Posts from the ‘MANAJEMEN PENDIDIKAN’ Category

Mengenal Psikologi Pendidikan


reformasiHAL yang Tidak bisa kita pungkiri, apalagi di zaman serba canggih seperti ini sangat perlu pendidikan mengenai psikologi. Psikologi adalah ilmu pengetahuan yang berusaha memahami sesama manusia, dengan tujuan untuk dapat memperlakukannya dengan lebih tepat. Karena itu, pengetahuan psikologis mengenai anak didik dalam proses pendidikan adalah hal yang perlu dan penting bagi setiap pendidik. Sehingga seharusnya adalah kebutuhan setiap pendidik memiliki pengetahuan tentang psikologi pendidikan.

Mengingat setiap orang pada nantinya akan menjadi seorang pendidik, karena pada hakikatnya pendidikan psikologi pendidikan itu dibutuhkan oleh setiap orang. Karena masalah pendidikan, terutama pendidikan psikologi adalah masalah setiap orang dari dulu hingga sekarang, dan tentu menjadi masalah pula hingga waktu yang akan datang.

Ruang Lingkup Psikologi Pendidikan

Masalah yang sentral dalam dalam psikologi pendidikan adalah masalah belajar. Sebenarnya, belajar (dan mengajar) adalah tindak pelaksanaan dalam usaha pendidikan. Di dalamnya terdapat usaha mendidik anak-anak didik belajar dan si pendidik mengajar sesuatu kepada para anak didik. Proses si pendidik dengan sengaja dan penuh tanggungjawab memberikan pengaruhnyakepada anak didik, demi kebahagiaa anak didik. Psikologi pendidikan berusaha menjadikan kajian tentang faktor-faktor psikologis yang berperan dalam proses pendidikan. Disamping itumasih terdapat beberapa masalah khusus yag juga perlu penyorotan secara psikologis, seperti soal pendidikan orang dewasa, kesehatan mental serta bimbingan dan konseling, materi yang dipakai,evaluasi hasil pendidikan, dan sebagainya.

Sifat-sifat Umum Aktivitas Manusia

  • Perhatian

Perhatian adalah pemusatan tenaga psikis tertuju kepada suatu objek. Bisa juga diartikanbanyak sedikitnya kesadaran yang menyertai sesuatu aktivitas yang dilakukan. Macam-macam  perhatian

  1. Atas dasar intensitasnya: perhatian intensif dan perhatian tidak intensif. Aktivitas yang disertai dengan perharian intensif akan lebih sukses, prestasinya lebih tinggi. Akan lebih baik jika pelajaran dapat diterima oleh murid-murid dengan perhatin yang cukup intensif.
  2. Atas dasar cara timbulnya: perhatian spontan (perhatian tak disengaja), dan perhatian sekehendak (perhatian disengaja). Perhatian spontan atau tak disengaja cenderung untuk brlangsung lebih lama dan lebih intensif daripada perhatian yang disengaja. Akan lebih baik kalau pelajaran dapat diterima oleh murid-murid dengan perhatian yang spontan.
  3. Atas dasar luasnya objek yang dikenai perhatian: perhatian terpancar (distributif) dan perhatian terpusat (konsentratif).
  • Pengamatan

Manusia mengenal wadag atau dunia riil, baik dirinya sendiri maupun dunia sekitar tempatnya berada dengan melihat, mendengar, membau atau mengecap. Cara mengenali objek yang demikian disebut mengamati. Sedangkan melihat, mendengar, dan yang laiinya disebut modalitas pengamatan.

1.Penglihatan

Modalitas pengamatan yang dibedakan menurut pancaindera yang dipergunakan untuk mengamati, yaitu penglihatan, pendengaran, rabaan, pembauan, atau penciuman dan pencecapan. Dari kelima modalitas pengamatan yang telah mendapatkan penelitian secara meluas dan mendalam adalah penglihatan. Menurut objeknya, masalah penglihatan digolongan menjadi 3 golongan, yaitu (1) melihat bentuk, (2) melihat dalam dan (3) melihat warna.

2.Melihat Bentuk

Yang dimaksud melihat bentuk ialah melihat objek yang berdimensi dua. Objek pengelihatan tidak kita lihat lepas-lepas satu daripada yang lain, melainkan kita lihat sebagai objek yang bersangkutan satu sama lain. Objek yang yang jauh, dekat, bagian-bagian dan keseluruhan objek terlihat oleh kita.

3.Melihat Dalam

Yang dimaksud melihat dalam ialah melihat objek berdimensi tiga. Salah satu gejala yang terpenting disini aialah konstansi besar.

4.Melihat Warna

Dalam pendidikan keindahan dan pendidikan kepribadian, nilai lambang warna-warna merupakan alat yang sangat berguna. Berikut nilai lambang warna:

  • Hitam : melambangkan kegelapan, kesedihan.
  • Putih : melambangkan kesucian, cahaya
  • Hijau : melambangkan keseimbangan, harapan, keselarasan
  • Biru : melambangkan sifat-sifat yang dalam tak terhingga, tenang, kesosialan
  • Kuning : melambangkan sifat riang, ceria
  • Merah : melambangkan ekspansif, dominan, berani.

5.Pendengaran

Mendengar adalah menangkap bunyi (suara) dengan indera pendengar. Selain bunyi bisa menjadi perantara untuk berkomunikasi, bunyi juga memiliki 2 fungsi lain, yaitu pertama sebagai tanda (signal). Pada kasus ini yang berhubungan dengan ekspresi manusia, berteriak katena terkejut, menangis karena sakit, kagum, dan sebagainya. Yang kedua sebagai lambang. Yang biasa kita gunakan ketika menghadapi bahasa.

6.Rabaan

Indera-indera kinestesi, sentuh dan tekanan, panas, dingin, rasa sakit, berfungsi penting dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan indera vibrasi tidak memiliki peranan yang begitu berarti. Jika seseorang meraba dengan mata tertutup, maka akan terjadi visualisasi, artinya kesan meraba akan digantikan dengan kesan penglihatan. Hal ini membuktikan betapa pentingnya kedudukan penglihatan, diantara modalitas pengamatan yang lain.

7.Ingatan (memory)

Ingatan disini memiliki arti sebagai sebuah kecakapan untuk menerima, menyimpan, dan memproduksikan kesan-kesan. Ingatan dan lupa, tidak bisa dipisahkan, karena memang hal tersebut bersifat manusiawi. Akan tetapi saat murid atau pelajar sedang menghafal, hendaklah mengatur kondisi sedemikian rupa, sehingga bisa mencapai hasil yang maksimal. Misalnya menghafal dengan suara keras, pemilihan teknik yang tepat, serta pembagian waktu belajar yang baik.

Sifat-sifat Khas Kepribadian Manusia

            Hippocrates (460-370) berpendapat bahwa di dalam tubuh manusia terdapat cairan-cairan yang mendukung atau berpengaruh terhadap sifat-sifat manusia, yaitu ada chole, melanchole, phlegma, dan sanguis. Kemudian Galenus (129-200) menyempurnakan pendapat Hippocrates tersebut, ia mengungkapkan bahwa cairan tersebut terdapat pada tubuh manusia dalam kadar tertentu, jika salah satu cairan tersebut kadarnya lebih banyak dari yang seharusnya, akan mendominasi suatu sifat tertentu.

CholePrinsip yang ada pada cairan ini yaitu tegangan (tension), memiliki tipe choleris, dan menghasilkan sifat khas yaitu; memiliki semangat serta daya juang yang besar, optimsme, hatinya mudah terbakar serta keras.

MelancholePrinsip yang ada pada cairan ini yaitu penegara (regidity), memiliki tipe melanholis, dan menghasilkan sifat khas yaitu; mudah kecewa, memiliki daya juang yang kecil, pesimistis, serta muram.

Phlegma .Prinsip yang ada pada cairan ini yaitu plastisitas, memiliki tipe phlegmatis, dan menghasilkan sifat khas yaitu; tak suka terburu-buru, tenang, setia, serta tidak mudah dipengaruhi.

Sanguis .Prinsip yang ada pada cairan ini yaitu ekspansivitas, memiliki tipe sanguinis, dan menghasilkan sifat khas yaitu; mudah berganti haluan, ramah, lekas bertindak tapi juga lekas berhenti.

Selain beberapa jenis cairan yang memiliki pengaruh terhadap sifat seseorang, manusia juga memiliki empat macam fungsi jiwa, yaitu yang rasional mencakup perasaan dan pikiran, kemudian ada yang irrasional, mencakup pendriaan dan intuisi.

  1. Pikiran; bersifat rasional, cara bekerjanya dengan penilaian benar dan salah
  2. Perasaan; bersifat rasional, cara bekerjanya dengan penilaian senang dan tak senang
  3. Pendriaan; bersifat irrasional, cara bekerjanya dengan penilaian sadar indriah
  4. Intuisi; bersifat irrasional, cara bekerjanya dengan penilaian tak sadar naluriah

Alfred Adler mengungkapka teori megenai sifat khas kepribadian manusia, yaitu Individual Psychologie. Individual Psychologiememiliki arti penting sebagai cara untuk memahami sesama manusia. Aliran ini tidak mementingkan perumusan-perumusan yang teliti, melainkan lebih mementingkan penyusunan petunjuk praktis untuk memahami sesama manusia. Karena itu justru dalam lapangan pendidikan pengaruh aliran ini besar, karen petunjuk petunjuk itu sangat berguna di dalam praktik pendidikan. Adler berpendapat, bahwa manusia lebih didorong oleh harapan-harapannya mengenai masa depan daripada pengalamannya dimasa lampau. Tujuan itulah yang membuat manusia kurang peka terhadap lingkungan sekitar dan bersifat individualis.

Mula-mula manusia didorong oleh dorongan keakuan, yatu dorongan untuk mengejar kekuasaan dan kekuatan untuk mencapai konpensasi bagi rasa rendah dirinya. Selanjutnya, manusia didorong oleh dorongan kemasyarakatan yang menyebabkan ia menempatkan kepentingan sendiri dibawah kepentingan umum

Perbedaan-perbedaan dalam Bakat

Suatu hal yang dipandang self-evident ialah bahwa seseorang akan lebih behasil kalau dia belajar dalam lapangan yang sesuai dengan bakatnya; demikian pula dalam lapangan kerja, sesorang akan lebih berhasil kalau dia bekerja dalam lapangan yang sesuai dengan bakatnya.

Apakah Bakat itu?

William B. Michael menunjau bakat itu, terutama dari segi kemampuan individu untuk melakukan sesuatu tugas, yang sedikit sekali tergantung kepada latihan mengenai hal tersebut. Lalu ada juga Bingham yang mengemukakan definisi bakat, akan tetapi Bingham menitikberatkan pada segi apa yang dapat dilakukan oleh individu, jadi segi performance setelah individu mendapatkan latihan. Selanjutnya Guilford memberikan definisi yang lain lagi, yaitu bahwa aptitude itu mencakup 3 dimensi psikologis, yaitu:

1.Dimensi perseptual

     Dimensi perseptual meliputi kemampuan dalam mengadakan presepsi, dan ini meliputi beberapa faktor. Seperti kepekaan indera, perhatian, orientasi ruang dan waktu, luasnya daerah presepsi, kecepatan presepsi dan sebagainya.

2.Dimensi psiko-motor

     Dimensi psiko-motor mencakup enam faktor, yaitu faktor kekuatan, faktor impuls, faktor kecepatan gerak,  faktor ketepatan, faktor koordinasi, faktor keluwesan.

3.Dimensi intelektual

     Dimensi inilah yang umumnya mendapat penyorotan secara luas, karena memang dimensi inilah yang mempunyai implikasi sangat luas. Dimensi ini meliputi lima faktor, yaitu;

  1. Faktor ingatan, yang mencakup faktor ingatan mengenai substansi, relasi dan sistem.
  2. Faktor pengenalan, yang mencakup pengenalan terhadap keseluruhan informasi, terhadap golongan, terhadap hubungan-hubungan, terhadap bentuk atau struktur, dan terhadap kesimpulan.
  3. Faktor evaluatif yang meliputi evaluasi mengenai idientitas, relasi-relasi dan evaluasi terhadap sistem.
  4. Faktor berfikir divergen, yang meliputi faktor untuk menghasilkan nama-nama, hubungan-hubungan, sistem-sistem, transformasi dan menghasilkan implikasi-implikasi yang unik.
  5. Faktor berfikir divergen yang meliputi faktor untuk pengalihan kelas-kelas secara spontan, faktor kelancaran dalam menghasilkan hubungan-hubungan, faktor untuk menghasilkan sistem, faktor untuk transformasi divergen, serta untuk menyusun bagian-bagian menjadi garis besar atau kerangka.

Dari ilustrasi diatas, bisa kita tarik kesimpulan betapa rumitnya kualitas manusia yang kita sebut bakat tersebut. Variasi bakattimbul karena variasi dalam kombinasi, korelasi, dan intensitas faktor-faktor tersebut. Dn variasi inilah yang harus kita kenali sedini munkin.

Bagaimana Cara Kita Mengenali Bakat Seseorang?

Biasanya dilakukan dalam diagnosis tentang bakat dengan membuat ururtan (ranking) mengenai berbagai bakat pada setiap individu.

Prosedur yang biasa ditempuh adalah;

  1. Melakukan analisis jabatan (job-analysis) atau analisis lapangan studi untuk menemukan faktor-faktor apa saja yang diperlukan supaya orang dapat berhasil damal lapangan tersebut.
  2. Dari hasil analisis tersebut dibuat pencandraan jabatan (job description)
  3. Dari job description yang tersebut bisa kita ketahui apa saja persyaratan yang harus dipenuhi upaya individu dapat lebih berhasil dalam lapangan tertentu
  4. Lalu dari persyaratan tersebut bisa digunakan sebagai landasan untuk menyusun alat pengungkap bakat, yang biasanya berup tes.

            Akan tetapi pemberlakuan tes tersebut masih sangat terbatas oleh daerah serta kebudayaan dimana tes itu disusun. Bagi kita, bangsa Indoesia kiranya sangat mendesak untuk segera diciptakannya tes bakat itu, baik untuk keperluan pemilihan jabatan atau lapangan kerja, maupun untuk pemilihan arah studi.

Perkembangan Individu

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Individu

Pendapat yang bermacam-macam mengenai faktor apa sja yang memepengaruhi perkembangan individu terbagi menjadi 3 golongan, yaitu;

1.Nativisme

     Para ahli yang mengikuti aliran nativisme berpendapat bahwa perkembangan individu itu semata-mata ditentukan oleh faktor yang dibawa sejak lahir (bawaan). Tokoh utama aliran ini adalah Schopenhauer, serta Plato, Descartes Lombroso yng termasuk dalam golongan ini. Intinya pada aliran ini menyatakan bahwa segala keistimewaan yang dimiliki orangtua tentu akan dimiliki juga oleh anaknya. Sehingga perkembangan individu merupakan cerminana dari orangtuanya dahulu. Misalnya, jiak orangtuanya berbakat dalam bidang oelhraga, maka tentu anaknya juga akan sangat berkembang pesat dalam bidang olahraga. Akan tetapi, jika dipandang dalam ilmu pendidikan, hal tersebut tidak bisa juga dibenarkan. Sebab, jika benar perkembangan individu tersebut dari dasar, jadi pengaruh lingkungan serta pendidikan tidak menjadi faktor penting dalam perkembangan setiap individu. Jadi konsep nativisme itu tidak dapat dipertahankan dan tidak bisa dipertanggungjawabkan.

2.Empirisme

     Para ahli yang meyakini aliran ini memiliki pendapat yang bertolak belakang dengan nativisme, jika pada nativisme berpendapat bahwa perkembangan individu itu semata-mata tergantung pada faktor dasar, maka pada aliran ini faktor dasar (bawaan) tidak dianggap penting sama sekali, dan meyakini bahwa faktor perkembangan setiap individu di pengaruhi oleh lingkungan. Tokoh utama daripada aliran ini adalah John Locke, dimana aliran ini sangat besar pengaruhnya di Amerika Sekrikat. Akan tetapi, kenyataan yang kita jumpai menunjukan hal yang berbeda daripada gambaran dari aliran ini. Banyak anak-anak orang kaya dan juga pandai mengecewakan orangtuanya karena kurang berhasil dalam belajar, meskipun di lingkungan yang baik (lingkungan orang pandai). Sebaliknya, mereka yang berada dalam lingkungan mampu, dan orangtua serta lingkungan yang tidak begitu pandai malah bisa berhasil dalam belajar. Jadi alirn empirisme ini juga tidak tahan uji dan tidak dapat di-pertanggung jawabkan.

3.Konvergensi

     Paham konvergensi ini berpendapat bahwa di dalam perkembangan individu itu baik faktor dasar, maupun faktor lingkungan sama-sama memilki edudukan yang penting. Setiap individu tentu telah memiliki bakatnya masing-masing, hanya saja bakat juga membutuhkan lingkungan yang sesuai dengan agar dapat berkembang. Selain itu, faktor kedudukan dalam keluarga juga memiliki peranan penting, seperti anak sulung dengan anak bungsu tentu akan mengalami perbedaan dalam perkembangannya, begitu juga dengan anak tunggal. Lalu setiap anak yang berkembang memiliki asas di setiap perkembangannya, meliputi asas biologis, asas ketidakberdayaan, asas kemanan, dan asas eksplorasi. Namun hal yang perlu diingat, pemberian rasa aman, serta kasih sayang tidak disarankan diberikan secara berlebihan, karena tentu hal ini akan menggangu perkembangan buah hati. Jika anak terlalu diberikan kasih sayang khawatir akan menjadi manja, dan anak yang diberikan rasa aman secara berlebihan khawatir anak tersebut tidak bisa mengatasi masalahnya sendiri.

Bagaimana Sifat Anak pada Masa Tertentu dalam Perkembangan Anak?

Para ahli mengemukakan pendapat mengenai periodesasi yang digolongkan menjadi 3:

1.Periodisasi yang Berdasar Biologis

     Ch. Buhler mengemukakan pendapat, bahwa ada 5 fase dalam perkembangan anak. Fase yang pertama (0;0 – 1;0) yaitu fase gerak laku ke dunia luar. Keudian yang kedua (1;0 – 4;0) yaitu fase makin meluasnya hubungan anak dengan benda-benda di sekitarnya. Lalu ketiga (4;0 – 8;0) yaitu fase hubunga pribadi dengan lingkungan sosial, serta kesadaran akan kerja, tugas dan prestasi. Keempat (8;0 – 13;0) yaitu fase memuncaknya minat ke dunia objektif, dan kesadaran akan akunya sebagai sesuatu yang berbeda dari aku orang lain. Terakhir, yang kelima (13;0 – 19;0) yaitu fase penemuan diri dan kematangan.

2.Periodisasi yang Berdasar Didaktis

     J.J Rousseau dengan karyanya Emile eu du l’education (1762) mengungkapkan bahwa ada 4 fase dalam perkembangan anak. Pertama, (0;0 – 2;0) adalah masa asuhan, kedua (2;0 – 12;0) adalah masa pendidikan jasmani dan latihan panca indera. Ketiga (12;0 – 15;0) adalah periode pendidikan akal. Kemudian yang terakhir (15;0 – 20;0) adalah periode pembentukan watak dan pendidikan agama.

3.Periodisasi yang Berdasar Psikologis

     Kohnstamm(1950) mengemukakan periodisasi yang berdasar pada psikologis terbegi menjadi 4 fase. Yang pertama ketika umur 0;0 sampai kira-kira 2;0 merupakan masa vital. Kedua ketika umur 2;0 sampai kira-kira 7;0 merupakan masa estetis. Ketiga ketika umur 7;0 sampai kira-kira 13;0 atau 14;0 merupaka masa intelektual. Terakhir ketika umur 13;0 atau 14;0 sampai kira-kira 20;0 atau 21;0 merupakan masa sosial. Disini terdapat kemiripan dengan periodisasi biologis dan didaktis.

Penelitian Penggunaan Hadiah dan Hukuman terhadap Perkembangan Anak

             Julius Wagner (dalam Ch. Buhler, 1950) mengadakan penelitian mengenai pengertian anak terhadap hukuman, apabila hukuman itu diberikan secara adil, maka hasilnya bisa dilihat dibawah ini;

Maksud (Tujuan Hukuman) Laki-laki Perempuan
(9;0 – 12;0) (12;0 – 15;0) (9;0 – 12;0) (12;0 – 15;0)
Memperbaiki 54,7% 80,2% 60,8% 79,5%
Menakut-nakuti 24,2% 12,0% 21,4% 15,6%
Membalas (dendam) 5,4% 6,3% 7,3% 4,1%
Lain-lain 15,7% 1,5% 10,5% 1,8%

Dari data yang telah dapat ditarik kesimpulan;

  1. Makin tua anak-anak, makin makin sadarlah mereka bahwa tujuan hukuman adalah untuk memperbaiki.
  2. Makin tua anak-anak, maka makin dapat tepatlah mereka mengenal maksud hukuman
  3. Anak-anak perempuan mempunyai kematangan lebih awal daripada anak laki-laki

            Selain pemberian hukuman, pastikan para orangtua juga perlu membatasi pemberian hadiah untuk anak-anak. Karena penggunaan hadiah dan hukuman harus disesuaikan dengan perkembangan anak, disamping harus pula dipertimbangkan kondisi-kondisi yang lain.

1.Masa Pra-Remaja dan Masa Remaja

            Istilah pra-remaja dipakai untuk menunjukan suatu masa yang berlangsung mengikuti masa puber, yang hanya berlangsung singkat saja. Masa ini ditandai oleh sifat-sifat negatif pada si remaja sehingga masa ini seringkali disebut masa atau fase negatif. Adapun sifat sifat negatif itu adalah sebagai berikut:

  1. Sifat-sifat negatif pada anak perempuan menurut H. Hetzer
  2. Tak tenang
  3. Kurang suka bekerja
  4. Suasana hati tak baik, pemurung
  5. On-sosial (agresif/menarik diri dari masyarakat)

Sifat negatif pada anak laki-laki menurut Hans Hochholzer

  1. Kurang suka bergerak
  2. Lekas lelah
  3. Kebutuhn untuk tidur besar
  4. Suasana hati tidak tetap
  5. Pesimistis

         Masa remaja sering juga disebut masa pencarian jati diri. Karena pada masa ini memang anak laki-laki maupun perempuan sering mengalami kesepian serta penderitaan yang seolah-olah tidak ada orang yang memahami, serta kebutuha seorang teman yang dapat memahami dan menolongnya, tak ayal pada masa ini anak laki-laki maupun perempuan sering bergerombol atau membentuk suatu perkumpulan (geng)

         Sis Heyster (1950: 242) menggolong-golongkan anak laki-laki dan juga perempuan ke dalam tipe tersendiri.

Anak laki-laki digolongkan menjadi:

  1. Pencari kultur
  2. Pencinta alam
  3. Tipe karyawan (pejabat)
  4. Tipe vital
  5. Tipe hedonistik

Anak perempuan digolongkan menjadi:

  1. Tipe keibuan
  2. Tipe erotis
  3. Tipe romantis
  4. Tipe tenang
  5. Tipe intelektual

Perkembangan Individu Karena Belajar

Faktor yang Mempengaruhi belajar

1.Faktor Nonsosial

Kelompok faktor ini boleh dikatakan juga tak terbilang jumlahnya, seperti misalnya: keadaan udara, suhu, cuaca, waktu, tempat, alat yang digunakan, lingkungan dan lain sebagainya. Oleh karena itu demi mendapatkan suasana yang mendukung, sekolah atau sarana mengajar lainnya harus jauh dari jalan raya bising, serta bangunan yang memenuhi syarat yang telah ditentukan oleh ilmu kesehatan sekolah.

2.Faktor Sosial

Yang dimaksud dengan faktor-faktor sosial disini ialah faktor manusia (sesama manusia), baik manusia yang hadir, maupun kehadiran yang tidak langsung. Kehadiran orang lain tentu menggangu kita belajar. Misalnya saat murid di kelas sedang mengikuti ujian, kemudian diluar terdengar murid yang sedang mengobrol. Tentu akan mengganggu konsentrasi murid yang sedang ujian. Oleh karena itu, faktor yang seperti ini harus diatur, supaya kegiatan pembelajaran dapat berlangsung sebaik-baiknya.

3.Faktor Fisiologis

Faktor fisiologis disini termasuk keadaan jasmani seseorang. Keadaan jasmani pada umumnya dapat dikatakan melatarbelakangi aktivitas belajar, karena kondisi jasmani yang kurang baik tentu akan memberi pengaruh buruk terhadap kegiatan belaja dan tentu bisa mempengaruhi hasil yang di dapatkan. Oleh karena itu nutrisi serta beberapa penyakit yang bisa dibilang kronis perlu di waspadai. Misalnya karena akan bergadang untuk belajar maka mengkonsumsi kopi dalam jumlah batas wajar, tentu hal tersebut tidak bagus nagi kondisi organ tubuh, terutama maag.

4.Faktor psikologi

Menurut Frandsen (1961: 216) ada bebrapa hal yang mendorong seseorang untuk belajar. Seperti adanya sifat ingin tahu dan ingin menyelidiki dunia yang lebih luas, adanya keinginan untuk mendaparkan simpati dari orangtua, guru serta teman-teman, lalu adanya keinginan untuk mendapatkan rasa aman bila menguasai pelajaran.

Penilaian Hasil Pendidikan

Peranan penilaian dalam usaha pendidikan adalah hal penting, karena itu perlu diperhtungkan mengenai penilaian. Penilaian dilakukan supaya dapat mencerminkan apa yang yang dinilai hendaknya dilakukan secara periodik. Makin sering jadi makin bagus. Selain itu, hasil penilaian hendaknya segera diberitahukan kepada murid-murid dimana perlu diadakan pembicaraan mengenai hasil tersebut.

Agar penilaian dapat di pertanggungjawab kan, maka tes yang diberikan juga harus memiliki kriteria atau syarat. Supaya mendapat hasil penilaian yang baik. Diantaraya:

1.Tes Harus Reliable

Tes yng diberikan harus bersifat reliable atau terpercaya dan hasilnya ajeg. Misalnya, jika tes diberikan saat ini maka hasilnya harus sama jika tes diberikan saat tahun berikutnya.cara yang dilakukan untuk dapat mengetahui reliabilitas suatu tes biasanya mnggunakan teknik korelasi.

2.Tes Harus Valid

Suatu tes disebut valid apabila tes tersebut mengukur apa yang harusnya diukurnya. Misal, tes untuk pelajaran sejarah, maka harus benar-benar mengukur kepandaian anak dalam mempelajari sejarah. Untuk mengukur validitas suatu tes itu, biasanya orang membandingkan tes yang sedang diselidiki validitasnya dengan tes yang sudah dipandang baik.

3.Tes Harus Comprehensive

Suatu tes dikatakan comprehensive jika tes tersebut mencakup segala persoalan yang harus diselidiki. Misalnya dari 115 orang guru diminta memberikan nilai pekerjan dalam mata pelajaran Ilmu ukur, maka 2 orang diantara mereka memberikan nilai antara 90-100, dan seorang memberikan nilai antara 20-29, jadi selisihnya adalah 70 nilai.

Sumber :Psikologi Pendidikan, Drs. Sumadi Suryabrata, B.A., M.A., Ed.S., Ph.D. 354.hal, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, Januari 2011, ISBN 979-421-082-x.

 

BEBERAPA PRINSIP MENINGKATKAN MINAT BELAJAR ANAK


Anak dan Kesenangannya untuk Belajar

Memahami Anak

Setelah pulang sekolah, tiba-tiba seorang anak berkata kepada ibunya, “Mama, aku mau ikut les gambar!”. Walaupun tidak langsung merespons, biasanya di benak sang ibu terbangun beberapa scenario:

  • Les dimana sebaiknya;
  • Bagaimana mengatur dengan jadwal sekolahnya, dsb.

Ternyata les yang dimaksud anak adalah kegiatan menggambar bersama teman-temannya.

( Perbedaan persepsi antara anak-anak dengan orang tua sering terjadi dalam hidup kita ).

Mendidik Anak

Seorang ibu berkata kepada anaknya, kamu harus berwibawa di depan adikmu!”. Dampaknya iya akan berusaha melakukan semua dengan sempurna, disini justru iya akan terlihat aneh di mata anak-anak lain.

( Sebenarnya anak-anak dan orang dewasa memiliki standar yang berbeda, banyak orang dewasa menerapkan standarnya kepada anak-anak).

Menumbuhkan Minat Belajar Anak

Ketika menonton televisi, sang anak berkata. “mama aku pengen bisa ngomong pakai bahasa inggris kayak di film.”

Sang ibu lalu mengajarkan beberapa kata yang ia tau, lalu menempatkan sang anak ke lembaga kursus, sang anak sangat senang dengan kursus tersebut, & hari-harinya dilalui dengan gembira.

( Disini sang ibu belajar memahami, suatu proses belajar akan disenangi jika motivasi yang tumbuh dari dalam, bukan paksaan ).

 Membentuk Suasana Belajar yang Menyenangkan

Betapapun kuat motivasi belajar anak, tetap membutuhkan lingkungan yang kondusif, memberikan keamanan dan kebebasan psikologis pada anak.

Keamanan psikologis dapat terbentuk dengan 3 proses, yaitu:

  • Orang tua menerima anak sebagaimana anaknya.
  • Orang tua mengusahakan suasana tanpa ada efek mengancam.
  • Orang tua dapat memberikan pengertian, dan dapat melihat dari sudut pandang anak.

Kebebasan psikologis dapat diberikan orang tua pada anak dengan cara memberikan kesempatan mengekspresikan pikiran-pikiran anak.

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan oleh orang tua, dalam menciptakan keamanan dan kebebasan psikologis guna membentuk suasana belajar.

  • Membangun empati
  • Menjalin kebersamaan
  • Membangun rasa memiliki
  • Mendorong kebebasan berekspresi
  • Pendampingan
  • Mengembangkan komunikasi efektif

Pengaruh Belajar yang Menyenangkan Terhadap Kreativitas Anak

Banyak hal yang bisa meningkatkan perkembangan anak ketika sedang mengalami proses belajar yang menyenangkan, salah satunya adalah perkembangan kreativitas. Banyak cara untuk  mengoptimalkan kreativitas anak, kreativitas memang membutuhkan imajinasi yang kuat, dan orang tua dapat membantu dengan menciptakan kondisi-kondisi tersebut.

Semakin banyak pengetahuan yang diperoleh anak, semakin baik dasar untuk mencapai hasil kreatif. Dan pendapat berbagai pakar, dapat disebutkan beberapa parameter kreativitas yang dimiliki seorang anak, yang dihasilkan dari kesenangan dalam belajar.

  • Kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru & unik
  • Kemempuan untuk mentransformasikan gagasan lama ke dalam bentuk-bentuk baru.
  • Kemampuan untuk membangun imajinasi dan fantasi yang terarah
  • Kemampuan untuk melihat kemungkinan jawaban terhadap suatu masalah
  • Adanya rasa ingin tahu yang luas & mendalam
  • Adanya minat yang luas dan keinginan bereksplorasi
  • Adanya perhatian pada proses, bukan sekedar hasil akhir
  • Adanya kesenangan dan kepuasan pribadi dalam melakukan pekerjaan
  • Adanya pengetahuan awal sebagai modal
  • Kepekaan akan keindahan (Sense of Beauty)
  • Kemampuan berfikir asosiatif & bermain dengan gagasan
  • Kepekaan melihat hal yang unik dari lingkungan sekitar dan aktivitas sehari-hari
  • Kemampuan mengungkapkan gagasa

22 Prinsip Komunikasi dalam Meningkatkan Minat Belajar Anak

Prinsip 1  Orang tua memberikan kebebasan anak untuk berkreasi, anak terpacu untuk membuat karya yang unik

Setiap anak memiliki keunikan sendiri. Cara berfikirnyapun unik dan khas, kebebasan yang diberikan oleh orang tua untuk berkreasi, akan membuat karya-karya unik & menarik.

Bentuk kebebasannya misalnya :

  1. Menghargai apapun hasil kreasi anak
  2. Mendorong anak berkreasi lewat karya yang unik, misalnya menggambar pelangi, dan menceritakan kembali lewat tulisan.

Prinsip 2  Orang tua menerima berbagai jawaban anak terhadap pertanyaan tertentu, anak belajar berfikir luas

Minat belajar anak bisa ditandai dengan adanya keingintahuan yang luas mengenai suatu hal. Ketika ditanyakan suatu hal,anak mempunyai minat belajar tinggi, mejawab dengan berbagai jawaban. Cara berfikir demikian disebut cara berfikir divergen ( meluas, banyak jawaban dalam suatu masalah ) dan elaborative ( membangun berbagai kemungkinan jawanab dari satu hal yang ditemukan.

Cara berfikir tersebut, dapat dibiasakan pada anak dengan jalan orang tua menerima apa pun jawaban anak terhadap satu pernyataan tertentu, bisa jadi jawaban anak salah atau tidak logis menurut cara berfikir orang dewasa, namun bisa jadi ada hal-hal menarik dari jawaban itu yang hanya bisa dipahami anak.

Prinsip 3 Orang tua menerangkan materi dengan sudut pandang yang unik, anak terpacu rasa ingin tahunya.

Hal yang mengurangi rasa ingin tahu anak atau membuatnya enggan belajar adalah rasa bosan. Kebosanan ini bisa diakibatkan oleh materi pengetahuan yang itu-itu saja & tidak bervariasi. Demikian dengan cerita, orang tua bisa mengemasnya dengan menarik yang menggugah keingintahuan anak tentang materi yang akan disampaikan, contohnya :

  1. Orang tua sedang mendampingi anak belajar mengenai pasang surut. Orang tua bisa mengawali dengan kalimat, “Mengapa permukaan air laut tiba-tiba meninggi ?”

Prinsip 4 Orang tua memberikan penjelasan awala secara jelas sebelum anak memulai pekerjaannya, anak mendapat pengetahuan awal secara efektif

Sebelum memberikan tugas pada anak untuk melakukan suatu pekerjaan, orang tua hendaknya membimbing anak dengan memberikan penjelasan awal yang bisa menjadi pedoman anak dalam melakukan sesuatu, sehingga ada gambaran awal yang dimiliki anak ketika melakukan pekerjaannya. Menyuruh tanpa memberikan contoh membuat bayangan anak menjadi samar-samar. Hal ini bisa mengakibatkan anak kebingungan dan menjadikannya enggan bertindak.

Prinsip 5 Orang tua menggunakan alat peraga, anak mempunyai modal awal yang lebih terbayang

Alat peraga penting digunakan ketika kita menerangkan sesuatu kepada anak. Alat peraga ini membantu anak membayangkan materi yang tengah disampaikan dan mengarahkan serta membimbing daya imajinasi anak pada materi yang tengah disampaikan. Contoh alat peraga bisa berupa, buku bergambar, poster, model atau miniatur.

Prinsip 6 Orang tua menerangkan dengan eksperimen, anak terpacu rasa ingin tahunya dan belajar mengamati terjadinya suatu fenomena

            Mengapa harus dengan eksperimen? Ketika anak mengalami kerepotan dalam melakukan eksperimen, anak bisa mendapatkan pengalaman yang unik, bersinggung langsung dengan apa yang diamati. Metode eksperimen bisa melatih anak tentang terjadinya suatu peristiwa. Dari pengamatan kan muncul berbagai hal yang menarik, & membuat rasa ingin tau anak lebih tinggi.

Prinsip 7 Orang tua memberikan ulasan dan kesimpulan terhadap apa yang dikerjakan anak, anak memahami maksud pekerjaan dan berpikir secara utuh

            Anak-anak sering melakukan sesuatu karena spontan. Bisa jadi ia melakukan sesuatu yang baik, namun ia tidak menyadarinya. Disinilah peran orang tua, memberikan ulasan secara keseluruhan tentang apa yang sudah dilakukan, agar anak memahami apa yang dilakukannya. Dengan pemahaman yang lebih terstruktur, anak menjadi lebih terarah dalam mengembangkan daya pikirnya menuju pemahaman yang menyeluruh (holistic).

Prinsip 8 Orang tua mengaitkan isi cerita dengan fenomena yang pernah dilihat anak, anak belajar berfikir mengaitkan satu hal dengan hal lain

            Meski anak mempunyai day imajinasi yang kuat, namun usahakan imajinasi itu terkait dengan kehidupan sehari-hari, bukan khayalan yang tak mendasar. Hal ini bisa dilatih dengan cara mengaitkan isi cerita kepada suatu hal yang pernah dilihat atau dialami anak. Keterkaitan ini bisa berupa fenomena yang ada disekitar anak, kegiatan sehari hari anak, atau hal-hal yang berkesan yang pernah dilihat anak sebelumnya. Disini orang tua akan memanfaatkan kerangka pemikiran yang sudah ada pada diri anak, sehingga materi akan mudah diterima karena telah dikenal lebih dulu, agar disini anak mulai beljar berfikir asosiatif, artinya berbagai kejadian yang dilihat dan dirasakan sehari-hari bisa saling terkait jika dipikirkan secara kreatif.

Prinsip 9 Orang tua memberikan kesempatan anak untuk bercerita, anak belajar mengungkapkan apa yang dipikirkan dan mengungkapkan gagasan secara lebih terstruktur

Bagaimana agar bisa lancar berbicara di depan orang lain? Salah satu jawabannya adalah banyak latihan. Latihan ini bisa dimulai ketika masih anak-anak. Orang tua berusaha memberikan kesempatan sebanyak mungkin bagi anak untuk mengungkapkan gagasannya dalam setiap kesempatan. Dan ketika anak sudah mampu menguasai banyak kosa kata, kita dorong anak untuk mau bercerita. Bercerita akan membuat anak belajar mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya, tidak saja kepada orang tuanya, tetapi juga kepada orang lain.

Prinsip 10  Orang tua membimbing anak tampil di depan forum, anak belajar berani berkreasi di depan banyak orang

Berbicara dan menjelaskan gagasan dengan baik di depan orang lain memerlukan banyak latihan, membutuhkan pengalaman dan keberanian. Keberanian tampil di depan forum sebaiknya dilatih ketika masih usia kanak-kanak. Hal ini akan berpengaruh terhdap kepercayaan dirinya. Kalau anak sudah mampu menguasai dirinya untuk tampil di depan orang banyak, maka akan meningkat pula keberanian anak menampilkan kemampuannya di depan umum. Dengan bimbingan dan pendamping orang tua, secara perlahan-lahan anak akan membangun keberaniannya tampil di depan banyak orang.

Prinsip 11 Orang tua melakukan pendampingan secara pribadi kepada anak, anak memiliki keamanan psikologis untuk berkreasi

Berkomunikasi dengan baik kepada anak bukan berarti bisa memberi instruksi, atau menyuruh anak melakukan apa yang diinginkan orang tua. Komunikasi yang kita lakukan kepada anak tidk akan efektif jika kita menyampaikan instruksi saja, kemudian membiarkan anak memahami pesan tersebut, tanpa arahan. Ketika anak tengah menjalankan apa yang kita sampaikan, maka pendampingan akan membuat anak merasa aman karena ia merasa ada yang siap memberikan pertolongan jika ia membutuhkan.

Prinsip 12 Orang tua melayani pertanyaan-pertanyaan anak, anak nyaman untuk berpendapat dan terpuaskan rasa ingin tahunya

            Dunia anak adalah dunia serba ingin tahu. Anak yang normal dan kreatif selalu menanyakan banyak hal sebagai wujud keingintahuannya. Apabila pertanyaan yang disampaikan selalu mendapat respons, maka anak akan merasa terpenuhi keingintahuannya. Hal ini akan mendorong anak untuk lebih berani dan banyak bertanya dalam usaha mengetahui berbagai macam hal. Sebaliknya apabila kita tidak merespons jawaban anak, kemungkinan anak menjadi enggan untuk menyampaikan pertanyaan karena keingintahuannya tidak terpenuhi.

Prinsip 13 Orang tua memberikan kesempatan kepada anak untuk mencoba lagi, anak belajar menyelesaikan pekerjaan dengan berbagai inovasi baru

Maju terus, pantang mundur! Kata-kata mutiara itu mungkin telah menjadi tradisi dalam perjuangan bangsa kita, terutama ketika mempertahankan kemerdekaan dulu. Malu dong, jadi anak Indonesia jika belum apa-apa sudah mundur atau menyerah. Namun anak tetaplah anak, dengan emosi yang masih labil mereka masih harus didampingi agar tidk menyerah dalam melakukan suatu pekerjaan, sampai dia berhasil menyelesaikannya.

Ketika anak mengalami kegaglan pertama, kita dorong untuk mencobanya kembali dengan cara-cara baru. Orang tua dapat memberikan semangat, hiburan, sehingga anak terhindar dari rasa putus asa. Maka ketika sudah berhasil menyelesaikan pekerjaannya, meski harus berulang kali gagal dan bersusah payah mencobanya, orang tua tetap memberikn pujian dari hasil kerja kerasnya.

Prinsip 14 Orang tua menjalin kedekatan, anak memiliki rasa aman secara psikologis untuk berkreasi

            Anak akan mudah menjalin komunikasi dengan kita bila ia merasa dekat. Maka, sebaiknya kita menghilangkan jarak dengan anak ketika berkomunikasi sehingga anak bisa merasa bebas untuk mengeluarkan isi hatinya. Dalam berbagai hal lain, kedekatan ini akan mendorong anak melakukan berbagai hal lain, kedekatan ini akan mendorong anak melakukan berbagai hal dengan kreasinya tanpa merasa dipantau dan disalahkan ketika mengeluarkan ide-ide baru.

Prinsip 15 Orang tua melibatkan anak secara aktif dalam belajar, anak merasa ikut memiliki dan tumbuh minat belajarnya

            “Libatkan saya, dan saya akan memahami apa yang anda ajarkan’, begitu ungkapan Cina kuno. Maka, melibatkan anak secara aktif dalam belajar akan membuat lebih efektif penyampaian materi yang tengah diajarkan. Rasa memiliki terhadap materi yang disampaikan lambat laun akan menumbuhkan minat anak dengan sendirinya untuk memahami dan mengikuti materi yang disampaikan. Ia juga akan bertanggungjawab dalam menjalankannya karena merasa materi itu telah menjadi miliknya.

Prinsip 16 Orang tua melibatkan diri dalam kegiatan anak, anak lebih bersemangat dalam berkreasi

            Anak akan merasa lebih bersemangat atau menyatu dalam suatu kegiatan bersama orang tua ketika orang tua melibatkan diri dengan kegiatan anak. Anak merasa sejajar dengan orang tua. Anak merasa tidk canggung dan bersemangat untuk berkreasi dalam kegiatan yang dilakukan.

Prinsip 17 Orang tua menciptakan suasana menyenangkan, anak menyenangi materi dan memiliki kepuasan pribadi dalam berkreasi

            Dalam suasana yang menyenangkan anak terbebas dari tekanan sehingga mempermudah penerimaan pesan yang disampaikan oleh orang tua. Kondisi dimana anak berada dalam suasana yang menyenangkan juga menjadi syarat penting bagi anak untuk dapat berkreasi (bebas dari tekanan).

Prinsip 18 Orang tua menciptakan suasana bersemangat dalam belajar, anak lebih termotivasi

Suasana bersemangat harus diciptakan untuk mendorong anak memusatkan perhatiannya pada materi yang sedang disampaikan dan memahami pesannya sehingga anak termotivasi dalam belajar.

Orang tua bisa membangun semangat anak dengan cara memposisikan diri sebagai partner atau teman bagi anak dalam memahami materi atau mencapai suatu hasil. Jadi anak tidak merasa harus berjuang sendiri ketika menemui materi yang sulit, tetapi ada orang tua yang memosisikan diri sebagai teman untuk bersama-sama mempelajari materi tersebut.

Prinsip 19 Orang tua menjaga konsentrasi anak, anak efektif dalam mendalami materi

Bukan anak-anak kalau konsentrasinya tidak mudah terbelah. Sudah menjadi sifat alami anak, jika ia tengah asyik bermain sesuatu, lalu ada mainan lain yang lebih menarik, maka ia meninggalkan permainannya yang lama menuju permainan yang baru. Ini menjadi kendala utama anak dalam menyerap dan memahami suatu hal, konsentrasi. Maka dalam menerima pesan yang disampaikan, perhatian adalah hal yang utama yang harus dijaga anak agar pesan dapat diterima. Untuk itu orang tua hendaknya selalu menjaga perhatian anak dengan berbagai cara agar pesan yang disampaikan dapat diterima.

Prinsip 20 Orang tua memberikan penghargaan (reward) yang bervariasi, anak mempunyai motivasi untuk menghasilkan karya yang terbaik

Pemberian penghargaan yang paling sederhana adalah memberikan pujian. Misalnya dalam kegiatan belajar mengenal buah-buahan dalm bahasa inggris. Ketika anak mampu mengelompokkan buah-buahan berdasarkan rasanya, menyebut nama buah dengan bahasa inggris yang benar, kita dapat memberikan penghargaan. Penghargaan dapat diciptakan dalam bentuk kretif, misalnya jika anak dapat memberikan jawaban yang benar, maka ia berhak mendapatkan pin dari buah-buahan itu.

Prinsip 21 Orang tua mengembangkan cara inovatif dalam mengajar, anak belajar berfikir luas

Belajar hampir sama dengan makan. Bila makan yang disantap adalah bahan makanan agar menjadi energy untuk pertumbuhan, maka belajar adalah proses menyantap berbagai informasi menjadi pengetahuan yang terstruktur. Jika makanan disajikan tanpa variasi, akan menyebabkan bosan, begitu pula dengan belajar. Anak perlu mendapat perlakuan variatif dalam belajar, agar ia terhindar dari rasa bosan. Orang tua hendaknya mengembangkan cara-cara baru atau inovatif dalam menyampaikan pesannya kepada anak. Hal lain selain untuk menghindari kebosanan anak dalam menerima pesan, juga melatih anak untuk berfikir divergen, tidak terpaku pada satu cara tetapi mampu melihat cara-cara lain yang mungkin diterapkan.

Prinsip 22 Orang tua menggunakan ekspresi mimik dan gerak, anak belajar untuk menghayati pekerjaan

Raut muka atau mimik wajah sanggup menceritakan apa isi hati kita, dan tidak pernah bohong. Kita bisa mengetahui anak kita sedih jika raut mukanya ditekuk, mata mulai berair, meski ia tidak mengatakan apa-apa tentang kesedihannya. Sebaliknya ekspresi wajah suka cita juga akan terlihat jelas, misalnya bila anak menerima hadiah dari kita dengan suka cita. Raut wajah, mimik memang bisa memperkuat suasana yang tercipta, dan ini menjadi modal kita dalam berkomunikasi dengan anak. Orang tua dapat menggunakan ekspresi wajah, mimik, dan gerakan, ketika berkomunikasi dengan anak. Ekspresi ini berfungsi untuk membangkitkan suasana, membuat anak memjadi bagian dari komunikasi yang tengah dibangun.

kesimpulan

Kurangnya pemahaman pada anak terhadap cara anak berkomunikasi menyebabkan sering terjadinya miss communication. Mulai dari orang tua yang terlalu memanjakan anaknya, hingga terlalu mengekangnya tidaklah baik juga. Membebaskannya dalam berekspresi namun tetap memperhatikan atau memberikan pengawasan apa yang dilakukan, serta kurang pahamnya orang tua terhadap apa yang anak sebenarnya inginkan.

Dalam buku ini kita banyak membahas tentang kesenangan-kesenangan anak dalam belajar yang banyak kita salah artikan, bagaimana cara anak belajar, meskipun terkesan main-main, namun anak sebenarnya banyak belajar dari apa yang mereka lakukan dan apa kesalahan mereka. Oleh karena itu, dukungan dari orang tua sangatlah penting terhadap tumbuh kembang anak. Bukan memanjakan atas apa yang selalu anak inginkan, namun tetap memberikan pengawasan pada saat anak melakukan sesuatu.

Daftar Pustaka

Junita, Ekomadyo. 2009. 22 Prinsip Komunikasi Efektif Untuk Meningkatkan Minat Belajar Anak. Bandung: Simbiosa Rekatama Media

Resume Buku : “Philosophy of Science after Feminism


ClickHandler.ashx1Penulis : Janet A. Kourany
Penerbit : Copyright © 2010 by Oxford University Press, Inc.
ISBN 978-0-19-973262-3; 978-0-19-973261-6 (pbk.)
Halaman : 162 halaman

Filsafat Ilmu setelah Feminisme
Studi dalam Filsafat feminis dirancang untuk menampilkan monograf mutakhir dan koleksiyang menampilkan berbagai pendekatan feminis terhadap filsafat, yang mendorongpemikiran feminis dalam arah baru yang sangat penting, dan menampilkan kualitas luar biasa dari pemikiran filsafat feminis.

Penulis (JanetA.Kourany) menyebutkan bahwa tujuan Filsafat Ilmu setelah Feminisme adalah untuk menyediakan cetak biru bagi sebuah filsafat ilmu social agar lebih terlibat dan bertanggung jawab secara sosial dari filsafat ilmu yang ada sekarang, filsafat ilmu pengetahuan yang dapat membantu untuk mempromosikan ilmu pengetahuan sosial terlibat dan bertanggung jawab secara sosial dari ilmu yang ada sekarang. Feminis-feminis ilmuwan dan sejarawan ilmu pengetahuan, serta filsuf feminis ilmu, telah mengejarjenis filsafat ilmu dalam bidang yang berkaitan dengan gender selama tiga dekade sekarang. Strategi yang digunakan oleh penulis bukuini dengan mengadopsi danmengembangkan pekerjaan mereka, yaitu sebuah program baru penelitian yang komprehensifuntuk filsafat ilmu. Untuk menjelaskan hal ini penulis membaginya menjadi lima bab.

Bab satuA Feminist Primer for Philosophers of Science ,meliputi; The Role of Science, Toward a new Role for Science, Toward a new Role for Pholosophy of Science dan Plan of the Book.

Di banyak Negara ada reverensi yang lebih besar untuk anak laki-laki dibandingkan perempuan, dan banyak di Negara lain, bayi perempuan dibunuh karena seks yang “salah”. Kekerasan melawan perempuan dan gadis tidak tertangani di setiap benua, Negara dan budaya dan ini adalah masalah yang pandemic. Satu dari tiga wanita di dunia di pukuli, dilibatkan dengan sex, atau dilecehkan seumur hidup (UNIFEM 2007). Apalagi, “wanita beresiko lebih besar dari kekerasan laki-laki yang mereka kenal. Di Australia, Kanada, Israel, Afsel, dan Amerika, 40-70% korban pembunuhan yang dibunuh pasangannya.” (UNEPA 2005)
Prostitusi dan pornografi dan penyeludupan wanita, multilasi genetika wanita, dan pembunuhan, restriksi yang berhubungan dengan reproduksi dan sosialisasi gender dan penyalahgunaan seksual dan masih banyak lagi masalah yang komplek bagi keberadaan wanita. Wanita di dunia selalu inferior dibanding laki-laki, mendapatperlakuan kasar, gaji yang kecil, perlakuan yang buruk di dalam atau di luar rumah.
Sains dapat menjadi kekuatan perjuangan dalam persamaan bagi wanita. Sains, dapat mengekpos tanggapan masyarakat melawan wanita atas persoalan ini, dan sains dapat menjustifikasi penempatan dalam perspektif kesamaan. Sebagi contoh, secara histrois, wanita lebih inferior dari laki-laki-secara intelektual, social, seks, bahkan moral (Marecek 1995; Wilkinson 1997). Di beberapa abad, diklaim bahwa otak wanita lebih kecil dari otak laki-laki, bahkan membenarkan perbedaan tubuh.
Benar bahwa dengan estimasi lebih dari 15,000: kajian kognitif manusia berbeda sex (kelamin); mereka gagal menemukan tidak ada perbedaan sex, mereka gagal melaporkan efek dari ukuran perbedaan kelamin, mereka gagal memasukan sample, mereka mengasumsikan sebagai basis biologis data crossculture (Halpern 2000). Tapi laporan berbeda mengatakan :
Kita dapat mengatakan dengan pasti bahwa ada perbedaan seks yang subtansial dalam fungsi kognitif seperti kemapuan rotasi (laki-laki), matematik (wanita), kemampuan motoric (wanita), dekteriti jari (wanita). Kita juga dapat menyatakan bahwa fungsi yang sangat berbeda secara seksual dengan kuat terpengaruhi oleh lingkungan hormonal (Kimura 2006, 181)
Sebagai hasil dari representasi lalu, perkumpulan laki-laki inti dari evolusi laki-laki, laki-laki itu aktif, instrumental, penyedia, innovator,. Pada saat yang sama, wanita sebagai pinggiran, tidak aktif dan justifikasi persamaan gender masih ditemukan hari ini (Conkey dan William 1991)
Sains, telah banyak mengerjakan untuk menguatkan dan menambah masalah wanita berkonfrontasi daripada menyelesaikannya. Tapi, tentunya, sains telah mengasilkan banyak informasi berkaiatan dengan masalah ini, dan ilmuwan juga telah menyediakan beberapa usaha untuk mengatasinya.
Inti dari bab ini mengenalkan jenis pertanyaan normative berdasarkan sain feminisme yang telah diyakini. Pertanyaan ini menempatkankan sains dengan kontek social yang lebih luas, investigasi aspek epistemic sain seperti mereka melihat dengan aspek ekonomi, sosiopolitik dan etik sain. Pertanyaan ini berseberangan dengan pertanyaan normative berdasarkan mainstream pilosofi sekarang. Filsafat ilmu lebih bertanggungjawab secara social dibanding filsafat yang ada sekarang.

Bab duaThe Legacy of Twentieth-Century Philosophy of Science, meliputi; The Professionalization of Philosophy of Science,Obstacles to Success, A Further Obstale,Early-Twentieth-Century Philosophy of Science: The Vienna Circle, Diagnostic Reflections, Prognostic Reflections, Therapeutic Reflections,

Departemen Pendidikan baru dan swasta telah memformat secara khusus terhadap filsafat ilmu, jurnal, buku seri yang di launching, dan pemerintah telah mensupport penelitian melalui sumber anggarannegara.
Dalam bukunya, Reichenbach telah mengatakan bahwa tugas filsafat ilmu adalah menganalisis “struktur internal” dari ilmu saintifik, bukan “relasi eksternal” (Reichenbach 1938, 3-8)
Pada akhir tahun 1950-an, Thomas Kuhn, Paul feyerabend, Norwood Russel hanson, Stephen Toulmin, dan banyak lagi pilosof dan ahli sejarah yang berbeda sains mengeluh bahwa filsat ilmu gagal membuat kontak dengan sains yang aktual. Masalahnya pada logika sains. Logika, tentunya relevan dengan rasionalitas saintifik. Tapi logika jauh dari cerita keseluruhan.
Program empiris logika pada abad pertengahan memfokuskan perhatiannya pada hasil teoritis sains. Ini yang dikeluhkan oleh Stephen Toulmin dan yang lainnya (1953, 1961)
Abad pertengahan kontek social dari sains dipengaruhi oleh sains militer secara masif:
Pertama, ini dipengaruhi oleh efek metodelogi dan organisasional. Kedua, efek subtansif. Dan ketiga, efek social.
Banyak beasiswa abad 20 pilosof sains di Vienna Circle, ini dimotivasi oleh kontek social dan politis.
Di pertengahan abad duapuluh, Vienna Cicle dan konsepsi dunia saintifik mampu menjalankan peran yang signifikan, dalam sain atau kehidupan social. Pilosof sains feminism, berkolaborasi dengan sejarawan feminis dan sosiolog, telah mengabadikan analisis komprehensif dari sain dalam masyarakat selama bertahun-tahun. Mereka memberi kita model bagaiman melakukan hal itu.

Bab tigaWhat Feminist Science Studies Can Offer, meliputi; The Methodological Approach to Sexism in Science, The Ideal of Value-Free Science, The Social Value of Science: A Social Approach to Sexism in Science, The Empiricist Ideal of Science: A Naturalist Approach to Sexism in Science, The Ideal of Socially Responsible Political Approach to Sexism in Science, Where You Take Over the Examination of the ideal of Socially Responsible Science, Where You Come to a Decision.

Melawan androcentrisme ( karakter laki-laki & wanita) dan sexisem (dualisme seksual) adalah hal pertama yang dilakukan oleh feminists (para ahli feminisme) dalam masyarakat, melawan androcentric dan sexism dalam ilmu pengetahuan adalah hal utama bagi semua feminist. Tapi bagaimana melakukannya?
Ahli feminist dan sejarah menyingkap sexism dan androcentrisme dalam bidang seperti antropologi, sosiologi, politik, penelitian medis, psikologi, biologi, dan arkologi, mereka menyingkap halangan yang dihadapi oleh ahli feminisme dengan baik dari persoalan tersebut. Mereka menginvestigasi dengan tindakan yang diperlukan untuk merespo. Dari penelitian dihasilkan tidak hanya sekedar perhiasan yang ‘wah’ tapi juga sebuah perangkat yang penting bagi kontekstual Filsafat ilmu dengan eksistensi rasisme, heteroseksual, pengkelasan.

Pendekatan Metodologi terhadap Sexism dalam Ilmu Pengetahuan
Banyak ilmuwan feminisme menunjuk bahwa paham sexism dan androsentris adalah hal yang gagal dalam standar konsep dari formasi atau design eksperimental atau analisis data atau yang lainnya melalui metodelogi ilmu tradisional yang kurang baik. (lihat, Hubbard 1979; Bleier 1984; Fausto-Sterling 1985).
Isu premenstrual syndrome (PMS-sindrom menstruasi) adalah kasus yang dicatat. Tahun 1980-an, PMS menjadi masalah biomedical dalam proporsi yang signifikan. PMS di Inggris menjadikan wanita kurang mampu mengendalikan posisinya dan tanggungjawabnya dalam masyarakat dibanding laki-laki (Riitenhouse 1991; Easteal 1991; Chrisler and Caplan 2002).
Masalah metodelogi yang serius yang sama berkenaan dengan penelitian sexist (seksual) dan androsentris dijelaskan dalam bab 1. Sosiolog feminisme Margit Eichler (1998) memperkenalkan sebuah “metode penelitian untuk non-seksual” untuk membantu pelajar atau peneliti yang diharapkan untuk melakukannya. Dia berkata : “Metode saya simple. Saya mengunjungi perpustakaan dan mengambil apapun issu terakhir dari jurnal dari berbagai disiplin ilmu, sehingga saya menemukan paling sedikit satu contoh dari sexism di setiap jurnal. Sedihnya, ini benar terjadi”. Psikolog feminisme Carolyn Sherif, sebagai contoh, menyarankan bahwa “ kepercayaan tentang cara proporsional untuk meyakinkan ilmu pengetahuan yang telah membuat penelitian psikologi secara ganjil cenderung bias dalam konsep, eksekusi dan interpretasi” (Sherif 1979, 63).

Ilmu yang Ideal Bebas Nilai
Menurut ilmu bebas nilai, investigasi saintifik harus dijaga kebebasannya dari komitmen politis dan etis. Akhir abad ke-20, nilai ilmu bebas yg ideal telah gagal hampir tidak dihargai. Nilai ilmu bebas yang ideal, dari semua kepentingan politik dan etis, menawarkan harapan yang dapat menyelesaikan, bahwa akhirnya, ilmu pengetahuan tersebut dapat menyediakan informasi yang objektif tentang wanita, dan dalam prosesnya, menyingkap dan memindahkan prasangka masyarakat melawan wanita, dengan tidak benar-benar menguatkan. Baik dari bidang politik, ekonomi dan sosiologi.

Manajemen Nilai Sosial yang Ideal dari Ilmu Pengetahuan: Sebuah Pendekatan Sosial Terhadap Sexism dalam Ilmu Pengetahuan.
Objektivitas saintifik harus melakukan dengan kebenaran dari saintifik klaim terhadap ilmu pengetahuan. “ sains adalah pikiran untuk menyediakan kita pandangan dunia yang objektiv dalam dua hal yang berbeda dari term tersebut” (Longino 1990, 62).
Masalahnya menurut Longino, ahli feminis pada masa lalu mefokuskan pada metode saintifik individual untuk membuka nilai social seperti sexism dan androsentris.
Manajemen nilai social dari Longino, rasionlaitas saintifik (objektivitas) adalah fungsi kerja komunitas, bukan sikap dan kebiasaan ilmuwan secara individual seperti nilai ilmu bebas dan pendekatan metodelogi yang rasional. (pendekatan Longino ini sangat berbeda dengan ilmuwan feminisme).
Empiris yang Ideal dari Sains: Sebuah Pendekatan Natural terhadap Sexism dalam Sains.
Ketika kita melihat praktisi saintifik yang sukses selama tiga dekade terakhir, kita menemukan bahwa yang menangani masalah gender dan relavansinya telah dihasilkan oleh ahli feminisme. Ada dua hal yang ditawarkan oleh naturalis feminisme ; pertama ‘standpoint hypotesis’ –wanita berkeinginan sama/lebih baik posisinya dengan laki-laki dalam mendeteksi sexism dan androsentris dalam sains dan menempatkan mereka dalam perspektif yang sama. Kedua ‘hypotesis nilai’ –feminisme memiliki pengaruh dalam perkembangannya.
Antonio (1993) dan Campbell (2001) mengklasifikasi sexism dan rasisme dengan nilai social feminis sebagai “bias”. Mereka kemudian membuat sebuah jarak antara “bias yg baik” (membimbing kita kpd kebenaran) dan ‘bias yg jelek’ (menjauhui kita dari kebenaran). Tegasnya, “kita harus memperlakukan kebaikan dan kejelekan dari bias sebagai pertnyaan empiric (Antony 1993, 215). Solomon (2001) juga mengklasifikasi bersama-sama nilai social dari egalitarian, rasisme dan sexism sebagai “ideology”.

Cita-cita dari Sain yang bertanggung Jawag terhadap Sosial: Pendekatan Politis terhadap Sexism dalam Sains.
Cita-cita dari responsibility secara social adalah mampu memenuhi peranan politik dari sain yang bebas nilai. Carolyn West , concern dengan penelitian psikologinyadalam masalah kekerasan domestic di Amerika (West 2002; and see West 2004). Meneliti kekerasan antara wanita kulit putih dan kulit hitam. Kekerasan yang dilakukan lawan intimnya. Disana, wanita kulit hitam memiliki streotip bahwa mereka lebih yang melakukan kekerasan daripada etnis lain. Dia melihat dari motif, kontek dan outcome dari aksi-aksi kekerasan. Metode yg digunakan qualitative dan quantitative. Masalah rasisme, kejahatan bersenjata dan pelecehan seksual.
Satu contoh dari West : selama era perbudakan, mereka mengalami trauma, yang bersaksi atas penculikan suami, saudara laki-laki, anak dan bapaknya dari pemilik budak. Diskiriminasi, manipulasi dan pelecehan (2002, 229).West telah menerima penghargaan dari komunitas kulit hitam untuk hal yang dikerjakannya-Outstanding Researcher Award- dari Lembaga Kekerasan domestic di Komunitas Amerika Afrika dimana aman untuk mengatakan bahwa program penelitian berfokuskan stereotype akan menemui respon yang berbeda.

Dimana Anda Menemui Sebuah Keputusan
Debat yang complicated tentang hubungan feminisme dengan multikulturalisme in Okin 1999. Bahwa wanita kulit hitam tidak menerima kesempatan yang sama dengan wanita kulit putih untuk hidup tanpa takut mendapat kekerasan dari partner domestic.
Apa hasilnya? Ini dapat memenuhi peran politik dan epistemic dari cita-cita lama dari nilai sain yang ideal.

Bab empatChallenges from Every Direction, meliputi; The Epistimological Challenge, The Historical Challenge, The Sociological and Economic Challenges, The Political Challenge.

Tantangan yang harus dihadapi, diterima dan direspon adalah gender, feminisme dan permasalahannya: Pertama; justifikasi epistemology -sains-ahli terlatih yang proporsional, Kedua ; justifikasi historis –efek epistemic yang dihasilkan dari sains, Ketiga; justifikasi sosiologis – menekankan kognitif unik pelembagaan social dalan sains, Keempat; justifikasi ekonomik – menekankan kemajuan sosioekonomi yang luar biasa yang dihasilkan dari kemajuannya. Terakhir, Kelima; justifikasi politik – pemaksaan bahwa ilmuwan memiliki hak kebebasan meneliti dan kebebasan berbicara.
Tantangan Epistimologi (campur tangan sains)
John Stuart Mill terkenal dengan strategi “marketplace of idea” ; strategi menurut akuisisi ilmu pengetahuan dengan investigasi bebas berdasarkan opini (Mill [1859] 1956,21)
Thomas Kuhn, di sisi lain, strategi optimal bertolak belakang; sesuatu harus diungkapkan melalui sains apa yang dilihat atau dimana yang dicari dan pendidikan seseorang sebagai sains yang menyuplainya (Kuhn 1963,)

Tantangan Historis
Tantangan historis focus pada episode khusus dari produk ilmu pengetahuan saintifik lebih dari strategi umum untuk menghasilkan ilmu pengetahuan (knowledge).Di buku ini menjelaskan contoh penelitian Lysenko pada era Hitler berkaitan dengan genetika. Syarat dari sebuah sains yang harus di-judge oleh dua standar ; standar politis dan epistemic (sains) dan harus memenuhi kemajuan sains dan progress sains.

Tantangan Ekonomi dan Sosiologis
Pertama, tantangan sosiologis,. Ini adalah formulasi klasik yang diberikan pada tahun 1942 oleh arsitek utama dari sosiologi modern, Robert K. Merton. Menurut Merton, institusi sains ditandai dengan “etos” atau “norma dan nilai yang kompleks dilakukan pada sains” ([1942] 1973, 268-269). Etos ini menggabungkan dua elemen; kognitif dan social, ditransmisi oleh “contoh dan aturan” dan di tegakkan oleh reward dan hukuman. Dan ini dilegitimat oleh tujuan sains. Ini adalah yang membentuk etos dari sains. Bagi Merton the original four (4 yang asli)-“komunisme, universalisme, ketidaktertarikan / disinterest” dan “skeptism menjadi inti dari etos sains.
Merton menekankan bahwa “institusi sain adalah bagian dari struktur social yang lebih luas yang tidak selalu terintegrasi”. Ketika kultur yang lebih besar melawan universalisme- “atau komunisme atau disinteresisme atau skeptisisme-“ etos dari sains di subjeksi pada tekanan yang serius (271). Ini terjadi pada system totalitarian NAZI Jerman dan Uni Soviet.Menurut tantangan ekonomi, apalagi, ketika peningktan sians dijamin, seperti juga kemajuan sosioekonomi. Menurut laporan kajian Vannevar Bush :
Kemajuan dalam sains membuat banyak lapangan pekerjaan, upah tinggi, jam yang lebih pendek, panen yang bagus, makin banyak tempat rekreasi, untuk belajar, tidak seperti masa yang lalu. Ini juga membawa standar hidup yang lebih tinggi, membawa pencegahan atau pengobatan penyakit. (Bush 1945, 5)

Kebalikannya, “tanpa kemajuan sains tidak ada yang dapat menjamin kesehatan, perumahan, dan keamanan sebagai sebuah Negara dalam dunia modern”. Menurut Bush juga bahwa penelitian dasar akan menyediakan capital (modal) saintifik, dengan meningkatkan aplikasi ilmu pengetahuan. Ini akan menciptakan kemajuan teknologi. Ini juga akan menciptakan pengembangan dan inovasi teknologi. Hal ini yang akan membuat dukungan subtansial dan terus-menerus terhadap basic research (penelitian dasar). Tanpa keterlibatan hal tersebut tidak akan membuat keuntungan sosioekonomik yang akan menjadikan kontrak social bagi sains.
Menurut tantangan ekonomi, kemajuan sains akan membuat keuntungan social, sedangkan menurut tantangan sosiologis, etos sains akan memfasilitasi kemajuan tersebut. Menurut tantangan economic dan sosiologis, jelasnya, tujuan motivasi yang mengadopsi ideal dari sains yang bertanggung jawab secara social akan terpuaskan.
Dari keterangan diatas, penelitian sosiologis dan historis yang dimulai pada tahun 1950-an masih gagal mekonfirmasi eksistensi dari sebuah etos Mertonian (Barnes and Dolby 1970).
Pengalaman 30 tahun atau lebih menunjukan fenomena dari sains dan teknologi berdasarkan pertumbuhan ekonomi terlihat diikuti dengan meningkatnya kualitas distribusi keuntungan ekonomik (Sarewitz, Foladori, Invernizzi, dan garfinkel 2004, 69)
Kemajuan teknologi dan saintifik saat ini diperlakukan untuk membuat ideal dari sain yang bertanggung jawab secara social bahkan dibutuhkan.

Tantangan Politis
Penelitian saintifik harus bebas dari represif laten dan pengaruh birokrasi, politik, agama dan perintah/pengaruh uang (Rabounski 2006, 57). Lebih jelasnya : Sebuah pekerjaan sains untuk institusi, otoritas, atau agency akademik, menjadi kebebasan yang lengkap sebagai sebuah penelitian, yang dibatasi oleh kemampuan intelektual dan dukungan yang ditawarkan melalui institusi, otoritas atau agency pendidikan. Semua ilmuwan memiliki hak untuk mempresentasikan penelitiannya kepada public melalui media yang tersedia, tanpa pengaruh dogma agama, politik, opini orang. Dan dijamin tidak akan diblacklist hanya karena penelitiannya.

Bab limaThe Prospects for Philosophy of Science in the Twenty-First Century, meliputi; A Glance, Again, at the Past, Challenges of the Present, Philosophy of Science: A Subject with a Great Future,Final Thoughts.

Sebuah janji telah dibuat pada permulaan buku ini untuk menyediakan sebuah program penelitian baru dari filsafat ilmu. Apa janji tersebut dipegang? Kita lihat.
Bab 1 dimulai dengan riview beberapa problem yang sangat menekan wanita berada dalam masyarakat hari ini.
Bab 2 eksplore akar dari filsafat ilmu terkini abad 20 dihubungankan dengan sain yang telah eksis dari vakum sosial, politik, ekonomi.
Bab 3 berbicara tentang metodelogi pendekatan feminsme, nilai social, dengan masalah andosentris dan sexism
Bab 4 ideal sain yang bertanggung jawab secara social dengan melawan 5 tantangan penting (epistomologi, historis, sosiologis, ekonomi dan tantangan politik).

Tantangan Hari ini
Hari ini, sains menderita dari masalah imej yang serius, terhadap masyarakat, generasi masa depan dan masalah lingkungan (global warming). Amerika telah menghabiskan 25 milyar dollar pada penelitian sistim iklim-globaldalam menciptakan kebijakan iklim tapi belum menjadi aksi yang berarti di kebijakan tersebut (Sarewitz 2006). Masalahnya, malah, semakin memburuk.

Filsafat Ilmu : Sebuah Subjek dengan Masa Depan yang Benar
Pertama, Penelitian AIDS. Lebih dari 25 juta orang di seluruh dunia meninggal karena AIDS. 33 juta orang terkontraksi AIDS. Tapi 9 dari 10 orang yang terjangkit HIV tidak mengetahui mereka terjangkit penyakit tersebut. (UNAID 2008, 15). Kedua, Penelitian kanker. NCI dan ACS (badan yang menangani kanker) di amerika telah melakukan penelitian dan bertanggung jawab terhadap perang melawan kanker.

Pemikiran Akhir
Akhirnya, terlihat penerimaan yang cepat dari Filsafat Ilmu feminis dan beasiswa kajian sains feminis secara umum, diantara Filsafat ilmu lainnya. (Rouse 1997, 210). Paling tidak ini menjadi harapan dari buku ini. Tentunya, pengejaran kerja tidak akan menjamin fisafat ilmu menjadi intelektual public. Tapi ini dapat dijadikan sebuah awal dari sebuah pandagan tentang gender.

QUANTUM LEARNING SEBAGAI ALTERNATIF SOLUSI


5134654297_cb4487f426_mPENDAHULUAN

Masalah mendasar yang dihadapi oleh dunia pendidikan di Indonesia, saat ini adalah rendahnya mutu outputnya, dan itu terjadi di semua tingkat pendidikan. Sebagai indikatornya adalah rendahnya hasil nilai Ujian Akhir Nasional (UAN) baik tingkat Sekolah Dasar, Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama, Sekolah Lanjutan Tingkat Atas, terutama untuk ilmu-ilmu Dasar.

Jika dibandingkan dengan negara-negara lain, misalnya laporan Bank Dunia berdasarkan studi IAEA (Internasional Association for the Education of Educational Achievement) tahun 1992, bahwa ketrampilan membaca siswa kelas IV SD Indonesia adalah terendah di Asia Timur. Rata-rata skor tes yang diperoleh siswa kelas IV SD Indonesia adalah 51, 7, dibandingkan dengan Filipina 52,6, Thailand 65,1, Singapura 74,0 dan Hongkong 75,5. selain itu, hasi studi The Third International Matematics and Science Study (IAEA 1999) memperlihatkan bahwa dari 38 negara peserta, prestasi siswa kelas 2 SLTP Indonesia berada pada urutan ke 32 untuk IPA dan ke 34 untuk Matematika.

Oleh karena itu pendidikan merupakan sistem terbuka, maka banyak faktor yang dapat dijadikan kambing hitam penyebabnya. Akan tetapi karena sekolah merupakan sentral dan ujung tombak pendidikan maka sekolah layak pula dijadikan sebagai terdakwa sumber penyebab rendahnya mutu pendidikan di Indonesia. Hal ini bisa terjadi kalau sekolah bukanlah tempat yang nyaman untuk belajar, dan bukan lagi tempat yang layak mengembangkan kemampuan serta kreativitas anak, bahkan malah menjadi penghambat bagi anak mencapai kecerdasan serta kebebasan berfikir.
SISTIM PENDIDIKAN KITA

1. Pendidikan = Penjara

Pada usia 0-5 tahun seorang anak mampu mempelajari 90 % semua kata yang selalu digunakan oleh orang dewasa. Namun setelah anak memasuki usia 6-7 tahun dan masuk sekolah, kecerdasan anak-anak ini turun 200 %. Mengapa ?

Pada tahun 1982 Jack Canfield, pakar masalah kepercayaan diri melaporkan hasil penelitiannya dimana seratus anak ditunjuk seorang periset untuk satu hari. Tugas periset adalah mencatat berapa banyak komentar positif dan negatif yang diterima oleh seorang anak dalam sehari. Penemuan Canfield adalah bahwa setiap anak rata-rata menemui 460 komentar negatif atau kritik dan hanya 75 komentar positif atau yang bersifat mendukung. Jadi komentar negatif 6 kali lebih banyak dibandingkan komentar positif.

Umpan balik negatif yang kontinue ini sangat berbahaya setelah beberapa tahun bersekolah, kemandegan belajar yang sesungguhnya terjadi, dan anak-anak menghalangi/menutupi pengalaman belajar mereka secara tidak sadar. Setelah lulus dari Sekolah Dasar kata belajar itu sendiri bisa membuat murid merasa tegang dan terbebani, “learning is not fun”.

Bernard Shaw dalam parents and children mengomentari dampak pendidikan dan kebijakan pendidikan yang menyebabkan para guru secara ekonomis nasibnya terpuruk sebagai berikut :
“Di muka bumi ini tidak satupun yang menimpa orang-orang tak berdosa separah sekolah, sekolah adalah penjara. Tapi dalam beberapa hal sekolah lebih kejam ketimbang penjara. Dipenjara misalnya anak tidak dipaksa membeli dan membaca buku-buku karangan sipir atau kepala penjara”. Selanjutnya Filusuf Bernard Rassell (1872-1970) dalam Sceptical Essays : Kini kita dihadapkan pada sebuah fakta paradoksal bahwa pendidikan menjadi salah satu kendala utama bagi usaha mencapai kecerdasan dan kebebasan berfiki.

Walaupun apa yang dikemukakan oleh ketiga ahli tersebut diatas belum tentu sepenuhnya benar, akan tetapi kondisi seperti itulah yang banyak mendominasi wajah sekolah dan pendidikan kita dewasa ini. Apa yang kita saksikan adalah mulai dari lingkungan sekolah yang gersang, fasilitas yang kurang, guru yang galak, disiplin yang kaku dan sebagainya. Kondisi itu diperparah lagi dengan proses belajar mengajar yang tidak berkualitas, masih kovensional yang hanya mengandalkan metode ceramah. Proses belajar yang demikian ini berjalan satu arah menempatkan siswa sebagai pihak yang pasif hanya sebagai pendengar dan pencatat, sehingga bagi siswa membosankan dan tidak menarik. Apa lagi kalau para guru kondisinya miskin pengetahuan, miskin metode dan miskin inovasi. Adalah sulit untuk dibayangkan upaya peningkatan mutu pendidikan dan outputnya berhasil dengan kondisi sistem pendidikan kita yang seperti ini.

2. Mengapa pendidikan kini lebih sadis dari penjara ?

Sekiranya boleh mengajukan hipotesis mengapa pendidikan lebih sadis dari penjara, hal ini disebabkan :
Sistem pendidikan kita yang lebih berorientasi kepada target-target lingkungan.
Anak-anak tidak pernah diajak apa lagi diserahkan menentukan apa yang mereka ingin sebagai bekal dimasa depan. Padahal kita mengetahui bahawa potensi dan bakat anak tidak sama. Seharusnya pendidikan kita dapat mengembangkan dan memfasilitasi semua tujuh kecerdasan yang dimiliki oleh anak.

Adanya penyeragaman dalam hal belajar mengajar, termasuk dalam hal ini bahan kurikulum.
Hal ini tentu sangat menghambat kreatifitas dan inovasi baik guru maupun siswa. Kerancuan sistem pembelajaran kita, baik di sekolah dan universitas, bahkan sampai ketempat orang bekerja mencari nafkah (perusahaan swasta maupun milik negara) berakar pada penyamaan secara semberono beberapa hal yang secara esensial berbeda.

3. Pengajaran tidak memperhatikan sistem otak manusia bekerja.
Bahwa manusia memiliki dua belah otak, yakni otak kiri dan otak kanan. Otak kiri berperan dalam kaitannya dengan kegiatan motorik (motor scquence), angka-angka, kata-kata, logika, urutan dan rincian, sedangkan otak kanan beperan dalam kaitan dengan sensor-sensor rasa (sensor scquence), gambar, imajimasi, warna dan ruang. Seharus pengajaran dapat mengembangkan otak kiri dan kanan. Akan tetapi dalam kenyataannya, pengajaran hanya mengembangkan otak kiti saja. Indikatornya adalah evaluasi yang digunakan oleh guru, maupun ujian nasional hanya seputar aspek kognitif saja. Akibatnya belajar bagi siswa adalah sesuatu yang memberatkan. Tidak diajarkannya bagaimana cara belajar yang baik kepada siswa, sehingga mereka tidak memiliki keterampilan belajar. Akibat dari hal ini maka siswa selalu tergantung kepada gurunya.

QUANTUM LEARNING SEBAGAI ALTERNATIF SOLUSI

Apa Quantum Learning itu ?

Quantum Learning didefinisikan sebagai “interaksi-interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya” semua kehidupan adalah energi. Tubuh manusia secara fisik adalah materi. Sebagai pelajar, tujuan kita adalah merah sebanyak-banyak mungkin cahaya, interaksi, hubungan, inspirasi agar menghasilkan energi cahaya. Quantum Learning menggabungkan sugestologi, teknik pemercepatan belajar, dan NLP dengan teori, kenyakinan dan metode. Termasuk diantaranya konsep-konsep kunci dari berbagai teori dan strategi yang lain seperti ;

  1. Teori otak kiri/kanan
  2. Teori otak triune (3 in 1)
  3. Pilihan modalitas
  4. Teori kecerdasan ganda
  5. Pendidikan holistik
  6. Belajar berdasarkan pengalaman
  7. Belajar dengan simbol
  8. Simulasi/permainan

 

Bagaiman Quantum Learning itu ?

Misteri otak
Quantum Learning dimulai dari memahami otak manusia susunan syarafnya, fungsi-fungsinya dan jenis perkembangan kecerdasan manusia.

Kekuatan AMBAK (Apa Manfaatnya Bagi Ku) ?
Segala sesuatu yang ingin kita kerjakan harus menjanjikan manfaat bagi kita. Jika bermanfaat kita kan termotivasi untuk mengerjakannya. AMBAK biasanya muncul di benak kita, kadang-kadang kita harus mencarinya atau bahkan menciptakannya.

  1. Menata Lingkungan Belajar Yang Tepat
    • Perabotan jenis dan penataan
    • Pencahayaan
    • Musik
    • Visual poster, gambar, papan pengumuman
    • Penempatan persediaan
    • Temperatur
    • Tanaman
    • Kenyamanan
    • Suasana hati secara umum

2. Memupuk Sikap Juara (Berpikir Positif)
Suatu sikap dimana kita mempunyai harapan yang tinggi, harga diri yang tinggi dan kenyakinan bahwa kita akan berhasil, kita akan memperoleh prestasi yang tinggi.
Berfikir Positif berarti : Kegagalan = Umpan balik dan membawa pada keberhasilan

3. Menemukan gaya belajar
Cara belajar adalah kombinasi dari bagaiman kita menyerap, lalu mengatur, dan mengolah informasi, meliputi modalitas dan dominasi otak.
4. Teknik Mencatat Tingkat Tinggi
Teknik mencatat tingkat tinggi mengajarkan kepada kita bagaimana catatan bisa digunakan untuk :

  • Melihat seluruh gambaran secara sekilas
  • Mengingat detail secara mudah
  • Melihat hubungan antara gagasan dan konsep
  • Bekerja sama dengan otak kita, bukan bertentangan dengannya.
  • Menyingkirkan “format outline” yang membosankan, selamanya.

 

5. Menulis Dengan Penuh Percaya Diri
Menulis dengan penuh percaya diri ini mengajarkan kepada kita :

  • Menemukan teknik-teknik curah gagasan yang cepat dan mudah
  • Menciptakan bahasa yang hidup dengan menggunakan cara dan ungkapan kita sendiri
  • Melakukan proyek penulisan dari awal hingga akhir dengan hanya sedikit stress
  • Selalu berharap untuk menulis

 

6. Keajaiban Memori
Keajaiban memori dapat memberikan kemudahan-kemudahan :

  • Mengembangkan kapasitas kita untuk mengingat fakta-fakta, detail-detail, dan “hal-hal yang harus dilakukan”.
  • Dengan mudah mengingat daftar nama-nama, nomor-nomor dan hal-hal lain.
  • Mengingat nama-nama orang yang kita kenal

 

7. Melaju Dengan Kekuatan Membaca.
Melaju dengan kecepatan membaca mensuport kita dalam :

  • Mengembangkan kecepatan membaca kita secara dramatis
  • Meningkatkan pemahaman dan daya ingat
  • Menambah perbendaharaan kata dan menambah bank data kita
  • Menghabiskan sedikit waktu untuk membaca sehingga kita dapat mengerjakan hal-hal lain

 

8. Berfikir Logis dan Berfikir Kreatif.
Berfikir logis dan kreatif dapat mendorong kita untuk :

  • Memaksimumkan proses-proses pemecahan masalah secara kreatif.
  • Membiarkan otak kanan kita bekerja pada situasi-situasi yang menantang.
  • Memahami peran paradigma pribadi dalam proses-proses kreatif.
  • Mempelajari bagaimana curah gagasan dapat memberikan pemecahan inovatif bagi berbagai masalah
  • Menemukan keberhasilan dalam berfikir tentang hasil

 

Demikianlah gambaran quantum learning yang dapat mengubah “learning is not fun” menjadi “learning is fun”, mengubah pendidikan yang tadinya penjara menjadi taman bunga yang indah.

Quantum learning ini akan lebih efektif apabila disertai political will pemerintah dibidang pendidikan dengan memberikan keluasaan yang sebenar-benarnya kepada sekolah, guru dan murid untuk berkreasi dan berinovasi.

Tanpa ini Quantum Learning tidak akan tumbuh subur seperti yang ingingkan. School base management bisa menjadi salah satu jalan keluar bagi keterpurukan sistem pendidikan nasional.

KEPUSTAKAAN

  • Andrian Harefa. Menjadi Manusia Pembelajar , Kompas, Jakarta, 2000.
  • Taufik Baharudin. Brain Inware Management, Elex Media Komputindo, Jakarta, 2001

 

STUDI BANDING DALAM TINJAUAN


lead28STUDI  banding sebagai hal yang sering dilakukan sejak SMP dulu biasanya keluar kota bahkan setelah masuk jenjangS1/ S2/S3  hal ini masih berlaku dengan lokasi yang lebih jauh lagi.
Seiring kesibukan dalam rangka mempersiapkan tesis ataupun disertasi, dan trend tiap angkatan sebagai salah satu gengsi tersendiri karena kesana biasanya bersama dosen atau calon pembimbing/calon promotor kita, “Setidaknya kalau satu perjalanan jauh bisa merekatkan sebuah hubungan yang lebih dekat dengan calon dosen pembimbing atau calon promotor kita”, kata teman kita yang merasakan manfaat studi banding tersebut  selain menambah wawasan tentunya.”Sambil berdayung, dua tiga pulau terlampaui”, begitu pepatah.
Masalah bagi sebagian mahasiswa, mungkin tak masalah bagi yang lainnya, buktinya program tersebut berjalan lancar. Soal Biayanya jangan tanya, kalau kunjungan dalam kota mungkin tak seberapa, tapi ke luar negeri,seperti  ke Hongkong, China, Jepang ataupun negara Asia, Australia, Eropa, kalau bisa Afrika, siapa yang tak ingin menambah wawasan dan bertamasya dengan kebanggaan yang luar biasa, apalagi kalau bukan masalah dana bagi mahasiswa yang secara finansial minus. Bahkan untuk kuliah saja hanya mengandalkan beasiswa dan pembiayaan lainnya yang minus, sehingga yang berangkat hanya beberapa gelintir mahasiswa yang mapan secara ekonomi dan biasanya kalau dijurusan kami minimal pejabat di tempat kerjanya, atau sisa beasiswa yang sebenarnya walaupun tak mendapat beasiswa mampu kuliah kejenjang lebih tinggi.
Ada laporan?, kayaknya sekedar oleh-oleh saja, karena sebagian punya cerita masing-masing, kami tahu lewat jejaring sosial bagaimana perjalanan mereka seperti facebook dengan potret narsis dibeberapa tempat yang dikunjungi ataupun pertemuan dengan kampus yang dikunjungi dan kami bahagia mendengar suatu yang baru di negara lain yang membuat terkagum-kagum yang sebenarnya mugkin bisa diterapkan bahkan hanya sekedar impian saja.karena secara kultural begitu berbeda dengan karakter bangsa kita.
Sekali lagi ini hanya sekedar studi banding?
Sebuah budaya yang mungkin baik, mungkin juga hanya sekedar pembiasan makna setelah melihat kehebatan bangsa lain dalam mengelola pendidikan, yang ditakutkan hanya sekedar sebuah anomie yang menjangkiti para petinggi kita yang juga diikuti oleh calon petinggi dalam jenjang pendidikan tinggi.Sebagaimana studi banding anggota dewan kita yang berkesan in-efisiensi ke beberapa negara lain sehingga ditolak keberadaannya, karena lebih mengumbar budaya belanja daripada mencari pembelajaran sehingga kita pulang tak satupun yang bisa dipetik dan diterapkan di negara tercinta ini. Rupanya hal ini sudah dirintis sejak masih S2/S3, tapi argumen teman kita yang ikut berkunjung tergantung penilaian masing-masing, segala sesuatu ada value-nya.”Tak ada yang salah sehabis perkuliahan selesai dan menjelang proses disertasi untuk sekedar refresing menghilangkan kepenatan”, kata teman kita. “Lu, aja tanda tak mampu”, lanjutnya.
Studi banding yang dilakukan terukur, terjangkau dan terencanakan dengan tolak ukur yang bisa dipahami semua orang sehingga sehabis studi tour kita benar-benar mendapatkan pengalaman yang bisa mendukung kualitas kita sebagai calon pemimpin dimasa yang akan datang atau seorang intelektual yang berkarakter, kritis dan itu hanya sekedar pendapat, pro dan kontra. pengalihan hasil misalnya bsia saja menuangkan dalam sebuah karya buku atau membenchmark organsasi pendidikan yang suatu waktu akan kita tuangkan sendiri dalam dunia pendidikan. Walaupun tujuannya studi, jangan ada kesan hanya pelepas lelah. Tujuan dasarnya hilang dengan jalan-jalannya, atau bisa juga berbagi dengan mahasiswa lainnya yang dirasakan mungkin tidak tahu akan kesulitan terutama yang berhubungan dengan finansial.
Studi banding jangan ada kesan perbedaan jarak perhatian. Objektifitas tetap terjaga, karena studi banding hanya sekedar peningkatan pengalaman mahasiswa akan perbedaan dan luasnya dunia pendidikan yang bisa dijadikan sebagai contoh dan master plan dari negara lain dalam pengelolaan pendidikan.
Sekali lagi yang tidak ikut kunjungan ke negara lain bukan tidak solider tapi masih saja terbentur dengan masalah prioritas keuangan mahasiswa yang tidak semua memiliki anugrah dalam finansial dengan bisa kuliah kejenajnag lebih tinggi berkat bantuan beasiswa yang tertunda. wallahu alam.

QUANTUM LEARNING


Apa Quantum Learning itu ?

Quantum Learning didefinisikan sebagai “interaksi-interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya” semua kehidupan adalah energi. Tubuh manusia secara fisik adalah materi. Sebagai pelajar, tujuan kita adalah merah sebanyak-banyak mungkin cahaya, interaksi, hubungan, inspirasi agar menghasilkan energi cahaya.

Quantum Learning menggabungkan sugestologi, teknik pemercepatan belajar, dan NLP dengan teori, kenyakinan dan metode. Termasuk diantaranya konsep-konsep kunci dari berbagai teori dan strategi yang lain seperti ;

 

  1. Teori otak kiri/kanan
  2. Teori otak triune (3 in 1)
  3. Pilihan modalitas
  4. Teori kecerdasan ganda
  5. Pendidikan holistik
  6. Belajar berdasarkan pengalaman
  7. Belajar dengan simbol
  8. Simulasi/permainan 

Bagaiman Quantum Learning itu ?

 

Misteri otak

 

Quantum Learning dimulai dari memahami otak manusia susunan syarafnya, fungsi-fungsinya dan jenis perkembangan kecerdasan manusia.

 

Kekuatan AMBAK (Apa Manfaatnya Bagi Ku) ?

 

Segala sesuatu yang ingin kita kerjakan harus menjanjikan manfaat bagi kita. Jika bermanfaat kita kan termotivasi untuk mengerjakannya. AMBAK biasanya muncul di benak kita, kadang-kadang kita harus mencarinya atau bahkan menciptakannya. 

Menata Lingkungan Belajar Yang Tepat

 

  1. Perabotan jenis dan penataan
  2. Pencahayaan
  3. Musik
  4. Visual poster, gambar, papan pengumuman
  5. Penempatan persediaan
  6. Temperatur
  7. Tanaman
  8. Kenyamanan
  9. Suasana hati secara umum 

Memupuk Sikap Juara (Berpikir Positif)

 

Suatu sikap dimana kita mempunyai harapan yang tinggi, harga diri yang tinggi dan kenyakinan bahwa kita akan berhasil, kita akan memperoleh prestasi yang tinggi.

Berfikir Positif berarti :

Kegagalan = Umpan balik dan membawa pada keberhasilan

Menemukan gaya belajar
Cara belajar adalah kombinasi dari bagaiman kita menyerap, lalu mengatur, dan mengolah informasi, meliputi modalitas dan dominasi otak.
Teknik Mencatat Tingkat Tinggi
Teknik  mencatat tingkat tinggi mengajarkan kepada kita bagaimana catatan bisa digunakan untuk :

  1. Melihat seluruh gambaran secara sekilas
  2. Mengingat detail secara mudah
  3. Melihat hubungan antara gagasan dan konsep
  4. Bekerja sama dengan otak kita, bukan bertentangan dengannya.
  5. Menyingkirkan “format outline” yang membosankan, selamanya.

Menulis Dengan Penuh Percaya Diri
Menulis dengan penuh percaya diri ini mengajarkan kepada kita :

  1. Menemukan teknik-teknik curah gagasan yang cepat dan mudah
  2. Menciptakan bahasa yang hidup dengan menggunakan cara dan ungkapan kita sendiri
  3. Melakukan proyek penulisan dari awal hingga akhir dengan hanya sedikit stress
  4. Selalu berharap untuk menulis

Keajaiban Memori
Keajaiban memori dapat memberikan kemudahan-kemudahan :

  1. Mengembangkan kapasitas kita untuk mengingat fakta-fakta, detail-detail, dan “hal-hal yang harus dilakukan”.
  2. Dengan mudah mengingat daftar nama-nama, nomor-nomor dan hal-hal lain.
  3. Mengingat nama-nama orang yang kita kenal

Melaju Dengan Kekuatan Membaca.
Melaju dengan kecepatan membaca mensuport kita dalam :

  1. Mengembangkan kecepatan membaca kita secara dramatis
  2. Meningkatkan pemahaman dan daya ingat
  3. Menambah perbendaharaan kata dan menambah bank data kita
  4. Menghabiskan sedikit waktu untuk membaca sehingga kita dapat mengerjakan hal-hal lain

Berfikir Logis dan Berfikir Kreatif.
Berfikir logis dan kreatif dapat mendorong kita untuk :

  1. Memaksimumkan proses-proses pemecahan masalah secara kreatif.
  2. Membiarkan otak kanan kita bekerja pada situasi-situasi yang menantang.
  3. Memahami peran paradigma pribadi dalam proses-proses kreatif.
  4. Mempelajari bagaimana curah gagasan dapat memberikan pemecahan inovatif bagi berbagai masalah

Menemukan keberhasilan dalam berfikir tentang hasil
Demikianlah gambaran quantum learning yang dapat mengubah “learning is not fun” menjadi “learning is fun”, mengubah pendidikan yang tadinya penjara menjadi taman bunga yang indah.
Quantum learning ini akan lebih efektif apabila disertai political will pemerintah dibidang pendidikan dengan memberikan keluasaan yang sebenar-benarnya kepada sekolah, guru dan murid untuk berkreasi dan berinovasi.
Tanpa ini Quantum Learning tidak akan tumbuh subur seperti yang ingingkan. School base management bisa menjadi salah satu jalan keluar bagi keterpurukan sistem pendidikan nasional.

KEPUSTAKAAN
Andrian Harefa. Menjadi Manusia Pembelajar , Kompas, Jakarta, 2000.
Taufik Baharudin. Brain Inware Management, Elex Media Komputindo, Jakarta, 2001

 

STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN (SNP)


PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang

Persoalan pendidikan di zaman teknologi dan informasi sekarang ini dipandang sebagai problem yang sangat luar biasa sulit di berbagai negara. Walaupun demikian negara-negera yang peduli terhadap masalah ini mengakui bahwa pendidikan sebagai tugas negara yang maha penting. Pendidikan merupakan kunci dalam membangun dan memperbaiki sikap individu dalam menghadapi keadaan dunia yang terancam oleh berbagai potensi bencana boleh jadi diawali oleh pemenasan global, dan tanpa kunci itu usaha tersebut akan gagal.

Dalam konteks tersebut, maka setiap negara di dunia terus melakukan peningkatan pendidikan masing-masing. Indonesia, dalam hal ini melakukan perubahan sistem pendidikan guna mencapai kualitas atau mutu pendidikan yang terus menerus menuju ke arah lebih baik. Hal ini perlu diupayakan secara serius dan fokus, oleh karena peradaban masyarakat bangsa Indonesia ditentukan oleh bagaimana pendidikan dijalani oleh masyarakat.

Sistem pendidikan, menurut Sukarno (2005) merupakan bangunan sekaligus ihktiar yang sangat strategis untuk itu, oleh karena sistem pendidikan mengandaikan adanya pembagian kewenangan antara negara dan masyarakat dan  tata-kelolanya yang meliputi pemeliharaan, kontrol, kreasi, adopsi dan distribusi nilai, pengetahuan, ketrampilan maupun tata-hubungan kuasa. Oleh karena itu kebijakan pendidikan yang tepat pada umumnya harus secara struktural dapat memadukan daya masyarakat, negara dan dunia usaha secara tepat dan secara individual memicu mobilitas kultural, vertikal dan horisontal individu yang ketiganya pada gilirannya mengembangkan produktifitas budaya, sosial dan ekonomi sekaligus menuntut pengembangan habitat yang demokratis. Namun demikian, bila kebijakan yang diambil salah, upaya pendidikan dapat jatuh menjadi sekedar upaya mereproduksi tatanan dan struktur  sosial, ekonomi dan politik  lama dan memberikan  bahan ajar-materi didik, sistem pengelolaan dan akses pendidikan maupun peluang kerja yang tidak memadai dan tidak berkeadilan. Ketertinggalan struktural (tata hubungan kuasa) dan budaya (nilai, ilmu, teknologi dan tata-nilai hubungan kuasa),  akan lebih mempersulit bagi upaya transisi menuju demokrasi dan upaya memenangkan kompetisi dari globalisasi. 

Cara dan sistem pendidikan yang sudah berakar dalam dan bertahan lama sebenarnya membutuhkan reformasi pendidikan secara menyeluruh. Dalam hal pemerintah mencoba memotong kompas dengan gagasan untuk menyamaratakan mutu pendidikan di Indonesia. Namun, upaya ini sering menjadi sasaran kritik dan kecaman karena belum meratanya taraf kehidupan di masing-masing wilayah di Indonesia. Sehingga pemerataan standar pendidikan yang mengacu pada standar nasional harus dilaksana secara bertahap, sesuai dengan taraf kehidupan masyarakat di masing-masing wilayah.

Pengertian

Menurut Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005 bab 1 pasal 1 ayat 1, yang dimaksud dengan standar nasional pendidikan adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dengan kata lain, setiap lembaga pendidikan dituntut untuk memenuhi kriteria minimum yang telah ditentukan. Guna tercapainya tujuan pemerataan pendidikan di wilayah hukum Negara Kesatuan republik Indonesia.

Dalam pelaksanaan peningkatan mutu pendidikan, haruslah ada yang menjamin dan mengendalikan mutu pendidikan sehingga sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan. Dalam hal ini pemerintah melakukan evaluasi, akreditasi, dan sertifikasi. Ketiga proses ini dilaksanakan untuk menentukan layak tidaknya lembaga pendidikan yang berstandar nasional.

Standar Nasional Pendidikan bertujuan bukan hanya untuk memeratakan standar mutu pendidikan di Negara Kesatuan Republik Indonesi, tetapi juga untuk memenuhi tuntutan perubahan lokal, nasional dan, global. Dikarenakan mutu pendidikan di Indonesia telah jauh tertinggal dari negara ASEAN yang lain, maka peningkatan-peningkatan di segi pendidikan akan terus terjadi. Sehingga mutu pendidikan di Indonesia bisa bersaing dengan negara lain.

B.      Lingkup

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005, ada  delapan standar yang menjadi sorotan dalam melaksanaan Standar Nasional Pendidikan.

1.      Standar Isi

Standar isi adalah ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan dalam kriteria tentang kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian, kompetensi mata pelajaran, dan silabus pembelajaran yang harus dipenuhi oleh peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu.

Standar isi mencakup lingkup materi dan tingkat kompetensi untuk mencapai kompetensi lulusan pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Setiap jenjang memiliki kompetensi yang berbeda, mulai dari sekolah dasar hingga sekolah menengah. Dan dalam standar isi termuat kerangka dasar dan struktur kurikulum, beban belajar, kurikulum tingkat satuan pendidikan, dan kalender pendidikan/akademik, yang berguna untuk pedoman pelaksanan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

2.      Standar Proses

Standar proses adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran pada satu satuan pendidikan untuk mencapai standar kompetensi lulusan.

Proses pembelajaran seharusnya dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Hal tersebut sangatlah membantu dalam pekembangan akal dan mental peserta didik.

3.      Standar Kompetensi Lulusan

Standar kompetensi lulusan adalah kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Standar kompetensi lulusan digunakan sebagai pedoman penilaian dalam penentuan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan.

Setiap jenjang pendidikan memiliki kompetisi dasar yang berberda. Mulai dari pendidikan dasar yang hanya bertujuan meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, ahklak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. Sampai ke jenjang petguruan tinggi yang bertujuan mempersiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang berakhlak mulia, memiliki pengetahuan, keterampilan, kemandirian, dan sikap untuk menemukan, mengembangkan, serta menerapkan ilmu, teknologi, dan seni, yang bermanfaat bagi kemanusiaan.

4.      Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan

Standar pendidik dan kependidikan adalah kriteria pendidikan prajabatan dan kelayakan fisik maupun mental, serta pendidikan dalam jabatan. Pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi bagi para pendidik diantarnya :

a)      kualifikasi akademik pendidikan minimum diploma empat (D-IV) atau sarjana (S1)

b)      latar belakang pendidikan tinggi dengan program pendidikan yang sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan; dan

c)      sertifikat profesi guru untuk jenjang yang dia geluti.

5.      Standar Sarana dan Prasarana

Standar sarana dan prasarana adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan kriteria minimal tentang ruang belajar, tempat berolahraga, tempat beribadah, perpustakaan, laboratorium, bengkel kerja, tempat bermain, tempat berkreasi dan berekreasi, serta sumber belajar lain, yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran, termasuk penggunaan teknologi informasi dan komunikasi.

Setiap lembaga pendidikan wajib memiliki sarana dan prasarana yang telah ditentukan. Ada pun sarana tersebut antara lain meliputi perabot, peralatan pendidikan, media pendidikan, buku dan sumber belajar lainnya, bahan habis pakai, serta perlengkapan lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan.

Sedangkan prasarananya antara lain lahan, ruang kelas, ruang pimpinan satuan pendidikan, ruang pendidik, ruang tata usaha, ruang perpustakaan, ruang laboratorium, ruang bengkel kerja, ruang unit produksi, ruang kantin, instalasi daya dan jasa, tempat berolahraga, tempat beribadah, tempat bermain, tempat berkreasi, dan ruang/tempat lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan.

6.      Standar Pengelolaan

Standar pengelolaan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan kegiatan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan, kabupaten/kota, provinsi, atau nasional agar tercapai efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pendidikan.

Pengelolaan satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah menerapkan manajemen berbasis sekolah yang ditunjukkan dengan kemandirian, kemitraan, partisipasi, keterbukaan, dan akuntabilitas. Sadangkan pengelolaan satuan pendidikan pada jenjang pendidikan tinggi menerapkan otonomi perguruan tinggi yang dalam batas-batas yang diatur dalam ketentuan perundang-undangan yang berlaku memberikan kebebasan dan mendorong kemandirian dalam pengelolaan akademik, operasional, personalia, keuangan, dan area fungsional kepengelolaan lainnya yang diatur oleh masing-masing perguruan tinggi.

7.      Standar Pembiayaan

Standar pembiayaan adalah standar yang mengatur komponen dan besarnya biaya operasi satuan pendidikan yang berlaku selama satu tahun. Ada tiga macam biata dalam standar ini :

a)      Biaya investasi satuan pendidikan yaitu biaya penyediaan sarana dan prasarana, pengembangan sumberdaya manusia, dan modal kerja tetap.

b)      Biaya personal sebagaimana adalah biaya pendidikan yang harus dikeluarkan oleh peserta didik untuk bisa mengikuti proses pembelajaran secara teratur dan berkelanjutan.

c)      Biaya operasi satuan pendidikan meliputi

1.      gaji dan tunjangan pendidik dan tenaga kependidikan

2.      bahan atau peralatan pendidikan habis pakai, dan

3.      biaya operasi pendidikan tak langsung seperti air, pemeliharaan sarana dan prasarana, pajak, asuransi,   lain sebagainya.

8.      Standar Penilaian Pendidikan

Standar penilaian pendidik adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan mekanisme, prosedur, dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik.Penilaian dilakukan secara berkesinambungan untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil dalam bentuk ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, dan ulangan kenaikan kelas.

MUATAN ISU KRITIS DALAM STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN

Seiring dengan disahkannya Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, maka terjadilah perubahan sistem pendidikan nasional guna mencapai standar minimum yang telah ditentukan pemerintah. Di samping itu terjadi penolakan Standar Nasional Pendidikan. Adapun beberapa alasan yang menyebabkan belum layaknya Standar Nasional Pendidikan diterapkan secara nacional antara lain:

1.    Pertumbuhan Ekonomi yang Tidak Merata di Setiap Daerah

Kenyataan menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi berandil besar dalam perkembangan aspek kehidupan lain, tidak terkecuali pendidikan. Namun sayangnya terkadang daerah yang memiki hasil alam tinggi perkembangan pendidikannya tidak seperti yang diharapkan. Walaupun sudah dikeluarkan UU nomor 22 tahun 1999 tentang otonomi daerah (OTDA), tapi tetap saja pembangunan di bidang pendidikan masih tidak menentu. Dikarenakan sifat pemerintah pusat tidak mempersiapkan sumberdaya untuk menjalankan sistim pendidikan yang sekarang sedang berjalan. Dengan demikian pemerintah pusat terkesan setengah-setengah dalm pemberian wewenang untuk mengurusi pendidikan di daerah.

Drs. Murip Yahya M.Pd. dalam bukunya, Pengantar Pendidikan (2009) bab Otonomi Daearah Dan Pendidikan, poin D halaman 80 mengatakan bahwa pada dasarnya otonomi daerah memberikan peluang kepada pengelola pendidikan untuk mengembangkan lembaga pendidikan. Seperti :

1.      Merumuskan tujuan institusi yang mengacu pada tujuan nasional

2.      Merumuskan dan mengembangkan kurikulum sesuai dengan tujuan dan kebutuhan masyarakat suatu daerah

3.      Menciptakan situasi belajar dan  mengajar yang mendukung pelaksanaan dan pengembangan kurikulum yang telah ditetapkan.

4.      Mengembangkan sistem evaluasi yang tepat dan akurat, baik dari prestasi siswa maupun penyelenggaraan.

2.    Sarana Fisik Yang Kurang Memadai

Banyak sekali sekolah dan perguruan tinggi yang keadaan gedungnya sudah tidak layak, kepemilikan dan penggunaan media belajar rendah, kurang lengkapnya koleksi buku perpustakaan. Pemakaian teknologi informasi yang kurang memadai dan sebagainya.

Data Balitbang Depdiknas (2003) menyebutkan untuk satuan SD terdapat 146.052 lembaga yang menampung 25.918.898 siswa serta memiliki 865.258 ruang kelas. Dari seluruh ruang kelas tersebut sebanyak 364.440 atau 42,12% berkondisi baik, 299.581 atau 34,62% mengalami kerusakan ringan dan sebanyak 201.237 atau 23,26% mengalami kerusakan berat. Keadaan ini juga terjadi di SMP, MTs, SMA, MA, dan SMK meskipun dengan presentase yang tidak sama.

Apa yang terjadi di Pulau Jawa masih sangat beruntung dibanding dengan apa yang terjadi di pulau lainnya, seperti Papua. Pengadaan sarana dan prasarana yang tidak sesuai kebutuhan mengakibatkan lambatnya peningkatan mutu pendidikan. Seharusnya pemerintah lebih memperhatikan daerah tertinggal (desa) daripada mengurusi pendidikan di daerah maju (kota) yang jelas-jelas lebih bisa dipantau. Hal ini akan lebih memudahkan pemerintah dalam mensukseskan program pemerataan pendidikan yang berpaku pada Standar Nasional Pendidikan (SNP).

3.    Pendidikan kita tidak bebas nilai

Menurut Sukarno (2005) kebijakan pendidikan akhir-akhir ini lebih banyak ditandai oleh upaya penyesuaian struktural, namun demikian bentuk penyesuaian struktural yang diambil sering dianggap bersumber pada pilihan aliran (-aliran) politik pendidikan dan pilihan tehnokratis yang mungkin. Agaknya hal itu juga nampak pada orientasi pendidikan yang secara verbal diutarakan dan bentuk kebijakan yang diambil oleh antara lain Mendiknas.

Orientasi pendidikan yang dipilih secara formal adalah seperti yang termaktub dalam UUD ’mencerdaskan bangsa’ dan mengembangkan potensi manusia Indonesia seutuhnya dan seluruhnya (UU 20/2003 Sisdiknas). Namun demikian, sebagian terjemahan oleh Mendiknas secara rethorik dan kebijakan Depdiknas atas orientasi itu nampaknya menekankan politik eklektis (antara neo-konservatisme dan progresif humanistik dan sedikit orientasi radical education), kendati mencoba menghapus kenangan ’sekolah pembangunan’ yang pernah dimunculkan di jaman Orde Baru. Mendiknas agaknya mencoba  mengakomodasi pertentangan orientasi politik pendidikan sehingga lebih bersifat eklektis-politis, mengambil elemen-lemen yang layak dan laik untuk dipilih secara politis. Sehingga dapat disejajarkan dengan kebijakan politik yang amat populer di era reformasi yakni tentang otonomi daerah.

Nada humanistisnya terlihat pada kutipan di bawah ini: “Mendiknas akan membawa paradigma pendidikan kita tidak sekedar menempatkan manusia sebagai alat produksi. Manusia harus dipandang sebagai sumberdaya yang utuh. Ia tidak ingin terjebak pada teori ekonomi neo-klasik, teori yang menempatkan manusia sebagai alat produksi, dimana penguasaan iptek bertujuan menopang kekuasaan dan kepentingan kapitalis. “Saya akan membawa pendidikan sebagai proses pembentukan manusia Indonesia seutuhnya” (kompas 22/10).

Implikasi pedagogis yang harusnya terjadi seperti pernyataan Gramsci: yakni, mengembangkan kemampuan murid dari sub-altern untuk mendapatkan pengetahuan sama dengan anak kelas atas, dan mampu secara kritis melihat sejarah keterbelakangannya sendiri untuk membangun motivasi baru. Ia menekankan perlunya satu atap sekolah yang tidak membedakan vocational dan academic education. Dengan demikian pendidikan benar-benar ditaruh di altar publik, atau ’mimbar oemoem’ sebagai hal yang dicita-citakan Dewantara (1945 [1963]) masih jauh sekali realisasinya.

Selanjutnya Sukarno (2005) menyatakan bahwa dilihat dari tantangan besar yang terbentang di atas, nampaknya Depdiknas masih terlalu disibukkan kepada pemecahan masalah yang berhubungan dengan ’structural adjustment’  sehingga seakan-akan belum sempat mempersiapkan kerangka pendidikan yang tepat dan mempersiapkan gurunya  secara baik untuk menyongsong masalah di atas, yaitu mengembangkan pembelajaran yang humanis-demokratis serta membangun lembaga partisipasi publik.

4.    Paradigma perubahan

Kekhawatiran menonjol yang berkaitan dengan upaya peningkatan mutu antara lain menyangkut lemahnya perbaikan mutu guru dan materi didik, serta metode pembelajaran (yang masih tradisional, khususnya untuk tujuan  demokratisasi), dan lemahnya sistem evaluasi dan orientasi efisiensi eksternal, khususnya relevansinya dengan kebutuhan demokratisasi masyarakat dan pengembangan dunia usaha. Rencana perbaikan kesejahteraan guru (sesuai UU Guru), sertifikasi tenaga kependidikan dan akreditasi lembaga pendidikan adalah langkah maju. Namun belum diketahui apakah ketiga rencana ini akan lebih membantu atau sebaliknya memojokkan sekolah/madrasah yang lemah, terutama swasta, di samping apakah akan lebih mendesakkan tolok ukur lingkungan sekolah yang demokratis dan pemahaman/kemampuan guru untuk mengembangkan kesetaraan, toleransi dan terutama solidaritas melalui proses belajar. Pertanyaan ini penting, terutama karena mewabahnya lingkungan pendidikan eksklusif, bias kelas ekonomi dan kurang pluralistis.

Demikian pula, kendati otonomi Daerah/sekolah telah  memunculkan inisiatif untuk mengembangkan program pendidikan atau ekstra kurikuler (misalnya life skill),   inisiatif itu nampaknya lebih didorong oleh ketersediaan guru/pelatihnya atau bahkan semata-mata keinginan sekolah /daerah untuk mendapatkan in-put tambahan, daripada didasari oleh kajian potensi dan prospek ekonomi daerah yang matang (efisiensi eksternal). Di pihak lain, khususnya pada sekolah-sekolah kejuruan dan pendidikan luar sekolah, on-the job training dan standardisasi organisasi profesi serta sertifikasi pelatihannya belumlah tertata dengan baik, sehingga kurang memberikan keyakinan tentang tingkat kualitas lulusannya bagi calon penggunanya.   Di tengah peningkatan angka pengangguran (600 ribu dalam setahun (April 2004-2005), kedua kebijakan seperti itu meningkatkan resiko terhadap nilai balik investasinya yang mahal. Siapa yang harus bertanggungjawab bila harapan masyarakat yang begitu tinggi terhadap nilai balik investasi (return on investment) tidak terujud kelak?

Dengan membandingkan kendala (kekhawatiran) terhadap upaya pemerataan dengan kendala  (kekhawatiran) terhadap upaya peningkatan mutu di atas menjadi jelas bahwa penanganan trade-off antara keduanya adalah masalah yang krusial.  Kendati dalam design pemerintah keduanya diharapkan akan berjalan seiring (merata dan meningkat mutunya), namun secara umum terdapat prognosa bahwa mengingat kemampuan pendanaan untuk pemerataan-peningkatan mutu dan manajement oleh pemerintah  yang masih lemah, maka realitas politik Daerah dan persaingan antar (otonomi) sekolah/madrasah memperebutkan akses politik dan  daya masyarakatnya itulah yang  akan lebih menentukan pemerataan vis a vis peningkatan mutu pendidikan kita.  Dinamika yang sekarang terlihat adalah begitu pemerintah sedikit saja melepas bagian tubuh pendidikan ke daerah dan pasar, maka oleh (otonomi) sekolah  yang lebih kuat bagian  itu direbut dan dijadikan komoditi yang syah bagi yang mampu. Kesenjangan agaknya akan melebar, pendidikan ’bermutu’ akan lebih dinikmati kelompok mampu, kecuali pemerintah meningkat kemampuan (terutama dana) dan komitmennya untuk meredam hal tersebut. Oleh karena itu pertumbuhan ekonomi dan peningkatan komitmen pada saat sekarang adalah dua ’telor’ yang  mendesak untuk dibuat.

Namun  demikian, pertanyaannya saat ini adalah: pertama, Bila  sekarang negara belum mampu berperan sebagai equalizing factor, apakah civil society (lembaga sosial kependidikan di masyarakat) setelah menghadapi kebijakan negara yang terkesan  kurang menekankan partnership seperti di atas, masih dapat berperan emansipatorik, atau malahan telah ikut menjadi penjual komoditi pendidikan untuk mempertahankan hidupnya? Kedua, apakah dalam dinamika seperti ini, sistem pendidikan kita telah terreduksi menjadi alat legitimasi pemilah klas sosial (sorting mechanism) dan alat reproduksi tata hubungan (kuasa) sosial-ekonomi belaka? Bila jawabnya ’ya’, maka di tengah pasang naik peran pasar dan lemahnya peran negara untuk emansipasi kelompok yang lemah, diperlukan  peran partisipasi /solidaritas publik (dan civil society) melalui lembaga yang kuat untuk mengawal sistem pendidikan kita (Sukarno 2005)

5.    Lemahnya Mental Masyarakat

Direktur Rumah Belajar Cinta Anak Bangsa (RBCAB) Firza Imam Putra, dalam artikel di Kompas edisi kamis 17 desember 2009 menyatakan bahwa lebih dari 1,1 juta anak memilih berhenti belajar di sekolah selama tahun 2007. Artinya, setiap menit ada 4 anak putus sekolah di Indonesia. Salah satu faktor yang memengaruhi tingginya angka putus sekolah itu adalah dorongan orangtua dari keluarga tidak mampu. Anak kemudian dikondisikan untuk mencari uang dan menambah penghasilan keluarga.

Masalah besar lainnya adalah kontrofersi diadakannya Ujian Nasional (UN). Adalah Erin Driani, seorang pengamat pendidikan yang banyak menyoroti berbagai persoalan hak anak atas pendidikan, dalam artikel yang berjudul ”Presuden Perlu Ikut Tuntaskan Persoalan UN” di surat kabar Sriwijaya Post edisi kamis, 10 desember 2009 mengatakan bahwa Presiden RI SBY sudah selayaknya mengambil tindakan terhadap persoalan UN.

        M. Yunana Yusuf (Ketua Badan Standar Nasional Pendidikan), Buletin BSNP Vol II/ No. 1/ Januari 2007 halaman 3, Untuk tahun pelajaran 2006/2007 ini, peserta UN diperkirakan berjumlah 4.701.000 orang, dengan perincian peserta SMP/MTs dan SMPLB 2.501.300 orang dan peserta SMA/MA/SMALB dan SMK 2.200.700 orang. Sementara luas kawasan penyelenggaraannya meliputi seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Itu sebabnya penyelenggaraan UN sungguh-sungguh merupakan satu pekerjaan raksasa dengan menghabiskan dana Rp 244 miliar yang didekonsentrasikan ke dinas provinsi, kabupaten/kota serta sekolah/madrasah penyelenggara UN.

KESIMPULAN  DAN SARAN

  1. Kesimpulan :

Berdasarkan uraian-uraian di atas, maka dapat diterik kesimpulan sebagai berikut :

  1. Solusi sistemik, yakni solusi dengan mengubah sistem-sistem sosial yang berkaitan dengan sistem pendidikan. Seperti diketahui sistem pendidikan sangat berkaitan dengan sistem ekonomi yang diterapkan. Sistem pendidikan di Indonesia sekarang ini, diterapkan dalam konteks sistem ekonomi kapitalisme (mazhab neoliberalisme), yang berprinsip antara lain meminimalkan peran dan tanggung jawab negara dalam urusan publik, termasuk pendanaan pendidikan. Serta penataan kembali Undang-Undang yang telah ada, sehingga sesuai dengan situasi dan kondisi bangsa Indonesia.
  2. Standar pendidikan nasional harus diterapkan bebas nilai, bukan dengan memuat muatan politik praktis melalui pemberian wewenang yang jelas dan ke pada elemen pendidikan yang tepat.
  3. Solusi untuk masalah-masalah teknis dikembalikan kepada upaya-upaya praktis untuk meningkatkan kualitas sistem pendidikan. Seperti mutu guru, sarana fisik yang kurang memadai, misalnya, diberi solusi dengan pengadaan sarana dan prasarana yang dibutuhkan guna menunjang kegiatan belajar dan mengajar.
  4. Apabila Standar Nasional Pendidikan harus diterapkan secara total dan benar sesuai konsep. Maka harus melalui strategi advokasi yang tajam dan komitmen stakeholder secara menyeluruh. Selain itu juga dilakukan sosialisasi bagi komponen pendidikan dari tingkat nasional, propinsi hingga daerah kabupaten/kota, Lembaga swadaya masyarakat dan masyarakat.
  1. Saran :

            Oleh karena itu, untuk meningkatkan kinerja pelayanan pendidikan agar dapat mencapai standar pendidikan nasional,  dua agenda di bawah ini mungkin perlu dipikirkan.

1.      Pelaksanaan desentralisasi politik pendanaan sampai ke tingkat sekolah yang telah meningkatkan partisipasi finansial masyarakat sudah waktunya diimbangi pelaksanaan desentralisasi politik pendidikan sampai ke tingkat masyarakat sesuai UU Sisdiknas (pasal 9), melalui komite Sekolah dan Dewan Pendidikan. 

2.      Kebijakan yang selama ini lebih menekankan in-put sudah saatnya diimbangi secara bertahap dengan kebijakan yang menekankan juga out-put dan efisiensi eksternal melalui upaya perbaikan, mutu guru dan pembentukan sistem evaluasi dengan melibatkan lembaga independen yang mewakili publik (sesuai pasal 11) yang mendesak untuk segera dibentuk sehingga perbaikan kurikulum berjalan selaras dengan azas  manajemen mutu.

 

DAFTAR PUSTAKA

Dewantara, Ki Hadjar, 1945 [1963]. Karja Ki Hadjar Dewantara: Bagian Pertama: Pendidikan. Yogjakarta: Taman Siswa.

Sukarno, M., 2005: Refleksi Atas Beberapa Isu Kebijakan Pendidikan. Paper disampaikan pada Seminar Refleksi Akhir Tahun 2005 dengan tema ”Satu Tahun Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono” diselenggarakan oleh Kedeputian IPSK-LIPI, Jakarta: Widya Graha Lt I, 13 Desember 2005

Undang-Undang RI  Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, Fokus Media, Bandung, 2006.

Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Fokus Media, Bandung, 2006.

Murip Yahya, Pengantar Pendidikan, Prospect, Bandung, 2009.

Departemen Pendidikan Nasional, Data Balitbang Depdiknas tahun 2003.

Surat Kabar, Kompas. Jakarta.

Surat Kabar, Sriwijaya Post. Jakarta.

Buletin, BSNP. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

%d blogger menyukai ini: