Posts from the ‘MANAJEMEN PENDIDIKAN’ Category

 “Revolusi Membuat Anak Candu Membaca”


A. Perkembangan Bahasa Bayi

Perkembangan Bahasa merupakan sebuah proses dari motoric otak kiri manusia. Kemampuan tersebut meliputi pengucapan kalimat, memahami pembicaraan orang, Kemampuan berhitung, dan menulis. Sedangkan fungsi otak kananmencangkup Bahasa nonverbal seperti penekanan dan irama, pengenalan situasi dan kondisi, pengendalian emosi, kesenian dan kreativitas.

Dalam perkembangannya, kedua otak anak akan mengalami spesialisasi. Kemudian, apa yang terjadi pada tahun pertama? Kemampuan anak akan mengalami perkembangan yang pesat. Namun, tahap itu harus tetap menjadi perhatian khusus bagi orang tua. Sebab tahapan itu dapat dijadikanparameter ada atau tidaknya gangguan perkembangan pada bayi.

Menjadi orang tua harus jeli terhadap segala perubahan pada anaknya. Perkembangan Bahasa dan bicara pada anak biasanya digambarkan sebagai berikut:

  1. Masa Preliguistik, 0-3 Bulan.

Pada periode ini, bayi belum bias menggabungkan elemen Bahasa, baik secara isi, bentuk, atau dari pemakaian Bahasa.

  1. Masa Transisi, 3-9 Bulan.

Salah satu perkembangan Bahasa utama milestone pada bayi ialah pengucapan kata kata pertama yang terjadi pada akhir tahun pertama.

  1. Masa Perkembangan Kosakata, 9-18 Bulan.

Inilah masa dimulainya produksi kalimat. Perkembangan komprehensif secara produksi kata-kata berlangsug cepat pada usia sekitar 18 bulan. Ia mulai dapat berbicara menggunakan kata kata yang tersimpan dalam memorinya.

  1. Masa Prasekolah, 18-36 bulan.

Pada masa ini, bayi akan memiliki mobilitas yang tinggi, sehingga mempunyai akses ke jaringan social yang lebih luas. Hal itu akan membuat perkembangan kognisinya menjadi semakin tajam. Anak mulai berpikir tentang konsep, jenis dan peristiwa.

Anda harus mengetahui tahap tahap perkembangan kemampuan bicara bayi. Sehingga, anda menjadi peka dan bisa secara menangkap pesan-pesan darinya.

Anda pun perlu mengetahui bahwa perkembangan Bahasa bayi dan tangisan pertama sampai mampu bertutur kata terbagi atas dua periode besar.  Periode linguistic terbagi dalam tiga fase besar, yaitu sebagai berikut:

  1. Fase Satu Kata atau Holofrase

Dalam fase ini, bayi menggunakan satu kata guna menyatakan pemikirannya yang kompleks, baik yang berupa keinginan maupun perasaan.

  1. Fase Lebih dari Satu Kata

Fase dua kata muncul ketika bayi berusia sekitar 18 bulan. Pada fase itu, ia sudah bisa membuat kalimat sederhana yang terdiri dari dua kata.

  1. Fase Diferensiasi

Periode ini berlangsung pada bayi yang berusia 2,5-5 tahun. Pada fase yang lain, saat usia bayi sekitar 15-18 bulan, perkembangan bahasanya menunjukan ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Tanggap terhadap kata-kata tanpa gerak
  2. Mulai ikut bernyanyi
  3. Menggerakan tangan
  4. Bayi berinteraksi dengan ucapan
  5. Orang tua mulai menyesuaikan diri

B. Perkembangan Bicara

Perkembangan awal bicara pada bayi biasa disebut dengan reflexive vocalization, yaitu terjadi pada usia 0-3 minggu. Pada tahap tersebut, bayi masih menyuarakan tangisan yang berupa reflex belaka atau tanpa disadari.

Tahap kedua ialah babbling, yaitu terjadi saat bayi berusia 3 minggu sampai 2 bulan. Sekarang, ia sudah mengeluarkan suara, tetapi terdengar tidak jelas.

Lalling merupakan tahap ketiga, terjadi pada bayi berusia sekitar 2-7 bulan. Saat tersebut, ia sudah dapat mendengar dan mengulang suku kata, seperti ba, pa, ma, mik dan sebagainya.

Saat berusia 10 bulan, Bayi dapat mendengar suara suara disekitarnya. Kemudian ia meniru suara suara yang terekam diotaknya menggunakan ekspresi wajah dan isyarat tangan.

Selanjutnya ialah tahap true speech atau berbicara dengan benar, terjadi pada bayi berusia 18 Bulan. Alhasil, ia akan lebih terampil berbicarih terampil berbicara pada umur 5-6 tahun.

Bayi merupakan “penyerap” yang konstruktif. Bayi mempelajari bBayi mempelajari Bahasa dan konsep-konsep pentingahasa dan konsep-konsep penting tanpa melalui pengajaran yang terencana sectanpa melalui pengajaran yang terencana secara khusus.

Setiap bayi memiliki perkembangan Bahasa lisan yang berbeda beda. Hal itu terjadi Karena muatan informasi yang dikumpulkan oleh setiap bayi berbeda.

Masing masing bayi belajar mendapatkan informasi yang tersedia dengan cara sendiri. Beberapa bayi berinteraksi degan dunia menggunakan sentuhan, sedangkan yang lain mungkin lebih bergantung pada pengelihatan dan pendengaran.

C. Perkembangan Awal Bahasa

Sebelum mampu berbicara, biasanya bayi memiliki kebiasaan mengeluarkan kebiasaan mengeluarkan suara suara yang bersifat sederhana, kemudian berkembang menjadi kompleks dan memiliki arti.

  1. Kematangan Fisiologis

Setiap bayi dibekali kemampuan berkomunikasi menggunakan Bahasa sejak dalam kandungan (innate). Tetapi, kemampuan ini tidak dapat langsung digunakan. Masih dibutuhkan sebuah proses perubahaan evolutive yang panjang, sampai seorang bayi bisa berbahasa kepada orang tua dan lingkungan sekitarnya.

2. Perkembangan system saraf dalam otak

Sistem perkembangan saraf pada janin pada masa prenatal tergolong sederana. Bahkan dapat dikatakan jika perkembangan yang dimaksud terjadi Bersamaan dengan pembentukan organ organ eksternal pada masa triwulan pertama. Menginjak akhir triwulan kedua proses perkembangan organ organ tubuh internal maupun ekstenal pada janin  berkembang pesat, yang salah satunya adalah otak.

Setelah berkembangan, otak mempu bekerja guna menerima rangsangan eksternal yang diberikan oleh lingkungannya.

Setiap rangsangan eksternal yang diterima akan menjadi bahan bahan jejak ingatan dalam otak janin. Janin akan merasakan getaran getaran sebagai tanda dirinya memperoleh perhatian dan kasih saying ketika orang tuanya memberikan rangsangan berupa cerita, nyanyian, atau Bahasa. Setelah lahir bayi yang pernah memperoleh pengalaman berkomunikasi dengan orang tuanya saat masih janin akan bekembang dengan baik.

D. Kesiapan anak dalam belajar membaca

Selama ini, teori psikologi perkembangan yang dimotori oleh Jean Piaget menjadi rujukan utama bagi kurikulum taman kanak kanak. Akibatnya, pelajaran membaca, menulis, dan berhitung secara tidak langsung dilarang diperkenalkan kepada anak dibawah usia 7 tahun. Sebab, Piaget beranggapan bahwa anak berusia dibawah 7 tahun dianggap belum mencapai fase oprasional konkret. Fase yang dimaksud ialah saat anak dianggap sudah bisa berfikir secara terstruktur.

Sehingga, calistung didefinisikan sebagai kegiatan yang memerlukan cara berpikir secara berpola. Hal inilah yang membuat calistung tidak cocok diajarkan kepada anak TK.

Banyak ahli yang menngeluarkan berbagai teori gna menemukan cara agar anak mendapatkan pelajaran membaca sejak dini, salah satunya Glenn Doman. Ia menjadi pelopor dalam pengembangan metode belajar membaca dan matematika pada anak sejak dini. Ia merupakan prndobrak dari teori yang dicetuskan oleh Piaget.

Doman bukan praktisi pendidikan. Ia adalah seorang bedah otak yang berhasil menyembukan orang-orang yang mengalami cedra otak lewat metode flash card. Ia membuat kartu berisi kata yang ditulis dedngan tinta berwarna merah pada karton tebal. Kartu-kartu tersebut ditampilkan dihadapan pasien dalam waktu cepat, hanya satu detik per kartu. Karena singkatnya waktu yang diberikan, maka akan membuat otak bereaksi terhadap kata yang ditampilkan.

Bagi sebagian orang, metode Falsh card dinilai mustahil. Sebab, bisa saja anak-anak telah menghafal kata-kata yang diperkenalkan

Sesuatu yang dilakukan doman tentu menghadirkan berbagai macam kritik, termasuk dari beberapa ahli psikologo. Hal itu dikarenakan metode flash card dianggap sebagai cara yang kurang rasional serta bisa merusak pembelajaran nalar dan logika. Metode flash card berbasis hafalan, sedangkan menurut para psikolog dan orang umum, kemampuan membaca harus diproses melalui tahapan-tahapanfonemik dan fonetiik. Anak terlebih dulu harus mengenal huruf dan mampu membedakan bunyi, sampai akhirnya bisa menggabungkan huruf-huruf tersebut menjadi sebuah kata.

E. Tahapan Perkembangan Kemampuan Membaca Anak

Pada saat mengajarkan calistung kepada anak TK atau prasekolah, guru wajib mengetahui kemampuan membaca pada anak. Menurut seorang pakar yang bernama Cochrane Efal, perkembangan dasar kemampuan membaca pada anak berusia 4-6 tahun berlangsung dalam lima tahap berikut:

  1. Fantasi

Tahap ini merupakan saat anak belajar menggunakan buku. Anak mulai berpikir tentang pentingnya sebuah buku.

  1. Pembentukan Konsep Diri

Anak sudah memposisikan diri sebagai pembaca dan mulai sibuk dalam kegiatan membaca atau “pura-pura membaca buku”. Orang tua wajib memberikan rangsangan dengan cara membacakan buku terhadap anak.

  1. Membaca gambar

Anak sudah menyadari tulisan yang tampak dan menemukan kata yang dikenal

  1. Pengenalan Bacaan

Pada tahap ini, anak sudah menggunakan tiga sistem isyarat, yaitu Graphoponic, semantik, dan sintaksis secara bersama-sama. Anak sudah tertarik pada bacaan dan mulai membaca tanda-tanda yang ada di lingkungan.

  1. Membaca Lancar

Ini merupakan masa pada anak yang dapat membaca berbagai jenis buku secara bebas. Adapun orang tua dan guru tetap wajib membacakan buku kepada anak.

F. Dinamika Kemampuan Membaca

Seorang pengamat pendidikan, Jeanne Chall, mengemukakan bahwa belajar membaca mencangkup rangkuman kecakapan yang dibangun pada keterampilan sebelumnya.Guna mencapai hal ini, ada lima tahap perkembangan kemampuan membaca. Berikut kelima tahapan tersebut:

  1. Tahap Dasar

Tahap dasr bermula saat anak mulai menguasai prasyarat membaca. Setelah masuk sekolah, anak bisa membedakan huruf dalam alfabet.

  1. Tahap 1

Ini merupakan tahun pertama sekolah. Pada masa tersebut, anak sedang belajar mengenai kemampuan “merekam” fonologi.

  1. Tahap 2

Selanjutnya, di kelas dua dan tiga, anak sudah membaca dengan fasih.

  1. Tahap 3

Pada tahamp tersebut anak sudah mendapatkan informasi dan materi tertulis.

  1. Tahap 4

Tahap ini bermula di sekolah tinggi, saat kemampuan baca yang fasih sudah dikuasai. Anak gampang memahami beragam materi bacaan dan menarik kesimpulan dari bacaan.

G. Kemampuan Membaca dan Perkembangan Daya Pikir

Ada istilah yang disebut phonemic awareness, ini merupakan salah satu kemampuan yang dapat dimiliki siapa pun. Sederhananya, merupakan pengetahuan tentang huruf yang dapat dipisahkan dari suara. Kemampun tersebut biasanya belum muncul pada anak usia prasekolah.

Selain itu ada juga istilah yang dikenal dengan nama phonologic recording. Istilah tersebut ialah kesadaran terhadap fonologis dalam kemampuan awal membaca. Aanak-anak diajarkan mendengar huruf, kemudian mencoba mencocokan antara huruf huruf dan suara.

Selain beberapa istilah tersebut, guna memperkenalkan membaca kepada anak, orang tua dan guru harus memahami apa dan bagaimana konsep membaca. Sebab membaca merupakan salah satu fungsi tertinggi dalam otak manusia.

H. Cara mengajarkan Membaca Kepada Anak Usia Dini

Banyak pendekatan yang bisa dilakukan guna mengajarkan membaca kepada anak sejak usia dini. Selengkapnya sebagai berikut:

  1. Menitikberatkan pada Pemahaman Simbol atau Huruf.

Pendekatan ini dilakukan guna mengenalkan sistem simbol bunyi kepada anak sejak dini.Cara tersebut dapat dilakukan dengan cara memperkenalkan nama alfabet serta bunyinya. Proses yang akan berjalan dimulai huruf yang paling sederhana dan paling tinggi intensitas penggunaannya, seperti huruf vokal.

  1. Menekankan Belajae Membaca Kata dan Kalimat secara Utuh

Dengan pendekatan ini, anak diharapkan dapat mencari sendiri sitem huruf serta bunyi yang berlaku.

Singkat kata, orang tua hanya mengajarkan cara membaca, tanpa menjelaskan hukum-hukumnya.

  1. Cara membangkitkan Minat Baca pada Anak
  2. Banyak cara yang dapat ditempuh guna menumbuhkan serta membangkitkan minat baca pada anak, di antaranya adalah sebagai berikut:
  3. Semakin sering Anda membacakan cerita atau hal yang menarik, semakin sering pula anak belajar membaca.
  4. Biarkan anak menyaksikan serta memperhatikan cara kita membaca. Dengan sendirinya, ia akan berpikir bahwa kita menikmati buku.
  5. Ikut sertakan anak dalam kegiatan berbahasa yang berbeda-beda
  6. Berikan referensi tentang buku, majalah anak, serta gambar-gambaryang sesuai dengat minat dan kesukaan anak.
  7. Biasakan anak untuk pergi ke perpustakaan dan toko buku.
  8. Jika ada kesempatan, izinkan anak membaca bersama orang-orang yang lebih tua.
  9. Pujilah anak saat membaca, apalagi bila berhasil mengeja bacaanya. Sebab, pada umumnya semua anak suka dipuji.

I. Berbagi Metode Guna Mengajarkan Anak membaca

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh para ahli, diketahui bahwa meningkatkan kecerdasan anak bisa dilakukan sejak dalam kandungan. Selama proseskehamilan, janin akan menyerap segala bentuk latihann yang Anda berikan, sehingga berpengaruh terhadap perkembangan otaknya dikemudian hari.

Banyak hal yang bisa dilakukan untuk mendukung perkembangan otak janin. Dalam penelitiannya, Rene van De Carr dan Marc Lehre membahas mengenai metode yang mengajarkan membaca kepada anak-anak sejak dalam kandungan.

(a)  Metode Rene van De Carr dan Marc Lehreh

Metode ini dikembangkan dari sebuah penelitian yang dimulai pada tahun1979 oleh Dr. Rene van De Carr, seorang ahli kebidanan yang bekerja sama dengan seorang psikolog bernama Marc Lehrer guna mengembangkan stimulasi pralahir. Pendidikan pralahir pertama kali diterbitkan pada tahun 1992, setelah melewati proses penelitian semenjak 1979. Dari penelitian itu diyakini bahwa di dalam rahim, janin dapat melakukan banyak hal, seperti belajar serta merasakan perbedanna terang dan gelap.

Saat kandungan berusia 20 minggu, kemampuan janin berkembang pesat. Pada masa ini, biasanya para ibu melakukan stimulasi berupa permainan permainan belajar. Pada prinsipnya, janin dalam kandungan mendengarberbagai bunyi yang ada di lingkungannya. Tetapi, kebanyakan bunyi tersebut tidak beraturan. Jadi, langkah -langkah yang dapat Anda lakukan ialah sebagai berikut:

  1. Dirangsang menggunakan Selo atau Alat Musik Lainnya
  2. Berilah Tanggapan terhadap segala Aktivitas Bayi Anda
  3. Berbicara dengan Nada Teratur

(b)  Metode Gelnn Doman

Ada dua faktor yang sangat penting dalam mengajar anak. Pertama, sikap dan pendekatan orang tua. Kedua, mwmbatasi waktu dalam melakukan permainan, sehingga betul betul singkat. Hentikan permainan tersebut sebelum anak yang ingin menghentikannya.

(c)  Mendongeng menggunakan Alat peraga

Bercerita menggunakan Alat peraga sangat efektif bila digunakan oleh orang tua kepada anaknya. Aalat peraga yang digunakan berupagambar dan huruf yang ditulis berwarna warni pada kertas karton.

(d)  Bermain Gambar sambil Mengenal Huruf

Banyak orang tua yang tidak tahu bahwa melihat gambar termasuk salah satu bentuk membaca. Salah satu tugas orang tua dalam mempersiapkan nama depan anak ialah memastikan saat berusia 3-5 tahun sudah memiliki ketertarikan terhadap kegiatan “membaca” gambar, simbol, dan logo disekitarnya.

(e)  Metode Role Play

Metode ini sederhana, caranya ialah anak diajak bermain menggunakan berbagai macam permainan yang sudah ada atau kreasi sendiri. Anak bisa diajak bermain mencari huruf yang hilang, dan lainnya. Beri anak pujian setiap berhasil menebak huruf dengan benar.

(f)  Belajar Membaca dan Cerita

Bercerita di waktu santai juga bagus dalam rangka melatih kemampuan anak guna membaca keras. Membaca keras sangat penting bagi anak, karena membantu perkembangan daya serap serta konsentrasi.

Selain itu, Anda bisa melakukan beberapa kegiatan pendukung. Diantaranya ialah sebagai berikut:

  1. Selalu Membaca
  2. Perkenalkan Media Cetak
  3. Jadilah pendengar yang Baik
  4. Mengobrol dengan anak

(g)  Beberapa Metode Sederhana Lainnya

  1. Huruf dinding
  2. Memperkenalkan Alfabet melalui Komputer
  3. Memperkenalkan Alfabet dengan Bermain
  4. Metode Mengeja
  5. Metode Bertahap
  6. Metode Suku Kata
  7. Metode Games

Karya:

Aulia Revolusi pembuat Anak Candu Membaca, Aulia, Penerbit  DIVA Press, www.diovapress-onlie.com, No ISBN 978-602-7723-33-7

Kiat-Kiat Membesarkan Anak Yang Memiliki Kecerdasan Emosional


 

fatherSeperti kebanyakan orang tua, mereka ingin memperlakukan anak mereka dengan adil, dengan sabar, dan dengan rasa hormat. Mereka tahu bahwa dunia menghadapkan anak-anak dengan banyak tantangan, dan mereka ingin mendampingi anak-anak mereka, memberi ilham dan dukungan. Mereka ingin mengajarkan anak mereka bagaimana menangani masalah secara efektif dan ingin menjalin hubungan yang kuat dan sehat.

Para orang tua yang gagal mengajarkan kecerdasan emosional kepada anak-anak mereka itu, peneliti telah mengidentifikasinya menjadi tiga tipe :

  1. Orangtua yang mengabaikan, yang tidak menghiraukan, menganggap sepi, atau meremehkan emosi-emosi negatif anak mereka.
  2. Orangtua yang tidak menyetujui, yang bersifat krisi terhadap ungkapan perasaan-perasaan negative anak mereka dan barangkali memarahi atau menghukum mereka karena mengungkapkan emosinya,
  3. Orangtua Laissez-Faire, yang menerima emosinya anak mereka dan berempati dengan mereka, tetapi tidak memberikan bimbingan atau menentukan batas-batas pada tingkah laku anak mereka.

Proses pelayihan emosi yang ditemukan para peneliti dalam kajian-kajian terhadap interaksi-interaksi yang sukses antara orangtua dengan anak. Proses tersebut biasanya terjadi dalam lima langkah. Orangtua :

  1. Menyadari emosi anaknya,
  2. Mengakui emosi itu sebgai peluang untuk kedekatan dan mengajar,
  3. Mendengarkan dengan penuh empati dan meneguhkan perasaan anak tersebut,
  4. Menolong anaknya menemukan kata-kata untuk memberi nama emosi yang sedang didalaminya, dan
  5. Menentukan batas-batas sambil membantu anak memecahkan masalah yang dihadapi.

Pelatihan emosi membutuhkan keterlibatan dan kesabaran yang cukup besar. Seandainya kita ingin menyaksikan anak-anak kita mengatasi perasaan-perasaan, menangani stres, dan membina hubugan-hubungan sehat, kita tidak akan menutup diri atau mengabaikan ungkapan-ungkapan perasaan negatif, kita berhubungan dengan anak kita dan memberi bimbingan.

Meskipun kakek-nenek, guru, dan orang dewasa lainnya dapat berfungsi sebagai pelatih emosi dalam kehidupan seorang anak, sebagai orangtua, kita berada dalam posisi yang terbaik untuk tugas itu.

Hasil-hasil kajian tindak lanjut ini memperlihatkan kepada kami bahwa anak-anak dengan orangtua yang melatih emosi itu menjadi lebih baik dalam bidang-bidang unjuk kerja akademis, keterampilan bergaul, kesejahteraan emosional, dan kesehatan jasmaniah. Bahkan sewaktu menguji IQ-nya, perolehan matematika dan mambacanya lebih bagus.

Pengalaman itu menolong mereka untuk menanggapi satu sama lain dengan cara yang cerdas secara emosional. Langkah pertama yang diambil orangtua kea rah mendidik anak-anak yang secara emosional cerdas adalah memahami gaya mereka sendiri dalam menghadapi emosi dan bagaimana hal itu mempengaruhi anak-anak mereka.

Menilai Gaya Kita Sebagai Orangtua

Banyak keluarga mempunyai falsafah campur aduk tentang emosi, artinya sikap mereka terhadap ungkapan emosional barangkali berbeda-beda tergantung pada emosi yang diungkapkan. Orangtua barangkali berpendapat, misalnya, bahwa boleh-boleh saja kadang-kadang merasa sedih, tetapi ungkapan-ungkapan amarah itu dianggap tidak pantas atau berbahaya. Sebaliknya, mereka boleh jadi sangat menghargai amarah dalam diri anak mereka karena mereka melihatnya sebagai sikap tegas, tetapi mereka menganggap rasa takut atau rasa sedih sebagai pengecut atau kekanak-kanakan. Selain itu, masing-masing keluarga menerapkan pedoman yang berbeda-beda terhadap anggota-anggota keluarga.

Ada 4 gaya sebagai orangtua :

  1. Orangtua yang mengabaikan, akibat terhadap anak : mereka belajar bahwa perasaan-perasaan mereka itu keliru, tidak tepat, atau tidak sah.
  2. Orangtua yang tidak menyetujui, akibat terhadap anak : sama dengan gaya orangtua yang mengabaikan.
  3. Orangtua yang Laissez-Faire, akibatnya : mereka tidak belajar mengatur emosi mereka, mereka menghadapi kesulitan berkonsentrasi, menjalin persahabatan, bergaul dengan anak lain.
  4. Orangtua yang pelatih emosi, akibatnya : mereka belajar mempercayai perasaan-perasaan mereka, mengatur emosi-emosi mereka sendiri, dan menyelesaikan masalah-masalahnya. Mereka mempunyai harga diri yang tinggi, belajar dengan baik, dan bergaul dengan orang lain secara baik-baik.

Sifat orangtua yang mengabaikan, lama kelamaan mulai menganggap semua ungkapan kesedihan atau amarah anak-anak mereka sebagai tuntutan yang mustahil. Karena merasa frustasi atau dimanfaatkan, orangtua –orangtua ini bereaksi dengan meremehkan atau memperkecil kesedihan anak-anak mereka. Mereka mencoba memperkecil permasalahannya, membungkusnya, dan membuangnya sehingga dapat dilupakan.

Sebagai anak-anak, semacam orangtua seperti ini hanya mendapat sedikit bantuan sewaktu belajar mengatur emosi mereka sendiri. Oleh karena itu, sebagai orang dewasa, ketika mereka merasa sedih, mereka khawatir bahwa mereka akan tergelincir masuk ke dalam depresi yang tiada akhir. Atau, mereka merasa marah, mereka takut bahwa mereka akan menjadi marah besar dan melukai seseorang.

Sifat orangtua yang tidak menyetujui hampir sama dengan orangtua yang mengabaikan dengan berberapa perbedaan :secara mencolok orangtua tersebut kritis dan tidak tisak berempati saat mereka menggambarkan pengalaman-pengalaman emosional anaknya. Mereka bukan sekedar mengabaikan, menyangkal, atau meremehkan emosi-emosi negatif anaknya, mereka tidak menyetujui. Oleh karena itu, anak-anak mereka sering kali dimarahi, ditertibkan, atau dihukum karena mengungkapkan kesedihan, amarah, dan ketakutan.

Orangtua Laissez-Faire adalah orangtua yang penuh dengan empati bagi anak-anak mereka dan mereka memberitahukan kepada anak-anak itu bahwa apa pun yang mereka alami, ayah dan ibu akan memperbolehkannya. Masalahnya adalah, orangtua ini sering kali cenderung tidak terampil dan tidak bersedia memberikan bimbingan kepada anak-anak mereka tentang bagaimana cara mengatasi emosi-emosi mereka.

Orangtua pelatih berfungsi sebagai pemandu anak-anak mereka menempuh dunia emosi. Kajian-kajiannya memperlihatkan bahwa orangtua pelatih emosi mempunyai kesadaran yang kuat akan emosi-emosi mereka sendiri maupun emosi-emosi yang mereka kasihi.

Lima Langkah Penting Untuk Melatih Emosi

Langkah no. 1 menyadari emosi-emosi anak

Orangtua yang sadar terhadap emosi-emosi mereka sendiri dapat menggunakan kepekaan mereka untuk menyelaraskan diri dengan perasaan-perasaan anak mereka, tanpa memperhatikan betapa halus atau hebatnya. Namun, menjadi seorang yang peka dan sadar secara emosional bukan berarti kita selalu merasa mudah memahami perasaan-perasaan anak. Sering kali anak-anak mengungkapkan emosi mereka secara tidak langsung dan dengan cara membingungkan bagi orang dewasa. Bagaimanapun, jika kita mendengarkan secara seksama dan dengan hati yang terbuka, kita dapat memecahkan isyarat pesan yang secara tidak sadar tersembunyi oleh anak-anak dalam pergaulan mereka, permainan mereka, tingkah laku sehari-hari mereka.

Seandainya kita menduga bahwa anak sedang merasa sedih, marah, atau takut, ada baiknya mencoba meletakkan diri sendiri dalam posisi mereka, untuk melihat dunia dari sudut pandang mereka. Dan setiap kali kita merasa bahwa hati kita berpihak pada anak kita, maka kita tahu kita sedang merasakan apa yang dirasakan anak itu, kita sedang mengalami empati, yang merupakan landasan pelatihan emosi.

Langkah no. 2 mengakui emosi sebagai peluang untuk kedekatan dan mengajar

Bagi banyak orangtua, mengenali emosi negatif anak-anak mereka sebagai peluang untuk menjalin ikatan dan mengajar muncul sebagai suatu kelegaan, suatu pembebasan, suatu pengalaman besar “ini dia”. Menangani perasaan-perasaan yang rendah intensitasnya sebelum perasaan-perasaan itu meningkat memberikan pula suatu peluang kepada keluarga untuk melatih keterampilan mendengarkan dan menyelesaikan masalah sementara taruhannya masih kecil. Bila kita mengungkapkan minat dan keprihatinan terhadap mainan anak yang rusak atau ada goresan kecil, pengalaman itu merupakan batu-batu pembangun. Anak kita belajar kalau kita adalah sekutunya dan kita berdua memikirkan cara berkerja sama.

Langkah no. 3 mendengarkan dengan empati dan meneguhkan perasaan anak

Sewaktu mendengarkan anak pada saat-saat emosional, sadarlah bahwa menyampaikan pengamatan-pengamatan sederhana biasanya jauh lebih bermanfaat daripada mengajukan pertanyaan-pertanyaan menyelidik. Sebagai seorang anak kecil, mereka tidak memiliki keunggulan (atau kerugian) mawas diri bertahun-tahun, jadi barangkali mereka tidak siap memberikan jawabannya. Hindarilah pertanyaan-pertanyaan yang sudah diketahui jawabannya.

Langkah no. 4 menolong anak memberi nama emosi dengan kata-kata

Memberi nama emosi berjalan berdampingan dengan empati. Oleh karena itu, bagi para orangtua bantulah anak-anak menemukan kata-kata untuk melukiskan apa yang sedang mereka rasakan. Bukan berarti memberitahu anak-anak bagaimana seharusnya mereka merasa. Ini berarti membantu mereka menyusun kosakata yang dapat mereka gunakan untuk mengungkapkan emosi mereka. Orangtua dapat membantu dalam suatu situasi dengan membimbing anak menjajaki rangkaian emosinya, dan dengan meyakinkannya bahwa sering kali wajar-wajar saja merasakan dua perasaan sekaligus.

Langkah no. 5 menentukan batas-batas sambil membantu anak memecahkan masalah

Keluarga-keluarga lebih baik menggunakan metode-metode mematok batas sehingga memungkin anak-anak untuk tetap mempertahankan rasa harga diri, martabat diri, dan kekuasaannya. Jika anak-anak diberitahukan aturan-aturannya dan pengendalian diri, mereka cenderung tidak nakal. Apabila anak-anak memilih suatu pemecahan terhadap sebuah masalah yang tidak berhasil, tolonglah mereka menganalisis mengapa hal itu gagal. Kemudian kita dapat memecahkan itu dengan cara baru.

STRATEGI MELATIH EMOSI

Hindari anak kita dari kritik yang berlebihan, komentar yang menghina, atau mengolok-olok. Jika orangtua melakukan hal tersebut anak mereka tidak akan mempercayai orangtuanya. Gunakan “anjang-anjang” dan pujian untuk melatih anak. Abaikan “agenda mengasuh anak”. Lalu ciptakan sebuah denah mental tentang kehidupan sehari-hari. Jangan “berpihak kepada musuh”. Jangan mencoba memaksakan pemecahan orantua dengan anak. Bagilah mimpi-mimpi dan khayalan anak. Bersikap jujur pada anak. Bacalah buku bersama-sama. Bersabarlah dengan prosesnya. Memahami basis kekuasaan sebagai orangtua. Percayalah pada kodrat baik perkembangan manusia.

Semua itu tidak tepat apabila orangtua tidak memiliki waktu yang banyak. Apabila orangtua terlalu marah dan terlalu lelah sehingga latihan emosi tidak berguna. Apabila harus menangani kenakalan berat. Apabila anak “berpura-pura” mengalami emosi untuk menipu.

PERKAWINAN, PERCERAIAN, DAN KESEHATAN EMOSIONAL ANAK

Tetap bersama-sama dalam sebuah perkawinan yang bermasalah dan bercerai dapat sama-sama memiliki pengaruh buruk bagi anak-anak. Karena secara tidak langsung hal itu membuat psikis anak terganggu.

Hal itu dapat dikurangi dengan beberapa metode. Yang pertama melatih emosi dalam perkawinan orangtua. Hindarilah empat pelari estafet yang menghancurkan. Pelari No. 1 kecaman, No.2 penghinaan, No. 3 sikap bertahan, No.4 diam seribu bahasa. Mengelola konflik perkawinan.

PERAN PENTING SANG AYAH

Terlibatlah dalam perawatan anak sejak kehamilan. Tetaplah peka terhadap kebutuhan sehari-hari anak sewaktu tumbuh. Usakanlah keseimbangan antara kehidupan kerja dengan kehidupan keluarga. Tetaplah terlibat dalam kehidupan anak tanpa mengingat status pernikahan. Ingatlah bahwa dengan mendengarkan secara penuh empati, dengan menolong anak memberi label pada perasaan mereka, dan membimbing mereka dalam cara menangani amarah dan kesedihan mereka, para ayah dapat menjadi semakin dekat dengan anak mereka dalam saat-saat krisis emosional.

PELATIHAN EMOSI SEWAKTU ANAK TUMBUH

Saat bayi kurang lebih tiga tahun dimana bayi berminat dalam interaksi social tatap muka. Bersemangatlah dan gunakanlah perasaan bila orangtua bermain dengan anaknya, dengan mengulangi ungkapan-ungkapan aneh dan tindakan-tindakan yang lembut dan berirama. Jika itu berhasil, bayi akan belajar menyampaikan rasa senangnya dengan tersenyum, tertawa terkekeh, menendang-nendang kegirangan, dan berteriak-teriak. Tanggapan semacam itu mendorong orangtua untuk menjadi lebih suka bermain, sambil menciptakan suatu lingkaran interaksi yang penuh kasih, penuh suka cita, dan bergerak ke atas, yang lebih lanjut memperkuat ikatan emosional antara anak bayi dengan orangtuanya.

Umur enam sampai delapan bulan merupakan penjajakan luarbiasa bagi bayi, suatu masa saat mereka menemukan dunia benda-benda, manusia-manusia, dan tempat-tempat. Secara serentak, mereka juga menemukan cara-cara baru untuk mengungkapkan dan menyampaikan perasaan-perasaan seperti  gembira, rasa ingin tahu, rasa takut, dan kecewa dengan dunia di sekitar mereka. Kesadaran yang mekar semacam itu berlanjut sampai membuka peluang-peluang baru untuk pelatihan emosi.

Umur Sembilan sampai dua belas bulan merupaka periode di mana bayi mulai memahami bahwa manusi dapat membagi gagasan-gagasan dan emosi-emosi mereka satu sama lain. Pada umur Sembilan bulan, bayi mulai memahami bahwa orangtuanya tahu perasaan hatinya.

Masa satu atau dua tahun merupakan saat yang menyenangkan dan menggairahkan sewaktu anak mengembangkan makna tentang dirinya sendiri dan mulai menajajki kemandiriannya. Tetapi, ada alasan yang baik bahwa periode ini pun diberi nama dua tahun yang mengerikan. Inilah saatnya anak-anak menjadi jauh lebih menonjol diri dan untuk pertama kalinya, mereka membangkang.

Terkadang umur dua sampai tiga tahun, anak-anak mulai mewujudkan tingkah laku yang mereka amati terlebih dahulu pada anggota-anggota keluarga lainnya. Kemampuan si anak untuk menyimpan ingatan tentang tindakan-tindakan dan peristiwa-peristiwa di benaknya dan kemudian mengambilnya kembali untuk ditirukan di kemudian hari.

Masa kanak-kanak awal (umur empat sampai tujuh tahun). Pada umur empat tahun, anak-anak lazimnya sudah keluar dan pergi ke mana-mana, bertemu teman baru, menghabiskan waktu dalam berbagai macam lingkungan.

Permainan khayalan digemari saat periode ini mungkin ada kaitannya dengan manfaatnya untuk menolong anak-anak mengatasi sejumlah besar rasa cemas yang cenderung memuncak pada awal taman kanak-kanak. Faktor dasar ketakutan adalah rasa takut akan ketidakberdayaan, takut ditinggalkan, takut akan kegelapan, takut akan mimpi-mimpi buruk, rasa takut akan pertengkaran orangtua, takut mati.

Periode pertengahan usia anak-anak (umur delapan sampai dua belas tahun) ini, anak-anak mulai berhubungan dengan suatu kelompok sosial yang lebih luas dan memahami pengaruh sosial. Mereka mungkin menjadi orang yang masuk atau keluar diantara rekan-rekan sebayanya. Pada waktu yang sama, anak-anak mulai tumbuh secara kognitif, dengan mempelajari kekuatan intelek atas emosi.

Karena semakin besar kesadarab anak terhadap pengaruh rekan sebayanya, mungkin kita mulai membedakan salah satu motivasinya yang utama dalam hidupnya adalah, bagaimanapun, menghindari rasa malu. Anak-anak seusia ini perlu merasa dekat secara emosional dengan orangtua mereka dan mereka membutuhkan bimbingan penuh kasih saying yang ditimbulkan oleh kedekatan tersebut.

Masa remaja merupakan periode yang ditandai oleh keprihatinan besar terhadap pertanyaan-pertanyaan identitas : Siapakah aku? Aku ini sedang menjadi apa? Aku ini harus menjadi apa? Oleh karena itu, jangan terperanjat bila anak tampaknya menjadi benar-benar terserap pada dirinya sendiri pada salah satu tahap di masa remaja itu.

Inilah beberapa nasihat dari seorang ahli psikologi :

Terimalah bahwa remaja merupakan masa bagi anak-anak untuk memisahkan diri dari orangtua mereka. Tunjukkanlah rasa hormat kepada anak kita yang sudah remaja. Doronglah pengambilan keputusan secara mandiri sementara tetap menjadi pelatih emosi bagi anak.

Kita harus awas terhadap apa yang terjadi dalam kehidupan anak. Terimalah dan teguhkanlah pengalaman-pengalaman emosional anak. Apabial timbul masalah, dengarkanlah dan dengarkanlah dengan penuh empati, tanpa mengadili. Dan jadilah sekutu bila ia datang kepada kita untuk minta pertolongan akan suatu masalah. Meskipun langkah-langkah ini sederhana, sekarang kita tahu bahwa langkah-angkah itu merupakan basis dukungan emosional seumur hidup antara orangtua dengan anak.

Sumber :John Gottman,Ph. D. & Joan Declaire Kiat-Kiat Membesarkan Anak Yang Memiliki Kecerdesan Emosional Pt. Gramedia Pustaka Utama: 1997

 

Pendidikan Karakter Dalam Keluarga


DSCF0492Masalah terbesar (The Great Problem) yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini sebenarnya bukanlah krisis ekonomi atau pangan, tetapi masalah krisis moral atau akhlak. Krisis inilah yang menyebabkan timbulnya krisis-krisis lain seperti krisis ekonomi, politik, social, budaya, pertahanan dan keamanan.

HANCURNYA moral bangsa ini ditunjukan dengan merajalelanya berbagai tindakan kejahatan dan criminal di tengah-tengah masyarakat seperti penipuan, pencopetan, pencurian, perampokan, perkosaan, pembunuhan, dan termasuk juga tindakan kekerasan, baik atas nama ras, suku, budaya dan agama. Kerusakan moral juga terjadi di kalangan pelajar dan remaja. Hal ini ditandai dengan maraknya seks bebas, penyalahgunaan narkoba, peredaran foto dan video porno, serta tawuran pada kalangan pelajar dan remaja.

Direktur Remaja dan Perlindungan Hak-Hak Reproduksi BKKBN, M. Masri Muadz, mengatakan bahwa 63% remaja Indonesia pernah melakukan seks bebas, Sedangkan remaja korban narkoba di Indonesia ada 1,1 juta orang atau 3,9% dari total jumlah korban. Selain itu, berdasarkan data Pusat Pengendalian Gangguan Sosial DKI Jakarta, pelajar SD, SMP, dan SMA, yang terlibat tawuran mencapai 0,8% atau sekitar 1.318 siswa dari total 1.645.835 siswa di DKI Jakarta ( Dharma Kesuma dkk, 2011:2-3).

Sexsual Behavior Survey telah melakukan penelitian di 5 kota besar di Indonesia, yaitu Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya dan Bali pada bulan Mei 2011. Dari 663 responden yang diwawancarai secara langsung mengakui bahwa 39% responden remaja usia antara 15-19 tahun pernah melakukan hubungan seksual di luar nikah, sisanya 61% berusia antara 20-25 tahun. Lebih memprihatinkan lagi, berdasarkan profesi, peringkat tertinggi yang pernah melakukan free sex ditempati oleh para mahasiswa 31%, karyawan kantor 18%, sisanya pengusaha, pedagang, buruh dan sebagainya, termasuk pelajar SMP/SMA sebanyak 6%.

Fenomena kerusakan moral/akhlak yang menimpa masyarakat tersebut telah mendorong pemerintah Indonesia untuk menerapkan Kebijakan Nasional Pembangunan Karakter Bangsa (KN-PKB). Salah satu mewujudkan kebijakan tersebut adalah dengan menekankan pentingnya pendidikan karakter untuk diimplementasikan dalam setiap institusi pendidikan, baik formal ( sekolah ), informal ( keluarga ), maupun non formal ( masyarakat ).

Pendidikan karakter akan berjalan efektif dan utuh jika melibatkan tiga institusi, yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat. Pendidikan keluarga berperan penting karena keluargalah yang membentuk karakter seorang anak. Untuk merumuskan kerangka model pendidikan karakter dalam keluarga dapat dikonseptualisasi melalui pendekatan system pendidikan. Jika istilah system dikaitkan dengan pendidikan ( system pendidikan ), maka dapat mengandung makna “ suatu kesatuan komponen yang terdiri dari unsure-unsur pendidikan yang bekerjasama dan berhubungan antara satu dengan yang lainnya untuk mencapai tujuan pendidikan.” Dalam suatu system terdapat unsure-unsur, bagian-bagian, atau komponen-komponen yang saling berkaitan dan teratur, serta mekanismenya saling berhubungan dalam satu kesatuan yang semuanya di tujukan untuk mencapai satu tujuan. Isi kerangka model pendidikan karakter meliputi komponen: tujuan, pendidik, peserta didik, materi, metode, alat, program, dan evaluasi.

A. Model Pendidikan Karakter Dalam Keluarga

Model adalah contoh, pola, acuan, ragam, macam dan sebagainya yang dibuat menurut aslinya. Model merupakan kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman atau acuan dalam melakukan suatu kegiatan. Model juga dapat diartikan sesuatu yang dapat memvisualisasikan sebuah konsep dengan nyata. Model berbeda dengan konsep dalam bentuk teori. Fungsi model adalah menjembatani konsep dalam bentuk teori menjadi kenyataan.

Menurut fungsinya, model dibagi dalam tiga bentuk. Pertama, model deskriptif, yaitu model yang hanya menggambarkan situasi sebuah system tanpa rekomendasi dan peramalan, contohnya peta organisasi, Kedua, model prediktif, yaitu model yang menunjukan apa yang akan terjadi atau bila sesuatu terjadi, contohnya model alat peraga atau alat pendeteksi gempa. Ketiga, model normatife, yaitu model yang menyediakan jawaban terbaik terhadap satu persoalan. Model ini member rekomendasi tindakan-tindakan yang perlu diambil, contohnya model pemasaran, model ekonomi, model konseling, model pendidikan, model pembelajaran, dan sebagainya.

Pendidikan Karakter
Secara etimologis, kata karakter berasal dari bahasa Latin kharakter atau bahasa Yunani kharassein yang berarti member tanda (to mark), atau bahasa Perancis carakter, yang berarti membuat tajam atau membuat dalam (Majid dan Andayani, 2012:11). Dalam bahasa Inggris character, memiliki arti: watak, karakter, sifat, peran, dan huruf (Echols dan Shadiliy, 2003:110).Dalam Kamus Bahasa Indonesia, karakter diartikan sebagai tabiat, watak, sifat-sifat kejiwaan, akhlak, atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari pada yang lain (Poerwadarminta, 2007:521).

Secara terminologis karakter bisa diartikan sebagai totalitas ciri-ciri pribadi yang melekat dan dapat diidentifikasi pada perilaku individu yang bersifat unik, dalam arti secara khusus cirri-ciri ini membedakan antara satu individu dengan yang lainnya, dank arena cirri-ciri karakter tersebut dapat diidentifikasi pada perilaku individu dan bersifat unik, maka karakter sangat dekat dengan kepribadian individu. Suatu perbuatan dikatakan karakter/akhlak apabila perbuatan tersebut memlh ipaya memiliki cirri-ciri: perbuatan itu telah tertanam kuat dalam jiwa seseorang dan telah menjadi bagian dari kepribadiannya, perbuatan itu dilakukan dengan spontan tanpa pemikiran terlebih dahulu, perbuatan itu dilakukan tanpa ada paksaan atau tekanan dari luar, perbuatan itu dilakukan dengan sungguh-sungguh, bukan pura-pura atau sandiwara.

Pendidikan karakter adalah upaya membentuk/mengukir kepribadian manusia melalui proses knowing the good (mengetahui kebaikan), loving the good (mencintai kebaikan), yaitu proses pendidikan yang melibatkan tiga ranah: pengetahuan moral (moral knowing), perasaan moral (moral feeling/moral loving), dan tindakan moral (moral acting/moral doing), sehingga perbuatan mulia bisa terukir menjadi habit of mind, heart, and hands. Tanpa melibatkan tiga ranah tersebut pendidikan karakter tidak akan berjalan efektif.

  1. Pengetahuan Moral (Moral Knowing)

Pengetahuan moral (moral knowing) adalah kemampuan mengetahui, memahami, mempertimbangkan, membedakan dan menginterpretasikan jenis-jenis moral yang harus dilakukan dan yang mesti ditinggalkan.Pengetahuan moral sebagai pilar pertama pendidikan karakter mempunyai enam komponen, yaitu:

  1. Kesadaran moral (moral awareness) yaitu kemampuan menggunakan kecerdasan untuk melihat kapan sebuah situasi mempersyaratkan pertimbangan moral dan kemudian berpikir secara cermat tentang tindakan apa yang sebaiknya dilakukan.
  2. Pengetahuan nilai moral (knowing moral values) yaitu kemampuan memahami berbagai nilai-nilai moral seperti menghargai kehidupan dan kemerdekaan, tanggungjawab terhadap orang lain, kejujuran, keadilan, toleransi, penghormatan disiplin diri, integritas, kebaikan hati, berbelas kasih dan keberanian.
  3. Memahami sudut pandang lain (perspective taking) yaitu kemampuan menerima sudut pandang orang lain, memahami sebuah situasi sebagaimana orang lain memahaminya, mengimajinasikan bagaimana orang lain berfikir, mereaksi dan berperasaan.
  4. Penalaran moral (moral reasoning) yaitu memahami apa itu makna bermoral dan mengapa harus bermoral.
  5. Keberanian mengambil keputusan (decision making)
  6. Pengenalan diri (self knowledge) yaitu kemampuan mengenali perilaku kita dan mengevaluasinya secara kritis/jujur.
  1. Perasaan Moral ( moral feeling)

PeraSaan moral (moral feeling) adalah kemampuan merasa bersalah dan meras harus/wajib untuk melakukan tindakan moral. Memiliki enam komponen yaitu:

  1. Mendengarkan hati nurani (conscience)
  2. Harga diri (self-esteem)
  3. Empati ( empathy)
  4. Cinta kebaikan (loving the good)
  5. Kontrol diri (self control)
  6. Rendah hati (humility)

3. Tindakan Moral ( Moral Acting)
Tindakan moral merupakan hasil dari kedua karakter moral diatas. Mempunyai tiga komponen yaitu:

  1. Kompetensi (competence)
  2. Keinginan (will)
  3. Kebiasaan (habit)

B.  Keluarga

Keluarga merupakan tempat pendidikan pertama dan utama bagi seseorang. Pendidikan dalam keluarga sangat berperan dalam mengembangkan watak, karakter, dan kepribadian sesorang. Oleh karena itu pendidikan karakter dalam keluarga perlu diberdayakan secara serius.

  1. Fungsi Edukasi

     Fungsi edukasi keluarga adalah fungsi yang berkaitan dengan pendidikan anak khususnya dan pendidikan anggota keluarga pada umumnya. Bagi seorang anak, keluarga merupakan jenjang pendidikan pertama sebelum menapaki pendidikan formal (sekolah) dan masyarakat, disinilahkedua orang tuanya menjadi guru terbaiknya.

2. Fungsi Proteksi

     Fungsi proteksi maksudnya keluarga menjadi tempat perlindungan yang memberikan rasa aman, tentram lahir dan batin sejak anak-anak berada dalam kandungan ibunya sampai mereka menjadi dewasa dan lanjut usia. Perlindungan disini termasuk fisik, mental dan moral.

3. Fungsi afeksi

     Fungsi afeksi adalah sebagai pemupuk dan pencipta rasa kasih sayang dan cinta antara sesame anggota keluarga.

4. Fungsi sosialisasi

  Fungsi sosialisasi keluarga terkait erat dengan tugas mengantarkan anak ke dalam kehidupan social yang lebih nyata dengan tugas mengantarkan anak kedalam kehidupan  social yang lebih nyata dan luas.

5. Fungsi Reproduksi

   Keluarga sebagai sebuah organism memiliki fungsi reproduksi, dimana setiap pasangan suami istri yang diikat dengan tali perkawinan yang sah dapat memberi keturunan yang berkualitas sehingga dapat melahirkan anak sebagai  keturunan yang akan mewarisi dan menjadi penerus tugas kemanusiaan.

6. Fungsi Religi

  Artinya keluarga berkewajiban memperkenalkan dan mengajak serta anak dan anggota keluarga lainnya kepada kehidupan beragama.

7. Fungsi Ekonomi

    Fungsi ekonomi bertujuan agar setiap keluarga meningkatkan taraf hidup yang tercerminkan pada pemenuhan alat hidup seperti makn, minum, kesehatan, dan sebagainya yang menjadi prasarat dasar dalam memenuhi kebutuhan hidup keluarga dalam perspektif ekonomis.

8. Fungsi rekreasi

  Fungsi rekreasi keluarga adalah fungsi yang berkaitan dengan peran keluarga menjadi lingkungan yang nyaman, menyenangkan, hangat dan penuh gairah bagi setiap anggota keluarga untuk dapat menghilangkan rasa keletihan.

9. Fungsi Biologis

  Fungsi biologis keluarga berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan biologis anggota keluarga seperti makan, minum, kesehatan.

10. Fungsi Transformasi

   Fungsi transformasi adalah berkaitan dengan peran keluarga dalam hal pewarisan tradisi dan budaya kepada generasi setelahnya baik tradisi baik maupun buruk.

Dari uraian diatas dapat di pahami bahwa yang dimaksud “Model Pendidikan Karakter dalam Keluarga” adalah kerangka konseptual dan prosedur yang sistematis berkenaan dengan penanaman nilai-nilai karakter pada anak yang dilakukan oleh orang tua dalam keluarga yang meliputi komponen pengetahuan (kognitif), perasaan (afektif), dan tindakan (psikomotorik) untuk melakukan nilai-nilai tersebut , baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesame manusia, maupun lingkungan sekitar. Kerangka konseptual itu kemudian dapat dijadikan rujukan oleh orang lain yang ingin mengimplementasikan pendidikan karakter dalam keluarga.

C. Nilai-Nilai Karakter Yang Ditanamkan Dalam Keluarga

Nilai-nilai yang ditanamkan dalam pendidikan karakter dalam keluarga antara lain:

1. Religius yaitu sikap dan perilaku yang patuhdalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.

2.   Jujur yaitu perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan dan pekerjaan.

3.   Toleransi yaitu sikap dan tindakan menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.

4.  Disiplin yaitu tindakan yang menunjukan perilaku tertib dan patuh terhadap berbagai peraturan dan ketentuan.

5.  Kerja Keras yaitu perilaku yang menunjukan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan dan tugas, serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya.

6.   Kreatif yaitu berfikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki.

7.  Mandiri yaitu sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.

8.  Demokratis yaitu cara berfikir, bersikap dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.

9.   Rasa ingin tahu yaitu sikap dan tindakan yang ingin selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat dan di dengar.

10. Semangat kebangsaan yaitu cara berfikir, bertindak dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan Negara diatas kepentingan diri dan kelompoknya.

11. Cinta Tanah Air yaitu cara berfikir, bersikap dan berbuat yang menunjukan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, social, budaya, ekonomi dan politik bangsa.

12. Menghargai Prestasi yaitu sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat dan mengakuai serta menghormati keberhasilan orng lain.

13. Bersahabat/Komunikatif yaitu tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul dan bekerja sama dengan orang lain.

14. Cinta Damai yaitu sikap, perkataan dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa tenang dan aman atas kehadiran dirinya.

15. Gemar Membaca yaitu kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya.

16. Peduli Lingkungan yaitu sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam disekitarnya, dan mengembangkan upaya untuk memperbaiki kerusakan-kerusakan alam yang sudah terjadi.

17. Peduli Sosial yaitu sikap dan tindakan yang selalu ingin member bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.

Tanggung Jawab Yaitu sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya yang seharusnya dia lakukan baik terhadap diri sendiri masyarakat, lingkungan, Negara dan Tuhan Yang Maha Esa.

D.Tujuan Pendidikan Karakter Dalam Keluarga

Tujuan penting pendidikan karakter adalah memfasilitasi pengetahuan dan pengembangan nilai-nilai tertentu sehingga terwujud dalam perilaku anak. Pengetahuan dan pengembangan memiliki makna bahwa pendidikan karakter bukanlah dogmatisasi nilai kepada peserta didik tetapi sebuah proses yang membawa peserta didik untuk memahami dan merefleksi bagaimana suatu nilai menjadi penting untuk diwujudkan dalam perilaku keseharian manusia termasuk bagi anak.

Tujuan lainnya adalah membangun kepribadian dan budi pekerti luhur sebagai modal dasar dalam berkehidupan ditengah-tengah masyarakat, baik sebagai umat beragama, maupun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.Pendidikan karakter mengajarkan, membina, membimbing dan melatih peserta didik agar memiliki karakter, sikap mental positif, dan akhlak yang terpuji.

Tujuan pendidikan karakter dalam keluarga adalah membentuk karakter positif atau akhlak terpuji pada diri anak, untuk membina anak-anak agar menjadi pribadi yang taat pada agama, berbakti kepada orang tuanya, bermanfaat untuk masyarakatnya, dan berguna bagi agama, nusa dan bangsanya.

E. Pendidik Pada Pendidikan Karakter Dalam Keluarga

Pendidik dibagi dalam tiga kategori, yaitu life educator, semi professional, professional educator. Life educator adalah orang yang secara alamiah menjalankan tugas dan kewajibannya mengasuh dan membesarkan anaknya atau membantu perkembangannya menuju kedewasaan. Itulah orang tua kita. Semi professional educator adalah orang yang menjalankan tugas pendidikan, mengembangkan kecakapan orang dengan bantuan sarana prasarana pendidikan atau keahlian orang lain. Termasuk dalam kategori ini adalah petugas perpustakaan, petugas museum, petugas pameran dan sejenisnya. Adapun professional educator adalah orang yang menjalankan tugasnya sebagai pendidik dengan keahlian khusus dan kompetensi yang tinggi. Termasuk dalam kategori ini adalah guru dan dosen.

Tanggung jawab pendidikan yang menjadi beban orang tua sekurang-kurangnya harus dilaksanakan dalam rangka:

  1. Memelihara dan membesarkan anak
  2. Melindungi dan menjamin kesehatan, baik jasmaniah maupun rohaniyah dari berbagai gangguan penyakit dan dari penyelewengan kehidupan dari tujuan hidup yang sesuai dengan agama dan falsafah hidup yang dianutnya.
  3. Memberi pengajaran dalam arti luas sehinggaanak memperoleh peluang untuk memiliki pengetahuan dan kecakapan seluas dan setinggi mungkin yang dapat dicapainya.
  4. Membahagiakan anak baik di dunia maupun diakhirat sesuai dengan pandangan dan tujuan hidup muslim.

F.Peserta Didik Pada Pendidikan Karakter Dalam Keluarga

Dalam arti sempit, peserta didik diartikan sebagai anak yang belum dewasa yang tanggung jawabnya diserahkan kepada pendidik. Dalam perspektif pendidikan secara umum bahwa yang disebut peserta didik adalah setiap orang atau sekelompok orang yang harus mendpatkan bimbingan, arahan dan pengajaran dari proses pendidikan.

Dalam rumah tangga yang menduduki sebagai peserta didik adalah anak. Alquran memandang anak semenjak dalam kandungan harus sudah mendapatkan pendidikan. Proses pendidikan ini biasa disebut dengan pendidikan prenatal atau pendidikan anak dalam kandungan. Demikian juga setelah anak lahir tampak jelas terdapat beberapa fakta yang mengharuskan anak mendapatkan pendidikan. Fakta-fakta tersebut antara lain: setiap anak lahir dalam keadaan lemah tidak berdaya, setiap anak lahir membawa potensi dan butuh dikembangkan, setiap anak butuh bimbingan dan arahan untuk mengenal sesuatu, dan setiap anak butuh perhatian dan kasih sayang dari orang tuanya.

Dapat juga dikatakan bahwa peserta didik adalah mereka yang sedang berkembang baik secara fisik maupun psikis. Peserta didik bukanlah miniature orang dewasa. Selain itu mereka juga memiliki berbagai potensi yang harus diarahkan dan di bina agar potensi tersebut  bermanfaat. Oleh karenamya pendidikan karakter adalah sarana yang tepat untuk itu.

G.Materi Pendidikan Karakter Dalam Keluarga

Salah satu komponen operasional pendidikan sebagai suatu system adalah materi. Materi pendidikan adalah semua bahan pelajaran (pesan, informasi, pengetahuan dan pengalaman) yang disampaikan kepada peserta didik.

Jika mengacu kepada Pedoman Pelaksanaan Pendidikan Karakter yang dikeluarkan Kemendiknas, materi pendidikan karakter di lembaga pendidikan formal (sekolah), setidaknya memuat 18 nilai karakter yaitu religious, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli social, dan tanggung jawab.

Sedangkan dalam keluarga, materi pendidikan karakter pada garis besarnya ialah materi untuk mengembangkan karakter atau akhlak anak. Orang tua harus memperhatikan perkembangan karakter anaknya. Karakter tersebut lebih diutamakan pada praktik berperilaku, bertutur kata yang baik, tidak mengucapkan kata-kata kotor atau kasar, berjalan dengan sopan dan tidak sombong, patuh dan hormat kepada orang tua, menyatakan permisi ketika melewati orang lain, mau mengucapkan terimakasih jika diberikan atau menerima sesuatu dari orang lain serta dilakukan dengan tangan kanan, tidak ragu untuk meminta maaf jika merasa bersalah pada orang lain, membuang sampah pada tempatnya, dan sebagainya. Dalam hal ini orang tua harus menjadi teladan bagi anaknya.

H. Metode Pendidikan Karakter Dalam Keluarga

Metode dapat diartikan sebagai jalan atau cara untuk mencapai tujuan. Jika kata metode dikaitkan dengan pendidikan karakter maka dapat diartikan metode sebagai jalan untuk menanamkan karakter  pada diri seseorang sehingga terlihat dalam pribadi objek sasaran, yaitu pribadi yang berkarakter.

Untuk menanamkan karakter pada diri anak ada beberapa metode yang bisa digunakan, antara lain:

1. Metode Internalisasi

  Metode Internalisasi adalah upaya memasukan pengetahuan (knowing) dan ketrampilan melaksanakan pengetahuan (doing) ke dalam diri seseorang sehingga pengetahuan itu menjadi kepribadiannya (being) dalam kehidupan sehari-hari.

2. Metode Keteladanan

   “Anak adalah peniru yang baik.” Berbagi keteladanan dalam mendidik anak menjadi sesuatu yang sangat penting. Seorang anak akan tumbuh dalam kebaikan dan memiliki karakter yang baik jika ia melihat orang tuanya member teladan yang baik. Sebaliknya, seorang anak akan tumbuh dalam penyelewengan dan memiliki karakter yang buruk, jika ia melihat orang tuanya memberikan teladan yang buruk.

3. Metode Pembiasaan

  Metode pembiasaan dalam membina karakter anak sangatlah penting. Jika metode pembiasaan sudah diterapkan dengan baik dalam keluarga, pasti akan lahir anak-anak yang memiliki karakter yang baik dan tidak mustahil karakter mereka pun menjadi teladan bagi orang lain.

4. Metode Bermain

  Dunia anak adalah dunia bermain.Bermain merupakan cara yang paling tepat untuk mengembangkan kemampuan anak sesuai kompetensinya.Kegiatan bermain yang mendukung pembelajaran anak yaitu bermain fungsional atau sensorimotor, bermain peran, dan bermain konstruktif.

5. Metode Cerita

  Metode cerita adalah metode mendidik yang bertumpu pada bahasa baik lisan maupun tulisan. Bercerita dapat meningkatkan kedekatan hubungan orang tua dan anak. Selain itu, bercerita juga bisa mengembangkan imajinasi dan otak kanan anak.

6. Metode Nasihat

  Metode nasihat merupakan penyampaian kata-kata yang menyentuh hati dan disertai keteladanan. Agar nasihat dapat membekas pada diri anak, sebaiknya nasihat bersifat cerita, kisah, perumpamaan, menggunakan kata-kata yang baik dan orang tua memberikan contoh terlebih dahulu sebelum memberikan nasihat.

7. Metode Penghargaan dan Hukuman

   Metode penghargaan penting untuk dilakukan karena pada dasarnya setiap orang dipastikan membutuhkan penghargaan dan ingin dihargai. Anak adalah fase perkembangan manusia yang sangat membutuhkan penghargaan.Penghargaan harus didahulukan dari pada hukuman. Jika hukuman terpaksa harus diberikan, maka hati-hatilah dalam mempergunakannya, jangan menghukum anak secara berlebihan, jangan menghukum ketika marah, jangan memukul bagian-bagian tertentu dari anggota tubuh anak seperti wajah, dan usahakan hukuman itu bersifat adil (sesuai dengan kesalahan anak).

I. Alat pendidikan karakter dalam keluarga

Yang dimaksud dengan alat pendidikan yaitu segala sesuatu yang digunakan oleh pelaksana kegiatan pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan. Dalam proses pendidikan informal seperti mendidik karakter anak dirumah, alat pendidikan yang bisa digunakan sesungguhnya sangat banyak, yakni apa saja yang ada dirumah, mulai dari perabotan rumah tangga, permainan anak sampai alat-alat elektronik. Tapi penggunaan alat itu bermanfaat atau tidak sangat tergantung pada pengaturan orangtua.

Dalam keadaan yang normal dan mampu, sebaiknya setiap rumah memiliki fasilitas pendidikan setidaknya berupa: ruang belajar, mushola besrta kelengkapan shalat dan Alquran, ruang perpustakaan dan buku-bukunya, ruang computer dan jaringan internet dan sebagainya. Penyediaan buku-buku agama dan buku-buku lainnya patut untuk dilengkapi karena dari buku-buku itulah kita dapat menambah wawasan dan pengetahuan anak. Yang juga tidak boleh dilupakan orang tua, sebaiknya ia menyediakan Alquran sesuai dengan jumlah anggota keluarga yang ada dirumah. Gambar-gambar yang tidak sopan sebaiknya diganti dengan gambar-gambar yang menyejukan dan memberikan ilmu bagi yang melihatnya.

J. Program Pendidikan Karakter Dalam Keluarga

Program pendidikan karakter dapat dilakukan melalui cara-cara berikut ini:

1. Pengajaran

     Dalam konteks pendidikan karakter di keluarga, pengajaran dapat diartikan sebagai suatu upaya yang dilakukan oleh orang tua untuk memberikan pengetahuan kepada anak tentang nilai-nilai karakter tertentu, dan membimbing serta mendorongnya untuk mengaplikasikan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

2. Pemotivasian

  Pemotivasian adalah proses mendorong dan menggerakkan seseorang agar mau melakukan perbuatan-perbuatan tertentu sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Dalam konteks pendidikan karakter di keluarga, pemotivasian dapat dimaknai sebagai upaya-upaya menggerakkan atau mendorong anak untuk mengaplikasikan nilai-nilai karakter. Berkaitan dengan itu, orang tua dituntut untuk mampu menjadi motivator bagi anak-anaknya.

3. Peneladanan

     Dalam kehidupan sehari-hari perilaku yang dilakukan anak-anak pada dasarnya mereka peroleh dari meniru, sehingga penting bagi orang tua untuk member teladan yang baik bagi anak-anaknya.

4. Pembiasaan

     Peranan orang tua sangat besar untuk membina karakter anak dengan pola apapun. Dengan pembiasaan salah satunya, dapat mengantarkan kea rah kematangan dan kedewasaan, sehingga anak dapat mengendalikan dirinya menyelesaikan persoalannya, dan menghadapi tantangan hidupnya, sehingga perlu penerapan disiplin.

5. Penegakan aturan

   Langkah awal untuk mewujudkan penegakan aturan dalam keluarga adalah dengan membuat peraturan keluarga yang disepakati bersama dan dapat mengikat semua pihak dirumah, tak terkecuali orang tua.

K. Evaluasi Pendidikan Karakter Dalam Keluarga

Evaluasi adalah penilaian terhadap sesuatu. Sasaran evaluasi adalah semua komponen yang berkaitan dengan pendidikan seperti pendidik, peserta didik, materi, metode, alat pendidikan dan sebagainya. Peserta didik merupakan sasaran evaluasi yang utama karena letak keberhasilan proses pendidikan biasanya dilihat dari keberhasilan peserta didiknya. Objek evaluasi peserta didik harus mencangkup dimensi/ranah, kognitif, afektif, dan psikomotor.

Evaluasi kognitif pesrta didik berarti mengukur keberhasilan perkembangan pengetahuan mereka termasuk di dalamnya fungsi ingatan dan kecerdasan. Evaluasi aspek afektif peserta didik berarti mengukur keberhasilan perkembangan perasaan mereka pada pengetahuan termasuk di dalamnya fungsi internalisasi dan karakterisasi. Evaluasi psikomotor peserta didik berarti mengukur keberhasilan tindakan mereka yang berkaitan dengan pengetahuan termasuk di dalamnya fungsi kehendak dan kemauan.

Dalam pendidikan informal (keluarga), evaluasi biasanya lebih kepada penilaian yang bersifat normative tanpa disertai soal tes dan penentuan angka dengan skala tertentu. Evaluasi yang dilakukan cukup dengan menilai atau mengukur apakah pekerjaan yang diberikan orang tua sudah dilaksanakan atau belum oleh anak, apakah nasihat yang disampaikan oleh orang tua sudah dipraktekan atau belum, dan apakah larangan yang di kemukakan  sudah di tinggalkan atau belum. Dengan demikian evaluasi dalam keluarga lebih dekat kepada fungsi pengawasan dan control.

Selanjutnya jika dikaitkan dengan pendidikan karakter dalam keluarga, maka evaluasi di sini lebih di tekankan kepada ranah psikomotor anak, karena hakikat keberhasilan pendidikan karakter adalah dapat di lihat dari performance atau penampilan diri anak dalam berbicara, berpikir, bersikap, bertindak, dan berkarya dalam kehidupan sehari-hari.

Penutup

Pendidikan karakter pada hakikatnya adalah upaya sistematis untuk membimbing peserta didik agar memahami nilai-nilai kebaikan (kognitif), dan melaksanakan nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan sehari-hari (psikomotorik).

Untuk merumuskan pendidikan karakter dalam keluarga dapat dikonseptualisasi melalui pendekatan system pendidikan yang meliputi:

  1. Tujuan

    Tujuan adalah sasaran atau hasil akhir yang ingi dicapai melalui proses pendidikan karakter dalam keluarga.

  1. Pendidik

   Pendidik adalah semua orang dewasa yang ada dalam rumah yang berkewajiban melakukan kegiatan mendidik karakter anak.

  1. Peserta Didik

    Peserta didik pada pendidikan karakter dalam keluarga adalah setiap anak yang belum dewasa dan perlu mendapatkan bimbingan dan arahan dari pendidik, baik itu anak kandung, anak angkat, maupun anak asuh.

  1. Materi

  Materi adalah sekumpulan pesan, pengetahuan, informasi, pengalaman, dan nilai-nilai karakter yang akan diberikan kepada peserta didik.

  1. Metode

   Metode adalah semua cara atau jalan yang ditempuh untuk mencapai tujuan pendidikan karakter.

  1. Alat

   Alat adalah sesuatu yang digunakan oleh pelaksana kegiatan pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan.

  1. Program

    Program adalah segala bentuk kegiatan/usaha yang dilakukan dalam menanamkan karakter pada diri anak.

  1. Evaluasi

    Evaluasi adalah penilaian/pengukuran tingkat keberhasilan anak mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam sebuah program.

Sumber :

Amirullah Syarbini Model Pendidikan Karakter dalam keluarga Elex Media Komputindo, Jakarta, 2013

Mengenal Psikologi Pendidikan


reformasiHAL yang Tidak bisa kita pungkiri, apalagi di zaman serba canggih seperti ini sangat perlu pendidikan mengenai psikologi. Psikologi adalah ilmu pengetahuan yang berusaha memahami sesama manusia, dengan tujuan untuk dapat memperlakukannya dengan lebih tepat. Karena itu, pengetahuan psikologis mengenai anak didik dalam proses pendidikan adalah hal yang perlu dan penting bagi setiap pendidik. Sehingga seharusnya adalah kebutuhan setiap pendidik memiliki pengetahuan tentang psikologi pendidikan.

Mengingat setiap orang pada nantinya akan menjadi seorang pendidik, karena pada hakikatnya pendidikan psikologi pendidikan itu dibutuhkan oleh setiap orang. Karena masalah pendidikan, terutama pendidikan psikologi adalah masalah setiap orang dari dulu hingga sekarang, dan tentu menjadi masalah pula hingga waktu yang akan datang.

Ruang Lingkup Psikologi Pendidikan

Masalah yang sentral dalam dalam psikologi pendidikan adalah masalah belajar. Sebenarnya, belajar (dan mengajar) adalah tindak pelaksanaan dalam usaha pendidikan. Di dalamnya terdapat usaha mendidik anak-anak didik belajar dan si pendidik mengajar sesuatu kepada para anak didik. Proses si pendidik dengan sengaja dan penuh tanggungjawab memberikan pengaruhnyakepada anak didik, demi kebahagiaa anak didik. Psikologi pendidikan berusaha menjadikan kajian tentang faktor-faktor psikologis yang berperan dalam proses pendidikan. Disamping itumasih terdapat beberapa masalah khusus yag juga perlu penyorotan secara psikologis, seperti soal pendidikan orang dewasa, kesehatan mental serta bimbingan dan konseling, materi yang dipakai,evaluasi hasil pendidikan, dan sebagainya.

Sifat-sifat Umum Aktivitas Manusia

  • Perhatian

Perhatian adalah pemusatan tenaga psikis tertuju kepada suatu objek. Bisa juga diartikanbanyak sedikitnya kesadaran yang menyertai sesuatu aktivitas yang dilakukan. Macam-macam  perhatian

  1. Atas dasar intensitasnya: perhatian intensif dan perhatian tidak intensif. Aktivitas yang disertai dengan perharian intensif akan lebih sukses, prestasinya lebih tinggi. Akan lebih baik jika pelajaran dapat diterima oleh murid-murid dengan perhatin yang cukup intensif.
  2. Atas dasar cara timbulnya: perhatian spontan (perhatian tak disengaja), dan perhatian sekehendak (perhatian disengaja). Perhatian spontan atau tak disengaja cenderung untuk brlangsung lebih lama dan lebih intensif daripada perhatian yang disengaja. Akan lebih baik kalau pelajaran dapat diterima oleh murid-murid dengan perhatian yang spontan.
  3. Atas dasar luasnya objek yang dikenai perhatian: perhatian terpancar (distributif) dan perhatian terpusat (konsentratif).
  • Pengamatan

Manusia mengenal wadag atau dunia riil, baik dirinya sendiri maupun dunia sekitar tempatnya berada dengan melihat, mendengar, membau atau mengecap. Cara mengenali objek yang demikian disebut mengamati. Sedangkan melihat, mendengar, dan yang laiinya disebut modalitas pengamatan.

1.Penglihatan

Modalitas pengamatan yang dibedakan menurut pancaindera yang dipergunakan untuk mengamati, yaitu penglihatan, pendengaran, rabaan, pembauan, atau penciuman dan pencecapan. Dari kelima modalitas pengamatan yang telah mendapatkan penelitian secara meluas dan mendalam adalah penglihatan. Menurut objeknya, masalah penglihatan digolongan menjadi 3 golongan, yaitu (1) melihat bentuk, (2) melihat dalam dan (3) melihat warna.

2.Melihat Bentuk

Yang dimaksud melihat bentuk ialah melihat objek yang berdimensi dua. Objek pengelihatan tidak kita lihat lepas-lepas satu daripada yang lain, melainkan kita lihat sebagai objek yang bersangkutan satu sama lain. Objek yang yang jauh, dekat, bagian-bagian dan keseluruhan objek terlihat oleh kita.

3.Melihat Dalam

Yang dimaksud melihat dalam ialah melihat objek berdimensi tiga. Salah satu gejala yang terpenting disini aialah konstansi besar.

4.Melihat Warna

Dalam pendidikan keindahan dan pendidikan kepribadian, nilai lambang warna-warna merupakan alat yang sangat berguna. Berikut nilai lambang warna:

  • Hitam : melambangkan kegelapan, kesedihan.
  • Putih : melambangkan kesucian, cahaya
  • Hijau : melambangkan keseimbangan, harapan, keselarasan
  • Biru : melambangkan sifat-sifat yang dalam tak terhingga, tenang, kesosialan
  • Kuning : melambangkan sifat riang, ceria
  • Merah : melambangkan ekspansif, dominan, berani.

5.Pendengaran

Mendengar adalah menangkap bunyi (suara) dengan indera pendengar. Selain bunyi bisa menjadi perantara untuk berkomunikasi, bunyi juga memiliki 2 fungsi lain, yaitu pertama sebagai tanda (signal). Pada kasus ini yang berhubungan dengan ekspresi manusia, berteriak katena terkejut, menangis karena sakit, kagum, dan sebagainya. Yang kedua sebagai lambang. Yang biasa kita gunakan ketika menghadapi bahasa.

6.Rabaan

Indera-indera kinestesi, sentuh dan tekanan, panas, dingin, rasa sakit, berfungsi penting dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan indera vibrasi tidak memiliki peranan yang begitu berarti. Jika seseorang meraba dengan mata tertutup, maka akan terjadi visualisasi, artinya kesan meraba akan digantikan dengan kesan penglihatan. Hal ini membuktikan betapa pentingnya kedudukan penglihatan, diantara modalitas pengamatan yang lain.

7.Ingatan (memory)

Ingatan disini memiliki arti sebagai sebuah kecakapan untuk menerima, menyimpan, dan memproduksikan kesan-kesan. Ingatan dan lupa, tidak bisa dipisahkan, karena memang hal tersebut bersifat manusiawi. Akan tetapi saat murid atau pelajar sedang menghafal, hendaklah mengatur kondisi sedemikian rupa, sehingga bisa mencapai hasil yang maksimal. Misalnya menghafal dengan suara keras, pemilihan teknik yang tepat, serta pembagian waktu belajar yang baik.

Sifat-sifat Khas Kepribadian Manusia

            Hippocrates (460-370) berpendapat bahwa di dalam tubuh manusia terdapat cairan-cairan yang mendukung atau berpengaruh terhadap sifat-sifat manusia, yaitu ada chole, melanchole, phlegma, dan sanguis. Kemudian Galenus (129-200) menyempurnakan pendapat Hippocrates tersebut, ia mengungkapkan bahwa cairan tersebut terdapat pada tubuh manusia dalam kadar tertentu, jika salah satu cairan tersebut kadarnya lebih banyak dari yang seharusnya, akan mendominasi suatu sifat tertentu.

CholePrinsip yang ada pada cairan ini yaitu tegangan (tension), memiliki tipe choleris, dan menghasilkan sifat khas yaitu; memiliki semangat serta daya juang yang besar, optimsme, hatinya mudah terbakar serta keras.

MelancholePrinsip yang ada pada cairan ini yaitu penegara (regidity), memiliki tipe melanholis, dan menghasilkan sifat khas yaitu; mudah kecewa, memiliki daya juang yang kecil, pesimistis, serta muram.

Phlegma .Prinsip yang ada pada cairan ini yaitu plastisitas, memiliki tipe phlegmatis, dan menghasilkan sifat khas yaitu; tak suka terburu-buru, tenang, setia, serta tidak mudah dipengaruhi.

Sanguis .Prinsip yang ada pada cairan ini yaitu ekspansivitas, memiliki tipe sanguinis, dan menghasilkan sifat khas yaitu; mudah berganti haluan, ramah, lekas bertindak tapi juga lekas berhenti.

Selain beberapa jenis cairan yang memiliki pengaruh terhadap sifat seseorang, manusia juga memiliki empat macam fungsi jiwa, yaitu yang rasional mencakup perasaan dan pikiran, kemudian ada yang irrasional, mencakup pendriaan dan intuisi.

  1. Pikiran; bersifat rasional, cara bekerjanya dengan penilaian benar dan salah
  2. Perasaan; bersifat rasional, cara bekerjanya dengan penilaian senang dan tak senang
  3. Pendriaan; bersifat irrasional, cara bekerjanya dengan penilaian sadar indriah
  4. Intuisi; bersifat irrasional, cara bekerjanya dengan penilaian tak sadar naluriah

Alfred Adler mengungkapka teori megenai sifat khas kepribadian manusia, yaitu Individual Psychologie. Individual Psychologiememiliki arti penting sebagai cara untuk memahami sesama manusia. Aliran ini tidak mementingkan perumusan-perumusan yang teliti, melainkan lebih mementingkan penyusunan petunjuk praktis untuk memahami sesama manusia. Karena itu justru dalam lapangan pendidikan pengaruh aliran ini besar, karen petunjuk petunjuk itu sangat berguna di dalam praktik pendidikan. Adler berpendapat, bahwa manusia lebih didorong oleh harapan-harapannya mengenai masa depan daripada pengalamannya dimasa lampau. Tujuan itulah yang membuat manusia kurang peka terhadap lingkungan sekitar dan bersifat individualis.

Mula-mula manusia didorong oleh dorongan keakuan, yatu dorongan untuk mengejar kekuasaan dan kekuatan untuk mencapai konpensasi bagi rasa rendah dirinya. Selanjutnya, manusia didorong oleh dorongan kemasyarakatan yang menyebabkan ia menempatkan kepentingan sendiri dibawah kepentingan umum

Perbedaan-perbedaan dalam Bakat

Suatu hal yang dipandang self-evident ialah bahwa seseorang akan lebih behasil kalau dia belajar dalam lapangan yang sesuai dengan bakatnya; demikian pula dalam lapangan kerja, sesorang akan lebih berhasil kalau dia bekerja dalam lapangan yang sesuai dengan bakatnya.

Apakah Bakat itu?

William B. Michael menunjau bakat itu, terutama dari segi kemampuan individu untuk melakukan sesuatu tugas, yang sedikit sekali tergantung kepada latihan mengenai hal tersebut. Lalu ada juga Bingham yang mengemukakan definisi bakat, akan tetapi Bingham menitikberatkan pada segi apa yang dapat dilakukan oleh individu, jadi segi performance setelah individu mendapatkan latihan. Selanjutnya Guilford memberikan definisi yang lain lagi, yaitu bahwa aptitude itu mencakup 3 dimensi psikologis, yaitu:

1.Dimensi perseptual

     Dimensi perseptual meliputi kemampuan dalam mengadakan presepsi, dan ini meliputi beberapa faktor. Seperti kepekaan indera, perhatian, orientasi ruang dan waktu, luasnya daerah presepsi, kecepatan presepsi dan sebagainya.

2.Dimensi psiko-motor

     Dimensi psiko-motor mencakup enam faktor, yaitu faktor kekuatan, faktor impuls, faktor kecepatan gerak,  faktor ketepatan, faktor koordinasi, faktor keluwesan.

3.Dimensi intelektual

     Dimensi inilah yang umumnya mendapat penyorotan secara luas, karena memang dimensi inilah yang mempunyai implikasi sangat luas. Dimensi ini meliputi lima faktor, yaitu;

  1. Faktor ingatan, yang mencakup faktor ingatan mengenai substansi, relasi dan sistem.
  2. Faktor pengenalan, yang mencakup pengenalan terhadap keseluruhan informasi, terhadap golongan, terhadap hubungan-hubungan, terhadap bentuk atau struktur, dan terhadap kesimpulan.
  3. Faktor evaluatif yang meliputi evaluasi mengenai idientitas, relasi-relasi dan evaluasi terhadap sistem.
  4. Faktor berfikir divergen, yang meliputi faktor untuk menghasilkan nama-nama, hubungan-hubungan, sistem-sistem, transformasi dan menghasilkan implikasi-implikasi yang unik.
  5. Faktor berfikir divergen yang meliputi faktor untuk pengalihan kelas-kelas secara spontan, faktor kelancaran dalam menghasilkan hubungan-hubungan, faktor untuk menghasilkan sistem, faktor untuk transformasi divergen, serta untuk menyusun bagian-bagian menjadi garis besar atau kerangka.

Dari ilustrasi diatas, bisa kita tarik kesimpulan betapa rumitnya kualitas manusia yang kita sebut bakat tersebut. Variasi bakattimbul karena variasi dalam kombinasi, korelasi, dan intensitas faktor-faktor tersebut. Dn variasi inilah yang harus kita kenali sedini munkin.

Bagaimana Cara Kita Mengenali Bakat Seseorang?

Biasanya dilakukan dalam diagnosis tentang bakat dengan membuat ururtan (ranking) mengenai berbagai bakat pada setiap individu.

Prosedur yang biasa ditempuh adalah;

  1. Melakukan analisis jabatan (job-analysis) atau analisis lapangan studi untuk menemukan faktor-faktor apa saja yang diperlukan supaya orang dapat berhasil damal lapangan tersebut.
  2. Dari hasil analisis tersebut dibuat pencandraan jabatan (job description)
  3. Dari job description yang tersebut bisa kita ketahui apa saja persyaratan yang harus dipenuhi upaya individu dapat lebih berhasil dalam lapangan tertentu
  4. Lalu dari persyaratan tersebut bisa digunakan sebagai landasan untuk menyusun alat pengungkap bakat, yang biasanya berup tes.

            Akan tetapi pemberlakuan tes tersebut masih sangat terbatas oleh daerah serta kebudayaan dimana tes itu disusun. Bagi kita, bangsa Indoesia kiranya sangat mendesak untuk segera diciptakannya tes bakat itu, baik untuk keperluan pemilihan jabatan atau lapangan kerja, maupun untuk pemilihan arah studi.

Perkembangan Individu

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Individu

Pendapat yang bermacam-macam mengenai faktor apa sja yang memepengaruhi perkembangan individu terbagi menjadi 3 golongan, yaitu;

1.Nativisme

     Para ahli yang mengikuti aliran nativisme berpendapat bahwa perkembangan individu itu semata-mata ditentukan oleh faktor yang dibawa sejak lahir (bawaan). Tokoh utama aliran ini adalah Schopenhauer, serta Plato, Descartes Lombroso yng termasuk dalam golongan ini. Intinya pada aliran ini menyatakan bahwa segala keistimewaan yang dimiliki orangtua tentu akan dimiliki juga oleh anaknya. Sehingga perkembangan individu merupakan cerminana dari orangtuanya dahulu. Misalnya, jiak orangtuanya berbakat dalam bidang oelhraga, maka tentu anaknya juga akan sangat berkembang pesat dalam bidang olahraga. Akan tetapi, jika dipandang dalam ilmu pendidikan, hal tersebut tidak bisa juga dibenarkan. Sebab, jika benar perkembangan individu tersebut dari dasar, jadi pengaruh lingkungan serta pendidikan tidak menjadi faktor penting dalam perkembangan setiap individu. Jadi konsep nativisme itu tidak dapat dipertahankan dan tidak bisa dipertanggungjawabkan.

2.Empirisme

     Para ahli yang meyakini aliran ini memiliki pendapat yang bertolak belakang dengan nativisme, jika pada nativisme berpendapat bahwa perkembangan individu itu semata-mata tergantung pada faktor dasar, maka pada aliran ini faktor dasar (bawaan) tidak dianggap penting sama sekali, dan meyakini bahwa faktor perkembangan setiap individu di pengaruhi oleh lingkungan. Tokoh utama daripada aliran ini adalah John Locke, dimana aliran ini sangat besar pengaruhnya di Amerika Sekrikat. Akan tetapi, kenyataan yang kita jumpai menunjukan hal yang berbeda daripada gambaran dari aliran ini. Banyak anak-anak orang kaya dan juga pandai mengecewakan orangtuanya karena kurang berhasil dalam belajar, meskipun di lingkungan yang baik (lingkungan orang pandai). Sebaliknya, mereka yang berada dalam lingkungan mampu, dan orangtua serta lingkungan yang tidak begitu pandai malah bisa berhasil dalam belajar. Jadi alirn empirisme ini juga tidak tahan uji dan tidak dapat di-pertanggung jawabkan.

3.Konvergensi

     Paham konvergensi ini berpendapat bahwa di dalam perkembangan individu itu baik faktor dasar, maupun faktor lingkungan sama-sama memilki edudukan yang penting. Setiap individu tentu telah memiliki bakatnya masing-masing, hanya saja bakat juga membutuhkan lingkungan yang sesuai dengan agar dapat berkembang. Selain itu, faktor kedudukan dalam keluarga juga memiliki peranan penting, seperti anak sulung dengan anak bungsu tentu akan mengalami perbedaan dalam perkembangannya, begitu juga dengan anak tunggal. Lalu setiap anak yang berkembang memiliki asas di setiap perkembangannya, meliputi asas biologis, asas ketidakberdayaan, asas kemanan, dan asas eksplorasi. Namun hal yang perlu diingat, pemberian rasa aman, serta kasih sayang tidak disarankan diberikan secara berlebihan, karena tentu hal ini akan menggangu perkembangan buah hati. Jika anak terlalu diberikan kasih sayang khawatir akan menjadi manja, dan anak yang diberikan rasa aman secara berlebihan khawatir anak tersebut tidak bisa mengatasi masalahnya sendiri.

Bagaimana Sifat Anak pada Masa Tertentu dalam Perkembangan Anak?

Para ahli mengemukakan pendapat mengenai periodesasi yang digolongkan menjadi 3:

1.Periodisasi yang Berdasar Biologis

     Ch. Buhler mengemukakan pendapat, bahwa ada 5 fase dalam perkembangan anak. Fase yang pertama (0;0 – 1;0) yaitu fase gerak laku ke dunia luar. Keudian yang kedua (1;0 – 4;0) yaitu fase makin meluasnya hubungan anak dengan benda-benda di sekitarnya. Lalu ketiga (4;0 – 8;0) yaitu fase hubunga pribadi dengan lingkungan sosial, serta kesadaran akan kerja, tugas dan prestasi. Keempat (8;0 – 13;0) yaitu fase memuncaknya minat ke dunia objektif, dan kesadaran akan akunya sebagai sesuatu yang berbeda dari aku orang lain. Terakhir, yang kelima (13;0 – 19;0) yaitu fase penemuan diri dan kematangan.

2.Periodisasi yang Berdasar Didaktis

     J.J Rousseau dengan karyanya Emile eu du l’education (1762) mengungkapkan bahwa ada 4 fase dalam perkembangan anak. Pertama, (0;0 – 2;0) adalah masa asuhan, kedua (2;0 – 12;0) adalah masa pendidikan jasmani dan latihan panca indera. Ketiga (12;0 – 15;0) adalah periode pendidikan akal. Kemudian yang terakhir (15;0 – 20;0) adalah periode pembentukan watak dan pendidikan agama.

3.Periodisasi yang Berdasar Psikologis

     Kohnstamm(1950) mengemukakan periodisasi yang berdasar pada psikologis terbegi menjadi 4 fase. Yang pertama ketika umur 0;0 sampai kira-kira 2;0 merupakan masa vital. Kedua ketika umur 2;0 sampai kira-kira 7;0 merupakan masa estetis. Ketiga ketika umur 7;0 sampai kira-kira 13;0 atau 14;0 merupaka masa intelektual. Terakhir ketika umur 13;0 atau 14;0 sampai kira-kira 20;0 atau 21;0 merupakan masa sosial. Disini terdapat kemiripan dengan periodisasi biologis dan didaktis.

Penelitian Penggunaan Hadiah dan Hukuman terhadap Perkembangan Anak

             Julius Wagner (dalam Ch. Buhler, 1950) mengadakan penelitian mengenai pengertian anak terhadap hukuman, apabila hukuman itu diberikan secara adil, maka hasilnya bisa dilihat dibawah ini;

Maksud (Tujuan Hukuman) Laki-laki Perempuan
(9;0 – 12;0) (12;0 – 15;0) (9;0 – 12;0) (12;0 – 15;0)
Memperbaiki 54,7% 80,2% 60,8% 79,5%
Menakut-nakuti 24,2% 12,0% 21,4% 15,6%
Membalas (dendam) 5,4% 6,3% 7,3% 4,1%
Lain-lain 15,7% 1,5% 10,5% 1,8%

Dari data yang telah dapat ditarik kesimpulan;

  1. Makin tua anak-anak, makin makin sadarlah mereka bahwa tujuan hukuman adalah untuk memperbaiki.
  2. Makin tua anak-anak, maka makin dapat tepatlah mereka mengenal maksud hukuman
  3. Anak-anak perempuan mempunyai kematangan lebih awal daripada anak laki-laki

            Selain pemberian hukuman, pastikan para orangtua juga perlu membatasi pemberian hadiah untuk anak-anak. Karena penggunaan hadiah dan hukuman harus disesuaikan dengan perkembangan anak, disamping harus pula dipertimbangkan kondisi-kondisi yang lain.

1.Masa Pra-Remaja dan Masa Remaja

            Istilah pra-remaja dipakai untuk menunjukan suatu masa yang berlangsung mengikuti masa puber, yang hanya berlangsung singkat saja. Masa ini ditandai oleh sifat-sifat negatif pada si remaja sehingga masa ini seringkali disebut masa atau fase negatif. Adapun sifat sifat negatif itu adalah sebagai berikut:

  1. Sifat-sifat negatif pada anak perempuan menurut H. Hetzer
  2. Tak tenang
  3. Kurang suka bekerja
  4. Suasana hati tak baik, pemurung
  5. On-sosial (agresif/menarik diri dari masyarakat)

Sifat negatif pada anak laki-laki menurut Hans Hochholzer

  1. Kurang suka bergerak
  2. Lekas lelah
  3. Kebutuhn untuk tidur besar
  4. Suasana hati tidak tetap
  5. Pesimistis

         Masa remaja sering juga disebut masa pencarian jati diri. Karena pada masa ini memang anak laki-laki maupun perempuan sering mengalami kesepian serta penderitaan yang seolah-olah tidak ada orang yang memahami, serta kebutuha seorang teman yang dapat memahami dan menolongnya, tak ayal pada masa ini anak laki-laki maupun perempuan sering bergerombol atau membentuk suatu perkumpulan (geng)

         Sis Heyster (1950: 242) menggolong-golongkan anak laki-laki dan juga perempuan ke dalam tipe tersendiri.

Anak laki-laki digolongkan menjadi:

  1. Pencari kultur
  2. Pencinta alam
  3. Tipe karyawan (pejabat)
  4. Tipe vital
  5. Tipe hedonistik

Anak perempuan digolongkan menjadi:

  1. Tipe keibuan
  2. Tipe erotis
  3. Tipe romantis
  4. Tipe tenang
  5. Tipe intelektual

Perkembangan Individu Karena Belajar

Faktor yang Mempengaruhi belajar

1.Faktor Nonsosial

Kelompok faktor ini boleh dikatakan juga tak terbilang jumlahnya, seperti misalnya: keadaan udara, suhu, cuaca, waktu, tempat, alat yang digunakan, lingkungan dan lain sebagainya. Oleh karena itu demi mendapatkan suasana yang mendukung, sekolah atau sarana mengajar lainnya harus jauh dari jalan raya bising, serta bangunan yang memenuhi syarat yang telah ditentukan oleh ilmu kesehatan sekolah.

2.Faktor Sosial

Yang dimaksud dengan faktor-faktor sosial disini ialah faktor manusia (sesama manusia), baik manusia yang hadir, maupun kehadiran yang tidak langsung. Kehadiran orang lain tentu menggangu kita belajar. Misalnya saat murid di kelas sedang mengikuti ujian, kemudian diluar terdengar murid yang sedang mengobrol. Tentu akan mengganggu konsentrasi murid yang sedang ujian. Oleh karena itu, faktor yang seperti ini harus diatur, supaya kegiatan pembelajaran dapat berlangsung sebaik-baiknya.

3.Faktor Fisiologis

Faktor fisiologis disini termasuk keadaan jasmani seseorang. Keadaan jasmani pada umumnya dapat dikatakan melatarbelakangi aktivitas belajar, karena kondisi jasmani yang kurang baik tentu akan memberi pengaruh buruk terhadap kegiatan belaja dan tentu bisa mempengaruhi hasil yang di dapatkan. Oleh karena itu nutrisi serta beberapa penyakit yang bisa dibilang kronis perlu di waspadai. Misalnya karena akan bergadang untuk belajar maka mengkonsumsi kopi dalam jumlah batas wajar, tentu hal tersebut tidak bagus nagi kondisi organ tubuh, terutama maag.

4.Faktor psikologi

Menurut Frandsen (1961: 216) ada bebrapa hal yang mendorong seseorang untuk belajar. Seperti adanya sifat ingin tahu dan ingin menyelidiki dunia yang lebih luas, adanya keinginan untuk mendaparkan simpati dari orangtua, guru serta teman-teman, lalu adanya keinginan untuk mendapatkan rasa aman bila menguasai pelajaran.

Penilaian Hasil Pendidikan

Peranan penilaian dalam usaha pendidikan adalah hal penting, karena itu perlu diperhtungkan mengenai penilaian. Penilaian dilakukan supaya dapat mencerminkan apa yang yang dinilai hendaknya dilakukan secara periodik. Makin sering jadi makin bagus. Selain itu, hasil penilaian hendaknya segera diberitahukan kepada murid-murid dimana perlu diadakan pembicaraan mengenai hasil tersebut.

Agar penilaian dapat di pertanggungjawab kan, maka tes yang diberikan juga harus memiliki kriteria atau syarat. Supaya mendapat hasil penilaian yang baik. Diantaraya:

1.Tes Harus Reliable

Tes yng diberikan harus bersifat reliable atau terpercaya dan hasilnya ajeg. Misalnya, jika tes diberikan saat ini maka hasilnya harus sama jika tes diberikan saat tahun berikutnya.cara yang dilakukan untuk dapat mengetahui reliabilitas suatu tes biasanya mnggunakan teknik korelasi.

2.Tes Harus Valid

Suatu tes disebut valid apabila tes tersebut mengukur apa yang harusnya diukurnya. Misal, tes untuk pelajaran sejarah, maka harus benar-benar mengukur kepandaian anak dalam mempelajari sejarah. Untuk mengukur validitas suatu tes itu, biasanya orang membandingkan tes yang sedang diselidiki validitasnya dengan tes yang sudah dipandang baik.

3.Tes Harus Comprehensive

Suatu tes dikatakan comprehensive jika tes tersebut mencakup segala persoalan yang harus diselidiki. Misalnya dari 115 orang guru diminta memberikan nilai pekerjan dalam mata pelajaran Ilmu ukur, maka 2 orang diantara mereka memberikan nilai antara 90-100, dan seorang memberikan nilai antara 20-29, jadi selisihnya adalah 70 nilai.

Sumber :Psikologi Pendidikan, Drs. Sumadi Suryabrata, B.A., M.A., Ed.S., Ph.D. 354.hal, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, Januari 2011, ISBN 979-421-082-x.

 

BEBERAPA PRINSIP MENINGKATKAN MINAT BELAJAR ANAK


Anak dan Kesenangannya untuk Belajar

Memahami Anak

Setelah pulang sekolah, tiba-tiba seorang anak berkata kepada ibunya, “Mama, aku mau ikut les gambar!”. Walaupun tidak langsung merespons, biasanya di benak sang ibu terbangun beberapa scenario:

  • Les dimana sebaiknya;
  • Bagaimana mengatur dengan jadwal sekolahnya, dsb.

Ternyata les yang dimaksud anak adalah kegiatan menggambar bersama teman-temannya.

( Perbedaan persepsi antara anak-anak dengan orang tua sering terjadi dalam hidup kita ).

Mendidik Anak

Seorang ibu berkata kepada anaknya, kamu harus berwibawa di depan adikmu!”. Dampaknya iya akan berusaha melakukan semua dengan sempurna, disini justru iya akan terlihat aneh di mata anak-anak lain.

( Sebenarnya anak-anak dan orang dewasa memiliki standar yang berbeda, banyak orang dewasa menerapkan standarnya kepada anak-anak).

Menumbuhkan Minat Belajar Anak

Ketika menonton televisi, sang anak berkata. “mama aku pengen bisa ngomong pakai bahasa inggris kayak di film.”

Sang ibu lalu mengajarkan beberapa kata yang ia tau, lalu menempatkan sang anak ke lembaga kursus, sang anak sangat senang dengan kursus tersebut, & hari-harinya dilalui dengan gembira.

( Disini sang ibu belajar memahami, suatu proses belajar akan disenangi jika motivasi yang tumbuh dari dalam, bukan paksaan ).

 Membentuk Suasana Belajar yang Menyenangkan

Betapapun kuat motivasi belajar anak, tetap membutuhkan lingkungan yang kondusif, memberikan keamanan dan kebebasan psikologis pada anak.

Keamanan psikologis dapat terbentuk dengan 3 proses, yaitu:

  • Orang tua menerima anak sebagaimana anaknya.
  • Orang tua mengusahakan suasana tanpa ada efek mengancam.
  • Orang tua dapat memberikan pengertian, dan dapat melihat dari sudut pandang anak.

Kebebasan psikologis dapat diberikan orang tua pada anak dengan cara memberikan kesempatan mengekspresikan pikiran-pikiran anak.

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan oleh orang tua, dalam menciptakan keamanan dan kebebasan psikologis guna membentuk suasana belajar.

  • Membangun empati
  • Menjalin kebersamaan
  • Membangun rasa memiliki
  • Mendorong kebebasan berekspresi
  • Pendampingan
  • Mengembangkan komunikasi efektif

Pengaruh Belajar yang Menyenangkan Terhadap Kreativitas Anak

Banyak hal yang bisa meningkatkan perkembangan anak ketika sedang mengalami proses belajar yang menyenangkan, salah satunya adalah perkembangan kreativitas. Banyak cara untuk  mengoptimalkan kreativitas anak, kreativitas memang membutuhkan imajinasi yang kuat, dan orang tua dapat membantu dengan menciptakan kondisi-kondisi tersebut.

Semakin banyak pengetahuan yang diperoleh anak, semakin baik dasar untuk mencapai hasil kreatif. Dan pendapat berbagai pakar, dapat disebutkan beberapa parameter kreativitas yang dimiliki seorang anak, yang dihasilkan dari kesenangan dalam belajar.

  • Kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru & unik
  • Kemempuan untuk mentransformasikan gagasan lama ke dalam bentuk-bentuk baru.
  • Kemampuan untuk membangun imajinasi dan fantasi yang terarah
  • Kemampuan untuk melihat kemungkinan jawaban terhadap suatu masalah
  • Adanya rasa ingin tahu yang luas & mendalam
  • Adanya minat yang luas dan keinginan bereksplorasi
  • Adanya perhatian pada proses, bukan sekedar hasil akhir
  • Adanya kesenangan dan kepuasan pribadi dalam melakukan pekerjaan
  • Adanya pengetahuan awal sebagai modal
  • Kepekaan akan keindahan (Sense of Beauty)
  • Kemampuan berfikir asosiatif & bermain dengan gagasan
  • Kepekaan melihat hal yang unik dari lingkungan sekitar dan aktivitas sehari-hari
  • Kemampuan mengungkapkan gagasa

22 Prinsip Komunikasi dalam Meningkatkan Minat Belajar Anak

Prinsip 1  Orang tua memberikan kebebasan anak untuk berkreasi, anak terpacu untuk membuat karya yang unik

Setiap anak memiliki keunikan sendiri. Cara berfikirnyapun unik dan khas, kebebasan yang diberikan oleh orang tua untuk berkreasi, akan membuat karya-karya unik & menarik.

Bentuk kebebasannya misalnya :

  1. Menghargai apapun hasil kreasi anak
  2. Mendorong anak berkreasi lewat karya yang unik, misalnya menggambar pelangi, dan menceritakan kembali lewat tulisan.

Prinsip 2  Orang tua menerima berbagai jawaban anak terhadap pertanyaan tertentu, anak belajar berfikir luas

Minat belajar anak bisa ditandai dengan adanya keingintahuan yang luas mengenai suatu hal. Ketika ditanyakan suatu hal,anak mempunyai minat belajar tinggi, mejawab dengan berbagai jawaban. Cara berfikir demikian disebut cara berfikir divergen ( meluas, banyak jawaban dalam suatu masalah ) dan elaborative ( membangun berbagai kemungkinan jawanab dari satu hal yang ditemukan.

Cara berfikir tersebut, dapat dibiasakan pada anak dengan jalan orang tua menerima apa pun jawaban anak terhadap satu pernyataan tertentu, bisa jadi jawaban anak salah atau tidak logis menurut cara berfikir orang dewasa, namun bisa jadi ada hal-hal menarik dari jawaban itu yang hanya bisa dipahami anak.

Prinsip 3 Orang tua menerangkan materi dengan sudut pandang yang unik, anak terpacu rasa ingin tahunya.

Hal yang mengurangi rasa ingin tahu anak atau membuatnya enggan belajar adalah rasa bosan. Kebosanan ini bisa diakibatkan oleh materi pengetahuan yang itu-itu saja & tidak bervariasi. Demikian dengan cerita, orang tua bisa mengemasnya dengan menarik yang menggugah keingintahuan anak tentang materi yang akan disampaikan, contohnya :

  1. Orang tua sedang mendampingi anak belajar mengenai pasang surut. Orang tua bisa mengawali dengan kalimat, “Mengapa permukaan air laut tiba-tiba meninggi ?”

Prinsip 4 Orang tua memberikan penjelasan awala secara jelas sebelum anak memulai pekerjaannya, anak mendapat pengetahuan awal secara efektif

Sebelum memberikan tugas pada anak untuk melakukan suatu pekerjaan, orang tua hendaknya membimbing anak dengan memberikan penjelasan awal yang bisa menjadi pedoman anak dalam melakukan sesuatu, sehingga ada gambaran awal yang dimiliki anak ketika melakukan pekerjaannya. Menyuruh tanpa memberikan contoh membuat bayangan anak menjadi samar-samar. Hal ini bisa mengakibatkan anak kebingungan dan menjadikannya enggan bertindak.

Prinsip 5 Orang tua menggunakan alat peraga, anak mempunyai modal awal yang lebih terbayang

Alat peraga penting digunakan ketika kita menerangkan sesuatu kepada anak. Alat peraga ini membantu anak membayangkan materi yang tengah disampaikan dan mengarahkan serta membimbing daya imajinasi anak pada materi yang tengah disampaikan. Contoh alat peraga bisa berupa, buku bergambar, poster, model atau miniatur.

Prinsip 6 Orang tua menerangkan dengan eksperimen, anak terpacu rasa ingin tahunya dan belajar mengamati terjadinya suatu fenomena

            Mengapa harus dengan eksperimen? Ketika anak mengalami kerepotan dalam melakukan eksperimen, anak bisa mendapatkan pengalaman yang unik, bersinggung langsung dengan apa yang diamati. Metode eksperimen bisa melatih anak tentang terjadinya suatu peristiwa. Dari pengamatan kan muncul berbagai hal yang menarik, & membuat rasa ingin tau anak lebih tinggi.

Prinsip 7 Orang tua memberikan ulasan dan kesimpulan terhadap apa yang dikerjakan anak, anak memahami maksud pekerjaan dan berpikir secara utuh

            Anak-anak sering melakukan sesuatu karena spontan. Bisa jadi ia melakukan sesuatu yang baik, namun ia tidak menyadarinya. Disinilah peran orang tua, memberikan ulasan secara keseluruhan tentang apa yang sudah dilakukan, agar anak memahami apa yang dilakukannya. Dengan pemahaman yang lebih terstruktur, anak menjadi lebih terarah dalam mengembangkan daya pikirnya menuju pemahaman yang menyeluruh (holistic).

Prinsip 8 Orang tua mengaitkan isi cerita dengan fenomena yang pernah dilihat anak, anak belajar berfikir mengaitkan satu hal dengan hal lain

            Meski anak mempunyai day imajinasi yang kuat, namun usahakan imajinasi itu terkait dengan kehidupan sehari-hari, bukan khayalan yang tak mendasar. Hal ini bisa dilatih dengan cara mengaitkan isi cerita kepada suatu hal yang pernah dilihat atau dialami anak. Keterkaitan ini bisa berupa fenomena yang ada disekitar anak, kegiatan sehari hari anak, atau hal-hal yang berkesan yang pernah dilihat anak sebelumnya. Disini orang tua akan memanfaatkan kerangka pemikiran yang sudah ada pada diri anak, sehingga materi akan mudah diterima karena telah dikenal lebih dulu, agar disini anak mulai beljar berfikir asosiatif, artinya berbagai kejadian yang dilihat dan dirasakan sehari-hari bisa saling terkait jika dipikirkan secara kreatif.

Prinsip 9 Orang tua memberikan kesempatan anak untuk bercerita, anak belajar mengungkapkan apa yang dipikirkan dan mengungkapkan gagasan secara lebih terstruktur

Bagaimana agar bisa lancar berbicara di depan orang lain? Salah satu jawabannya adalah banyak latihan. Latihan ini bisa dimulai ketika masih anak-anak. Orang tua berusaha memberikan kesempatan sebanyak mungkin bagi anak untuk mengungkapkan gagasannya dalam setiap kesempatan. Dan ketika anak sudah mampu menguasai banyak kosa kata, kita dorong anak untuk mau bercerita. Bercerita akan membuat anak belajar mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya, tidak saja kepada orang tuanya, tetapi juga kepada orang lain.

Prinsip 10  Orang tua membimbing anak tampil di depan forum, anak belajar berani berkreasi di depan banyak orang

Berbicara dan menjelaskan gagasan dengan baik di depan orang lain memerlukan banyak latihan, membutuhkan pengalaman dan keberanian. Keberanian tampil di depan forum sebaiknya dilatih ketika masih usia kanak-kanak. Hal ini akan berpengaruh terhdap kepercayaan dirinya. Kalau anak sudah mampu menguasai dirinya untuk tampil di depan orang banyak, maka akan meningkat pula keberanian anak menampilkan kemampuannya di depan umum. Dengan bimbingan dan pendamping orang tua, secara perlahan-lahan anak akan membangun keberaniannya tampil di depan banyak orang.

Prinsip 11 Orang tua melakukan pendampingan secara pribadi kepada anak, anak memiliki keamanan psikologis untuk berkreasi

Berkomunikasi dengan baik kepada anak bukan berarti bisa memberi instruksi, atau menyuruh anak melakukan apa yang diinginkan orang tua. Komunikasi yang kita lakukan kepada anak tidk akan efektif jika kita menyampaikan instruksi saja, kemudian membiarkan anak memahami pesan tersebut, tanpa arahan. Ketika anak tengah menjalankan apa yang kita sampaikan, maka pendampingan akan membuat anak merasa aman karena ia merasa ada yang siap memberikan pertolongan jika ia membutuhkan.

Prinsip 12 Orang tua melayani pertanyaan-pertanyaan anak, anak nyaman untuk berpendapat dan terpuaskan rasa ingin tahunya

            Dunia anak adalah dunia serba ingin tahu. Anak yang normal dan kreatif selalu menanyakan banyak hal sebagai wujud keingintahuannya. Apabila pertanyaan yang disampaikan selalu mendapat respons, maka anak akan merasa terpenuhi keingintahuannya. Hal ini akan mendorong anak untuk lebih berani dan banyak bertanya dalam usaha mengetahui berbagai macam hal. Sebaliknya apabila kita tidak merespons jawaban anak, kemungkinan anak menjadi enggan untuk menyampaikan pertanyaan karena keingintahuannya tidak terpenuhi.

Prinsip 13 Orang tua memberikan kesempatan kepada anak untuk mencoba lagi, anak belajar menyelesaikan pekerjaan dengan berbagai inovasi baru

Maju terus, pantang mundur! Kata-kata mutiara itu mungkin telah menjadi tradisi dalam perjuangan bangsa kita, terutama ketika mempertahankan kemerdekaan dulu. Malu dong, jadi anak Indonesia jika belum apa-apa sudah mundur atau menyerah. Namun anak tetaplah anak, dengan emosi yang masih labil mereka masih harus didampingi agar tidk menyerah dalam melakukan suatu pekerjaan, sampai dia berhasil menyelesaikannya.

Ketika anak mengalami kegaglan pertama, kita dorong untuk mencobanya kembali dengan cara-cara baru. Orang tua dapat memberikan semangat, hiburan, sehingga anak terhindar dari rasa putus asa. Maka ketika sudah berhasil menyelesaikan pekerjaannya, meski harus berulang kali gagal dan bersusah payah mencobanya, orang tua tetap memberikn pujian dari hasil kerja kerasnya.

Prinsip 14 Orang tua menjalin kedekatan, anak memiliki rasa aman secara psikologis untuk berkreasi

            Anak akan mudah menjalin komunikasi dengan kita bila ia merasa dekat. Maka, sebaiknya kita menghilangkan jarak dengan anak ketika berkomunikasi sehingga anak bisa merasa bebas untuk mengeluarkan isi hatinya. Dalam berbagai hal lain, kedekatan ini akan mendorong anak melakukan berbagai hal lain, kedekatan ini akan mendorong anak melakukan berbagai hal dengan kreasinya tanpa merasa dipantau dan disalahkan ketika mengeluarkan ide-ide baru.

Prinsip 15 Orang tua melibatkan anak secara aktif dalam belajar, anak merasa ikut memiliki dan tumbuh minat belajarnya

            “Libatkan saya, dan saya akan memahami apa yang anda ajarkan’, begitu ungkapan Cina kuno. Maka, melibatkan anak secara aktif dalam belajar akan membuat lebih efektif penyampaian materi yang tengah diajarkan. Rasa memiliki terhadap materi yang disampaikan lambat laun akan menumbuhkan minat anak dengan sendirinya untuk memahami dan mengikuti materi yang disampaikan. Ia juga akan bertanggungjawab dalam menjalankannya karena merasa materi itu telah menjadi miliknya.

Prinsip 16 Orang tua melibatkan diri dalam kegiatan anak, anak lebih bersemangat dalam berkreasi

            Anak akan merasa lebih bersemangat atau menyatu dalam suatu kegiatan bersama orang tua ketika orang tua melibatkan diri dengan kegiatan anak. Anak merasa sejajar dengan orang tua. Anak merasa tidk canggung dan bersemangat untuk berkreasi dalam kegiatan yang dilakukan.

Prinsip 17 Orang tua menciptakan suasana menyenangkan, anak menyenangi materi dan memiliki kepuasan pribadi dalam berkreasi

            Dalam suasana yang menyenangkan anak terbebas dari tekanan sehingga mempermudah penerimaan pesan yang disampaikan oleh orang tua. Kondisi dimana anak berada dalam suasana yang menyenangkan juga menjadi syarat penting bagi anak untuk dapat berkreasi (bebas dari tekanan).

Prinsip 18 Orang tua menciptakan suasana bersemangat dalam belajar, anak lebih termotivasi

Suasana bersemangat harus diciptakan untuk mendorong anak memusatkan perhatiannya pada materi yang sedang disampaikan dan memahami pesannya sehingga anak termotivasi dalam belajar.

Orang tua bisa membangun semangat anak dengan cara memposisikan diri sebagai partner atau teman bagi anak dalam memahami materi atau mencapai suatu hasil. Jadi anak tidak merasa harus berjuang sendiri ketika menemui materi yang sulit, tetapi ada orang tua yang memosisikan diri sebagai teman untuk bersama-sama mempelajari materi tersebut.

Prinsip 19 Orang tua menjaga konsentrasi anak, anak efektif dalam mendalami materi

Bukan anak-anak kalau konsentrasinya tidak mudah terbelah. Sudah menjadi sifat alami anak, jika ia tengah asyik bermain sesuatu, lalu ada mainan lain yang lebih menarik, maka ia meninggalkan permainannya yang lama menuju permainan yang baru. Ini menjadi kendala utama anak dalam menyerap dan memahami suatu hal, konsentrasi. Maka dalam menerima pesan yang disampaikan, perhatian adalah hal yang utama yang harus dijaga anak agar pesan dapat diterima. Untuk itu orang tua hendaknya selalu menjaga perhatian anak dengan berbagai cara agar pesan yang disampaikan dapat diterima.

Prinsip 20 Orang tua memberikan penghargaan (reward) yang bervariasi, anak mempunyai motivasi untuk menghasilkan karya yang terbaik

Pemberian penghargaan yang paling sederhana adalah memberikan pujian. Misalnya dalam kegiatan belajar mengenal buah-buahan dalm bahasa inggris. Ketika anak mampu mengelompokkan buah-buahan berdasarkan rasanya, menyebut nama buah dengan bahasa inggris yang benar, kita dapat memberikan penghargaan. Penghargaan dapat diciptakan dalam bentuk kretif, misalnya jika anak dapat memberikan jawaban yang benar, maka ia berhak mendapatkan pin dari buah-buahan itu.

Prinsip 21 Orang tua mengembangkan cara inovatif dalam mengajar, anak belajar berfikir luas

Belajar hampir sama dengan makan. Bila makan yang disantap adalah bahan makanan agar menjadi energy untuk pertumbuhan, maka belajar adalah proses menyantap berbagai informasi menjadi pengetahuan yang terstruktur. Jika makanan disajikan tanpa variasi, akan menyebabkan bosan, begitu pula dengan belajar. Anak perlu mendapat perlakuan variatif dalam belajar, agar ia terhindar dari rasa bosan. Orang tua hendaknya mengembangkan cara-cara baru atau inovatif dalam menyampaikan pesannya kepada anak. Hal lain selain untuk menghindari kebosanan anak dalam menerima pesan, juga melatih anak untuk berfikir divergen, tidak terpaku pada satu cara tetapi mampu melihat cara-cara lain yang mungkin diterapkan.

Prinsip 22 Orang tua menggunakan ekspresi mimik dan gerak, anak belajar untuk menghayati pekerjaan

Raut muka atau mimik wajah sanggup menceritakan apa isi hati kita, dan tidak pernah bohong. Kita bisa mengetahui anak kita sedih jika raut mukanya ditekuk, mata mulai berair, meski ia tidak mengatakan apa-apa tentang kesedihannya. Sebaliknya ekspresi wajah suka cita juga akan terlihat jelas, misalnya bila anak menerima hadiah dari kita dengan suka cita. Raut wajah, mimik memang bisa memperkuat suasana yang tercipta, dan ini menjadi modal kita dalam berkomunikasi dengan anak. Orang tua dapat menggunakan ekspresi wajah, mimik, dan gerakan, ketika berkomunikasi dengan anak. Ekspresi ini berfungsi untuk membangkitkan suasana, membuat anak memjadi bagian dari komunikasi yang tengah dibangun.

kesimpulan

Kurangnya pemahaman pada anak terhadap cara anak berkomunikasi menyebabkan sering terjadinya miss communication. Mulai dari orang tua yang terlalu memanjakan anaknya, hingga terlalu mengekangnya tidaklah baik juga. Membebaskannya dalam berekspresi namun tetap memperhatikan atau memberikan pengawasan apa yang dilakukan, serta kurang pahamnya orang tua terhadap apa yang anak sebenarnya inginkan.

Dalam buku ini kita banyak membahas tentang kesenangan-kesenangan anak dalam belajar yang banyak kita salah artikan, bagaimana cara anak belajar, meskipun terkesan main-main, namun anak sebenarnya banyak belajar dari apa yang mereka lakukan dan apa kesalahan mereka. Oleh karena itu, dukungan dari orang tua sangatlah penting terhadap tumbuh kembang anak. Bukan memanjakan atas apa yang selalu anak inginkan, namun tetap memberikan pengawasan pada saat anak melakukan sesuatu.

Daftar Pustaka

Junita, Ekomadyo. 2009. 22 Prinsip Komunikasi Efektif Untuk Meningkatkan Minat Belajar Anak. Bandung: Simbiosa Rekatama Media

Resume Buku : “Philosophy of Science after Feminism


ClickHandler.ashx1Penulis : Janet A. Kourany
Penerbit : Copyright © 2010 by Oxford University Press, Inc.
ISBN 978-0-19-973262-3; 978-0-19-973261-6 (pbk.)
Halaman : 162 halaman

Filsafat Ilmu setelah Feminisme
Studi dalam Filsafat feminis dirancang untuk menampilkan monograf mutakhir dan koleksiyang menampilkan berbagai pendekatan feminis terhadap filsafat, yang mendorongpemikiran feminis dalam arah baru yang sangat penting, dan menampilkan kualitas luar biasa dari pemikiran filsafat feminis.

Penulis (JanetA.Kourany) menyebutkan bahwa tujuan Filsafat Ilmu setelah Feminisme adalah untuk menyediakan cetak biru bagi sebuah filsafat ilmu social agar lebih terlibat dan bertanggung jawab secara sosial dari filsafat ilmu yang ada sekarang, filsafat ilmu pengetahuan yang dapat membantu untuk mempromosikan ilmu pengetahuan sosial terlibat dan bertanggung jawab secara sosial dari ilmu yang ada sekarang. Feminis-feminis ilmuwan dan sejarawan ilmu pengetahuan, serta filsuf feminis ilmu, telah mengejarjenis filsafat ilmu dalam bidang yang berkaitan dengan gender selama tiga dekade sekarang. Strategi yang digunakan oleh penulis bukuini dengan mengadopsi danmengembangkan pekerjaan mereka, yaitu sebuah program baru penelitian yang komprehensifuntuk filsafat ilmu. Untuk menjelaskan hal ini penulis membaginya menjadi lima bab.

Bab satuA Feminist Primer for Philosophers of Science ,meliputi; The Role of Science, Toward a new Role for Science, Toward a new Role for Pholosophy of Science dan Plan of the Book.

Di banyak Negara ada reverensi yang lebih besar untuk anak laki-laki dibandingkan perempuan, dan banyak di Negara lain, bayi perempuan dibunuh karena seks yang “salah”. Kekerasan melawan perempuan dan gadis tidak tertangani di setiap benua, Negara dan budaya dan ini adalah masalah yang pandemic. Satu dari tiga wanita di dunia di pukuli, dilibatkan dengan sex, atau dilecehkan seumur hidup (UNIFEM 2007). Apalagi, “wanita beresiko lebih besar dari kekerasan laki-laki yang mereka kenal. Di Australia, Kanada, Israel, Afsel, dan Amerika, 40-70% korban pembunuhan yang dibunuh pasangannya.” (UNEPA 2005)
Prostitusi dan pornografi dan penyeludupan wanita, multilasi genetika wanita, dan pembunuhan, restriksi yang berhubungan dengan reproduksi dan sosialisasi gender dan penyalahgunaan seksual dan masih banyak lagi masalah yang komplek bagi keberadaan wanita. Wanita di dunia selalu inferior dibanding laki-laki, mendapatperlakuan kasar, gaji yang kecil, perlakuan yang buruk di dalam atau di luar rumah.
Sains dapat menjadi kekuatan perjuangan dalam persamaan bagi wanita. Sains, dapat mengekpos tanggapan masyarakat melawan wanita atas persoalan ini, dan sains dapat menjustifikasi penempatan dalam perspektif kesamaan. Sebagi contoh, secara histrois, wanita lebih inferior dari laki-laki-secara intelektual, social, seks, bahkan moral (Marecek 1995; Wilkinson 1997). Di beberapa abad, diklaim bahwa otak wanita lebih kecil dari otak laki-laki, bahkan membenarkan perbedaan tubuh.
Benar bahwa dengan estimasi lebih dari 15,000: kajian kognitif manusia berbeda sex (kelamin); mereka gagal menemukan tidak ada perbedaan sex, mereka gagal melaporkan efek dari ukuran perbedaan kelamin, mereka gagal memasukan sample, mereka mengasumsikan sebagai basis biologis data crossculture (Halpern 2000). Tapi laporan berbeda mengatakan :
Kita dapat mengatakan dengan pasti bahwa ada perbedaan seks yang subtansial dalam fungsi kognitif seperti kemapuan rotasi (laki-laki), matematik (wanita), kemampuan motoric (wanita), dekteriti jari (wanita). Kita juga dapat menyatakan bahwa fungsi yang sangat berbeda secara seksual dengan kuat terpengaruhi oleh lingkungan hormonal (Kimura 2006, 181)
Sebagai hasil dari representasi lalu, perkumpulan laki-laki inti dari evolusi laki-laki, laki-laki itu aktif, instrumental, penyedia, innovator,. Pada saat yang sama, wanita sebagai pinggiran, tidak aktif dan justifikasi persamaan gender masih ditemukan hari ini (Conkey dan William 1991)
Sains, telah banyak mengerjakan untuk menguatkan dan menambah masalah wanita berkonfrontasi daripada menyelesaikannya. Tapi, tentunya, sains telah mengasilkan banyak informasi berkaiatan dengan masalah ini, dan ilmuwan juga telah menyediakan beberapa usaha untuk mengatasinya.
Inti dari bab ini mengenalkan jenis pertanyaan normative berdasarkan sain feminisme yang telah diyakini. Pertanyaan ini menempatkankan sains dengan kontek social yang lebih luas, investigasi aspek epistemic sain seperti mereka melihat dengan aspek ekonomi, sosiopolitik dan etik sain. Pertanyaan ini berseberangan dengan pertanyaan normative berdasarkan mainstream pilosofi sekarang. Filsafat ilmu lebih bertanggungjawab secara social dibanding filsafat yang ada sekarang.

Bab duaThe Legacy of Twentieth-Century Philosophy of Science, meliputi; The Professionalization of Philosophy of Science,Obstacles to Success, A Further Obstale,Early-Twentieth-Century Philosophy of Science: The Vienna Circle, Diagnostic Reflections, Prognostic Reflections, Therapeutic Reflections,

Departemen Pendidikan baru dan swasta telah memformat secara khusus terhadap filsafat ilmu, jurnal, buku seri yang di launching, dan pemerintah telah mensupport penelitian melalui sumber anggarannegara.
Dalam bukunya, Reichenbach telah mengatakan bahwa tugas filsafat ilmu adalah menganalisis “struktur internal” dari ilmu saintifik, bukan “relasi eksternal” (Reichenbach 1938, 3-8)
Pada akhir tahun 1950-an, Thomas Kuhn, Paul feyerabend, Norwood Russel hanson, Stephen Toulmin, dan banyak lagi pilosof dan ahli sejarah yang berbeda sains mengeluh bahwa filsat ilmu gagal membuat kontak dengan sains yang aktual. Masalahnya pada logika sains. Logika, tentunya relevan dengan rasionalitas saintifik. Tapi logika jauh dari cerita keseluruhan.
Program empiris logika pada abad pertengahan memfokuskan perhatiannya pada hasil teoritis sains. Ini yang dikeluhkan oleh Stephen Toulmin dan yang lainnya (1953, 1961)
Abad pertengahan kontek social dari sains dipengaruhi oleh sains militer secara masif:
Pertama, ini dipengaruhi oleh efek metodelogi dan organisasional. Kedua, efek subtansif. Dan ketiga, efek social.
Banyak beasiswa abad 20 pilosof sains di Vienna Circle, ini dimotivasi oleh kontek social dan politis.
Di pertengahan abad duapuluh, Vienna Cicle dan konsepsi dunia saintifik mampu menjalankan peran yang signifikan, dalam sain atau kehidupan social. Pilosof sains feminism, berkolaborasi dengan sejarawan feminis dan sosiolog, telah mengabadikan analisis komprehensif dari sain dalam masyarakat selama bertahun-tahun. Mereka memberi kita model bagaiman melakukan hal itu.

Bab tigaWhat Feminist Science Studies Can Offer, meliputi; The Methodological Approach to Sexism in Science, The Ideal of Value-Free Science, The Social Value of Science: A Social Approach to Sexism in Science, The Empiricist Ideal of Science: A Naturalist Approach to Sexism in Science, The Ideal of Socially Responsible Political Approach to Sexism in Science, Where You Take Over the Examination of the ideal of Socially Responsible Science, Where You Come to a Decision.

Melawan androcentrisme ( karakter laki-laki & wanita) dan sexisem (dualisme seksual) adalah hal pertama yang dilakukan oleh feminists (para ahli feminisme) dalam masyarakat, melawan androcentric dan sexism dalam ilmu pengetahuan adalah hal utama bagi semua feminist. Tapi bagaimana melakukannya?
Ahli feminist dan sejarah menyingkap sexism dan androcentrisme dalam bidang seperti antropologi, sosiologi, politik, penelitian medis, psikologi, biologi, dan arkologi, mereka menyingkap halangan yang dihadapi oleh ahli feminisme dengan baik dari persoalan tersebut. Mereka menginvestigasi dengan tindakan yang diperlukan untuk merespo. Dari penelitian dihasilkan tidak hanya sekedar perhiasan yang ‘wah’ tapi juga sebuah perangkat yang penting bagi kontekstual Filsafat ilmu dengan eksistensi rasisme, heteroseksual, pengkelasan.

Pendekatan Metodologi terhadap Sexism dalam Ilmu Pengetahuan
Banyak ilmuwan feminisme menunjuk bahwa paham sexism dan androsentris adalah hal yang gagal dalam standar konsep dari formasi atau design eksperimental atau analisis data atau yang lainnya melalui metodelogi ilmu tradisional yang kurang baik. (lihat, Hubbard 1979; Bleier 1984; Fausto-Sterling 1985).
Isu premenstrual syndrome (PMS-sindrom menstruasi) adalah kasus yang dicatat. Tahun 1980-an, PMS menjadi masalah biomedical dalam proporsi yang signifikan. PMS di Inggris menjadikan wanita kurang mampu mengendalikan posisinya dan tanggungjawabnya dalam masyarakat dibanding laki-laki (Riitenhouse 1991; Easteal 1991; Chrisler and Caplan 2002).
Masalah metodelogi yang serius yang sama berkenaan dengan penelitian sexist (seksual) dan androsentris dijelaskan dalam bab 1. Sosiolog feminisme Margit Eichler (1998) memperkenalkan sebuah “metode penelitian untuk non-seksual” untuk membantu pelajar atau peneliti yang diharapkan untuk melakukannya. Dia berkata : “Metode saya simple. Saya mengunjungi perpustakaan dan mengambil apapun issu terakhir dari jurnal dari berbagai disiplin ilmu, sehingga saya menemukan paling sedikit satu contoh dari sexism di setiap jurnal. Sedihnya, ini benar terjadi”. Psikolog feminisme Carolyn Sherif, sebagai contoh, menyarankan bahwa “ kepercayaan tentang cara proporsional untuk meyakinkan ilmu pengetahuan yang telah membuat penelitian psikologi secara ganjil cenderung bias dalam konsep, eksekusi dan interpretasi” (Sherif 1979, 63).

Ilmu yang Ideal Bebas Nilai
Menurut ilmu bebas nilai, investigasi saintifik harus dijaga kebebasannya dari komitmen politis dan etis. Akhir abad ke-20, nilai ilmu bebas yg ideal telah gagal hampir tidak dihargai. Nilai ilmu bebas yang ideal, dari semua kepentingan politik dan etis, menawarkan harapan yang dapat menyelesaikan, bahwa akhirnya, ilmu pengetahuan tersebut dapat menyediakan informasi yang objektif tentang wanita, dan dalam prosesnya, menyingkap dan memindahkan prasangka masyarakat melawan wanita, dengan tidak benar-benar menguatkan. Baik dari bidang politik, ekonomi dan sosiologi.

Manajemen Nilai Sosial yang Ideal dari Ilmu Pengetahuan: Sebuah Pendekatan Sosial Terhadap Sexism dalam Ilmu Pengetahuan.
Objektivitas saintifik harus melakukan dengan kebenaran dari saintifik klaim terhadap ilmu pengetahuan. “ sains adalah pikiran untuk menyediakan kita pandangan dunia yang objektiv dalam dua hal yang berbeda dari term tersebut” (Longino 1990, 62).
Masalahnya menurut Longino, ahli feminis pada masa lalu mefokuskan pada metode saintifik individual untuk membuka nilai social seperti sexism dan androsentris.
Manajemen nilai social dari Longino, rasionlaitas saintifik (objektivitas) adalah fungsi kerja komunitas, bukan sikap dan kebiasaan ilmuwan secara individual seperti nilai ilmu bebas dan pendekatan metodelogi yang rasional. (pendekatan Longino ini sangat berbeda dengan ilmuwan feminisme).
Empiris yang Ideal dari Sains: Sebuah Pendekatan Natural terhadap Sexism dalam Sains.
Ketika kita melihat praktisi saintifik yang sukses selama tiga dekade terakhir, kita menemukan bahwa yang menangani masalah gender dan relavansinya telah dihasilkan oleh ahli feminisme. Ada dua hal yang ditawarkan oleh naturalis feminisme ; pertama ‘standpoint hypotesis’ –wanita berkeinginan sama/lebih baik posisinya dengan laki-laki dalam mendeteksi sexism dan androsentris dalam sains dan menempatkan mereka dalam perspektif yang sama. Kedua ‘hypotesis nilai’ –feminisme memiliki pengaruh dalam perkembangannya.
Antonio (1993) dan Campbell (2001) mengklasifikasi sexism dan rasisme dengan nilai social feminis sebagai “bias”. Mereka kemudian membuat sebuah jarak antara “bias yg baik” (membimbing kita kpd kebenaran) dan ‘bias yg jelek’ (menjauhui kita dari kebenaran). Tegasnya, “kita harus memperlakukan kebaikan dan kejelekan dari bias sebagai pertnyaan empiric (Antony 1993, 215). Solomon (2001) juga mengklasifikasi bersama-sama nilai social dari egalitarian, rasisme dan sexism sebagai “ideology”.

Cita-cita dari Sain yang bertanggung Jawag terhadap Sosial: Pendekatan Politis terhadap Sexism dalam Sains.
Cita-cita dari responsibility secara social adalah mampu memenuhi peranan politik dari sain yang bebas nilai. Carolyn West , concern dengan penelitian psikologinyadalam masalah kekerasan domestic di Amerika (West 2002; and see West 2004). Meneliti kekerasan antara wanita kulit putih dan kulit hitam. Kekerasan yang dilakukan lawan intimnya. Disana, wanita kulit hitam memiliki streotip bahwa mereka lebih yang melakukan kekerasan daripada etnis lain. Dia melihat dari motif, kontek dan outcome dari aksi-aksi kekerasan. Metode yg digunakan qualitative dan quantitative. Masalah rasisme, kejahatan bersenjata dan pelecehan seksual.
Satu contoh dari West : selama era perbudakan, mereka mengalami trauma, yang bersaksi atas penculikan suami, saudara laki-laki, anak dan bapaknya dari pemilik budak. Diskiriminasi, manipulasi dan pelecehan (2002, 229).West telah menerima penghargaan dari komunitas kulit hitam untuk hal yang dikerjakannya-Outstanding Researcher Award- dari Lembaga Kekerasan domestic di Komunitas Amerika Afrika dimana aman untuk mengatakan bahwa program penelitian berfokuskan stereotype akan menemui respon yang berbeda.

Dimana Anda Menemui Sebuah Keputusan
Debat yang complicated tentang hubungan feminisme dengan multikulturalisme in Okin 1999. Bahwa wanita kulit hitam tidak menerima kesempatan yang sama dengan wanita kulit putih untuk hidup tanpa takut mendapat kekerasan dari partner domestic.
Apa hasilnya? Ini dapat memenuhi peran politik dan epistemic dari cita-cita lama dari nilai sain yang ideal.

Bab empatChallenges from Every Direction, meliputi; The Epistimological Challenge, The Historical Challenge, The Sociological and Economic Challenges, The Political Challenge.

Tantangan yang harus dihadapi, diterima dan direspon adalah gender, feminisme dan permasalahannya: Pertama; justifikasi epistemology -sains-ahli terlatih yang proporsional, Kedua ; justifikasi historis –efek epistemic yang dihasilkan dari sains, Ketiga; justifikasi sosiologis – menekankan kognitif unik pelembagaan social dalan sains, Keempat; justifikasi ekonomik – menekankan kemajuan sosioekonomi yang luar biasa yang dihasilkan dari kemajuannya. Terakhir, Kelima; justifikasi politik – pemaksaan bahwa ilmuwan memiliki hak kebebasan meneliti dan kebebasan berbicara.
Tantangan Epistimologi (campur tangan sains)
John Stuart Mill terkenal dengan strategi “marketplace of idea” ; strategi menurut akuisisi ilmu pengetahuan dengan investigasi bebas berdasarkan opini (Mill [1859] 1956,21)
Thomas Kuhn, di sisi lain, strategi optimal bertolak belakang; sesuatu harus diungkapkan melalui sains apa yang dilihat atau dimana yang dicari dan pendidikan seseorang sebagai sains yang menyuplainya (Kuhn 1963,)

Tantangan Historis
Tantangan historis focus pada episode khusus dari produk ilmu pengetahuan saintifik lebih dari strategi umum untuk menghasilkan ilmu pengetahuan (knowledge).Di buku ini menjelaskan contoh penelitian Lysenko pada era Hitler berkaitan dengan genetika. Syarat dari sebuah sains yang harus di-judge oleh dua standar ; standar politis dan epistemic (sains) dan harus memenuhi kemajuan sains dan progress sains.

Tantangan Ekonomi dan Sosiologis
Pertama, tantangan sosiologis,. Ini adalah formulasi klasik yang diberikan pada tahun 1942 oleh arsitek utama dari sosiologi modern, Robert K. Merton. Menurut Merton, institusi sains ditandai dengan “etos” atau “norma dan nilai yang kompleks dilakukan pada sains” ([1942] 1973, 268-269). Etos ini menggabungkan dua elemen; kognitif dan social, ditransmisi oleh “contoh dan aturan” dan di tegakkan oleh reward dan hukuman. Dan ini dilegitimat oleh tujuan sains. Ini adalah yang membentuk etos dari sains. Bagi Merton the original four (4 yang asli)-“komunisme, universalisme, ketidaktertarikan / disinterest” dan “skeptism menjadi inti dari etos sains.
Merton menekankan bahwa “institusi sain adalah bagian dari struktur social yang lebih luas yang tidak selalu terintegrasi”. Ketika kultur yang lebih besar melawan universalisme- “atau komunisme atau disinteresisme atau skeptisisme-“ etos dari sains di subjeksi pada tekanan yang serius (271). Ini terjadi pada system totalitarian NAZI Jerman dan Uni Soviet.Menurut tantangan ekonomi, apalagi, ketika peningktan sians dijamin, seperti juga kemajuan sosioekonomi. Menurut laporan kajian Vannevar Bush :
Kemajuan dalam sains membuat banyak lapangan pekerjaan, upah tinggi, jam yang lebih pendek, panen yang bagus, makin banyak tempat rekreasi, untuk belajar, tidak seperti masa yang lalu. Ini juga membawa standar hidup yang lebih tinggi, membawa pencegahan atau pengobatan penyakit. (Bush 1945, 5)

Kebalikannya, “tanpa kemajuan sains tidak ada yang dapat menjamin kesehatan, perumahan, dan keamanan sebagai sebuah Negara dalam dunia modern”. Menurut Bush juga bahwa penelitian dasar akan menyediakan capital (modal) saintifik, dengan meningkatkan aplikasi ilmu pengetahuan. Ini akan menciptakan kemajuan teknologi. Ini juga akan menciptakan pengembangan dan inovasi teknologi. Hal ini yang akan membuat dukungan subtansial dan terus-menerus terhadap basic research (penelitian dasar). Tanpa keterlibatan hal tersebut tidak akan membuat keuntungan sosioekonomik yang akan menjadikan kontrak social bagi sains.
Menurut tantangan ekonomi, kemajuan sains akan membuat keuntungan social, sedangkan menurut tantangan sosiologis, etos sains akan memfasilitasi kemajuan tersebut. Menurut tantangan economic dan sosiologis, jelasnya, tujuan motivasi yang mengadopsi ideal dari sains yang bertanggung jawab secara social akan terpuaskan.
Dari keterangan diatas, penelitian sosiologis dan historis yang dimulai pada tahun 1950-an masih gagal mekonfirmasi eksistensi dari sebuah etos Mertonian (Barnes and Dolby 1970).
Pengalaman 30 tahun atau lebih menunjukan fenomena dari sains dan teknologi berdasarkan pertumbuhan ekonomi terlihat diikuti dengan meningkatnya kualitas distribusi keuntungan ekonomik (Sarewitz, Foladori, Invernizzi, dan garfinkel 2004, 69)
Kemajuan teknologi dan saintifik saat ini diperlakukan untuk membuat ideal dari sain yang bertanggung jawab secara social bahkan dibutuhkan.

Tantangan Politis
Penelitian saintifik harus bebas dari represif laten dan pengaruh birokrasi, politik, agama dan perintah/pengaruh uang (Rabounski 2006, 57). Lebih jelasnya : Sebuah pekerjaan sains untuk institusi, otoritas, atau agency akademik, menjadi kebebasan yang lengkap sebagai sebuah penelitian, yang dibatasi oleh kemampuan intelektual dan dukungan yang ditawarkan melalui institusi, otoritas atau agency pendidikan. Semua ilmuwan memiliki hak untuk mempresentasikan penelitiannya kepada public melalui media yang tersedia, tanpa pengaruh dogma agama, politik, opini orang. Dan dijamin tidak akan diblacklist hanya karena penelitiannya.

Bab limaThe Prospects for Philosophy of Science in the Twenty-First Century, meliputi; A Glance, Again, at the Past, Challenges of the Present, Philosophy of Science: A Subject with a Great Future,Final Thoughts.

Sebuah janji telah dibuat pada permulaan buku ini untuk menyediakan sebuah program penelitian baru dari filsafat ilmu. Apa janji tersebut dipegang? Kita lihat.
Bab 1 dimulai dengan riview beberapa problem yang sangat menekan wanita berada dalam masyarakat hari ini.
Bab 2 eksplore akar dari filsafat ilmu terkini abad 20 dihubungankan dengan sain yang telah eksis dari vakum sosial, politik, ekonomi.
Bab 3 berbicara tentang metodelogi pendekatan feminsme, nilai social, dengan masalah andosentris dan sexism
Bab 4 ideal sain yang bertanggung jawab secara social dengan melawan 5 tantangan penting (epistomologi, historis, sosiologis, ekonomi dan tantangan politik).

Tantangan Hari ini
Hari ini, sains menderita dari masalah imej yang serius, terhadap masyarakat, generasi masa depan dan masalah lingkungan (global warming). Amerika telah menghabiskan 25 milyar dollar pada penelitian sistim iklim-globaldalam menciptakan kebijakan iklim tapi belum menjadi aksi yang berarti di kebijakan tersebut (Sarewitz 2006). Masalahnya, malah, semakin memburuk.

Filsafat Ilmu : Sebuah Subjek dengan Masa Depan yang Benar
Pertama, Penelitian AIDS. Lebih dari 25 juta orang di seluruh dunia meninggal karena AIDS. 33 juta orang terkontraksi AIDS. Tapi 9 dari 10 orang yang terjangkit HIV tidak mengetahui mereka terjangkit penyakit tersebut. (UNAID 2008, 15). Kedua, Penelitian kanker. NCI dan ACS (badan yang menangani kanker) di amerika telah melakukan penelitian dan bertanggung jawab terhadap perang melawan kanker.

Pemikiran Akhir
Akhirnya, terlihat penerimaan yang cepat dari Filsafat Ilmu feminis dan beasiswa kajian sains feminis secara umum, diantara Filsafat ilmu lainnya. (Rouse 1997, 210). Paling tidak ini menjadi harapan dari buku ini. Tentunya, pengejaran kerja tidak akan menjamin fisafat ilmu menjadi intelektual public. Tapi ini dapat dijadikan sebuah awal dari sebuah pandagan tentang gender.

QUANTUM LEARNING SEBAGAI ALTERNATIF SOLUSI


5134654297_cb4487f426_mPENDAHULUAN

Masalah mendasar yang dihadapi oleh dunia pendidikan di Indonesia, saat ini adalah rendahnya mutu outputnya, dan itu terjadi di semua tingkat pendidikan. Sebagai indikatornya adalah rendahnya hasil nilai Ujian Akhir Nasional (UAN) baik tingkat Sekolah Dasar, Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama, Sekolah Lanjutan Tingkat Atas, terutama untuk ilmu-ilmu Dasar.

Jika dibandingkan dengan negara-negara lain, misalnya laporan Bank Dunia berdasarkan studi IAEA (Internasional Association for the Education of Educational Achievement) tahun 1992, bahwa ketrampilan membaca siswa kelas IV SD Indonesia adalah terendah di Asia Timur. Rata-rata skor tes yang diperoleh siswa kelas IV SD Indonesia adalah 51, 7, dibandingkan dengan Filipina 52,6, Thailand 65,1, Singapura 74,0 dan Hongkong 75,5. selain itu, hasi studi The Third International Matematics and Science Study (IAEA 1999) memperlihatkan bahwa dari 38 negara peserta, prestasi siswa kelas 2 SLTP Indonesia berada pada urutan ke 32 untuk IPA dan ke 34 untuk Matematika.

Oleh karena itu pendidikan merupakan sistem terbuka, maka banyak faktor yang dapat dijadikan kambing hitam penyebabnya. Akan tetapi karena sekolah merupakan sentral dan ujung tombak pendidikan maka sekolah layak pula dijadikan sebagai terdakwa sumber penyebab rendahnya mutu pendidikan di Indonesia. Hal ini bisa terjadi kalau sekolah bukanlah tempat yang nyaman untuk belajar, dan bukan lagi tempat yang layak mengembangkan kemampuan serta kreativitas anak, bahkan malah menjadi penghambat bagi anak mencapai kecerdasan serta kebebasan berfikir.
SISTIM PENDIDIKAN KITA

1. Pendidikan = Penjara

Pada usia 0-5 tahun seorang anak mampu mempelajari 90 % semua kata yang selalu digunakan oleh orang dewasa. Namun setelah anak memasuki usia 6-7 tahun dan masuk sekolah, kecerdasan anak-anak ini turun 200 %. Mengapa ?

Pada tahun 1982 Jack Canfield, pakar masalah kepercayaan diri melaporkan hasil penelitiannya dimana seratus anak ditunjuk seorang periset untuk satu hari. Tugas periset adalah mencatat berapa banyak komentar positif dan negatif yang diterima oleh seorang anak dalam sehari. Penemuan Canfield adalah bahwa setiap anak rata-rata menemui 460 komentar negatif atau kritik dan hanya 75 komentar positif atau yang bersifat mendukung. Jadi komentar negatif 6 kali lebih banyak dibandingkan komentar positif.

Umpan balik negatif yang kontinue ini sangat berbahaya setelah beberapa tahun bersekolah, kemandegan belajar yang sesungguhnya terjadi, dan anak-anak menghalangi/menutupi pengalaman belajar mereka secara tidak sadar. Setelah lulus dari Sekolah Dasar kata belajar itu sendiri bisa membuat murid merasa tegang dan terbebani, “learning is not fun”.

Bernard Shaw dalam parents and children mengomentari dampak pendidikan dan kebijakan pendidikan yang menyebabkan para guru secara ekonomis nasibnya terpuruk sebagai berikut :
“Di muka bumi ini tidak satupun yang menimpa orang-orang tak berdosa separah sekolah, sekolah adalah penjara. Tapi dalam beberapa hal sekolah lebih kejam ketimbang penjara. Dipenjara misalnya anak tidak dipaksa membeli dan membaca buku-buku karangan sipir atau kepala penjara”. Selanjutnya Filusuf Bernard Rassell (1872-1970) dalam Sceptical Essays : Kini kita dihadapkan pada sebuah fakta paradoksal bahwa pendidikan menjadi salah satu kendala utama bagi usaha mencapai kecerdasan dan kebebasan berfiki.

Walaupun apa yang dikemukakan oleh ketiga ahli tersebut diatas belum tentu sepenuhnya benar, akan tetapi kondisi seperti itulah yang banyak mendominasi wajah sekolah dan pendidikan kita dewasa ini. Apa yang kita saksikan adalah mulai dari lingkungan sekolah yang gersang, fasilitas yang kurang, guru yang galak, disiplin yang kaku dan sebagainya. Kondisi itu diperparah lagi dengan proses belajar mengajar yang tidak berkualitas, masih kovensional yang hanya mengandalkan metode ceramah. Proses belajar yang demikian ini berjalan satu arah menempatkan siswa sebagai pihak yang pasif hanya sebagai pendengar dan pencatat, sehingga bagi siswa membosankan dan tidak menarik. Apa lagi kalau para guru kondisinya miskin pengetahuan, miskin metode dan miskin inovasi. Adalah sulit untuk dibayangkan upaya peningkatan mutu pendidikan dan outputnya berhasil dengan kondisi sistem pendidikan kita yang seperti ini.

2. Mengapa pendidikan kini lebih sadis dari penjara ?

Sekiranya boleh mengajukan hipotesis mengapa pendidikan lebih sadis dari penjara, hal ini disebabkan :
Sistem pendidikan kita yang lebih berorientasi kepada target-target lingkungan.
Anak-anak tidak pernah diajak apa lagi diserahkan menentukan apa yang mereka ingin sebagai bekal dimasa depan. Padahal kita mengetahui bahawa potensi dan bakat anak tidak sama. Seharusnya pendidikan kita dapat mengembangkan dan memfasilitasi semua tujuh kecerdasan yang dimiliki oleh anak.

Adanya penyeragaman dalam hal belajar mengajar, termasuk dalam hal ini bahan kurikulum.
Hal ini tentu sangat menghambat kreatifitas dan inovasi baik guru maupun siswa. Kerancuan sistem pembelajaran kita, baik di sekolah dan universitas, bahkan sampai ketempat orang bekerja mencari nafkah (perusahaan swasta maupun milik negara) berakar pada penyamaan secara semberono beberapa hal yang secara esensial berbeda.

3. Pengajaran tidak memperhatikan sistem otak manusia bekerja.
Bahwa manusia memiliki dua belah otak, yakni otak kiri dan otak kanan. Otak kiri berperan dalam kaitannya dengan kegiatan motorik (motor scquence), angka-angka, kata-kata, logika, urutan dan rincian, sedangkan otak kanan beperan dalam kaitan dengan sensor-sensor rasa (sensor scquence), gambar, imajimasi, warna dan ruang. Seharus pengajaran dapat mengembangkan otak kiri dan kanan. Akan tetapi dalam kenyataannya, pengajaran hanya mengembangkan otak kiti saja. Indikatornya adalah evaluasi yang digunakan oleh guru, maupun ujian nasional hanya seputar aspek kognitif saja. Akibatnya belajar bagi siswa adalah sesuatu yang memberatkan. Tidak diajarkannya bagaimana cara belajar yang baik kepada siswa, sehingga mereka tidak memiliki keterampilan belajar. Akibat dari hal ini maka siswa selalu tergantung kepada gurunya.

QUANTUM LEARNING SEBAGAI ALTERNATIF SOLUSI

Apa Quantum Learning itu ?

Quantum Learning didefinisikan sebagai “interaksi-interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya” semua kehidupan adalah energi. Tubuh manusia secara fisik adalah materi. Sebagai pelajar, tujuan kita adalah merah sebanyak-banyak mungkin cahaya, interaksi, hubungan, inspirasi agar menghasilkan energi cahaya. Quantum Learning menggabungkan sugestologi, teknik pemercepatan belajar, dan NLP dengan teori, kenyakinan dan metode. Termasuk diantaranya konsep-konsep kunci dari berbagai teori dan strategi yang lain seperti ;

  1. Teori otak kiri/kanan
  2. Teori otak triune (3 in 1)
  3. Pilihan modalitas
  4. Teori kecerdasan ganda
  5. Pendidikan holistik
  6. Belajar berdasarkan pengalaman
  7. Belajar dengan simbol
  8. Simulasi/permainan

 

Bagaiman Quantum Learning itu ?

Misteri otak
Quantum Learning dimulai dari memahami otak manusia susunan syarafnya, fungsi-fungsinya dan jenis perkembangan kecerdasan manusia.

Kekuatan AMBAK (Apa Manfaatnya Bagi Ku) ?
Segala sesuatu yang ingin kita kerjakan harus menjanjikan manfaat bagi kita. Jika bermanfaat kita kan termotivasi untuk mengerjakannya. AMBAK biasanya muncul di benak kita, kadang-kadang kita harus mencarinya atau bahkan menciptakannya.

  1. Menata Lingkungan Belajar Yang Tepat
    • Perabotan jenis dan penataan
    • Pencahayaan
    • Musik
    • Visual poster, gambar, papan pengumuman
    • Penempatan persediaan
    • Temperatur
    • Tanaman
    • Kenyamanan
    • Suasana hati secara umum

2. Memupuk Sikap Juara (Berpikir Positif)
Suatu sikap dimana kita mempunyai harapan yang tinggi, harga diri yang tinggi dan kenyakinan bahwa kita akan berhasil, kita akan memperoleh prestasi yang tinggi.
Berfikir Positif berarti : Kegagalan = Umpan balik dan membawa pada keberhasilan

3. Menemukan gaya belajar
Cara belajar adalah kombinasi dari bagaiman kita menyerap, lalu mengatur, dan mengolah informasi, meliputi modalitas dan dominasi otak.
4. Teknik Mencatat Tingkat Tinggi
Teknik mencatat tingkat tinggi mengajarkan kepada kita bagaimana catatan bisa digunakan untuk :

  • Melihat seluruh gambaran secara sekilas
  • Mengingat detail secara mudah
  • Melihat hubungan antara gagasan dan konsep
  • Bekerja sama dengan otak kita, bukan bertentangan dengannya.
  • Menyingkirkan “format outline” yang membosankan, selamanya.

 

5. Menulis Dengan Penuh Percaya Diri
Menulis dengan penuh percaya diri ini mengajarkan kepada kita :

  • Menemukan teknik-teknik curah gagasan yang cepat dan mudah
  • Menciptakan bahasa yang hidup dengan menggunakan cara dan ungkapan kita sendiri
  • Melakukan proyek penulisan dari awal hingga akhir dengan hanya sedikit stress
  • Selalu berharap untuk menulis

 

6. Keajaiban Memori
Keajaiban memori dapat memberikan kemudahan-kemudahan :

  • Mengembangkan kapasitas kita untuk mengingat fakta-fakta, detail-detail, dan “hal-hal yang harus dilakukan”.
  • Dengan mudah mengingat daftar nama-nama, nomor-nomor dan hal-hal lain.
  • Mengingat nama-nama orang yang kita kenal

 

7. Melaju Dengan Kekuatan Membaca.
Melaju dengan kecepatan membaca mensuport kita dalam :

  • Mengembangkan kecepatan membaca kita secara dramatis
  • Meningkatkan pemahaman dan daya ingat
  • Menambah perbendaharaan kata dan menambah bank data kita
  • Menghabiskan sedikit waktu untuk membaca sehingga kita dapat mengerjakan hal-hal lain

 

8. Berfikir Logis dan Berfikir Kreatif.
Berfikir logis dan kreatif dapat mendorong kita untuk :

  • Memaksimumkan proses-proses pemecahan masalah secara kreatif.
  • Membiarkan otak kanan kita bekerja pada situasi-situasi yang menantang.
  • Memahami peran paradigma pribadi dalam proses-proses kreatif.
  • Mempelajari bagaimana curah gagasan dapat memberikan pemecahan inovatif bagi berbagai masalah
  • Menemukan keberhasilan dalam berfikir tentang hasil

 

Demikianlah gambaran quantum learning yang dapat mengubah “learning is not fun” menjadi “learning is fun”, mengubah pendidikan yang tadinya penjara menjadi taman bunga yang indah.

Quantum learning ini akan lebih efektif apabila disertai political will pemerintah dibidang pendidikan dengan memberikan keluasaan yang sebenar-benarnya kepada sekolah, guru dan murid untuk berkreasi dan berinovasi.

Tanpa ini Quantum Learning tidak akan tumbuh subur seperti yang ingingkan. School base management bisa menjadi salah satu jalan keluar bagi keterpurukan sistem pendidikan nasional.

KEPUSTAKAAN

  • Andrian Harefa. Menjadi Manusia Pembelajar , Kompas, Jakarta, 2000.
  • Taufik Baharudin. Brain Inware Management, Elex Media Komputindo, Jakarta, 2001

 

STUDI BANDING DALAM TINJAUAN


lead28STUDI  banding sebagai hal yang sering dilakukan sejak SMP dulu biasanya keluar kota bahkan setelah masuk jenjangS1/ S2/S3  hal ini masih berlaku dengan lokasi yang lebih jauh lagi.
Seiring kesibukan dalam rangka mempersiapkan tesis ataupun disertasi, dan trend tiap angkatan sebagai salah satu gengsi tersendiri karena kesana biasanya bersama dosen atau calon pembimbing/calon promotor kita, “Setidaknya kalau satu perjalanan jauh bisa merekatkan sebuah hubungan yang lebih dekat dengan calon dosen pembimbing atau calon promotor kita”, kata teman kita yang merasakan manfaat studi banding tersebut  selain menambah wawasan tentunya.”Sambil berdayung, dua tiga pulau terlampaui”, begitu pepatah.
Masalah bagi sebagian mahasiswa, mungkin tak masalah bagi yang lainnya, buktinya program tersebut berjalan lancar. Soal Biayanya jangan tanya, kalau kunjungan dalam kota mungkin tak seberapa, tapi ke luar negeri,seperti  ke Hongkong, China, Jepang ataupun negara Asia, Australia, Eropa, kalau bisa Afrika, siapa yang tak ingin menambah wawasan dan bertamasya dengan kebanggaan yang luar biasa, apalagi kalau bukan masalah dana bagi mahasiswa yang secara finansial minus. Bahkan untuk kuliah saja hanya mengandalkan beasiswa dan pembiayaan lainnya yang minus, sehingga yang berangkat hanya beberapa gelintir mahasiswa yang mapan secara ekonomi dan biasanya kalau dijurusan kami minimal pejabat di tempat kerjanya, atau sisa beasiswa yang sebenarnya walaupun tak mendapat beasiswa mampu kuliah kejenjang lebih tinggi.
Ada laporan?, kayaknya sekedar oleh-oleh saja, karena sebagian punya cerita masing-masing, kami tahu lewat jejaring sosial bagaimana perjalanan mereka seperti facebook dengan potret narsis dibeberapa tempat yang dikunjungi ataupun pertemuan dengan kampus yang dikunjungi dan kami bahagia mendengar suatu yang baru di negara lain yang membuat terkagum-kagum yang sebenarnya mugkin bisa diterapkan bahkan hanya sekedar impian saja.karena secara kultural begitu berbeda dengan karakter bangsa kita.
Sekali lagi ini hanya sekedar studi banding?
Sebuah budaya yang mungkin baik, mungkin juga hanya sekedar pembiasan makna setelah melihat kehebatan bangsa lain dalam mengelola pendidikan, yang ditakutkan hanya sekedar sebuah anomie yang menjangkiti para petinggi kita yang juga diikuti oleh calon petinggi dalam jenjang pendidikan tinggi.Sebagaimana studi banding anggota dewan kita yang berkesan in-efisiensi ke beberapa negara lain sehingga ditolak keberadaannya, karena lebih mengumbar budaya belanja daripada mencari pembelajaran sehingga kita pulang tak satupun yang bisa dipetik dan diterapkan di negara tercinta ini. Rupanya hal ini sudah dirintis sejak masih S2/S3, tapi argumen teman kita yang ikut berkunjung tergantung penilaian masing-masing, segala sesuatu ada value-nya.”Tak ada yang salah sehabis perkuliahan selesai dan menjelang proses disertasi untuk sekedar refresing menghilangkan kepenatan”, kata teman kita. “Lu, aja tanda tak mampu”, lanjutnya.
Studi banding yang dilakukan terukur, terjangkau dan terencanakan dengan tolak ukur yang bisa dipahami semua orang sehingga sehabis studi tour kita benar-benar mendapatkan pengalaman yang bisa mendukung kualitas kita sebagai calon pemimpin dimasa yang akan datang atau seorang intelektual yang berkarakter, kritis dan itu hanya sekedar pendapat, pro dan kontra. pengalihan hasil misalnya bsia saja menuangkan dalam sebuah karya buku atau membenchmark organsasi pendidikan yang suatu waktu akan kita tuangkan sendiri dalam dunia pendidikan. Walaupun tujuannya studi, jangan ada kesan hanya pelepas lelah. Tujuan dasarnya hilang dengan jalan-jalannya, atau bisa juga berbagi dengan mahasiswa lainnya yang dirasakan mungkin tidak tahu akan kesulitan terutama yang berhubungan dengan finansial.
Studi banding jangan ada kesan perbedaan jarak perhatian. Objektifitas tetap terjaga, karena studi banding hanya sekedar peningkatan pengalaman mahasiswa akan perbedaan dan luasnya dunia pendidikan yang bisa dijadikan sebagai contoh dan master plan dari negara lain dalam pengelolaan pendidikan.
Sekali lagi yang tidak ikut kunjungan ke negara lain bukan tidak solider tapi masih saja terbentur dengan masalah prioritas keuangan mahasiswa yang tidak semua memiliki anugrah dalam finansial dengan bisa kuliah kejenajnag lebih tinggi berkat bantuan beasiswa yang tertunda. wallahu alam.

QUANTUM LEARNING


Apa Quantum Learning itu ?

Quantum Learning didefinisikan sebagai “interaksi-interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya” semua kehidupan adalah energi. Tubuh manusia secara fisik adalah materi. Sebagai pelajar, tujuan kita adalah merah sebanyak-banyak mungkin cahaya, interaksi, hubungan, inspirasi agar menghasilkan energi cahaya.

Quantum Learning menggabungkan sugestologi, teknik pemercepatan belajar, dan NLP dengan teori, kenyakinan dan metode. Termasuk diantaranya konsep-konsep kunci dari berbagai teori dan strategi yang lain seperti ;

 

  1. Teori otak kiri/kanan
  2. Teori otak triune (3 in 1)
  3. Pilihan modalitas
  4. Teori kecerdasan ganda
  5. Pendidikan holistik
  6. Belajar berdasarkan pengalaman
  7. Belajar dengan simbol
  8. Simulasi/permainan 

Bagaiman Quantum Learning itu ?

 

Misteri otak

 

Quantum Learning dimulai dari memahami otak manusia susunan syarafnya, fungsi-fungsinya dan jenis perkembangan kecerdasan manusia.

 

Kekuatan AMBAK (Apa Manfaatnya Bagi Ku) ?

 

Segala sesuatu yang ingin kita kerjakan harus menjanjikan manfaat bagi kita. Jika bermanfaat kita kan termotivasi untuk mengerjakannya. AMBAK biasanya muncul di benak kita, kadang-kadang kita harus mencarinya atau bahkan menciptakannya. 

Menata Lingkungan Belajar Yang Tepat

 

  1. Perabotan jenis dan penataan
  2. Pencahayaan
  3. Musik
  4. Visual poster, gambar, papan pengumuman
  5. Penempatan persediaan
  6. Temperatur
  7. Tanaman
  8. Kenyamanan
  9. Suasana hati secara umum 

Memupuk Sikap Juara (Berpikir Positif)

 

Suatu sikap dimana kita mempunyai harapan yang tinggi, harga diri yang tinggi dan kenyakinan bahwa kita akan berhasil, kita akan memperoleh prestasi yang tinggi.

Berfikir Positif berarti :

Kegagalan = Umpan balik dan membawa pada keberhasilan

Menemukan gaya belajar
Cara belajar adalah kombinasi dari bagaiman kita menyerap, lalu mengatur, dan mengolah informasi, meliputi modalitas dan dominasi otak.
Teknik Mencatat Tingkat Tinggi
Teknik  mencatat tingkat tinggi mengajarkan kepada kita bagaimana catatan bisa digunakan untuk :

  1. Melihat seluruh gambaran secara sekilas
  2. Mengingat detail secara mudah
  3. Melihat hubungan antara gagasan dan konsep
  4. Bekerja sama dengan otak kita, bukan bertentangan dengannya.
  5. Menyingkirkan “format outline” yang membosankan, selamanya.

Menulis Dengan Penuh Percaya Diri
Menulis dengan penuh percaya diri ini mengajarkan kepada kita :

  1. Menemukan teknik-teknik curah gagasan yang cepat dan mudah
  2. Menciptakan bahasa yang hidup dengan menggunakan cara dan ungkapan kita sendiri
  3. Melakukan proyek penulisan dari awal hingga akhir dengan hanya sedikit stress
  4. Selalu berharap untuk menulis

Keajaiban Memori
Keajaiban memori dapat memberikan kemudahan-kemudahan :

  1. Mengembangkan kapasitas kita untuk mengingat fakta-fakta, detail-detail, dan “hal-hal yang harus dilakukan”.
  2. Dengan mudah mengingat daftar nama-nama, nomor-nomor dan hal-hal lain.
  3. Mengingat nama-nama orang yang kita kenal

Melaju Dengan Kekuatan Membaca.
Melaju dengan kecepatan membaca mensuport kita dalam :

  1. Mengembangkan kecepatan membaca kita secara dramatis
  2. Meningkatkan pemahaman dan daya ingat
  3. Menambah perbendaharaan kata dan menambah bank data kita
  4. Menghabiskan sedikit waktu untuk membaca sehingga kita dapat mengerjakan hal-hal lain

Berfikir Logis dan Berfikir Kreatif.
Berfikir logis dan kreatif dapat mendorong kita untuk :

  1. Memaksimumkan proses-proses pemecahan masalah secara kreatif.
  2. Membiarkan otak kanan kita bekerja pada situasi-situasi yang menantang.
  3. Memahami peran paradigma pribadi dalam proses-proses kreatif.
  4. Mempelajari bagaimana curah gagasan dapat memberikan pemecahan inovatif bagi berbagai masalah

Menemukan keberhasilan dalam berfikir tentang hasil
Demikianlah gambaran quantum learning yang dapat mengubah “learning is not fun” menjadi “learning is fun”, mengubah pendidikan yang tadinya penjara menjadi taman bunga yang indah.
Quantum learning ini akan lebih efektif apabila disertai political will pemerintah dibidang pendidikan dengan memberikan keluasaan yang sebenar-benarnya kepada sekolah, guru dan murid untuk berkreasi dan berinovasi.
Tanpa ini Quantum Learning tidak akan tumbuh subur seperti yang ingingkan. School base management bisa menjadi salah satu jalan keluar bagi keterpurukan sistem pendidikan nasional.

KEPUSTAKAAN
Andrian Harefa. Menjadi Manusia Pembelajar , Kompas, Jakarta, 2000.
Taufik Baharudin. Brain Inware Management, Elex Media Komputindo, Jakarta, 2001

 

STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN (SNP)


PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang

Persoalan pendidikan di zaman teknologi dan informasi sekarang ini dipandang sebagai problem yang sangat luar biasa sulit di berbagai negara. Walaupun demikian negara-negera yang peduli terhadap masalah ini mengakui bahwa pendidikan sebagai tugas negara yang maha penting. Pendidikan merupakan kunci dalam membangun dan memperbaiki sikap individu dalam menghadapi keadaan dunia yang terancam oleh berbagai potensi bencana boleh jadi diawali oleh pemenasan global, dan tanpa kunci itu usaha tersebut akan gagal.

Dalam konteks tersebut, maka setiap negara di dunia terus melakukan peningkatan pendidikan masing-masing. Indonesia, dalam hal ini melakukan perubahan sistem pendidikan guna mencapai kualitas atau mutu pendidikan yang terus menerus menuju ke arah lebih baik. Hal ini perlu diupayakan secara serius dan fokus, oleh karena peradaban masyarakat bangsa Indonesia ditentukan oleh bagaimana pendidikan dijalani oleh masyarakat.

Sistem pendidikan, menurut Sukarno (2005) merupakan bangunan sekaligus ihktiar yang sangat strategis untuk itu, oleh karena sistem pendidikan mengandaikan adanya pembagian kewenangan antara negara dan masyarakat dan  tata-kelolanya yang meliputi pemeliharaan, kontrol, kreasi, adopsi dan distribusi nilai, pengetahuan, ketrampilan maupun tata-hubungan kuasa. Oleh karena itu kebijakan pendidikan yang tepat pada umumnya harus secara struktural dapat memadukan daya masyarakat, negara dan dunia usaha secara tepat dan secara individual memicu mobilitas kultural, vertikal dan horisontal individu yang ketiganya pada gilirannya mengembangkan produktifitas budaya, sosial dan ekonomi sekaligus menuntut pengembangan habitat yang demokratis. Namun demikian, bila kebijakan yang diambil salah, upaya pendidikan dapat jatuh menjadi sekedar upaya mereproduksi tatanan dan struktur  sosial, ekonomi dan politik  lama dan memberikan  bahan ajar-materi didik, sistem pengelolaan dan akses pendidikan maupun peluang kerja yang tidak memadai dan tidak berkeadilan. Ketertinggalan struktural (tata hubungan kuasa) dan budaya (nilai, ilmu, teknologi dan tata-nilai hubungan kuasa),  akan lebih mempersulit bagi upaya transisi menuju demokrasi dan upaya memenangkan kompetisi dari globalisasi. 

Cara dan sistem pendidikan yang sudah berakar dalam dan bertahan lama sebenarnya membutuhkan reformasi pendidikan secara menyeluruh. Dalam hal pemerintah mencoba memotong kompas dengan gagasan untuk menyamaratakan mutu pendidikan di Indonesia. Namun, upaya ini sering menjadi sasaran kritik dan kecaman karena belum meratanya taraf kehidupan di masing-masing wilayah di Indonesia. Sehingga pemerataan standar pendidikan yang mengacu pada standar nasional harus dilaksana secara bertahap, sesuai dengan taraf kehidupan masyarakat di masing-masing wilayah.

Pengertian

Menurut Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005 bab 1 pasal 1 ayat 1, yang dimaksud dengan standar nasional pendidikan adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dengan kata lain, setiap lembaga pendidikan dituntut untuk memenuhi kriteria minimum yang telah ditentukan. Guna tercapainya tujuan pemerataan pendidikan di wilayah hukum Negara Kesatuan republik Indonesia.

Dalam pelaksanaan peningkatan mutu pendidikan, haruslah ada yang menjamin dan mengendalikan mutu pendidikan sehingga sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan. Dalam hal ini pemerintah melakukan evaluasi, akreditasi, dan sertifikasi. Ketiga proses ini dilaksanakan untuk menentukan layak tidaknya lembaga pendidikan yang berstandar nasional.

Standar Nasional Pendidikan bertujuan bukan hanya untuk memeratakan standar mutu pendidikan di Negara Kesatuan Republik Indonesi, tetapi juga untuk memenuhi tuntutan perubahan lokal, nasional dan, global. Dikarenakan mutu pendidikan di Indonesia telah jauh tertinggal dari negara ASEAN yang lain, maka peningkatan-peningkatan di segi pendidikan akan terus terjadi. Sehingga mutu pendidikan di Indonesia bisa bersaing dengan negara lain.

B.      Lingkup

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005, ada  delapan standar yang menjadi sorotan dalam melaksanaan Standar Nasional Pendidikan.

1.      Standar Isi

Standar isi adalah ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan dalam kriteria tentang kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian, kompetensi mata pelajaran, dan silabus pembelajaran yang harus dipenuhi oleh peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu.

Standar isi mencakup lingkup materi dan tingkat kompetensi untuk mencapai kompetensi lulusan pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Setiap jenjang memiliki kompetensi yang berbeda, mulai dari sekolah dasar hingga sekolah menengah. Dan dalam standar isi termuat kerangka dasar dan struktur kurikulum, beban belajar, kurikulum tingkat satuan pendidikan, dan kalender pendidikan/akademik, yang berguna untuk pedoman pelaksanan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

2.      Standar Proses

Standar proses adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran pada satu satuan pendidikan untuk mencapai standar kompetensi lulusan.

Proses pembelajaran seharusnya dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Hal tersebut sangatlah membantu dalam pekembangan akal dan mental peserta didik.

3.      Standar Kompetensi Lulusan

Standar kompetensi lulusan adalah kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Standar kompetensi lulusan digunakan sebagai pedoman penilaian dalam penentuan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan.

Setiap jenjang pendidikan memiliki kompetisi dasar yang berberda. Mulai dari pendidikan dasar yang hanya bertujuan meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, ahklak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. Sampai ke jenjang petguruan tinggi yang bertujuan mempersiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang berakhlak mulia, memiliki pengetahuan, keterampilan, kemandirian, dan sikap untuk menemukan, mengembangkan, serta menerapkan ilmu, teknologi, dan seni, yang bermanfaat bagi kemanusiaan.

4.      Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan

Standar pendidik dan kependidikan adalah kriteria pendidikan prajabatan dan kelayakan fisik maupun mental, serta pendidikan dalam jabatan. Pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi bagi para pendidik diantarnya :

a)      kualifikasi akademik pendidikan minimum diploma empat (D-IV) atau sarjana (S1)

b)      latar belakang pendidikan tinggi dengan program pendidikan yang sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan; dan

c)      sertifikat profesi guru untuk jenjang yang dia geluti.

5.      Standar Sarana dan Prasarana

Standar sarana dan prasarana adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan kriteria minimal tentang ruang belajar, tempat berolahraga, tempat beribadah, perpustakaan, laboratorium, bengkel kerja, tempat bermain, tempat berkreasi dan berekreasi, serta sumber belajar lain, yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran, termasuk penggunaan teknologi informasi dan komunikasi.

Setiap lembaga pendidikan wajib memiliki sarana dan prasarana yang telah ditentukan. Ada pun sarana tersebut antara lain meliputi perabot, peralatan pendidikan, media pendidikan, buku dan sumber belajar lainnya, bahan habis pakai, serta perlengkapan lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan.

Sedangkan prasarananya antara lain lahan, ruang kelas, ruang pimpinan satuan pendidikan, ruang pendidik, ruang tata usaha, ruang perpustakaan, ruang laboratorium, ruang bengkel kerja, ruang unit produksi, ruang kantin, instalasi daya dan jasa, tempat berolahraga, tempat beribadah, tempat bermain, tempat berkreasi, dan ruang/tempat lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan.

6.      Standar Pengelolaan

Standar pengelolaan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan kegiatan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan, kabupaten/kota, provinsi, atau nasional agar tercapai efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pendidikan.

Pengelolaan satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah menerapkan manajemen berbasis sekolah yang ditunjukkan dengan kemandirian, kemitraan, partisipasi, keterbukaan, dan akuntabilitas. Sadangkan pengelolaan satuan pendidikan pada jenjang pendidikan tinggi menerapkan otonomi perguruan tinggi yang dalam batas-batas yang diatur dalam ketentuan perundang-undangan yang berlaku memberikan kebebasan dan mendorong kemandirian dalam pengelolaan akademik, operasional, personalia, keuangan, dan area fungsional kepengelolaan lainnya yang diatur oleh masing-masing perguruan tinggi.

7.      Standar Pembiayaan

Standar pembiayaan adalah standar yang mengatur komponen dan besarnya biaya operasi satuan pendidikan yang berlaku selama satu tahun. Ada tiga macam biata dalam standar ini :

a)      Biaya investasi satuan pendidikan yaitu biaya penyediaan sarana dan prasarana, pengembangan sumberdaya manusia, dan modal kerja tetap.

b)      Biaya personal sebagaimana adalah biaya pendidikan yang harus dikeluarkan oleh peserta didik untuk bisa mengikuti proses pembelajaran secara teratur dan berkelanjutan.

c)      Biaya operasi satuan pendidikan meliputi

1.      gaji dan tunjangan pendidik dan tenaga kependidikan

2.      bahan atau peralatan pendidikan habis pakai, dan

3.      biaya operasi pendidikan tak langsung seperti air, pemeliharaan sarana dan prasarana, pajak, asuransi,   lain sebagainya.

8.      Standar Penilaian Pendidikan

Standar penilaian pendidik adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan mekanisme, prosedur, dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik.Penilaian dilakukan secara berkesinambungan untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil dalam bentuk ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, dan ulangan kenaikan kelas.

MUATAN ISU KRITIS DALAM STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN

Seiring dengan disahkannya Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, maka terjadilah perubahan sistem pendidikan nasional guna mencapai standar minimum yang telah ditentukan pemerintah. Di samping itu terjadi penolakan Standar Nasional Pendidikan. Adapun beberapa alasan yang menyebabkan belum layaknya Standar Nasional Pendidikan diterapkan secara nacional antara lain:

1.    Pertumbuhan Ekonomi yang Tidak Merata di Setiap Daerah

Kenyataan menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi berandil besar dalam perkembangan aspek kehidupan lain, tidak terkecuali pendidikan. Namun sayangnya terkadang daerah yang memiki hasil alam tinggi perkembangan pendidikannya tidak seperti yang diharapkan. Walaupun sudah dikeluarkan UU nomor 22 tahun 1999 tentang otonomi daerah (OTDA), tapi tetap saja pembangunan di bidang pendidikan masih tidak menentu. Dikarenakan sifat pemerintah pusat tidak mempersiapkan sumberdaya untuk menjalankan sistim pendidikan yang sekarang sedang berjalan. Dengan demikian pemerintah pusat terkesan setengah-setengah dalm pemberian wewenang untuk mengurusi pendidikan di daerah.

Drs. Murip Yahya M.Pd. dalam bukunya, Pengantar Pendidikan (2009) bab Otonomi Daearah Dan Pendidikan, poin D halaman 80 mengatakan bahwa pada dasarnya otonomi daerah memberikan peluang kepada pengelola pendidikan untuk mengembangkan lembaga pendidikan. Seperti :

1.      Merumuskan tujuan institusi yang mengacu pada tujuan nasional

2.      Merumuskan dan mengembangkan kurikulum sesuai dengan tujuan dan kebutuhan masyarakat suatu daerah

3.      Menciptakan situasi belajar dan  mengajar yang mendukung pelaksanaan dan pengembangan kurikulum yang telah ditetapkan.

4.      Mengembangkan sistem evaluasi yang tepat dan akurat, baik dari prestasi siswa maupun penyelenggaraan.

2.    Sarana Fisik Yang Kurang Memadai

Banyak sekali sekolah dan perguruan tinggi yang keadaan gedungnya sudah tidak layak, kepemilikan dan penggunaan media belajar rendah, kurang lengkapnya koleksi buku perpustakaan. Pemakaian teknologi informasi yang kurang memadai dan sebagainya.

Data Balitbang Depdiknas (2003) menyebutkan untuk satuan SD terdapat 146.052 lembaga yang menampung 25.918.898 siswa serta memiliki 865.258 ruang kelas. Dari seluruh ruang kelas tersebut sebanyak 364.440 atau 42,12% berkondisi baik, 299.581 atau 34,62% mengalami kerusakan ringan dan sebanyak 201.237 atau 23,26% mengalami kerusakan berat. Keadaan ini juga terjadi di SMP, MTs, SMA, MA, dan SMK meskipun dengan presentase yang tidak sama.

Apa yang terjadi di Pulau Jawa masih sangat beruntung dibanding dengan apa yang terjadi di pulau lainnya, seperti Papua. Pengadaan sarana dan prasarana yang tidak sesuai kebutuhan mengakibatkan lambatnya peningkatan mutu pendidikan. Seharusnya pemerintah lebih memperhatikan daerah tertinggal (desa) daripada mengurusi pendidikan di daerah maju (kota) yang jelas-jelas lebih bisa dipantau. Hal ini akan lebih memudahkan pemerintah dalam mensukseskan program pemerataan pendidikan yang berpaku pada Standar Nasional Pendidikan (SNP).

3.    Pendidikan kita tidak bebas nilai

Menurut Sukarno (2005) kebijakan pendidikan akhir-akhir ini lebih banyak ditandai oleh upaya penyesuaian struktural, namun demikian bentuk penyesuaian struktural yang diambil sering dianggap bersumber pada pilihan aliran (-aliran) politik pendidikan dan pilihan tehnokratis yang mungkin. Agaknya hal itu juga nampak pada orientasi pendidikan yang secara verbal diutarakan dan bentuk kebijakan yang diambil oleh antara lain Mendiknas.

Orientasi pendidikan yang dipilih secara formal adalah seperti yang termaktub dalam UUD ’mencerdaskan bangsa’ dan mengembangkan potensi manusia Indonesia seutuhnya dan seluruhnya (UU 20/2003 Sisdiknas). Namun demikian, sebagian terjemahan oleh Mendiknas secara rethorik dan kebijakan Depdiknas atas orientasi itu nampaknya menekankan politik eklektis (antara neo-konservatisme dan progresif humanistik dan sedikit orientasi radical education), kendati mencoba menghapus kenangan ’sekolah pembangunan’ yang pernah dimunculkan di jaman Orde Baru. Mendiknas agaknya mencoba  mengakomodasi pertentangan orientasi politik pendidikan sehingga lebih bersifat eklektis-politis, mengambil elemen-lemen yang layak dan laik untuk dipilih secara politis. Sehingga dapat disejajarkan dengan kebijakan politik yang amat populer di era reformasi yakni tentang otonomi daerah.

Nada humanistisnya terlihat pada kutipan di bawah ini: “Mendiknas akan membawa paradigma pendidikan kita tidak sekedar menempatkan manusia sebagai alat produksi. Manusia harus dipandang sebagai sumberdaya yang utuh. Ia tidak ingin terjebak pada teori ekonomi neo-klasik, teori yang menempatkan manusia sebagai alat produksi, dimana penguasaan iptek bertujuan menopang kekuasaan dan kepentingan kapitalis. “Saya akan membawa pendidikan sebagai proses pembentukan manusia Indonesia seutuhnya” (kompas 22/10).

Implikasi pedagogis yang harusnya terjadi seperti pernyataan Gramsci: yakni, mengembangkan kemampuan murid dari sub-altern untuk mendapatkan pengetahuan sama dengan anak kelas atas, dan mampu secara kritis melihat sejarah keterbelakangannya sendiri untuk membangun motivasi baru. Ia menekankan perlunya satu atap sekolah yang tidak membedakan vocational dan academic education. Dengan demikian pendidikan benar-benar ditaruh di altar publik, atau ’mimbar oemoem’ sebagai hal yang dicita-citakan Dewantara (1945 [1963]) masih jauh sekali realisasinya.

Selanjutnya Sukarno (2005) menyatakan bahwa dilihat dari tantangan besar yang terbentang di atas, nampaknya Depdiknas masih terlalu disibukkan kepada pemecahan masalah yang berhubungan dengan ’structural adjustment’  sehingga seakan-akan belum sempat mempersiapkan kerangka pendidikan yang tepat dan mempersiapkan gurunya  secara baik untuk menyongsong masalah di atas, yaitu mengembangkan pembelajaran yang humanis-demokratis serta membangun lembaga partisipasi publik.

4.    Paradigma perubahan

Kekhawatiran menonjol yang berkaitan dengan upaya peningkatan mutu antara lain menyangkut lemahnya perbaikan mutu guru dan materi didik, serta metode pembelajaran (yang masih tradisional, khususnya untuk tujuan  demokratisasi), dan lemahnya sistem evaluasi dan orientasi efisiensi eksternal, khususnya relevansinya dengan kebutuhan demokratisasi masyarakat dan pengembangan dunia usaha. Rencana perbaikan kesejahteraan guru (sesuai UU Guru), sertifikasi tenaga kependidikan dan akreditasi lembaga pendidikan adalah langkah maju. Namun belum diketahui apakah ketiga rencana ini akan lebih membantu atau sebaliknya memojokkan sekolah/madrasah yang lemah, terutama swasta, di samping apakah akan lebih mendesakkan tolok ukur lingkungan sekolah yang demokratis dan pemahaman/kemampuan guru untuk mengembangkan kesetaraan, toleransi dan terutama solidaritas melalui proses belajar. Pertanyaan ini penting, terutama karena mewabahnya lingkungan pendidikan eksklusif, bias kelas ekonomi dan kurang pluralistis.

Demikian pula, kendati otonomi Daerah/sekolah telah  memunculkan inisiatif untuk mengembangkan program pendidikan atau ekstra kurikuler (misalnya life skill),   inisiatif itu nampaknya lebih didorong oleh ketersediaan guru/pelatihnya atau bahkan semata-mata keinginan sekolah /daerah untuk mendapatkan in-put tambahan, daripada didasari oleh kajian potensi dan prospek ekonomi daerah yang matang (efisiensi eksternal). Di pihak lain, khususnya pada sekolah-sekolah kejuruan dan pendidikan luar sekolah, on-the job training dan standardisasi organisasi profesi serta sertifikasi pelatihannya belumlah tertata dengan baik, sehingga kurang memberikan keyakinan tentang tingkat kualitas lulusannya bagi calon penggunanya.   Di tengah peningkatan angka pengangguran (600 ribu dalam setahun (April 2004-2005), kedua kebijakan seperti itu meningkatkan resiko terhadap nilai balik investasinya yang mahal. Siapa yang harus bertanggungjawab bila harapan masyarakat yang begitu tinggi terhadap nilai balik investasi (return on investment) tidak terujud kelak?

Dengan membandingkan kendala (kekhawatiran) terhadap upaya pemerataan dengan kendala  (kekhawatiran) terhadap upaya peningkatan mutu di atas menjadi jelas bahwa penanganan trade-off antara keduanya adalah masalah yang krusial.  Kendati dalam design pemerintah keduanya diharapkan akan berjalan seiring (merata dan meningkat mutunya), namun secara umum terdapat prognosa bahwa mengingat kemampuan pendanaan untuk pemerataan-peningkatan mutu dan manajement oleh pemerintah  yang masih lemah, maka realitas politik Daerah dan persaingan antar (otonomi) sekolah/madrasah memperebutkan akses politik dan  daya masyarakatnya itulah yang  akan lebih menentukan pemerataan vis a vis peningkatan mutu pendidikan kita.  Dinamika yang sekarang terlihat adalah begitu pemerintah sedikit saja melepas bagian tubuh pendidikan ke daerah dan pasar, maka oleh (otonomi) sekolah  yang lebih kuat bagian  itu direbut dan dijadikan komoditi yang syah bagi yang mampu. Kesenjangan agaknya akan melebar, pendidikan ’bermutu’ akan lebih dinikmati kelompok mampu, kecuali pemerintah meningkat kemampuan (terutama dana) dan komitmennya untuk meredam hal tersebut. Oleh karena itu pertumbuhan ekonomi dan peningkatan komitmen pada saat sekarang adalah dua ’telor’ yang  mendesak untuk dibuat.

Namun  demikian, pertanyaannya saat ini adalah: pertama, Bila  sekarang negara belum mampu berperan sebagai equalizing factor, apakah civil society (lembaga sosial kependidikan di masyarakat) setelah menghadapi kebijakan negara yang terkesan  kurang menekankan partnership seperti di atas, masih dapat berperan emansipatorik, atau malahan telah ikut menjadi penjual komoditi pendidikan untuk mempertahankan hidupnya? Kedua, apakah dalam dinamika seperti ini, sistem pendidikan kita telah terreduksi menjadi alat legitimasi pemilah klas sosial (sorting mechanism) dan alat reproduksi tata hubungan (kuasa) sosial-ekonomi belaka? Bila jawabnya ’ya’, maka di tengah pasang naik peran pasar dan lemahnya peran negara untuk emansipasi kelompok yang lemah, diperlukan  peran partisipasi /solidaritas publik (dan civil society) melalui lembaga yang kuat untuk mengawal sistem pendidikan kita (Sukarno 2005)

5.    Lemahnya Mental Masyarakat

Direktur Rumah Belajar Cinta Anak Bangsa (RBCAB) Firza Imam Putra, dalam artikel di Kompas edisi kamis 17 desember 2009 menyatakan bahwa lebih dari 1,1 juta anak memilih berhenti belajar di sekolah selama tahun 2007. Artinya, setiap menit ada 4 anak putus sekolah di Indonesia. Salah satu faktor yang memengaruhi tingginya angka putus sekolah itu adalah dorongan orangtua dari keluarga tidak mampu. Anak kemudian dikondisikan untuk mencari uang dan menambah penghasilan keluarga.

Masalah besar lainnya adalah kontrofersi diadakannya Ujian Nasional (UN). Adalah Erin Driani, seorang pengamat pendidikan yang banyak menyoroti berbagai persoalan hak anak atas pendidikan, dalam artikel yang berjudul ”Presuden Perlu Ikut Tuntaskan Persoalan UN” di surat kabar Sriwijaya Post edisi kamis, 10 desember 2009 mengatakan bahwa Presiden RI SBY sudah selayaknya mengambil tindakan terhadap persoalan UN.

        M. Yunana Yusuf (Ketua Badan Standar Nasional Pendidikan), Buletin BSNP Vol II/ No. 1/ Januari 2007 halaman 3, Untuk tahun pelajaran 2006/2007 ini, peserta UN diperkirakan berjumlah 4.701.000 orang, dengan perincian peserta SMP/MTs dan SMPLB 2.501.300 orang dan peserta SMA/MA/SMALB dan SMK 2.200.700 orang. Sementara luas kawasan penyelenggaraannya meliputi seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Itu sebabnya penyelenggaraan UN sungguh-sungguh merupakan satu pekerjaan raksasa dengan menghabiskan dana Rp 244 miliar yang didekonsentrasikan ke dinas provinsi, kabupaten/kota serta sekolah/madrasah penyelenggara UN.

KESIMPULAN  DAN SARAN

  1. Kesimpulan :

Berdasarkan uraian-uraian di atas, maka dapat diterik kesimpulan sebagai berikut :

  1. Solusi sistemik, yakni solusi dengan mengubah sistem-sistem sosial yang berkaitan dengan sistem pendidikan. Seperti diketahui sistem pendidikan sangat berkaitan dengan sistem ekonomi yang diterapkan. Sistem pendidikan di Indonesia sekarang ini, diterapkan dalam konteks sistem ekonomi kapitalisme (mazhab neoliberalisme), yang berprinsip antara lain meminimalkan peran dan tanggung jawab negara dalam urusan publik, termasuk pendanaan pendidikan. Serta penataan kembali Undang-Undang yang telah ada, sehingga sesuai dengan situasi dan kondisi bangsa Indonesia.
  2. Standar pendidikan nasional harus diterapkan bebas nilai, bukan dengan memuat muatan politik praktis melalui pemberian wewenang yang jelas dan ke pada elemen pendidikan yang tepat.
  3. Solusi untuk masalah-masalah teknis dikembalikan kepada upaya-upaya praktis untuk meningkatkan kualitas sistem pendidikan. Seperti mutu guru, sarana fisik yang kurang memadai, misalnya, diberi solusi dengan pengadaan sarana dan prasarana yang dibutuhkan guna menunjang kegiatan belajar dan mengajar.
  4. Apabila Standar Nasional Pendidikan harus diterapkan secara total dan benar sesuai konsep. Maka harus melalui strategi advokasi yang tajam dan komitmen stakeholder secara menyeluruh. Selain itu juga dilakukan sosialisasi bagi komponen pendidikan dari tingkat nasional, propinsi hingga daerah kabupaten/kota, Lembaga swadaya masyarakat dan masyarakat.
  1. Saran :

            Oleh karena itu, untuk meningkatkan kinerja pelayanan pendidikan agar dapat mencapai standar pendidikan nasional,  dua agenda di bawah ini mungkin perlu dipikirkan.

1.      Pelaksanaan desentralisasi politik pendanaan sampai ke tingkat sekolah yang telah meningkatkan partisipasi finansial masyarakat sudah waktunya diimbangi pelaksanaan desentralisasi politik pendidikan sampai ke tingkat masyarakat sesuai UU Sisdiknas (pasal 9), melalui komite Sekolah dan Dewan Pendidikan. 

2.      Kebijakan yang selama ini lebih menekankan in-put sudah saatnya diimbangi secara bertahap dengan kebijakan yang menekankan juga out-put dan efisiensi eksternal melalui upaya perbaikan, mutu guru dan pembentukan sistem evaluasi dengan melibatkan lembaga independen yang mewakili publik (sesuai pasal 11) yang mendesak untuk segera dibentuk sehingga perbaikan kurikulum berjalan selaras dengan azas  manajemen mutu.

 

DAFTAR PUSTAKA

Dewantara, Ki Hadjar, 1945 [1963]. Karja Ki Hadjar Dewantara: Bagian Pertama: Pendidikan. Yogjakarta: Taman Siswa.

Sukarno, M., 2005: Refleksi Atas Beberapa Isu Kebijakan Pendidikan. Paper disampaikan pada Seminar Refleksi Akhir Tahun 2005 dengan tema ”Satu Tahun Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono” diselenggarakan oleh Kedeputian IPSK-LIPI, Jakarta: Widya Graha Lt I, 13 Desember 2005

Undang-Undang RI  Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, Fokus Media, Bandung, 2006.

Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Fokus Media, Bandung, 2006.

Murip Yahya, Pengantar Pendidikan, Prospect, Bandung, 2009.

Departemen Pendidikan Nasional, Data Balitbang Depdiknas tahun 2003.

Surat Kabar, Kompas. Jakarta.

Surat Kabar, Sriwijaya Post. Jakarta.

Buletin, BSNP. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

DINAMIKA PENDIDIKAN DALAM MENGHADAPI TANTANGAN GLOBAL


Pendahuluan
Seperti kita ketahui bersama, bahwa problem dan tantangan pendidikan nasional dalam memasuki globalisasi harus dihadapi dengan pendekatan dan metode yang sesuai dengan kondisi masyarakat dan tuntutan perubahan di masa depan. Fenomena yang terjadi pada dunia pendidikan di era global ini adalah selalu tertinggal jika dibandingkan dengan perkembangan teknologi, informasi dan dunia bisnis. ’’Sebab dunia pendidikan tidak selalu dapat mengembangkan dirinya atas dasar rugi-laba dan prinsip efisiensi semata. Pendidikan juga mengemban visi kemanusiaan.’’ (Suyanto, 2008:2).

Di era otonomi pendidikan, masih banyak pihak terutama sekolah dan pemerintah daerah, belum memahami apa yang seharusnya dilakukan. Padahal menurut UU No. 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah, banyak hal yang seharusnya menjadi tugas daerah dalam mengelola pendidikan dasar dan menengah. Yakni berkaitan dengan manajemen, anggaran, kurikulum, pengawasan, evaluasi, pembinaan karier guru, pengendalian kualitas, dan pendirian sekolah.

Ada baiknya para petinggi berkaca pada negara-negara yang telah menerapkan otonomi pendidikan. Setidaknya ada 8 (delapan) tujuan yang saling berkaitan yang mampu mendorong pembaruan. Yakni: (1) akselerasi pembangunan ekonomi melalui modernisasi institusi, (2) peningkatan efisiensi manajemen, (3) realokasi tanggung jawab keuangan, (4) penumbuhkembangan demokrasi, (5) peningkatan pengawasan oleh daerah melalui deregulasi, (6) pengenalan sistem pendidikan berdasarkan kekuatan pasar, (7) netralisasi kompetensi antarpusat kekuatan yang berpengaruh pada pendidikan, dan (8) peningkatan kualitas pendidikan. Sejumlah pilihan bentuk pengelolaan otonomi pendidikan. Misal manajemen berbasis sekolah dan adanya jembatan antara dunia akademis dan profesional. Konsep link and match dunia pendidikan dan dunia kerja selama ini belum optimal karena adanya sejumlah kendala. Yakni belum bisa melakukan standarisasi outcome perguruan tinggi, sulitnya memprediksi jenis pekerjaan yang akan hilang dan muncul dalam kurun waktu lima tahunan, adanya perbedaan misi dan visi antara perguruan tinggi dan pasar kerja.

Hal tersebut diperlukan transformasi nilai-nilai agama dan pendidikan. Pengembangan pendidikan yang berorientasi pada penegakkan moralitas dapat dilakukan dengan mengembangkan tujuan, materi, metode, dan evaluasi. Juga hendaknya pendidikan nasional ke depan lebih mengembangkan kecerdasan multidimensional. Paradigma baru mengenai kecerdasan perlu dikembangkan. Yakni menyangkut kecerdasan visual, verbal, logika, kinestetika, musikal, interpersonal dan intrapersonal.

Dinamika Pendidikan

Pendidikan masih dipercaya sebagai proses yang mampu memompa tenaga produktif bangsa kita. Tenaga produktif (productive/pra’daktiv force/fo:s) adalah suatu kemampuan masyarakat untuk menghasilkan suatu bentuk tindakan dan produk-produk baik yang bersifat ekonomis-teknologis maupun intelektualitas. Umumnya tenaga produktif masyarakat lebih banyak dikenal sebagai ilmu pengetahuan dan teknologi. Ketika masyarakat semakin mengalami kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, maka di dalamnya banyak individu yang mendapat kemudahan hidup, kesejahteraan, dan kemudahan untuk mengekspresikan kemanusiaannya. Dalam menghadapi perkembangan sosial tersebut, UNESCO berusaha mengakomodasi tuntutan sosial pendidikan dengan menegaskan pilar-pilar yang direkomendasikan dalam dunia pendidikan, yaitu: learning/leuning to learn, learning to know, learning to do, learning to be, learning to live together. Di Indonesia, pilar-pilar tersebut belum dapat ditegaskan, bahkan dari sudut pandang wacana saja masih belum terdengar. Padahal prinsip pendidikan tersebut sangat komprehensif dan jika dapat diterapkan dengan benar dan konsisten akan mampu menjadikan anak didik menjadi insan yang selain menguasai informasi dan ilmu pengetahuan juga memiliki tanggung jawab moralitas bangsa Indonesia. Murid memang bukan hanya harus memiliki pengetahuan, melainkan juga mampu menerapkannya dalam masyarakat. Selain itu, mereka juga harus mampu melihat realitas terdalam. Dengan demikian, mereka juga harus mampu terlibat langsung dalam masyarakat.
Sebagaimana terjadi setiap tahun, menjelang pergantian tahun ajaran baru, isu pendidikan mahal kembali mencuat. Tentu saja pendidikan mahal bukanlah suatu hal yang diinginkan oleh kebanyakan orang, terutama kalangan masyarakat bawah. Bagi kalangan menengah ke atas, pendidikan mahal barangkali bukanlah masalah, bahkan dianggap sebagai kewajaran karena mungkin itu tuntutan globalisasi. ’’Mana mungkin bisa berkualitas kalau tidak mahal”, begitu kata mereka. Pada kenyataannya, anak-anak konglomerat, memang jarang yang sekolah di dalam negeri, yang dianggapnya ’’murahan’’, tetapi lebih senang sekolah di luar negeri, atau sekolah dalam negeri yang tergolong elite dan berfasilitas enak dan nyaman. Bagi kalangan ekonomi atas, anak para konglomerat dan pejabat, pendidikan tentu saja bukan hanya untuk meningkatkan status ekonomi (mobilitas vertikal), melainkan lebih bermakna sebagai prestise ataupun penegasan gaya hidup, memperluas pengetahuan budaya untuk bisa sepadan dengan budaya Barat yang dianggap sebagai patokan budaya dan peradaban. Persepsi budaya seperti ini bisa kita lihat di kalangan artis-selebritis, sebuah representasi kaum kelas atas, kalangan yang hidupnya diabdikan untuk merayakan ’’gaya hidup’’ (life skill) sebagai cerminan kesadaran kelas ekonomi yang mendominasi. Berbeda dengan mayoritas orang miskin yang dalam kesehariannnya harus menghadapi masa sulit dalam memenuhi kebutuhan hidup. Bagi kalangan ekonomi bawah ini, pendidikan bermakna bukan sekadar prestise sosial, melainkan lebih banyak sebagai alat mobilisasi sosial ke atas, yaitu meningkatkan kecakapan agar menghasilkan pendapatan ekonomi yang lebih baik. Pendidikan adalah untuk mengondisikan tenaga berpengetahuan dan berketerampilan sebagai modal untuk dijual ke bursa kerja sehingga akan mendapat penghasilan lebih dibanding orang yang tidak berpendidikan dan yang hanya mengandalkan tenaga fisik, seperti buruh, tani, dan lain-lain.

Sebagaimana dilaporkan Human/c’hju:man Development/di’velapment Index/indeks (HDI) atau Indeks Pembangunan Manusia tahun 2003 lalu, Indonesia berada dalam urutan ke-112 (0,682) dari 175 negara. Posisi ini jauh di bawah Singapura yang ada di posisi ke-28 (0,888); Brunei Darussalam ke-31 (0,872); Malaysia ke-58 (0,790); Thailand ke-74 (0,768); dan Philipina ke-85 (0,751). Betapa mengenaskan! Dalam kaitan ini, mutu pendidikan juga berkaitan dengan pemerataan akses serta lemahnya alokasi anggaran. Kedua hal itulah yang membuat pendidikan menjadi mahal, hingga otak harus dipindah ke dengkul, bukan di kepala.

Pendidiikan selalu dipercaya untuk membentuk masyarakat agar dapat menjadi pribadi yang dapat berpartisipasi dalam pembangunan. Tapi, idealitas ini tampaknya akan sangat jauh bila kita melihat apa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Cita-cita untuk menciptakan manusia yang lebih baik seakan-akan hanyalah ilusi. Bahkan, kita gagap menghadapi perubahan yang cepat. Dan pendidikan tidak bisa menjawab sama sekali kecenderungan itu. Kebijaksanaan pemerintah dalam pendidikan justru membatasi akses rakyat untuk mendapatkannya. Kebijakan privatisasi pendidikan telah mendiskriminasikan rakyat dalam memperoleh pendidikan, hanyalah golongan masyarakat yang berduit saja yang dapat bersekolah dan memperoleh pendidikan. Jelas asumsi yang dipakai adalah filsafat ketidakadilan. Dana konpensasi kenaikan harga BBM untuk pendidikan dan kesehatan tidak akan cukup efektif untuk mengurangi dampak privatisasi pendidikan yang telah dilakukan jauh-jauh hari dan tidak juga akan mampu membayar pemiskinan rakyat akibat kenaikan harga BBM lalu yang diikuti dengan harga-harga lainnya, juga kebijakan yang lain.

Dalam kondisi worst-educated seperti itulah, tenaga produktif rakyat sebagai energi diharapkan dapat membangun kemajuan bangsa.
Sebenarnya, pesimisme terhadap pendidikan atau sekolah yang tidak mampu mengubah keadaan hidup sudah lama dilontarkan, termasuk oleh pakar pendidikan sendiri. Bahkan sekolah dianggap hanya membuat generasi muda terbelenggu dan membodohi masyarakat. Mereka yang apatis itu bukan cuma orang biasa, melainkan juga para filsuf dan tokoh sejarah. Everett Reimer menyatakan bahwa ’’school/sku:l is dead’/ded’, dan Ivan Illich menggagas ’’deschooling/diskuling society’’/sa’saiati’. Sejumlah penggagas lain juga melontarkan pesimisme mereka pada lembaga sekolah. Buku-buku top atau best seller seperrti dari Robert T Kiyosaki (2000) banwa: ’’If you want to be rich/ritj and happy/hepi, don’t go/gou to school’’ (bila anda ingin kaya dan bahagia jangan sekolah), dan ‘’Rich dad, poor/pua dad juga menyuarakan pesimisme terhadap sekolah formal yang saat ini sulit dijangkau oleh rakyat.

Di Indonesia, Andrias Marefa (2002) menulis, ‘’Sekolah saja tidak pernah cukup’’, dan ‘’Sukses tanpa gelar’’. Darmaningtyas menulis tentang ’’Pendidikan yang memiskinkan’’, ’’Pendidikan rusak-rusakan’’; Edy Zageus menulis ’’Kalau mau kaya, ngapain sekolah’’, dan sebagainya.
Masalahnya, dimana pun pendidikan tidak pernah berdiri sendiri tanpa terkait secara dialektis dengan lingkungan dan sistem sosial tempat pendidikan diselenggarakan. Meskipun demikian, pendidikan selalu dipercaya untuk membentuk masyarakat agar dapat menjadi pribadi yang dapat berpartisipasi secara produktif dan kreatif dalam pembangunan. Strategi pendidikan harus dipilih agar tercipta sistem dan metode pendidikan yang mampu menjawab persoalan, dan bukannya hanya menjadi pendukung sistem ekonomi – politik yang kini semakin tidak berpihak pada rakyat dan menjauhkan individu di dalamnya dari kemanusiaan.

Saat ini, ketika sistem yang ada masih ’’rusak-rusakan’’, animo orang tua untuk menyekolahkan anak masih sangat besar. Hal tersebut terjadi karena pendidikan merupakan kebutuhan dasar bagi setiap manusia adalah kebutuhan. Namun begitu, sebagian orang tua tersiksa dengan fakta mahalnya biaya masuk yang ada. Bahkan sebagian lagi juga terpaksa menekan keinginan untuk menyekolahkan anaknya. Alasan yang mereka gunakan, selain merasa mustahil untuk dapat membiayai anaknya, karena anggapan bahwa semakin banyak orang bersekolah ternyata juga tidak dapat mengubah keadaan. Watak dan tindakan elite politik dan pemerintah yang tetap saja menyengsarakan rakyat menambah keyakinan rakyat bahwa banyaknya orang-orang pintar dan sekolah tinggi ternyata juga tak kunjung memunculkan kondisi bangsa yang baik, justru malah merusak dan menambah penderitaan rakyat.
Tampaknya kearifan dan pengetahuan tidak perlu didapat dari sekolah. Pada kenyataannya, sekolah hanya menonjolkan gedung-gedung mewah tetapi dikomersialkan. Model pendidikan yang ada juga mengasingkan komunitas sekolah dari realitas masyarakat. Bukanlah, dengan demikian, untuk pintar dan menjadi manusia yang berilmu dan mampu menghadapi masa depan tidak perlu masuk sekolah.

Seorang antropolog dari Norwegia, Oyind Sandbukt, yang pernah mengadakan penelitian di kalangan Suku Kubu di Jambi mengungkapkan tentang sosialisasi, transmisi pengetahuan tentang kehidupan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ditunjukkan oleh sang antropolog bahwa suku yang dianggap primitif atau terasing ternyata memiliki pengetahuan yang mengagumkan tentang lingkungan hidupnya di hutan tropis. Dalam hal ini, pengetahuan yang sudah menjadi satu paket untuk siap hidup di hutan belantara, tentunya diperoleh melalui proses belajar yang panjang dan dikukuhkan dalam ’’kurikulum’’. Ketika sebagian orang Kubu ini ’dimukimkan kembali’ seperti pada umumnya, maka tiba-tiba mereka tercerabut dari akar kehidupan yang paling dalam. Anak-anak perdesaan, pedalaman, nelayan, sebagian di kota, adalah anak-anak pinggiran yang luput dari perhatian kurikulum. Mereka terbiasa belajar sambil bekerja.

Pandangan ekstrem bahwa kita tidak butuh sekolah tentunya tidak dapat dilihat sebagai pesimisme, tetapi harus dipandang sebagai kritik pada dunia pendidikan kita. Realitas sosial harus masuk dalam dunia pendidikan. Artinya, semua orang harus dapat bersekolah dan semua orang harus dapat mengeskpresikan kepentingannya dalam dunia pendidikan. Pendidikan harus menjadi milik masyarakat, tanpa batas-batas kelas, ras, agama, maupun bentuk fisik (cacat atau tidak). Intinya, memperbaiki pendidikan dimulai dengan membuka komunitas pendidikan bagi realitas sejati masyarakat agar pendidikan mampu melihat apa yang terjadi, lalu memberi jawaban bagi permasalahan yang ada. Mengintegrasikan realitas sosial ke dalam praktik pendidikan akan membuat keluaran pendidikan tidak sekedar menghafal dan tahu banyak informasi pengetahuan, tetapi juga akan sanggup memberikan nilai praktis atas informasi yang diperolehnya. Ini sesuai dengan ungkapan Paulo Freire (1972) yang menegaskan bahwa mengajar bukan sekadar memindahkan pengetahuan dengan hafalan. Mengajar tidak bisa direduksi menjadi mengajar siswa saja, tetapi mengajar baru menjadi berfungsi bila siswa belajar untuk belajar (learn to learn). Artinya, siswa sanggup untuk belajar alasan (why) dari objek dan isi yang dipelajari. Siswa belajar untuk kreatif dan mandiri. Mereka harus menerjemahkan dan menjelaskan problem nyata yang sedang dihadapi dirinya maupun masyarakatnya.

Untuk membebaskan diri dari belenggu penindasan model pembelajaran lama, perlu dimumculkan model pendidikan ini. Kepada peserta didik tidak hanya diberikan contoh, teori sekaligus rumus, tetapi juga disertai dengan berbagai perilaku pemahaman (act/aekt of cognition/kog’nijan). Menerjemahkan muatan dan isi pelajaran ke dalam realitas sosial akan menjadi entry point dari apa yang disebut Freire sebagai pendidikan terhadap masalah (problem/prablem possing/posem education/edju’keijen). Untuk apa ada pendidikan kalau masalah kemanusiaan tetap bercokol di atas bumi.

Tantangan Global

Seorang futurolog yang cukup terkenal, Alvin Tofler (1989) menggunakan istilah ’kejutan masa depan’ (future/fju’ta shock) untuk menggambarkan situasi sekarang yang membuat kita terlempar pada suatu kondisi di mana kita mengalami ’’tekanan yang mengguncangkan dan hilangnya orientasi individu disebabkan kita dihadapkan dengan terlalu banyak perubahan dalam waktu yang terlalu singkat’’. Itulah situasi yang persis kita alami di Indonesia. Perubahan berskala besar dan cepat ternyata kita respons secara lambat.

Dalam bidang pendidikan kita tertinggal jauh; jangankan dengan negara-negara besar; kita masih berada di bawah Malaysia, Vietnam, India yang beberapa tahun yang lalu kalah kualitasnya dengan pendidikan kita. Tetapi sampai kapan pun pendidikan sebagai suatu upaya menghadapkan manusia (peserta didik) pada realitas yang terus saja berubah saat ini sangat diharapkan perannya untuk mampu mengikuti arus zaman, bukan berarti untuk mengikis kemanusiaan melainkan justru untuk menemukan kondisi air kehidupan yang memungkinkan jiwa-raga bangsa berenang dengan indah. Globalisasi adalah arus utama yang membawa dampak mahahebat terhadap ruang waktu yang mengalami percepatan atau terjadinya dalam bahasa Anthony Giddens (2002) time/taim-space/speis-distanziation/dis’teistsisen. Tentu saja interaksi manusia dengan teknologi, manusia dengan manusia lain, semakin intensif: makna baru didapat dari objektivikasi baik rasional maupun irasional karena perkembangan basis material, Iptek yang terus berubah

Tugas pendidikan adalah membawa generasi ini mampu merengkuh mekanisme yang lebih dekat agar dalam menghadapi kontradiksi alam selalu mengalami perubahan. Globalisasi sebagai proses terkait dengan globalution, yakni paduan dari kata globalization dan evolution/i:val’lu:jen. Dalam hal ini, globalisasi adalah hasil perubahan (evolusi) dari hubungan masyarakat yang membawa kesadaran baru tentang hubungan atau interaksi antarumat manusia. Evolusi pemikiran ke arah kematangan dan kemajuan yang mendorong produktivitas dan kreativitas ditimpakan pada pendidikan.

Dalam bidang ekonomi, secara umum globalisasi disebabkan oleh penurunan hmbatan dalam perdagangan dan investasi serta kemajuan teknologi. Kenichi Ohmane (1996) menyebutkan faktor-faktor globalisasi sebagai 4 ’’I’’ (Investasi, Industri, Informasi, Individual). Perkembangan investasi terjadi karena perkembangan pasar modal yang menjadikan negara maju memiliki kelebihan modal untuk melakukan investasi secara meluas. Industri juga mengalami pengglobalan disebabkan oleh strategi perusahaan multinasional modern yang tidak lagi dibentuk dan dikondisikan oleh alasan kenegaraan. Informasi juga dipicu oleh perkembangan teknologi yang membuat manusia menemukan cara pandang baru yang memperluas perasaan dan interaksi global. Sedangkan individu juga mengalami pemaknaan baru; dari sudut pandang ekonomi kapitalis, individu sebagai konsumen mengalami perubahan orientasi secara global, terutama akses yang lebih baik terhadap informasi gaya hidup. Kapitalisme global membawa paham liberalisme dan individualisme untuk menciptakan stabilitas ekonominya.

Realitas global yang berkembang sekarang ini adalah pendidikan itu sendiri. Karena globalisasi telah membawa doktrin yang membentuk masyarakat, peserta didik dan juga pengajar tidak luput dari doktrin global. Singkatnya, sistem dan budaya pendidikan yang berkembang juga telah terhegemoni oleh perkembangan globalisasi. Globalisasi sebagai istilah tersendiri juga paling banyak diterima dan diucapkan di dunia pendidikan. Meskipun istilah globalisasi telah begitu terkenal, dalam banyak hal awalnya hampir tidak ada perdebatan ilmiah dan kritis terhadapnya, kecuali doktrin. Kalimat yang paling akrab di telinga kita sebagaimana sering dipidatokan para politisi ‘’pro globalisasi’’: ‘’mau tidak mau, suka tidak suka, kita tidak bisa mengindar dari arus globalisasi … Masalahnya, bagaimana kita menyiapkan diri untuk menghadapinya, agar bisa memetik manfaat dari arus besar itu.’’

Tanpa membahas secara kritis, gambaran ekonomi global semacam itu demikian kuat, sehingga memukau para pengajar, bahkan para analisi, dan membius pemikiran sosial-politik kita. Namun menanggapi pemahaman yang banyak diterima itu, dua orang profesor Paul Hirst dan Grahame Thompson dalam Globalization in Question/kwestjen (2001:3) justru mempertanyakan: benarkah demikian? Kedua tokoh itu meragukan apakah betul telah terjadi proses pembentukan ekonomi global itu. Dengan menunjukkan data-data yang sangat akurat, Hirst dan Thompson mengatakan bahwa ‘’konsep globalisasi seperti yang telah dikemukakan oleh para penganut ekstrem teori globalisasi tidak lain dan tidak bukan adalah mitos belaka’’.

Lebih jauh, argumen yang dikemukakan oleh Hirst dan Thompson (2001:3) adalah: (1) tatanan ekonomi yang sangat mendunia sekarang ini bukannya tanpa preseden: itu tak lain hanyalah bagian dari gelombang turun naik (konjungtur/ku:ki) pertumbuhan ekonomi, atau keadaan ekonomi internasional yang mulai ada sejak ekonomi yang berlandaskan pada teknologi industri menyebar ke seluruh dunia sejak 1960-an. Dalam beberapa hal, ekonomi internasional sekarang ini justru lebih tidak terbuka dibandingkan dengan ekonomi dunia pada tahun 1870 hingga tahun 1914; (2) perusahaan internasional (TNC, transnational company/kampeni) yang murni jarang ditemukan. Perusahaan transnasional pada umumnya berbasis negara nasional dan kegiatan perdagangannya di berbagai belahan dunia bertumpu pada kekuatan produksi dan pemasaran di lokasi nasional, dan tidak ada kecenderungan ke arah perkembangan menjadi perusahaan internasional murni; (3) mobilitas pasar modal tidak mengakibatkan berpindahnya penanaman modal dan kesempatan kerja secara besar-besaran dari negara maju ke negara-negara berkembang. Sebaliknya penanaman modal asing (Foreign/fo:ren Direct/dai’rekt Investment/in’vestment = FDI) justru banyak terpusat di negara-negara industri maju, sedangkan Dunia Ketiga – Kecuali segelintir negara industri baru – tetap menempati posisi di pinggiran, baik dari sisi investasi maupun perdagangan; (4) seperti diakui para pendukung esktrem teori globalisasi, ekonomi dunia jauh dari bersifat ekonomi ‘’global’’. Sebaliknya, perdagangan, investasi, dan arus dana dewasa ini terpusat di wilayah Tritunggal – Eropa, Jepang, dan Amerika Utara – dan pemusatan ini tampaknya akan terus berlanjut; (5) kekuatan ekonomi Tritunggal (G-3) ini, dengan demikian, memiliki kemampuan – apalagi jika ada koordinasi di antara ketiganya dalam kebijakan ekonomi – untuk mengatur pasar modal dan aspek ekonomi lainnya. Karena itu, tidak benar bila dikatakan pasar dunia tidak bisa adiatur dan dikendalikan, meski pada saat ini ruang lingkup dan tujuan yang ingin dicapai dengan mengatur ekonomi dunia masih terbatas, karena kepentingan negara-negara besar ini berbeda dan doktrin ekonomi yang dianut oleh tiga elite itu juga berbeda.

Meskipun demikian, bahwa globalisasi bisa dikatakan ‘’mitos’’, realitas hubungan global tampaknya memiliki gerak historis yang bisa dijelaskan. Pada kenyataannya, globalisasi sudah menjadi pembicaraan dalam berbagai literatur akademik dan segera diadopsi di sekolah-sekolah dan universitas kita.

Dalam penelitian James Petras (2002:56), bahwa: Kebangkitan “Ideologi Globalisme’’ pada awalnya ditemukan dalam jurnal-jurnal bisnis di akhir tahun 1960-an dan awal tahun 1970-an. Kemudian istilah globalisasi diambil alih oleh dunia akademik (ekonomi, sosiologi, kebudayaan, dan politik internasional) dan menjadi sebuah kerangka kerja yang diterima luas ketika berbicara tentang perluasan pasar modal internasional tanpa terlalu membahas asal-usulnya, hubungannya dengan kekuasaan dan hasil-hasilnya yang eksploitatif.

Kaitannya dengan posisi Dunia Ketiga, seperti Indonesia, juga diyakini bahwa negara-negara mana pun tidak akan ‘’selamat’’ bila menolak globalisasi kapitalis. Sebagaimana dikatakan Felix Wilfred (1996:13-14) bahwa: ‘’Tidak akan mengalami keselamatan (kemakmuran, kemajuan) bila berada di luar globalisasi, di luar kapitalisme, dan ekonomi pasar. Dogma ekonomi yang baru diproklamasikan ini mendapat gemanya di antara kelompok kelas atas dan kelas memengah masyarakat negara-negara Dunia Ketiga … Jika kita tidak mau bergabung dengan proses globalisasi ini, kita akan tertinggal (atau ditinggal) dalam suatu lomba kebodohan.’’

Pada kenyataannya, globalisasi memang lebih diterima sebagai dogma dan ideologi daripada suatu realitas yang dijelaskan secara objektif. Sehingga globalisasi seakan-akan hanyalah ideologi atau dalam bahasa Marx ‘’kesadaran semu’’ yang menutupi hakikat sebenarnya. Penampilan ideologi globalisasi sangat ‘’cantik dan menarik’, tetapi ternyata menyembunyikan kejahatan yang hanya dapat dikenal oleh mereka yang menjadi korbannya.’’ Memang, pada realitasnya, globalisasi ‘’mencabut orang dan menjanjikan kemakmuran … orang tersebut sebenarnya dihisap habis-habisan, kemudian dibiarkan mati kekeringan.’’ Karena ‘’ekonomi kapitalis liberal yang merupakan pusat dari proses globalisasi.’’

William Robinson (1996) menunjukkan bahwa globalisasi terdiri dari dua proses. Pertama, kulminasi dari proses yang dimulai beberapa abad yang lalu, ternyata di dalamnya terdapat hubungan produksi kapitalis meruntuhkan dan menggantikan seluruh hubungan prakapitalis hampir di seluruh dunia. Kedua, transisi lebih dari beberapa dekade hubungan bangsa-bangsa melalui pertukaran komoditas dan aliran modal dalam pasar dunia yang terintegrasi, ternyata di dalamnya terdapat model produksi yang berbeda berkoeksistensi dalam formasi-formasi sosial ekonomi nasional dan regional yang luas bisa lepas dari keterikatan eksternalnya, yaitu globalisasi proses produksi itu sendiri.

Pembagian kerja ’’kolonial’’ telah mentransformasikan dengan munculnya MNC (multinational corporations) sebagai agen utama aktivitas ekonomi internasional dan gelombang yang terjadi dalam revolusi ilmu pengetahuan dan teknologi (scientific/saian’tifik and technological/tekne’lodjikal revolution=STR) STR pertama dimulai setelah Perang Dunia II dan terfokus pada teknologi intensif sebagai modal (energi nuklir, teknik otomatik baru, bahan-bahan sintetik, komputer dan elektronik, dan lain-lain); STR Kedua dimulai tahun 1960-an dan tercakup di dalamnya generasi komputerisasi kedua, elektronika dan teknologi sintetik, dan teknologi komunikasi yang baru. Pertama membentuk pergeseran dari produksi dengan menekankan tenaga kerja menuju produksi yang menekankan modal sebagai alat akumulasi dalam skala global. Kedua dari intensifikasi modal ke teknologi dan ilmu pengetahuan dan penelitian untuk mengembangkan teknologi yang canggih (komputerisasi, elektronika, telekomunikasi, teknologi robotik, sibernetik, ilmu luar angkasa, dan lain-lain.

Dominasi globalisasi sebenarnya merupakan model imperailisme baru, bukan hanya menebarkan ideologi yang menumpulkan daya kritis masyarakat dan anggota komunitas atau lembaga pendidikan seperti sekolah dan universitas. Penggunaan istilah imperialisme ini untuk memahami dan menjelaskan globalisasi berdasarkan akta globalisasi dalam potensi empirisnya dibandingkan potensi normatifnya. Argumen ini juga didukung oleh fakta bahwa globalisasi yang terjadi dewasa ini dipandang sebagai proyek kelas, bukan sebagai suatu yang niscaya. Dalam hal ini, globalisasi dipandang tidak sebagai istilah khusus yang bermanaat untuk mendeskripsikan dinamika proyek ini, tetapi lebih sebagai ’’alat ideologis yang lebih digunakan untuk deskripsi daripada preskripsi yang akurat’’. Sehingga globalisasi dapat diganti dengan sebuah istilah yang menggunakan nilai deskripsi dan kekuatan penjelas yang lebih adekuat, yakni ’’imperialisme.’’

Dengan menggunakan istilah imperialisme, jaringan lembaga-lembaga yang menentukan struktur sistem perekonomian global yang baru dilihat bukan dalam pengertian struktural, melainkan dalam pengertian kesengajaan dan ketergantungan yang dikendalikan oleh oang-orang merepresentasikan dan berusaha mendahulukan kepentingan kelas kapitalis internasional yang baru. Kelas ini pada kenyataannya dibentuk berdasarkan lembaga-lembaga yang meliputi sekitar 37.000 perusahaan transnasional (TNC), unit-unit kerja kapitalisme global, penyalur –penyalur modal dan teknologi serta agen-agen besar tatanan imperial baru. Perusahaan-perusahaan transnasional tersebut bukan hanya menjadi penyangga organisatoris tatanan imperial ini, termasuk Bank Dunia, IMF, dan Lembaga-Lembaga keuangan internasional dan lain (IFI) yang mengklaim diri sebagai ’’komunitas keuangan internasional’’, atau apa yang disebut Barnet dan John Cavenagh (2002) sebagai ’’jaringan keuangan global’’. Tatanan dunia baru ini juga disangga oleh banyak sekali forum prencanaan dan kebijakan strategis seperti G-7, Komisi Trilateral (TC) dan World/we:ld Economic/i:ke’nomik Forum (WEF); serta aparatur pemerintahan di negara-negara yang menjadi pusat sistem yang telah direstrukturisasi sedemikian rupa sehingga dapat melayani dan merespon kepentingan-kepentingan modal global. Seluruh lembaga tersebut merupakan sebuah bagian integral dari imperialisme baru, yaitu sistem ’’pemerintah global’’ baru.

Ketika korporasi global mampu menjangkau keseluruh penjuru dunia, mereka tidak hanya membawa produk-produk dan merek-merek yang sudah mapan, tetapi juga media-media dan metode-metode pemasaran yang canggih untuk menjajah setiap kultur yang mereka jumpai.

The Economist melaporkan, bahwa pada tahun 1989 saja, korporasi global menghabiskan belanja iklan total lebih dari $240 miliar. Biaya lain sebesar $380 miliar dihabiskan untuk kemasan, desain, dan promosi di tempat penjual (point-of-sale/seil-promotions) lainnya. Secara bersama, pengeluaran ini berjumlah $120 per kepala untuk seluruh dunia. Meskipun sebagian besar pengeluaran korporat ini ditujukan untuk menciptakan permintaan akan produk tertentu, ia juga membantu menciptakan kultur konsumen global yang bersifat umum. Tujuannya, untuk menciptakan kesan di benak masyarakat bahwa kepentingan akumulasi kapital – khususnya kepentingan korporasi besar – adalah sama dengan kepentingan masyarakat luas. Secara keseluruhan, korporasi menghabiskan dana per kapita untuk menciptakan konsumen yang bersahabat lebih dari separo dana per kapita yang digunakan dunia untuk pendidikan masyarakat (Dana dunia untuk pendidikan masyarakat adalah $207 per kapita. Untuk negara-negara selatan angka ini adalah $33). Pertumbuhan belanja periklanan jauh melebihi kenaikan belanja pendidikan.

Menghadapi globalisasi dengan imbasnya dalam membentuk struktur ide masyarakat, pendidikan harus mampu menjawab persoalan-persoalan tersebut, terutama menekankan pada metode belajar yan mendekatkan peserta didik pada ’’dunia secara utuh’’, keterkaitan antara satu kondisi dengan kondisi lain yang saling mempengaruhi antara satu bangsa dengan bangsa lain, antara satu komunitas dengan komunitas lain; globalnya kehidupan harus disambut dengan globalnya pemikiran, luasnya jangkauan wawasan dan pengetahuan, serta penguasaan teknologi untuk menyambut masa depan kemajuan di bidang teknis yang pada kenyataannya berkembang sangat cepat.

Menurut Merryfield (1997:232) dalam buku Preparing/pri:pering Teacher/ti:tej to Teach Global/gloubel Perspectives mengatakan: ’’ada tiga syarat yang harus dimiliki oleh guru dalam mengembangkan pendidikan perspektif global: kemampuan konseptual, pengalaman lintas budaya dan keterampilan pedagogis.’’ Pertama, kemampuan konseptual berkenaan dengan peningkatan pengetahuan guru dalam konteks isu-isu global. Guru harus memiliki wawasan tentang isu, dinamika, sejarah, dan nilai-nilai global agar mereka memiliki keterampilan mengapresiasikan persamaan dan perbedaan budaya dalam masyarakat dunia. Penguasaan konseptual dalam tema perspektif global diyakini dapat menjadi pemicu (trigger/trige) yang cukup potensial bagi guru dalam membangun suasana belajar yang dinamis agar siswa mampu merespons isu-isu lokal dalam kaitannya dengan masalah global. Guru harus dapat mengaitkan isu-isu apa pun, baik lokal maupun nasional, dalam hubungannya dengan kejadian global. Dalam pelajaran ekonomi, misalnya, kondisi ekonomi daerah dan nasional dianalisis dari perspektif global, hubungan ekonomi antarnegara, dan juga percaturan modal yang mengalir antara satu negara dengan negara lain. Masalah politik juga dapat dikaitkan dalam hubungannya dengan kepentingan global dalam pelajaran kewarganegaraan. Sementara masalah multikulturalitas dan multinasionalitas bisa menjadi topik yang menarik dalam pelajaran bahasa Inggris.

Kedua, pengalaman lintas budaya (interculturalism). Syarat ini masih belum banyak dimiliki oleh para guru kita, terutama disebabkan oleh profesi guru yang berlatar belakang studinya hanya di daerah atau nasional. Mayoritas guru kita adalah lulusan di bawah S1 dan rata-rata sekolahnya tidak berada jauh dari tempat asalnya. Berbeda dengan lulusan S1 atau perguruan tinggi yang biasanya dihuni oleh mahasiswa dari berbagai macam etnik, ras, agama, dan adat-istiadat. Mereka telah belajar berinteraksi secara inter-kultural dan demikian lebih dapat mengerti perbedaan latar belakang masing-masing orang. Di samping itu, juga sangat sedikit guru yang pernah belajar ke luar negeri yang secara langsung pernah hidup dalam keadaan budaya yang berbeda dengan dirinya. Kesadaran multi-budaya akan mudah terbentuk apabila orang secara langsung mengalaminya dalam kehidupan sesungguhnya. Ketidaktahuan hanya akan menimbulkan adaptasi terhadap hasil interaksi dengan orang dari etnis atau etinitas budaya lain yang ditemuinya. Dalam proses globalisasi terjadi transnasionalisasi sehingga apa yang bersifat lokal dapat menembus batas-batas teritorial dan mengalami pemaknaan yang berbeda bagi umat manusia. Jadi, tidak berarti bahwa trans-nasionalisasi atau globalisasi ini tidak terkait dengan ’’tempat’’. Trans-nasionalisasi atau globalisasi memungkinkan manusia untuk membuat tindakan simultan dalam pelbagai tempat yang berbeda sekaligus. ’’Global’’ di sini berarti ’’trans-lokal.’’ Globalisasi bukanlah suatu yang mengembangkan apa saja dengan dalih keuniversalan, tetapi bukan berarti tidak terikat pada tempat. Tempat atau kebertempatan bukan hilang, diberi makna yang baru. Inilah yang kemudian muncul istilah dari Roland Robertson (1996) yakni glokalisasi. Apa yang lokal bukannya tidak penting, tapi justru dapat arti yang baru dalam hubungan masyarakatnya.

Ketiga, keterampilan pedagogis dalam perspektif global menurut Roland Robertson (1996) adalah ’’the practice of teaching and learning globaliy oriented content in ways/weisaid that support/se’po:t diversity/dai’ve:siti and social/soujel justice/jastis in interconnected world.’/we:ld’ Keterampilan pedagogis tentunya menyangkut metode mengajar yang tepat oleh guru agar peserta didik dapat memahami suatu masalah dalam konteks yang luas dan komprehensif (global). Selain menguasai materi dan konsepsi permasalahan, guru harus memiliki kemampuan agar apa yang disampaikan mudah diterima, serta muncul motivasi bagi peserta didik untuk mempelajari dan mendalami tema-tema yang ada di luar kelas.

Semuanya akan tergantung pada kebijakan pendidikan baik yang menyangkut metode maupun materi yang disampaikan pada peserta didik. Pemaknaan secara global terhadap masalah-masalah lokal ini merupakan kata kunci dalam tujuan tersebut. Untuk menjelaskan gejala-gejala alam dan hubungan sesama (baik dalam ilmu alam, eksak, maupun ilmu sosial dan humaniora), para pendidik sebaiknya membawanya pada pemaknaan secara global, terutama kalau dalam memberikan penjelasan dan berdialog dengan peserta didik sedang mengangkat tema-tema demokrasi dan HAM. Penekanan ini akan melahirkan penjiwaan baru yang membawa generasi kita untuk berpikir secara global, dengan demikian dapat memaknai hubungan antarsesama manusia secara holistik dan tidak parsial.

Metode lainnya adalah melalui buku-buku pelajaran dan bacaan-bacaan yang tidak saja memacu semangat ilmu penetahuan dan teknologi modern, global, dan menunjukkan tingkat penemuan baru, tetapi juga harus memuat materi-materi dan contoh-contoh yang meluaskan imajinasi global peserta didik. Misalnya, kasus-kasus atau peristiwa tentang (masyarakat, kebiasaan, teknologi, bahkan permaalahan) negara lain sering dijadikan contoh, tetapi hal ini juga mesti dibandingkan dengan kondisi masyarakat kita sendiri. Dengan menceritakan negara atau benua lain, secara simultan otak peserta didik dibawa untuk membayangkan tempat itu, lalu dibawa kembali ke negara sendiri, untuk dibandingkan. Hal ini akan memacu semangat untuk maju dan berpikir, karena pada saat otak manusia didorong untuk berpikir akan suatu tempat yang jauh dari tempat ia berada otaknya sedang memperluas perspeksi.

 

 

EFISIENSI DALAM PENDIDIKAN


PENDAHULUAN

            Pendidikan bukan merupakan kegiatan yang murah, sekalipun pemerintah menyelenggarakan kegiatan pendidikan tidak usah membayar bagi masyarakat umum. Masyarakat bahkan menilai biaya pendidikan sudah menggila, karena biaya pendidikan yang dia lihat jauh diatas kemampuan membayar dan pendapatan riil yang dia terima tiap bulan.[1]      

Pelaksanaan proses pendidikan yang efisien adalah apabila pendayagunaan sumber daya seperti waktu, tenaga dan biaya tepat sasaran, dengan lulusan dan produktifitas pendidikan yang optimal. Pada saat sekarng ini, pelaksanaan pendidikan di Indonesia jauh dari efisien, dimana pemanfaatan segala sumberdaya yang ada tidak menghasilkan lulusan yang diharapkan. Banyaknya pengangguran di Indonesia lebih dikarenakan oleh kualitas pendidikan yang telah mereka peroleh. Pendidikan yang mereka peroleh tidak menjamin mereka untuk mendapat pekerjaan sesuai dengan jenjang pendidikan yang mereka jalani.

Pendidikan yang efektif adalah pelaksanaan pendidikan dimana hasil yang dicapai sesuai dengan rencana / program yang telah ditetapkan sebelumnya. Jika rencana belajar yang telah dibuat oleh dosen dan guru tidak terlaksana dengan sempurna, maka pelaksanaan pendidikan tersebut tidak efektif.

            Tujuan dari pelaksanaan pendidikan adalah untuk mengembangkan kualitas SDM sedini mungkin, terarah, terpadu dan menyeluruh melalui berbagai upaya. Dari tujuan tersebut, pelaksanaan pendidikan Indonesia menuntut untuk menghasilkan peserta didik yang memiliki kualitas SDM yang mantap. Ketidak efektifan pelaksanaan pendidikan tidak akan mampu menghasilkan lulusan yang berkualitas. Melainkan akan menghasilkan lulusan yang tidak diharapkan. Keadaan ini akan menghasilkan masalah lain seperti pengangguran. Penanggulangan masalah pendidikan ini dapat dilakukan dengan peningkatan kulitas tenaga pengajar. Jika kualitas tenaga pengajar baik, bukan tidak mungkin akan meghasilkan lulusan atau produk pendidikan yang siap untuk mengahdapi dunia kerja. Selain itu, pemantauan penggunaan dana pendidikan dapat mendukung pelaksanaan pendidikan yang efektif dan efisien.

 EFISIENSI PENDIDIKAN

A. Konsep Efisiensi

            Efisien adalah bagaimana menghasilkan efektifitas dari suatu tujuan dengan proses yang lebih ‘murah’. Dalam proses pendidikan akan jauh lebih baik jika kita memperhitungkan untuk memperoleh hasil yang baik tanpa melupakan proses yang baik pula. Hal-hal itu jugalah yang kurang jika kita lihat pendidikan di Indonesia. Kita kurang mempertimbangkan prosesnya, hanya bagaimana dapat meraih standar hasil yang telah disepakati.

            Efisensi menjadi salah satu fokus penelahaan ilmu ekonomi pendidikan. Dibidang ekonomi, kata ekonomis juga sering dipersepsi sebagai efisiensi. Misalnya, fase istilah tidak ekonomis merupakan frasa pengganti tidak ekonomis. Diluar kerangka uang atau material, efisiensi juga dapat digantikan dengan dimensi waktu dan tenaga. Kata efisiensi juga bermakna penghematan, yaitu penghematan tenaga, hemat waktu dan hemat gerakan.

            Menurut Windham, dalam Ace Suryadi[2] bahwa efiesiensi adalah sebagai suatu keadaan yang menunjukkan bahwa tingkat keluaran secara optimal dapat dihasilkan dengan menggunakan komposisi masukan yang minimal atau memelihara suatu tingkat keluaran tertentu dengan tingkat masukan yang tidak berubah atau yang lebih rendah.

Sedangkan menurut Nanang Fattah[3] efisiensi adalah menggambarkan hubungan antara input dan output. Suatu sistem yang efisien ditunjukkan oleh keluaran yang lebih untuk sumber masukan. Efisensi juga dapat diberi makna sebagai proses kegiatan yang mampu melahirkan suasana : kondusif, menyenangkan, merangsang kreativitas, mendorong prestasi dan iklim yang sehat.[4]

            Kemampuan subyek atau kelompok subyek untuk menciptakan kondisi seperti mereka dapat bekerja sesuai dengan tugas pokok, fungsi, prosedur, kriteria hasil. Efisiensi umumnya merujuk pada pertanyaan bagaimana sumber-sumber yang ada harus dialokasikan untuk menghasilkan barang dan jasa yang berbeda bentuk dan nilainya. Untuk mengubah satu atau beberapa jenis barang menjadi bentuk lain diperlukan energi, waktu, upah, tenaga manusia, peralata dan lain-lain. Setelah menjadi barang atau jasa yang berwujud lain, terjadilah nilai tambah. Selain itu efisiensi dapat diberi makna dengan menggunakan beberapa persfektif dan denggan cara-cara yang berbeda pula. Di bidang ekonomi, utilitas sumber-sumber dapat disebut memenuhi kriteria efisiensi juka dengan menggunakan cara tertentu didapatkan hasil yang lebih optimal menurut kriteria yang telah ditetapkan.

            Efisiensi juga bermakna tidak diperlukannya alokasi sumber-sumber lain untuk mencapai tujuan yang dikehendaki, kecuali sumber-sumber yang telah ditetapkan dan disepakati sejak program itu dirumuskan. Dalam kaitannya dengan kesejahteraan, efisiensi bermakna bahwa upaya untuk mencapai tujuan dan sasaran tertentu yang berkaitan dengan barang dan jasa, dengan tidak mengurangi persyaratan minimum yang dibutuhkan untuk mencapai kesejahteraan itu, tidak menguras hak milik yang lain. Di sinilah terjadi apa yang disebut oleh para ekonom sebagai kesejahteraan ekonomi.           Efisensi dapat dibedakan menjadi dua jenis, yakni efisiensi teknis dan efisiensi ekonomis. Efisensi teknis menunjuk pada pencapaian tingkat atau kuantitas tertentu atau kelauaran fisik sebagai produk dari kombinasi semua jenis dan tingkat masukan yang berbeda. Sedangkan efisiensi ekonomis menunjuk pada penempatan ukuran-ukuran kegunaan atau harga pada masukan yang digunakan dan keluaran yang dicapai[5]

            Konsep efisiensi sangat relevan bagi ilmu ekonomi pendidikan. Sejak munculnya pengakuan ini, sebagian besar penelitian dalam bidang ekonomi pendidikan banyak berfokus pada pertanyaan bagaimana sumber-sumber masyarakat harus dialokasikan pada investasi pendidikan dan bentuk-bentuk lain investasi. Efisiensi usaha ekonomi pun relatif, misalnya sangat mungkin masih bisa menabung jika anak-anaknya disekolahkan di dalam negeri. Sebaliknya hanya sampai pada titik impas atau mungkin defisit, ketika anak-anaknya disekolahkan diluar negeri. Keputusan masyarakat atau keluarga untuk melakukan investasi dalam bentuk dan jenis apa sangat ditentukan oleh nilai-nilai yang dikandung keluarga atau masayrakat. Disamping stimulan yang didapat dari lingkungan. Menurut Nanang Fattah[6] efisiensi pendidikan memiliki kaitan antara pendayagunaan sumber-sumber pendidikan yang terbatas sehingga mencapai optimalisasi yang tinggi.

            Beberapa masalah efisiensi pengajaran di Indonesia adalah mahalnya biaya pendidikan, waktu yang digunakan dalam proses pendidikan, mutu pegajar dan banyak hal lain yang menyebabkan kurang efisiennya proses pendidikan di Indonesia. Yang juga berpengaruh dalam peningkatan sumber daya manusia Indonesia yang lebih baik.

            Masalah mahalnya biaya pendidikan di Indonesia sudah menjadi rahasia umum bagi kita. Sebenarnya harga pendidikan di Indonesia relative lebih randah jika kita bandingkan dengan Negara lain yang tidak mengambil sistem free cost education. Namun mengapa kita menganggap pendidikan di Indonesia cukup mahal? Hal itu tidak kami kemukakan di sini jika penghasilan rakyat Indonesia cukup tinggi dan sepadan untuk biaya pendidikan.

Jika kita berbicara tentang biaya pendidikan, kita tidak hanya berbicara tenang biaya sekolah, training, kursus atau lembaga pendidikan formal atau informal lain yang dipilih, namun kita juga berbicara tentang properti pendukung seperti buku, dan berbicara tentang biaya transportasi yang ditempuh untuk dapat sampai ke lembaga pengajaran yang kita pilih. Di sekolah dasar negeri, memang benar jika sudah diberlakukan pembebasan biaya pengajaran, nemun peserta didik tidak hanya itu saja, kebutuhan lainnya adalah buku teks pengajaran, alat tulis, seragam dan lain sebagainya.

            Untuk mengukur efisiensi sebuah sekolah suatu negara ternyata tidak mudah karena sulit didefinisikan dan diukur luarannya. Disamping analisis terhadap nilai yang didapat dari hasil transformasi atas masukan pendidikan tidaklah mudah karena sifatnya terlalu lunak, berbeda dengan tranformasi bahan mentah menjadi barang jasi pada sebuah proses produksi.

Suatu program pendidikan yang efisien ialah yang mampu menciptakan keseimbangan antara sumber-sumber yang di butuhkan dan yang ada atau tersedia guna mengurangi hambatan-hambatan dalam mencapai tujuan pendidikan. Oleh karena itu, mutu pendidikan dapat dipahami sebagai kemampuan dari suatu sistem pendidikan untuk mengalokasikan sumber-sumber pendidikan secara adil sehingga setiap peserta didik memperoleh kesempatan yang sama untuk mendayagunakan sumber-sumber pendidikan tersebut dan mencapai hasil yang optimal.

 Efisiensi Internal

            Dalam sistem pendidikan apabila memiliki efisiensi internal akan menghasilkan output yang diharapkan dengan biaya minimum[7]. Dengan input tertentu dapat memaksimalkan output yang diharapkan. Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengukur efisiensi internal adalah sebagai berikut :

1. Rata-rata lama belajar, seorang lulusan menggunakan waktu belajar dapat dilakukan      dengan metode mencari statistik kohort (kelompok belajar). Hal tersebut dapat dihitung      dengan cara jumlah waktu yang dihabiskan lulusan dalam suatu kohort dibagi dengan      jumlah lulusan dalam kohort tersebut.

2. Input-Output Ratio, adalah perbandingan antara murid yang lulus dengan murid yang masuk dengan memperhatikan waktu yang seharusnya ditentukan untuk lulus, artinya dibandingkan antara tingkat masukan dengan tingkat keluaran.

            Berdasarkan hal-hal diatas, maka masukan pendidikan, proses pendidikan, hasil pendidikan dan lingkungan harus terus dikelola dan terbina secarra optimal dengan memperoleh tingkat efisien yang tinggi. Konsep efisiensi Internal dikaitkan dengan perbandingan antara biaya input pendidikan dan efektivitasnya dalam mendukung hasil-hasil belajar. Aspek efisisensi internal dari suatu sekolah bukan hanya bergantung pada karakteristik administratif, melainkan pemberian rangsangan yang dapat memotivasi perilaku siswa, guru dan kepala sekolah.

 Efisensi Eksternal

            Efisiensi eksternal sering dihubungkan dengan metode cost benefit analysis, yaitu rasio antara keuntungan finasial sebagai hasil pendidikan dengan seluruh biaya yang dikeluarkan untuk pendidikan[8]. Analisis efisiensi ekternal berguna untuk menentukan kebijakan dalam pengalokasian biaya pendidikan, juga merupakan pengakuan sosial terhadap lulusan atau hasil pendidikan.

            Secara konseptual efisiensi eksternal dikaitkan dengan analisis keuntungan atas investasi pendidikan dari pembentukan kemampuan, sikap, keterampilan. Dalam memeprhitungkan investasi tersebut ada dua hal yang penting, yaitu menghasilkan kemampuan yang memiliki nilai ekonomi dan nilai guna dari kemampuan.

 Analisis Keefektifan Biaya

            Teknik analisis ekonomi digunakan untuk menganalisis hubungan antara masukan dan luaran dalam pendidikan. Diantaranya adalah analisis kefektifan biaya yang dimaksudkan untuk membandingkan efisiensi beberapa alternatif usaha pendidikan untuk mencapai tujuan yang sama. Beberapa contoh mengenai analisis keefektifan biaya[9] adalah sebagai berikut :

1.  Penelitian untuk mengetahui apakah lebih efektif secara pembiayaan jika sebuah balai       penataran atau pelatihan merekrut dan mengangkat sendiri widyaiswara dibandingkan       dengan menggunakan strategi outsourcing atau menggunakan tenaga ahli dari luar dengan       pola kontrak dan sejenisnya.

2. Penelitian untuk mengetahui apakah secara pembiayaan dan hasil yang dicapai,       penggunaan metode mengajar untuk mata pelajaran tertentu dengan media pembelajaran      yang tertentu pula lebih efektif dibandingkan dengan cara lain.

3.  Penelitian untuk mengetahui apakah secara ekonomis lebih efektif jika sekolah kejuruan      memiliki bengkel yang lengkap untuk keperluan praktik anak didik sekaligus sebagai      fungsi usaha dibandingkan dengan menggunakan pendekatan pendidikan sistem ganda.

            Penelitian yang disebutkan diatas dilakukan untuk membuktikan pilihan macam apa yang dapat melahirkan suatu lulusan secara efektif dengan pembiayaan dan pengorbanan sumber-sumber terendah. Luarannya dapat berupa skor ujian akhir, kemampuan mendemonstrasikan keterampilan dan waktu yang diperlukan untuk memecahkan masalah.

Menurut Nanang Fattah[10] efisiensi biaya pendidikan hanya akan ditentukan oleh ketepatan didalam mendayagunakan anggaran pendidikan dengan memberikan prioritas pada faktor-faktor input pendidikan yang dapat memacu pencapaian prestasi belajar siswa. Dengan demikian untuk mengetahui efisiensi biaya pendidikan biasanya digunakan metode analisis keefektifan biaya yang memperhitungkan besarnya kontribusi setiap masukan pendidikan terhadap efektivitas pencapaian tujuan pendidikan atau prestasi belajar.

            Pelaksanaan proses pendidikan yang efisien adalah apabila pendayagunaan sumber daya seperti waktu, tenaga dan biaya tepat sasaran, dengan lulusan dan produktifitas pendidikan yang optimal. Pada saat sekarng ini, pelaksanaan pendidikan di Indonesia jauh dari efisien, dimana pemanfaatan segala sumberdaya yang ada tidak menghasilkan lulusan yang diharapkan. Banyaknya pengangguran di Indonesia lebih dikarenakan oleh kualitas pendidikan yang telah mereka peroleh. Pendidikan yang mereka peroleh tidak menjamin mereka untuk mendapat pekerjaan sesuai dengan jenjang pendidikan yang mereka jalani.

Pendidikan yang efektif adalah pelaksanaan pendidikan dimana hasil yang dicapai sesuai dengan rencana / program yang telah ditetapkan sebelumnya. Jika rencana belajar yang telah dibuat oleh dosen dan guru tidak terlaksana dengan sempurna, maka pelaksanaan pendidikan tersebut tidak efektif.

            Tujuan dari pelaksanaan pendidikan adalah untuk mengembangkan kualitas SDM sedini mungkin, terarah, terpadu dan menyeluruh melalui berbagai upaya. Dari tujuan tersebut, pelaksanaan pendidikan Indonesia menuntut untuk menghasilkan peserta didik yang memeiliki kualitas SDM yang mantap. Ketidakefektifan pelaksanaan pendidikan tidak akan mampu menghasilkan lulusan yang berkualitas. Melainkan akan menghasilkan lulusan yang tidak diharapkan. Keadaan ini akan menghasilkan masalah lain seperti pengangguran.

Penanggulangan masalah pendidikan ini dapat dilakukan dengan peningkatan kulitas tenaga pengajar. Jika kualitas tenaga pengajar baik, bukan tidak mungkin akan meghasilkan lulusan atau produk pendidikan yang siap untuk mengahdapi dunia kerja. Selain itu, pemantauan penggunaan dana pendidikan dapat mendukung pelaksanaan pendidikan yang efektif dan efisien. Kelebihan dana dalam pendidikan lebih mengakibatkan tindak kriminal korupsi dikalangan pejabat pendidikan. Pelaksanaan pendidikan yang lebih terorganisir dengan baik juga dapat meningkatkan efektifitas dan efisiensi pendidikan. Pelaksanaan kegiatan pendidikan seperti ini akan lebih bermanfaat dalam usaha penghematan waktu dan tenaga.

 MIGRASI DAN PENDIDIKAN

            Urbanisasi adalah perpindahan penduduk dari desa ke kota. Urbanisasi biasanya dilakukan oleh orang orang muda usia yang pergimencari pekerjaan di industry atau perusahaan yang jauh dari tempat dimana mereka berasal. Urbanisasi adalah masalah yang cukup serius bagi kita semua. Persebaran penduduk yang tidak merata antara desa dengan kota akan menimbulkan berbagai permasalahan kehidupan sosial kemasyarakatan. Jumlah peningkatan penduduk kota yang signifikan tanpa didukung dan diimbangi dengan jumlah lapangan pekerjaan, fasilitas umum, aparat penegak hukum, perumahan, penyediaan pangan, dan lain sebagainya tentu adalah suatu masalah yang harus segera dicarikan jalan keluarnya.

            Migrasi adalah peristiwa berpindahnya suatu organisme dari suatu bioma ke bioma lainnya maksudnya penghijrahan sekumpulan manusia dari satu negara ke satu negara yang lain untuk meningkatkan taraf hidup dan ekonomi mereka. Sebagai contohnya pada tahun ke-5 kerasulan, Nabi Muhammad S.A.W dan para sahabat telah melakukan proses penghijrahan atau migrasi dari Mekah ke Madinah untuk mempertahankan akidah dan agama Islam. Dalam banyak kasus, organisme bermigrasi untuk mencari sumber-cadangan-makanan yang baru untuk menghindari kelangkaan makanan yang mungkin terjadi karena datangnya musim dingin atau karena overpopulasi.

            Sejak tahun 1970, bahkan sejak perekonomian diikuti oleh kenaikan  harga minyak dunia pada 1973, banyak pemerintah Eropa Barat tidak bisa  menghalangi datangnya pekerja asing kendati mereka memiliki hak untuk  melakukannya. Arus perpindahan penduduk melewati batas negara ini  dipahami sebagai isu utama yang berdampingan sebagai dampak dari  fenomena integrasi dimensi perdagangan, makroekonomi, perkembangan, dan  kesehatan yang terjadi berdampingan karena proses globalisasi. Fenomena,  penyebab, dan konsekuensi perpindahan melewati batas negara tersebut  saat ini tidak dikesampingkan dalam berbagai studi akademis ilmu sosial  terkait dengan ekonomi, ilmu politik, hubungan internasional dan studi  lain yang melibatkan serangkaian etika dan teori.

            Arus perpindahan manusia (imigrasi) terjadi dalam banyak cara  sehingga mengundang diterapkannya suatu kebijakan sebagai respon  terhadap fenomena tersebut. Bhagwati dalam tulisannya berjudul  “International Flows of Humanity” meyakini analisis arus perpindahan  tersebut dikelompokkan menjadi tiga tipe yang dapat membantu dalam  mengenali problem imigrasi saat ini dan metode untuk mengatasinya antara  lain (1) arus imigrasi dari negara miskin ke negara kaya dengan  perbedaan implikasinya apabila arus tersebut berjalan sebaliknya, (2)  arus imigrasi pekerja ahli dan pekerja non-ahli, pada awalnya dapat  dianggap menyebabkan problema brain-drain di negara yang ditinggalkan biasanya terjadi di negara miskin dan berkembang atau opportunity bagi para migran sendiri, (4) arus imigrasi secara ilegal dan legal,  dan yang mana dipicu kondisi

            Berdasarkan data pada tahun 2011, yang diungkapkan oleh Menteri Pembangunan Desa Tertinggal kala itu, diketahui bahwa jumlah desa di Indonesia adalah sekitar 70.611 desa, dan 45 % diantaranya masuk ke dalam kategori desa tertinggal. Untuk meningkatkan pembangunan ekonomi Indonesia, tentunya tak dapat lepas dari pembangunan ekonomi di desa-desa yang ada di negara ini.

            Goldscheider[11] menggambarkan adanya variasi tipe-tipe migrasi yang kompleks dalam struktur sosial suatu masyarakat. Oleh karena itu, perubahan struktur sosial masyarakat tidak hanya mengubah pola-pola migrasi, tetapi perubahan migrasi secara perlahan-lahan bisa mengubah struktur sosial masyarakat di suatu komunitas atau kelompok-kelompok sosial yang berbeda.

            Menurut Todaro[12] migrasi adalah suatu proses perpindahan sumber daya manusia dari tempat-tempat yang produk marjinal sosialnya nol ke lokasi lain yang produk marjin sosialnya bukan hanya positif, tetapi juga akan terus meningkat sehubungan dengan adanya akumulasi modal dan kemajuan teknologi.

            Terkait dengan ulasan di atas migrasi dapat menyebabkan adanya transformasi sosial-ekonomi. Transformasi sosial-ekonomi dapat didefinisikan sebagai “proses perubahan susunan hubungan-hubungan sosial-ekonomi (sebagai akibat pembangunan). Lee[13] dalam teorinya “ Dorong – Tarik” (Push-Pull Theory) berpendapat bahwa migrasi dari desa ke kota disebabkan oleh faktor pendorong di desa dan penarik di kota. Teori tersebut menerangkan tentang proses pengambilan keputusan untuk bermigrasi yang dipengaruhi oleh empat faktor, yaitu: faktor-faktor yang terdapat di daerah asal, faktor-faktor yang terdapat di daerah tujuan, faktor-faktor rintangan, dan faktor-faktor pribadi. Faktor-faktor yang terdapat didaerah asal dan tujuan dibedakan menjadi tiga, yaitu: faktor-faktor daya dorong (push factor), faktor-faktor daya tarik (pull factor), dan faktor-faktor yang bersifat netral (neutral).

Faktor-faktor yang bersifat netral pada dasarnya tidak berpengaruh terhadap pengembilan keputusan untuk bermigrasi. Todaro[14] menjelaskan bahwa pertumbuhan migrasi dari desa ke kota yang terus menerus meningkat merupakan penyebab utama semakin banyaknya pemukiman-pemukiman kumuh di perkotaan, namun sebagian lagi disebabkan lagi oleh pemerintah di masing-masing negar paling miskin. Sadar atau tidak mereka juga turut menciptakan pemukiman kumuh tersebut.     

            Lembaga Pendidikan adalah institusi yang bertanggung jawab dalam Peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia, melalui sekolah-sekolah swasta dan Negeri. Karena tidak meratanya pelaksanaan yang ada di daerah untuk pindah dan Pembangunan di daerah-daerah maka terjadi perpindahan dari daerah yang minim fasilitas ke daerah memiliki fasilitas lengkap.[15] Gerak perpindahan inilah yang disebut dengan Migrasi Desa Kota. Migrasi Desa Kota disebabkan oleh 2 faktor yaitu faktor Pendorong dan Faktor Penarik. Faktor Pendorong adalah faktor Negatif yang ada di daerah asal sehingga mendorong masyarakat untuk pindah ke daerah lain. Demikian juga halnya dengan faktor Penarik, adalah faktor positif tujuan yang menarik masyarakat tinggal di daerah tersebut. Fasilitas Pendidikan yang memadai di Kota besar mengakibatkan masyarakat pedesaan yang memag minim fasilitas pindah atau tinggal di daerah ini untuk mengecap pendidikan yang lebih baik. Migrasi yang dilaksanakan Pelajar mengakibatkan terjadinya peningkatan pendapatan pada masyarakat setempat. Untuk memenuhi kebutuhan migran, masyarakat menciptakan berbagai usaha-usaha, antara lain penyediaan tempat-tempat kost, warung makan dan catering. Usaha-usaha tersebut menambah pendapatan masyarakat serta meningkatkan konsumsi pada masyarakat. Sehingga menciptakan pertumbuhan ekonomi dan terjadinya pengembangan wilayah.

 PENDIDIKAN SEBAGAI INVESTASI PRIBADI

Yang dimaksud dengan investasi adalah mengorbankan aset yang dimiliki sekarang guna menda­patkan aset pada masa mendatang yang tentu saja dengan jumlah yang lebih besar. Investasi juga merupakan komitmen menanamkan sejumlah dana pada satu atau lebih aset selama beberapa periode pada masa mendatang. Investasi dalam pendidikan adalah pembiayaan pendidikan yang dikeluarkan oleh individu atau keluarganya ditambah dengan biaya yang dianggarkan oleh pemerintah.  Termasuk juga biaya kesempatan akibat hilangnya  pendapatan potensial individu atau masyarakat. Investasi SDM sangat besar. Tetapi perlu diketahui, bahwa biaya sosial  disebabkan oleh individu atau masyarakat yang tidak berpendidikan, jauh lebih besar dari investasi dalam bidang pendidikan tersebut.

            Pendidikan dan pengembangan individu atau SDM adalah suatu proses sepanjang hayat yang meliputi berbagai bidang kehidupan karena  pengembangan individu atau SDM bukanlah sebatas menyiapkan manusia atau pribadi yang menguasai pengetahuan dan keterampilan yang cocok dengan dunia kerja pada saat ini, melainkan juga manusia yang mampu, mau, dan siap belajar sepanjang hayat. Oleh karena itu memerlukan sumber daya waktu dan keuangan yang cukup besar yang dikenal dengan investasi personal atau individu atau SDM.

            Investasi dapat dilakukan bukan saja pada fisik, tetapi juga pada bidang non fisik. Investasi fisik meliputi bangunan pabrik dan perumahan karyawan, mesin-mesin dan peralatan, serta persediaan (bahan mentah, barang setengah jadi, dan barang jadi). Investasi non fisik meliputi pendidikati, pelatihan, migrasi, pemeliharaan kesehatan dan lapangan kerja. Investasi non fisik lebih atau lebih dikenal dengan investasi sumber daya manusia adalah sejumlah dana yang dikeluarkan dan kesempatan memperoleh penghasilan selama proses investasi. Penghasilan selama proses investasi ini sebagai imbalannya dan diharapkan memperoleh tingkat penghasilan yang lebih tinggi untuk mampu mencapai tingkat konsumsi yang lebih tinggi pula. Investasi yang demikian disebut dengan human capital[16]. Istilah modal manusia (human capital) ini dikenal sejak tiga puluh tahun lalu ketika Gary S. Becker,[17] seorang penerima Nobel di bidang ekonomi membuat sebuah buku yang berjudul Human Capital. Setelah Theodore W. Schult dan ekonom lain mulai membahas dampak investasi sumber daya manusia bagipertumbuhan ekonomi barulah hal ini diperhatikan. Pembahasan mengenai masalah ini, hubungan investasi sumber daya manusia dengan produktivitas mulai santer terutama setelah munculnya Gary S. Becker dengan analisisnya mengenai Human Capital tersebut[18].

            Sumber daya manusia sebagai salah satu faktor produksi selain sumber days alam, modal, entrepreneur untuk menghasilkan output. Semakin tinggi kualitas sumber days manuals, maka semakin meningkat pula efisiensi dan produktivitas suatu negara. Sejarah mencatat bahwa negara yang menerapkan paradigma pembangunan berdimensi manusia telah mampu berkembang meskipun tidak memiliki kekayaan sumber daya alam yang berlimpah.

Penekanan pada investasi manusia diyakini merupakan basis dalam meningkatkan produktivitas faktor produksi secara total. Tanah, tenaga kerja, modal fisik bisa saja mengalami diminishing return, namun ilmu pengetahuan tidak. Robert M. Solow menekankan kepada peranan ilmu pengetahuan dan investasi modal sumber daya manusia dalam memacu pertumbuhan ekonomi. Dad teori Solow ini kemudian dikembangkan teori baru pertumbuhan ekonomi yang dikenal sebagai The New Growth Theory.[19]  Beberapa faktor yang menyebabkan perlunya mengembangkan tingkat pendidikan di dalam usaha untuk membangun suatu perekonomian, adalah :

1. Pendidikan yang lebih tinggi memperluas pengetahuan masyarakat dan mempertinggi     rasionalitas pemikiran mereka. Hal ini memungkinkan masyarakat  mengambil langkah     yang lebih rasional dalam bertindak atau mengambil keputusan.

2. Pendidikan memungldnkan masyarakat mempelajari pengetahuan-pengetahuan teknis     yang diperlukan untuk memimpin dan menjalankan perusahaan-perusahaan  modern dan     kegiatan-kegiatan modern lainnya.

3. Pengetahuan yang lebih baik yang diperoleh dari pendidikan menjadi perangsang  untuk     menciptakan pembaharuan-pembaharuan dalam bidang teknik, ekonomi dan  dalam     berbagai aspek kehidupan masyarakat lainnya.

            Dengan demikian tingkat pendidikan yang lebih tinggi akan dapat menjamin perbaikan yang terus berlangsung dalam tingkat teknologi yang digunakan masyarakat.

 Kesimpulan

            Migrasi adalah suatu proses perpindahan penduduk dari satu lokasi yang produk marjinal sosialnya nol ke lokasi lain yang produk marjin sosialnya bukan hanya positif, tetapi juga akan terus meningkat sehubungan dengan adanya peningkatan modal dan kemajuan teknologi.

            Migrasi sirkuler merupakan salah satu faktor penting untuk membangun ekonomi desa. Walaupun demikian, migrasi sirkuler dapat menimbulkan dampak positif dan negatif. Dampak yang ditimbulkan tidak hanya dalam segi ekonomi, akan tetapi juga dari segi sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan, dan infrastuktur desa. Maka dari itu, perlu adanya pensinergian antara pembangunan di desa dan di kota agar tidak adanya ketimpangan jumlah penduduk dari proses migrasi sirkuler.

            Dampak yang diharapkan dari migrasi sirkuler yaitu penciptaan keseimbangan ekonomi antara kota dan desa, sebagai strategi dalam perluasan lapangan kerja tidak hanya di kota namun juga di desa sehingga kemudian akan mengurangi angka migrasi dengan sendirinya. Sehingga pembangunan ekonomi Indonesia secara merata akan tercapai, baik di desa maupun di kota.

            Telah diketahui bahwa peningkatan mutu modal manusia tidak dapat dilakukan dalam tempo yang singkat, namun memerlukan waktu yang panjang. Investasi modal manusia sebenamya sama dengan investasi faktor produksi lainnya. Dalam hal ini jugs diperhitungkan rate of return (manfaatnya) dari investasi pada modal manusia. Bila seseorang akan melakukan investasi, maka ia harus melakukan analisa biaya manfaat (cost benefit analysis). Biayanya adalah berupa biaya yang dikeluarkan untuk bersekolah dan opportunity cost dari bersekolah adalah penghasilan yang diterimanya bila ia tidak bersekolah. Sedangkan manfaatnya adalah penghasilan (return) yang akan diterima di masa depan setelah masa sekolah selesai. Diharapkan dari investasi ini manfaat yang diperoleh jauh lebih besar daripada biayanya.

            Berdasarkan perspektif investasi modal manusia, keputusan untuk langsung bekerja maupun melanjutkan kuliah di perguruan tinggi terlebih dulu didasarkan pada keuntungan yang diterima dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan selama melanjutkan kuliah di perguruan tinggi. Pendidikan mempunyai tujuan yang lebih dari mempersiapkan seorang pekerja yang produktif. Pendekatan humanisme menuntut proses pendidikan sebagai suatu proses total untuk mengembangkan manusia seutuhnya. Peran ganda pendidikan perlu ditekankandan diterapkan. Peran tersebut adalah :

1. Pendidikan berfungsi untuk membina kemanusiaan (human being). Hal ini berarti bahwa pendidikan pada akhirnya dimaksudkan untuk mengembangkan seluruh pribadi manusia, termasuk mempersiapkan manusia sebagai anggota masyarakatnya, warga negara yang baik dan rasa persatuan (cohesiveness).

2.  Pendidikan mempunyai fungsi sebagai human resources yaitu mengembangkan      kemampuannya memasuki era kehidupan baru seperti kompetitif dan employability.           Mengingat pentingnya peran pendidikan tersebut, maka investasi modal manusia melalui pendidikan di negara berkembang sangat diperlukan walaupun investasi di bidang pendidikan merupakan investasi jangka panjang secara makro, manfaat dari investasi ini baru dapat dirasakan setelah puluhan tahun. Keterbatasan dana mengharuskan adanya penetapan prioritas dari berbagai pilihan kegiatan investasi di bidang pendidikan yang sesuai, dalam jangka panjang akan mendorong laju pertumbuhan ekonomi. Investasi yang menguntungkan adalah investasi modal manusia untuk mempersiapkan kreativitas, produktivitas dan jiwa kompetitif dalam masyarakatnya.

ekonomi desa. Walaupun demikian, mi di de

DAFTAR PUSTAKA

_________. Analisis CSIS. Tahun XXIX/2000, No.3. Jakarta.

            Danim, Sudarwan. Ekonomi Sumber Daya Manusia. Pustaka Setia. Bandung. 2004.

            Fattah, Nanang. Ekonomi & Pembiayaan Pendidikan. Remaja Rosdakarya. Bandung. 2009.Fifth Edition. The Dryden Press.

            Goldscheider, Calvin. 1985. Populasi,Modernisasi dan Struktur Sosial. Terjemahan oleh Algozali Usman dan Andre Bayo Ala. CV Rajawali.

            H. A. R Tilaar. 2000. Pendidikan Abad ke-21 Menunjang Knowlegde-Based Economy.

            Harsono. Pengelolaan Pembiayaan Pendidikan. Suryajaya Press. Yokyakarta. 2007.

          http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/7247

            http://us.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2006/bulan/09/tgl/12/time/163933/idnews/673876/idkanal/10

            http://www.bappenas.go.id/get-file-server/node/2846/

            http://www.scribd.com/doc/13619836/Membangun-Desa-Membangun-Indonesia

            Iik Nurulpaik. 2004. Pendidikan Sebagai Investasi. bttp : //www. pikiran-rakyat.com Kaufman, Bruce E dan Julie L. Hotchkiss. 1999. The Economics of Labor Markets.

            Lee, Eevert, 1966. Teori Migrasi. Diterjemahkan oleh Hans Daeng. Pusat Penelelitian Kependudukan Universitas Gajah Mada Yogyakarta.

            Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Mantra, I.B. 1978. Population Movement In Wet Rice Communities : a case study of two Dukuh In Yogyakarta Special.

            Pembangunan Ekonomi ? bttp : //www.csis,or.id

            Simanjuntak, Payaman J. 1985. Pengantar Ekonomi Sumber Daya Manusia. Jakarta : Suryadi, Ace. Pendidikan Investasi SDM dan Pembangunan. Balai Pustaka. Jakarta . 1999.

            Teguh Yudo Wicaksono. 2004. Besarkah Manfaat Pendidikan Tinggi terhadaptheindonesianinstitute.ore/janeducfile.htm

            Todaro, Michael P. dan Stephen C. Smith. 2004. Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga. Edisi ke 8.


                [1] Harsono. Pengelolaan Pembiayaan Pendidikan. Suryajaya Press. Yokyakarta. 2007. hal. 31

                [2] Suryadi, Ace. Pendidikan Investasi SDM dan Pembangunan. Balai Pustaka. Jakarta. 1999. hal. 110

                [3] Fattah, Nanang. Ekonomi & Pembiayaan Pendidikan. Remaja Rosdakarya. Bandung. 2009. hal. 35

                [4] Danim, Sudarwan. Ekonomi Sumber Daya Manusia. Pustaka Setia. Bandung. 2004. hal.40

                [5] Suryadi, Ace. op.cit. hal. 111

                [6] Fattah, Nanang. op.cit. hal 35

            [7] Ibid.

                [8] Fattah  Nanang. op.cit. hal 85

                [9] Danim, Sudarwan. op.cit. hal 44

                [10] Fattah  Nanang. op.cit. hal 35

                [11] Goldscheider, Calvin. 1985. Populasi,Modernisasi dan Struktur Sosial. Terjemahan oleh Algozali Usman dan Andre Bayo Ala. CV Rajawali. hal. 86

                [12] Todaro, Michael P. dan Stephen C. Smith. 2004. Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga. Edisi ke 8. hal 122

                [13] Lee, Eevert, 1966. Teori Migrasi. Diterjemahkan oleh Hans Daeng. Pusat Penelelitian Kependudukan Universitas Gajah Mada Yogyakarta. hal. 57

                [14] Todaro, Michael P. dan Stephen C. Smith. op.cit. hal.98

                [16]Simanjuntak, Payaman J. 1985.Pengantar Ekonomi Sumber Daya Manusia. Jakarta : Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. hal. 54

                [17]Kaufman, Bruce E dan Julie L. Hotchkiss. 1999. The Economics of Labor Markets.Fifth Edition. The Dryden Press. hal. 133

                [18]Warsito Jati. 2002. Indonesia Krisis Sumber Daya Manusia. EDENTS No. 6/XXVI/2002, Semarang. hal : 7 – 9

                [19] H. A. R Tilaar. 2000. Pendidikan Abad ke-21 Menunjang Knowlegde-Based Economy. Analisis CSIS. Tahun XXIX/2000, No.3, Jakarta, Hlm : 257 – 285

REPOSITIONING PENDIDIKAN MUHAMMADIYAH


Oleh : Ahmad Kurnia, SPd,MM

539714_467641196668053_2077416897_nPENDAHULUAN  

1.1.        Latar Belakang

            Tujuan umum pendidikan adalah mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya dalam arti pendidikan yang dilakukan tetap mempertahankan kesatuan, keanekaragaman, mengembangkan cita-cita perorangan.  Setiap warga negara berhak memperoleh pendidikan secara merata dengan keunggulan (excellence) dan penyeimbangan (equity) antara pemanfaatan (acces) dengan prestasi (achievement). Tujuan yang mulia ini akan dapat tercapai apabila dilakukan aktivitas pendidikan yang bertanggung jawab dan terjaminnya kualitas akademik pada desain, manajemen proses pendidikan, bertumpu pada konsep pertumbuhan, pengembangan, pembaharuan, dan kelangsungannya sehingga penyelenggaraan pendidikan harus dikelola secara profesional. Bidang pendidikan yang menjadi tumpuan harapan banyak pihak untuk dapat menghasilkan sumber daya yang berkualitas, kerap terengah-engah karena dihadapkan pada  persoalan serius akibat perkembangan yang terus-menerus dan sangat cepat. Pendidikan mengalami keletihan dan ketidakberdayaan, yang disebut oleh Coombs sebagai krisis pendidikan

Muhammadiyah sejak lama dianggap sebagai pelopor pertama pembaharuan di dunia pendidikan Indonesia setelah pendirinya KH Ahmad Dahlan bersinggungan dengan gerakan wahabi di timur tengah yang ditandai dengan keberhasilan dalam bidang pendidikan dan social yang dibuktikan dengan berdirinya sekolah-sekolah Muhammadiyah dari tingkat Taman kanak-kanak sampai dengan perguruan tinggi, selain rumah sakit dan panti-panti yang menyebar di seluruh Indonesia, bahkan sampai ke wilayah Asia tenggara lainnya seperti Malaysia dan Brunei.

            Jelas sebuah prestasi yang luar biasa dalam memperbaharui gerakan Islam yang terkenal dengan gerakan tajdid dan furifikasi pelaksanaan ajaran Islam, menghancurkan tahayul, bid’ah dan khurofat yang sering jadi jargon persyarikatan. Tujuannya sangat mulia yaitu “menegakan dan menjungjung tinggi agama Islam sehingga bisa terwujudnya masyarakat utama yang adil, sejahtera serta mendapatkan ridho Allah SWT”[1].

            Namun kebesaran ini bisa saja membuat tidur dan hal yang biasa terjadi di organisasi semapan Muhammadiyah dan organisasi islam lainnya dengan jumlah umat yang banyak, tapi sebaliknya bisa saja kebesaran ini akan mengakibatkan terjadinya krisis kepercayaan dari pengikutnya yang disusul dengan adanya krisis pemikiran yang justru dari kalangan anak mudanya yang merupakan kader dalam dakwah dan pengelola pendidikan. Dapat kita amati gejala kekurangan kader yang bukan sekedar memahami organisasi dan ideologi persyarikatan tapi memahami Islam yang kafah, bukan kader nyeleneh dan bangga dengan meliberalismekan Islam yang terkadang menusuk kemapanan dan kemurnian pemikiran persyarikatan termasuk ide pluralisme[2] yang bagi orang awam tidak begitu dimengerti bisa masuk pada organisasi Islam sebesar Muhammadiyah.

            Apa mungkin dengan pembaharuan yang kebablasan sehingga sulit membedakan mana yang perlu diberangus karena bisa merusak ideology Muhammadiyah yang sedang dihembuskan oleh pimpinan pusat Muhammadiyah dari wilayah, daerah sampai cabang ranting untuk menahan laju “virus-virus tarbiyah”[3] yang sangat menakutkan, sebuah ketakutan yang luar biasa yang terkadang tidak objektif lagi. Sebuah kemarahan besar dengan banyaknya kader-kader persyarikatan yang masuk dan menjadi kader partai atau banyak anak pemimpin Muhammadiyah yang justru tertarik dengan partai dakwah ini.

Apa sebuah kesalahan mereka bersinggungan dengan rohis-rohis, Lembaga Dakwah Kampus, KAMMI yang sekilas sama dengan HMI. Bukan sebuah kebetulan mereka bersinggungan dengan rohis-rohis, lembaga dakwah kampus yang memang sejalan dengan gejolak anak muda yang cenderung haus dengan nilai-nilai aplikatif dalam berharokah tanpa melupakan ruhiyah mereka.

            Dan gejala sinergis antara berorganisasi dengan ruhiyah sudah mulai luntur sehingga hal yang wajar kalau mereka berbeda partai dengan ayahanda-nya yang tahu hanya dijadikan batu loncatan dan dimanfaatkan oleh partai yang gencar menahan laju gerakan partai anak bawang yang melaju pesat dan puncaknya saat pemilu tahun 2004 dan 2008, sebenarnya sebuah ibroh dan pelajaran berharga di Muhammadiyah, bukan sebaliknya membuat sebuah kebijakan tidak adil dan berlebihan dalam menyikapi gerakan ini.

            Jangan terlanjur dikaitkan dengan kekakuan dan diangap berbahaya. Sebuah sifat jumud dan ashobiyah bukan karakter organisasi semoderat Muhammadiyah. Kalau berintropeksi, Apa sebelumnya Muhammadiyah bisa menahan laju “Sipilis” (sekulerisme, liberalisme, pluralisme) yang mencuci otak kader-kader muda persyarikatan atau masuknya pengaruh aliran sesat seperti Syi’ah atau Ahmadiyah-nya? Atau islam liberal [4]Lahirnya JIMM[5] sebagai nama lain JIL Apa dalih politisasi agama, penguasaan Masjid Muhammadiyah, penguasaan amal usaha Muhammadiyah dan kemudian mengkambing hitamkan sebuah partai Islam yang semua orang mengakui jauh lebih aplikatif bukan sebagai wacana yang sering dihembuskan Muhammadiyah. Gerakan real jauh lebih menarik anak muda yang menginginkan sebauah wujud Islam yang bukan sekedar wacana semata dengan jargon-jargon luntur bahkan malah Muhammadiyah masih belum menembus masyarakat dengan strtaegi dakwahnya yang terkadang masih tradisional dan selalu membuat keputusan abu-abu terhadap cita-cita ummat seperti pemberlakuan syariat Islam yang terkadang dijawabnya dengan sangat tidak memuaskan lagi. Tidak mempolitisasi agama tapi menunggangi Muhammadiyah yang organisasi islam dengan jemaah islam juga. Bahkan banyak kadernya menjadikan sebagai batu loncatan ke politik, lalu siapa sebenarnya yang mempolitisasi agama itu dan bagaimana pluralisme yang banyak merugikan kader Muhammadiyah daripada menguntungkan.Apa dengan dalih kesalahan tidak mampu menyebutkan tujuan Muhamadiyah bisa dikatakan itu sebuah alibi untuk melawan sebuah pemikiran lurus dan saya kira jauh lebih merubah menjadi manusia yang hanif tapi tidak radikal.

            Semua orang mengakui system Muhammadiyah diakui sangat baik berpuluh-puluh tahun dengan ide-ide tajkiyah dari ulama-ulama pendahulu Muhammadiyah yang memikirkan pembelokan pemikiran Islamnya ternyata dapat dilihat aplikasinya dipartai yang dianggap virus jahat tersebut. Bahkan pengkaderan dalam bentuk usroh-usroh dan halaqoh-halaqoh ini sebelumnya ada di Muhammadiyah dan bukan seharusnya kita memperbaharui kalau bisa me-reinveting sistem pengkaderan kita. Anehnya ide-ide tahkiah dari ulama sholeh Muhammadiyah seperti Pak KH. A.R. Fahruddin, KH. A.R. Sutan Mansyur, KH Mas Mansur dan ulama terakhir Muhammadiyah KH Azwar Bashir teraplikasi dalam partai penuh virus ini. Bahkan seharusnya kader persyarikatan kembali ke mesjid dan bersatu dengan kader harokah ini dalam rangka menegakan Islam dan memberantas TBC[6] sebagaimana bersatunya kaum salafiyah dengan persyarikatan ini.

      Jelas bukan berarti Muhammadiyah kekurangan orang cerdas dan intelek, tapi Muhammadiyah kekurang kader yang istiqomah dan komitment terhadap islam, bukan sekedar kader organisasi yang gersang ruhiyah-nya dan gila dengan jabatan pribadi yang justru lebih banyak merugikan Muhammadiyah. Bahkan kalau dikatakan tidak ada sedikitpun perbedaan mendasar antara Muhammadiyah sekarang dengan Nahdatul Ulama (NU). Bahkan NU jauh lebih moderat dan siap menerima perbedaan mendasar sehingga mereka bisa berkembang jauh bukan merasa mapan dengan usianya yang sudah tua dan terkenal dengan amal usahanya.

1.2.    Perumusan Masalah

Untuk memperjelas tujuan dari studi kasus ini, maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut :

1)      Apa Yang Menghambat Perkembangan Pendidikan Di Perguruan Muhammadiyah Kota Bekasi dilihat dari permasalahan krisis pemikiran dan kaderisasi organisasi?

2)      Bagaimanakah  Repositioning Pendidikan Muhammadiyah Di Perguruan Muhammadiyah Kota Bekasi ?.

1.3.    Tujuan Studi Kasus

Adapun tujuan studi kasus ini adalah untuk mengetahui secara deskriptif permasalahan yang terjadi di perguruan muhammadiyah kota Bekasi dan strategi repositioning dalam frame organisasi muhammadiyah khususnya dalam pendidikan.

1.4.    Waktu Observasi 

Observasi dilakukan pada Majlis Dikdasmen perguruan Muhammadiyah kota Bekasi. Observasi dilakukan sejak bulan 20 September 2012 sampai dengan 16 Desember 2012 .

1.5.    Metode Penelitian

Metode studi kasus ini, penulis menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan studi kasus observasional. Pengumpulan data dilaksanakan dengan (1) wawancara mendalam  (2) observasi partisipasi (3) studi dokumentasi. Data yang terkumpul dianalisis dengan cara (1) reduksi  data, (2) penyajian data, (3) penarikan kesimpulan

PEMBAHASAN MASALAH 

2.1. Profile Organisasi

Muhammadiyah Bekasi semula bagian dari Pimpinan cabang Jati Negara jakarta yang berdiri tahun 1960 yang membawahi 11 pimpinan cabang selevel kecamatan yang mengelola 7 amal usaha yang salah satunya adalah Majlis Pendidikan Dasar Dan Menengah (Dikdasmen) Muhammadiyah. Majlis ini membawahi amal usaha dalam pendidikan mulai dari SD sampai tingkat SMA/SMK dalam perkembagannya mengalami perkembangan pesat tapi terlihat turun naik bila dibandingkan dengan sekolah swasta di Bekasi Timur yang masih baru.

Padahal dari infrastruktur sangat baik dilahan kurang lebih 3000 m2 dengan bangunan permanen 3 lantai lengkap fasilitas lab dan fasilitas penunjang lainnya dengan pelaksanaan proses belajar mengajar pagi hari untuk tingkat TK sampai SMA/SMK dan sore sampai malam dipergunakan untuk perkuliahan kampus E universitas Muhammadiyah Jakarat (UMJ). Lokasi strategis berada dalam komunitas SMP negeri di kota Bekasi dengan akses ke terminal Bekasi dan keluar dari Tol Bekasi barat ddan dekat dengan pusat pemda Kotamadya Bekasi.

2.2.  Perkembangan Organsasi Pendidikan

Unggul tidaknya suatu institusi pendidikan terletak pada pola organisasinya dan Muhammadiyah menempatkan pendidikan sebagai sebuah amal usahanya yang diunggulkan. Karena pertama kali berdiri muhammadiyah bergerak dalam dunia pendidikan, namun akhir-akhir ini dibeberapa daerah system pendidikan Muhammadiyah sangat stagnan dan berdampak pada pola kadersiasi yang semakin menurun.Yang ditandai dengan semakin stagnannya perkembangan organisasi, melemahnya kaderisasi dan rapuhnya organisasi terhadap masuknya pola pemikiran baru yang bertentangan dengan khittah muhammadiyah yang merasuki kader mudanya dan semakin kentalnya nuansa politik dalam organisasi pendidikan serta berdampak pada perkembangan dunia pendidikan..

Dampak dalam dunia pendidikan, Muhammadiyah salah satu organisasi pelopor dalam pendidikan modern di Indonesia, akan tetapi dalam perjalanannya mengalami stagnasi dan ada kesan merasa puas dengan citranya sebagai organisasi besar dalam pendidikan  dan organisasi sosial dengan beratus-ratus sekolah dan lembaga sosial di seluruh Indonesia. Namun secara realitas masih banyak  juga sekolah Muhammadiyah  yang masih tertinggal jauh dengan sekolah lain dari segi kualitas maupun kuantitasnya, terutama sekolah-sekolah yang berada didaerah yang bukan merupakan basis Muhammadiyah Hal ini disebabkan adanya permasalahan utama yang menyebabkan adanya kecenderungan terhadap pemahaman yang tertanam kuat semacam stigma yang juga tidak disertai dengan adanya peningkatan kualitas. Rekruitmen tenaga pendidikan dan pengelolaan sekolah masih belum maksimal. Ada kecenderungan stagnan dalam perkembangan kuantitas jumlah penerimaan siswa tiap tahun saat sekolah lain terus berkembang muhammadiyah mengalami stagnasi. Termasuk proses pengangkatan calon pimpinan lembaga masih tumpang tindih dengan jabatan struktural organisasi

Stagnasi pendidikan di Muhammadiyah bisa diakibatkan beberapa indikator yang dalam frame simbolik cultural organisasi sampai sekarang terlihat seperti  adanya

1.    Dis-asosiasi organisasi.

Muhmamadiyah selalu dipersepsikan dengan salah seolah  bertabrakan dengan kultur masyarakat  tradisional yang melekat dengan berbagai stigma sosio-ideologis yang  secara positif dianggap sebagai salah satu tantangan dakwah organisasi yang perlu mendapatkan perhatian serius dan secara negative bisa menghambat perkembangan Muhammadiyah dimasa yang akan datang.

2.    Fenomena Aliran Pemikiran.

Adanya fenomena perkembangan tarbiyah yang terlihat sejalan dengan Muhammadiyah dan bisa diterima dikalangan muda persyarikatan atau mengambil istilah Farid setiawan menyebut serangan tarbiyah ini dengan “Virus tarbiyah” (lihat Suara Muhammadiyah, No 5/2006) yang mulai masuk keberbagai segi kehidupan inteletual muda yang diawali dikampus dan disekolah bahkan ke sekolah non-Muhammadiyah sekalipun.  Kesadaran agamis dikalangan intelektual muda kampus diawali sekitar tahun 80-an dibeberapa kampus umum seperti ITB, UGM, UI ini tidak bisa dibendung apalagi fenomena ini bahkan merebak ke berbagai masyarakat. Hal ini jelas menghasilkan stigma baru dalam pengakaderan di persyarikatan yang ternyata manhaj ini justru berkembang pesat pula didaerah urban yang secara  didominasi kaum pendatang yang mungkin kader-kader kita dipersyarikatan.

3.    Dikhotomi  Pendatang Dan Pribumi.

Adanya persinggungan kader pendatang dengan pribumi digambarkan seperti persinggungan kaum Anshor dan muhajirin ketika hijrah rasulullah ke Medinah. Begitu juga adanya dikhotomi pribumi-pendatang bisa mewarnai masuknya budaya persyarikatan sehingga bisa melemahkan sukuisme, promodialisme yang kaku serta menganggap kader pribumi tidak professional dalam pengelolaan organisasi amaliah dan lembaga-lembaga pendidikan dan sikap keras para pendatang yang menganggap kultur yang dibawa daerahnya lebih mencerminkan jati diri kemuhammadiyahan.sesuai dengan kultur persyarikatan yang dia bawa daerahnya masing-masing.

4.    Stigma Sosial di Sekolah Muhammadiyah.

Stigma sosial bisa berarti prasangka social yang secara negative bisa berpengaruh terhadap tertutupnya jalur komunikasi Beberapa stigma social dimasyarakat terhadap  pendidikan di Muhammadiyah antara lain :

a)      Istilah ideology baru atau lebih radikal dianggap sebagai agama baru terasa melekat dimasyarakat,

b)      Lebih terkesan beorientasi sosial dan bengkel ahlak bisa berpengaruh imbas terhadap citra pendidikan Muhammadiyah yang murah dan tidak berkualitas sehingga melupakan fungsi “humanitas” dan “kualitas” dalam pendidikan secara realitas sekolah membutuhkan dana operasional untuk peningkatan kualitas pendidikannya dan oleh anggota persyarikatan dimanfaatkan untuk menitipkan putranya yang bermasalah atau tetangganya yang tidak mampu untuk dimasukan kesekolah Muhammadiyah.

c)      Stigma pengembangan pendidikan di daerah non-Yogya dan sekitarnya belum mendapatkan perhatian sehingga dihembuskan adanya kultur Jawa dan non-Jawa, tapi ditepiskan dengan terpilihnya, ketua umum Muhammadiyah yang berasal dari luar jawa seperti almarhumah Prof. Dr. Hamka dan terakhir terpilihnya Prof. Dr. Din Syamsuddin (2005-2010). Itulah sebuah stigma yang kebenarannya relative tapi perlu mendapat perhatian dan dianggap sebagai jamu yang terasa pahit tapi bisa menyembuhkan keterdiaman dakwah Muhammadiyah sebagai suatu pergerakan Islam (harokatul islamiyah) dalam mensosialisasikan dakwah cultural dan meningkatkan pencitraan Muhammadiyah di daerah-daerah yang potensial berbaurnya berbagai kultur seperti daerah penyangga ibu kota.

2.3.        Proses Kaderisasi Dan Dakwah Muhammadiyah.

Akar permasalahan lain dari semakin melemahnya organisasi adalah proses kaderisasi yang mandeg, terkadang terabaikan setelah keterlibatan kader terbaiknya dalam aktiftas kepartaian mulai tahun 1999-an.

Selain proses dakwah yang terhenti pada amal usaha dan dakwah internal, dulu Muhammadiyah dikenal dengan dai-dainya yang dikirim kedaerah kristenisasi dan suku terbelakang, yang  justru organisasi lainnya tetap konsisten seperti : Dewan dakwah Islam Indonesia (DDII), Hidayatullah, dll, tapi semakin mapannya para dai dalam kancah politik sehingga terkadang bercampur baur dengan politisasi dakwah yang luar biasa pengaruhnya, sehingga ada sebagian kader yang merasakan adanya kekosongan setelah sekian lama terabaikannya program kaderisasi yang menyebabkan mereka beralih pada pemikiran lain yang lebih hebat bertebaranlah mereka di Salafiyin, Hizbul Tahir, Syi’ah, Ahmadiyah dan tentunya organisasi tanpa bentuk seperti Islam liberal dan ada juga yang kadernya bertebaran di partai keadilan sejahtera (PKS).

Sehingga perlu adanya semangat untuk kembali ke khittah Muhammadiyah dan netralitas dalam berpolitik dengan tidak menjerumuskan organisasi Muhammadiyah dalam perpolitikan sebagaimana dicontohkan oleh tokoh Muhammadiyah masa lalu dengan Masyumi-nya.

REFRAMING ORGANISASI DAN PENDIDIKAN MUHAMMADIYAH

3.1. Definisi Istilah

Bolman & Deal [7] mengartikan reframing sebagai :.”.is mental models, maps, minds-sets, schema and cognitive lense and deliberately mix metaphore, referring to them as windows, map, tool, lense, orientation and presfective’ (Reframing adalah model mental, pemetaan, pola pemikiran, skema dan lensa kognitif yang dijelaksan dalam bingkai pintu, peta, alat, lensa, orientasi dan prespektif).

Organisasi diartikan sebagai a consciously coordinated social entity, with a relatively identifiable boundary that functions on a relatively continuous basis to achive a common goal or set of goals (stphen P. Robbins, 1990:4) Organization are relatively permanent social entities characterized by goal-oriented behavior, specialization and structure (Warren B. brown, 1980:2) Pengorganisasian diartikan sebagai suatu tindakan mengusahakan hubungan kelakukan yang efektif antara orang-orang, hingga mereka dapat bekerjasama secara efisien dan demikian memperoleh kepuasan pribadi dalam hal melaksanakan tugas-tugas tertentu dalam kondisi lingkungan tertentu guna mencapai tujuan atau sasaran tertentu.(George R.Terry, 2006:233)

3.2. Reframing  Pendidikan.

Dalam hal ini penulis ingin membuka kembali tirai tertutup untuk memetakan kembali pola pemikiran dari mulai bingkai structural, bingkai political, bingkai simbolik dan bingkai etik dan spirit yang terjadi di perguruan muhammadiyah.

a.    Reframing Structural.

Apabila dilihat dari bingkai structural organisasi dengan Asumsi yang mencerminkan kepercayaan pada rasionalitas dan suatu keyakinan bahwa pengaturan yang formal dapat meminimalkan masalah dan memaksimalkan kinerja. Perspektif kaderisasi organisasi di Muhammadiyah harus menekankan pentingnya mengubah manusia (melalui pelatihan pemecatan, rotasi, promosi, atau pemecatan), dalam hal ini perlu menghidupkan kembali program  kaderisasi sebagai ruh organisasi muhammadiyah selain pengembangan struktur pengelolaan amal usaha pendidikan tetapi perspektif struktural juara pola pikir baik-out peran dan hubungan. Properti dirancang, ini pengaturan formal dapat mengakomodasi kedua tujuan-tujuan kolektif dan perbedaan individu.

Kita lihat ada Enam asumsi mendasari kerangka struktural[8]:

1.     Organisasi ada untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Dalam hal ini perlu meninjau kembali unutk kembali ke tujuan utama Muhammadiyah sebagaimana yang dianjurkan para pendiri Muhammadiyah dan para ulama muhammadiyah dimasa lalu sesuai dengan visi dan misi yang sebenarnya telah kokoh sebagaimana yang diajurkan oleh para pendiri muhammadiyah.

2.     Organisasi untuk meningkatkan efisiensi dan kinerja melalui spesialisasi dan pembagian kerja yang jelas.

Profesonalisme kerja tidak berdasarkan pola primodialisme kelompok dan structural Muhammadiyah sehingga untuk pengangkatan struktur organisasi harus berdasarkan keahlian, kualitas pemahaman pemikiran, dan penguasaan basis aqidah dan pola ideology yang kokoh, bukan skedar pemahamn dan lamanya berorganisasi dengan mengabaikan factor sebelumnya. Seperti terjadi pengangkatan kepala sekolah harus sesuai dengan kapasiltas professional dan keahlian serta pemahaman pemikiran Muhammadiyah tanpa mencampurkan dengan adanya kepentingan politik yang selama ini telah merusak tatanan organisasi dengan adanya jabatan rangkap strukutural dalam organisasi, amal usaha dan dalam aktiftas politik.

3.    Bentuk yang sesuai koordinasi dan kontrol memastikan bahwa upaya-upaya yang beragam individu dan unit organisasi.

Hal lain yang dijadikan sorotan juga adanya span of control yang kurang dilakukan terhadap aktiftas organisasi, karena dalam observasi kebanyakan mereka aktif separoh waktu dalam aktiftas dakwah dan berorganisasi, sehingga agak sulit pengontrolan kebijakan dan SOP yang diberlakukan setelah adanya musyawarah dan muktamar Muhammadiyah dengan ebrbagai macam ijtihad dan keputusan kebawah agak sulit dimplementasikan.

4.    Orgnisasi organisasi bekerja dengan baik ketika menang atas rasionalitas preferensi pribadi dan tekanan luar.

Hal lain organisasi akan bekerja saat ada aktiftas seperti persiapan musyada, muktamar, sementara diluar aktiftas organisasi sebatas amal usaha yang dalam hal ini lembaga pendidikan dan social, dan terasakan adanya pengaruh perpoitikan dalam pengembangan organisasi lebih menonjol, karena dalam hal ini banyak kader yang memanfaatkannya untuk kepentingan politik sehingga kaderisasi terabaikan setelah perpolitikan terhenti.

5.     Struktur harus dirancang untuk sesuai dengan keadaan organisasi (termasuk tujuan, teknologi, tenaga kerja, dan lingkungan).

Masalah dan kesenjangan Performace di organisasi penddiikan timbul dari kekurangan struktural dan dapat diperbaiki melalui restrukturisasi kembali semua sturktur organisasi organisasi dengan batasan : profesionalime, tidak rangkap jabatan strukutural, netralitas politik disertai kebebasan dalam berpolitik, kontribusi kader yang dipertegas.

b.      Reframing Cultural.

Sedangkan dalam tinjauan reframing cultural adalah dengan melihat pola budaya di Muhammadiyah. Dari Stigma yang diuraikan dibab II diatas terlihat kalau organisasi Muhammadiyah memperlihatkan betapa Lemahnya kultur organisasi dengan mudahnya perkembangan manhaj lain dan janganlah ditanggapii dengan “jumud” seperti  mengambil pendapat Farid Setiawan diatas dengan istilah “virus tarbiyah” sebagai sebuah fenomena dakwah dan banyaknya kader dakwah kita yang berafiliasi kepartai lain, bisa dikatakan merupakan sebuah muhasabah betapa lemahnya manhaj kita,  sehingga kita tidak bisa menyalahkan manhaj lain, tapi dijadikan sebagai kajian perlu adanya pembenahan dan bisa juga secara legowo dijadikan wacana. Kenapa tidak bisa menerima system tarbiyah yang diibaratkan “virus baik” yang kalau kita kaji kembali pernah dilakukan Rasulullah ketika mengadakan menghalaqoh para sahabatnya dirumah Al-arqom bin Al-Arqom RA.

Dan kemudian istilah ini dijadikan sebagai istilah pengkaderan dipersyarikatan  seperti Baetul Arqom[9].  Insya Allah citra Muhammadiyah sebagai harokatul islam besar di Indonesia tidak akan hilang, bahkan jauh lebih baik untuk membenahi system pengkaderan kita yang lebih menonjolkan organisasinya sementara militansi dan girah keagamaan dirasa belum maksimal. Kehausan inilah yang akhirnya ditemukan para kader muda persyarikatan didunia luar. Sebuah sunatullah dan sebuah keniscayaan sebuah system yang beristiqomah dan berpatokan teguh pada sunnah Rasulullah  (sebagaimana yang diperjuangkan oleh KH. Ahmad Dahlan dengan gerakan furifikasi dan gerakan tajdidnya) ternyata  bisa berkembang dengan pencitraan yang baik dimasyarakat.

Kalau kita amati kegiatan halaqoh, daurah, sebenarnya sudah ada dalam pengakderan kita tapi tidak berjalan sebagaimana mestinya, karena kesibukan para ustad dan tokoh Muhammadiyah di oragnisasi dan politik sehingga kegiatan kajian-kajian seperti kajian tarjih dan pemahaman harokah  di Muhammadiyah serasa masih kurang.  Begitu juga betapa sulitnya mengumpulkan para kader untuk sebauh pengajian dan mereka bisa berkumpul saat kegiatan acara, musyda sehingga pengkaderan seperti taruna melati, Baetul Arqam tidak ada follow up-nya dan belum bisa membentuk fikrah Muhammadiyah. Apalagi fikrah ini  bisa menyusupi sela-sela kehidupan masyarakat yang sudah ada bukan merekrut orang baru untuk di Muhammadiyahkan, tapi masih terpaku pada upaya Memuhammadiyahkan orang Muhammadiyah.

Pencitraan di dunia pendidikan, Betapa sulitnya untuk menjaring siswa berkualitas ke sekolah Muhammadiyah yang dirasakan penulis dengan bangunan yang cukup megah dan dengan fasilitas yang cukup memadai, tapi sekolah Muhammadiyah didaerah penyangga ibu kota seperti Bekasi dirasa sulit. Penults beranggapan,  pencitraan promosi masih bisa dikalahkan dengan pencitraan ideology.  Dugaan sementara penulis adalah pencitraan Muhammadiyah yang kurang, oleh karena dakwah ekternal muhammadiyah juga dirasakan masih belum maksimal  mempengaruhi masyarakat, akan terasa lain pencitraan sekolah Muhammadiyah  seperti di Yogyakarta dan sekitarnya.

Selama ini kita amati,  konsentrasi peningkatan kualitas pendidikan lebih terkonsentrasi dipusat (Yogya, Jawa tengah dan Jawa Timur dan sekitarnya) dan belum merambah daerah-daerah yang komunitas Muhammadiyah yang akan terus berkembang atau sebaliknya stagnan, Sehingga Kenapa perkembangan sekolah Muhammadiyah didaerah Jawa Barat tidak seunggul perkembangan sekolah  di Jawa timur dan sekitarnya dengan kultur Jawa-nya yang melekat? Dapat ditandai belum adanya universitas Muhammadiyah sebaik di Yogyakarta ataupun universitas yang membanggakan warga muhammadiyah di Malang yang ada di daerah Pasundan. Sehingga hal ini juga berpengaruh terhadap perkembangan dakwah Muhammadiyah didaerah ini  terasa lambat, padahal dari segi lokasi jauh posisi Jawa barat lebih dekat ke ibukota dengan fasilitas dan akses yang jauh lebih cepat. Pencitraan lain terasa jauh lebih hebat adalah masuknya pengaruh liberal islam dikalangan intelektual mudanya sehingga terasa hambar citra muhammadiyah sebagai organisasi gerakan islam, dengan opini-opini kontroversialnya yang terkadang bertentangan dengan sikap dan kaidah organisasi. Sungguh ironis mencoba menahan gerakan kegamaan yang ditakuti sebgai virus tarbiyah, tapi sisi lain membiarkan liberalissi, sekulerisme dan pluralisme masuk kedalam pola pikir anak mudanya. Sehingga terjadilah pergeseran pola berfikir orang muhammadiyah.

Inilah salah satu Stigma social-cultural  yang sebenarnya tidak bisa dihindari dan hal ini kembali kepada sikap dari persyarikatan yang menjadikan wacana,  wacana ini belum dihembuskan. Kenyataannya persepsi ini bisa berpengaruh terhadap penerapan dakwah cultural yang sedang kita galakan selama ini  terutama konsentrasi dakwah  daerah pasundan dan daerah penyangga ibu kota yang banyak didominasi kader pendatang yang berhadapan dengan konsentrasi  masyarakat asli. Sehingga tak bisa dihindarkan melahirkan  dikhotomi kader pribumi dengan kader pendatang, sehingga terjadilah class action yang terkadang menggoyahkan profesionalisme dan keutuhan persyarikatan ataupun malah lebih meningkatkan dinamika organisasi terutama dapat dilihat saat pelaksanan Musyawarah daerah.  Ada sebagian menganggap sebagai dinamika berorganisasi, Bahkan persinggungan cultural secara positif  bisa berpengaruh terhadap peningkatan komunikasi dan pembenahan organisasi kelembagaan terutama dalam mengelola persyarikatan.

c.    Reframing Politik Organisasi

Adanya persinggungan kader pendatang dengan pribumi digambarkan seperti persinggungan kaum Anshor dan muhajirin ketika hijrah rasulullah ke Medinah. Begitu juga adanya dikhotomi pribumi-pendatang bisa mewarnai masuknya budaya persyarikatan sehingga bisa melemahkan sukuisme, promodialisme yang kaku serta menganggap kader pribumi tidak professional dalam pengelolaan organisasi amaliah dan lembaga-lembaga pendidikan dan sikap keras para pendatang yang menganggap kultur yang dibawa daerahnya lebih mencerminkan jati diri kemuhammadiyahan.sesuai dengan kultur persyarikatan yang dia bawa daerahnya masing-masing.

d.    Reframing Ethical Dan Simbolik

Berkaitan reframing etika dan simbolik membahas tentang pentingnya reframing ethics dan spritual, yang terdiri dari: Soul dan Spirit di dalam Organisasi, the factory: excellence and authorship, the family: caring and love, the jungle: justice and power, the temple: faith and significance

Etika merupakan satu set prinsip-prinsip moral atau nilai-nilai, prinsip-prinsip yang mengatur perilaku suatu individu atau organisasi. Sedangkan secara psikologik, spirit diartikan sebagai “soul”. Soul (jiwa) adalah sebuah rasa identitas yang mendefinisikan individu atau keyakinan inti organisasi dan nilai-nilai. Agar dapat diaplikasikan dalam organisasi, maka etika harus berada di dalam jiwa setiap anggota organisasi. Organisasi yang memiliki keyakinan inti dan ideologi yang kuat lebih sukses dalam jangka panjang.

Pada konteks sumber daya manusia, cinta merupakan sumber lahirnya kepedulian terhadap etika dan kepemimpinan. Dalam hal ini etika menawarkan kepedulian dan kasih sayang. Secara politis, etika adalah keadilan dengan cara mengalokasikan sumber daya yang cukup diseluruh kelompok yang berbeda. Secara simbolis, etika adalah iman yang berpusat pada keyakinan bersama bahwa pekerjaan adalah panggilan dan menambahkan sesuatu yang bernilai bagi komunitas manusia.

Thomas Peters dan Robert Waterman Jr. menyatakan delapan ciri organisasi yang unggul, yaitu:

1. A Bias for Action. organisasi lebih berkiblat pada aksi, dan tidak hanya berkutat dengan rencana. Prinsip organisasi ini adalah “try it, do it and fix it”. Organisasi yang lebih menghargai tindakan nyata daripada ambisi yang abstrak.

2. Close to the stakehoulder. Organisasi yang memahami dengan baik apa yang diinginkan stakehoulder-nya. ummat adalah “segala-galanya”. Bahkan, untuk keperluan memahami yang diharapkan, mereka tak segan-segan mendirikan dewan pembina, membuka layanan openhouse, melakukan riset-riset SDM, dan sejenisnya. 3. Autonomy and Entrepreneurship. organisasi menghargai sikap anggota yang berani untuk mandiri, memiliki pandangan orisinal, berani mengambil resiko, dan sejenisnya.

4. Productivity through People. organisasi menilai kader merupakan aset terpenting bagi organisasi, melebihi arti penting kekuasaan atau bangunan. kader dianggap sebagai pelaku (aktor) yang dewasa, yang bisa dipercaya dan memiliki kreativitas yang unik. Ada komitmen bahwa organisasi adalah aset terpenting yang terlihat dari anggaran yang dialokasikan untuk kegiatan pelatihan kader.

5. Hands-on, Value Driven. organisasi tak mengabaikan arti penting dari tujuan-tujuan yang bersifiat jangka panjang, bahkan transedental. kader diyakinkan bahwa mereka tidak hanya bekerja untuk organisasi, tetapi juga untuk mencapai cita-cita yang luhur (superordinate goals). Mereka berusaha memberi makna transedental yang secara rutin dilakukan dalam organisasi.

6. Stick to the Knitting. Organisasi tidak tergesa-gesa dalam melakukan diversivikasi. organisasi belajar dari pengalaman, bahwa banyak organisasi terjebak dalam diversifikasi berlebihan. Organisasi memiliki bisnis inti (core business) yang jelas, dan tidak tergoda masuk ke perubahan pemikiran yang tidak dikuasainya dengan benar.

7. Simple Form, Lean Staff. organisasi memiliki struktur organisasi yang sederhana dengan jumlah staf yang ramping. Mereka menyadari bahwa organisasi besar biasanya kurang cepat atau kurang adaptif menghadapi perubahan di lingkungan sekitar. Dengan kata lain, organisasi besar cenderung memiliki hirarki yang panjang, melakukan formalisasi, dan proses prosedural yang berlebihan. Organisasi yang sederhana dengan sejunlah staf yang ramping dinilai penting untuk menjaga agar perusahaan tetap lincah dan cepat dalam mengambil keputusan.

8. Simultaneous Loose – Tight Properties. Organisasi memiliki kemampuan menjalankan konsep-konsep manajemen yang sepintas terlihat bertentangan. Dalam konteks ini, organisasi mampu menyeimbangkan prinsip sentralisasi dan desentralisasi dengan baik.

3.3. Repositioning  Organisasi 

Reposisi organsiasi dilaksanakan dengan menilai dan mereview seluruh kekuatan dan kelemahan sehingga dapat menentukan mana yang harus diperbaiki dan diperkuat.  Ada beberapa usaha strategis bagi pengembangan pendidikan yang bisa dikembangkan untuk menjawan permasalahan yang diuraikan diatas antaralain diungkapkan oleh Muhajir Efendi dalam makalahnya”Implementasi Manajemen Pendidikan TinggiPengalaman Universitas Muhammadiyah Malang”[10]

a.    Menciptakan Citra sosial sekolah Muhammadiyah

Kelemahan lain,  Belum memaksimalkan ciri khas keunggulan  yang bisa dijadikan sebagai bentuk pencitraan sekolah Muhammadiyah dengan mengikuti kultur masyarakat transisi industri  sehingga citra sekolah Muhammadiyah lebih dikenal sebagai sekolah termurah, keuangannya bisa dicicil dan sesuai dengan mitos pencitraan Muhammadiyah sebagai organisasi sosial ditambah citra lain yang tak kalah menariknya mencitrakan sekolah Muhammadiyah sebagai bengkel ahlak sehingga bisa menampung siswa yang bermasalah, terkecuali sekolah unggulan Muhammadiyah didaerah lain.

Dengan pencitraan tersebut, Sangat wajar sekali kalau masih banyak para tokoh Muhammadiyah yang tidak mau menyekolahkan putra-putrinya ke sekolah Muhammadiyah dengan alasan tersebut.

Ada Fenomena yang baik sekaligus mengkhawatirkan banyak putra Muhammadiyah yang sukses mengelola sebuah lembaga pendidikan sendiri tanpa mau berafiliasi dengan persyarikatan sehingga bisa eksis meningkatkan kualitas yang melebihi sekolah Muhammadiyah yang sudah ada, selain itu sangat memprihatinkan masih ada sebagian kader persyarikatan yang tidak mau mendirikan sekolah dengan mengatas namakan persyarikatan karena anggapannya akan sulit menerima siswa yang multicultural dan masih banyak yang tidak  memahami Muhammadiyah. Sebagai organisasi dan ideology yang berbeda di masyarakat. Anehnya mereka tidak mau memakai label Muhammadiyah tapi masih memakai system pendidikan Muhammadiyah baik dalam kurikulum maupun dalam system pembinaan

·         Menciptakan Trust dan Confidence Untuk Stakeholder

Salah satu yang tidak bisa dipungkiri adalah menciptkan rasa kepercayaan masyrakat terhadap pendidikan Muhammadiyah, tentu saja bukan sekedar pemahaman ideologis saja, tetapi juga bisa menyangkut masalah kualitas dan berdasarkan survey penulis sendiri yang pernah menjadi kepala sekolah berdasarkan peneusuran kerja lulusan SMK muhammadiyah bekasi 80% terserap didunia kerja dan 20 % banyak yang melanjutkan kuliah baik ke PTS maupun PTN di Jawa barat dan DKI Jakarta[11]. Untuk meningktkan rasa confidensi terhadap sekolah Muhammadiyah kota bekasi adanya sosialisasi dakwah dilingkungan sekolah dan komunitas muhammadiyah secara rutin dan membangun kualitas infrastruktur dan tenaga kependidikan secara berkala sesuai dengan system pendidikan  Muhammadiyah serta membangun pusat-pusat keunggulan di bidang akademik dan eunterpreuner akan membangun brand image di masyarakat kota bekasi tentang keebradaan perguruan Muhammadiyah.

·         Membangun competitive advantage.

            . Strategi USE PDSA  dapat dipergunakan dalam membangun competitive advance centres. Pengembangan bidang ini harus dipandang sebagai suatu perbaikan terus menerus (continues improvement), sehingga tugas utama pimpinan muhammadiyah khususnya para pimpinan lembaga yaitu melakukan perbaikan proses yang terjadi secara terus menerus dengan membuat keputusan yang efektif untuk menyelesaikan masalah-masalah bisnis yang ada berkaitan dengan ini bisa menggunakan pembuatan keputusan USE PDSA, yaitu;

U = Understand improvement needs

S = State the problem

E = Evaluate the root Cause (s)

P = Plan the solution

D = Do or implement the solution

·         Membangun Culture organisasi

Perguruan tinggi sebagai organisasi pendidikan memiliki kepentingan terhadap pelestarian budaya, nilai, pemandirian kaidah Muhammadiyah terutama dalam kebijakan pendidikannya. Oleh karena itu perguruan Muhammadiyah bekasi dituntut untuk mengikuti perkembangan jaman (fashionable). Pendidikan menyangkut dimensi sistem, paradigma dan kultur. Budaya organisasi perlu disesuaikan dengan pergeseran paradigma dunia, yang berorientasi pada customer, kepuasan pelanggan (customer satisfaction), keterbukaan manajemen, dan jaminan kualitas.

Jaminan kualitas pendidikan (quality assurance) merupakan titik temu antara harapan para pemakai layanan (client) dan pemberi layanan pendidikan (provider). Kualitas pendidikan merupakan hal yang selalu di diskusikan para ahli pendidikan. Untuk masyarakat yang berbeda, mungkin definisi kualitas pendidikan akan berbeda, demikian pula dengan indikator yang digunakan untuk mengukur kualitas pendidikan. Quality Assurance sebagai alat ukur kualitas telah diimplementasikan dalam pendidikan di beberapa negara yang telah maju sebagai sebagai bentuk akuntabilitas

untuk standar profesional di bidang pendidikan. Quality Assurance yang terencana dengan baik dan tersistematis akan dapat digunakan untuk merefleksi diri, memonitor kinerja pendidikan, memberikan gambaran komprehensif kefektifan proses pendidikan dan kinerja universitas, sustainable improvement universitas, serta dapat digunakan untuk memberikan jaminan atau kepercayaan suatu produk atau jasa pendidikan dikatakan berkualitas. 

Standard Australia (Cuttance, 1995) Quality Assurance (QA) di definisikan sebagai semua tindakan yang terencana dan sistematis untuk memberikan kepercayaan/jaminan bahwa suatu produk atau jasa memenuhi syarat untuk dikatakan berkualitas.

Dari sisi efektivitas kinerja, Ellis J (2001) mendefinisikan QA sebagai aktivitas yang dilakukan untuk menilai keefektifan proses penyedia layanan, membangun gambaran yang komprehensif mengenai kinerja dan pembaharuan informasi melalui siklus tahunan. Disamping itu CDQA (the Chief Directorate for Quality Assurance) pada tahun 2001 mendefinisikan Quality Assurance sebagai kegiatan monitoring dan evaluasi kinerja dari berbagai macam level sistem pendidikan untuk mencapai tujuan sistem tersebut.

Menurut Harman dan Meek (2000) QA adalah manajemen yang sistematis dan prosedur penilaian yang diadopsi oleh insitusi atau sistem untuk memonitor kinerja dan meyakinkan pencapaian ouput yang berkualitas atau peningkatan kualitas. QA adalah suatu proses yang bertujuan menyatukan semua stakeholder dalam mencapai satu tujuan yaitu peningkatan kualitas pendidikan.  Aktivitas ini memberikan penghargaan pada pelaksanaan kegiatan program yang baik, bukan menghakimi pelaksanaan kegiatan yang kurang baik. QA dimaksudkan untuk meyakinkan stakehorlders bahwa institusi memberikan layanan yang bisa diterima (Dahlgren, P. dkk, 2001).

Dengan adanya penjaminan mutu di bidang akademik, karyawan, layanan, keuangan, dan kesesuaian antara produk akademik yang dihasilkan oleh lembaga stakeholder, akan menumbuhkembangkan rasa saling percaya dan membangun image Muhammadiyah yang baik di masyarakat. Apabila masyarakat merasa puas, maka akan terjalin keterikatan secara emosional dan secara bertahap akan mengembangkan loyalitas pada pendidikan Muhamadiyah secara keseluruhan.

·      Membangun Kerjasama Dengan Institusi Lain.

              Membangun jalinan kerjasama dengan institusi lain merupakan hal yang tidak dapat di hindari. Karena pesatnya perkembangan teknologi informasi dalam era globalisasi ini, maka dunia akan terasa menjadi lebih kecil karena jarak sudah tidak lagi menjadi hambatan dalam berkomunikasi. Dengan komunikasi keterbatasan geofrafis seakan menghilang dan menjadi satu kesatuan masyarakat global. Pergguruan muhammadiyah kota bekasi menjalin hubungan dengan institusi pendidikan Muhammadiyah di Jakarta, yogyakarta yang sudah maju dalam pengelolaan dan sistem pembelajaran serta kuirkulumnya selain dengan mitra perushaan terutama dikawasan industri Cikarang dan sekitarnya terutama untuk permagnagan, penyerapan tenaga kerja serta sponsorship setiap acara di perguruan muhammadiyah.

·         Perubahan Paradigma

Dari prespektif institusi pendidikan dipandang sebagai penyedia jasa pendidikan. Sama seperti penyedia layanan jasa lainnya yang merubah kebutuhan pasar dan harapan untuk menciptakan permintaan dan peluang yang muncul. untuk memeriksa dan merespon semua kebutuhan,  harapan dan peluang dari lingkungan lembaga pendidikan ini sangat membutuhkan perencanaan strategi, yang meliputi menciptakan misi dan pernyataan visi, merumuskan prinsip-prinsip inti dari kegiatan.

Tantangan terpenting dari sudut pandang diatas adalah adanya integrasi dari setiap kegiatan pengkajian, perencanaan dan perbaikan. Dengan adanya Integrasi tersebut memungkinkan institusi untuk mengidentifikasi kekuatan organisasi dan kebutuhannya, membantu menentukan prioritas, mendorong segera dan terus menerus untuk mengadakan dialog antar pimpinan daerah Muhammadiyah kota Bekasi, staf dan administrasi dan stakehoulder lainnya dalam menentukan  bagaimana mendorong pengembangan lembaga dan bagaimana untuk mencapai Pendidikan yang mampu menginformasikan dan mengisnergikan pemahaman publik, memupuk rasa percaya masyarakat, dan memberikan kontribusi untuk kesejahteraan bangsa.

3.4.        Menciptakan Organisasi Pembelajar

Kesuksesan organisasi pada saat ini sangat tergantung pada kemampuan organisasi tersebut untuk belajar dan merespon perubahan-perubahan yang terjadi dengan cepat. Manajer organisasi yang sukses adalah orang yang mampu secara efektif menggunakan kebijaksanaan, mengelola organisasi dengan berbasis ilmu pengetahuan, dan melakukan perubahan-perubahan yang diperlukan. Disinilah letak pentingnya organisasi pembelajar. Organisasi pembelajar adalah pengembangan kapasitas organisasi untuk terus belajar, beradaptasi dan berubah.

Sugeng Prabowo (2010) berpendapat bahwa secara konseptual organisasi dapat dibedakan menjadi organisasi tradional dan organisasi pemebalajar. Ada sepuluh factor yang membedakan antara konsep organisasi tradisional dengan konsep organisasi pembelajar. Adapun perbedaan kedua konsep tersebut sebagai berikut:

Table 3.1. Faktor Pembeda Organisasi

No.

Konsep Organisasi Tradisional

Konsep Organisasi Pembelajar

1

Stabilitas

Perubahan yang tidak berkesudahan

2

Hirarkhis Birokratis

Kepemimpinan dari setiap orang

3

Organisasi yang kaku

Fleksibilitas

4

Pengendalian melalui aturan

Pengendalian melalui visi dan value

5

Informasi yang tertutup

Informasi yang disebarluaskan

6

Menerima hanya pada hal-hal yang pasti

Menerima keraguan

7

Reaktif dan menghindari resiko

Proaktif, dan keberanian menanggung resiko

8

Berfokus ke internal organisasi

Berfokus pada lingkungan kompetitif

9

Keunggulan bertahan

Keunggulan kompetitif yang berubah

10

Bersaing pada pasar yang ada

Bersaing pada pasar masa depan yang kontemporer

Perkembangan organisasi pembelajar dalam pendidikan di Indonesia terus mengalami perkembangan. Hal ini dapat terlihat dari  berbagai hal, mulai dari kebijakan penyelenggaraan dari pemerintah, sampai dengan perubahan sebagai hasil perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Perubahan sebagai akibat kebijakan pemerintah misalnya, perubahan dari sistem sentralisasi menjadi sistem desentralisasi sehingga muncul model Manajemen Berbasis Sekolah (MBS), Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). Perubahan pola pengelolaan, sehingga muncul Komite Sekolah, Dewan Pendidikan, Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan, dan lain-lain.

Perubahan yang berkaitan dengan perubahan ilmu pengetahuan dan teknologi misalnya perubahan dalam proses pembelajaran, sehingga menghasilkan teori pembelajaran quantum (quantum teaching/ learning), pembelajaran aktif (active learning), pembelajaran kontekstual (contextual teaching learning). Perubahan dalam manajemen misalnya Manajemen Mutu Terpadu (Total Quality Management), penggunaan alat analisis Balance Scorecard, dan lain-lain.

Kondisi perubahan yang cepat dan faktor persaingan yang tinggi mendorong pentingnya organisasi pembelajar (learning organization). Organisasi Pembelajar menurut Pedler, Boydell dan Burgoyne (1988) adalah organisasi yang memfasilitasi pembelajaran dari seluruh anggotanya dan secara terus menerus untuk dapat mentransformasi diri. Menurut Dale (2003) organisasi pembelajar adalah organisasi yang; 1) mempunyai suasana dimana anggota-anggotanya secara individu terdorong untuk belajar dan mengembangkan potensi penuh mereka, 2) memperluas budaya belajar ini sampai pada pelanggan, pemasok dan stakeholder lain yang signifikan, 3) menjadikan strategi pengembangan sumber daya manusia sebagai pusat kebijakan bisnis, dan 4) berada dalam proses transformasi organisasi secara terus menerus.

Lembaga pendidikan harus mampu mendorong melahirkan kondisi prasyarat yang oleh Peter Senge (1990) disebut sebagai lima hal inti dalam pembentukan organisasi pembelajar. Kondisi prasyarat tersebut harus dirancang dan dilaksanakan secara sistematis oleh lembaga pendidikan yaitu: (1)Keahlian Pribadi (Personal Mastery), (2) Model Mental (Mental Model), (3)Visi Bersama (Shared Vision), (4)Pembelajaran Tim (Team Learning), dan (5)Pemikiran Sistem (System Thinking).

Personal Mastery adalah suatu budaya dan norma organisasi yang diterapkan sebagai cara bagi semua individu dalam organisasi untuk bertindak dan melihat dirinya. Penguasaan pribadi ini mestinya harus sangat dikuasai oleh orang-orang yang bekerja di lembaga pendidikan.

Mental Model adalah suatu aktivitas perenungan yang dilakukan dengan terus menerus mengklarifikasikan dan memperbaiki gambaran-gambaran internal kita tentang dunia, dan melihat bagaimana hal itu membentuk tindakan dan keputusan kita. Model mental terkait dengan bagaimana seseorang berpikir dengan mendalam tentang mengapa dan bagaimana dia melakukan tindakan atau aktivitas dalam berorganisasi.

Shared Vision adalah suatu gambaran umum dari organisasi dan tindakan organisasi yang mengikat orang-orang secara bersama-sama dari keseluruhan identifikasi dan perasaan yang dituju. Dengan visi bersama, organisasi dapat membangun komitmen yang tinggi dalam organisasi. Selain itu organisasi dapat pula menciptakan gambaran-gambaran atau mimpi-mimpi bersama tentang masa depan yang ingin dicapai, serta prinsip-prinsip dan praktek-praktek penuntun yang akan digunakan dalam mencapai masa depan tersebut.

Team Learning adalah suatu keahlian percakapan dan keahlian berpikir kolektif dalam organisasi. Kemampuan organisasi untuk membuat individu-individu cakap dalam percakapan dan cakap dalam berfikir kolektif tersebut akan dapat meningkatkan kecerdasan dan kemampuan organisasi. Dengan kata lain dapat dinyatakan bahwa kecerdasan organisasi jauh lebih besar dari jumlah kecerdasan-kecerdasan individunya.

Systems Thinking adalah suatu cara dalam menganalisis dan berpikir tentang suatu kesatuan dari keseluruhan prinsip-prinsip organisasi pembelajar. Tanpa kemampuan menganalisis dan mengintegrasikan disiplin-disiplin organisasi pembelajar, tidak mungkin dapat menerjemahkan disiplin-displin itu kedalam tindakan organisasi yang lebih luas.

3.5.    Penyelarasan organisasi (organization alignment)

Tujuan yang diharapkan dari  alignment adalah terjadinya efek sinergi dimana penggabungan dari komponen yang ada akan menghasilkan hal yang jauh lebih besar daripada penjumlahan masing-masing individu.

Aligment harus diperlakukan sebagai sesuatu yang istimewa, antara lain top manajer harus menjadi orang yang paling bertanggung jawab untuk menjamin terlaksananya penyelarasan dalam organisasi.

Value alignment atau keselarasan nilai antara organisasi/perusahaan Muhammadiyah dan SDM sangat dibutuhkan. Jadi value alignment harus dijadikan sebagai prasyarat yang didahulukan  sebelum melihat capability alignment atau keselarasan kemampuan. Value alignment dapat menghasilkan the right person at the right place.

Proses untuk menciptakan keselarasan strategis (strategic alignment) pada suatu organisasi dimulai dari tataran tim eksekutif, berikutnya adalah membentuk sinergi strategi dan kinerja melalui apa yang disebut dengan proses penyelarasan vertikal (vertical alignment) dan penyelarasan mendatar (horizontal alignment).

Kesuksesan organisasi pada saat ini sangat tergantung pada kemampuan organisasi untuk belajar dan merespon perubahan-perubahan yang terjadi dengan cepat. Disinilah letak pentingnya organisasi pembelajar. Organisasi pembelajar adalah pengembangan kapasitas organisasi untuk terus belajar, beradaptasi dan berubah yang ditandai oleh: 1) suasana dimana anggota-anggotanya secara individu terdorong untuk belajar dan mengembangkan potensi penuh mereka, 2) memperluas budaya belajar sampai pada pelanggan, pemasok dan stakeholder lain, 3) menjadikan strategi pengembangan sumber daya manusia sebagai pusat kebijakan bisnis, dan 4) berada dalam proses transformasi organisasi secara terus menerus.

KESIMPULAN

a)    Inti dari kelemahan diatas adalah perlu peningktan profesionalisme organisasi kelembagaan antara lain Ketidak profesionalan amaliyah lembaga di Muhammadiyah adalah imbas dari pengelolaan organisasi yang tidak total dijadikan para kader sebagai aktifitas organsiasi  sebagai sandingan kegiatan dakwah dan tarbiyah di Muhamamdiyah. Bahkan revitalsasi secara teori sangat ideal sekali bagi pertumbuhan organisasi tapi dilapangan ternyata tidak bisa menyentuh cabang dan ranting, ada kesan bingung bagaimana mengaplikasikan revitalisasi tersebut. Sehingga kegiatan  dakwah dan penataan kegiatan organisasi di Muhammadiyah tidak bisa hanya dijadikan kegiatan paroh waktu  atau  sekedar prestise tanpa amal nyata atau sebagai pengisi masa pensiunan atau sebagai jenjang karier politik untuk mencari loncatan ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Sebenarnya motif apapun di Muhammadiyah sah-sah saja, asalkan masih bisa memberikan kontribusi positif bagi persyarikatan dan melakukan dengan prosedur yang syar’I dan tidak lupa dengan untuk menghidupkan kembali dakwah muhammadiyah dan riak-riak kecil dari kader-kader muda kita selama masih ada control  insya Allah kekhawatiran itu tidak akan terjadi.

b)    Tujuan yang diharapkan dari  alignment adalah terjadinya efek sinergi dimana penggabungan dari komponen yang ada akan menghasilkan hal yang jauh lebih besar daripada penjumlahan masing-masing individu. Aligment harus diperlakukan sebagai sesuatu yang istimewa, antara lain top manajer harus menjadi orang yang paling bertanggung jawab untuk menjamin terlaksananya penyelarasan dalam organisasi.Value alignment atau keselarasan nilai antara organisasi/perusahaan dan kandidat karyawan sangat dibutuhkan. Jadi value alignment harus dijadikan sebagai prasyarat yang didahulukan  sebelum melihat capability alignment atau keselarasan kemampuan. Value alignment dapat menghasilkan the right person at the right place. Proses untuk menciptakan keselarasan strategis (strategic alignment) pada suatu organisasi dimulai dari tataran tim eksekutif, berikutnya adalah membentuk sinergi strategi dan kinerja melalui apa yang disebut dengan proses penyelarasan vertikal (vertical alignment) dan penyelarasan mendatar (horizontal alignment).

c)    Kesuksesan organisasi pada saat ini sangat tergantung pada kemampuan organisasi untuk belajar dan merespon perubahan-perubahan yang terjadi dengan cepat. Disinilah letak pentingnya organisasi pembelajar. Organisasi pembelajar adalah pengembangan kapasitas organisasi untuk terus belajar, beradaptasi dan berubah yang ditandai oleh: 1) suasana dimana anggota-anggotanya secara individu terdorong untuk belajar dan mengembangkan potensi penuh mereka, 2) memperluas budaya belajar sampai pada pelanggan, pemasok dan stakeholder lain, 3) menjadikan strategi pengembangan sumber daya manusia sebagai pusat kebijakan bisnis, dan 4) berada dalam proses transformasi organisasi secara terus menerus.

DAFTAR PUSTAKA

Bolman G. Lee & trence E. Deal (2003). Reframing Organization,john wiley & Son, San fransisco.

Kaplan, Robert S & Norton David T, (2006) Alignment, Harvard Business scholl Publishing, Boston.

Jaiz, Hartono, (2007) Aliran dan Paham sesat di Indonesia, Alakautsar, Jakarta, 2008.

Buku Panduan Organisasi Muhammadiyah, Tim penyusun,2005. PD Muhammadiyah Bekasi

AD/ART Muhammadiyah, PP Muhammadiyah, Yogyakarta, 2007

Brandt, Ronald. (1993). What do you mean professional. Educational Leadership. Nomor 6 50, March.

Canella & Reiff .(1994). Individual constructivist teacher education: Teachers as empowered learners. Teacher Education Quarterly, 21(3), 27-28.

Carolin Rekar Munro. (2005). “Best Practices” in teaching and learning : Challenging current paradigms and redefining their role in education. The College Quarterly. 8 (3), 1 – 7.

Colin Marsh. (1996). Handbook for beginning teachers. Sydney : Addison Wesley Longman Australia Pry Limited.


[1] Lihat AD/ART Muhammadiyah, terbitan PP Muhammadiyah tahun 2010.

[2] Paham yang berpendapat bahwa;

[3] Istilah yang dilontarkan oleh masuknya anasir pemikiran dari luar dari organisasi yang berbasis partai dan tarbiyah.

[4] Peristilahan yang berasal dari pendapat kurzmam yang dikembangkan  nurcholis majid, dkk yang memandang semua agama sebagai jalan sejajar (hartono ahmad jaiz,”tasawuf, pluralism dan pemurtadan, al-kautsar, jakarta, 2001, hal. 116-117.

[5] JIMM sebuah singkatan dari jaringan islam muda muhammadiyah

[6] Peristilahan diMuhamamdiyah tentang penyakit masyarakat Islam yaitu Tahayul, bid’ah dan churofat yang disingkat TBC.

[7] Bolman, G. Lee, Deal Terrence E, Reframing Organization, jossey bass,san faransisco,( 2003:12-13)

[8] Reframing organisasi, hal.

[9] Metdoe kaderisasi Muhammadiyah sebagai bentuk pemahaman organisasi dan ideology Muhammadiyah secara konsisten dilakukan sejak dahulu oleh para pendidri Muhammadiyah.

[10] Makalah disampaikan pada acara Seminar dan Lokakarya Nasional “Manajemen Perguruan Tinggi Masa Depan Untuk Meningkatkan Daya Saing bangsa” pada tanggal 21 -23 Agustus 2007 di Balikpapan

**)  Rektor Universitas Muhammadiyah Malang

[11] Data statistic penelusran lulusan SMK Muhammadiyah 01 Bekasi tahun 2010 :6

# Dosen PTS Bekasi dan kandidat doktor UNJ.

 

PEMBIAYAAN PENDIDIKAN EKONOMI, PENDIDIKAN DAN EKONOMI PENDIDIKAN


Definisi Ekonomi Pendidikan

Ekonomi didefinisikan oleh P. Samuelson (1961) sebagai suatu kegiatan tentang bagaimana manusia dan masyarakat memilih, dengan atau tanpa menggunakan uang, untuk memanfaatkan sumber daya produksi yang langka untuk menghasilkan barang dan mendistribusikannya untuk kebutuhan konsumsi, sekarang dan masa yang akan datang, oleh sekelompok orang atau masyarakat”. Intinya : ekonomi adalah kegiatan mengenai produksi dan distribusi segala sumber daya yang langka baik barang maupun jasa yang dibutuhkan oleh manusia.

Dengan dua kata kunci yaitu (1) Kelangkaan (scarcity) dan (2) Kebutuhan (needs). Pendidikan, menurut Webster’s New World dictionary (1962), adalah “Suatu proses pelatihan dan pengembangan pengetahuan, keterampilan, pikiran, watak dan lain-lain, khususnya melalui sekolah formal. Kegiatan pendidikan menyangkut produksi dan distribusi pengetahuan baik di lembaga reguler maupun non reguler”. Karena mayoritas kegiatan tersebut berlangsung di lembaga pengajaran seperti sekolah swasta dan negeri.

Berdasarkan definisi ekonomi dan pendidikan, maka ekonomi pendidikan adalah “Suatu kegiatan mengenai bagiamana manusia dan masyarakat memilih, dengan atau tanpa uang, untuk memanfaatkan sumber daya produktif yang langka untuk menciptakan berbagai jenis pelatihan, pengembangan pengetahuan, keterampilan, pikiran, watak, dan lain-lain, terutama melalui sekolah formal dalam suatu jangka waktu dan mendistribusikannya, sekarang dan kelak, di kalangan masyarakat”. Intinya, ekonomi pendidikan berkaitan dengan :

  1. Proses pelaksanaan pendidikan
  2. Distribusi pendidikan di kalangan individudan kelompok yang memerlukan
  3. Biaya yang dikeluarkan oleh masyarakat atau individu untuk kegiatan pendidikan, dan jenis kegiatan apa yang dibutuhkan.

 Masalah-Masalah Pokok Ekonomi Pendidikan

Karena proses pendidikan melibatkan penggunaan sejumlah sumber daya yang langka, timbulah sejumlah permasalahan yang jawabannya harus dipandang dari sudut analisa ekonom. Untuk dapat menemukan solusi yang memadai, diperlukan Pemikiran-pemikiran Ekonom dan kerja sama dari para ahli pendidikan, sosiologi, psikologi dan sebagainya. Terdapat lima pokok permasalahan yang berkaitan dengan persoalan ini, yaitu :

  1. Identifikasi dan pengukuran nilai-nilai ekonomi pendidikan. Dalam hal ini, meliputi bagaimana perhitungan atau estimasi dari biaya pendidikan yang dikeluarkan dan keuntungan pendidikan yang diperoleh.
  2. Alokasi sumber daya dalam pendidikan, Proses pendidikan meliputi hasil keluaran proses pendidikan dari penetapan sejumlah input dalam pendidikan.
  3. Gaji guru, Disesuaikan dengan tingkat dan faktor penentu kemampuan yang dimilikinya.
  4. Anggaran/Keuangan pendidikan, Siapakah yang harus membayar pendidikan ? Apakah pemerintah harus menduk ung pendidikan di sektor pemerintah adan swasta ? Jika ya, Pada level yang yang mana pemerintah harus mengambil bagiannya ? Jika ada subsidi, apakah harus diberikan pada lembaga pendidikannya atau pada peserta didiknya ?
  5. Perencanaan pendidikan, Meliputi pembahasan perencanaan pelaksanaan pendidikan yang masuk akal, berbagai macam pendekatan terhadap perencanaan, dan beberapa makro dan mikro dari model perencanaan yang tersedia/disediakan.

Thomas H. jones (1985:3), mengatakan bahwa “The economics of education deals with relationship between educational spending and the well-being of society as a whole or certainly social group”. Ada hal yang perlu diperhatikan, yaitu pada tatanan filosofis bahwa pendidikan itu merupakan lembaga non profit, oleh karena itu kegiatan ekonomi yang bersifat ekploitatif dengan menempatkan kegiatan pendidikan sebagi lahan yang menghasilkan nilai dengan uang adalah salah (Elchanan Cohn,1979).

Pendidikan, Human Investment dan Modal Manusia.

Pendidikan mempunyai peranan penting dalam peningkatan sumber daya manusia. Pendidikan mempengaruhi secara penuh pertumbuhan ekonomi bangsa. Hal ini bukan saja karena pendidikan akan berpengaruh terhdap produktivitas, tetapi juga berpengaruh terhadap fertilitas(angka kelahiran) masyarakat. Dengan pendidikan menjadikan sumber daya manusia lebih cepat mengerti dan siap dalam meghadapi perubahan-perubahan dalam kehidupan. Jadi, pada umumnya pendidikan diakuai sebagai investasi sumber daya manusia. Pendidikan memberikan sumbangan yang besar terhadap perkembangan kehidupan sosial ekonomi melalui peningkatan pengetahuan, keterampilan, kecakapan, sikap serta produktivitas.

Dalam hubungannya dengan biaya dan manfaat, pendidikan dapat dipandang sebagai salah satu investasi (human investment) dalam hal ini, proses pengetahuan dan keterampilan melalui pendidikan bukan merupakan suatu bentuk konsumsi semata, akan tetapi merupakan suatu investasi. Hal yang sama diungkapakan pula oleh Mark Blaug (1976:19) yang menyatakan bahwa :

“…. A good case can now be made for the view that educational expenditure does partake to a surprising degree of the nature of investment in enhanced future output. To that extent, the consquences of education in the sense of skills embodied in people may be viewed as human capital, which is not to say that people themselves are being treated capital. In other word, the maintenance and improvement of skills may be seen as investment in human beings, but the resources devoted to maintaining and increasing the stock of human beings remain consumption by virtue of the abolition of slavery”.

Oleh karena itu, pendidikan merupakan suatu investasi yang berguna bukan saja untuk perorangan atau individu saja, tetapi juga merupakan investasi untuk masyarakat yang mana dengan pendidikan sesungguhnya dapat memberikan suatu kontribusi yang substansial untuk hidup yang lebih baik di masa yang akan datang. Hal ini, secara langsung dapat disimpulkan bahwa proses pendidikan sangat erat kaitannya dengan suatu konsep yang disebut dengan human capital. Hal tersebut diperkuat dengan pendapat Jones (1985:4) yang menyatakan bahwa “The people have certain skills, habit, and knowledge, which they sell to employers in the form of their wage salaried labor, and which can be expected to provide them a flow of income over their lifetimes. Furthermore, human capital can be analogized in some respects to physical capital because both are used together to produce a stream of income over some period of years”.

Bank Dunia dengan program internasionalnya telah menetapkan kepercayaan terhadap peranan investasi sumber daya manusia bagi pertumbuhan ekonomi (World Development Report, 1980) kepercayaan ini didasarkan atas studi yang dilakukan pada akhir tahun 1970-an dan awal 1980-an. Sumbangan pendidikan untuk menunjang pertumbuhan ini semakin kuat setelah memperhitungkan efek pendidikan dan bentuk investasi fisik lainnya terhadap pertumbuhan ekonomi. Dari segi teori ekonomi pendidikan, khususnya pendekatan human capital, aspek pembiayaan dipandang sebagai bagian dari investasi pendidikan yang menentukan taraf produktivitas individu maupun kelompok. Pada gilirannya taraf produktivitas ini mempengaruhi taraf perolehan (earning) seseorang atau kelompok yang pada akhirnya berkontribusi terhadap kecepatan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan.

Jika dicermati, bahwa pendidikan berfungsi untuk memberikan kemampuan pada seseorang agar mampu berperan dalam kehidupannya kelak, sehingga dapat menghasilkan sesuatu yang bermanfat bagi hidupnya. Bila berbicara mengenai investasi manusia, jelas tidak boleh lepas dari fungsi pendidikan.Adam Smith dan Alfred Marshall (dalam Knezvich, 1975:539) mengemukakan keyakinannya bahwa  “the most valuable of all capital is that invested in human beings”.

SDM (Human Capital) : Kompetensi : – personal

                                      o Skill

                                          o Social (kerjasama)

 

 

 

Jadi : biaya akan bermakna apabila tercipta kualitas (mutu) pendidikan berharga dilihat dari sudut pandang ekonomi : bahwa semakin tinggi ilmu semakin tinggi pendapatan. (sedangkan barang makin lama makin berkurang nilainya (depresiasi) keuntungan dari pendidikan dapat digolongkan menjadi 2, yaitu  :

–       Functional benefit : keuntungan yang dapat menghasilkan

–       Emotional benefit : hanya untuk kepuasan, dalam kaitannya dengan SDM, pendidikan tidak hanya untuk mendaptakan ijazah dan gelar, tetapi adanya perubahan tingkah laku yang mempunyai Nilai Ekonomis dalam kehidupannya.

 

D. Biaya Pendidikan

Biaya dalam pendidikan meliputi biaya langsung dan biaya tidak langsung. Hal tersebut sesuai dengan pendapat R. Johns, Edgar L. Morphet dan Kern Alexander (1983:45) yang menyatakan bahwa “Education has both private and sicoal cost, which may be both direct and indirect, direct cost are incurred for tuition, fees, books, room andboard. In a public school, the majority of these costs are subsuned by the public treasury and thus become social costs. Indirect costs of education are embodied in the earnings which are forgone bay all persons of working age, but forgeno earnings are also a cost to societ, a reduction in the total productivity of the nation”.

Biaya langsung terdiri dari biaya-biaya yang dikeluarkan untuk keperluan pelaksanaan pengajaran dan kegiatan belajar siswa. Kebanyakan biaya langsung berasal dari sistem persekolahan sendiri seperti SPP, dan Sumbangan Orang Tua murid untuk pendidikan atau yang dikeluarkan sendiri oleh siswa untuk membeli perlengkapan dalam melaksanakan proses pendidikannya, seperti biaya buku, peralatan dan uang saku. Sedangkan biaya tidak langsung berupa keuntungan yang hilang dalam bentuk kesempatan yang hilang dan dikorbankan oleh siswa selama belajar (Cohn,1979; Thomas Jone,1985; Alan Thomas, 1976. dalam Nanang Fattah 2000,23). Menurut Cohn (1979:62), biaya pendidikan dapat dikategorikan sebagai berikut :

a)    Biaya langsung, yaitu biaya yang dikeluarkan secara langsung untuk membiyai penyelenggaraaan pengajaran, penelitian dan pengabdian pada masyarakat, seperti gaji guru, pegawai non edukatif, buku-buku pelajaran dana bahan perlengkapan lainnya. Hal ini berpengaruh pada hasil pendidikan berupa nilai pengorbanan untuk penyelenggaraan kegiatan-kegiatan tersebut.

b)    Biaya tak langsung (Indirect cost), yaitu meliputi hilangnya pendapatan peserta didik karena sedang mengikuti pendidikan. Bisa juga berupa keuntungan yang hilang (earning forgone) dalam bentuk biaya kesempatan yang hilang (opportunity cost) yang dikorbankan oleh siswa selama belajar. Bentuk-bentuk dan beberapa kategori dari biaya pendidikan masyarakat dan swasta menurut R. Johns, Edgar L. Morphet dan Kern Alexander (1983:45),yaitu :

Direct Cost

Indirect cost

  1. 1.     Social

–     Salaries of teacher, administrators and nonprofesional personnel

–     Books, supplies and equipment

–     Transportation

–     Room anf board

–     Scholarship and other subsidies to students

–     Capital expenditure

 

  1. 2.     Private

–     Tuition and fees

–     Books, suplies and equipment

–     Extra travel

–     Room and board

 

1. Social

– Earning forgone

 

2.Private

– Earning forgone

 

 

Sedangkan menurut Elchanan C (1979:62), menyebutkan bahwa : “Direct cost have received by far the bulk of attention, perhaps because the consequences of such costs are directly and strongly felt by the tax payer and, of course, because statistics on direct school outlays are readily available (or estimable), where as indirect cost must be imputed. The majority of direct cost are incured by the school systems themselves”.

c) Private Costs dan Social Costs

Private cost adalah biaya yang dikeluarkan keluarga untuk membiayai sekolah anaknya dan termasuk didalamnya opportunity cost.

Social cost sebagai biaya publik, yaitu sejumlah biaya yang dibayar masyarakat untuk pembiayaan sekolah.

d) Monetary dan Non Monetary cost

Monetary cost dapat berupa biaya langsung atau biaya tidak langsung, yang mungkin dibayar masyarakat ataupun oleh perorangan. Dengan kata lain Monetary cost adalah nilai pengorbanan yang terwujud dalam pengeluaran uang.

Non Monetary cost adalah nilai pengorbanan yang tidak diwujudkan dengan pengeluaran uang sepeti biaya yang diperhitungkan dimana seorang siswa tidak mengambil kesempatan waktu senggangnya untuk bersenang-senang tetapi digunakan untuk membaca buku.

Perhitungan biaya dalam pendidikan akan ditentukan oleh unsur-unsur tersebut yang didasarkan pula pada perhitungan biaya yang nyata sesuai dengan kegiatan menurut jenis dan volumenya. Dalam konsep pembiayaan pendidikan ada dua hal penting yang perlu dikaji dan dianalisis yaitu biaya pendidikan secara keseluruhan dan biaya satuan per siswa. Biaya satuan ditingkat sekolah merupakan biaya pendidikan tingkat sekolah, baik yang bersumber dari pemerintah, orang tua dan masyarakat yang dikeluarkan untuk penyelenggraan pendidikan dalam satu tahun pelajaran. Hal tersebut, dipertegas pula oleh Howard R. bowen (1981:1) yang menyebutkan “Cost usually appear in the form of expenditures of money. Similarly, costs of colleges and universities are usuallymoney payments to acquire the resources needed to operate the institutions”.

Biaya satuan per murid merupakan ukuran yang menggambarkan seberapa besar uang yang dialokasikan ke sekolah-sekolah secara efektif untuk kepentingan murid dalam menempuh pendidikan. Hal ini ditekankan pula oleh Howard R. bowen (1981:4) yang menyebutkan bahwa “What passed as cost per unit was computed simply by adding up total institutional expenditures for all purposes and dividing by the number of students”. Dengan menganalisis biaya satuan, memungkinkan untuk mengetahui efesiensi dalam penggunaan sumber-sumber di sekolah, keuntungan dari investasi pendidikan, dan pemerataan pengeluaran masyarakat. Dalam hal biaya nyata dalam suatu pendidikan, Howard R. bowen (1981:2), berpendapat bahwa “The real cost, however, lie beneath the money payments. The products of outcomes of higher education are obtained through the use of scarce resources. The real cost of higher education, then, consists of benefits that might have been realized from these resources, but were sacrified, because these resources were committed to higher education”.

Disamping biaya yang nyata, Howard R. Bowen (1981:3), juga menjelaskan biaya keseluruhan (unit cost) yang menyatakan bahwa :“All that needed is to add up all expenditures-making sure to include only the costs that are properly allocated to the year inquestion. But, even when adjusted for changes in the value of the dollar, this total is not meaningful for comparisons over time or among institutions unless it is related to the number of units service rendered”.

Oleh karena itu, perencanan program biaya sekolah harus komprehensif dan melibatkan pembuat keputusan yang kritis menyangkut bidang pokok:

  1. Program pendidikan yang didanai.
  2. Sistem pajak yang digunakan untuk membiayai program tersebut.
  3. Sistem alokasi dana negara untuk wilayah atau daerah persekolahan.

Dalam menetapkan biaya pendidikan yang diperlukan, harus disusun perencanaan pembiayaan pendidikan. Maka, suatu proyeksi biaya pendidikan yang didasarkan atas kebutuhan dalam kaitannya dengan pembiayaan pendidikan di tingkat negara, yaitu dengan membuat alternatif proyeksi pendidikan sekurang-kurangnya 5-6 tahun mendatang Alternatif proyeksi biaya pendidikan harus bedasarkan pada asumsi-asumsi:

  1. Kecepatan rasio pertumbuhan.
  2. Jumlah imigrasi ke negara.
  3. Tipe program pendidikan untuk target populasi dengan perbedaan kebutuhan.
  4. Perbedaan biaya untuk tipe yang berbeda program pendidikan.
  5. Jumlah siswa yang mungkin akan pindah dari sekolah
  6. Perbedaan biaya yang dibutuhkan berdasarkan pada jarang atau padatnya penduduk.
  7. Tingkat kualitas pendidikan.
  8. Kekuatan memperoleh uang.

Seperti yang telah dikemukakan diatas, bahwa pembiayaan pada suatu persekolahan terpusat pada penyaluran keuangan dan sumber-sumber pendapatan lainnya untuk pendidikan. Dimana, distribusi atau penyaluran tersebut mencakup dua kategori yaitu bagaimana uang itu diperoleh dan bagaimana dibelanjakan agar proses pendidikan dapat berjalan dengan baik dan sesuai dengan tujuan pendidikan yang diharapkan.Aspek penting lain yang perlu dikaji adalah peraturan perundang-undangan pendidikan, perkembangan historis pemerintah pusat, kecenderungan termasuk masa yang akan datang.

Oleh karena itu, dalam menetapkan biaya pendidikan perlu di dukung dengan data dan informasi mengenai siapa yang harus dididik, berapa jumlah yang harus dididik, tujuan dan sasaran apa yang ingin dicapai, program pendidikan apa yang akan dilakukan sebagai suatu usaha dalam mencapai tujuan dan sasaran tersebut.

Bank Dunia (1998) dalam buku Reformasi Pendidikan Dalam Konteks Otonomi Daerah, menyarankan bahwa dalam jangka pendek, pembiayaan pendidikan seyogyanya diarahkan untuk melanjutkan investasi yang telah dilaksanakan di masa lalu, dan juga untuk melindungi kelompok masyarakat miskin dari dampak krisis. Dalam jangka menengah dan jangka panjang, perhatian seyogyanya diarahkan kepada pencapian pendidikan dasar yang menyeluruh dan persiapan untuk desentralisasi.

Menurut Thomas H. Jones dalam bukunya “Introduction to School Finance; Technique and Social Policy”(1985:250), mengungkapkan tentang prinsip-prinsip atau model pembiayaan pendidikan yang diberlakukan oleh pemerintah, yaitu :

  1. Flat Grant, model ini mendistribusikan dana-dana negara bagian tanpa mempertimbangkan jumlah uang yang berhasil dikumpulkan oleh pajak lokal atau pembagian sama rata.
  2. Full State Funding, model ini pembiayaan ditanggung sepenuhnya oleh negara yaitu menghapus semua perbedaan lokal, baik dalam pembelanjaan maupun dalam perolehan pajak.
  3. The Foundation Plan, model inio ditekankan pada patokan tarif pajak property minimum dan tingkat pembelanjaan minimum untuk setiap distrik sekolah lokal di negara bagian.
  4. Guaranteed Tax Base, model ini merupakan matching plan, dimana negara membayar presentase tertentu dari total biaya pendidikan yang diinginkan oleh setiap distrik sekolah.
  5. Percentage Equalizing, model ini merupakan bentuk dari Guaranteed Tax Base, dimana negara menjamin untuk memadukan tingkat-tingkat pembelanjaan tahun pertama di distrik lokal dengan penerimaan dari suymber-sumber negara dan match berada pada suatu rasio variabel.
  6. Power Equalizing, model ini memerintahkan distrik-distrik yang sangat kaya untuk membayarkan sebagian pajak sekolah yang mereka pungut ke kantong pemerintah negara bagian.

 

Mengukur Manfaat Biaya Pendidikan (Cost Benefit Analysis)

Manfaat biaya pendidikan oleh para ahli pendidikan sering disebut dengan Cost Benefit Analysis, yaitu rasio antara keuntungan financial sebagai hasil pendidikan (biasanya diukur dengan penghasilan) dengan seluruh biaya yang dikeluarkan untuk pendidikan. (Nanang F., 2000:38). Sedangkan Mark Blaug dalam Economics of education (1976:121) mengatakan bahwa : Cost benefit analysis as a technique for evaluating public investment projects that compete actually or potentially with similar projects in the private sector: that is, the market mechandism generates prices for the activity in question which can be used to translate the benefits of the public project into term directly comparable to its costs”.

Coombs dan Hallak (1972:255) dalam bukunya yang berjudul Managing Educational Cost, menyebutkan bahwa :“Cost benefit as the relationship between the inputs and resulting benefit that accrue thereafter. It use to measure of external productivity”.

Psacharopoulos, (1987:397), dalam bukunya Economics of Education, menyebutkan hal senada dengan Mark Blaug, yaitu :“Cost benefit analysisis to compare the opportunity cost of a project with the expected benefit, measured in the terms of the additions to income that will accrue in the future as a result of the investment”.

Dalam mengukur manfaat biaya pendidikan berdasar kepada konsep biaya pendidikan sifatnya lebih kompleks dari keuntungan, karena komponen-komponen biaya terdiri dari lembaga jenis dan sifatnya. Biaya pendidikan bukan hanya berbentuk uang atau rupiah, tetapi juga dalam bentuk biaya kesempatan. Biaya kesempatan (income forgone) yaitu potensi pendapatan bagi seorang siswa selama ia mengikuti pelajaran atau menyelesaikan studi. Dengan demikian, biaya keseluruhan (C) selama di tingkat persekolahan terdiri dari biaya langsung (L) dan biaya tidak langsung (K). Dalam rumusannya digambarkan sebagai berikut :

C = L + K

Biaya pendidikan merupakan dasar empiris untuk memberikan gambaran karakteristik keuangan sekolah (Nanang Fattah,2000:25). Analisis efisiensi keuangan sekolah dalam pemanfaatansumber-sumber keuangan sekolah dan hasil sekolah dapat dilakukan dengan cara menganalisis biaya satuan per siswa. Biaya satuan per siswa adalah biaya rata-rata per siswa yang dihitung dari total pengeluaran sekolah dibagi seluruh siswa yang ada di sekolah dalam kurun waktu tertentu. Sedangkan untuk menghitung biaya per siswa, menurut Howard R. bowen (1981:12), menyatakan bahwa “The cost per student unit results from three societal decisions that reflect the combined influence of the many persons and public authorities who control the flow of funds to higher education. These theree decisionspertain to : the total amount to be spent on higher education, the number of units of service to be provided, and the level of quality”.

Dalam menentukan biaya satuan, menurut Nanang Fattah (2000:26) terdapat dua pendekatan, yaitu pendekatan makro dan pendekatan mikro. Pendekatan makro mendasarkan perhitungan pada keseluruhan jumlah pengeluaran pendidikan yang diterima dari berbagai sumber dana kemudian dibagi jumlah murid. Pendekatan mikro mendasarkan perhitungan biaya berdasarkan alokasi pengeluaran per komponen pendidikan yang digunakan oleh murid atau menganalisis biaya pendidikan berdasarkan pengeluaran total (total cost) dan jumlah biaya satuan (unit cost) menurut jenis dan tingkat pendidikannya. Dalam pendekatan makro, terdapat karakteristik pendidikan yang mempengaruhi biaya, yaitu :

  1. Skala gaji guru dan jam terbang mengajar
  2. Penataran dan latihan pra jabatan
  3. Pengelompokan siswa di sekolah dan di dalam kelas
  4. Sistem evaluasi
  5. Supervisi pendidikan

Dalam pendekatan mikro, perhitungan satuan biaya pendidikan dapat menggunakan formula sebagai berikut :

 

 

Dengan mengetahui besarnya biaya satuan per siswa menurut jenjang dan jenis pendidikan berguna untuk menilai berbagai alternatif kebijakan dalam upaya peningkatan mutu pendidikan.Dalam mengukur manfaat pendidikan, Nanang Fattah (2000 :28), mengemukakan bahwa keuntungan pendidikan tidak selalu dapat diukur dengan standar nilai ekonomi dan uang. Hal ini disebabkan manfaat pendidikan, di samping memiliki nilai ekonomi, juga memiliki nilai sosial.

Dalam pengukuran dampak pendidikan terhadap keuntungan ekonomi atau pendapatan seseorang dari produktivitas yang dimilikinya, memerlukan asumsi-asumsi. Asumsi bahwa produktivitas seseorang dianggap merupakan fungsi dari keahlian dan keterampilan yang diperoleh dari pendidikan.Sedangkan Elchanan C (1979:30), menjelaskan bahwa : “According to the dualist (or segmentists), the connection between education and income, is not related to worker productivity per se, but rahter to some key characteristics that distinguish workers who are admitted to the primary labor market from those who are not so fortunate. In the screening hypothesis, education and income are related, albeit not because of changes in productivity but rahter due to the use by employers of educational credentials as a selection device”.

Ukuran hasil pendidikan kita gabungkan dengan data biaya pendidikan dapat menjadi ukuran efisiensi eksternal. Ada empat kategori yang dapat dijadikan indikator dalam menentukan tingkat keberhasilan pendidikan yaitu :

  1. Dapat tidaknya seorang lulusan melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi.
  2. Dapat tidaknya seseorang memperoleh pekerjaan
  3. Besarnya penghasilan/gaji yang diterima
  4. Sikap perilaku dalam konteks sosial, budaya dan politik.

Menurut Elchanan C (1979:37), dalam mengukur manfaat dari pendidikan terdiri dari 3 (tiga) pendekatan, yaitu : 1) The simple corelation aproach, 2) The residual approach, and 3). The returns to education approach.

 

F. Efisiensi Pendidikan (Cost Effectiveness Analysis)

Istilah efisiensi pendidikan menggambarkan hubungan antara input (masukan) dan output (keluaran) dari suatu pelaksanaan proses pendidikan.

Coombs dan Hallak (1972:255), berpendapat bahwa “cost effectivenessas the relationship between the inputs and corresponding immediate educational outputs of any educational process. It is to measure of internal efisiensi”. Sedangkan Mark Blaug, (1976:121) berpendapat bahwa cost effectivenessis the appropriate evaluation technique in such all cases”.

Efisiensi pendidikan menurut Nanang Fattah (2000 :35) artinya memiliki kaitan antara pendayagunaan sumber-sumber pendidikan yang terbatas sehingga mencapai optimalisasi yang tinggi. Dalam biaya pendidikan, efesiensi hanya akan ditentukan oleh ketepatan di dalam mendayagunakan anggaran pendidikan dengan memberikan prioritas pada faktor-faktor input pendidikan yang dapat memacu pencapaian prestasi belajar siswa. Untuk mengetahui efesiensi biaya pendidikan biasanya digunakan metode analisis keefektifan biaya (cost effectiveness Analysis) yang memperhitungkan besarnya kontribusi setiap masukan pendidikan terhadap efektivitas pencapaian tujuan pendidikan atau prestasi belajar.Upaya efisiensi dapat dikelompokkan ke dalam dua jenis, yaitu efisiensi internal dan efisiensi eksternal. Kedua konsep tersebut satu sama lain erat kaitannya.

Efisiensi internal dapat dinilai melalui suatu sistem pendidikan yang menghasilkan output yang diharapkan dengan biaya minimum. Dapat pula dinyatakan bahwa dengan input yang tertentu dapat memaksimalkan output yang diharapkan. Output acapkali diukur dengan indikator-indikator seperti angka kohort, yaitu proporsi siswa yang dapat bertahan sampai akhir putaran pendidikan, pengetahuan keilmuan, keterampilan, ketaatan kepada norma-norma perilaku social. Karena dengan alasan inilah persoalan-persoalan mutu pendidikan biasanya dibahas dengan memperhatikan efisiensi internal dari system pendidikan.Untuk menilai efisiensi internal dapat dilakukan dengan cara membandingkan antara seleksi di dalam putaran-putaran pendidikan dan seleksi diantara putaran pendidikan. Tingginya angka retensi di dalam putaran-putaran pendidikan merupakan indikator yang diperlukan untuk mengetahui efisiensi internal.

Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengukur efisiensi internal adalah sebagai berikut :

1. Rata-rata lama belajar (Average study time)

Metode ini digunakan untuk mengetahui berapa lama seorang lulusan menggunakan waktu belajarnya dengan cara menggunakan statistik kohort (kelompok belajar). Cara penghitungannya adalah jumlah waktu yang dihabiskan lulusan dalam suatu kohort dibagi dengan jumlah lulusan dalam kohort tersebut.

Contoh : Jika di suatu SLTP hanya terdapat tiga orang lulusan masing-masing menghabiskan waktu 3, 4 dan 5 tahun, maka lama belajar rata-rata adalah : 4

Artinya : rata-rata waktu belajar seorang lulusan ialah 4 tahun, setahun lebih lama dari waktu ideal belajar untuk tingkat SLTP, maka semakin besar rata-rata waktu belajar, waktu semakin tidak efisien.

2. Rasio Input – Output (Input-Output Ratio (IOR) merupakan perbandingan antara jumlah murid yang lulus dengan murid yang masuk awal dengan memperhatikan waktu yang seharusnya ditentukan untuk lulus. Artinya, membandingkan antara tingkat masukan dengan tingkat keluaran.Sedangkan Efesiensi eksternal, sering dihubungkan dengan metode cost benefit analysis. Efisiensi eksternal dihubungkan dengan situasi makro yairtu pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan social sebagai dampak dari hasil pendidikan.Pada tingkat makro bahwa individu yang berpendidikan cenderung lebih baik memperoleh pendapatan yang lebih tinggi dan kesehatan yang baik.Analisis efisiensi eksternal berguna untuk menentukan kebijakan dalam pengalokasian biaya atau distribusi anggaran kepada seluruh sub-sub sektor pendidikan. Efisiensi eksternal juga merupakan pengakuan sosial terhadap lulusan atau hasil pendidikan.

Dalam menganalisis efisiensi eksternal, dalam bidang pendidikan dapat dibedakan dalam dua jenis, yaitu :

  1. Keuntungan perorangan (private rate of return), yaitu perbandingan keuntungan pendidikan kepada individu dengan biaya pendidikan dari individu yang bersangkutan.
  2. Keuntungan masyarakat (social rate of return), yaitu perbandingan keuntungan pendidikan kepada masyarakat dengan biaya pendidikan masyarakat Jadi, efisiensi eksternal pendidikan meliputi tingkat balik ekonomi dan investasi pendidikan pada umumnya, alokasi pembiayaan bagi jenis dan jenjang pendidikan.

Untuk menentukan keputusan apakah suatu program pendidikan yang telah dibiayai itu memberikan tingkat balik dapat dihitung dengan menggunakan formulasi berikut :

 

Net profit merupakan keuntungan bersih dari suatu kegiatan usaha yang diproleh dari pendapatan kotor setelah dikurangi pajak dan biaya-biaya operasional. Sedangkan total asset merupakan biaya investasi keseluruhan yang dikorbankan untuk membiayai suatu kegiatan. Apabila ROI rata-rata sepanjang masa kegiatan atau proyek diperoleh lebih rendah dari tingkat balik yang dibutuhkan berarti investasi tersebut tidak layak;Sebaliknya jika rata-rata nilai proyek lebih tinggi dari tingkat balik yang dibutuhkan berarti investasi tersebut layak. Sedangkan Internal Rate of Return (IRR) dapat dihitung dengan :

 

IRR = NetProfit + Depresiasi

 

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa efisiensi internal dan efisiensi eksternal mempunyai kaitan yang sangat erat. Kedua aspek tersebut saling melengkapi satu sama lain dalam menentukan efisiensi system pendidikan secara keseluruhan (Cohn, 1979; Mingat Tan, 1988, dalam Nanang Fattah, 2000:40).Secara konseptual efisiensi pendidikan meliputi cost-efectiveness dan cost benefit. Cost effectiveness dikaitkan dengan perbandingan biaya input pendidikan dan efektivitasnya dalam mendukung hasil- hasil belajar.

Efisiensi internal atau cost effectiveness sangat bergantung pada dua faktor utama yaitu :

1. Faktor institusional

2. Faktor manajerial

Dalam analisanya dapat juga digunakan metode RoR (Rate of Return) atau tingkat kembali, dimana membandingkan keuntungan moneter dengan biaya pelaksanaan program, yang mencakup perhitungan perkiraan biaya-biaya.

Rumusannya adalah :

 

 

Pedoman yang perlu diperhatikan setelahmelakukan perhitungan tersebut adalah :

  1. Jika RoR-nya lebih besar dari investasi, maka proyek tersebut layak dilaksanakan.
  2. Jika RoR-nya lebih kecil dari investasi, maka sebaiknya proyek tersebut jangan dilaksanakan
  3. Jika RoR-nya = 0, maka proyek tersebut tidak untung dan tidak rugi (Break Event Point).

Sedangkan cost benefit dikaitkan dengan analisis keuntungan atas investasi pendidikan dari pembentukan kemampuan, sikap, keterampilan. Terdapat dua hal penting dalam hal investasi tersebut, yaitu :

  1. Investasi hendaknya menghasilkan kemampuan yang memiliki nilai ekonomi di luar intrinsiknya.
  2. Nilai guna dari kemampuan Karena keuntungan tersebut bukan dalam bentuk uang, maka diperlukan penyesuaian cara-cara dalam memperhitungkannya, yaitu dengan cara menentukan nilainya berdasarkan atas biaya perbandingan pengeluaran untuk barang-barang yang tidak dapat dipasarkan.

Hal ini dapat dinyatakan secara simbolis, sebagaimana formula Zymelman (1975) sebagai berikut :

 

 
 

Bt = Bp + BnP

 

Bt : jumlah keuntungan

BnP : Ct –Bp

Bp : Keuntungan bukan moneter

Ct : Jumlah biaya

 

 

 

 

 

 

 

Atau dapat dihitung dengan NPV (Net Present Value), yaitu rasio nilai yang akan datang/sekarang terhadap tingkat keuntungan. Persamaan yang dipakai adalah sebagai berikut :

 

 Keterangan :

TR : Total Revenue

TC : Total Cost

FV : Future Value (rasio nilai yang akan datang)

R   : Tingkat Keuntungan

T   : Waktu (tahun) dalam periode tertentu Kriteria-Kriteria aturan keputusan untuk investasi.

Upaya-upaya dalam meningkatkan efisiensi pembiayaan pendidikan perlu diarahkan pada hal-hal pokok berikut ini :

  1. Pemerataan kesempatan memasuki sekolah (equality of access).
  2. Pemerataan untuk bertahan di sekolah (equality of survival)
  3. Pemerataan kesempatan untuk memperoleh keberhasilan dalam belajar (equality of output)
  4. Pemerataan kesempatan menikmati manfaat pendidikan dalam kehidupan masyarakat (equality of outcome)

Konsep peningkatan efisiensi pembiayaan pendidikan akan mempunyai makna jika dihubungkan dengan konsep efisiensi, baik secara internal maupun secara eksternal.

 Bentuk Biaya Pendidikan Lainnya

Dengan mengkuantitaskan produksi pendidikan, jumlah hasil ujian dapat dihitung dengan menghitung secara sederhana jumlah anak didik yang mencapai suatu standar pendidikan dan juga dapat mempertimbangkan kapasitas produksi dalam pengertian jumlah guru, jumlah kelas, jumlah kehadiran, dan jumlah peserta didik. Dengan demikian dapat dihitung biaya per lulusan, biaya menurut tingkatan pendidikan yang dicapai, biaya unit per anak didik, biaya rata-rata kehadiran sehari-hari, biaya modal per kelas, dan biaya rata-rata per kelas.

  1. Biaya per Lulusan, yaitu, perbandingan antara keseluruhan biaya untuk sekelompok peserta didik dengan jumlah yang lulus.Pekerjaan ini tidak mudah, karenanya orang lebih menyederhanakan dengan memperkirakan jumlah rata-rata mereka yang lulus selama jangka waktu tertentu dengan membandingkan jumlah biaya pendidikan yang dihitung dari biaya rata-rata peserta didik.
  2. Rata-rata biaya kehadiran sehari-hari yaitu dihitung dengan Recurrent Cost (biaya berulang) dibagi dengan jumlah peserta didik yang hadir setiap hari (yaitu rata-rata setiap hari).
  3. Biaya Modal per Tempat Untuk keperluan proyeksi dalam menganggarkan biaya modal maka perlu dihitung biaya modal per tempat, yaitu dengan menghitung jumlah biaya pendirian dan perlengkapan permulaan dibagi dengan jumlah tempat yang tersedia.
  4. Biaya Rata-rata per Kelas Yaitu dengan menghitung rasio antara biaya keseluruhan dengan jumlah kelas yang ada.
  5. Recurrent Cost per rata-rata pendidik Pengajar memiliki kedudukan yang penting dalam proses belajar mengajar. Hampir 65% atau 70% dari recurrent cost digunakan untuk gaji guru. Karena itu, dengan menghitung biaya berulang per rata-rata pendidik, dapat dikaitkan dengan tingkat pelayanan.

Kesimpulan

Berdasarkan paparan di atas dapat disimpulkan bahwa  pendidikan merupakan investasi pada sumber daya manusia. Ekonomi pendidikan merupakan suatu kegiatan mengenai bagiamana manusia dan masyarakat memilih, dengan atau tanpa uang, untuk memanfaatkan sumber daya produktif yang langka untuk menciptakan berbagai jenis pelatihan, pengembangan pengetahuan, keterampilan, pikiran, watak, dan lain-lain, terutama melalui sekolah formal dalam suatu jangka waktu dan mendistribusikannya, sekarang dan kelak, di kalangan masyarakat. Intinya, ekonomi pendidikan berkaitan dengan Proses pelaksanaan pendidikan, distribusi pendidikan di kalangan individu dan kelompok yang memerlukan serta biaya yang dikeluarkan oleh masyarakat atau individu untuk kegiatan pendidikan, dan jenis kegiatan apa yang dibutuhkan.

Ekonomi pendidikan diperlukan karena proses pendidikan melibatkan penggunaan sejumlah sumber daya yang langka dan jawabannya harus dipandang dari sudut analisa ekonomi meskipun secara ekonomi pendidikan merupakan lembaga non profit.

Biaya pendidikan dikategorikan sebagai biaya langsung dan biaya tidak langsung. Sedangkan manfaat biaya pendidikan diukur dengan cost benefit analysis. Sedangkan efisiensi biaya pendidikan diukur dengan ROI, IRR, ROR, dan NPV.

 

 

Samuelso, Paul A., Economics, 11th Edition, McGraw-Hill Book Co., New York,

ARAH BARU DALAM PENDIDIKAN


PENDAHULUAN

Pada hakekatnya proses pendidikan merupakan akumulasi pemberdayaan seseorang untuk menemukan integritas dirinya sendiri. Melalui aktivitas pendidikan itulah seseorang diharapkan dapat memperoleh kemampuan yang dibutuhkan dirinya maupun oleh lingkup masyarakatnya, sehingga mampu memberikan kontribusi nyata sesuai dengan kapasitas kompetensinya. Kompetensi individual sebagai hasil belajar, diharapkan mampu menjadi modal dasar berkontribusi di masyarakat untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Oleh karena itu pendidikan kita memerlukan reorientasi  yang tidak hanya didominasi oleh Cognitive domain, akan tetapi harus diarahkan pada terbentuknya keseimbangan dengan moral and social action (Suyanto,2006). Itu sebabnya dalam implementasinya pendidikan skolastik yang humanistis tidak sekedar mengangkat harkat kemanusiaan seseorang dari sisi intelektualnya, akan tetapi juga esensi etika, estetika dan kinestika dari dalam potensi diri pembelajar. Dengan demikian konsep belajar dalam pendidikan, selain menghantarkan seseorang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga dapat melakukan “sesuatu”, juga menghantarkan perubahan dalam pribadi seseorang untuk menjadi dirinya sendiri yang lebih baik, bahkan memenuhi kaidah kelayakan untuk diteladani dalam kehidupan masyarakat-nya. Dengan bekal keseimbangan pribadi seperti itulah, peserta didik kita, diharapkan mampu menjadi agen perubahan (agent of change) untuk memenangkan setiap event kompetisi terbuka dalam kehidupan nyata yang tergelar dihadapan mereka.

Disini kita lihat betapa peran strategis pendidikan nasional didalam mewujudkan cita-cita nasional. Di dalam hal ini perlu kita sepakati bahwa proses pendidikan bukan hanya sesuatu yang terjadi di antara dinding-dinding sekolah atau akademi atau pendidikan tetapi terjadi di dalam kehidupan manusia secara keseluruhan di dalam keluarga, di dalam masyarakat dan bernegara dengan berbagai aspek kehidupan politik, ekonomi, hukum, dan kebudayaan. Pendidikan dalam arti yang sebenarnya adalah segala bentuk interaksi manusia dalam masyarakat untuk mewujudkan suatu cita-cita bersama. Dengan demikian penanggulangan krisis masyarakat Indonesia dewasa ini dan usaha reformasi kehidupan yang akan datang merupakan pula program yang sangat esensial di dalam pengembangan sistem pendidikan nasional.

KONDISI RIIL BAGIAN WAJAH PENDIDIKAN KITA

Realita yang ada dihadapan kita saat ini adalah kondisi pendidikan yang memprihatinkan, karena tereduksinya potensi humanisme oleh dominasi kompetensi akademik yang ternyata juga rendah mutunya, sehingga menyebabkan terjadinya penurunan kemampuan daya saing kita di tingkat global. Kita sadari sepenuhnya bahwa masalah mutu pendidikan kita, sudah sampai pada tingkat masalah “multidimensional” yang tidak lagi linear serta berdiri sendiri. Terlebih oleh pengaruh yang sangat dominan dalam bentuk anomali pranata kehidupan sosial, sehingga menimbulkan rusaknya tatanan “normatif dan estetis bangsa ini”. Betapa mengerikan bila kita lihat data tahun 2004 yang dilansir oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, bahwa dari 500 Perguruan Tinggi terkemuka di dunia, tidak satupun di dalamnya terdapat Perguruan Tinggi kita, bahkan dari 50 Perguruan Tinggi terkemuka di Asia, juga tidak satupun di dalamnya terdapat Perguruan Tinggi Indonesia. Baru di awal tahun 2007 terekam adanya beberapa Perguruan Tinggi kita seperti Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada dan Institut Teknologi Bandung dapat menembus posisi 250-an di jenjang internasional. Dapat dibayangkan di mana posisi hasil belajar peserta didik kita pada jenjang pendidikan dasar dan menengah saat ini, yang terekam dalam laporan peringkat Human Development Index (HDI) bersama 175 negara lain di dunia, dan posisi Indonesia sampai saat ini (Februari 2007) belum mampu berada di peringkat 108 sekalipun. Padahal indikator pendidikan (angka melek huruf dan lama belajar) menjadi bagian dari 2 indikator lain (ekonomi dan kesehatan) dalam penetapan peringkat HDI. Di dalam negeri kondisi ini diperparah oleh keinginan sebagian masyarakat kita yang muncul dengan kondisi kurang memahami akan makna “iklim kompetitif” di dalam prespektif psikologi perkembangan bagi pembelajar. Kelompok masyarakat ini lebih menghendaki agar setiap momentum evaluasi akhir jenjang, harus membebaskan setiap pembelajar dari batasan kompetensi minimal, pada satu periode tahun pelajaran saja. Sehingga manakala dilakukan ujian (termasuk Ujian Sekolah, maupun Ulangan Umum Sekolah, apalagi Ujian Nasional), semua peserta ujian “harus dinyatakan lulus” (kompeten). Dan anehnya penyelenggara Ujian Nasional tahun pelajaran 2004/2005 (Depdiknas) tergelincir dengan negosiasi politis telah menetapkan adanya Ujian Nasional Ulang, bagi mereka yang tidak lulus Ujian Nasional (utama maupun susulan). Aneh tapi nyata, itulah komentar para Guru yang benar-benar memahami akan makna Ujian.

Menurut logika penganut faham ini, proses pembelajaran skolastik hanyalah prasyarat administratif untuk memberikan lebel “tanda tamat belajar” dari jenjang pendidikan tertentu tanpa perlu diikuti dengan akuntabilitas kompetensi hasil belajarnya. Keterbatasan wacana seperti ini bahkan sudah berkembang dan menimbulkan masalah baru, bahwa pada setiap tahapan ganti kurikulum, maka semua pembelajar yang berada pada tahun pelajaran kurikulum lama, harus dihabiskan atau diluluskan. Dengan demikian terjadilah reduksi makna dari proses remidiasi yang berupaya melakukan pemberdayaan pembelajar untuk memperoleh kemampuan kompetitifnya, melalui keseimbangan serta kematangan psikologisnya.

Sampai saat ini belum dapat kita fahami pemikiran kelompok masyarakat yang menolak adanya standarisasi mutu hasil belajar di sekolah. Apalagi dengan dalih bahwa proses standarisasi telah menyebabkan depresi psikologik peserta didik, hal ini sangat bertentangan dengan teori belajar yang banyak kita anut. Profesor Johanes Surya, PhD, yang sangat dikenal di kalangan Guru sekolah, karena kesuksessan peserta didik kita di berbagai event internasional Olimpiade Fisika, secara tidak langsung telah menentang pendapat kelompok tersebut dengan teori Semesta Mendukung – MESTAKUNG, (2006). Teori mestakung manyatakan bahwa situasi krisis akan menghasilkan kekuatan baru yang tak terduga untuk “survive”. Dan para ahli psikologi tentu percaya bahwa mengikuti ujian tanpa stress serendah apapun, akan diragukan pula hasil maksimal yang dapat dicapai.

Seharusnya Ujian akhir (Ujian Sekolah-US dan Ujian Nasional-UN) dipahami sebagai bagian dari proses akhir pendidikan skolastik, sehingga tidak sampai diplesetkan menjadi tujuan akhir proses pendidikan skolastik. Dengan pemahaman seperti ini proses pembelajaran tidak diarahkan semata-mata agar lulus US dan UN semata. Bahkan beberapa sekolah favorite dan yang ingin disebut favorite, telah melakukan kebijakan pada semester akhir di kelas IX (SMP) maupun kelas XII (SLTA), telah meniadakan proses pembelajaran untuk mata pelajaran US tertentu, demi pelaksanaan “drilling” untuk kepentingan lulus UN semata. Ujian Sekolah telah dijamin kelulusannya oleh (otonomi) pihak sekolah walaupun keadaan kompetensi peserta didik seperti apapun rendahnya. Itulah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Sekolah (KTSP) yang berlaku di sekolah secara riil, melalui permainan “petak umpet” dengan para “pengawas sekolah yang low-power”. Kondisi seperti ini sebenarnya dapat diatasi manakala para pengawas sekolah memiliki “strong power” di dalam melaksanakan supervisi kepengawasannya.

Sungguh suatu tragedi yang amat menakutkan manakala diantara kita tidak ada yang memiliki kepekaaan untuk segera mengakhiri tabiat bangsa yang kontraproduktif dengan kemampuan survival di era kompetitif mendatang. Keterpurukan bangsa sebagai akibat kekurangpedulian kita menyiapkan sumber daya manusia yang “berkualitas”, harus segera diakhiri.

PARADIGMA PENDIDIKAN NASIONAL ERA PRAKRISIS

Bangsa Indonesia dilanda krisis total menerpa seluruh aspek kehidupan masyarakat dan berbangsa. Krisis yang bermula dari krisis moneter ekonomi kemudian berkembang menjadi krisis politik, hukum, kebudayaan dan akhirnya menjadi krisis kepercayaan. Krisis yang menyeluruh tersebut pada hakikatnya merupakan refleksi krisis kebudayaan karena berkaitan dengan rapuhnya kaidah-kaidah etik dan moral dari bangsa kita. Krisis kebudayaan pula merupakan krisis pendidikan (Tilaar : 2004) karena kebudayaan merupakan jaringan yang dibentuk dan membentuk pribadi-pribadi masyarakat Indonesia. Karenanya diperlukan meninjau kembali paradigma-paradigma yang telah mendasari krisis pendidikan nasional. Dari analisis mengenai paradigma-paradigma sistem pendidikan nasional beserta hasil-hasil yang telah dicapai, maka kita akan mempunyai suatu gambaran keseluruhan mengenai kekeliruan-kekeliruan yang telah kita lakukan pada masa lalu. Dari hasil yang telah kita capai selama era pra-krisis  akan kita temukan anomali-anomali yang terjadi, yaitu kesenjangan anatara apa yang diharapkan dan apa yang dihasilkan.

  • Popularisasi Pendidikan
  1. Peningkatan pendidikan merupakan pemutusan mata rantai kemiskinan (teori lingkaran setan penanggulangan kemiskinan)
  2. Mempercepat terpenuhinya wajib belajar pendidikan sekolah dasar untuk semua anak usia sekolah dasar (education for all)
  3. Merintis pelaksanaan wajib belajar 9 tahun untuk meningkatkan kecerdasan rakyat

Hasil-hasil yang dicapai :

  1. Meningkatnya tingkat pendidikan rata-rata penduduk ternyata tidak dengan sendirinya menurunkan kemiskinan absolut
  2. Peningkatan pertumbuhan ekonomi tidak diikuti dengan peningkatan investasi dalam bidang pendidikan sehingga sulit untuk meningkatkan mutu dan relevansi pendidikan.
  3. Angka partisipasi sekolah dasar, sekolah menengah, dan pendidikan tinggi terus meningkat. Pada tahun 1984 sudah dicapai target wajib belajar 6 tahun sebagai pendidikan universal. Namun demikian angka partisipasi untuk pendidikan tinggi adalah yang terendah di asia.

Anomali-anomali

  1. Peningkatan kuantitatif pendidikan tidak sejalan dengan peningkatan produktifitas. Tingkat keterampilan tenaga kerja Indonesia termasuk terendah di Asia
  2. Tingkat pengangguran sarjana semakin lama semakin meningkat.
  3. Popularisasi pendidikan tidak sejalan dengan investasi untuk sektor pendidikan dan anggaran belanja pemerintah.
  4. Popularisasi pendidikan tidak sejalan dengan usaha-usaha serius peningkatan kualitas
  1. Sitematisasi Pendidikan
  • Paradigma
  1. Dengan adanya sistem baku dapat dapat dihasilkan :
    1. Perencanaan dan manajemen yang efisien
    2. Memudahkan supervisi,
    3. Peningkatan mutu pendidikan.
  2. Penyeragaman pendidikan akan menghasilkan terwujudnya kesatuan bangsa
  3. Etatisme dalam pendidikan akan menjaga mutu pendidikan nasional

Hasil-hasil yang dicapai:

  1. Lahirnya Undang-undang No. 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional beserta berbagai PP-nya, serta keputusan-keputusan lainnya yang menyeragamkan sistem, isi, kurikulum berbagai jenis dan jalur pendidikan.
  2. Adanya satu sistem nasional yang kaku, menutup pintu bagi inovasi dan eksperimentasi.
  3. Pendidian swasta yang menjadi salah satu pilar pendidikan nasional sejak perjuangan kemerdekaan telah disubordinasikan pada sistem yang satu-satunya dipunyai negara.

Anomali-anomali

  1. Sentralisasi pengelolaan, kurikulum, pengadaan dan penyebaran tenaga pengajar sekolah dasar ternyata menghasilkan berbagai dislokasi tenaga-tenaga guru
  2. Pembakuan berbagai jenis kurikulum dari TK sampai pendidikan tinggi
  3. Dengan berdalih meningkatkan mutu diadakan sistem evaluasi terpusat seperti EBTANAS dan UMPTN
  4. Lembaga-lembaga yang birokratik didirikan untuk memupuk sistem kekuasaan yang mematikan inovasi pendidikan seperti KOPERTAIS, dan BAN
  5. Lembaga-lembaga pendidikan dari dan oleh masyarakat (swasta) dipersempit ruang geraknya
  • Proliferasi Pendidikan

Paradigma

  1. Praksis pendidikan terjadi di sekolah maupun di luar sekolah
  2. Pendidikan merupakan tanggung jawab bersama orang tua, masyarakat, dan negara
  3. Pertumbuhan ekonomi harus diikuti dengan penyiapan tenaga-tenaga trampil oleh sistem pendidikan nasional

Hasil-hasil yang dicapai

  1. Multifikasi jenis dan sumber pendidikan yaitu pendidikan sekolah, pendidikan luar sekolah, berbagai jenis pelatihan, radio dan televisi, media massa
  2. Semakin lama tanggung jawab masyarakat berkurang dan tanggung jawab negara semakin besar baik dalam biaya maupun manajemen
  3. Hasil sistem pendidikan nasional semakin menjauhi kebutuhan tenaga terampil, baik tenaga tingkat bawah, menengah, maupun pendidikan tinggi.

Anomali-anomli

  1. Pendekatan formal tentang pendidikan telah mengabaikan pengaruh-pengaruh informal dalam pembentukan watak peserta didik. Pendidikan telah dipersempit artinya sebagai “schooling”
  2. Pendidikan diangap sebagai state bussines yang nonprofit, sedangkan negara sendiri kekurangan biaya untuk pendidikan
  3. Sistem pendidikan nasional berorientasi supply, bukan kepada demand (kebutuhan) konsumen
  • Politisasi Pendidikan

Paradigma

  1. Pendidikan adalah alat mempertahankan ideologi negara atau lebih sempit lagi untuk mempertahankan kepentingan pemerintah yang berkuasa
  2. Pendidikan nasional yang baik dengan sendirinya dapat memecahkan masalah-masalah sosial budaya
  3. Manajemen pendidikan ditangani oleh birokrasi agar tercipta kesatuan persepsi dalam menjalankan tugas pendidikan.

Hasil-hasil yang dicapai

  1. Meskipun cara-cara indoktinasi melalui P4 dilaksanakan mulai TK sampai perguruan tinggi, rezim orde baru ditumbangkan juga oleh gerakan mahasiswa.
  2. Politisasi pendidikan ternyata tidak mematikan kekuatan hati nurani
  3. Politik praksis dapat memanipulasi tujuan etis pendidikan.

Anomali-anomali

  1. Sakralisasi ideologi-ideologi nasional bertentangan dengan pengembangan berfikir kritis yang menjadi tujuan pendidikan yang sebenarnya
  2. Pendidikan dibebani tujuan suci tetapi tidak didukung dengan dana yang memadai dan profesi guru yang terpuruk

ALTERNATIF ARAH PENDIDIKAN KITA KE DEPAN

Bukan suatu kebetulan apabila di dalam pembukaan UUD 45 dikatakan bahwa tujuan untuk membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Bangsa yang cerdas adalah bangsa yang dihasilkan 0leh sistem pendidikannya. Oleh sebab itu, sebuah keharusan untuk meningkatkan peran pendidikan di dalam mewujudkan suatu masyarakat Indonesia yang lebih baik yaitu masyarakat Madani Indonesia. Adapun ciri-ciri masyarakat Madani menurut seorang ahli politik Perancis, Alexis de Ttocqueville  ( dalam buku Paradigma Baru Pendidikan Nasional oleh Prof. Dr. H.A.R Tilaar ) yaitu :

  1. Kesukarelaan

Masyarakat Madani bukanlah masyarakat paksaan, tetapi mempunyai komitmen bersama untuk mewujudkan cita-cita bersama. Dengan demikian tanggung jawab pribadi menjadi sangat penting sebagai pengikat keinginan untuk mewujudkan cita-cita bersama.

  1. Keswasembadaan

Artinya masyarakat madani tidak tergantung pada negara, juga tidak tergantung pada lembaga-lembaga atau organisasi lain. Keanggotaan masyarakat madani adalah keanggotan yang penuh percaya diri dan bertanggungjawab terhadap dirinya dan masyarakatnya.

  1. Kemandirian Tinggi Terhadap Negara

Masayarakt Madani adalah manusia-manusia yang percaya diri sehingga tidak tergantung kepada perintah orang lain termasuk negara. Negara adalah kesepakatan bersama sehingga tanggung jawab yang lahir dari kesepakatan tersebut adalah juga tuntutan dan tanggung jawab dari masing-masing anggota. Inilah negara yang berkedaulatan rakyat.

  1. Kepatuhan Terhadap Nilai-nilai Hukum yang Dipatuhi Bersama

Masyarakat madani adalah masyarakat yang mengakui supremasi hukum. Masyarakat madani Indonesia mempunyai ciri-ciri antara lain adanya keragaman budaya Indonesia yang merupakan dasar pengembangan identitas bangsa Indonesia dan kebudayaan nasional. Yang diperlukan dalam kondisi tersebut bukan sekedar mencari kesamaan dan kesepakatan yang tidak mudah untuk dicapai. Yang penting dalam masyarakat yang Bhinneka adalah  adanya saling pengertian, perbedaan merupakan dinamika dari suatu kehidupan bersama di dalam masyarakat mandiri. Berkaitan dengan toleransi yang tinggi, juga penting menumbuhkan saling pengertian dan bukan indoktrinasi yang berusaha melenyapkan perbedaan. Indoktrinasi untuk mencapai kesamaan yang dipaksakan merupakan toleransi yang semu.

Dari empat ciri-ciri tersebut di atas dapat dikatakan bahwa inti dari masyarakat madani adalah adanya pribadi yang cerdas dan bermoral, yang dapat berdiri sendiri dan bekerjasama dengan orang lain untuk menciptakan masyarakat yang sejahtera.

Ada beberapa hal yang mesti dicermati terkait dengan mengembangkan arah pendidikan ke depan agar tujuan untuk menciptakan masyarakat madani mendekati pada realitas, diantaranya yaitu :

  • Manajemen Pendidikan

Diperlukan suatu aktivitas nyata untuk merealisasikan paradigma baru pendidikan kita yang lebih berpihak pada komitmen masa depan peserta didik yang “bermutu” daya pikirnya, “bermutu” sikap perilakunya serta “bermutu” kecakapan hidup-nya. Oleh karenanya sangat disadari bahwa manajemen pendidikan kita di tingkat sekolah, perlu diberdayakan dengan meningkatkan peran partisipasi aktif masyarakat melalui mekanisme lembaga Dewan Pendidikan di tingkat Kabupaten-Kota, dan Provinsi, serta peran aktif Komite Sekolah, yang tidak saja sebagai mediator antara stake-holders dengan pihak eksekutif dan legislatif, akan tetapi juga berdaya dalam mekanisme kontrol penyelenggaraan pendidikan yang berkualitas, serta dukungan penuh terhadap pelaksanaan program layanan pendidikan yang telah disepakati bersama.

  • Layanan Jasa Pendidikan Berkualitas

Posisi yang benar dari lembaga independen pendukung penyelenggaraan pendidikan di sekolah, selain memberikan variasi warna “mutu” pendidikan sesuai dengan kebutuhan pembelajar, juga memenuhi kaidah paradigma baru pendidikan kita. Namun manakala pendulum keseimbangan bergeser secara dominan pada salah satu sisi Kepala Sekolah atau Ketua Komite Sekolah, bukan tidak mungkin justru yang terjadi adalah hambatan pada implementasi peningkatan “mutu” layanan hasil belajar itu sendiri. Sudah saatnya kita sadari bersama bahwa yang kita butuhkan adalah layanan jasa pendidikan yang berkualitas untuk semua warga negara. Dan masalah kita dengan hal itu adalah, bagaimana layanan jasa pendidikan yang berkualitas itu dapat diakses oleh setiap warga negara.

  • Pelaku Pendidikan

Fokus permasalahan pendidikan ini, sedapat mungkin tidak bergeser dari bidikan kita ke depan, terlebih dengan banyaknya kepentingan di luar pendidikan yang sudah sering membuyarkan konsentrasi bidikan ke sasaran “mutu” pendidikan yang dapat dipertanggung jawabkan. Semestinya para pelaku pendidikan mampu menjadi pelindung terhadap bergulirnya proses pendidikan yang ber “mutu”, sehingga para pembelajar mampu menjadi subjek bagi kebutuhan masa depan yang lebih baik, dan bukan menjadi objek bagi kepentingan mereka di luar kepentingan pendidikan itu sendiri.Bukan lagi saatnya kita berdebat tentang pendidikan murah dan tidak berkualitas, bahkan tak dapat dinikmati oleh masyarakat kita yang miskin.

  • Sistem Pendidikan

Terlebih dengan system otonomi pendidikan, setiap daerah dituntut memiliki memiliki Sumber Daya Manusia -SDM yang handal, sehingga andalan utama untuk menghantarkan masyarakat ke iklim ‘sejahtera dengan kemandiriannya” dapat diwujudkan.

  • ICT (Information and Communication Technology)

Di sisi lain pada panggung Information-Communication and Technologi (ICT) ketertinggalan kita sangat memprihatinkan. Sungguh suatu kerja berat berada di hadapan kita, mengingat akselerasi penguasaan teknologi komunikasi dan informasi yang menjadi salahsatu pertanda penguasaan panggung globalisasi, ternyata masih sangat rendah. Kita patut belajar dari semangat bangsa lain, yang melaju bersatu padu ketika saat krisis dunia mengguncang negara mereka, sementara hal yang sama melanda kita, ironi yang terjadi justru masing-masing diantara kita sibuk membenahi kebutuhan serta interesnya sendiri, bahkan nyaris baku hantam antar kita nyaris di mana-mana. Dan sekarang kita dapati India memiliki kekuatan ICT yang mampu mendongkrak pertumbuhan ekonominya menuju pada level 9% per tahun, mendekati pertumbuhan ekonomi China yang fantastik di atas level 10 %.

  • Sistem Kontrol implementasi Pendidikan

Kemajuan pendidikan di China dan India tidak terlepas dari kebijakan pendidikan di Negara mereka yang memberikan kontrol sangat ketat (standar internasional) mulai dari pendidikan dasar hingga perguruan tinggi (termasuk Open University of China yang sangat disegani, ataupun selektivitas maupun anggaran yang tinggi pada perguruan tinggi di India ).

  • Peningkatan Kualitas Hasil Belajar

Manakala kita jujur dengan kenyataan ini, sebenarnya ketajaman nurani setiap orang, memang seharusnya diasah oleh gerinda pendidikan yang berkualitas, dan bukan sekedar ampelas pengajaran yang semakin menumpulkan rasa dan kepekaan berbangsa serta bernegara. Pemerataan pendidikan yang tidak dimbangi dengan peningkatan kualitas hasil belajar, hanya akan menghasilkan orang-orang pinter akan tetapi kerdil nuraninya.

  • Hakikat Tujuan Pendidikan

Kesejahteraan bersama, yang bernuansa etika, estetika, moralitas dan religiusitas.  menekankan batasan kompetensi dari tiga ranah Kognitif, Afektif dan Psikomotorik, sehingga dapat dijabarkan secara terbuka oleh para Guru di sekolah melalui KTSP nya (termasuk rencana Program Pembelajarannya-RPP dan Silabusnya sendiri).

 

PARADIGMA BARU SERTA PROGRAM PRIORITAS PENDIDIKAN MENUJU MASYARAKAT INDONESIA MADANI

  • Popularisasi Pendidikan

Arah Baru

  1. Pendidian dan pelatihan yang bermutu adalah pendidikan yang dibutuhkan oleh rakyat banyak
  2. Pendidikan yang bermutu telah merupakan kebutuhan rakyat banyak oleh sebab itu partisipasi keluarga dan masyarakat dalam penyelenggaraan, investasi, evaluasi pendidikan semakin ditingkatkan
  3. Investasi pendidikan melalui sektor pemerintahan lebih ditingkatkan dan dijadikan komitmen politik

Usulan

  1. Menanggulangi putus sekolah akibat krisis dengan melanjutkan program jaringan penyelamatan sosial dengan memperbaiki organisasi pelaksanaan penyaluran bantuan.
  2. Meningkatkan kinerja guru dan tenaga pendidikan  dan sejalan dengan itu meningkatkan kesejahteraan sosialnya secara berkesinambungan
  3. Mengembangkan dan mewujudkan pendidikan berkualitas
  4. Menyelenggarakan pendidikan guru dan tenaga kependidikan yang bermutu
  5. Terciptanya SDM pendidikan yang profesional dengan penghargaan yang wajar

Sistematisasi Pendidikan

Arah baru

  1. Pengembangan dan pemantapan sistem pendidikan nasional dititikberatkan kepada pemberdayaan lembaga dengan memberi otonomi yang luas
  2. Pengembangan sistem pendidikan nasional yang terbuka bagi keragaman dalam pelaksanaannya
  3. Program-program nasional dibatasi hanya pada upaya pengembangan kesatuan bangsa
  4. Secara terus-menerus meningkatkan kualitas lembaga-lembaga pendidian dan pelatihan di daerah: SDM, organisasi, fasilitas, program kerjasama antar-lembaga di daerah.
  5. Debirokratisasi penyelenggaraan pendidikan
  6. Desentralisasi penyelenggaraan pendidikan nasional secara bertahap
  7. Perampingan birokrasi pendidikan dengan restrukturisasi departemen pusat agar lebih efisien
  8. Menghapus berbagai peraturan perundangan yang menghalangi inovasi dan eksperimen, secara bertahap melaksanakan otonomi lembaga pendidikan

 

Proliferasi Pendidikan

  1. Proliferasi “delivery system” pendidikan semakin komplek dalam dunia yang terbuka memerlukan kebijakan yang terintegrasi dalam berbagai program, termasuk program pelatihan, media massa dan media elektronik
  2. Pendidikan dan pelatihan tenaga-tenaga profesional dalam berbagai tingkat diorientasikan terutama pada kebutuhan daerah dan kebutuhan pasar kerja di daerah
  3. Pemanfaatan secara optimal dan mengkoordinasikan lembaga-lembaga pelatihan di daerah dengan mengikutsertakan pemimpin-pemimpin masyarakat, pemerintah daerah, dunia industri.
  4. Memperbanyak lembaga-lembaga pelatihan praktis di daerah agar lahir SDM yang produktif dan sejalan dengan dapat mengurangi atau menahan arus urbanisasi
  5. Menumbuhkan partisipasi masyarakat, terutama di daerah dalam kesadarannya terhadap pentingnya pendidikan dan pelatihan untuk membangun masyarakat Indonesia Madani. Diperlukan suatu wadah untuk emanampung keterlibatan masyarakat tersebut.
  6. Menjalin kerjasama yang erat antara lembaga pelatihan dengan dunia usaha
  • Politisasi Pendidikan

Arah Baru

  1. Pendidikan nasional ikut serta dalam mendidik manusia Indonesia sebagai insan politik yang demokratis yaitu yang sadar akan hak-hak serta kewajibannya sebagai warga negara yang bertanggungjawab.
  2. Masyarakat termasuk keluarga bertanggungjawab terhadap penyelenggaraan pendidikan.
  3. Membersihkan birokrasi departemen dari kepentingan kepentingan politik dengan menerapkan sistem merit dan profesionalisme.
  4. Menegakkan disiplin serta tanggung jawab para pelaksana lembaga-lembaga pendidikan
  5. Menyelenggarakan pendidikan budi pekerti
  6. Depolitisasi pendidikan nasional. Komitmen politik dari masyarakat dan pemerintah untuk membebaskan pendidikan sebagai alat penguasa
  7. Meningkatkan harkat profesi pendidikan dengan meningkatkan mutu pendidikannya, syarat-syarat serta pemanfaatan tenaga-tenaga profesional, disertai dengan meningkatkan renumerasi profesi pendidikan yang memadai dan proporsional secara bertahap

PENUTUP

Pameran pendidikan internasional telah mampu meyakinkan para orang tua untuk menyekolahkan putra-putrinya di sekolah Indonesia saja, akan tetapi standar mutu hasil belajarnya berstandar internasional seperti standar Cambridge University ataupun New South Wales University . Mungkin lembaga pendidikan di China ataupun India akan terus diburu para orang tua di Indonesia untuk menyekolahkan anaknya, hanya karena konsistensi mutu serta rendahnya biaya pendidikan di kedua Negara tersebut dibanding Australia, Eropa atau Amerika Serikat. Bagi perguruan tinggi di dalam negeri, langkah antisipatif yang dapat ditempuh adalah:

  1.  meningkatkan kemampuan manajerial ke dalam, melalui proses penyehatan manajemen pengelolaan Perguruan Tinggi, serta networking dengan berbagai perguruan tinggi yang berstandar internasional tinggi, melalui twining program ataupun strategi lainnya.
  2. jangan dilupakan bahwa sudah lama kita telah memiliki system pendidikan di pondok pesantren yang lulusannya memiliki kompetensi berstandar internasional, sehingga dapat diterima langsung di perguruan tinggi ternama seperti Universitas Al Azhar Cayro Mesir.
  3. Sedangkan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah, telah pula dirintis upaya pembenahan manajemen sekolah melalui program Manajemen Berbasis Sekolah (MBS), dengan kata kunci peningkatan partisipasi stake-holder pada upaya peningkatan mutu hasil belajar di sekolah.
  4. Penyaluran dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) hanya akan efektif dan produktif manakala disertai system control yang ketat dari komite sekolah dan partisipasi aktif orang tua. Perlu disadari bahwa bemper terdepan dari proses layanan pembelajaran menuju kualitas kompetensi hasil belajar berada di tangan para Guru yang profesional. Oleh karenanya langkah kongkrit dari upaya peningkatan mutu pendidikan skolastik justru terletak pada pemberdayaan profesi dan kesejahteraan para Guru di sekolah itu.
  5. Tidak pula luput peningkatan profesionalisme para guru/dosen menjadi pilihan skala prioritas yang tak dapat diabaikan di setiap sekolah dan perguruan tinggi, manakala harapan survival yang akan kita raih dalam percaturan kompetisi terbuka saat ini. Manakala aktivitas penelitian dari para dosen kita menjadi pilihan untuk meningkatkan “kum” serta kepangkatan akademik mereka, maka sudah selayaknya memperoleh dukungan positif serta memadai dari lembaga pendidikan tinggi bersangkutan, (itupun kalau tujuan akhirnya adalah memberikan yang terbaik kepada para mahasiswanya).
  6. Hendaknya kita sadari bersama, bahwa hanya dengan dukungan “Customer Satisfaction” yang berjalan pada setiap pembelajaran, maka akuntabilitas publik dapat kita raih, menjadi suatu kekuatan serta dukungan yang luar biasa. Memang harus diakui, langkah afiliasi dengan berbagai institusi pendidikan yang berkualitas dari Luar Negeri (standar internasional yang tinggi), merupakan upaya kreatif yang mengandung proses inovatif, dan layak memperoleh perhatian dari berbagai kalangan yang peduli pada rumah pendidikan kita.
  7. Sudah bukan saatnya kita membohongi diri sendiri dengan menolak atau memusuhi ‘standar mutu internasional” dengan menggunakan konsepsi hak-hak individual pada prinsip HAM secara keliru. Karena tidaklah dapat kita wujudkan mutu pendidikan yang tinggi TANPA pembanding standar yang bermutu tinggi pula. Hal itu selaras dengan pemikiran bahwa “hak setiap warga negara untuk “survive” harus dikedepankan dihadapan semua interest yang mereduksi eksplorasi potensi individu”, sehingga layanan pendidikan kita seharusnya dapat memenuhi kebutuhan peserta didik sesuai dengan kemampuan internalnya.

Biarkan sekolah-sekolah yang didukung secara finansial cukup tinggi oleh para orang tua dan stake holders-nya menolak dana BOS, (asalkan peserta didik di sekolah tersebut yang berasal dari golongan ekonomi lemah, juga memperoleh perlakuan dan layanan yang sama, melalui dana subsidi silang dan tidak terdiskriminasi melalui berbagai tata tertib maupun berbagai aturan sekolah). Di kondisi seperti ini faktor kejujuran pihak pengelola sekolah serta yayasan sekolah menjadi sangat dominan, untuk selalu diawasi oleh masyarakat yang peduli. Lembaga pendidikan Sekolah memang bukanlah lembaga layanan publik yang “steril” dari keinginan masyarakat yang ingin berpartisipasi aktif dan positif untuk memajukan mutu pendidikan anak bangsa, sesuai dengan nafas dari Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional kita yang menyebutkan tanggung jawab bersama dari pendidikan itu sendiri yaitu pemerintah, masyarakat dan orang tua. Tidaklah ada arti dan maknanya kehidupan suatu bangsa ke depan, tanpa kesadaran akan arti penting pemberdayaan bangsanya (melalui pendidikan), namun kesadaran saja tidaklah cukup untuk menggerakkan roda mutu pendidikan tanpa melakukan apa-apa untuk pendidikan itu sendiri!. Sebagai self evaluation, tinggalah melihat dimana posisi kita sekarang berada. Secercah harapan, mudah-mudahan saja saat ini, “sesuatu” sedang kita lakukan untuk berkontribusi aktif terhadap upaya peningkatan mutu pendidikan anak bangsa!.

Berikut ada beberapa pesan untuk kita semua tentang pendidikan sekolah;

  1. Pendidikan sekolah bukanlah fasilitas ala kadarnya, yang dapat diberikan dengan sengaja mendaruratkan keadaan, lalu diberikan layanan pendidikan di luar kebutuhan serta di bawah standar kompetensi peserta didik, dengan alasan “sekolah seadanya dulu, daripada tidak sekolah.
  2. Pendidikan yang bekualitas tinggi, memang membutuhkan biaya tinggi, namun bangsa ini telah bersepakat di dalam Undang Undang Dasar bahwa setiap warga Negara memiliki hak untuk memperoleh layanan pendidikan yang berkualitas tinggi itu, seberapapun mahalnya
  3. Pemerintah menjadi fasilitator utama bersama masyarakat yang mampu (melalui regulasi ketentuan hukum untuk partisipasi aktif pada sektor pendidikan), sehingga mampu merealisasikan anggaran 20 % APBN/APBD di sektor pendidikan secara nyata. Akhirnya, patut dikemukakan bahwa fasilitas pendidikan sekolah bukanlah fasilitas ala “permen karet” yang nampak di luar mulut selalu aktif mengunyah (makan), akan tetapi tak ada gizi yang dapat menyehatkan dan memenuhi kebutuhan serta mampu menyelamatkan masa depan anak bangsa.

 

Bahan Bacaan:

Chan, Sam M. Dan Sam Tuti T. Analisis Swot, Kebijakan Pendidikan Era Otonomi Daerah. Jakarta: PT. RajaGrafindo Sejahtera, 2007
Langgulung, Hasan. Beberapa Tinjauan dalam Pendidikan Islam. Kuala Lumpur : Pustaka Antara, 1981
Pulungan, Suyuthi Prof. Revitalisasi Pendidikan Islam. Yogyakarta: Tiara Wacana, 2006.
Tilaar, H.A.R.  Paradigma Baru Pendidikan Nasional.  Jakarta : PT. Rineka Cipta, 2004
Tilaar, H.A.R. Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional. Magelang : Tera Indonesia, 1999
Tilaar, H.A.R. Pendidikan, Kebudayaan, dan Masyarakat Madani Indonesia. Bandung : PT. Rosdakarya, 1999
Langgulung, Hasan

 

%d blogger menyukai ini: