Posts from the ‘Rhenald Khasali’ Category

Rully Membangun Franchise Lokal bernama CMM


Banyak orang yang bisa memasak dengan enak, tapi hanya sedikit yang bisa menjual makanannya sendiri. Rully termasuk yang langka itu. Ia menceritakan perjalanan panjangnya dari awal sampai membuka cabang CMM di kota Padang, kota asal bagi banyak jenis makanan yang enak-enak. Ia menceritakan semua itu kepada Rhenald Kasali pada acara Bedah Bisnis di Radio M97FM, 23 Juli lalu. Seeprti biasa Rhenald ditemani oleh Ifeb alias Febrira Ghalib, penyiar tetap apda radio itu.

Berapa omset sebulan?
Seluruhnya, alhamdulillah, antara Rp 600-700 juta sebulan

Konon kabarnya kalau bisnis makanan marginnya 50% sampai 100% ?
Nggak. Itu kan orang yang ngomong. Kalo warung atau tempat yang nggak perlu sewa mungkin bisa 50 %. Kita bikin usaha, namanya usaha makanan, margin rangenya itu antara 10-20%

Nggak ada rencana IPO?
Belum. Saya franchise.

Sekarang sudah berapa cabang Cwie Mie?
Cwie mie sama Rully’s itu kita ada tujuh, tiga adalah franchise

Dimana aja tuh ?
Jakarta satu, Padang satu, dan Yogya Satu .

Jadi orang padang itu sudah suka Cwie mie?
Itulah yang saya surprise sekali.,Saya tahu bahwa Padang adalah gudangnya makanan, makanan di sana saya anggap enak, dan laku dijual dimana-mana. Kebetulan kenalan saya di sana mau buka Cwie Mie Malang di sana. Setelah saya cek lokasinya , saya setuju buka di sana.

Sudah mulai?
Hampir satu bulan. Penjualannya saya anggap luar biasa.

Seberapa luarbiasanya?
Untuk ukuran warung jangan dibandingkan Mcdonald dan Pizza Hut. Mungkin bisa Rp 8-10 juta per hari. Begini Pak Rhenald, biasanya mereka membuka warung di pasar atau di ruko. Saya beda, di sana ada tanah 1800 meter persegi. Saya kasih taman. Bangunannya dari batang kelapa dan batu bata. Suasananya adem dan kesannya dingin. Lighting kalau malam itu indah sekali. Jadi betul-betul berbeda dengan Kentucky yang ber-AC. Orang betul-betul niat untuk masuk ke sana. Begitu coba, ternyata mereka suka

Kalau saya berminat franchise, apa cukup saya kirim proposal?
Nggak. Datang saja ke tempat saya, ngobrol-ngobrol dengan saya

Jadi dilihat dulu, bisa dipercaya nggak nih orang?
Ya, bisnis adalah trust. Misalnya orangnya doing bisnis nggak. Atau hanya punya duit tapi konsentrasi nggak ke situ, saya nggak mau, nanti jalannya setengah-setengah.

Harus menyiapkan uang berapa sih orang bisa franchise?
Kalau yang namanya food court concept itu dananya tidak begitu besar, Rp 20 juta di luar sewa tempat. Itu modal kerja sudah termasuk equipment sederhana.

Sederhana maksudnya seperti apa?
Misalnya panci stainless steel itu harganya mahal, kita pakai panci biasa. Lebih murah dan tidak mengubah rasa.

Berapa lama kira-kira bisa kembali modal di satu food court?
Nggak lebih dari setahun. Kalau dalam setahun nggak balik modal, berarti ada something wrong.

Bagaimana Cwie Mie bisa diterima dimana-mana apakah ada adjustment terhadap taste?
Betul, tapi basic-nya nggak.Misalnya soal mie, yang enak itu belum tentu yang halus, lembut dan sebagainya. Sebelum saya membuka restaurant ini saya sudah melakukan survey dan riset di rumah. Saya undang orang Chinese, Betawi, Malang, Padang, untuk memilih mie yang paling disukai, ternyata hasilnya yang sekarang ini. Dan itu saya pertahankan sampai sekarang.

Jadi, mie-nya bikin sendiri ?
Iya lah. Kebetulan saya pernah kerja di Indofood, saya banyak kenal temen-temen di sana, mereka juga share knowledge lah, saya selalu tanya, dan saya punya equipmentnya

Coba ceritakan sedikit latar belakang Anda, kelihatannya menarik?
Saya SMA di Malang. Teman-teman mau jadi dokter, insinyur. Pokoknya jadi sarjana doctorandus. Yang milih ke perhotelan itu sedikit sekali, mungkin hanya 1%, termasuk saya.. Saya masuk ke National Hotel Institute Bandung.. Teman saya ngasih saran lebih baik masuk ke bagian makanan, karena koki gajinya gede, akhirnya saya masuk kesitu.

Sebelumnya anda tidak hobby masak?
O, tidak. Waktu kecil saya suka masak nasi goreng, rujak cingur, ibu saya kebetulan punya warung(kantin). Di stadion, kantinnya, ibu saya yang pegang. Kadang-kadang kalau nggak ada pembantunya, saya jualan. Saya bikin rujak di situ.

Tadi latar belakangnya sebagai koki. Sekarang pengalaman kerjanya sebagai apa saja?
Saya pernah kerja di hotel. Pertama, sebagai cook helper tahun 70-an, ketika itu senior sering ngerjain anak baru seperti saya. Disuruh ngupas kentang satu atau dua karung. Lalu di Hilton jadi cook. Trus saya balik lagi sekolah, sampai suatu saat saya inging menjadi raja kecil, saya nggak mau kerja di hotel jadi cook aja, saya ingin menjadi manager waktu itu, setelah selesai sekolah saya menjadi food and bavarage manager di hotel Kemang selanjutnya saya kerja dengan Pak Bob Sadino.

Karena Bob Sadino sering ke Hotel Kemang atau Anda yang sering ke Kemchick?
Saya yang datang ke Kemchick. Lalu saya ngobrol-ngobrol-lah. Saya menjadi Asisten Manager Supermarket, tapi disini tugasnya nggak jelas, karena saya nggak ngerti tugas di supermarket. Background saya itu cook, maka saya olah itu daging. Daging yang segitu banyak akhirnya saya bumbuin, dan saya namain food ready to cook atau apalah itu. Ketika itu Hero dan semacamnya belum ada. Adanya hanya di Kemchick. Di supermarket belum ada salad saya sudah jual salad, jadi saya berjasa lah terhadap pak Bob itu.

Setelah 8 tahun kerja, cukuplah, waktu itu ada lowongan Operation Manager di Burger King, di situ saya mulai belajar franchise. Saya memegang Operation Manager itu 2 s/d 3 tahun. Setelah itu saya pindah ke Indofood. Kurumayan Rudolf restaurant itu ada 10 outlet, di situ saya pegang operationnya 2 tahun lebih. Kalau nggak salah, saya keluar lagi, trus saya kerja sama Rini Suwandi (sekarang Memperindag) untuk pegang bakery café, itu franchise juga di Amerika selama 2 tahun.

Jadi di Obongpang bakery café itu terakhir? Kenapa terus mendirikan Cwie mie?
Begini Pak. Sejak awal kerja saya melihat bahwa saya tidak mempunyai dana pensiun. Saya nggak punya apa-apa. Saya masih dipakai karena saya masih kuat,sehat, tapi setelah itu what next? Saya nggak punya apa-apa. Saya melihat teman-teman yang lain hanya menghabiskan hasil sisa-sisa keuangan mereka. Setahun di Kemchick saya buka Hoka-Hoka Bento. Saya di bagian produksinya. Setelah itu saya keluar, saya bikin usaha sendiri yang saya namakan modif frozen food. Saya bikin sukiyaki di-packaging, yakiniku di-packaging, torinoteba.

Kemudian saya punya teman India. Dia saya suruh telepon ke instansi pemerintah dan lainnya, waktu itu Dharma Wanita lagi ngetrend. Kemudian saya bilang ke dia bahwa saya ada demonstrasi gratis, kita ada perusahaan dari Jepang, kita mau demo masak gratis ke tempat ibu. Kebetulan waktu itu ada arisan, pesertanya 100 orang. Tapi saya hanya punya 30 pack. Akhirnya berbutan.

Jadi konsep jualannya adalah saya telepon ibu-ibu Dharma Wanita, kita dating ke sana, akhirnya mereka beli. Begitu juga saya lakukan dengan Cwie Mie ini, sambil mikirin next-nya bagaimana ?

Jadi Anda masih kerja pada saat membangun Cwie Mie?
Ya, saya masih kerja, artinya saya nggak mau gambling. Kalau misalnya saya gagal disitu, saya masih ada income. Tapi saya tahu, di tempat kerja, future nya kurang menjanjikan, artinya saya harus doing something, saya harus bertahan, makanya saya bikin steak dan Cwie mie itu.

Iklan

Awalnya Selalu bukan Uang


Awalnya Selalu bukan Uang
Oleh: Rhenald Kasali

Saat ini banyak sekali pemerintah daerah kabupaten yang mengeluh tak punya uang. Anggaran yang ada hanya cukup untuk bayar gaji karyawan. Mana ada uang untuk membangun sekolah dan fasilitas publik? Mana uang untuk menggali potensi sumber daya alam? Bupati birokrat yang biasa hidup dari atas tentu akan berteriak minta agar jatah uangnya ditambah.

Tadinya saya kira yang kesulitan saja yang berteriak, tapi belakangan saya dengar daerah-daerah kaya ternyata juga melakukan hal serupa. Apa yang mereka perjuangkan? Betul, uang! Seakan-akan tanpa uang yang besar mereka akan mati dan daerahnya akan berontak.

Betulkah tanpa uang dan sumber daya alam suatu kabupaten akan mati kelaparan? Tentu saja tidak. Saya kira semua tentu tahu Jepang adalah bangsa yang tak punya apa-apa, tapi rakyat di negara ini hidup sejahtera. Manusia yang tak mau hidup miskin tentu akan memutar otaknya. Jadi, kata kuncinya adalah akal. Tanpa modal, tapi bisa kaya raya dan rakyatnya sejahtera.

Sejarah dunia usaha sesungguhnya juga kaya dengan cerita seperti ini. Lahirnya pengusaha-pengusaha besar selalu dimulai bukan dengan kekuatan uang, tapi akal dan nama baik; bukan akal-akalan. Hampir setiap minggu saya mengundang pengusaha sejati dalam sebuah talkshow di radio M97 di Jakarta. Anda tahu apa kesimpulannya? Benar: 99% mengatakan modal awalnya bukan uang. Mereka jadi besar karena akal.

Di dunia internasional, akal juga pegang peranan penting. Sebuah perusahaan dengan aset jutaan dolar bisa berpindah tangan begitu saja dalam waktu singkat ke tangan orang-orang yang panjang akal.

Sebaliknya, orang yang kurang akal bisa kehilangan segala-galanya. Mereka cuma mengutak-atik angka, lalu mencari penjamin yang berani. Bayarnya ternyata juga tak pakai uang. Apakah mereka penipu? Saya tidak terlalu tahu persis, tapi kalau ditelusuri rangkaiannya, Saudara-Saudara bisa berdecak kagum. Kok bisa membeli tanpa uang. Sayang, contoh-contoh yang ada di negara kita lebih banyak warna penipuannya ketimbang akalnya, sehingga tidak banyak yang bisa dijadikan contoh.

Salah satu contoh yang sedang banyak diidolakan kaum muda dunia adalah Masayoshi San, CEO dan founder Softbank Corporation-Jepang. Orang Jepang keturunan Korea ini segera kembali ke Jepang setelah menyelesaikan studinya di University of California-Berkeley. Sejak kuliah ia memang sudah dikenal sebagai pria yang panjang akal.

Awalnya tak punya produk dan tak punya uang. Suatu ketika ia terlihat membuka-buka buku direktori yang berisi nama-nama pengajar di kampusnya. Apa yang ia cari? Ia mencari profesor microcomputer yang mau diajak bekerja sama. Ia katakan bahwa ia tak punya uang, tapi punya gagasan-gagasan jenius. Gagasan-gagasan itu katanya harus unik, tidak mudah ditiru orang lain, dan dalam 10 tahun ke depan dapat menjadikan perusahaan sebagai pemimpin industri.

Sebagian tentu saja menolak tawarannya. Tapi, begitu coretan-coretannya lebih jelas, beberapa mau bergabung. Kelak, karya cipta itu dibeli Sharp seharga US$ 1 juta. Produknya bernama Sharp Wizard, yaitu komputer sebesar kalkulator yang berfungsi sebagai kamus untuk delapan bahasa. Setelah uang didapat, barulah orang-orang itu dibayar.

Hal serupa dilakukannya ketika kembali ke Jepang. Ia selalu mengatakan: ”Saya hanya punya sedikit uang dan pengalaman bisnis, tapi saya benar-benar memiliki keinginan yang meluap-luap untuk sukses.” Apa yang ia lakukan?

Dalam sebuah pameran elektronika yang besar ia menyewa sebuah stan besar, sebesar stan yang dibangun merek-merek terkenal: Sony, Toshiba dan sebagainya. Ia melihat banyak komputer yang mulai dijual tapi tidak ada software-nya. Sementara itu orang-orang muda pembuat software tidak tahu bagaimana menjualnya. Ia lalu mengundang para pembuat software berpameran di stan itu. Free, gratis. ”Saya buatkan brosurnya dan lain-lain. Saya tak punya produk, tak punya banyak uang, tapi saya berikan mereka pameran gratis. Mereka bilang saya bodoh. Tak punya uang tapi memberikan tempat gratis. Oke, saya akan jalan terus sampai nanti mereka bisa mengerti apa artinya bisnis ini.”

Masayoshi San benar. Beberapa bulan kemudian order datang, yaitu dari Joshin Denki, sebuah jaringan penjual PC terbesar di Jepang. Ia tidak mengenal Joshin Denki, tapi Denki bilang tanyakan pada Sharp, karena Joshin Denki adalah penjual Sharp terbesar di Jepang. Sharp ternyata memberikan rekomendasi, dan terjadilah deal. Setelah Denki menjual produk-produk Softbank, mau tidak mau yang lain juga ingin menyalurkan produk Softbank.

Itulah awal penting bagi seorang entrepreneur. Akal pertamanya diarahkan untuk membangun reputasinya, brand-nya. Saya sungguh yakin ada beberapa bupati yang panjang akal seperti Masayoshi San. Mungkin daerahnya tidak cukup kaya, ia tidak punya banyak uang, tapi sadar betul sesuatu itu tidak selalu harus dimulai dari uang. Andai kata saja daerah-daerah bisa mendapatkan orang-orang panjang akal ini, daerahnya pasti akan menjadi sejahtera kendati pada awalnya semua pasti tidak mudah.

Bedah Bisnis Koran Cepat Detikcom (1)


Terjun ke Old Economy

Oleh: Rhenald Kasali

Dalam era Cyber sekarang ini dimana media massa bergairah untuk masuk kedalam new economy dalam bentuk masuk keportal. Tetapi malah sebuah portal news terjun ke bidang old economy dengan menerbitkan Koran Cepat Detikcom. Terbit sejak pertengahan maret lalu Koran Cepat Detikcom meramaikan dunia percetakan bersama koran Tempo yang terbit 2 April 2001.

Terjunnya detik.com ke bisnis media harian ini dilatar belakangi oleh permintaan dari para netter detik.com online. Karena tidak semua dari mereka sempat membuka laptop atau komputer mereka di kantor atau ditempat kerja. Mereka ingin sesuatu yang dapat dibawa kemana-mana dan bisa dibaca dimana saja. Dan tanpa disadari ongkos untuk masuk ke internet lebih mahal dibanding membaca Koran yang harganya dibawah seribu ruiah. Sudah bisa membaca semua berita yang ada di detik.com online. Karena infra struktur telekomunikasi kita belum menunjang. Satu jam paling tidak lima ribu rupiah dan waktu downloadnya lama. Kemudian untuk orang yang gatek atau gagap teknologi tidak mengerti apa itu internet dan sampai sekarang diajarin pun tidak mau. Padahal mereka ingin tahu berita-berita yang paling baru. Begitu cepatnya Koran Detikcom ini terbit tanpa aba-aba terlebih dahulu bukannya tanpa alasan. Mereka melihat permintaan detik.com print out yang makin kuat dan juga ingin memanfaatkan momentum situasi politik. Karena media massa bisa besar kalau momentumnya pas. Seperti Kontan yang berkembang karena dia terbit ketika krismon dan bisa membongkar kasus-kasus yang menarik contohnya kasus Busang.

Koran Cepat Detikcom ini terbit dua kali sehari (edisi siang dan edisi sore). Dari penampilannya di hari-hari pertama terlihat jelas bahwa pengelola KCD menginginkan agar medianya benar-benar menjadi Koran yang menyajikan berita dalam ukuran jam. Berita dari jam dua pagi sampai jam sepuluh langsung terbaca siang hari jam 12 siang. Sedangkan berita sore dapat dibaca pada jam empat sore. Distribusinya dipusatkan pada para agen pengecer dan food court-food court yang dituju ketika makan siang. Untuk menghindari macet dan agar distribusi Koran tepat waktu Koran Cepat Detikcom mengantar menggunakan armada bermotor. Armada ini dilengkapi dengan terpal plastik yang melindungi Koran dan pengendara dari hujan. Memang masalah distribusi ini merupakan masalah utama pada Koran Detikcom. Kalau telat sedikit tidak dibawa pengecer. Sehingga pertimbangan mencetak diluar kota yaitu di Cibubur perlu dipertimbangkan kembali. Pencetakannya sendiri dengan system online.

Sebetulnya Koran Cepat Detikcom ingin terbit tiga kali dengan memasuki pasar koran pagi. Tetapi pasar koran pagi itu banyak sekali lawannya dan ada raksasa-raksasa media didalmnya. Dari segi cost Koran Detikcom lebih unggul karena content tinggal diambil dari detik.com online dan tak perlu rekrut wartawan baru. Jadi secara teknis tidak ada kesulitan masuk pagi dan materi jauh lebih banyak ketimbang sore dan siang. Tetapi dicoba dulu dua kali sehari baru kemudian dilihat perkembangannya.

Dari tingkat penjualan kalau para pengecer membawa 10-20 eksempelar diatas 50% lakunya. Cetakan pertama 50 ribu eksempelar ditargetkan sampai akhir tahun mencapai 80 ribu eksemplar. Koran ini merupakan Koran 30 menit. Selesai dibaca kira-kira selama 30 menit semua berita telah selesai dibaca. Karena para pembaca memiliki waktu yang sempit. Dengan membaca headline dan berita yang tersaji secara bersifat hard news. Didukung dengan desain yang simple dan uma 2 lembar kertas Koran sehigga gampang dibaca, gampang dibuang dan gampang dibeli. Isi Koran Cepat Detikcom mengambil dari detik.com online dengan sedikit editing.

PT. Koran Detikcom berbeda kepemilikan dengan Detik.com Online. Pemilik PT. Koran Cepat Detikcom adalah PT. AgraKom dan beberapa orang dari kalangan finansial. Dimana skema kerja samanya adalah joint venture dengan bagi hasil keuntungan yuang didapat. Modal awal yang dialokasikan untuk Koran Cepat Detikcom adalah 2 milyar rupiah. Dari segi modal Koran detikcom berhemat 1/20 dibandingkan dengan perusahaan media lainnya. Juga dari segi penghematan Koran Detikcom ini dapat berhemat 1/25.Karena content tinggal diambil dari detik.com online dan tidak perlu rekrut wartawan baru lagi. Kertasnya Cuma 2 lembar jadi ongkos kertasnya sedikit sekali dibandingkan Koran-koran kita yang tebel banget nih. Dengan hitung-hitungan kasar Koran ini seharusnya umurnya lebih panjang dari Koran-koran biasa. Tetapi dengan syarat pertumbuhan penjualan meningkat 5% setiap bulan.Bila tiras yang terjual mencapai 30 ribu eksemplar maka usaha dapat berjalan terus.

Bila Koran Detikcom ini sukses maka peluang ini tampaknya akan dengan mudah di tiru oleh portal news yang lain.

Penulis: Hendra Asikin

Erick Membangun Republika


Oleh: Rhenald Kasali

Belum banyak yang mengenal nama Erick. Ia masuk tahun lalu ke Republika. Belum sempat satu tahun dipegangnya, Republika sudah bakal kelihatan untung Rp 1 Milyard tahun ini, padahal tahun lalu masih rugi sampai 7 milyar. Ia akan mengembangkan Republika di 11 daerah di Indonesia.

Erick Thohir menjadi tamu Bedah Bisnis Rhenald Kasali di radio M97FM, Senin 13 Agustus 2001. Dio bawah ini adalah bagian dari wawancara Rhenald Kasali dengan Erick. Seperti biasa Rhenald didampingi oleh Febrira Ghalib alias Ifeb, penyiar tetap di M97FM.

Saya kira banyak yang bertanya siapa itu Erick Thohir. Banyak bisnis yang digelutinya, dan yang paling menonjol belakangan ini adalah Anda menjadi investor Republika.Benar bagitu Pak Erick?
Alhamdulillah begitu Pak
Bisa diceritakan latar belakangnya Pak? Anda pernah cerita pada saya bahwa pada suatu tanggal tertentu tiba-tiba ada tiga opportunity yang timbul, bisa diceritakan?
Kalau tidak salah itu terjadi tanggal 18 oktober 2000. Kebetulan di atas meja kantor saya itu ada tiga proposal dan kebetulan tiga-tiganya mengenai media.
Apa saja proposal itu ?
Waktu itu ada Majalah Golf Digest, Videotron, lalu ada Republika. Sesuai dengan background saya di advertising dan marketing, saya bertemu dengan partner saya dan berceritatentang hal ini. Buat saya ini temptation, dan menarik karena datang pada saat yang bersamaan. Mungkin ini sudah jalan dari Yang di Atas buat saya, mengapa tidak saya coba. Selama ini, sudah 8 tahun saya di industri dan pertambangan, jauh dari apa yang saya pelajari di masa kuliah.
Sekolahnya apa?
Saya ambil Advertising, masternya marketing
Setelah kuliah masuk ke bisnis apa?
Bagian keuangan di Bisnis ertambangan. Tapi ini yang paling menarik dalam hidup: kadang-kadang kita mempraktekkan apa yang bukan kita pelajari di sekolah. Tetapi bagi saya kuncinya adalah kalau kita bisa commite dalam hal apapun, kita bisa kasih effort kita yang terbaik. Saya kira selalu ada jalan.
Pertambangannya di bidang apa?
Kapur dan Batubara
Di?
Batubara di sawahlunto dan Riau. Kapurnya ada di Freeport dan Newmont
Bagaimana ceritanya Anda bisa masuk ke bisnis kapur dan batubara?

Sebenarnya ketika itu saya sedang membantu o rang tua di bisnis restoran Hanamasha. Lalu dua teman dekat saya mengajak bisnis sendiri. Lalu saya minta izin kepada orang tua.
Langsung jalan?
Orang tua menyetujui selama masih di luar core bisnis keluarga. Saya diizinkan dan dipinjamkan uang, tanpa bunga lagi.
Usia berapa Anda melakukan itu?
Usia 23
Masuk sendirian atau sama teman?
Kebetulan kedua teman saya background-nya finance dan mereka cita-citanya ingin menjadi Industriawan
Berkembang?
Alhamdulillah
Selain batubara, tadi Anda cerita bisnis keluarga Hanamasa, anda terlibat sebagai apa?
Tahun 1993 waktu itu Hanamasa sedang ada masalah dengan partner, karena kurang transparasi. Ketika saya dating dari luar negeri orang tua minta saya bantu dulu karena sedang ada problem.
Bagaimana ceritanya?
Setelah menjadi manager 6 bulan, saya melihat keadaannya kurang baik di dalamnya. Terjadi mark-up, barang pada satu supplier sehingga harganya tidak kompetitif, apalagi restauran itu kan untungnya sen-senan.
Katanya marginnya gede?
Tidak juga, paling cuma beberapa belas persen untungnya.
Jadi Anda membenahi manajemennya?
Pertama sih culture dari pada company: Kita mesti percaya, kalau mau hidup enak, kita harus kerja bersama-sama. Lalu saya usulkan teamwork. Kita coba. Lalu membetulkan purchasing dan keuangan. Terakhir saya kembangkan system. Di Hanamasa kan tidak perlu memasak, kita hanya sediakan bahan baku dan kita konsentrasi di quality control, bumbu sabu-sabu dan yakiniku. Alhamdulillah selama 2 tahun pertama pembenahan system telah selesai. Hasilnya kita kita bisa lihat: Hanamasa membukan cabang ke 11 di Medan, padahal tahun 1993 cabangnya cuma dua, sempat menjadi empat tapi kemudian tutup lagi.
Itu yang pertama di luar Jawa ? di Jawa dimana saja?
Di Surabaya, Bandung, Bogor lalu Jakarta. Di Jakarta saja sudah 7 cabang sekarang
Jadi modalnya dari sana, pengalaman kerja beranjak dari sana?
Sebenarnya pengalaman kerja saya modalnya dari sana, karena basis restoran sangat bagus, kita harus teliti dan detail. Alhamdulillah setelah itu saya bergabung dengan partner yang lain.
Butuh berapa lama memperbaiki semua ini?
Selama 8 bulan, penerapan system 2 tahun
Itu kerja sendiri atau minta bantuan yang lain?
Teamwork, kecuali business plant-nya
Berapa asset hanamasa saat ini?
Kalau asset saya tidak ingat, tetapi kalau sales sekarang hampir mencapai sampai 20 milyar.
Kta sudah bicara tentang latar belakang, mulai dari bisnis restoran lalu masuk ke pertambangan. Kemudian tiba-tiba ada 3 buah proposal, apakah Anda memutuskan untuk mengambil ketiga-tiganya

Saya melihatnya memang agak ngeri. Tapi, saya melihat media ke depan bahwa media menjadi complement satu dengan yang lainnya. Saya tidak percaya bahwa TV, radio, majalah akan mati. Masing-masing media punya karakter dan komunitasnya sendiri-sendiri. Contoh TV dan Koran. TV mempunyai jangkauan yang lebih luas tapi sulit untuk didokumentasikan, koran bisa dikliping.
Itu tadi TV dan Koran. Bagaimana dengan Radio?
Saya rasa sama. Saya melihat Radio sekarang digunakan sebagai jaringan untuk TV. Kan,kita tidak bisa nonton TV di mobil, jadi lebih afdol dengar radio. Jadi, langkah berikutnya adalah multimedia. Sekarang sudah ada koran ,majalah ,videotron. Radio sudah ada Radio one
Setelah radio, langkah berikutnya apa?
Ya, tentu TV station. Tapi kembali kita melihat dari sisi bisnisnya, visible atau tidak.Kita mesti passion. Bila ada momentum bisnisnya, kita mesti manfaatkan. Contohnya Republika, di tahun 2000 rugi Rp 7 milyar, tahun ini kita tutup buku insya Allah untung Rp 1 milyar. Bagi kami, ini miracle: hanya dalam waktu 8 bulan!
Media is capital intensive, karena itu saya tetap mengusahakan Republika harus listing dan harus right issue kembali. Kita sangat membutuhkan dana untuk pengembangan Republika di 11 daerah. Kami akan mengembangkan Koran dearah Republika dengan bekerjasama dengan pengusaha lokal. Kami memasok berita dari pusat, dan daerah mencari berita lokal. Korannya tetap terbit dengan nama Republika. Kerjsama seperti akan lebih efisien.
Pemain daerahnya siapa?
Pengusaha lokal baik, yang sudah punya brand lokal bahkan yang belum punya brand lokal. Sistemnya seperti franchise tetapi tidak ada fee di depan, atau lebih tepat disebut joint venture.
Kenapa mesti 11, tidak 12 ?
Yang visible baru 11
Anda nggak takut compate dengan Jawa Pos ?
Saya rasa tidak. Alasannya begini: Kompas, koran besar, namanya bisa nationally tetapi ada nggak willing Kompas untuk membangun networking bersama pengusaha daerah bersama-sama memiliki Kompas sebagai satu PT baru gitu di daerah dan dia berani mengorbankan brand Kompas?

Chairul Rivai Bisa Menyalip Gajah Mada?


Oleh: Rhenald Kasali

Anda pernah mampir ke restoran Cwie Mie Malang (CMM)? Walaupun namanya ada kata Malang, tapi restoran ini tidak beralamat di kota Malang, Jawa Timur, dan lebih banyak di Jakarta. Restorannya sederhana, terbuka, tanpa AC, tapi tidak panas karena banyak angin. Sebagai franchise lokal, ia bisa disebut sukses besar.

Biasanya berada di dekat pemukiman, dan di pinggir Jakarta, atau dekat tol lingkar luar Jakarta. Rully tampaknya mendekati pembeli sampai ke depat rumahnya, ketimbang masuk mal. Karena itu, pula barangkali mata dagangannya relatif murah ketimbang makanan di mal.

Dagangannya boleh dibilang campuran makanan tradisional mie ayam dan steak, dan sejumlah menu lainnya. Semua sama di semua cabang. Ada makanan ringan dan aneka minuman.

Dibandingkan dengan restoran mie ayam yang sejenis – Bakmi Gajah Mada, Bakmi Gang Kelinci, dan Bakmi Gindangdia, sekedar menyebut Mie yang terkenal di Jakarta—CMM jauh lebih agresif membuka cabang.

Tapi, jangan dikira, Rully asal membuka cabang. Rully tidak saja melihat kemampuan finansial calon mitranya, tapi juga melihat tingkat keseriusan calon investor. Dan menilai apakah calon rekanannya itu bisa dipercaya.

Tapi, yang jelas, berbeda dengan para pengusaha makanan sejenis mie ini, Rully jauh lebih rasional dalam mengembangkan bisnisnya.

Mulai dari Bawah
Ketika lulus SMA di Malang, Chairul Rivai tidak seperti teman-temannya yang lain. Ia memilih sekolah yang tidak popular: perhotelan di Bandung. Jurusan yang dipilihnya adalah makanan, setelah lulus jadi koki. Menurut teman-temannya, profesi ini gajinya lebih besar ketimbang jadi front office, atau jabatan lain di sekolah perhotelan itu.

Tetapi, ketika bekerja mulai berbeda dengan teman-teman sekerjanya. Ia merasakan, bila hanya jadi pegawai, suatu saat ia akan ditendang oleh majikan jika tidak kuat bekerja lagi, atau tidak sehat. Pikiran ini menggelitiknya, dan mendorongnya membangun usaha sendiri. Usaha yang dibangunnya tidak jauh dari keahliannya yang telah digelutinya sejak selepas SMA: di dunia makanan.

Untuk membangun bisnis, rupanya Rully –nama akrab Chairul Rivai—memetik pengalaman yang banyaks ekali sepanjang ia bekerja: di Kemchick bersama Bob Sadino, Restoran milik Rini Suwandi (sekarang Memperindag), Indofood, dan beberapa restoran franchise asing.

Ketika bekerja di Bob, kreativitasnya sebagai pengusaha sudah tampak: ia menciptakan produk baru yang ketika itu belum ada. Misalnya daging berbumbu, yang siap di masak. Juga salad dalam kemasan.

Bakat dagangnya baru tampak jelas, ketika pertama kali merintis usaha bersama temannya orang India. Si India dimintanya menelpon ibu-ibu Dharwa wanita yang ketika itu sedang marak. Di depan kumpulan ibu-ibu dharma wanita yang sedang arisan Rully mengadakan demo masak, yang tentu saja menggiurkan bagi wanita yang pada umumnya gemar memasak.

Dengan cara seperti ini pula, awalnya Rully mengembangkan Cwie Mie.

Sekarang usahanya itu boleh dibilang sukses. Ia mengembangkan dengan cara franchise. Sudah memiliki 10 cabang di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Padang. Semua kebutuhan pokok, termasuk mie, berasal dari Rully. Konsep restoran dibuat sederhana dan terbuka. Selain menarik, juga menghemat listrik. Peralatan dapur pun tidak perlu yang stainless steel. Panci alumunium pun cukup, karena tidak mempengaruhi rasa.

Sekarang, satu restoran bisa menghasilkan Rp 150 juta sebulan, dan ada yang kurang dari itu. Sehingga total ia mengumpulkan sedikitnya Rp 750 juta dalam sebulan.

Mengintip Gee Cosmos


Oleh: Rhenald Kasali

“Bagaikan membeli kucing dalam karung”

Bila dikaitkan dengan bisnis, pepatah di atas berarti sebuah produk yang belum jelas spesifikasinya. Seperti apa produk yang ditawarkan, juga kurang jelas. Bisa juga kita beri istilah produk semacam ini sebagai “produk abu-abu”. Jika Anda banyak uang, dan ingin sedikit melepas keinginan tahuan, boleh juga iseng-iseng membeli sebuah produk yang Anda belum mempunyai data pasti tentang produk tersebut. Jika beruntung, harga yang Anda bayar sesuai dengan manfaat yang didapat. Jika kurang beruntung, anggap saja uang hangus.

Produk yang ditawarkan oleh Gee Cosmos (PT Gee Cosmos Indonesia), bolehlah disamakan dengan produk abu-abu tersebut, jika hanya membaca iklannya saja, yang muncul hampir setiap hari selama empat bulan terakhir. Mengapa demikian?

1. Tidak ada penjelasan lebih detil tentang produk yang ditawarkan. Iklannya hanya memuat informasi peluang usaha yang menjanjikan keuntungan.

2. Pendapatan rata-rata per bulan Rp 6 juta sampai Rp 10 juta. Apa maksudnya? Apakah pendapatan minimal per bulan Rp 6 juta dan pendapatan maksimal Rp 10 juta? Bagaimana mengukur pendapatan rata-rata seperti ini, jika bisnis ini baru muncul di Indonesia?

3. Apakah pendapatan di atas berarti laba atau penjualan?

4. Tidak dijelaskan apa, bagaimana, dan siapa pemili PT Gee Cosmos tersebut? Informasi ini penting untuk menetahui reputasi pemilik bisnis. Hanya disebutkan dalam iklan itu sebuah foto pria dengan keterangan chairman Genta Ogami. Siapa gerangan orang ini, tidak ada keterangan lebih lanjut.

5. Tidak jelas juga dari mana keuntungan bagi peminat bisnis ini mendapat keuntungan.

Masih ada beberapa point lagi yang bisa dipertanyakan dari iklan Gee Cosmos itu. Barangkali semua keraguan di atas, bisa terjawab dari brosur gratis yang dijanjikan dikirimkan oleh penyelenggaranya bagi yang mengirimkan data diri ke mereka.

Persoalannya adalah apakah informasi tersebut bisa dipercaya? Sebab, informasi tersebut datang secara sepihak dari mereka. Tidak ada pembanding.

Jalan lain untuk menghilangkan keraguan terhadap produk abu-abu tersebut adalah membaca ulasan atau laporan oleh pers tentang produk tersebut. Sayangnya, sampai sekarang mereka tidak pernah berbicara kepada pers, tanpa sebab yang jelas.

Sikap ini bisa diterjemahkan bahwa mereka menyembunyikan sesuatu yang belum bisa dikemukakan kepada pers. Apa itu? Hanya mereka yang tahu.

Kalau ada orang bertanya kepada saya, apakah harus atau boleh mengikuti program yang ditawarkan? Atau membeli produk yang diiklankan melalui iklan yang gencar ini? Jawabannya jelas: tidak, selama belum ada keterangan yang obyektif tentang usaha atau produk ini.

Alasan tambahannya adalah: dari mana mereka mendapat untung, dan kemudian membagikannya lagi kepada peserta, jika setiap hari mereka membelanjakan uang banyak sekali untuk iklan di Kompas dan media besar lain. Sementara itu, tidak jelas apa sebenarnya yang mereka jual.

Awalnya Selalu bukan Uang


Oleh: Rhenald Kasali

Saat ini banyak sekali pemerintah daerah kabupaten yang mengeluh tak punya uang. Anggaran yang ada hanya cukup untuk bayar gaji karyawan. Mana ada uang untuk membangun sekolah dan fasilitas publik? Mana uang untuk menggali potensi sumber daya alam? Bupati birokrat yang biasa hidup dari atas tentu akan berteriak minta agar jatah uangnya ditambah.

Tadinya saya kira yang kesulitan saja yang berteriak, tapi belakangan saya dengar daerah-daerah kaya ternyata juga melakukan hal serupa. Apa yang mereka perjuangkan? Betul, uang! Seakan-akan tanpa uang yang besar mereka akan mati dan daerahnya akan berontak.

Betulkah tanpa uang dan sumber daya alam suatu kabupaten akan mati kelaparan? Tentu saja tidak. Saya kira semua tentu tahu Jepang adalah bangsa yang tak punya apa-apa, tapi rakyat di negara ini hidup sejahtera. Manusia yang tak mau hidup miskin tentu akan memutar otaknya. Jadi, kata kuncinya adalah akal. Tanpa modal, tapi bisa kaya raya dan rakyatnya sejahtera.

Sejarah dunia usaha sesungguhnya juga kaya dengan cerita seperti ini. Lahirnya pengusaha-pengusaha besar selalu dimulai bukan dengan kekuatan uang, tapi akal dan nama baik; bukan akal-akalan. Hampir setiap minggu saya mengundang pengusaha sejati dalam sebuah talkshow di radio M97 di Jakarta. Anda tahu apa kesimpulannya? Benar: 99% mengatakan modal awalnya bukan uang. Mereka jadi besar karena akal.

Di dunia internasional, akal juga pegang peranan penting. Sebuah perusahaan dengan aset jutaan dolar bisa berpindah tangan begitu saja dalam waktu singkat ke tangan orang-orang yang panjang akal.

Sebaliknya, orang yang kurang akal bisa kehilangan segala-galanya. Mereka cuma mengutak-atik angka, lalu mencari penjamin yang berani. Bayarnya ternyata juga tak pakai uang. Apakah mereka penipu? Saya tidak terlalu tahu persis, tapi kalau ditelusuri rangkaiannya, Saudara-Saudara bisa berdecak kagum. Kok bisa membeli tanpa uang. Sayang, contoh-contoh yang ada di negara kita lebih banyak warna penipuannya ketimbang akalnya, sehingga tidak banyak yang bisa dijadikan contoh.

Salah satu contoh yang sedang banyak diidolakan kaum muda dunia adalah Masayoshi San, CEO dan founder Softbank Corporation-Jepang. Orang Jepang keturunan Korea ini segera kembali ke Jepang setelah menyelesaikan studinya di University of California-Berkeley. Sejak kuliah ia memang sudah dikenal sebagai pria yang panjang akal.

Awalnya tak punya produk dan tak punya uang. Suatu ketika ia terlihat membuka-buka buku direktori yang berisi nama-nama pengajar di kampusnya. Apa yang ia cari? Ia mencari profesor microcomputer yang mau diajak bekerja sama. Ia katakan bahwa ia tak punya uang, tapi punya gagasan-gagasan jenius. Gagasan-gagasan itu katanya harus unik, tidak mudah ditiru orang lain, dan dalam 10 tahun ke depan dapat menjadikan perusahaan sebagai pemimpin industri.

Sebagian tentu saja menolak tawarannya. Tapi, begitu coretan-coretannya lebih jelas, beberapa mau bergabung. Kelak, karya cipta itu dibeli Sharp seharga US$ 1 juta. Produknya bernama Sharp Wizard, yaitu komputer sebesar kalkulator yang berfungsi sebagai kamus untuk delapan bahasa. Setelah uang didapat, barulah orang-orang itu dibayar.

Hal serupa dilakukannya ketika kembali ke Jepang. Ia selalu mengatakan: ”Saya hanya punya sedikit uang dan pengalaman bisnis, tapi saya benar-benar memiliki keinginan yang meluap-luap untuk sukses.” Apa yang ia lakukan?

Dalam sebuah pameran elektronika yang besar ia menyewa sebuah stan besar, sebesar stan yang dibangun merek-merek terkenal: Sony, Toshiba dan sebagainya. Ia melihat banyak komputer yang mulai dijual tapi tidak ada software-nya. Sementara itu orang-orang muda pembuat software tidak tahu bagaimana menjualnya. Ia lalu mengundang para pembuat software berpameran di stan itu. Free, gratis. ”Saya buatkan brosurnya dan lain-lain. Saya tak punya produk, tak punya banyak uang, tapi saya berikan mereka pameran gratis. Mereka bilang saya bodoh. Tak punya uang tapi memberikan tempat gratis. Oke, saya akan jalan terus sampai nanti mereka bisa mengerti apa artinya bisnis ini.”

Masayoshi San benar. Beberapa bulan kemudian order datang, yaitu dari Joshin Denki, sebuah jaringan penjual PC terbesar di Jepang. Ia tidak mengenal Joshin Denki, tapi Denki bilang tanyakan pada Sharp, karena Joshin Denki adalah penjual Sharp terbesar di Jepang. Sharp ternyata memberikan rekomendasi, dan terjadilah deal. Setelah Denki menjual produk-produk Softbank, mau tidak mau yang lain juga ingin menyalurkan produk Softbank.

Itulah awal penting bagi seorang entrepreneur. Akal pertamanya diarahkan untuk membangun reputasinya, brand-nya. Saya sungguh yakin ada beberapa bupati yang panjang akal seperti Masayoshi San. Mungkin daerahnya tidak cukup kaya, ia tidak punya banyak uang, tapi sadar betul sesuatu itu tidak selalu harus dimulai dari uang. Andai kata saja daerah-daerah bisa mendapatkan orang-orang panjang akal ini, daerahnya pasti akan menjadi sejahtera kendati pada awalnya semua pasti tidak mudah.

%d blogger menyukai ini: