Posts from the ‘Bill Gate-Microsoft’ Category

Rahasia Bill Gate Dalam Memimpin Microsoft


William Hendry Gates III lahir pada tahun 1955, anak kedua dari tiga bersaudara dalam keadaan sosialnya terkemuka di Seattle, Washington.  Ayahnya seorang pengacara dengan perusahaan yang punya banyak koneksi di kota dan ibunya seorang guru, yang aktif dalam kegiatan amal.  Bill seorang anak yang cerdas, tetapi dia terlalu penuh semangat dan cenderung sering mendapat masalah atau kesulitan di sekolah.  Ketika dia berumur sebelas tahun, orang tuanya memutuskan untuk membuat perubahan dan mengirimnya ke Lakeside School, sebuah sekolah dasar yang bergengsi khusus bagi anak laki-laki.

Di Lakeside itulah pada tahun 1968 Gates untuk pertama kalinya diperkenalkan dengan dunia komputer, dalam bentuk mesin teletype yang dihubungkan dengan telepon ke sebuah komputer pembagianwaktu.  Mesin ini, yang disebut ASR-33, keadaanya masih pasaran.  Pada intinya ini sebuah mesin ketik yang selanjutnya siswa bisa memasukkan perintah yang dikirimkan keoada komputer; jawaban kembali diketik ke gulungan kertas pada teletype.  Proses ini merepotkan, tetapi mengubah kehidupan Gates.  Dia dengan cepat menguasai BASIC, bahasa pemrograman komputer, dan bersama dengan para hacker yang belajar sendiri di Lakeside, dia melewatkan waktu ber-jam-jam menulis program, melakukan permainan, dan secara umum mempelajari banyak hal tentang komputer.

Dengan seorang temannya, Paul Allen yang juga berasal dari Seattle dan mempunyai antusiasme yang sama, pada tahun 1975 Gates menulis sebuah versi bahasa komputer BASIC untuk PC generasi awal, MITS Altair.  Sukses melakukan hal itu, Gates dan Allen segera mendirikan Microsoft ( pada awalnya bernama Micro-Soft ).  Pada tahun 1977, Gates meninggalkan perguruan tinggi dan memfokuskan diri pada industri perangkat lunak yang masih baru.  Terobosan bagi duet ini terjadi di tahun 1980 saat dua eksekutif IBM mengunjungi Microsoft dan memberikan proyek BASIC untuk PC terbaru keluaran IBM.

Semua kekayaan Microsoft tidaklah berasal dari hasil kerja BASIC, tetapi dari kebutuhan IBM yang lain, yaitu sisitem operasi perangkat lunak untuk PC mereka.  Dengan berani, Gates mengajukan tawaran untuk kontrak tersebut.  Ia kemudian mendekati sebuah perusahaan perangkat lunak lainnya dan membeli sistem operasi bernama Q-DOS ( Quick dan Dirty Operating System ).  Selanjutnya, Gates dan Allen memodifikasi sistem operasi tersebut dan mengadaptasinya untuk kebutuhan IBM.  Q-DOS diubah namanya menjadi MS-DOS ( Microsoft Disk Operating System ), lalu dijual ke IBM dengan harga yang relatif murah, mengalahkan harga tawaran perusahaan software saingan.  Q-DOS yang dibeli Gates hanya 50,000 dolar, membuka jalan Microsoft untuk mendapatkan miliaran dolar.  Ini terutama karena IBM sangat meremehkan potensi pasar PC dan menandatangani kontrak yang membiarkan Microsoft untuk menjual softwarenya kepada pembuat PC yang lain.  Saat permintaan akan PC melonjak tajam, yang mengejutkan para eksekutif IBM, masa depan Microsoft yang kaya raya sudah bisa dipastikan.

Gates melindungi Microsoft dengan segala upaya, anatara lain dengan melakukan kerjsama dengan IBM dalam pengembangan sebuah operating sistem baru bernama OS/2.  Saat ekesekutif IBM berusaha untuk membubarkan kemitraan OS/2, Gates terselamatkan pada saat makan siang bersama dengan CEO John Akers pada bulan Juni 1986.

Tiga tahun lebih sedikit, perang antara IBM dan Microsoft mulai terbuka.  Pada tahun 1990, Gates menang mudah dengan diluncurkannya Windows 3.0.  menggunakan teknik yang sama dengan  teknik yang menjadikan Apple Macintosh begitu populer dengan graphic icons dan pull down menus, Windows 3.0 terjual satu juta kopi perbulan pada tahun 1993.  Produk Microsoft ini memberikan akses yang lebih banyak ke berbagai aplikasi perangkat lunak kepada pemakai komputer dan membuka gerbang peluang baru  untuk Gates.  Sekanr Microsoft dapat menulis dan menjual program aplikasi sama sekali baru untuk digunakan dengan Windows.

Produk seperti Word, sebuah pemrograman word-processor, dan spread sheet Excel menjadi sama dominasinya dengan MS-DOS dan Windows, meyerap 90% pasar sistem operasi untuk PC.  Tetapi, Gates terus menekankan dengan mengeluarkan produk-produk baru Windows NT, produk yang lebih kuat dan membidik pasar kalangan perusahaan, mucul pada tahun 1993.  Sama seperti viersi Windows awal, Windows NT mempunyai sejulah cacat program yang serius.  Tetapi pendekatan Gates selalu luncurkan produk lebih dahulu, perbaikan kemudian, secara radikal jika perlu.

Kesuksesan Windows 3.0 juga merembet pada kesuksesan NT.  Penjualan dan julah karyawan Microsoft melonjak, dan keuntungan serta harga saham pun meningkat.  Setiap kenaikan harga saham memunculkan seorang miliuner baru dalam tubuh Microsoft.  Namun, kekayaan seluruh karyawan tidaklah seberapa dibandingkan dengan harga yang mengalir deras ke kantong Gates.  Reputasinya sebagai seorang jenius teknologi dan seorang pengusaha cemerlang, ditelan oleh statusnya sendiri yang tak tertandingi sebagai manusia terkaya di dunia.

Sentimentil publik menentang Gates karena kesuksesannya yang terlalu besar.  Sebagaian orang mungkin gerah melihat hartanya yang luar biasa, atau membencinya karena menganggap mulimiliuner ini tidak begitu murah hati berbagi kekayaan.  Dalam industri komputer sendiri, kemampuan Microsoft menghancurkan sangan-saingannya dan dominasinya dalam menentukan perjanjian kerjasama dengan manufaktur PC menimbulkan lebih dari sekedar rasa iri.  Perusahaan-perusahaan lain kuatir akan laba dan prospek mereka, sementra Micosoft terus memperluas produk dan ambisinya.  Sedangkan para pembeli PC sudah sewajarnya dengan senang hati menerima perangkat lunak Microsoft satu paket dalam komputer yang mereka beli karena memang inilah fakta kehidupan.

Tetapi banyak “techies” yang merasa bahwa Gates terlalu restriktif dan kekuatannya sangat besar.  Kekuasannya atas teknologi dinilai memperlambat kemajuan penting dan menjerumuskan users ke dalam upgarde berbiaya tinggi untuk memakai sistem yang sebenarnya sudah usang.  Suasana semacam ini mengarah pada permusuhan terbuka dan diekspresikan dengan berbagai cara.

Linux dikuasai oleh para “techies” sebagai jawaban atas impian anti Gates.  Sejumlah perusahaan juga menggunakan Linux.  Linux menjadi sejata baru Gates dalam perangnya melawan otoritas antimonopoli.  Gates berpendapat bahwa Micosoft tidak dapat dinyatakan sebagai perusahaan yang melakukan monopoli karena kompetisi sekarang jauh lebih keras dari sebelumnya dan para pelanggan juga menikmati penuruanan harga dan produk berkonerja tinggi.  Sebagai akibat dari pengadilan antimonopoli ini, Gates terpaksa harus lebih sering tampili di depan publik daripada sebelumnya.  Selanjutnya Gates dan isterinya memutuskan untuk mendirikan lembaga sosial raksasa yang mengontrol dan mendistribusikan tumpukan kekayaan mereka dan berharap dapat mengubah opini publik agar memihak Gates dan Microsoft.

Gates juga melakukan reorganisasi besar-besaran di dalam tubuh Microsoft untuk lebih banyak mendelegasikan kewenangannya sambil terus mengarahkan perubahan besar strateginya menuju internet.  Dan satu hal yang tetap penting bagi Gates; terus melakukan pekerjaan yang dicintainya dalam industri yang lebih dari manusia manapun telah lama dikuasainya.

Gates menjalankan Microsoft mengungkapkan 10 ( sepuluh ) rahasia suksesnya, berikut langkah-langkahnya :

1.  Ada ditempat yang tepat pada waktu yang tepat

Di era pekerjaan pengetahuan, pengetahuan teknis dan kreativitas adalah aset-aset baru korporat.  Kombinasi hal-hal ini dengan naluri bisnis dan sifat kompetitif yang teramat tinggi dan anda akan memperoleh mahluk yangsangat langkah.  Bill Gates memang mahluk langkah.  Tetapi keberuntungan besar mengangkatnya sedemikian rupa sehingga bakat-bakatnya bisa berkembang.

2.  Jatuh cinta pada teknologi

Bill Gates punya kisah cinta seumur hidup dengan komputer pribadi.  Sejak awal, Gates dan Paul Allen, melihat bahwa komputer pribadi akan merubah segalanya.  Keduanya berbincang sampai larut malam tentang wajah dunia pasca komputer pribadi.  Mereka tak pernah meragukan kalau revolusi akan tiba.  Revolusi adalah butir iman yang dianut Microsoft, dan mereka akan menulis perangkat lunak ketika revolusi itu berjalan.

3.  Tak kenal ampun

Gates adalah kompetitor yang sengit.  Jika punya keinginan, dia akan berusaha keras untuk menggapainya.  Ini membuatnya menjadi lawan yang sungguh tangguh.  Dia terus terang tentag hal ini dan berbicara tentang cara menghancurkan kompetisi secara terbuka.

4.  Pekerjakan orang-orang yang teramat cerdas

Gates terus mencari dan mempekerjakan orang-orang tercerdas di industri komputer.  Ini adalah startegi yang sengaja dibuat dan salah satu strategi yang akan menjamin perusahaan sanggup menarik talenta terbaik. Sebagaian orang menuduh Gates bersikap elitis, tetapi dia adalah salah satu pelaku bisnis yang benar-benar memahami modal intelektual.

5.  Belajar bertahan hidup

Dalam bentuk Microsoft, Bill Gates berhasil menciptakan mesin pembelajaran yang rakus.  Perusahaan itu, dia percaya dari simbol sebuah “organisasi yang cerdas” dan satu-satunya jalan untuk menghindari terjadinya kesalahan yang sama.  Para kompetitor tak begitu hati-hati.  Dengan cara memanfaatkan kesalahan orang lain, perusahaannya menjadi makmur.

6.  Jangan harapkan terima kasih

Jika ada pelajaran pahit untuk Bill Gates itu adalah ketenaran dan ketidak tenaran tak bisa dipisahkan.  Menjadi orang terkaya di dunia tanpa punya musuh dan di industri komputer, Gates punya banyak musuh.

7.  Ambisi posisi visioner

Bill Gates adalah pemimpin bisnis jenis baru.  Selama beberapa tahun, dia terus menunjukkan bahwa dirinya merupakan sosok ideal industri komputer.  Pemahaman mendalam tentang teknologi dan cara unik mensintesiskan data memberikanya kemampuan khusus memahami tren dan mengarahkan strategi Microsoft.  Hal ini juga mengundang decak kagum para pemuja Microsoft dan mengintimidasi para kompetitor.

8.  Garap semuanya

Satu elemen kunci dari sukses Microsoft adalah kemampuan perusahaan itu mengatur sejumlah proyek secara bersaman.  Gates sendiri adalah pria multitasking pertama, dan disebut mampu melakukan beberapa percakapan teknis dalam waktu bersamaan.  Dia juga menunjukkan bahwa dirinya adalah pakar menaikkan taruhan.

9.  Bangun unit kecil

Dibandingkan nilai sahamnya, Microsoft tetap sebuah perusahaan kecil  didalamnya, perusahaan itu terus terbagi-bagi menjasdi sejumlah unit lebih kecil untuk menjaga iklim kewirausahaan.  Terkadang, perubahan berlangsung begitu cepat sehingga Microsoft seperti membuat aneka divisi baru hampir setiap minggu.  Gates juga bergantung pada pemeliharaan struktur sederhana yang membuatnya mampu mengendalikan perusahaan.

10.  Jangan pernah kehilangan fokus

Gates sudah berada dipuncak selama lebih dari dua dekade.  Selama masa itu, dia telah menjadi orang terkaya di dunia.  Namun, kendati telah memiliki kekayaan segunung dan prestasi segudang, Gates belum menunjukkan tanda-tanda melambat.

daftar pusataka :

  1. Bill Gates ( 1995 ) The Road Ahead, viking books, New York
  2. Randall E. Stross ( 1996 ) The Microsoft Way: the Real Story of haow the company Outsmarts Its Competition, Addisin-Wesley, Longman, Reading MA
  3. Robert Heller ( 2000 ) Bill Gates, Esensi,  Jakarta
  4. Des Dearlove ( 1999 ) The Bill Gates Way, daras books, Jakarta
Iklan

Bill Gates, Kevin Mitnik, Steve Jobs, dan William Joy


Pada suatu pagi di musim dingin tahun 1974, dalam perjalanan mengunjungi sahabatnya Bill Gates, Paul Allen membaca artikel majalah Popular Electronics dengan judul World’s First Microcomputer Kit to Rival Commercial Models. Artikel ini memuat tentang komputer mikro pertama Altair 9090. Allen kemudian berdiskusi dengan Bill Gates, dan mereka menyadari bahwa era “komputer rumah” akan segera hadir dan meledak, membuat keberadaan software untuk komputer-komputer tersebut sangat dibutuhkan. Bill Gates kemudian menghubungi perusahaan pembuat Altair, yaitu MITS (Micro Instrumentation and Telemetry Systems).Dia mengatakan bahwa dia dan Allen, telah membuat BASIC yang dapat digunakan pada Altair. Tentu saja ini adalah bohong. Bahkan mereka sama sekali belum menulis satu baris kode pun. MITS, yang tidak mengetahui hal ini, sangat tertarik pada BASIC. Dan hebatnya dalam waktu 8 minggu BASIC telah siap diimplementasikan dan bekerja sempurna di Altair. Setahun kemudian Bill Gates meninggalkan Harvard, dan bersama dengan Paul Allen mendirikan Microsoft.

Kisah berbeda datang dari Jerry Yang, yang pada tahun 1990 menjalani program doktor di Stanford University. Bersama dengan sahabatnya David Filo, mereka lebih menyukai kegiatan surfing di Internet, daripada aktifitas dan penelitian program doktor yang mereka ikuti. Mereka mulai mengumpulkan link situs-situs yang menarik, sampai akhirnya list yang mereka buat telah menjadi terlalu panjang dan terlalu banyak. Mereka kemudian membaginya menjadi banyak kategori dan subkategori. Inilah peristiwa bersejarah yang mengawali lahirlah perusahaan besar bernama Yahoo!. Yahoo merupakan singkatan dari ”Yet another Hierarchical Officious Oracle”. Awalnya, yang mengakses ke direktori Yahoo! hanya Yang, Filo, dan beberapa teman dekat mereka di Stanford University. Namun, dari obrolan mulut ke mulut, orang mengakses ke Yahoo! menjadi semakin banyak. Mengetahui bahwa orang yang mengakses ke Yahoo! menjadi sangat banyak, mereka akhirnya menjadikan Yahoo! sebagai bisnis.Â

Dua kisah diatas tercatat dalam sejarah bagaimana sebuah bisnis Information Technology (IT) dapat terlahir. Dan masih banyak kisah-kisah lain tentang kesuksesan bisnis IT, yang kadang dimulai dari sesuatu yang sederhana, dari sebuah hobi atau kemampuan kita membaca kebutuhan masyarakat terhadap suatu solusi. Bidang IT termasuk bidang yang unik, karena banyak sekali pebisnis dan tokoh-tokoh IT lahir justru karena kekuatan karakter dan kreatifitas.

Nah, keunggulan yang diperoleh seseorang karena pengakuan dan penghargaan publik terhadap hasil karya, produk, ide dan perjoeangan yang dilakukan adalah merupakan keunggulan defacto. Sebaliknya keunggulan yang diperoleh seseorang karena gelar (degree), sertifikasi (certification) dan pengakuan formal, sering saya sebut sebagai keunggulan dejure. Bisnis dan peluangnya bisa lahir dari keunggulan defacto maupun dejure, dan keduanya bisa saling melengkapi.

Bill Gates, Kevin Mitnik, Steve Jobs, dan William Joy, adalah nama-nama yang besar di dunia IT karena keunggulan defacto mereka. Orang mungkin juga lupa bahwa Jerry Yang adalah seorang akademisi yang menguasai dengan baik teori-teori dasar komputasi. Meskipun dia lebih terkenal karena sebagai founder dari Yahoo.Com. William Joy yang lulusan the University of California Barkeley, justru lebih terkenal karena sebagai pendiri dari Sun Microsystems. Bill Gates dan Kevin Mitnik juga memberikan nyata bagaimana keunggulan defacto menjadi sesuatu hal yang dominan dalam terlahirnya sebuah bisnis.

Menariknya fenomena ini juga dikaji secara mendalam laporan khusus Gartner 2006 (Gartner Predictcs 2006 Special Report), meskipun dengan terminologi yang berbeda. Diramalkan bahwa pada tahun 2010 pasar kerja para spesialis IT akan berkurang hingga 40%. Para spesialis (specialist) ini akan digantikan oleh versatilis (versatilist), yang mampu mengkombinasikan kompetensi dan keahlian teknis, dengan pengalaman bisnis dan kemampuan memberikan solusi komprehensif. Dengan degree dan sertifikasi, kita mungkin akan bisa menjadi seorang spesialis dalam suatu bidang (keunggulan defacto). Tapi ternyata ini saja tidak cukup, diperlukan kemampuan verbal, komunikasi memberi solusi dan berhubungan dengan orang lain (keunggulan defacto). Ini yang disebut dengan seorang versatilis, dan versatilis bukanlah generalis yang tahu banyak hal tapi dangkal atau hanya kulit-kulitnya saja.

Inilah jalan untuk survive dan menjadi seorang entrepreneur di dunia IT. Dan Sumber Daya Manusia (SDM) IT Indonesia, sejak dini sebaiknya diarahkan untuk memiliki kombinasi kedua keunggulan tersebut. Di satu sisi kita selalu encourage mahasiswa-mahasiswa kita untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Di sisi lain kita ajak untuk aktif dan kreatif lewat kerja-kerja unik yang dibutuhkan oleh masyarakat secara luas. Memberi kesempatan mereka untuk mengerjakan berbagai project atau mengembangkan produk yang bisa mereka jual. Dan pengalaman itu mematangkan teori dan konsep yang mereka dapatkan di bangku kuliah. Saya sendiri sejak duduk di tingkat 2 program studi S1 di Saitama University, sudah mulai mencoba kerja part time, bergabung ke berbagai perusahaan IT di Jepang, menjadi programmer, engineer, atau lecturer. Bekerja bersama dan berkomunikasi dengan rekan-rekan di Industri, ternyata mematangkan dan memberikan ruh ke ilmu pengetahuan konseptual yang saya dapatkan di bangku kuliah.

Yang menarik, dari ratusan tawaran mengajar, seminar, maupun kesempatan bisnis yang mampir ke saya, sebagian besar datang karena aktifitas saya di dunia maya, karena IlmuKomputer.Com yang saya buat, karena tulisan-tulisan saya di media cetak, elektronik, dan di situs blog RomiSatriaWahono.Net, ataupun karena pendapat saya di milis-milis. Ini semua (defacto). Sebagian lagi datang karena saya peneliti di LIPI atau karena degree saya (dejure).

Pesan terakhir untuk rekan-rekan generasi muda yang ingin mendaki jalan hidup sebagai seorang entrepreneur di bidang IT:

  • Sistem operasi, bahasa pemrograman, software dan teknologi hanyalah sebuah tool (alat) yang harus kita kuasai dan gunakan untuk memecahkan masalah. Tool tersebut bersifat tidak kekal, dan bukanlah agama yang harus dianut atau difanatikkan seumur hidup. Ketergantungan terhadap sebuah tool adalah kebodohan. Debat kusir tentang tool dan saling mengumpat atau membela mati-matian sebuah tool adalah tindakan sia-sia, karena mereka masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan.
  • Setiap peluang memiliki nilai untung dan rugi, setiap keputusan yang diambil dalam hidup harus memperhitungkan opportunity cost yang harus dibayar. Ketika kita harus mengambil cuti kuliah untuk mengerjakan sebuah project IT, harus diperhitungkan benar seberapa jauh cost yang kita keluarkan untuk mendapatkan pengalaman tesebut.
  • Pembelian buku dan komputer harus kita anggap sebagai sebuah investasi. Kita harus produktif menggunakan buku dan komputer untuk menghasilkan keuntungan baik material maupun pengalaman.
  • Cerdas dalam mengambil berbagai peluang yang ada dan usahakan mengemasnya dalam sebuah karya dan produk yang menjadi solusi bagi orang lain.
  • Mengambil kesempatan kerja part time atau full time sebagai proses pembelajaran dan melatih diri secara riil di dunia industri.
  • Latihlah kemampuan verbal. Diantara kesibukan berkomunikasi dengan mesin (komputer), tetap latih teknik dan strategi berkomunikasi dengan manusia. Berlatihlah menyampaikan pengetahuan dan teknologi yang kita kuasai dengan bahasa sederhana dan dapat dipahami dengan mudah oleh orang awam sekalipun.
  • Bangun jaringan (networking) dan kerjasama dengan berbagai pihak. Setiap pertemuan dengan orang lain, siapapun dia, akan membawa manfaat bagi kita, meskipung kadang-kadang tidak langsung datang seketika.

Siapapun kita, apapun degree kita, apapun bidang kerja kita, asal kita sudah berniat untuk terjun di bisnis dan industri IT, kita bisa mulai dari keunggulan defacto dan dejure yang kita miliki. Jadi pebisnis IT, siapa takut?

Jangan contoh Bill Gates


Sudah banyak yang tahu kehebatan Bill Gates. Pendiri Microsoft Corporations ini menjadi manusia terkaya di planet ini selama 13 tahun berturut-turut. Tahun ini posisinya direbut Warren Buffet, karena ia ceroboh ingin mencaplok Yahoo!, sehingga nilai saham Microsoft melorot, dan kekayaan bersihnya pun ikut terpotong. Andai tidak melakukan langkah blunder itu, ia masih terkaya di dunia tahun ini. Tidak heran jika ia menjadi idola banyak orang, termasuk saya.

Fokusnya di dunia peranti lunak memang tak tergoyahkan. Sepanjang hidupnya, fokus bisnisnya hanya di satu bidang ini — atau yang berkaitan dengan peranti lunak, jasa dan solusi. Ia tak pernah menoleh sedikitpun ke bidang lain. Pria kelahiran 28 Oktober 1955 ini mampu membangun Micrsoft dari titik nol menjadi perusahaan dengan penjualan sebesar US$ 51,12 miliar alias sekitar Rp 500 triliun pada tahun fiskal Juni 2007. Itu artinya hampir setara dengan 70% belanja negara kita tahun ini.

Melalui payung Microsoft pula ia mampu menampung 78 ribu tenaga kerja yang tersebar di 105 negara. Melalui Microsoft pula ia mendominasi pasar peranti lunak dunia.

Dengan prestasi yang sedemikian hebat, tidak mengherankan jika kedatangannya di Indonesia pekan lalu disambut meriah. Kuliah umumnya berjudul ‘Second Digital Decade’ yang digelar di Plenary Hall Jakarta Convention Center, Jumat 9 Mei lalu, dihadiri 2.500 orang, mulai dari presiden, menteri kabinet, pengusaha, profesional hingga mahasiswa. Masih ribuan lagi lainnya yang terpaksa gigit jari karena kehabisan tiket untuk mengikuti kuliah umum itu.

Ada satu hal penting yang disampaikan Bill Gates mengenai pendidikan pada kuliah umum itu. “Semua anak (pelajar) harus menyelesaikan pendidikan, untuk itu perlu semua pihak termasuk pemerintahan anda, harus turun tangan untuk itu,” kata Bill Gates, yang disambut tepuk tangan hadirin. Bahkan pada saat sesi tanya jawab, Bill Gates secara tegas menyarankan agar para mahasiswa tidak meniru dirinya,yang DO di tengah jalan meski sempat kuliah di Harvard University.

“Selesaikan kuliah Anda dan raihlah gelar akademis,” katanya.

Bagaimanapun juga, kuliah adalah saat yang paling tepat untuk memenuhi segala keingintahuan mahasiswa. Dan jika ingin menjadi pengusaha, gunakanlah kesempatan magang di perusahaan secara maksimal.

“Saya ini contoh yang buruk,” katanya seperti dikutip Detikcom.

Bill Gates

Selama ini, saya sering membaca kesalahpahaman banyak orang yang ingin menjadi pengusaha dengan mengorbankan kuliah. “Bill Gates yang nggak lulus kuliah saja bisa jadi yang terkaya di dunia,” kira-kira begitulah alasan mereka. Bahkan mereka bisa memberikan banyak contoh orang yang sukses di dunia usaha tanpa embel-embel sarjana. Larry Allison — pendiri Oracle Corporation — misalnya, adalah mahasiswa gagal. Steven Spielberg, sutradara film-film box office dunia, juga putus kuliah. Mark Zuckerberg, pendiri Facebook, sang triliuner baru yang baru berumur 23 tahun, juga tak menyelesaikan kuliahnya di Harvard University.

Kenyataan di atas kadang malah digunakan sebagai lelucon: bahwa mereka yang pintar secara akademis tidak akan sukses di dunia usaha. Mereka yang pintar dan lulus sarjana malah menjadi jongos orang-orang “bodoh” yang tidak lulus kuliah.

Memang, mereka yang tidak memiliki gelar sarjana tetap berpeluang menjadi pengusaha sukses. Namun bukan berarti bahwa mengorbankan kuliah merupakan tiket menuju sukses. Bahkan, jika dilakukan penelitian, kemungkinan sarjana yang sukses menjadi pengusaha amat banyak. Namun, karena sarjana sukses berusaha dianggap sebagai hal yang biasa, tidak banyak media yang mengulasnya. Lebih menarik mengupas tokoh-tokoh sukses yang latarbelakangnya menderita atau kurang bagus — termasuk tidak lulus kuliah. Ini yang bisa menimbulkan persepsi sesat bahwa DO adalah ciri pengusaha sukses.

Bill Gates sudah menyampaikan dengan jelas, bahwa dirinya adalah contoh yang buruk dalam hal akademis. Sesungguhnya ia sangat ingin menggondol gelar sarjana. Simak bagaimana pidatonya setelah ia menerima gelar sarjana kehormatan dari Harvard University tahun lalu:

“Sudah lebih dari 30 tahun saya menunggu untuk mengatakan ini, ‘Ayah, saya selalu bilang saya akan kembali (ke kampus) dan meraih gelar.’ Tahun depan (2008) saya akan ganti pekerjaan. Merupakan sesuatu yang menyenangkan bahwa bisa mencantumkan gelar sarjana di daftar riwayat hidup.”

Benar, ia kini telah berganti pekerjaan. Ia sudah mundur dari manajemen Microsoft, dan “hanya” menjadi chairman. Waktunya lebih banyak didedikasikan ke Yayasan “Bill and Melinda Gates” yang didirikan tahun 2000 dengan tujuan membantu proyek-proyek peningkatan kesehatan, pengurangan kemiskinan, dan proyek yang memperluas akses masyarakat kepada teknologi.

Ucapan Bill Gates menyiratkan sesuatu, yang kira-kira seperti ini: “Contohlah saya, tapi jangan di sisi akademis.”

Sumber : Lukman Lutfie, http://www.sudutpandang.com

%d blogger menyukai ini: