Pos-pos oleh Ahmad Elqorni

Dahsyatnya Otak Dan Pikiran Manusia


brainjar_2A.PENDAHULUAN

            Bila diminta membayangkan sosok yang cerdas, siapa yang muncul di benak Anda? Banyak orang akan membayangkan ilmuwan terkenal seperti Albert Einstein atau B.J. Habibie, atau kenalan dan saudarayang punya prestasi cemerlang di sekolah. Gambaran ini tidak salah. Kecerdasan memang identik dengan kemampuan intelektual yang tercermin dalam prestasi dibidang ilmu pengetahuan.

Pertanyaannya,apakah kemampuan intelektual bisa berubah? Kita semua pasti pernah punya temanyang dianggap kurang cerdas, yang kerap kesulitan mengikuti pelajaran disekolah. Atau mungkin kita sendiri pernah dianggap sebagai orang dengan kemampuan intelektual yang kurang. Dapatkah orang seperti ini menjadi lebih cerdas melalui usaha dan proses belajar? Bertambah cerdas di sini bukan hanyabertambah pengetahuan, melainkan benar-benar menjadi punya kemampuanintelektual yang lebih daripada sebelumnya.

Sebagian dari kita mungkin ragu bahwa siswa yang tadinya terseok-seok mencerna pelajaran, di kemudian hari bisa menjadi “berotak encer” dan bersinar di sekolah. Bukankah kecerdasan itu potensi dasar yang terberi, yang ditentukan sejak lahir? Seseorang bisa saja mempelajari hal-hal baru, tapi kapasitas dasarnya untuk belajar itu sendiri tidak akan banyak berubah. Mungkin Anda merasa bahwa kecerdasan adalah semacam bakat untuk bidang akademik. Dan sebagaimana bakat-bakat bidang lain, kecerdasan adalah potensi yang bisa diolah, namun “volumenya” tidak bertambah. Seseorang dengan kecerdasan pas-pasan perlu usaha lebih keras untuk mencapaiprestasi akademik yang baik, dibandingkan seseorang yang memang dari “sononya” sudah cerdas!

Namun apakah asumsi-asumsi ini sejalan dengan hasil penelitian tentang kecerdasan? Untuk menjawabnya, pertama-tama kita perlu menilik dahulu apa yang dimaksud dengan kecerdasan. Dalam ilmu psikologi, istilah yang kerap dikaitkan dengan kecerdasan adalah “inteligensi”. Pada awal abad ke-20, pemerintah Perancis meminta seorang ahli psikologi bernama Alfred Binet membuat tes guna mengidentifikasi siswa yang kemungkinan besar akan mengalami kesulitan mengikuti pelajaran sekolah. Tes buatan Binet ini kemudian disebut sebagai tes inteligensi, dan hasilnya disebut sebagai skor IQ (intelligence quotient).

Setelah Binet, banyak ahli psikologi yang juga mengembangkan tes inteligensi. Pada umumnya, tes-tes inteligensi mengukur kemampuan berpikir secara analitik dengan angka (numerik), kata-kata (verbal), dan/atau visual (ruang dan gambar). Berpikir analitik merujuk pada proses mencari relasi, mengidentifikasi pola, dan menggolong-golongkan objek secara efisien (cepat) dan sistematis. Salah satu cara mengukur kemampuan berpikir analitik adalah memberi seseorang serangkaian bentuk, kemudian memintanya menebak bentuk apa yang secara logis menjadi kelanjutan dari rangkaian tersebut. Cara lain adalah dengan menanyakan kesamaan antara dua konsep, misalnya “pena” dan“pensil”.

Skor IQ memang memprediksi keberhasilan siswa di sekolah. Tampaknya skor IQ juga sulit untuk ditingkatkan secara signifikan. Selain itu, pengaruh faktor keturunan pada skor inteligensi cukup kuat. Kembali ke pertanyaan utama esai ini, apakah berarti kecerdasan kita tidak bisa diubah? Apakah keberhasilan seseorang di sekolah semata-mata masalah “nasib”? Untungnya, jawabannya tidaklah sesuram itu!

Pertama, skor IQ memang memprediksi prestasi sekolah (dan juga prestasi kerja di berbagai bidang), tapi daya prediksinya tidaklah sebesar yang kerap diasumsikan. Untuk prestasi di sekolah, keterampilan belajar seperti cara mencerna bacaan atau kuliah, cara menyiapkan ujian, serta kemampuan menyampaikan gagasan punya andil yang sama atau bahkan lebih besar daripada IQ. Demikian juga untuk prestasi kerja, faktor-faktor seperti seperti kemampuan interpersonal, kemahiran berkomunikasi, dan pengetahuan memiliki sumbangan yang lebih besar daripada IQ

Kedua, skor IQ hanya mencerminkan bagian kecil dari kecerdasan, yakni aspek kecerdasan yang berguna untuk sekolah. Ahli-ahli kognitif seperti Robert Sternberg dan Keith Stanovich menyatakan bahwa aspek-aspek kecerdasan yang berguna dalam kehidupan justru tidak diukur oleh tes IQ. Stanovich menyebutkan dua keterampilan berpikir yang berguna untuk problem solving di banyak konteks, namun tidak diukur oleh IQ.

Yang pertama adalah kebiasaan mencermati dan mendefinisikan masalah secara menyeluruh dan seksama. Kebanyakan orang, termasuk mereka yang ber-IQ tinggi, kerap terjebak untuk memilih jalan singkat dan cepat untuk menyelesaikan persoalan. Padahal, cara cepat dan singkat itu seringkali tidak optimal. Kecenderungan ini tampak dalam cara orang menyelesaikan problem-problem sederhana seperti ini:

“Dina membeli sepatu dan kaus kaki.Ia membayar $110 untuk kedua hal itu. Harga sepatu $100 lebih mahal daripadakaus kaki. Berapa harga sepatu tersebut?”

Kalau Anda seperti saya dan banyak orang lain, maka jawaban yang terpikir pertama adalah angka $100. Tapi ini keliru. Cobalah pikirkan dengan lebih hati-hati. Poin saya adalah bahwa kekeliruan ini merupakan hasil dari kecenderungan alami manusia untuk tergesa-gesa dalam merumuskan masalah yang dihadapi.

Kedua, aspek kecerdasan yang tidak diukur oleh IQ adalah kemampuan untuk menangguhkan asumsi, preferensi, dan keyakinan personal ketika menghadapi masalah. Kebanyakan orang, termasuk yang ber-IQ sangat tinggi, sering bias dalam mengevaluasi pendapat/situasi dan karena itu kerap mengambil keputusan berdasarkan evaluasi tersebut. Ambil contoh berita yang akhir-akhir marak mengenai korupsi yang melibatkan petinggi sebuah partai politik cukup besar. Banyak simpatisan partai tersebut yang menilai bahwa Komisi PemberantasanKorupsi (KPK) “berlebihan” dalam menyidik yang terlibat, dan lunak pada partai lain yang juga tersandung kasus korupsi. Namun mereka yang bukan simpatisan dapat menilai bahwa KPK sudah bertindak dalam koridor hukum.

Kedua keterampilan berpikir di atas ini tidak berkorelasi (atau berkorelasi lemah) dengan inteligensi (IQ). Berita bagusnya, keduanya dapat dilatih dan ditingkatkan. Dengan demikian, kecerdasan dan prestasi sekolah bukanlah masalah nasib semata!

B. SEJARAH PENGUKURAN KECERDASAN

Orang pertama yang berpikir mengenai kemungkinan dilakukannya pengukuran intelegensi atau kecerdasan adalah Galton, sepupu Darwin. Hal yang mendorongnya untuk memiliki pemikiran demikian adalah karena Galton tertarik pada perbedaan-perbedaan individual dan pada hubungan antara hereditas dan kemapuan mental.

Menurut Galton, ada dua kualitas umum yang membedakan antara orang yang lebih cerdas (more intelligent) dengan orang yang kurang cerdas (less intelligent), yaitu energi dan sensitivitas. Menurutnya orang yang cerdas itu memiliki tingkat energi yang istimewa dan sensitivitas terhadap rangsangan di sekitarnya. Semakin cerdas seseorang maka semakin sensitif terhadap rangsangan di sekitar kita. Pada tahun 1883, Galton mendirikan sebuah laboratorium antropometrik di London. Di Laboratorium inilah Galton mempelajari mengenai perbedaan-perbedaan individual.

Di Amerika Serikat, Cattel adalah orang pertama yang menggunakan istilah mental test. Pada tahun 1890 Cattel menerbitkan Mental Test and Measurement. Tes Cattel menekankan sensoy and perceptual task. Ia juga sering melibatkan perbedaan visual dan auditif. Oleh karena itu, tidak heran jika tes kecerdasan sekarang menekankan sensasi dan persepsi begitu kuat, sebagaimana yang dilakukan oleh psikologi pada pertengahan abad ke-19, terutama untuk penglihatan. Pada tahun 1891, Boas merupakan orang pertama yang berusaha membedakan skor tes dengan perkiraan subjektif yang independen dari kemapuan pribadi. Ia mengetes penglihatan, pendengaran dan hapalan 1.500 anak. Pada tahun 1892, Jastrow menyelenggarakan tes sensori dan hapalan terhadap 1.200 anak. Ia berusaha menghubungkan hasil-hasil tesnya dengan estimasi guru mereka atas kemampuan umum 1.200 anak tersebut.

Sejak awal abad ke 20 inteligensi disamakan dengan Intelligent Quotient (IQ). Pada tahun 1911, sebagai permintaan dari mentri pendidikan Perancis, Alfred Binet dan Theodore Simon mengembangkan sebuah tes yang mengidentifikasi resiko kegagalan sekolah pada anak. Tes ini bertujuan untuk menentukan siapa siswa yang beresiko mengalami kegagalan, sehingga ia diberi perhatian khusus. Pada tahun 1912, psikolog Jerman Wilhelm Stern mengemukakan tentang Intelligent Quotient atau IQ, yang mewakili rasio usia mental seseorang terhadap usia kronologis seseorang, yang diukur dengan menggunakan tes. Pada tahun 1920 Lewis Terman, seorang ahli psikometri dari Amerika, memperkenalkan Stanford Binet IQ test, merupakan tes pertama yang menggunakan kertas dan pensil, versi tes yang menggunakan kelompok dan teradministrasi dengan baik. Tes inteligensi dengan cepat menjadi bagian standar dari landasan pendidikan di Amerika.

Sejak saat itu orang-orang mengidentifikasikan inteligensi dengan pengukuran IQ. Hasil karya awal tentang IQ, khususnya hasil karya Terman memainkan peran yang signifikan dalam pengembangan dua keyakinan umum tentang inteligensi: bahwa inteligensi secara mendasar diwariskan dan secara umum bersifat statis dan tidak dapat dirubah.

C. DEFINISI KECERDASAN INTELIGENSI (IQ)

Menurut Mahfudin Shalahudin bahwa intelek adalah akal budi atau inteligensi yang berarti kemampuan untuk meletakkan hubungan-hubungan dari proses berpikir. Selanjutnya dikatakan bahwa orang yang intelligent adalah orang yang dapat menyelesaikan persoalan dalam tempo yang lebih singkat, memahami masalah lebih cepat dan cermat, serta mampu bertindak cepat. Menurut English & English dalam bukunya ” A Comprehensive Dictionary of Psichological and Psychoalitical Terms” dalam Sunarto dan Hartono istilah intellect berarti antara lain :

  1. Kekuataan mental dimana manusia dapat berpikir
  2. Suatu rumpun nama untuk proses kognitif, terutama untuk aktivitas yang berkenaan dengan berpikir ( misalnya menghubungkan, menimbang, dan memahami)
  3. Kecakapan, terutama kecakapan yang tinggi untuk berpikir

Menurut kamus Webster New World Dictionary of the American Language, dalam Sunarto dan Hartono istilah intellect berarti:

  1. Kecakapan untuk berpikir, mengamati atau mengerti; kecakapan untuk mengamati hubungan-hubungan, dan sebagainya. Dengan demikian kecakapan berbeda dari kemauan dan perasaan
  2. Kecakapan mental yang besar,sangat intellegence, dan
  3. Pikiran atau inteligensi

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian intelektual yaitu akal budi atau inteligensi yang berarti kemampuan untuk meletakkan hubungan dari proses berpikir, kemampuan untuk melakukan pemikiran yang bersifat abstrak atau tidak bisa di lihat (abstraksi), serta berpikir logis dan cepat sehingga dapat bergerak dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru. Orang yang intelligent adalah orang yang dapat menyelesaikan persoalan dalam waktu yang lebih singkat, memahami masalahnya lebih cepat dan cermat serta mampu bertindak cepat.

Istilah inteligensi, semula berasal dari bahasa Latin “intelligere” yang berarti menghubungkan atau menyatukan satu sama lain. Menurut William Stern salah seorang pelopor dalam penelitian inteligensi, mengatakan bahwa inteligensi adalah kemampuan untuk menggunakan secara tepat segenap alat-alat bantu dan pikiran guna menyesuaikan diri terhadap tuntutan-tuntutan baru. Sedangkan Leis Hedison Terman berpendapat bahwa inteligensi adalah kesangupan untuk belajar secara abstrak. Di sini Terman membedakan antara concret ability yangitu kemampuan yang berhubungan dengan hal-hal yang bersifat konkrit dan abstract ability yaitu kemampuan yang berhubungan dengan hal-hal yang bersifat abstrak. Orang dikatakan inteligent menurut Terman jika orang tersebut mampu berpikir abstrak dengan baik.

Menurut William H Calvin, dalam How Brain Thinks (Bagaimana otak berpikir), Piaget mengatakan, “Intelligence is what you use when you don’t know what to do (Kecerdasan adalah apa yang kita gunakan pada saat kita tidak tahu apa yang harus dilakukan). Sehingga menurut Calvin, seseorang itu dikatakan smart jika ia terampil dalam menemukan jawaban yang benar untuk masalah pilihan hidup.

Para ahli psikologi lebih suka memusatkan perhatiannya pada masalah perilaku inteligen (intelligence behavior), daripada membicarakan batasan inteligensi. Mereka beranggapan bahwa inteligensi merupakan status mental yang tidak memerlukan definisi, sedangkan perilaku inteligen lebih konkret batasan dan ciri-cirinya sehingga lebih mudah untuk dipelajari. Dengan mengidentifikasi ciri dan indikator perilaku inteligen, maka dengan sendirinya definisi inteligensi akan terkandung didalamnya. Diantara ciri-ciri perilaku yang secara tidak langsung telah disepakati sebagai tanda telah dimilikinya inteligensi yang tinggi, antara lain adalah :

  1. Adanya kemapuan untuk memahami dan menyelesaikan problem mental dengan cepat
  2. Kemampuan mengingat
  3. Kreativitas yang tinggi
  4. Imajinasi yang berkembang

Sebaliknya perilaku yang lamban, tidak cepat mengerti, kurang mampu menyelesaikan problem mental yang sederhana, dan semacamnya, dianggap sebagai indikasi tidak dimilikinya inteligensi yang baik.

Hagenhan dan Oslo menjelaskan bahwa inteligensi merupakan suatu tindakan yang menyebabkan terjadinya perhitungan atas kondisi-kondisi yang secara optimal bagi organisme dapat hidup berhubungan dengan lingkungan secara efektif. Sebagai suatu tindakan, inteligensi selalu cenderung menciptakan kondisi-kondisi yang optimal bagi organisme untuk bertahan hidup dalam kondisi yang ada.

Feldam mendefinisikan kecerdasan sebagai kemampuan memahami dunia, berpikir secara rasional, dan menggunakan sumber-sumber secara efektif pada saat diharapkan dengan tantangan. Dalam pengertian ini kecerdasan terkait dengan kemampuan memahami lingkungan atau alam sekitar, kemampuan penalaran atau berpikir logis, dan sikap bertahan hidup dengan menggunakan sarana dan sumber-sumber yang ada. Sedangkan Henmon mendefinisiakn inteligensi sebagai daya atau kemapuan untuk memahami. Wechsler mendefinisikan inteligensi sebagai totalitas kemampuan seseorang untuk bertindak dengan tujuan tertentu, berpikir secara rasional, serta menghadapi lingkungan dengan efektif.

D. PERAN KECERDASAN INTELIGENSI DALAM BELAJAR

Menurut Nickerson dalam Agus Efendi, diantara pendahulu tes kecerdasan adalah Binet. Hasil tes yang dilakukan oleh Alfred Binet dan koleganya menemukan bahwa peran kecerdasan intelegensi dalam belajar adalah sebagai berikut:

  1. Kecerdasan intelegensi berperan dalam keberhasilan seorang anak dalam proses belajar di sekolah. Anak dengan kemampuan intelegensi yang rendah akan mengalami kesulitan dalam belajar sebaliknya anak dengan kemampuan intelegensi yang tinggi akan mudah dalam mengikuti proses belajar. Sesuai dengan tujuan awal dari tes intelegensi yang dilakukan oleh Alfred Binet adalah untuk mengetahui siswa yang kemungkinan mengalami kegagalan dalam belajar sehingga mereka perlu mendapatkan perhatian khusus.
  2. Kecerdasan intelegensi berperan sebagai direction. Menurut Binet directionmelibatkan pengetahuan mengenai apa yang harus dilakukan dan bagaimana cara melakukannya. Sehingga siswa dengan kemapuan inteleginsi yang tinggi dapat dengan cepat mengetahui apa yang harus dilakukan dan bagaimana cara melakukannya. Ketika guru memberikan suatu tugas tertentu ia dapat dengan cepat mengetahui tindakan apa yang harus ia lakukan.
  3. Kecerdasan sebagai Menurut Binet adaptationmengacu pada upaya membangun strategi untuk melakukan sebuah tugas, lalu berusaha untuk tetap berada dalam strategi tersebut dan mengadaptasinya saat mengimplementasikannya.
  4. Kecerdasan sebagai criticism. Menurut Binet criticismadalah kemampuan untuk mengkritisi pikiran dan tindakan sendiri. Sehingga siswa yang cerdas dapat berpikir kritis dan lebih aktif dalam proses belajar.
  5. Kecerdasan intelegensi berperan dalam memberikan kesempatan belajar bagi anak yang berasal dari keluarga miskin. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh Binet terhadap anak-anak miskin, betapapun pandainya merka, namun mereka tidak pernah diberi kemudahan untuk mendapatkan pendidikan lanjutan. Binet berpikir bahwa lewat tes IQ anak-anak miskin mampu membuktikan mereka lebih cerdas daripada rata-rata anak kebanyakan. Karenanya, seharusnya, mereka bisa memperoleh pendidikan lanjutan, tanpa menghiraukan kedudukan sosial mereka.

E. MULTIPLE INTELLIGENCES(MI)

 Teori Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligences)

Howard Gardner memperkenalkan teori multiple intelligences (MI) untuk menentang pendapat tentang IQ, yang dianggapnya tidak memadai untuk menjelaskan tentang kecerdasan. Teori multiple intelligencesmenggambarkan inteligensi sebagai sesuatu yang plural sebagai penyelesaian masalah, sebagai ukuran kualitatif dan bukan hanya ukuran kuantitatif, yang berbeda antara satu individu dengan yang lain. Sementara dari sudup pandang IQ menanyakan seberapa pintar anda? (How smart are you?), dan teori MI menanyakan Bagaimana anda pintar? (How are you smart?.

Penelitian Gardner telah menguak rumpun kecerdasan manusia yang lebih luas dari pada kepercayaan manusia sebelumnya serta menghasilkan konsep kecerdasan yang sungguh pragmatis. Gardner tidak memandang kecerdasan manusia berdasarkan skor tes standar semata. Gardner menjelaskan kecerdasan sebagai: (1) kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang terjadi dalam kehidupan manusia; (2) kemampuan untuk menghasilkan persoalan-persoalan baru untuk diselesaikan; (3) kemampuan untuk menciptakan sesuatu atau menawarkan jasa yang akan menimbulkan penghargaan dalam budaya seseorang.

Pada awalnya Gardner pada awalnya mengembangkan tujuah kecerdasan independen dan pada tahun 1995 ia memperkenalkan kecerdasan yang ke delapan yaitu naturalis. Kedelapan kecerdasan tersebut adalah sebagai berikut:

  • Kecerdasan musik (musical intelligence)
  • Kecerdasan gerakan-badan (bodily-kinesthetic intelligence)
  • Kecerdasan logika matematika (logical mathematical intelligence)
  • Kecerdasan linguistik (linguistic intelligence)
  • Kecerdasan ruang (spatial intelligence)
  • Kecerdasan antarpribadi (interpersonal intelligence)
  • Kecerdasan intra pribadi (intrapersonal intelligence)
  • Kecerdasan alami (naturalist intelligence)

Lebih lanjut, kecerdasan tersebut dijelaskan dengan rinci oleh Thomas Amstrong.

  1. Linguistic intelligence adalah kemampuan untuk menggunakan kata-kata secara efektif, baik secara lisan maupun tulisan.
  2. Logical mathematical Intelligenceadalah kemampuan untuk menggunakan angka-angka secara efektif, misalnya penggunaan dalam pekerjaan matematika, statistik, akuntansi, perpajakan, dan pemrograman komputer.
  3. Spatial intelligenceadalah kemampuan untuk menangkap dunia ruang pandang (visual spatial world) secara akurat, misalnya untuk menampilkan visi seorang dekorator dan arsitek.
  4. Bodily Kinestetic Intelligence adalah kemampuan menggunakan gerakan badan dalam hal menyampaikan pemikiran dan perasaan.
  5. Musical Intelligenceadalah kemampuan untuk menangkap melalui mata hatinya misalnya musik, dan keahlian musik pada umumnya.
  6. Interpersonal Intelligenceadalah kemampuan untuk menangkap dan membuat perbedaan dalam suasana hati, keinginan, motivasi, dan perasaan orang lain.
  7. Intrapersonal Intelligenceadalah kemampuan untuk membuat gambaran yang akurat tentang diri sendiri (kekuatan dan kelemahan diri sendiri).
  8. Naturalist intelligenceadalah kemampuan untuk memahami alam, melihat bagaimana pola-pola yang terjadi di alam dan mengklasifikasi segala sesuatu tentang alam .

F. PERAN KECERDASAN MAJEMUK (MULTIPLE INTELLIGENCES) DALAM BELAJAR

  1. Kecerdasan Verbal/Linguistik

Kecerdasan linguistik antara lain ditunjukkan oleh kepekaan akan makna dan urutan kata, serta kemampuan membuat beragam pengguaan bahasa. Kemampuan alamiah yang berkenaan dalam kecapakan ini adalah percakapan spontan, dongen, humor, kelakar, membujuk orang untuk mengikuti tindakan, memberi penjelasan atau mengajar. Contoh orang yang memiliki kecerdasan ini adalah Herman Melville, penulis novel Mobby Dick, J.K Rowling penulis buku cerita Harry Potter. Sedangkan di Indonesia terdapat Gunawan Muhammad, Emha Ainun Najib, Taufik Ismail, Andrea Hirata dan lain-lain.

Dalam proses belajar kecerdasan ini sangat berperan terutama sekali dalam pelajaran bahasa. Sedangkan dalam bidang pelajaran lainnya kecerdasan ini sangat dibutuhkan dalam proses belajar seperti dalam kegiatan diskusi. Setiap siswa dalam diskusi harus mampu menyampaikan pendapatnya ataupun menjawab pertanyaan dari siswa lainnya.

  1. Kecerdasan logis matematik

Mereka yang memiliki kecerdasan ini adalah mereka yang bekerja dengan simbol-simbol abstrak dan bisa melihat koneksi antara potongan-potongan informasi yang mungkin terlewatkan oleh orang lain. Para ahli matematika, sains, programer komputer dan akuntan, adalah diantara mereka yang juga tersebut dalam wilayah-wilayah kecerdasan ini.

Peran kecerdasan ini dalam belajar terutama sekali dalam mata pelajaran hitungan seperti Matematika dan mata pelajaran sains seperti Fisika, Kimia, Akuntansi yang semuanya membutuhkan kemampuan logis matematik.

  1. Kecerdasan Spasial

Kecerdasan spasial adalah kecerdasan yang dapat digunakan untuk mengenali objek dan pemandangan di lingkungan aslinya. Kecerdasan ini juga digunakan ketika seseorang membuat lukisan grafis atau simbol-simbol lain seperti peta, diagram, atau bentuk-bentuk geometrik. Dunia lukisan dan ukiran telah menunjukkan sensitivitas terhadap dunia visual dan spasial dengan sangat jelas seperti lukisan Affandi, Leonardo da Vinci, Michael Angelo, dan Picasso.

Dalam belajar kecerdasan spasial ini berperan dalam mempelajari bentuk-bentuk visual dan mengekspresikannya seperti dalam pelajaran menggambar dan mata pelajaran desain grafis pada komputer seperti menggunakan aplikasi corel draw, photo shop dan sebagainya.

4. Kecerdasan Musikal/Ritmis

Kecerdasan musikal adalah kecerdasan yang terkait dengan sensitivitas yang dimiliki seseorang terhadap susunan suara dan kemampuan merespon pola-pola suara ini secara emosional. Dalam proses belajar kecerdasan ini berperan jika siswa diizinkan untuk menciptakan dan menggunakan lagu, ketokan, sorak-sorai, syair dan sajak.

5. Kecerdasan Tubuh/Kinestetik

Kecerdasan tubuh/kinestesis memungkinkan orang untuk mengontrol dan menafsirkan aneka gerak tubuh dan membentuk harmoni pikiran dan tubuh. Contoh orang-orang yang memiliki kecerdasan tubuh yang sangat bagus adalah para atlit di arena olahragara. Seperti para pemain basket dan sepak bola yang begitu lincah memainkan bola dii lapangan.

Dalam proses belajar kecerdasan tubuh ini berperan dalam pelajaran olah raga dan pelajaran lain selama membutuhkan aktivitas fisik. Seorang individu yang kuat dalam kecerdasan tubuh/kinestetis mampu melakukan keterampilan motorik kecil dengan baik dan bisa melakukan aktivitas-aktivitas seperti menyusun, memahat, membongkar, dan mengumpulkan kembali dengan mudah.

6. Kecerdasan Intrapersonal

Merupakan kemampuan untuk mengetahui diri sendiri dan mengambil tanggungjawab atas kehidupan dan proses belajar seseorang. Para siswa dengan keterampilan interpersonal yang kuat mengenali berbagai kekuatan dan keterbatasan mereka dan menantang diri mereka sendiri supaya bisa menjadi jauh lebih baik.

Dalam belajar kecerdasan intrapersonal ini berperan bagi para siswa dalam membuat suatu orientasi pada tujuan, reflektif, dan melihat kesuksesannya sebagai hasil langsung dari perencanaan, usaha, dan ketekunannya sendiri. Aktivitas-aktivitas yang merangsang kecerdasan interpersonal ini di ruang kelas diantaranya adalah kesempatan untuk memecahkan masalah, melatih konsentrasi, menetapkan tujuan, dan menulis dalam catatan-catatan harian pribadi.

7. Kecerdasan Interpersonal

Kecerdasan interpersonal adalah kemampuan untuk memahami dan berinteraksi dengan baik dengan orang lain. Kemampuan ini melibatkan penggunakan berbagai keterampilan seperti kemampuan kerjasama, manajemen konflik, strategi membangun konsensus, kempampuan untuk menghormati, memimpin dan memotivasi orang lian.

Dalam proses belajar kecerdasan ini berperan ketika siswa diberikan kesempatan untuk bekerjasama dimana mereka dapat menjadi sosial, merencanakan secara bersama dan bekerja dengan orang lain demi keuntungan timbal balik.

8. Kecerdasan Naturalis

Merupakan kemampuan menggunakan input sensorik dari alam untuk menafsirkan lingkungan seseorang. Dalam belajar kecerdasan berperan dalam kegiatan menyelidiki, mengklasifikasi, dan mengoleksi berbagai unsur di alam, melakukan berbagai eksperimen ilmiah, dan meneliti solusi-solusi bagi berbagai masalah lingkungan. Semua aktivitas yang membantu para siswa untuk dapat mengklasifikasi kehidupan tanaman dan menyelidiki habitat benda-benda hidup juga dapat menignkatkan kecerdasan naturalis.

G. KECERDASAN EMOSIONAL

  1. Definisi Kecerdasan Emosional

Kecerdasan emosional merupakan kemampuan seperti kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan bertahan menghadapi frustrasi; mengendalikan dorongan hati dan tidak melebih-lebihkan kesenangan; mengatur suasanan hati dan menjaga agar beban stres tidak melumpuhkan kemampuan berpikir, dan berempati. Menurut Steven J Stein dan Howard E. Book kecerdasan emosional adalah serangkaian kemampuan, kompetensi, dan kecakapan nonkognitif yang memengaruhi kemampuan seseorang untuk berhasil mengatasi tuntutan dan tekanan lingkungan.

Keterampilan kecerdasan emosi bekerja secara sinergi dengan keterampilan kognitif. Makin kompleks pekerjaan, makin penting kecerdasan emosi. Emosi yang lepas kendali dapat membuat orang pandai menjadi bodoh. Tanpa kecerdasan emosi, orang tidak akan mampu menggunakan kemampuan kognitif mereka sesuai dengan potensi yang maksimum. Penyebab manusia tidak mencapai potensi maksimum adalah ketidakterampilan emosi.

Kecerdasan emosional mulai diperhatikan secara meluas setelah publikasi hasil karya Daniel Goleman pada tahun 1995 yang berjudul “Emotional Intelligence: Why it Can Matter More Than IQ”. Menurut Goleman tes IQ hanya berhubungan dengan kemampuan verbal dan matematika, dan mengabaikan kemungkinan yang lain seperti hubungan antara pikiran dan perasaan, yang merupakan hubungan ataran aspek intelektual dan emosional. Para ahli terus mengingatkan bahwa proses pendidikan jangan hanya memfokuskan kepada faktor intelektual seperti yang dikemukakan krishnamurti dalam Carol Hall:

Terdapat sesuatu yang lebih tinggi dan lebih luas pengaruhnya terhadap kehidupan, nilai yang belum kita temukan dalam pendidikan kita? Kita mungkin berpendidikan tinggi, akan tetapi jika tidak memiliki ikatan yang kuat antara pikiran dan perasaan kita, kehidupan kita tidak lengkap, terdapat kontradiksi dan tersobek dengan banyak ketakutan, selama pendidikan tidak menggali pandangan yang menyeluruh tentang kehdupan, pengaruhnya akan sangat sedikit.

Seseorang yang memiliki IQ saja belum cukup, yang ideal adalah IQ yang dibarengi dengan EQ yang seimbang. Pemahaman yang didukung oleh Goleman yang dikutip oleh Patton, bahwa para ahli psikologi sepakat akalu IQ hanya mendukung sekitar 20 persen faktor yang menentukan keberhasilan, sedangkan 80 persen sisanya berasal dari faktor lain termasuk kecerdasan emosional.

 2. Bentuk Emosi

Daniel Goleman yang merupakan pakar “kecerdasan emosional” memaknai emosi sebagai setiap keadaan mental yang hebat dan meluap-luap. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa emosi merujuk kepada suatu perasaan dan pikiran-pikiran yang khas, suatu keadaan biologis dan psikologis, dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak.

Sementara itu Chaplin dalam “Dictionary of Psychology” mendefinisikan emosi sebagai suatu keadaan yang terangsang dari organisme mencakup perubahan-perubahan yang disadar, yang mendalam sifatnya dari perubahan perilaku. Dengan demikian emosi adalah suatu respon terhadap suatu perangsang yang menyebabkan perubahan fisiologis disertai perasaan yang kuat dan biasanya mengandung kemungkinan untuk meletus. Respon demikian terjadi baik terhadap perangsang-perangsang eksternal maupun internal.

Menurut Daniel Goleman sesungguhnya ada ratusan emosi dengan berbagai variasi, campuran dan nuansanya sehingga makna yang dikandungnya lebih banyak, lebih kompleks, dan lebih halus daripada kata yang digunakan untuk menjelaskan emosi. Meskipun emosi itu sedemikian kompleksnya, namun ia mengidentifikasi sejumlah kelompok emosi, yaitu:

  1. Amarah; didalamnya meliputi beringas, mengamuk, benci, marah besar, jengkel, kesal hati, terganggu, rasa pahit, berang, tersinggung, bermusuhan, tindak kekerasan dan kebencian patologis.
  2. Kesedihan; di dalamnya meliputi pedih, sedih, muram, suram, mengasihani diri, kesepian, ditolak, putus asa dan depresi.
  3. Rasa Takut; di dalamnya meliputi cemas, takut, gugup, khawatir, was-was, tidak tenang, ngeri, kecut, panik dan pobia.
  4. Kenikmatan; di dalamnya meliputi bahagia, gembira, puas, riang, senang, terhibur, bangga, kenikmatan inderawi, takjub, terpesona, puas, girang, senang sekali dan mania.
  5. Cinta; di dalamnya meliputi penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat, bakti, hormat, dan kasih sayang.
  6. Terkejut; di dalamnya meliputi terkesiap, takjub dan terpana.
  7. Jengkel; didalamnya meliputi hina, jijik, muak, mual, benci, tidak suka, dan mau muntah.
  8. Malu; di dalamnya meliputi rasa bersalah, malu hati, kesal hati, menyesal, hina, aib, dan hati hancur lebur.

Sumber :

The Mind & The Brain Dahsyatnya Otak Dan Pikiran Manusia, Alfred Binet, Indoliterasi, Jakarta,  2017,  Iv+188

Mengenal Psikologi Pendidikan


reformasiHAL yang Tidak bisa kita pungkiri, apalagi di zaman serba canggih seperti ini sangat perlu pendidikan mengenai psikologi. Psikologi adalah ilmu pengetahuan yang berusaha memahami sesama manusia, dengan tujuan untuk dapat memperlakukannya dengan lebih tepat. Karena itu, pengetahuan psikologis mengenai anak didik dalam proses pendidikan adalah hal yang perlu dan penting bagi setiap pendidik. Sehingga seharusnya adalah kebutuhan setiap pendidik memiliki pengetahuan tentang psikologi pendidikan.

Mengingat setiap orang pada nantinya akan menjadi seorang pendidik, karena pada hakikatnya pendidikan psikologi pendidikan itu dibutuhkan oleh setiap orang. Karena masalah pendidikan, terutama pendidikan psikologi adalah masalah setiap orang dari dulu hingga sekarang, dan tentu menjadi masalah pula hingga waktu yang akan datang.

Ruang Lingkup Psikologi Pendidikan

Masalah yang sentral dalam dalam psikologi pendidikan adalah masalah belajar. Sebenarnya, belajar (dan mengajar) adalah tindak pelaksanaan dalam usaha pendidikan. Di dalamnya terdapat usaha mendidik anak-anak didik belajar dan si pendidik mengajar sesuatu kepada para anak didik. Proses si pendidik dengan sengaja dan penuh tanggungjawab memberikan pengaruhnyakepada anak didik, demi kebahagiaa anak didik. Psikologi pendidikan berusaha menjadikan kajian tentang faktor-faktor psikologis yang berperan dalam proses pendidikan. Disamping itumasih terdapat beberapa masalah khusus yag juga perlu penyorotan secara psikologis, seperti soal pendidikan orang dewasa, kesehatan mental serta bimbingan dan konseling, materi yang dipakai,evaluasi hasil pendidikan, dan sebagainya.

Sifat-sifat Umum Aktivitas Manusia

  • Perhatian

Perhatian adalah pemusatan tenaga psikis tertuju kepada suatu objek. Bisa juga diartikanbanyak sedikitnya kesadaran yang menyertai sesuatu aktivitas yang dilakukan. Macam-macam  perhatian

  1. Atas dasar intensitasnya: perhatian intensif dan perhatian tidak intensif. Aktivitas yang disertai dengan perharian intensif akan lebih sukses, prestasinya lebih tinggi. Akan lebih baik jika pelajaran dapat diterima oleh murid-murid dengan perhatin yang cukup intensif.
  2. Atas dasar cara timbulnya: perhatian spontan (perhatian tak disengaja), dan perhatian sekehendak (perhatian disengaja). Perhatian spontan atau tak disengaja cenderung untuk brlangsung lebih lama dan lebih intensif daripada perhatian yang disengaja. Akan lebih baik kalau pelajaran dapat diterima oleh murid-murid dengan perhatian yang spontan.
  3. Atas dasar luasnya objek yang dikenai perhatian: perhatian terpancar (distributif) dan perhatian terpusat (konsentratif).
  • Pengamatan

Manusia mengenal wadag atau dunia riil, baik dirinya sendiri maupun dunia sekitar tempatnya berada dengan melihat, mendengar, membau atau mengecap. Cara mengenali objek yang demikian disebut mengamati. Sedangkan melihat, mendengar, dan yang laiinya disebut modalitas pengamatan.

1.Penglihatan

Modalitas pengamatan yang dibedakan menurut pancaindera yang dipergunakan untuk mengamati, yaitu penglihatan, pendengaran, rabaan, pembauan, atau penciuman dan pencecapan. Dari kelima modalitas pengamatan yang telah mendapatkan penelitian secara meluas dan mendalam adalah penglihatan. Menurut objeknya, masalah penglihatan digolongan menjadi 3 golongan, yaitu (1) melihat bentuk, (2) melihat dalam dan (3) melihat warna.

2.Melihat Bentuk

Yang dimaksud melihat bentuk ialah melihat objek yang berdimensi dua. Objek pengelihatan tidak kita lihat lepas-lepas satu daripada yang lain, melainkan kita lihat sebagai objek yang bersangkutan satu sama lain. Objek yang yang jauh, dekat, bagian-bagian dan keseluruhan objek terlihat oleh kita.

3.Melihat Dalam

Yang dimaksud melihat dalam ialah melihat objek berdimensi tiga. Salah satu gejala yang terpenting disini aialah konstansi besar.

4.Melihat Warna

Dalam pendidikan keindahan dan pendidikan kepribadian, nilai lambang warna-warna merupakan alat yang sangat berguna. Berikut nilai lambang warna:

  • Hitam : melambangkan kegelapan, kesedihan.
  • Putih : melambangkan kesucian, cahaya
  • Hijau : melambangkan keseimbangan, harapan, keselarasan
  • Biru : melambangkan sifat-sifat yang dalam tak terhingga, tenang, kesosialan
  • Kuning : melambangkan sifat riang, ceria
  • Merah : melambangkan ekspansif, dominan, berani.

5.Pendengaran

Mendengar adalah menangkap bunyi (suara) dengan indera pendengar. Selain bunyi bisa menjadi perantara untuk berkomunikasi, bunyi juga memiliki 2 fungsi lain, yaitu pertama sebagai tanda (signal). Pada kasus ini yang berhubungan dengan ekspresi manusia, berteriak katena terkejut, menangis karena sakit, kagum, dan sebagainya. Yang kedua sebagai lambang. Yang biasa kita gunakan ketika menghadapi bahasa.

6.Rabaan

Indera-indera kinestesi, sentuh dan tekanan, panas, dingin, rasa sakit, berfungsi penting dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan indera vibrasi tidak memiliki peranan yang begitu berarti. Jika seseorang meraba dengan mata tertutup, maka akan terjadi visualisasi, artinya kesan meraba akan digantikan dengan kesan penglihatan. Hal ini membuktikan betapa pentingnya kedudukan penglihatan, diantara modalitas pengamatan yang lain.

7.Ingatan (memory)

Ingatan disini memiliki arti sebagai sebuah kecakapan untuk menerima, menyimpan, dan memproduksikan kesan-kesan. Ingatan dan lupa, tidak bisa dipisahkan, karena memang hal tersebut bersifat manusiawi. Akan tetapi saat murid atau pelajar sedang menghafal, hendaklah mengatur kondisi sedemikian rupa, sehingga bisa mencapai hasil yang maksimal. Misalnya menghafal dengan suara keras, pemilihan teknik yang tepat, serta pembagian waktu belajar yang baik.

Sifat-sifat Khas Kepribadian Manusia

            Hippocrates (460-370) berpendapat bahwa di dalam tubuh manusia terdapat cairan-cairan yang mendukung atau berpengaruh terhadap sifat-sifat manusia, yaitu ada chole, melanchole, phlegma, dan sanguis. Kemudian Galenus (129-200) menyempurnakan pendapat Hippocrates tersebut, ia mengungkapkan bahwa cairan tersebut terdapat pada tubuh manusia dalam kadar tertentu, jika salah satu cairan tersebut kadarnya lebih banyak dari yang seharusnya, akan mendominasi suatu sifat tertentu.

CholePrinsip yang ada pada cairan ini yaitu tegangan (tension), memiliki tipe choleris, dan menghasilkan sifat khas yaitu; memiliki semangat serta daya juang yang besar, optimsme, hatinya mudah terbakar serta keras.

MelancholePrinsip yang ada pada cairan ini yaitu penegara (regidity), memiliki tipe melanholis, dan menghasilkan sifat khas yaitu; mudah kecewa, memiliki daya juang yang kecil, pesimistis, serta muram.

Phlegma .Prinsip yang ada pada cairan ini yaitu plastisitas, memiliki tipe phlegmatis, dan menghasilkan sifat khas yaitu; tak suka terburu-buru, tenang, setia, serta tidak mudah dipengaruhi.

Sanguis .Prinsip yang ada pada cairan ini yaitu ekspansivitas, memiliki tipe sanguinis, dan menghasilkan sifat khas yaitu; mudah berganti haluan, ramah, lekas bertindak tapi juga lekas berhenti.

Selain beberapa jenis cairan yang memiliki pengaruh terhadap sifat seseorang, manusia juga memiliki empat macam fungsi jiwa, yaitu yang rasional mencakup perasaan dan pikiran, kemudian ada yang irrasional, mencakup pendriaan dan intuisi.

  1. Pikiran; bersifat rasional, cara bekerjanya dengan penilaian benar dan salah
  2. Perasaan; bersifat rasional, cara bekerjanya dengan penilaian senang dan tak senang
  3. Pendriaan; bersifat irrasional, cara bekerjanya dengan penilaian sadar indriah
  4. Intuisi; bersifat irrasional, cara bekerjanya dengan penilaian tak sadar naluriah

Alfred Adler mengungkapka teori megenai sifat khas kepribadian manusia, yaitu Individual Psychologie. Individual Psychologiememiliki arti penting sebagai cara untuk memahami sesama manusia. Aliran ini tidak mementingkan perumusan-perumusan yang teliti, melainkan lebih mementingkan penyusunan petunjuk praktis untuk memahami sesama manusia. Karena itu justru dalam lapangan pendidikan pengaruh aliran ini besar, karen petunjuk petunjuk itu sangat berguna di dalam praktik pendidikan. Adler berpendapat, bahwa manusia lebih didorong oleh harapan-harapannya mengenai masa depan daripada pengalamannya dimasa lampau. Tujuan itulah yang membuat manusia kurang peka terhadap lingkungan sekitar dan bersifat individualis.

Mula-mula manusia didorong oleh dorongan keakuan, yatu dorongan untuk mengejar kekuasaan dan kekuatan untuk mencapai konpensasi bagi rasa rendah dirinya. Selanjutnya, manusia didorong oleh dorongan kemasyarakatan yang menyebabkan ia menempatkan kepentingan sendiri dibawah kepentingan umum

Perbedaan-perbedaan dalam Bakat

Suatu hal yang dipandang self-evident ialah bahwa seseorang akan lebih behasil kalau dia belajar dalam lapangan yang sesuai dengan bakatnya; demikian pula dalam lapangan kerja, sesorang akan lebih berhasil kalau dia bekerja dalam lapangan yang sesuai dengan bakatnya.

Apakah Bakat itu?

William B. Michael menunjau bakat itu, terutama dari segi kemampuan individu untuk melakukan sesuatu tugas, yang sedikit sekali tergantung kepada latihan mengenai hal tersebut. Lalu ada juga Bingham yang mengemukakan definisi bakat, akan tetapi Bingham menitikberatkan pada segi apa yang dapat dilakukan oleh individu, jadi segi performance setelah individu mendapatkan latihan. Selanjutnya Guilford memberikan definisi yang lain lagi, yaitu bahwa aptitude itu mencakup 3 dimensi psikologis, yaitu:

1.Dimensi perseptual

     Dimensi perseptual meliputi kemampuan dalam mengadakan presepsi, dan ini meliputi beberapa faktor. Seperti kepekaan indera, perhatian, orientasi ruang dan waktu, luasnya daerah presepsi, kecepatan presepsi dan sebagainya.

2.Dimensi psiko-motor

     Dimensi psiko-motor mencakup enam faktor, yaitu faktor kekuatan, faktor impuls, faktor kecepatan gerak,  faktor ketepatan, faktor koordinasi, faktor keluwesan.

3.Dimensi intelektual

     Dimensi inilah yang umumnya mendapat penyorotan secara luas, karena memang dimensi inilah yang mempunyai implikasi sangat luas. Dimensi ini meliputi lima faktor, yaitu;

  1. Faktor ingatan, yang mencakup faktor ingatan mengenai substansi, relasi dan sistem.
  2. Faktor pengenalan, yang mencakup pengenalan terhadap keseluruhan informasi, terhadap golongan, terhadap hubungan-hubungan, terhadap bentuk atau struktur, dan terhadap kesimpulan.
  3. Faktor evaluatif yang meliputi evaluasi mengenai idientitas, relasi-relasi dan evaluasi terhadap sistem.
  4. Faktor berfikir divergen, yang meliputi faktor untuk menghasilkan nama-nama, hubungan-hubungan, sistem-sistem, transformasi dan menghasilkan implikasi-implikasi yang unik.
  5. Faktor berfikir divergen yang meliputi faktor untuk pengalihan kelas-kelas secara spontan, faktor kelancaran dalam menghasilkan hubungan-hubungan, faktor untuk menghasilkan sistem, faktor untuk transformasi divergen, serta untuk menyusun bagian-bagian menjadi garis besar atau kerangka.

Dari ilustrasi diatas, bisa kita tarik kesimpulan betapa rumitnya kualitas manusia yang kita sebut bakat tersebut. Variasi bakattimbul karena variasi dalam kombinasi, korelasi, dan intensitas faktor-faktor tersebut. Dn variasi inilah yang harus kita kenali sedini munkin.

Bagaimana Cara Kita Mengenali Bakat Seseorang?

Biasanya dilakukan dalam diagnosis tentang bakat dengan membuat ururtan (ranking) mengenai berbagai bakat pada setiap individu.

Prosedur yang biasa ditempuh adalah;

  1. Melakukan analisis jabatan (job-analysis) atau analisis lapangan studi untuk menemukan faktor-faktor apa saja yang diperlukan supaya orang dapat berhasil damal lapangan tersebut.
  2. Dari hasil analisis tersebut dibuat pencandraan jabatan (job description)
  3. Dari job description yang tersebut bisa kita ketahui apa saja persyaratan yang harus dipenuhi upaya individu dapat lebih berhasil dalam lapangan tertentu
  4. Lalu dari persyaratan tersebut bisa digunakan sebagai landasan untuk menyusun alat pengungkap bakat, yang biasanya berup tes.

            Akan tetapi pemberlakuan tes tersebut masih sangat terbatas oleh daerah serta kebudayaan dimana tes itu disusun. Bagi kita, bangsa Indoesia kiranya sangat mendesak untuk segera diciptakannya tes bakat itu, baik untuk keperluan pemilihan jabatan atau lapangan kerja, maupun untuk pemilihan arah studi.

Perkembangan Individu

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Individu

Pendapat yang bermacam-macam mengenai faktor apa sja yang memepengaruhi perkembangan individu terbagi menjadi 3 golongan, yaitu;

1.Nativisme

     Para ahli yang mengikuti aliran nativisme berpendapat bahwa perkembangan individu itu semata-mata ditentukan oleh faktor yang dibawa sejak lahir (bawaan). Tokoh utama aliran ini adalah Schopenhauer, serta Plato, Descartes Lombroso yng termasuk dalam golongan ini. Intinya pada aliran ini menyatakan bahwa segala keistimewaan yang dimiliki orangtua tentu akan dimiliki juga oleh anaknya. Sehingga perkembangan individu merupakan cerminana dari orangtuanya dahulu. Misalnya, jiak orangtuanya berbakat dalam bidang oelhraga, maka tentu anaknya juga akan sangat berkembang pesat dalam bidang olahraga. Akan tetapi, jika dipandang dalam ilmu pendidikan, hal tersebut tidak bisa juga dibenarkan. Sebab, jika benar perkembangan individu tersebut dari dasar, jadi pengaruh lingkungan serta pendidikan tidak menjadi faktor penting dalam perkembangan setiap individu. Jadi konsep nativisme itu tidak dapat dipertahankan dan tidak bisa dipertanggungjawabkan.

2.Empirisme

     Para ahli yang meyakini aliran ini memiliki pendapat yang bertolak belakang dengan nativisme, jika pada nativisme berpendapat bahwa perkembangan individu itu semata-mata tergantung pada faktor dasar, maka pada aliran ini faktor dasar (bawaan) tidak dianggap penting sama sekali, dan meyakini bahwa faktor perkembangan setiap individu di pengaruhi oleh lingkungan. Tokoh utama daripada aliran ini adalah John Locke, dimana aliran ini sangat besar pengaruhnya di Amerika Sekrikat. Akan tetapi, kenyataan yang kita jumpai menunjukan hal yang berbeda daripada gambaran dari aliran ini. Banyak anak-anak orang kaya dan juga pandai mengecewakan orangtuanya karena kurang berhasil dalam belajar, meskipun di lingkungan yang baik (lingkungan orang pandai). Sebaliknya, mereka yang berada dalam lingkungan mampu, dan orangtua serta lingkungan yang tidak begitu pandai malah bisa berhasil dalam belajar. Jadi alirn empirisme ini juga tidak tahan uji dan tidak dapat di-pertanggung jawabkan.

3.Konvergensi

     Paham konvergensi ini berpendapat bahwa di dalam perkembangan individu itu baik faktor dasar, maupun faktor lingkungan sama-sama memilki edudukan yang penting. Setiap individu tentu telah memiliki bakatnya masing-masing, hanya saja bakat juga membutuhkan lingkungan yang sesuai dengan agar dapat berkembang. Selain itu, faktor kedudukan dalam keluarga juga memiliki peranan penting, seperti anak sulung dengan anak bungsu tentu akan mengalami perbedaan dalam perkembangannya, begitu juga dengan anak tunggal. Lalu setiap anak yang berkembang memiliki asas di setiap perkembangannya, meliputi asas biologis, asas ketidakberdayaan, asas kemanan, dan asas eksplorasi. Namun hal yang perlu diingat, pemberian rasa aman, serta kasih sayang tidak disarankan diberikan secara berlebihan, karena tentu hal ini akan menggangu perkembangan buah hati. Jika anak terlalu diberikan kasih sayang khawatir akan menjadi manja, dan anak yang diberikan rasa aman secara berlebihan khawatir anak tersebut tidak bisa mengatasi masalahnya sendiri.

Bagaimana Sifat Anak pada Masa Tertentu dalam Perkembangan Anak?

Para ahli mengemukakan pendapat mengenai periodesasi yang digolongkan menjadi 3:

1.Periodisasi yang Berdasar Biologis

     Ch. Buhler mengemukakan pendapat, bahwa ada 5 fase dalam perkembangan anak. Fase yang pertama (0;0 – 1;0) yaitu fase gerak laku ke dunia luar. Keudian yang kedua (1;0 – 4;0) yaitu fase makin meluasnya hubungan anak dengan benda-benda di sekitarnya. Lalu ketiga (4;0 – 8;0) yaitu fase hubunga pribadi dengan lingkungan sosial, serta kesadaran akan kerja, tugas dan prestasi. Keempat (8;0 – 13;0) yaitu fase memuncaknya minat ke dunia objektif, dan kesadaran akan akunya sebagai sesuatu yang berbeda dari aku orang lain. Terakhir, yang kelima (13;0 – 19;0) yaitu fase penemuan diri dan kematangan.

2.Periodisasi yang Berdasar Didaktis

     J.J Rousseau dengan karyanya Emile eu du l’education (1762) mengungkapkan bahwa ada 4 fase dalam perkembangan anak. Pertama, (0;0 – 2;0) adalah masa asuhan, kedua (2;0 – 12;0) adalah masa pendidikan jasmani dan latihan panca indera. Ketiga (12;0 – 15;0) adalah periode pendidikan akal. Kemudian yang terakhir (15;0 – 20;0) adalah periode pembentukan watak dan pendidikan agama.

3.Periodisasi yang Berdasar Psikologis

     Kohnstamm(1950) mengemukakan periodisasi yang berdasar pada psikologis terbegi menjadi 4 fase. Yang pertama ketika umur 0;0 sampai kira-kira 2;0 merupakan masa vital. Kedua ketika umur 2;0 sampai kira-kira 7;0 merupakan masa estetis. Ketiga ketika umur 7;0 sampai kira-kira 13;0 atau 14;0 merupaka masa intelektual. Terakhir ketika umur 13;0 atau 14;0 sampai kira-kira 20;0 atau 21;0 merupakan masa sosial. Disini terdapat kemiripan dengan periodisasi biologis dan didaktis.

Penelitian Penggunaan Hadiah dan Hukuman terhadap Perkembangan Anak

             Julius Wagner (dalam Ch. Buhler, 1950) mengadakan penelitian mengenai pengertian anak terhadap hukuman, apabila hukuman itu diberikan secara adil, maka hasilnya bisa dilihat dibawah ini;

Maksud (Tujuan Hukuman) Laki-laki Perempuan
(9;0 – 12;0) (12;0 – 15;0) (9;0 – 12;0) (12;0 – 15;0)
Memperbaiki 54,7% 80,2% 60,8% 79,5%
Menakut-nakuti 24,2% 12,0% 21,4% 15,6%
Membalas (dendam) 5,4% 6,3% 7,3% 4,1%
Lain-lain 15,7% 1,5% 10,5% 1,8%

Dari data yang telah dapat ditarik kesimpulan;

  1. Makin tua anak-anak, makin makin sadarlah mereka bahwa tujuan hukuman adalah untuk memperbaiki.
  2. Makin tua anak-anak, maka makin dapat tepatlah mereka mengenal maksud hukuman
  3. Anak-anak perempuan mempunyai kematangan lebih awal daripada anak laki-laki

            Selain pemberian hukuman, pastikan para orangtua juga perlu membatasi pemberian hadiah untuk anak-anak. Karena penggunaan hadiah dan hukuman harus disesuaikan dengan perkembangan anak, disamping harus pula dipertimbangkan kondisi-kondisi yang lain.

1.Masa Pra-Remaja dan Masa Remaja

            Istilah pra-remaja dipakai untuk menunjukan suatu masa yang berlangsung mengikuti masa puber, yang hanya berlangsung singkat saja. Masa ini ditandai oleh sifat-sifat negatif pada si remaja sehingga masa ini seringkali disebut masa atau fase negatif. Adapun sifat sifat negatif itu adalah sebagai berikut:

  1. Sifat-sifat negatif pada anak perempuan menurut H. Hetzer
  2. Tak tenang
  3. Kurang suka bekerja
  4. Suasana hati tak baik, pemurung
  5. On-sosial (agresif/menarik diri dari masyarakat)

Sifat negatif pada anak laki-laki menurut Hans Hochholzer

  1. Kurang suka bergerak
  2. Lekas lelah
  3. Kebutuhn untuk tidur besar
  4. Suasana hati tidak tetap
  5. Pesimistis

         Masa remaja sering juga disebut masa pencarian jati diri. Karena pada masa ini memang anak laki-laki maupun perempuan sering mengalami kesepian serta penderitaan yang seolah-olah tidak ada orang yang memahami, serta kebutuha seorang teman yang dapat memahami dan menolongnya, tak ayal pada masa ini anak laki-laki maupun perempuan sering bergerombol atau membentuk suatu perkumpulan (geng)

         Sis Heyster (1950: 242) menggolong-golongkan anak laki-laki dan juga perempuan ke dalam tipe tersendiri.

Anak laki-laki digolongkan menjadi:

  1. Pencari kultur
  2. Pencinta alam
  3. Tipe karyawan (pejabat)
  4. Tipe vital
  5. Tipe hedonistik

Anak perempuan digolongkan menjadi:

  1. Tipe keibuan
  2. Tipe erotis
  3. Tipe romantis
  4. Tipe tenang
  5. Tipe intelektual

Perkembangan Individu Karena Belajar

Faktor yang Mempengaruhi belajar

1.Faktor Nonsosial

Kelompok faktor ini boleh dikatakan juga tak terbilang jumlahnya, seperti misalnya: keadaan udara, suhu, cuaca, waktu, tempat, alat yang digunakan, lingkungan dan lain sebagainya. Oleh karena itu demi mendapatkan suasana yang mendukung, sekolah atau sarana mengajar lainnya harus jauh dari jalan raya bising, serta bangunan yang memenuhi syarat yang telah ditentukan oleh ilmu kesehatan sekolah.

2.Faktor Sosial

Yang dimaksud dengan faktor-faktor sosial disini ialah faktor manusia (sesama manusia), baik manusia yang hadir, maupun kehadiran yang tidak langsung. Kehadiran orang lain tentu menggangu kita belajar. Misalnya saat murid di kelas sedang mengikuti ujian, kemudian diluar terdengar murid yang sedang mengobrol. Tentu akan mengganggu konsentrasi murid yang sedang ujian. Oleh karena itu, faktor yang seperti ini harus diatur, supaya kegiatan pembelajaran dapat berlangsung sebaik-baiknya.

3.Faktor Fisiologis

Faktor fisiologis disini termasuk keadaan jasmani seseorang. Keadaan jasmani pada umumnya dapat dikatakan melatarbelakangi aktivitas belajar, karena kondisi jasmani yang kurang baik tentu akan memberi pengaruh buruk terhadap kegiatan belaja dan tentu bisa mempengaruhi hasil yang di dapatkan. Oleh karena itu nutrisi serta beberapa penyakit yang bisa dibilang kronis perlu di waspadai. Misalnya karena akan bergadang untuk belajar maka mengkonsumsi kopi dalam jumlah batas wajar, tentu hal tersebut tidak bagus nagi kondisi organ tubuh, terutama maag.

4.Faktor psikologi

Menurut Frandsen (1961: 216) ada bebrapa hal yang mendorong seseorang untuk belajar. Seperti adanya sifat ingin tahu dan ingin menyelidiki dunia yang lebih luas, adanya keinginan untuk mendaparkan simpati dari orangtua, guru serta teman-teman, lalu adanya keinginan untuk mendapatkan rasa aman bila menguasai pelajaran.

Penilaian Hasil Pendidikan

Peranan penilaian dalam usaha pendidikan adalah hal penting, karena itu perlu diperhtungkan mengenai penilaian. Penilaian dilakukan supaya dapat mencerminkan apa yang yang dinilai hendaknya dilakukan secara periodik. Makin sering jadi makin bagus. Selain itu, hasil penilaian hendaknya segera diberitahukan kepada murid-murid dimana perlu diadakan pembicaraan mengenai hasil tersebut.

Agar penilaian dapat di pertanggungjawab kan, maka tes yang diberikan juga harus memiliki kriteria atau syarat. Supaya mendapat hasil penilaian yang baik. Diantaraya:

1.Tes Harus Reliable

Tes yng diberikan harus bersifat reliable atau terpercaya dan hasilnya ajeg. Misalnya, jika tes diberikan saat ini maka hasilnya harus sama jika tes diberikan saat tahun berikutnya.cara yang dilakukan untuk dapat mengetahui reliabilitas suatu tes biasanya mnggunakan teknik korelasi.

2.Tes Harus Valid

Suatu tes disebut valid apabila tes tersebut mengukur apa yang harusnya diukurnya. Misal, tes untuk pelajaran sejarah, maka harus benar-benar mengukur kepandaian anak dalam mempelajari sejarah. Untuk mengukur validitas suatu tes itu, biasanya orang membandingkan tes yang sedang diselidiki validitasnya dengan tes yang sudah dipandang baik.

3.Tes Harus Comprehensive

Suatu tes dikatakan comprehensive jika tes tersebut mencakup segala persoalan yang harus diselidiki. Misalnya dari 115 orang guru diminta memberikan nilai pekerjan dalam mata pelajaran Ilmu ukur, maka 2 orang diantara mereka memberikan nilai antara 90-100, dan seorang memberikan nilai antara 20-29, jadi selisihnya adalah 70 nilai.

Sumber :Psikologi Pendidikan, Drs. Sumadi Suryabrata, B.A., M.A., Ed.S., Ph.D. 354.hal, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, Januari 2011, ISBN 979-421-082-x.

 

Saatnya Anda Menjadi Boss


angry-boss460Mengapa terus-terusan jadi anak buah

Dunia sangat terbuka lebar untuk segala kemungkinan. Anda bebas menjadi apa pun yang anda inginkan. Proyeksi hidup anda saat ini dan ke depan sepenuhnya berada dalam genggaman anda sendiri. Anda mau menjadi orang biasa saja atau orang hebat, bahkan super hebat, semua bias dan sangat mungkin. Termasuk ketika anda ingin menjadi jutawan,miliader, atau trilyuner sekali pun ,anda bisamencapainya. Memangnya, ada yang melarang? Tidak, bukan?

  1. Pasrah pada takdir

Harus diakui memang ,adanya kesalahan terkait dengan takdir yang selama ini di pahami banyak orang. Takdir hanya diartikan sebagai apa yang diterima seseorang sebagaimana adanya tanpa pernah ada usaha. Padahal, takdir sebenarnya adalah apa yang kita terima setelah segenap daya dan upaya kita kerahkan . jadi, artinya ialah ada korelasi positif dan jelas bahwa adanya hasil sangat ditentukan oleh usaha yang mendahuluinya. Tanpa itu, banyak diyakini hampir semua orang . jadinya , kemiskinan da keterpurukan sepenuhnya dianggapsebagai takdir yang harus di terima. Beegghhh…menyedihkan?

  1. Merasa tak punya bakat

Masalah yang terkait dengan bakat juga kerap menjadi alas an megapa seseorang enggan atau tak juga memulai sebuah usaha. Mereka tetap saja membiarkan dirinya dalam kebimbingan dan kebingungan ,yang sebenarnya kebibangan dan kebingungan itu mereka sendirilah yang menciptakannya . sebenarnya , dengan segera memulai mereka akan menemukannya banyak kemudahan .

  1. Tak ada keterampilan

Keterampilan dalam dunia usaha memang sangat dibutuhkan. Tetapi, hal ini jangan sampai membuat anda mengurungkan diri menggelutinya karena anda merasa tidak memiliki ketermapilan tersebut. Tak perlu terlalu risau dan pusing karena jika tekad sudah bulat, segera saja langkahkan kaki anda. Soal keterampilan dapat anda pelajari sambil berjalan. Banyak bukti, cara demikian lebih efektif dan berhasil dari pada melulu mempelajari keterampilan secara teori dan teori tanpa memiliki keberanianuntuk praktik. Dengan metode seperti itu, anda lebih memiliki kesempatan untuk memperaktikan secara langsungteori-teori yang mengendap dipikiran anda menjadi usaha nyata. Lebih lanjut, anda bahkan bisa melakukan anlisis dan perbandingan tentang teori mana yang paling cocok untuk anda terapkan. Atau, anda melakukan penambahan dan penyampurnaan teori-teori tersebut. Ada inovasi yang bias anda lakukan. Pastinya, dengan cara ini anda semakin memiliki keterampilan yang lebih komplit dan mantap.

  1. Belum memiliki modal

Modal juga sangat penting dalam memulai sebuah usaha. Tetapi, anda jangan mengartikan dan memahami bahwa modal semata-mata adalah uang. Ketika anda belum cukup memilikinya atau bahkan tidak memiliki sama sekali. Anda lantas tak berani memulai rencana usaha dan mewujudkannya.

Memang, buka hanya anda sendiri yang menerjemahkan modal sekedar berupa uang. Tetapi, masih banyak lagi bahkan hampir kebanyakan orang didunia ini mengartikan modal sebagai yang anda pahami. Coba bayangkan saja. Adndai modal diartikan sekedar berupa uang dengan kepemilikan mutlak seorang individu, maka boleh jadi hanya sedikit mereka yang betul-betul memulai langkah untuk menjadi bos dan pengusaha sukses. Terlebih lagi untuk mereka yang pemula dan betul-betul memulainya dari titik bawah.

  1. Takut menjalani kerugian.

Takut rugi, itu salah satu alas an lain mengpa seseorang enggan mewujudkan impianna utuk memiliki usaha sendiri dan menjadi bos bagi perusahannya. Apakah anda termasuk salah satu dari orang yang semacam ini? Saya berharap anda bukan golongan dari mereka. Anda harus tahu baha kerugian atau kegagalan merupakanhal yang wajar dala, proses mewujudkan impian. Jika salah prinsip untung yang anda pegang, maka ketika anda mengalami keugian. Anda akan merasa sangat terpuruk. Tetapi, jika prinsip berani gagal yang anda kedepankan, maka ketka anda benar-benar mengalami kerugian atau kegagalan, anda tidak akan pernah kaget dan terguncang. Untuk menjadi seorang pengusaha yang tangguh anda harus berpegang teguh pada prinisp.

  1. Tak ada dukungan keluarga.

Dalam hal apapun, termasuk dalam membuka sebuah usaha baru, dukungan keluarga memang sangt perlu dan dibutuhkan untuk menambah kemantapan hati dan kepercayaan diri. Tetapi, bagaimanapun, anda tidak dapat selamanya menggantungkan setiap apa yang anda inginkan dan lakukan berdasrkan factor ada ataupun tidak adanya dukungan dari keluarga. Jangan sekali-kali anda menerapkan pola seperti ini “jika ada dukungan dari keluarga maka anda meneruskan rencana anda teapi jika tidak ada lalu menghentikannya. Bagaimana anda dapat mengatakan bahwa tanpa dkungan keluarga hanya akan berujung pada kesialan? Usaha anda berujung pada kebangkrutan? Padahal. Itu hanya keyakinan semu yang anda miliki. Belum terbukti kebenarannya.

Saatnya tampil beda

  1. Apakah harus selamanya menjadi karyawan

Anda ingin kaya dengan penghasilan tak terbatas? Kalau iya, berhentilah menjadi karyawan. Jangan bekerja kepada orang lain. Bekerjalah untuk diri anda sendiri. Segera miliki usaha pribadi, dan pekerjaan banyak orang. Namun, untuk memlainya memang tidak mudah. Terlebih untuk seorang karyawan yan telah sekian tahun terbiasa berada dalam “zona nyaman” yang sesungguhnya tidak sratus persen nyaman. Anda jaminan hidup berupa gaji bulanan kerap menjadikan seseorang enggan melangkah menuju kemajuan, mewujudkan potensi besar dirinya dan tegas berdiri di atas kreativitas pribadi, serta meraih sesuatu yang lebih tinggi lagi.

  1. 2. Ingin kaya? Ubah karakter anda

Jangan hanya berhenti pada euphoria meninggalkan ‘dunia lama’ dan bersenang-senang di dunia baru. Lanjutkan langkah anda. Ternyata untuk meraih kesuksesan dan pendapatan yang besar, ada syarat yang harus anda penuhi, yaitu perubahan. Perubahan dalam hal apa? Yang paling utama adalah perubahan sikap mental atau karakter.

Sedemikian perlu dan pentingkah perubahan ini. Tentu saja, bahkan harus. Ingat, pada posisi yang baru ini anda tidak lagi seorang karyawan, yang meski kerja asal-asalan tetap mendapatkan gaji bulanan. Di medan karya hidup yang baru ini, tak ada yang dapat anda andalkan kecuali diri anda sendiri. Tak ada jaminan sama sekali akan nasib keuangan anda dan kenyamanan hidup anda, kecuali semua berpulang pada langkah nyata anda untuk menangkap sinyal positif dari setiap arus ekonomi yang akan anda ubah menjadi sumber pundi-pundi ekonomi.

  1. Ledakan potensial tersembunyi anda.

Menjadi karyawan dan menikmati fasilitas yang diberikan, entah itu gaji bulanan, bonus perjalanan dan hiburan, itu dapat melenakan anda. Dengan semua ini, banyak orang yang seumur hidupnya diabadikan sebaai karyawan. Padahal, sebenarnya mereka memiliki potensi besar untuk hanya sekedar menjadi seorang karyawan, menjadi anak buah yang terus menerus diperintah dan terikat dengan aturan-aturan. Anda perlu merenungkan ini. Seperti pepatah kuno yang menyatakan.”kalau bias terbang, mengpa mesti hanya berjalan. Pastinya, sangat mendesakbagi anda untuk segera mengenali potensi anda.

  1. Kejar mimpi anda dan nikmatilah.

Potensi diri yang anda lalui, sbenarnya fase yang paling menentukan. Karena ini terkait erat dengan jadi atau tidaknya, langkah pertama yang anda ambil. Memang setiap langkah permulaan akan tersa lebih berat jika dibandingkan dengan langkah permulaan akan terasa lebih berat jika dibandingkan dengan langkah berikutnya. Apalagi dalam hal memulai sebuah usaha. Kendalikan tidak hanya soal permodalan dan hal teknis lainnya, tetapi juga halangan dari dalam diri sendiri.

JADI ORANG GAJIAN TERNYATA TIDAK ENAK

Posisi antara orang gajian alias anak buah, pegawai, atau karyawan dengan seorang bos tentu berbeda. Dari sudut mana pun, setiap orang jika ditawari menjadi bos pasti akan memilihnya.

Posisi bos dengan konsekuwensi dan tanggung jawab yang di emban, berpengaruh juga terhadap pendapatan kondisi financial sehari-hari, dan juga gaya hidup. Namun, untuk yang tersebut terakhir mutlak, karena tidak sedikit pula bos yang hidup secara sederhana walaupun sebetulnya bias saja dia hidup serba mewah. Penggabarannya seperti sebuah tombol, kapan dia mau hidup sederhana, kapan dia mau hidup mewah, dia tinggal pencet tombol. Tetapi garis besarnya di antara dua posisi di atas sangatlah berbeda orang gajian vs menjadi bos, sangat menentukan nasib anda kedepan.

  1. Datang harus tepat waktu

Di mana dan di perusahaan apapun anda bekerja, sebagai seorang anak buah, karyawan atau pegawai, hal terpenting yang perlu anda taati dan tidak bias tidak adalah menyangkut jam bekerja. Anda harus datang tepat waktu sesuai peraturan perusahaan. Menyimpang dari ketentuan ini, berlaku seenaknya tanpa mengindahkan disiplin waktu ang berlaku, anda harus rela dan selalu bersiap bila suatu saat ditegur atau bahkan akhirnya diberhentikan dari pekerjaan.

  1. Jika berhalangan harus ada pemberiahuan.

Karena anda hanyalah seorang anak buah, dipastikan anda tidak akan punya cukup alas an untuk merasionalisasi tindakan sekecil apa pun yang anda lakukan, baik disengaja ataupun tidak.

Hal pokok yang diinginkan bos anda adalah anda mentaati setiap peraturan perusahaan, bekerja secara professional, disiplin yang tinggi, dan loyal. Perusahaan tak akan mau tahu bagaimana urusan anda dan kesibukan anda lainnya di luar jam kerja. Maka sengan sendirinya anda dituntut cerdas menyikapinya segala kententuan dari bos anda tau perusahaan dimana anda bekerja.

  1. Tidak boleh tidur ketika jamkerja

Tak ada yang menyangkal, dunia kerja adalah dunia yang sangat seruis, cepat dan kadang kelewat batas, penuh trik dan intrik, serta persaingan yang sengit. Di tengah persaingan itu, bukan bos yang diperas keringatnya, tetai anak buah, karyawanlah yang dituntut memiliki tenaga dan daya produksi yang prima. Andalah sebagai anak buah yang harus bekerja mati-matian untuk memenangkan persaingan, membawa perusahaan ketingkat kesuksesan, sekaligus menyingkirkan perusahan-perusahaan lawan.

  1. Hormat kepada si bos.

Bagaimanapu, karena anda hanyalah seorang anak buah, maka anda harus tahu diri untuk tidak melakukan hal-hal yang di anggap urang ajar dimata bos. Anda harus memiliki kepekaan untuk tidak menyinggung perasaan dan harga diri bos anda tersebut. Intinya, kapan dan dimanapun anda bertemu dengannya, anda harus menunjukan sikap hormat.

  1. Patuh kepada si bos

Pernahkah andabekerja disuatu tempat yang sering mengalami pergantian peratusan seirng dengan datangna bos baru menggantikan bos lama karena sudah pension. Jika iya, tentu hal ini cukup membuat para karyawan gusar. Terlebih, jka peraturan baru yang diterapkan berakitan langsung dengan pengurangan dengan kesejahteraan para karyawan. Apa yang anda akan lakukan sebagai karyawan dalam kasus ini? Hanya ada dua kemungkinan : kalau tidak keluar setelah terlebih dahulu melalui serangkaian demo atu tetap bertahan meski terpaksa karena takut menjadi pengangguran. Dan selamanya harus tetap taat kepada bos.

  1. Kerja harus selalu benar

Bagi perusahaan, ketelitian, ketepatan dan kecepatan kerja merupakan harga mati yang tidak dapat ditawar. Hal ini dengan sendirinya, mengharuskan setiap orang terlibat dalam kinerja perusahaan memiliki standar dan keahlian tinggi dalam menguasai dan menangani bidang-bidang yang menjadi tigasnya. Pokoknya, semua bekerja harus dengan benar tidak boleh melakukan kesalahan. Saat itulah anda tak ubahnya seperti mesin produksi yang harus menghasilkan produk setiap saat.

  1. Potong gajian jika salah

Begitu banyak macam kebijakan berbeda yang diterapkan pada setiap perusahaan. Yang tentunya memiliki keunikan sendiri-sendiri. Memiliki landasan filosofi sendiri, termasuk dalam hal ini adalah tentang kebijakan potong gaji bagi karyawan yang melakukan kesalahan.

  1. Siap dimarahi

Di dunia ini rasanya tak ada seorang pun yang tidak pernah mendapatkan omelan. Atau menjadi objek dari kemarahan pihak lain. Saya yakin semua orang pernah mengalaminya.

Termasuk anda, bahkan mereka konon disebut orang besar , kau bermartabat dan para pengusaha sekalipun pernah menjadi objek penderitaan ini. Bagaimana nasib seorang anak buah, tentu tidak lepas dari omelan si bos, karena anda sebagai anak buah tidak dapat membalas kemarahan itu, sehingga harus selalu siap kapan anda dimarahi.

  1. Tak berdaya ketika di PHK

PHK alias pemutusan hubungan kerja adalah mimpi buruk yang paling dibenci oleh setiap karyawan. Termasuk anda, wajar saja setiap orang merisaukan hal tersebut karena hidup tanpa memiliki pekerjaan akan sangat sulit. Siapa pun tahu hidup tanpa pekerjaan secara umum berarti hidup tanpa memiliki sumber penghasilan. Kejadian PHK secara sepihak dipecat dengan tibatiba kadang sering terjadi untuk itu anda harus selalu siap apabila suatu saat nanti PHK menimpa diri anda.

Tunggu apalagi segeralah menjadi bos

Jika telah menekadkan diri untuk keluar dari hidup yang pas-pasan menuju hidup yang gemilang secara ekonomi, maka tak ada kata lain kecuali anda harus segera mengorbitkan diri anda sendiri. Tak perlu menunggu orang lain untuk mengangkat diri anda pada puncak kejayaan seperti apa yang anda bayangkan.

  1. Bertekadlah sekuat baja

Sebagaimana lazimnya suatu perubahan besar pada diri seseorang, maka hal pertama yang perlu anda miliki adalah niat yang teguh.dan tekad yang membaja dalam dada. Jika dalam hal ini jika tidak anda miliki, maka kedepannya langkah dan usaha anda hanya akan berbuah sia-sia. Karean tidak memiliki tekad yang membaja.

  1. Cermatilah, peluang usaha ada dimana-mana

Sungguh, tidak ada keberuntungan atau nasib baik yang berpihak kepada orang malas. Karena keberuntungan hanya akan menyertai orang-orang yang rajin dan mengerahkan segala daya upaya untuk meraih apa yang mereka impikan. Perbedaan keduanya sangatlah jelas. Orang malas menutup hati dan mata mereka pada kesempatan, terhadap peluang yangsedang terbuka selebar-lebarnya di depan mata mereka. Sementara mereka yang rajin dan sungguh-sungguh mampu melihat setiap yang mereka lihat dalam dinamika hidup sebagai peluang besar dalam mengembangkan usaha.

  1. Belajarlah kepada ahlinya

Mencari posisi yang ideal, jalan yang mulus dan pencapaian yang memusakan sebagai seorang bos tentunya menjadi impian atau idaman bagi banyak orang. Namun sayang tidak sedikit harapan besar itu akhirnya kandas di tengah jalan oleh karena beberapa alasan. Diantaranya adalah salah memilih guru sebagai calon bos. Belajar adalah kuncinya. Terutama mengenai bidang yang akan anda tekuni menjadi lahan garapan anda.

  1. Rumusan ide unik usaha anda

Kalau anda melangkah secara setengah-setengah dalam usaha yang anda geluti, maka lupakanlah mimpi anda untuk dapat menuju puncak kesuksesan. Dalam dunia usaha tak boleh ada kata setengah-setengah atau keraguan. Dalam banyak hal justru penampilan berbeda itulah menjadi keharusan, dicari dan dipraktikan, anda harus mampu tampil beda. Buatlah perbedaanperbedaan dengan para pesaing anda dalam bidang yang sama, keunikan usaha anda adalah menjadi ciri khas.

  1. 5. Resiko selalu ada.

Tak dapat dipungkiri, faktor risiko selalu ada saja menjadi membuat banyak orang mengurungkan segala macam rencana majunya. Faktor inilah yang kerap menjadi pencegah seseorang untuk segera bertindak dan mengambil langkah pertama untuk membuka usaha atau membangun bisnis. Faktor resiko benar-benar harus diperhitungkan ingat dimanapun resiko selalu ada dalam dunia usaha.

  1. Wujudkan ide usaha anda

Setelah pencarian ide usaha,pertimbangkan dan perhitungkan resiko yang mesti anda kelola, kini saatnya anda mewujudkan ide usaha anda yang paling nyata. Jangan menunggu terlalu lamakarena anda akan kelihatan kesempatan. Pada saat semangat anda tengah membungbung tinggi itulah waktu yang tepat untuk segera mewujudkan usaha anda.

  1. Kini anda adalah sang bos. Pada akhirnya, andda menjadi saksi dari kebulatan tekad, kegigihan dan kemaun keras diri anda sendiri. Anda telah menjadi bos perusahaan sendiri. Cobalah sesekali anda bayangkan kiranya anda tidak jadi mewujudkan ide usaha tersebut pastilah anda sangat menyesal. Tetapi, apapun yang terjadi pada masa lalu tak perlu anda sesali. Ambil saja hikmahnya ambil setiap

periode, baik yang menyenangkan dan yang tidak sebagai pelajaran untuk menjalani hidup dimasa depan. Dan agar anda mawas diri dan dewasa ketika nanti menghadapi cobaan. Yang terpenting kini adalah memikirkan hari ini dan besok. Memikirkan langkah selanjutnya dari apa yang baru anda muali tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Jona Abdillah, Saatnya Anda Menjadi Boss, Penerbit Tjap Djempol, 2011

 

Sekolah Saja Tidak Pernah Cukup


RESENSI BUKU

Judul buku : Sekolah Saja Tidak Pernah Cukup
Penerbit      : PT. Gramedia Pustaka Utama
Penulis       : Andrias Harefa
Halaman     : xi + 177
Kategori     : Perilaku manusia pembelajar.

Semua orang ingin berubah. Ya, kita tentu sangat setuju dengan pernyataan tersebut. Tetapi kita juga tahu bahwa tak banyak orang yang bisa melakukannya, apalagi menyelesaikannya. Selain banyak yang tidak bisa melihat kesempatan itu, sebagian besar lainnya justru tidak bergerak. Jika pun bergerak tetapi gagal menyelesaikan misi mulia itu. Sehingga perubahan itu tak kunjung terjadi.

Menurut versi majalah dan lembaga survei di amerika orang-orang terkaya di dunia  dijadikan tolak ukur untuk membedakan antara mereka (winners?) dengan para pecundang (losers). Tetapi untuk menjadi kaya raya dan sukses dalam bisnis, orang tidak perlu harus memiliki gelar akademis.

Tanpa keberanian dan kemampuan untuk menerobos pola pikir dan kebiasaan universitas, orang tidak dimungkinkan untuk mencapai prestasi puncak seperti yang dicapai oleh orang-orang yang sukses tanpa gelar akademis.paling-paling ia akan menjadi bagian dari kelas menengah yang mungkin cukup mapan, tetai belum mencapai puncak prestasi (peak performance).

Sesungguhnya menjadi kaya dan sukses dalam berbisnis, pertama-tama memang tidak ditentukan oleh ada atau tidak adanya gelar kesarjanaan, tetapi lebih ditentukan oleh faktor-faktor lain. Dan orang-orang yang kaya raya selalu mendemontrasikan hal-hal seperti:

Pertama, ide, keyakinan dan visi kuat mengenai masa depan masyarakat dunia dan bagaimana menangguk keuntungan dari semua hal itu; kedua, mereka mamiliki sensitivitas terhadap kebutuhan pasar; ketiga, mereka sangat kreatif untuk menciptakan produk yang sesuai dengan kebutuhan pasar; keempat, mereka mengambangkan keberanian untuk mengambil risiko dalam usia muda (risk-taker); kelima, mereka memiliki kebiasaan bekerja keras, yang bafi mereka justru menyenangkan karena pilihan kerja mereka bertalian erat dengan minat dan bakat  atau talenta pribadi; keenam, mereka memiliki toleransi terhadap kegagalan dan tidak menganggapnya sebagai hal yang “haram” atau “najis”, tetapi justru perlu untuk dapat sungguh-sungguh berhasil; ketujuh, mereka pantang menyerah dan mendemontrasikan ketekunan bekerja yang luar biasa; dan seterusnya. Itulah beberapa paktor yang lebih dominan daripada atribut tempelan yang diberikan universitas ( gelar akademis ).

Para agen dan perintis perubahan adalah orang-orang yang selalu menerobos batas-batas konvensional karena dipandu oleh keyakinan, visi dan misi hidup mereka yang relatif jelas. Mereka adalah pengambil risiko yang suka ‘menjemput’ tantangan karena merasa tahu dan yakin dapat meminimalisasi risiko-risiko tersebut  ( bukan gambler yang lebih banyak mengandalkan peruntungan, hoki, atau nasib baik semata).

Sudah waktunya, juga di indonesia, visi, misi, dan strategi pendidikan ditata ulang dengan secara seksama memeriksa asumsi-asumsi yang selama ini dipegang teguh tanpa sikap kritis yang seharusnya menjadi jiwa akademis. Universitas harus berhenti memproduksi beo-beo dan mesin penghafal yang melecehkan potensi manusia sebagai satu-satunya ciptaan yang diciptakan o;eh sang pencipta dengan dianugrahi daya cipta untuk mencipta dalam proses belajar berbakti, beriman dan bertakwa hanya kepada sang pencipta.

Persekolahan formal tidak pernah cukup membekali angkatan muda untuuk menapaki kehidupan di awal abad 21 ini

Robert T. Kiyosaki dalam buku “Rich Dad, Poor Dad” ia menjabarkan enam pelajaran berikut : pertama, orang kaya tidak bekerja untuk mendapatkan uang, tetapi membuat uang bekerja untuk mereka; kedua, untuk dapat membuat uang bekerja bagi kita, kita harus melek secara finansial (financial literacy), mampu membaca angka dan memaknainya dengan jitu; ketiga, berupaya untuk menciptakan bisnis sendiri, dan tidak puas dengan hanya menjadi karyawan(dengan bayaran dan fasilitas yang bagaimmanapun juga); keempat, ketauhilah sejarah perpajakan dan kekuasaan dari perusahaan; kelima, orang kaya menginvestasikan uangnya; keenam, bekerjalah untuk belajar jangan bekerja untuk mendapatkan uang.

Orang-orang muda perlu diajar dan dilatih untuk mulai memahami cara mmendapatkan penghasilan pada usia sedini mungkin, sesaat mereka belajar menghitung, membaca dan menulis. Tujuannya bukan menjadi kaya secepat mungkin, tetapi memppelajari bagaimana uang “bekerja” atau bagaimana uang dapat “dipekerjakan” sebagai budak manusia, sehingga ia bisa terhindar dari kecendrungan menjadi budak uang.

Menjadi kaya itu sendiri hanyalah salah satu pilihan bagi manusia. Sekalipu orang dimungkinkan untuk menjadi kaya, ia dapat memilih untuk tidak menjadi demikian. Sebagai contoh Nabi Muhammad SAW dan yesus kristus memilih mengajarkan pentingnya beriman dan bertakwa kepada ALLAH dalam keadaan kaya maupun miskin, dibandingkan memilih memperkaya diri sendiri.

Satu hal yang pantas kita syukuri adalah kenmyataan bahwa ditengah maraknya sentimen kedaerahan dan berbagai wujud primordialisme sebagai dampak pelaksanaan desentralisasi pemerintahan dan otonomi daerah, kampus relatif masih merupakan tempat yang aman dimana kegiatan lintas-agama, lintas-suku, lintas-bahasa, lintas budaya, dan lintas-generasi dilaksanakan.

Pengetahuan dikaitkan tidak hanya dengan tindakan, tetapi dikaitkan dengan kajian tentang pekerjaan, analisis pekerjaan, dan rekayasa pekerjaan atau untuk memperbaiki pekerjaan. Ini dirintis oleh Frederick Winslow Taylor (1856-1915).

Driyarkara menmgatakan pendidikan itu sendiri hakikatnya adalah proses pemanusiawian manusia muda, proses “humanisasi”, yang tentu saja tidak boleh dibonsaikan demi kepentingan pasar saja.

Resep klasik “ jika kamu mau sukses di masa depan, bellajarlah disekolah terkenal” rasanya sudah tidak berlaku lagi. Sekolah paling elite pun tidak mampu lagi membekali murid-muridnya dengan pengetahuan dan pegangan yang memadai untuk menghadapi tantangan jaman ini.

Sesungguhnya pemujaan terhadap “ sertifikat akademis” adalah dampak dari pemujaan sekolah sebagai satu-satunya lembaga “pendidikan”. Dan dalam banyak kasus  kita sudah saksikan bagaimana gelar akademis sedikit sekali menggambarkan kemampuan pemiliknya. Kalau proses-proses pembelajaran berbasiskan keluarga, komunitas, perusahaan, dan masyarakat dapat diselenggarakan dengan relatif memadai, maka proses perekrutan kerja harus pula dibebaskan dari kewajiban memiliki “sertifikat akademis”.

Untuk masa yang sangat lama kita telah mencoba hidup dalam masyarakat yang menganggap dan memperlakukan sekolah sebagai satu-satunya tempat belajar. Hasilnya adalah apa yang sekarang kita petik. Sebagai masyarakat dan negara bangsa, indonesia makin dekat dengan apa yang dulu disebut Bung Karno sebagai “banggsa kuli-babu” kita nyaris tidak memiliki kelompok asyarakat yang oleh Romo Mangunwijaya disebut “bermental swasta”.

Publikasi hasil penelitian skripsi?


Sebuah pertanyaan besar kenapa baru sekarang diberlakukan setelah budaya teksbook kita begitu kuat dalam kurikulum pendidikan kita, mahasisiwa terbiasa dengan hapalan-hapalan teks yang tak berimbang dengan apliaksi kasus. Sehingga mereka terbiasa dengan asupan-asupan imu dalam diktat dan buku paket yang baku yang tidak mengarah pada apresiasi dan kreatiftas kita.

Mereka hebat berteori tapi lemah dalam aplikasi. Saat skripsi mereka membolak-balikan  hasil skripsi sudah menjadi budaya sehari-hari di perpustakaan kampus. mereka skripsi hanya melihat karya orang lain dan menduplikasikannya, kalau bisa dbuatkan sekripsi yang bertebaran di sudut kampus Apalagi persepsi penelitian sekedar syarat kelulusan bukan untuk pembuktian kualitas mereka sebagai intelektual dan  pembelajaran mereka selama delapan semester kuliah di perguruan tinggi.

Begitu juga karya ilmiah dan hasil riset dosen di Indonesia sangat kurang mendapat perhatian, kurangnya subsidi bagai penelitian, belum ada publikasi luas sebatas jurnal kampus atau hanya sekedar persyaratan sertifikasi dosen atau kepangkatan yang bisa copy paste dan hanya formalitas semata.orang lain  Lebih parah lagi dengan budaya plagiator dikalangan ilmuwan, seperti tahun 90-an Ismet Fanany menuduh desertasi hasil karya Dr. Yahya Muhaimin dalam judul “Bisnis Dan Politik Di Indonesia” sebagai duplikasi dari karya ilmuwan Australia Dr. Richard robinson, “Capitalism An The Bureaucratic State In Indonesia” [1]

Walaupun begitu kebijakan baru untuk mewajibkan kelulusan setelah hasil karya ilmiah mereka S1, S2 dan S3 harus terpublikasikan secara nasional. Sebuah gebrakan baru yang sebenarnya sudah diterapkan dinegara lain, walaupun dirasakan apriori mengenai beberapa hal yang harus dipikirkan oleh pemerintah dalam hal ini dikti dalam hal :

  1. Siapa yang menjadi media publikasi nasional, bagi PTN jelas dari pemerintah resmi dalam hal ini mendiknas, lalu PTS dengan bermacam grade kulaitas-nya.
  2. Berapa jumlah calon sarjana yang harus ngantri untuk dipublikasikan, kualitas karya ilmiahnya bagaimana yang gagal, kapan kelarnya?
  3. kualitas pembimbing riset yang alakadarnya  dan bagaimana fee, termasuk resiko semakin menumpuk calon sarjana yang tertunda dengan kebijakan ini terutama kampus yang kualitasnya masih dibawah standar nasional.

Kita akui program publikasi hasil penelitian ini akan meningkatkan budaya penelitian yang kuat setelah mereka menjadi sarjana, karena merasa hasil penelitian mereka terbaca semua orang dan menjadi promosi personal. Tapi masalah diatas terutama media publikasinya benar-benar qualified dan memikirkan kualitas PTS yang masih belum standar baik dalam perangkat kuirkulum maupun infrastruktur. Sebanrnya seandainya mau secara bertahap dengan memperhatikan dosen untuk meningkatkan kegiatan penelitian dan menyediakan penerbitan dengan memperhatikan royalty ilmiah mereka sehingga memberikan motivasi penelitian mereka semakin kuat, plus ada bantuan yang proporsional antara dosen negeri dan swasta untuk riset.

[1] Plagiat-plagiat dim it tragedy akademis di indonesia, ismet fanany, KOMPAS, 22 November 1992.

Manajemen dengan Kecerdasan Emosi


Di dalam sebuah perusahaan tentu saja terdapat suatu organisasi, yang merupakan kumpulan orang – orang yang bekerjasama dengan satu tujuan tertentu, yaitu demi kemajuan dan memperoleh keuntungan yang sebanyak – banyaknya. Grafik organisasi  merupakan suatu dokumen perusahaan yang sangat berharga, tetapi sedikit orang yang beranggapan seperti itu.

Di dalam sebuah organisasi tentu saja terdapat tim yang bekerjasama guna tercapainya suatu tujuan, yang menjadi pertanyaan ialah : Apakah setiap tim sudah ditempatkan sesuai dengan kemampuannya baik bakat, potensi, dan tingkat pendidikannya?? Tetapi hal yang paling penting ialah bukan hanya grafik perusahaan, akan tetapi grafik setipa anggota timnya. Dimana seseorang harus mampu untuk memanage emosionalnya, contohnya seorang bos pada waktu tertentu berhak marah, akan tetapi tidak berhak menjadi kejam dan bengis, seorang bos juga pada waktu tertentu berkewajiban untuk memberikan pujian. Karena pujian adalah obat dan juga empati yang merupakan terapi termurah untuk seorang bawahan, tentu saja hal ini berpengaruh pada tingkat emosional para pekerja. Jika semua pekerja menjalankan tugasnya dengan bangga, semangat, dan penuh energi, maka disitulah letak seorang bos yang cerdas secara emosional. Akan tetapi dalam sebuah tim pasti terjadi perbedaan pandangan dalam mencapai sebuah tujuan, karena memiliki tingkatan emosional yang berbeda – beda, produktifitas, dan kesehatan yang berubah – ubah dari waktu ke waktu. Dan tidak semua individu suka bekerjasama secara kelompok, untuk itulah dibutuhkan semacam grafik kepribadian untuk mengenal tingkat emosional masing – masing anggotanya.

 Jadi penempatan seseorang dalam tugas / jabatan bukan hanya dilihat dari tingkat pendidikan, bakat, potensinya saja, tetapi juga kemampuan seseorang dalam memanage emosionalnya dalam berbagai kondisi. Seorang yang sukses ialah orang yang mempunyai tingkat keseimbangan antara IQ dan EQ, seorang pemimpin yang baik ialah seorang yang baik secara akademik maupun emosional. Bersikap bijak, berempati, dan peka terhadap lingkungan kerja, tentu saja hal ini dapat membantu mempertahankan relasi yang baik dengan bawahan dalam jangka waktu yang lama. Bersikap optismistik dan positif dapat menempatkan seseorang dalam kerangka pikiran yang jauh lebih baik dalam memotivasi diri, akan tetapi sikap negatif hanya akan mempersulit dalam menjalan kan hal – hal yang fundamental ini dalam manajemen relasi, karena watak seseorang merupakan problem utama dalam psikologi.

Di dalam sebuah rencana bisnis tidak akan sempurna tanpa tehnik manajemen plus dosis strategi kecerdasan emosional yang baik, karena hal itu seorang pelaku bisnis harus mampu mengelola emosionalnya, tentu saja hal ini sangat dibutuhkan untuk menrik minat para pelanggan, karena pelanggan akan menukai para pembisnis yang melayani dengan hati. Berarti anda sedang membangun suatu jaringan kerja. Dan di dalam sebuah organisasi dibutuhkan perencanaan yang terkonsep dengan matang guna mencapai mencapai suatu tujuan tertentu, setiap pemimpin organisasi sebuah perusahaan harus memiliki pemahaman watak setiap pekerjanya, hal ini sangat membantu dalam membangun relasi antara pimpinan dengan bawahannya. Misalnya saja seorang bos harus pandai memotivasi dirinya sendiri dan juga bawahannya, karena motivasi adalah seni membuat orang lain merasa penting, baik, dan berbakat, belajar memotivasi seseorang orang lain dapat mengubah kepribadian seseorang, yakni yang lain sebelum dirinya sendiri, tetapi satu hal yang harus diperhatikan anda dapat saja memotivasi seseorang tetapi anda tidak dapat merubah kepribadian seseorang sesuai dengan yang anda inginkan. Anda baru dapat memotivasi seseorang jika anda telah mampu mengembangkan rasa empati dan kasih saying, motivasi merupakan manajerial terbaik, bahkan tindakan kecil kebaikan dapat berlangsung lama, karena motivasi bagian terpenting dari kecerdasan emosional, tetapi ingat pujian yang berlebihan adalah motivasi yang terbalik.

 Setiap perusahaan tentu saja memiliki kultur organisasi yang berbeda, hal inilah yang mendorong seseorang harus benar – benar memahami kultur dimana tempat ia bekerja, untuk itulah kecerdasan emosional di sini berperan, di mana seseorang berusaha untuk mengembangkan kepribadian di dalam suatu relasi antar individu dalam sebuah organisasi perusahaan, di sinilah akan terbentuknya suatu kearifan emosional. Kearifan emosional dapay menjadi suatu pengalaman yang sanggup merubah hidup seseorang melalui pengembangan potensi diri baik secara akademik maupun secara emosional, seorang pemimpin tentu saja harus memiliki kearifan emosional, seorang pejabat di sebuah perusahaan yang baik adalah pelajar sejati, di mana ia akan selalu berusaha membengun relasi yang baik dengan bawahannya, karena kesuksesan sebuah perusahaan dapat dilihat dari gaya kepemimpinanya ( manajemennya ).

Itulah faktor kunci yang akan diperhitungkan dalam nasib sebuah perusahaan, jika seorang pejabat perusahaan dalam menjalankan manajemennya menerapkan rasa egois, ketidaksabaran, dan penuh dengan ancaman, hal ini akan menghambat perkembangan sebuah perusahaan bahkan kelangsungan hidup suatu perusahaan, untuk itu jadilah seorang pejabat perusahaan yang mengedepankan kecerdasan emosional bukan kepandaian semata, karena otak yang baik jika diimbangi dengan temperamen yang buruk akan sia – sia.

Seorang pemimpin yang buruk ialah seorang yang tidak memiliki kearifan emosional, seorang baru dikatakn menjadi pemimpin yang baik jika ia telah belajar bagaimana menjadi orang yang lebih baik dahulu, seorang yang mempunyai tingkat IQ yang tiggi, tetapi tidak diimbangi dengan EQ hanya akan menjadi manusia setengah terdidik  Karena itulah banyak pejabat perusahaan yang korupsi, bahkan para pejabat pemerintahan di nagara ini. Di dalam pengelolaan sebuah organisasi tentu saja terdapat persaingan, di mana seseorang akan memainkan cara – cara politik demi tercapainya tujuan sekelompok orang, karena sebagian orang selalumemiliki justifikasi bagi penyalahgunaan wewenang, politik jabatan adalah kanker dalam manajemen.

Untuk itu diperlukan tingkat kesadaran moral yang tinggi, untuk dapat mendeteksi virus tersebut sebelum menyebar kepada anda, karena tidak jarang sebagian orang menjalankan politik dagang sapi, persaingan yang penuh dengan kecemburuan, ketamakan serta ambisi semata, yang merasa dirinya berhak atas hidup orang lain. Untuk itulah memanajemeni suatu usaha / organisasi dengan kecerdasan emosional akan mendatangkan banyak keuntungan meskipun hal ini tidak dapat dengan mudah direalisasikan, dan meskipun kita tidak dapat sepenuhnya menghapus politik organisasi setidaknya kita dapat mereduksinya dengan menciptakan iklim kerja yang sehat. 10 % politik dalam organisasi memiliki pandangan yang sehat, tetapi sisa yang 90 % itu dapat merampok keuntungan, peluang, dan kualitas sumber daya yang baik bagi perusahaan, bertnvestasilah dalam kearifan emosional karena hal ini sangat penting untuk menjaga hubungan anda dengan orang lain, karena anda adalah seorang manusia sosial yang perlu berinteraksi, tinggalkanlah politik – politik kasar serta birokrasi yang membuat orang tercekik, karena hanya dengan kearifanlah anda menjadi manusia yang cerdas. Kecerdasan emosional adalah tulang punggung sebuah organisasi dan harus menjadi asset yang sangat berharga dalam setiap kultur perusahaan, seorang bos yang cerdas berinvestasi kearifan dalam pekerja dan berupaya memutivasi serta selalu berusaha memberdayakan bawahannya menuju produktifitas yang lebih tinggi dan perilaku organisasi yang lebih baik.

Di dalam sebuah bisnis menjaga hubungan dapat meningkatkan peluang bagi bidang perdagangan yang lebih luas, karena pengenalan karakter dan budaya melalui orang perorang dapat mendatangkan bisnis dan keuntungan yang lebih besar. Berinteraksi dengan kecerdasan emosional memang bermanfaat  di dalam menjalin hubungan kerjasama dalam sebuah bisnis, dan hal yang paling penting ialah integritas, karena integritas merupakan dasar sebuah kepercayaan. Pelanggan adalah raja yang harus dilayani dengan sebaik – baiknya, baik secara sosial maupun professional, memberi pelayanan kepada pelanggan adalah kewajiban,karena dalam kondisi yang merubah dewasa ini, produk yang baik dan tehnik pemasaran yang baik saja tidaklah cukup, Karen bukan hanya menawarkan produk saja tetapi harus mampu mengantarkan kecerdasan emosional dalam layanan bagi para pelanggan.

 Seorang bos yang cerdas tentu tidak akan menempatkan anggota stafnya yang tidaki pandai tersenyum atau tidak memiliki bakat untuk melayani secar sopan dan tanggung jawab, Karena para pelanggan adalah salah satu komponen penting di dalam menjaga kelangsungan perusahaan, pelajarilah strategi pemasaran dengan menempatkan pelanggan di atas segalanya, karena pelanggan masa depan terbaik anda dalah pelanggan terdahulu anda, dan jika anda menjaga pelanggan anda dengan baik, mereka akan terus kembali. di dalam pengorganisasian dibutuhkan sistem untuk merealisasikan tujuan perusahaan, karena dengan sistem kita dapat bekerja secara sistematis, efektif, dan efisien. Yang akan menciptakan suasana kerja yang kondusif, penempatan organisasi yang cerdas secara emosional dapat diwujukan dengan cara yaitu : Membangun sistem yang benar, menciptakan kultur perusahaan yang benar, merekrut orang – orang yang tepat, dan  penerapan strategi yang tepat.  

Setiap pekerjaan yang dilakukan dengan marah atau kecemasan yang tinggi bukanlah pekerjaan yang produktif atau berrkualitas karena tanpa EQ sebuah organisasi praktis mati. EQ sangat diperlukan dalam menvisualisasikan diri di dalam sebuah organisasi. Visulisasi adalah sebuah imajinasi yang dibuat untuk dikerjakan, karena melalui visualisasi ini daya piker dan kreatifitas anda benar – benar akan diuji, untuk itu kembangkanlah visualisasi anda secara positif, dengan mengedepankan optismistik, pikiran positif, kepercayaan, dan harapan anda. Hal ini akan membangun kekuatan visualisasi yang besar, dan hal terpenting adalah anda selalu fokus terhadap tujuan anda.

Kecerdasan emosional menawarkan visi baru tentang kesadaran diri yang memungkunkan seseorang menilai perasaan, kemampuan, dan bakat anda sendiri, manakala kita telah mampu mengidentifikasikan pola emosional dalam kehidupan kita dan orang lain. Maka kita mampu mengelola kebutuhan kita melalui kekuatan visualisasi diri, dan  kecerdasan emosional mengajarkan seseorang untuk mengeluarkan dari pikirannya segala pemikiran dan perasaan negatif unyuk menjadi orang yang lebih baik lagi.

Sumber    : Manajemen Dengan Kecerdasan Emosional, DR. Henry R. Meyer, Nuansa, jakarta, 2010.

 

Sekuat  Apakah Visi Anda?


Berbicara visioner tak lepas dari potensi sukses yang mungkin tercapai sesuai dengan kualifikasi dan standar kualitas yang bisa meningkatkan preferensi. Makna ini seiring dengan konstelasi bagi peningkatan kualitas mahasiswa yang akhir-akhir ini jadi kendala besar sistem pendidikan kita.

KUALITAS  mahasiswa berkaitan dengan kemapanan kampus yang secara ideologis berbalik pada kemampuan internalisasi dimasa yang akan datang dan kemajuan personal tergantung sejauhmana visi kita dimasa yang akan datang dapat diaplikasikan secara empiris.eberapa Istilah visioner selalu mengingatkan pada manajemen visioner atau pimpinan visioner yang penulis adopsi untuk mahasiswa visioner. Ada beberapa buku yang mengungkapkan makna visioner[1] yang intinya adalah Cirri-ciri ….punya wawasan kedepan bukan berarti meramalkan apa yang terjadi kelak tapi lagi-lagi visinoer berpatokan pada kemampuan untuk merencanakan suatu target sehingga bisa tercapai dengan baik dimasa yang akan datang. Impian Ikal dalam cerita film “laskar pelangi” yang ingin kuliah di Sorbonne perancis[2]. Tercapai dimasa depan. Coba anda lihat kutipan yang baik ketika Ikal bertemu :

Sudut lain, visi itu niat yang ingin direalisasikan, masalah utama sejauh apa dan sebesar apa niat kita untuk sukses? Ukuran besar kecilnya kesuksesan inilah sangat berkaitan dengan sebesar apa mimpi kita ingin sukses. Sekali lagi kesuksesan adalah relative tetapi ada standard dan ukuran secara material, selain kesuksesan nisbi yang berhubungan dengan visi ilahiyah yang ukurannya adalah kesuksesan secara spiritual yang merupakan bagian dari dimensi kehidupan kita kenal sebagai sebuah kecerdasan spiritual[3]

Sehingga kesuksesan butuh strategi pencapaiannya baik secara teoritis, empiris maupun spiritual. Masalah lain banyak calon sarjana yang sulit menuangkan visi secara jelas, tegas dan aplikatif. Terkadang visi personal tidak tertulis karena anggapan sulit untuk diaplikasikan secara real karena ada anggapan visi kehidupan yang terkadang relatif berbeda dengan visi perusahaan atau organsiasi yang terukur sehingga banyak anggapan visi hanya sebatas wacana dan aplikasinya mengalir seperti aliran sungai yang tak bertepi. Sehingga pemahaman sukses salah satunya sejauhmana memahami urgensi visi dalam kehidupan personal, pekerjaan dan organisasi.

Urgensi Visi

Ketegasan visi harus jelas dan terukur sangat penting bagi seorang untuk menentukan arah dan tujuan ketika ingin melangkah dan mencapai suatu harapan dan cinta-cita setelah melalui adanya tahapan perencanaan. Dengan visi semua yang akan kita capai terfokus pada beberapa pertanyaan : untuk apa kita kuliah?apa yang harus kita lakukan ketika kuliah berlangsung dan bagaimana strategi setelah kuliah selesai?

Banyak sarjana yang bingung setelah lulus karena tidak tahu apa yang akan dilakukan dengan kualifikasi pendidikannya yang diperoleh, sekedar kuliah atau hanya mengejar ijazah semata tanpa kompetensi dan nilai yang bisa dijadikan sebagai spirit awal untuk memperjuangkan seluruh kehidupan dengan baik. Artinya Kita membutuhkan efikasi personal (self efication) [4] dalam menentukan visi yaitu keyakinan untuk melakukan prilaku khusus dengan sukses.

Arti penting visi bagi kesuksesan mahasiswa adalah sebagai

a). Arah dan tujuan hidup.

Harapan dimasa yang akan datang lebih baik itulah yang sering dijadikan tujuan seseorang dengan melakukan sesuatu seperti bekerja, kuliah, bisnis.

b).Menguatkan spirit ketika terjadi guncangan dan krikil tajam yang menghambat pencapaian tujuan.

Kehidupan selalu ada hambatan dan kerikil tajam yang menguji ketahanan kita untuk bertahan atau jatuh, menanggap ketidakadilan atau sebuah ujian, sebuah penurunan atau pintu gerbang suatu kemajuan.

c).Meyakinkan hati akan kemampuan efikasi ketika melakukan apapun aktifitas.

Keyakinan akan kemampuan kita untuk menghadapi apapun persoalan hidup itulah sebuah visi ketika mau dijalankan, bukan sebuah perencanaan semata tapi visi dijalankan karena kita mengetahui kapasitas kemampuan kita.

d).Visi penting juga dalam mengarahkan prioritas kita. ketika sedang dan sesudah lulus kuliah. Beberapa ahli mengungkapkan arti penting visi bagi organisasi dan personal.

Visi dan impian

Visi dan impian menjadi suatu hal yang berbeda dalam pencapaian suatu tujuan, tapi sesuatu diawali dari impian. Seseorang tidak bisa kuliah sampai jenjang tinggi kalau tidak punya impian yang jauh kedepan kalau pendidikan bisa jadi tonggak kemajuan suatu negara. Seseorang juga tidak akan berani untuk mencoba terjun berbisnis tanpa ada impian dan harapan menjadi pebisnis sukses dimasa yang akan datang dan kemapanan hidup dimasa yang akan datang selalu menjadi impian sebuah keluarga kecil melalui perkawinan, begitu juga dimasa muda impian mahasiswa juga menjadi cahaya yang bisa menuntun kita bisa berjalan dalam kegelapan malam. Begitu juga, Impian penulis dengan bukunya bisa diterima dan menjadi inspirasi bagi kemanfaatan public untuk menapaki suatu tahapan pencapaian hidup, dimana semua orang berbeda dalam prosesnya. Ada orang sukses karena secara proses didukung oleh kemapanan keluarganya, ataupun ada orang sukses harus melalui tahapan terjal seerpti layaknya kita mendaki gunung sampai mencapai puncak tertinggi dimana terkadang tidak bermakna lagi, karena tujuannya hanya penaklukan.

[1] Berbagai definisi visioner yang diambil dari konsep kepemimpinan dan SDM…

[2] Lascar pelangi, Adrea Hirata, hal….

[3] Kecerdasan spiritual,

[4] Jennifer M. Georges & Gareth R. Joner, Understanding And Managing Organizational Behavior, prentice-hal, 2009.

%d blogger menyukai ini: