Posts from the ‘Pengusaha Indonesia’ Category

“Belajar Bisnis dari Liem Sioe Liong”


Sudono-SalimLIEM Sioe Liong lahir pada 16 Juli 1916 di Fuqing, sebuah desa kecil di wilayah fujian, Provinsi Fukien, Cina bagian selatan. Ia adalah anak kedua dari tiga bersaudara, kakaknya bernama Liem Sioe Hie dan adiknya bernama Liem Sioe Kong. Anak pasangan keluarga petani di Desa Ngu Ha, Hai Kou. Ayah liem merupakan seorang petani biasa yang pekerjaannya sehari-hari menggarap sawah sendiri. Beliau meninggal dunia tatkala Liem Sioe Liong baru menginjak bangku sekolah. Oleh karenanya, kakak Liem Sioe Liong kemudian menggantikan persan sang ayah menjadi tulang punggung keluarga, menggarap sebagian sawah peninggalan sang ayah, sementara sisanya digarap orang lain dengan perjanjian bagi hasil.

Kesulitan hidup sering kali mampu menjadikan seseorang tampil sebagai pribadi yang matang. Itulah mungkin ang terjadi pada diri Liem Sioe Liong. Masa kecilnya bukanlah masa gemilang kesenangan, justru kesulitan dan kemiskinan yang harus dihadapi. Kelak, kesulitan hidup di masa kecilnya itu rupanya menggembleng mental Liem Sioe Liong menjadi pribadi yang bersemangat dan kokoh. Semangat untuk mengubah hidup menjadi lebih baik. Sekitar tahun 1929 Sioe Hie memutuskan untuk merantau ke Indonesia, ia merasa tidak bersemangat dengan kehidupannya sebagai petani. Tujuannya meraantau adalah untuk mencari kehidupan yang lebih baik daripada di Cina. Konon, dimasa-masa itu, bahkan sebelunya juga, banyak orang Tiongkok yang memilih merantau mencari rezeki di negara orang.

Paman Liem Sioe Liong, Liem Kiem Tjai, juga merantau ke Indonesia dan sudah berhasil mendirikan perusahaan dagang kecil di Kudus, Jawa Tengah. Sioe Hie mengikuti jejak sang paman dan memutuskan merantau ke Indonesia. Kekacauan di Cina pada pertengahan abad ke-19 dengan adanya pemberontakan Taping, Boxer, dan makin lemahnya dinasti Qing menyebabkan makin banyaknya orang Cina yang lari.

Sepeninggal sang kakak, Liem kecil yang baru berusia 13 tahun terpaksa menggantikan peran sebagai tukang punggung keluarga. Hidup keluarga ini sangat kekurangan, bahkan saking miskinnya Liem harus putus sekolah. Ia bekerja sebagai petani sekaligus nyambi berjualan mi di sekitar wilayahnya. Semua beban hidup itu dilakoninya dengan giat tanpa sempat mengeluh. Waktu terus berjalan. Namun, kehidupan keluarga Liem tak juga berubah. Hingga kemudian terjadi peristiwa yang mengubah tekad Liem Sioe Liong untuk hengkang dari tanah kelahirannya. Peristiwa yang dimaksud adalah kemelut yang melanda Cina saat itu.tiongkok diguncang perseteruan antara kaum Komunis dan nasionalis yang dimotori Chiang Kai Sek. Kian kisruh negeri itu, setelah Jepang melancarkan serangan kilat dan berhasil menduduki Beijing.

Merantau
Kisruh keadaan Cina merupakan hal utama yang mendasari tekad bulat Liem Sioe Liong untuk merantau, menyusul jejak kakak dan pamannya di tanah Jawa, tanah jajahan Belanda yang terkenal kaya dan subur. Selain karena kisruh Cina, kabar tentang perantau Cina yang sukses di Jawa sedikit banyak juga berpengaruh pada ketetapan hati Liem Sioe liong untuk merantau.

Dengan keyakinan yang kuat untuk mengubah hidupnya, akhirnya Liem Sioe liong memutuskan untuk merantau menyusul kakaknya di Jawa. Sebagian sawah milik keluarganya ia jual untuk biaya. Pada tahun 1938, Liem yang berusia 22 tahun bertekad merantau, meninggalkan Ibu dan adiknya. Menurut beberapa sumber, saat ituLiem telah menikah dengan gadis pilihan ibunya, dengan begitu ia meninggalkan istri yang baru dinikahinya selama enam bulan.

Setelah sampai di Surabaya Liem ternyata mengalami kejadian yang menyedihkan. Saat aka menuruni kapal, beberapa petugas imigrasi Hindia Belanda memeriksa orang dari Cina yang baru datang. ,ereka bertanya keras-keras dan menanyakan siapa yang menjamin. Liem Sioe Liong kelimpungan, ia sama sekali tidak melihat kakaknya. Walhasil, ia pun tertahan di pelabuhan Surabaya. Empathari kemudian, kakaknya Liem Sioe Hie menerima telegram bahwa adiknya tertahan di pelabuhan Surabaya. Menerima kabar tersebut ia pun dengan cepat pergi ke pelabuhan Surabaya dan mencari adiknya. Setelah bertemu mereka berdua bepelukan dan menangis, kemudia mereka mencari warung di dekat pelabuhandan saling bertukar cerita, lalu Liem di ajak ke kudus.

CIKAL BAKAL GURITA BISNIS LIEM SIOE LIONG

Bisnis Awal dan Jatuh Bangunnya
Di Kudus, Liem KiemTjai, sang paman, mendirikan pabrik minyak kacang. Minyak kacang merupakan komoditas yang cukup penting pada saat itu. Selain untuk memasak, minyak kacang juga bisa dipakai sebagai bahan bakar pelita. Bahan bakar minyak tanah saat itu belum dikenal masyarakat. Di pabrik kecil pamannya inilah Liem dan kakaknya bekerja. Dua tahun kemudian, sang adik, Liem Sioe Kong, menyusul ke Kudus. Jadilah tiga lelaki bersaudara ini bahu-membahu dalam membantu usaha sang paman.

Selain membantu usaha sang paman, Liem juga mulai belajar berdagang di kudus. Maklum, selama ini dunia yang dipahami Liem memang sebatas dunia tani, ia belum mengerti banyak tentang tata cara berdagang. Dipelajarinya cara berdagang dengan mengikuti teman-temannya sesama perantau dari Cina yang menjual berbagai keperluan penduduk di sekitarnya. Barang-barang tersebut ia jual kredit, orang-orang Jawa menyebut profesi mengkreditkan barang ini dengan istilah tukang mindring.

Selain mengkreditkan barang keperluan penduduk, Liem dan saudaranya juga masuk di bidang pedagangan hasil bumi, seperti beras, kedelai, dan jagung. Bahkan sebagian diekspor. Di sini mulai terlihat berkembangnya usaha-usaha bisnis yang dijalani Liem bersaudara. Pernah juga mereka menjadi pengelola tahu dan kerupuk, usaha ini juga dapat berkembang dengan baik.

Pada tahun 1943, Jepang datang dan berhasil menduduki Indonesia. Kebijakan baru di bidang ekonomi pun terjadi, seluruh perdagangan barang-barang dinasionalisasikan dan dikuasai Jepang sepenuhnya. Usaha kredit dilarang begitu juga dengan pertanian dan perkebunan. Semua lahan diwajibkan untuk ditanami tanaman jarak yang merupakan bahan untuk membuat minyak pelumas berbagai mesin, termasuk mesin pesawat yang notabene sangat dibutuhkan Jepang. Walhasil, peraturan tersebut menyebabkan bisnis yang dibangun keluarga Liem morat-marit. Bahkan Liem sempat ditangkap dan diinterogasi selama seminggu karena dicurigai memiliki senjata api. Namun untungnya, keadaan tersebut tidak berlangsung lama. Pada tahun 1945 Jepang menyerah kepada sekutu setelah Hiroshima dan Nagasaki diluluh-lantakkan dengan bom atom. Kekalahan Jepang ini mengakhiri cengkraman kekuasannya di Indonesia.

Berkah Hasan Din
Banyak orang yang tidak tahu bahwa sumbangsih orang-orang Tionghoa dalam perjuangan kemerdekaan tidak sedikit. Gerakan nasional di Tiongkok pada awal abad ke-20 telah memberi dorongan besar pada gerakan kemerdekaan Indonesia. Ketika pada tahun 1946 Konsul jenderal Chiang Chia Tung di Malang mengatakan Tiongkok sebagai salah satu dari 5 negara besar (oen of the big five) yang berdiri dibelakang Republik Indonesia, orang-orang Tionghoa disambut sebagai kawan seperjuangan.

Pada masa revolusi ini, sikap etnis Tionghoa dibedakan menjadi dua, yaitu sikap netral dan sikap properjuangan kemerdekaan. Sebagian etnis Tionghoa tidak ingin berpihak dalam konflik Indonesia-belanda, karena mereka berpendapat bahwa mereka bukanlah Belanda dan Juga bukan Indonesia. Sikap “netral” ini muncul sebagai produk devide et impera kolonial Belanda dan politik resinifikasi (pencinaan kembali) penguasa Jepang. Meskipun posisi ini sering menuai kritik, namun di beberapa daerah, ironisnya, justru sikap “netral” inilah yang diminta oleh golongan pejuang Indonesia dari golongan Tionghoa. Tidak semua etnis Tionghoa bersikao netral, banyak diantara Tionghoa peranakan/turunan maupun totok yang bersimpati dan berjuang di pihak republik. Orang-orang Tionghoa ini berperan aktif memberikan sumbangsihnya, mulai dari bertempur, penediaan logistik dan persenjataan, maupun menjalankan dapur umum bagi prajurit TNI.

Di antara orang-orang Tionghoa totok yang bersimpati pada perjuangan kemerdekaan salah satunya adalah Liem Sioe liong. Pada masa revolusi, banyak tokoh-tokoh perjuangan yang dikejar-kejar oleh Belanda. Suatu hari, di Kudus, Liem Sioe Liong diminta untuk menyembunyikan seorang buronan belanda oleh Tionghoa Chong Siang Hwee (sebuah oraganisasi pedagang antar-Cina). Dipilahnya Liem karena ia terkenal pribadi yang keras dalam memegang kepercayaan dan janji, sekaligus pendiam. Meskipun kehidupan Liem pada saat itu sedang labil, usahanya bangkrut, Liem tetap melayani sang buronan yang dititipkan kepadanya dengan baik. Ia juga senantiasa menjaga tamunya itu dari ancaman intel Belanda.

Waktu terus berjalan, setelah sudah setahun Liem melakukan tugasnya dengan tulus, Liem baru mengetahui orang tersebut adalah Hasan Din, seorang tokoh Muhammadiyah, ayahanda Fatmawati dan mertua Presiden Soekarno. Jasa baik Liem ini ternyata menjadi pembuka jalan bisnisnya yang menggurita di kemudian hari. Lewat Hasan Din inilah Liem banyak dikenal pada pemimpin tentara Republik. Perkenalan ini membuat peluan bisnis terbuka lebar bagi Liem. Ia dipercaya oleh Tentar Republik untuk memasok berbagai kebutuhan mereka. Maka, mulailah liem menekuni bisnis barunya tersebut.

Kontribusi untuk Pejuang
Bukan pekerjaan mudah menjadi pemasok kebutuhan tentara di masa pemerintahan yang labil, dibutuhkan kesabaran dan keuletan tersendiri. Tapi liem Sioe liong ternyata memiliki kemampuan itu.

Dengan modal pinjaman dari teman-temannya, Liem mulai menjalankan bisnis barunya itu, sebagai pemasok barang kebutuhan para tentara pejuang kemerdekaan. Selain memasok kebutuhan-kebutuhan tentara seperti obat-obatan dan yang lainnya, Liem pada periode 1949-1950 dikabarkan juga memasok senjata untuk gerilyawan Republik. Liem memiliki banyak kenalan di Singapura dan Hongkong, salah satunya adalah Tan Kah Kee, saudagar kaya di Singapura yang bersimpati denga perjuangan Indonesia. Dengan jaringannya yang ada di Singapura itu Liem bekerja sama dengan Kee memasok kebutuhan gerilyawan Republik. Bantuan itu disamarkan dengan kedok obat-obatan kepada tentara secara sembunyi-sembunyi. Pihak Belanda sempat curiga, namun ia mengelak dan beruntuk tidak ditangkap oleh Belanda.

Sementara itu, ditengah aktivitas bisnisnya sebagai pemasok kebutuhan tentara Republik, Liem melihat ada peluan lain yang tertangkap otak bisnisnya, yaitu kebutuhan akan cengkih. Pada tahun 1949 Belanda akhirnya mengakui secara saj kedaulatan Indonesia. Liem Sioe Liong tidak menyia-nyiakan kesempatan pada momen inni, melihat pasokan cengkih yang kosong di pasaran Indoenesia, ia mengimpor cengkih tersebut dari Zanzibar dan Madagaskar melalui jaringan perdagangannya di Singapura. Dari impor cengkih ini Liem kembali mendapatkan keuntungan yang besar. Keuntungan tersebut makin berlipat ketika pemberontakan separaatis terjadi di daerah-daerah penghasil cengkih. Aktivitas Liem sebagai pemasok cengkih ini juga yang membawanya bertemu dengan Soeharto.

DARI CENGKIH HINGGA MI INSTAN

Fondasi Bisnis Liem Sioe liong
Bisnis sebagai pemasok kebutuhan tentara dan pemasok cengkih menjadi titik tolak imperium bisnis Liem Sioe liong. Dari dua bisnis ini Liem mampu melipatgandakan modalnya. Ia juga mendapatkan jaringan perdagangan yag luas danrelasi-relasi dari kalangan militer.

Pada tahun 1952, Liem meninggalkan Kudus utnuk pindah ke Jakarta. Di sana liem mulai melebarkan sayap usahanya. Mula-mula ia merambah bidang manufaktur, didirikanlah PT Muliatex dan PT Tarumatex yang bergerak di bidang tekstil. Namun, usahanya ini kurang begitu berhasil. Tak lama berselang, Liem kemudian bertrut-turut mendirikan beberapa perusahaan, di antaranya PT Indara Mas yang memproduksi suku cadang sepeda, PT Indara Kencana yang memproduksi paku, dan PT Telok Betok yang bergerak di bidang kerajinan tangan.selain itu ia juga mendirikan pabrik sabun sebagai bisnis lanjutan dalam memasok kebutuhan tentara.

Setelah masa Orde Baru roda bisnis Liem Sioe Liong terus menggelinding. Ia mengembangkan bisnis ekspor-impor yang merupakan keahliannya sejak lama. Dibangunnya CV Waringin dan PT Permanent. Lewat perusahaan ini Liem mengekspor kopi, lada, tengkawang, kopra, serta timah, lalu ia mengimpor beras dan gula untuk dipasarkan di Indonesia. Sebagai langkah lanjutan untuk menunjang bisnis ekspor-impornya Liem mendirikan tiga perusahaan dagang lepas pantai di Singapura dan Hongkong, Liem juga mendirikan Bank Windu Kencana dan sebuah bank lagi yang saat ini dikenal sebagai Bank Central Asia (BCA).

Ekspansi bisnis Liem Sioe Liong tak berhenti di sini. Sejak dekade 1979-an, Liem Sioe Liong dengan Grup Salimnya mendirikan berbagai perusahaan dan merambah ke berbagai bidang, diantaranya pabrik tepung terigu (Bogasari Floue Mills), makanan (Indofood), semen (Indocement), dan lain sebagainya.

Di Balik Nama Soedono Salim
Liem Sioe Liong merubah nama Cinanya dengan nama Indonesia: Soedono Salim, di tahun1976-an. Pemilihan nama tersebut tidak dilakukan sembarangan, melainkan melalui beberapa pertimbangan makna yang melekat. Konon, nama Soedono Salim merupakan hasil otak-atiknya Liem, yaitu terdiri dari empat suku kata, Soe artinya baik, Dono artinya dana/modal, Sa artinya tiga (san), dan Lim diambil dari kata Liem. Jika digabungkan kurang lebih artinya menjadi ‘satu dari tiga bersaudara yang punya banyak modal’.

Adapun penggantian nama tersebut merupakan aturan yang ditetapkan pemerintah waktu itu. Hal tersebut sangat berkaitan erat dengan peristiwa bersejarah G30S/PKI. Bersamaan dengan perubahan politik itu, rezim Orde baru melarang segala sesuatu yang berbau Cina. Segla kegiatan keagamaan, kepercayaan, dan adat istiadat Cina tidak boleh dilakukan lagi. Hal ini dituangkan ke dalam Instruksi Presiden (Inpres) No.14 Tahun 1967. Di samping itu, masyarakat keturunan Cina dicurigai masih memliki ikatan yang kuat dengan tanah leluhurnya dan rasa nasionalisme mereka terhadapnegara Indonesia diragukan. Akibatnya, keluarlah kebijakan yang sangat diskriminatif terhadap masyarakat keturunan Cina baik dalam bidang politik maupun sosial budaya.

The Gang of Four
Bisa dibilang, PT Waringin Kencana merupakan awal usaha patungan Liem yang besar. Dalam hal ii Liem bekerja sama dengan tiga nama lainnya yang kemudian lebih dikenal dengan sbutan The Gang of Four, yaitu Djuhur Sutanto, Ibrahim Risjad, dan Sudwikatmono.
Terbentuknya The Gang of Four sendiri pada awalnya adlah prakarsa dari mantan Presiden Soeharto. Suatu ketika Soeharto meminta Liem untuk mengajak kelompok bisnis Djuhar Soetanto bergabung dengannya. Waktu itu Djuhur memimpin kelompok bisnis Five Stars yang memasok kebutuhan TNI Angkatan laut, sama halnya dengan Liem yang banyak menjalankan usaha dengan TNI Angkatan Darat. Setelah itu dua tokoh lainnya ikut merapat.

Bogasari
Gandum adalah sesuatu yang memiliki arti penting dalam sukses bisnis Liem Sioe Liong. Kenapa? Karena gandumlah yang kemudian membawa Liem menjadi konglomerat dengan membuat Grup Salimnya membengkak, membesar, lalu menggurita.

Setelah Grup Salim terbentuk dam sejalan dengan program pemerintah yang mengupayakan perbaikan dalam hal pangan, sandang dan papan, pada tahun 1969 Liem mendirikan pabrik penggilingan tepung terigu, PT Bogasari Flour Mills. Bogasari kemudian diresmikan dua tahun setelahnya oleh mantan presiden Soeharto dengan mengemban tugas menyediakan bahan makanan pokok selain beras. Investasi awalnya mencapai Rp. 2,2 miliar. Dengan logo “Segitiga Biru” Bogasari terus berkembang menjadi industri raksasa.
Setelah sukses dengan Bogasari, pada awal tahun 1980-an Liem mulai berpikir untuk membuat produk turunan dari tepung terigu, tentunya untuk menghasilkan nilai tambah yang pada akhirnya meningkatkan keuntungan perusahaannya. Setelah mencoba membuat berbagai jenis produk, akhirnya pada tahun 1982, Liem menciptakan produk mi instan dengan merek Indomie. Tidak ada keterangan soal apakah ketika itu produk Indomie diletakkan di bawah Bogasari atau tidak, tapi yang jelas, nama Indofood ketika itu belum ada. Selain Indomie, Grup salim juga memproduksi berbagai jenis makanan lainnya.

Kemudian pada tahun1990, Grup Salim mendirikan perusahaan makanan dengan nama PT Panganjaya Intikususma, yang di tahun 1994 berubah nama menjadi PT Indofood Sukses Makmur. Seluruh usaha makanan milik Grup Salim termasuk Indomie kemudian diletakan di bawah perusahaan baru ii, termasuk juga Bogasari yang diakusisi pada tahun 1996.
Dalam perjalanannya, Indomie tidak hanya merajai pasar Indonesia, di Afrika Barat, terutama Nigeria, Indomie adalah makanan yang paling disukai masyarakat. Di negeri ini Indomie diproduksi oleh De-United Foods Industries Ltd, anak perusahaan Dufil Grup hasil joint venture dengan Grup Salim.

Sang Raja Semen
Setelah sukses dengan PT Bogasarinya, Liem Sioe Liong kemudian mendirikan perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang semen. Terhitung ada 6 perusahaan semen yang didirikan Grup Salim, di antaranya PT Distinct Indonesia Cement Enterprise, PT Perkasa indonesia Cement Enterprise (1973), PT Perkasa Indah Indonesia Cement Putih Enterprise (1978), PT Perkasa Agung Utama (1981), PT Perkasa Inti Abadi (1984), dan PT Perkasa Abadi Mulia Indonesia Cement Enterprise (1985). Setelah itu, pada tahun 1985, enam perusahaan semen ini kemudian digabungkan menjadi satu perseroan yang bernama PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. (selanjutnya disbut PT Indocement) dan menjadikannya sebagai produsen semen produsen semen terbesar di Asia Tenggara.

Saham Indocement tercatat di Bursa Efek Indonesia. Pada akhir tahun 2009 perseroan mempertahankan kapitalisasi pasar sebesar Rp 50,433 miliar. Perusahaan ini mempekerjakan 5858 personel dan memiliki beberapa anak perusahaan (subsidiaries) yang bergerak di berbagai bidang dan segmentasi.

Sawit Sampai ke Mobil
Selain Bogasari dan Indocement, Grup Salim juga mendirikan perusahaan-perusahaan lain yang bergerak di berbagai bidang yang berbeda, dari hulu ke hilir. Di bidang gula misalnya, Liem Sioe Liong membuat Sugar Group (SG), perkebunan gula terpaddu miliknya yang menjadi salah satu produsen terbesar di Indonesia. Liem juga terjun di bidang perkebunan, ia bahkan memiliki lahan 549 ribu hektare lebih di Riau, Sumatra. Lahan tersebut membentang dari Kabupaten Kampar hingga Bengkalis dan kemudian dikonversikan menjadu perkebunan kelapa sawit. Dengan lahan seluas itu Liem kemudian mengembangkan industri minyak sawit Grup Salim, di antaranya PT Intiboga Sejahtera (IS) di Surabaya yang menelurkan Bimoli.

Selain di bidang perkebunan, pda tahun 1994 Liem juga membuat proyek kawasan industri di Batam. Kawasan Industri Batamindo namanya, berlokasi di Mukakuning, Batam. Kawasan Industri adalah patungan antara Liem Sioe Liong dengan Grup Bimantara dalam wadah kerjasama yang diberi nama PT Herwindo Rintis. Liem Sioe Liong seperti tidak pernah berhenti berbisnis. Berhasil atau tidaknya di suatu bidang biasanya akan diteruskan bergerak dibidang lain, begitu seterusnya. Pada tahun ’70-an Liem Sioe Liong sudah terjun ke dunia otomotif dengan Indomobilnya. Walaupun belum lama memasuki dunia mobil, kehadiran kelompik Liem waktu itu berhasil menggeser kelompok-kelompok lain yang bergerak di bidang yang sama. Indomobilnya menjadi salah satu dari tiga kelompok yang menguasai pasaran mobil di Indonesia, dua lainnya adalah Astra dan Krama Yudha.

LIEM DAN SOEHARTO

Konglomerasi
Fenomena konglomerasi di era Orde Baru memang menarik untuk diamati. Di interval 1960-an hingga 1998, banyak sekali grup bisnis dengan skala besar yang lahir. Seperti tipikal konglomerat lainnya, mereka mengumpulkan berbagai perusahaan yang bergerak di banyak bidang. Grup-grup bisnis tersebut tidak berkembang hanya karena keahlian pengusaha dalam menjalankan usahanya. Kedekatan mereka dengan penguasa, Soeharto, berimplikasi pada perlakuan eksklusif yang mereka peroleh sehingga dapat membangun imperium bisnis raksasa.

Kedeketan Liem dan Soeharto
Liem Sioe Liong telah sejak lama mengenal Soeharto, ketika ia masihg berproefesi sebagai pemasok kebutuhan tentara di masa revolusi. Dari perkenalan tersebut tampaknya hubungan Liem dan Soeharto semakin dekat. Keduanya menjalin hubungan bisnis bersama. Itu terlihat ketika di tahun 1956-1959, menurut beberapa sumber, Liem pernah bekerja sama dengan Soeharto dan Bob Hasan dalam penyelundupan gula dan segala soal yangberkaitan dengan barter ilegal. Karena itu Soeharto mendapat hukuman dari A. Yani dan Nasution. Perbuatannya tersebut dianggap sebagai korupsi.

SENJA KALA IMPERIUM BISNIS GRUP SALIM DI INDONESIA

Badai Krisis Moneter dan Perbankan Indonesia
Pada tahun 1997, krisis moneter melanda Indonesia yang kemudian diikuti dengan krisis ekonomi pada tahun-tahun berikutnya. Badai krisis ini telah meluluh llantahkan berbagai bisnis yang ada. Banyak dari pengusaha-pengusaha besar yang namanya populer dan kalangan kong-lomerat ambruk satu demi satu. Pengusaha-pengusaha yang ambruk tersebut tidak hanyya berasal dari kalangan pribumi saja, melainkan juga banyak dari kelompok nonpribumi, termasuk Cina.

Menurut analisi Bank Dunia saat itu, terjadinya krisis di Indonesia disebabkan oleh empat penyebab utama, kemudian empat penyebab itu bersama-sama membuat krisis menuju ke arah kebangkrutan. Penyebab pertama adalahakumulasi utang swasta luar negeri yang cepat daritahun 1992 hingga juli 1997, sehingga hampir 95% dari total kenaikan utang luarnegri berasal dari sektor swasta ini, dan jatuh tempo rata-ratanya hanyaalah 18 bulan.
Penyebab kedua adalah kelemahan pada sistem perbankan. Berbagai kelemahan struktural dalam sistem perbankan dan sektor riilnya jugamemberikan kontribusi atas krisis yang terjadi.

Penyebab ketiga adalah masalah governence, termasuk kemampuan pemerintah menangani dan mengatasi krisis, yang kemudia menjelma menjadi krisiskepercayaan dan keengganan donor untuk menawarkan bantuan finansial dengan cepat. Penyebab keempat adalah ketidak pastian politik menghadapi pemilu dan pertanyaan mengenai kesehatan Presiden Soeharto pada waktu itu.

Krisi yang terjadi di Indonesia ini, menurut berbagai pihak, merupakan akumulasi persoalan di masa lalu yang memuncak seiring dengan terjadinya krisis regional di hampir semua belahan Asia. Dampak dari krisis yang terjadi sangat luar biasa. Kondisi perekonomian yang hancur merambah ke berbagai sektor. Likuidasi beberapa bank, penutupan beberapa peruahaan, PHK besar-besaran, dan harga-harga sembako yang semakin melonjak.

Insiden 1998
Tak hanya bisnisnya yyang jatuh, Liem pun harus menghadapi keberingasan massa pada insiden 1998, kala Indonesia didera krisis yang begitu hebat. Rumahnya di Jalan Gunung Sahari VI, Jakarta, dan yang ada di medan dijarah Massa. Seperti diceritakan banyak media waktu itu, massa merangsek ke dalam rumahnya dan menyeret sebuah foto besar Liem Sioe liong. Penuh emosi massa mencorer lukisan tersebut dengan kata, ‘Antek Soeharto.’ Tak hanya itu, barang-barang yang ada di dalam pun di keluarkan dan dibakar di depan rumah itu.

Peristiwa kerusuhan Mei 1998 itu ternyata menyisakan trauma bagi Liem Sioe Liong, membuatnya tak pernah kembali ke Indonesia. Bahkan, hingga akhir hayatnya, rumah di Gunung Sahari itu dibiarkan penuh jelaga dan tak diperbaiki. Sejak kepergiannya ke Singapura, Liem menyerahkan semua urusan yang masih terkait dengannya kepada Anthony Salim, putranya. Termasuk urusan itu adalah pengurusan utang-utang Grup Salim dan bisnisnya yang masih tersisa di Indonesia.

Liem dan Chairul Tanjung
Ketika Liem menggelar pesta ultah perkawinan dan ulang tahunya beberapa tahun lalu, diantara tamu yang datang dan disambut hangat oleh Liem adalah Chairul Tanjung, seorang konglomerat Indonesia yang mencuat justru disaat krsis mendera. Mereka bersahabat baik karena Chairul Tanjung pernah menolong Liem di masa-masa sulit 1998, ketika yang lain justru meninggalkannya. Chairul Tanjung membantu menyediakan dana talangan saat BCA di-rush nasabah.

Mengenai kiat sukses yang dilakoni, Chairul Tanjung mengungkapkan bahwa dalam berbisnis jangan terlalu banyak berpikir., berhitung, atau banyak rencana. Hal tersebut malah menjadikan bisnis yang hendak dijalani urung dilakukan. Untuk menjadi seorang pengusaha harus memiliki keyakinan. Kegagalan bukanlah apa-apa, bukan dosa, juga bukan sesuatu yang memalukan. Yang penting tidak selalu gagal ditempat yang sama.

KEBANGKITAN BISNIS GRUP SALIM

Kembali ke Titik Awal
Krisis 1998 memang telahg merontokan beberapa perusahaan kebanggan Grup Salim. Tapi pada kenyataanya, grup ini tidak hancur begitu saja. Kini, setelah belasan tahun pascareformasi, Grup Salim kembali meraih kejayaan bisnisnya. Mereka kembali bangkit dan merajai pasar. Pada tahun 2004, di tengah kontroversi yang ada saat itu, Grup Salim akhirnya mengantongi surat keterangan lunas dari pemerintahan Megawati Soekarnoputri atas utang-utangnya.

Dengan kesigapan dan kemampuan grup ini, tak salah bila beberap pihak mereamalkan Grup Salim akan bangkit kembali sebagai konglomerat nomor satu Tanah Air, kendati pemulihannya akan memakan waktu dantak bisa segera. Ibarat pohon, akar kerjasama bisnis Salim tampaknya sudah tertanam cukup kuat. Jangan heran bila dari bekas dahanya yang patah, cepat bersemi tunas-tunas baru.

Tangan Dingin Sang Putra Mahkota
Setelah meninggalkan Indonesai, Liem Sioe Liong lebih banyak menikmati hari-harinya di Singapura. Liem memang telah memutuskan pensiun di tahun 1998, Grup Salim pun dinahkodai oleh anaknya, Anthony Salim sang putra mahkota. Anthony Salim memang begitu istimewa di mata Liem Sioe Liong dibandingkan anak-anaknya yang lain. Menjelang kelahirannya, konon Liem Sioe Liong terkena musibah kecelakaan lalu lintas yang cukuo serius. Mobil yang ditumpanginya masuk jurang. Beberapa orang yang bersama Liem di dalam mobil tewas, hanya Liem sendiri yang selamat, hanya mengalami cedera kecil saja. Sebagai rasa syukur, Liem kemudian mengaitkan keberuntungannya tersebut saat menamai anak ketiganya yang baru lahir, Liem Fung Seng. Kata Fung bermakna keberuntungan. Kelak, dunia bisnis lebih mengenal putra Liem tersebut dengan nama Anthony Salim.

Sumber :

Ganjar Tri Haryono, Belajar Bisnis dari Liem Sioe Liong (Kisah Petani Miskin yang Menjadi Orang Terkaya No. 1 di Indonesia), Kobis(Komunitas Bisnis), Jakarta, 2014.

MENGENAL DAHLAN ISKAN


AWALNYA SEORANG REPORTER

Semasa kecil, Dahlan Iskan hanya memiliki satu celana pendek, satu baju, dan satu sarung.Rumahnya pun hanya berlantai tanah sementara, lemari mereka hanya satu.

Kemiskinan dan Filosofi Sarung

Dahlan Iskan lahir dalam kondisi serba kekuarangan.Lihat saja, semasa kecil, Dahlan Iskan hanya memiliki satu celana pendek, satu baju, dan satu sarung. Dalam buku Mengganti hati, Dahlan Iskan menuturkan bahwa sarungnya bisa digunakan sebagai apa saja, mulai dari alat ibadah, mencari rejeki, alat hiburan fashion, kesehatan, sampai alat untuk menakut-nakuti. Bagi Dahlan Iskan sarungnya adalah benda yang paling fleksibel dan multifungsi.

Kisah Sebuah Lemari

Di rumah Dahlan Iskan tidak memerlukan lemari, hal ini dikarenakan baju mereka sekeluarga tidak lebih dari sepuluh.Selain itu keluarga mereka pun tidak mampu untuk membeli lemari.Lemari buatan ayahnya digunakan untuk menyimpan segala macam.Mulai dari kaleng bekas, piring seng untuk makan, cobek, dan tempat mengulek sambal. Makanannya pun disimpan ditempat yang sama.

Saat ibunya sakit (sakit yang ternyata juga menimpa Dahlan Iskan), segala sesuatunya dijual untuk biaya pengobatan.Maklum saja, mereka hidup dengan kondisi yang miskin.Segala yang bisa dijual maka dijual, mulai dari sawah warisan keluarga yang hanya secuil, alat-alat perkakas tukang milik bapaknya, dan juga lemari satu-satunya.

Hijrah ke Kalimantan

Cita-cita tertinggi Dahlan Iskan sebenarnya sangat simple dan hanya satu : mempunyai sepeda. Dahlan Iskan yang merupakan anak buruh tani tidak mempunyai sepeda.Dan untuk dapat naik sepeda Dahlan Iskan harus meminjam sepeda temannya.

Setelah tamat SMA, Dahlan Iskan ikut kakaknya ke Samarinda untuk kuliah di IAIN Samarinda.Saat kuliah Dahlan Iskan merasa “putus asa”.Dia merasa pengetahuannya tidak bertambah semasa kuliah, maka Dahlan Iskan mulai malas melanjutkan kuliahnya. Sebagaibentuk pelarian dan mengisi waktu, Dahlah Iskan akhirnya menyibukan diri di koran kampus. Dari sinilah pengalaman Dahlan Iskan sebagai seorang wartawan.

Karir Dahlan Iskan sebagai jurnalis semakin terbuka lebar saat Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi Sosial (LP3S) merekrutnya dan memberikan kesempatan dalam program magang di Jakarta.

Beruntung sekali Dahlan Iskan ditempatkan di majalah Tempo, Majalah ini termasuk salah satu majalah terkenal di Indonesia, Dahlan Iskan dianggap berprestasi saat membuat laporan eklusif tentang larinya terpidana mati Kusni Kasdut dari penjara Cipinang.

Dahlan Iskan kembali berprestasi saat tulisannya yang mengulas tragedy kapal Tampomas II, kapal tersebut milik perusahaan Pelayaran Nasional Indonesia yang terbakar dan tenggelam. Beritanya sungguh menghebohkan karena sekitar 5000 penumpangnya terbakar hidup-hidup di perairan Masalembo, Laut Jawa, Dahlan Iskan menulis kejadian ini dengan sangat bagus. Karena berita inilah Dahlan Iskan kemudian dipromosikansebagai kepala biro Tempo Surabaya (Majalah Pantau, Mei 2011)

Pelajaran Dari Kemiskinan

Hidup dalam kekuarangan memang merupakan suatu kondisi yang berat.Tidak setiap keinginan dapat segera diwujudkan.Bagi mereka yang bermental lemah kemiskinan merupakan sebuah ironi kehidupan.Sebuah takdir yang menyiksa.Kemiskinan juga kerap dijadikan alasan untuk ketidaksuksesan.

Tapi mereka yang bermental baja, kondisi kemiskinan tersebut dapat dijakdikan cambuk untuk menggapai kehidupan ynag lebih baik. Dahlan Iskan mempunyai keyakinan bahwa kemiskinan sejatinya adalah jalan menujudan kesuksesan. Baginya, usaha keras dan konsisten akan membuahkan hasil yang terbaik. Kemiskinan yang melanda tersebut bukanlah alasan untuk menilai bahwa Dahlan Iskan dan keluarganya hidup menderita.

Orang tua Dahlan Ikan juga selalu mengajarkan agar bekerja keras. Saat menjadi pemimpin, Dahlan Iskan selalu mencontohkan bawahannya agar selalu bekerja keras. Selain bekerja, Dhlan Iskan merupakan pribadi yang selalu bersyukur atas segala yanng diberikan oleh Tuhan. Tidak mengeluh. Selain itu, Dahlan Iskan pun sangat kreatif dalam meliat setiap peluang yang ada.

2.    SUKSESKAN JAWA POST

Dahlan Iskan mampu menaikan oplah Jawa Pos dari 6000 eksemplar menjadi 300.000 eksemplar. Jawa Pos adalah koran harian yang sudah hampir mati. 

Sejarah Jawa Pos

Jawa Pos didirikan oleh The Chuang Shen pada 1 juli 1949 dengan nama Djawa Pos. Selain mendirikan Djawa Pos, The Chuang Shen juga mendirikan koran berbahasa mandarin dan Belanda. Pada tahun 1970-an, omzet mengalami kemerosotan tajam. Saat menginjak usia 80 tahun, The Chuang Shen akhirnya memutuskan untuk menjual Jawa Pos.

Pada tahun itulah, Eric FH Samola mengambil alih Jawa Pos. Eric kemudian menarik Dahlan Iskan unutk memimpin Jawa Pos. Di tangan Dhlan Iskan inilah Jawa Pos yang saat itu sudah sekarat dan menunggu mati akhirnya dapat bangkit dan menjadi salah satu koran dengan omset terbesar di Indoonesia. Dahlan Iskan kemudian mulai memimpin Jawa Pos. Dalam urusan Jawa Pos, ditunjukan Imam Soeroso (sekarang menjadi direktur Jawa Pos). Saat itu Jawa Pos hanya 6000 eksemplar. Tetapi di tangan Dhlan Iskan oplah Jawa Pos dapat menembus angka 300.000 eksemplar dalam 5 tahun saja.

Pada tahun 1080-an, Eric Samola yangmenjadi direktur utama Jawa Pos jatuh sakit. Eric akhirnya meminta Dahlan Iskan untuk menjadi direktur utama Jawa Pos. Koran-koran yang dikelola Dahlan Iskan disebut Jawa Pos News Network (jaringan berita Jawa Pos). Manfaat dari jaringan ini adalah biaya produksi menjadi ringan. Koran di suatu daerah tidak perlu menempatkan personilnya di daerah lain. Tinggal ambil saja dari pusat database.

Gurita Bisnis Jawa Pos

Setelah sukses dengan Jawa Pos, 5 tahun kemudian dibentuklah Jawa Pos News Network. JPNN menaungi lebih dari 80 surat kabar, tabloid, majalah serta 40 jaringan percetakan di seluruh Indonesia. Sebagai simbol dari kesuksesan JPNN, pada tahun 1997 didirikanlah Graha Pena (berlantai 21) yang merupakan salah satu gedung pencakar langit di Surabaya.

Pada tahun 2002, Dahlan Iskan merambah dunia pertelevisian. Pada tahun yang sama Jawa Pos Group membangun pabrik kertas koran yang kedua dengan kapasitas dua kali lebih besar dari pabrik yang pertama. Kini abrik itu, PT Adiprima Sura Parinta, mempu memproduksi kertas koran 450 ton/hari. Lokasi pabrik ini kabupaten Gresik.

Tahun 2003, Jawa Pos merambah bisnis baru yaitu Independent Power Plant. Pada tahun 2009, Jawa Pos Group menambah data center baru: Fangbian Iskan Corporindo (FIC) ynag berkantor di gedung Graha Pena Surabaya. Selain sebagai pemimpin Jawa Pos, Dahlan juga merupakan Kalimantan Timur dan PT Prima Electric Power di Surabaya.

Kunci sukses: Filosofi Air

Kunci sukses Dahlan Iskan dalam membangun Jawa Pos ternyata menggunakan filosofi air: mengalir. Prinsip seperti air inilah yang dipegang oleh Dahlan Iskan sejak dulu hinga sekarang. Dalam filosofi air, semakin deras air tersebut maka semakin bagus. Hal yang juga tidak wajar adalah Dahlan Iskan mengaku tidak mempunyai cita-cita. Dahlan Iskan berpendapat dengan adanya cita-cita maka seseorang akan mempertaruhkan sesuatu untuk mencapainya. Ada sesuatu yang harus di korbankan. Sementara bagi orang yang tidak mempunyai cita-cita maka hidupnya akan semakin fleksibel.

Faktor Penting Keberhasilan

Selain prinsip mengalir seperti air, Dahlan Iskan juga mempunyai faktor penting yang menjadi keberhasilannya.

Pertama, keberanian Dahlan iskan dalam mengambil resiko. Kedua, kerja keras. Banyak ynag mengatakan Dahlan Iskan sebagia sosok yang gila kerja (workaholic). Bahkan karena terlalu kerasnya Dahlan Iskan bekerja sampai mengorbankan kesehatan dan juga jiwanya. Ketiga, piawai dalam mencari peluang. Keempat, konsisten dengan sikapny. Dahlan Iskan mempunyai integritas tinggi. Saat Dahlan Iskan tidak menyukai sesuatu, maka dia juga akan menjauhinya.

Dahlan Iskan Junior

Dahlan Iskan dikaruniai 2 orang anak. Satu orang putra bernama Azrul Ananda dan seorang putri bernama Isna Fitria. Sejak SMA, kedua anaknya langsung dikirim ke luar negeri. Alasan utamanya adalah agar kedua anaknya dapat menimba ilmu sesuai dengan keinginan mereka. Tahun 1993-1994, Azrul Ananda menjadi siswa pertukaran di Ellinwood High School di Kansas. Pada tahun 1999, dia lulus dari California State University Sacramento dengan predikat cum laude dengan konsentrasi internasional marketing. Pemuda ini pun akhirnya tertarik untuk mengurus Jawa Pos.

Awalnya Dahlan Iskna bersikeras untuk menolaknya. Maklum, jiia dalam suatu perusahaan ada hubungan keluarga maka budaya kerjanya dapat rusak. Dahlan Iskan juga tidak mau dianggap melakukan praktik nepotisme. Setelah melakukan pertimbangan matang, Dahlan Iskan mengizinkan Azrul Ananda unutk masuk Jawa Pos. Saat Azrul telah masuk ke Jawa Pos, Dahlan Iskan kembali mengulang mantra lama kesuksesannya; bekerja.

Sementara anaka Dahlan iskan yang lain, Isna Fitria, lebih memilih untuk berbisnis baju dan membuat butik. Seiring berjalannya waktu, Azrul akhirnya mampu menunjukan taringya. Saat menjadi pemimpin redaksi Jawa Pos, koran ini mendapat penghargaan Cakram Award Newspaper of the Year tahun 2005. Saat menjadi pemimpin Jawa Pos, Azrul mmbuat konsep Deteksi. Rubrik ini akhirnya menjadikan Jawa Pos diberi penghargaan sebagia koran anak muda terbaik di dunia. Tiras Jawa Pos pun menjadi lebih baik.

Azrul dipilih menjadi pemimpin Umum Jawa Pos Azrul memang lebih unggul dari kandidat lainnya dan bukan karena anak Dahlan Iskan. Setelah Dahlan Iskan meninggalkan Jawa Pos, Azrul yang menggantikannya. Tampaknya pepatah yang mengatakan pael tidak jatuh jauh dari pohonnya berlaku untuk mereka berdua.

DAHLAN ISKAN GANTI HATI

Tuhan, terserah Engkau sajalah! Terajadilah yang harus terjadi. Kalau saya harus mati, matikanlah. Kalau saya harus hidup, hidupkanlah! (Dahlan Iskan)

Penyakit Dahlan Iskan

Keluara Dahlan Iskan memang dekat dengan penyakit liver. Ibunya meninggal pada usia 36 tahun karena muntah darah. Kakaknya meninggalkan dalam usia 32 tahun juga karena muntah darah. Dan pakdenya juga meninggal karena muntah darah.

Dahlan Iskan juga telah mengakuui dirinya telah mengidap hepatitis  sejak 29 tahun yang lalu. Saat periksa darah, badannya tiba-tiba panas. Setelah diperiksa ulang diketahui bahwa ada virus hepatitis B di livernya.

Akibat penyakit tersebut, wajah Dahlan Iskan berubah menjadi semakin hitam. Dahi dan sekitar mata juga turut menghitam. Kakinya juga bengkak. Begitu kaki dan juga badannya. Tidak hanya itu, payudara pun ikut membengkak. Tapi Dahlan Iskan yang energic itu ternyata mampu mnyembunyikan penyakitnya tersebut di depan banyak orang.

Tiga Ancaman Kematian

Dahlan Iskan sebenarnya terancam oleh 3 penyakit yang dapat menyebabkan meninggal secara tiba-tiba. Pertama, penyakit muntah darah. Kedua, semakin menurunnya jumlah darah putih yang dimilikinya. Ketiga, penyakit liver. Pada bulan Mei 2005, Dahlan Iskan terbang ke 19 kota (baik dalam maupun luar negeri). Semua yang dilakukan hanya dalam hitungan 8 hari. Mulai dari Surabaya-Jakarta-Pontianak-Kuching-Singapura-Guangzhou-Wenzhou-Jinhua-Hangzhouz-Makasaar-Kendari-Makassar-Jakarta-Surabaya. Saat di Surabaya Dahlan Iskan mulai merasakan ada keanehan dalam tubuhnya. Dia kemudian mengeluarkan muntah. Dahlan Iskan divonis menderita sirosis hati.

Penyakit sirosis hati adalah kemunduran fungsi liver yang permanen. Akibatnya terjadi varises esophagus dan bila pecah terjadi muntah darah warna hitam.

Ganti Hati di Tiongkok

Dahlan Iskan direkomendasikan dokter untuk melakukan transplantasi hati. Dahlan Iskan memutuskan untuk mengganti hatinya di Tiongkok. Hal itu dikarenakan disana terdapat banyak dokter spesialis yang telah berpengalaman dalam transplantasi hati.

Tentu tidak mudah untuk melakukan transplantasi hati. Satu hal penting harus dipenuhi adalah orang yang mau mendonorkan hatinya ( baik kesamaan golongan darah dan telah memenuhi syarat di transplantasi).

Mencari Donor Hati

Tidak mudah mendapatkan donor liver. Pertama, karena calon penerimanya banyak. Kedua, karena calon pendonor hati juga tidak banyak. Dahlan Iskan divonis usianya tinggal 6 bulan lagi. Hingga 4 bulan, Dahlan Iskan belum mendapatkan donor hati. Artinya, sisa hidup Dahlan Iskan menurut prediksi dokter hanya tinggal 2 bulan lagi.

Hingga suatu saat ada seorang sukarelawan yang berniat melakukan hal tersebut. Orang itu mau sebagian hatinya didonorkan untuk Dahlan Iskan. Saat akan menjalani operasi hati, Dahlan Iskan hanya berdoa singkat, “Tuhan, terserah Engkau sajalah! Terjadilah yang harus terjadi. Kalau saya harus mati, matikanlah. Kalau saya harus hidup, hidupkanlah”. Dalam buku ganti hati, Dahlan Iskan mengatakan bahwa orang yang terlalu banyak berdoa menunjukan bahwa dia malas berusaha. Menurut Dahlan Iskan, dia tidak mau Tuhan mengatakan, “untuk apa kamu Saya beri otak kalau sedikit-sedikit masih juga minta kepada-Ku?”

Setelah Operasi: Kerja Keras Lagi

Pasca operasi transplantasi hati, Dahlan ternyata tidak kapok untuk terus bekerja keras lagi. Dalam catatannya Dahlan Iskan teringay cerita Cak Nur mengenai keberhasilan Nabi Daud mngalahkan Jalut (Goliat). Prinsip hidu Dahlan Iskan adalah memnafaatkan umur tambahan dengan seproduktif-produktifnya. Dalam bahasa Dahlan Iskan disebut “intnsifikasi umur”.

Ekstra Disiplin Pasca Operasi

Dahlan Iskan menghabiskan uang sekitar 3 miliar untuk melakukan transplantasi hatinya. Setelah operasi transplantasi hati tersebut, kini Dahlan Iskan pun harus ekstra hati-hati dalam menjaga kesehatannya. Dia harus rutin merawat dirinya agar virus hepatitis B tidak kembali bersarang di tubuhnya dan menyebabkan hatinya kembali rusak. Selain harus melakukan chek up rutin, Dahlan Iskan juga harus minum obat setiap harinya. Karena jika ia sampai lupa minum obat, amka tbuhnya pun akan mengalami dissingkronisasi yang dapat membahaykan keselamatan jiwanya.

Support Sang Istri

Dahlan Iskan mengatakan, “saya merasa ajaran ikhlas dari bapak saya cukup tertanam. Bapak saya seorang pembelajaran ikhlas yang luar biasa. Tapi sering juga mengatakan, jangan-jangan kalau meninggal tidak ikhlas. Tapi alhamdulillah saat meninggal ia ikhlas”. Selain ayahnya, Dahlan Iskan pun mempunyai istri yang juga sangat religius. Namanya Nafsiah. Dalam penantiannya mendapatkan donor hati, Nafsiah tidk pernah lupa membuka lembaran-lembaran Al-Quran di waktu luangnya. Nafsiah juga membacakan ayat-ayat Allh di sampingnya. Saat semua orang terlelap dalam tidurnya, Nafsiah bangun untuk bersujud dan berdoa kepada Allah untuk kesembuhan penyakitnya. “saya mendapat support dari istri”, kata Dahlan Iskan.

DAHLAN MENJADI KAYA RAYA

Dua buah helikopter, mobil Jaguar, Mercy, dan Mercedez Benz adalah sebagian dari kekayaan Dahlan Iskan

Sumber Kekayaan

Dahlan Iskan sebagai salah satu raja media di Indonesia mempunyai kekayaan yang sangat besar. Ada sekitar 120 media cetak dan 20 stasiun televisi yang berada di dalam naungannya. Belum termasuk di dalamnya 40 jaringan percetakan, pabrik kertas, power plant, perminyakan, agribisnis dan properti. Hal ini tentunya yang selalu menggelembungkan pundi-pundi harta Dahlan Iskan. Aset Jawa Pos sendiri ditaksir mencapai triliunan rupiah dengan omset sekitar Rp2 triliun. Dahlan Iskan mempunyai 2 buah helikopter yang dibelinya sebelum operasi transplantasi hati. Selain itu, Dahlan Iskan juga mempunyai mobil jaguar, mercy dan juga mercedez benz. Saat operasi transplantai hati di Tiongkok, total biaya yang dikeluarkan sejak awal hingga awal sampai selesai mencapai Rp3 miliar. Dan bagi Dahlan Iskan uang tersebut sebenarnya tidak terlalu besar baginya.

Saat menjabat sebagai Dirut PLN, gaji Dahlan Iskan diperkirakan mencapai Rp150 juta per bulan. Meskipun begitu, Dahlan Iskan sendiri sebetulnya tidak mengetahui secara persis berapa gajinya saat di PLN. Dahlan Iskan tidak pernah mengecek amplop gaji yang diberikan padanya. Dahlan Iskan juga tidak pernah mengecek bonus dan rekeningnya saat mendapatkan gaji. Anehnya  lagi, Dahlan Iskan tidka pernah menerima gajinya selama berada di PLN. Sebuah sikap yang amat langka diperlihatkan oleh pejabat negara.

Dahlan Iskan sendiri menduga gajinya saat menjadi dirut PLN lebih rendah dibanding saat dirinya memimpin Jawa Pos Group. Dahlan Iskan bahkan berkata, “untuk apa saya menerima gaji. Toh harta dan uang saya sudah banyak danmasih cukup untuk  anak dan cucu saya. Kalau pun dikasih fasilitas rumah dan mobil pun mungkin buat saya belum perlu karena saya sudah memiliki rumah dan mobil yang harganya jauh lebih mahal dari fasilitas yang nantinya saya terima”. Pernyataan itu tentu sama sekali tidak menunjuka kesombongan Dahlan Iskan. Dia berkata itu untuk menepis anggapan bahwa dirinya bekerja untuk mendapat kekayaan. Saat menjadi dirut PLN Dahlan Iskan pun pernah mengeluarkan dana dari saku pribadinya unutk mensaport perjalanan dinas karyawan PLN yang menghadiri konferensi di Bali.

Total Kekayaan

Menurut catatan LHKPN KPK, terhitung sejak 30 Maret 2010 kekayaan Dahlan Iskan mencapai lebih dari Rp48,8 miliar. Harta tersebut terdiri dari harta tidak bergerak senilai Rp8,6 miliar (ranah dan bangunan) dan harta bergerak senilai Rp2,5 miliar. Selain itu, termasuk surat berharga Rp120 miliar, giro dan setara as lainnya Rp19,9 miliar. Jumlah tersebut dikurangi utang Dahlan Iskan sebesar 102,3 miliar.

Tidak Ambil Gaji

Saat menjabat sebagai pemimpin di perusahaan daerah, Dahlan Iskan pun tidak mengambil gaji dan fasilitas untuknya. Bahkan Dahlan Iskan kerap menggunakan asset dan harta yang dimilikinya sebagai jaminan perusahaan perusahaan tersebut.

MERAPIKAN PLN

Dahlan Iskan secara sukses berhasil mengatasi persoalan lama yang selalu menghantui PLN;krisis energi dan pemadaman. Gerakan satu juta sambungan pun menjadi sangat fenomenal.

Mengapa saya dipilih ?

Dalam wawancaranya dengan majalah Tempo (edisi Januari), Dahlan Iskan secara jujur mengatakan tidak mengaetahui secara persis alasan dirinya ditawari sebagai Dirut PLN. Tapi Dahlan Iskan menengari pemilihannya berdasarkan pertimbangan pengalamannya memimpin di banyak perusahaan. Ya, selain lama membawahi Jawa Pos Group, Dahlan Iskna juga berpengalaman mengelola perusahaan-perusahaan daerah di Jawa Timur. Prestasinya pun sudah banyak diakui berbagai kalangan. Salah satunya saat Dahlan Iskan terpilih sebagai Entrepreneur of the Year versi Ern & Young.

Hal menarik lain dari Dahlan Iskan bahwa saat mengabdikan diri di perusahaan di Jawa Timur adalah dia tidak menerima gaji dan juga fasilitas. Sealin itu, Dahlan Iskan bahkan menjaminkan harta pribadinya untuk agunan kreidt perusahaan tersebut. Sikap ini tentu menjadi nilai tambah mengapa akhirnya Dahlan Iskan terpilih menjadi Dirut PLN.

Kementrian BUMN sendiri mempunyai alasan tersendiri untuk mengangkat Dahlan Iskan sebagai Dirut PLN. Mustafa Abubakar, menteri BUMN, menyatakan Dahlan Iskan mempunyai konsep yang radikal dalam menjalankan perusahaan listrik.

Dikerjai PLN

Sebelum menjadi Dirut PLN, Dahlan Iskan memang sudah berkecimpung dalam bidang kelistrikan di Kalimantan Barat, Dahlan Iskan seakan mempunyai kewajiban moral unutk membantu terwujudnya aliran listrik yang baik, karena liatrik disana sudah berjalan selama lima tahun. Dahlan Iskan kemudian melakukan MoU bersama dengan Dirut PLN dan Gubernur Kalimantan Barat untk pembangunan PLTU.

Tapi malang bagi Dahlan Iskan. PLN ternyata melalukan tender utnuk pembangunan PLTU. Karena merasa PLN tidka melakukan etika bisnis dengan baik, maka Dahlan Iskan pun tidak ikut serta dalma tender tersebut.

Menyetrum PLN

Dahlan Iskan menggantikan Fahmi Mochtar (menjabat Dirut PLN sejak 2008) sebagia Dirut PLN sejak Desember 2009 hinga Oktober 2011. Tahun 1990 melalui peraturan pemerintah No. 17, PLN ditetapkan sebagai pemegang kuasa usaha ketenagalistrikan dan pada tahun 1992 pemerintah memberikan kesempatan pada sektor swasta untuk bergerak dalam bisnis penyedia tenaga listrik. Pada Juni 1994 status PLN dialihkan dari perusahaan umum menjadi perusahaan perseroan (persero).

Dahlan iskan sebenarnya dulu sangat dibenci olehnya. Alasannya karena Indonesia sangat potensial dalam tenaga listrik. Tapi potensial tersebut tidak bisa dimanfaatkan. Akibatnya Indonesia mengalami krisis listrik. Alasan selanjutnya karena PLN mau membagi listrik seharga Rp1050/kwh dari Malaysia. Padahal ada pembangkit swasta nasional yang menawarkan Rp600/kwh. Tapi mereka yang menawarkan harga murah ini sulit masuk ke PLN untuk menjualnya.

Demo Karyawan

Pada akhir tahun 2009 Dahlan diangkat menjadi Direktu Utama PLN menggantikan Fahmi Mochtar. Selain sebagai pemimpin Jawa Pos Group, Dahhlan juga merupakan presiden direktur dari dua perusahaan pembangkit listrik swasta: PT Cahaya Fajar Kaltim di Kalimantan Timur dan PT Prima Electric Power di Surabaya.

Pada hari pelantikannya, 23/12/2009, Dahlan Iskan langsung di demo oleh karyawan PLN. pendemmo yag berasal dari angggota serikat pekerja PLN menolak hadirnya Dahlan Iskan sebagai pucuk tertinggi PLN. para mahasiswa juga menolak Dahlan Iskan. Salah satu spanduk penolakan berbunyi “ Tolak ! Dahlan Iskan jadi Dirut PLN”.

Serikat pekerja PLN bahkan semapat menyegel pintu ruangan Dirut PLN. dalam tulisan tersebut bertuliskan “ Ruangan ini disegel!!! Dahlan Iskan Go To Hell”.

Dahlan Iskan bahkan kembali didemo oleh serikat pekerja PLN Jatim. Mereka menuntut tangggung jawab Dahlan Iskan atas insiden dan pengusiran di Kantor DPP serikat pekerja PLN mendapatkan penyerangan dan pengusiran.

Dalam tuntutannya , mereka antara lain agar Kapolri mengusut rencana penjualan PLN ke pihak asng. Mengecam dan mengutuk keras arogansi manajemen dalam penyerangan kantor DPP serikat pekerja PLN, dan meminta SBY mencopot Dahlan Iskan dari jabatannya sebagai Direktur Utama PLN.

Gebrakan Dahlan Iskan

Pada minggu  pertama Dahlan Iskan menjabat, dia sudah merealisasikan program jangka pendek dalam bentuk penggantian sumber energi primer dan penyedia trafo untuk distribusi listrik. Caranya dengan penggantian menjadi gas. Sebesar 8 bilion British thermal unit perhari disalurkan untuk pembangkit tenaga uap di Talang Duku, Sumatera Selatan. Selain itu, Dahlan Iskan juga membnagun 100 unit pembangkita tenaga uap kecil untuk menggantikan mesin diesel.wujud komitmen dalam bekerja di PLN ditunjukan sejak awal. Dahlan Iskan hanya fokus untuk mengurus masalah kelistrikan. Tidak pergi kemana-mana selain urusan listrik dan tidak bicara selain urusan listrik.

Saat 6 bulan di PLN, berat badan Dahlan Iskan naik 3 kilo. Hal itu diakibatkan aktivitas Dahlan Iskan yang hanya di mobil dan di kantor. Selama 6 bulan di PLN ternyata Dahlan Iskan belum pernah duduk di kursi direktur utama.

Kepada Majalah Marketer Dahlan Iskan menyampaikan bahwa ada 3 persoalan besar yang saat itu menimpa PLN. persoalan pertama mengenai krisis listrik yang melanda Indonesia. Persoalan kedua mengenai  pelayanan. Dan persoalan ketoga mengenaia efisiensi.

Bulan SPPD

Pada 1 Mei 2011, Dahlan Iskan mengeluarkan kebijakan inovatif yang uunik dan memberi banyak manfaat. Program tersebut adalah bulan puasa SPPD selama sebulan penuh. Dalam bulan tersebut tidak ada biaya perjalanan dinas. Dengan begitu Dahlan Iskan ternyata telah memanfaatkan teknologinya sekaligus memangkas birokrasi yang berbelit-belit. Untuk ini ternyata Dahlan Iskan harus mengorbankan dirinya. Dahlan Iskan sebelumnya merelakan diadakan konferensi meteran listrik di Bali bulan Mei. Karena urgennnya peristiwa tersebut sekaligus menunjukan komitmennya atas program yang dicanangkan. Dahlan Iskan kemudian menyatakan bahwa semua biaya orang PLN yang hadir di acara tersebut akan ditanggungnya.

Skandal Nazaruddin

Saat menjabat sebagai Dirut PLN, Dahlan Iskan pernah dihajar berita tidak sedap. Nazaruddin, mantan bendahara partai demokrat ternyata “bernyanyi” mengenai PLN ynag dikomandoi Dahlan Iskan. Nazaruddi yang ditangkap di Chartagena, Kolombia, menuduh Dahlan Iskan menerima suap terkait tender batu bara yang melibatkan rekan usahanya. Saat mendengar tuduhan tersebut. Dahlan Iskan ternyata menanggapinya secara dingin. Tidak seperti elit partai demokrat yang seolah kebakaran jenggot dengan tuduhan Nazaruddin, Dahlan Iskan bersikap biasa saja.

Kasus lain yang dituduhkan Nazaruddinn adalah permainan PLN atas tender proyek PLTU Kaltim /Riau yang dimenangkan konsorsium PT Adhikarya (Kaltim) dan konsorsium Rekayasa Industri (Riau).

Dalam penjelasannya Dahlan Iskan mengatakan bahwa sebenarnya Daniel Sinambela meminjam uang kepada Nazaruddin. Tapi setelah Daniel Sinambela menang tender, uang Nazaruddin tidak dikembalikan. Menurut Dahlan Iskan, saat itu sistem yang digunakan adalah auction. Dan dalam sistem tersebut tidak ada pengaturan pemenang dan sangat transparan. Dalam kenyataan saat Daniel Sinambela menang tender harga yang ditawarkan sangatlah murah. Akibat terlalu rendah itulah Daniel Sinambela akhirnya kesulitan memenuhi barang tender tersebut. Ribuan ton batu bara berharga murah itu ynag dikirim Daniel Sinambela semuanya ditolak PLN. Akhirnya Daniel tidak mendapatkan uang dan tidak bisa mengembalikan modal dari Nazaruddin. Tampak sekali bahwa Nazaruddin sangay kecewe kehilangan uangnya sehingga akhirnya melempar tuduhan yang macam-macam.

Menggunakan kelebihannya

Setiap bulan Dahlan Iskan berkkomunikasi dengan sekitar 40 ribu karyawannya dalam forum CEO Notes. CEO Notes adalah  catatan Dahlan Iskan yang dimuat di situs perusahaan PLN. Forum CEO Notes merupakan usulan dari sekertaris apresiasi yang baik dari kaeryawan PT PLN. Dalam CEO Notes Dahlan Iskan biasa menceritakan rencana program, keberhasilan dan strategi yang harus dilakukan oleh PT PLN agar dapat terus melacu.

Prestasi Dahlan Iskan di PLN

Dahlan Iskan pernah diganjar sebagia marketer of the Year Indonesia (MOTY) 2010. Penghargaan tersebut diberikan pada saat MarkPlus Conference yang diadakan tanggal 16 Desember 2010.

Beberapa prestasi Dahlan Iskan lainnya adalah dalam 6 bulan, Dahlan Iskan telah menyelesaikan permasalahan listrik yang byar-pet se-Indonesia. Dahlan Iskan juga melaunching gerakan sehari sejuta sambungan. Dan Dahlan Iskan pun berencana membangun PLTS di 100 pulau pada tahun 2011.

Pada tahun 2010 PLN telah berhasil membangun PLTS di 5 pulau di Indonesia bagian Timur, yaitu Pulau Banda, Bunaken, Manado, Derawan, Kalimantan Timur, Wakatobi Sulawesi Tenggara dan Citarawangan. Dahlan Iskan juga berhasil menghemat pembelian trafo dari Rp120 miliar menjadi Rp67 miliara untuk 5 trafo yang dipasang di Bekasi, Cibatu, Gandul, Kembangan dan Cilegon. Bahkan PLN berhasil menghemat lagi pembelian trafo anggaran 2011 menjadi Rp37 miliar.

Penampilan Nyentrik

Dahlan Iskan sama dengan kebanyakan wartawan. Pengalaman sebagai wartawan amatir di Samarinda dan Tempo membuatnya berpenampilan layaknya seorang wartawan yang sedang memburu berita. Dahlan Iskan biasanya sangat suka memakai kemeja lengan panjang. Kadang dilinting. Celananya pun jins. Dan yang tidak kalah ketinggalan, Dahlan Iskan selalu menggunakan sepatu kets. Wartawan memang sering identik dengan sepatu kets. Karena sepatu ini nyaman digunakan untuk berlari atau berjalan cepat. Saat sudah menjadi bos di Jawa Pos Group, Dahlan Iskan selalu menggunakan sepatu ketsnya. Saat menjadi Dirut PLN, dia selalu menggunakan sepatu kets. Sementara pakaian yang digunakan akhirnya berubah lebih rapi dan parlente.jika dulu sering menggunakan kemeja ynag dilinting, maka saat menjadi dirut PLN Dahlan Iskan juga mulai berjas.

Dahlan Iskan juga sering bertemu dengan presiden RI tetap menggunakan sepatu kets. Padahal protokel kepresidenan biasanya mempunyai aturan sendiri bagi tamu yag akan menghadap presiden. Tapi Dahlan Iskan tetap saja cuek. Baginya, sepatu kets layaknya anggota tubuhnya yang selalu dibawa kemana-mana.

AKHIRNYA MENJADI MENTERI BUMN

Untuk mencapai kebahagiaan sangatlah mudah: jangan pasang keinginan terlalu tinggi dan jangan menaruh harapan terlalu banyak (Dahlan Iskan).

Presiden SBY akhirnya mengumumkan reshuffle KIB jilid II pada Selasa 18 Oktober 2011. Dari 34 menteri di KBI jilid II tersebut, 18 orang berasal dari partai politik. Sukses Dahlan Iskan melejitkan Jawa Pos dan juga PLN tampaknya menjadi pertimbangan utama presiden SBY untuk memilihnya. Dahlan Iskan pun menjaga jarak dengan politik praktis.

Panggilan Kerja

“Kerja! Kerja! Kerja!”. Slogan tersebut sejatinya akan dijadikan slogan baru PLN. tapi belum sempat slogan tersebut dilauchingkan dan dikumandangkan, Dahlan Iskan ternyata harus keluar dari PLN.

Dahlan Iskan memang awalnya menolak untuk menjadi menteri BUMN. Saat dipanggil presiden SBY, posisi Dahlan Iskan sedang di bandara untuk pergi ke luar negeri menghadiri acara penghargaan Jawa Pos sebagai koran anak muda terbaik sedunia dan juga mendampingi tim bridge Indonesia (dimana Dahlan iskan menjadi ketua perkumpulannya). Saat di bandara itulah Dahlan Iskan mendapatkan perintah agar tidak pergi ke luar negeri. Dahlan Iskab akhirnya segera membatalkan keberngkatannya. Iya, panggilan hati untuk mengabdi kepada Indonesia tempaknya menjadi alasannya untuk memenuhi permintaan presiden SBY.

Meskipun telah menjabat sebagai menteri BUMN, kesederhanaan Dahlan Iskan pun masih kuat. Dalam suatu kesempatan, Dahlan Iskan menolak dirinya dipanggil menteri. “panggil saja Dahlan, karena nam saya Dahlan dan bukan menteri”, selorohnya.

Dikementerian BUMN, Dahlan Iskan harus mengurus 142 perusahaan. Dan 17 diantaranya berada dalam kritis karena mengalami kerugian. Diantaranya PT Merpati Nusantara Airlines yang masih berhutang ke Pertamina sebesar Rp269 miliar.

Mantan sekertaris kementerian BUMN, Said Didu, menyatakan Dahlan Iskan mempunyai 4 tugas berat yang selalu menjadi penyakit di BUMN. Pertama, melakukan percepatan restrukturisasi dan rightsizing. Kedua, menata peraturan perundang-undangan. Ketiga, menjaga intervensi non korporasi. Dan keempat, penyehatan BUMN rugi.

Dahlan Iskan sempat menjadi pimpinan di BUMD Pemrov Jatim (Dirut PT Panca Wira Usaha Jatim) pada tahun 2008.

Menangis Sedih

Saat telah dinyatakan sebagai Menteri BUMN, Dahlan Iskan terlihat meneteskan air mata. Tangis keharuan. Tampaknya dia adalah satu-satunya menetri baru yang terlihat menangis. Dahlan Iskan menangis karena herus meninggalkan PLN yang ternyata masih sangat dicintainya. Bukan karena dia terus menginginkan posisi Dirut PLN, melainkan sampai saat dia diangkat menjadi menteri BUMN masih banyak proyek-proyek PLN yang sebentar lagi akan selesai. Meskipun akhirnya harus meninggalkan PLN, Dahlan Iskan telah menaruh pondasi yang kokoh agar perusahaan itu dapat terus melaju. Jika sebelumnya Dahlan Iskan hanya mengurus 1 BUMN, maka ke depen Dahlan Iskan harus mengurus 141 BUMN.

Gebrakan Pertama di BUMN

Elum sempat seminggu menjabat, Dahlan Iskan langsung mengintruksikan seluruh BUMN serentak melakukan rapat internal setiap Selasa. “ Rapat internal masing-masing BUMN setiap hari Selasa disesuaikan dengan rapat pimpinan di kementrian BUMN. Dahlan Iskan juga menargetkan aktivitas atau kegiatan surat-menyurat, pembuatan laporan dan rapat-rapat diturunkan hingga 50%. Dahlan Iskan yang membawahi 141 BUMN juga menyatakan BUMN Indonesia sangat kalah bersaing dengan BUMN luar negeri. Bayangkan, satu BUMN di luar negeri dapat mengalahkan 141 BUMN di Indonesia. Artinya memang ada ketidakberesan dalam mengelola potensi BUMN yang besar ini.

Dahlan Iskan juga kembali mengintruksikan kesederhanaan para direksi BUMN. Menurut Dahlan Iskan runag direksi BUMN yang bergerak dalam setor pelayanan umum tidak boleh lebih mewah dibanding ruang pelayanan pada umumnya.

Dahlan Iskan juga membuat prioritas kerja awal saat menjadi menjadi menteri BUMN. Pertama, menyederhanakan struktur birokrasi. Kedua, meminimalkan intervensi terhadap BUMN. Ketiga, kebebasan BUMN untuk melakukan aksi koperasi yang sesuai dengan bidang garapnya.

Siap Dicopot Jadi Menteri

Sebagai wujud komitmen untuk bekerja keras dan bertangggung jawab atas amanah yang telah diberikan, Dahlan Iskan mngatakan siap dicopot dari jabatan menteri BUMN jika ternyata kinerjanya kurang memuaskan. Sebagai bukti bahwa pernyataan itu bukan omong kosong, maka Dahlan Iskan pun siap menandatangani surat pengunduran diri dengan tanggal kosong. Jadi jika sewaktu-waktu dicopot maka dapat dilakukan kapan saja.

Planning BUMN

BUMN di Indonesia tidak semuanya sehat dan menghasilkan keuntungan yang baik untuk negara. Ada juga BUMN yang tidak produktif dan terus-menerus merugi. Padahal sejatinya BUMN berfungsi untuk memberi keuntungan dan pemasukan bagi kas negara. Untuk mengatasi permasalahan BUM ini, Dahlan Iskan pun sudah menyiapkan strateginya.

Strategi yang akan dilakukan adalah menggabungkan BUMN yang sakit tersebut ke dalam BUMN yang sehat. Kemudian akan diadakan revitalisasi BUMN tersebut.

Untuk program menengah, Dahlan Iskan akan menyelesaikan asset BUMN yang tidak produktif. Dahlan iskan juga mengajak pejabat BUMN mulai hidup sederhana. Menurut cerita Dahlan Iskan , upaya gaya hidup sederhana pun direspon dengan baik oleh perusahaan BUMN. Salah satunya adalah Pertamina yang merespon baik agar gaya hidup pejabat mereka tidak terlihat mewah.

Selain itu, Dahlan Iskan juga menghimbau jika pejabat BUMN bepergian dengan menggunakan pesawat, maka maksimal menggunakan kelas eksekutif, bukan first class. Padahal kelas eksekutif pun juga sudah sangat bagus.

Dahlan Iskan juga saat ini seringmneinjau kamar kecil di perusahaan BUMN, antara lain stasiun dan bandara. Hal ini untuk apakah fasilitas untuk penumpang tersebut bersih atau tidak.

Saat telah dilantik menjadi menteri BUMN, Dahlan Iskan langsung berkordinasi dengan wakil BUMN. Hal tersebut dilakukan agar tidak ada tumpang-tindih dan tabrakan dalam menjalankan pekerjaan.

RAHASIANYA : DUKUNGAN SANG ISTERI

Nafsiah tidak hanya memikrkan urusan domestik belaka. Dia juga turun tangan membantu menjual koran.

Dahlan Iskan menikahi Nafsiah dan dikaruniai 2 orang anak; Azrul Ananda dan Isna Fitriana. Istrinya merupakan salah satu sumber kekuatan bagi Dahlan Iskan dalam meniti kariernya dan melaksanakan pekerjaan beratnya.

Nafsiah Berjualan Koran

Dahlan Iskan memimpin Jawa Pos dalam kondisi tidka normal. Perusahaan tersebut hampir bangkrut dan mati. Saat menjadi pemimpin redaksi, Dahlan Iskan menurunkan ilmunya saat menjadi wartawan Tempo kepada anak buahnya. Wartawan Jawa Pos, yang biasanya mengandalkan siaran ppers dan undangan pertemuan, diubah untuk mengejarkan berita.

Segala upaya Dahlan Iskan tersebut ternyata tidak lantas membuat pasar Jawa Pos menjadi semakin baik. Ternyata permasalahannya juga datang dari para agen koran yang tidak mau menjual koran Jawa Pos. Dalam membentuk pasar ini Dahlan Iskan tidak sendirian. Nafsiah ternyata juga langsung turun tangan. Ternyata Nafsiah juga mempunyai strategi kenapa dia juga mengambil pelanggan. Nafsiah mempertahankan 500 pelanggannya untuk mengecek apakah koran terlambat di agen atau tidak. Apakah pembayarannya lancar atau tidak. Menurut Nafsiah, jika Dahlan Iskan menjadi bos, maka harus ada kulinya di pasar. Dan kuli tersebut adalah Nafsiah.

Menemani Selama Sakit

Saat Dahlan Iskan sakit, istrinya sering memperhatikan wajahnya yang semakin menghitam. Tanpa berkomentar apa pun. Menurut pengakuan Dahlan Iskan, istrinya mempunyai 2 kekhawatiran, kekhawatiran pertama tentang kesehatan Dahlan Iskan. Kekhawatiran kedua adalah rasa malu jika Dahlan Iskan meningglan dalam keadaan wajah yang menghitam. Ya, orang yang meniggal dalam keadaan wajah menghitam bagi orang awam dianggap arwahnya tidak akan diterima oleh Tuhan.

Menurut Nafsiah, “Dahlan dulu dan sekarang tetap sama. Kami akan hidup dengan jalur kami sendiri. Soal penampilan itu sudah gaya bapak. Yang bekerja tetap baik”. Nafsiah benar, memang saat ini tidak perlu memikirkan penampilan luar. Di zaman yang penuh dengan polesa-polesan kemunafikan, berpenampilan adanya memang menjadi amat langka. Dan Dahlan Iskan sekali lagi menunjukan bahwa kerja keras adalah kunci segalanya.

MANAJEMEN ALA DAHLAN ISKAN

Dahlan Iskan adalah contoh pemimpin yang pro kaum muda. Mau memberikan kesempatan kepada yang muda untuk maju dan berkembang.

Manurut Zaim Uchrowi, managemen Dahlan Iskan dapat dikategorikan sebagai “managemen posmo”. Jadi Dahlan Iskan terkotak dalam aliran managemen modern atau tradisional. Semuanya dapat digunakan sesuai dengan kebutuhan. Yang paling penting bagi Dahlan Iskan adalah kerja, kerja dan kerja.

Menurut Zaim Uchrowi, Dahlan Iskan mempunyai jimat tingkat tinggi. Jimat tersebut adalah “Dua As”. “Dua As” merupakan singkatan dari Integritas dan Antusias. Sikap yang sangat menonjol dalam diri Dahlan Iskan. Meskipun tidak menganut aliran managemen apa pun, tapi ada ciri khas tertentu yang digunakan Dahlan Iskan dalam praktik managemennya. Berikut adalah diantaranya;

Managemen Kepemimpinan Gaya Wartawan

Menurut Hicks, kepemimpinan adalah seni mempengaruhi perilaku manusia dan kemampuan menangani manusia. Pemimpin adalah orang yang melaksanakan kepemimpinan, sedangkan kepemimpinan adalah kemampuan atau sifat-sifat yang dimiliki oleh seorang pemimpin.

Reputasi Dahlan Iskan sebagai pemimpin tentu tidak diragukan lagi. Jika diperhatikan, gaya kepemimpinan Dahlan Iskan sangat dipengaruhi pengalaman kariernya sebagai seorang wartawan. Beberpa ciri kepemimpinan gaya Dahlan Iskan adalah :

Pertama, tidak terkesan formal dan birokratis. Dalam memimpin Dahlan Iskan tidsk suka suasana yang formal, kaku dan birokratis. Lihat saja saat memimpin Jawa Pos Group, Dahlan Iskan kerpa berpakaian santai. Saat menjadi dirut PLN, Dahlan Iskan pun tidak menunjukan perubahan dalam berpakaian, hanya saat itu dia membungkus bajunya dengan setelan jas. Sepatu ketsnya masih tetap. Gaya kepemimpinan seperti ini seolah menunjukan bahawa tidak terlalu penting penampilan luar, yang penting adalah prestasi.

Kedua, cepat. Wartawan adalah seorang yang harus selalu cepat dalam memburu berita. Dahlan Iskan juga tampaknya juga menggunakan prinsip kerja cepat dan mengatur perusahaannya. Lihat saja proyek-proyek PLN saat ditanganinya, semua berjalan dengan sangat cepat.

Ketiga, jelas dan tegas. Jekas dalam memerintahkan instruksi dan tegas dalam melakukan control. Saat memimpin Jawa Pos Group Dahlan Iskan pun sangat tegas terhadap bawahannya.

Keempat, lincah. Jika ada problem menghadang dia harus bisa mencari jalan keluar terbaik, lincah seperti belut. Dahlan Iskan pun seperti itu. Dalam memimpin dia sangatlah lincah. Buktinya adalah terobosan-terobosan yang dilakukan dengan baik untuk Jawa Pos Group maupun PLN. Banyak solusi yang dikeluarkan Dahlan Iskan terkesan out of the box.

Kelima, berhasil memanfaatkan media. Media merupakan salah satu unsur prnting dalam negara demokrasi. Fungsi media paling utama adalah menyampaikan informasi kepada masyarakat. Dahlan Iskan juga mempu menggunakan media ini dengan optimal. Dengan adanya dukungan dari media maka tugas-tugas akan mudah disosialisasikan kepada masyarakat. Gayanya yang khas, blak-blakkan, dan masih sangat kental dengan logat Jawa Timurnya membuat Dahlan Iskan mempunyai nilai jual tersendiri bagi media massa.

Pro Anak Muda

Dahlan Iskan memang termasuk pimpinan yang pro anak muda. Dahlan Iskan selalu mempercayai bahwa anak muda mampu bersaing dengan orang tua. “ hanya anak muda yang bisa diajak berlari di segala bidang”, begitulah kata Dahlan Iskan.

Di PLN pun Dahlan Iskan mendorong agar pekerja muda yang berkompeten di PLN untuk maju dan diberikan kesempatan menangani proyek-proyek besar. Senior mempersilahkan juniornya untuk maju. “jangan berpikir anak junior tdak mampu, karena hanya anak muda yang bisa tidur 2X24 jam untuk menyelesaikan masalah di lapangan.”

Kesetaraan

Prinsip kesetaraan antara atasan dan bawahan sangatlah dipegang oleh Dahlan Iskan. Antara atasan dan bawahan sejatinya merupakan mitra yang sejajar. Keduanya hanya dipisahkan oleh fungsi yang melingkupinya. Fungsi pemimpin tentu berbeda dengan fungsi yang dipimpin. Tetapi keduanya sama-sama memeberikan andil yang baik bagi perkembangan suatu organisasi. Prinsip ini menunjukan bahwa seorang bawahan pun mempunyai kontribusi yang besar untuk atasan. Tetapi saat bawahan dapat memerintah atasan membuktikan bahwa bawahan tersebut bukanlan orang yang sembarangan. Dia mempunyai kemampuan tingkat tinggi untuk mempengaruhi atasannya. Jadi bukan hanya atasan yang dapat mengatur bawahan, melinkan bawahan juga dapat mengatur atasan.

Dahlan juga berpendapat penggunaan kata “minta tolong” lebih tepat dan efetif digunakan oleh atasan kepada bawahan dari pada penggunaan kata “saya perintahkan”. Menurut Dahlan Iskan, kepada Tuhan kita menggunakan kata “berdoa” kepada atasan kita menggunakan kata “memohon” dan kepada sesama kita menggunakan kata “minta tolong”.

Inspirasi Bagi Managemen Dahlan Iskan

Eka Tjipta Wijaya

Eka Tjipta Wijaya adalah seorang konglomerat di Indonesia. Awalnya pun dia hidup miskin. Umur 9 tahun Eka sudah pergi ke Indonesia menyususl ayahnya yang terlebih dulu tiba. Awalnya Eka berdagang di toko ayahnya di Makassar. Saat usahanya sudah mulai berjalan, datanglan Jepang. Usaha Eka pun akhirnya bangkrut dan dia kembali menganggur. Hingga suatu saat dia melihat ratusan tentara Jepang sedang mengawasi ratusan tawanan pasukan Belanda. Naluri bisnisnya kembali berjalan. Kali ini dia memanfaatkan kerumunan tentara tentara tersebut untuk berjualan makanan dan minuman. Modalnya didapatkan dari ayah dan ibunya.

Eka juga melihat peluang lain. Saat pernag suplai bahan bangunan dan barang keprluan sehari-hari memang sangat langka. Eka lalu meminta izin mengangkat semua barang yang telah dibuang tentara tersebut untuk dijual.

Eka juga pernah berlayar berhari-hari ntuk mendapatkan koprah murah di selatan Sulawesi Selatan (Kabupaten Selayar). Saat itu dia bisa mendapatkan untung besar. Tapi kemudian Jepang membuat peraturan bahwa jual beli minyak kelapa dikuasai oleh Mitsubishi. Eka pun akhirnya kembali bangkrut. Pada saat orde baru usaha Eka baru benar-benar satabil. Eka merambah bisnis kertas, perbankan, perkebunan kelapa sawit, teh hingga bisnis properti.

Perusahaan Eka sekarang antara lain pabrik kertas Tjiwi Kimia, pabrik kelapa sawit di Riau, perkebunan dan pabrik teh, Bank Internasional Indonesia (BII), pabrik pulp dan kertas, PT Indah Kiat, ITC mangga dua, ruko, apartemen Green View di Roxy dan Ambassador di Kuningan. Dahlan Iskan mengagumi Eka Tjipta Wijaya karena pengusaha ini sering mengalami jatuh bangun dalam bisnisnya.

Ciputra

Ciputra merupakan pebisnis kenamaan di Indonesia. Pria yang lahir di Parigi, Sulawesi Tengah ini sangat terkenal dengan bisnis propertinya. Awalnya Ciputra mendirikan PT Pembangunan Jaya. Uniknya, kantornya mesih menumpang di sebuah kamar kerja Pemda DKI Jakarta. Dia masih belum mempunyai modal besar untuk menyewa kantor yang layak.

Pria yang lahir 24 Agustus 1931 kemudian membangun Taman Impian Jaya Ancol. Tempat ini adalah salah satu icon pusat rekreasi di Jakarta, bahkan di Indonesia. Hampir tidak ada orang di indonesia yang tidak kenal dengan ancol. Dalam Taman Impian Jaya Ancol terdapat “Dunia Fantasi”, “Dunia Sejarah”, “Dunia Petualangan” dan “Dunia Harapan”. Dengan lluas lebih dari 137 hektar, Ancol kini sudah tidak memadai lagi. Bahkan untuk terus menambah fasilitas dan daya tampungnya, kawasan Ancol akhirnya melakukan reklamasi (pengerutan laut dengan tanah atas dapat lebih luas).

Sejak kecil, Ciputra digembleng dengan sangat kers oleh tantenya. Pada umur 12 tahun Ciputra sudah menjadi yatim. Ayahnya meninggal dalam penjara. Ciputra kemudian hidup lebih keras lagi di bawah bimbingan ibunya. Spirit kerja keras Ciputra sudah ditanamkan oleh ibunya sejak kecil.

Ciputra beruntung dapat lulus sekolah atas. Lebih beruntung lagi karena dia akhirnya bisa mengenyam bangku kuliah. Ciputra diterima di ITB jurusan Arsitektur. Saat masih kuliah ini Ciputra memulai naluri bisnisnya. Bersama teman-temannya, Ciputra kemudian mendirikan usaha jasa konsultasi dalam bidang arsitektur. Semakin lama Ciputra akhirnya merambah bisnis real estate di Indonesia. Ciputra mengakui bahwa kerja keras merupakan kunci kesuksesannya.

Bagi Dahlan Iskan, Ciputra memberi inspirasi baginya bagaimana cara berbisnis dengan fair. Tidka menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keinginannya.

Anthony Salim

Anthony Salim (Liem Hong Sie) adalah CEO Group Salim. Anthony Salim merupakan putra dari Sudono Salim (Liem Sioe Liong). Nama terakhir ini pernah dinobatkan sebagai salah satu orang terkaya di dunia. Sementara Anthony Salim disebut Warta Ekonomi sebagai slaah satu tokoh bisnis berpengaruh di Indonesia 2005. Pada saat krisis moneter 1998, Group Salim yang mempunyai asset mencapai 10 miliar US dollar (Rp 100 triliun) bahkan mengalami kemunduran. Perusahaan yang dipimpinya ternyata tidak sehat sehingga harus diberi suntikan dana Bantuan Likuiditas Bank Indonesia. Hutang yang diberikan mencapai 52,2 triliun.

Pada Maret 2004, mantan pemilik PT Bank Central Asia tersebut telah mendapatkan surat keterangan lunas (SKL) dari ketua Badan Penyehatan Perbankan Nasional. Hutangnya sebesar 52,7 triliun berhasil dibayar sekitar 37%. Uang tersebut dihasilkan dari pernjualan asset Salim sebesar Rp20 triliun.

Untuk melunasi hutang-hutangnya, Anthony Salim kemudian melepas beberapa perusahaan, antara PT Indocement Tunggal Perkasa dan PT BCA (akhirnya dikuasai oleh Farallin Capital dan Grou Djarum)

Anthony Salim masih memegang kendali dan mempertahankan beberapa perusahaan, antara lain PT Indofood Sukses Makmur Tbk dan PT Bogasari Flour Mills yang merupakan produsen mie instan dan terigu terbesar di dunia. Anthony Salim kemudian memperbesar pangsa pasar Indofood dan Nestle Indofood Citarasa Indonesia.  Menurut Anthony Salim, “pendirian usaha patungan  baru ini akan menciptakan peluang untuk memanfaatkan dan mengembangkan kekuatan yang dimiliki kedua perusahaan”. Perusahaan tersebut bergerak dalam bidang manufaktur, penjualan, pemasaran dan distribusi produk kuliner. Anthony Salim mempunyai sekitar 50.000 karyawan.

Sang Petualang

Dalam bekerja, Dahla Iskan sering menggabungkan dengan aktivitas petualangan. Saat masih menangani Jawa Pos, Dahlan Iskan sering melakukan kunjunngan baik di dalam maupun di luar negeri. Jaringan Jawa Pos yang menyebar di seluruh Indonesia memang mensyaratkan Dahlan Iskan bekerja layaknya kutu loncat.

Saat telah menjadi Direktur PLN, Dahlan Iskan juga sering melakukan kunjungan ke seluruh Indonesia. Maklum saja, PLN memang perusahaan negara yang menangani listrik di selururh pelosok negeri. Saat Dahlan Iskan melakukan perjalanan iini dapat dimaknai dia sangat ingin mengetahui secara langsung kondisi di lapangan. Saat ingin mengatasi  persoalan kelistrikan di Papua, Dahlan Iskan pun tidak segan untuk berjalan kaki sejauh puluhan kilometer hanya untuk mnyurvey tempat yang akan dijadikan lokasi pembangkit listrik. Perjalanan dari seni managemen ini bahwa Dahlan Iskan adalah tipe pemimpin yang selalu menjadi garda terdepan bagi problem yang dihadapinya. Bukan sekedar duduk di belakang meja dan menyalahkan anak buahnya yang tidak bisa menjalankan tugasnya. Dahlan Iskan langsung turun tangan ke lapangan untuk melihat permasalahan inti dan mencari solusinya.

Managemen Kepemimpinan Dahlan Iskan

Setidaknya ada 4 hal yang menyebabkan Dahlan Iskan selalu sukses di setiap pekerjaannya.

  1. Pertama, Dahlan Iskan merupakan seorang profesional.
  2. Kedua, Dahlan Iskan mempunyai pengalaman panjang dalam memimmpin perusahaan.
  3. Ketiga, Dahlana Iskan merupakan sosok yang mempunyai idealisme tinggi.
  4. Keempat, Dahlan Iskan mempunyai kemampuan untuk mengkader.

TELADAN DARI DAHLAN ISKAN

Dahlan Iskan adalah perpaduan sempurna antara rasionalis-religius, kaya-sederhana dan kerja keras kepedulian.

Seorang Religius

Keluarga Dahlan Iskan yang termasuk dalam golongan santri ternyata menurun hingga saat ini. Keluarga Dahlan Iskan mempunyai pesantren tempat Dahlan Iskan menimba ilmu. Setamat SMA(Aliyah), Dahlan Iskan merantau ke Samarinda dan kembali belajar islam. Saat itu dia masuk ke IAIN. Tapi belum sempat lulus, Dahlan Iskan sudah memutuskan untuk terjun dalam dunia jurnalistik.

Sejatinya Dahlan Iskan diharapkan menjadi seorang kyai oleh keluarganya. Itulah sebabnya saat Dahlan Iskan menderita penyakit hati sehingga menyebabkan wajahnya hitam, ada yang mengatakan Dahlan Iskan telah kualat karena keluar dari garis utama keluarganya sebagai seorang kyai.

Dahlan Iskan pernah dicalonkan sebagai ketua umum pengurus Pelajar Islam Indonesia (PII) di Bandung. Tapi akhirnya kalah dari Yususf Rahimi, seorang totkoh dari Ambon. Meskipun kental dengan nuansa Islam, Dahlan Iskan ternyata juga diterima dikalangan umat agama lain.

Saat Dahlan Iskan akan menjalani operasi transplantasi hati, SMS dukungan mengalir kepadanya. Uniknya, dukungan tidak hanya dari orang muslim saja, melainkan juga dari non muslim. Misalnya teman-teman dari kristen dan katolik mengrimkan doa-doa yang berasal dari Alkitab. Tokoh Budha Surabaya mengirimkan SMS dan memberitahukan bahwa ada lebih 1000 penganutnya berkumpul berdoa bersama saat Dahlan Iskan operasi. Penganut aliran kebatinan Sapta Dharma juga berkumpul untuk mendoakan demi keberhasilan operasinya. Begitu juga aliran Sai Baba.

Sederhana dan Peka

Dahlan Iskan hidup dalam kesederhanaan. Saat telah menjadi pemimpin Jawa Pos, Dahlan Iskan masih tinggal diperumahan biasa. Padahal jika dia mau membeli rumah di kawasan elit tentu bukan hal sulit. Saat krisis moneter menerjang Indonesia, Dahlan Iskan pun mengajarkan nilai-nilai kesederhanaan di kantornya.

Saat menjadi dirut PLN, kesederhanaannya tidak berkurang. Dahlan Iskan tidak mau menerima gaji dari PLN. Setelah menjadi menteri BUMN, sikap sederhanaannya ternyata tidak hilang. Menurut informasi, Dahlan Iskan pun makan murah di kantin murah. Sama dengan yang biasa digunakan oleh kebanyakan karyawan di kantor BUMN. Dahlan Iskan tampaknya dapat menempatkan diri dengan baik. Dahlan Iskan memang memiliki mobil mewah dan bahkan helikopter. Tetapi kepemilikan tersebut bukan untuk gengsi dan lebih cocok disebut untuk fungsi. Helikopternya dibeli untuk kecepatan waktu jika suatu saat Dahlan Iskan membutuhkan pertolongan untuk penyakitnya yang parah. Tapi, saat penyakitnya sudah sembuh, Dahlan Iskan mengkandangkan kedua helikopternya.

Sikap Dahlan Iskan yang bersahaja ini tentu dapat dijadikan contoh oleh pejabat public di Indonesia. Dalam hal kepekaan ini, Dahlan Iskan tidak segan-segan untuk turun langsung melihat kondisi di lapangan. Dahlan Iskan bukanlah tipe bos yang senang menunggu laporan dari bawahan. Dahlan Iskan lebih tepat disebut dengan pemimpin yang mampu memotivasi, mengarahkan, dan menggerakkan orang-orang disekitarnya agar dapat berkontribusi demi kepentingan bersama.

Diterima Semua Kalangan

Dahlan Iskan ternyata tidak hanya jago dalam bisnis dan media. Ternyata dia juga menaruh perhatian pada kesenian. Dalam buku penghargaan seniman Jatim (2002) diketahui bahwa selama di Jawa Pos, Dahlan Iskan beberapa mendanai sejumlah kelompok kesenian, seperti Teater Gnadrik dan Teater Koma. Dahlan Iskan juga pernah menjadi ketua persatuan seni di Surabaya. Sementara Gedung Graha Pena sering digunakan untuk pameran lukisan. Jadi di tengah kesibukannya yang padat dan menyita waktu, Dahlan Iskan masih mau membantu bidang lainnya.

Kebebasan Berekspresi

Menurut Dahlan Iskan, dalam CEO notesnya, ruang rapat sebaiknya tidak penuh dengan ketegangan. Ruang rapat harus menjadi tempat berdebat, baku ide, berbagi kue dan saling ejek dengan jenaka. Menurut Dahlan Iskan, orang yang selalu sering diberi arahan akan menjadi bebek. Orang yang sering diberi instruksi akan menjadi besi. Orang yang sering diberi peringatan akan menjadi ketakutan. Dan orang yang sering diberi pidato hanya akan bisa meminta petunjuk. Saat seseorang telah diberi kepercayaan, maka rasa tanggung jawabnya akan muncul.

Belajar dari Kegagalan

Saat melihat Dahlan Iskan dalam bayangan orang banyak pasti adalah kesuksesan. Tapi jika ditelisik lebih jauh Dahlan Iskan pun banyak mengalami kegagalan dalam menjalankan aktivitas dan bisnisnya. Tidak selamanya sukses. Tapi sekali lagi itulah yang membedakan orang yang sukses dengan orang yang tidak sukses. Orang sukses menjadikan kegagalannya sebagai pembelajaran. Kegagalan adalah pusat semangat agar memacu kerja yang lebih keras dan lebih cerdas lagi. Sementara orang yang tidak sukses menganggap kegagalan merupakan akhir dari perjalanannya. Kegagalan yang menghentikan orang yang tidak sukses. Dahlan Iskan mengatakan untuk sukses harus menjalani apa yang sudah ada. Selain itu juga fokus. Jangan berpikir ingin cepat besar. Paling utama adalah menekuni sesuatu hinga suatu saat tertentu. Setelah itu baru mengembangkan diri.

JADI CAPRES TAHUN 2014

Dahlan Iskan memiliki integritas tinggi, berpengalaman, profesional, jaringan di seluruh nusantara, dan memiliki kemampuan finansial. Modal yang besar untuk menjadi capres 2014.

Dahlan Iskan dan Politik

Melihat prestasidan sepak terjangnya dapat dipastikan bahwa Dahlan Iskan selalu haus tantangan dan mencoba hal yang baru. Kariernya pun selalu bertahap dan semakin naik. Setelah selesai jadi menteri BUMN, akankan Dahlan Iskan memutuskan untuk istirahat atau makin mencari tantangan baru. Selama ini Dahlan Iskan memang terlihat tidak peduli dengan politik praktis. Meskipun begitu, Dahlan Iskan bukan sama sekali alergi terhadap politik. Saat anak buahnya yang pernah bekerja di Jawa Pos mencalonkan diri sebagai kepala daerah di Surabaya. Dahlan Iskan memberikan suaranya untuk calon tersebut.iya, sebagai dukungan terhadap anak buahnya. Selain itu ia juga banyak bergaul dengan para politisi.

Media dan Polotik

Pengalaman Indonesia memang menunjukan bahwa jabatan Presiden masih sangat diincar oleh semua kalangan, termasuk juga oleh orang pers/media. Contohnya saja Surya Paloh. Dia awalnya adalah kader partai Golkar. Di tengah jalan, saat kalan menjadi ketua umum Golkar, Surya Paloh kemudian mendirikan ormas Nasdem (Nasional Demokrat).

Tidak hanya Surya Paloh, bos MNC TV, Hary Tanoesudibyo juga masuk kedalam partai Nasdem. Hary Tanoesudibyo sendiri adalah seorang yang menguasai RCTI, TPI, Global TV dan Koran Sindo. Belum selesai sampai disitu, Aburizal Bakrie dengan Golkarnya pun mempunyai jaringan media yangical besar. Ical, panggilan akrab Aburizal  Bakri, saat ini menguasai ANTV dan TV One.

Orang-orang yang disebut di atas adalah calon kuat yang akan diusung partai politiknya untuk menjadi Presiden 2014. Surya Paloh dari partai Nasdem dan Aburizal Bakri dari partai Golkar dipastikan akan maju menjadi capres 2014.

Memang tidak semua bos media tertarik untuk masuk ke dalam partai politik. Jacob Oetomo, bos besar Kompas Gramedia, meskipun mempunyai jaringan media luas tapi tidak tertarik masuk dalam politik praktis. Dahlan Iskan selama ini masih terlihat netral, tidak memihak kepada partai politik manapun.

Ingin Menjadi Walikota Surabaya

Dahlan Iskan ternyata pernah mengatakan keinginannya untuk menjadi walikota Surabaya.

Presiden Susilo Bambang Yudoyono sudah lama kagum dengan Dahlan Iskan. SBY menganggap Dahlan Iskan mempunyai ide-ide yang sangat brilian. Gaya kepemimpinan Dahlan Iskan di Jawa Pos pun tidak luput dari kekaguman SBY.

Menurut Ramadhan Pohan, SBY juga menilai Dahlan Iskan memiliki pengetahuan luas dalam memimpin perusahaan besar. Jadi tidak menutup kemungkinan Dahlan Iskan sebenarnya juga layak memimpin sebuah negara. Menurut Pohan, “Pak Dahlan dimata SBY dianggap tidak punya kebijakan politik, tapi anehnya semua orang mengakui bahwa dia punya kemampuan. Itu yang membuat SBY suka. Dia adalah pekerja keras dan dia punya basis pengetahuan sama, pengalamannya pun banyak”. Pohan bercerita SBY pernah kaget dengan kinerja Dahlan Iskan ynag luar biasa. SBY berkata, “Orang ini hidupnya kok kerja terus, dan kerja itu selalu harus berhasil. Itu terus”. Pernyataan presiden SBY tersebut tentu dapat dijadikan 2 tafsir yang berbeda. Tafsir pertama bahwa Dahlan Iskan memang sejatinya hanya cocok sebagai menteri, oleh karena itu dia diangkat menjadi menteri. Tafsir kedua, pernyataan presiden SBY tersebut menyiratkan kekhawatiran bahwa di masa yang akan datang Dahlan Iskan akan dapat menjelma menjadi kekuatan besar.

Memang pada tahun 2014 presiden SBY tidak akan dicalonkan lagi. Tetapi siapapun capres yang diusung oleh Partai Demokrat, maka akan menghadapi kesulitan jika salah satu kandidatnya sekelas Dahlan Iskan.

Peluang Dahlan Iskan

Daris segi usia, Dahlan Iskan memang sudah tidak muda lagi. Dari kesehatan, dia juag menganggap dirinya sebagai orang yang sakit. Tapi melihat potensi yang dimiliki Dahlan Iskan tempaknya patut diperhitngkan untuk menjadi RI 1. Atau minimal menjadi wakil presiden. Sampai saat ini setiap partai politik di Indonesia memang sudah mempunyai jagonya sendiri-sendiri. Golkar dengan Aburizal Bakri, PAN dengan Hatta Radjasa, PKS dengan Hidayat Nur Wahid, PDIP dengan Megawati atau Puan Maharani, Demokrat (mungkin) dengan Anas Urbaningrum. Tetapi dunia politik adalah dunia yang selalu berubah. Maka bukanlah hal yang mustahil jika tiba-tiba di tahun 2014 nama Dahlan Iskan muncul untuk meramaikan bursa capres 2014.

Kini sejumlah partai politik melirik Dahlan Iskan untuk dicalonkan menjadi wakil presiden atau presiden. Gebrakannya selama ini yang tampil sederhana, bersahaja dan membuktikan hasil kerjanya membuat rakyat kagum dan menyayanginya. Partai-partai politik pun memburunya. Dapay dibayangkan, bila sosok seperti Dahlan Iskan menjadi presiden Republik Indonesia, maka negeri ini akan berubah dahsyat menuju ke arah yang lebih baik. Insya Allah !

Profil Dahlan Iskan

Tempat, Tanggal Lahir            :   Magetan, 17 Agustus 1951

Pendidikan                                   :    Lulusan SMA

Istri                                                 :    Nafsiah

Anak                                               :    Azrul Ananda dan Isna Fitriana

Karier :

1975    : Reporter surat kabar di Samarinda (Kalimantan Timur).

1976    : Wartawan Majalah Tempo.

1982    : Memimpin surat kabar Jawa Pos hingga sekarang.

2009    : Komisaris PT Fangbian Iskan Corporindo (FIC).

2009    : Direktur Utama PLN.

2011    : Menteri Negara BUMN.

DAFTAR REFERENSI

Djatmiko, Edy Harmanto.2004. Rahasia Sukses The Best CEO Indonesia. PT Elex Media Komputindo: Jakarta

Majalah Pantau, Mei 2011

Warta Ekonomi, 2008 Desember 2005

Republika, Rubrik Resonansi, Jumat 21 Oktober 2011 Oleh Zaim Uchrowi

Kompas, Rabu 1 Februari 1995

Kompas, 27 Oktober 2011

Metro TV: Managing the Nation with Tanri Abeng. Edisi Dahlan Iskan

Metro TV: Wawancara dengan Dahlan Iskan, 31 Oktober 2011

Metro TV: Sentilan sentilun. Bintang Tamu: Dahlan Iskan. Rabu, 3 Oktober 2011

Website

http:// www.dahlaniskan.blogdrive.com

http://pln.co.id

http://id.wikipedia.org/wiki/Dahlan_Iskan

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2011/10/19/07435355/Dahlan.Iskan.Anak.Miskin.yang.Jadi.Menteri

http://dongants.wordpress.com/2009/04/06/jawa-pos-adalah-dahlan-iskan/

http://www.komisi7.com/indx.php?view=article&id=79:dahlan-iskan-memangnya-saya-ini-siapa&option=com_conten&itemid=78

http://swa.co.id/2010/04/gebrakan-bos-koran-di-perusahaan-setrum/

antaranews.com

http://www.metrotvnews.com/read/news/2011/10/2168971/Ini-Gebrakan-Baru-Menteri-BUMN-Dahlan-Iskan

http://id.wikipedia.org/wiki/Grup_Jawa_Pos

http://agsasman3yk.wordpress.com/2011/10/23/sepatu-ketz-dahlan-iskan-pada-pelantikan-menteri/

http://bisnis.vivanews.com/news/read/197592-gebrakan-baru-dahlan-iskan-di-pln

http://www.tokoh-indonesia.com/ensiklopedi/a/anthony-salim/index.shtml

http://brangwetan.wordpress.com/2007/10/04/dahlan-iskan-pengusaha-pecinta-seni/

LAMPIRAN 

Tabloid

  • Tabloid Komputek
  • Tabloid Nyata
  • Tabloid Posmo
  • Tabloid Cantiq
  • Tabloid Bunda
  • Tabloid Koki
  • Tabloid Tunas
  • Tabloid Modis
  • Tabloid Hikmah
  • Tabloid Ototrend
  • Tabloid Nurani

Majalah

  • Majalah Menteri (Surabaya)
  • Majalah Liberty (Surabaya)

Koran Dalan Lingkup Jawa Pos Group

  • Sumatera Riau Pos (Pekanbaru)
  • Dumai Pos (Dumai)
  • Metro Siantar (Siantar)
  • Pos Metro Padang (Padang)
  • Batam Pos (Batam)
  • Palembang Pos (Palembang)
  • Radar Palembang (Palembang)
  • Jambi Ekspress (Jambi)
  • Radar Tanjab (Kuala Tungkal)
  • Bungo Pos (Muara Bungo)
  • Bangka Belitng Pos (Pangkal Pinang)
  • Bengkulu Ekspress (Bengkulu)
  • Radar Lampung (Lampung)
  • Rakyat Aceh (Banda Aceh)

Banten dan Jawa Barat

  • Radar Banten (Banten)
  • Radar Bandung (Bandung)
  • Radar Bogor (Bogor)
  • Radar Cirebon (Cirebon)
  • Pasundan Ekspress (Purwakarta, Karawang & Subang)
  • Radar Bekasi (Bekasi)
  • Radar Sukabumi (Sukabumi)
  • Cianjur Ekspress (Cianjur)

Jawa Tengah dan DIY

  • Meteor (Semarang)
  • Radar Tegal (Tegal)
  • Radar Banyumas (Purwokerto)
  • Radar Semarang (Semarang)
  • Radar Kudus (Kudus)
  • Radar Solo (Solo)
  • Radar Jogja (Yogyakarta)

Jawa Timur

  • Radar Blitar ( Blitar)
  • Radar Bnayuwangi (Banyuwangi)
  • Radar  Jember (Jember)
  • Radar Madiun (Madiun)
  • Radar Kediri (Kediri)
  • Malang Pos (Malang)
  • Memorandum (Surabaya)
  • Radar Madura (Madura)
  • Radar Tulungagung (Tulungagung)

Bali dan Nusa Tenggara

  • Lombok Pos (Mataram)
  • Timor Ekspress (Kupang)
  • Radar Bali (Bali)
  • Bali Ekspress (Bali)

Kalimantan

  • Pontianak Pos (Pontianak)
  • Kapuas Pos (Kapuas)
  • Radar Banjarmasin ( Banjarmasin)
  • Kalteng Pos ( Palangkaraya)
  • Samarinda Pos ( Samarinda)
  • Kaltim Pos (Balikpapan)
  • Radar Tarakan (Tarakan)

Sulawesi

  • Fajar (Makassar)
  • Pare Pos (Pare Pare)
  • Radar Sulbar (Sulawesi Barat)
  • Kendari Pos (Kendari)
  • Radar Sulteng (Palu)
  • Manado Pos (Manado)
  • Posko (Gorontalo)
  • Luwuk Pos (Luwuk)

Maluku

  • Ambon Ekpress (Maluku)
  • Mulut Pos (Ternate)

Papua

  • Cendrawasih Pos (Jayapura)
  • Radar Timika (Timika)
  • Radar Sorong (Sorong)

Stasiun televisi lokal yang termsuk ke dalam jaringan JPMC antara lain :

  • JTV Surabaya ( Surabaya)
  • JTV Madura
  • JTV malang
  • JTV Jember
  • JTV Banyuwangi
  • JTV Madiun
  • JTV Bojonegoro
  • JT Pacitan
  • Citra TV (Lamongan)
  • Jek TV (Jambi)
  • Triarga TV (Bukittinggi)
  • Batam TV (Batam)
  • Riau TV (Pekanbaru)
  • RBtv  (Bengkulu)
  • Palembang TV (Palembang)
  • Jak TV (Jakarta)
  • CB Channel (Depok)
  • Bogor TV (Bogor)
  • Baraya TV (Tangerang)
  • Radar Cirebon TV (Cirebon)
  • Fajar TV (Makassar)
  • Balikpapan TV
  • PonTV (Pontianak)

 

Ir Ciputra Pengusaha Sukses, Sebuah Inspirasi


Profil dan Otobiografi Singkat Ir. Ciputra

Ir. Ciputra (lahir di Parigi, Sulawesi Tengah, 24 Agustus 1931; umur 77 tahun) adalah seorang insinyur dan pengusaha di Indonesia. Ciputra menghabiskan masa kecil hingga remajanya di sebuah desa terpencil di pojokan Sulawesi Utara. Begitu jauhnya sehingga desa itu sudah nyaris berada di Sulawesi Tengah. Jauh dari Manado, jauh pula dari Palu. Sejak kecil Ciputra sudah merasakan kesulitan dan kepahitan hidup. Terutama saat bapaknya ditangkap dan diseret dihadapannya oleh pasukan tak dikenal, dituduh sebagai mata-mata Belanda/ Jepang dan tidak pernah kembali lagi (pada tahun 1944). Ketika remaja sekolah di SMP Frater Donbosco Manado.

Ketika tamat SMA, kira-kira saat dia berusia 17 tahun, dia meninggalkan desanya menuju Jawa, lambang kemajuan saat itu. Dia ingin memasuki perguruan tinggi di Jawa. Maka, masuklah dia ke ITB (Institut Teknologi Bandung). Keputusan Ciputra untuk merantau ke Jawa tersebut merupakan salah satu momentum terpenting dalam hidupnya yang pada akhirnya menjadikan Ciputra orang sukses. Keputusan Ciputra untuk merantau ketika tamat SMA merupakan keputusan yang tepat, karena pada usia tersebut muncul adanya keinginan untuk bebas yang disertai rasa tanggung jawab pada diri individu. Ciputra adalah perantau yang sempurna. Dia mendapatkan kebebasan, tapi juga memunculkan rasa tanggung jawab pada dirinya.

Bagi Ciputra, perintis pengembang properti nasional sekaligus pembangun 20 kota satelit di seluruh Indonesia, pengalaman hidup susah sejak kecil adalah pemicu kesuksesannya. Ciputra yang lahir di Parigi, Sulawesi Tengah 77 tahun lalu, harus merasakan kerasnya hidup sejak usia 12 tahun, tanpa ayah. Sang ayah ditangkap tentara pendudukan Jepang dan akhirnya meninggal di penjara.

Sebagai bungsu dari 3 bersaudara, Ciputra kecil harus bergelut dengan berbagai pekerjaan untuk mencari uang membantu sang ibu yang berjualan kue. Ciputra yang mengaku sangat bandel dan nakal sejak kecil, juga harus berjalan kaki tanpa alas kaki sejauh 7 kilometer ke sekolah setiap hari. Kenakalan Ciputra terlihat dari sifatnya yang seenaknya sendiri. Saat disuruh belajar bahasa Belanda, Jepang atau China, dia malas. Dia hanya mau belajar bahasa yang dianggapnya akan berguna baginya, yaitu bahasa Indonesia. Akibatnya, saat usia 12 tahun dia masih di kelas 2 SD karena berkali-kali tinggal kelas.

Pasca ditinggal sang ayah, barulah Ciputra bangkit dan mau belajar giat hingga selalu menjadi nomor 1 di sekolah. Kegemilangan prestasi Ciputra terus berlanjut hingga mampu menamatkan kuliah di jurusan arsitektur ITB. Setelah lulus kuliah, jiwa wirausaha Ciputra mengantarkannya menjadi raksasa pengembang properti di tanah air lewat PT Pembangunan Jaya saat itu, dan akhirnya menjadi grup Ciputra. Dan hingga kini, berbagai bangunan properti yang menghiasi wajah Jakarta, tak bisa dilepaskan dari campur tangan seorang Ciputra.

CIPUTRA, Pengusaha asal Sulawesi Tengah

Ketika mula didirikan, PT Pembangunan Jaya cuma dikelola oleh lima orang. Kantornya menumpang di sebuah kamar kerja Pemda DKI Jakarta Raya. Kini, 20-an tahun kemudian, Pembangunan Jaya Group memiliki sedikitnya 20 anak perusahaan dengan 14.000 karyawan. Namun, Ir. Ciputra, sang pendiri, belum merasa sukses. “Kalau sudah merasa berhasil, biasanya kreativitas akan mandek,“ kata Dirut PT Pembangunan Jaya itu.

Ciputra memang hampir tidak pernah mandek. Untuk melengkapi 11 unit fasilitas hiburan Taman Impian Jaya Ancol (TIJA), Jakarta — proyek usaha Jaya Group yang cukup menguntungkan — telah dibangun “Taman Impian Dunia”. Di dalamnya termasuk “Dunia Fantasi”, “Dunia Dongeng”, “Dunia Sejarah”, “Dunia Petualangan”, dan “Dunia Harapan”. Sekitar 137 ha areal TIJA yang tersedia, karenanya, dinilai tidak memadai lagi. Sehingga, melalui pengurukan laut (reklamasi) diharapkan dapat memperpanjang garis pantai Ancol dari 3,5 km menjadi 10,5 km.

Masa kanak Ciputra sendiri cukup sengsara. Lahir dengan nama Tjie Tjin Hoan di Parigi, Sulawesi Tengah, ia anak bungsu dari tiga bersaudara. Dari usia enam sampai delapan tahun, Ci diasuh oleh tante-tantenya yang “bengis”. Ia selalu kebagian pekerjaan yang berat atau menjijikkan, misalnya membersihkan tempat ludah. Tetapi, tiba menikmati es gundul (hancuran es diberi sirop), tante-tantenyalah yang lebih dahulu mengecap rasa manisnya. Belakangan, ia menilainya sebagai hikmah tersembunyi. “Justru karena asuhan yang keras itu, jiwa dan pribadi saya seperti digembleng,” kata Ciputra.

Pada usia 12 tahun, Ciputra menjadi yatim. Oleh tentara pendudukan Jepang, ayahnya, Tjie Siem Poe, dituduh anti-Jepang, ditangkap, dan meninggal dalam penjara. “Lambaian tangan Ayah masih terbayang di pelupuk mata, dan jerit Ibu tetap terngiang di telinga,” tuturnya sendu. Sejak itu, ibunyalah yang mengasuhnya penuh kasih. Sejak itu pula Ci harus bangun pagi- pagi untuk mengurus sapi piaraan, sebelum berangkat ke sekolah — dengan berjalan kaki sejauh 7 km. Mereka hidup dari penjualan kue ibunya.

Atas jerih payah ibunya, Ciputra berhasil masuk ke ITB dan memilih Jurusan Arsitektur. Pada tingkat IV, ia, bersama dua temannya, mendirikan usaha konsultan arsitektur bangunan — berkantor di sebuah garasi. Saat itu, ia sudah menikahi Dian Sumeler, yang dikenalnya ketika masih sekolah SMA di Manado. Setelah Ciputra meraih gelar insinyur, 1960, mereka pindah ke Jakarta, tepatnya di Kebayoran Baru. “Kami belum punya rumah. Kami berpindah-pindah dari losmen ke losmen,“ tutur Nyonya Dian, ibu empat anak. Tetapi dari sinilah awal sukses Ciputra.

Pada tahun 1997 terjadilah krisis ekonomi. Krisis tersebut menimpa tiga group yang dipimpin Ciputra: Jaya Group, Metropolitan Group, dan Ciputra Group. Namun dengan prinsip hidup yang kuat Ciputra mampu melewati masa itu dengan baik. Ciputra selalu berprinsip bahwa jika kita bekerja keras dan berbuat dengan benar, Tuhan pasti buka jalan. Dan banyak mukjizat terjadi, seperti adanya kebijakan moneter dari pemerintah, diskon bunga dari beberapa bank sehingga ia mendapat kesempatan untuk merestrukturisasi utang-utangnya. Akhirnya ketiga group tersebut dapat bangkit kembali dan kini Group Ciputra telah mampu melakukan ekspansi usaha di dalam dan ke luar negeri.

Ciputra telah sukses melampaui semua orde; orde lama, orde baru, maupun orde reformasi. Dia sukses membawa perusahaan daerah maju, membawa perusahaan sesama koleganya maju, dan akhirnya juga membawa perusahaan keluarganya sendiri maju. Dia sukses menjadi contoh kehidupan sebagai seorang manusia. Memang, dia tidak menjadi konglomerat nomor satu atau nomor dua di Indonesia, tapi dia adalah yang TERBAIK di bidangnya: realestate.

Pada usianya yang ke-75, ketika akhirnya dia harus memikirkan pengabdian masyarakat apa yang akan ia kembangkan, dia memilih bidang pendidikan. Kemudian didirikanlah sekolah dan universitas Ciputra. Bukan sekolah biasa. Sekolah ini menitikberatkan pada enterpreneurship. Dengan sekolah kewirausahaan ini Ciputra ingin menyiapkan bangsa Indonesia menjadi bangsa pengusaha.

Ir. Ciputra Menghadapi Krisis Ekonomi

Keran KPR yang mulai mengucur, membuat aktivitas PT Ciputra Development terdengar lagi. Kelompok usaha ini semakin giat beriklan. Akankah Ciputra segera berjaya kembali? Akibat krisis ekonomi yang melanda negeri ini, sebagaimana kebanyakan pengusaha properti lainnya, Ciputra pun harus melewati masa krisis dengan kepahitan. Padahal, serangkaian langkah penghematan telah dilakukan. Grup Ciputa (GC), misalnya, terpaksa harus memangkas 7 ribu karyawannya, dan yang tersisa cuma sekitar 35%.

Lantas, semua departemen perencanaan di masing-masing anak perusahaan segera ditutup dan digantikan satu design center yang bertugas memberikan servis desain kepada seluruh proyek. Jenjang komando 9 tingkat pun dipotong menjadi 5. Akibatnya, banyak manajer kehilangan pekerjaan. Lebih pahit lagi: kantor pusat GC yang semula berada di Gedung Jaya, Thamrin, Jakarta Pusat, terpaksa pindah ke Jl. Satrio — kompleks perkantoran milik GC. Paling tidak, dengan cara semacam itu, GC bisa menghemat Rp 4 miliar/tahun.

Sementara Harun dan tim keuangannya — setelah susut menjadi 7 orang dan gajinya dipotong hingga 40% — hengkang ke salah satu lantai Hotel Ciputra, Grogol, Jakarta Barat. Di tempat itu, mereka menyewa beberapa ruangan. Selebihnya, kabar yang menjadi rahasia umum: utang GC macet total.

Menurut Harun, para petinggi CD waktu itu sadar betul kondisi yang ada tidak bakalan berubah secepat yang dibayangkan. Soalnya, berlalunya krisis moneter yang belakangan bermetamorfosis menjadi krisis multidimensional sejatinya berada di luar kendali mereka. Celah yang masih terbuka hanyalah konsolidasi internal dan restrukturisasi perusahaan.

Maka, selain memangkas biaya operasional secara drastis, CD pun segera menerapkan strategi pemasaran baru: menjual kapling siap bangun. Kata Harun, selain CD kala itu hanya menyimpan sedikit stok rumah siap huni, perubahan strategi pemasaran ini juga dilakukan untuk membidik konsumen berkantong tebal. Maklumlah, mengharapkan KPR ibarat pungguk merindukan bulan. Adapun yang tersisa, ya itu tadi, pasar kalangan kelas menengah-atas. Mereka biasanya lebih suka membeli kapling karena dapat menentukan sendiri desain rumahnya.

Keuntungan lain menjual kapling tanah: berkurangnya biaya operasional. Masih menurut Harun, dengan menjual kapling siap bangun, CD cuma berkewajiban menyediakan infrastruktur seperti telepon, air, listrik dan jalan. Memang, ketimbang membangun rumah siap huni, biaya penyediaan infrastruktur relatif jauh lebih murah. Dalam perhitungan Harun, biaya yang dikeluarkan per m2-nya cuma Rp 90 ribu.

Sementara itu, bila membangun rumah siap huni, CD mesti siap menerima kenyataan jika harga bahan-bahan bangunan meningkat pesat. Besi, misalnya. Setelah kurs rupiah terhadap US$, harganya naik 60%. Sementara semen dan keramik, masing-masing meningkat menjadi 40% dan 30%. Jadi, “Tak ada alasan tidak menerapkan strategi itu,” ujar Harun. Kebijakan itu berlaku di Jakarta dan di Surabaya.

Guna mendukung strategi di atas, program-program above the line juga tak luput dikoreksi. Hasilnya, dari monitoring yang dilakukan, para petinggi CD akhirnya berkesimpulan, mubazir bila beriklan gencar di masa krisis. “Seperti membunuh tikus dengan memakai bom,” jelas Harun. Alhasil, pilihan kemudian jatuh pada penjualan langsung. Bahannya diolah dari database konsumen milik CD. Dan supaya lebih terarah, database diolah lewat pembentukan klub-klub penjualan, di Jakarta maupun Surabaya.

Namun, apa daya, meski harga kapling siap bangun belum dinaikkan dan tim pemasaran bekerja sekeras mungkin, toh strategi itu tidak langsung membuahkan hasil yang memuaskan. Lebih dari Tiga bulan, konsumen yang tertarik dengan ratusan hektare tanah matang milik CD yang dijual dalam bentuk kapling siap bangun — dari total 1.800 har landbank (tanah mentah) CD yang tersebar di Jakarta dan Surabaya — bisa dihitung dengan jari.

Kata Harun, petinggi CD lagi-lagi sadar para pemilik uang sesungguhnya lebih memilih mendepositokan uangnya ketimbang membeli kaping siap bangun. Maka, “Tahun 1998 adalah tahun yang paling sulit yang pernah dilalui CD,” kenangnya. Masalahnya, uang yang masuk selama setahun cuma Rp 40 miliar.

Itulah nilai total hasil penjualan lima proyek perumahan di Jakarta dan Surabaya milik CD. Jelas, ketimbang tahun-tahun sebelumnya, saat kondisi ekonomi masih normal, kenyataan tersebut benar-benar menyakitkan. Sebelum krisis, dari satu proyek saja, CD bisa meraup uang sebanyak Rp 10 miliar/bulan. Artinya, angka Rp 40 miliar tersebut biasanya dicapai hanya dalam sebulan.
Yang lebih menyesakkan, menurut sumber SWA, Pak Ci ikut-ikutan menambah beban psikologis pasukannya. Hampir setiap hari CEO GC itu uring-uringan tanpa sebab yang jelas. Seingatnya,waktu itu Pak Ci jarang bertanya kepada anak buahnya bagaimana sebenarnya kondisi di lapangan. “Ia malah seperti tak habis-habisnya melakukan pressure kepada timnya,” jelas si sumber.

Dan lucunya lagi, bahkan di luar dugaan banyak orang — sang sumber sendiri kaget luar biasa — Pak Ci sampai-sampai “menodong” seorang pemuka agama agar jemaat gerejanya membeli kapling siap bangun di salah satu proyek perumahan CD. “Benar-benar tidak masuk akal,” ungkap sumber. Benarkah? “Bohong. Kalau stres, siapa yang tidak stres waktu itu,” bantah Harun.

Untunglah, bersamaan turunnya suku bunga deposito di awal 1999, strategi itu mulai menampakkan hasil. Kecil memang, tapi, “Kami sudah mulai sibuk,” ujar Harun. Ia menunjuk aktivitas penjualan kapling siap bangun, khususnya yang di Surabaya. “Di kota ini, penjualannya cukup bagus.”

Sayang, Harun tak bersedia menyebutkan nilai transaksi di Kota Buaya. Yang jelas, tidak seperti di Jakarta, jumlah item kapling siap bangun yang ditawarkan CD di Surabaya lumayan variatif. Dari segi luas contohnya, 1.200-2.000 m2 dengan harga jual minimal: Rp 600 ribu/meter2. Selain itu, ada pula kapling golf — posisinya berhadapan atau di sekitar lapangan golf. “Kapling jenis ini, sekalipun lebih mahal, tampak paling disukai,” jelas Harun.

Bagaimana dengan Jakarta? Kendati kapling yang dijual hanya berukuran 200-500 m2, angka penjualannya tidak sebagus di Surabaya. Dan kapling yang disukai konsumen kebanyakan yang berukuran 400 m2 seharga Rp 225-500 ribu/m2. Menurut Harun, hal itu terjadi karena tingkat persaingan di Jakarta lebih ketat ketimbang di Surabaya. Soalnya, “Ada banyak proyek serupa di sini,” ujarnya. Dan, yang lebih penting, kapling golf bukanlah hal yang istimewa bagi banyak konsumen metropolitan. “Jadi, penawaran kami sama seperti yang lain. Karena itu pula, bisa jadi konsumen mencari yang lebih murah.”

Seperti yang sudah-sudah, tutur menantu Ciputra itu, kebutuhan konsumen di Jakarta sejatinya adalah rumah siap huni yang dilengkapi fasilitas KPR. Karena itu, bermodalkan pendapatan hasil penjualan kapling siap bangun plus tersedianya sarana KPR, CD pun mulai menggiatkan pembangunan rumah siap huni, di Citra Raya Tangerang, Citra Indah Jonggol, Citra Grand Cibubur ataupun Citra Cengkareng.

Bersamaan waktunya, CD pun kembali rajin beriklan. Namun, tidak seperti tiga tahun lalu, kini belanja iklannya diatur ketat. Indikator pertama yang dihitung sebelum mengeluarkan uang untuk berpromosi di berbagai media cetak adalah jumlah total hari libur dalam setiap bulan. Yang jelas, sebulan CD beriklan tak lebih dari tiga kali. “Bukan apa-apa. Kami hanya ingin iklan itu bisa efektif mencapai sasaran,” katanya. Ia menambahkan, klub-klub penjualan yang dulu sempat dibentuk tetap diteruskan.

Hanya saja, lagi-lagi sayang, Harun mengaku tidak ingat persis jumlah uang yang masuk ke kocek CD setelah perusahaan properti yang dipimpinnya itu kembali rajin beriklan. Ia hanya mengatakan, “Cash flow kami cukup aman.” Ditambah semakin membaiknya daya beli konsumen, Harun pun optimistis, CD dan GC bisa berkibar kembali. Namun, tentu saja, ia mengaku, “Tidak seperti dulu lagi.”

Sumber :

Sukyatno Nugroho – Es Teler 77


photo_skyn
Anak yang bodoh di sekolah belum tentu tidak sukses dalam hidupnya di kemudian hari. “Sekolah saya enggak pintar, bahkan enggak suka sekolah,” kenang Presiden Direktur Es Teler 77 tentang masa kecilnya. Dua kali tidak naik kelas, dan yang naik pun berada di rangking 40-an di antara 50 siswa. Karena itulah SMA-nya cuma tiga bulan.

Akhirnya kelahiran Pekalongan, Jawa Tengah, ini dikirim ayahnya, Hoo Ie Kheng, ke Jakarta, kepada pamannya. Ke Ibu Kota dengan harapan melanjutkan sekolah, tapi apa kata sang paman? “Enggak usah sekolah, nanti saya latih dagang saja,” ujar Sukyatno menirukan ucapan pamannya. Beberapa tahun kemudian, Sukyatno sukses dengan Es Teler 77 yang juga memiliki cabang di Malaysia, Singapura, Australia, dengan total pekerja tiga ribu orang. Dan penyandang gelar doktor honoris causa ini malah berceramah di banyak universitas tentang bisnis franchise.

Awalnya, pria yang dulu bernama Hoo Tjioe Kiat ini menjadi penjaja (salesman) macam-macam barang: kancing baju, sisir, barang elektronik. Setiap hari dari Pasar Pagi, Jakarta Barat, ia naik oplet atau sepeda ke Jatinegara dan Jalan Sudirman, keduanya di Jakarta Pusat —yang dulu banyak dipenuhi toko besi—lalu ke Tanjungpriok, Jakarta Barat. Tidak mau mengaku di mana tempat berjualannya, ia pernah dicurigai menjual barang-barang curian.

“Saya sempat putus asa,” kata Sukyatno. Pamannya memberi pelajaran: “Kalau kamu datang sekali enggak bisa, datangi seribu kali. Kalau itu saja kamu enggak bisa, berarti kamu goblok.”

Sambil tetap berjualan barang, Sukyatno juga mencoba jadi tengkulak jual-beli tanah dan agen pengurusan surat izin mengemudi. Sampai pada suatu ketika, 1978, ia menjadi pemborong, membangun rumah dinas pesanan sebuah departemen. “Ketika bangunannya hampir jadi, saya mau dikeroyok orang kampung. Ternyata itu tanah sengketa,” tuturnya. Akibatnya, ia terpuruk utang, sampai untuk bayar uang sekolah anaknya saja ia tidak mampu.

Ternyata Sukyatno mampu bangkit. Setelah membuka salon, ia membuat usaha es teler, terinspirasi mertuanya yang menang lomba membuat es teler. Namanya Es Teler 77 Juara Indonesia, pertama kali dibuka pada 7 Juli 1982. Selain mudah diingat, 77 adalah angka keberuntungan, katanya. Dari tenda-tenda di emperan pertokoan, ia pindah ke Jalan Lombok I dan Jalan Pembangunan, keduanya di Jakarta Pusat, karena digusur. Di dua tempat ini masih berkonsep kaki lima juga.

Lalu, bermodal nekat, pada 1987 ia pun membuka franchise di Solo dan Semarang, Jawa Tengah, sampai sekitar seratus buah. Ia akhirnya mulai masuk plaza, 1994. Selain es teler, ia juga berjualan mi tektek dan ikan bakar.

Walau sudah sukses, Sukyatno tetap merasa rakyat kecil. Menurut dia, itu karena ia terbiasa hidup sengsara sejak kecil—pada usia enam tahun sudah ditinggal ibunya, Lee Kien Nio, yang meninggal. “Sampai sekarang saya masih senang makan di kaki lima, pakai pakaian biasa-biasa,” katanya.

Berkeinginan keras dan tekun, pantang menyerah, dan fokus menekuni satu bidang usaha merupakan kiat sukses Sukyatno.

Menikah dengan Yenny Setia Widjaja, yang saat itu juga berjualan, 1970, Sukyatno ayah tiga anak. Ia sangat memperhatikan pendidikan anak-anaknya, yang semuanya disekolahkan ke luar negeri. Ia juga mendidik mereka agar punya kepedulian sosial.

SURYA PALOH : “SUKSES ANAK KOLONG DALAM BISNIS MEDIA”


Surya Paloh, 40 tahun, lahir di Tanah Rencong, di daerah yang tak pernah dijajah Belanda. Ia besar di kota Pematang Siantar, Sumut, di daerah yang memunculkan tokoh-tokoh besar semacam TB Simatupang, Adam Malik, Parada Harahap, A.M. Sipahutar, Harun Nasution. Ia menjadi pengusaha di kota Medan, daerah yang membesarkan tokoh PNI dan tokoh bisnis TD Pardede. Aktifitas politiknya yang menyebabkan Surya Paloh pindah ke Jakarta, menjadi anggota MPR dua periode. Justru di kota metropolitan ini, kemudian Surya Paloh terkenal sebagai seorang pengusaha muda Indonesia. Surya Paloh mengenal dunia bisnis tatkala ia masih Remaja. Sambil Sekolah ia berdagang teh, ikan asin, karung goni, dll. Ia membelinya dari dua orang ‘toke’ sahabat yang sekaligus gurunya dalam dunia usaha, lalu dijual ke beberapa kedai kecil atau ke perkebunan (PTP-PTP). Di Medan, Surya Paloh mendirikan perusahaan karoseri sekaligus menjadi agen penjualan mobil. Sembari berdagang, Surya Paloh juga menekuni kuliahnya di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara dan Fakultas Sosial Politik, Universitas Islam Sumater Utara, Medan. Di kota yang terkenal keras dan semrawut ini, keinginan berorganisasi yang sudah berkembang sejak dari kota Pematang Siantar, semakin tumbuh subur dalam dirinya. Situasi pada saat itu, memang mengarahkan mereka aktif dalam organisasi massa yang sama-sama menentang kebijakan salah dari pemerintahan orde lama. Surya Paloh menjadi salah seorang pimpinan Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI) Setelah KAPPI bubar, ia menjadi Koordinator Pemuda dan Pelajar pada Sekber Golkar. Beberapa tahun kemudian, Surya Paloh mendirikan Organisasi Putra-Putri ABRI (PP-ABRI), lalu ia menjadi Pimpinan PT-ABRI Sumut. Bahkan organisasi ini, pada tahun 1978, didirikannya bersama anak ABRI yang lain, di tingkat pusat Jakarta, dikenal dengan nama Forum Komunikasi Putra-Putri Purnawirawan Indonesia (FKPPI). Kesadarannya bahwa dalam kegiatan politik harus ada uang sebagai biaya hidup dan biaya perjuangan, menyebabkan ia harus bekerja keras mencari uang, dengan mendirikan perusahaan atau menjual berbagai jenis jasa. Ia mendirikan perusahaan jasa boga, yang belakangan dikenal sebagai perusahaan catering terbesar di Indonesia. Keberhasilannya sebagai pengusaha jasa boga, menyebabkan ia lebih giat belajar menambah ilmu dan pengalaman, sekaligus meningkatkan aktifitasnya di organisasi. Menyusuri kesuksesan itu, ia melihat peluang di bidang usaha penerbitan pers. Surya Paloh mendirikan Surat Kabar Harian Prioritas. Koran yang dicetak berwarna ini, laku keras. Akrab dengan pembacanya yang begitu luas sampai ke daerah-daerah. Sayang, surat kabar harian itu tidak berumur panjang, keburu di cabut SIUPP-nya oleh pemerintah. Isinya dianggap kurang sesuai dengan Kode Etik Jurnalistik Indonesia. Kendati bidang usaha penerbitan pers mempunyai risiko tinggi, bagi Surya Paloh, bidang itu tetap merupakan lahan bisnis yang menarik. Ia memohon SIUPP baru, namun, setelah dua tahun tak juga keluar. Minatnya di bisnis pers tak bisa dihalangi, ia pun kerjasama dengan Achmad Taufik Menghidupkan kembali Majalah Vista. Pada tahun 1989, Surya Paloh bekerja sama dengan Drs. T. Yously Syah mengelola koran Media Indonesia. Atas persetujuan Yously sebagai pemilik dan Pemrednya, Surya Paloh memboyong Media Indonesia ke Gedung Prioritas. Penyajian dan bentuk logo surat kabar ini dibuat seperti Almarhum Prioritas. Kemajuan koran ini, menyebabkan Surya Paloh makin bersemangat untuk melakukan ekspansi ke berbagai media di daerah. Disamping Media Indonesia dan Vista yang terbit di Jakarta, Surya Paloh bekerjasama menerbitkan sepuluh penerbitan di daerah. Pada umurnya yang masih muda, 33 tahun, Surya Paloh berani mempercayakan bisnis cateringnya pada manajer yang memang disiapkannya. Pasar catering sudah dikuasainya, dan ia menjadi the best di bisnis itu. Lalu, ia mencari tantangan baru, masuk ke bisnis pers. Padahal, bisnis pers adalah dunia yang tidak diketahuinya sebelum itu. Kewartawanan juga bukan profesinya, tetapi ia berani memasuki dunia ini, memasuki pasar yang kelihatannya sudah jenuh. Ia bersaing dengan Penerbit Gramedia Group yang dipimpin oleh Yakob Utama, wartawan senior. Ia berhadapan dengan Kartini Grup yang sudah puluhan tahun memasuki bisnis penerbitan. Ia tidak segan pada Pos Kota Group yang diotaki Harmoko, mantan Menpen RI. Bahkan, ia tidak takut pada Grafisi Group yang di-back up oleh pengusaha terkenal Ir. Ciputra, bos Jaya Group. Kendati kondisi pasar pers begitu ramai dengan persaingan. Surya Paloh sedikit pun tak bergeming. Bahkan ia berani mempertaruhkan modal dalam jumlah relatif besar, dengan melakukan terobosan-terobosan baru yang tak biasa dilakukan oleh pengusaha terdahulu. Dengan mencetak berwarna misalnya. Ia berani menghadapi risiko rugi atau bangkrut. Ia sangat kreatif dan inovatif. Dan, ia berhasil. Surya Paloh menghadirkan koran Proritas di pentas pers nasional dengan beberapa keunggulan. Pertama, halaman pertama dan halaman terakhir di cetak berwarna. Kedua, pengungkapan informasi kelihatan menarik dan berani. Ketika, foto yang disajikan dikerjakan dengan serius. Faktor-faktor itulah yang menyebabkan koran ini dalam waktu singkat, berhasil mencapai sirkulasi lebih 100 ribu eksemplar. Tidak sampai setahun, break event point-nya sudah tercapai. Ancaman yang selalu menghantui Prioritas justru bukan karena kebangkrutan, tetapi pencabutan SIUPP oleh pemerintah. Terbukti kemudian, ancaman itu datang juga. Koran Prioritasnya mati dalam usia yang terlalu muda. Pemberitaannya dianggap kasar dan telanjang. Inilah risiko terberat yang pernah dialami Surya Paloh. Ia tidak hanya kehilangan sumber uang, tetapi ia juga harus memikirkan pembayaran utang investasi. Dalam suasana yang sangat sulit itu, ia tidak putus asa. Ia berusaha membayar gaji semua karyawan Prioritas, sambil menyusun permohonan SIUPP baru dari pemerintah. Namun permohonan itu tidak dikabulkan pemerintah. Beberapa wartawan yang masih sabar, tidak mau pindah ke tempat lain, dikirim Surya Paloh ke berbagai lembaga manajemen untuk belajar. Pers memang memiliki kekuatan, di negara barat, ia dikenal sebagai lembaga keempat setelah legislatif, yudikatif dan eksekutif. Apalagi kebesaran tokoh-tokoh dari berbagai disiplin ilmu atau tokoh-tokoh dalam masyarakat, sering karena peranan pers yang mempublikasikan mereka. Bagaimana seorang tokoh diakui oleh kalangan masyarakat secara luas, kalau ia di boikot oleh pers. Dengan demikian, bisnis pers memang prestisius, memberi kebanggaan, memberi kekuatan dan kekuasaan. Dan, itulah bisnis Surya Paloh.

LIEM SIOE LIONG (SOEDONO SALIM)


MEMBANGUN KERAJAAN DAGANG DUNIA

Liem Sioe Liong yang mulai mengenal Indonesia pada usia 20 tahun, kurang lebih 45 tahun lalu, mengatakan, “Anda harus dilahirkan di tempat dan waktu yang benar.” Dan, Anthony Salim – putranya yang bernama kelahiran Liem Fung Seng -, ikut berkomentar kepada majalah yang sama, “Jika anda ingin menangkap seekor ikan, pertama-tama anda harus membeli umpan.”
Kalimat pendek yang cenderung merupakan ungkapan dalam sastra Indonesia itu, sebenarnya gambaran prinsip mereka berdagang di Indonesia sampai merembes ke kancah Internasional. Dengan grup yang ia pimpin, Soedono Liem Salim kelahiran Fukien, 1916 yang bermula bersama kakaknya: Liem Sioe Hie, membantu paman mereka berdagang minyak kacang di Kudus-Jawa Tengah, anak kedua dari tiga bersaudara ini bisa menggaji 25 ribu tenaga kerja. Dari Eksekutif Senior sampai sopir truk yang jumlahnya tak kurang dari 3000 armada termasuk pengangkut semen perusahaan Liem Cs.
Terkaya di Indonesia, memiliki 40 perusahaan, Liem Sioe Liong dengan para kamradnya menghasilkan omset bisnis tak kurang dari US$ 1 milyar setahun. Konon kekayaan pribadi Liem sendiri, ada yang menyebutkan, sekitar US$ 1,9 milyar = Rp. 1,2 triliun.
Di kalangan pedagang Tionghoa Indonesia dia terkenal dengan sebutan “Liem botak”. Sejarah orang bernama Liem Sioe Liong (60 tahun) dimulai di sebuah pelabuhan kecil. Fukien di bilangan Selatan Benua Tiongkok. Dia dilahirkan di situ pada tahun 1918.
Kakaknya yang tertua Liem Sioe Hie – kini berusia 77 tahun – sejak tahun 1922 telah lebih dulu beremigrasi ke Indonesia – yang waktu itu masih jajahan Belanda – kerja di sebuah perusahaan pamannya di kota Kudus. Di tengah hiruk pikuknya usaha ekspansi Jepang ke Pasifik, dibarengi dengan dongeng harta karun kerajaan-kerajaan Eropa di Asia Tenggara, maka pada tahun 1939, Liem Sioe Liong mengikuti jejak abangnya yang tertua. Dari Fukien, ia Berangkat ke Amoy, dimana bersandar sebuah kapal dagang Belanda yang membawanya menyeberangi Laut Tiongkok. Sebulan untuk kemudian sampai di Indonesia. Sejak dulu, kota Kudus sudah terkenal sebagai pusat pabrik rokok kretek, yang sangat banyak membutuhkan bahan baku tembakau dan cengkeh. Dan sejak jamam revolusi Liem Sioe Liong sudah terlatih menjadi supplier cengkeh, dengan jalan menyelundupkan bahan baku tersebut dari Maluku, Sumatera, Sulawesi Utara melalui Singapura untuk kemudian melalui jalur-jalur khusus penyelundupan menuju Kudus. Sehingga tidak heran dagang cengkeh merupakan salah satu pilar utama bisnis Liem Sioe Liong pertama sekali, disamping sektor tekstil. Dulu juga dia, banyak mengimpor produksi pabrik tekstil murahan dari Shanghai.
Untuk melicinkan semua usahanya dibidang keuangan, dia punya beberapa buah bank seperti Bank Windu Kencana dan Bank Central Asia. Di tahun 1970-an Bank Central Asia ini telah bertumbuh menjadi bank swasta kedua terbesar di Indonesia dengan total asset sebesar US$ 99 juta.
Salah satu peluang besar yang diperoleh Liem Sioe Liong dari Pemerintah Indonesia adalah dengan didirikannya PT. Bogasari pada bulan Mei 1969 yang memonopoli suplai tepung terigu untuk Indonesia bagian Barat, yang meliputi sekitar 2/3 penduduk Indonesia, di samping PT. Prima untuk Indonesia bagian Timur.
Hampir di setiap perusahaan Liem Sioe Liong dia berkongsi dengan Djuhar Sutanto alias Lin Wen Chiang yang juga seorang Tionghoa asal Fukien.
Bogasari sebuah perusahaan swasta yang paling unik di Indonesia. Barangkali hanya Bogasarilah yang diberikan pemerintah fasilitas punya pelabuhan sendiri, dan kapal-kapal raksasa dalam hubungan perteriguan bisa langsung merapat ke pabrik.
Begitu perkasanya dia di bidang perekonomian Indonesia dewasa ini, mungkin menjadi titik tolak majalah Insight, Asia’s Business Mountly terbitan Hongkong dalam penerbitan bulan Mei tahun ini, menampilkan lukisan karikatural Liem Sioe Liong berpakaian gaya Napoleon Bonaparte. Dadanya penuh ditempeli lencana-lencana perusahaannya. Perusahaan holding company-nya bernama PT Salim Economic Development Corporation punya berbagai macam kegiatan yang dibagi-bagi atas berbagai jenis divisi; masing-masing adalah: (1) divisi perdagangan, (2) divisi industri, (3) divisi bank dan asuransi, (4) divisi pengembangan (yang bergerak dibidang hasil hutan dan konsesi hutan), (5) divisi properti yang bergerak dibidang real estate, perhotelan, dan pemborong, (6) divisi perdagangan eceran dan (7) divisi joint venture. Setiap divisi membawahi beberapa arah perusahaan raksasa, berbentuk perseroan-perseroan terbatas.
Pelbagai kemungkinan untuk lebih mengembangkan lajunya perusahaan sekalipun tidak akan meningkatkan permodalan, seperti go-public di pasar saham Jakarta, – dilangsungkan group Soedono Lem Salim dengan gencar. Halangan maupun isu bisnis yang mengancam perusahaannya, nampak tak membuat Liem cemas. Seperti katanya kepada Review, “Jika anda hanya mendengarkan apa yang dikatakan orang, anda akan gila. Anda harus melakukan apa yang anda yakini.” Bermodal kalimat pendeknya itu pulalah mengantar Liem Sioe Liong muda di Kudus yang juga terkenal sebagai Lin Shao Liang menjadi Soedono Salim si Raja Dagang Indonesia, belakangan ini.

Djoenaedi Joesoef, keunggulan konimex


Di pinggiran Kota Solo masih ada tersisa lahan hijau. Hamparan sawah berdampingan dengan rumah penduduk membentuk lanskap alam nan menawan. Ada bangunan yang luas berkeliling tembok panjang. Pepohonan tertata rapi hijau menyembul dari balik tembok panjang itu. Tepat di sekeliling pepohonan tersebut berdiri gagah pabrik kebanggaan masyarakat Solo.

Ya, itulah pabrik yang memproduksi aneka produk farmasi, makanan kecil, permen dan berbagai produk lain sejenis. Konimex nama perusahaan tersebut. Djoenaedi Joesoef, sang maestro yang mendirikan perusahaan bersangkutan.

Sang maestro sudah berusia lanjut. Sudah tidak lagi mengendalikan Konimex. Hari-hari tuanya dihabiskan untuk tugas sosial sambil memberi kontribusi terbaik bagi Solo, kota kebanggaannya dan Indonesia negeri tercintanya. Konimex memang bukan perusahaan terbesar di bidangnya. Bukan pula perusahaan dengan jangkauan menggurita yang beroperasi di berbagai negara.

Konimex ‘hanyalah’ perusahaan dari daerah yang produknya mudah ditemukan dari Sabang sampai Merauke. Walaupun demikian, kepemimpinan Djoenaedi Joesoef dalam membesarkan Konimex layak dicatat dengan tinta emas.

Sebagai peraih Indonesia Entrepreneur of the Year 2003 dari lembaga prestisius Ernst & Young, kepemimpinan Djoenaedi Joesoef mendapat tempat terhormat di negeri tercinta dan meluas sampai negeri manca. Jiwa kewirausahaannya memberi inspirasi tidak saja pada ranah farmasi yang digeluti selama hidupnya, tetapi juga bagi seluruh masyarakat yang ingin belajar menjadi wirausaha berbasis etika, moral dan spiritual.

Membangun keunggulan

Djoenaedi Joesoef layak mendapat julukan pemimpin unggul. Dimulai dari toko obat kecil lalu pada 8 Juni 1967 PT Konimex Pharmaceutical Laboratories didirikan dan sekarang mampu mempekerjakan ribuan karyawan, jelas membuktikan julukan itu. Menjadi pemimpin unggul memang bukan perkara mudah. Dibutuhkan beberapa prasyarat yang mana keunggulan sang pemimpin dapat dipertanggungjawabkan secara moral dan hasil bisnisnya.

James Collins dan Jerry Poras melalui buku spektakulernya yang telah menjadi ‘kitab suci’ pemimpin bisnis, Built to Last, menulis referensi komplet tentang organisasi unggul. Walaupun Collin dan Poras meneliti tentang organisasi unggul, tetapi benang merahnya jelas. Organisasi unggul pasti dipimpin oleh pemimpin unggul. Berdasar kajian Collin dan Poras, ada lima karakter utama yang dimiliki oleh Djoenaedi Joesoef dalam memimpin Konimex.

Karakter pertama, mempunyai visi yang besar, berani dan mengagumkan. Visi Djoenaedi Joesoef adalah membuat obat murah yang terjangkau masyarakat luas. Obat murah tersebut harus mudah didapat dan selalu tersedia di pasar. Maka lahirlah obat kemasan isi empat dengan fungsi yang tidak kalah dibandingkan dengan obat resep dokter berharga mahal.

Dari tangan Djoenaedi Joesoef muncul merek kuat semacam Paramex, Inza, Inzana, Konidin yang sampai sekarang menjadi benchmarking obat murah sejenisnya.

Kedua, memiliki budaya perusahaan kuat. Budaya perusahaan pada dasarnya adalah praktik dari nilai-nilai yang menjadi acuan perusahaan bersangkutan. Dapat dipastikan hampir semua perusahaan mempunyai nilai-nilai ideal seperti disebut dalam profil perusahaan atau pernyataan visi dan misi.

Namun, nilai-nilai ideal tersebut sering mampat dalam pelaksanaan lantaran tidak ada konsistensi dari manajemen (pemilik, CEO dan direksi). Atau yang lebih parah tidak ada contoh peran dari pihak manajemen.

Hal demikian tidak berlaku di Konimex. Cara Djoenaedi Joesoef memimpin dan perilaku pribadi sehari-harinya membentuk budaya perusahaan kuat di Konimex. Nilai-nilai utama perusahaan dapat dengan mudah dipraktikkan dan menjadi perilaku seluruh karyawan Konimex karena contoh dari sang pemilik sekaligus CEO-nya.

Ketiga, selalu berjuang untuk mencapai kesempurnaan mutu. Wacana mutu yang bergulir sejak 80-an mendapat tempat tersendiri bagi Djoenaedi Joesoef. Beliau berpendapat bahwa mutu produk, manusia (karyawan) dan pemimpin merupakan keunggulan kompetitif bagi perusahaan dalam bersaing merebut pasar.

Menjadi tidak mengherankan walaupun Konimex beroperasi dari Solo tetapi kaidah-kaidah bisnis yang bersinggungan dengan kesempurnaan mutu menjadi wacana utama manajemen Konimex.

Tidak segan Konimex menggelontorkan dana dalam jumlah besar untuk memenuhi standar mutu internasional. Alhasil produk Konimex dapat dipastikan berkualitas. Dalam sejarah perusahaan, nyaris tidak terdengar keluhan atau protes besar dari konsumen karena konsumen semakin buruk kesehatannya setelah menelan Paramex.

Keempat, mempunyai mentalitas berspektrum lebar. Inti dari karakter empat ini-meminjam pendapat Stephen Covey-adalah mentalitas berkelimpahan untuk berbuat baik kepada karyawan, konsumen, pemasok, pengatur (pemerintah) serta lingkungan (manusia dan alam). Djoenaedi Joesoef percaya bahwa hukum kelimpahan yaitu ketika memberi berlebih akan mendapat keuntungan berlebih akan berjalan dengan sempurna.

Berpedoman pada hukum kelimpahan ini Djoenaedi Joesoef selalu memperhatikan tetesan keringat dari karyawannya untuk mendapat upah jauh dari layak sesuai dengan levelnya. Atau tanggung jawab sosial perusahaan dalam bentuk pemberdayaan masyarakat sekitar dengan cara menjadi pemasok di Konimex.

Kelima, jiwa kewirausahaan untuk selalu berinovasi. Ada banyak inovasi produk yang dihasilkan oleh Konimex. Tanpa harus mengulang bentuk inovasi tersebut yang sering dibahas di media massa, penghargaan Indonesia Entrepreneur of the Year 2003 dari Ernst & Young membuktikan bagaimana sebagai seorang wirausaha Djoenaedi Joesoef selalu berinovasi untuk memberikan produk terbaik kepada konsumennya.

Lima karakter ini yang menjadikan Djoenaedi Joesoef layak disebut sebagai pemimpin unggul. Mengapresiasi pemikiran Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dari buku teranyarnya Indonesia Unggul, inilah sosok pemimpin unggul untuk menjadikan Indonesia Unggul: Djoenaedi Joesoef.

Sumber : Bisnis Indonesia online

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 5.612 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: