Prestasinya bisa dibilang tergolong langka. Menjadi CEO di dua industri kakap kaliber dunia. Keandalannya memang tak perlu disangsikan. Setelah di bawah kendalinya, Nissan yang sebelumnya merugi, kini menjadi industri yang berhasil membukukan keuntungan. Begitu pula kinerja Renault, makin bersinar saja.

Kesadaran kalangan industri terhadap dampak pemanasan global terus meningkat. Mereka mulai gencar melakukan kegiatan bernuansa ramah lingkungan. Salah satunya, seperti yang tengah dikembangkan oleh Nissan dan Renault.

Pada Januari lalu, bahkan mereka sudah mengumumkan akan memproduksi mobil bertenaga listrik secara massal. Targetnya, mulai April nanti kendaraan minim gas buang beracun ini sudah bisa dipasarkan.

Bila target tersebut terealisasi, niscaya langkah yang tengah dirintis dua gergasi itu patut dipandang sebagai pelopor industri otomotif berkiprah di produk ramah lingkungan. Paling tidak, selangkah lebih maju ketimbang industri kompetitor yang sampai saat ini masih jua asyik mengutak-atik produk modelnya.

Gebrakan nan luar biasa ini, sudah barang tentu, tak bisa dilepaskan dari kiprah Carlos Ghosn. Sejak Nissan dan Renault bersepakat melakukan aliansi strategi pada 2001, Ghosn pun dipercaya menjadi chief executive officer (CEO) di dua industri ini.

Kebijakannya itu pantas dinilai amat strategis. Di satu sisi, demi merespons tuntutan banyak kalangan tentang pentingnya menjaga lingkungan dunia. Di sisi lain, merupakan strategi bisnis yang cerdas, yakni sebagai penyeimbang masuknya mobil-mobil murah dari Asia agar tak mendominasi pasar Eropa.
Sesungguhnya pula, menurut Ghosn, mobil bertenaga baterai lithium ini memang dirancang khusus buat para penggemarnya di Eropa dan Amerika.

Sampai di situ, tak salah, jika Ghosn layak digolongkan sebagai eksekutif yang andal. Kepiawaiannya, bahkan sudah teruji jauh sebelum sekarang. Kabarnya, ia pula yang menggagas “perkawinan” Nissan dan Renault.

Dari langkah bisnis ini, disepakati kepemilikan silang (aliansi strategis) di antara keduanya, yakni Renault memiliki 44,4 persen saham Nissan, dan sebaliknya gergasi asal Jepang itu menguasai 15 persen saham Renault.

Sejak setelah bekerja sama, performa kedua industri itu kian kokoh. Dari sisi produksi misalnya, bisa didongkrak total menjadi 1,5 juta unit per tahun. Dengan skala sebesar itu, Nissan-Renault pun berhasil menguasai pangsa pasar otomotif dunia hingga mencapai 9 persen, bertengger di posisi keempat terbesar. Pasar utamanya adalah Amerika Serikat, Jepang, India, Cina, Rusia, dan tentunya sejumlah negara di Eropa.

Kiprah Ghosn di industri otomotif memang cemerlang. Di Jepang sosoknya cukup populer karena dianggap sebagai dewa penyelamat bagi Nissan. Industri otomotif terbesar kedua di Negeri Sakura ini, sebelumnya (Pada 2000-an) dikabarkan terancam bangkrut karena harus menanggung rugi hingga USD6,1 miliar.

Atas dorongan untuk menyelamatkan industri ini dari keadaan yang lebih buruk, para penentu Nissan pun tak ragu menerima kehadiran Ghosn.
Tapi, sebaliknya penilaian yang dilayangkan para analis.

Mereka tampak pesimistis bahwa Ghosn akan mampu memperbaiki kondisi Nissan. Bila mereka bersikap seperti itu, memang ada dasarnya, yakni tak lari dari sesumbar Ghosn yang begitu jumawa bahwa dirinya akan mampu mengatasi permasalahan yang tengah menggelayuti industri ini.

Bahkan Ghosn sempat menantang, jika dalam waktu dua tahun tak berhasil, ia siap dilengserkan. Ghosn pun ternyata mampu membuktikan bahwa dirinya tak hanya omong besar. Tak tanggung-tanggung, di tahun pertama sebagai CEO ia berhasil membawa Nissan memetik laba bersih USD2,7 miliar.

Setelah itu, kinerja perusahaan ini menunjukkan tren yang membaik. Pada 2005, bahkan Ghosn berani mengumumkan bahwa Nissan telah terbebas dari jeratan utang. Pertumbuhan bisnisnya pun cemerlang. Klimaksnya terjadi pada 2006, omzetnya meningkat hingga 9,25 persen.

Sangat Menikmati Pekerjaannya

Kendati begitu, perjalanan Ghosn bukan tanpa kendala. Seiring dengan fluktuasi harga minyak dunia yang meletup belakangan ini, kinerja Nissan pun mulai terganggu.

Hal itu berdampak terhadap keuntungannya, trennya jadi menurun. Pada 2005 Nissan masih mampu meraup laba sebesar USD4,7 miliar, kemudian melorot menjadi USD3,9 miliar pada 2006.

Melihat gelagat dunia yang tak menguntungkan itu, Ghosn pun tak tinggal diam. Salah satu strategi untuk menyikapinya, ya itu tadi, ia gencar mengembangkan produk yang ramah lingkungan.

Menurutnya, kendaraan seperti inilah yang akan menjadi produk andalan di masa depan. Kecenderungannya, kini banyak industri di dunia yang berlomba menurunkan tingkat emisi karbonnya, di antaranya yang disumbangkan oleh produk kendaraan bermotor berbahan bakar BBM asal fosil.

Sementara di Renault, Ghosn baru menduduki kursi CEO selama tiga tahun (2005). Kontribusinya bagi perusahaan ini pun cukup besar. Lihat saja pendapatan Renault selama di bawah kendalinya, trennya cenderung meningkat. Omzet pada 2005 mencapai USD41,3 miliar, kemudian meningkat menjadi USD41,5 miliar pada 2006.

Sebenarnya pula, menjadi CEO di dua perusahaan yang berbeda, bukanlah pekerjaan yang mudah. Tak hanya dipisahkan oleh jarak yang amat jauh (satu di Tokyo, yang lainnya di Paris), juga di antara keduanya memiliki budaya kerja yang amat berbeda. Sebagai petinggi yang memegang peranan penting, mau tak mau Ghosn harus membagi waktunya secara adil untuk keduanya. Walau diakui amat berat, tapi ia sangat menikmati pekerjaannya. “Inilah saat-saat terbaik dalam hidup saya,” ujarnya.

Sejatinya ada sisi positif yang dipetik oleh kedua perusahaan itu dari seorang bos yang sama. Setidaknya, mereka bisa menyusun program kerja yang amat jelas dan detail. Dengan begitu, masing-masing akan memiliki strategi operasional yang juga jelas.

Dalam menentukan target pasar, misalnya, di antara keduanya diupayakan tidak saling tumpang tindih. Carlos Ghosn lahir di Porto Velho, Brazil, 54 tahun lalu. Kedua orang tuanya memiliki darah Lebanon. Ghosn memang dikenal sebagai anak yang cerdas. Ia mampu menguasai enam bahasa dengan cukup baik.

Dia juga tergolong begitu mudah memperoleh kesempatan sekolah di politeknik (jurusan mesin) ternama di Prancis, yakni Ecole Polytechnique. Lulus pada usia 20 tahun, dan sejak itu ia memutuskan menjadi warga negara Prancis.
Empat tahun kemudian (1978) ia diterima bekerja di pabrik ban terkemuka, Michelin.

Pengabdiannya di perusahaan ini berlangsung selama 18 tahun. Setelah itu, ia memutuskan bergabung dengan Renault (1996). Tiga tahun kemudian ia bergabung dengan Nissan, dengan jabatan sebagai chief operating officer (COO). Pada 2001 bapak empat anak ini dipercaya menjadi CEO di industri ini. Setelah aliansi strategis antara Nissan dan Renault berjalan sukses, ia pun dipercaya menjadi CEO Renault.

Menjadi CEO di dua industri besar kelas dunia memang tidak lazim, jika tak mau dibilang langka. Tapi, itulah prestasi Ghosn yang paling gemilang. Persoalannya sekarang, sampai berapa lama lagi ia mampu mempertahankan posisinya itu?
Memang belum jelas. Yang jelas, pada saatnya nanti, Ghosn pun harus memilih salah satu di antaranya, mungkin juga mengundurkan diri dari keduanya. Kabarnya, kini ia tengah menimbang-nimbang tawaran yang tak kalah menantang yang dilayangkan oleh General Motors (GM). Akankah ia menerimanya?

Iklan