Posts from the ‘Gede Prama’ Category

Loyalitas Bankir


Oleh: Gede Prama

Kejadian tragis dalam bentuk dilikuidasinya enam belas bank swasta, telah membawa banyak sekali implikasi. Dari digugatnya transparansi pemerintah, menurun drastisnya kepercayaan masyarakat terhadap dunia perbankan, dipertanyakannya nasib karyawan yang terkena likuidasi, sampai dengan kecurigaan jangan-jangan akan ada likuidasi tahap kedua.

Bagi saya, kejadian ini menimbulkan pertanyaan sederhana, kepada siapa sebenarnya loyalitas para bankir diperuntukkan ? Kepada pemerintah, pemegang saham, konsumen, diri mereka sendiri atau karyawan ?

Terus terang, tidak mudah untuk menjawabnya. Hanya saja, rontoknya keenambelas bank swasta tadi memberi beberapa indikasi menarik.

Pertama, rupanya banyak bank yang lebih takut pada pemerintah dibandingkan takut pada supremasi pasar. Buktinya, dengan memasang ‘satpam’ di atas dalam bentuk menempatkan mantan pejabat tinggi sebagai komisaris, kemudian mereka berani melanggar aturan-aturan pemerintah. Padahal, pemerintah sendiri sedang tidak berdaya menghadapi supremasi pasar.

Kedua, kalau benar sinyalemen Bambang Trihatmojo bahwa sembilan puluh persen bank melanggar kaidah tiga L, tampak jelas bahwa banyak spekulan yang berbaju bankir di negeri ini. Bila spekulan lebih banyak bermain dengan uang sendiri – kalaupun memakai uang orang lain biasanya sepengetahuan sang empu – maka bankir-bankir ini seenak perutnya saja mempermainkan uang orang.

Ketiga, setelah lebih dari sembilan tahun pakto diluncurkan. Tampaknya, upaya pemerintah membuat dunia perbankan yang kokoh dan mandiri, masih jauh panggang dari api. Sebaliknya, malah diisi oleh tidak sedikit pemain ‘cengeng’ yang setiap kali bertemu kesulitan, lantas menangis ke pemerintah minta perlindungan.

Keempat, dari segi jumlah tenaga kerja yang dibajak dari industri lain. Perbankan bisa dikategorikan sebagai industri yang paling rakus melakukan pembajakan. Nyaris tidak ada industri yang luput dari pembajakan industri perbankan. Yang mengecewakan, kendati membajak tenaga kerja paling banyak, ia malah menyimpan tangis profesionalisme yang paling menyedihkan. Lihat saja PHK masal yang terjadi akibat likuidasi, dan kinerja perbankan kita yang demikian menyedihkan.

Dirangkum menjadi satu, keempat indikasi ini bukannya mempermudah pertanyaan sederhana saya di awal tulisan ini. Bahkan, menjadi semakin tidak jelas kemana loyalitas bankir berjalan.

Dilihat dari cara pemerintah melakukan pembinaan di dunia perbankan, loyalitas bankir diukur lebih banyak dari segi seberapa sering bankir menganggukkan kepala terhadap imbauan pemerintah. Siapa yang mengangguk, ia yang loyal, dan kemudian aman. Siapa yang menggelengkan kepala, apa lagi membangkang, maka tahu sendirilah kemudian nasibnya.

Akan tetapi, kalau kita mau berfikir sedikit lebih dalam, sebenarnya ada satu persoalan mendasar yang tersembunyi di balik pengertian loyalitas terakhir.

Bila di balik anggukan kepala banyak bankir, tersembunyi prestasi bankir yang membanggakan, ini loyalitas yang kita inginkan.

Akan tetapi, jika dibalik badan yang membungkuk tadi, tersembunyi persoalan dan bahkan petaka yang mengejutkan, layak sekali kalau kita bertanya, kemana loyalitas para bankir sedang dibawa ?.

Ibarat pendayung perahu, mereka serius dan patuh sekali mendayung. Akan tetapi, mereka tidak bertanya apakah perahu sedang bergerak ke tempat yang diinginkan atau malah sebaliknya. Kesadaran baru timbul setelah mereka semua mau mati masuk jurang.

Tidak banyak berbeda dengan sekumpulan pendayung perahu yang patuh tadi, bankir kita juga sedang bergerak ke tempat yang sama. Lihat saja, mereka bekerja keras, berani membayar mahal untuk ‘menjinakkan’ pemerintah, melakukan pembajakan kemana-mana. Namun, dengan kejadian likuidasi ini, adakah yang pernah bertanya kalau mereka sedang pergi ke tempat yang tepat ?

Kalau Anda setuju dengan pengandaian saya tentang sekumpulan pendayung tadi, inilah persisnya yang saya sebut sebagai the disloyalty of loyal bankers.

Mereka loyal, tetapi kepada hal-hal yang keliru. Lihat saja, mereka memilih membungkukkan badan berlebihan pada otoritas moneter, dibandingkan dengan melakukan pembenahan substansial pada sektor kepercayaan masyarakat. Mereka mengalokasikan dana jauh lebih besar untuk menyembunyikan isu, ketimbang melakukan perbaikan mendasar yang memungkinkan hal yang sama tidak terulang kembali.

Dalam keadaan demikian, adakah kontribusi jangka panjang yang bisa diharapkan dari mereka untuk penyehatan ekonomi ? Terlalu dini untuk bisa menjawab pertanyaan semendasar ini melalui artikel pendek ini

Mengacu pada hasil penelitian yang pernah dilakukan US News and World Report – sebagaimana dikutip Wilson and Wilson dalam buku berpengaruh mereka yang berjudul Stop Selling Start Partnering – sebab utama (69 %) konsumen menghentikan hubungan bisnis dengan perusahaan atau bank karena mereka diperlakukan buruk oleh karyawannya. Sebagai konsultan manajemen dan pengamat, saya yakin angka ini juga ada gunanya untuk direnungkan buat dunia bisnis kita.

Akan tetapi, di tengah kenyataan seperti ini, kita mesti rela menelan pil pahit bahwa karyawan – yang menjadi sebab utama larinya pelanggan – sering didudukkan dalam urutan prioritas ke sekian dalam bisnis. Biaya pendidikan dan pengembangan mereka, hanya diberi angka basa basi lima persen. Dalam keadaan demikian, salahkah saya kalau bertanya ke mana loyalitas bankir sedang dibawa ?

 

Babu Edan


Oleh: Gede Prama

Dalam sejarah perbankan kita, mungkin tidak akan ada lagi merger bank dengan nilai sebesar merger Bank Mandiri. Baik dari segi jumlah manusia yang dimerger, jumlah masalah kredit yang ditinggalkan, maupun aktiva yang digabungkan, semuanya menunjukkan jumlah yang besar. Kalau benar logika sapu lidi yang terlalu sederhana, di mana semakin banyak unsur yang bergabung akan membuat sapu semakin kuat, betapa dahsyatnya kekuatan bank hasil gabungan ini.

Sayangnya, sebagaimana dituturkan oleh sejarah merger banyak perusahaan, merger tidak sesederhana logika sapu lidi yang naif. Semakin banyak manusia yang berkumpul, bisa semakin kuat, bisa juga semakin hancur. Semakin banyaknya harta yang digabungkan, bisa membuat produktivitas aktiva semakin baik, atau malah menimbulkan godaan korupsi yang menghancurkan. Semakin banyak persoalan yang dikeluarkan dari organisasi, bisa membuat beban organisasi lebih ringan, bisa juga membuatnya lumpuh tidak bisa bergerak. Demikian juga dengan kehadiran hero leader. Ia bisa memperbaiki keadaan, bisa juga menjadi sumber demotivasi yang meruntuhkan.

Dilihat dalam perspektif terakhir, masa depan Bank Mandiri, tentu saja masih tanda tanya. Justru di situ indahnya kehidupan. Jika sudah tahu apa yang akan terjadi, tentu saja tidak enak bangun di pagi hari.

Titik berangkat merger yang dilakukan Bank Mandiri sebenarnya sudah tepat. Dari dikeluarkannya beban kredit bermasalah, dipilihnya pemimpin ‘diktator’ yang akan menyetrika bagian-bagian lecek dari organisasi, komitmen pemilik yang amat tinggi, sampai dengan persiapan dari sisi teknologi informasi.

Benar kata seorang penulis, bahwa permulaan yang tepat adalah sebagian dari keberhasilan, namun membiarkan merger Bank Mandiri berjalan alami tanpa rekayasa ekstra, agaknya akan mengembalikan merger ke titik semula. Bahkan, bisa lebih buruk.

Pengalaman saya menjadi konsultan merger sejumlah perusahaan, memberi saya sejumlah titik krusial dalam merger. Titik krusial pertama adalah kampungan tidaknya pemilik. Titik krusial kedua, habisnya sebagian energi untuk menunjukkan bahwa punya kami lebih baik dari punya mereka. Titik krusial ketiga, lama dan rumitnya proses membangun trust sebagai lem perekat organisasi.

Kita mulai dengan titik kritis pertama sekaligus yang paling utama. Sudah menjadi kenyataan yang sulit dibantah, bahwa pemilik adalah kekuatan yang maha dahsyat dalam kehidupan bank. Betapa jelas dan hebatpun konsultan bekerja, namun bila ada satu saja pemilik yang tidak rela dengan perubahan, maka rumitlah cerita.

Bagi Bank Mandiri, titik krusial pertama ini menjadi lebih rumit, karena pemilik terpecah dalam beberapa kekuatan. Dari departemen keuangan, BPPN, BI, kantor menneg BUMN sampai dengan pemilik-pemilik tidak kelihatan lainnya.

Munculnya ke permukaan skandal piutang Bank Bali yang menghebohkan beberapa waktu lalu, adalah salah satu indikasi yang amat kuat, bahwa Bank Mandiri sedang berhadapan dengan sepasukan pemilik yang tidak mudah diatur. Demikian hebatnya skandal terakhir, sampai-sampai dikaitkan dengan perebutan kursi orang nomer satu di republik ini.

Bayangkan, hero leader mana yang berdaya untuk menghadapi kekuasaan korup yang sudah demikian menggurita ? Peraturan mana yang tidak bisa ditemukan celahnya oleh pengusaha ?. Pegawai profesional mana yang tahan dengan todongan pistol ke kepala anak ?.

Titik krusial kedua berkaitan dengan mentalitas kami-mereka. Sudah menjadi cerita klasik hampir setiap merger, kalau organisasi pasca merger dipecah-pecah kedalam kelompok identitas lama. Lebih-lebih bila tercipta banyak manusia tertindas, atau dipimpin oleh manusia super diktator.

Lingkaran-lingkaran manusia terpecah dan saling menarik, terutama di awal merger, sulit dihindari. Kecurigaan mudah sekali timbul. Bahkan oleh persoalan sepele sekalipun. Faktor kepemimpinan memang amat menentukan.

Titik krusial terakhir, dan di sini tampaknya Bank Mandiri memiliki modal yang amat besar adalah kepercayaan. Pemerintah sebagai lembaga jaminan, kepemimpinan yang baru, titik berangkat yang sudah tepat, adalah serangkaian faktor yang membuat kepercayaan mudah diraih. Setidak-tidaknya kepercayaan dari luar seperti nasabah, kreditur dan debitur, lebih mudah diraih. Lain halnya dengan kepercayaan dari dalam. Interaksi antara pemilik yang rumit, dengan tarik menarik kepentingan di dalam yang menyengsarakan, membuat kepercayaan di dalam tidak cepat tercipta.

Saya tidak tahu bagaimana prediksi Anda tentang pemerintahan ke depan, namun memperhatikan permainan di Komisi Pemilihan Umum, mencermati skandal Tanjung Jati B dan Bank Bali, dan masih kokohnya gurita rezim lama, membuat saya pesimis. Apa lagi memperhatikan warisan orde bau (meminjam istilah usil Hartojo Wignjowijoto) yang masih tersisa di mana-mana.

Saya doakan Bank Mandiri agar berhasil. Namun ciri-ciri pemilik seperti di atas, bukan tidak mungkin membuat bank terakhir menjadi Babu Edan (bank bumi daya, eksport import dan dagang negara). Cirinya dua, terpecah-pecah kembali seperti sedia kala, bahkan bisa lebih buruk. Dan, menjadi babu bau bagi pemiliknya yang belum menunjukkan sinyal-sinyal perubahan.

 

 

 

Bali : Bagian Atas Licin


Oleh: Gede Prama

Dalam urusan gangguan rambut, saya sering diledek sudah sampai di tingkat satu : agus (agak gundul sedikit). Di tingkat dua, nama berganti menjadi robert (rontok berat). Berikutnya, bermetamorfose menjadi umar bakri (untung masih ada rambut belakang kanan dan kiri). Kemudian sebutannya wagub (wah gundul banget). Selanjutnya menjadi gunawan (gundul namun menawan). Dan yang paling parah, diberi nama bali (bagian atas licin).

Mencermati skandal drama panjang Bank Bali, yang disertai banyak plintat-plintut, maju-mundur, sana-sini, bohong membohongi, sehingga demikian menjengkelkan, saya teringat lagi dengan penyakit rambut yang paling parah tadi : bagian atas licin.

Bagaimana tidak licin, mereka yang berada di pucuk piramida skandal, tidak hanya lihai, licik dan tidak tahu malu. Namun juga demikian lincahnya, sampai-sampai menteri sekretaris kabinet, yang nota bene secara formal berada amat dekat dengan pusat kekuasaan, dan dijabat bukan oleh orang bodoh, didikte harus membacakan surat pernyataan, yang kemudian di depan DPR disangkal oleh Rudi Ramli.

Ibarat menempuh perjalanan, aktor-aktor skandal bank Bali telah memilih jalan yang amat licin. Sebagaimana nasehat orang tua, bila bermain air basah. Bermain api terbakar. Ada saatnya mereka yang menempuh jalan licin pasti akan terpeleset.

Lebih-lebih berjalan licin dilakukan oleh manusia-manusia yang dibuat gelap oleh nafsu, keinginan dan keserakahan kekuasaan. Lihat saja pada catatan sejarah. Tidak ada satupun penguasa licin dan licik yang tidak berakhir di jurang kekuasaan yang mengenaskan. Marcos, Pinochet, Mugabe adalah sebagian kecil dari manusia yang mengambil jalur licin dan licik, dan berakhir menyedihkan.

Sayangnya, sejarah hanya menjadi pelajaran yang amat berguna setelah tragedi terjadi pada diri kita sendiri. Ini juga yang menyebabkan, kenapa setiap era selalu memproduksi pemain-pemain kekuasaan yang licin dan licik.

Mungkin saja saya sejenis manusia yang amat naif. Akan tetapi, berspekulasi hidup di jalan licin, adalah satu hal yang tidak pernah saya coba. Oleh karena itulah, saya menaruh sangat sedikit respek pada manusia-manusia licin ala pemain skandal bank Bali. Lebih-lebih, kalau mereka menyandang predikat sebagai pemimpin. Disamping membohongi diri sendiri, ia juga meracuni masyarakat.

Coba perhatikan secara lebih cermat, bagaimana orang-orang biasa yang berjalan di jalan yang amat licin. Hidup akan senantiasa dibayangi ketegangan dan katakutan terpeleset. Situasi damai, tentu saja jauh dari jangkauan orang-orang terakhir. Ini tentu saja normal, wajar dan biasa. Yang tidak normal dan kurang ajar, bila ada orang yang berjalan di jalur amat licin, tetapi tenang, tegar, tidak pernah dihantui ketakutan, dan bahkan berani mengancam orang lain.

Piramid bagian atas dari skandal bank Bali, dihuni oleh manusia-manusia jenis terakhir. Orang-orang seperti ini, kala berada di kursi pemimpin, memang akan mendemokratisasikan banyak hal. Dan yang paling menonjol, meminjam argumennya Syahrir, mendemokratisasikan korupsi. Wajah korupsi, sebagaimana kita alami sekarang-sekarang ini, memang hingar bingar. Kalau di zaman orde baru, korupsi dilakukan secara tersembunyi, tidak ada yang berani malu mengembalikan uang jarahan. Di zaman reformasi ini, uang jarahan dikembalikan di depan umum, oknum yang sudah jelas-jelas tidak mengenal malu akan korupsi, justru berdiri pongah dengan bintang maha puteranya.

Inilah zaman yang amat licin. Demikian licinnya, sampai-sampai publik terpeleset dengan banyak sekali kebingungan. Hari ini Rudy Ramli mengumumkan catatan harian, beberapa minggu kemudian dibantah dengan surat bermeterai yang diumumkan mensesneg. Tak lama kemudian, di depan anggota DPR yang terhormat, surat bantahan terakhir tidak diakui oleh Rudy Ramli sendiri.

Hebohnya, segala bentuk kelicinan tadi semuanya dilakukan oleh piramida atas kekuasaan negeri ini. Persis seperti akronim bali (bagian atas licin), negeri ini bagian atasnya diisi sebagian oleh manusia-manusia berlidah dan bermulut licin.

Namun, dengan kepala sedikit jernih perlu dicermati, nasib kita sebagai bangsa tidak ditentukan oleh orang-orang yang kita lengserkan, namun didikte oleh manusia yang kita biarkan bertahan di atas.

Belajar dari sini, dibandingkan teramat sibuk melengserkan orang pasca Suharto, akan jauh lebih berguna dan produktif memikirkan manusia yang akan kita angkat.

Saya menghargai sekali rekan-rekan yang berjuang keras menuntaskan skandal bank Bali. Apa lagi rekan lain yang punya misi membersihkan negeri ini dari korupsi. Namun jangan pernah lupa, nasib kita lebih banyak ditentukan oleh orang-orang yang tidak kita lengserkan dari atas.

Bila agenda diskursus publik kita dihabiskan hanya untuk melengserkan orang, jangan-jangan kita akan berputar di lingkaran sejarah yang sama. Melengserkan orang, melengserkan orang dan terus menerus melengserkan orang. Betapa licinnya sejarah bangsa ini. Sama licinnya dengan skandal bank Bali.

 

 

 

Berumah Di Langit


Oleh: Gede Prama

Saat mata uang Baht pertama kali guncang, banyak pejabat pemerintah, pakar ekonomi, bankir dan pengusaha yang masih yakin akan kuatnya fundamen ekonomi kita. Sekarang, setelah hampir semua pihak dibuat babak belur oleh nilai tukar rupiah, tidak ada lagi yang berani berargumen demikian. Lebih-lebih, setelah sebagian besar sektor yang menjadi hajat hidup orang banyak ikut tersentuh. Sebutlah menggilanya tingkat bunga KPR, sektor properti yang meradang, perbankan yang dagdigdug, bayang-bayang kenaikan harga bahan pokok.

Setelah melihat semua ini, saya khawatir apa yang kita sebut sebagai fundamen ekonomi yang kokoh, jangan-jangan hanya sekadar argumen untuk konsumsi politik tingkat rendah saja. Namun, diberikan legitimasi berlebihan oleh mereka yang menyebut diri pejabat, pakar, politisi atau pengusaha. Setelah sekarang megap-megap semua, tidak sedikit orang yang merasa dirinya dikadalin.

Sebagaimana kejadian yang disertai oleh langkanya transparansi, spekulasipun beredar di sana sini. Dari tidak jalannya regenerasi ekonom pada zamannya Widjojo, banyak proyek tidak feasible namun dipaksakan, terlalu banyaknya vested interest dalam banyak kebijakan publik kita, sampai dengan kecurigaan penggembosan menjelang sidang umum MPR 1998.

Terlepas dari semua spekulasi ini, kita – dan juga sejumlah negara Asia Tenggara – sebenarnya sudah terlalu lama dibuai oleh banyak pujian. Baik oleh IMF, bank dunia maupun sederetan lembaga bereputasi internasional lainnya. Disebut sebagai daerah dengan keajaiban ekonomi, daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi, dan masih banyak lagi pujian sejenis.

Konsekwensinya, tidak sedikit policy maker kita yang dibuat over optimistic oleh pujian-pujian ini. Seperti seorang anak yang sering dipuji, ia mudah sekali menilai kemampuan dirinya jauh di atas realitas yang sebenarnya. Alias berumah di langit.

Ini yang bisa menjelaskan kenapa banyak proyek-proyek besar kita seperti berlari cepat, mau melompat, bila mana perlu terbang meniggalkan bangsa lain. Yang menyedihkan, kita bersedia membayar sangat mahal hanya untuk mempertahan pujian orang. Urbanisasi yang tidak pernah berhenti, petani cengkeh yang berteriak, petani jeruk yang loyo, nilai tukar barang desa dan barang kota yang cenderung semakin tidak seimbang, kebakaran hutan yang tidak tanggung-tanggung akibat dana reboisasi yang disunat, adalah sebagian kecil contoh dari besarnya biaya yang kita bayar untuk mempertahankan pujian tadi.

Belum lagi kalau bukti-bukti ini digabungkan dengan berbagai kontroversi. Seperti penduduk terbanyak di sektor pertanian, tetapi mengimport buah dan barang pertanian lainnya dalam jumlah yang tidak kecil. Pesawat terbang ditukar dengan barang pertanian yang sebenarnya kita bisa hasilkan sendiri. Teknologi pertanian kita yang tertinggal terus dibandingkan negara lain.

Melihat semua ini, ekonomi kita mirip dengan usaha membuat rumah di langit. Hampir semuanya serba mengambang. Tercabut dari akarnya. Petani yang merupakan mayoritas penduduk kita mau ditinggalkan. Sekarang, di tengah-tengah gejolak nilai tukar yang tidak menentu, tiba-tiba orang banyak mesti merogoh kantong untuk membayar bunga KPR yang melangit. Berdebar melihat harga kebutuhan pokok menaik secara pasti. Agaknya, tidak berlebihan kalau hal ini disebut sebagai harga mahal yang harus dibayar untuk mempertahankan pujian orang lain.

Sebagaimana rumah, kita bisa hidup tanpa langit-langit. Tetapi, kita tidak bisa hidup tanpa tanah dan bumi yang kita injak setiap saat. Perekonomian juga – saya kira – sama saja.

Merebaknya akibat yang ditimbulkan oleh krisis nilai tukar rupiah, mungkin merupakan saat yang tepat untuk segera melakukan koreksi. Bila anak-anak yang terlalu banyak ‘bermandi’ pujian, kedewasaannya sering terhambat. Perekonomian juga sama saja. Sebagai kumpulan manusia, kita tentu saja membutuhkan pujian. Akan tetapi, perlu diwaspadai bahwa tidak ada pembunuh kewaspadaan yang lebih sadis dari pujian orang lain.

Kalau mau jujur, early warning system dalam perekonomian kita sudah lama dibuat tidak berfungsi. Bukan oleh ketiadaan ekonom kaliber, tetapi oleh perasaan mabok dipuji orang lain.

Bagi saya, dibandingkan dengan hidup mentereng tetapi pada saat yang sama menginjak hidup banyak saudara, masih jauh lebih arif tampil sederhana namun hidup bahagia bersama saudara yang lain.

Dengan spirit ini, mungkin sudah saatnya melakukan evaluasi ulang terhadap kedewasaan perekonomian kita. Pertama-tama tentu saja mewaspadai pisau pembunuh kewaspadaan yang paling sadis yang bernama pujian. Kemudian, belajar hidup lebih realistis. Jika tanah tempat kita berdiri penuh dengan kebakaran hutan – bahkan sampai mengganggu tetangga – mari kita alokasikan energi untuk tidak mengulangi kekeliruan yang sama. Bila kebanyakan dari saudara kita menggantungkan hidup dari tanah dan pertanian, mari kita bangun kemajuan di atas apa yang kita punya. Jika banyak orang menjerit karena ketiadaan pekerjaan, mari kita upayakan cara biar mereka bisa menjadi manusia lebih bermartabat.

Keengganan untuk memperhatikan hal-hal terakhir ini. Apa lagi secara over optimistic beranggapan bahwa kita bisa melompat tanpa harus bertumpu pada apa yang kita punya, hanya akan membuat kita sebagai kumpulan manusia yang berumah di langit. Sayangnya, ia tidak pernah nyata. Berawal dari mimpi dan berakhir dengan mimpi serupa. Yang lebih menghawatirkan, kita harus membayar mimpi tadi dengan harga yang teramat mahal.

Sebagai salah satu komponen kecil bangsa ini, saya akan senang sekali kalau kita bisa berumah di langit. Akan tetapi, kalau ongkos yang harus dibayar demikian mahal. Lebih-lebih sangat tidak jelas kapan kita bisa berumah di sana. Saya memilih untuk berkesimpulan : ‘langit memang bukan rumah kita’.

 

Dari Krisis Ke Krisis


Oleh: Gede Prama

Beberapa kejadian besar di tahun 1997 ini, memberikan indikasi kuat bahwa kita termasuk bangsa yang hidup dari krisis ke krisis. Jatuhnya pesawat Sempati di Bandung, tenggelamnya kapal feri di danau Toba, terbakarnya ribuan hektar hutan, goncangnya nilai tukar rupiah, dan terakhir jatuhnya pesawat Garuda di medan adalah sebagian dari krisis-krisis tersebut.

Jika diamati lebih cermat, sebagian besar dari krisis-krisis tadi sudah pernah terjadi sebelumnya. Kendati dalam skala dan waktu yang berbeda. Oleh karena itu, bila benar pendapat sejumlah orang arif bahwa hanya serigala yang masuk lobang dua kali. Saya termasuk orang yang tidak tega menyebut bangsa ini sebagai bangsa serigala.

Jauh dari niat untuk sekadar mencari siapa yang salah, krisis-krisis tadi sebenarnya sebuah pelajaran berguna untuk segera melakukan reorientasi dalam sejumlah manajemen publik. Dikatakan demikian, karena tidak ada satupun anggota bangsa ini yang menginginkan krisis yang sama terulang kembali. Disamping itu, harga yang telah kita bayar untuk itu sudah terlalu mahal.

Salah satu segi dari manajemen publik yang ingin saya ungkap dalam kolom pendek ini adalah public discourse. Ada banyak pakar, manajer, konsultan, pengusaha, pengamat dan aparat pemerintah yang hanya bersemangat bila diajak berdiskusi tentang persoalan-persoalan ‘besar’. Lihat saja diskusi tentang gejolak nilai tukar rupiah, kebakaran hutan, dan terakhir jatuhnya pesawat Garuda di Medan. Tidak ada media yang absen dari pemberitaan ini. Hampir semua pakar dan pengamat bersemangat dengan topik seksi ini. Banyak manajer dan pengusaha yang getol sekali membicarakannya. Aparat pemerintah tentu saja tidak pernah ketinggalan dalam hal ini.

Bila saya ibaratkan dengan kebakaran, public discourse kita ditandai oleh lebih banyak diskusi tentang kebakaran setelah rumah kita sebagian besar terbakar. Jarang sekali – kalau tidak mau dikatakan tidak ada – ada diskusi dengan tema-tema kecil yang antisipatif.

Dibandingkan dengan diskusi sebab-sebab kebakaran – apa lagi mencari siapa yang salah – setelah rumah terbakar, jauh lebih berguna berdiskusi tentang bagaimana menggunakan kompor yang benar. Bagaima menghindari korsleting listrik. Bagaimana mendidik anak-anak agar sadar akan bahaya kebakaran, dan seterusnya.

Sayangnya, setiap ada upaya melempar tema-tema kecil yang antisipatif – seperti mendidik anak-anak agar sadar akan bahaya kebakaran – tidak sedikit orang yang alergi. Pers menyebutnya tidak memiliki nilai berita. Manajer dan pengusaha menyimpulkan sebagai tidak relevan. Pengamat dan pakar menganggapnya tidak perlu. Pejabat pemerintah merasa terlalu sibuk memikirkan hal-hal ‘kecil’.

Sebagai contoh kebakaran hutan. Bila sudah ada sinyal kemarau panjang, kenapa tidak sejak awal ada diskusi tentang bahaya kebakaran hutan yang menyeramkan ini ? Mengenai gejolak nilai tukar rupiah, bila kita sepakat dengan konsep globalisasi, kenapa tidak satupun pihak yang berani melempar isu nilai tukar sebagai konsekwensinya, jauh-jauh hari sebelum kita tenggelam oleh isu mendebarkan ini ?

Sebagaimana pohon besar, ia selalu mulai dengan sebuah biji benih yang kecil. Demikian juga dengan persoalan yang berakhir dengan krisis. Kebakaran mulai dengan percikan api yang kecil. Challenger meledak mulai dengan tidak berfungsinya spare part kecil yang disebut O-ring. Namun, tetap saja kita memiliki keengganan untuk berdiskusi tentang hal-hal kecil yang antisipatif.

Aspek kedua dari manajemen publik yang mau saya angkat ke permukaan setelah public discourse adalah cara berfikir di baliknya. Sebagaimana kita tahu, cara berfikir di balik banyak keputusan manajemen publik kita terlalu banyak bertumpu pada memori. Pada data dan informasi. Pada pengalaman-pengalaman masa lalu.

Ibarat piringan hitam, kita sudah diformat untuk menyanyikan lagu yang sama secara berulang-ulang. Sementara, persoalan yang muncul jarang sekali yang sama. Sebagai bukti, lihat saja diskusi bolak-balik tentang fundamentalisme ekonomi setelah gejolak nilai tukar rupiah. Atau tuduhan kiri kanan terhadap spekulan sejenis Soros. Sebagai hasilnya, bila sering timbul krisis, saya yakin karena banyak diantara kita yang memperkosa persoalan dengan kerangka-kerangka usang.

Padahal, manajemen sebenarnya berkaitan dengan apa yang perlu dilakukan. Bukan berkaitan dengan apa yang sudah dilakukan. Pengelola publik yang sedikit-sedikit menoleh ke data dan informasi, pengalalaman-pengalaman masa lalu, atau singkatnya pada memori, sebaiknya jadi pengurus museum saja !.

Belajar dari ini semua, mungkin sudah saatnya kita keluar dari segala bentuk kerutinan berfikir, dan mencoba memulai public discourse yang rada berbeda. Karena rutinitas mudah sekali menyebabkan kejenuhan dalam imajinasi, energi dan semangat.

Persoalan-persoalan penting yang membentuk masa depan – setidaknya menurut saya – tidak terdapat pada tema-tema seminar, lokakarya, berita besar media, atau bahan-bahan pidato pejabat. Melainkan tersembunyi di balik hal-hal yang sering kita anggap kecil dan sepele. Bila kita menunggu sampai persoalan dibicarakan secara besar-besaran – sebagaimana kebakaran hutan, gejolak nilai tukar dan kecelakaan pesawat terbang – sebenarnya sudah sangat terlambat. Tanpa ini, saya khawatir kita akan menghabiskan sebagian besar hidup dari krisis ke krisis. Dan kemudian, tegakah kita menyebut diri kita sebagai bangsa serigala ?

 

 

 

Selamat Datang Di Surga


Oleh: Gede Prama
Setiap kali berjumpa dengan sahabat-sahabat pengusaha yang keyakinan spiritualnya agak kurang memadai, hampir setiap kali itu juga saya dihadang pertanyaan serupa : apakah surga itu benar-benar ada ?. Sebagai seorang yang bukan pakar agama, tentu saja kerap terperanjat ketika dihadang pertanyaan jenis ini.

Dengan tidak ada maksud untuk memberikan jawaban instan, izinkan saya membawa Anda pada tataran-tataran renungan yang sudah saya lewati. Sebagai seorang pekerja, saya sudah melalui enam dan menuju tujuh tempat kerja. Kalau pekerjaan sebagai konsultan dan pembicara publik dihitung, jumlah tempat kerja yang pernah saya lewati bahkan sudah tidak terhitung jumlahnya. Dan hampir semuanya memiliki dua bagian tempat yang serupa : surga dan neraka. Apapun nama perusahaannya, di manapun tempatnya, dan di waktu manapun ia berada, selalu saja ada pojokan tempat kerja dan tempat hidup yang lebih menyerupai surga, dan juga yang lebih menyerupai neraka.

Di tempat yang menyerupai surga, ada orang-orang yang lebih banyak tertawa, bersahabat satu sama lain, saling bantu bila dibutuhkan. Di tempat yang menyerupai neraka, ada orang-orang yang saling sikut, saling menjerumuskan, intrik dan politik di mana-mana, jangankan salah, benar saja bisa menimbulkan perkara.

Setelah bosan menemukan wajah-wajah dunia yang hampir serupa di mana-mana, kadang saya merenung kembali, apakah wajah itu ada pada dunia, ataukah ia hanya cerminan dari pikiran kita manusia ? Ini yang menjadi fokus pertanyaan saya dalam kurun waktu yang cukup lama. Sampai suatu waktu membaca karya Krishan Chopra (Ayah kandung pemikir terkemuka Deepak Chopra). Dalam karyanya yang berjudul The Mystery And Magic of Love, ia menulis : “Heaven and hell are states of mind, different planes of consciousness”. Dengan kata lain, apa yang kita sebut dengan surga dan neraka sebenarnya tidak lebih dari sekadar konstruksi pikiran. Dan untuk sampai dalam konstruksi surga maupun konstruksi neraka, kita memerlukan pesawat kesadaran yang berbeda-beda.

Lama saya sempat dibuat tercenung oleh gelitikan pemikiran Krishan Chopra ini. Dan sempat sedikit menggoyangkan sendi-sendi keyakinan yang sempat ditanam lama oleh agama. Dengan tidak bermaksud untuk meng-claim bahwa konstruksi Chopra ini lebih tepat dibandingkan dengan konstruksi yang diajukan sejumlah agama, mari bersama-sama kita telusuri persoalan ini.

Andaikan saya dan Anda bertemu seorang wanita menangis tersedu-sedu di pinggir jalan. Atau, menemukan seorang anak yang bergerak nakalnya bukan kepalang di tengah bus umum yang sedang Anda tumpangi. Sementara, orang tuanya hanya membiarkan saja anaknya mengganggu ketenteraman umum di dalam bus. Pertanyaan titipan saya buat Anda, apakah kedua kejadian ini sepenunya baik atau sepenuhnya buruk ?

Tanpa bermaksud mengintervensi, menurut saya amat tergantung pada pesawat kesadaran kita masing-masing. Sahabat yang kesadarannya penuh dengan tulisan di mana wanita menangis umumnya karena kejadian buruk seperti disakiti suami, atau anak nakal lebih banyak terkait dengan ketidakperdulian orang tuanya, maka kedua kejadian tadi berwajah buruk. Sebaliknya, sahabat yang wilayah kesadarannya penuh dengan gambar wanita menangis karena bersyukur dengan nikmat Tuhan, atau anak nakal lebih banyak terkait dengan kreasi dan imajinasi, kedua kejadian di atas tentu saja lebih dekat dengan hal-hal positif.

Dalam tataran renungan seperti ini, mungkin layak untuk diendapkan kembali kalau sebagian besar penglihatan kita sebenarnya diproduksi pikiran dan kesadaran. Sehingga titik tolak dari setiap perubahan seyogyanya bermula dari perlunya mengelola kesadaran. Sayangnya, kesadaran bukanlah mahluk stabil yang mudah dikelola. Sebab, dalam kehidupan orang dewasa ia sudah tergambar demikian lama dan dalam kurun waktu yang panjang.

Namun seberat dan sesusah apapun, ia mesti dilakukan oleh siapa saja yang tidak mau hidupnya didikte pikiran dan kesadaran. Ada sahabat yang bertanya soal cara, dan ini bisa dimaklumi. Namun, apapun caranya, ketekunan untuk selalu menjadi pengelola – bukan pihak yang dikelola pikiran dan kesadaran – adalah hal yang teramat penting. Anda boleh saja menggunakan cara-cara yang berbeda. Kehidupan saya bertutur, pikiran lebih mudah digambar ulang melalui ketekunan doa di depan Tuhan. Lebih-lebih kalau ketekunan doa terakhir sudah sampai di tingkatan cinta bakti. Kendaraannya hanya satu : ikhlas.

Entah Anda bisa mengikuti jalan pikiran saya atau tidak, yang jelas melengkapi pendapat soal cinta bakti, ada seorang sahabat yang pernah menulis kalimat cantik nan menawan : “We find good people good, we find bad people good, if we are good enough”. Kita akan menemukan orang baik kelihatan baik, orang jahat kelihatan baik. Syaratnya cuma satu, kita menjadi manusia yang cukup baik. Begitu sampai dalam tataran di mana kita sudah cukup baik jadi manusia, siapapun manusianya, mereka senantiasa terlihat baik. Kalau demikian, bukankah Anda sudah sampai di surga ? Selamat datang di surga !. Dan yang membawa Anda ke sini bukanlah saya. Melainkan, ketekunan Anda untuk senantiasa awas akan pikiran dan kesadaran. Dalam bahasa sahabat saya, Anda sudah menjadi the master of your own mind. Kebahagiaan, kegembiraan, kedamaian, kejernihan bukanlah barang-barang mahal bagi master jenis terakhir.

Kolom Manajemen : “Mumpung Masih Diberi Waktu”


Oleh: Gede Prama

Setiap mengakhiri sebuah tahun, semua orang dihadang oleh sebuah kenyataan betapa cepatnya sang waktu berputar dan berlalu. Dan secara tiba-tiba, baru sadar ketika ada sahabat atau kerabat yang dipanggil kematian. Di situ kita baru merenung, kita masih diberi sisa waktu.

Mungkin Anda punya kenangan tersendiri dengan tahun 2001, demikian juga saya. Ada sejumlah catatan dan jejak waktu yang tertulis dalam sejarah saya di tahun 2001. Ada kejadian diangkat menjadi presiden direktur sebuah perusahaan swasta dengan dua ribuan karyawan di awal tahun, dan di akhir tahun diangkat lagi oleh sang kehidupan untuk menjadi presiden direktur sebuah perusahaan dengan empat puluh ribuan karyawan. Ada juga catatan-catatan yang menyedihkan seperti pernah diteror orang, didatangi karyawan yang marah sambil mengancam manajernya dibunuh di depan saya. Dan masih ada lagi catatan lain yang terlalu panjang untuk diceritakan. Boleh saja ada orang yang berdecak kagum, atau menyimpan kebencian setelah melihat catatan ini. Namun, bagi saya pribadi ada yang jauh lebih membanggakan dari diangkatnya saya oleh sang kehidupan dua kali di tahu 2001 di posisi tertinggi. Setelah mencoba beberapa kali di tahun-tahun sebelumnya, baru di tahun 2001 saya berhasil menemani sahabat-sahabat muslim berpuasa sebulan penuh. Inilah prestasi yang paling saya banggakan di tahun 2001.

Mirip dengan kejadian sebelumnya, di mana sejumlah sahabat mengira saya seorang kristiani ketika banyak menulis soal cinta dan kasih sayang, ada juga yang mengira saya seorang buddis ketika mereka tahu kalau saya seorang vegetarian, demikian juga dengan kegiatan berpuasa sebulan tadi. Bawahan di kantor yang biasa melayani saya membelikan makan siang, ada yang berbisik kalau saya sudah menjadi seorang muslim. Tentu saja semuanya hanya saya jawab dengan senyuman. Dan ada yang lebih penting dari sekadar memasukkan kegiatan-kegiatan membanggakan ini ke dalam kotak dan judul tertentu. Yakni, bagaimana sang waktu diisi.

Kadang ada anggota keluarga – terutama isteri – yang kasihan melihat saya menempuh jalan-jalan kehidupan seperti ini. Dulu, ketika berada pada kehidupan yang amat di bawah dan amat jarang bisa membeli daging, bermimpi bisa makan daging setiap hari. Sekarang, ketika membeli daging bukan lagi menjadi sebuah kegiatan yang teramat sulit untuk dilakukan, tiba-tiba saya memutuskan hubungan dengan kegiatan makan daging. Dulu, ketika makan adalah sebuah kemewahan dan hiburan yang amat menyenangkan. Sekarang ketika membeli makanan adalah sebuah perkara kecil, malah berpuasa dalam waktu sebulan. Demikianlah kira-kira isteri saya kadang mengeluh di rumah. Dan semua keluhan ini hanya saya jawab dengan senyuman sederhana plus kalimat sederhana : mumpung masih diberi waktu.

Serupa dengan lagu indah Ebiet G. Ade yang berjudul ‘Masih ada waktu’, hidup memang sebuah perjalanan abadi. Hanya karena kehendakNya, kita masih bisa melihat matahari. Ebiet memberikan kita sebuah alternatif yang layak untuk direnungkan : bersujud. Satu spirit dengan saran bersujud ala Ebiet, Kahlil Gibran dalam The Prophet pernah menulis : ‘your daily life is your temple and your religion’. Kehidupan sehari-hari Anda adalah tempat sembahyang sekaligus ‘agama’ Anda. Sulit membayangkan, bagaimana seseorang yang menyebut dirinya beragama tetapi setiap hari pekerjaannya hanya menyakiti hati orang lain. Susah dimengerti, kalau ada orang yang datang ke tempat ibadah demikian rajinnya, atau menyumbangkan dana besar untuk pembuatan tempat ibadah, tetapi hampir setiap hari mencuri uang orang lain.

Dalam bingkai-bingkai Ebiet dan Gibran, mungkin lebih menyentuh hati orang-orang biasa yang tidak pernah menyumbang, tidak pernah menyebutkan agamanya, tetapi mengisi waktu-waktunya dengan cinta dan kasih sayang. Atau orang-orang yang namanya tidak pernah menghiasi media, tidak dikenal siapapun, namun mengisi hari-harinya dengan senyuman buat kehidupan. Atau orang yang tidak pernah menduduki satu kursi jabatanpun, tidak menyandang gelar apapun, namun menunjukkan keteladanan-keteladanan kehidupan yang mengagumkan.

Terinspirasi dari pemikiran-pemikiran orang seperti Ebiet dan Gibran inilah, saya merelakan diri hidup dalam jalur-jalur yang oleh kebanyakan orang disebut menyengsarakan. Tidak untuk gagah-gagahan, tidak juga karena haus akan pujian, akan tetapi melalui solidaritas, disiplin diri, kesederhanaan saya sedang mengukir sang hidup dengan catatan-catatan waktu. Dan ketika suatu waktu putera puteri saya, atau orang lain membuka serta membacanya, mereka akan tahu, pernah ada seorang ayah atau seorang penulis yang hidup dengan tingkat solidaritas dan disiplin diri tenrtentu. Kemudian, membuahkan kehidupan yang hanya mengenal bersujud di depan Tuhan.

Sebagai orang yang bergaul ke mana-mana, kerap saya diberikan banyak kartu nama oleh banyak orang, lengkap dengan jabatan mentereng di bawah nama yang bersangkutan. Ini membuat saya berimajinasi, kalau suatu saat saya bisa memiliki sebuah kartu nama, di mana di bawah nama saya ada jabatan yang bisa mewakili kesukaan saya untuk bersujud di depan Tuhan. Mimpi ini muncul di kepala karena teringat oleh salah satu tulisan Gibran dalam The Prophet : ‘beauty is life when life unveils her holy face (kecantikan adalah kehidupan yang wajah sucinya terungkap). Dan saya berterimakasih bisa mengetahuinya ketika Tuhan masih memberi cukup waktu.

 

%d blogger menyukai ini: