Posts from the ‘Konsep diri’ Category

Bagaimana meningkatkan pencitraan diri anda?


Berbicara pencitraan tak lepas dari preposisi seseorang atau organisasi terhadap citranya dimata public sehingga melahirkan sebuah respon positif. Begitu juga akselerasi public terhadap pribadi selalu dapat dilihat dari sejauhmana menampilkan kesan positif yang bisa membangun tingkat kepercayaan terhadap pigur pribadi atau branch image sebuah organisasi.

Masalahnya sering kali terjadi kalau citra membangkitkan kepura-puraan kita terhadap public. Sehingga seolah anda melakukan sesuatu bukan diri kita tapi polesan lipstick. Apa yang kita lakukan hampir sama dengan apa yang kita pikirkan. Anda akan terlihat percaya diri ketika anda berpikir bahwa diri anda pantas untuk memiliki citra anda sehingga ketika anda masuk kesebuah butik atau restoran anda pikirkan tentang jenis pelayanan yang anda terima, cara orang lain menatap anda dengan respect dan segalanya Nampak tepat pada tempatnya bagi anda.

Itulah pemposisian citra anda terlihat akan kuat tapi tidak mencerminkan kearoganan dan kemunafikan didalamnya tapi didalam ada ketulusan hati untuk berprilaku sehingga semua orang akan menangkap citra anda secara positif karena memang anda pantas mendapatkan repect tersebut.

Citra Pribadi

Menurut “Collin English Dictionary” (Sandra Oliver, 2006:50) memberikan istilah citra, identitas dan reputasi. Citra – suatau gambaran tenatang mental; ide yang dihasilkan oleh imaginasi atau kepribadian yang ditunjukan kepada public oleh seseorang, organisasi dan sebagainya. Sedang Identitas – keadaan yang memiliki karakteristik unik untuk menidentifkasikan atau karakteristik individual dimana seseorang atau sesuatu dilihat. Reputasi – reputasi butruk atau kemashuran, terutama bagi beberapa karakteristik khusus.

Bobby Linkemer mengartikan citra sebagai kemasan manusia-perangai, pola tutur, kebiasaan kerja, postur-yang dihubungkan dengan bagian yang paling mengendalikan dan membatasi dari masyarakat” (1990:11) sedang Carl Roger (1993) mengartikan citra sebagai realitas dimana orang hanya dapat bereaksi terhadap apa yang telah mereka alami dan rasakan. Jane Miller (1995) sebagai sikap jujur kepada diri sendiri dan sesuai dengan situasi atau diartikan sebagai refkelsi sejati dari siapa anda sesungguhnya.

Begitu juga Virginia Hortton-Bettman, presiden dari Best suited for the executive image mengartikan citra sebagai alat komunikasi, bagian dari paket keterampilan anda dan papan untuk mengiklankan siapa anda, apa yang anda kerjakan seberapa baik anda dapat mengerjakan.

Ada juga yang mengatakan citra hanya sebuah mitos saja yang diartikan sebagai apa saja yang diinginkan bos atau aturan main yang harus anda jalani dalam dunia yang bersifat manipulasi dan curang. Dimata anak muda mendefiniskan citra sebagai memiliki kepercayaan diri, bersifat pleksibel, membawakan gambaran yang kompeten kepada dunia.

Amati citra sendiri dan sekeliling anda.

Pandangan yang berlaku dalam mengamati diri sendiri dalam pencitraan ada dua asumsi adalah 1). Citra anda – profesional atau pribadi, harus berupa ekspresi pribadi dari siapa anda sebenarnya, bukan lipstick yang menutupi dan dirancang untuk mengelabui publik yang ingin anda pengaruhi. Atau 2). ekspresi itu harus sesuai dengan situasi, lingkungan atau budaya di mana anda berfungsi.

Asumsi pertama, anda mengetahui siapa diri anda sebenarnya dan bagaimana mengekspresikan secara akurat dan tulus. Artinya anda punya gagasan mengenai apa yang anda pikir, rasa, inginkan dan nilai serta pesan anda yang akan disampaikan kepada publik. asumsi kedua adalah anda mengetahui apa yang diharapkan dari tempat anda didalam bisnis atau tempat lain dimana anda kebetulan berada dan bahwa anda dapat dengan nyaman dan konsisten menyatu dengan lingkungan.

Sehingga citra anda adalah persepsi yang anda pahami yaitu cara anda memandang diri sendiri dari dalam, memandang keluar; cara orang lain memandang anda dari luar, memandang keluar dan cara anda inngin menadang diri sendiri dan dipandang.

Darimana anda mau memperbaiki seandainya anda menyadari kalau asumsi diatas belum sesuai dengan apa yang diharapkan anda yang relatif baru bagi perubahan diri anda. Tentu saja perubahan real dari sudut luar, seperti penampilan anda, warna dan potongan pakaian anda, cara anda berjalan dan berjabat tangan, cara anda berjalan, potongan rambut anda, postur anda, kacamata dan rangkaian eksternal yang hampir tak pernah habis kalau anda amati terus.

Para psikolog lebih cenderung perbaikan dari pribadi anda dulu, sedang para profesional citra cenderung dari luar dulu karena orang lebih cenderung melihat penampilan luar daripada dalam.

Unsur-unsur citra anda.

1. Kesan pertama begitu memikat.

Kesan pertama anda dalam waktu beberapa detik, lawan bicara akan menarh respek kepada anda atau mengabaikan anda, karena pesan yang anda kirimkan melalui bentuk, postur, wajah dan kontak mata anda. Dapat kita lihat pandangan orang lain : Ia akan melihat anda dengan pandangan menyeluruh, kemudian ia mendengar suara anda – bagaimana suara anda terdengar dan apa yang anda katakana membuat satu lagi kesan yang nyata, relasi anda menyentuh anda dengan sebuah jabat tangan yang kuat yang bisa menjembatani kesenjangan anda dan menguatkan sebauah hubungan, pada jarak dekat itu – ia akan mencium bau anda, dan walaupun tidak adanya aroma lebih disukai, aroma yang tidak terlalu jelas juga mencapai tujuan.Indera kelima adalah perasa berupa pelukan dan sentuhan jelas memperkuat kepribadian anda.

2. Berbusana demi keberhasilan.

Sukailah diri anda, itulah bahasa yang paling pantas anda ingat. ”Tanyailah diri sendiri, bagaimana saya ingin menjadi, memandang diri saya sendiri dan dipandang orang lain lalu mengembangkan gambaran mental anda. Terlihat rumit memang, tapi deskripsikan apa saja yang ingin tekankan terhadap citra anda seperti kanvas lukisan kosong, mulai dari atas sendiri, berapa pnajang rambut anda? Bagaimana tampaknya bagian wajah anda? bagian mana yang paling menonjol sebagai paling menarik? Bagaimakah tampang anda dengan kumis dan jenggot?

Anda berbusana sebagai isyarat respek kepada orang lain dan jabatan yang anda pegang sebagai wujud komunikasi positif., bukan sekedar kenyamana anda sendiri. Ambil Amannya saja, sehingga anda merasa pasti akan tempat anda berpijak dan telah mencapai cukup kredibilitas untuk mengekspresikan gaya anda sendiri.

Pria atau wanita, bila anda memulai dari awal sekali, anda akan memerlukan satu setelan, tiga kemeja dan tiga dasi. Stelan ituharus konservatif dari bahan wol atau campuran wol dengan ketebalan sedang dan warna bisnis (abu-abu atau biru tua), dua kancing, belahan tunggal; jasnya harus berkelepak. Kemejanya harus terbuat dari katun atau campuran katun, berlengan panjang dan dalam tiga warna (putih, biru muda dan bergaris halus, dasinya (merah kecoklatan, abu-abu muda atau biru dan biru tua, dasi tersebut jangan solid, tetapi sebaiknya berstrip merah atau cetakan kecil yang berulang. SAepatu berwarna hitam atau coklat bertali dengansetuhan tas atase semakin tipis semakin baik dan sesuaikan dengan tempat kita berada.

Kedengarannya terlalu formal, tapi itulah penampilan yang aman, tidak akanmenyerang dan tidak ada aka nada yang dikonsentrasikan selain wajah anda yang meruapakan apa yang anda ingin agar dipandang oleh orang lain.

3. Suara anda, citra komunikasi anda.

Suara anda memikirkan bunyi suara (volume, nada, kecepatan, kepasihan dan resonansi) sewaktu anda berbicara. Kaidahnya adalah belajar menggunakan bahasa itu benar dan berlatihj mengucapkan sehingga anada dapat dimengerti oleh orang lain untuk tidak dapat dimengerti oleh orang lain atau secara pribadi mulailah mempelajari kaidah bahasa yang baik, baca majalah dan buku yang baik. Ada hal lain tak kalah penting adalah isi pembicaraan anda, bila anda engetahui apa yang anda ingin katakana, berlatihlah untuk mengatakannya. Ulangi dihadapan teman, cermin atau dalam benak anda. Dan disela-sela berbicara, belajarlah untuk mendengarkan untuk menyerap apa yang dikatakan orang lain. Atau dengarkan, pikirkan baik-baik apa yang anda dengar, serap, ajukan pertanyaan, lalu beri respon terhadap apa yang anda dengar.

4. Bahasa tubuh.

Tubuh anda bahasa diam yang paling mudah ditafsirkan orang lain. Tubuh anda juga menriakan pesannya dengan cara anda sendiri, duduk, mencondongkan badan kedepan untuk mendengarkan, mengangkat bahu, bersedekap, melakuakn gerkaan isyarat sewaktu berbicara, merosot dikursi anda dan berjalan masuk atau keluar ruangan. Anda juga memproyeksikan diri anda kedalam perjumpaan dengan langkah maju, mengangkat dagu, mengadakan kontak mata, menjulurkan tangan dan tersenyum.

Disiplinkan hidup anda.

Ada beberapa pedoman penting yang dikemukakan oleh Bobby Linkemer (1990:89) untuk mendisiplinkan hidup anda ada beberap aturan yaitu :

  • Jaga agar atena anda tetap mencuat
  • Olah informasi yang anda tangkap
  • Evaluasinya situasinya dan perasaan anda secara konsisten dan terus menerus
  • Apapun pekerjaan yang anda miliki, asalkan anda mempunyainya, berikan upaya anda 110 persen kepadanya.
  • Perhatikan tujuan anda dan bertindak seolah anda sudah mencapainya.
  • Pelajari aturan perusahaan atau departemen anda dan patuhi aturan tersebut.
  • Bila merasa bimbang, mainkan dengan cara konservatif – dalam semua cara.

Lebih mendalam lagi David J Schwartz (1996) dalam bukunya „The Magic of Thingking Big” merangkaikan beberapa hal untuk peningkatan kualitas citra pribadi seseorang antara lain :

  1. Percaya anda dapat berhasil, maka andapun akan benar-benar berhasil (Berpikir sukses, jangan berpikir gagal; ingatkan diri anda secara teratur bahwa anda lebih baik daripada yang anda kira; percaya besar).
  2. Sembuhkan diri anda dari dalih, penyakit kegagalan.
  3. Bangun kepercayaan dan hancurkan ketakutan (depositokan hanya pikiran positif dalam bank ingatan anda, miliki paandangan seimbang mengenai orang lain, kembangkan sikap penuh pengertian, duduklah selalu dikursi yang paling depan, biasakan mengadkaan kontak mata, berjalan 25 % lebih cepat, tersenyum lebar)
  4. Ingat berpikir besar selalu memberikan imbalan (jangan mengidap kompleks imperioritas, gunakan kosakata pemikir besar, bentangkan visi anda, dapatkan pandangan besar mengenai pekerjaan anda dan jangan berpikir tentang hal-hal yang sepele)
  5. Bagaimanakah berfikir dan bermimpi secara kreatif (percaya bahwa sesuatu dapat dilakukan, jangan biarkan tradisi melumpuhkan pikiran anda, bertanyalah pada diri sendiri setiap hari : ”bagaimanakah saya dapat bekerja dengan lebih baik?”, bertanyalah pada diri sendiri, :bagaimanakah saya dapat bekerja lebih banyak?”, praktikan bertanya dan mendengarkan dan bentangkan pikiran anda)
  6. Anda adalah apa yang anda pikirkan mengenai diri anda (tampil penting – ini membantu anda berpikir penting, berpikirlah pekerjaan anda penting, beri diri anda percakapan pendek pemberi semangat beberapa kali sehari, didalam semua situasi kehidupan bertanyalah pada diri sendiri : ”apakah ini cara orang penting berpikir?”)
  7. Atur lingkungan anda, gunakan selalu kelas satu (sadarlah akan lingkungan, buat lingkungan anda bekerja anda, jangan biarkan orang berpikiran kecil menahan anda, dapatkan nasihat anda dari orang yang berhasil, singkirkan racun pikiran kelaur dari lingkungan anda dan gunakan segalanya yang kelas satu)
  8. Jadikan sikap anda sekutu anda (tumbuhkan sikap saya aktif : gali lebih dalam, bersemangaatlah dalam segalanya mnegenai anda, siarkan berita baik; tumbhkan sikap ”anda orang penting”, Tumbuhkan sikap utamakan pelayanan)
  9. Berpikir benar tentang orang lain (jadikan diri anda lebih ringan untuk diangkat, ambil inisiatif dalam membina persahabatan, terima perbedaan dan keterbatasan manusia, setel saluran pikiran baik, praktekan kemurahan hati dalam bercakap, praktikan kebaikan hati selalu, jangan menyalahkan orang lain jika anda mengalami kemunduran)
  10. Tumbuhkan kebiasaan bertindak (jadilah aktivasionist,jangan menunggu hingga keadaanya sempurna,ingat – gagasan saja tidak akan memberikan keberhasilan,gunakan tindakan untuk menghilangkan ketakutan dan mendapatkan kepercayaan diri,mulai mesinmental anda secara mekanis,berpikir dalam pengertian sekarang, segegralah bertindak, ambil inisiatif)
  11. Bagaimana mengubah kekalahan menjadi kemenangan (pelajari kemunduran untuk melicinkan jalan menuju keberhasilan, miliki keberanian untuk jadi kritikus diri sendiri secara konstruktif, berhenti menyalahkan nasib, gabungkan ketekunan dengan eksperimen, ingatlah ada sisi baik dalam setiap situasi)
  12. Gunakan tujuan untuk membantu anda bertumbuh (tetapkan secara jelas kemana anda ingin pergi, tulis rencana 10 tahun anda, turuti keinginan anda, biarkan tujuan utama anda menjadi pedoman otomatis anda, capailah tujuan anda satu langkah demi langkah, kembangkan tujuan 30 hari, ambil jalan memutar dalam langkah anda, lakukan investasi dalam diri anda)
  13. Bagaimanakah berfikir seperti pemimpin (bertukar pikiranlah dengan orang-orang yang ingin anda pengaruhi, terapkan kaidah manusiawi dalam berusrusan dengan orang lain, berpikirlah maju – percayalah akan kemajuan, mendesakalah untuk maju, luangkan waktu untuk berunding dengan diri sendiri)

Demikianlah cengan pencitraan pribadi inilah kehidupan anda berubah total sehingga memberikan motivasi anda untuk melangkah kejenjang hidup yang dulu mungkin tidak begitu membuat anda bahagia, karena kebahagiaan itu sendiri ternyata ada pada sejauhmana anda menilai diri anda sehingga orang lain bisa melihat seluruh bingkai yang utuh yaitu pribadi anda.

 

 

 

PERILAKU KONTRAPRODUKTIF (CONTRAPRODUCTIVE BEHAVIOR)


Menurut Levy & Ritti (2003), perilaku kontraproduktif merupakan perilaku karyawan yang berupa perilaku mencuri/maling (theft), perilaku sabotase (sabotage), pemerasan (blackmail), penyuapan (bribery) dan perilaku menyerang orang lain (aggression).

Dalam pengertian yang kita pahami sehari-hari, perilaku mencuri/ maling/manipulasi uang dan penyuapan disebut juga dengan istilah korupsi yang memiliki pengertian yang paling sempit yakni menguasai uang yang bukan haknya sehingga merugikan institusi tempat pelakunya bekerja. Dari berbagai kasus, diketahui bahwa pelaku-pelakunya datang dari berbagai kalangan, mulai dari tingkat direktur utama, manajer, pimpinan proyek, pengawas hingga level pelaksana teknis atau pekerja di lapangan (Meliala, 1998).

Ada kaitan antara modus (cara melakukan) manipulasi, nilai uang yang dimanipulasi dan status sosial pelakunya, yaitu semakin tingginya status sosial sang pelaku manipulasi diduga akan berkaitan dengan semakin besarnya nilai uang yang dapat diselewengkan. Demikian pula halnya dengan modusnya yang cenderung semakin canggih dan kompleks.

Menurut Alatas (1975, dalam Meliala, 1998), perilaku korupsi (mencuri, penyuapan, dan sejenisnya) dikatakan telah berkembang menjadi fenomena yang bercirikan sebagai berikut :

  • Senantiasa melibatkan lebih dari satu orang.
  • Pada umumnya berlangsung dengan penuh kerahasiaan, kecuali dimana ia telah begitu merajalela dan berurat-berakar sehingga individu-individu yang melakukannya tidak mengganggap perlu menyembunyikan perbuatan mereka.
  • Melibatkan elemen kewajiban dan keuntungan timbal-balik.
  • Pelakunya biasanya menyelubungi perbuatannya dengan berlindung dibalik pembenaran hokum.
  • Mereka yang terlibat adalah kalangan yang walaupun setuju dengan keputusan-keputusan yang tegas namun berharap masih bisa dipengaruhi sesuai kepentingan mereka.
  • Mengandung penipuan, biasanya terhadap lembaga publik atau masyarakat umum.
  • Pada dasarnya adalah suatu pengkhianatan kepercayaan.
  • Setiap bentuknya melibatkan fungsi berganda yang kontradiktif dari pihak yang melakukannya.
  • Melanggar norma-norma tugas dan pertanggungjawaban dalam tataran masyarakat dan menempatkan kepentingan umum di bawah kepentingan khusus pihak tertentu.

Berdasarkan pandangan di atas maka dapatlah disimpulkan bahwa pengertian dan batasan dari perilaku kontraproduktif adalah penyalahgunaan uang perusahaan yang dilakukan oleh karyawan melalui penerimaan uang dengan cara-cara yang melanggar prosedur/ ketentuan perusahaan (tidak sah).

Contoh perilaku kontraproduktif dari karyawan operasional di suatu perusahaan pengelola jasa perparkiran di Jakarta, antara lain dengan cara-cara :

  • Mengangkat “boom-gate” dengan tangan bukan mesin (biasanya dilakukan oleh 2 orang karena berat).
  • Menerima pembayaran dari kendaraan parkir
  • Menggunakan tiket langganan pada kendaraan yang “menginap” (over-night)
  • Mengeluarkan kendaraan dengan tiket gratis (pada kasus ada input mobil kepuar tetapi tidak ada fisik mobil di lokasi parkir).
  • Memalsu tiket parkir kendaraan (stempel palsu).
  • Pembongkaran (hacking) program komputer pada mesin tiket parkir.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MUNCULNYA PERILAKU KORUPSI/MANIPULASI UANG SEBAGAI PERILAKU KONTRAPRODUKTIF

Perilaku korupsi/manipulasi uang sesungguhnya dapat dikaji dari sudut pandang lingkungan atau tempat terjadinya perilaku tersebut. Beberapa instansi pemerintah misalnya dikenal memiliki “reputasi” tertentu dalam hal korupsi yang dilakukan oleh karyawannya.

Namun demikian, bukannya tidak ada lingkungan kerja tertentu di perusahaan swasta yang tidak mendukung munculnya korupsi. Mungkin yang berbeda dengan fenomena di birokrasi pemerintahan adalah jenis penyebabnya. Di kalangan swasta, korupsi umumnya baru dapat terjadi bila terdapat pengawasan yang lemah, persaingan yang ketat, adanya kesempatan, kelihaian melakukan manipulasi dan sebagainya (Tempo, 19 Februari 1983. dalam Meliala, 1998).

Secara psikologis, fenomena “menyimpang” seperti terdapat di lingkungan kerja pemerintahan maupun swasta tersebut juga dapat dibahas dalam konteks perilaku kelompok (group behaviour). Pada situasi terdapatnya kesempatan (opportunity) akibat lemahnya kendali kelompok (group control), akibat ketidakpaduan antara kata dan perbuatan (inconsistency) antar anggota, demikian pula akibat persaingan ketat dalam mengejar tujuan materi (material-led competition), diduga kuat gampang memunculkan perilaku yang tidak mengindahkan norma dan nilai setempat.

Sebaliknya, kuatnya kendali kelompok, mengingat adanya kohesivitas kelompok yang tinggi, juga dapat menjadi predisposisi bagi timbulnya korupsi. Hal itu terjadi bila ada anggota kelompok yang pada dasarnya tidak ingin melakukan hal itu, lalu terpaksa melakukan penyesuaian diri (conformity) guna terhindar dari tekanan kelompok atau group pressures (Aronson, 1984, 22-25, dalam Meliala, 1998).

Pada akhirnya dapat dikatakan, terlepas dari lingkungan kerja birokrasi atau swasta, pastilah terdapat karakteristik lingkungan tertentu yang mengembangkan berbagai predisposisi bagi lahirnya korupsi (Tempo, 19 Februari 1983 dalam Meliala, 1998). Bila dilihat secara umum, maka karakteristik tersebut adalah (Singgih, 1993, dalam Meliala, 1988) :

  • Kelemahan dalam pengawasan
  • Masih terdapatnya atasan yang tidak mampu melaksanakan fungsinyasebagai pengawas atas aktivitas bawahannya.
  • Kekurangberanian atasan mengambil tindakan tegas terhadap bawahan yang korupsi.
  • Gaji/penghasilan yang tidak sesuai dengan kebutuhan dasar menurut indicator kesejahteraan karyawan.
  • Tidak diterapkannya secara konsisten sistem alih tugas jabatan (mutasi, promosi, degradasi).
  • Penggunaan berbagai sarana komunikasi dan informasi canggih yang mempermudah dilakukannya korupsi.

Selanjutnya, ada kalangan yang menduga, motif terkuat dalam melakukan korupsi adalah motif memperkaya diri sendiri. Tetapi, ada pula yang berpikir bahwa sepanjang dilakukan secara terbatas, maka motif korupsi tentunya hanya terbatas pada upaya mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari saja. Pandangan “relativisme” tersebut tentu saja akan mempengaruhi bentuk dan jumlah perilaku yang dianggap korupsi atau bukan korupsi. Sebagai suatu perbuatan yang memiliki norma menyimpang (deviant norm), pandangan relative ini potensial menimbulkan kekaburan ataupun kerancuan, yang mana dari sudut pelakunya dapat dipakai sebagai pembenaran atau justifikasi guna melakukan korupsi.

Sebagai suatu gejala sosial, seperti sudah diuraikan, perilaku korupsi memang amat dipengaruhi oleh berbagai hal seperti kesempatan/ peluang, “budaya”, status sosial, motif dan gaya hidup, yang pada intinya mengacu pada upaya pemuasan nafsu konsumerisme individu (Sukardi, 1990, dalam Meliala, 1998).

Dalam kaitan ini, Alatas (1975, h. 46, dalam Meliala, 1998) memiliki daftar penyebab korupsi/manipulasi uang sebagai perilaku kontraproduktif yang meliputi unsur pribadi dan lingkungan :

  • Kelemahan pendidikan, pengajaran agama dan etika.
  • Feodalisme, sebagai unsure yang tidak menggugah kesetiaan dan kepatuhan yang diperlukan untuk membendung korupsi.
  • Ketiadaan atau kelemahan kepemimpinan dalam posisi-posisi kunci yang mampu memberikan ilham dan mempengaruhi perilaku yang menjinakkan korupsi.
  • Kemiskinan pelakunya.
  • Tidak adanya hukuman yang keras.
  • Langkanya lingkungan yang subur bagi perilaku anti korupsi.
  • Struktur pemerintahan.
  • Terjadinya perubahan radikal dalam struktur masyarakat yang memungkinkan munculnya korupsi sebagai penyakit transisional.

Untuk konteks Indonesia, hidupnya budaya patrimonial yang menempatkan atasan sebagai “bapak” dan bawahan sebagai “anak”, mau tak mau, harus juga diakui kehadirannya. Dalam paham ini, sebagaimana layaknya seorang bapak, atasan harus mengayomi anak-anaknya dari marabahaya. Dari hubungan tersebut, muncullah “kekuasaan” yang konkrit (Anderson, 1984, h. 51, dalam Meliala, 1998). Untuk itu, sebagai balas jasa, anak-anak harus memberi “upeti” kepada bapak. Hal ini juga dimungkinkan berkat adanya pemahaman bahwa harta pribadi pada dasarnya adalah juga harta komunal. Pada konteks dewasa ini, pemberian upeti tersebut telah dianggap termasuk kategori korupsi/ manipulasi.

Budaya patrimonial juga kerap sulit melihat perbedaan antara milik pribadi dan milik bersama maupun perbedaan antara “milikmu” dan “milikku”. Terhadap pemegang kekuasaan, adalah “abash” atau legal bila mempergunakan segala sumber atau akses yang dikuasainya dalam rangka pemusatan atau penonjolan “kekuasaannya” (Anderson, 1984, h. 53, dalam Meliala, 1998). Hal mana mengakibatkan, antara lain, tingginya kecenderungan dalam penggunaan fasilitas Negara oleh pejabat yang disertai dengan lemahnya control.

Dari uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang dapat menyebabkan terjadinya korupsi/manipulasi uang adalah:

a. Faktor Individu :

  • Kemiskinan pelakunya.
  • Kelihaian pelakunya.
  • Penggunaan teknologi canggih yang mempermudah korupsi.

b. Faktor Kelompok :

  • Lemahnya pengawasan dari atasan.
  • Atasan tidak mampu melaksanakan fungsinya.
  • Atasan kurang berani bertindak tegas pada bawahan korupsi.
  • Ketiadaan/kelemahan kepemimpinan dalam posisi-posisi kunci.
  • Kohesivitas kelompok yang tinggi.
  • Persaingan yang ketat.

c. Faktor Pekerjaan dan Organisasi :

  • Gaji/penghasilan yang tidak sesuai dengan kebutuhan dasar.
  • Sistem alih tugas jabatan tidak diterapkan secara konsisten.
  • Tidak adanya hukuman/sanksi yang keras.
  • Adanya kesempatan.

d. Faktor Luar Organisasi (Lingkungan) :

  • Lemah/kurangnya pendidikan, pengajaran agama dan etika.
  • Feodalisme, unsur tidak menggugah kesetiaan & kepatuhan.
  • Langkanya lingkungan yang subur bagi perilaku anti korupsi.
  • Terjadinya perubahan radikal dalam struktur masyarakat.
  • Budaya patrimonial.

FAKTOR-FAKTOR YANG DAPAT MENCEGAH MUNCULNYA PERILAKU MENCURI/ MANIPULASI UANG SEBAGAI PERILAKU KONTRAPRODUKTIF

Betapa pun tidak pernah dilakukan penelitian yang mendalam, namun diyakini bahwa ternyata tidak semua orang yang memiliki predisposisi melakukan korupsi ternyata benar-benar melakukan korupsi. Sebaliknya, juga terdapat cukup banyak masyarakat yang tidak memiliki predisposisi seperti disebut oleh Alatas di bagian terdahulu, namun memiliki angka korupsi sama atau bahkan lebih tinggi dibanding masyarakat Indonesia pada umumnya. Singkatnya, terdapat faktor-faktor tertentu, atau kombinasinya, yang membuat individu melakukan atau tidak melakukan korupsi.

Faktor-faktor individual seperti tingkat tertentu dari pertimbangan moral seseorang, mungkin dapat dikatakan sebagai yang menghambat seseorang melakukan perilaku menyimpang (Kohlberg, 1976, h. 31-53, dalam Meliala). Dalam hal ini, bagi sekalangan orang dengan struktur moral tertentu, korupsi rupanya masih dikategorikan perilaku menyimpang yang harus dijauhi (v.d. Heuvel, 1980). Demikian pula dengan tingginya penghayatan keagamaan dan motif kejujuran (Alatas, 1975, h. 70-75, dalam Meliala, 1998).

Mereka yang tidak memberikan penilaian tinggi pada materi dan tinggi penghayatannya pada agama (Rokeach, 1973 & 1969), juga diketahui memiliki predisposisi rendah untuk berperilaku menyimpang. Dikatakan oleh Tyler (1990, h. 80-83, dalam Meliala, 1998), kualitas-kualitas pribadi tersebut biasanya berkorelasi dengan perilaku yang menjauhi perbuatan yang dianggap negatif tersebut.

Berdasarkan uraian di atas, penulis menyimpulkan bahwa faktor-faktor yang dapat mencegah/menghambat terjadinya korupsi/ manipulasi uang sebagai perilaku kontraproduktif adalah: (a) tingkat pertimbangan moral tertentu (Kohlberg, 1976); (2) tingkat struktur moral tertentu (v.d. Heuvel, 1980); (3) tingginya penghayatan keagamaan (Alatas, 1975 & Rokeach, 1973 & 1969); (4) tingginya motif kejujuran (Alatas, 1975); dan (5) tidak memberikan penilaian tinggi pada materi (Rokeach, 1973 & 1969).

Bahan Bacaan :

  • Kurnia, Adil. 2006. Rancangan Program Pelatihan Peningkatan Motivasi dan Etos Kerja Dalam Rangka Pencegahan Perilaku Kontraproduktif Pada Karyawan PT. X. Tugas Akhir. Depok: Program Pascasarjana Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.
  • Levy, Steve & Ritti, R. Richard. 2003. Instructor Manual for The Ropes to Skip and Ropes to Know. Sixth Edition. New York: John Wiley and Sons, Inc.
  • Meliala, Adrianus. 1998. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Persepsi Mahasiswa Terhadap Korupsi. Tesis. Jakarta: Program Pascasarjana Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

Rasa percaya diri yang terlatih


Setiap manusia dilahirkan dengan berbagai potensi yang luar biasa. Saya begitu meyakininya. Itu yang juga harus anda yakini. Setelah itu, Anda harus menyadari bahwa di dalam kepala Anda, dalam pikiran Anda, begitu banyak hambatan dan rintangan yang terasa membonsai berbagai potensi Anda. Mau betindak, takut gagal. Mau memutuskan, takut salah. Mau mencoba, takut resiko. Hasil sebuah survei di Selandia Baru menyebutkan bahwa 90 persen kekhawatiran manusia tidak pernah terbukti.

Apa yang harus Anda lakukan? Yang pertama, buang jauh-jauh rasa takut dan berbagai rintangan dan hambatan yang timbul dari diri Anda sendiri, yang telah membelenggu pikiran Anda. Rasa takut dan kawatir itu mungkin berupa lingkungan kawan-kawan yang berpikiran negatif. Bisa juga kondisi nyaman Anda yang sulit ditinggalkan. Bisa juga perasaan-perasaan Anda sendiri, atau tingkat pendidikan Anda. Mulai sekarang, mari, jangan batasi potensi dan kemampuan Anda. Bergaullah dengan orang-orang yang berpikiran positif. Jangan pernah berpikir gagal sebelum mencoba.

Ada satu kisah yang menceritakan tentang seorang gadis buta. Suatu hari ia bertemu seorang pesulap yang kemudian mengajaknya bermain sulap. Ajaib sekali bahwa sang Gadis bisa menebak seluruh kartu yang diberikan sang Pesulap. Kok bisa?

Ternyata rahasianya ada pada kecerdikan sang Pesulap. Dengan menggunakan beberapa tipuan, ia berhasil mengeluarkan potensi sang Gadis untuk bermain sulap bersamanya. Tanpa ragu sang Pesulap mengajak sang Gadis bermain di hadapan keluarganya, di hadapan orang banyak. Kepercayaan diri sang Pesulap yang begitu tinggi menular pada sang Gadis buta. Sejak saat itu sang Gadis merasa telah menjadi seorang bintang di rumahnya. Ini terjadi hanya karena ada orang yang memberinya kesempatan untuk bersinar sejenak dan merasa istimewa di depan keluarganya. Ia yang selama ini merasa menjadi beban dalam keluarganya kini merasa sejajar dengan mereka karena peristiwa itu.

Cerita tersebut menggambarkan bagaimana pentingnya rasa percaya diri (PD). Tapi, sebenarnya kita perlu tahu dulu kenapa ada orang, ada teman kita yang sepertinya sangat tidak percaya kepada dirinya sendiri? Coba analisis juga, kira-kira hal apa sih yang membuat kita jadi minder? Apa sih yang menghambat diri untuk maju dan mengeluarkan seluruh potensi diri kita? Kenapa harus ada rasa ragu tiap kali ada keinginan untuk melakukan sesuatu

Rasa Percaya Diri adalah tiga rangkaian kata yang apabila dipecah akan mempunyai makna sendiri-sendiri.

Rasa adalah perasaan diri yang teridentifikasi dari hati dan dicerna di otak.
Percaya adalah komitmen dari hati yang berbuah perilaku.
Sedangkan Diri adalah tempat bersemayamnya Rasa Percaya.

Rasa Percaya Diri adalah potensi yang sangat luar biasa dan mempengaruhi standar kualitas hidup pada setiap manusia .

Apabila sebutan pada anda “rasa percaya diri anda tinggi” itu berarti potensi rasa percaya diri yang sudah melalui proses latihan.

Melatih Rasa Percaya Diri
Melatih rasa percaya diri tidak sebatas sekedar mengetahui ilmunya melalui membaca buku, tetapi jauh lebih penting adalah dengan mengkondisikan diri pada situasi yang memberikan pengalaman bagi si rasa percaya diri, misalnya:
1. Menjadi sales/ penjual barang apa saja dan menawarkan dari rumah ke rumah,
2. Berani berbicara didepan forum,
3. Memberi nasehat/ masukan pada orang lain, nasehat tidak harus sempurna,
4. Biasakan menjadi yang pertama/ pioner,

Penulis sudah merasakan ke empat kondisi diatas dan benar, orang lain memberikan penilaian yang baik …”anda punya rasa percaya diri yang tinggi”.

Manfaat Rasa Percaya Diri yang tinggi
Apa manfaat yang dirasakan apabila kita mempunyai Rasa Percaya Diri yang tinggi??
Beberapa item yang penulis rasakan adalah:
1. Diri menilai bahwa kualitas pribadi muncul dari dalam,
2. Kuat dalam berargumentasi dan selalu ingin menang (diperlukan penjabaran lebih lanjut)
3. Mental bersaing sangat tinggi,
4. Tidak mudah menyerah,
5. Selalu ingin punya alternatif dalam menyelesaikan setiap masalah,

Siapa yang ingin meningkatkan Rasa Percaya Diri, cobalah keempat item diatas!

Pengaruh lingkungan terhadap Percata Diri

Ternyata sikap tidak percaya diri ini muncul akibat kebiasaan-kebiasaan kita mengembangkan sikap dan pendapat negatif tentang diri kita. Mungkin juga sikap tidak percaya diri ini muncul sebagai akibat dari pengaruh lingkungan kita. Pengaruh yang seperti apa? Antara lain sikap lingkungan yang membuat kita takut untuk mencoba. Takut untuk berbuat salah. Semua harus seperti yang sudah ditentukan.

Karena ada rasa takut, kita jadi malas untuk melakukan hal-hal yang berbeda dari orang kebanyakan. Mau tunjuk tangan waktu guru melemparkan pertanyaan di dalam kelas… takut! Kadang malah mau jalan di hadapan orang banyak saja, malu setengah mati! Apalagi mau mengajak orang kenalan, mau menyapa orang lain, mau ikutan kursus, bergaul… takut! Wah… kalau serba takut, serba ragu, serba malas begini, apa jadinya kita nanti?

Sebelum terlalu jauh, tentu kita tahu berapa kali Thomas Alva Edison melakukan kesalahan sebelum akhirnya berhasil menemukan formula hebat untuk membuat lampu pijar. Dia kan tidak langsung berhasil ketika pertama kali mencoba, ya enggak?

Lalu apa kuncinya? Mungkin perlu ratusan kali gagal sebelum mencapai satu keberhasilan. Kesalahan bukan akhir hidup kita. Kesalahan sebenarnya hanya merupakan langkah menuju keberhasilan. Setiap kesalahan membawa kita semakin dekat dengan keberhasilan. Kalau kita meyakini hal ini, pastinya percaya diri kita juga enggak gampang terpengaruh oleh pandangan atau sikap negatif dari lingkungan kita.

Sebenarnya ada banyak cara untuk bisa meningkatkan kepercayaan diri kita. Apa saja? Yang paling penting adalah banyak berhubungan sama orang-orang yang kita nilai punya percaya diri tinggi. Percaya diri ini bisa menular, lho! Kok bisa begitu? Ya, ternyata banyak-banyak bergaul dengan orang-orang yang pede bisa kita jadikan contoh buat kehidupan kita sehari-hari. Coba saja, kalau sehari-hari kita gaul sama mereka yang percaya dirinya tinggi, kita jadi tahu bagaimana ia bicara, bagaimana ia mengambil keputusan, dan perilaku-perilaku lain yang membuat ia tampak begitu meyakinkan.

Kalau kita enggak gaul sama mereka, bagaimana kita tahu aturannya? Bagaimana kita bisa dapat contoh untuk bersikap?Jadi kerasa banget kan kalau sebenarnya kita perlu banget bergaul dengan orang-orang yang PD kalau kita ingin meningkatkan rasa percaya diri kita.

Sayangnya, banyak di antara kita yang enggak bisa bangkit, atau merasa sudah cukup puas dengan dirinya saat ini. Padahal, rasanya dia punya potensi yang jauh lebih besar andai saja ia berani berubah. Alasannya enggak beda jauh sama yang sebelumnya: ada faktor lingkungan yang berperan cukup besar di sana . Coba kita perhatikan, biasanya sikap ini muncul karena ia berada dalam satu lingkungan yang sepertinya enggak merasa PD.

Meski begitu, cara yang paling utama untuk bisa meningkatkan kepercayaan diri kita adalah kemauan untuk mengubah diri kita yang muncul tanpa ada paksaan. Fight to our live! Hanya kita yang bisa mengubah diri kita. Kalau kita mau meningkatkan percaya diri, coba bangkit dan keluarkan semua potensi diri Anda. Yang penting, mau! Berikutnya cari lingkungan yang kondusif. Sama persis seperti cerita di atas bahwa yang kemudian bisa membantu kita meningkatkan rasa percaya diri adalah bantuan orang lain. Coba bayangkan, seandainya sang gadis enggak ketemu tukang sulap, mungkin dia akan selamanya merasa bahwa dirinya adalah beban buat keluarganya. Padahal, keluarganya kan enggak merasa begitu. Karena ada bantuan orang lain, ia jadi tahu bahwa ia juga punya kemampuan berharga buat keluarganya. Jadi, kalau kita memang ingin mendapatkan sesuatu, kenapa harus ditunda? Mulai aja dari sekarang .

Sumber :

Manajemen Diri (Self Management)


Manajemen diri (self management) merupakan istilah yang sangat populer saat ini. Banyak seminar, training, maupun tulisan yang mengupas subyek ini karena memang diperlukan bagi mereka yang berada di lingkungan profesional maupun dalam kehidupan sosial kemasyarakatan.

Pada dasarnya manajemen diri merupakan pengendalian diri terhadap pikiran, ucapan, dan perbuatan yang dilakukan, sehingga mendorong pada penghindaran diri terhadap hal-hal yang tidak baik dan peningkatan perbuatan yang baik dan benar.

Manajemen diri juga menuju pada konsistensi dan keselarasan pikiran, ucapan dan perbuatan sehingga apa yang dipikirkan sama dan sejalan dengan apa yang diucapkan dan diperbuat. Integritas seperti inilah yang diharapkan akan timbul dalam diri para praktisi manajemen diri.

Sebelum bisa memiliki pikiran-ucapan-perbuatan baik, terlebih dahulu seseorang harus memiliki pemahaman dan pengertian yang benar.

Jadi urutan yang benar adalah :

Pemahaman/pengertian benar ==> pikiran benar ==> ucapan benar ==>perbuatan benar.

Akan tetapi walaupun punya pemahaman terhadap kebaikan dan ketidakbaikan, belum tentu pikiran seseorang mampu diarahkan terus-menerus terhadap kebaikan. Dan walaupun seandainya pikiran seseorang sudah didominasi oleh kebaikan, belum menjamin bahwa ucapannya selalu sejalan dengan pikiran baik ini. Demikian pula tidak ada garansi bahwa perbuatannya secara fisik merefleksikan sepenuhnya pikiran yang baik ini.

Sebagai contoh, apapun latar belakang, umur, jenis kelamin, pendidikan, suku dan lain sebagainya, umumnya kita setuju bahwa olah raga dengan frekuensi dan dosis yang tepat, dapat menjaga kebugaran, daya tahan dan kesehatan seseorang. Pemahaman ini menuntun pada pikiran yang baik bahwa olah raga penting bagi kesehatan.

Pemahaman dan pikiran tentang kebaikan olah raga ini lebih mudah sejalan dengan ucapan. Sewaktu menasihati orang lain, dengan mudah kita menjelaskan pentingnya berolah raga secara teratur. Akan tetapi sewaktu harus praktek langsung, banyak di antara kita akan memunculkan berbagai alasan untuk mendukung dan memberikan pembenaran mengapa diri kita sendiri jarang atau bahkan tidak sama sekali berolah raga. Mulai dari alasan sibuk bekerja, waktunya belum tepat, tidak ada sarana, dan lain-lain.

Ini menjelaskan mengapa banyak orang yang tidak atau belum sukses padahal begitu banyak kiat, taktik, strategi, dan metode sukses diajarkan melalui buku, kaset, seminar dan lain-lain. Banyak di antara kita hafal di ‘luar kepala’ dan mampu dengan cepat menyebutkan persyaratan untuk bisa sukses, mulai dari berdisiplin tinggi, tepat waktu, punya integritas, jujur, fokus pada apa yang sedang dikerjakan, kerja sama team, bertanggung jawab, bekerja keras, tidak mudah putus asa, dan lain sebagainya.

Begitulah, banyak dari kita hanya bermain pada tataran pemahaman dan pikiran, atau paling jauh sampai level ucapan saja. Begitu harus diterapkan dalam kehidupan kita sehari-hari secara disiplin, kita memberikan banyak maaf kepada diri sendiri untuk menunda atau tidak melakukan berbagai kiat, taktik, strategi dan metode sukses tersebut.

Akhirnya sukses terlihat hanya menjadi hak orang lain dan bukan hak kita. Padahal kita sendirilah yang menentukan sukses tidaknya diri kita masing-masing karena setiap orang punya hak untuk sukses, seperti yang dikatakan oleh Bapak Andrie Wongso bahwa ” Success is My Right ” (sukses adalah hak saya).

Sebenarnya tanpa perlu menjalankan semua persyaratan sukses, masih terbuka lebar kesempatan meraih berbagai keberhasilan dalam hidup kita. Seringkali cukup dengan menjalankan secara disiplin dan konsisten beberapa poin saja di antaranya, maka kita akan menjadi insan-insan yang berbeda dan lebih baik dari mereka-mereka yang hanya berwacana di tataran pikiran dan ucapannya saja (OmDo = Omong Doang, NATO = No Action Talk Only, “Tong Kosong Nyaring Bunyinya”).

Dari contoh-contoh di atas dapat diringkas sebagai berikut :

Pemahaman/pengertian benar ==> pikiran benar ==> ucapan benar ==> perbuatan salah.

Kondisi yang lebih memprihatinkan adalah :

Pemahaman/pengertian benar ==> pikiran benar ==> ucapan salah ==> perbuatan salah.

Tidak tertutup kemungkinan juga :

Pemahaman/pengertian benar ==> pikiran salah ==> ucapan salah ==> perbuatan salah.

Dan yang pasti terjadi jika pemahaman/pengertian seseorang tidak benar adalah :

Pemahaman/pengertian salah ==> pikiran salah ==> ucapan salah ==> perbuatan salah.

John C. Maxwell mengatakan bahwa pikiran berlanjut ke ucapan terus ke perbuatan. Jika rangkaian ini terus dilakukan dapat membentuk kebiasaan yang menghasilkan karakter seseorang dan akhirnya menentukan destiny (= nasib)-nya.

Marilah kita mulai menyelaraskan antara pikiran benar, ucapan benar dan perbuatan benar untuk membentuk kebiasaan benar dalam membangun karakter yang benar pula sehingga pada akhirnya kita bisa menuai ‘hasil’ yang baik dan benar pula dalam semua aspek kehidupan kita.

Sumber : Toni Yoyo, www.andriewongso.com/

Memiliki sikap yang baik dengan berfikir yang positif


Sikap yang baik bisa berawal dari cara berfikir yang baik pula, dalam hal ini adalah berfikir secara positif. Bukankah semua tindakan berasal dari apa yang ada di benak setiap orang sebelumnya?

Berfikir positif akan memupuk tanggung jawab yang besar bagi yang bersangkutan sekaligus akan menjadikan pelakunya menjadi orang yang berjiwa besar.

Berfikir positif memberikan dampak positif pula berupa tanggung jawab besar dari pelakunya karena orang yang berfikir positif selalu tidak mencari-cari alasan maupun melempar kesalahan kepada orang lain, meskipun sesuatu menimpa dirinya karena sesuatu hal yang di-sebabkan orang lain. Hal ini bukan berarti orang lain tidak dipersalahkan tetapi selalu disertai pertanyaan mengapa hal tersebut menimpa dirinya.

Misalnya dia mengalami penjambretan di jalan, maka dia juga berfikir kenapa si Jambret memilih dia sebagai korbannya? Akan terjadi evaluasi terhadap dirinya sendiri seperti misalnya, Apakah dia tampil terlalu mencolok? Apakah dia kelihatan seperti orang bingung? Apakah dia terlalu ceroboh? dan lain-lain.

Apabila sudah demikian dia merasa punya tanggung jawab yang besar untuk mengubah dirinya sendiri untuk menghindari kejadian serupa supaya tidak terulang lagi.

Berfikir secara positif harus di-dampingi pola fikir scara proporsional, karena seseorang tidak boleh berfikir bahwa orang lain itu sama persis seperti dirinya. Harus disadari kehidupan di luar sana berbeda dengan apa yang selalu diharapkan.

Bukankah tidak semua orang berfikir secara positif? Misalnya seseorang berfikir tidak akan ada orang yang berani mencuri di rumahnya karena dia berfikir positif bahwa orang-orang disekitarnya baik kepada dirinya. Kemudian yang terjadi adalah pencurian di rumahnya, hal ini terjadi karena dia berfikir “terlalu” positif, sehingga justru kejadian negatif yang dia dapatkan.

Berfikir secara proporsional bisa diartikan sebagai berfikir positif yang disertai dengan kewaspadaan bukan berarti kecurigaan.

Berfikir positif bisa mengubah energi negatif menjadi energi positif, seperti misalnya mampu mengubah masalah sebagai tantangan. Bandingkan dengan orang yang melihat masalah sebagai cobaan hidup yang terlalu berat dan bikin hidupnya jadi paling sengsara sedunia.

Untuk belajar menghadapi masalah supaya tidak merasa memiliki masalah yang paling berat adalah dengan melihat masalah-masalah yang lebih berat yang dihadapi orang lain. Akan lebih baik kalau mau belajar bagaimana orang lain mampu menyelesaikan masalah yang lebih besar itu.

Hidup akan lebih bisa dinikmati oleh orang-orang yang berfikir positif karena berfikir positif akan berdampak pula pelakunya bisa menerima setiap keadaan dengan besar hati dan lapang dada. Misalnya sedang tertimpa musibah sekalipun dia masih tetap mengambil hikmah dan sisi positif dari musibah itu, kalau rumahnya kecurian sekalipun yang ada dibenaknya selalu “untung” hanya tv saja yang dibawa maling sedang barang-barang yang lain tidak.

Cara seperti ini jelas akan meringankan beban yang dialaminya, karena kalau dia tetap fokus pada tv-nya yang hilang, maka stress yang akan didapat. Bukankah dengan stress belum tentu mengubah keadaan?

Bahkan kalau dia berfikir dengan jernih bisa jadi tv yang hilang itu bisa ditemukan lagi, seperti misalnya dengan mengingat-ingat siapa yang mungkin bisa masuk rumahnya dengan leluasa di samping keluarganya sendiri?

Tentunya hal seperti ini tidak boleh didasarkan pada sangkaan tetapi harus disertai dengan bukti-bukti yang kuat.

%d blogger menyukai ini: