketidakterampilan emosi.

Kecerdasan emosional mulai diperhatikan secara meluas setelah publikasi hasil karya Daniel Goleman pada tahun 1995 yang berjudul “Emotional Intelligence: Why it Can Matter More Than IQ”. Menurut Goleman tes IQ hanya berhubungan dengan kemampuan verbal dan matematika, dan mengabaikan kemungkinan yang lain seperti hubungan antara pikiran dan perasaan, yang merupakan hubungan ataran aspek intelektual dan emosional. Para ahli terus mengingatkan bahwa proses pendidikan jangan hanya memfokuskan kepada faktor intelektual seperti yang dikemukakan krishnamurti dalam Carol Hall:

Terdapat sesuatu yang lebih tinggi dan lebih luas pengaruhnya terhadap kehidupan, nilai yang belum kita temukan dalam pendidikan kita? Kita mungkin berpendidikan tinggi, akan tetapi jika tidak memiliki ikatan yang kuat antara pikiran dan perasaan kita, kehidupan kita tidak lengkap, terdapat kontradiksi dan tersobek dengan banyak ketakutan, selama pendidikan tidak menggali pandangan yang menyeluruh tentang kehdupan, pengaruhnya akan sangat sedikit.

Seseorang yang memiliki IQ saja belum cukup, yang ideal adalah IQ yang dibarengi dengan EQ yang seimbang. Pemahaman yang didukung oleh Goleman yang dikutip oleh Patton, bahwa para ahli psikologi sepakat akalu IQ hanya mendukung sekitar 20 persen faktor yang menentukan keberhasilan, sedangkan 80 persen sisanya berasal dari faktor lain termasuk kecerdasan emosional.

 2. Bentuk Emosi

Daniel Goleman yang merupakan pakar “kecerdasan emosional” memaknai emosi sebagai setiap keadaan mental yang hebat dan meluap-luap. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa emosi merujuk kepada suatu perasaan dan pikiran-pikiran yang khas, suatu keadaan biologis dan psikologis, dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak.

Sementara itu Chaplin dalam “Dictionary of Psychology” mendefinisikan emosi sebagai suatu keadaan yang terangsang dari organisme mencakup perubahan-perubahan yang disadar, yang mendalam sifatnya dari perubahan perilaku. Dengan demikian emosi adalah suatu respon terhadap suatu perangsang yang menyebabkan perubahan fisiologis disertai perasaan yang kuat dan biasanya mengandung kemungkinan untuk meletus. Respon demikian terjadi baik terhadap perangsang-perangsang eksternal maupun internal.

Menurut Daniel Goleman sesungguhnya ada ratusan emosi dengan berbagai variasi, campuran dan nuansanya sehingga makna yang dikandungnya lebih banyak, lebih kompleks, dan lebih halus daripada kata yang digunakan untuk menjelaskan emosi. Meskipun emosi itu sedemikian kompleksnya, namun ia mengidentifikasi sejumlah kelompok emosi, yaitu:

  1. Amarah; didalamnya meliputi beringas, mengamuk, benci, marah besar, jengkel, kesal hati, terganggu, rasa pahit, berang, tersinggung, bermusuhan, tindak kekerasan dan kebencian patologis.
  2. Kesedihan; di dalamnya meliputi pedih, sedih, muram, suram, mengasihani diri, kesepian, ditolak, putus asa dan depresi.
  3. Rasa Takut; di dalamnya meliputi cemas, takut, gugup, khawatir, was-was, tidak tenang, ngeri, kecut, panik dan pobia.
  4. Kenikmatan; di dalamnya meliputi bahagia, gembira, puas, riang, senang, terhibur, bangga, kenikmatan inderawi, takjub, terpesona, puas, girang, senang sekali dan mania.
  5. Cinta; di dalamnya meliputi penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat, bakti, hormat, dan kasih sayang.
  6. Terkejut; di dalamnya meliputi terkesiap, takjub dan terpana.
  7. Jengkel; didalamnya meliputi hina, jijik, muak, mual, benci, tidak suka, dan mau muntah.
  8. Malu; di dalamnya meliputi rasa bersalah, malu hati, kesal hati, menyesal, hina, aib, dan hati hancur lebur.

Sumber :

The Mind & The Brain Dahsyatnya Otak Dan Pikiran Manusia, Alfred Binet, Indoliterasi, Jakarta,  2017,  Iv+188

BERFIKIR KREATIF


Kreativitas adalah bagian dari pikiran dan jiwa yang memungkinkan kita mewujudkan sesuatu yang berguna, tatanan, keindahan atau makna penting yang seolah muncul dari kehampaan.

5134654297_cb4487f426_mAnda bisa mengembangkan kemampuan untuk memunculkan ide-ide baru dalam profesi ataupun lingkungan pekerjaan anda. Tujuannya membantu Anda mempraktekkan cara-cara berfikir dengan lebih kreatif. Proses berpikir kreatif, seperti juga dalam kretivitas pada umumnya. Imajinasi kreatif kita harus memiliki sesuatu agar bisa bekerja. Kita tidak bisa membentuk gagasan-gagasan baru dari ruang hampa. Henry Ford mengatakan, seluruh bahan mentah telah tersedia. Pikiran kreatif akan mampu menerangkan pelbagai kemungkinan atau hubungan beragam bahan yang tak terlihat oleh pikiran yang kurang kreatif. Tugas anda selaku pemikir kreatif adalah mengolah gagasan-gagasan atau unsur-unsur yang sudah ada. Apabila hasilnya adalah sebuah kombinasi gagasan atau hal-hal yang tidak terbayangkan sebelumnya namun bernilai, maka Anda akan dianggap sebagai pemikir kreatif.

Secara garis besar dengan kreatifitas, kita memulai dengan apa yang sudah ada. Kita menganggap sesuatu sebagai kreativitas ketika sang seniman atau pemikir jenius berhasil mengubah bahan yang tersedia menjadi kreasi baru bernilai tinggi. “Orang yang paling orisinil ialah orang yang mengadaptasi dari banyak sumber,” begitu kata pepatah. Anda akan menjadi seseorang yang kreatif ketika Anda mulai melihat atau membuat hubungan di antara pelbagai ide yang dianggap orang laintak dapat disatukan: kian luas jarak yang terlihat, kian tinggi derajat kreativitas.

Analogi sebagai Pijakan
Berpikir dengan analogi atau membuat analogi merupakan kunci dalam berpikir imajinatif. Ini terjadi terutama ketika diterapkan dalam pemikiran kreatif.Alam menyediakan model dan prinsip bagi penyelesaian masalah. Ada model atau analogi lain yang bisa ditemukan dalam produk-produk dan organisasi-organisasi yang sudah ada.

Prinsip mendasar yang sama, model-model untuk mengatasi persoalan kita bisa saja masih sangat banyak, kita tidak harus menciptakannya dari ketiadaan. Dapat diterapkan pada seluruh pemikiran kreatif, tidak hanya untuk menemukan produk-produk baru. Organisasi manusia contohnnya. Sebagian besar prinsip yang ada di sana ditemukan di alam: hierarki, pembagian kerja, jaringan, dan lain-lain. Mengapa kita harus bersusah payah menemukan ulang prinsip roda ketika roda sudah ditemukan? Anda, dengan penelitian sederhana, tidak perlu memikirkan gagasan mengganggu yang muncul dari dalam diri Anda.

Menjadikan Hal Asing sebagai Hal Biasa dan Hal Biasa sebagai Hal Asing
Proses terbaik dalam memahami sesuatu atau seseorang yang tidak dikenal, asing, tidak lazim, tak terjelaskan apa yang belum diketahui, didengar, atau dilihat ialah dengan cara mencari persamaannya dengan hal-hal yang sudah kita ketahui. Namun sebaiknya tidak hanya berhenti di situ.Proses sebaliknya, yaitu membuat hal yang biasa menjadi asing, juga penting bagi proses berpikir kreatif. Kita tidak pernah memikirkan segala sesuatu yang sudah kita ketahui. Di sini eorang seniman bisa membantu kita untuk menyadari hal-hal baru yang tersembunyi dalam hal-hal lama.

Menurut John Steinbeck “Tak ada seorang pun yang benar-benar mengetahui manusia. Satu-satunya hal terbaik yang bisa dia lakukan ialah menganggap bahwa mereka sama dengan dirinya sendiri.”

Kebiasaan berpikir yang mandek, kecanduan yang beerlebihan terhadap hal-hal yang biasa, akan melemahkan mimpi dan gagasan yang muncul di malam hari dan setiap menit adalah unik.

Memperluas Ruang Lingkup Hubungan
Pengalihan teknologi dari satu bidang ke bidang lain, dengan sedikit perubahan dan penyesuaian, merupakan satu cara di mana Anda bisa member sumbangsih kreatif.

Anda mungkin saja akrab dengan pengetahuan atau kemampuaan teknis yang tidak diketahui oleh orang lain di bidang Anda, karena Anda bekerja pada lebih dari satu induustri.Atau mungkin, kemampuan itu bersumber dari lawatan Anda ke negara lain.

Orang-orang dengan ruang lingkup hubungan yang sempit berpikir dalam jalur dan batasan-batasan industry mereka sendiri. Kemampuan akan sangat menentukan dalam menautkan segala hal yang tampaknya tidak berhubungan, atau setidaknya segala sesuatu yang hingga saat ini belum disatukan dalam sebuah jalinan yang baru dan menarik.

Fungsi orang-orang kreatif ialah melihat hubungan antara pikiran, benda-benda atau bentuk ekspresi yang secara sekilas terlihat berbeda, dan menggabungkan itu semua ke dalam bentuk-bentuk baru. Kekuatan untuk menghubungkan segala sesuatu yang seolah tak berhubungan.

Merayakan Kebetulan
Marcel Proust mengatakan, keajaiban penemuan yang sesungguhnya bukanlah mencari pemandangan baru, melainkan memiliki pandangan baru. Kebetulan sangat berbeda dengan pemikiran yang fokusnya terbatas, saat di mana kiata berkonsentrasi penuh pada satu tujuan atau cita-cita hingga melupakan hal lain. Ini mengharuskan kita memiliki perhatian yang luas, perhatian yang cukup luas untuk mengetahui makna penting sesuatu, bahkan meski pada waktu itu tampak tidak relevan di mata kita. Kebetulan berarti menemukan gagasan atau benda atau menjumpai manusia yang berharga dan dapat diterima luas saat kita tidak mencarinnya.

Akan lebih berpeluang mengalami peristiwa yang bersifat kebetulan jika memiliki perhatian dan minat yang luas. Terlalu fokus dalam merencanakan kehidupan sampai pada hal-hal terkecil sungguh bertentangan dengan kreativitas. Sebab, kekacauan bisa memantik ide.

Seperti yang diungkapkan Milne: “Salah satu keuntungan menjadi orang tidak teratur ialah bisa terus membuat penemuan menarik.”
Mengembangkan kemampuan berpikir kreatif akan memberikan ganjaran pada kita, namun saat ini hal itu tidak menjadi suatu yang tidak diharapkan. Seorang pemikir kreatif harus menyukai bepergian dan berpikiran terbuka layaknya penjelajah yang panjang akal.

Kebetulan Hanya Mendatangi Pikiran yang Siap
Segala sesuatu yang terjadi tanpa diramalkan, tanpa diharapkan manusia atau tanpa sebab yang tampak, bisa dirajut ke dalam proses pemikiran kreatif. Kebetulan semacam itu lebih sering terjadi pada orang-orang yang pantas menerimanya. Jangan menunggu hal tersebut muncul, tetapi belajarlah untuk mengamatinya.

Melihat dan menyadari keberadaan petunjuk dalam sebuah kejadian yang tak terduga menuntut kepekaan dan pengamatan. Hal ini dimaksudkan agar bisa menafsirkan tanda dan menganggapnya sebagai hal penting, diperlukan pengetahuan tanpa prasangka, pemikiran yang imajinatif, kebiasaan merenungkan pengamatan yang tidak terjelaskan, pengamatan yang tajam Sekali lagi, arti penting memiliki pemikiran yang terbuka dan tingkat rasa ingin tahu yang tinggi adalah hal yang tak bisa disangkal. Kita harus terus bertanya kepada diri sendiri mengenai segala sesuatu yang terjadi di sekeliling, dan siap menerima jawaban yang mengejutkan.

Rasa Ingin Tahu
Menurut John Locke: “Rasa ingin tahu anak-anak tidak lain adalah hasrat untuk memperoleh pengetahuan.”

Sepanjang hidup kita harus bisa mempertahankan hasrat untuk melihat, belajar, atau mengetahui. Rasa ingin tahu adalah pikiran di ujung kaki. Para pemikir kreatif cenderung memiliki keingintahuan yang menuntun mereka mencari segala sesuatu yang menarik perhatian. Berpikir adalah cara untuk berikhtiar menemukan diri sendiri. Apabila kita selalu menekan mentah-mentah apa yang dikatakan orang lain, itu sama artinya dengan tidak ada lagi hal lain yang ingin kita ketahui.

Untuk mengembangkan rasa ingin tahu, kita harus lebih banyak bertanya, baik ketika berbicara dengan orang lain maupun ketika berbicara kepada diri sendiri. Bertanya, yang dilakukan secara hati-hati, akan membantu kita membedakan antara apa yang diketahui dan apa yang tidak diketahui.

Buka Mata Anda
Kemampuan untuk memberikan perhatian yang cermat, analitis, dan jujur kepada segala sesuatu yang dilihat adalah hal yang esensial. Apabila tidak memberi perhatian dan melakukan pengamatan.Observasi berarti berupaya melihat seseorang, benda, atau panorama seolah-olah belum pernah melihatnya dalam kehidupan.

Konon, hal yang benar-benar memberi pelajaran kepada kita bukanlah pengalaman, melainkan pengamatan.
Langkah observasi tidak bisa lengkap sebelum kita merekam apa yang kita lihat, membantu mengguratkannya dalam ingatan. Pengamatan berperan besar dalam memunculkan ilham. Seperti yang dikatakan Leonardo da Vinci, “Seluruh pengetahuan kita berasal dari persepsi kita.” Karena ketertarikan dan perhatian adalah induk dari persepsi.

Menyimak Beragam Gagasan
Pikiran terbuka yang disertai keterampilan analitis tajam dan penilaian yang peka, merupakan hal yang dibutuhkan menjadi seorang pendemgar yang baik. Menyerap sisi alamiah dan kebermaknaan segala sesuatu yang diucapkan kepada kita harus selalu menjadi prioritas. Biasanya pemahaman selalu dating sebelum penilaian.

Menyimak dengan baik beraga ide dan fakta relevan serta informasi potensial, sekalipun tidak lengkap dan ambigu. Menurut Oliver Wendell Holmes “Berbicara adalah bagian dari pengetahuan, sedangkan menyimak adalah bagian dari kearifan.”

Membaca Untuk Menggali Gagasan
Buku adalah gudang gagasan, pemikiran, fakta, opini, deskripsi, informasi, dan mimpi. Beberapa hal ini, terlepas dari keadaannya, boleh jadi berhubungan dengan minat saat ini atau masa mendatang selaku seorang pemikir.

Sir Richard Steele mengungkapkan, “Membaca bagi ppikiran sama artinya dengan olahraga bagi tubuh.” Puisi dan prosa yang bagus, baik fakta maupun fiksi, menuntut imajinasi dan kekuatan rekreati. Itu sebabnya, bacaan bisa memberi cara-cara menyenangkan guna mengembangkan kemampuan. Yang diungkapkan John Locke yakni, membaca hanya membekali pikiran dengan bahan pengetahuan, berpikir membuat segala yang kita baca menjadi milik kita. Tujuan hakiki dari pendidikan ialah menempatkan Anda pada kondisi untuk terus bertanya.

Sediakan Selalu Buku Catatan
Selalu membawa catatan bukan hanya kebiasaan yang amat bermanfaat; sebaliknya kebiasaan ini justru sangan penting bagi proses berpikir kreatif. Mencatat sebuah kutipan atau ucapan, fakta atau potongan informasi, adalah sarana untuk merenungkan fakta secara menyeluruh dan merangkulnya secara pribadi sehingga ia menjadi bagian dari diri kita. Membayangkan buku catatan seperti sebuah kaleidoskop. Saat kita merasa didatangi gagasan kreatif, tambahi catatan sedikit metafora. Bisa jadi hal itu akan memunculkan gagasan-gagasan atau garis-garis pemikiran baru. Karena berpikir kreatif membutuhkan stimulus, dorongan, dan ilham.

Teruslah Menguji Asumsi
Sangat penting untuk mampu menjelajahi berbagai kemungkinan dengan cara membuat asumsi-asumsi yang hati-hati. Asumsi-asumsi itu dibuat dengan tanpa beban, layaknya mencoba baju baru di sebuah took sebelum memutuskan untuk membeli (atau tidak membeli) baju baru itu. Opini kerap terlihat lebih indah daripada kebenaran. Opini berubah-ubah mengikuti faktor-faktor semisal kelompok organisasi atau komunitas, waktu, dan tempat di mana Anda berada. Berpikirlah diluar kotak. Jangan biarkan diri sendiri terbelenggu oleh ketrbatasan tau kekungkungan mental yang terkadang membentuk situasi tanpa jaminan ataupun kebenaran.

Memanfaatkan Pikiran Terdalam
Funsi-fungsipikiran sadar (analisis, sintesis, dan evaluasi) bisa juga bertempat dalam tingkatan yang lebih dalam. Pikiran Terdalam membedah sesuatu untuk Anda, tepat seperti cairan dalam perut yang bisa mengurai makanan menjadi bermacam unsur.

Pikiran terdalam, misalnya, dapat menganalisis data yang mungkin Anda tidak tahu kapan menyimpannya, dan membandingkannya dengan apa yang sudah ada dalam ingatan. Pikiran ini sanggup melakukan hal lebih baik dari sekedar analisis. Ia juga berada di dekat tempat ingatan dan gudang nilai-nilai Anda.

Kita semua bisa menjumlahkan dua dan dua menjadi empat, atau membentuk potongan-potongan kulit menjadi sepatu. Namun, sintesis kreatif ialah menggabungkan berbegai elemen yang tidak mirip, berjarak, atau unsure-unsur yang tampaknya (di mata orang lain) tidak berjalinan, menjadi satu kesatuan. Sedangkan bahan-bahan mentah yang dipakai akan mengalami perubahan bentuk yang amat penting. Ketika sintesis semacam ini dibutuhkan, pikiran yang dalam akan muncul.

Sebuah analogi organik yang tepat bagi fungsi-fungsi Pikiran Terdalam adalah kandungan. Anda mungkin juga pernah merasakan nilai piker dari tetangga Pikiran Terdalam yang kita sebut sebagai kata hati dalam betuk penyesalan di saat ia membuat sebuah evaluasi atau penghakiman moral terhadap tingkah laku Anda.

Meningkatkan Keterampilan Analitis
Ketrampilan menganalisis, menguraikan sesuatu demi menemukan prinsip-prinsip atau gagasan-gagasan dasar adalah alat penting dalam kotak peralatan seorang pemikir kreatif. Tidak ada proses atau system standar dalam berpikir kreatif. Karena secara esensial berpikir kreatif yang terbaik adalha soal kebebasan. Berpikir bebas sama artinya dengan bebas dari proses, sistem, dan latihan.

Pikiran kreatif yang baik adalah pikiran yang sejak awal sudah menerima bermacam disiplin, lalu kembali kepada kecenderungan alamiahnya. Saat menganalisis, jangan terburu-buru mendefinisikan masalah. Bermain-mainlah dengan formulasi yang bisa mendukung.

Menangguhkan Penilaian
Menangguhkan penilaian di satu sisi berarti membangun satu batasan sementara di antara bagian analisis dan sintesis pikiran, dan sisi lain menilai kemapuan Anda. Kritik dini dari orang lain bisa mematikan benih-benih pikiran kreatif. Selain itu, harus mengubah kritik orang lain menjadi masukan yang bagus. Hal semacam itu membutuhkan pemahaman tentang kapan dan bagaimana waktu yang tepat untuk menampik kritik, serta kapan dan bagaimana meminta kritik.

Iklim-iklim social tertentu dalam keluarga, lingkungan kerja, atau organisasi bisa mendorong dan merangsang pemikiran kreatif, sementara lingkungan yang lain justru menghambat atau menekannya. Lingkungan yang kedua cenderung menilai analisis dan kritik di atas orisinalitas dan inovasi.

Bukan pujian atau celaan yang merupakan tujuan dari kritik sejati. Membedakan dengan tepat, mengokohkan secara tegas, menjelaskan secara bijaksana, dan memberi peringatan secara jujur, itulah tujuan dan kewajiban dari kritik sejati.

Belajar Bertenggang Rasa terhadap Ambiguitas
Kemampuan negative adalah kemampuan Anda untuk hidup dengan keraguan dan ketidakjelasan dalam waktu yang panjang. Sebagai bagian dari tenggang rasa yang lebih besar terhadap ambiguitas, kita harus tumbuh layaknya manusia. Karena pada akhirnya kehidupan tidak dapat dipahami secara jelas. Berpikir kreatif adalah sebentuk kesabaran aktif dan energik.

Berhenti, Menunggu, dan Patuh
Mengetahui saat-saat untuk meninggalkan sebuah persoalan dan mengabaikannya untuk sementara waktu merupakan keterampilan penting dalam seni berpikir kreatif.

Ketika ide-ide mulai muncul kepermukaan, lawanlah gadaan untuk mulai memikirkannya secara sadar. Biarkan mereka berjalan-jalan pada waktu dan tempat mereka sendiri. Kesadaran yang tinggi dan minat yang lemah akan menciptakan ide yang tepat.

Seluruh pemikran kreatif berasal dari melihat atau menciptakanpelbagai hubungan. Segala sesuatu berhubungan dengan hal-hal lain, namun pikiran kita tidak selalu bisa memahami hubungan itu. Dari begitu banyak kemungkinan kombinasi, kita harus memilihnya menurut pelbagai kriteria berbeda berdasarkan bidang kita.

Memikirkan Sungguh-sungguh Persoalan
Sebagioan besar dari Anda sudah merasakan bermacam dampak menguntungkan dari memikirkan secara sungguh-sungguh masalah dan menemukan bahwa pikiran Anda sudah mengatasi masalah itu.
Nasihat Francis Bacon “Sebaiknya orang menyimpan sebatang pensil di saku dan mencatat pikiran-pikiran yang muncul pada saat itu juga. Pikiran yang datang ddengan sendirinya biasanya adalah yang paling berharga dan sebaiknya dicatat, karena pikiran-pikiran itu jarang muncul kembali. ”

Mengolah Kreativitas
Menggarap gagasan hingga berusaha keras untuk membuat atau menghasilkan sesuatu adalah sebuah cara untuk meneruskan proses berpikir kreatif. Karena ilham hanya memberi sedikit hal kepada Anda, Anda bisa melangkah di jaln yang salh, tersesat, dan kebingungan, bahkan sampai pada titik putus asa.

Karena pelaksanaan merupakan bagian dari berpikir kreatif, Anda harus berusaha mengembangkan produk dengan cara Anda sendiri, setidaknya sampai titik tertentu. Untuk beranjak jauh dari titik itu, jelas dibutuhkan lebih banyak usaha kelompok, terutama dengan menawarkan gagasan itu kepada pasar.

Kreatif dalam Memikirkan Kehidupan
Seandainya pekerjaan tidak memerlukan imajinasi, seni berpikir kreatif tetaplah penting. Karena kehidupan kita adalah ihwal yang tidak pernah selesai. Membentuk dan megubah bahan-bahan mentah dan kondisi kehidupan kita merupakan suatu yang menarikdan menantang.

Persoalannya bukanlah apa yang menimpa dalam kehidupan., melainkan bagaimana cara kita menanggapinya. Memberi respons secara kreatif berarti mengubah hal-hal buruk menjadi baik, mengubah masalah menjadi peluang. Kebebasan yang Anda berikan kepada diri sendiri untuk melakukan kekeliruan-kekeliruan adalah lahan terbaik bagi kreativitas.

Sumber :

Berpikir Kreatif, Berpikir Sukses, John Adair. Terj.Izi Ibrahim, Cetakan pertama, Penerbit Rumpun, Jakarta, 2009.

Breaking the Time


 Penyusunan buku Breaking The Time ini diilhami oleh pertanyaan berikut : Mengapa ada orang yang sukses dan gagal dalam hidup? Apakah ada “hukum” yang sama bagi orang-orang yang sukses? Bagaimana agar “hukum” tersebut dapat dipelajari oleh orang lain secara mudah dan praktis?

Jawabannya, tentu tidak ada fenomenadi dalam semesta ini yang luput dari hukum alam.Termasuk “hukum” untuk menjadi orang sukses.“Hukum” tersebut berinti pada pengaturan waktu yang efektif. Orang yang dapatmengatur waktunya dengan efektif insaya Allah akan memperoleh kesuksesan.

Namun, banyak orang yang luput untuk mempelajari bagaimana cara mengatur waktunya secara efektif. Yang mempelajari pun kadang enggan untuk melaksanakannya.Mungkin karena dirasa sulit atau tidak tahu harus memulai dari mana.Inilah buku yang secara praktis menjawab kebutuhan anda tenteng metode meraih kesuksesan hidup dengan mengatur waktu secara efektif.

Akhirnya, ucapan syukur kami ucapkan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT atas selessainya buku ini.Selain itu, kami mengucapkan terimakasih kepada rekan-rekan yang selalu memberikan dukungan dan masukan yang berharga.

Satria Hadi Lubis

 

PENDAHULUAN

Sebagai manusia normal, tentu kita menginginkan kehidupan yang sukses.Tidak ada seorang pun di antara kita ynag ingin hidupnya gagal.Pepetah mengatakan bahwa “taka da kesuksesan tanpa usaha” artinya kesuksesan memang bukan suatu hal yang datangtiba-tiba.Ia datang kepada kita melalui jalan keteguhan dan ketekunan.

Tak mungkin kita memanen tanaman tanpaadanya kemauan untuk menanamnya terlebih  dahulu. Mengetahui  cara menanam yang benar dan sabar memeliharanya juga merupakan syarat agar hasil panen kita bias baik. Sukses dalam hidup merupakan hassil panen dari “bibit” usaha yang kita tanam. Anda tak mungkin mengingkari “hukum memanen” itu.itulah hukum alam yang tak akan berubah.

Buku ini memeberikan panduan kepada anda bagaimana cara mencapai sukses  yang anda idamkan  melalui pengelolaan waktu yang lebih baik lagi. Memebuat anda mendobrak keterbatasan waktu dan memperoleh keberlimpahan waktu (breaking the time). Dengan penjelasan  yang mudah dan praktis, buku ini menjelaskan secara berurutan langkah –langkah sederhana untuk mencapai keberhasilan. Keberhasilan yang  bukan  hanya bersifat parsial dan material, tapi bersifat integral (menyeluruh) dan spiritual (rohani).

Rumus Kesuksesan

SUKSES = KETEGUHAN + KECERDIKAN + KETEKUNAN

MENGAPA PERLU WAKTU?

Manajemen waktu adalah suatu keterampilan untuk mengatur waktu agar berhasil mencapai cita-cita atau tujuan hidup yang positif yang dikehendaki.Jika tujuan hidup telah tercapai, itu berrarti anda telah menjadi orang yang sukses.Sebab orang yang sukses adalah orang yang berhasil mencapai tujuan hidup yang positif yang dikehendakinya.

Beberapa manfaat yang didapatkan jika anda terampil mengatur waktu, antara lain :

  1. Mantap dan semangat menjalani hidup. Anda tahu apa dan bagaimana cara mengisi hidup ini. Anda tidak mudah bingung dan terombang-ambing dalam mengambil keputusan.
  2. Hidup secara seimbang dan selaras. Semua orang yang perlu anda layani akan terpenuhi secara cukup. Tidak ada lagi ketidakseimbangan antara pekerjaan dan keluarga.
  3. Mencapai cita-cita atau tujuan hidup yang anda kehendaki. Merencanakan adalah setengah dari keberhasilan anda untuk mencapai apa yang anda inginkan.
  4. Termotivasi  untuk melakukan apa yang anda inginkan. Anda telah memilih tujuan hidup yang anda sukai dan and atelah merencanakannya sendiri.
  5. Dapat memenfaatkan waktu dengan  dengan baik . Waktu-waktu anda akan berlalu secara produktif. Anda tidak akan menyesali waktu yang telah berlalu dikemudian hari.
  6. Terhindar dari keletihan kronis dan stres yang dapat berakibat pada gangguan psikologis dan fisik. Perencanaan kegiatan membuat anda terhindar dari keterdesakan waktu dan dari jebakan kegiatan yang tak perlu.
  7. Menjadi orang yang lebih percaya diri dan kreatif. Anda akan lebih bersungguh-sungguh untuk meraih masa depan tanpa sikap pesimis. Kepercayaan diri dan kreativitas merupakan modal untuk meraih kesuksessan.
  8. Tak lagi kesepian. Anda akan menjadi orang yang suka bekerjasama dan bersosialisasi.

Tahapan manajemen waktu

Untuk dapat mengatur waktu secara efektif, ada beberapa tahapan yang perlu dilakukan. Tahapan tersebut adalah:

  1. Membuat misi
  2. Menentukan peran
  3. Membuat visi peran
  4. Membuat rencana pekanan
  5. Membuat rencan harian

 

Renungan

Ada 4 macam orang

  1. Orang yang tidak tahu tujuan hidupnya
  2. Orang yang tahu tujuan hidupnya tapi tak tahu bagaimana cara mencapainya
  3. Orang yang tahu tujuan  hidupnya dan tahu bagaimana cara mencapainya
  4. Orang yang tahu tujuan hidup yang benar dan tahu bagaimana cara mencapainya

 

MEMBUAT MISI

“Bagianmu yang sesungguhnya dari dunia ini ialah yang memberimu kemuliaan diri”(ALI BIN ABU THALIB)

Manajemen waktu dimulai dari membuat misi.Mengapa?Sebab misi menjawab pertanyaan yang paling mendasar dari keberadaan kita didunia.Siapa sebetulnya kita? Dan apa maksud keberadaan kita di dunia? Setiap orang mungkin saja mempunyai jawaban yang berbeda-beda. Namun, apa pun jawaban anda, hal itu disadari atau tidak, mencerminkan misi hidup anda.

Istilah misi sebetulnya lebih popular dalam dunia bisnis dan manajemen.Perusahaan-perusahaan maju menjadikan misi sebagai “jiwa” yang mewarnai tindakan dan pengambilan keputusan mereka. Misi dalam bisnis diartikan sebagai  maksud utama yang unik yang menggambarkan produk atau jasa utama dari perusahaan, segmen pasar yang diambil, dan ruang lingkup yang ditekankan agar dapat beersaing dengan perusahaan sejenis.

Misi bukanlah monopoli dunia bisnis dan manajemen.Misi dapat digunakan untuk semua bidang, baik dalam lingkup kelompok maupun perorangan.ketika misi digunakan dalam lingkup perorangan, misi berarti kristalisasi nilai-nilai yang diyakini kebenarannya oleh seseorang.Ini mencakup seluruh nilai-nilai yang membentuk sifat, sikap, dan perilaku seseorang.Baik nilai yang berasal orangtua, keluarga, budaya, bangsa, maupun agama.Pendek kata, misi adalah asas dari setiap pribadi.Misi merupakan intisari dari seluruh nilai yang mempengaruhi pola pikir dan perasaan seseorang.Misi adalah dasar kepribadian seseorang.Misi sangat mempengaruhi kehidupan kita.Semua tindakan dan keputusan kita dipengaruhi oleh misi. Jika hidup ini berarti memilih untuk  melakukan sesuatu, maka misilah yang menuntun kita untuk menentukan pilihan.

Misi Positif Dan Negatif

Misi hidup seseorang ada dua macam, misi hidup positif dan negative. Misi hidup positif  adalah misi hidup yang luhur. Misi hidup yang dipengaruhi oleh nilai-nilai prinsip seperti kebaikan, kejujuran, keadilan, kedamaian, kesetiaan, keselamatan, kesejahteraan, ketenteraman dan kebahagiaan.Nilai-nilai tersebut berlaku universal dan abadi.Misi hidup negative adalah misi yang dipengaruhi oleh nilai-nilai hedonis dan semu, seperti kedustaan, kelicikan, kezaliman, kesewenangan, kejahatan, kekikiran, keegoisan dan ketidaksetiaan.

Ciri-Ciri Misi

  1. Luhur . Misi hidup yang positif adalah misi yang luhur dan idealis.Misi yang bersumber pada nilai-nilai universal yang berasal dari Allah.Bukan bersumber pada nilai-nilai negative yang destruktif.
  2. Fleksibel. Misi yang tidak fleksibel membuat orang yang menyandang misi tersebut kehilangan kreativitasnya untuk menerjemahkan niat tersebut kedalam langkah operasional.
  3. Menarik. Misi yang menarik berarti misi yang memotivasi orang yang menyandang misi tersebut untuk menjalankan dan mempertahankan misinya dalam berbagai situasi.
  4. Spiritual . Spiritual di sini berarti misi yang bersifat non materi dan abstrak.Ia tak dapat diukur secara kuantitatif, hanya dapat dirasakan secara Subyektif melalui pendekatan kualitatif.
  5.  Jelas . Misi yang jelas biasanya mengandung kata-kata yang tidak mempunyai makna ganda.
  6.  Singkat . Misi perlu dibuat singkat dan padat agar lebih mudah diingat dan dihafal.

CARA MEMBUAT MISI

  • Langkah 1 :Menjawab enam unsur misi :
  1. Siapa saya ?
  2. Mengapa ssaya ada ?
  3. Apa keunggulan/kelebihan yang saya miliki ?
  4. Untuk siapa saya bekerja?
  5. Apa hasil/produk dari pekerjaan saya ?
  6. Di mana saya menegerjakannya ? (opsiona)
  • Langkah 2 : Menggabungkan jawaban pertanyaan tentang misi menjadi satu atau beberapa kalimat. Setelah keenam unsur misi dijawab, langkah selanjutnya adalah menyatukannya menjadi satu  atau beberapa kalimat. Buat dalam KISS (keep it short and simple) kalimat simple yang sederhana.

 

MENENTUKAN PERAN

“Barang siapa yang naik panggung tanpa persiapan, maka ia akan turun panggung dengan kehinaan”  (SHAKESPEARE)

Misi hidup tak ada gunanya jika tidak diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.Ketika mengaplikasikan misi, kita mengaplikasikannya dalam berbagai peran hidup kita.Peran adalah posisi atau kedudukan dimana seseorang diharapkan melakukan perilaku tertentu. Orang yang tidak dapat seimbang memenuhi semua perannya kemungkinan besar akan mengalami kegagalan dan kekecewaan hidup. Karena itu, dibutuhkan kemampuan untuk dapat mengatur berbagai peran hidup anda.Manajemen waktu bermanfaat untuk bisa mengatur berbagai peran hidup secara seimbang dan harmonis.Manajemen waktu mengajarkan kepada kita untuk dapat memenuhi setiap tuntutan peran tersebut secara proposional.Sebab masing-masing peran dalam kehidupan kita merupakan bagian yang tak terpisah dari kebahagiaan dan kesuksesan kita.Orang yang mampu mengatur dirinya sendiri berarti mampu memainkan perannya dengan baik.Bukan hanya pada satu peran, tapi pada semua peran dalam hidupnya.

               Keseimbangan Antar Peran

Keseimbangan meerupakan nilai-nilai universal yang kita lihat perwujudannya setiap hari.Keseimbangan alam, keseimbangan kekuatan, keseimbangan neeraca perdagangan, keseimbangan makanan merupakan bagian dari keseimbangan universal.Keseimbangan merupakan kunci dari keharmonisan.Keseimbangan peran juga merupakan kunci dari kesuksesan dan ketenangan hidup.

Pada kenyataannya, peran-peran itu merupakan bagian dari suatu keseluruhan yang amat saling terkait, di mana masing-masing peran merupakan satu kesatuan yang saling mempengaruhi.Sebagaimana dikatakan oleh Gandhi, “Orang tidak dapat melakukan sesuatu yang benar dalam satu bidang kehidupan sementara dia sibuk melakukan kesalahan di bidang lain.Kehidupan adalah satu keseluruhan yang tak terbagi.”

Keimbangan adalah suatu ekuilibrium dinamis.Keseimbangan berarti bahwa semua bagian beroperasi secara bersama-sama secara sinergis dalam suatu keseluruhan yang amat saling terkait.Keseimbangan bukan “atau-atau,” melainkan “dan.”

Menciptakan Sinergi Antar Peran

Sinergi antar peran dapat menghemat banyak waktu maupun tenaga. Memahami sinergi antar peran akan membantu kita mengatasi dikotomi “atau-atau.” Seorang wanita yang bekerja dan mempunyai anak dapat mengatasi dikotomiyang membingungkan antara bersama dengan anak-anak atau bekerja.Ia bergairah menjadi ibu karena memahami perannya sebagai ibu yang tak kan dapat ditinggalkan dan tidak lupa untuk mengembangkan potensinya melalui kerja.

Dengan sinergi antar peran, dapat menumbuhkan mentalitas kelimpahan waktu.Waktu yang banyak dan dapat dipergunakan secara cukup untuk memenuhi peran.Memandang peran-peran sebagai bagian dari suatu keseluruhan yang saling terkait.Kecerdikan dan kreativitas dibutuhkan untuk mampu melakukan sinergi antar peran dalam hidup keseharian.

Cara Menentukan Peran

Lalu Apa Langkah Aplikatif Untuk Menentukan Peran Anda?

Langkah 1 :  Menginventarisasi peran

Beberapa petunjuk di bawah ini dapat di gunakan untu mengklafikasi peran:

  1. Aktivitas yang membutuhkan tanggung jawab.
  2. Aktivitas yang sering/rutin dilakukan (setiap hari, setiap pecan, setiap bulan atau setiap tahun).
  3. Aktivitas yang berhubungan dengan orang lain.
  4. Aktivitas yang membutuhkan cukup banyak waktu untuk melakukannya.

Langkah 2 :  Menyeleksi peran

Seleksi peran dilakukan dengan 2 cara:

A.menyisihkan peran yang tidak sesuai dengan misi hidup

peran yang telah diinventerisasi harus dinilai secara jujur apakah sesuai dengan misi atau tidak.peran yang tidak sesuai dengan misi harus ditinggalkan.jangan segan-segan untuk menghilangkan peran yang tidak sesuai dengan misi.harus berani mengambil keputusan, jangan takut meninggalkan peran yang tidak sesuai denan misi hidup. Jika belu mampu meninggalkan peran yang tidak sesuai dengan misi, jadikan ia sebagai peran tersendiri. Lalu buatkan visi untuk masa depan.

B. Mengelompokkan peran sejenis

Pengelompokan ini bertujuan untuk mengurangi jumlah peran. Kelompokkan peran berdasarkan sifatnya yang sama. Peran yang sangat penting bagi misi, sebaiknya jangan dikelompokkan. Biarkan ia menjadi satu peran tersendiri karena membutuhkan waktu dan tenaga yang banyak untuk menjalankannya.kelompokkan juga peran menjadi peran utama atau pembantu.peran utama adalah peran yang sangat penting untuk pencapaian misi hidup dan yang membutuhkan lebih banyak waktu untuk mengerjakannya.sedang peran pembantu adalah peran yang perlu ada sebagai tuntutan untuk menunjang pencapaian misi dan tidak membutuhkan waktu terlalu banyak disbanding peran utama.perlu juga membuat peran pengembangan diri secara tersendiri.peran ini sebaiknya selalu ada dan tidak digabung dengan peran lainnya.hal ini agar mempunyai waktu untuk mengembangkan diri, baik secara moral, intelektual, social maupun fisik.

  • Renungan : 2 langkah menentukan peran
  1. Investigasi
  2. Seleksi

 

MEMBUAT VISI PERAN

“Visi membuat kita bergairah dengan pemahaman akan sumbangan khas yang dapat kita buat”( STEPHEN R. COVEY )

Setelah menentukan peran sesuai dengan misi yang di buat, tibalah saatnya untuk “bermimpi.”Visi ibarat mimpi, karena kita membayangkan sesuatu yang masih bersifat harapan. Visi adalah kemampuan untuk melihat apa yang saat ini belum terwujud.Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak memiliki “gambaran peran yang berorientasi ke masa depan” berhasil lebih baik disekolah dan lebih handal dalam menghadapi tantangan hidup.Tim dan organisasi yang memiliki pemahaman yang kuat mengenai suatu misi tak cukup kuat untuk mewujudkan misi itu tanpa kehadiran visi.Keberhasilan individu, kelompok, atau organisasi salah satunya akibat kekuatan visi yang mereka miliki.

Visi Yang Menggairahkan

Apabila visi kita terbatas , hanya sebatas harapan tentang apa yang akan terjadi pada esok hari atau lusa, kita cenderung membuat pilihan berdasarkan apa-apa yang persis berada didepan kita.Kita bereaksi terhadap apa-apa yang mendesak, dorongan perasaan sesaat, atau suana hati. Kita membuat pilihan berdasarkan pertimbangan orang lain atau kecenderungan lingkungan disekitar kita. Kita jadi tidak bias mengambil keputusan sendiri. Langkah kita terombang-ambing.Keputusan kita menjadi tidak konsisten dan berubah-ubah setiap hari.

Visi adalah cita-cita dan harrapan tentang masa depan anda sendiri. Jika visi sesuai dengan misi hidup , maka pada saat itu visi berubah menjadi motivator yang begitu kuat, yang pada gilirannya menjadi “pembakar”semangat anda. Ini merupakan energy yang membuat hidup anda menjadi suatu petualangan yang menarik dan untuk meraih cita-cita, sehingga berani berkata “ya!” terhadap peluang atau pilihan sesuai dengan cita-cita.Sebaliknya  berkata “tidak!” dengan damai dan penuh keyakinan diri terhadap hal-hal yang kurang sesuai dengan cita-cita.

Ciri-ciri visi :

  1. Terukur

Visi yang baik adalah visi yang dpat diukur.Kalimat yang digunakan dalam visi sebaiknya bersifat kuantitatif dan spesifik.

  1. Fleksibel

Visi yang fleksibel juga berarti visi yang dapat diubah jika situasi memang mengharuskannya ddemikian.Visi perlu ditinjau minimal 3 bulan sekali.

  1. Terjangkau

Visi yang baik juga visi yang dapat dijangkau.Bukan merupakan khayalan tanpa dasar. Visi perlu menggambarkan tujuan masa depan kita dalam “beberapa langkah”, bukan dalam “ratusan atau ribuan langkah” juga bukan dalam :satuan langkah.”

  1. Menarik

Visi perlu menarik untuk dicapai.untuk itu visi harus merupakan kehendak yang datang dari hati nurani, bukan beerasal dari cermin social- keinginan orang lain atau kehendak lingkungan.

  1. Jelas

Visi sebaiknya menggunakan kalimat yang jelas dan mudah dipahami.

  1. Singkat

Kalimat visi juga jangan terlalu panjang.Jadi buatlah visi dengan kalimat yang singkat dan sederhana.

Cara untuk membuat visi misalnya dengan membayangkan dengan mata terpejam selama satu menit:

  •  Sebuah gambar mengenai anda yang sukses.
  •  Sebuah gamabar  mengenai anda yang berbahagia, santai dan puas.
  •  Sebuah gambar mengenai anda sepuluh tahun mendatang.
  • Sebuah gamabar mengenai anda yang lebih berat atau ringan 10 kg.
  • Sebuah gamabar yang mengenai anda yang sedang mengerjakan sesuatu yang anda impikan untuk dikerjakan.
  •  Sebuah gambar yang mengenai anda sedang bermain dengan cucu anda.
  • Sebuah gamabar yang mengenai anda yang mempunyai banyak uang di bank.
  •   Cara Membuat Visi Peran
  1. Menciptakan visi besar.

Visi hidup ini berlaku sepanjang hidup dan biasanya merupakan gambaran umum tentang akhir dari masa depan kita. Karena bersifat global, visi ini tidak dapat dikatakan sebagai visi yang sebenarnya.Ia hanya berfungsi sebagai penuntun dalam membuat visi dari setiap peran hidup.

  1. Menciptakan visi peran anda.

Visi besar yang berlaku seumur hidup perlu dijabarkan dalam setiap peran.Sebab jika tidak dijabarkan, gambarannya masih terlalu umum, sehingga sulit dievaluasi tingkat keberhasilannya dari waktu ke waktu.

Berbeda dengan visi besar yang target pencapaiannya seumur hidup, visi peran memiliki jangka waktu pencapaian tertentu.Anda dapt memakai tenggang waktu tiga bulan, eanm bulan, atau setahun.Namun waktu yang disarankan adalah tiga atau enam bulan.Hal ini karena lingkungan di sekitar kita semakin cepat berubah, sehingga perlu diantisipasi dengan visi peran fleksibel.

Setiap habis waktu pencapaiannya visi peran, anda perlu mengevaluasinya.Mana diantara visi peran anda yang sudah tercapai dan mana yang belum.Apa saja factor keberhasilan dan kegagalan anda dalam mencapi visi peran yang telah ditentukan. Hal ini sangat berguna dalam membuat kembali visi peran anda pada periode mendatang dan menyesuaikannya denagan peluang dan tantangan baru yang anda hadapi.Khusus untuk pengembangan diri, perlu dibuat visi peran tersendiri yang tidak boleh dihilangkan.Hal ini agr kualitas diri anda senantiasa meningkat secara intelektual, moral, social dan fisik.

Visi peran perlu dibuat dalam kalimat yang memenuhi ciri visi yang baik-terukur, fleksibel, terjangkau, menarik, jelas, dan singkat.Jika visi peran masih sulit untuk dapat diukur, anda perlu dapat membuat keterangan berupa indicator keberhasilan visi yang berisi parameter kuantitatif dari visi yang dibuat.

Visi peran perlu dibuat tertulis pada lembar visi peran.Hal ini agar lebih mudah dibaca dan diingat-ingat.Kebiasaan tidak menulis tujuan (visi) adalah kebiasaan buruk.Sebab jika hanya mengandalkan ingatan, besar kemungkinan kita akn lupa.Lupa menyebabkan kita, tanpa disadari, tak lagi konsisten dengan visi awal kita.

  1. Letakkan ditempat yang mudah dilihat atau mudah dibawa-bawa.

Sebaiknya, lembar visi peran dibuat dalam kertas yang cukup besar agar mudah dibaca.Temple lembar visi peran anda ditempat yang mudah anda lihat.Misalnya didinding kamar, didekat cermin atau dibalik lemari pakaian. Lembar visi juga bias ditulis pada kertas kecil agar mudah dibawa-bawa. Misalnya dapat mudah disimpan dalam dompet atau tas. Fungsi visi peran yang mudah diliahat atau dibawa-bawa adalah agar anda selalu ingat dengan visi anda.Setiap pagi sebelum anda beraktifitas liahtlah dan baca kembali visi peran anda. Semakin sering anda membaca dan mengingat-ingat visi peran , visi perna anda akan  semakin tertanam dalam pikiran bawah sadar anda. Semakin terserap dialam bawah sadar anda, tanpa anda sadari, semakin terkendali gerak hidup anda menuju pencapaian visi peran.Karena sebagaimana yang ditunjukkan oleh penelitian, sebagian besar pola hidup dan kebiasaan kita sebenarnya dipengaruhi oleh pikiran bawah sadar kita, bukan oleh pikiran sadar kita.

MEMBUAT RENCANA PEKANAN

“Waktu adalah kehidupan”(Hasan Al Banna)

Kini tibalah saatnya bagi anda untuk merealisasikan apa yang telah anda buat! Anda telah memiliki komitmen manajemen waktu dengan membuat pernyataan misi, peran, dan visi peran anda.Komitmen itu tidak ada gunanya jika tidak ada upaya untuk mencapainya. Pada tahapan ini, anda akan mendapatkan manfaat tentang bagaimana cara menjabarkan visi peran anda dalam rencana pekanan.

Mengapa perlu menjabarkan visi peran dalam rencana pekanan?Mengapa bukan rencana bulanan atau langsung kepada rencana harian?Hal ini karena visi peran merupakan sasaran jangka panjang, sehingga perlu ada sasaran jangka menengah.Rencana pekanan merupakan sasaran jangka menengah yang klebih cocok digunakan dari pada rencana bulanan.Sebab rentang waktu rencana bulanan terlalu panjang, sehingga sulit mempertahankan konsistensi pencapaian visi peran.Sedang rencana pekanan rentang waktunya tidak terlalu panjang dan juga tidak terlalu sempit, sehingga cukup efektif untuk mempertahankan konsistensi pencapaian visi peran.Jika visi peran langsung dituangkan dalam rencana harian, maka tidak ada sasaran jangka menengah sebagai arah yang mengantar sasaran jangka panjang (visi peran) dan sasaran jangka pendek (rencana harian).

Sebenarnya memebuat rencana pekanan berarti mau bersungguh-sungguh menyesuaikan waktu anda dengan apa yang menurut anda penting. Visi peran menggambarkan apa yang menurut anda penting. Jadi mengatur waktu pekanan berarti meenyesuaikan waktu anda dengan pencapaian visi peran anda. Persoalan pengaturan  waktu mulai muncul ketika anda tidak lagi menggunakan waktu anda sesuai dengan visi peran anda, sehingga membiarkan waktu berjalan tanpa arah yang jelas.

Sifat-sifat waktu

Sebelum sampai pada cara membuat rencana pekanan, kita perlu mengetahui tiga sifat waktu.

  1. Waktu tidak dapat diganti.

Waktu akan terus berjalan, tanpa ada yang dapat menghentikannya. Waktu bagaikan air yang terus mengalir menuju muara.Di mana setiap orang mempunyai muaranya masing-masing.Pada muara itulah kehidupan seseorang berakhir dan menemui ajalnya.Kita tidak tahu kapan waktu hidup kita berakhir.Namun yang jelas, setiap orang mempunyai jatah waktu bebeda-beda.Ada yang singkat, ada pula yang panjang, terrgantung jatah umur yang disediakan Tuhan kepadanya. Jatah waktu itu akan terus berlalu tanpa peduli apakh di isi dengan aktivitas yang penting atau tidak. Jika anda membiarkan waktu berjalan tanpa melakukan aktivitas yang sesuai dengan misi hidup, anda tak dapat mengganti waktu yang telah anda sia-siakan itu dengan waktu yang lain. Anda merugi karena telah membiarkan salah satu modal kehidupan anda berlalu tanpa ada hasil untuk anda dan masa depan anda. Biasanya yang timbul hanyalah penyesalan di kemudian hari.Penyesalan yang tak ada gunanya, karena waktu tak dapat di ganti oleh apapun.

  1. Waktu dapat melenakan.

Waktu berlalu tanpa terasa.Banyak orang yang merasa hidupnya amat singkat.Masa kecil yang sudah puluhan tahun ditinggalkannya terasa seperti baru kemarin.Begitu pula masa remaja dan masa dewasa terasa berlalu amat cepat.Waktu memang melenakan.Ia membuat orang lupa bahwa waktu terus berjalan menuju batasnya, dan ketika batas itu tiba tak dapat seorang pun yang dapat mengundurkannya walau sedetik. Ketika itulah mungkin kita baru menyadari bahwa waktu itu ada dan sangat berharga.Namun ini adalah kesadaran yang terlambat dan penyesalan yang taka da gunanya. Karena itu, sejak dini anda perlu menyadari  bahwa waktu dapat membuat anda terlena dan membiarkannya berlalu dengan sia-sia.

  1. Waktu adalah momen.

Waktu merupakan kesempatan yang tidak akan terulang untuk kedua kalinya. Para pakar sejarahmemperkirakan, jika para pendiri Negara Indonesia tidak memproklamirkan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 agustus 1945 mungkin sampai saat inibangsa Indonesia masih dijajah.

Kehidupan setiap manusia juga terdiri dari momen-momen yang seharusnya tidak dibiarkan berlalu begitu saja.Ada orang yang menyia-nyiakan masa mudanya.Padahal masa muda adalah momen untuk belajar.Ada juga orang yang menyia-nyiakan bakatnya dengan tetap bekerja di tempat yang tidak sesuai dengan bakatnya yang sebetulnya dapat mengubah taraf hidupnya.

Orang yang mampu mengatur waktu seharusnya jeli memanfaatkan setiap momen dalam hidupnya.Ia jeli mengambil setiap peluang yang ada dan menggunakannya untuk keberhasilan hidupnya. Sebaliknya orang yang kurang mampu mengatur waktu akan sering menyia-nyiakan momen dalam hidupnya, sehingga momen tersebut terbuang percuma. Padahal ia merupakan kesempatan emas yang mungkin tidak akan terulang lagi diwaktu yang lain.

Dampak Pengaturan Waktu Yang Buruk

Pengaturan waktu Yng buruk berarti kita tidak dapat menyesuaikan waktu kita dengan misi dan visi peran kita.Ketidakmampuan menyesuaikan waktu dengan misi berarti kita menelantarkan nilai-nilai yang kita anggap penting.Sedang ketidakmampuan menyesuaikan waktu dengan visi peran berarti kita tidak memiliki tujuan hidup yg jelas.Jika itu terjadi maka waktu kita terbuang percuma. Kita tidak akan memperoleh apa-apa yang berarti dalam kehidupan ini. Padahal orang yang sukses dan berhasil adalah orang-orang yang melakukan aktivitas yang berarti dan bermanfaat untuk dirinya maupun orang lain.

Beberapa hal yang merupakan indikasi dari pengaturan waktu yang buruk tampak dari beberapa kebiasaan berikut ini.

  • Sebagian besar jadwal waktunya ditentukan oleh orang lain.

Orang yang kurang mampu mengatur waktu akan mengisi sebagian besar waktunya dengan janji dan rencana orang lain, sehingga waktu yang diatur sendiri oleh dirinya menjadi sangat berkurang, bahkan tidak ada sama sekali. Orang sperti ini hidup dengan program orang lain.Ia terjebak pada rutinitas menjemukan yang membuat ia sulit mengevaluasi apakah program dari orang lain itu sesuai atau tidak dengan misi hidupnya. Penentuan jadwal waktu oleh orang lain bias saja ditolerir jika sesuai dengan misi hidup kita.

  • Sering menghadiri acara-acara yang kurang penting

Acara yang kurang penting adalah acara yang tidak sesuai dengan misi hidup atau kurang menunjang pencapaian visi peran kita. Banyak orang yang terjebak dengan acaara yang kurang penting karena merasa tidak enak menolak ajakan orang lain atau karena tidak mampu memanfaatkan waktu luang, sehingga akhirnya waktunya dihabiskan untuk kegiatan yang tidak sesuai dengan misi hidup atau pencapaian visi peran.

  • Suka menunda-nunda pekerjaan

Dampak dari suka menunda-nunda pekerjaan adalah bertumpuknya pekerjaan pada suatu waktu, sehingga keetika deadline nya tiba, kita terburu-buru dalam mengerjakannya.Akhirnya, hasil pekerjaan itu tidak maksimal atau malah tidak selesai.Orang yang suka menunda –nunda pekerjaan biasanya karena menunggu perasaan mood (girah) lebih dahulu sebelum melakukan pekerjaan. Padahal mood tidak datang sesuai kemauan kita, bahkan sering kali ia tidak muncul ketika kita inginkan. Karena itu tak perlu menunggu mood lebih dahulu sebelum melakukan pekerjaan, lakukan saja apa yang harus dilakukan. Malah seringkali mood itu datang justru ketika kita sedang melakukan suatu pkerjaan.

  • Suka melakukan pekerjaan dalam kondisi mendesak

Ada sebagian orang yang memiliki kebiasaan rampung bekerja karena dikejar deadline.Ia tidak bis bekerja kecuali dalam kondisi terdesak. Kebiasaan ini dalam jangka panjang dapat berdampak buruk bagi kesehatan. Stress berkepanjangan dapat mengakibatkan berbagi penyakit jiwa dan fisik.

  • Terlalu banyak menghabiskan waktu untuk santai dan bersenang-senang

Bersantai dan bersenang-senang bukanlah suatu hal yang tabu kita lakukan. Namun jika dilakukan tanpa perencanaan, kita akan menghabiskan terlalu banyak waktu untuk bersenang-senang. Akibatnya waktu kita banyak terbuang untuk suatu yang kurang bermanfaat.Biasanya ini terjadi karena balas dendam.Setelah selesai melakukan pekerjaan yang urgen dan menguras tenaga, kita lalu balas dendam denagan bersantai sepuas mungkin.Karena itu, hindari sebanyak mungkin bekerja dalam situasi urgen agar tidak balas dendam denagan bersantai sebanyak mungkin.

  • Sering merasa terlalu sibuk dan kekurangan waktu

Perasaan terlalu sibuk dan kekurangan waktu hanya akan dialami oleh mereka yang tak mampu mengatur waktunya dengan baik. Orang yang tidak mengatur waktunya tak akan tahu mana pekerjaan yang penting yang harus dilakukan dan mana pekerjaan yang tidak penting yang tidak perlu dilakukannya. Akibatnya ia akan merasa terlalu banyak yang harus dilakukannya dan tidak sebanding denagan waktu yang tersedia. Karena itu wajar jika ia merasa terlalu sibuk dan kekurangan waktu.

  • Sering merasa bersalah karena tak mampu menyelesaikan suatu pekerjaan

Sering merasa bersalah karena belum melaksanakan apa yang mesti dilakukan merupakan dampak dari pengaturan waktu yang buruk. Perasaan ini biasanya muncul dalam penyesalan.Menyesal karena tidak melakukanya dari dulu, menyesal karena terlalu banyak membuang waktu untuk kegiatan yang tidak bermanfaat, dan menyesal karena menyia-nyiakan peluang dan kesempatan.Hingga akhirnya merasa dirinya tidak banyak kemajuan atau gagal meraih cita-cita yang diharapkannya, padahal umur semakin bertambah dan jatah waktu hidup semakin berkurang.

  • Banyak masalah yang tertunda penyelesaiannya

Orang yang tidak mampu mengatur waktu akan banyak menunda pekerjaan yang mestinya di lakukan. Menunda pekerjaan pada hakikatnya menumpuk masalah,sehingga masalah semakin bertambah dan semakin sulit untuk di selesaikan.

  • Sering bingung dalam mengambil keputusan

Konsekuensi logis dari orang yang tidak mampu mengatur waktunya dengan baik adalah bingung dengan prioritas pekerjaannya.Mana yang harus lebih dulu di lakukan dan mana yang dapat di tunda. Wajar saja akhirnya dia bingung engambil keputusan, karena bagaimana ia dapat mengambil keputusa dengan baik jika menentukan prioritas pekerjaan saja sudah bingung.

  • Produktivitas berkurang atau tidak efektif

Pengaturan waktu yang buruk berdampak pada produktivitas kerja.Ini di sebabkan karena terbiasa melakukan pekerjaan dalam kondisi terburu-buru dan terdesak, sehingga hasilnya tanggung dan kurang berkualitas atau karena salah menetukan tingkat kepentingan pekerjaan itu sendiri, sehingga produktivitasnya tidak sesuai dengan yang di harapkan.

  • Sering melakukan pekerjaan secara tidak efisien

Tentu saja dampak selanjutnya dari pengaturan waktu yang buruk adalah tidak efisien dalam bekerja.Terlalu banyak sumber daya yang di habiskan dari pada hasil yang di peroleh. Salah satunya karena melakukan pekerjaan dalam kondisi terburu-buru,biasanya dalam situasi kondisi seperti itu akan banyak tenaga dan biaya yang terkuras lebih dari semestinya.

Jika indikasi diatas sering dialami beerarti anda perlu waspada.Sebab kemungkinan besar anda mengalami problem mengatur waktu (manajemen waktu). Jika anda tidak segera memperbaiki dengan cara mengatur kembali waktu anda, maka anda akan mengalami dampak dari pengaturan waktu yang buruk, seperti :

  1. Menimbulakan stress dan merasa bersalah
  2. Mangabaikan apa yang penting dan bermakna dalam hidup
  3. Selalu terburu-buru sehingga memprioritaskan jadwal dari pada hubungan.
  4. Kurang luwes dan spontan
  5. Tidak mempunyai waktu untuk pengembangan diri
  6. Terjebak pada berbagai masalah yang sebenarmya tidak perlu terjadi
  7. Tidak sukses mencapai tujuan hidup 

Matriks Manajemen Waktu

Untuk menghindari diri dari berbagai dampak pengaturan waktu yang buruk, anda perlu menjaga agar sebagian besar aktivitas anda selalu sesuai denagn misi hidup dan visi peran anda serta tidak dikerjakan dalam kondisi mendesak.

Dari matriks manajemen waktu, terlihat enam kuadran waktu.Kuadran waktu I adalah aktivitas yang mendesak dan seauai misi hidup sekaligus sesuai visi peran.Kuadran waktu II adalah aktivitas tidak mendesak dan sesuai misi hidup sekaligus sesuai visi peran.Kuadran waktu III adalah aktivitas mendesak sesuai misi hidup, tapi tidak sesuai visi peran.Kuadran waktu IV adalah aktivitas yang tidak mendesak dan sesuai misi hidup, tapi tidak sesuai visi peran.Kuadran V adalah aktivitas yang mendesak tapi tidak sesuai misi hidup sekaligus tidak sesuai dengan visi peran.Kuadran VI adalah aktivitas yang tidak mendesak dan tidak sesuai misi hidup sekaligus tidak sesuai dengan visi peran.

Cara untuk mengoptimalkan pemanfaatan waktu :

  1. Jangan menunda-nunda malakukan pekerjaan
  2. Dahulukan tindakan preventif (pencegahan) daripada tindakan kuratif (pengobatan)
  3. Hati-hati dengan waktu luang di antara dua waktu sibuk yang acapkali melenakan
  4. Sempatkan membuat perencanaan , walau sederhana
  5. Sempatkan melakukan evaluasi dan introspeksi diri.

Cara Mengisi Lembar Waktu Pekanan

Aplikasi dari matriks manajemen waktu dapat terlihat dari cara Anda melakukan aktivitas pekanan.Agar aktivitas pekanan Anda lebih banyak padaberada di kuadran II,ebagai kuadran terbaik,Anda perlu membuat rencana pekanan.Untuk itu,Anda perlumempunyai lembar waktu pekanan berikut ini.

Lembar waktu pekanan tersebut perlu diisi dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

  1.  Isi pada kolom peran Anda sesuai dengan lembar visi peran.
  2. Isi aktivitas untuk pencapaian visi peran di kolom janji.Namun jika Anda belum mengetahui waktunya secara pasti isi pada kolom prioritas Hari Ini atau prioritas Pekan Ini.Prioritas hari ini adalah hal-halyang harus anda kerjakan dalam sehari,tapi Anda belum mengetahui pasti jadwalnya.Sedangkan Prioritas Pekan Ini adalah hal-hal yang harus Anda lakukan dalam sepekan, tapi Anda belum mengetahui pasti kapan hari mengerjakannya.
  3. Pada waktu mengisi aktivitas Yng sesuai peran, nomori aktifitas tersebut dengan nomor pearan yang terdapat pada kolom peran.
  4. Sebaiknya semua peran dan aktivitasnya dalam Lambar Waktu Pekanan. Namun jumlah aktivitasnya blum tentu sama, Biasanya peran –peran  utama akn dapat waktu yang lebih banyak dari pada peran pembantu. Misalnya, peran sebagai karywan jumlah waktunya akan lebih banyak dari pada peran sebagai masyarakt
  5. Untuk mengajar agar anda dapat memenuhi berbagai tugas dan tsnggung jawab, idealnya setiap peran ada aktivitasnya, dalam Lembar Waktu Pekanan. Jika ada peran yang tidak ada aktivitasnya dalam Lembar waktu Pekanan hal itu hanya dapat di telorir untuk sementara. Upayakan agar dalam Lembar Waktu Pekanan pecan selanjutnya peran tersebut ada aktivitasnya. Toleransi untuk tidak melaksanakansuatu peran dalm sepekan adlah relative. Jika hal itu termasuk peran utama maka tidak boleh terlalu lama. Jika termasuk peran pembantu maka tergantung dari sejuah mana tuntunan terhadap peran tersebut. Namun hindari ada peran yang sama sekalitidak ada aktivititasnya selama jangka waktu pencapain visi peran.
  6. Upaya agar Lembar Waktu Pekanan Anda tidak seluruhnya terisi dengan aktivitas. Beri ruang kosong antara satu aktivitas dengan aktivitas lainya. Hal itu menjaga kemungkinan adnaya aktivitas kuadran IV (aktivitas berdasarkan peluang, aktivitas pengembangan diri dan membina hubungan)
  7. Aktivita pada Lembar Waktu Pekananharus lebih banyak aktivitas Kuadran II, bukan kuadran lainya. Jika anda terpaksa membuat janji untuk aktivitas kuadran lainya batasi agar tidak terlalu banyak.
  8. Lembar Waktu Pekanan sebaiknya diisi tiap pekan (hari yang di anjurkan adlah hari ahad malam atau hari senin pagi). Evaluasi Lembar Waktu Pekananuntuk pekan lalu. Evalaluasi, mana yang telah di kerjakan, dan mana yang belum. Jika belum, avaluasi apa sebabnya. Kemudioan isi Lembar Waktu Pekananuntuk pekan ini berdasarkan avaluasi pekan lalu. Biasanya waktu yang di butuhkan untuk mengisi Lembar Waktu Peknan hanya 15-30 menit. Luangkan Waktu Anda untuk mengisinya. Karena hal itu akan mengaruhkan Anda Pada pencapain visi peran peran secara beralangsung

Renungan : 3 Sifat Waktu

  • Tidak Dapat Diganti
  • Dapat Melenakan
  • Dia Adalah Momen

 

Apakah Anda Sudah Memiliki Waktu Yang Bermakna?

MEMBUAT RENCANA HARIAN

            “Barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin,mka ia celaka.Barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin,maka ia merugi.Dan barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin,maka ia beruntung” (Al-hadis)

Membiarkan hari-harinya berlalu bagai A ir yangmengalir.Ia tidak mempunyai rencana tentang

apa yang akan dikerja kan hari ini.Ia bekerja berdasarkan mood dan kesenangan,bukan berdasarkan misi dan pencapaian visi peran.Ia sering menunda-nunda pekerjaan.Dampaknya,pekerjaanya menjadi menumpuk pada suatu waktu.Iamenjadi sibuk pada suatu peran dan mengabaikan peran yang laianya.

Ahirnya,ada kekecewaan dan stress berkepanjangan dalam hidupnya.Hanya penyesalan lah yang akan diraih,bukan keberhasilan.

Menghilangkan Kebiasaan Menunda Pekerjaan

Menunda pekerjaan sudah menjadi ciri yang universal, sampai-sampai ada sebuah organisasi Penundaan Internasional yang anggotanya mempunyai rencana untuk menyelenggarakan pertemanan, tetapi sampai sekarang belum pernah terlaksana karena teus ditunda.

Memunda pekerjaan berarti tidak melaksanakan pekerjaan atau tidak menuntaskan pekerjaan yang seharusnya anda kerjakan pada saat itu juga. Penundaan akan menjadi masalah yang besar bila anda mengabaikan atau menunda pelaksanaan hal-hal yang sebenarnya penting bagi diri anda sendiri.

Sudah banyak contoh tentang akhir buruk yang timbul karena kita sering terlena oleh keasyikan menuruti kata hati untuk selalu menunda-nunda pekerjaan.Ini adalah penghambat kesuksesan dan efektivitas hidup.

Salah satu akibat menunda pekerjaan adalah menyia-nyiakan waktu sekarang yang tak mungkin kembali lagi. Dale Carnegie pernah berkata “ salah satu hal yang paling tragis yang saya ketahui mengenai sifat manusia adalah bahwa kita semua cenderung menyia-nyiakan waktu sepanjang kehidupan ini. Kita sering kali hanyut memimpikan taman bunga mawar surgawi diatas cakrawala sana, dan bukannya menikmati keindahan bunga mawar yang sedang berkembang diluar jendela kamar pada pagi hari ini.”

Agaknya ini merupakan kerugian terbesar yang kita alami akibat penundaan.Karena hari ini satu-satunya waktu yang kita miliki. Semua pembicaraan, harapan dan keinginan dimasa depan tidak lebih dari omong kosong jika kita tidak segera memanfaatkan masa sekarang dengan sebaik-baiknya.

Kerugian lain dari menunda pekerjaan adalah meningkatnya rasa bersalah dan frustasi karena pekerjaan semakin menumpuk dan keinginan tidak tercapai. Apabila anda ingin membuat pekerjaan yang ringan menjadi pekerjaan yang berat, tunda saja pelaksanaan pekerjaan itu (Ohlin Milter).Karir juga tak kunjung maju, hidup menjadi penuh dengan ketidakpastian, hubungan personal menjadi kurang serasi, dan terjadi keletihan kronis karena kesibukan tak berkesudahan yang dapat berakibat pada gangguan fisik dan jiwa.

Untuk tidak membiasakan diri menunda-nunda pekerjaan, ada beberapa kiat yang dapat membantu umtuk mengatasi kebiasaan buruk tersebut :

  1. Sadari dan akuilah bahwa penundaan merupakan suatu cara hidup yang tidak ada manfaatnya, bahkan banyak merugikan kita. Dengan menunda pekerjaan, maka emosi anda akan selalu tegang.
  2. Salah satu sebab menunda-nunda pekerjaan karena anggapan sulitnya pkerjaan tersebut. Karena itu pecahlah pekerjaan yang tampaknya terlalu berat menjadi pekerjaan kecil. Hanry Ford suatu ketika berkata “ tidak ada pekerjaan yang terlalu sulit bila hal tersebut dibagi menjadi beberapa bagian pekerjaan kecil.”
  3. Hadapilah tugas-tugas yang tidak menyenangkan secara sungguh-sungguh. Jika memungkinkan berikan waktu sedikit misalnya lima atau sepuluh menit, tetapi secara secara berkala. Kemudian laksanakan tugas saat itu juga dan berhentilah apabila waktunya habis. Sehari sepenuhnya bahwa jika anda tidak melakukan saat itu juga maka anda akan menggabungkan beban pekerjaan sekarang dengan beban pekerjaan mendatang yang semakin lama semakin memberatkan dan tidak menyenangkan.
  4.  Lakukan pekerjaan yang memerlukan gerakan fisik pada saat awal memulai pekerjaan. Kadang-kadang diperlukan sedikit gerakan fisik untuk membangkitkan semangat dalam rangka melaksanakan tugas penting. Jika anda ingin membuat laporan, ambillah sehelai kertas dan susun daftar pokok pokiran, sekarang juga. Apakah ada kesalahpahaman yang perlu diselesaikan secara tuntas dengan seorang relasi?
  5. Catatlah hal-hal yang menyenangkan yang akan terjadi bila anda melaksanakan suatu pekerjaan. Cata juga segala macam kerugia yang timbul jika anda terus menunda pekerjaan.
  6. Buatlah perjanjia dengan orang lain atau ceritakanlah apa yang anda akan lakukan kepada orang lain. Teknik ini akan memacu kita untuk menepati jadwal waktu menyelesaikan pekerjaan karena adanya perasaan malu jika tidak selesai.
  7. Berikan hadiah untuk diri anda sendiri bila anda berhasil menyelesaikan pekerjaan. Sebaliknya berikan hukuman apabila gagal.
  8.  Bersikaplah tegas dan milikilah keberanian untuk bertindak. Keberanian adalah kemampuan untuk bertindak pada saat anda merasa takut melakukan sesuatu. Ali Bin Abi Thalib berkata “ketakutan yang kita bayangkan biasanya lebih besar dari pada kejadian yang sebenarnya.” Menunda-nunda bertindak akan membuat bayangan kegagalan semakin lama semakin besar. Karen aitu, bertindaklah sekarang juga agar bayangan kegagalan tidak mengahntui anda.
  9.  Janganlah terlalu mudah merasa bosan. Ambil jalan lain untuk menuju kantor, agar anda tidak jenuh. Adakan makan siang direstauran yang berbeda. Baca buku yang berbeda. Dunia ini sungguh beragam, tetapi waktu untuk menikmatinya terlalu sedikit.
  10. Sering-seringlah bertanya pada diri sendiri “bagaimana saya dapat memanfaatkan waktu dan tenaga dengan sebaik-baiknya sekarang ini juga.
  11. Akhirnya, ajukan pertanyaan ini kepada diri sendiri setiap pagi “masalah terbesar apakah yang akan saya hadapi sekarang, dan apa yang harus saya lakukan untuk mengatasinya hari juga?”

Langkah Melakukan Rencana Harian

Setelah mengisi lembar waktu pekanan, maka perlu membuat rencana harian.Rencana harian adalah pencapaian dari hari kehari visi peran anda.Ia merupakan langkah-langkah kecil tanpa penundaan menuju terwujudnya misi dan visi besar anda.

Rencana harian sebenarnya sudah tercermin dalam lembar wakltu pekanan. Namun belum detail dan masih ada kemungkinan terjadinya perubahan. Karena itu, lembar waktu pekanan perlu dijabarkan lebih lanjut dalam rencana harian.

Beberapa langkah yang perlu dilakukan dalam membuat Lembar Waktu Harian adalah :

  1. Dengan mengacu pada lembar waktu pekanan, jabarkan lebih lanjut apa yang akan anda kerjakan hari ini.
  2. Tulis perkiraan waktu untuk mengerjakannya. Perkiraan waktu secara maksimal, bukan minimal. Misalnya, jika anda pergi ketempat klien, masukkan juga lama waktu berangkat dan pulang dan ri tempat klien, bukan hanya waktu berapa lama anda bertemu klien.
  3. Urutkan pekerjaan pada hari ini dengan cara memberi nomor urut. Kemudian kategori kan aktivitas anda berdasarkan kuadran matriks Manajemen Waktu.
  4. Jika masih ada waktu luang dalam Lembar Waktu Harian anda, biarkan itu kososng untuk memberi peluang melakukan aktivitas mendadak dan spontan.atau bias juga anda mengisinya dengan rencana aktivitas kuadran IV.
  5. Isi Lembar Waktu Harian anda setiap hari. Evaluasi Lembar Waktu Harian setiap hari. Evaluasi mana yang berhasil dikerjakan dan mana yang luput dikerjakan. Eavaluasi mengapa anda luput menegrjakannya. Kemudian isi Lembar Waktu Harian untuk hari esok berdasarkan evaluasi hari kemarin. Biasanya waktu yang dibutuhkan untuk mengisi LWH hanya 10 menit. Luangkan waktu anda untuk mengisinya. Karena hal itu akan mengarahkan anda kepadapencapaian visi peran anda secara berangsur-angsur.

Renungan

5 langkah menyusun rencana harian

  1. Jabarkan apa yang akan anda kerjakan hari ini
  2. Tulis perkiraan waktu untuk mengerjakannya
  3. Urutkan pekerjaan anda setiap hari dengan cara memberi nomor urut
  4. Biarkan waktu luang dalam lembar waktu harian anda untuk memberi peluang melakukan aktivitas mendadak dan spontan.

KESIMPULAN

Selamat! Anda telah membaca buku ini.Mudah-muadahan buku ini memberikan sumbangsih bagi perubahan hidup anda di masa mendatang. Dalam buku ini, anda telah belajar tentang cara mencapai kesuksesan dengan meraihnya sedikit demi sedikit. Anda telah belajar tentang caramengatur waktu sebagai modal utama untuk sukses. Anda telah mengetahui cara membuat misi, peran, visi peran, rencana pekanan, dan rencana harian sebagai langkah mengatur waktu yang efektif. Sekarang tinggal bagaimana anda merealisasikan apa yang terdapat dibuku ini. Mungkin pada tahap awal anda mengalami kesulitan dan canggungan untuk merealisasikan apa yang terdapat dalam buku ini. Tapi percayalah! Hal ini merupakan sesuatu yang wajar ketika anda melakukannya pertama kali. Ada pepatah mengatakan “mudah karena terbiasa.” Jika anda terbiasa melakukan apa yang terdapat dalam buku ini. Anda akan menjadi mudah melakukannya. Bahkan bias menjadi suatu karakter baru yang terus melekat sepanjang hidup anda. Lakukanlah secara konsisten apa yang dapat dalam buku ini.

Sumber : Judul buku Satria Hadi Lubis, MM, MBA. Breaking the Time, Pro You (kelompok Pro U Media), Yogyakarta,2010.

 

MANAJEMEN ALHAMDULILLAH


Meraih sukses kehidupan dunia akhirat

Hakikat sukses

Sukses. Kata yang begitu akrab di telinga kita. Sebagai luapan atas kelahiran anak, kita sering mendengar oran mengatakan ”Alhamdulillah, anak saya lahir dengan sukses”, beranjak balita ucapan ini sering terlontar, “Alhamdulillah anak saya sukses diterima di TK itu”, dan seterusnya. Termasuk ketika sukses mendapatkan pekerjaan diperusahaan yang besar, ataupun ketika sukses membangun rumah dan mendapatkan mobil mewah.

Esensi kehidupan dibangun diatas definisi sukses yang sering kali berbasis pada  materi semata. Kesuksesan materi menjadi standar hidup kebanyakan manusia. Padahal, kesuksesan material akan berbahaya bagi seorang jika dibarengi dengan terjangkitnya penyakit jiwa yanbg bernama kesombongan. Biasanya penyakit kesombongan menempel dengan materialisme. Dan hampir semua manusia tak lepas dari penyakit kesombongan ini, kecuali hamba-hamba yang diselamatkan Alla.

Itulah gambaran sukses yang berkembang ditengah-tengah masyarakat saat ini. Persis seperti yang dialami pada zaman jahiliah saat Muhammad Saw. diutus menjadi rosul Saw. lebih dari 14 abad yang lalu. Ketika itu, sukses dikait-kaitkan dengan pencapaian dunia matei, seperti kemampuan bersyair, keturunan, suku, harta, takhta, dan wanita, tanpa ada sistem fitri yang mengaturnya. Semua cenderung berlandaskan hawa nafsu, bukan kecerdasan spiritual, emosional, dan intelektual yang memadai. Itulah suskses yang dibungkus dengan kebanggan semu.

Suskses dalam pandangan Al-Qur’an bisa terlihat dari spirit ayat-ayat tesebut:

Wahai orang-orang yang beriman! Maukah kutunjukkan kalian pada suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kalian pada azab yang pedih?. Yaitu kamu beriman kepada Alloh dan Rosul-Nya dan berjihad dijalan Alloh dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kalian, jika kalian mengetahuinya. (QS. Al-Shaff : 10-11)

Ini adalah suatu haru yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran (iman) mereka. Bagi meraka surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai. Mereka kekal didalamnya selama-lamanya. Alloh ridho terhadapnya. Itulah kesuksesan yang paling besar. (QS. Al-Maidah : 119)

Brdasarkan wahyu dari segala sumber informasi, yakni Allah Swt., makna atau definisi sukses dari seorang anak manusia bukan hanya diukur dari pencapaian berbagai materi, pangkat dan kedudukan di dunia. Akan tetapi, sejauh mana ia berhasil manjalankan misi ibadah, dan visi kekhalifahan yang telah ditentukan olehTuhan.

Materi dengan segala fasilitas hidup yang diciptakan Allah Swt., didunia ini hanyalah sarana untuk merealisasakian misi ibadah dan visi khalifah, bukan sebagai tujuan hidup. Tujuan hidup didunia yang fana ini adalah kejhidupan abadi diakhirat kelak. Disanalah ditentukan manusia sukses atau tidak. Saat Allah Swt., menganugerahkan kepadanya surga dan terhindar dari neraka, itulah kesuksesan sesungguhnya, yaitu kesuksesan tanpa batas.

Pimpin Keyakinan Dengan Prinsip

Sukses atau kesuksesan itu berkaitan juga dengan keyakinan kita. Keyakinan (faith) adalah seperangkat prinsip dan nilai yang sekaligus menjadi misi suci hidup kita. Dan agar lebih optimalmembantu kita meraih sukses masa sekarangdan yang akan datang, tentunya kita harus memipin dan mengarahkan keyakina itu dengan psinsip. Yang dimaksud dengan prinsip dalam konteks ini bukan sebatas teori pemikiran, melainkan narasi nyata dari optimisme kita sebagai manusia. Segala sesuatu memang harus dimulai dari dan dengan keyakinan. Keyakinan akan memberikan kekuatan dalam kehidupan kita. Karena itu, ada 3 prinsip yang harus anda yakini. Yakni, yaitu prinsip manusia, prinsip alam, dan prinsip Tuhan.

Prinsip manusia akan mengajak memahami pilihan-pilihan dan membantu mengarahkan hidup kita untuk meraih sukses jangka panjang.

Prinsip alam akan mengajak kita melihat bagaimana bekerja dan memanfaatkan hukum alam yang ada untuk senantiasa menghadirkan keberuntungan dalam hidup. Alam memiliki seperangkat hukum yang mengikat makhluk di dalamnya. Hukum kekekalam enegi menjamin bahwa tidak ada energi di dunia ini yang sia-sia. Kita akan mendapat hasil yang sama dengan usaha yang kita lakukan.

Adapun dalam prinsip Tuhan, kita akan diajak kaitan erat antara Tuhan dan makhluk-Nya serta bagaimana bisa mengakses energi Tuhan untuk memperoleh kekuatan tanpa batas, sehingga kita menjadi orang yang berprestasi dan memiliki kebermanfaatan yang tinggi bagi lingkungan kita.

Ketiga prinsip keyakinan tadi pada gilirannya akan memberikan motivasi pada dirikita untuk bisa lebih berkembang. Bahkan spirit tiga prinsip keyakinan tadi akan terus menjadi jaminan terhadap kebersehajaan mental dan sosial kita. Dengan keyakinan yang rasional dan berkualitas, seluruh aktifitas hidup kita akan menjadi inspirasi terbaik bagi lingkungan kita. Itulah kerja yang sungguh-sungguh. Dan Al-Qur’an telah menegaskan bahwa siapa saja yang bekerja dengan penuh keyakinan (keusngguhan), maka ia akan bertemu dengan Tuhannya.

Prinsip Becermin untuk Manajemen Diri

Manusia sebagai makhluk Allah Swt., yang ditakdirkan untuk menjadi khalifah di muka bumi ini dibekali keunikan-keunikan dibanding dengan makhluk lainnya. Karea itu, pengetahuan akan diri merupakan sesuatu yang wajib dilakukan oleh manusia untuk mengembangkan kapasitas dirinya didalam kehidupan ini.

Dalam konteks etika sosial, misalnya, pengetahuan akan diri sesuatu yang sangat dibutuhkan. Kalau kita sakit ketika dipukul, jangan memukul orang lain. Kalau kita tidak suka dikhianati, jangan mengkhianati orang lain.

Begitulah pelajaran akan diri sendiri menjadi sangat penting dalam hidup dan kehidupan ini. Diri mita adalah cermin bai orang lainm, begitu juga sebaliknya. Tengggang rasa, empati, dan merasakan penderitaan orang lain merupakan bukti bahwa kesadaran diri kita semakin meluas. Sesama muslim, bahkan sesama manusia adalah ibarat satu tubuh. Ketika yang lain sakit, tentunya kitapun merasakannya.

Para CEO perusahaan-perusahaan besar, baik lokal maupun multinasional, merupakan orang yang selalu berusaha mengenal dirinya. Sekali dia lupa dirinya, maka tak lama lagi kariernya akan tenggelam. Mereka mengoptimalkan potensi yang ada dalam dirinya, baik potensi yang berasal dari tubuh, akal, maupun jiwanya.

Proses pembacaan diri harus dilakukan dalam kerangka untuk pencapaian masa depan yang sukses. Pembacaan diri harus dilakukan sebelum menentukan visi yang akan diraih, sehingga impian yang ada bukan sekedar angan-angan kosong, melainkan berpijak pada kemampuan diri yang bisa terus dikembangkan.

Minimal ada dua tahapan dalam proses pembacaan diri. Pertama: membaca diri sebelum menentukan target dan impian yang akan dicapai. Kedua: membaca diri ketika sedang menjalani proses pencapaian taget itu sendiri.

Self Leadership Berbasis Quranic Spiritual Commitment

Membangun budaya kepemimpinan berbasis spiritualitas Al-Qur’an, setidaknya bisa ditransformasikan melalui semangat ayat-ayat berikut:

Sesungguhnya orang-orang yang (1) membaca kitab Allah, (2) mendirikan sholat, (3) menfkahkan dari sebagian yang telah kami rizqikan kepada mereka, baik secara sembunyi atau terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan pernah merugi. (QS. Al-Fathir [35]:29).

Spirit ayat ini akan malendasi kualita kerja-kerja sosial dalam kehidupan.Semangat ayat ini menjadi bukti bahwa manusia memang bukan makhluk yang hanya memperkuat nialai vertikalitasnya, tetapi ia juga harus mampu melejitkan niali horizontalnya. Sebab mengingkari syukur kepada manusia, menurut agama adalah ingkar juga kepada Tuhannya.

 

Gambar berikut ini sebagai salah satu upaya melukiskan kaitan dasar spiritualitas dalam kehidupan.

 

Self Leadership

Membaca Kitab Allah                                                  Self Development        

Mendirikan Sholat                                                              Self Conciousness

Menafkahkan Sebagian Rizqi Allah                               Self Contribution

 

 Membaca Kitab Allah

Membaca kitab Allah Swt., merupakan aktifitas yang bukan sekedar memahami makna lahir dari teks-teks yang ada. Kitab Allah Swt., baik yang tertulis (ayat-ayat qauliyyah)  maupun yang berupa ayat semesta (kauniyyah) harus kita kaji dan dalami untuk proses kehidupan. Pembacaan atas kitab Allah Swt., menjadi sangat wajib karena disanalah lautan ilmu bisa kita dapatkan. Kita bisa merenungkan bahwa didalam kitab-Nya semua peroslan sudah tercakup.

Mendirikan Sholat

Setelah kita membaca kitab Allah Swt., perintah yang selanjutnya adalah mendirikan sholat. Mendirikan sholat mempunyai makna filosofis bahwa ia bukan ritual belaka, melainkan bagaimana sholat bisa terimplementasikan nilai-nilainya dalam kehidupan dalam keseharian.

Sholat merupakan latihan diri untuk terus menerus mengasah jiwa dan ruh kita agar bersih terang benderang, sehingga bisa tersingkap bahwa diri kita yang sebenarnya adalah makhluk spiritual. Makna kesadaran terdalam mendirikan sholat inilah yang saya sebut dalam gambar tadi sebagai proses self conciousness (kesadaran diri)

Menafkahkan Sebagian Rizqi Allah Swt.

Perintah ketiga adalah menafkahkan sebagian rizqi Allah Swt., kita harus sadar bahwa pada hakikatnya, kekayaan dan rizqi Allah Swt., yang dikaruniakan kepada kita dalah milik Dia semata. Allah menitipkannya agar kita sebarkan kepada mereka yang berhak. Karenanya, proses yang ketiga ini saya sebut sebagai self contribution (kontribusi diri).

Panduan Manajemen Alhamdulillah

Strategi 1: Self Conciousness

Menjadi Manusia Berkesadaran: Ulul Albab

Salah satu ungkapan Al-Qur’an berkaitan dengan karaker manusia yang paling menggambarkan sinergi antara kompetensi dan akhlak terpuji adalah Karakter Ulul Albab. Karakter ini sama sekali tidak dilekatkan oleh Al-Qur’an kepada makhluk selain manusia, karena ia merupakan karakter khas khlaifah Tuhan dimuka bumi. Firman Allah Swt., seungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal (ulil albab) (yaitu) orang-oranbg yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, maka peliharakanlah kami dari siksa neraka” (QS. Ali Imran [3]: 190-191).

Dari ayat ini jelaslah bahwa Ulul Albab adalah orang-orang yang senantiasa mengingat Tuhan dalam keadaan apapun, baik ketika senang maupun susah.selain itu, mereka juga senantiasa negoptimalkan akal budinya untuk mengamati, memikirkan, dan menelaah alam semesta ciptaan Tuhan, serta mampu memahami bahwa alam semesta itu tidak acak-acakan, tetapi teratur sesuai Sunnatullah. Gambaran ini menunjukan bahwa Ulul Albab adalah pribadi-pribadi yang mendapatkan dua karunia sekaligus, yaitu kecerdasan  dan keimanan atau karunia pikir dan karunia zikir.

Dalam tataran psikologi modern, Ulul Albab adalah pribadi-pribadi beriman yang mampu memfungsikan secara optimal potensi-potensi rasional (IQ), emosional (SQ). Mereka tidak saja mamou bersikap dan berpikir empiris, tetapi juga transendental serta mampu mewujudkan sebaik-baiknya hubungan dengan Tuhan hablun min Allah), hubungan antar pribadi (hablum min al-nas) termasuk hubungan dengan diri sendiri serta kepada alam sekitar.

Tidak Ada Kebetulan

Dalam sehari-hari kita sering kali menjumpai atau mengalami berbagai peristiwa yang seolah-olah itu merupakan sebuah kebetulan. Misalkan, tiba-tiba dalam perjalanan dinas kita bertemu dengan sahabat lama yan bertahun-tahun tidak ketemu, atau mendadak mendapat promosi jabatan tertentu tanpa disangka-sangka sebelumnya.

Kalau kita menyadari kebesaran dang keagungan-Nya, sebenarnya peristiwa-peristiwa yang seolah-olah kebetulan tersebut sejatinya “bukan kebetulan”. Kita harus mengimani bahwa hal itu memang skenario besar Tuhan dalam kehidupan ini. Sesungguhnya  Allah itu Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Persoalan yang mengemuka adalah pesoalan-pesoalann yang muncul secara “kebetulan” itu membuat kita merasa tidak nyata. Ketika seperti inilah kita perlu mengedepankan 2 hal secara instan: ikhlas dan berbaik sangka. Melalui komitmen keikhlasan, kita akan lapang dada dan berprasangka baik kepada Allah atas apa yang terjadi dan kita alami. Sebab, Allah pasti Mahatahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya.

Kalau sudah sampai pada tahap ikhlas, kita tidak akan menganggap semua peristiwa sebagai sebuah kebetulan. Semua adalah rencana Allah untuk hamba-hamba-Nya yang sadar, dan semua merupakan pesan Allah yang harus kita baca.

Ketika hati telah terbuka, boleh jadi peristiwa-peristiwa yang kita sebut sebagai kebetulan itu justru jawaban dari isyarat Allah. Pada tahap inilah kita akan berkata dengan sepenuh kesadaran, sebagaimana ungkapan Al-Qur’an: “Robbana maa kholaqta haadzaa baathilaa” Wahai Allah, tidak ada ciptaan-Mu yang sia-sia.

Rasa Berlimpah

Kemampuan atau kapasitas mental yang diaktualisasikan secara optimal akan menghasilkan kebiasaan berpikir “menang, menang, dan menang” dalam menjalin hubungan dengan orang lain. “Menang” disni tidak dapat diartikan sebagai perilaku gampang menyikat dan mengalahkan orang lain dengan seenaknya. Istilah menang ini berorientasi pada aktualisasi sikap positif dan empatik dalam diri ketika bersentuhan langsung dengan apa yang ada diluar diri kita, termasuk kerabat dan mitra kerja. Itulah yang dimaksud dengan mentalitas berlimpah (sense of abudance).

Pibadi yang memiliki rasa berlimpah akan melihat setiap kejadian sebagai peluang untuk memperbaiki diri. Sering kali, dalam pekerjaan,kita mendapat sumber daya yang terbatas. Mentalitas berlipah akan berkatan, “Alhamdulillah, anggaran terbatas, waktu mendesak, berarti kita harus lebih kreatif”. Atau, ketika menghadapi bos yang sulit, pribadi berlimpah akan menyikapi dengan perkataan, “Alhamdulillah ini kesempatan untuk belajar sabar dan mengasah keterampilan menjual”. Pribadi berlimpah hanya memiliki energi positif dan tidak ada tempat untuk energi negatif mengelih dan menyalahkan. Mentalitas berlimpah seperti itu akan menghasilkan karakter kepribadian berprinsip.

Memilih Respons Terbaik

Kita harus memilih sikap kita. Sikap terbaiklah yang harus kita pilih. Yakni, bagaimana kita selalu menjadikan pengalaman dan pengetahuan hidup untuk terus menerus memperbaiki kualitas diri kita. Inlah yabng mengantarkan kita menjadi pribadi yang unggul. Tidak pernah berkelu kesah pada diri sendiri, orang lain, atau bahka kepada Allah Swt. sekalipun kesalahan, kegagalan, penderitaan dan sejenisnya senantias ditempatkan sebagai ujian mengasah ketajaman hati dan kebesaran jiwa dalam memaksimalkan dinamika hidup.

Sikap kita mencerminkan bagaimana pola pikir dan kesadaran yang kita miliki. Dengan mengembil sikap yang terbaik dala hidup kesadaran dan pengetahuan kitapun akan memperoleh umpan balik berupa hkmah yang terus berlimpah dalam kehidupan ini.

Bersandar Hanya Kepada Allah

Ketika manusia dikaruniai akal dan hati, tentu akan sampai pada suat kesimpulan bahwa diri kita ini sebenarnya fana. Sebagai makhluk yang fana tentunya kita akan tetap bergantung kepada Tuhan Yang Mahakekal, bukan bergantung kepada orang lain. Kita harus selalu menyandarkan diri kepada Allah Swt., karena kita bukan apa-apa ditengah-tengah hamparan semesta yang luas ini. Kita tak lebuh percikan kecil dari potensi yang Allah hidangkan di muka bumi.

Ketika kita bersandar secara total kepada-Nya, maka Dia yang akan menggerakan seluruh kehidupan kita. Inilah salah satu kunci sukses manusia baik untuk kehidupan di dunia maupun untuk kehidupan di akhirat kelak.

Memungut  Hikah Dari Semua Peristiwa

Ketika kita menyadari bahwa setiap peristiwa yang datang kepada kita asalnya dari Allah Swt., dan akan kembali kepadaNya, hati ini sebenarnya menjadi lapang. Kita tidak mempunyai beban apapun, karena kjita sadar bahwa setiap peristiwa mengandung hikmah didalamnya. Bukan peristiwa yang mengubah seseorang , melainkan orang tersebut yang mengubah dirinya dengan mengambil suatu pelajaran dari kejadian itu.

Benar hal itu sering kali kita praktikan, tetapi kita harus terus belajar untuk bisa berma’rifat kepada Allah sehingga segala sesuatu bisa kita jalani dengan suka cita. Setiap detik kita dilimpahi hkmah. Ilmupun kita bertambah. Dan ketika kita mengeluh atas setiap paristiwa yang dialami, kita sendirilah yang menghijab datangnya hikmah yang sebenarnya berlimpah ruah dalam kehidupan ini.

Strategi 2: Self-Development (pengembangan Diri)

Be Proactive: Sebagai Agen dan Aktor Perubahan

Pribadi unggul adalah orang yang terus menerus mengambil peran dalam setiap kesempatan dimanapun dan apapun posisinya. Ia bukanlah objek yang terombang – ambing gelombang perubahan yang terjadi di lingkungannya. Ia mampu menjadi subjek perubahan.

Dalam lingkungan kelompoknyam, ia  mampu bergerak sebagai inisiator: agen dan aktor perubahan. Ia juga proaktif didalam meberikan solusi terhadap berbagai persoalan yang ada. Ia aktif sebagai pemecah masalah (problem solver), bukan malah menjadi sumber masalah (problem makera). Inilah bukti bahwa adanya kualitas pengembangan diri dalam kehidupan seseorang.

4K: Komitmen, Kompeten, Konsisten, dan Konsekuen

Ketika seseorang ingin sukses dalam pengembangan dirinya, baik dalam persoalan bisnis ataupun lainnya, ia harus menjalankan 4K ini.

  1. Komitmen mengandung pengertian bahwa bisnis (misalnya) bukan haya dipertanggungjawabkan pengelolaannya, namun juga harus mempertanggungjawabkan.
  2. Kompeten seseorang harus mempunyai kemampuan dan keunggulan yang sesuai dengan bidang pekerjaan yang sedang ia geluti.
  3. Konsisten seseorang harus fokus terhadap bidang pekerjaan yang sedang digarapnya.
  4. Konsekuen dalam setiap pekerjaan kita harus siap dengan resiko yang nantinya akan kita temui baik dalam kondisi menguntungkan mauoun kondisi merugikan.

Menjadi Pendaki : Ikhtiar Tanpa Henti

Pendakian sebuah tujuan merupakan ikhtiar yang tiada henti dalam berbagai persoalan kehidupan. Mereka yang bermental pendaki akan selalu menjadikan segala rintangannya sebagai pendorong untuk mencapai kesuksesan dalam segala hal, terutama tujuan dan cita-citanya.

Proses pendakian memang akan dikacaukan oleh berbagai jalan penyelesaian yang beragam. Tapi percayalah, ketika sudah mantap dan teguh dan mantap dalam usaha mencapai visi, kita akan lebih fokus dalam memilih jalan mana yang bisa menghantarkan pencapaian cita-cita itu dengan benar.

Strategi 3 : Self-Contribution

Manusia Bernilai Tambah

Kalau kita renungkan secara mendalam, Tuhan yang Maha Pengasih berkehendak baik bagi kita. Semua bergantung kepada kita untuk meraih dan menikmatinya atau hanya berhenrti ditengah jalan. Seorang yang sukses adalah kalau ia berhasil membawa nilai tambah bagi dirinya sendiri dan juga berhasil membawa niali tambah bagi lingkungannya. Sebagai makhluk sosial, manusia selalu berhubungan dengan manusia lainnya, dengan makhluk hidup lainnya, bahkan dengan benda mati sekalipun.

Mereka yang sukses dan signifikan, adalah orang-orang yang pandai dan cerdas dalam memnfaatkan lingkungan secara fokus. Prinsip dasar hidup mereka adalah bersosialisasi membangun jejaring.

Team Player & Solution Finder

Kita tidak bisa menganggap bahwa suksesnya sebuah pekerjaan adalah hasilkerja keras kita sendiri. Semua pihak mempunya andil, berapapun kecilnya, sesuai dengan bidang yang ditanganinya masing-masing. Dalam sebuah tim kerja, pribadi yang selalu berpikir sukses tim dan bukan sukses dirinya sendiri, akan semakin meningkat nilai dirinya dimata anggota tim atau anggota lainnya, begitu pula sebaliknya.

Karena itu, dalam bekerja untuk mencapai hasil kita adalah sebuah tim. Dalam sebuah tim tentunya diperluakan solideritas, rasa hormat, dan kerja sama diantara para anggotanya. Solideritas diantara anggota tim akan memberiak jalan yang lebih mulus bagi tercapainya sebuah tujuan.

Dalam sebuah tim pula, kita semestinya menjaditeam player, yaitu aktor, dan kontributor keberhasilan tim sesuai peran dan tangung jawab kita. Pada saat yang sama juga bisa memberikan dan menemukan penyelesai solusi bagi masalaha anggota tim lainnya. Penyelesai solusi adalah orang yang berikhtiar mencari solusi dari sumber manapun, tidak semata-mata dari dirinya, selama bisa menjadi jawaban terbaik bagi persoalan anggota dan timnya.

Logis Tapi Empati

Dalam upaya pencapaian tujuan, hal yang perlu dilakukan juga adalah kita bersikap logis. Maksudnya, dalam membuat rencana kerja atau tahapan-tahapan pencapaian tujuan dilakuakan dengan menggunakan logika sehat, sehingga semua hal tersebut bisa kita kontrol dalam prosesnya. Selain dengan logis, disisi lain kita harus berrempati dengan pihak lain, atau juga bawahan kita. Sebab, yang kita hadap bukan mesin yang tidak mempunyai perasaan, melainkan orang-orang yang mempunyai perasaan.

Logis tetapi juga empati merupakan sebuah langkah yang bijak dalam bersikap. Jadi, kita tetap bersikap logis tanpa harus bersikap cuek terhadap lingkungan kita. Intinya, kita tifdak bisa mengunakan kaca mata kuda. Dalam setiuap tindakan kita yang logis haruslah menjaga kesantunan, menyenangkan, membangun rasa hormat, dan menjadi solusi bagi pelanggan, bawahan, atau rekan kerja kita.

Mnejadi Manusia Yang Signifikan

Manusia signifikan adalah manusia yang merasa sukses dan beruntung kalau membuat orang lain sukses. Mereka dalah orang-orang besar (great people) dan mulia. Orang-orang besar adalah mereka yang bersedia berkorban dan menunda kepentingan diri sendiri untuk kepentingan orang banyak. Sukses kita hari ini sesungguhnya adalah sukses perjuangan dan pengorbanan orangtua kita,vserta orang-orang jyabng membantu di sekitar kita.

Pemimpin yang signifikan adalah pemimpin yang dapat melahirkan kader-kader pengganti yang lebih baik dari dirinya. Tidak ada jalan pintas bagi manusia signifikan. Kebesaran dan kemuliaan bukan pemberian, tetapi buah atau hasil dari proses perjalanan yang teguh dan konsisten untuk memberi manfaat dan energi positif dimanapun dia berada.

PENUTUPAN

Menyikapi Setiap Kejadian dengan Bijak

Sikap terbaik yang harus kita lakukan adalah tetap berprasangka baik kepada Allah Swt., dalam segala sesuatu. Sebab, dari sikap itulah lahr motivasi dalam diri kita untuk bisa mencapai kesuksesan yang seharusnya. Berpikirlah positif bahwa segala sesuatu pasti menyimpan hikmah. Kita tidak perlu kecewa atas apa yang terjadi. Karena semua yang terjadi dalam hidup merupakan pelajaran bagi kita untuk terus mendaki kesuksesan yang menanti didepan kita.

Beberapa hal yang dapat dijadikan kunci meraih sukses antara lain….:

Berilmu Sebagai Setir

Berilmu berarti harus memperbanyak pengetahuan, meningkatkan keilmuan, dan mengelaborasi pengalaman. Dengan ilmu dan penglaman, segala persoalan akan lebih mudah dicarikan jalan keluarnya. Dengan ilmu pula, berbagai antisipasi bisa kita lakukan untuk menghadapi situasi yang mungkin saja terjadi. Seseorang yang berilmu akan memiliki kemampuan untuk mengerjakan bukan hanya hal-hal yang kecil, termasuk pekerjaan yang besar.

Disinilah ilmu berperan sebagai setir, yang akan mengarahkan setiap gerak langkah kita dalam meraih tujuan.

Bersyukur Sebagai Gas

Bersukur merupakan gas, yaitu media mengakselerasi motivasi dan tindakan untuk mencapai kesuksesan. Bersyukur berarti semakin mendidik diri kita untuk menjadi lebih ikhlas dan optimis dalam menggapai cita-cita. Orang yang jarang atau tidak bersyukur, berarti ia tidak mengerti dan tidak pula menghargai potensi dirinya.

Sabar Sebagai Rem

Bersabar merupakan kemampuan seseorang untuk bisa mengendalikan diri dari hasrat yang belebihan terhadap dunia, atau cobaan yang Allah berikan kepada kita. Sabar harus dijadikan rem bagi kita untuk bisa menahan keinginan berlebihan yang mungkin bisa menghancurkan jalan kesuksesan yang sedang dan akan kita rintis. Orang yang sabar adalah oran yang penuh ketelitian. Dari ketelitian dan kejelian, akan lahir kematangan. Dan dari kematangan, akan tumbuh subur keberhasilan.

resume dari MANAJEMEN ALHAMDULILLAH, Indra Utoyo, Mizan Bandung, Januari 2011, 142 Halaman

Agar “NGAMPUS” tak Sekadar “STATUS”!


 

Oleh: Dina Fauziah


Kirim Print

Ilustrasi (inet)

 “Jangan sekolah apalagi kuliah jika Anda hanya ingin menjadi kaya, tenar, dan hidup mapan”!

Tagline di atas adalah bentuk sindiran terhadap anak-anak bangsa yang bersekolah ataupun mengenyam bangku perkuliahan hanya untuk mendapatkan hidup mapan setelah mereka lulus.

Tak terasa, bangsa ini akan memperingati hari pendidikan nasional. Momentum baik ini sebaiknya sebagai ajang refleksi status kaum intelek yang bernama mahasiswa. Kuliah atau yang biasa disebut “ngampus” bukan lagi masanya untuk mencari jati diri. Mahasiswa bukan lagi orang yang ragu-ragu dalam melangkah. Di masa ini, mahasiswa lebih fokus untuk mengasah life skill mereka sehingga dapat berkontribusi sebaik-baiknya pada masyarakat. Menjadi mahasiswa dalam makna sebenarnya adalah pilihan. Pilihan untuk bermetamorfosa dari dunia SMA menuju dunia kedewasaan dengan pemikirannya yang matang dari segala macam aspek.

Kehidupan kampus sepenuhnya adalah tanggung jawab kita. Bebas menentukan apapun. Tidak ada lagi guru yang mengingatkan ketika belum mengumpulkan tugas. Tidak ada lagi hukuman, berdiri di depan kelas karena tidak memperhatikan pelajaran. Tidak ada lagi pemeriksaan atribut seragam yang kurang lengkap. Namun, menjadi seorang yang bernama “mahasiswa” bukanlah perkara yang mudah. Ada tujuh poin yang harus melekat pada mahasiswa. Ada nilai yang sarat akan karakter mahasiswa yang sesungguhnya, dan yang terpenting agar “ngampus” tak sekadar status!

Mahasiswa idealnya punya visi dan berpandangan visioner. Stephen R Covey (penulis buku motivasi internasional) menyatakan bahwa visi adalah tujuan akhir. Visi membuat hidup semakin bergairah, sebab kita mempunyai target yang jelas untuk kita capai. Mahasiswa yang tak mempunyai visi akan membuat hidupnya berjalan bagaikan air. Hanya mengalir tanpa tujuan dan ambisi yang ingin dicapai. “Let it flow” adalah jurus ampuh ketika mahasiswa tak ingin dibebankan oleh sederet kerja keras dalam meningkatkan kualitas akademik dan segudang amanah dalam berorganisasi. Tidak ingin merasakan sedikit pun ada beban di punggung yang harus di bawa sepanjang perjalanan menuju kesuksesan. Meskipun sukses, namun sukses yang disebabkan oleh kemujuran atau keberuntungan yang bersifat sementara bukanlah petikan buah manis yang dipetik dari pohon perjuangan. Maka dari itu, sebagai seorang mahasiswa yang sesungguhnya, mulailah memiliki visi yang jelas. Buatlah perencanaan hidup agar hidup semakin terarah. Banyak buku yang mengulas mengenai visi. “7 Habits of effective people”, Stephen R Covey dan “I can do it” 9 Cara meraih sukses-nya Stedmen Graham bisa menjadi bahan referensi untuk memaknai kembali pentingnya menancapkan visi bagi mahasiswa ataupun orang lain.

Mahasiswa juga harus memiliki konsep yang jelas. Konsep yang jelas di sini adalah kemampuan seseorang dalam mengenali dirinya sendiri dengan baik. Terkadang kita menganggap diri kita lemah dan memiliki banyak kekurangan. Hal yang paling fatal bagi seorang mahasiswa adalah ketika dia belum mengenal dirinya sendiri. Apa kelebihan dan kekurangannya. Padahal banyak potensi dalam diri yang tanpa disadari dapat melejitkan prestasi-prestasi kita. Bagaimana mungkin kita mengasah kemampuan diri kalau kita saja belum mengenal baik diri kita sendiri. Dengan mengetahui kekurangan kita, kita akan berusaha untuk mengubah kesulitan menjadi tantangan. Rintangan menjadi peluang sehingga setiap detik selalu ada karya tercetak dan tak ada waktu yang terbuang sia-sia.

Mahasiswa tak ragu untuk berimajinasi. Imajinasi bukan hanya untuk anak-anak. Mahasiswa pun perlu berimajinasi. Perbedaan antara imajinasi anak-anak dan mahasiswa adalah proses implikasi dan realisasi imajinasi tersebut. Imajinasi itu diperbolehkan asal imajinasi yang produktif. Tak ada larangan untuk terus menyuburkan imajinasi kita. Dengan adanya imajinasi kita mempunyai gambaran atau bayangan bagaimana kita ke depan.  Jangan remehkan dahsyatnya berimajinasi! Berimajinasi tentunya harus didukung oleh kerja keras nyata demi merealisasikan mimpi-mimpi kita.

Mahasiswa harus punya target yang jelas. Banyak orang yang keliru menginterpretasikan antara target dan visi. Visi adalah rencana kita ke depan secara global dan general. Lain halnya dengan target yang sudah kita uraikan menjadi beberapa spesifikasi. Target harus bersifat realistis. Realistis terhadap kemampuan kita. Target pun harus bertahap. Langkah yang besar diawali dari langkah yang kecil.

Mahasiswa pembelajar atau pengumpul nilai? Mahasiswa pembelajar tidak berorientasi pada nilai, nilai hanyalah sebuah bonus yang didapat setelah kerja keras. Mahasiswa pembelajar mengedepankan ilmu dan usaha untuk mendapatkan ilmu dari pengalaman yang berharga. Berbeda dengan pengumpul nilai yang hanya terpaku pada nilai. Menghalalkan segala cara untuk mendapatkan nilai sempurna, namun aplikasi ilmu nihil. Sehingga lulusannya hanya menambah deretan panjang pengangguran intelektual yang menghambat laju perkembangan Indonesia. Mahasiswa pembelajar adalah mahasiswa yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, tidak akan pernah merasa puas, menghargai proses kerja keras dan menganggap setiap tempat adalah sekolah pembelajaran. Itulah mahasiswa pembelajar!

Mahasiswa bukan Penghafal! Sistem pendidikan di hampir seluruh universitas negeri ataupun swasta dimana satu kelas memiliki 40-an lebih mahasiswa membuat suasana tak kondusif untuk belajar. Dosen hanya membaca buku literatur di depan kelas, tanpa menghiraukan keadaan kelas yang hiruk-pikuk. Secara tak langsung, menyuruh mahasiswanya untuk menghafal. Hal ini dibuktikan dengan tidak sependapatnya dosen apabila jawaban ujian esai mahasiswanya berbeda dengan yang tertera di buku-buku referensi. Tak segan-segan dosen memberi nilai kecil ketika kita tidak lagi patuh terhadap bacaan di buku-buku. Semoga dosen seperti ini tak ada di kampus kita.

Mahasiswa aktivis atau “pasivis”? Jangan jadi mahasiswa kupu-kupu (kuliah-pulang-kuliah-pulang). Waktu kuliah selama 4-5 tahun adalah waktu yang berharga jika dilewatkan begitu saja. Jika kita hanya disibukkan dengan tugas kuliah, hadir kuliah setiap hari rasanya begitu hambar. Banyak keuntungan yang akan kita dapati sebagai seorang aktivis. Mulai dari banyak teman, kenal dengan beberapa jaringan media, mengasah kemampuan berkomunikasi dengan baik, dan memiliki sejuta pengalaman berharga lainnya yang tak dapat dibeli dengan apapun. Pengalaman terlibat di berbagai macam kegiatan kampus akan mengasah ideologi kita, meningkatkan kematangan berfikir, lebih tanggap untuk menangani persoalan. Karena kita tidak disibukkan dengan permasalahan pribadi namun permasalahan organisasi. Akan tampak jelas perbedaan aktivis kampus dan non aktivis ketika terjun langsung ke masyarakat.

Menjadi mahasiswa memang tidak mudah. Kampus notabene adalah sebuah tempat untuk memperluas penanaman nilai dan idealisme, sebuah kampus diharapkan dapat memproduksi generasi “pelurus” bangsa yang berkualitas. Kampus adalah medan dimana kita bebas memilih ideologi, bebas mengeluarkan pendapat, mengasah critical thinking sebagai mahasiswa.  “Ngampus” adalah pilihan. Pilihan apakah kita ingin mewarnai kehidupan kampus dengan segala macam potensi yang membuahkan prestasi, ataupun menjadi mahasiswa yang biasa saja yang memiliki ideologinya tersendiri “study oriented”. Pilihan untuk mendapatkan IP rusak atau memukau. Pilihan untuk mengembangkan diri atau menjatuhkan diri ke lubang “buaya”.  Pilihan untuk sukses pun ada di tangan kita. Kita yang berhak atas masa depan kita.

Memaknai kembali hari pendidikan nasional, tidak hanya berlaku bagi mahasiswa namun juga segenap masyarakat untuk meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan di Indonesia. Mencetak generasi pemuda yang dapat mengimplementasikan ilmu dan nilai-nilai semasa kuliah adalah tujuan besar dan harapan berbagai pihak. Pasca kampus, mereka dapat mengabdi kepada masyarakat, sekaligus turut serta dalam mengisi kemerdekaan Indonesia. Memajukan bangsa Indonesia di kancah Internasional. Hidup Mahasiswa!

Sumber: http://www.dakwatuna.com/

 

Lima Formula Mewujudkan Impian Anda (Five Ways to Make Your Dream Come True)


Dalamkehidupaninimanusiadiberikansegalaapa yang mereka inginkan, tetapi melalui berbagai cara dan bagaimana mereka menyikapinya. Seperti yang dikatakan oleh Elizabeth Towne dalam bukunya yang berjudul “The Life Power and How to use It” pada tahun 1906, “Manusia ibarat magnet dan setiap garis dan titik serta detail berbagai pengalamannya datang karena daya tariknya sendiri.”

Dalam kehidupan terdapat banyak cara untuk mendapatkan apa yang anda inginkan, ada cara yang mudah dan ada pula cara yang susah. Terserah anda, mana yang hendak anda pilih. Seperti apa yang dikatakan oleh Lester Levenso dalam “Keys to the Ultimate Freedom” pada tahun 1993, “Jika kita tidak senang terhadap apa yang sedang terjadi kepada kita di dunia ini, yang harus kita lakukan adalah mengubah kesadaran kita – niscaya dunia diluar sana akan berubah untuk kita!”

Abraham Perrils, selaku pengarang buku ini, senang belajar hukum dan pemasaran (marketing), secara efektif dia telah menggabungkan kedua disiplin ilmu tersebut. Abraham telah melaksanakan tugas yang boleh dibilang sangat rumit dan menguras banyak tenaga serta merangkumnya dalam lima langkah sederhana. Kelima langkah yang akan dijelaskan secara garis besar dalam “Lima Formula MewujudkanImpianAndatersebutakanmembantuanda mewujudkan atau memperoleh apa saja yang sangatanda inginkan.

Meskipun anda merasa masing-masing langkah ini mudah untuk dipahami, namun untuk mengikutinya anda dituntut untuk disiplin. Paradigma lama anda, yang lebih umum disebut “pengkondisian lama” yang akan menentang anda. Sesungguhnya pengkondisian lama anda dapat mendatangkan pergulatan yang hebat.

Paradigma memang tidak mudah hilang dan senjata yang digunakan oleh paradigma-paradigma tersebut untuk mengembalikan anda pada pola kehidupan yang lama dan memiliki kekuatan yang besar. Bob Proctor sering menyebutnya sebagai trio kekuatan yang memiliki kemampuan untuk melumpuhkan…yang sesungguhnyabersifat laten dan berbahaya. Trio kekuatan tersebut adalah KERAGUAN, KETAKUTAN, dan KECEMASAN. Ketiganya memiliki kekuatan untuk menghentikan perkembangan anda secara tiba-tiba tepat pada saat anda sedang mengambil keputusan untuk melakukan sesuatu. Hubungannya adalah bila keraguan sudah ada dalam diri anda dan menyebabkan ketakutan, yang sebaliknya kemudian menyebabkan kecemasan. Ketiga hal tersebut berjalan dengan sangat cepat. Namun demikian, ketiganya dapat dan harus dihentikan. Penyebab utama ketiga faktor perusak ini adalah KEBODOHAN. Yang harus anda lakukan adalah melangkah maju dan melakukan hal-hal yang harus anda lakukan menurut desakan hati, tetapi anda harus mengetahui strategi-strategi yang diperlukan. Rad Bradbury mengatakan “Janganlah menentang bahaya jika anda tidak memiliki strategi-strategi yang jitu untuk mengatasinya.”

Landasan bagi proses Lima Langkah yang diterangkan dalam buku ini adalah tahu bahwa kehidupan dapat berubah dan tahu bahwa kehidupan itu sendiri akan mendukung anda terhadap apa saja yang anda inginkan. Caranya adalah sebagai berikut:

“Coba ingat bahwa gambar yang anda pikirkan, rasakan dan lihat tercermin ke dalam Pikiran Universal dan dengan hukum alam aksi timbal balik pasti kembali kepada anda dalam bentuk spiritual ataupun fisik,” Your Invisible Power oleh Genevieve Behrend, 1921 –

Langkah pertama, ketahuilah apa yang anda tidak inginkan. Kebanyakan orang memperlihatkan apa yang tidak mereka inginkan. Mengeluh adalah hal yang dianggap sangat wajar oleh semua orang, tetapi kita jarang mengambil proses ini dalam pandangan yang berbeda. Jarang sekali ada orang yang mau berhenti mengeluh atau berjuang cukup lama untuk terfokus pada kebalikan dari apa yang mereka alami. Hal ini dapat mendatangkan manifestasi yang mereka inginkan dan menunjukkan realitas yang ada.

Langkah kedua, pilih apa yang ingin anda miliki, lakukan, atau anda ingin jadi apa. Caranya adalah mengubah setiap keluhan anda menjadi sesuatu yang benar-benar anda inginkan. Singkirkan keluhan-keluhan itu sampai anda memiliki keyakinan yang kuat dalam diri anda. Bila anda sudah memiliki keyakinan yang kuat dalam diri anda, untuk mewujudkan apapun yang anda inginkan akan menjadi lebih mudah. Karena keyakinan itu adalah bagaimana kita menciptakan realitas. Hasil yang anda dapatkan adalah akibat-akibat langsung dari keyakinan-keyakinan yang anda pegang. Keyakinan itu juga dapat membentuk kepribadian.

Langkah ketiga, pahami semuanya. Abraham Perrils berpendapat bahwa manusia memiliki batas yang telah mereka tempatkan sendiri terhadap kebebasan yang mereka miliki. Kita sebagai manusia membutuhkan pelatihan untuk membantu kita memahami bahwa sesungguhnya kita tidak dibatasi. Caranya adalah fokus kepada apa yang kita inginkan dan percayalah keinginan tersebut dapat terwujud. Kata-kata ini terinspirasi dari buku “What Can a Man Believe?” Karya Bruce Barton. Di dalam buku itu dia menjelaskan bahwa bukti adanya surga setelah dunia ini sedikit sekali, tetapi percaya terhadap adanya surga jauh lebih arif daripada tidak percaya sama sekali. Jadi maksud buku ini adalah percaya itu lebih bijak daripada tidak percaya. Fokuskan kepada apa yang anda inginkan dan buat salah satu maksud anda untuk menemukan seseorang yang bisa membantu membebaskan anda dari keyakinan-keyakinan lama anda, sehingga anda dapat menciptakan kehidupan yang anda inginkan. Anda harus tahu bagaimana caranya mendapatkan apa yang anda inginkan sebelum anda memperolehnya. Ubahlah keyakinan-keyakinan lama anda dan bentuklah keyakinan-keyakinan yang baru. Karena keyakinan membentuk cara kita merasa, berpikir dan bertindak. Seperti yang dokatakan oleh Raymond Charles Barker dalam bukunya “Treate Yourself to Life” pada tahun 1954, “Kemakmuran adalah kemampuan untuk melakukan apa yang anda lakukan ketika anda ingin melakukannya.” Dan dengan hati yang jernih anda akan dapat memiliki, melakukan atau menjadi apa yang anda inginkan.

Langkah keempat, rasakan betapa menyenangkan dapat memiliki, melakukan, atau menjadi apa yang kita inginkan. Para spesialis pemasaran tahu bahwa orang-orang tidak bertindak karena alasan-alasan yang logis, tetapi kerena alasan-alasan emosional. Emosi memiliki kekuatan untuk menciptakan apa yang anda inginkan. Kekuatan itu juga mendatangkan energi. Salah satu energi yang paling kuat yang pernah anda alami adalah bersyukur. Sebagaimana yang ditulis oleh Joseph Murphy dalam bukunya “Your Infinite Power to be Rich” pada tahun 1996, “seluruh proses kekayaan mental, spiritual, dan material bisa dirangkum dalam satu kata: BERSYUKUR.” Rasakan rasa syukur atas apapun yang anda dapatkan dan kemudian anda akan dapat mulai memaafkan dan selanjutnya hati anda akan menjadi jernih dan anda akan dapat memiliki, melakukan atau menjadi apa yang anda inginkan.

Energi lain yang anda ingin alami adalah energi yang berasal dari membayangkan bagaimana rasanya memiliki, menjadi, atau melakukan apa yang sedang anda inginkan,untuk melakukan apa yang anda mimpikan. Bagaimanpun perasaan-perasaan itu menuntun dan mengarahkan anda untuk melakukan hal-hal yang akan membuat peristiwa-peristiwa yang bermakna.

Inti penting langkah ini adalah bahwa dengan rasa senang anda harus merasakan sesuatu energi yang ingin anda ingin lakukan, miliki, atau energi ingin jadi apa anda. Sebagaimana pernah ditulis oleh Joseph Murphy dalam buku kecilnya “How to Attract Money”, “merasa kaya menghasilkan kekayaan.” Jadi rasakan kesenangan itu niscaya anda akan mulai menariknya pada anda dan ia akan menarik anda padanya.

Langkah kelima, berserah diri. Di dalam diri manusia memiliki dua wujud yang berbeda, bukan kepribadian (personality) persis seperti aspek-aspek pikiran yang kita miliki. Gallwey dalam bukunya “The Inner Game of Tennis” menyebutnya sebagai Self One dan Self Two. Self One dapat dihubungkan dengan ego manusia, bagian diri manusia yang ingin berkuasa. Self Two dapat dikaitkan dengan guru batin dalam diri manusia, bagian diri manusia yang berkaitan dengan segala sesuatu. Tugas Self One adalah menyeleksi apa yang anda iginkan dan pasrah. Sedangkan tugas dari Self Two adalah mendatangkan apa yang anda inginkan kepada anda. Sekali lagi intinya adalah belajar bertawakal secara mutlak.

Sumber : Abraham Perrils, Lima Formula Mewujudkan Impian Anda, Five Ways to Make Your Dream Come True, 2007. Prestasi Pustaka Publisher,106 halaman.

Berbicara komunikatif


By : Ahmad Kurnia, SPd, MM *

  •    Pengertian

Berbicara bukanlah hal yang baru sebab sejak lahir manusia sudah bisa berbicara, tapi berbicara adalah seni dan ketrampilan yang bisa dipelajari yang juga bisa dengan sendirinya apabila ada media yang bisa membantu kita untuk mengekspresikan ilmu kita secara komunikatif dan persuatif. Coba kita lihat pendapat  beberapa ahli komunikasi tentang berbicara komunikatif.

Berbicara komunikatif adalah „Kemampuan mengirimkan pesan dengan jelas, manusiawi, efisien dan menerima pesan secara akurat” (D.B. Curtis, 1992). Sedangkan J.A Devito (1997) mendefinisikan : „Suatu tindakan oleh satu orang atau lebih yang mengirim dan menerima pesan yang terdistorsi oleh gangguan terjadi dalam satu konteks tertentu, mempunyai pengaruh tertentu dan ada kesempatan untuk melakukan umpan balik” Begitu juga lebih jauh berbicara efektif adalah „Aktifitas menyampaikan apa yang ada dipikiran, konsep yang kita miliki dan keinginan yang ingin kita sampaikan pada orang lain. Atau sebagai seni mempengaruhi orang lain untuk memperoleh apa yang kita inginkan”. (B.S.Wibowo, 2002)

        Prinsip berbicara komunikatif.

  1. Seluruh prilaku mengkomunikasikan sesuatu dengan sengaja atau tidak sengaja (tangan, mulut, wajah, baju, kerudung, dll)
  2.  Komunikasi non-verbal sangat berpengaruh terhadap persepsi.
  3. Konteks berpengaruh terhadap komunikasi
  4.  Arti/makna terdapat pada orang, bukan dalam kata-kata.
  5.  Komunikasi tidak dapat diubah, sekali mereka dapat begitulah persepsinya.
  6. Komunikasi  adalah sirkular bukan linier dan Komunikasi tidak mungkin dihindari
  7. Komunikasi memerlukan keterbukaan dari pengirim dan penerima
  8. Komunikasi bisa memberikan beberapa efek.

        Enam jenis komunikasi

  • komunikasi dengan diri sendiri
  • komunikasi dan hubungan antar pribadi
  • komunikasi antar kelompok kecil dan organisasi.
  • Komunikasi terbuka
  • Komunikasi massa
  • Komunikasi antar budaya

        Teknik berkomunikasi.

  • Ucapan yang jelas dan idenya tidak ada makna ganda, utuh.
  • Berbicara dengan tegas, tidak berbelit-belit
  • Memahami betul siapa yang diajak bicara, hadapkan wajah dan badan, pahami pikiran lawan bicara.
  • Menyampaikan tidak berbelit-belit, tulus dan terbuka.
  • Sampaikan informasi dengan bahasa penerima informasi.
  • Menyampaikan dengan kemampuan dan kadar akal penerima informasi
  • Sampaikan informasi dengan global dan tujuannya baru detailnya.
  • Berikan contoh nyata, lebih baik jadikan anda sebagai model langsung.
  • Sampaikan informasi dengah lembut, agar berkesan, membuat sadar dan menimbulkan kecemasan yang mengcerahkan.
  • Kendalikan noise dan carilah umpan balik untuk meyakinkan informasi anda diterima. Contoh dengan bertanya atau menyuruh mengulanginya.

komunikator yang baik.

  • Menyampaikan sesuatu yang formal dan tidak rahasia, maka sampaikanlah dengan bahasa yang sudah dikenal (Qaaulan ma’rifa)
  • Bangunlah silaturahmi, hindari kata-kata yang menyakiti dan berkatalah dengan baik (Qaulan sadidan).
  • Deengan orang yang berpenyakit hati maka beri pelajaran dan berkatalah denagn perkataan yang berbekas pada jiwa (Qaulan baligha)
  • Untukmelayani orang dengan baik maka sampaikan perkataan yang mulia (qaulan maisura)
  • Hindarilah untuk berkata sesuatu yang dosa besarr (Qaulan Azhima)
  • Untuk mempengaruhi orang lain samapai dengan perkataan yang lemah lembut (Qaulan layina)
  • Perkataan yang paling baik adalah perkataan seseorang yang menyeru kepada Allah (qaulan minma da’a ilallah)
  • Sesungguhnya Allah menurunkan sesuatu yang berat (qaulan tsaqila) ketika anda menyampaikan sesuatu yang berat untuk dilaksanakan, akan tepat, khusyuk dan berkonsestrasi jika disampaikan saat menjelang shubuh.

        Hal lain dalam berkomunikasi

  • Ekspresi mata (Eyes to eyes contact)
  • Menjadi kawan berbicara yang empatik.
  • Mendengar  sarana komunikasi yang paling banyak digunakan.
  • Melayani orang sepenuh hati (relatinoshif)
  • Ketidak sepahaman dapat dihadapi dengan negosiasi.
  • Symbol dan penampilan diri.
  • Menerapkan etika komunikasi terhadap siapapun.

Sumber :

B.S. Wibowo. 2002. Sharpening our concept and tool, Kiat praktis manajemen, Jakarta : PT Syaamil Cipta Media.
James K. Van Fleet, 1996, Conversational power : The key to success with people, New york : Preentice hall, Inc.
Dr. Akrim Ridha, 2003, Seni Menghadapi public,  Jakarta : PT Syaamil Cipta

* Penulis dosen STBA JIA Bekasi dan STIE swadaya Cikarang

Semua diawali dari sebuah catatan


By Ahmad Kurnia, SPd,MM*

  •  Semua serba tercatat

Langkah penataan diri diawali dari sebuah catatan yang merekam prilaku anda, karier, aktiftas organisasi dan banyak orang besar dalam sejarah yang mencatatkan seluruh aktiftas hidupnya dengan sebuah tulisan pribadi yang tidak bermaksud dipublikasikan seperti diary, atau bisa juga melaui website pribadi seperti weblog tapi setelah sekian lama mereka publikasikan dan menjadi sebuah catatan sejarah yang luar biasa dan berguna bagi pengembangan eksistensi anda.

Hampir semua orang membutuhkan adanya eksistensi sebagai wujud pengakuan dari masyarakat, kenapa banyak orang yang ingin menuliskan catatan hariannya dan membuat biogrfinya kalau bukan sebuah pengakuan dan tidak ada yang melarang berbagi kesuksesan dengan orang lain. Dan catatan tak terduga anda yang anda tulis dalam keadaan kalut, prustasi, marah, bahagia dan tanpa sadar anda telah mencoba merekam kehidupan anda. Masalahnya banyak orang yang malas untuk menuliskannya dengan anggapannya itu pekerjaan anak kecil atau ABG saja.

Bisa saja catatan anda itu sebagai sebuah dreamlife yang ingin anda wujudkan dalam goresal kecil kartu anda setelah sekian lama memendam dalam hati dan sesuatu waktu terbaca oleh sahabat dan keluarga kita. Suatu waktu keinginan anda justru diwujudkan oleh keluarga anda sebagai sesuatu yang surfrise dalam hidup anda. Banyak hal-hal kecil yang hanya sekedar hayalan semata, seperti anda ingin menjadi seorang fotografer dan menghayalkan memiliki handycamp tercanggih yang suatu waktu bisa merekam perjalanan bisnis dan pekerjaan anda bisa melalui HP anda lalu anda salurkan kedalam weblog yang sedang trend akhir-akhir ini. Hanya sekedar curahan hati anda, tapi suatu waktu tulisan anda meningkat menjadi isi pemikiran anda yang lebih intelek sehingga bisa mempromosikan ide, pikiran dan keinginan anda terhadap dunia, karier dan bisnis yang sedang anda geluti.

Sekali lagi seandainya anda punya ide catatlah dengan baik dan kumpulkan catatan anda sehingga bisa mengisi pundi-pundi intelektual anda selain koleksi buku anda dan saya rasa masih langka ada yang mau mencatat seluruh idenya dalam sebuah catatan rapi sehingga ikuti bagaimana biar catatan kita bisa efektif dan mudah terbaca.

  • Mencatat dengan efektif

Bagaimana cara mencatat yang efektif bukan sekedar goresan semata yang suatu akan anda baca kembali, coba kita tengok pendapat Dr. C.C. Crawford, prof psikologi dari Universitas California Selatan dalam bukunya How to study mengungkapkan langkah-langkah mencatat yang ekfektif  antara lain :

  1. Mulailah sekarang dengan sistem catatan yang pasti, kalau anda belum memulainya.
  2. Menggunakan buku catatan dengan halaman lepas (loose-leaf notebook)
  3. Pakailah buku catatan yang berukuran besar
  4. Rencanakan sebuah system filing bersama dengan system pencatatan anda
  5. Unit kecil
  6. Berilah tiap halaman suatu jdul untuk menunjukan sumbernya dan subjeknya
  7. Bubuhi pada setiap catata itu nomor atau huruf untuk mengetahui status dan garis besarnya.
  8. Gunakan banyak identitas
  9. Indent melampaui garis-garis agak lebih dari awal garis pertama
  10. Berilah sisi (tepi) yang cukup lebar
  11. Hindari alenia panjang dalam membuat catatan
  12. Membuat catatan dalam bentuk kutipan hanya baik untuk tujuan tertentu
  13. Menyatakan poin secara ringkas dan pendek
  14. Pelajari dan terapkan teknik meringkas
  15. Susun poin-poin dalam hubngan logis dan gnakan kata-kata transisi
  16. Usahakan upaya kecepatan anda untk membuat catatan meningkat
  17. Buatlah catatan dalam bentuk yang sebaik mungkin, seringlah anda revisi actatan anda
  18. Jangan gunakan steno
  19. Bersikpalah tepat dalam membuiat catatan
  • Haluskan fikiran anda dengan menulis.

Menulis bukan dominasi para penulis tapi hampir semua orang bisa melakukannya, hampir sama dengan para remaja yang mendadak jadi penyair cinta saat mereka kasamaran, begitu juga nada bisa menyalurkan keterampilan alami ini dalam berbagai hal. Mungkin sarana yang dicoba penulis adalah menyalurkannya dalam sebuah blog di internet dan anda dengan bebas meluangkan seluruh keluh kesah dan kemarahan anda melalui tulisan yang mungkin kualitas tulisan anda semakin meningkat bukan sekedar ungkapan hati semata tapi jauh lebih ilmiah. Dan cara yang lebih praktis ketika anda punya niat untuk menulis adalah paksakan anda untuk menulis walau sekedar

* Penulisa dosen manajemen STBA JIA Bekasi dan STIE Cikarang.

 

Menej diri anda dan tunggu ada perubahan ?


Istilah manajemen diri mungkin belum begitu kentara diketahui oleh berbagai kalangan termasuk dalam kajian ilmu manajemen umum dan sulit kita temui di ilmu psikologi, sehingga sulit mencari pengertian baku. Manajemen diri bisa diartikan sebagai ”penataan, pengaturan dan pengendalian diri seseorang dengan mengadakan suatu perencanaan, persiapan dan pengaplikasian dengan memanfaatkan fotensi yang ada pada diri seseorang sehingga tercapai keserasian hidup dan menciptakan pribadi unggul”.

Pribadi unggul banyak dilansir oleh para ahli ada yang mengatakan pribadi unggul adalah  pribadi yang sehat dalam menghadapi seluruh permasalahan hidup. Jiwa yang unggul juga memiliki jiwa yang bersih, sebagaimana yang digambarkan oleh penyair Tunis Ahmad Mukhtar Al-wazi kutipan Muhammad Ahmad Ar-Rasyid (2003:8) dalam bukunya Ar-Raqa’iq, yang mengambarkan jiwa yang bersih seperti kupu-kupu :

Tenang dalam diamnya, tetapi lebih jelas dari orang yang berbicara.

Bila diamnya terlalu lama, tergugahlah ia oleh keharusannya untuk bergerak.

Betapa seringnya ia melihat bayangan dirinya yang terpantulkan oleh riak air seakan-akan bagaikan bintang yang berkilauan, sedang permukaan air adalah cakrawalanya.

Ia terbang mengelilingnya, menatapnya dan merindukan seandainya dapat hinggap padanya.

Akan tetapi hampir ia binasa tengelam seandainya tidak segera sadar. itulah gambaran jiwa yang beriman, mustahil membodohi dirinya. Jelas sekali perbedaan antara kesesatan dan petunjuk baginya.

Memenej diri bukan hal yang mudah membutuhkan pemahaman terhadap diri kita, memahamii potensi dan kelemahan diri serta punya keinginan untuk memperbaikinya.

  • Cobalah memotivasi diri sendiri

Semua diawali dari usaha untuk memotivasi diri. Sangat sulit sekali kalau anda tidak memiliki dorongan kuat untuk berubah dan anda harus mengetahui apa kelemahan, kelebihan, peluang, ancaman bagi hidup, karier, perkawinanan anda. Berdasarkan teori prilaku,  motivasi merupakan dorongan yang kuat untuk menggerakan (movere), pengarahan dan persestensi sukarela yang ditujukan kearah pencapaian tujuan. Motivasi lahir kalau kita merasakan akan sebuah kebutuhan yang semakin tidak terpenuhi baik secara fisik maupun ruhiah.

Menurut para ahli motivasi kekuatan sebuah motif cenderung menyusut, apabila terpenuhi ataupun terhalangi dalam pemunuhannya. Maslow (1970)  berpendapat apabila sebuah kebutuhan telah terpenuhi, maka kebutuhan tersebut bukan lagi sebuah motivator prilaku. Tapi menurutt Leon Festinger (1957) Ketidak tercapaian tujuan akan memberikan motivasi yang menyusut dan akan cenderung ke prilaku penyesuaian dan mengurangi ketegangan, tapi motif yang terhalang dan prilaku penyesuaian yang terus menerus tidak berhasil akan menyebabkan lahirnya prilaku penyesuaian yang tidak rasional seperti rasa frustasi yang berubah menjadi prilaku agresi. Maier (1961) membagi rasa frustasi kedalam beberapa prilaku seperti rasionalisasi (mengemukakan dalih-dalih), regresi (tidak berprilaku sesuai dengan umur kita), fiksasi (ketidakmampuan untuk menerima perubahan, penolakan buta dan keras kepala menerima fakta baru) dan resignasi (kehilangan harapan untuk mencapai tujuan hidup).

Lalu bagaimana cara memotivasi diri sendiri jelas membutuhkan adanya tujuan, keinginan berubah dan kemampuan untuk merubah, selain asumsi dasar kalau memotivasi diri sendiri merupakan hal yang baik apabila dibandingkan dengan diberi motivasi oleh orang lain. Kemudian memotivasi sebagai sebuah kebutuhan dasar bagi perubahan hidup sehingga tercapai kepuasan semetara. Penulis katakan sebuah kepuasan bersifat sementara dan cenderung selalu berubah mengikuti kondisi dan tingkat kebutuhan manusia. Peran individu dalam meningkatkan motivasi hidupnya sangat tinggi yang berasal dari sifat individual kemudian didukung oleh ikhtiar yang maksimal sehingga kitapun tak lepas dari bantuan organisasi.

  • Lakukan perbaikan sendiri.

lakukanlah perbaikan setelah anda merasakan ada sesuatu yang lain dalam hidup dan keribadian anda dan ajdikanlah permasalahan hidup adalah motivasi perbaikan dalam kehidupan dan masalah juga yang mematangkan seseorang.

Dalam menjalani kehidupan saat ini yang sangat lekat dengan kemaksiatan serta hal-hal lain yang menyebabkan diri ini semakin jauh dari Allah SWT. untuk itu diperlukan kiat-kiat perbaikan sebagai usaha untuk semakin dekat dan semakin kenal kepada Allah SWT.

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً

“Barang siapa yang mengerjakan kebaikan (amal shaleh) baik lelaki maupun wanita, dalam keadaan beriman, maka baginya kehidupan yang lebih baik.” (QS. An-Nahl : 97)

Sebaik-baik manusia adalah, yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok lebih baik dari hari ini.

“Hitung-hitunglah diri kalian, sebelum kalian dihitung.” (Umar bin Khattab)

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al-Hujuraat : 15)

وَأَعِدُّوا لَهُم مَّا اسْتَطَعْتُم مِّن قُوَّةٍ

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi…” (QS. Al-Anfaal : 60)

Siapa saja yang berbuat (to create process and product) kebajikan maka baginya pahala dan pahala orang yang mengikutinya (memanfaatkannya). Allah mencintai orang yang selalu bekerja dan berusaha.

Tidak seorangpun yang akan memperoleh kehidupan yang lebih baik daripada orang yang memperoleh penghasilan dengan tangannya sendiri. Nabi Daud pun memperoleh nafkah penghidupan dari tangannya sendiri.

Barang siapa yang memudahkan urusan seorang muslimin, Allah akan memudahkan urusannya di hari kiamat.

“Orang yang cerdas ialah yang menghisab dirinya dan berbuat untuk kepentingan sesudah mati. Sedangkan orang yang lemah adalah yang membiarkan dirinya mengikuti hawa nafsunya.” (Hadits)

Setiap manusia hendaknya selalu memperhatikan apa, siapa, ke arah mana dan bagaimana dirinya dalam pentas kehidupan ini. Dengan mengetahui semua hakikat jawaban itu niscaya ia akan mendapatkan setengah dari makna kehidupan itu sendiri. Dan tatkala ia telah menemukan siapa dirinya, maka yang muncul ke permukaan kesadaran adalah kerapuhan dan kelemahan dirinya di hadapan bentangan alam kehidupan yang bermula dari dunia sampai tak berujung di negeri akhirat nanti. Dengan demikian, manusia sejati adalah manusia yang selalu menyadari kelemahan dan kerapuhan dirinya sehingga ia selalu berusaha terus menerus memperbaiki diri, sampai ia datang ke hadapan Penguasa kehidupan ini Allah SWT. dengan penuh ketenangan :

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ
ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً
فَادْخُلِي فِي عِبَادِي
وَادْخُلِي جَنَّتِي

“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al-Fajr : 27-30)

Sesungguhnya inti perbaikan diri adalah pembersihan jiwa (tazkiyatunnafs), yang apabila sang jiwa sudah bersih maka unsur pembentuk diri yang lainpun akan ikut terkoreksi.

قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا
وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwanya, dan sesungguhnya merugilah orang yang mencemarkannya.” (QS. As-Shams : 9-10)

Dan proses menyucikan jiwa harus menyeluruh, dalam arti, bahwa pembersihan jiwa merupakan perbaikan seluruh dimensi kepribadian yang membentuk diri kita sebagai orang yang beriman dan bertaqwa.

Perbaikan diri hendaknya mengarah kepada kesuksesan dan kejayaan hidup sesuai dengan perspektif Al Qur’an. Bila kita merujuk Surah Al-Hajj ayat 77,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.”

Dari ayat tersebut diatas jelaslah Allah memberikan gambaran bahwa kesuksesan itu dapat diraih melalui dua pilar kegiatan :

  1. Meningkatkan hubungan dengan Allah SWT. melalui serangkaian ibadah yang berkualitas.
  2. Meningkatkan kinerja ‘amal khoir, yang berorientasi pada kemaslahatan hidup dan kehidupan ummat.

Sesungguhnya, dengan mengacu kepada kedua pilar itu arah kejayaan hidup menjadi sangat terang dan jelas, dan langkah-langkah perbaikan diri dapat dikembangkan berdasarkan kedua pilar tersebut dalam rangka mempersiapkan diri meraih kesuksesan dan kejayaan.

Berikut ini Langkah-Langkah Perbaikan Diri tersebut meliputi :

Perbaikan Ruhiyah
Perbaikan aspek ini penting dilakukan untuk meningkatkan pengendalian diri (nafsu) menghadapi segala rangsangan kehidupan dunia yang menggiurkan maupun ancaman kehidupan yang mengguncangkan. Inti perbaikan ruhiyah adalah meningkatnya hubungan dengan Allah SWT. melalui serangkaian kegiatan hati, lisan dan amal perbuatan. Dengan meningkatknya hubungan dengan Allah SWT., maka akan didapatkan banyak hal positif :

  1. Kemudahan mendapat ilmu sebagaimana firman Allah SWT.,
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنتُم بِدَيْنٍ إِلَىٰ أَجَلٍ مُّسَمًّى فَاكْتُبُوهُ ۚ وَلْيَكْتُب بَّيْنَكُمْ كَاتِبٌ بِالْعَدْلِ ۚ وَلَا يَأْبَ كَاتِبٌ أَن يَكْتُبَ كَمَا عَلَّمَهُ اللَّهُ ۚ فَلْيَكْتُبْ وَلْيُمْلِلِ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ وَلْيَتَّقِ اللَّهَ رَبَّهُ وَلَا يَبْخَسْ مِنْهُ شَيْئًا ۚ فَإِن كَانَ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ سَفِيهًا أَوْ ضَعِيفًا أَوْ لَا يَسْتَطِيعُ أَن يُمِلَّ هُوَ فَلْيُمْلِلْ وَلِيُّهُ بِالْعَدْلِ ۚ وَاسْتَشْهِدُوا شَهِيدَيْنِ مِن رِّجَالِكُمْ ۖ فَإِن لَّمْ يَكُونَا رَجُلَيْنِ فَرَجُلٌ وَامْرَأَتَانِ مِمَّن تَرْضَوْنَ مِنَ الشُّهَدَاءِ أَن تَضِلَّ إِحْدَاهُمَا فَتُذَكِّرَ إِحْدَاهُمَا الْأُخْرَىٰ ۚ وَلَا يَأْبَ الشُّهَدَاءُ إِذَا مَا دُعُوا ۚ وَلَا تَسْأَمُوا أَن تَكْتُبُوهُ صَغِيرًا أَوْ كَبِيرًا إِلَىٰ أَجَلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ أَقْسَطُ عِندَ اللَّهِ وَأَقْوَمُ لِلشَّهَادَةِ وَأَدْنَىٰ أَلَّا تَرْتَابُوا ۖ إِلَّا أَن تَكُونَ تِجَارَةً حَاضِرَةً تُدِيرُونَهَا بَيْنَكُمْ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَلَّا تَكْتُبُوهَا ۗ وَأَشْهِدُوا إِذَا تَبَايَعْتُمْ ۚ وَلَا يُضَارَّ كَاتِبٌ وَلَا شَهِيدٌ ۚ وَإِن تَفْعَلُوا فَإِنَّهُ فُسُوقٌ بِكُمْ ۗ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

    “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, meka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). Jika tak ada dua orang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka yang seorang mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah mu’amalahmu itu), kecuali jika mu’amalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah : 282)

  2. Kemudahan menganalisis segala fenomena kehidupan sebagaimana firman Allah SWT.,
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَل لَّكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

    “Hai orang-orang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, Kami akan memberikan kepadamu Furqaan. Dan kami akan jauhkan dirimu dari kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (QS. Al-Anfaal : 29)

  3. Kemudahan menemukan pemecahan masalah sebagaimana firman Allah SWT.,
    وَاللَّائِي يَئِسْنَ مِنَ الْمَحِيضِ مِن نِّسَائِكُمْ إِنِ ارْتَبْتُمْ فَعِدَّتُهُنَّ ثَلَاثَةُ أَشْهُرٍ وَاللَّائِي لَمْ يَحِضْنَ ۚ وَأُولَاتُ الْأَحْمَالِ أَجَلُهُنَّ أَن يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ ۚ وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا

    “Dan perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (monopause) di antara perempuan-perempuanmu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya), maka masa iddah mereka adalah tiga bulan; dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid. Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya. Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS. At-Talaaq : 4)

  4. Kemudahan mendapatkan jalan keluar sebagaimana firman Allah SWT.,
    فَإِذَا بَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَأَمْسِكُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ أَوْ فَارِقُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ وَأَشْهِدُوا ذَوَيْ عَدْلٍ مِّنكُمْ وَأَقِيمُوا الشَّهَادَةَ لِلَّهِ ۚ ذَٰلِكُمْ يُوعَظُ بِهِ مَن كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا

    “Apabila mereka telah mendekati akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah. Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” (QS. At-Talaaq : 2)

  5. Kemudahan mendapatkan fasilitas kehidupan sebagaimana firman Allah SWT.,
    وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

    “Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS. At-Talaaq : 3)

  6. Keberkahan hidup sebagaimana firman Allah SWT.,
    وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِن بَنِي آدَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَا ۛ أَن تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَافِلِينَ

    “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”,” (QS. Al-A’raaf : 172)

  7. Ketenteraman hati.

Sebaliknya, kerenggangan hubungan dengan Allah SWT. akan mendapatkan kehidupan yang sempit (ma’isyatan dhonka). Oleh karena itu hal yang segera harus ditegakkan dalam membina hubungan dengan Allah SWT. adalah peningkatan kualitas kewajiban fardhu dan memperkayanya dengan amal nawafil.

“Bila hamba-Ku mendekati Aku dengan sejengkal maka Aku mendekat kepadanya sehasta, dan jika mendekat kepada-Ku sehasta Aku mendekat kepadanya sedepa, dan jika datang kepada-Ku berjalan, Aku datang kepadanya berjalan cepat.” (Hadits Qudsi)

Perbaikan ruhiyah dalam perspektif tazkiyatunnafs Imam Ghazali mengikuti urut-urutan sebagai berikut :

  1. Muroqobah : jiwa yang selalu merasa diawasi oleh Allah SWT. sehingga ia selalu takut berbuat segala sesuatu yang menimbulkan kemarahan-Nya.
  2. Muhasabah : jiwa yang selalu memperhitungkan dan mempertimbangkan segala amalannya dalam perspektif kehidupan akhirat.
  3. Mu’aqobah : jiwa yang selalu menghukum dirinya apabila terlanjur khilaf berbuat maksiyat (salah).
  4. Mujahadah : jiwa yang selalu sungguh-sungguh dalam beramal ibadah.

Perbaikan Tsaqofiyah
Peningkatan kualitas diri seseorang sejajar dengan keluasan wawasan dan kedalaman ilmu pengetahuan yang dikuasainya. Rasulullah SAW. mewajibkan kaum muslimin untuk menuntut ilmu sepanjang hayat. Belajar tiada henti. Tuntutlah ilmu, dari ayunan hingga liang lahat.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ انشُزُوا فَانشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mujaadilla : 58)

Sebaiknya setiap kita meningkatkan pengetahuan dasar tentang :

  1. Fiqhul ibadah, dengan memperbandingkan berbagai pendapat mazhab.
  2. Manhaj ikhwan melalui serangkaian referensi utama dan penunjang.
  3. Pandangan Islam terhadap Ekonomi, Politik, Sosial, Psikologi, Seni Budaya, Hukum dan Keluarga.
  4. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kontemporer.
  5. Perkembangan sosial, budaya, hukum dan politik kontemporer.

Di sisi lain, setiap al akh hendaknya menguasai secara baik satu bidang ilmu yang menjadi core competencenya, sehingga orang dapat merujuk kepadanya mengenai permasalahan yang menjadi kompetensinya.

Perbaikan Fisik / Jasmani
“Sesungguhnya Allah lebih menyukai orang mu’min yang kuat ketimbang orang mu’min yang lemah.” (Hadits)

Tentu saja perbaikan diri juga menyentuh aspek fisikal, karena tubuh yang kuat dan sehat merupakan modal utama untuk berbuat banyak hal yang bermanfaat. Tubuh yang kuat merupakan salah satu karakteristik utama dalam kepemimpinan (leadership). Allah SWT. menyebutkan hal tersebut dengan istilah :

  1. Qowwiyul amien (kuat dan terpercaya) sebagaimana firman Allah SWT.,
    قَالَتْ إِحْدَاهُمَا يَا أَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ ۖ إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ

    “Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: “Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya”.” (QS. Al-Qasas : 26)

  2. Bashthotan minal ‘ilmi wal jism (mumpuni dalam ilmu dan jasad). (Tholut)

Dan Imam Syahid Hasan Al Banna mewasiatkan kepada para kader ikhwan agar selalu menjaga kesehatan tubuh dengan melakukan pemeriksaan kesehatan (medical check up) paling tidak setiap 6 bulan sekali dan menganjurkan untuk tidak mengkonsumsi minuman yang cenderung melemahkan tubuh. Dengan tubuh yang sehat dan bugar maka kualitas amal ibadah dan amal khidmah kita akan semakin meningkat kualitas maupun kuantitasnya.

Perbaikan Sikap dan Keterampilan Produksi
Perbaikan diri yang tidak kalah pentingnya adalah yang terkait dengan sikap dan keterampilan dalam bekerja, karena dengan bekerjalah Allah akan memberikan balasannya (jazaa’an bima kanuu ya’malun).

Bekerja dalam konteks amal sholeh harus memperhatikan efisiensi dan efektifitas yang pada gilirannya akan melahirkan produktivitas. Untuk dapat bekerja secara produktif diperlukan sikap mental produktif.

Allah suka apabila kalian bekerja, maka ia bekerja dengan rapih …

“Allah menetapkan kepada kalian agar bekerja dengan ihsan.” (Al Hadits)

Sebagaimana Allah berfirman,

وَأَن لَّيْسَ لِلْإِنسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ

“dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya,” (QS. An-Najm : 39)

Bagi seorang laki-laki ada manfaat dari apa yang ia usahakan, dan bagi wanita ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Allah berfirman,

وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۚ لِّلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِّمَّا اكْتَسَبُوا ۖ وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِّمَّا اكْتَسَبْنَ ۚ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِن فَضْلِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. An-Nisaa : 32)

Ada jaminan bagian untuk orang yang berusaha dan bekerja keras. Firman Allah SWT.,

جَعَلَ فِيهَا رَوَاسِيَ مِن فَوْقِهَا وَبَارَكَ فِيهَا وَقَدَّرَ فِيهَا أَقْوَاتَهَا فِي أَرْبَعَةِ أَيَّامٍ سَوَاءً لِّلسَّائِلِينَ

“Dan dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya.” (QS. Fussilat : 10)

Allah sekali-kali tidak akan mengubah nasib suatu bangsa, sehingga bangsa itu mengubahnya sendiri. Simak firman Allah SWT.,

لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِّن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ ۗ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُ ۚ وَمَا لَهُم مِّن دُونِهِ مِن وَالٍ

“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS. Ar-Ra’d : 11)

Sesungguhnya sesudah kesulitan itu pasti ada kemudahan. Sebagaimana firman Allah SWT. berikut ini :

إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

“sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Ash-Sharh : 6)

Allah telah menciptakan manusia dan menguatkan persendiannya. Sebagaimana firman Alllah,

نَّحْنُ خَلَقْنَاهُمْ وَشَدَدْنَا أَسْرَهُمْ ۖ وَإِذَا شِئْنَا بَدَّلْنَا أَمْثَالَهُمْ تَبْدِيلًا

“Kami telah menciptakan mereka dan menguatkan persendian tubuh mereka, apabila Kami menghendaki, Kami sungguh-sungguh mengganti (mereka) dengan orang-orang yang serupa dengan mereka.” (QS. Al-Insaan : 28)

فَأَمَّا مَن ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ
فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَّاضِيَةٍ

“Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan.” (QS. Al-Qaari’a : 6-7)

Gambaran Al-Qur’an tentang sikap produktif dalam bekerja diperjelas dengan kisah-kisah para nabi yang bekerja sesuai dengan kemampuannya, namun mencerminkan sikap mental dan perilaku yang sangat produktif. Lihat kisah :

  1. Nabi Musa bekerja kepada Nabi Syu’aib.
    قَالَ إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أُنكِحَكَ إِحْدَى ابْنَتَيَّ هَاتَيْنِ عَلَىٰ أَن تَأْجُرَنِي ثَمَانِيَ حِجَجٍ ۖ فَإِنْ أَتْمَمْتَ عَشْرًا فَمِنْ عِندِكَ ۖ وَمَا أُرِيدُ أَنْ أَشُقَّ عَلَيْكَ ۚ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّالِحِينَ

    “Berkatalah dia (Syu’aib): “Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, maka aku tidak hendak memberati kamu. Dan kamu Insya Allah akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik”.” (QS. Al-Qasas : 27)

  2. Nabi Khaidir menegakkan rumah yang roboh.
    فَانطَلَقَا حَتَّىٰ إِذَا أَتَيَا أَهْلَ قَرْيَةٍ اسْتَطْعَمَا أَهْلَهَا فَأَبَوْا أَن يُضَيِّفُوهُمَا فَوَجَدَا فِيهَا جِدَارًا يُرِيدُ أَن يَنقَضَّ فَأَقَامَهُ ۖ قَالَ لَوْ شِئْتَ لَاتَّخَذْتَ عَلَيْهِ أَجْرًا

    “Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, maka Khidhr menegakkan dinding itu. Musa berkata: “Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu”.” (QS. Al-Kahf : 77)

  3. Nabi Daud membuat baju besi.
    وَلَقَدْ آتَيْنَا دَاوُودَ مِنَّا فَضْلًا ۖ يَا جِبَالُ أَوِّبِي مَعَهُ وَالطَّيْرَ ۖ وَأَلَنَّا لَهُ الْحَدِيدَ
    أَنِ اعْمَلْ سَابِغَاتٍ وَقَدِّرْ فِي السَّرْدِ ۖ وَاعْمَلُوا صَالِحًا ۖ إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

    “Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Daud kurnia dari Kami. (Kami berfirman): “Hai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud”, dan Kami telah melunakkan besi untuknya, (yaitu) buatlah baju besi yang besar-besar dan ukurlah anyamannya; dan kerjakanlah amalan yang saleh. Sesungguhnya Aku melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Saba : 10-11)

  4. Nabi Nuh membuat bahtera.
    وَاصْنَعِ الْفُلْكَ بِأَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا وَلَا تُخَاطِبْنِي فِي الَّذِينَ ظَلَمُوا ۚ إِنَّهُم مُّغْرَقُونَ وَيَصْنَعُ الْفُلْكَ وَكُلَّمَا مَرَّ عَلَيْهِ مَلَأٌ مِّن قَوْمِهِ سَخِرُوا مِنْهُ ۚ قَالَ إِن تَسْخَرُوا مِنَّا فَإِنَّا نَسْخَرُ مِنكُمْ كَمَا تَسْخَرُونَ
    “Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim itu; sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan. Dan mulailah Nuh membuat bahtera. Dan setiap kali pemimpin kaumnya berjalan meliwati Nuh, mereka mengejeknya. Berkatalah Nuh: “Jika kamu mengejek kami, maka sesungguhnya kami (pun) mengejekmu sebagaimana kamu sekalian mengejek (kami).” (QS. Hud : 37-38)
  5. Nabi Dzulqarnain membuat dinding besi.
    قَالَ مَا مَكَّنِّي فِيهِ رَبِّي خَيْرٌ فَأَعِينُونِي بِقُوَّةٍ أَجْعَلْ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ رَدْمًا
    آتُونِي زُبَرَ الْحَدِيدِ ۖ حَتَّىٰ إِذَا سَاوَىٰ بَيْنَ الصَّدَفَيْنِ قَالَ انفُخُوا ۖ حَتَّىٰ إِذَا جَعَلَهُ نَارًا قَالَ آتُونِي أُفْرِغْ عَلَيْهِ قِطْرًا
    “Dzulkarnain berkata: “Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka, berilah aku potongan-potongan besi”. Hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah Dzulkarnain: “Tiuplah (api itu)”. Hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, diapun berkata: “Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar aku kutuangkan ke atas besi panas itu”.” (QS. Al-Kahf : 95-96)

Seorang pakar SDM menyebutkan bahwa ciri-ciri individu yang produktif adalah :

  1. Secara konstan selalu mencari gagasan-gagasan yang lebih baik dan cara penyelesaian tugas yang lebih baik lagi.
  2. Selalu memberi saran-saran untuk perbaikan secara sukarela.
  3. Menggunakan waktu secara efektif dan efisien.
  4. Selalu melakukan perencanaan dan menyertakan jadwal waktu.
  5. Bersikap positif terhadap pekerjaannya
  6. Dapat berlaku sebagai anggota kelompok yang baik sebagaimana menjadi seorang pemimpin yang baik.
  7. Dapat memotivasi dirinya sendiri melalui dorongan dari dalam.
  8. Memahami pekerjaan orang lain yang lebih baik.
  9. Mau mendengar ide-ide orang lain yang lebih baik.
  10. Hubungan antar pribadi dengan semua tingkatan dalam organisasi berlangsung dengan baik.
  11. Sangat menyadari dan memperhatikan masalah pemborosan dan biaya-biaya.
  12. Mempunyai tingkat kehadiran yang baik (tidak banyak absen dalam pekerjaannya).
  13. Seringkali melampau standar yang telah ditetapkan.
  14. Selalu mempelajari sesuatu yang baru dengan cepat.
  15. Bukan merupakan tipe orang yang selalu mengeluh dalam bekerja.

Perbaikan Hubungan Sosial (Ittishol Ijtima’iyah)
Perbaikan diri seorang da’i akhirnya bermuara pada hubungannya dengan komunitas masyarakat yang menjadi tanggung jawabnya. Pentingnya menjaga hubungan dengan masyarakat sekitar mendapat perhatian yang tinggi dalam Islam, terlihat dari bagaimana Allah SWT. dan Rasulullah SAW. memandang masalah ini dalam konteks hubungan dengan tetangga sebagai komunitas masyarakat yang paling dekat jarak dan interaksinya dengan kita.

وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ

“…Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu…” (QS. An Nisa : 36)

Ibnu Umar dan Aisyah RA. berkata keduanya, “Jibril selalu menasihatiku untuk berlaku dermawan terhadap para tetangga, hingga rasanya aku ingin memasukkan tetangga-tetangga tersebut ke dalam kelompok ahli waris seorang muslim.” (HR Bukhori Muslim)

Abu Dzarr RA. berkata, bersabda Rasulullah SAW., “Hai Abu Dzarr jika engkau memasak sayur, maka perbanyaklah kuahnya, dan perhatikan tetanggamu.” (HR Muslim)

Abu Hurairah RA. berkata, bersabda Nabi SAW., “Demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman.” Ditanya, “Siapa ya Rasulullah ?” Jawab Nabi, “Ialah orang yang tidak aman tetangganya dari gangguannya.” (HR Bukhori, Muslim)

Abu Hurairah RA. berkata, bersabda Nabi SAW., “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah tidak mengganggu tetangganya.” (HR. Bukhori, Muslim)

“Orang yang tidur dalam keadaan kenyang sedangkan tetangganya lapar bukanlah ummatku.”

“Allaahumma inni as alukal huda wattuqaa wal ’afaafa wal ghina” (Ya Allah, sungguh aku mohon kepada-Mu semoga engkau berkenan memberikan petunjuk, ketaqwaan, kehati-hatian, dan perasaan cukup.) (HR Muslim)

  • beraktifitaslah dan anda ambil hikmahnya

Langkah berikutnya beraktiftaslah dan anda akan menemukan semuanya.

 

Perubahan sebuah keniscayaan


By : Ahmad Kurnia, SPd,MM.*          

Pertanyaan yang sering kita tanyakan kenapa kita perlu berubah? Banyak jawaban yang sebenarnya anda sendiri sudah tahu jawabannnya ketika anda tahu ada sesuatu yang lain pada pribadi anda ataupun ada masalah tapi anda tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya disitulah mulai ada keinginan ataupun peruabhan yang terjadi karena ada tekanan hidup yang jauh lebih kuat sehingga anda harus bekerja ekstra.

            INTINYA  Geano seathon – Kenalilalah diri anda ? begitu Socrates selalu menegur siapapun yang ingin berubah dan banyak hal yang belum ada ketahui tentang diri dan kehidupan anda yang sebenarnya. Tentu saja hal ini bukan  masalah materi, pekerjaan dan masalah wanita yang selalu jadi focus perhatian anda selama ini, bahkan saat kita lari dari masalah dengan melibatkan mereka justru bukan memecahkan masalah anda tapi menambah masalah baru dan jadilah hidup itu beban derita yang tak pernah berhenti, padahal kehidupan anda dari segi materi berkecukupan. Sehingga jasad anda yang capek dengan kehidupan dan pekerjaan butuh adanya pencerahan rohani dan berbagai cara anda lakukan, jangan kaget banyak para eksekutif dan para manajer yang belajar tasawuf yang dulu mungkin anda anggap hanya untuk para raib dan theology dan para pencari ilmu hikmah yang cenderung menjauhi kehidupan material, kita kenal juga beberapa program ESQ yang dikembangkan dikalangan pemimpin perusahaan dengan basic keagamaan. Apa semuanya cukup mencerahkan jiwa dan rasa haus kita terhadap kebutuhan ruhaniah kita yang selama ini anda telantarkan, karena anggapan kebutuhan ini tidak begitu penting bagi hidup manusia, kenyataannya kita butuh makanan ruhani, tapi bingung kemana kita mencarinya.

Dari permsalahan diatas jelas kita membutuhkan adanya penataan ulang konsep hidup kita sehingga kita perlu manajemen diri dan terasa asing ditelinga kita, kenapa diri kita perlu kita tata dan kelola dengan baik seperti layaknya perusahaan, tubuh kita butuh adanya control manajerial, dimana didalam nya ada sebuah rencana hidup, penataaan hidup ini dengan baik dan seluruh rencana inipun perlu diwujudkan dalam sebuah aktifitas yang bisa memperkokoh pribadi kita jauh lebih baik dan mapan dan control diri sebagai bentuk perhitungan arah tujuan kita melangkah sehingga ada batas terminal yang mengantarkan kita kekehidupan yang jauh lebih sehat dan salah satunya kita berupaya  memaksimalkan potensi panca indera kita jauh lebih bermanfaat bagi peningkatan rasa percaya diri kita dan mengasah kepekaan hati nurani kita.

Manajemen diri ini banyak lebih berorientasi pada pemberdayaan pola fakir dan dzikir kita kepada Allah SWT yang aplikasinya dapat kita lihat bagaimana meningkatkan potensi berfikir kita, melihat, mendengar, berbicara, membaca dan memaksimalkan potensi diri dalam bergaul dan bermasyarakat . Suatu hal yang perlu dipikirkan adalah bagaimana menata diri kita dengan baik dengan pemahaman individual terhadap permasalahan hidup.

Setiap orang memilki masalah yang sama, tapi berbeda dalam mengsikapinya. Ada yang menjadikan masalah sebagai masalah besar, ada juga yang menganggap masalah bukan masalah dan ada juga yang menjadikan suatu yang bukan masalah menjadi sebuah masalah. Sehingga pemecahan masalah adalah kunci dalam membenahinya. Masalah teratasi karena kita sering mengalami masalah dan punya catatan pengalaman yang dijadikan sebagai alternatif terhadap masalah ini yang tidak menjadikan sebagai ahli tasawuf atau filosof tapi cukup bisa memahami cara memaksimalkan panca indera kita yang telah diberikan kepada manusia dan kitalah satu-satunya makhluk yang dipercaya memiliki akal yang sangat luar biasa sehingga bisa memberikan sebuah pencerahan akan makna hidup yang semakin ditinggalkan kita sebagai masyarakat yang cukup memberikan solusitersebut sebagai sebuah pengalaman yang tidak perlu terulang kembali. (Bersambung)

Jenis keterampilan diri yang harus kita kuasai antara lain :

  1. Bagaimana caranya kita berfikir
  2. bagaimana caranya kita berkomunikasi
  3. bagaimana caranya kita mendengar
  4. bagaimana caranya kita melihat
  5. bagaimana caranya kita merasakan

(Tulisan ini pengantar tentang manajemen diri yang akan diulas dalam beberapa tulisan).

* Penulis dosen Manajemen STBA JIA Bekasi dan STIE Swadaya Cikarang


Bagaimana meningkatkan pencitraan diri anda?


Berbicara pencitraan tak lepas dari preposisi seseorang atau organisasi terhadap citranya dimata public sehingga melahirkan sebuah respon positif. Begitu juga akselerasi public terhadap pribadi selalu dapat dilihat dari sejauhmana menampilkan kesan positif yang bisa membangun tingkat kepercayaan terhadap pigur pribadi atau branch image sebuah organisasi.

Masalahnya sering kali terjadi kalau citra membangkitkan kepura-puraan kita terhadap public. Sehingga seolah anda melakukan sesuatu bukan diri kita tapi polesan lipstick. Apa yang kita lakukan hampir sama dengan apa yang kita pikirkan. Anda akan terlihat percaya diri ketika anda berpikir bahwa diri anda pantas untuk memiliki citra anda sehingga ketika anda masuk kesebuah butik atau restoran anda pikirkan tentang jenis pelayanan yang anda terima, cara orang lain menatap anda dengan respect dan segalanya Nampak tepat pada tempatnya bagi anda.

Itulah pemposisian citra anda terlihat akan kuat tapi tidak mencerminkan kearoganan dan kemunafikan didalamnya tapi didalam ada ketulusan hati untuk berprilaku sehingga semua orang akan menangkap citra anda secara positif karena memang anda pantas mendapatkan repect tersebut.

Citra Pribadi

Menurut “Collin English Dictionary” (Sandra Oliver, 2006:50) memberikan istilah citra, identitas dan reputasi. Citra – suatau gambaran tenatang mental; ide yang dihasilkan oleh imaginasi atau kepribadian yang ditunjukan kepada public oleh seseorang, organisasi dan sebagainya. Sedang Identitas – keadaan yang memiliki karakteristik unik untuk menidentifkasikan atau karakteristik individual dimana seseorang atau sesuatu dilihat. Reputasi – reputasi butruk atau kemashuran, terutama bagi beberapa karakteristik khusus.

Bobby Linkemer mengartikan citra sebagai kemasan manusia-perangai, pola tutur, kebiasaan kerja, postur-yang dihubungkan dengan bagian yang paling mengendalikan dan membatasi dari masyarakat” (1990:11) sedang Carl Roger (1993) mengartikan citra sebagai realitas dimana orang hanya dapat bereaksi terhadap apa yang telah mereka alami dan rasakan. Jane Miller (1995) sebagai sikap jujur kepada diri sendiri dan sesuai dengan situasi atau diartikan sebagai refkelsi sejati dari siapa anda sesungguhnya.

Begitu juga Virginia Hortton-Bettman, presiden dari Best suited for the executive image mengartikan citra sebagai alat komunikasi, bagian dari paket keterampilan anda dan papan untuk mengiklankan siapa anda, apa yang anda kerjakan seberapa baik anda dapat mengerjakan.

Ada juga yang mengatakan citra hanya sebuah mitos saja yang diartikan sebagai apa saja yang diinginkan bos atau aturan main yang harus anda jalani dalam dunia yang bersifat manipulasi dan curang. Dimata anak muda mendefiniskan citra sebagai memiliki kepercayaan diri, bersifat pleksibel, membawakan gambaran yang kompeten kepada dunia.

Amati citra sendiri dan sekeliling anda.

Pandangan yang berlaku dalam mengamati diri sendiri dalam pencitraan ada dua asumsi adalah 1). Citra anda – profesional atau pribadi, harus berupa ekspresi pribadi dari siapa anda sebenarnya, bukan lipstick yang menutupi dan dirancang untuk mengelabui publik yang ingin anda pengaruhi. Atau 2). ekspresi itu harus sesuai dengan situasi, lingkungan atau budaya di mana anda berfungsi.

Asumsi pertama, anda mengetahui siapa diri anda sebenarnya dan bagaimana mengekspresikan secara akurat dan tulus. Artinya anda punya gagasan mengenai apa yang anda pikir, rasa, inginkan dan nilai serta pesan anda yang akan disampaikan kepada publik. asumsi kedua adalah anda mengetahui apa yang diharapkan dari tempat anda didalam bisnis atau tempat lain dimana anda kebetulan berada dan bahwa anda dapat dengan nyaman dan konsisten menyatu dengan lingkungan.

Sehingga citra anda adalah persepsi yang anda pahami yaitu cara anda memandang diri sendiri dari dalam, memandang keluar; cara orang lain memandang anda dari luar, memandang keluar dan cara anda inngin menadang diri sendiri dan dipandang.

Darimana anda mau memperbaiki seandainya anda menyadari kalau asumsi diatas belum sesuai dengan apa yang diharapkan anda yang relatif baru bagi perubahan diri anda. Tentu saja perubahan real dari sudut luar, seperti penampilan anda, warna dan potongan pakaian anda, cara anda berjalan dan berjabat tangan, cara anda berjalan, potongan rambut anda, postur anda, kacamata dan rangkaian eksternal yang hampir tak pernah habis kalau anda amati terus.

Para psikolog lebih cenderung perbaikan dari pribadi anda dulu, sedang para profesional citra cenderung dari luar dulu karena orang lebih cenderung melihat penampilan luar daripada dalam.

Unsur-unsur citra anda.

1. Kesan pertama begitu memikat.

Kesan pertama anda dalam waktu beberapa detik, lawan bicara akan menarh respek kepada anda atau mengabaikan anda, karena pesan yang anda kirimkan melalui bentuk, postur, wajah dan kontak mata anda. Dapat kita lihat pandangan orang lain : Ia akan melihat anda dengan pandangan menyeluruh, kemudian ia mendengar suara anda – bagaimana suara anda terdengar dan apa yang anda katakana membuat satu lagi kesan yang nyata, relasi anda menyentuh anda dengan sebuah jabat tangan yang kuat yang bisa menjembatani kesenjangan anda dan menguatkan sebauah hubungan, pada jarak dekat itu – ia akan mencium bau anda, dan walaupun tidak adanya aroma lebih disukai, aroma yang tidak terlalu jelas juga mencapai tujuan.Indera kelima adalah perasa berupa pelukan dan sentuhan jelas memperkuat kepribadian anda.

2. Berbusana demi keberhasilan.

Sukailah diri anda, itulah bahasa yang paling pantas anda ingat. ”Tanyailah diri sendiri, bagaimana saya ingin menjadi, memandang diri saya sendiri dan dipandang orang lain lalu mengembangkan gambaran mental anda. Terlihat rumit memang, tapi deskripsikan apa saja yang ingin tekankan terhadap citra anda seperti kanvas lukisan kosong, mulai dari atas sendiri, berapa pnajang rambut anda? Bagaimana tampaknya bagian wajah anda? bagian mana yang paling menonjol sebagai paling menarik? Bagaimakah tampang anda dengan kumis dan jenggot?

Anda berbusana sebagai isyarat respek kepada orang lain dan jabatan yang anda pegang sebagai wujud komunikasi positif., bukan sekedar kenyamana anda sendiri. Ambil Amannya saja, sehingga anda merasa pasti akan tempat anda berpijak dan telah mencapai cukup kredibilitas untuk mengekspresikan gaya anda sendiri.

Pria atau wanita, bila anda memulai dari awal sekali, anda akan memerlukan satu setelan, tiga kemeja dan tiga dasi. Stelan ituharus konservatif dari bahan wol atau campuran wol dengan ketebalan sedang dan warna bisnis (abu-abu atau biru tua), dua kancing, belahan tunggal; jasnya harus berkelepak. Kemejanya harus terbuat dari katun atau campuran katun, berlengan panjang dan dalam tiga warna (putih, biru muda dan bergaris halus, dasinya (merah kecoklatan, abu-abu muda atau biru dan biru tua, dasi tersebut jangan solid, tetapi sebaiknya berstrip merah atau cetakan kecil yang berulang. SAepatu berwarna hitam atau coklat bertali dengansetuhan tas atase semakin tipis semakin baik dan sesuaikan dengan tempat kita berada.

Kedengarannya terlalu formal, tapi itulah penampilan yang aman, tidak akanmenyerang dan tidak ada aka nada yang dikonsentrasikan selain wajah anda yang meruapakan apa yang anda ingin agar dipandang oleh orang lain.

3. Suara anda, citra komunikasi anda.

Suara anda memikirkan bunyi suara (volume, nada, kecepatan, kepasihan dan resonansi) sewaktu anda berbicara. Kaidahnya adalah belajar menggunakan bahasa itu benar dan berlatihj mengucapkan sehingga anada dapat dimengerti oleh orang lain untuk tidak dapat dimengerti oleh orang lain atau secara pribadi mulailah mempelajari kaidah bahasa yang baik, baca majalah dan buku yang baik. Ada hal lain tak kalah penting adalah isi pembicaraan anda, bila anda engetahui apa yang anda ingin katakana, berlatihlah untuk mengatakannya. Ulangi dihadapan teman, cermin atau dalam benak anda. Dan disela-sela berbicara, belajarlah untuk mendengarkan untuk menyerap apa yang dikatakan orang lain. Atau dengarkan, pikirkan baik-baik apa yang anda dengar, serap, ajukan pertanyaan, lalu beri respon terhadap apa yang anda dengar.

4. Bahasa tubuh.

Tubuh anda bahasa diam yang paling mudah ditafsirkan orang lain. Tubuh anda juga menriakan pesannya dengan cara anda sendiri, duduk, mencondongkan badan kedepan untuk mendengarkan, mengangkat bahu, bersedekap, melakuakn gerkaan isyarat sewaktu berbicara, merosot dikursi anda dan berjalan masuk atau keluar ruangan. Anda juga memproyeksikan diri anda kedalam perjumpaan dengan langkah maju, mengangkat dagu, mengadakan kontak mata, menjulurkan tangan dan tersenyum.

Disiplinkan hidup anda.

Ada beberapa pedoman penting yang dikemukakan oleh Bobby Linkemer (1990:89) untuk mendisiplinkan hidup anda ada beberap aturan yaitu :

  • Jaga agar atena anda tetap mencuat
  • Olah informasi yang anda tangkap
  • Evaluasinya situasinya dan perasaan anda secara konsisten dan terus menerus
  • Apapun pekerjaan yang anda miliki, asalkan anda mempunyainya, berikan upaya anda 110 persen kepadanya.
  • Perhatikan tujuan anda dan bertindak seolah anda sudah mencapainya.
  • Pelajari aturan perusahaan atau departemen anda dan patuhi aturan tersebut.
  • Bila merasa bimbang, mainkan dengan cara konservatif – dalam semua cara.

Lebih mendalam lagi David J Schwartz (1996) dalam bukunya „The Magic of Thingking Big” merangkaikan beberapa hal untuk peningkatan kualitas citra pribadi seseorang antara lain :

  1. Percaya anda dapat berhasil, maka andapun akan benar-benar berhasil (Berpikir sukses, jangan berpikir gagal; ingatkan diri anda secara teratur bahwa anda lebih baik daripada yang anda kira; percaya besar).
  2. Sembuhkan diri anda dari dalih, penyakit kegagalan.
  3. Bangun kepercayaan dan hancurkan ketakutan (depositokan hanya pikiran positif dalam bank ingatan anda, miliki paandangan seimbang mengenai orang lain, kembangkan sikap penuh pengertian, duduklah selalu dikursi yang paling depan, biasakan mengadkaan kontak mata, berjalan 25 % lebih cepat, tersenyum lebar)
  4. Ingat berpikir besar selalu memberikan imbalan (jangan mengidap kompleks imperioritas, gunakan kosakata pemikir besar, bentangkan visi anda, dapatkan pandangan besar mengenai pekerjaan anda dan jangan berpikir tentang hal-hal yang sepele)
  5. Bagaimanakah berfikir dan bermimpi secara kreatif (percaya bahwa sesuatu dapat dilakukan, jangan biarkan tradisi melumpuhkan pikiran anda, bertanyalah pada diri sendiri setiap hari : ”bagaimanakah saya dapat bekerja dengan lebih baik?”, bertanyalah pada diri sendiri, :bagaimanakah saya dapat bekerja lebih banyak?”, praktikan bertanya dan mendengarkan dan bentangkan pikiran anda)
  6. Anda adalah apa yang anda pikirkan mengenai diri anda (tampil penting – ini membantu anda berpikir penting, berpikirlah pekerjaan anda penting, beri diri anda percakapan pendek pemberi semangat beberapa kali sehari, didalam semua situasi kehidupan bertanyalah pada diri sendiri : ”apakah ini cara orang penting berpikir?”)
  7. Atur lingkungan anda, gunakan selalu kelas satu (sadarlah akan lingkungan, buat lingkungan anda bekerja anda, jangan biarkan orang berpikiran kecil menahan anda, dapatkan nasihat anda dari orang yang berhasil, singkirkan racun pikiran kelaur dari lingkungan anda dan gunakan segalanya yang kelas satu)
  8. Jadikan sikap anda sekutu anda (tumbuhkan sikap saya aktif : gali lebih dalam, bersemangaatlah dalam segalanya mnegenai anda, siarkan berita baik; tumbhkan sikap ”anda orang penting”, Tumbuhkan sikap utamakan pelayanan)
  9. Berpikir benar tentang orang lain (jadikan diri anda lebih ringan untuk diangkat, ambil inisiatif dalam membina persahabatan, terima perbedaan dan keterbatasan manusia, setel saluran pikiran baik, praktekan kemurahan hati dalam bercakap, praktikan kebaikan hati selalu, jangan menyalahkan orang lain jika anda mengalami kemunduran)
  10. Tumbuhkan kebiasaan bertindak (jadilah aktivasionist,jangan menunggu hingga keadaanya sempurna,ingat – gagasan saja tidak akan memberikan keberhasilan,gunakan tindakan untuk menghilangkan ketakutan dan mendapatkan kepercayaan diri,mulai mesinmental anda secara mekanis,berpikir dalam pengertian sekarang, segegralah bertindak, ambil inisiatif)
  11. Bagaimana mengubah kekalahan menjadi kemenangan (pelajari kemunduran untuk melicinkan jalan menuju keberhasilan, miliki keberanian untuk jadi kritikus diri sendiri secara konstruktif, berhenti menyalahkan nasib, gabungkan ketekunan dengan eksperimen, ingatlah ada sisi baik dalam setiap situasi)
  12. Gunakan tujuan untuk membantu anda bertumbuh (tetapkan secara jelas kemana anda ingin pergi, tulis rencana 10 tahun anda, turuti keinginan anda, biarkan tujuan utama anda menjadi pedoman otomatis anda, capailah tujuan anda satu langkah demi langkah, kembangkan tujuan 30 hari, ambil jalan memutar dalam langkah anda, lakukan investasi dalam diri anda)
  13. Bagaimanakah berfikir seperti pemimpin (bertukar pikiranlah dengan orang-orang yang ingin anda pengaruhi, terapkan kaidah manusiawi dalam berusrusan dengan orang lain, berpikirlah maju – percayalah akan kemajuan, mendesakalah untuk maju, luangkan waktu untuk berunding dengan diri sendiri)

Demikianlah cengan pencitraan pribadi inilah kehidupan anda berubah total sehingga memberikan motivasi anda untuk melangkah kejenjang hidup yang dulu mungkin tidak begitu membuat anda bahagia, karena kebahagiaan itu sendiri ternyata ada pada sejauhmana anda menilai diri anda sehingga orang lain bisa melihat seluruh bingkai yang utuh yaitu pribadi anda.

 

 

 

Spirituality Management


Ketika kita mencoba membincangkan spirituality management, setidaknya terdapat tiga jenis kontribusi yang bisa disumbangkan bagi kemajuan praktek bisnis dan manajemen. Yang pertama, dimensi spiritualitas memberikan pondasi yang kuat untuk membangun integritas moral yang kokoh bagi para pelaku bisnis (karyawan, pengusaha, kaum profesional). Itulah profil integritas yang dinaungi oleh misalnya, sikap kejujuran, kesederhanaan, dan sikap yang mengacu pada etika kebenaran. Kini misalnya, kita melihat begitu banyak perusahaan yang mencantumkan aspek integritas dalam ’core competency’ yang mereka susun. Tentu saja, aspek integritas ini akan mampu diwujudkan – dan bukan jadi sekedar kata-kata hiasan – jika semua karyawan di perusahaan tersebut memiliki kadar sprititualitas yang tidak rapuh.

Kontribusi yang kedua berkaitan dengan pengembangan etos kerja yang berorientasi pada kemajuan dan keunggulan kinerja (excellent performance). Dimensi spiritualitas semestinya mampu dijadikan driving force yang kuat untuk menancapkan motivasi dan etos kerja yang selalu mengacu pada prestasi terbaik. Dalam konteks ini mestinya ada kesadaran kuat untuk menjalankan ”teologi kerja (job theology)” : atau sebuah niatan suci untuk selalu menganggap pekerjaan kita sebagai sebuah ibadah dan bentuk pengabdian kita pada Yang Maha Agung. Ketika kita bekerja dikantor dengan asal-asalan dan menghasilkan kualitas brekele, atau ketika ketika kita hanya mempu menciptakan pelayanan yang amburadul dan membikin para pelanggan patah arang, maka mestinya kita menanggap ini semua sebagai sebuah ”dosa” dan kita mesti merasa malu dihadapan Yang Maha Tahu.Sebaliknya, ketika kita selalu bisa mempersembahkan kinerja yang istimewa, atau ketika kita mampu mengagas dan melaksanakan ide-ide kreatif untuk memajukan perusahaan, maka mestinya ini semua tidak melulu didasari oleh keinginan untuk naik pangkat, atau mendapat bonus yang besar, melainkan pertama-tama mesti dilatari oleh niatan suci untuk beribadah. Sebuah niatan yang didorong oleh kehendak untuk mengabdi dan memuliakan Yang Diatas. Dalam konteks inilah, dimensi spiritualitas dapat menjelma sebagai sebuah inner force yang kokoh dan mampu memotivasi kita untuk terus bekerja keras memberikan yang terbaik.

Kontribusi ketiga yang layak disebut adalah potensi sumbangan dimensi spiritualitas dalam membangun apa yang kini sering disebut sebagai learning organization. Tak pelak, hampir semua agama didunia selalu mendorong para umatnya untuk terus belajar dan menuntut ilmu. Dalam Islam misalnya, ayat pertama yang diturunkan berbunyi iqra’ (artinya, bacalah !) : sebuah simbolisasi yang menekankan betapa pentingnya proses belajar dan menuntut ilmu bagi kemajuan peradaban manusia. Dengan demikian, upaya untuk membangun ’learning culture’, upaya mendorong para karyawan untuk terus merengkuh ilmu, atau upaya untuk menumbuhkan ”knowledge management system”, merupakan serangkaian proses yang senantiasa perlu digerakkan. Sebab, semua ini sesungguhnya merupakan perwujudan dari dimensi spiritualitas kita dan juga bentuk ibadah kita kepada Yang Maha Mengetahui.

Sumber :www.wirausaha.com

 

 

Berpikir yang Cerdik


PERILAKU KONTRAPRODUKTIF (CONTRAPRODUCTIVE BEHAVIOR)


Menurut Levy & Ritti (2003), perilaku kontraproduktif merupakan perilaku karyawan yang berupa perilaku mencuri/maling (theft), perilaku sabotase (sabotage), pemerasan (blackmail), penyuapan (bribery) dan perilaku menyerang orang lain (aggression).

Dalam pengertian yang kita pahami sehari-hari, perilaku mencuri/ maling/manipulasi uang dan penyuapan disebut juga dengan istilah korupsi yang memiliki pengertian yang paling sempit yakni menguasai uang yang bukan haknya sehingga merugikan institusi tempat pelakunya bekerja. Dari berbagai kasus, diketahui bahwa pelaku-pelakunya datang dari berbagai kalangan, mulai dari tingkat direktur utama, manajer, pimpinan proyek, pengawas hingga level pelaksana teknis atau pekerja di lapangan (Meliala, 1998).

Ada kaitan antara modus (cara melakukan) manipulasi, nilai uang yang dimanipulasi dan status sosial pelakunya, yaitu semakin tingginya status sosial sang pelaku manipulasi diduga akan berkaitan dengan semakin besarnya nilai uang yang dapat diselewengkan. Demikian pula halnya dengan modusnya yang cenderung semakin canggih dan kompleks.

Menurut Alatas (1975, dalam Meliala, 1998), perilaku korupsi (mencuri, penyuapan, dan sejenisnya) dikatakan telah berkembang menjadi fenomena yang bercirikan sebagai berikut :

  • Senantiasa melibatkan lebih dari satu orang.
  • Pada umumnya berlangsung dengan penuh kerahasiaan, kecuali dimana ia telah begitu merajalela dan berurat-berakar sehingga individu-individu yang melakukannya tidak mengganggap perlu menyembunyikan perbuatan mereka.
  • Melibatkan elemen kewajiban dan keuntungan timbal-balik.
  • Pelakunya biasanya menyelubungi perbuatannya dengan berlindung dibalik pembenaran hokum.
  • Mereka yang terlibat adalah kalangan yang walaupun setuju dengan keputusan-keputusan yang tegas namun berharap masih bisa dipengaruhi sesuai kepentingan mereka.
  • Mengandung penipuan, biasanya terhadap lembaga publik atau masyarakat umum.
  • Pada dasarnya adalah suatu pengkhianatan kepercayaan.
  • Setiap bentuknya melibatkan fungsi berganda yang kontradiktif dari pihak yang melakukannya.
  • Melanggar norma-norma tugas dan pertanggungjawaban dalam tataran masyarakat dan menempatkan kepentingan umum di bawah kepentingan khusus pihak tertentu.

Berdasarkan pandangan di atas maka dapatlah disimpulkan bahwa pengertian dan batasan dari perilaku kontraproduktif adalah penyalahgunaan uang perusahaan yang dilakukan oleh karyawan melalui penerimaan uang dengan cara-cara yang melanggar prosedur/ ketentuan perusahaan (tidak sah).

Contoh perilaku kontraproduktif dari karyawan operasional di suatu perusahaan pengelola jasa perparkiran di Jakarta, antara lain dengan cara-cara :

  • Mengangkat “boom-gate” dengan tangan bukan mesin (biasanya dilakukan oleh 2 orang karena berat).
  • Menerima pembayaran dari kendaraan parkir
  • Menggunakan tiket langganan pada kendaraan yang “menginap” (over-night)
  • Mengeluarkan kendaraan dengan tiket gratis (pada kasus ada input mobil kepuar tetapi tidak ada fisik mobil di lokasi parkir).
  • Memalsu tiket parkir kendaraan (stempel palsu).
  • Pembongkaran (hacking) program komputer pada mesin tiket parkir.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MUNCULNYA PERILAKU KORUPSI/MANIPULASI UANG SEBAGAI PERILAKU KONTRAPRODUKTIF

Perilaku korupsi/manipulasi uang sesungguhnya dapat dikaji dari sudut pandang lingkungan atau tempat terjadinya perilaku tersebut. Beberapa instansi pemerintah misalnya dikenal memiliki “reputasi” tertentu dalam hal korupsi yang dilakukan oleh karyawannya.

Namun demikian, bukannya tidak ada lingkungan kerja tertentu di perusahaan swasta yang tidak mendukung munculnya korupsi. Mungkin yang berbeda dengan fenomena di birokrasi pemerintahan adalah jenis penyebabnya. Di kalangan swasta, korupsi umumnya baru dapat terjadi bila terdapat pengawasan yang lemah, persaingan yang ketat, adanya kesempatan, kelihaian melakukan manipulasi dan sebagainya (Tempo, 19 Februari 1983. dalam Meliala, 1998).

Secara psikologis, fenomena “menyimpang” seperti terdapat di lingkungan kerja pemerintahan maupun swasta tersebut juga dapat dibahas dalam konteks perilaku kelompok (group behaviour). Pada situasi terdapatnya kesempatan (opportunity) akibat lemahnya kendali kelompok (group control), akibat ketidakpaduan antara kata dan perbuatan (inconsistency) antar anggota, demikian pula akibat persaingan ketat dalam mengejar tujuan materi (material-led competition), diduga kuat gampang memunculkan perilaku yang tidak mengindahkan norma dan nilai setempat.

Sebaliknya, kuatnya kendali kelompok, mengingat adanya kohesivitas kelompok yang tinggi, juga dapat menjadi predisposisi bagi timbulnya korupsi. Hal itu terjadi bila ada anggota kelompok yang pada dasarnya tidak ingin melakukan hal itu, lalu terpaksa melakukan penyesuaian diri (conformity) guna terhindar dari tekanan kelompok atau group pressures (Aronson, 1984, 22-25, dalam Meliala, 1998).

Pada akhirnya dapat dikatakan, terlepas dari lingkungan kerja birokrasi atau swasta, pastilah terdapat karakteristik lingkungan tertentu yang mengembangkan berbagai predisposisi bagi lahirnya korupsi (Tempo, 19 Februari 1983 dalam Meliala, 1998). Bila dilihat secara umum, maka karakteristik tersebut adalah (Singgih, 1993, dalam Meliala, 1988) :

  • Kelemahan dalam pengawasan
  • Masih terdapatnya atasan yang tidak mampu melaksanakan fungsinyasebagai pengawas atas aktivitas bawahannya.
  • Kekurangberanian atasan mengambil tindakan tegas terhadap bawahan yang korupsi.
  • Gaji/penghasilan yang tidak sesuai dengan kebutuhan dasar menurut indicator kesejahteraan karyawan.
  • Tidak diterapkannya secara konsisten sistem alih tugas jabatan (mutasi, promosi, degradasi).
  • Penggunaan berbagai sarana komunikasi dan informasi canggih yang mempermudah dilakukannya korupsi.

Selanjutnya, ada kalangan yang menduga, motif terkuat dalam melakukan korupsi adalah motif memperkaya diri sendiri. Tetapi, ada pula yang berpikir bahwa sepanjang dilakukan secara terbatas, maka motif korupsi tentunya hanya terbatas pada upaya mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari saja. Pandangan “relativisme” tersebut tentu saja akan mempengaruhi bentuk dan jumlah perilaku yang dianggap korupsi atau bukan korupsi. Sebagai suatu perbuatan yang memiliki norma menyimpang (deviant norm), pandangan relative ini potensial menimbulkan kekaburan ataupun kerancuan, yang mana dari sudut pelakunya dapat dipakai sebagai pembenaran atau justifikasi guna melakukan korupsi.

Sebagai suatu gejala sosial, seperti sudah diuraikan, perilaku korupsi memang amat dipengaruhi oleh berbagai hal seperti kesempatan/ peluang, “budaya”, status sosial, motif dan gaya hidup, yang pada intinya mengacu pada upaya pemuasan nafsu konsumerisme individu (Sukardi, 1990, dalam Meliala, 1998).

Dalam kaitan ini, Alatas (1975, h. 46, dalam Meliala, 1998) memiliki daftar penyebab korupsi/manipulasi uang sebagai perilaku kontraproduktif yang meliputi unsur pribadi dan lingkungan :

  • Kelemahan pendidikan, pengajaran agama dan etika.
  • Feodalisme, sebagai unsure yang tidak menggugah kesetiaan dan kepatuhan yang diperlukan untuk membendung korupsi.
  • Ketiadaan atau kelemahan kepemimpinan dalam posisi-posisi kunci yang mampu memberikan ilham dan mempengaruhi perilaku yang menjinakkan korupsi.
  • Kemiskinan pelakunya.
  • Tidak adanya hukuman yang keras.
  • Langkanya lingkungan yang subur bagi perilaku anti korupsi.
  • Struktur pemerintahan.
  • Terjadinya perubahan radikal dalam struktur masyarakat yang memungkinkan munculnya korupsi sebagai penyakit transisional.

Untuk konteks Indonesia, hidupnya budaya patrimonial yang menempatkan atasan sebagai “bapak” dan bawahan sebagai “anak”, mau tak mau, harus juga diakui kehadirannya. Dalam paham ini, sebagaimana layaknya seorang bapak, atasan harus mengayomi anak-anaknya dari marabahaya. Dari hubungan tersebut, muncullah “kekuasaan” yang konkrit (Anderson, 1984, h. 51, dalam Meliala, 1998). Untuk itu, sebagai balas jasa, anak-anak harus memberi “upeti” kepada bapak. Hal ini juga dimungkinkan berkat adanya pemahaman bahwa harta pribadi pada dasarnya adalah juga harta komunal. Pada konteks dewasa ini, pemberian upeti tersebut telah dianggap termasuk kategori korupsi/ manipulasi.

Budaya patrimonial juga kerap sulit melihat perbedaan antara milik pribadi dan milik bersama maupun perbedaan antara “milikmu” dan “milikku”. Terhadap pemegang kekuasaan, adalah “abash” atau legal bila mempergunakan segala sumber atau akses yang dikuasainya dalam rangka pemusatan atau penonjolan “kekuasaannya” (Anderson, 1984, h. 53, dalam Meliala, 1998). Hal mana mengakibatkan, antara lain, tingginya kecenderungan dalam penggunaan fasilitas Negara oleh pejabat yang disertai dengan lemahnya control.

Dari uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang dapat menyebabkan terjadinya korupsi/manipulasi uang adalah:

a. Faktor Individu :

  • Kemiskinan pelakunya.
  • Kelihaian pelakunya.
  • Penggunaan teknologi canggih yang mempermudah korupsi.

b. Faktor Kelompok :

  • Lemahnya pengawasan dari atasan.
  • Atasan tidak mampu melaksanakan fungsinya.
  • Atasan kurang berani bertindak tegas pada bawahan korupsi.
  • Ketiadaan/kelemahan kepemimpinan dalam posisi-posisi kunci.
  • Kohesivitas kelompok yang tinggi.
  • Persaingan yang ketat.

c. Faktor Pekerjaan dan Organisasi :

  • Gaji/penghasilan yang tidak sesuai dengan kebutuhan dasar.
  • Sistem alih tugas jabatan tidak diterapkan secara konsisten.
  • Tidak adanya hukuman/sanksi yang keras.
  • Adanya kesempatan.

d. Faktor Luar Organisasi (Lingkungan) :

  • Lemah/kurangnya pendidikan, pengajaran agama dan etika.
  • Feodalisme, unsur tidak menggugah kesetiaan & kepatuhan.
  • Langkanya lingkungan yang subur bagi perilaku anti korupsi.
  • Terjadinya perubahan radikal dalam struktur masyarakat.
  • Budaya patrimonial.

FAKTOR-FAKTOR YANG DAPAT MENCEGAH MUNCULNYA PERILAKU MENCURI/ MANIPULASI UANG SEBAGAI PERILAKU KONTRAPRODUKTIF

Betapa pun tidak pernah dilakukan penelitian yang mendalam, namun diyakini bahwa ternyata tidak semua orang yang memiliki predisposisi melakukan korupsi ternyata benar-benar melakukan korupsi. Sebaliknya, juga terdapat cukup banyak masyarakat yang tidak memiliki predisposisi seperti disebut oleh Alatas di bagian terdahulu, namun memiliki angka korupsi sama atau bahkan lebih tinggi dibanding masyarakat Indonesia pada umumnya. Singkatnya, terdapat faktor-faktor tertentu, atau kombinasinya, yang membuat individu melakukan atau tidak melakukan korupsi.

Faktor-faktor individual seperti tingkat tertentu dari pertimbangan moral seseorang, mungkin dapat dikatakan sebagai yang menghambat seseorang melakukan perilaku menyimpang (Kohlberg, 1976, h. 31-53, dalam Meliala). Dalam hal ini, bagi sekalangan orang dengan struktur moral tertentu, korupsi rupanya masih dikategorikan perilaku menyimpang yang harus dijauhi (v.d. Heuvel, 1980). Demikian pula dengan tingginya penghayatan keagamaan dan motif kejujuran (Alatas, 1975, h. 70-75, dalam Meliala, 1998).

Mereka yang tidak memberikan penilaian tinggi pada materi dan tinggi penghayatannya pada agama (Rokeach, 1973 & 1969), juga diketahui memiliki predisposisi rendah untuk berperilaku menyimpang. Dikatakan oleh Tyler (1990, h. 80-83, dalam Meliala, 1998), kualitas-kualitas pribadi tersebut biasanya berkorelasi dengan perilaku yang menjauhi perbuatan yang dianggap negatif tersebut.

Berdasarkan uraian di atas, penulis menyimpulkan bahwa faktor-faktor yang dapat mencegah/menghambat terjadinya korupsi/ manipulasi uang sebagai perilaku kontraproduktif adalah: (a) tingkat pertimbangan moral tertentu (Kohlberg, 1976); (2) tingkat struktur moral tertentu (v.d. Heuvel, 1980); (3) tingginya penghayatan keagamaan (Alatas, 1975 & Rokeach, 1973 & 1969); (4) tingginya motif kejujuran (Alatas, 1975); dan (5) tidak memberikan penilaian tinggi pada materi (Rokeach, 1973 & 1969).

Bahan Bacaan :

  • Kurnia, Adil. 2006. Rancangan Program Pelatihan Peningkatan Motivasi dan Etos Kerja Dalam Rangka Pencegahan Perilaku Kontraproduktif Pada Karyawan PT. X. Tugas Akhir. Depok: Program Pascasarjana Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.
  • Levy, Steve & Ritti, R. Richard. 2003. Instructor Manual for The Ropes to Skip and Ropes to Know. Sixth Edition. New York: John Wiley and Sons, Inc.
  • Meliala, Adrianus. 1998. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Persepsi Mahasiswa Terhadap Korupsi. Tesis. Jakarta: Program Pascasarjana Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

Fenomena “burnout” dalam organisasi


Akhir-akhir ini, perhatian makin diberikan kepada suatu fenomena yang disebut burnout yang artinya “terbakar habis”. Kondisi ini menimpa sejumlah karyawan manajemen dan pengawasan, khususnya orang-orang yang berprestasi dan para pelaku mandiri. Alasannya karena orang ini mengetahui bagaimana cara menyembunyikan kelemahan mereka dengan baik, burnout tidak kelihatan pada masa awal. Namun hal ini terlihat jelas bagi orang disekitarnya begitu keadaan muncul.

Namun belum ada definisi umum yang diterima, burnout dapat digambarkan sebagai berkurangnya vitalitas, energi, sumber dari dalam serta kemampuan untuk berfungsi dari seseorang secara terus menerus.

Fenomena ‘ burnout’ telah telah dianalisa sejak awal tahun  1970-an ( Pastore & Judd, 1992 ). Namun sampai sekarangagak sulit menemukan  definisi operational yang konkrit tentang ‘ burnout’. Freudenberger (1980: 74 ) mendefinisikan  ‘burnout’ sebagai : ” …a state of fatigue or frustration brought about by devotion to a cause, way of life, or relationship that failed to produce the expected reward.”  Sering kali banyak kekeliruan di kalangan penulis untuk menggunakan  konsep yang sama antara  ‘burnout’ dan tekanan (stress). dua istilah  ini telah digunakan secara silih berganti dalam berbagai penulisan walaupun pada hakikatnya ada perbedaan  di antara kedua-dua konsep tersebut, karena sangat sulit membedakan karena keduanya. Selain ada  persamaan ciri-ciri dan simptoms-simptomps pada individu yang mengalami masalah-masalah tersebut.

Menurut Lazarus (1966) dan Selye (1976), ” burnout is usually a result of unmediated stress, and in several theories certain stress reactions are referred to in terms that are similar to those used to describe burnout. “( Friedman, 1995). Farber (1983:3) pula menyimpulkan bahawa ” in general burnout can be conceptualized as a function of the stresses engendered by individual, work-related and societal factors “

Maslach dan Pines telah mengkaji tentang ‘burnout’ dari perpektif sosial-psikologikal. Kajian mereka telah berhasil menciptakan teori yang  dikenal sebagai Maslach Burnout Inventori. Inventori ini telah digunakan secara meluas untuk menentukan tiga faktor dalam mengukur ‘burnout’ terhadap individu. Faktor-faktor tersebut adalah dari segi keletihan emosi ( emotion exhaustion), gangguan keperibadian sendiri  (depersonalization ), dan pencapaian pribadi ( personal accomplishment ). Di samping itu, Maslach dan Pines percaya bahwa kriteria  kerja/job description/tugas dalam sebuah organisasi adalah faktor penyebab utama  lahirnya  ‘ burnout’ ( Gold & Roth, 1993 ).

Maslach dan Pines(1981) ada tiga komponen kriteria seseorang mengalami  ‘burnout’ yaitu , keletihan ( exhaustion ) fizikal, emosi dan mental. Sehubungan itu, daripada kajian Pines dan Aronson (1981), ‘ burnout’ dicirikan sebagai suatu keadaan yang dialami oleh mental-emosi dan Fisik  individu seperti kelesuan, kemurungan, optimistik, perasaan terperangkap, perasaan tidak berguna, dan perasaan energetik ( Fejgin et.al,1995 ).

Korban burnout merasa terjepit, kehabisan tenaga dan kosong. Dia merasa kecewa, sinis, mudah tersinggung dan tegang. Kepada orang lain dia terlihat marah atau depresi dan menarik diri. Setiap masalah kecil dapat menyulut rekasi kemarahan atau kehinaan. Saran-saran baik atau penawaran bantuan semuanya tidak didengar.

Korban burnout merasa bahwa kehidupan dan pekerjaannya telah kehilangan arti. Apa yang dahulunya menggairahkan dan menantang sekarang menjadi membosankan. Hari kerja seakan urusan yang menyakitkan dan membuatnya frustasi. Terlalu banyak pekerjaan yang harus dilakukan, terlalu banyak gangguan yang tidak perlu yang harus ditahan, terlalu banyak masalah sepele yang harus diperhatikan dan tidak ada penghargaan yang dapat dibanggakan pada akhir hari kerja. Banyak orang yang menjadi korban burnout menjadi pengawas jam yang kronis, “santai”, Menghindari tanggungjawab atau orang yang sering mangkir atau mereka pergi kerja dengan cara seperti robot.

___________________________

Ujian kuosien “Burnout” Anda

(terlalu banyak jawaban “YA” merupakan tanda peringatan ) YA/TIDAK

1. ________ Apakah anda selalu merasa tertekan untuk mencapai keberhasilan ?
2. ________ Apakah anda cepat lelah ? merasa letih dan tidak energik?
3. ________ Apakah anda perlu selalu mencari hiburan untuk menghindari perasaan bosan?
4. ________ Apakah orangorang mengjengkelkan anda dengan berkata : “Anda tidak kelihatan begitu
sehat akhir-akhir ini”?

5. ________ Apakah anda bekerja makin keras tetapi menghasilkan makin sedikit?

6. ________ Apakah satu bidang kehidupan anda secara tidak seimbang menjadi penting bagi anda?

7.________ Apakah anda semakin sinis dan kecewa?

8.________ Apakah anda tidak dapat bersantai?

9.________ Apakah anda tidak luwes ketika memutuskan sesuatu?

10. ________ Apakah anda sering terserang oleh kesedihan yang tidak dapat anda jelaskan?

11.________ Apakah anda melupakan perjanjian, batas akhir atau milik-milik pribadi?

12.________ Apakah anda makin mudah tersinggung?makin mudah marah? makin kecewa

dengan orang-orang       disekitar anda?

13. ________ Apakah anda begitu menyatu dengan kegaitan-kegiatan anda, sehingga bila mereka gagal,

anda juga  merasa gagal?

14. ________ Apakah anda selalu khawatir dalam menjaga citra anda?

15. ________ Apakah anda terlalu sibuk untuk melakukan sesuatu bahkan hal-hal rutin seperti menelpon

seseorang dan membaca laporan?

16. ________ Apakah anda tidak mampu tertawa dengan lelucon-lelucon tentang diri anda sendiri?

17. ________ Apakah anda tidak dapat berbicara dengan orang lain ?

18. ________ Apakah anda merasa terputus ketika kegiatan dalam hari kerja habis?

19. ________ Apakah sasaran anda tidak jelas, berubah-rubah antara jangka panjang dan jangka pendek?

20. ________ Apakah kesenangan anda sukar dipahami? ————————————————————————————————————————————-

Apa penyebab burnout?

Para pakar belum mencapai kesepakatan tentang apa yang persis menyebabkan burnout. Beberapa orang menghubungkannya dengan ” kelahiran masyarakat yang gila serta waktu kapan kita hidup”, yang ditandai dengan tekanan yang berlebihan, perubahan mobilitas, birokrasi serta mekanisasi. Yang lainya merasa bahwa faktor situasi dan disposisi yang harus dipersalahkan. Tanda umum dari sebagian korban burnout tanpaknya berbentuk suatu pola usaha keras untuk mencapai harapan atau sasaran yang tidak realistis ditambah dengan tidak menyadari kemampuan mereka sendiri atau situasi.Mereka nampaknya tidak menyadari bahwa ketika puncak ambisi mereka terlalu tinggi, kekecewaan dan frustasi selalu selalu akan menunggu diakhirnya. Korban burnout selalu mulai dengan harapan-harapan yang tinggi, mendorong diri mereka sendiri terlalu keras… berupaya keras terlalu lama.

Akhirnya ketidaksesuaian antara upaya dan hasil terlihat jelas, mereka menjadi kecewa.Mereka kehilangan penyulut utama yang digambarkan Joseph C. Yeager (2000:205) adanya kemunduran “tiga E” yaitu enthuasm (antusiasme), excitement (kegairahan), dan energy (energi) menjadi “tiga D”, drudgery (kebosanan), dullness (tidak ada variasi) dan demotivation (hilangnya motivasi) Penanggulangan

Apa yang harus dilakukan dengan korban burnout ?untungnya, terdapat banyak orang yang akan terhentak dari apatis dan stagnasi menjadi antusisme dan energi tanpa intervensi dan bantuan dari luar. Yang lain-lainnya dapat diselamatkan dengan intervensi terapi. Tetapi ada juga dari korban burnout yang keadaanya tanpak kronis dan yang tidak dapat dibantu dengan mudah. Beberapa juru bicara di industri menunjukan bahwa bila dihadapkan dengan keadaan ekonom yang sulit, bisnis dan industri lebih baik menerapkan prosedur triage yang digunakan oleh unit-unit medis lapangan selama waktu perang. Dalam triage, para korban diamsukan kedalam satu dari tiga kelompok :

  • kelompok pertama terdiri dari orang-orang yang kemungkinan hidupnya ha[pir tidak ada, apakah ada bantuan atau tidak.
  • kelompok kedua bukan hanya dapat hidup tetapi juga akan sembuh, apakah ada bantuan atau tidak.
  • yang dimasukan kedalam kelompok ketiga adalah orang-orang yang dapat diselamatkan, asalkan mereka mendapatkan perhatian segera. Biasanya mereka dirawat terlebih dahulu.

Meskipun mungkin tanpak tidak berperasaan dan tidak manusiawi, konsep triage barangkali harus diterapkan didalam organisasi bisnis. Psikolog Herbert J. Freudenberger menciptakan sebuah kuis yang akan memungkinkan anda atau bawahan anda dapat menentukan apakah ada pola sikap dan prilaku yag akan menuju burnout. Banyaknya jawaban “YA” terhadap pertanyaan dalam kuis diatas dapat menjadi tanda peringatan bahwa sasaran seseorang harus dipertimbangkan kembali dan pola-pola prilaku dibentuk kembali.

Referensi dan sumber

Timpe, A. Dale, The Art and science of business management perfomance, terj. sofyan cikmat, Facts on file, Inc., New york, 2000.

Austin, D.A. (1981). ‘Teachers Burnout Issue’ . Journal of Physical Education Recreation and Dance, 52(9), 35-36.

Campbell,J.P., Dunnette,M.D., Lawler,E.E., & Weick, K.E. ( 1970 ). Managerial Behavior, Performance, and Effectiveness. New York : McGraw-Hill.

Depaepe, J., French, R., & Laray, B. (1985). Burnout Symptoms experienced among special physical educators : A descriptive longitudinal study. Adapted Physical Activity Quarterly, 2, 189-196.

Farber, B.A. (1983). Stress and Burnout in the Human Services Profession. New York : Pergamon Press.

Fejgin, N, Ephraty,N, k Ben-sira, D. (1995). Work Environment and Burnout of Physical Education Teachers. Journal of Teaching Physial Education . 15. 64-78.

Freedman, 1. (1991). ‘High and Low Burnout Schools: School Culture Aspects of Teacher Burnout’. The Journal of Educational Research, 84, 325-333.

Freudenberger, H. (1980). Staff burnout . Journal of Social Issues, 34 (4), 111 – 123

Freudenberger, H.J., & Richelson, G. (1980), Burnout the High cost & High achievement. New York : Anchor Press.

Friedman, I.A. ( May – June, 1995 ). Student Behaviour Patterns Contributing to Teacher Burnout. The Journal of Educational Research. 88(5), 281-288.

Gay, L.R. ( 1996 ). Educational Research : Competencies for Analysis and Application ( 5th.ed ). New Jersey : Prentice Hall, Inc.

Girdano, A.A, Everly, G.S, & Dusek, D.E, (1993) Controlling Stress & Tension – A Holistic Approah. New Jersey : Englewood Cliffs

Gold, Y., & Roth, R.A. ( 1993 ). Teachers Managing Stress and Preventing Burnout : The Professional Health Solution. Washington, D.C : The Falmer Press.

Horton , L. (1984). ‘What do we know about teachers burnout? Journal of Physical Education, Recreation and Dance. 55 ( 3 ), 69 –71.

Isaac, S., & Micheal, W.B. (1984). Handbook In Research and Evaluation ( 4th.ed ). San Diego, Califonia : EdiTs Publishers.

Johnson, B.C., & Nelson, J.K. (1986). Practical Measurement For Evaluation in Physical Education ( 4th.ed ). USA: Burgess Publishing.

Mancini,V.A.,Wuest,D.A.,Valentine,K.W., & Clark,E.K. ( 1984 ). The use of instruction and supervision in interaction analysis on burned out teachers : Its effects on teaching behaviors, levels of burnout and academic learning time. Journal of Teaching in Physical Education. 3 ( 2 ), 29 – 46.

Maslach, C., & Jackson, S. (1986). Maslach Burnout Inventory Manual. Palo Alto, CA : Consulting Psychological Press, Inc.

Pastore, D.C., & Judd, M.R. ( May-June,1992 ). Burnout in Coaches of Women’s Team Sports. JOPERD. 74 – 79.

Pines, A. (1982). Changing organizations : Is work environment without burnout an impossible goal ? In W. Paine (ed), Job stress and burnout (PP . 274 – 281). Beverly Hills, CA : Sage.

Pines, A., & Aronson, E. ( 1981 ). Burnout : From tedium to personal growth. New York : Free Press Schwab, R.L Ivanicki , E.F (1982). Perceived role conflict, role ambiguity and teacher burnout. Educational Administrative Quarterly 18, 60 – 74.

Sisley, B.L., Capel, S.A, & Desertrain G.S. (1987). ‘Preventing & Burnout in teacher coaches. Journal of Physical Education, Recreation and Dance, 58 (2), 71 – 75.

Smith, J.C. ( !993 ). Understading Stress and Coping, New York: MacMillan Publishing Company.

Yukl, G.A., & Wexley, K.N.C. (1984 ). Organization Behavior and Personnel Psychology. Illinois: IRWIN.

%d blogger menyukai ini: