Posts from the ‘Jejaring sosial’ Category

KETIKA FACEBOOK JADI ALAT POLITIK KANTOR


Kehadiran situs-situs jaringan sosial di internet bukan hanya membawa dampak positif dimana hubungan antarpersonal menjadi semakin horisontal, dan orang bisa bebas mengekespresikan diri dan sebagainya. Di balik demokratisasi yang memungkinkan setiap individu menampilkan diri apa adanya, ada bahaya yang mengintai, dari mereka yang tidak siap dengan perubahan ini. Seorang teman yang bekerja di sebuah perusahaan multinasional ternama bercerita, dia mendapat masalah di kantornya gara-gara Facebook.

Alkisah, salah seorang manajer level tinggi mempermasalahkan beberapa foto yang dia pajang di Facebook. Tidak tanggung-tanggung, hal itu dijadikan isu untuk menjatuhkannya di rapat manajerial. Yang mengherankan saya, mungkin juga Anda, sebegitu kurang kerjaankah si manajer itu sehingga “sempat-sempatnya” mengintai Facebook orang lain? Tapi, kalau mau dipikir-pikir lagi, memang inilah realitas kita hari ini. Ketika berdiskusi dengan teman yang lain, ternyata beberapa orang bahkan telah mengantisipasi hal-hal semacam ini dengan sengaja memblokir teman-teman sekantor untuk menjadi teman di Facebook, guna mencegah potensi terjadinya politisasi kantor semacam itu. Atau, ada juga yang lebih telaten dengan melakukan kustomisasi pada privacy policy untuk masing-masing temannya di Facebook.

Kembali ke cerita teman saya tadi, apa pun yang dipermasalahkan oleh sang manajer, ada satu benang merah yang bisa kita tarik dari “kasus” kecil ini. Facebook rupanya telah dianggap sebagai cerminan pribadi seseorang, atau bahasa kerennya personal branding. Perlu diingat, angkata kerja dari Generasi Y yang kini mengisi jabatan profesional di kantor-kantor memang mempunyai karakter yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka adalah para pekerja muda, yang lebih ekspresif, memegang motto ‘work hard play hard’, dan menginginkan keseimbangan antara bekerja dan bersenang-senang.

Di samping itu, karyawan Gen Y merasa bahwa melakukan hal-hal yang berkaitan dengan kesenangan pribadi di kantor tidak masalah sepanjang tidak mengganggu urusan pekerjaan. Namun atasan mereka yang notabene dari Generasi X mungkin tidak bisa menerima begitu saja, bahwa ada anak buahnya yang eksentrik dan bergaya, sibuk “bergaul” di dunia maya di sela-sela kerja. Di sinilah timbul perbenturan nilai. Pada titik inilah, diperlukan pengertian dari kedua belah pihak, yakni karyawan dan bos, demi terwujudkan komunikasi yang mampu menjembatani antara dua (atau mungkin lebih) karakter generasi yang berbeda yang saling berinteraksi dalam satu lingkungan kerja.

Menurut saya setidaknya ada empat strategi yang bisa menyelamatkan Anda yang keranjingan Facebook dari jerat politik kantor, seperti dialami teman saya tadi.

1. Coba analisis lingkungan kerja Anda. Apabila Anda bekerja di industri kreatif atau dunia kerja yang fleksibel menerima karakter individual yang eksentrik, tak perlu mencemaskan apa yang akan Anda posting di Facebook.

2. Apakah kinerja Anda ditentukan oleh penilaian bos dan teman sekerja Anda, atau sebuah angka terukur, misalnya, orang-orang sales yang kinerjanya jelas ditentukan pencapaian target. Kalau kinerja Anda lebih banyak ditentukan persepsi bos (dan rekan kerja), maka perlu berhatilah-hati saat posting di Facebook. Sebab, bila ada beberapa orang yang berusaha menjegal Anda, dengan mudah mereka akan menggunakan Facebook untuk merusak citra Anda.

3. Blokir, atau setidaknya batasi jaringan sosial Anda di internet dari teman-teman yang berpotensi menjatuhkan Anda. Ada beberapa hal yang tidak bisa Anda kontrol di Facebook, misalnya Tag foto dari teman Anda, atau komentar-komentar, serta Wall yang ditulis oleh teman Anda.

4. Pertimbangkan berbagai hal yang akan dipublikasikan di Facebook, jangan sampai hal ini akan merugikan citra dan kredibilitas perusahaan, atau profesionalitas Anda di mata klien dan kolega.

Pada akhirnya, kita harus semakin menyadari bahwa saat ini kita hidup pada era ketika aktivitas yang berkaitan dengan kesenangan pribadi tak bisa benar-benar dipisahkan dari pekerjaan. Dalam sebuah organisasi atau perusahaan, karir dan masa depan posisi kita bukan hanya ditentukan oleh kinerja dan kesuksesan kita dalam menyelesaikan pekerjaan. Melainkan, juga oleh lingkungan tempat kita berada, yang terdiri dari atasan, kolega dan para klien yang kini telah saling terkait dan berinteraksi dalam satu jaringan. Dalam konteks ini, kita diingatkan pada pentingnya emotional intellegence, kepandaian untuk bisa menganalisis lingkungan sekitar dan kepekaan untuk memahami orang lain.

By : Tuhu Nugraha Dewanto

(Penulis adalah Web Consultant dan Pengamat Online Media)

Iklan

“JUAL DIRI” via Facebook


Facebook bisa jadi ajang Anda ‘jual diri’ untuk memperoleh karir cemerlang. Caranya? Simak tipsnya berikut ini.

Facebook, dunia yang sangat asyik dan nyaman untuk nongkrong. Di sana Anda dapat menemukan banyak kenalan baru, dan plusnya bisa bertemu teman-teman lama, bahkan teman saat Anda duduk di taman kanak-kanak. Anda juga dapat bebas mengupload foto, dengan jumlah yang hampir tak terbatas. Serta video, mungkin video tentang wisuda, atau aksi konyol Anda bersama para sahabat.

Seiring dengan kemajuan teknologi, kini Anda bisa mengupdate status Facebook melalui handphone Anda. Tanpa harus pergi ke warnet atau membuka notebook, Anda jadi bebas berekspresi mengupdate status dan mengupload aneka foto. Tanpa disadari, Anda sendiri juga jadi mengumbar masalah-masalah yang seharusnya Anda simpan sendiri. Anda jadi mudah mengekspresikan perasaan Anda, terutama perasaan negatif, entah saat marah atau kecewa pada seseorang, Anda bebas memaki-maki mereka.

Tapi mungkin Anda tak tahu, bahwa Facebook yang populer di tangan Anda, kini juga populer bagi para pekerja, termasuk mereka para detektif HRD yang kerap menghubungi Anda untuk sesi wawancara bersama mereka. Tidak menutup kemungkinan mereka akan mengamati profil Anda dari facebook, entah itu seputar status, foto profil, dan lain sebagainya. Jadi berhati-hatilah dengan para dewan yang punya banyak mata dan telinga ini jika Anda ingin segera memiliki pekerjaan tetap.

Berikut 10 kesalahan kecil namun dapat berakibat fatal apabila terlewatkan oleh para Facebooker saat mencari pekerjaan:

1. Kurang bijak meng-update status

Kesalahan pertama ini adalah kesalahan yang paling sering dilakukan oleh para Facebooker. Jelas dong, apalagi saat ini update status bisa dilakukan melalui handphone Anda. Tinggal mengetik apa yang ada di pikiran, klik share, semua orang pasti bisa baca deh. Mengekspresikan perasaan sih boleh saja, tetapi jangan sampai hal ini malah menjadi senjata makan tuan bagi Anda. Sebaiknya simpan masalah-masalah yang terlalu pribadi untuk diri sendiri, hindari juga memaki atau menjelek-jelekkan nama orang di status Facebook. Statusmu adalah harimaumu!

2. Terlalu kreatif dengan nama account

Lucu sih jika Anda menggunakan nama-nama unik dan panjang, seperti misalnya: RatnaMencariCinta, AbiCintaKamoeh, dsbnya. Namun yang ditangkap oleh si pewawancara, Anda dianggap sosok yang masih belum siap bekerja, belum dewasa dan terlalu ABG. Ingat, nama itu mewakili kepribadian seseorang lho! Jadi pakai saja nama Anda, apabila terlalu panjang, nama panggilan juga boleh, asal jangan sampai memposting nama yang justru malah merendahkan dan membuat Anda dipandang sebelah mata.

3. Relationship status palsu

Saking cintanya pada kekasih, Anda yang masih single langsung memasang status ‘Married’ padahal kenyataannya sih Anda masih single. Masih asyik-asyiknya berpacaran. Dan sayangnya, kebanyakan perusahaan membutuhkan karyawan yang masih single, mengingat beberapa profesi memerlukan konsentrasi dan waktu yang cukup menyita. Untuk itu, jika memang benar Anda masih single, posting saja status single. Atau masih ada pilihan in relationship atau open relationship.

4. Foto profil

Memasang foto profil super seksi atau sedang bercumbu dengan pacar adalah kesalahan yang cukup fatal. Siapa sih yang ingin punya pegawai yang kurang santun dan memiliki image buruk, tak ada kan? Jika Anda merasa cantik dan ingin dianggap cantik oleh dunia, maka perlihatkan kecantikan dan pose menarik Anda. Tentu di dalam batas-batas kesopanan ya. 5. What about me?

Anda mungkin tak terlalu perhatian soal hal ini. Namun kadang karena pengen terlihat lucu, Anda jadi asal menulis info tentang Anda ini. Padahal saat seseorang membaca profil, mereka sering lho mengamati dan membaca info singkat ini. Setidaknya bagi mereka ini cukup memberi gambaran siapakah Anda. So, buat ringkasan kecil yang menarik, yang menggambarkan siapa sih sebenarnya diri Anda. Menuliskan kekurangan diri mungkin juga baik, tetapi pertimbangkan juga karena di dalam akun Anda kan ada banyak orang yang baru Anda kenal juga. Tulis saja diri Anda secara umum.

6. Blog link

Penuh percaya diri Anda menampilkan alamat blog yang Anda tulis. Padahal isinya curhatan semua. Well, menulis blog mungkin memang hobby Anda, tetapi jika blog tersebut isinya terlalu pribadi, sebaiknya simpan saja untuk diri sendiri. Jangan mencantumkannya pada akun jejaring Anda. Memangnya Anda mau semua orang tahu tentang kehidupan pribadi Anda?

7. Hati-hati memilih Page group dan Causes yang Anda ikuti

Ada yang menginvite Anda tentang perjuangan mereka atas suatu hal yang berbau SARA dan semacamnya, tanpa pikir panjangpun Anda ikut. Ada pula yang menginvite Anda untuk join group ‘Usir Jupe dari Indonesia’, Anda pun penuh semangat ikut mencaci maki artis yang ingin mencalonkan diri menjadi bupati Pacitan. Sumpah serapah pun Anda ucapkan di dalam wall group tersebut. Well, satu poin negatif lagi Anda tunjukkan. Dalam benak orang lain bisa saja mereka menganggap Anda mudah terhasut suatu isu dan kurang bijaksana dalam memilih komunitas. Join group dan causes yang memang benar-benar positif efeknya bagi Anda, misalnya causes ‘hemat energi’, ‘selamatkan dunia dari pemanasan global’, group ‘Pecinta lingkungan hidup’, ‘group ‘Woman’ dan lain sebagainya.

8. Photo Album

Kagum pada Christiano Ronaldo yang memang jauh lebih seksi dari David Beckham sih boleh saja. Tapi tak harus punya album khusus yang membuat pose seksi separuh bugil itu kan? Keep it for your self! Sebijak mungkin susun album foto yang menunjukkan betapa smart dan bahagianya seorang Anda. Singkirkan semua foto-foto yang mungkin bisa menghancurkan image Anda, sebagai contohnya: foto Anda sedang minum saat dugem.

9. Memalsukan beberapa data penting

Tanggal lahir, khususnya, adalah data yang sangat penting bagi perusahaan. Jika Anda memang tak ingin tanggal lahir Anda diketahui di Facebook, atur saja supaya yang muncul tanggal dan bulannya saja. Jangan sampai memalsukan tanggal lahir, ini namanya pemalsuan data, ya kan?

10. Lupa akan ‘privacy setting

Jika memang Anda ingin bebas berekspresi di dalam Facebook pribadi Anda, sebaiknya pasang privacy setting. Dengan demikian tak semua orang bisa bebas membaca info Anda. Dan kali ini para detektif HRD tak akan bisa membaca profil Facebook Anda.

Jangan meremehkan akun Facebook yang Anda miliki. Jika mata adalah jendela hati, maka Facebook adalah iklan yang paling ampuh untuk menjual kepandaian dan prestasi Anda. Jadi ‘juallah’ diri Anda sebaik mungkin.

 

Sumber : kapanlagi.com

WASPADAI TWITTER


Tidak disangka-sangak kehadiran microblogging Twitter yang setiap pesannya terbats 140 karakter menjadi momok yang menakutkan bagi industri media arus utama (mianstream), baik media cetak, elektronik, maupun online. Mengapa menakutkan?

Alan Rusbridder, kolumnis teknologi Guardian.co.uk, pada 19 november merilis sebuah artikel mengenai 15 alasan mengapa twitter bisa menjadi masalah bagi organisasi media, opininya ini tidak dimaksudkan untuk menakut-nakuti pemilik dan penggita media, melainkan lebih sekadar peringatan semata. Rusbridger justru menyarankan pemilik media berdamai dan tidak ahrus malu mengadopsi kelebihan Twitter dalam mendistribusikan kontennya.

Bagi warga dunia maya(netizen), twitter yang mulai online sejak 15 juli 2006 adalah sebuah keniscayaan. Dengan tekanan waktu dan kesibukan, warga didunia maya ini tidak lagi ngeblog dengan membuat postingan yang panjang lebar. cukup berkicau seperti burung tentang apa yang terjadi dan menginformasikan peristiwa yang menimpanya atau orang lain, pesan sudah smapai secara berantai.

Twitter dikembangkan Jack Dorsey adalah pesan singkat (SMS) virtual yang bekerja di internet. Twitter tidak lebih dari SMS di internet. Sebagaimana sebuah pesan singkat, ia dibatasi hanya 140 karakter. Lantas pesan (tweet) apa yang bisa disampaikan para tweep (penyampai tweet) lewat batasan 140 karakter? Bagaimana mungkin industri media bisa terganggu oleh pesan 140 karakter itu?

Sebelum menjawab serenceng pertanyaan ini, baiknya simak dulu 15 pikiran Rusbridger mengapa media arus utama perlu mewaspadai Twitter :

  1. Distribusi mengagumkan. Benar pesan hanya dibatasi 140 karakter, tetapi didalamnya tersimpan tautan yang mengantarkan siapapun kesebuah situs yang alamat domainnya sudah dipendekan. Lewat pesan viralnya, pesan bisa tersebar. Tidak heran setiap situs yang sadar media sosial melengkapi fiturnya dengan “share on twitter”.
  2. Menempatkan peristiwa lebih dahulu. Meski tidak selalu, banyak berita pertama muncul di twitter sebelum jurnalis menuliskannya. Bahkan breaking news bisa langsung diperoleh di twitter.
  3. Sebagai mesin pencari. Twitter adalah saingan Google. Pengguna twitter yang jumlahnya mendekati angka 200 juta tidak lagi mencari informasi dari google, tetapi langsung memperolehnya dari jutaan tweet yang mengalir setiap saat.
  4. Agregat yang tangguh. Tweeter adalah feed berita pribadi sesuai keinginan penggunanya. tautan dimana berita itu tersimpan bisa langsung di buka.
  5. Bentuk pemasaran yang pantastis. Postingan yang ditulis di web akan lebih cepat tersebar apabila di di-share di twitter karena viral message yang memungkinkan sebuah pesan terus bergulir.
  6. Alat reportase yang hebat. Tidak bisa dipungkiri, sekarang banyak wartawan mencari informasi atau ide berita dari twitter.
  7. Rangkaian percakapan. Twitter memungkinkan penggunanya berinteraksi aktif mengenai topik yang dibicarakan.
  8. Lebih beragam. Pada media tradisional hanya segelintir pembaca/pemirsa yang bisa memberikan umpan balik, di twitter setiap orang bisa “berkicau” sesukanya.
  9. Mengubah “nada” tulisan. Banyak keberanian menulis/bersuara muncul di Twitter. Orang yang semula aktif mendengarkan menjadi aktif berbicara menuangkan gagasannya.
  10. Hilangnya hieraki lapangan. Tidak semata orang terkenal yang didengar, orang biasapun memungkinkan berinteraksi secara intens.
  11. Memiliki nilai berbeda. Untuk informasi, orang tidak lagi bergantung kepada jurnalis profesional sebab jutaan tweep adalah jurnalis itu sendiri yang siap berbagi informasi.
  12. Memiliki rentang perhatian yang panjang. Twitter adalah bentuk “kesadaran” baru, bahkan dengan menggunakan TweetDeck, pengguna bisa mengatur informasi yang dikehendaki berdasarkan subyek atau pertemanannya.
  13. Menciptakan komunitas. Dimungkinkan terbentuknya masyarakat global berdasarkan kepentingan dan minat.
  14. Mengubah pengertian tentang kewenangan. Daripada menunggu pendapat pakar yang dimuat/ditayangkan media, Tweeter mengeser keseimbangan yang disebut kewenangan “peer to peer”
  15. Agen perubahan. Isu yang diciptakan akan mempengaruhi orang lain atau lembaga pemegang kewenangan. Ini yang disebut sebagai kolaborasi kekuatan media.

Bagi pemilik media massa, khususnya media cetak yang jauh dri kultur web, tidak ada alasan untuk takut karena pembaca media cetak punya kulture sendiri. Akan tetapi, kecenderungan orang mengakses informasi secara cepat harus menjadi pertimbangan. Persoalanya Tweeter menghadirkan kecepatan itu.

Cepat tidak identik dengan tepat. Bagaimana jika Tweter mampu mengadopsi jargon kelasik jurnalistik “Get it first, but first get it right”? Ini menjadi persoalan, khususnya bagi media online yang berburu kecepatan, tetapi kadang mengabaikan ketepatan. Kultur Tweeter terbentuk secara alamiah sebab Tweep cenderung mencari Tweet berkualifikasi “right” selain “first“. Bukan semata sebagai konsumen penelan informasi, tetapi menjadi produsen yang memberi feed kepada Tweep lainnya.

Sumber : KOMPAS, 26 November 2010, hal.29.

Kebohongan facebook


Hak-hak privasi pengguna Facebook masih terus diperjuangkan oleh para pengguna jejaring sosial terbesar itu.

Sementara Facebook masih terus berkilah dan tak mempedulikan keinginan para pengguna layanannya.

Berikut ini tiga kebohongan yang diungkapkan oleh Vice President for Public Policy Facebook, Elliot Schrage, saat menanggapi pertanyaan-pertanyaan hak-hak privasi konsumen.

1. Saat ditanya kenapa Facebook tidak membuat semua setelan privasi di Facebook sebagai ‘Opt-in’ alias seluruhnya ‘private’ kecuali pengguna menginginkan dan mengubahnya menjadi ‘public’, Elliot memberikan jawaban dan argumen yang ‘memukau’.

“Semuanya opt-in di facebook. Bergabung ke Facebook adalah pilihan. Kita ingin agar orang-orang terus menggunakan Facebook setiap hari. Menambah informasi, mengunggah foto, memposting status baru, menyukai sebuah laman. Semuanya Opt-in. Silakan jangan berbagi informasi, bila Anda tidak nyaman.”

Padahal, saat bergabung ke Facebook, sebagian besar data-data pengguna baru seperti biografi, interest, postingan, friend, family, relationship, lokasi, edukasi dan banyak lagi, akan langsung terpublikasi oleh publik, karena default setting-nya adalah ’share with everyone’. Ini merupakan model ‘Opt out’, bukan ‘Opt in’.

2. Saat ditanya bagaimana bila pengguna menghapus akun Facebook mereka, Elliot mengatakan bahwa pengguna bisa melakukan penghapusan secara permanen. “Bila Anda sudah tidak mau menggunakan Facebook lagi, Anda bisa menghapus akun Anda. Penghapusan ini adalah permanen, dan akun Anda tidak akan bisa diaktifkan kembali. Saat kami memproses permintaan penghapusan akun, kami langsung menghapus seluruh informasi yang terkait dengan akun tersebut. Message dan postingan di dinding akan tetap, tapi teratribusi dengan pengguna Facebook anonymous. Konten yang dulu Anda buat, tidak bisa diakses di Facebook, dan tidak di link ke informasi pribadi Anda di manapun.”

Faktanya, apa yang dikatakan Elliot tidak benar. Saat hendak menghapus akun Facebook, pengguna tidak akan mendapatkan tawaran opsi untuk menghapusnya secara permanen. Yang bisa Anda lakukan cuma ‘deactivate’. Tombol ‘delete account’ tak akan bisa dijumpai dengan mudah. Pengguna musti pergi dulu ke Help Center dan melakukan pencarian ‘delete account’ sehingga akan membawa Anda ke laman FAQ.

Di pertanyaan nomor 5 yang berbunyi “I want to permanently delete my account. How do I delete my account?” Setelah itu, di bagian jawaban baru ada link yang mengarahkan pengguna ke opsi penghapusan permanen.

Konfirmasi penghapusan akun Facebook

Repotnya lagi, setelah itu pengguna dipersulit lagi dengan jendela yang meminta password lengkap dengan puzzle CAPTCHA. Sudah begitu, akun kita juga tidak langsung terhapus, karena hanya di deaktivasi selama dua pekan. Di sela-sela itu pun, Facebook masih mengirimi kita email berisi link simpel untuk kembali log-on, yang akan langsung mengembalikan akun kita dalam sekejap.

3. Kepada New York Times, Elliot mengatakan bahwa keamanan pengguna Facebook terjaga. “Untuk sebuah layanan yang bertumbuh secara dramatis, kami menangani lebih dari 400 juta orang untuk berbagi miliaran kepingan konten kepada teman-teman mereka serta institusi yang mereka perhatikan. Kami pikir, rekam jejak kami untuk masalah sekuriti dan keamana, tidak tertandingi,” kata Elliot.

Kenyataannya Facebook mengalami beberapa masalah dalam mengamankan data pribadi pengguna baru-baru ini. Pekan lalu, Facebook memperkenalkan fitur ‘Instant Personalization’ yakni fitur yang memungkinkan pihak ketiga untuk mengakses informasi-informasi Facebook pengguna dan menampilkannya melalui situs pihak ketiga itu. Untuk fitur ini, Facebook telah meluncurkan tiga mitra mereka, yakni Yelp, Pandora, dan Microsoft Docs.com.

Namun, fitur baru itu menimbulkan celah yang bisa dimanfaatkan oleh peretas untuk mendapatkan data-data penting pengguna seperti email, username, serta semua data-data yang di di-share kepada “everyone”.

Celah itu sempat ditutup oleh Yelp, namun pada hari yang sama ditemukan lagi celah lainnya. Akibatnya, Yelp sempat mematikan sementara fitur Instant Personalization Facebook, untuk menemukan celah-celah baru lainnya.

Selain itu, dua pekan lalu, para pengguna Facebook juga sempat dikejutkan dengan peristiwa bocornya pembicaraan chat mereka dan kebocoran data-data lain seperti daftar tunggu dan permintaan pertemanan, serta informasi-informasi yang berpotensi berbahaya lain. Akibat bug ini, Facebook sempat menon-aktifkan fitur chat-nya.

Menurut New York Times, perubahan kebijakan privasi Facebook memiliki motif ekonomi. Salah satunya adalah Facebook mencari uang dengan melakukan kustomisasi target iklan berdasarkan data-data yang muncul pada laman Facebook seseorang.

Sumber : http://vivanews.com/

10 Hal Yang Boleh dan Tidak di Facebook


Semenjak Facebook menjadi alat komunikasi untuk menjalin pertemanan di dunia maya dan sebagai alat untuk tampil narsis, situs jejaring ini semakin populer saja. Bahkan di beberapa negara, Facebook mampu mengungguli MySpace yang notabene hadir lebih dulu.

Untuk menggunakan Facebook sebenarnya ada beberapa panduan Netiquette (etika berinternet). Sepuluh panduan dasar ini mungkin berguna bagi Anda:

1. Hindari TBI (Terlalu Banyak Informasi). Mendata setiap band yang pernah Anda sukai malah akan membuat Anda putus asa. Beberapa pengunjung akan sebal dengan daftar band yang seperti iklan panjang. Bikinlah lebih simpel.

2. Tidak menaruh foto teman Anda yang terlihat bodoh atau ketika tertangkap polisi .

3. Ayah, bibi, bos, atau mantan guru Anda kini bukan tidak mungkin menggunakan Facebook. Nah, sebaiknya Anda menaruh profil diri yang sopan.

4. Size does matter. Benarkah? Memang semakin banyak pertemanan yang terhubung ke Facebook Anda berarti menandakan popular. Terserah deh. Menurut saya sih yang penting adalah Anda menggunakannya untuk tujuan pertemanan yang positif. Terlalu sedikit memiliki teman di Facebook mungkin saja karena Anda jarang membukanya atau hanya sekedar Join saja tanpa sekali pun Anda meng-update-nya.

5. Meningggalkan postingan atau kiriman komentar dari pengunjung tanpa membalasnya menandakan Anda seorang yang tidak suka atau malas berteman.

6. Yang tidak saya sukai di FB adalah pertanyaan fitur “how do you know this person?” Cara menghindarinya: “skip this step.”

7. Anda tidak perlu harus berteman dengan setiap orang yang Anda temui. Beberapa orang menggunakan Facebook untuk tujuan menambah jumlah teman (padahal tidak pernah berkomunikasi). Sebaiknya Anda memilih orang yang memang bisa menjadi teman.

8. Anda tidak harus menerima setiap permintaan teman untuk memasukkan namanya ke Facebook Anda. Biasakan menolak permintaan dari orang yang sama sekali tidak Anda ketahui sebelumnya atau orang yang sebenarnya ingin memata-matai Anda. Tidak ada dosanya menolak permintaan, toh ini hanya Facebook gitu loh…

9. Sebaiknya Anda tidak mengirim permintaan aplikasi yang sebenarnya tidak Anda perlukan. Hindari berbagai tawaran yang tidak berkaitan dengan hobi atau hidup Anda.

10. Anda bisa mencari nama orang yang pernah Anda hapus. Tanpa sadar Anda telah menghapus nama-nama orang yang mengirim undangan Facebook. Nah suatu ketika Anda bisa menambahkan nama tersebut di Facebook Anda. Mereka biasanya tetap akan menghubungi Anda meski undangan mereka pernah tidak Anda gubris sama sekali.

10 panduan dalam ber-facebook


Semenjak Facebook menjadi alat komunikasi untuk menjalin pertemanan di dunia maya dan sebagai alat untuk tampil narsis, situs jejaring ini semakin populer saja. Bahkan di beberapa negara, Facebook mampu mengungguli MySpace yang notabene hadir lebih dulu.

Untuk menggunakan Facebook sebenarnya ada beberapa panduan Netiquette (etika berinternet). Sepuluh panduan dasar ini mungkin berguna bagi Anda:

1. Hindari TBI (Terlalu Banyak Informasi). Mendata setiap band yang pernah Anda sukai malah akan membuat Anda putus asa. Beberapa pengunjung akan sebal dengan daftar band yang seperti iklan panjang. Bikinlah lebih simpel.

2. Tidak menaruh foto teman Anda yang terlihat bodoh atau ketika tertangkap polisi .

3. Ayah, bibi, bos, atau mantan guru Anda kini bukan tidak mungkin menggunakan Facebook. Nah, sebaiknya Anda menaruh profil diri yang sopan.

4. Size does matter. Benarkah? Memang semakin banyak pertemanan yang terhubung ke Facebook Anda berarti menandakan popular. Terserah deh. Menurut saya sih yang penting adalah Anda menggunakannya untuk tujuan pertemanan yang positif. Terlalu sedikit memiliki teman di Facebook mungkin saja karena Anda jarang membukanya atau hanya sekedar Join saja tanpa sekali pun Anda meng-update-nya.

5. Meningggalkan postingan atau kiriman komentar dari pengunjung tanpa membalasnya menandakan Anda seorang yang tidak suka atau malas berteman.

6. Yang tidak saya sukai di FB adalah pertanyaan fitur “how do you know this person?” Cara menghindarinya: “skip this step.”

7. Anda tidak perlu harus berteman dengan setiap orang yang Anda temui. Beberapa orang menggunakan Facebook untuk tujuan menambah jumlah teman (padahal tidak pernah berkomunikasi). Sebaiknya Anda memilih orang yang memang bisa menjadi teman.

8. Anda tidak harus menerima setiap permintaan teman untuk memasukkan namanya ke Facebook Anda. Biasakan menolak permintaan dari orang yang sama sekali tidak Anda ketahui sebelumnya atau orang yang sebenarnya ingin memata-matai Anda. Tidak ada dosanya menolak permintaan, toh ini hanya Facebook gitu loh…

9. Sebaiknya Anda tidak mengirim permintaan aplikasi yang sebenarnya tidak Anda perlukan. Hindari berbagai tawaran yang tidak berkaitan dengan hobi atau hidup Anda.

10. Anda bisa mencari nama orang yang pernah Anda hapus. Tanpa sadar Anda telah menghapus nama-nama orang yang mengirim undangan Facebook. Nah suatu ketika Anda bisa menambahkan nama tersebut di Facebook Anda. Mereka biasanya tetap akan menghubungi Anda meski undangan mereka pernah tidak Anda gubris sama sekali.

ADA APA DENGAN FACEBOOK?


Baik Buruk Facebook, Analisa Positif dan Negatif Facebook

Belakangan ini, situs jejaring sosial Facebook sedang hangat menjadi perbincangan di masyarakat. Hal ini seiring dengan hadirnya inisiatif untuk merumuskan sebuah pandangan keagamaan tentang fenomena Facebook itu sendiri. Namun, apakah kita semua sudah mengenal apa itu Facebook ?. Sebelum kita bicara lebih jauh tentang Facebook, ada baiknya kita mengenal terlebih dahulu sejarah Facebook, dan apa saja manfaat serta mudharat dari Facebook itu sendiri.

Siapa sih yang tidak kenal situs pertemanan Facebook. Saat ini, hampir setiap orang diseluruh belahan dunia termasuk juga Indonesia, telah terjangkit virus Facebook. Mulai dari anak muda, orang tua, bahkan anak-anak sudah mengetahui dan keranjingan terhadap situs jejaring sosial Facebook.

Facebook (disingkat FB) merupakan situs web jaringan sosial yang diluncurkan pada 4 Februari 2004 dan didirikan oleh Mark Zuckerberg yang berusia 21 tahun, seorang lulusan Harvard dan mantan murid Ardsley High School. Keanggotaannya pada awalnya dibatasi untuk siswa dari Harvard College. Dalam dua bulan selanjutnya, keanggotaannya diperluas ke sekolah lain di wilayah Boston (Boston College, Boston University, MIT, Tufts), Rochester, Stanford, NYU, Northwestern, dan semua sekolah yang termasuk dalam Ivy League. Banyak perguruan tinggi lain yang selanjutnya ditambahkan berturut-turut dalam kurun waktu satu tahun setelah peluncurannya. Akhirnya, orang-orang yang memiliki alamat surat-email suatu universitas dari seluruh dunia dapat juga bergabung dengan situs ini.

Selanjutnya dikembangkan pula jaringan untuk sekolah-sekolah tingkat atas dan beberapa perusahaan besar. Sejak 11 September 2006, orang dengan alamat surat-e-mail apa pun dapat mendaftar di Facebook. Pengguna dapat memilih untuk bergabung dengan satu atau lebih jaringan yang tersedia, berdasarkan sekolah tingkat atas, tempat kerja, atau wilayah geografis.

Hingga Juli 2007, situs ini memiliki jumlah pengguna terdaftar paling besar di antara situs-situs yang berfokus pada sekolah dengan lebih dari 34 juta anggota aktif yang dimilikinya dari seluruh dunia. Dari September 2006 hingga September 2007, peringkatnya naik dari posisi ke-60 ke posisi ke-7 situs paling banyak dikunjungi, dan merupakan situs nomor satu untuk foto di Amerika Serikat, mengungguli situs publik lain seperti Flickr, dengan 8,5 juta foto dimuat setiap harinya.

Situs jejaring memang begitu banyak di dunia maya, mulai dari Friendster, Live Connector, Tagged, MySpace, Hi5, Fupei hingga Facebook. Namun, Tidak ada situs jejaring sosial lain yang mampu menandingi daya tarik Facebook terhadap pengguna (user). Pada tahun 2007, terdapat penambahan 200 ribu account baru perharinya Lebih dari 25 juta user aktif menggunakan Facebook setiap harinya. Rata-rata user menghabiskan waktu sekitar 19 menit perhari untuk melakukan berbagai aktifitas di Facebook. Kini Facebook memiliki karyawan 250 – 1000 orang, dengan pendapatan $50 – $100.

Facebook merupakan salah satu layanan jaringan sosial internet yang gratis dimana kita dapat membentuk jaringan dengan mengundang teman kita. Dan dari jaringan yang kita bentuk, kita dapat memperhatikan aktifitas mereka, mengikuti permainan/ join game yang direkomendasikan, menambahkan teman atau jaringan kita berdasarkan organisasi sekolah, daerah domisili kita, dan seterusnya. Bisa dibilang fasilitas untuk berteman dan membina kehidupan sosial.

Di tahun 2008, Indonesia merupakan negara negara Asia Tengara yang paling cepat perkembangan pengguna Facebooknya, yakni 645 persen menjadi 831.000 pengguna Facebook, dan tertinggi kelima di dunia setelah Amerika, Inggris, Prancis dan Italia, dan berpotensi meningkat dalam skala besar (The Jakarta Post 22 Mei 2009).

Belakangan ini kritikan pun muncul dari sejumlah ulama karena FB dianggap dapat mendorong terjadinya perselingkuhan, sehingga mereka mencari jalan untuk membuat regulasi perilaku online di Indonesia. Juru bicara NU Abdul Muin Shohib menyatakan bahwa Facebook dan semacamnya dilarang karena mereka tidak menyebarkan agama islam, tapi untuk bergosip. Maklumat ini dimaksudkan untuk memperingatkan Muslim Indonesia karena banyak diantara pengguna Facebook dan friendster adalah siswa, dan dikhawatirkan Facebook disusupi cyber pornografi (The Jakarta Post 22 Mei 2009).

Fatwa haram menggunakan facebook, juga dikemukakan oleh Pondok Pesantren se Jawa-Madura yang tergabung dalam Forum Komunikasi Pondok Pesantren Putri (FMP3), Facebook cenderung digunakan sebagai alat untuk PDKT (pendekatan) dengan lawan jenis, digunakan untuk berbicara tentang masalah intim secara terbuka atau mendukung perilaku vulgar, sehingga dinyatakan haram. menurut forum tersebut, Islam memiliki pedoman tersendiri untuk mengetahui karakteristik lawan jenis yang ingin dijadikan pasangan hidup.

Mengapa mereka mengharamkan facebook? untuk itu, agar tidak terjadi kesimpangsiuran tanggapan tentang Facebook, ada baiknya kita mengetahui dampak positif dan negatif Facebook.

Berikut adalah manfaat yang bisa diambil dari Social Network Facebook :

  1. Untuk Silaturahmi, antar teman lama, teman baru, dan keluarga.
  2. Untuk menghimpun keluarga famili, saudara, kerabat yang tersebar,
  3. Sebagai media diskusi, media dakwah, tukar informasi dan mengajak kebaikan.
  4. Sebagai media iklan, baik ikan gratis dengan cara posting maupun iklan berbayar yang telah disediakan.
  5. Sebagai media kampanye untuk pemenangan capres dan cawapres 2009.
  6. Membangun komunitas kelompok tertentu, Sekolah tertentu, suku tertentu, agama tertentu, hoby tertentu.
  7. Melatih berkomunikasi, melatih menulis, mengeluarkan pendapat, melatih berkomentar.
  8. Untuk media menyimpan photo keluarga, photo kenangan dan video yang sekaligus bisa di share.

Beberapa hal dampak buruk dari FaceBook :

  1. Mengurangi kinerja karena karyawan perusahaan, dosen dan mahasiswa yang bermain facebook pada saat sedang bekerja, pasti mengurangi waktu kerja.
  2. Berkurangnya perhatian terhadap keluarga, ini terjadi karena orang tua semakin sedikit waktunya dengan anak-anak dan keluarga mereka karena Facebook.
  3. Tergantikannya kehidupan sosial karena sebagian orang merasa cukup dengan berinteraksi lewat Facebook sehingga mengurangi frekuensi bertemu muka.
  4. Batasan ranah pribadi dan sosial yang menjadi kabur, karena Dalam Facebook kita bebas menuliskan apa saja, sering kali tanpa sadar kita menuliskan hal yang seharusnya tidak disampaikan ke lingkup sosial.
  5. Tersebarnya data penting yang tidak semestinya, seringkali pengguna Facebook tidak menyadari beberapa data penting yang tidak semestinya ditampilkan secara terbuka.
  6. Pornografi, sebagaimana situs jejaring sosial lainnya tentu ada saja yang memanfaatkan situs semacam ini untuk kegiatan berbau pornografi.
  7. Kesalahpahaman, seperti kasus pemecatan seorang karyawan gara-gara menulis yg tidak semestinya di facebook, juga terjadi penuntutan ke meja pengadilan gara-gara kesalahpahaman di Facebook.
Melihat dari dampak positif dan negatif dari penggunaan Facebook ini, semua berpulang pada diri kita masing-masing. Jika membicarakan dampak baik dan dampak buruk tidak akan ada habisnya, sebab semua akan terus berkembang dan susah untuk dibendung. Untuk itu, kehadiran Facebook hendaknya bisa disikapi dengan bijaksana, dibuang yang buruk dan diambil manfaatnya.
Kalau boleh dikatakan, Facebook lebih komunikatif dan interaktif dan bisa memperluas wawasan kita semua, tanpa harus berlama-lama larut dalam kontroversi ini. Sebab, ada baiknya memperkuat kendali dari hati, pikiran, iman kita sendiri dalam menyikapi perkembangan teknologi informasi.
%d blogger menyukai ini: