Posts from the ‘Hakikat & Filsafat’ Category

Resume Buku : “Philosophy of Science after Feminism


ClickHandler.ashx1Penulis : Janet A. Kourany
Penerbit : Copyright © 2010 by Oxford University Press, Inc.
ISBN 978-0-19-973262-3; 978-0-19-973261-6 (pbk.)
Halaman : 162 halaman

Filsafat Ilmu setelah Feminisme
Studi dalam Filsafat feminis dirancang untuk menampilkan monograf mutakhir dan koleksiyang menampilkan berbagai pendekatan feminis terhadap filsafat, yang mendorongpemikiran feminis dalam arah baru yang sangat penting, dan menampilkan kualitas luar biasa dari pemikiran filsafat feminis.

Penulis (JanetA.Kourany) menyebutkan bahwa tujuan Filsafat Ilmu setelah Feminisme adalah untuk menyediakan cetak biru bagi sebuah filsafat ilmu social agar lebih terlibat dan bertanggung jawab secara sosial dari filsafat ilmu yang ada sekarang, filsafat ilmu pengetahuan yang dapat membantu untuk mempromosikan ilmu pengetahuan sosial terlibat dan bertanggung jawab secara sosial dari ilmu yang ada sekarang. Feminis-feminis ilmuwan dan sejarawan ilmu pengetahuan, serta filsuf feminis ilmu, telah mengejarjenis filsafat ilmu dalam bidang yang berkaitan dengan gender selama tiga dekade sekarang. Strategi yang digunakan oleh penulis bukuini dengan mengadopsi danmengembangkan pekerjaan mereka, yaitu sebuah program baru penelitian yang komprehensifuntuk filsafat ilmu. Untuk menjelaskan hal ini penulis membaginya menjadi lima bab.

Bab satuA Feminist Primer for Philosophers of Science ,meliputi; The Role of Science, Toward a new Role for Science, Toward a new Role for Pholosophy of Science dan Plan of the Book.

Di banyak Negara ada reverensi yang lebih besar untuk anak laki-laki dibandingkan perempuan, dan banyak di Negara lain, bayi perempuan dibunuh karena seks yang “salah”. Kekerasan melawan perempuan dan gadis tidak tertangani di setiap benua, Negara dan budaya dan ini adalah masalah yang pandemic. Satu dari tiga wanita di dunia di pukuli, dilibatkan dengan sex, atau dilecehkan seumur hidup (UNIFEM 2007). Apalagi, “wanita beresiko lebih besar dari kekerasan laki-laki yang mereka kenal. Di Australia, Kanada, Israel, Afsel, dan Amerika, 40-70% korban pembunuhan yang dibunuh pasangannya.” (UNEPA 2005)
Prostitusi dan pornografi dan penyeludupan wanita, multilasi genetika wanita, dan pembunuhan, restriksi yang berhubungan dengan reproduksi dan sosialisasi gender dan penyalahgunaan seksual dan masih banyak lagi masalah yang komplek bagi keberadaan wanita. Wanita di dunia selalu inferior dibanding laki-laki, mendapatperlakuan kasar, gaji yang kecil, perlakuan yang buruk di dalam atau di luar rumah.
Sains dapat menjadi kekuatan perjuangan dalam persamaan bagi wanita. Sains, dapat mengekpos tanggapan masyarakat melawan wanita atas persoalan ini, dan sains dapat menjustifikasi penempatan dalam perspektif kesamaan. Sebagi contoh, secara histrois, wanita lebih inferior dari laki-laki-secara intelektual, social, seks, bahkan moral (Marecek 1995; Wilkinson 1997). Di beberapa abad, diklaim bahwa otak wanita lebih kecil dari otak laki-laki, bahkan membenarkan perbedaan tubuh.
Benar bahwa dengan estimasi lebih dari 15,000: kajian kognitif manusia berbeda sex (kelamin); mereka gagal menemukan tidak ada perbedaan sex, mereka gagal melaporkan efek dari ukuran perbedaan kelamin, mereka gagal memasukan sample, mereka mengasumsikan sebagai basis biologis data crossculture (Halpern 2000). Tapi laporan berbeda mengatakan :
Kita dapat mengatakan dengan pasti bahwa ada perbedaan seks yang subtansial dalam fungsi kognitif seperti kemapuan rotasi (laki-laki), matematik (wanita), kemampuan motoric (wanita), dekteriti jari (wanita). Kita juga dapat menyatakan bahwa fungsi yang sangat berbeda secara seksual dengan kuat terpengaruhi oleh lingkungan hormonal (Kimura 2006, 181)
Sebagai hasil dari representasi lalu, perkumpulan laki-laki inti dari evolusi laki-laki, laki-laki itu aktif, instrumental, penyedia, innovator,. Pada saat yang sama, wanita sebagai pinggiran, tidak aktif dan justifikasi persamaan gender masih ditemukan hari ini (Conkey dan William 1991)
Sains, telah banyak mengerjakan untuk menguatkan dan menambah masalah wanita berkonfrontasi daripada menyelesaikannya. Tapi, tentunya, sains telah mengasilkan banyak informasi berkaiatan dengan masalah ini, dan ilmuwan juga telah menyediakan beberapa usaha untuk mengatasinya.
Inti dari bab ini mengenalkan jenis pertanyaan normative berdasarkan sain feminisme yang telah diyakini. Pertanyaan ini menempatkankan sains dengan kontek social yang lebih luas, investigasi aspek epistemic sain seperti mereka melihat dengan aspek ekonomi, sosiopolitik dan etik sain. Pertanyaan ini berseberangan dengan pertanyaan normative berdasarkan mainstream pilosofi sekarang. Filsafat ilmu lebih bertanggungjawab secara social dibanding filsafat yang ada sekarang.

Bab duaThe Legacy of Twentieth-Century Philosophy of Science, meliputi; The Professionalization of Philosophy of Science,Obstacles to Success, A Further Obstale,Early-Twentieth-Century Philosophy of Science: The Vienna Circle, Diagnostic Reflections, Prognostic Reflections, Therapeutic Reflections,

Departemen Pendidikan baru dan swasta telah memformat secara khusus terhadap filsafat ilmu, jurnal, buku seri yang di launching, dan pemerintah telah mensupport penelitian melalui sumber anggarannegara.
Dalam bukunya, Reichenbach telah mengatakan bahwa tugas filsafat ilmu adalah menganalisis “struktur internal” dari ilmu saintifik, bukan “relasi eksternal” (Reichenbach 1938, 3-8)
Pada akhir tahun 1950-an, Thomas Kuhn, Paul feyerabend, Norwood Russel hanson, Stephen Toulmin, dan banyak lagi pilosof dan ahli sejarah yang berbeda sains mengeluh bahwa filsat ilmu gagal membuat kontak dengan sains yang aktual. Masalahnya pada logika sains. Logika, tentunya relevan dengan rasionalitas saintifik. Tapi logika jauh dari cerita keseluruhan.
Program empiris logika pada abad pertengahan memfokuskan perhatiannya pada hasil teoritis sains. Ini yang dikeluhkan oleh Stephen Toulmin dan yang lainnya (1953, 1961)
Abad pertengahan kontek social dari sains dipengaruhi oleh sains militer secara masif:
Pertama, ini dipengaruhi oleh efek metodelogi dan organisasional. Kedua, efek subtansif. Dan ketiga, efek social.
Banyak beasiswa abad 20 pilosof sains di Vienna Circle, ini dimotivasi oleh kontek social dan politis.
Di pertengahan abad duapuluh, Vienna Cicle dan konsepsi dunia saintifik mampu menjalankan peran yang signifikan, dalam sain atau kehidupan social. Pilosof sains feminism, berkolaborasi dengan sejarawan feminis dan sosiolog, telah mengabadikan analisis komprehensif dari sain dalam masyarakat selama bertahun-tahun. Mereka memberi kita model bagaiman melakukan hal itu.

Bab tigaWhat Feminist Science Studies Can Offer, meliputi; The Methodological Approach to Sexism in Science, The Ideal of Value-Free Science, The Social Value of Science: A Social Approach to Sexism in Science, The Empiricist Ideal of Science: A Naturalist Approach to Sexism in Science, The Ideal of Socially Responsible Political Approach to Sexism in Science, Where You Take Over the Examination of the ideal of Socially Responsible Science, Where You Come to a Decision.

Melawan androcentrisme ( karakter laki-laki & wanita) dan sexisem (dualisme seksual) adalah hal pertama yang dilakukan oleh feminists (para ahli feminisme) dalam masyarakat, melawan androcentric dan sexism dalam ilmu pengetahuan adalah hal utama bagi semua feminist. Tapi bagaimana melakukannya?
Ahli feminist dan sejarah menyingkap sexism dan androcentrisme dalam bidang seperti antropologi, sosiologi, politik, penelitian medis, psikologi, biologi, dan arkologi, mereka menyingkap halangan yang dihadapi oleh ahli feminisme dengan baik dari persoalan tersebut. Mereka menginvestigasi dengan tindakan yang diperlukan untuk merespo. Dari penelitian dihasilkan tidak hanya sekedar perhiasan yang ‘wah’ tapi juga sebuah perangkat yang penting bagi kontekstual Filsafat ilmu dengan eksistensi rasisme, heteroseksual, pengkelasan.

Pendekatan Metodologi terhadap Sexism dalam Ilmu Pengetahuan
Banyak ilmuwan feminisme menunjuk bahwa paham sexism dan androsentris adalah hal yang gagal dalam standar konsep dari formasi atau design eksperimental atau analisis data atau yang lainnya melalui metodelogi ilmu tradisional yang kurang baik. (lihat, Hubbard 1979; Bleier 1984; Fausto-Sterling 1985).
Isu premenstrual syndrome (PMS-sindrom menstruasi) adalah kasus yang dicatat. Tahun 1980-an, PMS menjadi masalah biomedical dalam proporsi yang signifikan. PMS di Inggris menjadikan wanita kurang mampu mengendalikan posisinya dan tanggungjawabnya dalam masyarakat dibanding laki-laki (Riitenhouse 1991; Easteal 1991; Chrisler and Caplan 2002).
Masalah metodelogi yang serius yang sama berkenaan dengan penelitian sexist (seksual) dan androsentris dijelaskan dalam bab 1. Sosiolog feminisme Margit Eichler (1998) memperkenalkan sebuah “metode penelitian untuk non-seksual” untuk membantu pelajar atau peneliti yang diharapkan untuk melakukannya. Dia berkata : “Metode saya simple. Saya mengunjungi perpustakaan dan mengambil apapun issu terakhir dari jurnal dari berbagai disiplin ilmu, sehingga saya menemukan paling sedikit satu contoh dari sexism di setiap jurnal. Sedihnya, ini benar terjadi”. Psikolog feminisme Carolyn Sherif, sebagai contoh, menyarankan bahwa “ kepercayaan tentang cara proporsional untuk meyakinkan ilmu pengetahuan yang telah membuat penelitian psikologi secara ganjil cenderung bias dalam konsep, eksekusi dan interpretasi” (Sherif 1979, 63).

Ilmu yang Ideal Bebas Nilai
Menurut ilmu bebas nilai, investigasi saintifik harus dijaga kebebasannya dari komitmen politis dan etis. Akhir abad ke-20, nilai ilmu bebas yg ideal telah gagal hampir tidak dihargai. Nilai ilmu bebas yang ideal, dari semua kepentingan politik dan etis, menawarkan harapan yang dapat menyelesaikan, bahwa akhirnya, ilmu pengetahuan tersebut dapat menyediakan informasi yang objektif tentang wanita, dan dalam prosesnya, menyingkap dan memindahkan prasangka masyarakat melawan wanita, dengan tidak benar-benar menguatkan. Baik dari bidang politik, ekonomi dan sosiologi.

Manajemen Nilai Sosial yang Ideal dari Ilmu Pengetahuan: Sebuah Pendekatan Sosial Terhadap Sexism dalam Ilmu Pengetahuan.
Objektivitas saintifik harus melakukan dengan kebenaran dari saintifik klaim terhadap ilmu pengetahuan. “ sains adalah pikiran untuk menyediakan kita pandangan dunia yang objektiv dalam dua hal yang berbeda dari term tersebut” (Longino 1990, 62).
Masalahnya menurut Longino, ahli feminis pada masa lalu mefokuskan pada metode saintifik individual untuk membuka nilai social seperti sexism dan androsentris.
Manajemen nilai social dari Longino, rasionlaitas saintifik (objektivitas) adalah fungsi kerja komunitas, bukan sikap dan kebiasaan ilmuwan secara individual seperti nilai ilmu bebas dan pendekatan metodelogi yang rasional. (pendekatan Longino ini sangat berbeda dengan ilmuwan feminisme).
Empiris yang Ideal dari Sains: Sebuah Pendekatan Natural terhadap Sexism dalam Sains.
Ketika kita melihat praktisi saintifik yang sukses selama tiga dekade terakhir, kita menemukan bahwa yang menangani masalah gender dan relavansinya telah dihasilkan oleh ahli feminisme. Ada dua hal yang ditawarkan oleh naturalis feminisme ; pertama ‘standpoint hypotesis’ –wanita berkeinginan sama/lebih baik posisinya dengan laki-laki dalam mendeteksi sexism dan androsentris dalam sains dan menempatkan mereka dalam perspektif yang sama. Kedua ‘hypotesis nilai’ –feminisme memiliki pengaruh dalam perkembangannya.
Antonio (1993) dan Campbell (2001) mengklasifikasi sexism dan rasisme dengan nilai social feminis sebagai “bias”. Mereka kemudian membuat sebuah jarak antara “bias yg baik” (membimbing kita kpd kebenaran) dan ‘bias yg jelek’ (menjauhui kita dari kebenaran). Tegasnya, “kita harus memperlakukan kebaikan dan kejelekan dari bias sebagai pertnyaan empiric (Antony 1993, 215). Solomon (2001) juga mengklasifikasi bersama-sama nilai social dari egalitarian, rasisme dan sexism sebagai “ideology”.

Cita-cita dari Sain yang bertanggung Jawag terhadap Sosial: Pendekatan Politis terhadap Sexism dalam Sains.
Cita-cita dari responsibility secara social adalah mampu memenuhi peranan politik dari sain yang bebas nilai. Carolyn West , concern dengan penelitian psikologinyadalam masalah kekerasan domestic di Amerika (West 2002; and see West 2004). Meneliti kekerasan antara wanita kulit putih dan kulit hitam. Kekerasan yang dilakukan lawan intimnya. Disana, wanita kulit hitam memiliki streotip bahwa mereka lebih yang melakukan kekerasan daripada etnis lain. Dia melihat dari motif, kontek dan outcome dari aksi-aksi kekerasan. Metode yg digunakan qualitative dan quantitative. Masalah rasisme, kejahatan bersenjata dan pelecehan seksual.
Satu contoh dari West : selama era perbudakan, mereka mengalami trauma, yang bersaksi atas penculikan suami, saudara laki-laki, anak dan bapaknya dari pemilik budak. Diskiriminasi, manipulasi dan pelecehan (2002, 229).West telah menerima penghargaan dari komunitas kulit hitam untuk hal yang dikerjakannya-Outstanding Researcher Award- dari Lembaga Kekerasan domestic di Komunitas Amerika Afrika dimana aman untuk mengatakan bahwa program penelitian berfokuskan stereotype akan menemui respon yang berbeda.

Dimana Anda Menemui Sebuah Keputusan
Debat yang complicated tentang hubungan feminisme dengan multikulturalisme in Okin 1999. Bahwa wanita kulit hitam tidak menerima kesempatan yang sama dengan wanita kulit putih untuk hidup tanpa takut mendapat kekerasan dari partner domestic.
Apa hasilnya? Ini dapat memenuhi peran politik dan epistemic dari cita-cita lama dari nilai sain yang ideal.

Bab empatChallenges from Every Direction, meliputi; The Epistimological Challenge, The Historical Challenge, The Sociological and Economic Challenges, The Political Challenge.

Tantangan yang harus dihadapi, diterima dan direspon adalah gender, feminisme dan permasalahannya: Pertama; justifikasi epistemology -sains-ahli terlatih yang proporsional, Kedua ; justifikasi historis –efek epistemic yang dihasilkan dari sains, Ketiga; justifikasi sosiologis – menekankan kognitif unik pelembagaan social dalan sains, Keempat; justifikasi ekonomik – menekankan kemajuan sosioekonomi yang luar biasa yang dihasilkan dari kemajuannya. Terakhir, Kelima; justifikasi politik – pemaksaan bahwa ilmuwan memiliki hak kebebasan meneliti dan kebebasan berbicara.
Tantangan Epistimologi (campur tangan sains)
John Stuart Mill terkenal dengan strategi “marketplace of idea” ; strategi menurut akuisisi ilmu pengetahuan dengan investigasi bebas berdasarkan opini (Mill [1859] 1956,21)
Thomas Kuhn, di sisi lain, strategi optimal bertolak belakang; sesuatu harus diungkapkan melalui sains apa yang dilihat atau dimana yang dicari dan pendidikan seseorang sebagai sains yang menyuplainya (Kuhn 1963,)

Tantangan Historis
Tantangan historis focus pada episode khusus dari produk ilmu pengetahuan saintifik lebih dari strategi umum untuk menghasilkan ilmu pengetahuan (knowledge).Di buku ini menjelaskan contoh penelitian Lysenko pada era Hitler berkaitan dengan genetika. Syarat dari sebuah sains yang harus di-judge oleh dua standar ; standar politis dan epistemic (sains) dan harus memenuhi kemajuan sains dan progress sains.

Tantangan Ekonomi dan Sosiologis
Pertama, tantangan sosiologis,. Ini adalah formulasi klasik yang diberikan pada tahun 1942 oleh arsitek utama dari sosiologi modern, Robert K. Merton. Menurut Merton, institusi sains ditandai dengan “etos” atau “norma dan nilai yang kompleks dilakukan pada sains” ([1942] 1973, 268-269). Etos ini menggabungkan dua elemen; kognitif dan social, ditransmisi oleh “contoh dan aturan” dan di tegakkan oleh reward dan hukuman. Dan ini dilegitimat oleh tujuan sains. Ini adalah yang membentuk etos dari sains. Bagi Merton the original four (4 yang asli)-“komunisme, universalisme, ketidaktertarikan / disinterest” dan “skeptism menjadi inti dari etos sains.
Merton menekankan bahwa “institusi sain adalah bagian dari struktur social yang lebih luas yang tidak selalu terintegrasi”. Ketika kultur yang lebih besar melawan universalisme- “atau komunisme atau disinteresisme atau skeptisisme-“ etos dari sains di subjeksi pada tekanan yang serius (271). Ini terjadi pada system totalitarian NAZI Jerman dan Uni Soviet.Menurut tantangan ekonomi, apalagi, ketika peningktan sians dijamin, seperti juga kemajuan sosioekonomi. Menurut laporan kajian Vannevar Bush :
Kemajuan dalam sains membuat banyak lapangan pekerjaan, upah tinggi, jam yang lebih pendek, panen yang bagus, makin banyak tempat rekreasi, untuk belajar, tidak seperti masa yang lalu. Ini juga membawa standar hidup yang lebih tinggi, membawa pencegahan atau pengobatan penyakit. (Bush 1945, 5)

Kebalikannya, “tanpa kemajuan sains tidak ada yang dapat menjamin kesehatan, perumahan, dan keamanan sebagai sebuah Negara dalam dunia modern”. Menurut Bush juga bahwa penelitian dasar akan menyediakan capital (modal) saintifik, dengan meningkatkan aplikasi ilmu pengetahuan. Ini akan menciptakan kemajuan teknologi. Ini juga akan menciptakan pengembangan dan inovasi teknologi. Hal ini yang akan membuat dukungan subtansial dan terus-menerus terhadap basic research (penelitian dasar). Tanpa keterlibatan hal tersebut tidak akan membuat keuntungan sosioekonomik yang akan menjadikan kontrak social bagi sains.
Menurut tantangan ekonomi, kemajuan sains akan membuat keuntungan social, sedangkan menurut tantangan sosiologis, etos sains akan memfasilitasi kemajuan tersebut. Menurut tantangan economic dan sosiologis, jelasnya, tujuan motivasi yang mengadopsi ideal dari sains yang bertanggung jawab secara social akan terpuaskan.
Dari keterangan diatas, penelitian sosiologis dan historis yang dimulai pada tahun 1950-an masih gagal mekonfirmasi eksistensi dari sebuah etos Mertonian (Barnes and Dolby 1970).
Pengalaman 30 tahun atau lebih menunjukan fenomena dari sains dan teknologi berdasarkan pertumbuhan ekonomi terlihat diikuti dengan meningkatnya kualitas distribusi keuntungan ekonomik (Sarewitz, Foladori, Invernizzi, dan garfinkel 2004, 69)
Kemajuan teknologi dan saintifik saat ini diperlakukan untuk membuat ideal dari sain yang bertanggung jawab secara social bahkan dibutuhkan.

Tantangan Politis
Penelitian saintifik harus bebas dari represif laten dan pengaruh birokrasi, politik, agama dan perintah/pengaruh uang (Rabounski 2006, 57). Lebih jelasnya : Sebuah pekerjaan sains untuk institusi, otoritas, atau agency akademik, menjadi kebebasan yang lengkap sebagai sebuah penelitian, yang dibatasi oleh kemampuan intelektual dan dukungan yang ditawarkan melalui institusi, otoritas atau agency pendidikan. Semua ilmuwan memiliki hak untuk mempresentasikan penelitiannya kepada public melalui media yang tersedia, tanpa pengaruh dogma agama, politik, opini orang. Dan dijamin tidak akan diblacklist hanya karena penelitiannya.

Bab limaThe Prospects for Philosophy of Science in the Twenty-First Century, meliputi; A Glance, Again, at the Past, Challenges of the Present, Philosophy of Science: A Subject with a Great Future,Final Thoughts.

Sebuah janji telah dibuat pada permulaan buku ini untuk menyediakan sebuah program penelitian baru dari filsafat ilmu. Apa janji tersebut dipegang? Kita lihat.
Bab 1 dimulai dengan riview beberapa problem yang sangat menekan wanita berada dalam masyarakat hari ini.
Bab 2 eksplore akar dari filsafat ilmu terkini abad 20 dihubungankan dengan sain yang telah eksis dari vakum sosial, politik, ekonomi.
Bab 3 berbicara tentang metodelogi pendekatan feminsme, nilai social, dengan masalah andosentris dan sexism
Bab 4 ideal sain yang bertanggung jawab secara social dengan melawan 5 tantangan penting (epistomologi, historis, sosiologis, ekonomi dan tantangan politik).

Tantangan Hari ini
Hari ini, sains menderita dari masalah imej yang serius, terhadap masyarakat, generasi masa depan dan masalah lingkungan (global warming). Amerika telah menghabiskan 25 milyar dollar pada penelitian sistim iklim-globaldalam menciptakan kebijakan iklim tapi belum menjadi aksi yang berarti di kebijakan tersebut (Sarewitz 2006). Masalahnya, malah, semakin memburuk.

Filsafat Ilmu : Sebuah Subjek dengan Masa Depan yang Benar
Pertama, Penelitian AIDS. Lebih dari 25 juta orang di seluruh dunia meninggal karena AIDS. 33 juta orang terkontraksi AIDS. Tapi 9 dari 10 orang yang terjangkit HIV tidak mengetahui mereka terjangkit penyakit tersebut. (UNAID 2008, 15). Kedua, Penelitian kanker. NCI dan ACS (badan yang menangani kanker) di amerika telah melakukan penelitian dan bertanggung jawab terhadap perang melawan kanker.

Pemikiran Akhir
Akhirnya, terlihat penerimaan yang cepat dari Filsafat Ilmu feminis dan beasiswa kajian sains feminis secara umum, diantara Filsafat ilmu lainnya. (Rouse 1997, 210). Paling tidak ini menjadi harapan dari buku ini. Tentunya, pengejaran kerja tidak akan menjamin fisafat ilmu menjadi intelektual public. Tapi ini dapat dijadikan sebuah awal dari sebuah pandagan tentang gender.

Promosi idelogis dalam pendidikan


Promosi didunia pendidikan mungkin tidak segemebyar di perusahaan dengan pertimbangan biaya dan tentu saja mencari alternatif promosi yang efektif dan tidak boros.

Namun lebih efektif dengan terlebih dulu mempertimbangan Need dan want customer, selain faktor yang tidak terlalu diperhitungkan  adalah faktor ideologi, karena sekolah adalah menjual respek ideologis-humanitis  selain kualitas pelayanan. Setuju atau tidak itulah permasalahan.

Contoh sebagian sekolah Muhammadiyah di Jawa barat kurang begitu berkembang dibandingkan dengan sekolah di Jawa tengah dan yogyakarta, baru dugaan lebih terbentur dengan ideologi dibanding dengan kualitas. sehingga begitu sulitnya untuk menghimpun siswa setiap tahun ajaran baru dan kebanyakan anak kader muhammadiyah atau para simpatisan. Berbeda label Muhammadiyah dihilangkan tapi sistem kurikulum masih memakai ciri khas Muhammadiyah ternyata berkembang sangat pesat.

Baru asumsi pengaruh ideologi terhadap respek customer Sehingga dapat mempengaruhi karakter pemilihan sekolah, tapi peralihan dari fase tradisional  setempat yang masih terlalu masip ternyata secara perlahan menepiskan pengaruh ideologis terhadap pemilihan sebuah jasa atau produk, padahal perbedaan  ideologis  semakin tidak terlihat lagi. Jadi Ketakutan akan ideologis “mengmuhammadiyahkan siswa” tidak terbukti dan ternyata lulusannya-pu tidak terlihat secara langsung menjadi kader muhammadiyah secara struktural.

Kita lupakan sejenak kultur ideologi tapi itu hanya salah satu penghambat dalam promosi, tapi ternyata promosi yang epektif berasal dari peserta didik itu sendiri dalam bentuk pelayanan yang maksimal dari stakhoulder sekolah selain penekanan disiplin yang membuat nyaman peserta didik sehingga tercipta ‘fun learning’ atau kita bisa meniru SDIT atau SMPIT yang dikembangkan kader PKS dengan memperkuat jaringan internal kader yang menjadi market-nya sehingga memudahkan dalam menata promosi dengan lebih baik sehingga terlihat lebih disiplin dengan menonjol unsur keunggulan pada bidang religi-nya seperti hapalan Al-Qur’an 3 juz dan displin ibadah yang positif dengan plus  kurikulum berbasis alam dimana siswa berdekatan langsung dengan alam sehingga bisa melatih unsur motorik yang terkadang tidak berimbang dengan kondisi internal siswa didik, dimana sekolah lebih menekankan pada unsur kognitif dan apketif saja.

Ringkasnya promosi sekolah bisa dilakukan melalui :

  • Promosi sekolah lebih efektif lagi dengan menata keharmonisan hubungan dengan karakter budaya masyarakat karena yang sekolah tawarkan pada masyarakat adalah unsur manusianya yang unik dan penuh karakteristik sehingga penanganan promosi sekolah harus menata hubungan yang menciptakan branch image yang bisa meyakinkan orang tua siswa berupa garansi yang diberikan sebagai point quality.
  • Media yang saat ini mesti dicoba adalah promosi melalui website sederhana  sebagai media promosi dan sebenarnya tidak begitu mahal bahkan bisa gratis seperti penggunaan wordpress.com, multiply.com ataupun situs blogger yang cukup terkenal dikalangan para blog walking.
  • promosi harus bisa menciptakan kedekatan antara sekolah dengan siswa sesuai dengan kebutuhan dasar anak didik, termasuk kualitas guru perlu teruji.
  • Nilai unggul dalam pelayanan pendidikan sebagai hal yang sering dikejar orang tua siswa selain disiplin dan beban materi yang padat-pun tidak menyurutkan usaha orang tua siswa yang menginginkan adanya pendidikan yang sesuai secara ideologis dan dari segi kemampuan sekolah untuk menciptak kultur yang sesuai dengan keinginan masyarakat.
%d blogger menyukai ini: