Posts from the ‘MANAJEMEN ISLAM’ Category

ADAB DAN AKHLAK PENUNTUT ILMU


 

Keutamaan Mempelajari Adab-Adab Dalam Menuntut Ilmu

Sebagai seorang muslim sudh sepatutnya kita harus mencontoh Rasulullah dalam menuntut dan mengamalkan ilmu yang telah dipelajari. Diantara adab beliu adalah ikhlas dalam menuntut ilmu, ikhlas dalam mengamalkan ilmu, dan ikhlas dalam mengajarkan dan mendakwahkan ilmu. Selain itu juga agar ilmu yang dikaji dan dipelajari menjadi ilmu yang bermanfaat.

Adab dan akhlak yang baik merupakan suatu amal shaleh yang dapat membawa pemiliknya masuk surga.Rasulullah shallallahualaihi wa salam bersabda : “tidak ada satupun yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin pada hari kiamat dari pada akhlak yang baik, dan sesungguhnya Allah sangat membenci orang yang berbicara keji dan kotor”.

Beliau shallallahualaihi wa salam bersabda pula: “Sesungguhnya yang paling aku cintai di antara kalian dan yang paling dekat majelisnya denganku pada hari kiamat adalh yang paling baik akhlaknya…”

Para ulama terdahulu seperti Imam Sufyan Ats-Tsauri (wafat tahun 161 H), Imam Abdullah Ibnul Mubarak(wafat tahun 181 H) dan Imam Muhammad bin Sirin ( wafat tahun 110 H) mengatakan bahwa sebelum menuntut ilmu haruslah mempelajari adab-adabnya terlebih dahulu sebagaimana adab-adab yang dipelajari oleh Rasulullah.

Penuntut ilmu wajib mengetahui dan mempelajari adab-adab menuntut ilmu yang harus ia kuasai dan juga wajib beradab dan berakhlak yang mulia, wajib mengamalkan ilmunya dengan menerapkan akhlak yang mulia, baik terhadap dirinya maupun orang lain.Para ulama terdahulu selalu mengajarkan anak-anaknya untuk mempelajari adab lebih dulu sebelum menuntut ilmu.

Adab-Adab Utama Seorang Muslimdalam Menuntut Ilmu Syar’i

Adab Pertama

Mengikhlaskan Niat Dalam Menuntut Ilmu

Dalam menuntut ilmu haruslah ikhlas dan hanya karena Allah semata. Jika menuntut ilmu dengan ikhlas maka ilmu yang dipelajari akan mudah dipahami dan dapat mengamalkannya dengan baik. Aabila menuntut ilmu bukan karena Allah Ta’ala adalah merupakan suatu dosa besar, bahkan orang yang menuntut ilmu bukan karena allah Ta’ala termasuk orang yang pertama kali dipnaskan api neraka umtuknya.

Rasulullah shallalahualaihi wa salam bersabda:

“Janganlah kalian mencari ilmu dengan tujuan untuk berbangga-bangga di hadapan para ulama, membantah orang-orang bodoh, dan janganlah kalian memilih majelis untuk mencari perhatian orang. Barang siapa yang melakukan hal itu, maka tempatnya di neraka’.(H.R.Ibnu Majah No.254).

Seseorang tidak dianggap sebagai orang yang berilmu selama ia belum mengamalkan ilmunya.Bagaimana Seorang Muslim Dapat Ikhlas dalam Menuntut Ilmu Syar’i? Jika seseorang dalam menuntut ilmu hanya benar-benar karena Allah Ta’ala dan hanya mengharap ridho Allah Ta’ala maka akan dimudahkan jalan dalam menuntut ilmu. Tujuan menuntut ilmu bukan karena untuk memperoleh keuntungan duniawi semata seperti kepemimpinan, jbatan, kehormatan, dan harta, berbangga dihadapan teman-temannya, diaagungkan manusia,dan yang sepertinya.

Adab Kedua

Memohon Ilmu Yang Bermanfaat Kepada Allah Ta’ala

Sebagai penuntut ilmu hendaknya selalu memohon ilmu yang bermanfaat baik di dunia maupun di akhirat kelak.Dijauhkan dari ilmu yang tidak bermanfaat. Rasulullah pernah berdo’a:

“Ya Allah,aku berlindung kepadaMu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusuk, nafsu yang tidak pernah puas, dan do’a yang tidak dikabulkan”.(H.R.Muslim No.2722).

Adab Ketiga

Bersungguh-Sungguh Dalam Menuntut Ilmu Dan Rindu Untuk Mendapatkannya

Penuntut ilmu harus bersungguh-sungguh, sebab tanpa kesungguhan maka tidak akan memperoleh ilmu yang bermanfaat.

Imam asy-syafi’i rahimahullah pernah mengatakan dalam syairnya yaitu sebagai berikut:“Saudaraku engkau tidak akan mendapat ilmu melinkan dengan enam perkara.Ku kabarkan kepadamu rinciannya dengan jelas, kecerdasan, kemauan keras, bersungguh-sungguh, bekal yang cukup, bimbingan ustad, dan waktunya yang lama”.(H.R.Muslim No.2664).

Rasulullah shalallahualaihi wa salam bersabda “Sesungguhnya ilmu diperoleh dengan (sungguh-sungguh)belajar, dan sikap sabar ( penyantun) diperoleh dengan membiasakan diri untuk sabar. Barang siapa yang berusaha (keras) mencari kebaikan maka ia akan memperoleh kebaikan, dan barang siapa yang menjaga dirinya dari kejelekan (kejahatan) maka ia akan dilindungi Allah dari kejelekan (kejahatan)”. (H.R.Muslim No.612(175).

Adab Keempat

Menjauhkan Diri Dari Dosa Dan Maksiat Dengan Bertaqwa Kepada Allah ‘Azza wa Jalla

Ibnu Mas’ud (wafat tahun 32 H) Radhiyalahu’anhu mengatakan,”Sungguh aku mengetahui bahwa seseorang lupa terhadap ilmu yang pernah diketahuinya dengan sebab dosa yang dilakukannya”.

Dosa dan maksiat dapat menjadi penghalang ilmu, keberkahannya,dan manfaatnya.

Adab Kelima

Tidak Boleh Sombong Dan Tidak Boleh Malu Dalam Menuntut Ilmu

Sombong dan malu menyebabkan pelakunya tidak akan mendapatkan ilmu selama kedua sifat itu masih ada dalam dirinya.

Imam Mujahid bin Jabr (wafat tahun 104H) rahimahullah mengatakan,”Tidak akan mendapatkan ilmu orang yang malu dan orang yang sombong”.(al-jaami’ I/534-535 no.879).

Adab Keenam

Mendengarkan Baik-Baik Pelajaran Yang Disampaikan Ustadz, Syaikh, Atau Guru

Seorang penuntut ilmu harus berusaha menjadi pendengar yang baik, mendengarkan yang baik-baik, yaitu Al-Qur-an dan hadist-hadist Nabi shalallahualaihi wa sallam agar ia mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan dapat mengamalkan keduanya. Para Salafush Shalih adalah manusia yang sangat antusias terhdap ilmu. Apabila seorang syaikh atau guru menyampaikan pelajaran, mereka pun mendengarkan dengan sungguh-sungguh.

Adab Ketujuh

Diam Ketika Pelajaran Disampaikan

Ketika belajar ilmu syar’i kita tidak boleh berbicara yang tidak bermanfaat, tanpa ada keperluan, dan tidak ada hubungannya dengan ilmu syar’i yang disampikan serta tidak boleh mengobrol.

Imam an-Nawawi rahimahullah menjelaskan tentang adab penuntut ilmu syar’i ketika menghadiri majelis ilmu, “(seorang murid) tidak boleh mengangkat suara tanpa keperluan, tidak boleh tertawa, tidk boleh banyak bicara tanpa kebutuhan, tanpa adanya keperluan yang sangat, bakan ia harus menghadapkan wajahnya kearah gurunya… ” (Syarah Muqaddimah al-Majmuu’(hal.143).

Adab Kedelapan

Berusaha Memahami Ilmu Syar’i Yang Disampaikan

Dalam memahami pelajaran, manusia berbeda-beda keadaannya, ada yang langsung tanggap dan memahami pelajaran yang disampaikan, ada pula yang lambat.Namun,kita harus senantiasa berusaha memahami dan memohon kepada Allah agar diberikan pemahaman.

Kiat memahami pelajaran yang disampaikan antara lain: Mencari tempat duduk yang teapt dihadapan guru, memperhatikan penjelasan guru dan bacaan murid yang berpenglaman, bersunggug-sungguh untuk mengikat (mencatat) faedah-faedah pelajaran, tidak banyak bertanya saat pelajaran disampaikan, tidak membaca satu kitab kepada banyak guru pada waktu yang sama, mengulang pelajaran setelah kajian selesai, bersungguh-sungguh mengamalkan ilmu yang telah dipelajari.

Adab Kesembilan

Menghafalkan Ilmu Syar’i Yang Disampaikan

Para ulama salaf sangat bersemangat untuk menghafalkan ilmu. Mereka menghafalkan sekian banyak hadist yang mereka dengar langsung dari Rasulullah shalallahualaihi wa sallam. Begitu pula para ulama setelah mereka yang menghafalkan beribu-ribu hadist dengan sanad-sanadnya sehingga nama mereka tetap harum sampai hari kiamat.

Adab Kesepuluh

Mengikat Ilmu Atau Pelajaran Dengan Tulisan

Ketika belajar, seorang penuntut ilmu harus mencatat pelajaran, point-point penting, faedah dan manfaat dari ayat,hadist dan perkataan para sahabat dan ulama atau berbagai dalil bagi suatu permasalahan yang dibawakan oleh syaikh atau gurunya. Seorang penuntut ilmu tidak boleh pelit untuk membeli berbagai sarana yang dapat membantunya untuk mendapatkan ilmu. Dalam memenuhu kebutuhannya tidak boleh bergantung kepada orang lain dan memimnta-minta serta merepotkan orang lain.

Adab Kesebelas

Mengamalkan Ilmu Syar’i Yang Telah Dipelajari, Ilmu yang sudah dipelajari hendaknya diamalkan.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, ”ilmu memiliki enam tingkatan, yang pertama baik dalam bertanya, kedua diam dan mendengarkan dengan baik, ketiga memahami dengan baik, keempat menghafalkannya, kelima mengajarkannya, keenam mengamalkannya dan memperhatikan batasan-batasanya” (Miftaah Daaris Sa’adah:I/511).

Adab Keduabelas

Mendakwahkan Ilmu

Dakwah memiliki keutamaan yang sangat besar. Dakwah dijalan Allah merupakan amal yang sangat mulia, ketaatan yang besar dan ibadah yang agung kedudukannya di sisi Allah.Seorang yang berdakwah, mengajak umat kepada islm yang benar maka harus beramal dengan benar dan mencontoh Rasulullah shalallahualaihi alaihi wa sallam.

Rasulullah shalallahualaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa mengajak (manusia) kepada petunjuk, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun..”(H.R.Muslim no.2674).

Adab Terhadap Rasulullah Shalallahualaihi Wa Sallam

Di antara adab-adab penuntut ilmu terhadap Rasulullah shalallahualaihi wa sallam antara lain:

  1. Mengimani beliau sebagai Nabi dan Rasul terakhir bagi seluruh manusia, sebagai pemberi peringatan dan pembawa kabar gembira, dan penyeruke jalan Allah dengan izinnya, serta mengimani kebenaran segala apa yang beliau bawa dari Allah Ta’ala.
  2. Wajib mencintai Rasulullah shalallahualaihi wa saallam lebih dari kecintaan kepada diri sendiri, orang tua, anak, dan lainnya.
  3. Mentaati apa yang beliau perintahkan dan menjauhi apa yang beliau larang.
  4. Meneladani beliau dalam setiap perkataan, perbuatan, dan pergaulannya.
  5. Wajib ittiba’ hny kepada beliau saja.
  6. Banyak bersalawat kepada beliau shalallahualai wa sallam.
  7. Tidak boleh sembarangan dalam bershalawat kepada beliau shalllahulai wa sallam.

Adab Kepada Kedua Orang Tua

Adab-adab penuntut ilmu terhadap orang tua antara lain:

  1. Berbakti dan mentaati keduanya selama keduanya tidak menyuruh berbuat dosa dan memutus silaturahmi.
  2. Merendahkan diri di hadapan kedunya, dengan tawadhu’ dan penuh kasih sayang. Allah Ta’ala berfirman:”Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang…” .(QS. Al-Israa’:24).
  3. Berdo’a untu keduanya dengan memohonkan rahmat dan ampunan dari Allah Ta’ala. Berdasarkan firman Allah Ta’ala: “Dan ucapkanlah,’Wahai Rabb-ku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil”(QS.Al-Israa:24).
  4. Memenuhi segala kebutuhan keduanya dengan cara membantu, memberikan nafkh, melayani keduanya dengan senang hati, dan berusaha sungguh-sungguh dalam berbuat baik kepada keduanya.Rasulullah shalallahualahi wa sallam bersabda:”Seorang anak tidak akan dapat membalas jasa orang tuanya, kecuali jika ia mendapati (orang tua) nya sebagai seorang hamba sahaya, lalu ia membelinya kemudian memerdekakanny”.(H.R Muslim no.1510).
  5. Berbakti dan menyambung kekerabatan selama keduanya masih hidup dan setelah salah satu atau keduanya meninggal, serta melaksanakan wasiatnya.

Adab Terhadap Diri Sendiri

Di antara adab-adab penuntut ilmu terhadap dirinya sendiri adalah:

  1. Hendaklah dia mengetahui dan meyakini bahwa ilmu adalah ibadah.
  2. Memperhatikan pendidikan jiwa dn pensuciannya (tazkiyatun nufus), yang akan memnbawanya pada ketaatan, dan menjauhkannya dari maksiat.
  3. Mengikuti dan meneladani para sahabat Rasulullah shalallahualai wa sallam.
  4. Menghiasi dirinya dengan akhlak yang mulia dan adab yang baik serta menjauhi akhlak dan adab yang jelek.
  5. Selalu mengintrospeksi diri dan tidak mencari alas an untuk membenarkan kesalahan.
  6. Menghiasi diri dengan rasa takut kepada Allah Ta’ala secara lahir dan batin dengan cara melaksanakn perinth dan menjauhi laranganNya.
  7. Merasa selalu diawasi oleh Allah Ta’ala.
  8. Bertaubat dengan sungguh-sungguh bila melakukan perbuatan dosa.
  9. Bersifat Qana’ah dan Zuhud.
  10. Berbudu pekerti yang baik dan memiliki rasa malu serta senantiasa istiqomah.

Adab Terhadap Karib Kerabat Serta Terhadap Tetangga Dan Masyarakat

Di antara adab-adab penuntut ilmu terhadap karib kerabatnya adalah:

  1. Mengetahui hak-hak kekerabatan yaitu kewajiban menyambung silaturahmi dan tidak boleh memutuskannya.
  2. Mengunjungi mereka, member hadiah, berkata yang baik,dan berwajah ceria ketika bertemu mereka.
  3. Bersabar atas gangguan mereka dan memaafkan kesalahan mereka.
  4. Membantu kebutuhan mereka dan bersadaqah kepada mereka yang faqir.
  5. Memperhatikan petunjuk islam dalam tingkatan prioritas menyambung kekerabatan: kepada ibu, lalu bapak; nenek lalu kakek; bibi lalu paman;kemudian yang terdekat dan yang terdekat.

Adab-adab penuntut ilmu terhadap tetangga dan masyarakatnya antara lain:

  1. Mengetahui hak-hak mereka dan melaksanakannya.
  2. Beretika dengan adab-adab islamketika bertemu,yaitu dengan mengucapkan salam, wajah berseri dan merendahkan suara ketika berbicara dengan mereka.
  3. Menghormati mereka, berbuat kebaikan kepada mereka, menolong mereka bila mereka membutuhkan bantuan, memenuhi undangan mereka (selama tidak melanggar syari’at).
  4. Membimbing mereka dengan lemah lembut, ajarkan mereka dengan bertahap dan sabar.
  5. Tidak boleh mengganggu dan menyakiti baik dengan lisan, tangan, maupun lainnya. Tidak menggunjing, mencari kejelekan atau kesalahan. Hendaknya menutupi aib mereka.
  6. Sabar atas gangguan mereka.
  7. Berusaha menghadapi sikap buruk dengan kebaikan.

Adab Terhadap Syaikh, Ustadz, Atau Gurunya

Adab-adab penuntut ilmu terhadap syaikh, ustadz, atau gurunya antara lain:

  1. Menghormati dan memuliakan kedudukannya baik ketika ada maupun ketika tidak ada.
  2. Memulai mengucapkan salam, meminta izin ketika akan duduk atau pergi dari majelis ilmu karena ada keperluan.
  3. Hendaklah duduk di majelis ilmu dengan cara duduk seorang pelajar dengan penuh kesopanan, tidak duduk sambil bersandar atau dengan membelakanginya.
  4. Berbaik sangka apabila guru memberikan hukuman bahwa hal tersebut merupakan untuk suatu kebaikan bukan karena ingin menyakiti.
  5. Tidak boleh sombong atau malu untuk bertanya kepada guru, berbicara dengan sopan santun, tidak menggunakan kata-kata kasar.
  6. Mengikuti akhlah baik, perilaku yang terpuji dan amal shalih guru.
  7. Datang lebih awal dari pada gurunya.
  8. Memperhatikan apa yang disampaikan guru.
  9. Membalas kebaikan guru.

Adab-Adab Ketika Di Masjid

Adab-adab penuntut ilmu ketika dimasjid adalah:

  1. Bersungguh-sungguh dalam menghadiri shalat berjamaah, shalat jum’at dan selalu di shaff yang paling depan.
  2. Menyampaikan semaksimal mungkin ilmu yang dimiliki.
  3. Penuntut ilmu yang di angkat menjadi imam hendaklah tidak berlebihan dalam bergaul dan tidak menutup diri terhadap jama’ah shalat.
  4. Memelihara kebersihan, kesucian, dan kehormatan masjid.
  5. Menjaga perabot dan segala sesuatunya yang ada di masjid.
  6. Tidak mengeraskan suara, baik dalam membaca al-qur’an, dzikir, maupun berbincang-bincang karena dapat mengganggu orang lain.
  7. Memasuki masjid dengan tenang serta melaksanakan shalat tahiyatul masjid.

Adab-Adab Di Rumah

Diantara adab penuntut ilmu dirumahnya adalah:

  1. Memasuki rumah dengan mendahulukan kaki kanan dan mengucapkan ‘bismillah’ serta mengucapkan salam. Apabila keluar rumah mendahulukan kaki kiri dan membaca do’a keluar rumah.
  2. Menyampikan ilmu yang bermanfaat kepada keluarga.
  3. Berupaya mengajarkan anak-anak kecil dalam bentuk perbuatan dan perkataan.
  4. Berusaha menghidupkan rumah dengan membaca al-qur’an, banyak berdzikir, dan mengerjakan shalat-shalat sunnah.
  5. Mengajarkan adab islam terhadap anak.

Adab-Adab Penuntut Ilmu Terhadap Waktu

Seorang penuntut ilmu harus memanfaatkan waktu luangnya dengan sebaik-baiknya. Tidak boleh menunda-nunda melakukan berbagai kebaikan.

  • Pentingnya waktu dalam menuntut ilmu

Kewajiban penuntut ilmu adalah memelihara waktu dan memanfaatkannya dengan baik. Waktu akan terus berlalu dan tidak akan kembali lagi sehingga tidak ada waktu bagi penuntut ilmu untuk bermain-main dengan sesuatu yang tidak bermanfaat.

  • Begadang antara manfaat dan mudharatnya

Diantara bentuk menyia-nyiakan waktu yang sering dilakukan oleh penuntut ilmu adalah begadang.Begadang dengan melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat dapat menimbulkan dosa bagi pelakunya. Apabila memang harus begadang maka tidak boleh melalaikan keajiban dan amal-amal yang lebih utama.

  • Teladan para ulama dalam menjaga waktu

Di dalam perjalanan hidup para ulama terdapat sesuatu yang mendorong kita agar menjaga waktu dan meninggalkan semua yang sia-sia dan tidak bermanfaat.

Beberapa Kesalahan Yang Wajib Dijauhi Penuntut Ilmu

Seorang penuntut ilmu harus senantiasa mengintrospeksi diri dan berusaha untuk menghilangkan kesalahan-kesalahan dari dalam dirinya. Diantaranya:

Pertama

Hasad (Dengki/Iri)

Hasad adalah kebencian seseorang terhadap nikmat yang Allah berikan kepada orang lain. Hasad/dengki akan mengurangi pahala seseorang dalam mencari ilmu, memperlemah hafalannya, dan mengurangi konsentrasinya dalam menghadiri dan memahami ilmu. Allah Ta’ala melarang seseorang mengharapkan segala apa yang Allah Ta’ala lebihkan dan utamakan atas sebagian manusia dari sebagian yang lainnya.

Kedua

Berfatwa Tanpa Ilmu

Fatwa adalah kedudukan yang agung, pelakunya mencurahkan fikiran untuk menjelaskan apa yang smar bagi ummat tentang urusan agama mereka dan membimbing mereka ke jalan yang lurus. Oleh karena itu, kedudukan ini tidak bisa disandang, kecuali oleh ahlinya.

Allah Ta’ala berfirman:“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yng disebut-sebut oleh lidah secara dusta ini halal dan ini haram untuk mengadakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Nama Allah tidak kn beruntung”.(QS.An-Nahl:116-117).

Ketiga

Kibr (Sombong)

Rasulullah shalallahualaihi wa sallam bersabda:

“Kibr (sombong) adalah menolak kebenaran dan merendahkan (meremehkan) manusia”. (H.R Muslin No.91(147)).

Termasuk sombong adalah jika membantah orang yang mengajarinya dan menaganggap rendah orang yang belajar kepadanya.

Keempat

Fanatik Kepada Madzhab Dan Pendapat

Penuntut ilmu wajib menghindari sikap berkelompok dan bergolong-golongan dimana ia mengikat loyalitas kepada kelompok tertentu atau golongan tertentu. Penuntut ilmu seharusnya mengambil perkataan dari orang yang ucapannya sesuai dengan Al-qur’an dan Assunnah serta ucapan para Shahabat Rasulullah Shalallahualaihi wa sallam.

Kelima

Merasa Mampu (‘Alim) Sebelum Layak

Diantara hal yang wajib dijauhi penuntut ilmu adalah merasa dirinya mampu dan mersa menguasai suatu ilmu padahal belum mengetahui dengan baik. Seorang yang tidak berilmu tidak boleh berdakwah karena berdakwah haruslah orang yang sudah mengerti dengan baik suatu ilmu.

Keenam

Buruk Sangka

Allah Ta’ala berfirman,

“Wahai orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prsangka, sesunggunya sebagian prasangka itu dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada diantara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada diantara kamu yang suka memakn daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kmu merasa jijik. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sungguh Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”.( QS.Al-Hujuraat:12).

Ketujuh

Bertengkar Dan Debat Kusir

Jauhilah bertengkar dan debat kusir dalam berbagi masalah syari’at. Seorang penuntut ilmu niat belajar harus ikhlas karena Allah bukan dengan niat untuk membantah orang atau berdebat dan lainya.

Rasulullah shalallahualaihi wa sallam bersabda:  “sesungguhnya orang yang dibenci Allah adalah orang yang paling keras berdebat dan suka bertengkar”.(H.R Bukhari No.2457 dan No.4523).

Dalam perkara yang sudah jelas dalilnya dalam Al-Qur’an dan Assunnah yang sahih dilarang untuk bertengkar dan berbantah-bantahan.

Kedelapan

Penuntut Ilmu Tidak Boleh Futur

Futur yaitu rasa malas, enggan, lamban, dan tidak semangat padahal sebelumnya rajin, bersungguh-sungguh dan penuh semangat.

Ada tiga golonganorang yang terkena penyakit futur, yaitu:

  1. Golongan yang berhenti sama sekali dari aktivitasnya dengan sebab futur.
  2. Golongan yang terus dalam kemalasan dn patah semangat, namun tidak sampai berhenti sama sekali dari aktifitasnya.
  3. Golongan yang kembali pada keadaan semula.

Sebab-sebab penyakit futur:

  1. Hilangnya keikhlasan.
  2. Lemahnya ilmu syar’i.
  3. Ketergantungan hati kepada dunia dan melupakan akhirat.
  4. Fitnah (cobaan) berupa istri, anak, dan harta.
  5. Hidup ditengah masyarakat yang rusak.
  6. Berteman dengan orang-orang yang memiliki keinginan yang lemah dan cita-cita duniawi.
  7. Melakukan dosa dan maksiat serta memakan barang haram.
  8. Tidak mempunyai tujuan yang jelas (baik dalam menuntut ilmu ataupun berdakwah).
  9. Lemahnya iman.
  10. Menyendiri (tidak mau berjamaah).
  11. Lemahnya pendidikan.

Obat penyakit futur adalah:

  1. Memperbaharui keimanan.
  2. Merasa selalu diawasi Allah Ta’ala dan banyak berdzikir kepadanya.
  3. Ikhlas dan taqwa.
  4. Mensucikan hati dari segala penyakit hati.
  5. Rajin dan tekun menuntut ilmu.
  6. Mengatur waktu dan mengintrospeksi diri.
  7. Mencari teman yang baik (shalih)
  8. Memperbanyak mengingat kematian dan takut terhadap su-ul khatimah.
  9. Sabar dan belajar untuk sabar.
  10. Berdo’a dan memohon pertolongan Allah.

Kesimpulan

Seorang penuntut ilmu harus senantiasa bertaqwa kepada Allah Ta’ala dimanapun berada, melaksanakan perintahNya dan menjauhi laranganNya dan juga harus selalu merasa diawasi oleh Allah Ta’ala.Mempunyai adab atau sikap yang baik terhadap diri sendiri ataupun orang lain, terhadap lingkungan sekitar serta bermuamalah dengan sikap yang santun. Berusaha menjalankan, mengamalkan serta mendakwahkan ilmu yang sudah dipelajari sehinnga menjadi ilmu yang bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang lain, bermanfaat di dunia maupun di akhirat.

SUMBER         :

Yazid Bin Abdul Qadir Jawas, Adab dan akhlaq penuntut ilmu, Pustaka At-Taqwa,  Bogor, 2010

 

 

Manajemen Bisnis Nabi Muhammad SAW


Rasulullah Muhammad SAW adalah seorang pebisnis tangguh. Bisnis yang dijalankan beliau cukup stabil dan semakin berkembang dengan sangat pesat. Apa rahasia dan bagaimanakah beliau memanage bisnisnya tersebut ?

Inilah rahasianya :

  1. Meluruskan Niat

Perasaan tahu diri , merasa bahwa dirinya tidaklah hidup bersama kedua orangtuanya yang membuat perilaku Muhammad sangatlah santun. Karena perasaan tersebut juga akhirnya Muhammad selalu serius dalam setiap apa yang dikerjakannya. Mulai dari menggembala kambing sampai berbisnis dia jalani dengan serius, sama sekali tidak main-main apalagi bermaksud merugikan orang lain .

Kembali kepada keseriusan Muhammad, beliau selalu menyandarkan setiap tindakan yang dilakukan dalam satu niat tulus. Niat bahwa apa yang dikerjakannya adalah untuk beribadah kepada Allah SWT. Keinginan kuatnya untuk bertahan hidup dalam kejujuran dan kemuliaan martabat beliau sungguh gigih sehingga tak ada niatan buruk sedikitpun di hati yang suci itu. Segala sesuatu yang baik memanglah harus diawali dengan niatan yang baik pula. Ketika niatan kita sudah melenceng, maka jadilah hal baik tersebut menjadi tercemar. Mungkin malahan menjadi awal yang mengharuskan kita berhubungan dengan hal-hal yang kurang baik di kemudian hari, hanya karena salah meniatkannya.

Niat baik, itulah awal dari usaha bisnis Rasulullah Muhammad SAW. Niat semata-mata beribadah kepada Allah , niat untuk mencukupi kebutuhan hidup beliau beserta keluarganya, niat ingin menolong orang-orang yang kurang mampu, niat mmemberikan pekerjaan kepada orang-orang yang jujur dan dapat dipercaya. Hal-hal tersebut yang mendasari awal usaha bisnis Muhammad sehingga dapat menjadi fondasi atau dasar yang kuat bagi beliau untuk menjalankan perdagangannya dengan sungguh-sungguh , jujur, serta memiliki tujuan yang mulia.

Begitulah rahasia utama Muhammad SAW dalam berbisnis, benar-benar meluruskan niat beliau hanya untuk mencari ridha Allah SWT. Segala sesuatu yang baik tentulah harus diniatkan untuk kebaikan pula. Sesuatu yang lebih baik manalagi selain meniatkan segala hal yang akan kita lakukan semata-mata untuk beribadah kepada Allah dan untuk mencapai ridha-Nya. Inilah yang secara tidak langsung dilakukan oleh muhammad SAW dalam memulai usaha perdagangannya, mencari ridha Allah yang Esa, yang tauhid, yang satu tidak beranak maupun diperanakkan.

Begitu pentingnya niat yang akan kita jalankan, begitu pula dalam bidang bisnis dan pekerjaan. Dengan niatan ikhlas mencari ridha Allah SWT, niatan tulus untuk mencukupi kebutuhan keluarga , niatan untuk memperbesar sedekah, sungguh Insya Allah akan terbentang jalan bagi kita. Dengan adanyua niatan tulus dan ikhlas , maka rasanya semua pintu terbuka lebar, semua jalan seakan lenggang menyambut kehadiran kita. Tak ada macet, tak ada pula persinggungan dengan para pebisnis lainnya.

Banyak sekali macam pekerjaan, usaha, bisnis, atau kesibukan lain yang dijalani oleh seluruh manusia di muka bumi ini. Namun, semua itu akan terasa indah dan berkah apabila kita memiliki niat dan tujuan hanya mencari keridhaan dari Allah SWT.

Perjalanan hati dan spiritualitas seseorang memang berbeda-beda, namun perlu kita ingat bahwa dengan niatan yang ikhlas maka perjalanan tersebut Insya Allah selalu dilindungi oleh-Nya. Amin.

 

  1. Kuat , Cerdas, dan Cekatan

Kekuatan fisik dan hati yang ditunjukkan oleh Rasulullah benar-benar termanifestasi dengan baik dalam keseharian beliau. Demikian pula dalam menjalankan bisnis, Muhammad yang tangguh tak pernah putus asa menjalankan bisnis dan perdagangannya. Beliau sangat kuat menghadapi segala proses dalam berbisnis. Kejujuran yang cerdas , yang mampu membuat semua orang percaya kepada beliau.

Dengan kondisi  fisik dan psikis yang begitu tangguh, Muhammad SAW juga memiliki kecerdasan luar biasa hebat. Jika pada zaman dahulu sudah ada pembahasan tentang multiple intellegence, maka dapat dipastikan bahwa Rasulullah Muhammad SAW memiliki kesemua komponen kecerdasan tersebut.

 

  • Kecerdasan Intelektual Muhammad SAW

Kemampuan Muhammad menghafal dan mengerti suatu hal patut diacungi dua buah jempol. Bagaimana mungkin seorang anak yang buta huruf dapat memahami prinsip dalam berdagang yang diajarkan oleh pamannya? Hal ini tidak lain karena tingkat kecerdasan intelektual beliau yang sangat tinggi.

Inilah anutan kita, dalam membangun bisnis kita pun perlu untuk melatih kecerdasan intelektual diri kita. Dunia bisnis begitu banyak persaingan dan pernak-pernik lain yang mengharuskan kita untuk cerdas. Perlu diingat, sebaiknya kita perlu untuk mengetahui semua hal tentang bisnis yang akan kita bangun terlebuih dahulu.

Dengan banyak belajar hal baru, keterkaitan antar neuron di otak kita pun semakin bertambah. Secara fisik, jaringan otak akan semakin mantap dan cerdas dengan berbagai jenis pengetahuan baru yang kita pelajari tanpa bermalas-malasan.

Kita tidak boleh cepat berpuas diri terhadap kemampuan yang telah ada. Belajarlah pada siapa saja yang dianggap mampu menambah wawasan dan pengalaman kita. Namun, berhati-hatilah terhadap ajakan-ajakan untuk menyekutukan Allah atau malah menyeret kita kepada kekafiran.

 

  • Kecerdasan Emosional Muhammad SAW

Kecerdasan emosional Muhammad SAW tidak bisa dipungkiri lagi, begitu besar dan cermat. Kejujuran dan kepribadiannya sangat menarik sehingga dijuluki dengan Al Amin, yaitu orang yang dapat dipercaya. Muhammad muda menyaksikan perjanjian Hilful Fudhul, yaitu perjanjian yang melibatkan para pembesar Quraisy. Isinya adalah tentang pembelaan terhadap orang yang teraniaya, menjalankan perdagangan dengan jujur, dan tidak berperilaku buruk kepada orang lain. Tempaan keterampilan tersebut semakin membangun kecerdasan emosional Muhammad yang telah tertata dengan baik. Hal tersebut terbawa sampai beliau dewasa dan menjalankan sendiri roda bisnisnya.

Satu peristiwa besar yang menguji kecerdasan emosional Muhammad SAW yaitu ketika terjadi perbaikan terhadap Ka’bah, saat itu usia beliau menginjak 35 tahun. Kecerdasan emosional Muhammad tampak ketika mereka akan meletakkan kembali Hajar Aswad. Semua pemuka Quraisy menginginkan batu hitam itu dipindahkkan oleh mereka. Muhammad SAW berpikirdan menemukan ide brilian yang merupakan signal dari kecerdasan emosional beliau. Muhammad meminta sebuah kain atau selendang, kemudian meletakkan Hajar Aswad di atas kain tersebut. Pemuka setiap kabilah dimintanya memegang ujung selendang, kemudian Hajar Aswad diangkat secara bersama-samadan akhirnya Muhammad SAW yang meletakkannya pada posisi semula. Semua pihak sangat senang dan tidak merasa dirugikan. Inilah EQ Muhammad SAW , kecerdasan emosional yang tentu tidak bisa dimiliki begitu saja oleh sembarang orang.

Dengan menumbuhkan empati dari dalam hati kita maka kecerdasan emosional tersebut akan tumbuh secara perlahan. Dengan demikian kita akan mudah diterima oleh orang lain. Kecerdasan emosional yang terlatih membuat kita dapat dekat dengan siapa saja tanpa kesan memanfaatkan. Wajar, Smart, dan harmonis menjadi perilaku keseharian kita. Siapapun yang dapat sedikit memiliki EQ ini, maka akan lancarlah urusan bisnisnya dengan orang lain.

 

  • Kecerdasan Spiritual

Rasulullah Muhammad SAW merupakan seorang manusia dengan kecerdasan spiritual di atas rata-rata, tentu saja. Beliau adalah seorang yang memiliki konsep diri dengan jelas, mampu menjabarkan segala maknadalam kehidupan, menjalani nilai-nilai yang dianutnya dengan penuh konsistensi, dan memiliki keutuhan diri.

Semua yang kita lakukan sebagai seorang pebisnis hanya merupakan usaha, merupakan ikhtiar lahiriah saja. Ikhtiar batinnya tentu saja kita harus pasrah dan berdoa kepada Allah SWT agar dimudahkan semua yang kita tuju. Inilah SQ yang  bisa terbentuk karena kita selalu bertakwa kepada Allah SWT. Jika ingin mendapatkan kesuksesan bisnis yang bermartabat, pastikan kita memiliki kecerdasan spiritual ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ketiga komponen kecerdasan yang harus dimiliki setiap pebisnis.

 

Itulah kecerdasan kompleks seorang Muhammad SAW , yang patut kita contoh, meskipun tidak mungkin kita bisa seperti beliau.

Keberhasilan bagi seseorang yang memiliki ketiga kecerdasan tersebut lebih pada makna holistik dari sebuah kebahagiaan. kebahagiaan ketika sudah dapat berbisnis dengan jujur, berarti bagi sesama, dan bahagia karena selalu dapat mewarnai hari dengan ketauhidan kepada-Nya.

Namun satu yang perlu kita ingat sebagai kaum muslim, yaitu sumber dari semua kecerdasan yang bisa dimiliki oleh manusia adalah Allah SWT. Tanpa izin dan panduan-Nya rasanya sulit bagi kita untuk dapat mempelajari semua hal baik yang terekam dalam benak kita.

Tebersit makna tersurat dari pelajaran membaca , yaitu membaca situasi, membaca kondisi, dan kesemua hal yang menyangkut kehidupan kita sehari-hari. Begitu pula dalam membaca peluang bisnis dan mencari celah agar kita dapat bersaing dengan wajar serta profesional.

Membaca bisa jadi kita lakukan di pasar, di Mall, di bandara, stasiun, sekolah, perkantoran, atau tempat manapun yang rasanya tidak sulit untuk ditemukan.

Lalu, bagaimana dengan cekatan ? Cekatan berarti tanggap, tidak menghadapi hidup dengan bermalas-malasan. Cekatan merupakan aksi selanjutnya dalam memajukan bisnis kita. Membaca saja tidak disertai dengan aksi atau tindakan nyata sama dengan no thing. Membaca harus disertai dengan usaha untuk pencapaian apa yang telah terangkum dalam benak kita tersebut. menuliskan goal yang akan dicapai, memikirkan cara terbaik untuk mencapainya, dan akhirnya merefleksikan dalam tindakan nyata.

Ketentuan untuk jujur dan amanah tidak akan membatasi kecekatan manusia. Cekatan tak harus melanggar perintah-Nya dan tak harus mendekat pada larangan-Nya. Tindakan nyata dan cekatan yang bisa dilakukan untuk mengaplikasikan rencana sebelumnya, bisa dijalankan dengan tetap mematuhi hukum-hukum Allah SWT.

Cekatan adalah setia kepada janji yang telah dibuat, tidak berniatan ingkar, dan melakukan segala hal dengan semestinya. Ketika seseorang diserahi sebuah tanggungjawab terhadap suatu pekerjaan, maka jalankanlah tanggungjawab tersebut dengan baik. Jangan merasa bahwa tidak ada benefit yang besar sehingga membuat kita bermalas-malasan.

Disaat nanti kita menjadi sosok pemimpin dalam bisnis kita, maka tidak ada anak buah kita yang bersikap lelet, karena semua kembali kepada diri kita sendiri. Bukankah memberi contoh jauh lebih mengena daripada menasihati orang lain ?

Dengan selalu teguh memegang janji, maka selanjutnya rekanan bisnis maupun anak buah menjadi nyaman dan senang hati bekerja sama dengan kita.

Cekatan juga merupakan tanggap terhadap suatu hal. Dengan menjadikan cekatan sebagai salah satu sikap yang harus dikembangkan, maka seseorang akan lebih tanggap terhadap bisnisnya. Tanggap kapan harus mengubah model, membeli bahan yang murah dan berkualitas, bersaing harga, dan tanggap pula dengan cara-cara marketing terkini.

Dengan terusa mengasah diri, mencermati setiap keadaan , namun tetap memakai pikiran dan hati yang jernih maka Insya Allah kita akan lebih tenang.

 

  1. Keseimbangan Hati, Pikiran, dan Tindakan Nyata

Keseimbangan dan keterkaitan antara hati, pikiran, dan tindakan nyata sangat sulit untuk dilakukan. Apalagi kalau kita masih memiliki berbagai prasangka buruk terhadap lingkungan, atau bahkan malah prasangka buruk kepada Sang Maha Pencipta. Oleh karena itu, kembali meluruskan niatdan berbaik sangka menjadi pijakan yang kuatbagi kita untuk teerus melangkah menuju kesuksesan bisnis yang tengah dirintis.

Seperti Muhammad SAW, hatinya tentu tidak dapat diragukan lagi kesuciannya. Ketika beliau masih balita, Malaikat Jibril datang untuk membelah dada dan mencuci hati beliau dengan air Zam-zam. Hati kanak-kanak itu disucikan, dibuang segala sifat buruk yang berkemungkinan mengganggu jalannya syiar dan dakwah yang akan dijalankan sebagai seorang rasul kelak.

Hal yang bisa kita lakukan saat ini untuk menjernihkan hati adalah :

  • Memelihara lisan, tidak berkata kotor, kasar, atau dengan nada tinggi. Mencoba menjadi orang yang dapat menggunakan bahasa dan makna tepat pada waktu dan tempatnya. Tidak suka menggunjing, mencemooh, atau berkata kotor.
  • Berbaik sangka kepada orang lain, husnudzan kepada orang lain sebelum kita mengetahui dengan pasti keburukannya. Apabila kita sudah mengetahui sendiri keburukan seseorang, maka simpanlah untuk diri kita sendiri. Simpanlah sebagai pembelajaran untuk lebih waspada. Namun, jangan mengumbar keburukan orang lain tersebut kepada semua orang.
  • Mencermati setiap kesalahan diri untuk tidak diulang kembali, itulah cara yang bisa kita lakukan untuk menjernihkan hati. Dengan selalu berkaca dan mencermati kesalahan diri maka kita akan menjadi pebisnis tangguh yang sabar.

Dalam berbisnis, kesucian hati Muhammad menjadikan pegangan bagi pemikiran dan tindakan yang dilakukan selanjutnya. Dengan selalu menjaga hati dan menghilangkan prasangka buruk, maka beliau mampu berpikir dengan jernih pula. Menjaga kesucian hati mutlak diperlukan bagi seorang pebisnis tangguh. Jangan hanya kakrena cerita dari orang lain lalu kita menjadi berprasangka buruk terhadap saingan kita. Apalagi kalau prasangka buruk tersebut terjadi pada rekanan atau bahkan karyawan kita. Sungguh sia-sia waktu yang kita gunakan untuk menuruti prasangka yang belum tentu benar adanya.

Beberapa cara menghilangkan pikiran dan hati yang kotor :

  • Ikhlas

Keikhlasan hati dan pikiran membuat diri kita terhindar dari segala pikiran dan hati yang buruk. Ikhlas bukan berarti tidak berbuat apapun, namun ikhlas adalah menerima konsekuensi dari apa yang kita perbuat sebelumnya.

  • Zikir

Pebisnis yang mengikuti majelis zikir merasakan adanya perbedaan di dalam penerimaan mereka tentang hakikat kebahagiaan. Mereka merasa justru dengan aktif berzikir maka bisnisnya menjadi lancar karena hatinya selalu jernih.

  • Shalat Malam

Shalat malam merupakan sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT yang bisa kita lakukan setiap hari. Dengan mencoba selalu ingat pada-Nya maka kita sangat berharap agar Dia juga mau membimbing jalan kita supaya  tetap dalam kebaikan. Membimbing hati dan pikiran kita supaya penuh dengan kejernihan dalam berpikir, berbicara, dan bertindak.

Setelah kita memiliki hati yang jernih , maka tugas selanjutnya adalah memanifestasikan kejernihan hati tersebut ke dalam pikiran. Pikiran memuat niat yang terkandung dalam benak seseorang untuk berbuat sesuatu. Ketika hati kita telah jernih dalam menjalankan bisnis yang tengah dirintis atau bahkan sudah berjalan, maka selanjutnya kita landasi bisnis tersebut dengan niat yang ikhlas. Niat hanya mencari ridha Allah semat, bukan niat untuk berfoya-foya apalagi ingin membangga-banggakan diri di depan orang lain.

Rasulullah Muhammad SAW tidak pernah sedikit pun memiliki pikiran buruk. Bahkan ketika berhadapan dengan orang-orang munafik pun beliau tetap sabar, tidak menghadapinya dengan kekerasan.

Langkah selanjutnya adalah menjaga pembicaraan. Rasulullah SAW memang manusia yang sempurna, beberapa hal penting yang perlu kita ketahui dalam ucapan dan pembicaraan beliau adalah :

  • Bicaranya fasih, tidak tersendat-sendat
  • Ucapannya jelas, selalu disampaikan pada kesempatan dan tempat yang paling tepat
  • Lancar dan jernih kata-katanya
  • Jelas pengucapan dan maknanya sangat mendalam
  • Logat yang sedikit tertahan, tidak berapi-api
  • Menyisipkan kata-kata yang bermakna luas
  • Mengkhususkan pada penekanan-penekanan hukum
  • Berlogat dan berbahasa seperti yang diajak bicara, sehingga menarik untuk didengar
  • Kekuatan berbicara seseorang yang beradab, tidak menyinggung, berbudi pekerti luhur.

 

Dengan mengetahui kaidah-kaidah  berbicara seperti Rasulullah, kita akan bisa diterima berbisnis dengan siapapun dan dimanapun berada. Berbisnislah dengan siapapun haruslah didasari dengan niat baik, pikiran jernih, dan tutur kata yang sopan.

Bila kita telaah dari tindakan yang diambil oleh Muhammad SAW dalam menghadapi para kaum munafik, maka kita bisa mencontohnya untuk bertindak sebagai berikut :

  • Membiarkan kaum munafik tersebut, membiarkan berarti tidak terlalu dekat dengan mereka dan tidak mempercayai apa yang mereka katakan.
  • Berhati-hati terhadap pujian yang terlalu manis.
  • Mendekati mereka yang amanah.
  • Menjaga perkataan, berarti menjaga lidah dan segala yang keluar dari bibir kita.

 

Rasulullah bukanlah seseorang yang tak terjangkau, pemikirannya yang tawadhu begitu jauh dari sifat sombong. Beliau menyatu dalam setiap sendi kehidupan umat muslim. Tindakan yang dilakukan oleh rasul dalam keseharian sama dengan umat pada umumnya. Beliau memberi contoh bagaimana hidup dengan sewajarnya, hidup yang selalu berpegang teguh pada Al-Quran dan Hadits. Beliau bukanlah seorang pemimpin yang sombong, yang takut kewibawaannya hilang ketika harus bersama orang papa. Inilah suatu tindakan yang mencerminkan kejernihan hati dan pikiran beliau.

Dalam berbisnis, Muhammad SAW adalah seorang yang paling jujur, paling adil, peling suka memaafkan, dan lapang dada. Bisnis yang dijalaninya tidak terlepas dari sentuhan akhlak yang mulia, budi pekerti luhur seorang utusan Allah.

Inilah hal penting yang perlu untuk diteladani, menjalankan bisnis dengan santun dan sentuhan akhlak yang mulia. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menjalankan kesantunan dalam berbisnis :

  • Menghormati rekan kerja

Hormat kepada rekan kerja adalah saling memahami tugas masing-masing. Berkomitmen terhadap tugas yang telah dibagi, dan membantu sebisa mungkin ketika mereka memerlukan.

  • Menghargai anak buah

Apabila kita ingin mereka menghargai kita maka sebaliknya kita juga berusaha semaksimal mungkin untuk menghargai mereka. Memberikan contoh yang baik, memberikan pengarahan yang mendidik, justru akan membuat mereka nyaman.

  • Melayani pelanggan

Melayani di sini tentu harus di artikan sebagai suatu hal yang positif. Memberikan barang yang sesuai dengan keterangan awal,merupakan salah satu jenis pelayanan yang baik kepada para pelanggan tersebut.

  • Tidak mencela seseorang

Mencela berarti berkata kasar, bertindak kasar, dan menjatuhkan kewibawaan seseorang di hadapan orang lain. Dengan berkata lemah lembut, bukan berarti kita tidak tegas. Justru ketegasan yang disampaikan dengan sabar dan baik akan memperoleh hasil luar biasa dalam pencapaian sukses seseorang.

  • Tidak menghina orang lain

Membatasi diri untuk tidak menghina orang lain bisa dicapai dengan cara-cara berikut :

  • Selalu berkaca akan kekurangan diri sendiri.
  • Bersyukur atas apa yang telah dilimpahkan oleh-Nya.
  • Dapat menerima segala kelebihan dan kekurangan orang lain.
  • Tidak mencari-cari kesalahan seseorang

Agar kita tidak terlalu mudah untuk mencari-cari kesalahan orang lain maka ada hal-hal yang perlu untuk dicermati :

  • Introspeksi diri
  • Menerima konsekuensi atas apa yang telah kita lakukan
  • Sabar

 

Satu hal yang banyak dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad SAW terhadap kita para umat muslim yaitu kesabaran. Beliau sungguh merupakan orang yang paling sabar, paling cepat ridha, dan suka memanfaatkan kesalahan orang lain.

 

  1. Kejujuran, Tanggung Jawab dan Komitmen

Dalam menjalankan usaha dan  bisnis apa pun, perlu kiranya kita memperhatikan hal-hal yang berhubungan dengan kejujuran. Kejujuran merupakan kunci pokok bahwa seseorang tersebut dinilai dapat dipercaya oleh orang lain.

Kakek dan paman Rasulullah mengajarkan kepada beliau tentang integritas, yaitu mencakup beberapa hal yang menjadi contoh dalam kehidupan sehari-hari Muhammad SAW :

  • Belajar bertanggung jawab
  • Belajar Berdisiplin
  • Jujur

Dalam berbisnis kita yang terbiasa bertindak jujur akan menjalaninya dengan tenang. Jujur akan membawa kitamenjadi orang yang bisa dipercaya, baik oleh kolega, rekanan, pelanggan, maupun oleh kompetitor. Bisnis pun akan maju dan tak ada yang perlu dikhawatirkan di kemudian hari. Karena tidak ada yang kita tutupi dan tidak ada pula yang harus kita sembunyikan.

  • Sederhana

Kesederhanaan berarti berbagi dengan orang miskin. Tidak memandang rendah dan hina kepada mereka. Selalu mawas diri, dan menempatkan sesuatu  dengan adil. Unsur dari  kesederhanaan  yang bisa kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari :

  • Hemat
  • Bersyukur
  • Rendah hati
  • Kerja keras

Kerja keras adalah mengerjakan sesuatu sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepada kita. Dengan bekerja keras maka perasaan kekurangan akan musnah. Kita juga bisa lebih menghargai segala yang kita capai.

  • Mandiri

Tidak bergantung kepada orang lain secara berlebihan.

  • Adil

Bertanggung jawab, menempatkan sesuatu pada yang seharusnya, dan menjawab pertanyaan rekan kerja dengan sabar, serta tidak membeda-bedakan antara rekan bisnis maupun anak buah.

  • Berani

Dengan keberanian maka kita bisa berinovasi, mencari peluang pasar yang lebiih menjanjikan, dan berbisnis dengan amanah. Bayangkan kalau kita selalu takut melakukan hal yang memang diperlukan, maka bisnis kita pun tidak bisa berkembang dengan pesat. Namun , sekali lagi keberanian harus dilandasi oleh niat Lillahita’alla. Keberanian bukan semata menunjukkan keunggulan diri pada sesama manusia, karena hal tersebut tidak akan ada artinya.

  • Peduli

Sebuah nilai kemanusiaan yang sangat jarang dimiliki oleh seorang pebisnis sukses. Kita perlu untuk membiasakan diri mengulurkan tangan justru pada saat kita sendiri juga tidak berlebihan. Kita harus pandai membangun rasa persaudaraan, tenggang rasa, dan penuh empati. Kita harus mengetahui kapan kita harus memberikan ucapan selamat atau berbela sungkawa atas suatu kejadian yang menimpa rekan kita.

 

  1. Bisnis-bisnis Nabi

Telah banyak kita ulas pada pembahasan sebelumnya bahwa perlu adanya sifat-sifat luhur yang kita contoh dari Rasulullah Muhammad SAW agar tercapainya keseimbangan hidup. Dalam hal ini juga berarti tercapainya kesuksesan dalam bisnis yang akan, sedang, maupun tengah kita rintis dan jalani bersama pasangan, rekan,dan berbagai komponen lainnya. Pada zaman Rasulullah SAW, beliau menjalankan bisnis perdagangan. Kalau istilah sekarang bisalah kita samakan dengan menjalankan bisnis ekspor-impor.

Rasulullah tidak memproduksi barang, beliau membeli barang atau hasil bumi produksi penduduk Mekkah untuk didagangkan di luar negeri. Setelah beliau sampai di negara tujuan, kemudian dibelinya barang dan hasil bumi negara setempat untuk dijual kembali di Mekkah. Sebuah prinsip dagang yang sangat menguntungkan, karena ketika berangkat tujuannya berdagang begitu pula pulang kembali membawa barang dagangan.

Berikut beberapa poin sukses dari bisnis  Muhammad SAW :

Ikhlas dan jujur merupakan kesatuan utuh yang mutlak diperlukan dalam memulai dan menjalani bisnis apapun.

Menjalankan bisnis dengan ikhlas adalah menerima segala hal baik maupun buruk  yang dihadapi dalam berbisnis tersebut. Adanya sikap lapang dada di dalam menjalani kehidupan sesuai dengan sunatullah inilah yang membuat diri seseorang mampu menjadi pebisnis sukses tanpa melakukan hal-hal yang tercela. Menjalani bisnisnya tanpa merasa terbebani, tanpa mengeluh, dan tanpa secuil pun merasa bahwa Allah telah berlaku tidak adil kepadanya.

Berbaik sangka kepada Allah SWT akan segala pertolongannya, juga berbaik sangka kepada manusia lain yang tengah berhubungan dengan kita. Melihat kelebihan rekanan, bawahan, dan bahkan saingan kita dengan hati yang  jernih. Agar kita bisa mengambil pelajaran berharga dari kesemua itu. Dengan sikap ikhlas maka secara tidak langsung kita juga berarti penuh rasa syukur ke hadirat Allah SWT atas segala hal yang terjadi dan atas segala nikmat serta karunia-Nya kepada kita dan kehidupan kita bersama keluarga, istri/suami, anak-anak, serta saudara dan teman-teman kita.

Manifestasi sikap ikhlas serta jujur di dalam perdagangan yang dilakukan oleh Rasulullah Muhammad SAW yaitu

  1. Mengutamakan adanya kejujuran dalam berdagang

Menunjukkan barang dagangan kita dengan sesungguhnya merupakan salah satu cara bersikap jujur dalam berbisnis. Kita katakan hal yang sebenarnya, segala kebaikan barang dagangan kita dan juga lengkap dengan kelemahannya. Semuanya agar terjadi rasa ikhlas pada diri pelanggan apabila di kemudian hari ada cacat atau ketidaksempurnaan barang yang kita tawarkan.

Dalam menjalankan bisnis apa pun satu kata yang harus kita pegang dalam menawarkan dan membeli barang dagangan yaitu “JUJUR”. Sikap terhormat tersebut membuat semua orang yang berhubungan dengan kita akan merasa senang dan percaya. Dengan memiliki sifat yang jujur, maka bisnis yang kita jalankan  dapat dipercayai, dampaknya di kemudian hari sangatlah besar. Dengan banyaknya orang yang percaya, maka mudah bagi kita untuk mengembangkan sayap ke mana pun melangkah.

Kepercayaan adalah hal utama yang perlu dipegang oleh setiap pebisnis, karena kepercayaan itu mahal harganya dan sulit untuk dicari gantinya. Apabila kepercayaan terhadap bisnis yang kita jalankan atau bahkan kepercayaan terhadap diri pribadi kita telah pudar maka yang ada hanyalah penyesalan. Menyesal kemudian sungguh tidak akan bermanfaat karena kita akan ditinggalkan oleh pelanggan, rekanan, dan bahkan orang kepercayaan. Rasulullah bersabda tentang kejujuran di dalam berdagang atau berbisnis ini :

“Tidak dibenarkan seorang muslim menjual suatu jualan yang mempunyai aib, kecuali ia menjelaskan aibnya.” (HR. Al Quzwani)

Cara bisnis nabi menggunakan esensi dari pelayanan tanpa penipuan. Beliau tidak pernah menyembunyikan keadaan barang dagangan yang dibawanya. Kalau baik ya dikatakan baik, kalaupun ada kekurangan ya dijelaskan disebelah mana kekurangannya.

Menjalankan perdagangan dengan jujur dan berkata apa adanya lebih membuat kita menjadi tenang. Perasaan tenang inilah yang akan terpancar dari raut muka kepada para pelanggan. Dengan menunjukkan raut muka tenang, berseri, dan jujur maka pelanggan secara otomatis akan tertarik dengan apa yang kita tawarkan.

 

  1. Tidak melakukan sumpah palsu

Kadang kita melihat seorang pebisnis bersumpah kepada rakanannya bahwa apa yang dilakukannya sudah transparan. Perkataan sumpah tersebut  penuh dengan risiko, risiko kalau apa yang kita katakan berbeda dari yang sebenarnya terjadi.

Rasulullah sangat tidak suka kepada kepalsuan dan beliau pun melarang para pelaku bisnis melakukan sumpah palsu, seperti sabda Rasulullah Muhammad SAW berikut :

“dengan melakukan sumpah palsu, barang-barang memang terjual tetapi tidak berkah.”(HR. Bukhari).

Bahkan dalam hadits riwayat Abu Zar, Rasulullah SAW mengancam dengan azab yang pedih bagi orang yang bersumpah palsu dalam bisnis, dan Allah tidak akan memedulikannya nanti di hari kiamat (HR. Muslim).

Namun, yang terlihat sekarang justru praktik sumpah palsu ini dipakai sebagai daya pikat bagi seseorang yang ingin barang dagangannya cepat terjual. Sumpah palsu juga dipakai oleh mereka yang tertuduh menyelewengkan jabatan, mereka yang membuang limbah ke sungai, dan perilaku buruk lainnya.

Konsumen sekarang sangat pandai mebedakan mana yang benar dan mana yang penuh kepalsuan. Percayalah, tidak mudah untuk menarik pelanggan atau kolega bisnis dengan perkataan sumpah. Lebih baik menunjukkan komitmen dan kerjasama yang baik dan saling menguntungkan dengan mereka. Dengan adanya komitmen, maka mereka yang berhubungan kerja dengan kita tidak perlu lagi mencari kepastian. Mereka akan lebih percaya dengan apa yang dilihat dan bukannya yang didengarkan.

 

  1. Tidak melakukan Najsya

Yang dimaksud dengan Najsya adalah bersekongkol dengan pembeli lainnya untuk menawar harga dengan tinggi agar ada pembeli lainnya lagi yang mau benar-benar membeli dengan harga yang tinggi tadi. Contohnya kita memiliki toko komputer. Ada seorang pelanggan menawar harga laptop terbaru di toko kita, kemudian datanglah teman kita yang berpura-pura sebagai pembeli juga. Teman tersebut menawar dengan harga yang jauh lebih tinggi sehingga penawar pertama akhirnya ikut membeli dengan harga yang telah disepakati antara kita dengan teman kita yang menyamar tadi. Sungguh jangan pernah dilakukan persekongkolan seperti ini, berdaganglah dengan wajar seperti yang telah dicontohkan oleh Rasulullah dalam setiap tindak tanduk beliau. Meskipun pelanggan tidak mengerti tentang akal licik persekongkolan kita namun percayalah Allah SWT Maha Mengetahui semua yang dilakukan oleh makhluknya.

 

  1. Tidak menjelek-jelekkan bisnis atau barang dagangan orang lain

Mengunggulkan bisnis yang kita miliki sehingga memikat investor untuk melakukan permodalan tidak disalahkan. Justru cara tersebut sangat bermanfaat bagi perkembangan bisnis kita pada masa mendatang. Hanya saja keunggulan yang kita sebutkan tadi harus benar-benar terjadi dan bukan isapan jempol belaka. Janganlah sekali-kali menjelek-jelekkan bisnis atau dagangan orang lain sehingga pembeli memutuskan untuk membeli barang kita, karena hal tersebut bukan hanya tidak disukai oleh Allah dan rasul-Nya namun juga tidak disukai oleh sesama manusia yang memiliki bisnis atau barang dagangan serupa dengan milik kita.

Rasulullah Muhammad SAW bersabda :

“Janganlah seseorang di antara kalian menjual dengan maksud untuk menjelekkan apa yang dijual oleh orang lain.”(HR. Muttafaq ‘alaih)

Berdaganglah dengan gentle, berbisnislah dengan kepribadian yang baik dan sopan. Dengan menjaga hati, pikiran, pembicaraan, dan perilaku kita dalam berbisnis Insya Allah selalu saja ada pertolongan dari-Nya yang kadang kala tidak pernah kita duga sebelumnya. Oleh karena itu, lebih berhati-hati dalam berpikir, berkata, dan bertindak menjadi kunci mulusnya bisnis yang kita lakukan.

 

  1. Tidak melakukan Ihtikar

Melakukan ikhtiar dalam berbisnis itu sangat dianjurkan, namun kalau melakukan ihtikar itu yang tidak diperbolehkan. Perbedaan mencolok terdapat di antara kedua kata tersebut. Kalau ikhtiar berarti usaha yang kita lakukan, jadi kita berusaha semaksimal mungkindalam menjalankan bisnis yang kita gawangi. Namun kalau ihtikar diartikan sebagai menumpuk dan menyimpan barang dalam masa tertentu, dengan tujuan agar harganya suatu saat menjadi naik dan keuntungan besar pun diperoleh.

Di Indonesia ihtikar diistilahkan dengan menimbun barang. Misalnya ketika kita tahu bahwa harga beras akan naik, maka beras kita sembunyikan di gudang. Penjualan beras dibatasi sehingga ketika harganya benar-benar naik maka kita memperoleh hasil yang banyak. Ihtikar biasa juga dilakukan oleh penjual BBM.

rasulullah melarang keras perilaku bisnis semacam itu. Cara berbisnis seperti ini merugikan pelanggan, dan pada akhirnya akan merugikan diri kita sendiri, karena semua orang akan tahu bahwa kita suka menyimpan barang sehingga nantinya harganya menjadi naik beberapa kali lipat dan barulah dijual. Dengan mengetahui perangai kita yang buruk seperti itu, maka pelanggan lama-kelamaan enggan membeli barang dagangan kita.

Berbisnislah dengan wajar, kalau memeang pembeli merasa cocok dan tertarik maka akadnya sudah jelas yaitu kita menjual dan dia membeli. Tidak ada batasan keuntungan yang boleh kita tetapkan, nemun dengan mengambil keuntungan secukupnya justru barang dagangan kita menjadi lebih laku dan omzetnya juga semakin besar.

 

  1. Takaran, ukuran, dan timbangan yang benar

Mengurangi takaran, ukuran, maupun timbangan tidak diperbolehkan dalam ajaran Islam. Hal tersebut memicu adanya sikap tidak jujur, seenaknya sendiri, dan merugikan orang lain. Mudharat pertama yang akan menimpa kita tentu saja kita berdosa karena melakukan hal yang dilarang oleh Allah SWT. Yang berikutnya adalah jatuhnya kepercayaanterhadap diri dan bisnis kita.

Pengurangan terhadap takaran maupun timbangan merupakan permasalahan hati yang keruh, tidak dapat lagi berpikir dengan jernih. Sulit untuk mengubah kebiasaan seseorang yang suka berbisnis dengan nakal seperti ini. Perlu waktu, kesempatan, dan izin dari Allah SWT untuk mengubah ke arah yang lebih baik. Oleh karenanya hal-hal semacam ini memang harus mulai dibiasakan semenjak kecil sehingga ketika dewasa, anak-anak kita akan menjadi seseorang yang memiliki integritas dan martabat.

Lebih baik kita berkata jujur kalau harga barang tersebut telah naik. Mungkin satu dua kali orang akan memilih membelidi toko yang belum menaikkan harga. Namun, ketika mereka tahu bahwa takaran yang kita pakai tersebut pas dan tidak dikurangi maka lambat laun para pelanggan tersebut akan kembali kepada kita.

 

  1. Tidak monopoli

Monopoli berarti keinginan untuk mmenguasai sesuatu dengan berbagai cara. Monopoli biasanya terdapat dalam sistem ekonomi kapitalis. Perekonomian kapitalis melegitimasikan monopoli dan oligopoli.

Contoh sederhana adalah eksploitasi (penguasaan) individu tertentu atas hak milik sosial, seperti air, udara dan tanah serta kandungan isinya seperti barang tambang dan mineral. Individu tersebut mengeruk keuntungan secara pribadi, tanpa memberi kesempatan kepada orang lain. Ini dilarang Islam. Kalau sesuatu tersebut dilarang di dalam Islam pastilah ada mudharat yang sangat krusial termasuk monopoli yang bisa merusak pasar dan tatanan persaingan antar pebisnis atau pengusaha pada umumnya.

Monopoli memang terasa menguntungkan bagi seorang pebisnis, namun di satu sisi keberadaannya merugikan masyarakat di sekitar. Inilah yang selalu diingatkan dalam perekonomian Islam. Perekonomian yang didasari oleh kejernihan hati. Tidak ingin merugikan salah satu atau kedua belah pihak, pembeli dan penjual. Monopoli bisa dilakukan oleh negara atas sebesar-besarnya kepentingan rakyat tentunya. Bukan untuk kepentingan  pribadi yang semakin menambah kesengsaraan masyarakat.

 

  1. Tidak boleh melakukan bisnis dalam kondisi eksisnya bahaya (mudharat) yang dapat merugikan dan merusak kehidupan individu dan sosial

Melakukan bisnis di saat bahaya misalnya dengan melakukan jual-beli saham jepang pada hari kedua setelah serangan tsunami. Bisa juga kita contohkan dengan impor tembak ketika situasi politik sedang tidak menentu. Bisa juga diartikan sebagai tidak menjual produk halal kepada perusahaan yang akan mengolahnya menjadi barang haram. Misalnya menjual anggur pada perusahaan minuman keras, atau contoh lainnya. Esensi hubungan sosial yang justru harus dijaga dan diperhatikan secara cermat.

 

  1. Perdagangan harus dilakukan dengan ikhlas antara kedua belah pihak yang berdagang, baik pembeli atau penjual

Perdagangan atau bisnis yang dilakukan diharuskan untuk sama-sama ikhlas baik bagi penjual maupun bagi pembeli. Keikhlasan disini menunjuk pada diketahuinya sebuah bisnis dengan benar baik sisi baik maupun buruknya. Misalnya mengetahui bahwa membeli telur berarti bersiap dengan kemungkinan untuk busuk apabila kita kurang teliti memilih.

Tidak boleh kita membeli barang dengan memaksa si penjual atau menjual barang dengan memaksa si pembeli. Perhatikan dengan saksama segala transaksi yang akan dilakukan, buatlah akad jual-beli yang benar, maka Insya Allah semua akan menjadi berkah.

 

  1. Bebas dari unsur RIBA

Riba adalah mengambil atau menerima bunga dari uang yang kita tanamkan atau kita simpan pada sebuah lembaga keuangan tertentu atau kepada seseorang.

Allah berfirman dalam QS. Al Baqarah ayat 275, yang artinya :

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba[174] tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila[175]. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual-beli itu sama dengan riba, padahal Allah SWT telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang Telah sampai kepadanya larangan dari tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang Telah diambilnya dahulu[176] (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal didalamnya.”

Keterangan :

[174] Riba itu ada dua macam : Nasiah dan Fadhl. Riba nasiah ialah pembayaran lebih yang disyaratkan oleh orang yang meminjamkan. Riba Fadhl ialah penukaran suatu barang dengan barang yang sejenis, tetapi lebih banyak jumlahnya karaena orang yang menukarkan mensyaratkan demikian, seperti penukaran emas dengan emas, padi dengan padi, dsb. Riba yang dimaksud dalam ayat ini riba nasiah yang berlipat ganda yang umum terjadi dalam masyarakat Arab zaman Jahiliah.

[175] Maksudnya : orang-orang yang mengambil riba tidak tenteram jiwanya seperti orang kemasukan setan.

[176] Riba yang sudah diambil (dipungut) sebelum turun ayat ini, boleh tidak dikembalikan.

Bisnis yang dijalankan harus mendasarkan pada hubungan dengan pelanggan yang dikenal dengan istilah saat ini Customer Relationship Management atau istilah yang lebih baru Customer Experience Management yang tidak hanya memahami kebutuhan dan keinginan pelanggan tetapi juga memahami yang dipikirkan pelanggan.

Strategi dagang Rasulullah Muhammad SAW meliputi berpenampilan menawan, membangun relasi, mengutamakan keberkahan, memahami pelanggan, mendapatkan kepercayaan, memberikan pelayanan hebat, berkomunikasi, menjalin hubungan yang bersifat pribadi, tanggap terhadap permasalahan, menciptakan perasaan satu komunitas, berintegrasi, menciptakan keterlibatan dan menawarkan pilihan yang saling melengkapi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DASAR-DASAR SYARIAH MARKETING


1.1 Dari Era Rasional ke Spiritual

Banyak yang mengatakan pasar syariah adalah pasar yang emosional (emotional market) sedangkan pasar konvensional adalah pasar yang rasional (rational market). Maksudnya orang tertarik untuk berbisnis pada pasar syariah karena alasan-alasan keagamaan (dlam hal ini agama Islam) yang lebih bersifat emosional, bukan karena ingin mendapatkan keuntungan financial yang bersifat rasional. Sebaliknya, pada pasar konvensional atau non-syariah, orang ingin mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya, tanpa terlalu peduli apakah bisnis yang digelutinya tersebut mungkin menyimpang atau malah bertentangan dengan ajaran agama (Islam).

Seorang kiai yang juga pakar ekonomi syariah dan anggotaDewan Pengawas Syariahdari beberapa bank dan asuransi syariah, K.H.Dr.Didin Hafidhudin mengatakan bahwa orang-orang yang ada dipasar syariah justru sebenarmnya sangat rasional dalam menentukan pilihan. Beliau juga mengatakan, orang yang berada dalam kategori pasar emosional biasanya lebih kritis, lebih teliti dan sangat cermat dalam membandingkan dengan bank atau asuransi konvensional yang selama ini digunakannya sebelum menentukan pilihannya ke pasar syariah. Beliau menambahkan, “Hitung-hitungan orang seperti ini malah bisa sampai ke hitung-hitungan amal akhirat” katanya.

Pernyataan ini ada benarnya melihat pendapat seorang praktisi perbankan syariah tentang dikotomo pasar emosional dan pasar rasional, Budi Wsakseno mengatakan, bahwa pemahaman dikotomi antara nasabah rasional dan nasabah emosional adalah keliru. Cara berpikir seperti itu, katanya, dilandasi oleh teori pemasaran konvensional yang berpaham sekuler; segala hal yang berlandaskan cara berpikir keagamaan serta-merta akan dianggap sebagai sesuatu yang tidak rasional.

Memang praktisi bisnis dan pemasaran sebenarnya bergeser dan mengalami transformasi dari level intelektual (rasional) ke emosional dan akhirnya ke pasar spiritual. Pada akhirnya konsumen akan mempertimbangkan kesesuaian produk dan jasa terhadap nilai-nilai spiritual yang diyakininya.

Dilevel Intelektual (rasional), pemasar menyikapi pemasaran secara fungsional-teknikal dengan menggunakan sejumlah tools pemasaran, seperti segmentasi, targeting, positioning, marketing-mix, branding dan sebagainya. Kemudian di level emosional, kemampuan pemasar dalam memahami emosi dan perasaan pelanggan menjadi penting. Disini pelanggan dilihat sebagia manusia seutuhnya, lengkap dengan emosi dan perasaannya.

Spiritual marketing merupakan tingkatan tertinggi. Orang tidak semata-mata menghitung untung atau rugi, tidak terpengaruh lagi dengan hal yang bersifat duniawi. Panggilan jiwalah yang mendorongnya, karena didalmnya terkandung nilai-nilai spiritual.

Selain itu dalam syariah marketing, bisnis yang disertai keikhlasan semata-mata hanya untuk mencari keridhaan Allah, maka seluruh bentuk transaksinya insya Allah menjadi ibadah dihadapan Allah. Ini akan menjadi bibit dan modal dasar baginya untuk tumbuh menjadi bisnis yang besar, yang memiliki spiritual brand, yang memiliki charisma, keunggulan, dan keunikan yang tak tertandingi. Seperti kata Al-Quran, “Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletaj didataran tinbggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu akan menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.”

1.2 Spiritual Marketing sebagai Jiwa Bisnis

Stephen R. Covey penulis buku legendaris, The 7 Habit of Highly Effective People, di penghujung karirnya dia menerbitka buku baru, The 8th habit: From Effectiveness to Greatness, menyimpulkan bahwa factor spiritual merupakan kunci terakhir yang harus dimiliki seorang pemimpin dalam suatu perusahaan.Kita perlukan kepemimpinan spiritual dalam mengelola suatu bisnis, terlepas dari mana sumber spiritual tersebut.

Suatu bisnis, sekalipun bergerak dalam bisnis yang berhubungan dengan agama, jika tidak mampu memberikan kebahagaiaan kepada semua pihak, berarti belum melaksanakan spiritual marketing. Sebaliknya jika dalam berbisnis kita sudah mampu memberikan kebahagiaan, menjalankan kejujuran dan keadilan, sesungguhnya kita telah menjalankan spiritual marketing, apapun bidang yang kita geluti. Dalam bisnis travel haji misalnya, sekalipun mengurusi orang yang sedang menjalankan ibadah haji, jika dalam pengelolaannya terdapat penyimpangan-penyimpangandari segi fasilitas dan akomodasi setelah di Tanah Suci, tidak sesuai dengan yang dijanjikan dan dipromosikan sebelumnya, berarti sesungguhnya bisnis ini tidak berjalan dengan konsep bisnis syariah. Iapun belum menjalankan spiritual marketing.

1.3 Karakteristik Syariah Marketing

Kata “syariah” (al-syari’ah) telah ada dalam bahasa Arab sebelum turunnya Al-Quran. Kata yang semakna dengannya juga ada dalam Taurat dan Injil. Kata syari’at dalam bahasa Ibrani disebutkan sebanyak 200 kali, yang selalu mengisyaratkan pada makna “kehendak Tuhan yang diwahyukan sebagai wujud kekuasaan-Nya atas segala perbuatan manusia.”

Dalam Al-Quran kata syari’ah disebutkan hanya sekali dalam Surah Al-Jatsiyah, “Kemudian Kami Jadikan kamuberda didalam suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kalu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui” (QS Al-Jatsiyah: 18).

Kemudian kata itu muncul dalam bentuk kata kerja dan turunnya sebanyak tiga kali ;

Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan_Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, dan apa yang telah kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa…” (QS As-Syura: 13)

Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan (syi’ah) dan jalan” (QS Al-Maidah:48).

Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menetuka (dari Alllah), tentulah merteka telah dibinasakan. Dan sesunggguhnya orang-orang yang zalim ituakan memperoleh azabyang amat pedih” (QS As-Syur: 21).

Kata syariah berasal dari kata syara’a al-syai’a yang berarti ‘menerangkan’ atau ‘menjelaskan sesuatu’. Atau berasal dari kata syir’ah dan syari’ah yang berarti ‘suatu tempat yang dijadikan sarana untuk mengambil air secara langsung sehingga orang yang mengambilnya tidal memerlukan bantuan alat lain’.

Syaikh Al-Qardhawi mengatakan, cakupan dari pengertian syariah menurut pandangan Islam sangatlah luas dan komprehensif (al-syumul). Didalamnya mengandung makna mengatur seluruh aspek kehidupan, mulai dari aspek ibadah (hubungan manusia dengan Tuhannya), aspek keluarga (seperti nikah, talak, nafkah, wasiat, warisan), aspek bisnis (perdagangan, industri, perbankan, asuransi, utang-piutang, pemasaran, hibah), aspek ekonomi (permodalan, zakat, bait, al-maf, fa’I, ghanimah), aspek hukum dan peradilan, aspek undang-undang hingga hubungan antar Negara.

Pemasaran sendiri adalah bentuk muamalah yang dibenarkan dalam Islam, sepanjang dalam segala proses transaksinya terpelihara dari hal-hal terlarang oleh ketentuan syariah.

Maka, syariah marketing adalah sebuah disiplin bisnis strategis yang mengarahkan proses penciptaan, penawaran dan perubahan value dari suatu inisiator kepada stakeholders-nya, yang dalam keseluruhan prosesnya sesuai dengan akad danprinsip-prinsip muamalah (bisnis) dalam Islam.

Ini artinya bahwa dalam syariah marketing, seluruh proses, baik proses penciptaan, proses penawaran, maupun proses perubahan nilai (value), tidak boleh ada hal-hal yang bertentangan dengan akad dan prinsip-prinsip muamalah yang Islami. Sepanjang hal tersebut dapat dijamin, dan penyimoangan prinsip-prinsip muamalah islami tidak terjadi dalam suatu transaksi apapun dalam pemasaran dapat dibolehkan.

Ada 4 karakteristik syariah marketingyang dapat menjadi panduan bagi para pemasar sebagai berikut:

  1. Teistis (rabbaniyyah) : jiwa seorang syariah marketer meyakini bahwa hokum-hukum syariat yang teistis atau bersifat ketuhanan ini adalah yang paling adil, paling sempurna, paling selaras dengan segala bentuk kebaikan, paling dapat mencegah segala bentuk kerusakan, paling mampu mewujudkan kebenaran, memusnahkan kebatilan dan menyebarluaskan kemaslahatan.
  2. Etis (akhlaqiyyah) : Keistimewaan lain dari syariah marketer selain karena teistis (rabbaniyyah) juga karena ia sangat mengedepankan masalah akhlak (moral, etika) dalam seluruh aspek kegiatannya, karena nilai-nilai moral dan etika adalah nilai yang bersifat universalo, yang diajarkan oleh semua agama.
  3. Realistis (al-waqiyyah) : syariah marketer adalah konsep pemasaran yang fleksibel, sebagaimana keluasan dan keluwesan syariah islamiyah yang melandasinya. Syariah marketer adalah para pemasar professional dengan penampilan yang bersih, rapid an bersahaja, apapun model atau gaya berpakaian yang dikenakannya, bekerja dengan mengedepankan nilai-nilai religius, kesalehan, aspek moral dan kejujuran dalan segala aktivitas pemasarannya.
  4. Humanistis (insaniyyah) : keistimewaan syariah marketer yang lain adalah sifatnya yang humanistis universal, yaitu bahwa syariah diciptakan untuk manusia agar derajatnya terangkat, sifat kemanusiaannya terjaga dan terpelihara, serta sifat-sifat kehewanannya dapat terkekang dengan panduan syariah. Syariat islam diciptakan untuk manusia sesuai dengan kapasitasnya tanpa menghiraukan ras, warna kulit, kebangsaan dan status.Hal inilah yang membuat syariah memiliki sifat universal sehingga menjadi syariah humanistis universal.

IMPLEMENTASI SYARIAH MARKETING

2.1 Berbisnis Cara Nabi Muhammad Saw

Muhammad adalah Rasulullah, Nabi terakhir yang diturunkan untuk menyempurnakan ajaran-ajaran Tuhan yang menjadi suri tauladan umat-Nya. Akan tetapi disisi lain Nabi Muhammad Saw juga manusia biasa; beliau makan, minum, berkeluarga dan bertetangga, berbisnis dan berpolitik, serta sekaligus memimpin umat.

Aa Gym dalam salah satu tulisannya, mengatakan bahwa Nabi Muhammad Saw, selain sebagai pedagang yang sukses juga pemimpin agama sekaligus kepala Negara yang sukses. Jarang ada nabi seperti ini.Ada yang hanya sukses memimpin agama, tetapi tidak memimpin sebuah Negara. Maka, sebenarnya kita sudah menemukan figure yang layak dijadikan idola, dan dijadikan contoh dalam mengarungi dunia bisnis.

Nabi Muhammad sebagi seorang pedagang memnberikan contoh yang baik dalam setiap transaksi bisnisnya. Beliau melakukan transaksi secara jujur, adil dan tidak pernah membuat pelanggannya mengeluh, apalagi kecewa.Beliau selalu menepati janji dan mengantarkan barang dagangannya dengan standar kualitas sesuai denganpermintaan pelanggan. Reputasinya sebagai pedagang yang benar dan jujur telah tertanam dengan baik sejak muda. Beliau selalu memperlihatkan rasa tanggung jawab terhadap setiap transaksi yang dilakukan.

2.2 Muhammad sebagai Syariah Marketer

Muhammad buka saja sebagai seorang pedagang, beliau adalah seorang nabi dengan segala kebesaran dan kemuliannya. Nabi Muhammad sangat menganjurkan umatnya berbisnis (berdagang), karena berbisnis dapat menimbulkan kemandirian dan kesejahteraan bagi keluarga tanpa tergantung atau menjadi beban orang lain. Beliau pernah betkata, “Berdaganglah kamu, sebab dari sepuluh bagian penghidupan, sembilan diantaranya dihasilkan dari berdagang.” Al-Quran juga memberi motivasi untuk berbisnis pada ayat berikut:

“Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezeki hasil perniagaan) dari Tuhanmu.” (QS Al-Baqarah : 198)

“Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS Al-Baqarah : 275)

2.3 Muhammad sebagai Pedagang Profesional

Dalam transaksi bisnisnya sebagai pedagang professional tidak ada tawar menawar dan pertengkaran antara Muhammad dan para pelanggannya, sebagaimana sering disaksikan pada waktu itudi pasar-pasar sepanjang jazirah Arab. Segala permasalahan antara Muhammad dengan pelanggannya selalu diselesaikan dengan adil dan jujur, tetapi bahkan tetap meletakkan prinsip-prinsip dasar untuk hubungan dagang yang adil dan jujur tersebut.

Disini terlihat bahwa beliau tidak hanya bekerja secara professional, tetapi sikap profesionalisme beliau praktikkan pula ketika telah dilantik menjadi Nabi.Beliau memimpin sahabat-sahabatnya dengan prinsip-prinsip profesionalisme; memberinya tugas sesuai dengan kemampuan dan kapasitas yang dimiliki. Tidak bersifat KKN, semuanya berjalan dengan professional dan tentunya dengan tuntunan Allah.

2.4 Muhammad sebagai Pebisnis yang Jujur

Muhammad benar-benar mengikuti prinsip-prinsip perdagangan yang adil dalam transaksi-transaksinya.Beliau telah mengikis habis transaksi-transaksi dagang dari segala macam praktik yang mengandung unsur penipuan, riba, judi, gharar, keraguan, eksploitasi, pengambilan untung yang berlebihan dan pasar gelap. Beliau juga melakukan standardisasi timbangan dan ukuran, serta melarang orang-orang menggunakan timbangan dan ukuran lain yang tidak dapat dijadikan pegangan standar.

Nabi Muhammad juga mengatakan, “pedagang, pada hari kebangkitan akan dibangkitkan sebagai pelaku kejahatan, kecuali mereka yang bertakwa kepada Allah, jujur, dan selalu berkata benar” (HR Al Tirmidzi, Ibn Majah, dan Al Darimi).

2.5 Muhammad Menghindari Bisnis Haram

Nabi Muhammad melarang beberapa jenis perdagangan , baik karena sistemnya maupun karena ada unsur-unsur yang diharamkan didalamnya. Memperjual-belikan benda-benda yang dilarang dalam Al-Quran adalah haram. AlQuran, misalnya, melarang mengkonsumsi daging babi, darah, bangkai dan alcohol, sebagaimana yang tercantum dalam QS Al-Baqarah:175).

2.6 Muhammad dengan Penghasilan Halal

“Barang yang bersih” berarti sehat dan diperoleh dengan cara yang halal. Karena itu apa yang dihasilkannya pun menjadi halal.

2.7 Sembilan Etika (Akhlak) Pemasar

Ada sembilan etika pemasar, yang akan menjadi prinsip-prinsip bagi syariah marketer dalam menjalankan fungi-fungsi pemasaran, yaitu:

  1. Memiliki kepribadian spiritual (takwa)
  2. Berprilaku bail dan simpatik (Shidq)
  3. Berprilaku adil dalam bisnis (Al-Adl)
  4. Bersikap melayani dan rendah hati (Khidmah)
  5. Menepati janji dan tidak curang
  6. Jujur dan terpercaya (Al- Amanah)
  7. Tidak suka berburuk sangka (Su’uzh-zhann)
  8. Tidak suka menjelek-jelekkan (Ghibah)
  9. Tidak melakukan sogok (Riswah)


MEMBANGUN BISNIS DENGAN NILAI-NILAI SYARIAH

Sifat jujur adalah merupakan sifat para nabi dan rasul yang diturunkan Allah Swt. Nabi dan rasul datang dengan metode (syariah) yang bermacam-macam, tetapi sama-sama menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran.

Ulama terkemuka abad ini Syaikh Al-Qardhawi mengatakan, diantara nilai transaksi yang terpenting dalam bisnis adalah al-amanah (kejujuran). Ia merupakan puncak moralitas iman dan karakteristik yang paling menonjol dari orang yang beriman. Bahkan kejujuran merupakan karakteristik para nabi. Tanpa kejujuran kehidupan agama tidak akan berdiri tegak dan kehidupan dunia tidak akan berjalan baik.

Ada empat hal yang menjadi key success factors (KSF) dalam mengelola suatu bisnis, agar mendapat celupan nilai-nilai moral yang tinggi. Untuk memudahkan mengingat, kita singkat dengan SAFT, yaitu:

1.Shiddiq (benar dan jujur) : jika seorang pemimpin senantiasa berprilaku benar dan jujur dalam sepanjang kepemimpinannya, jika seorang pemasarsifat shiddiq haruslah menjiwai seluruh prilakunya dalam melakukan pemasaran, dalam berhubungan dengan pelanggan, dalam bertransaksi dengan nasabah, dan dalam membuat perjanjian dengan mitra bisnisnya.

2.Amanah (terpercaya, kredibel) : artinya, dapat dipercaya, bertanggung jawab, dan kredibel, juga bermakna keinginan untuk untuk memenuhi sesuatu sesuai dengan ketentuan. Diantara nilai yang terkait dengan kejujuran dan melengkapinya adalah amanah.

3.Fathanah (cerdas) : dapat diartikan sebagai intelektual, kecerdikan atau kebijaksanaan. Pemimpin yang fathanah adalah pemimpin yang memahami, mengerti dan menghayati secara mendalam segala hal yang menjadi tugas dan kewajibannya.

4.Thabligh (komunikatif) : artinya komunikatif dan argumentatif. Orang yang memiliki sifat ini akan menyampaikannya denga benar (berbobota0 dan dengan tutur kata yang tepat (bi al-hikmah). Berbicara dengan orang lain dengan sesuatu yang mudah dipahaminya, berdiskusi dan melakukan presentasi bisnis dengan bahsa yang mudah dipahami sehingga orang tersebut mudah memahami pesan bisnis yang ingin kita sampaikan.

Keempat KSF ini merupakan sifat-sifat Nabi Muhammad Saw yang sudah sangat dikenal tapi masih jarang diimplementasikan khususnya dalam dunia bisnis.

PEMASARAN DALAM PERSPEKTIF SYARIAH

4.1 Sekilas tentang Sustainable Marketing Enterprise (SME)

Ketertarikan untuk membahas syariah marketing ini adalah karena adanya perubahan lanskap perekonomian dunia. Selama puluhan tahun, dunia hanya mengenal system ekonomi kapitalisme. Namun pada akhir 1970-an dan wal 1980-an, system ekonomi Islam atau yang dikenal juga sebagi system ekonomi syariah mulai bermunculan di Negara-negara Timur Tengah.

Dalam model SME, konsep pemasaran disini tidaklah berarti pemasaran sebagi sebuah fungsiatau departemen dalam perusahaan, tetapi bagaimana kita bisa melihat pasar secara kreatif dan inovatif. Pemasaran bukanlah hanya seperti anggapan orang, yaitu study untuk menjual. Atau seperti yang dipahami beberapa kalangan hanyalah marketing mix semata, yaitu pembuatan strategi untuk produk (product), harga (price), tempat (place) atau promosi (promotion). Namun pengertian terhadap pemasaran itui sendiri cakupannya lebih luas. Pemasaran saya definisikan sebagai sebuah disiplin bisnis strategis yang mengarahkan proses penciptaan, penawaran, dan perubahan values dari satu inisiator kepada stakeholdersnya. Seperti yang saya tukis dalam buku Rethinking Marketing : Sustainable Marketing Enterprise in Asia, inspirasi menyangkut sebuah mimpi (dream), kultur menyangkut keptribadian (personality), dan institusi menyangkut aktivitas (activity). Nah agar sukses kita harus mempunyai impian yang akan menjadi driver dan konsisten dalam melakukan aktivitas.

Ada 17 prinsip syariah marketing sebagai berikut:

Prinsip 1 : Information Technology Allows Us to be Transparent (change)

Prinsip 2 : Be Respectful to your Competitors (Competitor)

Prinsip 3 : The Emergence of Customers Global Paradox (Cuctomer)

Prinsip 4 : Develop A Spiritual-Based Organization (Company)

Prinsip 5 : View Market Universally (Segmentation)

Prinsip 6 : Target Costumer’s Heart and Soul (Targeting)

Prinsip 7 : Build A Belief System (Positioning)

Prinsip 8 : Differ Yourself with A Good Package of Content and Context (Differentiation)

Prinsip 9 : Be Honest with Your 4 Ps (Marketing-mix)

Prinsip 10 : Practice A Relationship-based Selling (Selling)

Prinsip 11 : Use A spiritual Barand Character (Brand)

Prinsip 12 : Services Should Have the Ability to Transform (Service)

Prinsip 13 : Practice A reliable Business Process (Process)

Prinsip 14 : Create Value to Your Stakeholders (Scorecard)

Prinsip 15 : Create A Noble Cause (Inspiration)

Prinsip 16 : Develop An Ethical Corporate Culture (Culture)

Prinsip 17 : Measurement Must Be Clear and Transparent (Institution)

Ketujuh belas prinsip tersebut dibuat berdasarkan pengamatan penulis terhadap peran pemasaran untuk pasar syariah.

Keempat prinsip pertama menjelaskan lanskap bisnis syariah (4C-Diamond) yang terdiri dari change, competitor, customer dan company. Ketiga elemen utama adalah elemen utama dari lanskap bisnis, sedangkan factor terakhitr, company adalah berbagai factor internal yang penting dalam proses pembuatan strategi.

Sembilan prinsip berikutnya (prinsip 5 – prinsip13) menerangkan sembilan elemen dari Arsitektur Bisnis Strategis. Yang dibagi menjadi tiga paradigma, yaitu:

  1. Syariah Marketing Strategy untuk memenangkan mind-share
  2. Syariah Marketing Tactic unutuk memenangkan market-share
  3. Syariah Marketing Value untuk memenangkan heart–share

Dalam syariah marketing strategy yang pertama harus dilakukan dalam mengeksplorasi pasar. Besarnya ukuran pasar (market size), pertumbuhan pasar (market growth),, keungguklan kompetitif (competitive advantages) dan situasi persaingan (competitive situation).

Setelah menyusun strategi, kita harus menyusun taktik untuk memenangkan market-share yang disebut Syariah Marketing Tactic. Pertama-tama, setelah mempunyai positiong yang jelas di benak masyarakat, perusahaan harus membedakan diri dari perusahaan lain yang sejenis. Untuk itu diperlukan differensiasi sebagai core tactic dalam segi content (apa yang ditawarkan), context (bagaimana menawarkannya) dan infrastruktur (yang mencakup karyawan, faslitas dan teknologi). Kemudian menerapkan differensiasi secara kreatif pada marketing mix (product, price, place, promotion). Karena itu marketing-mix disebut sebagai creation tactic. Walaupun bergitu selling yang memegang peranan penting sebagai capture tactic juga harus diperhatikan karena merupakan elemen penting yang berhubungan dengan kegiatan transaksi dan langsung mampu menghasilkan pendapatan.

Dalam Syariah Marketing Value, bahwa strategi dan taktik yang sudah dirancang dengan penuh perhitungan tidaklah berjalan dengan baik bila tidak disertai dengan value dari produk atau jasa yang ditawarkan. Pelanggan biasanya mementingkan manfaat atau value apa yang didapat jika ia diharuskan berkorban sekian rupiah. Untuk itu, membangun value preposition bagi produk atau jasa kita sangatlah penting.

Rumusan value preposition ini adalah sebagai berikut :

Value preposition = Total GetFunctional Benefit (Fb)+Emotional Benefit (Eb)

                             Total GivePrice (P) + Other Expenses (Oe)

Pada dasarnya terdapat lima generic value strategy :

  1. ·“More for more” adalah formula value yang menawarkan total get (Fb+Eb) dan total give (P+Oe) yang lebih tinggi dibandingkan value yang ditawarkan pesaing.
  2. ·“More for same” menawarkan total get yang lebih tinggi dan total give yang sama
  3. ·“More for less” menawarkan total get yang lebih tinggi dan total give yang lebih rendah
  4. ·“Same for less” menawarkan total get yang samadan total give yang lebih rendah
  5. ·“Less for less” menawarkan total get dan total give yang lebih rendah dibandingkan pesaing.

Prinsip selanjutnya, Prinsip 14, menjelaskan Syariah Scored yang bermakna bahwa anda harus terus menerus menyeimbangkan proposisi-proposisi nilai anda yang sesuai dengan prinsip-prinsip syariah tadi kepada tiga stakeholders utama yaitu karyawan (people), pelanggan (customer), dan pemegang saham (share-holders). Itulah maka penulis menyebutkan PCS-Circle.

Kemudian tiga prinsip terakhir (prinsip 15 sampai prinsip 17) adalah prinsip-prinsip yang membahas tentang inspirasi (inspiration), Buday (culture), dan institusi (institution. Ketiganya disebut sebagai Syariah Enterprise. Inspirasi menyangkut impian: sebuah perusahaan harus memiliki sebuah impian yang akan memberikan inspiras, membimbing dan merangsang semua orang yang ada didalamnya. Budaya menyangkut kepribadian; sebuah perusahaan harus memiliki kepribadian yang kuat, yang memberikan “perekat”yang menyatukan organisasi itu pada saat tumbuh dan berkembang. Akhirnya, institusi adalah tentang aktivitas: sebuah perusahaan harus mampu mengelola aktivitas-aktivitasnya dengan efisien dan efektif untuk merealisasikan visi serta sasaran-sasarannya.

Tentu saja, ketiga elemen Syariah Enterprise ini juga harus berlandaskan nilai-nilai syariah. Sebuah perusahaan tidaklah bisa memiliki inspirasi untuk menjadi economic animal semata tanpa peduli nilai-nilai lingkungan dan pemberdayaan komunitas disekitarnya. Budaya perusahaanpun harus dilandasi syariah; dengan menerapkan nilai-nilai luhur yang mesti dianut setiap karyawannya.

 

Manajemen Bisnis Rasulullah SAW


Kelahiran Nabi Muhammad merupakan peristiwa yang tiada bandingnya dalam sejarah umat manusia, karena kehadirannya telah membuka zaman baru dalam pembangunan peradaban dunia bahkan alam semesta (rahmatul-lil’alamin 21:107) Beliau adalah utusan Allah SWT yang terakhir sebagai pembawa kebaikan dan kemaslahatan bagi seluruh umat manusia.

Michael Hart dalam bukunya, menempatkan beliau sebagai orang nomor satu dalam daftar seratus orang yang memiliki pengaruh yang sangat besar dalam sejarah. Kata Hart, “Muhammad Saw terpilih untuk menempati posisi pertama dalam urutan seratus tokoh dunia yang paling berpengaruh, karena beliau merupakan satu-satunya manusia yang memiliki kesuksesan yang paling hebat di dalam kedua bidang-bidang sekaligus : agama dan bidang duniawi”.

Kesuksesan Nabi Muhammad Saw telah banyak dibahas para ahli sejarah, baik sejarawan Islam maupun sejarawan Barat. Salah satu sisi kesuksesan Nabi Muhammad adalah kiprahnya sebagai seorang padagang (wirausahawan). Namun, sisi kehidupan Nabi Muhammad sebagai pedagang dan pengusaha kurang mendapat perhatian dari kalangan ulama pada momentum peringatan maulid Nabi. Karena itu, dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad Saw di tahun 1427 H ini, kita perlu merekonstruksi sisi tijarah Nabi Muhammad Saw, khususnya manajemen bisnis yang beliau terapkan sehingga mencapai sukses spektakuler di zamannya.

Aktivitas Bisnis Muhammad

Reputasi Nabi Muhammad dalam dunia bisnis dilaporkan antara lain oleh Muhaddits Abdul Razzaq. Ketika mencapai usia dewasa beliau memilih perkerjaan sebagai pedagang/wirausaha. Pada saat belum memiliki modal, beliau menjadi manajer perdagangan para investor (shohibul mal) berdasarkan bagi hasil. Seorang investor besar Makkah, Khadijah, mengangkatnya sebagai manajer ke pusat perdagangan Habshah di Yaman. Kecakapannya sebagai wirausaha telah mendatangkan keuntungan besar baginya dan investornya.Tidak satu pun jenis bisnis yang ia tangani mendapat kerugian. Ia juga empat kali memimpin ekspedisi perdagangan untuk Khadijah ke Syiria, Jorash, dan Bahrain di sebelah timur Semenanjung Arab.

Dalam literatur sejarah disebutkan bahwa di sekitar masa mudanya, Nabi Saw banyak dilukiskan sebagai Al-Amin atau Ash-Shiddiq dan bahkan pernah mengikuti pamannya berdagang ke Syiria pada usia anak-anak, 12 tahun.

Lebih dari dua puluh tahun Nabi Muhammad Saw berkiprah di bidang wirausaha (perdagangan), sehingga beliau dikenal di Yaman, Syiria, Basrah, Iraq, Yordania, dan kota-kota perdagangan di Jazirah Arab. Namun demikian, uraian mendalam tentang pengalaman dan keterampilan dagangnya kurang memperoleh pengamatan selama ini.

Sejak sebelum menjadi mudharib (fund manager) dari harta Khadijah, ia kerap melakukan lawatan bisnis, seperti ke kota Busrah di Syiria dan Yaman. Dalam Sirah Halabiyah dikisahkan, ia sempat melakukan empat lawatan dagang untuk Khadijah, dua ke Habsyah dan dua lagi ke Jorasy, serta ke Yaman bersama Maisarah. Ia juga melakukan beberapa perlawatan ke Bahrain dan Abisinia. Perjalanan dagang ke Syiria adalah perjalanan atas nama Khadijah yang kelima, di samping perjalanannya sendiri- yang keenam-termasuk perjalanan yang dilakukan bersama pamannya ketika Nabi berusia 12 tahun.

Di pertengahan usia 30-an, ia banyak terlibat dalam bidang perdagangan seperti kebanyakan pedagang-pedagang lainnya. Tiga dari perjalanan dagang Nabi setelah menikah, telah dicatat dalam sejarah: pertama, perjalanan dagang ke Yaman, kedua, ke Najd, dan ketiga ke Najran. Diceritakan juga bahwa di samping perjalanan-perjalanan tersebut, Nabi terlibat dalam urusan dagang yang besar, selama musim-musim haji, di festival dagang Ukaz dan Dzul Majaz. Sedangkan musim lain, Nabi sibuk mengurus perdagangan grosir pasar-pasar kota Makkah. Dalam menjalankan bisnisnya Nabi Muhammad jelas menerapkan prinsip-prinsip manajemen yang jitu dan handal sehingga bisnisnya tetap untung dan tidak pernah merugi.

Implementasi manajemen bisnis

Jauh sebelum Frederick W. Taylor (1856-1915) dan Henry Fayol mengangkat prinsip manajemen sebagai suatu disiplin ilmu, Nabi Muhammad Saw. sudah mengimplementasikan nilai-nilai manajemen dalam kehidupan dan praktek bisnisnya. Ia telah dengan sangat baik mengelola proses, transaksi, dan hubungan bisnis dengan seluruh elemen bisnis serta pihak yang terlihat di dalamnya. Bagaimana gambaran beliau mengelola bisnisnya, Prof. Afzalul Rahman dalam buku Muhammad A Trader, mengungkapkan:

“Muhammad did his dealing honestly and fairly and never gave his customers to complain. He always kept his promise and delivered on time the goods of quality mutually agreed between the parties. He always showed a gread sense of responsibility and integrity in dealing with other people”. Bahkan dia mengatakan: “His reputation as an honest and truthful trader was well established while he was still in his early youth”.

Berdasarkan tulisan Afzalurrahman di atas, dapat diketahui bahwa Nabi Muhammad adalah seorang pedagang yang jujur dan adil dalam membuat perjanjian bisnis. Ia tidak pernah membuat para pelanggannya komplen. Dia sering menjaga janjinya dan menyerahkan barang-barang yang di pesan dengan tepat waktu. Dia senantiasa menunjukkan rasa tanggung jawab yang besar dan integritas yang tinggi dengan siapapun. Reputasinya sebagai seorang pedagang yang jujur dan benar telah dikenal luas sejak beliau berusia muda.

Dasar-dasar etika dan menejemen bisnis tersebut, telah mendapat legitimasi keagamaan setelah beliau diangkat menjadi Nabi. Prinsip-prinsip etika bisnis yang diwariskan semakin mendapat pembenaran akademis di penghujung abad ke-20 atau awal abad ke-21. Prinsip bisnis modern, seperti tujuan pelanggan dan kepuasan konsumen (costumer satisfaction), pelayanan yang unggul (service exellence), kompetensi, efisiensi, transparansi, persaingan yang sehat dan kompetitif, semuanya telah menjadi gambaran pribadi, dan etika bisnis Muhammad Saw ketika ia masih muda.

Pada zamannya, ia menjadi pelopor perdagangan berdasarkan prinsip kejujuran, transaksi bisnis yang fair, dan sehat. Ia tak segan-segan mensosialisasikannya dalam bentuk edukasi langsung dan statemen yang tegas kepada para pedagang. Pada saat beliau menjadi kepala negara, law enforcement benar-benar ditegakkan kepada para pelaku bisnis nakal. Beliau pula yang memperkenalkan asas “Facta Sur Servanda” yang kita kenal sebagai asas utama dalam hukum perdata dan perjanjian. Di tangan para pihaklah terdapat kekuasaan tertinggi untuk melakukan transaksi, yang dibangun atas dasar saling setuju “Sesungguhnya transaksi jual-beli itu (wajib) didasarkan atas saling setuju (ridla)….” Terhadap tindakan penimbunan barang, beliau dengan tegas menyatakan: “Tidaklah orang yang menimbun barang (ihtikar) itu, kecuali pasti pembuat kesalahan (dosa)!!!”

Sebagai debitor, Nabi Muhammad tidak pernah menunjukkan wanprestasi (default) kepada krediturnya. Ia kerap membayar sebelum jatuh tempo seperti yang ditunjukkannya atas pinjaman 40 dirham dari Abdullah Ibn Abi Rabi’. Bahkan kerap pengembalian yang diberikan lebih besar nilainya dari pokok pinjaman, sebagai penghargaan kepada kreditur. Suatu saat ia pernah meminjam seekor unta yang masih muda, kemudian menyuruh Abu Rafi’ mengembalikannnya dengan seekor unta bagus yang umurnya tujuh tahun. “Berikan padanya unta tersebut, sebab orang yang paling utama adalah orang yang menebus utangnya dengan cara yang paling baik” (HR.Muslim).

Sebagaimana disebut diawal, bahwa penduduk Makkah sendiri memanggilnya dengan sebutan Al-Shiddiq (jujur) dan Al-Amin (terpercaya). Sebutan Al-Amin ini diberikan kepada beliau dalam kapasitasnya sebagai pedagang. Tidak heran jika Khadijah pun menganggapnya sebagai mitra yang dapat dipercaya dan menguntungkan, sehingga ia mengutusnya dalam beberapa perjalanan dagang ke berbagai pasar di Utara dan Selatan dengan modalnya. Ini dilakukan kadang-kadang dengan kontrak biaya (upah), modal perdagangan, dan kontrak bagi hasil.

Dalam dunia manajemen, kata benar digunakan oleh Peter Drucker untuk merumuskan makna efisiensi dan efektivitas. Efisiensi berarti melakukan sesuatu secara benar (do thing right), sedangkan efektivitas adalah melakukan sesuatu yang benar (do the right thing).

Efisiensi ditekankan pada penghematan dalam penggunaan input untuk menghasilkan suatu output tertentu. Upaya ini diwujudkan melalui penerapan konsep dan teori manajemen yang tepat. Sedangkan efektivitas ditekankan pada tingkat pencapaian atas tujuan yang diwujudkan melalui penerapan leadership dan pemilihan strategi yang tepat.

Prinsip efisiensi dan efektivitas ini digunakan untuk mengukur tingkat keberhasilan suatu bisnis. Prinsip ini mendorong para akademisi dan praktisi untuk mencari berbagai cara, teknik dan metoda yang dapat mewujudkan tingkat efisiensi dan efektivitas yang setinggi-tingginya. Semakin efisien dan efektif suatu perusahaan, maka semakin kompetitif perusahaan tersebut. Dengan kata lain, agar sukses dalam menjalankan binis maka sifat shiddiq dapat dijadikan sebagai modal dasar untk menerapkan prinsip efisiensi dan efektivitas.

Demikian sekelumit sisi kehidupan Nabi Muhammad dalam dunia bisnis yang sarat dengan nilia-nilai manajemen, Semoga para pebisnis modern, dapat meneladaninya sehingga mereka bisa sukses dengan pancaran akhlak terpuji dalam bisnis.

 

Sumber : pengusahamuslim.com, Agustianto, Sekjen IAEI Dosen Pascasarjana Universitas Indonesia Jakarta

Hukum Memindahkan Utang kepada Pihak Lain


Setiap orang, tak terkecuali pebisnis bisa saja tidak dapat membayar utang secara langsung kepada pihak tertentu. Sementara sesuai hukum Islam, menunda-nunda pembayaran hutang yang dilakukan oleh orang mampu adalah suatu kezaliman. Oleh karena itu kewajiban utang tersebut dapat dipindahkan kepada pihak lain, atau biasa disebut hawalah.

Jadi hawalah diartikan sebagai perindahan utang dari tanggungan pihak yang berutang kepada pihak lain yang berkewajiban menanggungnya. Rukun hawalah adalah muhil, yakni orang yang berhutang dan sekaligus berpiutang, muhal atau muhtal, yakni orang berpiutang kepada muhil, serta muhal ‘alaih, yakni orang yang berhutang kepada muhil dan wajib membayar hutang kepada muhtal, muhal bih, yakni hutang muhil kepada muhtal, dan sighat (ijab-qabul). Karena merupakan perindahan utang, hawalah dibolehkan pada utang yang tidak berbentuk barang/benda karena hawalah adalah perpindahan utang. Oleh sebab itu hawalah bisa diterapkan pada uang atau kewajiban finansial.

Salah satu pihak yang bisa melakukan akad hawalah ini adalah lembaga keuangan syariah. Hawalah dapat digunakan dalam bentuk factoring/anjak piutang, dimana nasabah yang memiliki piutang kepada pihak ketiga memindahkan piutang tersebut kepada bank, sehingga bank akan membayar piutang nasabah dan menagih hutang kepada pihak ketiga tersebut.

Sebagai ilustrasi, perjanjian pengalihan hak dan kewajiban (piutang) nasabah (pihak pertama/muhil) kepada bank (pihak kedua/muhal) dari nasabah lain (pihak ketiga/muhal ‘alaih). Pihak pertama meminta bank untuk membayarkan terlebih dahulu piutang yang timbul, baik dari jual beli maupun transaksi lainnya. Setelah piutang tersebut jatuh tempo, pihak ketiga akan membayar kepada bank. Bank akan mendapatkan keuntungan dari upah pemindahan itu.

Ada beberapa ketentuan harus dijalankan dalam hawalah oleh LKS seperti perbankan syariah misalnya. Salah satunya menurut fatwa Dewan Syariah Nasional Fatwa Dewan Syari’ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 12/DSN-MUI/IV/2000, pernyataan ijab qabul harus dinyatakan oleh semua pihak. Pernyataan ijab dan qabul harus dinyatakan oleh para pihak untuk menunjukkan kehendak mereka dalam mengadakan kontrak (akad). Akad dituangkan secara tertulis, melalui korespondensi, atau menggunakan cara-cara komunikasi modern. Hawalah dilakukan harus dengan persetujuan muhil, muhal/muhtal dan muhal ‘alaih. Kedudukan dan kewajiban para pihak harus dinyatakan dalam akad secara tegas. Jika transaksi hawalah telah dilakukan, pihak-pihak yang terlibat hanyalah muhtal dan muhal ‘alaih; dan hak penagihan muhal berpindah kepada muhal ‘alaih.

Lantas apa perbedaan antara hawalah dengan transaksi yang terjadi di bank syariah? Sebuah tulisan di Tazkia Online menyebutkan, pada transaksi konvensional, bank membayar nasabah sebesar nilai piutang yang sudah di-discounted di muka, dan bank menagih akseptor secara penuh. Sementara pada bank syariah, bank tetap membayar penuh pada nasabah, namun nasabah dikenai biaya administrasi.

Hal lainnya, pada bank konvensional, setelah pembayaran didiscounted di muka, nasabah masih dikenai biaya administrasi. Disamping juga pada bank konvensional, invoice yang telah jatuh tempo dapat diperjualbelikan dengan discounted, di bank syariah transaksi semacam itu dilarang. Terakhir, pada bank konvensional sebelum jatuh tempo piutang tersebut dapat diperjualbelikan lagi kepada pihak lain, (bahkan bisa beberapa kali pindah tangan) sedangkan di bank syariah transaksi semacam itu juga dilarang. (SH)

 

Kerjasama Bisnis dengan Akad Mudharabah


Secara prinsip, syariah banyak memberikan kemudahan kepada umat termasuk dalam urusan muamalah, dan bisnis salah satu diantaranya. Contohnya saja jika seseorang memiliki ide bisnis dan juga kemampuan untuk mengelola bisnis tersebut, namun terbentur dengan masalah dana. Orang tersebut bisa menggunakan solusi yaitu menarik pihak lain untuk menanamkan modalnya dalam bisnis tersebut. Selanjutnya keduanya akan terikat dalam sistem bagi hasil. Istilah umum untuk sistem kerja semacam itu biasa disebut dengan mudharabah atau qiradh.

Mudharabah merupakan bentuk kerja sama antara dua pihak atau lebih. Dalam hal ini, pemilik modal (shahib al mal atau investor) mempercayakan sejumlah modal kepada pengelola (mudharib) dengan suatu perjanjian pembagian keuntungan. Bentuk ini menegaskan kerjasama dengan kontribusi 100% modal dari shahibul mal dan pengelolaan dari mudharib.

Namun untuk menjalankan sistem bagi hasil yang sesuai dengan prinsip syariah, pebisnis harus mengetahui beberapa rambu-rambu agar tidak salah jalan. Pada dasarnya, selama pembagian hasil diambil dari keuntungan dan besarannya telah disepakati bersama secara rida, maka kerjasama semacam itu sah dan diperbolehkan dalam agama. Sementara yang tidak sah secara syariah adalah ketika pembagian hasil usaha telah ditetapkan dari awal dengan ketentuan misalnya investor meminta sekian persen dari modal untuk setiap bulan atau setiap tahunnya, dan bukan dari keuntungan.

Perhitungan bagi hasil pada cara kedua menyiratkan investor meminta bagian tanpa peduli kondisi usaha tersebut berlaba atau merugi. Tentunya ini tidak fair. Hal yang sama juga berlaku jika pengelola menetapkan hal serupa.

Sementara itu pihak pemodal menyerahkan modalnya dengan akad wakalah kepada pengelola untuk dikelola dan dikembangkan menjadi sebuah usaha yang menghasilkan keuntungan. Wakalah atau wikalah sendiri berarti menyerahkan, pendelegasian, pemberian mandat, atau secara teknis berarti pelimpahan kekuasaan oleh seseorang sebagai pihak pertama kepada orang lain sebagai pihak kedua dalam hal-hal yang diwakilkan.

Seperti ditulis pengamat dan praktisi bisnis syariah Bey Laspriana dalam blognya, jika terjadi kerugian bukan karena kesalahan manajemen pengelola, maka kerugian ditanggung oleh pihak pemodal. Sementara pihak pengelola wajib mengelola usaha secara amanah dan profesional. Dalam pengelolaan usaha ini pihak pengelola berhak menentukan tim kerja dan juga kebijakan operasional tanpa harus mendapat ijin terlebih dahulu dari pemodal. (SH)

 

Kerjasama Bisnis dalam Islam


Dalam istilah syariah, kerja sama bisnis sering disebut sebagai syirkah. Apa dan bagaimana sebenanya syirkah ini bekerja? Sebuah tulisan M. Shiddiq Al-Jawi dalam syariah.org menjelaskan praktik ini dengan runtut. Berikut petikan tulisannya.

Dalam fikih, syirkah termasuk salah satu bentuk kerjasama dagang dengan syarat dan rukun tertentu. Kata syirkah dalam bahasa Arab berasal dari kata syarika (fi’il mâdhi), yasyraku (fi’il mudhâri‘), syarikan/syirkatan/syarikatan (mashdar/kata dasar); artinya menjadi sekutu atau serikat. Menurut arti asli bahasa Arab (makna etimologis), syirkah berarti mencampurkan dua bagian atau lebih sedemikian rupa sehingga tidak dapat lagi dibedakan satu bagian dengan bagian lainnya. Adapun menurut makna syariat, syirkah adalah suatu akad antara dua pihak atau lebih, yang bersepakat untuk melakukan suatu usaha dengan tujuan memperoleh keuntungan.

Hukum dan Rukun Syirkah

Syirkah hukumnya jâ’iz (mubah), berdasarkan dalil Hadis Nabi Muhammad SAW, berupa taqrîr (pengakuan) beliau terhadap syirkah. Rukun syirkah yang pokok ada 3 (tiga) yaitu: (1) akad (ijab-kabul), disebut juga shighat; (2) dua pihak yang berakad (‘âqidâni), syaratnya harus memiliki kecakapan (ahliyah) melakukan tasharruf (pengelolaan harta); (2) obyek akad (mahal), disebut juga ma‘qûd ‘alayhi, yang mencakup pekerjaan (amal) dan/atau modal (mâl) Adapun syarat sah akad ada 2 (dua) yaitu: (1) obyek akadnya berupa tasharruf, yaitu aktivitas pengelolaan harta dengan melakukan akad-akad, misalnya akad jual-beli; (2) obyek akadnya dapat diwakilkan (wakalah), agar keuntungan syirkah menjadi hak bersama di antara para syarîk (mitra usaha)

Macam-Macam Syirkah

Menurut An-Nabhani, berdasarkan kajian beliau terhadap berbagai hukum syirkah dan dalil-dalilnya, terdapat lima macam syirkah dalam Islam: yaitu: (1) syirkah inân; (2) syirkah abdan; (3) syirkah mudhârabah; (4) syirkah wujûh; dan (5) syirkah mufâwadhah (An-Nabhani, 1990: 148). An-Nabhani berpendapat bahwa semua itu adalah syirkah yang dibenarkan syariah Islam, sepanjang memenuhi syarat-syaratnya. Pandangan ini sejalan dengan pandangan ulama Hanafiyah dan Zaidiyah.

Menurut ulama Hanabilah, yang sah hanya empat macam, yaitu: syirkah inân, abdan, mudhârabah, dan wujûh. Menurut ulama Malikiyah, yang sah hanya tiga macam, yaitu: syirkah inân, abdan, dan mudhârabah. Menurut ulama Syafiiyah, Zahiriyah, dan Imamiyah, yang sah hanya syirkah inân dan mudhârabah (Wahbah Az-Zuhaili, Al-Fiqh al-Islâmî wa Adillatuhu, 4/795).

Syirkah Inân

Syirkah inân adalah syirkah antara dua pihak atau lebih yang masing-masing memberi konstribusi kerja (‘amal) dan modal (mâl). Syirkah ini hukumnya boleh berdasarkan dalil As-Sunnah dan Ijma Sahabat (An-Nabhani, 1990: 148). Contoh syirkah inân: A dan B insinyur teknik sipil. A dan B sepakat menjalankan bisnis properti dengan membangun dan menjualbelikan rumah. Masing-masing memberikan konstribusi modal sebesar Rp 500 juta dan keduanya sama-sama bekerja dalam syirkah tersebut.

Dalam syirkah ini, disyaratkan modalnya harus berupa uang (nuqûd); sedangkan barang (‘urûdh), misalnya rumah atau mobil, tidak boleh dijadikan modal syirkah, kecuali jika barang itu dihitung nilainya (qîmah al-‘urûdh) pada saat akad.

Keuntungan didasarkan pada kesepakatan, sedangkan kerugian ditanggung oleh masing-masing mitra usaha (syarîk) berdasarkan porsi modal. Jika, misalnya, masing-masing modalnya 50%, maka masing-masing menanggung kerugian sebesar 50%.

Syirkah ‘Abdan

Syirkah ‘abdan adalah syirkah antara dua pihak atau lebih yang masing-masing hanya memberikan konstribusi kerja (‘amal), tanpa konstribusi modal (mâl). Konstribusi kerja itu dapat berupa kerja pikiran (seperti pekerjaan arsitek atau penulis) ataupun kerja fisik (seperti pekerjaan tukang kayu, tukang batu, sopir, pemburu, nelayan, dan sebagainya). (An-Nabhani, 1990: 150). Syirkah ini disebut juga syirkah ‘amal (Al-Jaziri, 1996: 67; Al-Khayyath, 1982: 35). Contohnya: A dan B. keduanya adalah nelayan, bersepakat melaut bersama untuk mencari ikan. Mereka sepakat pula, jika memperoleh ikan dan dijual, hasilnya akan dibagi dengan ketentuan: A mendapatkan sebesar 60% dan B sebesar 40%.

Dalam syirkah ini tidak disyaratkan kesamaan profesi atau keahlian, tetapi boleh berbeda profesi. Jadi, boleh saja syirkah ‘abdan terdiri dari beberapa tukang kayu dan tukang batu. Namun, disyaratkan bahwa pekerjaan yang dilakukan merupakan pekerjaan halal. (An-Nabhani, 1990: 150); tidak boleh berupa pekerjaan haram, misalnya, beberapa pemburu sepakat berburu babi hutan (celeng).

Keuntungan yang diperoleh dibagi berdasarkan kesepakatan; nisbahnya boleh sama dan boleh juga tidak sama di antara mitra-mitra usaha (syarîk).

Syirkah ‘abdan hukumnya boleh berdasarkan dalil As-Sunnah (An-Nabhani, 1990: 151Syirkah Mudhârabah

Syirkah mudhârabah adalah syirkah antara dua pihak atau lebih dengan ketentuan, satu pihak memberikan konstribusi kerja (‘amal), sedangkan pihak lain memberikan konstribusi modal (mâl). (An-Nabhani, 1990: 152). Contoh: A sebagai pemodal (shâhib al-mâl/ rabb al-mâl) memberikan modalnya sebesar Rp 10 juta kepada B yang bertindak sebagai pengelola modal (‘âmil/mudhârib) dalam usaha perdagangan umum (misal, usaha toko kelontong).

Ada dua bentuk lain sebagai variasi syirkah mudhârabah. Pertama, dua pihak (misalnya, A dan B) sama-sama memberikan konstribusi modal, sementara pihak ketiga (katakanlah C) memberikan konstribusi kerja saja. Kedua, pihak pertama (misalnya A) memberikan konstribusi modal dan kerja sekaligus, sedangkan pihak kedua (misalnya B) hanya memberikan konstribusi modal, tanpa konstribusi kerja. Kedua bentuk syirkah ini masih tergolong syirkah mudhârabah (An-Nabhani, 1990: 152).

Hukum syirkah mudhârabah adalah jâ’iz (boleh) berdasarkan dalil As-Sunnah (taqrîr Nabi saw.) dan Ijma Sahabat (An-Nabhani, 1990: 153). Dalam syirkah ini, kewenangan melakukan tasharruf hanyalah menjadi hak pengelola (mudhârib/’âmil). Pemodal tidak berhak turut campur dalam tasharruf. Namun demikian, pengelola terikat dengan syarat-syarat yang ditetapkan oleh pemodal.

Jika ada keuntungan, ia dibagi sesuai kesepakatan di antara pemodal dan pengelola modal, sedangkan kerugian ditanggung hanya oleh pemodal. Sebab, dalam mudhârabah berlaku hukum wakalah (perwakilan), sementara seorang wakil tidak menanggung kerusakan harta atau kerugian dana yang diwakilkan kepadanya (An-Nabhani, 1990: 152). Namun demikian, pengelola turut menanggung kerugian, jika kerugian itu terjadi karena kesengajaannya atau karena melanggar syarat-syarat yang ditetapkan oleh pemodal. (Al-Khayyath, Asy-Syarîkât fî asy-Syarî‘ah al-Islâmiyyah, 2/66).

Syirkah Wujûh

Syirkah wujûh disebut juga syirkah ‘ala adz-dzimam (Al-Khayyath, Asy-Syarîkât fî asy-Syarî‘ah al-Islâmiyyah, 2/49). Disebut syirkah wujûh karena didasarkan pada kedudukan, ketokohan, atau keahlian (wujûh) seseorang di tengah masyarakat. Syirkah wujûh adalah syirkah antara dua pihak (misal A dan B) yang sama-sama memberikan konstribusi kerja (‘amal), dengan pihak ketiga (misalnya C) yang memberikan konstribusi modal (mâl). Dalam hal ini, pihak A dan B adalah tokoh masyarakat. Syirkah semacam ini hakikatnya termasuk dalam syirkah mudhârabah sehingga berlaku ketentuan-ketentuan syirkah mudhârabah padanya. (An-Nabhani, 1990: 154).

Bentuk kedua syirkah wujûh adalah syirkah antara dua pihak atau lebih yang ber-syirkah dalam barang yang mereka beli secara kredit, atas dasar kepercayaan pedagang kepada keduanya, tanpa konstribusi modal dari masing-masing pihak. (An-Nabhani, 1990: 154). Misal: A dan B adalah tokoh yang dipercaya pedagang. Lalu A dan B ber-syirkah wujûh, dengan cara membeli barang dari seorang pedagang (misalnya C) secara kredit. A dan B bersepakat, masing-masing memiliki 50% dari barang yang dibeli. Lalu keduanya menjual barang tersebut dan keuntungannya dibagi dua, sedangkan harga pokoknya dikembalikan kepada C (pedagang).

Dalam syirkah wujûh kedua ini, keuntungan dibagi berdasarkan kesepakatan, bukan berdasarkan prosentase barang dagangan yang dimiliki; sedangkan kerugian ditanggung oleh masing-masing mitra usaha berdasarkan prosentase barang dagangan yang dimiliki, bukan berdasarkan kesepakatan. Syirkah wujûh kedua ini hakikatnya termasuk dalam syirkah ‘abdan (An-Nabhani, 1990: 154).

Hukum kedua bentuk syirkah di atas adalah boleh, karena bentuk pertama sebenarnya termasuk syirkah mudhârabah, sedangkan bentuk kedua termasuk syirkah ‘abdan. Syirkah mudhârabah dan syirkah ‘abdan sendiri telah jelas kebolehannya dalam syariat Islam (An-Nabhani, 1990: 154).

Namun demikian, An-Nabhani mengingatkan bahwa ketokohan (wujûh) yang dimaksud dalam syirkah wujûh adalah kepercayaan finansial (tsiqah mâliyah), bukan semata-semata ketokohan di masyarakat. Maka dari itu, tidak sah syirkah yang dilakukan seorang tokoh (katakanlah seorang menteri atau pedagang besar), yang dikenal tidak jujur, atau suka menyalahi janji dalam urusan keuangan. Sebaliknya, sah syirkah wujûh yang dilakukan oleh seorang biasa-biasa saja, tetapi oleh para pedagang dia dianggap memiliki kepercayaan finansial (tsiqah mâliyah) yang tinggi, misalnya dikenal jujur dan tepat janji dalam urusan keuangan. (An-Nabhani, 1990: 155-156).

Syirkah Mufâwadhah

Syirkah mufâwadhah adalah syirkah antara dua pihak atau lebih yang menggabungkan semua jenis syirkah di atas (syirkah inân, ‘abdan, mudhârabah, dan wujûh) (An-Nabhani, 1990: 156; Al-Khayyath, 1982: 25). Syirkah mufâwadhah dalam pengertian ini, menurut An-Nabhani adalah boleh. Sebab, setiap jenis syirkah yang sah ketika berdiri sendiri, maka sah pula ketika digabungkan dengan jenis syirkah lainnya. (An-Nabhani, 1990: 156).

Keuntungan yang diperoleh dibagi sesuai dengan kesepakatan, sedangkan kerugian ditanggung sesuai dengan jenis syirkah-nya; yaitu ditanggung oleh para pemodal sesuai porsi modal (jika berupa syirkah inân), atau ditanggung pemodal saja (jika berupa syirkah mudhârabah), atau ditanggung mitra-mitra usaha berdasarkan persentase barang dagangan yang dimiliki (jika berupa syirkah wujûh).

Contoh: A adalah pemodal, berkonstribusi modal kepada B dan C, dua insinyur teknik sipil, yang sebelumnya sepakat, bahwa masing-masing berkonstribusi kerja. Kemudian B dan C juga sepakat untuk berkonstribusi modal, untuk membeli barang secara kredit atas dasar kepercayaan pedagang kepada B dan C.

Dalam hal ini, pada awalnya yang ada adalah syirkah ‘abdan, yaitu ketika B dan C sepakat masing-masing ber-syirkah dengan memberikan konstribusi kerja saja. Lalu, ketika A memberikan modal kepada B dan C, berarti di antara mereka bertiga terwujud syirkah mudhârabah. Di sini A sebagai pemodal, sedangkan B dan C sebagai pengelola. Ketika B dan C sepakat bahwa masing-masing memberikan konstribusi modal, di samping konstribusi kerja, berarti terwujud syirkah inân di antara B dan C. Ketika B dan C membeli barang secara kredit atas dasar kepercayaan pedagang kepada keduanya, berarti terwujud syirkah wujûh antara B dan C. Dengan demikian, bentuk syirkah seperti ini telah menggabungkan semua jenis syirkah yang ada, yang disebut syirkah mufâwadhah.

 

 

%d blogger menyukai ini: