Posts tagged ‘franchising’

Daftarkan Segera Bisnis Waralaba Anda!


Bisnis-FranchiseJika sebelumnya pebisnis waralaba (franchisor maupun franchisee) bisa dengan tenang menjalankan bisnis meskipun usaha tidak terdaftar di Departemen Perdagangan, namun ke depan tidak akan demikian lagi. Pasalnya peraturan terbaru berupa Peraturan Pemerintah (PP) sebagai perubahan PP No.16/2007 untuk waralaba Tanah Air yang rencananya akan diterbitkan pada Juli 2007 akan memuat pokok peraturan tentang penertiban usaha waralaba termasuk dalam hal kewajiban pendaftaran.

Berbeda dengan PP No 16/1997 yang tidak terlalu ketat mengatur tentang kewajiban mendaftarkan usaha waralaba oleh para pengusahanya, pada PP waralaba pengganti PP No.16/1997 tersebut akan memberlakukan kewajiban mengantongi surat tanda pendaftaran usaha waralaba (STPUW) baik untuk franchisor maupun franchisee.

Disinyalir lebih dari separuh pengusaha waralaba tidak mendaftarkan usaha waralabanya ke Depdag. Namun belum didapat data pasti tentang berapa jumlah bisnis waralaba yang terdaftar dan berapa yang tidak. Namun dari 200 lebih pengusaha waralaba asing yang beroperasi di Indonesia misalnya, hanya sekitar 80 pengusaha yang sudah terdaftar.

Padahal jika dilihat proses dalam mendapatkan sebuah STPUW tidaklah sulit. Seperti diuraikan ketua Asosiasi Franchise Indonesia Anang Sukandar. “Untuk mendapatkannya mudah kok. Prosesnya gampang serta tidak dipungut biaya, dan tidak memakan waktu lama, paling cuma seminggu. Sudah seharusnya pengusaha waralaba memiliki STPUW,” katanya.

Lantas apa keuntungan pengusaha waralaba memiliki STPUW? Secara langsung mungkin pengusaha tidak akan merasakan manfaatnya. Tapi tentunya dengan memiliki STPUW pengusaha akan lebih aman. “Yang pasti kalau ada apa-apa dia (pengusaha yang memiliki STPUW,-Red) akan dilindungi. Kemudian kalau ada pendidikan dan pelatihan bisa diikut sertakan,” kata Anang. Disamping itu biasanya STPUW dibutuhkan jika sebuah usaha waralaba akan mengembangkan usaha ke kota atau daerah lain.

Ingin mengurus STPUW? Caranya gampang saja. Pebisnis di bidang waralaba mempersiapkan dokumen-dokumen yang menjadi syarat, seperti perjanjian waralaba, akta pendirian dan atau perubahan perusahaan, surat ijin usaha perdagangan (SIUP), ijin usaha dari departemen teknis, tanda daftar perusahaan, nomor pokok wajib pajak (NPWP), tempat ijin tempat usaha, bukti legalitas usaha dari pemberi waralaba serta leaflet atau katalog usaha. Jika persyaratan-persyaratan tersebut dilengkapi, maka pebisnis akan dengan mudah mendapatkan STPUW. (SH)

Mempersiapkan Usaha Menjadi Bisnis Franchise


Banyak keuntungan didapat pebisnis dengan jalan mewaralabakan usaha yang dijalankan. Diantaranya usaha semakin terbuka untuk berkembang tanpa harus mengeluarkan investasi dan biaya operasional yang terlalu tinggi karena sudah ditalangi oleh franchisee. Belum lagi peluang untuk mendapatkan franchisee fee dan royalti fee dari franchisee.

Hanya saja tidak gampang menjadikan sebuah usaha menjadi bisnis franchise. Apalagi untuk dapat bersaing dalam skala internasional. Seperti diuraikan dalam sebuah konsultasi waralaba dengan salah satu ahlinya di entrepreneur.com. Meskipun tidak baku secara hukum, namun banyak persyaratan penting harus dipersiapkan.

Pertama dalam bidang legal, pebisnis calon franchisor harus mempersiapkan standar operasional bisnis franchise yang akan dijalankan. Untuk ditawarkan di Amerika Serikat misalnya, sebuah bisnis harus memiliki dokumen bernama Uniform Franchise Offering Circular (UFOC) yang disyaratkan untuk semua perusahaan oleh Federal Trade Commission.

Dalam hal akuntansi, usaha yang akan dikembangkan dengan franchise memerlukan persiapan laporan keuangan yang telah diaudit. Ini merupakan salah satu persyataran dalam masalah legal sebelumnya, dalam arti masalah legal tidak akan terpenuhi tanpa aktivitas ini. Pebisnis disuruh memilih apakah men-set up perusahaan lain untuk mengadopsi sistem yang telah dibuat atau ingin menggunakan perusahaan yang telah dimiliki untuk di-franchise-kan.

Ketiga adalah sistem. Hati dan jiwa dari kesuksesan sebuah bisnis franchise adalah sistem yang dimiliki. Pebisnis butuh untuk mengembangkan dan melengkapi dokumen sistem yang akan digunakan untuk menjalankan bisnis franchise secara sukses. Pebisnis perlu mengembangkan program training bagi para franchisee agar sukses sebagai operator.

Pebisnis akan butuh membuat perencanaan pemasaran secara formal sehingga para franchisee baru akan menggunakannya untuk men-drive konsumen pada unit-unit mereka.Pebisnis juga butuh untuk mendisain sistem penjualan yang dapat digunakan untuk merekrut franchisee pada perusahaan franchise pebisnis. Di sini lah puncak pekerjaan untuk mendapatkan semua sistem ter-set up dan siap dijalankan. Jika dibutuhkan untuk ini bisa menggunakan jasa konsultan untuk mendampingi.

Mindset merupakan satu yang paling penting dimiliki pebisnis agar berhasil menjadi franchisor sukses adalah memiliki fokus yang bagus dan juga sikap. Pada bisnis pebisnis yang sudah ada, pebisnis adalah bos, memiliki karyawan dan kemungkinan mengerjakan apa yang telah diperintahkan tanpa ada perlawanan. Namun franchisee banyak berbeda dengan karyawan dan yang pebisnis butuhkan adalah membuat yakin untuk tidak memperlakukan mereka seperti karyawan. Franchisor yang sukses menggunakan banyak bujukan untuk mendapatkan franchisee ketimbang mengeluarkan order. Ini tidak cepat dan efisien tapi pebisnis akan menemukan banyak perlawanan dari francisee jika tidak melakukan jalan in

Membeli Bisnis Franchise dari Existing Franchisee


Menjawab sebuah pertanyaan tentang bagaimana membeli bisnis franchise dari pemiliknya yaitu seorang franchisee, berbeda dengan memulai sebuah bisnis franchise baru, Michael H. Seid and Kay Marie Ainsley Managing Directors, dari Michael H. Seid & Associates, LLC seperti tertulis pada artikel msaworldwide.com, memberikan beberapa jawaban.

Terdapat beberapa perbedaan signifikan dan beberapa keuntungan secara potensial membeli bisnis franchise yang telah ada tanpa memulai dari dasar.

  1. Keberadaannya. Tanpa memulai dengan mencari lokasi, membangun tempat, membeli semua furnitur penting, perlengkapan, menemukan penjualan dan membeli persediaan, mencari karyawan untuk direkrut dan sebagainya.
  2. Memiliki sejarah. Semenjak bisnis ada, reputasi pada komunitas dan pelanggan bisnis telah ada. Pebisnis dapat melihat berapa banyak volume bisnis yang telah dilakukan secara historis, berapa banyak pendapatan telah diraih, lebih baik menentukan kebutuhan modal, memahami suasana lokasi dan tren operasi di sana.
  3. Mengetahui biayanya. Ketika membeli operasi yang telah ada, pembeli membeli bisnis berdasarkan atas negosiasi harga yang didasarkan atas aset, cash flow atau beberapa persetujuan lain pada term and conditions. Informasi didukung oleh franchisor pada UFOC hanya dapat mendukung pebisnis, yang terbaik, mengestimasi biaya untuk mengembangkan bisnis tersebut.
  4. Return on Investment (RoI). Dengan lokasi yang baru, bahkan lengkap dengan pengalaman franchisor mendukung pebisnis dengan panduan dan juga riset-riset yang tersedia – ini masih bersifat spekulatif. Dengan lokasi baru tidak ada sejarah.
  5. Lebih mudah untuk mendapatkan pembiayaan. Bank lebih suka pada kenyataan bahwa mereka mendasarkan keputusan pinjaman tidak hanya pada reputasi sistem franchise yang ada, melainkan juga pada performance lokasi operasi bisnis.


Pebisnis masih harus mengerjakan pekerjaan rumah ketika membeli franchise yang telah ada (beroperasi). Bahkan jika informasi secara historis kelihatan solid, pebisnis perlu menggali beberapa informasi lebih, diantaranya:

  • Mengapa franchisee meninggalkan bisnis tersebut
  • Cari tahu jika staf dan manajemen yang masih ada akan tetap di sana. Jika pebisnis menghitung staff yang siap dan terlatih, pebisnis perlu meyakinkan apakah mereka bisa tetap bersama pebisni
  • Cari tahu jika tren bisnis masih sekuat sejarahnya apa tidak. Apakah pasar mengering? Apakah lingkungan mulai berubah? Apakah ada pesaing baru masuk ke pasar yang berdampak pada performance ke depan?
  • Temukan lokasi dan pusat bisnis. Apakah memiliki konstruksi jalan yang akan berdampak pada lokasi bisnis? Akankan ada beberapa perubahan pada penyewa jangkar pusat ritel pebisnis? Apakah pusat manajemen berubah? Jika iya, apakah reputasi pemilik sewa yang baru?

Yakinkan bahwa pebisnis melihat lokasi bisnis seperti baru memulai (fresh). Setelah semua itu, jika bisnis telah sedang mengalami kemunduran untuk beberapa bulan atau terakhir, tidak ada jaminan pebisnis dapat mengalihkan. Jangan membuat kesalahan dari asumsi bahwa pebisnis bekerja lebih giat dan lebih cerdas dari pada pemilik sebelumnya bahwa pebisnis akan memiliki performance yang lebih baik.

Sebagai franchisee baru, pebisnis mungkin akan mengharapkan menerima dari franchisor copy dari disclosure document yang diberikan kepada para franchisee lainnya. Ini mungkin tidak menjadi masalah ketika pebisnis membeli franchise yang telah ada dan pebisnis mengasumsikan perjanjian yang telah ada tanpa ada modifikasi. Semenjalkperjanjian akan ditandatangani sebuah perindahan perjanjiam penjual sederhana, franchisor tidak bolej diminta untuk mendukung pebisnis dengan pre-sale disclosure.

Bagaimanapun, jika perjanjian franchise pada franchisee yang telah ada, pebisnis seharusnya mengharapkan menerima copy dari disclosure document-nya franchisor. Baca perjanjian yang baru dan informasi disclosure secara hati-hati karena bisa berisi biaya dan kondisi sangat berbeda dengan perjanjian yang ditandatangani oleh penjual bisnis dan perubahan ini dapat memberikan dampak besar pada berapa banyak bisnis dalam kenyataannya bernilai.

Jika kritis, dengan segala transaksi franshise, pebisnis menyewa konsultan tertentu yang familiar dengan peraturan. Membeli franchise yang telah ada merupakan peluang besar, tapi ingat, pebisnis masih harus mengerjakan pekerjaan rumah sebelum melakukan pembelian.

Di Mana Mendapatkan Informasi Waralaba?


Beberapa kali redaksi menerima pertanyaan via telepon dan email dari pembaca tentang bagaimana mendapatkan informasi lengkap mengenai waralaba. Bisnis waralaba saat ini memang makin marak di Tanah Air. Waralaba merupakan salah satu format bisnis digemari karena risiko kegagalan yang lebih kecil ketimbang mendirikan sebuah bisnis baru. Namun tidak setiap tawaran waralaba yang ada berarti memiliki prospek baik untuk dibeli. Pebisnis harus cermat dan mengumpulkan informasi sebanyak mungkin tentang objek yang akan dituju.

Berminat menekuni sebuah bisnis waralaba, tak sedikit pebisnis akhirnya menggunakan jasa konsultan di bidang ini dengan tujuan mendapatkan arahan yang tepat dalam memilih dan mempersiapkan bisnisnya. Seiring booming-nya bisnis waralaba di Indonesia, bisnis jasa konsultan waralaba juga berkembang. Di dalam negeri, selain SSA Franchise Consulting dan AK and Partners tempat pakar waralaba Amir Karamoy bernaung, saat ini terdapat International Franchise Business Management dengan salah seorang pentolan konsultannya Burang Riyadi.

Di tempat lain juga ada The Bridge Franchise. Uniknya The Bridge seperti pada website menawarkan jasa konsultasi bagi yang baru tertarik mewaralabakan bisnisnya ataupun bagi yang merasa sulit memutuskan pilihan dalam pembelian waralaba dengan sistem free alias tidak dikenakan biaya. Beberapa konsultan lain diantaranya Frantech Indonesia, Young and Kim Consultant, Benward dan FT Consulting Utomo Njoto.

Berbagai informasi juga bisa didapatkan secara mandiri. Saat ini berbagai bacaan bisa digunakan sebagai referensi. Di samping buku-buku yang menyajikan informasi dan tips seputar bisnis waralaba, berbagai majalah ekonomi hingga yang mengulas khusus tentang franchise sudah beredar banyak di pasaran. Bagi yang suka utak atik internet, juga akan mudah menemukan portal yang memuat informasi dan direktori bisnis waralaba yang ada di pasar. Portal direktori tersebut terutama adalah Waralaba.com.

Kumpulkan informasi sebanyak mungkin sebelum pebisnis benar-benar memutuskan bahwa sebuah bisnis waralaba layak untuk dibeli. Ingat, meski secara umum bisnis waralaba memiliki risiko lebih kecil dibandingkan memulai usaha sendiri, namun tidak semua bisnis waralaba yang ada di pasar layak untuk dibeli. (SH).

Aturan Baru yang Membantu Franchisee


Bisnis waralaba tengah marak di Tanah Air. Asosiasi Franchise Indonesia (AFI) mencatat jumlah jenis produk usaha waralaba lokal yang semakin banyak, mencapai 450 jenis pada awal 2007.

Namun diantara banyaknya jenis usaha yang di-klaim sebagai bisnis waralaba, belum tentu sepenuhnya demikian. Sebagiannya masih dalam bentuk peluang bisnis namun telah dinyatakan secara pribadi sebagai bisnis waralaba. Pemerintah pun berusaha menertibkan bisnis yang terus berkembang ini. Anda salah satu yang tertarik dengan bisnis waralaba? Semoga peraturan pemerintah yang baru (PP No.42 Tahun 2007) memberikan manfaat berarti. Terutama bagi para calon franchisee (pembeli waralaba).

Sesuai peraturan tersebut diharapkan bisnis waralaba yang dijual di pasar benar-benar bisnis yang telah solid dan terbukti layak untuk dikembangkan oleh franchisee (pembeli). PP waralaba pengganti PP No.16 Tahun 1997 tersebut memuat salah satu poin penting yaitu persyaratan bisnis yang bisa diwaralabakan, yang dimuat pada pasal 3. Adapun persyaratannya adalah, bisnis memiliki ciri khas usaha, terbukti telah memberikan keuntungan, memiliki standar atas pelayanan dan barang dan/jasa yang ditawarkan yang dibuat secara tertulis, mudah diajarkan dan diaplikasikan, adanya dukungan yang berkesinambungan serta hak kekayaan intelektual yang telah terdaftar.

Untuk lebih menjamin kelayakan usaha bisnis yang diwaralabakan, pada bagian lain PP ini, franchisor (pewaralaba) diwajibkan memperlihatkan prospektus kepada calon franchisee. Isi prospektus setidaknya memuat data identitas pemberi waralaba, legalitas usaha pemberi waralaba, sejarah kegiatan usahanya, struktur organisasi pemberi waralaba, laporan keuangan 2 (dua) tahun terakhir, jumlah tempat usaha, daftar penerima waralaba, serta hak dan kewajiban pemberi waralaba dan penerima waralaba. Tentunya calon franchisee harus menggunakan kesempatan ini dengan baik. Perhatikan secermat mungkin prospektus usaha agar tidak salah dalam memilih.

Peminat baru bisnis franchise juga patut lebih lega karena sesuai peraturan baru tersebut para pewaralaba tidak dapat seenak hatinya menjual kemudian acuh tak acuh lagi dengan waralaba yang telah diserahkan pada franchisee. Pasalnya, masih dalam hal kewajiban bagi franchisor, franchisee wajib diberikan pembinaan dalam bentuk pelatihan, bimbingan operasional manajemen, pemasaran, penelitian dan pengembangan kepada penerima waralaba secara berkesinambungan. Ini tidak sekadar simbol. Sanksi administratif berupa pencabutan Surat Tanda Pendaftaran Waralaba menanti franchisor yang tidak melakukan pembinaan kepada penerima waralaba sebagaimana dimaksud 8 setelah diterbitkannya surat peringatan tertulis ke-3.

Aturan mengenai pendaftaran juga lebih ketat. Pemberi waralaba wajib mendaftarkan prospektus penawaran waralaba sebelum membuat perjanjian waralaba dengan penerima waralaba. Bagitu pun untuk franchisee, yang diwajibkan mendaftarkan perjanjian waralaba. Sanksi administratif berupa denda maksimal Rp100 juta dikenakan kepada pemberi waralaba yang tidak melakukan pendaftaran prospektus serta penerima waralaba yang tidak melakukan pendaftaran perjanjian waralaba setelah diterbitkannya surat peringatan tertulis ke-3. Untuk pendaftaran ini pelaku bisnis diberikan waktu 1 tahun semenjak diberlakukannya PP tersebut. Bagaimana, sudah waktunya Anda bersiap-siap terjun ke bisnis franchise? (SH)

Franchise atau Peluang Bisnis?


Banyak pebisnis belum mengetahui tentang perbedaan antara franchise (waralaba) dengan business opportunity (peluang bisnis). Merasa sebuah bisnis sudah cukup sukses, dengan buru-buru diklaim bahwa konsep bisnis yang dijalankan sudah termasuk dalam kategori franchise. Ada pendekatan bisa dilakukan pebisnis untuk mengetahui dengan pasti apakah sebuah bisnis termasuk dalam bisnis franchise ataukah peluang bisnis. Pastinya dengan mengetahui karakteristik kedua jenis bisnis ini.

Beberapa artikel pada sebuah website bisnis, franchise.about.com, menjabarkan tentang bagaimana bisnis franchise dan peluang bisnis biasa dijalankan. Adapun kriteria dasar peluang bisnis diantaranya adalah pembeli peluang (pemegang lisensi), harus mendistribusikan atau menjual barang atau jasa yang ditawarkan licensor (pemberi ijin) atau franchisor (pewaralaba). Disamping itu terdapat perjanjian tertulis antara pemberi ijin dan pemegang ijin.

26 negara saat ini memiliki hukum peluang bisnis yang membatasi penjualan peluang bisnis tanpa menerbitkan disclosure document yang harus mengacu pada yang telah didisain negara. Dokumen tersebut berbeda antara satu negara dengan negara lain.

Batas dari peluang bisnis antara lain, tidak ada merek dagang atau kekuatan merek – pebisnis memiliki kekuasaan bebas untuk menggunakan logo perusahaan, slogan atau memasarkan produk. Tidak ada wilayah eksklusif. Disamping itu bisa saja tanpa ada pelatihan, dukungan dan pemasaran dari pemberi ijin.

Sementara jika dilihat dari tipe pelanggan, peluang bisnis biasanya jatuh pada sebuah kategori sempit dari usaha. Jika Anda merasa membeli sebuah bisnis dalam ‘kotak’, Anda mungkin melihat pada sebuah peluang bisnis. Di atasnya ada daftar pendistribusian dimana Anda menjual produk perusahaan/usaha lain di bawah nama bisnis Anda. Multi level marketing adalah contoh yang sempurna. Kemudian ada peluang “kiosk” seperti menjual keliling mesin, kios kopi di mal. Di sini Anda biasanya diwajibkan untuk membeli persediaan dari pemberi ijin.

Dilihat dari tipe bisnis, dalam peluang bisnis ini bisnis yang telah ada dapat genap membeli peluang bisnis untuk menambah nilai atau mendiversifikasi produk atau jasa yang ditawarkan. Kadang-kadang mengacu kepada ‘Pusat Penambahan Nilai Keuntungan’ yang mensyaratkan investasi minimal tetapi membolehkan pemilik bisnis menawarkan nilai tinggi produk atau jasa di bawah atap yang sama. Contohnya, kenyamanan sebuah tempat belanja yang menawarkan outlet dry cleaning di dalamnya kepada pelanggan.

Beberapa peluang bisnis dikemas dalam bentuk seperti waralaba, tetapi jika Anda mendapatkan pengertian tentang apa itu franchise tentunya akan lebih baik. Waralaba merupakan konsep bisnis yang diciptakan seseorang atau satu tim orang yang dinamakan franchisor, yang memberikan hak kepada seseorang atau disebut franchisee untuk menjual konsep bisnis yang telah terbukti atau barang atau jasa bagus, di bawah sebuah definisi awal kumpulan syarat dan kondisi, atau yang dinamakan dengan sistem.

Hubungan antara franchisor dan franchisee dibangun bersama dengan kotrak yang dinamakan Perjanjian waralaba dengan garis besar hak, syarat-syarat, kondisi-kondisi, restriksi dan yang lain dari sistem secara detil.

Terdapat tiga tipe konsep bisnis yang digunakan konsep waralaba. Ketiganya adalah kedistribusian, lisensi merek, dan format bisnis. Dalam kedistribusian terjadi pemberian hak jual produk induk usaha seperti dealer mobil atau rute menjual keliling mesin.

Dalam lisensi merek, memberikan lisensi hak untuk menggunakan merek induk perusahaan dengan mengoperasikan bisnis mereka sendiri. Di sini produk atau jasa diwaralabakan dan tidak merupakan bisnis sendiri. Misalnya toko olah raga di sebuah kota kecil diberikan hak eksklusif pada kota mereka untuk menjual produk Nike.

Format bisnis merupakan konsep waralaba yang biasa paling banyak digunakan. Di mana franchisee membeli hak untuk mengoperasikan sistem bisnis yang unik, yang memiliki sejarah pendirian dan track record diciptakan oleh pewaralaba. Dalam pertukaran untuk sebuah struktur penetapan royalti, pewaralaba menyediakan awal dan pelatihan, dukungan penjualan dan pemasaran dan banyak layanan lainnya dan mendampingi untuk membantu kesuksesan bisnis franchisee. (SH)

Bagaimana Awal Memilih Bisnis Franchise yang Tepat?


Ketika Anda telah memutuskan bahwa bisnis franchise telah tepat untuk Anda, bagaimana Anda memilih franchise yang tepat? Untuk memilih apakah tepat bagi Anda dan akan memenuhi mimpi bisnis Anda, Anda harus mengetahui diri Anda, keahlian, mimpi dan aspirasi Anda. Anda harus memulai proses tersebut dengan menganalisis diri. Anda dapat memulai dengan menginvestigasi beragam industri yang menarik bagi Anda.

Ketika Anda telah mendapatkan dalam beberapa industri lebih sempit, pelajari area geografis dan memutuskan apakah di sana ada pasar untuk tipe bisnis tersebut. Jika ia, ikuti sebuah perencanaan riset dan mulai untuk mengontak perusahaan atau usaha waralaba yang Anda percaya potensial di wilayah Anda. Beberapa franchisor yang memiliki reputasi akan mengirimkan informasi luas tentang bisnis mereka tanpa mengenakan biaya.

Setelah menerima informasi tersebut, yang mana yang biasanya diperlihatkan pada surat edaran penawaran, Anda harus membacanya dengan hati-hati. Baca diantara bentuk dan kerjakan penelitianmu. Anda dapat ke perpustakaan, melihat di internet sebaik jurnal profesional, majalah perdagangan, buku referensi, publikasi pemerintah, dan laporan tahunan perusahaan publik.

Cek kantor bisnisnya jika ada, apakah mereka memiliki masalah dengan perusahaan. Dapat juga dengan cara mengontak anggota kamar dagang atau organisasi pengembangan bisnis, siapa tahu mereka bisa menawarkan informasi yang berhubungan dengan riset Anda. Cobalah menentukan apakah bisnis atau usaha yang sedang dipertimbangkan bekerja baik dalam hal kesehatan keuangan, manajemen, reputasi dan prospek pertumbuhan.

Setelah Anda membaca penawaran tertentu, tanyakan pada franchisor daftar-daftar franchisee yang dapat dikontak. Franchisee-franchisee yang ada sekarang adalah sumber daya yang luar biasa dan dapat memberikan anda pengamatan detil bagaimana sesungguhnya bisnis tersebut berjalan, apa yang harus dipertimbangkan sebelum dan setelah masuk ke dalam bisnis tersebut, dan informasi penting lainnya.

Anda seharusnya mengunjungi toko, dan kantor pusat bisnis untuk melengkapi informasi yang dapat membantu Anda membuat keputusan. Memasang sebuah tim penasihat yang profesional, termasuk pengacara franchise dan akuntan. Mereka dapat membantu menjawab pertanyaan teknis dan akan menjadi sumberdaya yang berguna sepanjang proses riset.

Sumber: Konsultan bisnis globalbx dalam website globalbx.com

%d blogger menyukai ini: