Posts from the ‘MANAJEMEN PENDIDIKAN’ Category

 “Revolusi Membuat Anak Candu Membaca”


A. Perkembangan Bahasa Bayi

Perkembangan Bahasa merupakan sebuah proses dari motoric otak kiri manusia. Kemampuan tersebut meliputi pengucapan kalimat, memahami pembicaraan orang, Kemampuan berhitung, dan menulis. Sedangkan fungsi otak kananmencangkup Bahasa nonverbal seperti penekanan dan irama, pengenalan situasi dan kondisi, pengendalian emosi, kesenian dan kreativitas.

Dalam perkembangannya, kedua otak anak akan mengalami spesialisasi. Kemudian, apa yang terjadi pada tahun pertama? Kemampuan anak akan mengalami perkembangan yang pesat. Namun, tahap itu harus tetap menjadi perhatian khusus bagi orang tua. Sebab tahapan itu dapat dijadikanparameter ada atau tidaknya gangguan perkembangan pada bayi.

Menjadi orang tua harus jeli terhadap segala perubahan pada anaknya. Perkembangan Bahasa dan bicara pada anak biasanya digambarkan sebagai berikut:

  1. Masa Preliguistik, 0-3 Bulan.

Pada periode ini, bayi belum bias menggabungkan elemen Bahasa, baik secara isi, bentuk, atau dari pemakaian Bahasa.

  1. Masa Transisi, 3-9 Bulan.

Salah satu perkembangan Bahasa utama milestone pada bayi ialah pengucapan kata kata pertama yang terjadi pada akhir tahun pertama.

  1. Masa Perkembangan Kosakata, 9-18 Bulan.

Inilah masa dimulainya produksi kalimat. Perkembangan komprehensif secara produksi kata-kata berlangsug cepat pada usia sekitar 18 bulan. Ia mulai dapat berbicara menggunakan kata kata yang tersimpan dalam memorinya.

  1. Masa Prasekolah, 18-36 bulan.

Pada masa ini, bayi akan memiliki mobilitas yang tinggi, sehingga mempunyai akses ke jaringan social yang lebih luas. Hal itu akan membuat perkembangan kognisinya menjadi semakin tajam. Anak mulai berpikir tentang konsep, jenis dan peristiwa.

Anda harus mengetahui tahap tahap perkembangan kemampuan bicara bayi. Sehingga, anda menjadi peka dan bisa secara menangkap pesan-pesan darinya.

Anda pun perlu mengetahui bahwa perkembangan Bahasa bayi dan tangisan pertama sampai mampu bertutur kata terbagi atas dua periode besar.  Periode linguistic terbagi dalam tiga fase besar, yaitu sebagai berikut:

  1. Fase Satu Kata atau Holofrase

Dalam fase ini, bayi menggunakan satu kata guna menyatakan pemikirannya yang kompleks, baik yang berupa keinginan maupun perasaan.

  1. Fase Lebih dari Satu Kata

Fase dua kata muncul ketika bayi berusia sekitar 18 bulan. Pada fase itu, ia sudah bisa membuat kalimat sederhana yang terdiri dari dua kata.

  1. Fase Diferensiasi

Periode ini berlangsung pada bayi yang berusia 2,5-5 tahun. Pada fase yang lain, saat usia bayi sekitar 15-18 bulan, perkembangan bahasanya menunjukan ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Tanggap terhadap kata-kata tanpa gerak
  2. Mulai ikut bernyanyi
  3. Menggerakan tangan
  4. Bayi berinteraksi dengan ucapan
  5. Orang tua mulai menyesuaikan diri

B. Perkembangan Bicara

Perkembangan awal bicara pada bayi biasa disebut dengan reflexive vocalization, yaitu terjadi pada usia 0-3 minggu. Pada tahap tersebut, bayi masih menyuarakan tangisan yang berupa reflex belaka atau tanpa disadari.

Tahap kedua ialah babbling, yaitu terjadi saat bayi berusia 3 minggu sampai 2 bulan. Sekarang, ia sudah mengeluarkan suara, tetapi terdengar tidak jelas.

Lalling merupakan tahap ketiga, terjadi pada bayi berusia sekitar 2-7 bulan. Saat tersebut, ia sudah dapat mendengar dan mengulang suku kata, seperti ba, pa, ma, mik dan sebagainya.

Saat berusia 10 bulan, Bayi dapat mendengar suara suara disekitarnya. Kemudian ia meniru suara suara yang terekam diotaknya menggunakan ekspresi wajah dan isyarat tangan.

Selanjutnya ialah tahap true speech atau berbicara dengan benar, terjadi pada bayi berusia 18 Bulan. Alhasil, ia akan lebih terampil berbicarih terampil berbicara pada umur 5-6 tahun.

Bayi merupakan “penyerap” yang konstruktif. Bayi mempelajari bBayi mempelajari Bahasa dan konsep-konsep pentingahasa dan konsep-konsep penting tanpa melalui pengajaran yang terencana sectanpa melalui pengajaran yang terencana secara khusus.

Setiap bayi memiliki perkembangan Bahasa lisan yang berbeda beda. Hal itu terjadi Karena muatan informasi yang dikumpulkan oleh setiap bayi berbeda.

Masing masing bayi belajar mendapatkan informasi yang tersedia dengan cara sendiri. Beberapa bayi berinteraksi degan dunia menggunakan sentuhan, sedangkan yang lain mungkin lebih bergantung pada pengelihatan dan pendengaran.

C. Perkembangan Awal Bahasa

Sebelum mampu berbicara, biasanya bayi memiliki kebiasaan mengeluarkan kebiasaan mengeluarkan suara suara yang bersifat sederhana, kemudian berkembang menjadi kompleks dan memiliki arti.

  1. Kematangan Fisiologis

Setiap bayi dibekali kemampuan berkomunikasi menggunakan Bahasa sejak dalam kandungan (innate). Tetapi, kemampuan ini tidak dapat langsung digunakan. Masih dibutuhkan sebuah proses perubahaan evolutive yang panjang, sampai seorang bayi bisa berbahasa kepada orang tua dan lingkungan sekitarnya.

2. Perkembangan system saraf dalam otak

Sistem perkembangan saraf pada janin pada masa prenatal tergolong sederana. Bahkan dapat dikatakan jika perkembangan yang dimaksud terjadi Bersamaan dengan pembentukan organ organ eksternal pada masa triwulan pertama. Menginjak akhir triwulan kedua proses perkembangan organ organ tubuh internal maupun ekstenal pada janin  berkembang pesat, yang salah satunya adalah otak.

Setelah berkembangan, otak mempu bekerja guna menerima rangsangan eksternal yang diberikan oleh lingkungannya.

Setiap rangsangan eksternal yang diterima akan menjadi bahan bahan jejak ingatan dalam otak janin. Janin akan merasakan getaran getaran sebagai tanda dirinya memperoleh perhatian dan kasih saying ketika orang tuanya memberikan rangsangan berupa cerita, nyanyian, atau Bahasa. Setelah lahir bayi yang pernah memperoleh pengalaman berkomunikasi dengan orang tuanya saat masih janin akan bekembang dengan baik.

D. Kesiapan anak dalam belajar membaca

Selama ini, teori psikologi perkembangan yang dimotori oleh Jean Piaget menjadi rujukan utama bagi kurikulum taman kanak kanak. Akibatnya, pelajaran membaca, menulis, dan berhitung secara tidak langsung dilarang diperkenalkan kepada anak dibawah usia 7 tahun. Sebab, Piaget beranggapan bahwa anak berusia dibawah 7 tahun dianggap belum mencapai fase oprasional konkret. Fase yang dimaksud ialah saat anak dianggap sudah bisa berfikir secara terstruktur.

Sehingga, calistung didefinisikan sebagai kegiatan yang memerlukan cara berpikir secara berpola. Hal inilah yang membuat calistung tidak cocok diajarkan kepada anak TK.

Banyak ahli yang menngeluarkan berbagai teori gna menemukan cara agar anak mendapatkan pelajaran membaca sejak dini, salah satunya Glenn Doman. Ia menjadi pelopor dalam pengembangan metode belajar membaca dan matematika pada anak sejak dini. Ia merupakan prndobrak dari teori yang dicetuskan oleh Piaget.

Doman bukan praktisi pendidikan. Ia adalah seorang bedah otak yang berhasil menyembukan orang-orang yang mengalami cedra otak lewat metode flash card. Ia membuat kartu berisi kata yang ditulis dedngan tinta berwarna merah pada karton tebal. Kartu-kartu tersebut ditampilkan dihadapan pasien dalam waktu cepat, hanya satu detik per kartu. Karena singkatnya waktu yang diberikan, maka akan membuat otak bereaksi terhadap kata yang ditampilkan.

Bagi sebagian orang, metode Falsh card dinilai mustahil. Sebab, bisa saja anak-anak telah menghafal kata-kata yang diperkenalkan

Sesuatu yang dilakukan doman tentu menghadirkan berbagai macam kritik, termasuk dari beberapa ahli psikologo. Hal itu dikarenakan metode flash card dianggap sebagai cara yang kurang rasional serta bisa merusak pembelajaran nalar dan logika. Metode flash card berbasis hafalan, sedangkan menurut para psikolog dan orang umum, kemampuan membaca harus diproses melalui tahapan-tahapanfonemik dan fonetiik. Anak terlebih dulu harus mengenal huruf dan mampu membedakan bunyi, sampai akhirnya bisa menggabungkan huruf-huruf tersebut menjadi sebuah kata.

E. Tahapan Perkembangan Kemampuan Membaca Anak

Pada saat mengajarkan calistung kepada anak TK atau prasekolah, guru wajib mengetahui kemampuan membaca pada anak. Menurut seorang pakar yang bernama Cochrane Efal, perkembangan dasar kemampuan membaca pada anak berusia 4-6 tahun berlangsung dalam lima tahap berikut:

  1. Fantasi

Tahap ini merupakan saat anak belajar menggunakan buku. Anak mulai berpikir tentang pentingnya sebuah buku.

  1. Pembentukan Konsep Diri

Anak sudah memposisikan diri sebagai pembaca dan mulai sibuk dalam kegiatan membaca atau “pura-pura membaca buku”. Orang tua wajib memberikan rangsangan dengan cara membacakan buku terhadap anak.

  1. Membaca gambar

Anak sudah menyadari tulisan yang tampak dan menemukan kata yang dikenal

  1. Pengenalan Bacaan

Pada tahap ini, anak sudah menggunakan tiga sistem isyarat, yaitu Graphoponic, semantik, dan sintaksis secara bersama-sama. Anak sudah tertarik pada bacaan dan mulai membaca tanda-tanda yang ada di lingkungan.

  1. Membaca Lancar

Ini merupakan masa pada anak yang dapat membaca berbagai jenis buku secara bebas. Adapun orang tua dan guru tetap wajib membacakan buku kepada anak.

F. Dinamika Kemampuan Membaca

Seorang pengamat pendidikan, Jeanne Chall, mengemukakan bahwa belajar membaca mencangkup rangkuman kecakapan yang dibangun pada keterampilan sebelumnya.Guna mencapai hal ini, ada lima tahap perkembangan kemampuan membaca. Berikut kelima tahapan tersebut:

  1. Tahap Dasar

Tahap dasr bermula saat anak mulai menguasai prasyarat membaca. Setelah masuk sekolah, anak bisa membedakan huruf dalam alfabet.

  1. Tahap 1

Ini merupakan tahun pertama sekolah. Pada masa tersebut, anak sedang belajar mengenai kemampuan “merekam” fonologi.

  1. Tahap 2

Selanjutnya, di kelas dua dan tiga, anak sudah membaca dengan fasih.

  1. Tahap 3

Pada tahamp tersebut anak sudah mendapatkan informasi dan materi tertulis.

  1. Tahap 4

Tahap ini bermula di sekolah tinggi, saat kemampuan baca yang fasih sudah dikuasai. Anak gampang memahami beragam materi bacaan dan menarik kesimpulan dari bacaan.

G. Kemampuan Membaca dan Perkembangan Daya Pikir

Ada istilah yang disebut phonemic awareness, ini merupakan salah satu kemampuan yang dapat dimiliki siapa pun. Sederhananya, merupakan pengetahuan tentang huruf yang dapat dipisahkan dari suara. Kemampun tersebut biasanya belum muncul pada anak usia prasekolah.

Selain itu ada juga istilah yang dikenal dengan nama phonologic recording. Istilah tersebut ialah kesadaran terhadap fonologis dalam kemampuan awal membaca. Aanak-anak diajarkan mendengar huruf, kemudian mencoba mencocokan antara huruf huruf dan suara.

Selain beberapa istilah tersebut, guna memperkenalkan membaca kepada anak, orang tua dan guru harus memahami apa dan bagaimana konsep membaca. Sebab membaca merupakan salah satu fungsi tertinggi dalam otak manusia.

H. Cara mengajarkan Membaca Kepada Anak Usia Dini

Banyak pendekatan yang bisa dilakukan guna mengajarkan membaca kepada anak sejak usia dini. Selengkapnya sebagai berikut:

  1. Menitikberatkan pada Pemahaman Simbol atau Huruf.

Pendekatan ini dilakukan guna mengenalkan sistem simbol bunyi kepada anak sejak dini.Cara tersebut dapat dilakukan dengan cara memperkenalkan nama alfabet serta bunyinya. Proses yang akan berjalan dimulai huruf yang paling sederhana dan paling tinggi intensitas penggunaannya, seperti huruf vokal.

  1. Menekankan Belajae Membaca Kata dan Kalimat secara Utuh

Dengan pendekatan ini, anak diharapkan dapat mencari sendiri sitem huruf serta bunyi yang berlaku.

Singkat kata, orang tua hanya mengajarkan cara membaca, tanpa menjelaskan hukum-hukumnya.

  1. Cara membangkitkan Minat Baca pada Anak
  2. Banyak cara yang dapat ditempuh guna menumbuhkan serta membangkitkan minat baca pada anak, di antaranya adalah sebagai berikut:
  3. Semakin sering Anda membacakan cerita atau hal yang menarik, semakin sering pula anak belajar membaca.
  4. Biarkan anak menyaksikan serta memperhatikan cara kita membaca. Dengan sendirinya, ia akan berpikir bahwa kita menikmati buku.
  5. Ikut sertakan anak dalam kegiatan berbahasa yang berbeda-beda
  6. Berikan referensi tentang buku, majalah anak, serta gambar-gambaryang sesuai dengat minat dan kesukaan anak.
  7. Biasakan anak untuk pergi ke perpustakaan dan toko buku.
  8. Jika ada kesempatan, izinkan anak membaca bersama orang-orang yang lebih tua.
  9. Pujilah anak saat membaca, apalagi bila berhasil mengeja bacaanya. Sebab, pada umumnya semua anak suka dipuji.

I. Berbagi Metode Guna Mengajarkan Anak membaca

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh para ahli, diketahui bahwa meningkatkan kecerdasan anak bisa dilakukan sejak dalam kandungan. Selama proseskehamilan, janin akan menyerap segala bentuk latihann yang Anda berikan, sehingga berpengaruh terhadap perkembangan otaknya dikemudian hari.

Banyak hal yang bisa dilakukan untuk mendukung perkembangan otak janin. Dalam penelitiannya, Rene van De Carr dan Marc Lehre membahas mengenai metode yang mengajarkan membaca kepada anak-anak sejak dalam kandungan.

(a)  Metode Rene van De Carr dan Marc Lehreh

Metode ini dikembangkan dari sebuah penelitian yang dimulai pada tahun1979 oleh Dr. Rene van De Carr, seorang ahli kebidanan yang bekerja sama dengan seorang psikolog bernama Marc Lehrer guna mengembangkan stimulasi pralahir. Pendidikan pralahir pertama kali diterbitkan pada tahun 1992, setelah melewati proses penelitian semenjak 1979. Dari penelitian itu diyakini bahwa di dalam rahim, janin dapat melakukan banyak hal, seperti belajar serta merasakan perbedanna terang dan gelap.

Saat kandungan berusia 20 minggu, kemampuan janin berkembang pesat. Pada masa ini, biasanya para ibu melakukan stimulasi berupa permainan permainan belajar. Pada prinsipnya, janin dalam kandungan mendengarberbagai bunyi yang ada di lingkungannya. Tetapi, kebanyakan bunyi tersebut tidak beraturan. Jadi, langkah -langkah yang dapat Anda lakukan ialah sebagai berikut:

  1. Dirangsang menggunakan Selo atau Alat Musik Lainnya
  2. Berilah Tanggapan terhadap segala Aktivitas Bayi Anda
  3. Berbicara dengan Nada Teratur

(b)  Metode Gelnn Doman

Ada dua faktor yang sangat penting dalam mengajar anak. Pertama, sikap dan pendekatan orang tua. Kedua, mwmbatasi waktu dalam melakukan permainan, sehingga betul betul singkat. Hentikan permainan tersebut sebelum anak yang ingin menghentikannya.

(c)  Mendongeng menggunakan Alat peraga

Bercerita menggunakan Alat peraga sangat efektif bila digunakan oleh orang tua kepada anaknya. Aalat peraga yang digunakan berupagambar dan huruf yang ditulis berwarna warni pada kertas karton.

(d)  Bermain Gambar sambil Mengenal Huruf

Banyak orang tua yang tidak tahu bahwa melihat gambar termasuk salah satu bentuk membaca. Salah satu tugas orang tua dalam mempersiapkan nama depan anak ialah memastikan saat berusia 3-5 tahun sudah memiliki ketertarikan terhadap kegiatan “membaca” gambar, simbol, dan logo disekitarnya.

(e)  Metode Role Play

Metode ini sederhana, caranya ialah anak diajak bermain menggunakan berbagai macam permainan yang sudah ada atau kreasi sendiri. Anak bisa diajak bermain mencari huruf yang hilang, dan lainnya. Beri anak pujian setiap berhasil menebak huruf dengan benar.

(f)  Belajar Membaca dan Cerita

Bercerita di waktu santai juga bagus dalam rangka melatih kemampuan anak guna membaca keras. Membaca keras sangat penting bagi anak, karena membantu perkembangan daya serap serta konsentrasi.

Selain itu, Anda bisa melakukan beberapa kegiatan pendukung. Diantaranya ialah sebagai berikut:

  1. Selalu Membaca
  2. Perkenalkan Media Cetak
  3. Jadilah pendengar yang Baik
  4. Mengobrol dengan anak

(g)  Beberapa Metode Sederhana Lainnya

  1. Huruf dinding
  2. Memperkenalkan Alfabet melalui Komputer
  3. Memperkenalkan Alfabet dengan Bermain
  4. Metode Mengeja
  5. Metode Bertahap
  6. Metode Suku Kata
  7. Metode Games

Karya:

Aulia Revolusi pembuat Anak Candu Membaca, Aulia, Penerbit  DIVA Press, www.diovapress-onlie.com, No ISBN 978-602-7723-33-7

Iklan

Kiat-Kiat Membesarkan Anak Yang Memiliki Kecerdasan Emosional


 

fatherSeperti kebanyakan orang tua, mereka ingin memperlakukan anak mereka dengan adil, dengan sabar, dan dengan rasa hormat. Mereka tahu bahwa dunia menghadapkan anak-anak dengan banyak tantangan, dan mereka ingin mendampingi anak-anak mereka, memberi ilham dan dukungan. Mereka ingin mengajarkan anak mereka bagaimana menangani masalah secara efektif dan ingin menjalin hubungan yang kuat dan sehat.

Para orang tua yang gagal mengajarkan kecerdasan emosional kepada anak-anak mereka itu, peneliti telah mengidentifikasinya menjadi tiga tipe :

  1. Orangtua yang mengabaikan, yang tidak menghiraukan, menganggap sepi, atau meremehkan emosi-emosi negatif anak mereka.
  2. Orangtua yang tidak menyetujui, yang bersifat krisi terhadap ungkapan perasaan-perasaan negative anak mereka dan barangkali memarahi atau menghukum mereka karena mengungkapkan emosinya,
  3. Orangtua Laissez-Faire, yang menerima emosinya anak mereka dan berempati dengan mereka, tetapi tidak memberikan bimbingan atau menentukan batas-batas pada tingkah laku anak mereka.

Proses pelayihan emosi yang ditemukan para peneliti dalam kajian-kajian terhadap interaksi-interaksi yang sukses antara orangtua dengan anak. Proses tersebut biasanya terjadi dalam lima langkah. Orangtua :

  1. Menyadari emosi anaknya,
  2. Mengakui emosi itu sebgai peluang untuk kedekatan dan mengajar,
  3. Mendengarkan dengan penuh empati dan meneguhkan perasaan anak tersebut,
  4. Menolong anaknya menemukan kata-kata untuk memberi nama emosi yang sedang didalaminya, dan
  5. Menentukan batas-batas sambil membantu anak memecahkan masalah yang dihadapi.

Pelatihan emosi membutuhkan keterlibatan dan kesabaran yang cukup besar. Seandainya kita ingin menyaksikan anak-anak kita mengatasi perasaan-perasaan, menangani stres, dan membina hubugan-hubungan sehat, kita tidak akan menutup diri atau mengabaikan ungkapan-ungkapan perasaan negatif, kita berhubungan dengan anak kita dan memberi bimbingan.

Meskipun kakek-nenek, guru, dan orang dewasa lainnya dapat berfungsi sebagai pelatih emosi dalam kehidupan seorang anak, sebagai orangtua, kita berada dalam posisi yang terbaik untuk tugas itu.

Hasil-hasil kajian tindak lanjut ini memperlihatkan kepada kami bahwa anak-anak dengan orangtua yang melatih emosi itu menjadi lebih baik dalam bidang-bidang unjuk kerja akademis, keterampilan bergaul, kesejahteraan emosional, dan kesehatan jasmaniah. Bahkan sewaktu menguji IQ-nya, perolehan matematika dan mambacanya lebih bagus.

Pengalaman itu menolong mereka untuk menanggapi satu sama lain dengan cara yang cerdas secara emosional. Langkah pertama yang diambil orangtua kea rah mendidik anak-anak yang secara emosional cerdas adalah memahami gaya mereka sendiri dalam menghadapi emosi dan bagaimana hal itu mempengaruhi anak-anak mereka.

Menilai Gaya Kita Sebagai Orangtua

Banyak keluarga mempunyai falsafah campur aduk tentang emosi, artinya sikap mereka terhadap ungkapan emosional barangkali berbeda-beda tergantung pada emosi yang diungkapkan. Orangtua barangkali berpendapat, misalnya, bahwa boleh-boleh saja kadang-kadang merasa sedih, tetapi ungkapan-ungkapan amarah itu dianggap tidak pantas atau berbahaya. Sebaliknya, mereka boleh jadi sangat menghargai amarah dalam diri anak mereka karena mereka melihatnya sebagai sikap tegas, tetapi mereka menganggap rasa takut atau rasa sedih sebagai pengecut atau kekanak-kanakan. Selain itu, masing-masing keluarga menerapkan pedoman yang berbeda-beda terhadap anggota-anggota keluarga.

Ada 4 gaya sebagai orangtua :

  1. Orangtua yang mengabaikan, akibat terhadap anak : mereka belajar bahwa perasaan-perasaan mereka itu keliru, tidak tepat, atau tidak sah.
  2. Orangtua yang tidak menyetujui, akibat terhadap anak : sama dengan gaya orangtua yang mengabaikan.
  3. Orangtua yang Laissez-Faire, akibatnya : mereka tidak belajar mengatur emosi mereka, mereka menghadapi kesulitan berkonsentrasi, menjalin persahabatan, bergaul dengan anak lain.
  4. Orangtua yang pelatih emosi, akibatnya : mereka belajar mempercayai perasaan-perasaan mereka, mengatur emosi-emosi mereka sendiri, dan menyelesaikan masalah-masalahnya. Mereka mempunyai harga diri yang tinggi, belajar dengan baik, dan bergaul dengan orang lain secara baik-baik.

Sifat orangtua yang mengabaikan, lama kelamaan mulai menganggap semua ungkapan kesedihan atau amarah anak-anak mereka sebagai tuntutan yang mustahil. Karena merasa frustasi atau dimanfaatkan, orangtua –orangtua ini bereaksi dengan meremehkan atau memperkecil kesedihan anak-anak mereka. Mereka mencoba memperkecil permasalahannya, membungkusnya, dan membuangnya sehingga dapat dilupakan.

Sebagai anak-anak, semacam orangtua seperti ini hanya mendapat sedikit bantuan sewaktu belajar mengatur emosi mereka sendiri. Oleh karena itu, sebagai orang dewasa, ketika mereka merasa sedih, mereka khawatir bahwa mereka akan tergelincir masuk ke dalam depresi yang tiada akhir. Atau, mereka merasa marah, mereka takut bahwa mereka akan menjadi marah besar dan melukai seseorang.

Sifat orangtua yang tidak menyetujui hampir sama dengan orangtua yang mengabaikan dengan berberapa perbedaan :secara mencolok orangtua tersebut kritis dan tidak tisak berempati saat mereka menggambarkan pengalaman-pengalaman emosional anaknya. Mereka bukan sekedar mengabaikan, menyangkal, atau meremehkan emosi-emosi negatif anaknya, mereka tidak menyetujui. Oleh karena itu, anak-anak mereka sering kali dimarahi, ditertibkan, atau dihukum karena mengungkapkan kesedihan, amarah, dan ketakutan.

Orangtua Laissez-Faire adalah orangtua yang penuh dengan empati bagi anak-anak mereka dan mereka memberitahukan kepada anak-anak itu bahwa apa pun yang mereka alami, ayah dan ibu akan memperbolehkannya. Masalahnya adalah, orangtua ini sering kali cenderung tidak terampil dan tidak bersedia memberikan bimbingan kepada anak-anak mereka tentang bagaimana cara mengatasi emosi-emosi mereka.

Orangtua pelatih berfungsi sebagai pemandu anak-anak mereka menempuh dunia emosi. Kajian-kajiannya memperlihatkan bahwa orangtua pelatih emosi mempunyai kesadaran yang kuat akan emosi-emosi mereka sendiri maupun emosi-emosi yang mereka kasihi.

Lima Langkah Penting Untuk Melatih Emosi

Langkah no. 1 menyadari emosi-emosi anak

Orangtua yang sadar terhadap emosi-emosi mereka sendiri dapat menggunakan kepekaan mereka untuk menyelaraskan diri dengan perasaan-perasaan anak mereka, tanpa memperhatikan betapa halus atau hebatnya. Namun, menjadi seorang yang peka dan sadar secara emosional bukan berarti kita selalu merasa mudah memahami perasaan-perasaan anak. Sering kali anak-anak mengungkapkan emosi mereka secara tidak langsung dan dengan cara membingungkan bagi orang dewasa. Bagaimanapun, jika kita mendengarkan secara seksama dan dengan hati yang terbuka, kita dapat memecahkan isyarat pesan yang secara tidak sadar tersembunyi oleh anak-anak dalam pergaulan mereka, permainan mereka, tingkah laku sehari-hari mereka.

Seandainya kita menduga bahwa anak sedang merasa sedih, marah, atau takut, ada baiknya mencoba meletakkan diri sendiri dalam posisi mereka, untuk melihat dunia dari sudut pandang mereka. Dan setiap kali kita merasa bahwa hati kita berpihak pada anak kita, maka kita tahu kita sedang merasakan apa yang dirasakan anak itu, kita sedang mengalami empati, yang merupakan landasan pelatihan emosi.

Langkah no. 2 mengakui emosi sebagai peluang untuk kedekatan dan mengajar

Bagi banyak orangtua, mengenali emosi negatif anak-anak mereka sebagai peluang untuk menjalin ikatan dan mengajar muncul sebagai suatu kelegaan, suatu pembebasan, suatu pengalaman besar “ini dia”. Menangani perasaan-perasaan yang rendah intensitasnya sebelum perasaan-perasaan itu meningkat memberikan pula suatu peluang kepada keluarga untuk melatih keterampilan mendengarkan dan menyelesaikan masalah sementara taruhannya masih kecil. Bila kita mengungkapkan minat dan keprihatinan terhadap mainan anak yang rusak atau ada goresan kecil, pengalaman itu merupakan batu-batu pembangun. Anak kita belajar kalau kita adalah sekutunya dan kita berdua memikirkan cara berkerja sama.

Langkah no. 3 mendengarkan dengan empati dan meneguhkan perasaan anak

Sewaktu mendengarkan anak pada saat-saat emosional, sadarlah bahwa menyampaikan pengamatan-pengamatan sederhana biasanya jauh lebih bermanfaat daripada mengajukan pertanyaan-pertanyaan menyelidik. Sebagai seorang anak kecil, mereka tidak memiliki keunggulan (atau kerugian) mawas diri bertahun-tahun, jadi barangkali mereka tidak siap memberikan jawabannya. Hindarilah pertanyaan-pertanyaan yang sudah diketahui jawabannya.

Langkah no. 4 menolong anak memberi nama emosi dengan kata-kata

Memberi nama emosi berjalan berdampingan dengan empati. Oleh karena itu, bagi para orangtua bantulah anak-anak menemukan kata-kata untuk melukiskan apa yang sedang mereka rasakan. Bukan berarti memberitahu anak-anak bagaimana seharusnya mereka merasa. Ini berarti membantu mereka menyusun kosakata yang dapat mereka gunakan untuk mengungkapkan emosi mereka. Orangtua dapat membantu dalam suatu situasi dengan membimbing anak menjajaki rangkaian emosinya, dan dengan meyakinkannya bahwa sering kali wajar-wajar saja merasakan dua perasaan sekaligus.

Langkah no. 5 menentukan batas-batas sambil membantu anak memecahkan masalah

Keluarga-keluarga lebih baik menggunakan metode-metode mematok batas sehingga memungkin anak-anak untuk tetap mempertahankan rasa harga diri, martabat diri, dan kekuasaannya. Jika anak-anak diberitahukan aturan-aturannya dan pengendalian diri, mereka cenderung tidak nakal. Apabila anak-anak memilih suatu pemecahan terhadap sebuah masalah yang tidak berhasil, tolonglah mereka menganalisis mengapa hal itu gagal. Kemudian kita dapat memecahkan itu dengan cara baru.

STRATEGI MELATIH EMOSI

Hindari anak kita dari kritik yang berlebihan, komentar yang menghina, atau mengolok-olok. Jika orangtua melakukan hal tersebut anak mereka tidak akan mempercayai orangtuanya. Gunakan “anjang-anjang” dan pujian untuk melatih anak. Abaikan “agenda mengasuh anak”. Lalu ciptakan sebuah denah mental tentang kehidupan sehari-hari. Jangan “berpihak kepada musuh”. Jangan mencoba memaksakan pemecahan orantua dengan anak. Bagilah mimpi-mimpi dan khayalan anak. Bersikap jujur pada anak. Bacalah buku bersama-sama. Bersabarlah dengan prosesnya. Memahami basis kekuasaan sebagai orangtua. Percayalah pada kodrat baik perkembangan manusia.

Semua itu tidak tepat apabila orangtua tidak memiliki waktu yang banyak. Apabila orangtua terlalu marah dan terlalu lelah sehingga latihan emosi tidak berguna. Apabila harus menangani kenakalan berat. Apabila anak “berpura-pura” mengalami emosi untuk menipu.

PERKAWINAN, PERCERAIAN, DAN KESEHATAN EMOSIONAL ANAK

Tetap bersama-sama dalam sebuah perkawinan yang bermasalah dan bercerai dapat sama-sama memiliki pengaruh buruk bagi anak-anak. Karena secara tidak langsung hal itu membuat psikis anak terganggu.

Hal itu dapat dikurangi dengan beberapa metode. Yang pertama melatih emosi dalam perkawinan orangtua. Hindarilah empat pelari estafet yang menghancurkan. Pelari No. 1 kecaman, No.2 penghinaan, No. 3 sikap bertahan, No.4 diam seribu bahasa. Mengelola konflik perkawinan.

PERAN PENTING SANG AYAH

Terlibatlah dalam perawatan anak sejak kehamilan. Tetaplah peka terhadap kebutuhan sehari-hari anak sewaktu tumbuh. Usakanlah keseimbangan antara kehidupan kerja dengan kehidupan keluarga. Tetaplah terlibat dalam kehidupan anak tanpa mengingat status pernikahan. Ingatlah bahwa dengan mendengarkan secara penuh empati, dengan menolong anak memberi label pada perasaan mereka, dan membimbing mereka dalam cara menangani amarah dan kesedihan mereka, para ayah dapat menjadi semakin dekat dengan anak mereka dalam saat-saat krisis emosional.

PELATIHAN EMOSI SEWAKTU ANAK TUMBUH

Saat bayi kurang lebih tiga tahun dimana bayi berminat dalam interaksi social tatap muka. Bersemangatlah dan gunakanlah perasaan bila orangtua bermain dengan anaknya, dengan mengulangi ungkapan-ungkapan aneh dan tindakan-tindakan yang lembut dan berirama. Jika itu berhasil, bayi akan belajar menyampaikan rasa senangnya dengan tersenyum, tertawa terkekeh, menendang-nendang kegirangan, dan berteriak-teriak. Tanggapan semacam itu mendorong orangtua untuk menjadi lebih suka bermain, sambil menciptakan suatu lingkaran interaksi yang penuh kasih, penuh suka cita, dan bergerak ke atas, yang lebih lanjut memperkuat ikatan emosional antara anak bayi dengan orangtuanya.

Umur enam sampai delapan bulan merupakan penjajakan luarbiasa bagi bayi, suatu masa saat mereka menemukan dunia benda-benda, manusia-manusia, dan tempat-tempat. Secara serentak, mereka juga menemukan cara-cara baru untuk mengungkapkan dan menyampaikan perasaan-perasaan seperti  gembira, rasa ingin tahu, rasa takut, dan kecewa dengan dunia di sekitar mereka. Kesadaran yang mekar semacam itu berlanjut sampai membuka peluang-peluang baru untuk pelatihan emosi.

Umur Sembilan sampai dua belas bulan merupaka periode di mana bayi mulai memahami bahwa manusi dapat membagi gagasan-gagasan dan emosi-emosi mereka satu sama lain. Pada umur Sembilan bulan, bayi mulai memahami bahwa orangtuanya tahu perasaan hatinya.

Masa satu atau dua tahun merupakan saat yang menyenangkan dan menggairahkan sewaktu anak mengembangkan makna tentang dirinya sendiri dan mulai menajajki kemandiriannya. Tetapi, ada alasan yang baik bahwa periode ini pun diberi nama dua tahun yang mengerikan. Inilah saatnya anak-anak menjadi jauh lebih menonjol diri dan untuk pertama kalinya, mereka membangkang.

Terkadang umur dua sampai tiga tahun, anak-anak mulai mewujudkan tingkah laku yang mereka amati terlebih dahulu pada anggota-anggota keluarga lainnya. Kemampuan si anak untuk menyimpan ingatan tentang tindakan-tindakan dan peristiwa-peristiwa di benaknya dan kemudian mengambilnya kembali untuk ditirukan di kemudian hari.

Masa kanak-kanak awal (umur empat sampai tujuh tahun). Pada umur empat tahun, anak-anak lazimnya sudah keluar dan pergi ke mana-mana, bertemu teman baru, menghabiskan waktu dalam berbagai macam lingkungan.

Permainan khayalan digemari saat periode ini mungkin ada kaitannya dengan manfaatnya untuk menolong anak-anak mengatasi sejumlah besar rasa cemas yang cenderung memuncak pada awal taman kanak-kanak. Faktor dasar ketakutan adalah rasa takut akan ketidakberdayaan, takut ditinggalkan, takut akan kegelapan, takut akan mimpi-mimpi buruk, rasa takut akan pertengkaran orangtua, takut mati.

Periode pertengahan usia anak-anak (umur delapan sampai dua belas tahun) ini, anak-anak mulai berhubungan dengan suatu kelompok sosial yang lebih luas dan memahami pengaruh sosial. Mereka mungkin menjadi orang yang masuk atau keluar diantara rekan-rekan sebayanya. Pada waktu yang sama, anak-anak mulai tumbuh secara kognitif, dengan mempelajari kekuatan intelek atas emosi.

Karena semakin besar kesadarab anak terhadap pengaruh rekan sebayanya, mungkin kita mulai membedakan salah satu motivasinya yang utama dalam hidupnya adalah, bagaimanapun, menghindari rasa malu. Anak-anak seusia ini perlu merasa dekat secara emosional dengan orangtua mereka dan mereka membutuhkan bimbingan penuh kasih saying yang ditimbulkan oleh kedekatan tersebut.

Masa remaja merupakan periode yang ditandai oleh keprihatinan besar terhadap pertanyaan-pertanyaan identitas : Siapakah aku? Aku ini sedang menjadi apa? Aku ini harus menjadi apa? Oleh karena itu, jangan terperanjat bila anak tampaknya menjadi benar-benar terserap pada dirinya sendiri pada salah satu tahap di masa remaja itu.

Inilah beberapa nasihat dari seorang ahli psikologi :

Terimalah bahwa remaja merupakan masa bagi anak-anak untuk memisahkan diri dari orangtua mereka. Tunjukkanlah rasa hormat kepada anak kita yang sudah remaja. Doronglah pengambilan keputusan secara mandiri sementara tetap menjadi pelatih emosi bagi anak.

Kita harus awas terhadap apa yang terjadi dalam kehidupan anak. Terimalah dan teguhkanlah pengalaman-pengalaman emosional anak. Apabial timbul masalah, dengarkanlah dan dengarkanlah dengan penuh empati, tanpa mengadili. Dan jadilah sekutu bila ia datang kepada kita untuk minta pertolongan akan suatu masalah. Meskipun langkah-langkah ini sederhana, sekarang kita tahu bahwa langkah-angkah itu merupakan basis dukungan emosional seumur hidup antara orangtua dengan anak.

Sumber :John Gottman,Ph. D. & Joan Declaire Kiat-Kiat Membesarkan Anak Yang Memiliki Kecerdesan Emosional Pt. Gramedia Pustaka Utama: 1997

 

Pendidikan Karakter Dalam Keluarga


DSCF0492Masalah terbesar (The Great Problem) yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini sebenarnya bukanlah krisis ekonomi atau pangan, tetapi masalah krisis moral atau akhlak. Krisis inilah yang menyebabkan timbulnya krisis-krisis lain seperti krisis ekonomi, politik, social, budaya, pertahanan dan keamanan.

HANCURNYA moral bangsa ini ditunjukan dengan merajalelanya berbagai tindakan kejahatan dan criminal di tengah-tengah masyarakat seperti penipuan, pencopetan, pencurian, perampokan, perkosaan, pembunuhan, dan termasuk juga tindakan kekerasan, baik atas nama ras, suku, budaya dan agama. Kerusakan moral juga terjadi di kalangan pelajar dan remaja. Hal ini ditandai dengan maraknya seks bebas, penyalahgunaan narkoba, peredaran foto dan video porno, serta tawuran pada kalangan pelajar dan remaja.

Direktur Remaja dan Perlindungan Hak-Hak Reproduksi BKKBN, M. Masri Muadz, mengatakan bahwa 63% remaja Indonesia pernah melakukan seks bebas, Sedangkan remaja korban narkoba di Indonesia ada 1,1 juta orang atau 3,9% dari total jumlah korban. Selain itu, berdasarkan data Pusat Pengendalian Gangguan Sosial DKI Jakarta, pelajar SD, SMP, dan SMA, yang terlibat tawuran mencapai 0,8% atau sekitar 1.318 siswa dari total 1.645.835 siswa di DKI Jakarta ( Dharma Kesuma dkk, 2011:2-3).

Sexsual Behavior Survey telah melakukan penelitian di 5 kota besar di Indonesia, yaitu Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya dan Bali pada bulan Mei 2011. Dari 663 responden yang diwawancarai secara langsung mengakui bahwa 39% responden remaja usia antara 15-19 tahun pernah melakukan hubungan seksual di luar nikah, sisanya 61% berusia antara 20-25 tahun. Lebih memprihatinkan lagi, berdasarkan profesi, peringkat tertinggi yang pernah melakukan free sex ditempati oleh para mahasiswa 31%, karyawan kantor 18%, sisanya pengusaha, pedagang, buruh dan sebagainya, termasuk pelajar SMP/SMA sebanyak 6%.

Fenomena kerusakan moral/akhlak yang menimpa masyarakat tersebut telah mendorong pemerintah Indonesia untuk menerapkan Kebijakan Nasional Pembangunan Karakter Bangsa (KN-PKB). Salah satu mewujudkan kebijakan tersebut adalah dengan menekankan pentingnya pendidikan karakter untuk diimplementasikan dalam setiap institusi pendidikan, baik formal ( sekolah ), informal ( keluarga ), maupun non formal ( masyarakat ).

Pendidikan karakter akan berjalan efektif dan utuh jika melibatkan tiga institusi, yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat. Pendidikan keluarga berperan penting karena keluargalah yang membentuk karakter seorang anak. Untuk merumuskan kerangka model pendidikan karakter dalam keluarga dapat dikonseptualisasi melalui pendekatan system pendidikan. Jika istilah system dikaitkan dengan pendidikan ( system pendidikan ), maka dapat mengandung makna “ suatu kesatuan komponen yang terdiri dari unsure-unsur pendidikan yang bekerjasama dan berhubungan antara satu dengan yang lainnya untuk mencapai tujuan pendidikan.” Dalam suatu system terdapat unsure-unsur, bagian-bagian, atau komponen-komponen yang saling berkaitan dan teratur, serta mekanismenya saling berhubungan dalam satu kesatuan yang semuanya di tujukan untuk mencapai satu tujuan. Isi kerangka model pendidikan karakter meliputi komponen: tujuan, pendidik, peserta didik, materi, metode, alat, program, dan evaluasi.

A. Model Pendidikan Karakter Dalam Keluarga

Model adalah contoh, pola, acuan, ragam, macam dan sebagainya yang dibuat menurut aslinya. Model merupakan kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman atau acuan dalam melakukan suatu kegiatan. Model juga dapat diartikan sesuatu yang dapat memvisualisasikan sebuah konsep dengan nyata. Model berbeda dengan konsep dalam bentuk teori. Fungsi model adalah menjembatani konsep dalam bentuk teori menjadi kenyataan.

Menurut fungsinya, model dibagi dalam tiga bentuk. Pertama, model deskriptif, yaitu model yang hanya menggambarkan situasi sebuah system tanpa rekomendasi dan peramalan, contohnya peta organisasi, Kedua, model prediktif, yaitu model yang menunjukan apa yang akan terjadi atau bila sesuatu terjadi, contohnya model alat peraga atau alat pendeteksi gempa. Ketiga, model normatife, yaitu model yang menyediakan jawaban terbaik terhadap satu persoalan. Model ini member rekomendasi tindakan-tindakan yang perlu diambil, contohnya model pemasaran, model ekonomi, model konseling, model pendidikan, model pembelajaran, dan sebagainya.

Pendidikan Karakter
Secara etimologis, kata karakter berasal dari bahasa Latin kharakter atau bahasa Yunani kharassein yang berarti member tanda (to mark), atau bahasa Perancis carakter, yang berarti membuat tajam atau membuat dalam (Majid dan Andayani, 2012:11). Dalam bahasa Inggris character, memiliki arti: watak, karakter, sifat, peran, dan huruf (Echols dan Shadiliy, 2003:110).Dalam Kamus Bahasa Indonesia, karakter diartikan sebagai tabiat, watak, sifat-sifat kejiwaan, akhlak, atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari pada yang lain (Poerwadarminta, 2007:521).

Secara terminologis karakter bisa diartikan sebagai totalitas ciri-ciri pribadi yang melekat dan dapat diidentifikasi pada perilaku individu yang bersifat unik, dalam arti secara khusus cirri-ciri ini membedakan antara satu individu dengan yang lainnya, dank arena cirri-ciri karakter tersebut dapat diidentifikasi pada perilaku individu dan bersifat unik, maka karakter sangat dekat dengan kepribadian individu. Suatu perbuatan dikatakan karakter/akhlak apabila perbuatan tersebut memlh ipaya memiliki cirri-ciri: perbuatan itu telah tertanam kuat dalam jiwa seseorang dan telah menjadi bagian dari kepribadiannya, perbuatan itu dilakukan dengan spontan tanpa pemikiran terlebih dahulu, perbuatan itu dilakukan tanpa ada paksaan atau tekanan dari luar, perbuatan itu dilakukan dengan sungguh-sungguh, bukan pura-pura atau sandiwara.

Pendidikan karakter adalah upaya membentuk/mengukir kepribadian manusia melalui proses knowing the good (mengetahui kebaikan), loving the good (mencintai kebaikan), yaitu proses pendidikan yang melibatkan tiga ranah: pengetahuan moral (moral knowing), perasaan moral (moral feeling/moral loving), dan tindakan moral (moral acting/moral doing), sehingga perbuatan mulia bisa terukir menjadi habit of mind, heart, and hands. Tanpa melibatkan tiga ranah tersebut pendidikan karakter tidak akan berjalan efektif.

  1. Pengetahuan Moral (Moral Knowing)

Pengetahuan moral (moral knowing) adalah kemampuan mengetahui, memahami, mempertimbangkan, membedakan dan menginterpretasikan jenis-jenis moral yang harus dilakukan dan yang mesti ditinggalkan.Pengetahuan moral sebagai pilar pertama pendidikan karakter mempunyai enam komponen, yaitu:

  1. Kesadaran moral (moral awareness) yaitu kemampuan menggunakan kecerdasan untuk melihat kapan sebuah situasi mempersyaratkan pertimbangan moral dan kemudian berpikir secara cermat tentang tindakan apa yang sebaiknya dilakukan.
  2. Pengetahuan nilai moral (knowing moral values) yaitu kemampuan memahami berbagai nilai-nilai moral seperti menghargai kehidupan dan kemerdekaan, tanggungjawab terhadap orang lain, kejujuran, keadilan, toleransi, penghormatan disiplin diri, integritas, kebaikan hati, berbelas kasih dan keberanian.
  3. Memahami sudut pandang lain (perspective taking) yaitu kemampuan menerima sudut pandang orang lain, memahami sebuah situasi sebagaimana orang lain memahaminya, mengimajinasikan bagaimana orang lain berfikir, mereaksi dan berperasaan.
  4. Penalaran moral (moral reasoning) yaitu memahami apa itu makna bermoral dan mengapa harus bermoral.
  5. Keberanian mengambil keputusan (decision making)
  6. Pengenalan diri (self knowledge) yaitu kemampuan mengenali perilaku kita dan mengevaluasinya secara kritis/jujur.
  1. Perasaan Moral ( moral feeling)

PeraSaan moral (moral feeling) adalah kemampuan merasa bersalah dan meras harus/wajib untuk melakukan tindakan moral. Memiliki enam komponen yaitu:

  1. Mendengarkan hati nurani (conscience)
  2. Harga diri (self-esteem)
  3. Empati ( empathy)
  4. Cinta kebaikan (loving the good)
  5. Kontrol diri (self control)
  6. Rendah hati (humility)

3. Tindakan Moral ( Moral Acting)
Tindakan moral merupakan hasil dari kedua karakter moral diatas. Mempunyai tiga komponen yaitu:

  1. Kompetensi (competence)
  2. Keinginan (will)
  3. Kebiasaan (habit)

B.  Keluarga

Keluarga merupakan tempat pendidikan pertama dan utama bagi seseorang. Pendidikan dalam keluarga sangat berperan dalam mengembangkan watak, karakter, dan kepribadian sesorang. Oleh karena itu pendidikan karakter dalam keluarga perlu diberdayakan secara serius.

  1. Fungsi Edukasi

     Fungsi edukasi keluarga adalah fungsi yang berkaitan dengan pendidikan anak khususnya dan pendidikan anggota keluarga pada umumnya. Bagi seorang anak, keluarga merupakan jenjang pendidikan pertama sebelum menapaki pendidikan formal (sekolah) dan masyarakat, disinilahkedua orang tuanya menjadi guru terbaiknya.

2. Fungsi Proteksi

     Fungsi proteksi maksudnya keluarga menjadi tempat perlindungan yang memberikan rasa aman, tentram lahir dan batin sejak anak-anak berada dalam kandungan ibunya sampai mereka menjadi dewasa dan lanjut usia. Perlindungan disini termasuk fisik, mental dan moral.

3. Fungsi afeksi

     Fungsi afeksi adalah sebagai pemupuk dan pencipta rasa kasih sayang dan cinta antara sesame anggota keluarga.

4. Fungsi sosialisasi

  Fungsi sosialisasi keluarga terkait erat dengan tugas mengantarkan anak ke dalam kehidupan social yang lebih nyata dengan tugas mengantarkan anak kedalam kehidupan  social yang lebih nyata dan luas.

5. Fungsi Reproduksi

   Keluarga sebagai sebuah organism memiliki fungsi reproduksi, dimana setiap pasangan suami istri yang diikat dengan tali perkawinan yang sah dapat memberi keturunan yang berkualitas sehingga dapat melahirkan anak sebagai  keturunan yang akan mewarisi dan menjadi penerus tugas kemanusiaan.

6. Fungsi Religi

  Artinya keluarga berkewajiban memperkenalkan dan mengajak serta anak dan anggota keluarga lainnya kepada kehidupan beragama.

7. Fungsi Ekonomi

    Fungsi ekonomi bertujuan agar setiap keluarga meningkatkan taraf hidup yang tercerminkan pada pemenuhan alat hidup seperti makn, minum, kesehatan, dan sebagainya yang menjadi prasarat dasar dalam memenuhi kebutuhan hidup keluarga dalam perspektif ekonomis.

8. Fungsi rekreasi

  Fungsi rekreasi keluarga adalah fungsi yang berkaitan dengan peran keluarga menjadi lingkungan yang nyaman, menyenangkan, hangat dan penuh gairah bagi setiap anggota keluarga untuk dapat menghilangkan rasa keletihan.

9. Fungsi Biologis

  Fungsi biologis keluarga berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan biologis anggota keluarga seperti makan, minum, kesehatan.

10. Fungsi Transformasi

   Fungsi transformasi adalah berkaitan dengan peran keluarga dalam hal pewarisan tradisi dan budaya kepada generasi setelahnya baik tradisi baik maupun buruk.

Dari uraian diatas dapat di pahami bahwa yang dimaksud “Model Pendidikan Karakter dalam Keluarga” adalah kerangka konseptual dan prosedur yang sistematis berkenaan dengan penanaman nilai-nilai karakter pada anak yang dilakukan oleh orang tua dalam keluarga yang meliputi komponen pengetahuan (kognitif), perasaan (afektif), dan tindakan (psikomotorik) untuk melakukan nilai-nilai tersebut , baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesame manusia, maupun lingkungan sekitar. Kerangka konseptual itu kemudian dapat dijadikan rujukan oleh orang lain yang ingin mengimplementasikan pendidikan karakter dalam keluarga.

C. Nilai-Nilai Karakter Yang Ditanamkan Dalam Keluarga

Nilai-nilai yang ditanamkan dalam pendidikan karakter dalam keluarga antara lain:

1. Religius yaitu sikap dan perilaku yang patuhdalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.

2.   Jujur yaitu perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan dan pekerjaan.

3.   Toleransi yaitu sikap dan tindakan menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.

4.  Disiplin yaitu tindakan yang menunjukan perilaku tertib dan patuh terhadap berbagai peraturan dan ketentuan.

5.  Kerja Keras yaitu perilaku yang menunjukan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan dan tugas, serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya.

6.   Kreatif yaitu berfikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki.

7.  Mandiri yaitu sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.

8.  Demokratis yaitu cara berfikir, bersikap dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.

9.   Rasa ingin tahu yaitu sikap dan tindakan yang ingin selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat dan di dengar.

10. Semangat kebangsaan yaitu cara berfikir, bertindak dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan Negara diatas kepentingan diri dan kelompoknya.

11. Cinta Tanah Air yaitu cara berfikir, bersikap dan berbuat yang menunjukan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, social, budaya, ekonomi dan politik bangsa.

12. Menghargai Prestasi yaitu sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat dan mengakuai serta menghormati keberhasilan orng lain.

13. Bersahabat/Komunikatif yaitu tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul dan bekerja sama dengan orang lain.

14. Cinta Damai yaitu sikap, perkataan dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa tenang dan aman atas kehadiran dirinya.

15. Gemar Membaca yaitu kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya.

16. Peduli Lingkungan yaitu sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam disekitarnya, dan mengembangkan upaya untuk memperbaiki kerusakan-kerusakan alam yang sudah terjadi.

17. Peduli Sosial yaitu sikap dan tindakan yang selalu ingin member bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.

Tanggung Jawab Yaitu sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya yang seharusnya dia lakukan baik terhadap diri sendiri masyarakat, lingkungan, Negara dan Tuhan Yang Maha Esa.

D.Tujuan Pendidikan Karakter Dalam Keluarga

Tujuan penting pendidikan karakter adalah memfasilitasi pengetahuan dan pengembangan nilai-nilai tertentu sehingga terwujud dalam perilaku anak. Pengetahuan dan pengembangan memiliki makna bahwa pendidikan karakter bukanlah dogmatisasi nilai kepada peserta didik tetapi sebuah proses yang membawa peserta didik untuk memahami dan merefleksi bagaimana suatu nilai menjadi penting untuk diwujudkan dalam perilaku keseharian manusia termasuk bagi anak.

Tujuan lainnya adalah membangun kepribadian dan budi pekerti luhur sebagai modal dasar dalam berkehidupan ditengah-tengah masyarakat, baik sebagai umat beragama, maupun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.Pendidikan karakter mengajarkan, membina, membimbing dan melatih peserta didik agar memiliki karakter, sikap mental positif, dan akhlak yang terpuji.

Tujuan pendidikan karakter dalam keluarga adalah membentuk karakter positif atau akhlak terpuji pada diri anak, untuk membina anak-anak agar menjadi pribadi yang taat pada agama, berbakti kepada orang tuanya, bermanfaat untuk masyarakatnya, dan berguna bagi agama, nusa dan bangsanya.

E. Pendidik Pada Pendidikan Karakter Dalam Keluarga

Pendidik dibagi dalam tiga kategori, yaitu life educator, semi professional, professional educator. Life educator adalah orang yang secara alamiah menjalankan tugas dan kewajibannya mengasuh dan membesarkan anaknya atau membantu perkembangannya menuju kedewasaan. Itulah orang tua kita. Semi professional educator adalah orang yang menjalankan tugas pendidikan, mengembangkan kecakapan orang dengan bantuan sarana prasarana pendidikan atau keahlian orang lain. Termasuk dalam kategori ini adalah petugas perpustakaan, petugas museum, petugas pameran dan sejenisnya. Adapun professional educator adalah orang yang menjalankan tugasnya sebagai pendidik dengan keahlian khusus dan kompetensi yang tinggi. Termasuk dalam kategori ini adalah guru dan dosen.

Tanggung jawab pendidikan yang menjadi beban orang tua sekurang-kurangnya harus dilaksanakan dalam rangka:

  1. Memelihara dan membesarkan anak
  2. Melindungi dan menjamin kesehatan, baik jasmaniah maupun rohaniyah dari berbagai gangguan penyakit dan dari penyelewengan kehidupan dari tujuan hidup yang sesuai dengan agama dan falsafah hidup yang dianutnya.
  3. Memberi pengajaran dalam arti luas sehinggaanak memperoleh peluang untuk memiliki pengetahuan dan kecakapan seluas dan setinggi mungkin yang dapat dicapainya.
  4. Membahagiakan anak baik di dunia maupun diakhirat sesuai dengan pandangan dan tujuan hidup muslim.

F.Peserta Didik Pada Pendidikan Karakter Dalam Keluarga

Dalam arti sempit, peserta didik diartikan sebagai anak yang belum dewasa yang tanggung jawabnya diserahkan kepada pendidik. Dalam perspektif pendidikan secara umum bahwa yang disebut peserta didik adalah setiap orang atau sekelompok orang yang harus mendpatkan bimbingan, arahan dan pengajaran dari proses pendidikan.

Dalam rumah tangga yang menduduki sebagai peserta didik adalah anak. Alquran memandang anak semenjak dalam kandungan harus sudah mendapatkan pendidikan. Proses pendidikan ini biasa disebut dengan pendidikan prenatal atau pendidikan anak dalam kandungan. Demikian juga setelah anak lahir tampak jelas terdapat beberapa fakta yang mengharuskan anak mendapatkan pendidikan. Fakta-fakta tersebut antara lain: setiap anak lahir dalam keadaan lemah tidak berdaya, setiap anak lahir membawa potensi dan butuh dikembangkan, setiap anak butuh bimbingan dan arahan untuk mengenal sesuatu, dan setiap anak butuh perhatian dan kasih sayang dari orang tuanya.

Dapat juga dikatakan bahwa peserta didik adalah mereka yang sedang berkembang baik secara fisik maupun psikis. Peserta didik bukanlah miniature orang dewasa. Selain itu mereka juga memiliki berbagai potensi yang harus diarahkan dan di bina agar potensi tersebut  bermanfaat. Oleh karenamya pendidikan karakter adalah sarana yang tepat untuk itu.

G.Materi Pendidikan Karakter Dalam Keluarga

Salah satu komponen operasional pendidikan sebagai suatu system adalah materi. Materi pendidikan adalah semua bahan pelajaran (pesan, informasi, pengetahuan dan pengalaman) yang disampaikan kepada peserta didik.

Jika mengacu kepada Pedoman Pelaksanaan Pendidikan Karakter yang dikeluarkan Kemendiknas, materi pendidikan karakter di lembaga pendidikan formal (sekolah), setidaknya memuat 18 nilai karakter yaitu religious, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli social, dan tanggung jawab.

Sedangkan dalam keluarga, materi pendidikan karakter pada garis besarnya ialah materi untuk mengembangkan karakter atau akhlak anak. Orang tua harus memperhatikan perkembangan karakter anaknya. Karakter tersebut lebih diutamakan pada praktik berperilaku, bertutur kata yang baik, tidak mengucapkan kata-kata kotor atau kasar, berjalan dengan sopan dan tidak sombong, patuh dan hormat kepada orang tua, menyatakan permisi ketika melewati orang lain, mau mengucapkan terimakasih jika diberikan atau menerima sesuatu dari orang lain serta dilakukan dengan tangan kanan, tidak ragu untuk meminta maaf jika merasa bersalah pada orang lain, membuang sampah pada tempatnya, dan sebagainya. Dalam hal ini orang tua harus menjadi teladan bagi anaknya.

H. Metode Pendidikan Karakter Dalam Keluarga

Metode dapat diartikan sebagai jalan atau cara untuk mencapai tujuan. Jika kata metode dikaitkan dengan pendidikan karakter maka dapat diartikan metode sebagai jalan untuk menanamkan karakter  pada diri seseorang sehingga terlihat dalam pribadi objek sasaran, yaitu pribadi yang berkarakter.

Untuk menanamkan karakter pada diri anak ada beberapa metode yang bisa digunakan, antara lain:

1. Metode Internalisasi

  Metode Internalisasi adalah upaya memasukan pengetahuan (knowing) dan ketrampilan melaksanakan pengetahuan (doing) ke dalam diri seseorang sehingga pengetahuan itu menjadi kepribadiannya (being) dalam kehidupan sehari-hari.

2. Metode Keteladanan

   “Anak adalah peniru yang baik.” Berbagi keteladanan dalam mendidik anak menjadi sesuatu yang sangat penting. Seorang anak akan tumbuh dalam kebaikan dan memiliki karakter yang baik jika ia melihat orang tuanya member teladan yang baik. Sebaliknya, seorang anak akan tumbuh dalam penyelewengan dan memiliki karakter yang buruk, jika ia melihat orang tuanya memberikan teladan yang buruk.

3. Metode Pembiasaan

  Metode pembiasaan dalam membina karakter anak sangatlah penting. Jika metode pembiasaan sudah diterapkan dengan baik dalam keluarga, pasti akan lahir anak-anak yang memiliki karakter yang baik dan tidak mustahil karakter mereka pun menjadi teladan bagi orang lain.

4. Metode Bermain

  Dunia anak adalah dunia bermain.Bermain merupakan cara yang paling tepat untuk mengembangkan kemampuan anak sesuai kompetensinya.Kegiatan bermain yang mendukung pembelajaran anak yaitu bermain fungsional atau sensorimotor, bermain peran, dan bermain konstruktif.

5. Metode Cerita

  Metode cerita adalah metode mendidik yang bertumpu pada bahasa baik lisan maupun tulisan. Bercerita dapat meningkatkan kedekatan hubungan orang tua dan anak. Selain itu, bercerita juga bisa mengembangkan imajinasi dan otak kanan anak.

6. Metode Nasihat

  Metode nasihat merupakan penyampaian kata-kata yang menyentuh hati dan disertai keteladanan. Agar nasihat dapat membekas pada diri anak, sebaiknya nasihat bersifat cerita, kisah, perumpamaan, menggunakan kata-kata yang baik dan orang tua memberikan contoh terlebih dahulu sebelum memberikan nasihat.

7. Metode Penghargaan dan Hukuman

   Metode penghargaan penting untuk dilakukan karena pada dasarnya setiap orang dipastikan membutuhkan penghargaan dan ingin dihargai. Anak adalah fase perkembangan manusia yang sangat membutuhkan penghargaan.Penghargaan harus didahulukan dari pada hukuman. Jika hukuman terpaksa harus diberikan, maka hati-hatilah dalam mempergunakannya, jangan menghukum anak secara berlebihan, jangan menghukum ketika marah, jangan memukul bagian-bagian tertentu dari anggota tubuh anak seperti wajah, dan usahakan hukuman itu bersifat adil (sesuai dengan kesalahan anak).

I. Alat pendidikan karakter dalam keluarga

Yang dimaksud dengan alat pendidikan yaitu segala sesuatu yang digunakan oleh pelaksana kegiatan pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan. Dalam proses pendidikan informal seperti mendidik karakter anak dirumah, alat pendidikan yang bisa digunakan sesungguhnya sangat banyak, yakni apa saja yang ada dirumah, mulai dari perabotan rumah tangga, permainan anak sampai alat-alat elektronik. Tapi penggunaan alat itu bermanfaat atau tidak sangat tergantung pada pengaturan orangtua.

Dalam keadaan yang normal dan mampu, sebaiknya setiap rumah memiliki fasilitas pendidikan setidaknya berupa: ruang belajar, mushola besrta kelengkapan shalat dan Alquran, ruang perpustakaan dan buku-bukunya, ruang computer dan jaringan internet dan sebagainya. Penyediaan buku-buku agama dan buku-buku lainnya patut untuk dilengkapi karena dari buku-buku itulah kita dapat menambah wawasan dan pengetahuan anak. Yang juga tidak boleh dilupakan orang tua, sebaiknya ia menyediakan Alquran sesuai dengan jumlah anggota keluarga yang ada dirumah. Gambar-gambar yang tidak sopan sebaiknya diganti dengan gambar-gambar yang menyejukan dan memberikan ilmu bagi yang melihatnya.

J. Program Pendidikan Karakter Dalam Keluarga

Program pendidikan karakter dapat dilakukan melalui cara-cara berikut ini:

1. Pengajaran

     Dalam konteks pendidikan karakter di keluarga, pengajaran dapat diartikan sebagai suatu upaya yang dilakukan oleh orang tua untuk memberikan pengetahuan kepada anak tentang nilai-nilai karakter tertentu, dan membimbing serta mendorongnya untuk mengaplikasikan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

2. Pemotivasian

  Pemotivasian adalah proses mendorong dan menggerakkan seseorang agar mau melakukan perbuatan-perbuatan tertentu sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Dalam konteks pendidikan karakter di keluarga, pemotivasian dapat dimaknai sebagai upaya-upaya menggerakkan atau mendorong anak untuk mengaplikasikan nilai-nilai karakter. Berkaitan dengan itu, orang tua dituntut untuk mampu menjadi motivator bagi anak-anaknya.

3. Peneladanan

     Dalam kehidupan sehari-hari perilaku yang dilakukan anak-anak pada dasarnya mereka peroleh dari meniru, sehingga penting bagi orang tua untuk member teladan yang baik bagi anak-anaknya.

4. Pembiasaan

     Peranan orang tua sangat besar untuk membina karakter anak dengan pola apapun. Dengan pembiasaan salah satunya, dapat mengantarkan kea rah kematangan dan kedewasaan, sehingga anak dapat mengendalikan dirinya menyelesaikan persoalannya, dan menghadapi tantangan hidupnya, sehingga perlu penerapan disiplin.

5. Penegakan aturan

   Langkah awal untuk mewujudkan penegakan aturan dalam keluarga adalah dengan membuat peraturan keluarga yang disepakati bersama dan dapat mengikat semua pihak dirumah, tak terkecuali orang tua.

K. Evaluasi Pendidikan Karakter Dalam Keluarga

Evaluasi adalah penilaian terhadap sesuatu. Sasaran evaluasi adalah semua komponen yang berkaitan dengan pendidikan seperti pendidik, peserta didik, materi, metode, alat pendidikan dan sebagainya. Peserta didik merupakan sasaran evaluasi yang utama karena letak keberhasilan proses pendidikan biasanya dilihat dari keberhasilan peserta didiknya. Objek evaluasi peserta didik harus mencangkup dimensi/ranah, kognitif, afektif, dan psikomotor.

Evaluasi kognitif pesrta didik berarti mengukur keberhasilan perkembangan pengetahuan mereka termasuk di dalamnya fungsi ingatan dan kecerdasan. Evaluasi aspek afektif peserta didik berarti mengukur keberhasilan perkembangan perasaan mereka pada pengetahuan termasuk di dalamnya fungsi internalisasi dan karakterisasi. Evaluasi psikomotor peserta didik berarti mengukur keberhasilan tindakan mereka yang berkaitan dengan pengetahuan termasuk di dalamnya fungsi kehendak dan kemauan.

Dalam pendidikan informal (keluarga), evaluasi biasanya lebih kepada penilaian yang bersifat normative tanpa disertai soal tes dan penentuan angka dengan skala tertentu. Evaluasi yang dilakukan cukup dengan menilai atau mengukur apakah pekerjaan yang diberikan orang tua sudah dilaksanakan atau belum oleh anak, apakah nasihat yang disampaikan oleh orang tua sudah dipraktekan atau belum, dan apakah larangan yang di kemukakan  sudah di tinggalkan atau belum. Dengan demikian evaluasi dalam keluarga lebih dekat kepada fungsi pengawasan dan control.

Selanjutnya jika dikaitkan dengan pendidikan karakter dalam keluarga, maka evaluasi di sini lebih di tekankan kepada ranah psikomotor anak, karena hakikat keberhasilan pendidikan karakter adalah dapat di lihat dari performance atau penampilan diri anak dalam berbicara, berpikir, bersikap, bertindak, dan berkarya dalam kehidupan sehari-hari.

Penutup

Pendidikan karakter pada hakikatnya adalah upaya sistematis untuk membimbing peserta didik agar memahami nilai-nilai kebaikan (kognitif), dan melaksanakan nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan sehari-hari (psikomotorik).

Untuk merumuskan pendidikan karakter dalam keluarga dapat dikonseptualisasi melalui pendekatan system pendidikan yang meliputi:

  1. Tujuan

    Tujuan adalah sasaran atau hasil akhir yang ingi dicapai melalui proses pendidikan karakter dalam keluarga.

  1. Pendidik

   Pendidik adalah semua orang dewasa yang ada dalam rumah yang berkewajiban melakukan kegiatan mendidik karakter anak.

  1. Peserta Didik

    Peserta didik pada pendidikan karakter dalam keluarga adalah setiap anak yang belum dewasa dan perlu mendapatkan bimbingan dan arahan dari pendidik, baik itu anak kandung, anak angkat, maupun anak asuh.

  1. Materi

  Materi adalah sekumpulan pesan, pengetahuan, informasi, pengalaman, dan nilai-nilai karakter yang akan diberikan kepada peserta didik.

  1. Metode

   Metode adalah semua cara atau jalan yang ditempuh untuk mencapai tujuan pendidikan karakter.

  1. Alat

   Alat adalah sesuatu yang digunakan oleh pelaksana kegiatan pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan.

  1. Program

    Program adalah segala bentuk kegiatan/usaha yang dilakukan dalam menanamkan karakter pada diri anak.

  1. Evaluasi

    Evaluasi adalah penilaian/pengukuran tingkat keberhasilan anak mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam sebuah program.

Sumber :

Amirullah Syarbini Model Pendidikan Karakter dalam keluarga Elex Media Komputindo, Jakarta, 2013

Mengenal Psikologi Pendidikan


reformasiHAL yang Tidak bisa kita pungkiri, apalagi di zaman serba canggih seperti ini sangat perlu pendidikan mengenai psikologi. Psikologi adalah ilmu pengetahuan yang berusaha memahami sesama manusia, dengan tujuan untuk dapat memperlakukannya dengan lebih tepat. Karena itu, pengetahuan psikologis mengenai anak didik dalam proses pendidikan adalah hal yang perlu dan penting bagi setiap pendidik. Sehingga seharusnya adalah kebutuhan setiap pendidik memiliki pengetahuan tentang psikologi pendidikan.

Mengingat setiap orang pada nantinya akan menjadi seorang pendidik, karena pada hakikatnya pendidikan psikologi pendidikan itu dibutuhkan oleh setiap orang. Karena masalah pendidikan, terutama pendidikan psikologi adalah masalah setiap orang dari dulu hingga sekarang, dan tentu menjadi masalah pula hingga waktu yang akan datang.

Ruang Lingkup Psikologi Pendidikan

Masalah yang sentral dalam dalam psikologi pendidikan adalah masalah belajar. Sebenarnya, belajar (dan mengajar) adalah tindak pelaksanaan dalam usaha pendidikan. Di dalamnya terdapat usaha mendidik anak-anak didik belajar dan si pendidik mengajar sesuatu kepada para anak didik. Proses si pendidik dengan sengaja dan penuh tanggungjawab memberikan pengaruhnyakepada anak didik, demi kebahagiaa anak didik. Psikologi pendidikan berusaha menjadikan kajian tentang faktor-faktor psikologis yang berperan dalam proses pendidikan. Disamping itumasih terdapat beberapa masalah khusus yag juga perlu penyorotan secara psikologis, seperti soal pendidikan orang dewasa, kesehatan mental serta bimbingan dan konseling, materi yang dipakai,evaluasi hasil pendidikan, dan sebagainya.

Sifat-sifat Umum Aktivitas Manusia

  • Perhatian

Perhatian adalah pemusatan tenaga psikis tertuju kepada suatu objek. Bisa juga diartikanbanyak sedikitnya kesadaran yang menyertai sesuatu aktivitas yang dilakukan. Macam-macam  perhatian

  1. Atas dasar intensitasnya: perhatian intensif dan perhatian tidak intensif. Aktivitas yang disertai dengan perharian intensif akan lebih sukses, prestasinya lebih tinggi. Akan lebih baik jika pelajaran dapat diterima oleh murid-murid dengan perhatin yang cukup intensif.
  2. Atas dasar cara timbulnya: perhatian spontan (perhatian tak disengaja), dan perhatian sekehendak (perhatian disengaja). Perhatian spontan atau tak disengaja cenderung untuk brlangsung lebih lama dan lebih intensif daripada perhatian yang disengaja. Akan lebih baik kalau pelajaran dapat diterima oleh murid-murid dengan perhatian yang spontan.
  3. Atas dasar luasnya objek yang dikenai perhatian: perhatian terpancar (distributif) dan perhatian terpusat (konsentratif).
  • Pengamatan

Manusia mengenal wadag atau dunia riil, baik dirinya sendiri maupun dunia sekitar tempatnya berada dengan melihat, mendengar, membau atau mengecap. Cara mengenali objek yang demikian disebut mengamati. Sedangkan melihat, mendengar, dan yang laiinya disebut modalitas pengamatan.

1.Penglihatan

Modalitas pengamatan yang dibedakan menurut pancaindera yang dipergunakan untuk mengamati, yaitu penglihatan, pendengaran, rabaan, pembauan, atau penciuman dan pencecapan. Dari kelima modalitas pengamatan yang telah mendapatkan penelitian secara meluas dan mendalam adalah penglihatan. Menurut objeknya, masalah penglihatan digolongan menjadi 3 golongan, yaitu (1) melihat bentuk, (2) melihat dalam dan (3) melihat warna.

2.Melihat Bentuk

Yang dimaksud melihat bentuk ialah melihat objek yang berdimensi dua. Objek pengelihatan tidak kita lihat lepas-lepas satu daripada yang lain, melainkan kita lihat sebagai objek yang bersangkutan satu sama lain. Objek yang yang jauh, dekat, bagian-bagian dan keseluruhan objek terlihat oleh kita.

3.Melihat Dalam

Yang dimaksud melihat dalam ialah melihat objek berdimensi tiga. Salah satu gejala yang terpenting disini aialah konstansi besar.

4.Melihat Warna

Dalam pendidikan keindahan dan pendidikan kepribadian, nilai lambang warna-warna merupakan alat yang sangat berguna. Berikut nilai lambang warna:

  • Hitam : melambangkan kegelapan, kesedihan.
  • Putih : melambangkan kesucian, cahaya
  • Hijau : melambangkan keseimbangan, harapan, keselarasan
  • Biru : melambangkan sifat-sifat yang dalam tak terhingga, tenang, kesosialan
  • Kuning : melambangkan sifat riang, ceria
  • Merah : melambangkan ekspansif, dominan, berani.

5.Pendengaran

Mendengar adalah menangkap bunyi (suara) dengan indera pendengar. Selain bunyi bisa menjadi perantara untuk berkomunikasi, bunyi juga memiliki 2 fungsi lain, yaitu pertama sebagai tanda (signal). Pada kasus ini yang berhubungan dengan ekspresi manusia, berteriak katena terkejut, menangis karena sakit, kagum, dan sebagainya. Yang kedua sebagai lambang. Yang biasa kita gunakan ketika menghadapi bahasa.

6.Rabaan

Indera-indera kinestesi, sentuh dan tekanan, panas, dingin, rasa sakit, berfungsi penting dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan indera vibrasi tidak memiliki peranan yang begitu berarti. Jika seseorang meraba dengan mata tertutup, maka akan terjadi visualisasi, artinya kesan meraba akan digantikan dengan kesan penglihatan. Hal ini membuktikan betapa pentingnya kedudukan penglihatan, diantara modalitas pengamatan yang lain.

7.Ingatan (memory)

Ingatan disini memiliki arti sebagai sebuah kecakapan untuk menerima, menyimpan, dan memproduksikan kesan-kesan. Ingatan dan lupa, tidak bisa dipisahkan, karena memang hal tersebut bersifat manusiawi. Akan tetapi saat murid atau pelajar sedang menghafal, hendaklah mengatur kondisi sedemikian rupa, sehingga bisa mencapai hasil yang maksimal. Misalnya menghafal dengan suara keras, pemilihan teknik yang tepat, serta pembagian waktu belajar yang baik.

Sifat-sifat Khas Kepribadian Manusia

            Hippocrates (460-370) berpendapat bahwa di dalam tubuh manusia terdapat cairan-cairan yang mendukung atau berpengaruh terhadap sifat-sifat manusia, yaitu ada chole, melanchole, phlegma, dan sanguis. Kemudian Galenus (129-200) menyempurnakan pendapat Hippocrates tersebut, ia mengungkapkan bahwa cairan tersebut terdapat pada tubuh manusia dalam kadar tertentu, jika salah satu cairan tersebut kadarnya lebih banyak dari yang seharusnya, akan mendominasi suatu sifat tertentu.

CholePrinsip yang ada pada cairan ini yaitu tegangan (tension), memiliki tipe choleris, dan menghasilkan sifat khas yaitu; memiliki semangat serta daya juang yang besar, optimsme, hatinya mudah terbakar serta keras.

MelancholePrinsip yang ada pada cairan ini yaitu penegara (regidity), memiliki tipe melanholis, dan menghasilkan sifat khas yaitu; mudah kecewa, memiliki daya juang yang kecil, pesimistis, serta muram.

Phlegma .Prinsip yang ada pada cairan ini yaitu plastisitas, memiliki tipe phlegmatis, dan menghasilkan sifat khas yaitu; tak suka terburu-buru, tenang, setia, serta tidak mudah dipengaruhi.

Sanguis .Prinsip yang ada pada cairan ini yaitu ekspansivitas, memiliki tipe sanguinis, dan menghasilkan sifat khas yaitu; mudah berganti haluan, ramah, lekas bertindak tapi juga lekas berhenti.

Selain beberapa jenis cairan yang memiliki pengaruh terhadap sifat seseorang, manusia juga memiliki empat macam fungsi jiwa, yaitu yang rasional mencakup perasaan dan pikiran, kemudian ada yang irrasional, mencakup pendriaan dan intuisi.

  1. Pikiran; bersifat rasional, cara bekerjanya dengan penilaian benar dan salah
  2. Perasaan; bersifat rasional, cara bekerjanya dengan penilaian senang dan tak senang
  3. Pendriaan; bersifat irrasional, cara bekerjanya dengan penilaian sadar indriah
  4. Intuisi; bersifat irrasional, cara bekerjanya dengan penilaian tak sadar naluriah

Alfred Adler mengungkapka teori megenai sifat khas kepribadian manusia, yaitu Individual Psychologie. Individual Psychologiememiliki arti penting sebagai cara untuk memahami sesama manusia. Aliran ini tidak mementingkan perumusan-perumusan yang teliti, melainkan lebih mementingkan penyusunan petunjuk praktis untuk memahami sesama manusia. Karena itu justru dalam lapangan pendidikan pengaruh aliran ini besar, karen petunjuk petunjuk itu sangat berguna di dalam praktik pendidikan. Adler berpendapat, bahwa manusia lebih didorong oleh harapan-harapannya mengenai masa depan daripada pengalamannya dimasa lampau. Tujuan itulah yang membuat manusia kurang peka terhadap lingkungan sekitar dan bersifat individualis.

Mula-mula manusia didorong oleh dorongan keakuan, yatu dorongan untuk mengejar kekuasaan dan kekuatan untuk mencapai konpensasi bagi rasa rendah dirinya. Selanjutnya, manusia didorong oleh dorongan kemasyarakatan yang menyebabkan ia menempatkan kepentingan sendiri dibawah kepentingan umum

Perbedaan-perbedaan dalam Bakat

Suatu hal yang dipandang self-evident ialah bahwa seseorang akan lebih behasil kalau dia belajar dalam lapangan yang sesuai dengan bakatnya; demikian pula dalam lapangan kerja, sesorang akan lebih berhasil kalau dia bekerja dalam lapangan yang sesuai dengan bakatnya.

Apakah Bakat itu?

William B. Michael menunjau bakat itu, terutama dari segi kemampuan individu untuk melakukan sesuatu tugas, yang sedikit sekali tergantung kepada latihan mengenai hal tersebut. Lalu ada juga Bingham yang mengemukakan definisi bakat, akan tetapi Bingham menitikberatkan pada segi apa yang dapat dilakukan oleh individu, jadi segi performance setelah individu mendapatkan latihan. Selanjutnya Guilford memberikan definisi yang lain lagi, yaitu bahwa aptitude itu mencakup 3 dimensi psikologis, yaitu:

1.Dimensi perseptual

     Dimensi perseptual meliputi kemampuan dalam mengadakan presepsi, dan ini meliputi beberapa faktor. Seperti kepekaan indera, perhatian, orientasi ruang dan waktu, luasnya daerah presepsi, kecepatan presepsi dan sebagainya.

2.Dimensi psiko-motor

     Dimensi psiko-motor mencakup enam faktor, yaitu faktor kekuatan, faktor impuls, faktor kecepatan gerak,  faktor ketepatan, faktor koordinasi, faktor keluwesan.

3.Dimensi intelektual

     Dimensi inilah yang umumnya mendapat penyorotan secara luas, karena memang dimensi inilah yang mempunyai implikasi sangat luas. Dimensi ini meliputi lima faktor, yaitu;

  1. Faktor ingatan, yang mencakup faktor ingatan mengenai substansi, relasi dan sistem.
  2. Faktor pengenalan, yang mencakup pengenalan terhadap keseluruhan informasi, terhadap golongan, terhadap hubungan-hubungan, terhadap bentuk atau struktur, dan terhadap kesimpulan.
  3. Faktor evaluatif yang meliputi evaluasi mengenai idientitas, relasi-relasi dan evaluasi terhadap sistem.
  4. Faktor berfikir divergen, yang meliputi faktor untuk menghasilkan nama-nama, hubungan-hubungan, sistem-sistem, transformasi dan menghasilkan implikasi-implikasi yang unik.
  5. Faktor berfikir divergen yang meliputi faktor untuk pengalihan kelas-kelas secara spontan, faktor kelancaran dalam menghasilkan hubungan-hubungan, faktor untuk menghasilkan sistem, faktor untuk transformasi divergen, serta untuk menyusun bagian-bagian menjadi garis besar atau kerangka.

Dari ilustrasi diatas, bisa kita tarik kesimpulan betapa rumitnya kualitas manusia yang kita sebut bakat tersebut. Variasi bakattimbul karena variasi dalam kombinasi, korelasi, dan intensitas faktor-faktor tersebut. Dn variasi inilah yang harus kita kenali sedini munkin.

Bagaimana Cara Kita Mengenali Bakat Seseorang?

Biasanya dilakukan dalam diagnosis tentang bakat dengan membuat ururtan (ranking) mengenai berbagai bakat pada setiap individu.

Prosedur yang biasa ditempuh adalah;

  1. Melakukan analisis jabatan (job-analysis) atau analisis lapangan studi untuk menemukan faktor-faktor apa saja yang diperlukan supaya orang dapat berhasil damal lapangan tersebut.
  2. Dari hasil analisis tersebut dibuat pencandraan jabatan (job description)
  3. Dari job description yang tersebut bisa kita ketahui apa saja persyaratan yang harus dipenuhi upaya individu dapat lebih berhasil dalam lapangan tertentu
  4. Lalu dari persyaratan tersebut bisa digunakan sebagai landasan untuk menyusun alat pengungkap bakat, yang biasanya berup tes.

            Akan tetapi pemberlakuan tes tersebut masih sangat terbatas oleh daerah serta kebudayaan dimana tes itu disusun. Bagi kita, bangsa Indoesia kiranya sangat mendesak untuk segera diciptakannya tes bakat itu, baik untuk keperluan pemilihan jabatan atau lapangan kerja, maupun untuk pemilihan arah studi.

Perkembangan Individu

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Individu

Pendapat yang bermacam-macam mengenai faktor apa sja yang memepengaruhi perkembangan individu terbagi menjadi 3 golongan, yaitu;

1.Nativisme

     Para ahli yang mengikuti aliran nativisme berpendapat bahwa perkembangan individu itu semata-mata ditentukan oleh faktor yang dibawa sejak lahir (bawaan). Tokoh utama aliran ini adalah Schopenhauer, serta Plato, Descartes Lombroso yng termasuk dalam golongan ini. Intinya pada aliran ini menyatakan bahwa segala keistimewaan yang dimiliki orangtua tentu akan dimiliki juga oleh anaknya. Sehingga perkembangan individu merupakan cerminana dari orangtuanya dahulu. Misalnya, jiak orangtuanya berbakat dalam bidang oelhraga, maka tentu anaknya juga akan sangat berkembang pesat dalam bidang olahraga. Akan tetapi, jika dipandang dalam ilmu pendidikan, hal tersebut tidak bisa juga dibenarkan. Sebab, jika benar perkembangan individu tersebut dari dasar, jadi pengaruh lingkungan serta pendidikan tidak menjadi faktor penting dalam perkembangan setiap individu. Jadi konsep nativisme itu tidak dapat dipertahankan dan tidak bisa dipertanggungjawabkan.

2.Empirisme

     Para ahli yang meyakini aliran ini memiliki pendapat yang bertolak belakang dengan nativisme, jika pada nativisme berpendapat bahwa perkembangan individu itu semata-mata tergantung pada faktor dasar, maka pada aliran ini faktor dasar (bawaan) tidak dianggap penting sama sekali, dan meyakini bahwa faktor perkembangan setiap individu di pengaruhi oleh lingkungan. Tokoh utama daripada aliran ini adalah John Locke, dimana aliran ini sangat besar pengaruhnya di Amerika Sekrikat. Akan tetapi, kenyataan yang kita jumpai menunjukan hal yang berbeda daripada gambaran dari aliran ini. Banyak anak-anak orang kaya dan juga pandai mengecewakan orangtuanya karena kurang berhasil dalam belajar, meskipun di lingkungan yang baik (lingkungan orang pandai). Sebaliknya, mereka yang berada dalam lingkungan mampu, dan orangtua serta lingkungan yang tidak begitu pandai malah bisa berhasil dalam belajar. Jadi alirn empirisme ini juga tidak tahan uji dan tidak dapat di-pertanggung jawabkan.

3.Konvergensi

     Paham konvergensi ini berpendapat bahwa di dalam perkembangan individu itu baik faktor dasar, maupun faktor lingkungan sama-sama memilki edudukan yang penting. Setiap individu tentu telah memiliki bakatnya masing-masing, hanya saja bakat juga membutuhkan lingkungan yang sesuai dengan agar dapat berkembang. Selain itu, faktor kedudukan dalam keluarga juga memiliki peranan penting, seperti anak sulung dengan anak bungsu tentu akan mengalami perbedaan dalam perkembangannya, begitu juga dengan anak tunggal. Lalu setiap anak yang berkembang memiliki asas di setiap perkembangannya, meliputi asas biologis, asas ketidakberdayaan, asas kemanan, dan asas eksplorasi. Namun hal yang perlu diingat, pemberian rasa aman, serta kasih sayang tidak disarankan diberikan secara berlebihan, karena tentu hal ini akan menggangu perkembangan buah hati. Jika anak terlalu diberikan kasih sayang khawatir akan menjadi manja, dan anak yang diberikan rasa aman secara berlebihan khawatir anak tersebut tidak bisa mengatasi masalahnya sendiri.

Bagaimana Sifat Anak pada Masa Tertentu dalam Perkembangan Anak?

Para ahli mengemukakan pendapat mengenai periodesasi yang digolongkan menjadi 3:

1.Periodisasi yang Berdasar Biologis

     Ch. Buhler mengemukakan pendapat, bahwa ada 5 fase dalam perkembangan anak. Fase yang pertama (0;0 – 1;0) yaitu fase gerak laku ke dunia luar. Keudian yang kedua (1;0 – 4;0) yaitu fase makin meluasnya hubungan anak dengan benda-benda di sekitarnya. Lalu ketiga (4;0 – 8;0) yaitu fase hubunga pribadi dengan lingkungan sosial, serta kesadaran akan kerja, tugas dan prestasi. Keempat (8;0 – 13;0) yaitu fase memuncaknya minat ke dunia objektif, dan kesadaran akan akunya sebagai sesuatu yang berbeda dari aku orang lain. Terakhir, yang kelima (13;0 – 19;0) yaitu fase penemuan diri dan kematangan.

2.Periodisasi yang Berdasar Didaktis

     J.J Rousseau dengan karyanya Emile eu du l’education (1762) mengungkapkan bahwa ada 4 fase dalam perkembangan anak. Pertama, (0;0 – 2;0) adalah masa asuhan, kedua (2;0 – 12;0) adalah masa pendidikan jasmani dan latihan panca indera. Ketiga (12;0 – 15;0) adalah periode pendidikan akal. Kemudian yang terakhir (15;0 – 20;0) adalah periode pembentukan watak dan pendidikan agama.

3.Periodisasi yang Berdasar Psikologis

     Kohnstamm(1950) mengemukakan periodisasi yang berdasar pada psikologis terbegi menjadi 4 fase. Yang pertama ketika umur 0;0 sampai kira-kira 2;0 merupakan masa vital. Kedua ketika umur 2;0 sampai kira-kira 7;0 merupakan masa estetis. Ketiga ketika umur 7;0 sampai kira-kira 13;0 atau 14;0 merupaka masa intelektual. Terakhir ketika umur 13;0 atau 14;0 sampai kira-kira 20;0 atau 21;0 merupakan masa sosial. Disini terdapat kemiripan dengan periodisasi biologis dan didaktis.

Penelitian Penggunaan Hadiah dan Hukuman terhadap Perkembangan Anak

             Julius Wagner (dalam Ch. Buhler, 1950) mengadakan penelitian mengenai pengertian anak terhadap hukuman, apabila hukuman itu diberikan secara adil, maka hasilnya bisa dilihat dibawah ini;

Maksud (Tujuan Hukuman) Laki-laki Perempuan
(9;0 – 12;0) (12;0 – 15;0) (9;0 – 12;0) (12;0 – 15;0)
Memperbaiki 54,7% 80,2% 60,8% 79,5%
Menakut-nakuti 24,2% 12,0% 21,4% 15,6%
Membalas (dendam) 5,4% 6,3% 7,3% 4,1%
Lain-lain 15,7% 1,5% 10,5% 1,8%

Dari data yang telah dapat ditarik kesimpulan;

  1. Makin tua anak-anak, makin makin sadarlah mereka bahwa tujuan hukuman adalah untuk memperbaiki.
  2. Makin tua anak-anak, maka makin dapat tepatlah mereka mengenal maksud hukuman
  3. Anak-anak perempuan mempunyai kematangan lebih awal daripada anak laki-laki

            Selain pemberian hukuman, pastikan para orangtua juga perlu membatasi pemberian hadiah untuk anak-anak. Karena penggunaan hadiah dan hukuman harus disesuaikan dengan perkembangan anak, disamping harus pula dipertimbangkan kondisi-kondisi yang lain.

1.Masa Pra-Remaja dan Masa Remaja

            Istilah pra-remaja dipakai untuk menunjukan suatu masa yang berlangsung mengikuti masa puber, yang hanya berlangsung singkat saja. Masa ini ditandai oleh sifat-sifat negatif pada si remaja sehingga masa ini seringkali disebut masa atau fase negatif. Adapun sifat sifat negatif itu adalah sebagai berikut:

  1. Sifat-sifat negatif pada anak perempuan menurut H. Hetzer
  2. Tak tenang
  3. Kurang suka bekerja
  4. Suasana hati tak baik, pemurung
  5. On-sosial (agresif/menarik diri dari masyarakat)

Sifat negatif pada anak laki-laki menurut Hans Hochholzer

  1. Kurang suka bergerak
  2. Lekas lelah
  3. Kebutuhn untuk tidur besar
  4. Suasana hati tidak tetap
  5. Pesimistis

         Masa remaja sering juga disebut masa pencarian jati diri. Karena pada masa ini memang anak laki-laki maupun perempuan sering mengalami kesepian serta penderitaan yang seolah-olah tidak ada orang yang memahami, serta kebutuha seorang teman yang dapat memahami dan menolongnya, tak ayal pada masa ini anak laki-laki maupun perempuan sering bergerombol atau membentuk suatu perkumpulan (geng)

         Sis Heyster (1950: 242) menggolong-golongkan anak laki-laki dan juga perempuan ke dalam tipe tersendiri.

Anak laki-laki digolongkan menjadi:

  1. Pencari kultur
  2. Pencinta alam
  3. Tipe karyawan (pejabat)
  4. Tipe vital
  5. Tipe hedonistik

Anak perempuan digolongkan menjadi:

  1. Tipe keibuan
  2. Tipe erotis
  3. Tipe romantis
  4. Tipe tenang
  5. Tipe intelektual

Perkembangan Individu Karena Belajar

Faktor yang Mempengaruhi belajar

1.Faktor Nonsosial

Kelompok faktor ini boleh dikatakan juga tak terbilang jumlahnya, seperti misalnya: keadaan udara, suhu, cuaca, waktu, tempat, alat yang digunakan, lingkungan dan lain sebagainya. Oleh karena itu demi mendapatkan suasana yang mendukung, sekolah atau sarana mengajar lainnya harus jauh dari jalan raya bising, serta bangunan yang memenuhi syarat yang telah ditentukan oleh ilmu kesehatan sekolah.

2.Faktor Sosial

Yang dimaksud dengan faktor-faktor sosial disini ialah faktor manusia (sesama manusia), baik manusia yang hadir, maupun kehadiran yang tidak langsung. Kehadiran orang lain tentu menggangu kita belajar. Misalnya saat murid di kelas sedang mengikuti ujian, kemudian diluar terdengar murid yang sedang mengobrol. Tentu akan mengganggu konsentrasi murid yang sedang ujian. Oleh karena itu, faktor yang seperti ini harus diatur, supaya kegiatan pembelajaran dapat berlangsung sebaik-baiknya.

3.Faktor Fisiologis

Faktor fisiologis disini termasuk keadaan jasmani seseorang. Keadaan jasmani pada umumnya dapat dikatakan melatarbelakangi aktivitas belajar, karena kondisi jasmani yang kurang baik tentu akan memberi pengaruh buruk terhadap kegiatan belaja dan tentu bisa mempengaruhi hasil yang di dapatkan. Oleh karena itu nutrisi serta beberapa penyakit yang bisa dibilang kronis perlu di waspadai. Misalnya karena akan bergadang untuk belajar maka mengkonsumsi kopi dalam jumlah batas wajar, tentu hal tersebut tidak bagus nagi kondisi organ tubuh, terutama maag.

4.Faktor psikologi

Menurut Frandsen (1961: 216) ada bebrapa hal yang mendorong seseorang untuk belajar. Seperti adanya sifat ingin tahu dan ingin menyelidiki dunia yang lebih luas, adanya keinginan untuk mendaparkan simpati dari orangtua, guru serta teman-teman, lalu adanya keinginan untuk mendapatkan rasa aman bila menguasai pelajaran.

Penilaian Hasil Pendidikan

Peranan penilaian dalam usaha pendidikan adalah hal penting, karena itu perlu diperhtungkan mengenai penilaian. Penilaian dilakukan supaya dapat mencerminkan apa yang yang dinilai hendaknya dilakukan secara periodik. Makin sering jadi makin bagus. Selain itu, hasil penilaian hendaknya segera diberitahukan kepada murid-murid dimana perlu diadakan pembicaraan mengenai hasil tersebut.

Agar penilaian dapat di pertanggungjawab kan, maka tes yang diberikan juga harus memiliki kriteria atau syarat. Supaya mendapat hasil penilaian yang baik. Diantaraya:

1.Tes Harus Reliable

Tes yng diberikan harus bersifat reliable atau terpercaya dan hasilnya ajeg. Misalnya, jika tes diberikan saat ini maka hasilnya harus sama jika tes diberikan saat tahun berikutnya.cara yang dilakukan untuk dapat mengetahui reliabilitas suatu tes biasanya mnggunakan teknik korelasi.

2.Tes Harus Valid

Suatu tes disebut valid apabila tes tersebut mengukur apa yang harusnya diukurnya. Misal, tes untuk pelajaran sejarah, maka harus benar-benar mengukur kepandaian anak dalam mempelajari sejarah. Untuk mengukur validitas suatu tes itu, biasanya orang membandingkan tes yang sedang diselidiki validitasnya dengan tes yang sudah dipandang baik.

3.Tes Harus Comprehensive

Suatu tes dikatakan comprehensive jika tes tersebut mencakup segala persoalan yang harus diselidiki. Misalnya dari 115 orang guru diminta memberikan nilai pekerjan dalam mata pelajaran Ilmu ukur, maka 2 orang diantara mereka memberikan nilai antara 90-100, dan seorang memberikan nilai antara 20-29, jadi selisihnya adalah 70 nilai.

Sumber :Psikologi Pendidikan, Drs. Sumadi Suryabrata, B.A., M.A., Ed.S., Ph.D. 354.hal, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, Januari 2011, ISBN 979-421-082-x.

 

BEBERAPA PRINSIP MENINGKATKAN MINAT BELAJAR ANAK


Anak dan Kesenangannya untuk Belajar

Memahami Anak

Setelah pulang sekolah, tiba-tiba seorang anak berkata kepada ibunya, “Mama, aku mau ikut les gambar!”. Walaupun tidak langsung merespons, biasanya di benak sang ibu terbangun beberapa scenario:

  • Les dimana sebaiknya;
  • Bagaimana mengatur dengan jadwal sekolahnya, dsb.

Ternyata les yang dimaksud anak adalah kegiatan menggambar bersama teman-temannya.

( Perbedaan persepsi antara anak-anak dengan orang tua sering terjadi dalam hidup kita ).

Mendidik Anak

Seorang ibu berkata kepada anaknya, kamu harus berwibawa di depan adikmu!”. Dampaknya iya akan berusaha melakukan semua dengan sempurna, disini justru iya akan terlihat aneh di mata anak-anak lain.

( Sebenarnya anak-anak dan orang dewasa memiliki standar yang berbeda, banyak orang dewasa menerapkan standarnya kepada anak-anak).

Menumbuhkan Minat Belajar Anak

Ketika menonton televisi, sang anak berkata. “mama aku pengen bisa ngomong pakai bahasa inggris kayak di film.”

Sang ibu lalu mengajarkan beberapa kata yang ia tau, lalu menempatkan sang anak ke lembaga kursus, sang anak sangat senang dengan kursus tersebut, & hari-harinya dilalui dengan gembira.

( Disini sang ibu belajar memahami, suatu proses belajar akan disenangi jika motivasi yang tumbuh dari dalam, bukan paksaan ).

 Membentuk Suasana Belajar yang Menyenangkan

Betapapun kuat motivasi belajar anak, tetap membutuhkan lingkungan yang kondusif, memberikan keamanan dan kebebasan psikologis pada anak.

Keamanan psikologis dapat terbentuk dengan 3 proses, yaitu:

  • Orang tua menerima anak sebagaimana anaknya.
  • Orang tua mengusahakan suasana tanpa ada efek mengancam.
  • Orang tua dapat memberikan pengertian, dan dapat melihat dari sudut pandang anak.

Kebebasan psikologis dapat diberikan orang tua pada anak dengan cara memberikan kesempatan mengekspresikan pikiran-pikiran anak.

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan oleh orang tua, dalam menciptakan keamanan dan kebebasan psikologis guna membentuk suasana belajar.

  • Membangun empati
  • Menjalin kebersamaan
  • Membangun rasa memiliki
  • Mendorong kebebasan berekspresi
  • Pendampingan
  • Mengembangkan komunikasi efektif

Pengaruh Belajar yang Menyenangkan Terhadap Kreativitas Anak

Banyak hal yang bisa meningkatkan perkembangan anak ketika sedang mengalami proses belajar yang menyenangkan, salah satunya adalah perkembangan kreativitas. Banyak cara untuk  mengoptimalkan kreativitas anak, kreativitas memang membutuhkan imajinasi yang kuat, dan orang tua dapat membantu dengan menciptakan kondisi-kondisi tersebut.

Semakin banyak pengetahuan yang diperoleh anak, semakin baik dasar untuk mencapai hasil kreatif. Dan pendapat berbagai pakar, dapat disebutkan beberapa parameter kreativitas yang dimiliki seorang anak, yang dihasilkan dari kesenangan dalam belajar.

  • Kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru & unik
  • Kemempuan untuk mentransformasikan gagasan lama ke dalam bentuk-bentuk baru.
  • Kemampuan untuk membangun imajinasi dan fantasi yang terarah
  • Kemampuan untuk melihat kemungkinan jawaban terhadap suatu masalah
  • Adanya rasa ingin tahu yang luas & mendalam
  • Adanya minat yang luas dan keinginan bereksplorasi
  • Adanya perhatian pada proses, bukan sekedar hasil akhir
  • Adanya kesenangan dan kepuasan pribadi dalam melakukan pekerjaan
  • Adanya pengetahuan awal sebagai modal
  • Kepekaan akan keindahan (Sense of Beauty)
  • Kemampuan berfikir asosiatif & bermain dengan gagasan
  • Kepekaan melihat hal yang unik dari lingkungan sekitar dan aktivitas sehari-hari
  • Kemampuan mengungkapkan gagasa

22 Prinsip Komunikasi dalam Meningkatkan Minat Belajar Anak

Prinsip 1  Orang tua memberikan kebebasan anak untuk berkreasi, anak terpacu untuk membuat karya yang unik

Setiap anak memiliki keunikan sendiri. Cara berfikirnyapun unik dan khas, kebebasan yang diberikan oleh orang tua untuk berkreasi, akan membuat karya-karya unik & menarik.

Bentuk kebebasannya misalnya :

  1. Menghargai apapun hasil kreasi anak
  2. Mendorong anak berkreasi lewat karya yang unik, misalnya menggambar pelangi, dan menceritakan kembali lewat tulisan.

Prinsip 2  Orang tua menerima berbagai jawaban anak terhadap pertanyaan tertentu, anak belajar berfikir luas

Minat belajar anak bisa ditandai dengan adanya keingintahuan yang luas mengenai suatu hal. Ketika ditanyakan suatu hal,anak mempunyai minat belajar tinggi, mejawab dengan berbagai jawaban. Cara berfikir demikian disebut cara berfikir divergen ( meluas, banyak jawaban dalam suatu masalah ) dan elaborative ( membangun berbagai kemungkinan jawanab dari satu hal yang ditemukan.

Cara berfikir tersebut, dapat dibiasakan pada anak dengan jalan orang tua menerima apa pun jawaban anak terhadap satu pernyataan tertentu, bisa jadi jawaban anak salah atau tidak logis menurut cara berfikir orang dewasa, namun bisa jadi ada hal-hal menarik dari jawaban itu yang hanya bisa dipahami anak.

Prinsip 3 Orang tua menerangkan materi dengan sudut pandang yang unik, anak terpacu rasa ingin tahunya.

Hal yang mengurangi rasa ingin tahu anak atau membuatnya enggan belajar adalah rasa bosan. Kebosanan ini bisa diakibatkan oleh materi pengetahuan yang itu-itu saja & tidak bervariasi. Demikian dengan cerita, orang tua bisa mengemasnya dengan menarik yang menggugah keingintahuan anak tentang materi yang akan disampaikan, contohnya :

  1. Orang tua sedang mendampingi anak belajar mengenai pasang surut. Orang tua bisa mengawali dengan kalimat, “Mengapa permukaan air laut tiba-tiba meninggi ?”

Prinsip 4 Orang tua memberikan penjelasan awala secara jelas sebelum anak memulai pekerjaannya, anak mendapat pengetahuan awal secara efektif

Sebelum memberikan tugas pada anak untuk melakukan suatu pekerjaan, orang tua hendaknya membimbing anak dengan memberikan penjelasan awal yang bisa menjadi pedoman anak dalam melakukan sesuatu, sehingga ada gambaran awal yang dimiliki anak ketika melakukan pekerjaannya. Menyuruh tanpa memberikan contoh membuat bayangan anak menjadi samar-samar. Hal ini bisa mengakibatkan anak kebingungan dan menjadikannya enggan bertindak.

Prinsip 5 Orang tua menggunakan alat peraga, anak mempunyai modal awal yang lebih terbayang

Alat peraga penting digunakan ketika kita menerangkan sesuatu kepada anak. Alat peraga ini membantu anak membayangkan materi yang tengah disampaikan dan mengarahkan serta membimbing daya imajinasi anak pada materi yang tengah disampaikan. Contoh alat peraga bisa berupa, buku bergambar, poster, model atau miniatur.

Prinsip 6 Orang tua menerangkan dengan eksperimen, anak terpacu rasa ingin tahunya dan belajar mengamati terjadinya suatu fenomena

            Mengapa harus dengan eksperimen? Ketika anak mengalami kerepotan dalam melakukan eksperimen, anak bisa mendapatkan pengalaman yang unik, bersinggung langsung dengan apa yang diamati. Metode eksperimen bisa melatih anak tentang terjadinya suatu peristiwa. Dari pengamatan kan muncul berbagai hal yang menarik, & membuat rasa ingin tau anak lebih tinggi.

Prinsip 7 Orang tua memberikan ulasan dan kesimpulan terhadap apa yang dikerjakan anak, anak memahami maksud pekerjaan dan berpikir secara utuh

            Anak-anak sering melakukan sesuatu karena spontan. Bisa jadi ia melakukan sesuatu yang baik, namun ia tidak menyadarinya. Disinilah peran orang tua, memberikan ulasan secara keseluruhan tentang apa yang sudah dilakukan, agar anak memahami apa yang dilakukannya. Dengan pemahaman yang lebih terstruktur, anak menjadi lebih terarah dalam mengembangkan daya pikirnya menuju pemahaman yang menyeluruh (holistic).

Prinsip 8 Orang tua mengaitkan isi cerita dengan fenomena yang pernah dilihat anak, anak belajar berfikir mengaitkan satu hal dengan hal lain

            Meski anak mempunyai day imajinasi yang kuat, namun usahakan imajinasi itu terkait dengan kehidupan sehari-hari, bukan khayalan yang tak mendasar. Hal ini bisa dilatih dengan cara mengaitkan isi cerita kepada suatu hal yang pernah dilihat atau dialami anak. Keterkaitan ini bisa berupa fenomena yang ada disekitar anak, kegiatan sehari hari anak, atau hal-hal yang berkesan yang pernah dilihat anak sebelumnya. Disini orang tua akan memanfaatkan kerangka pemikiran yang sudah ada pada diri anak, sehingga materi akan mudah diterima karena telah dikenal lebih dulu, agar disini anak mulai beljar berfikir asosiatif, artinya berbagai kejadian yang dilihat dan dirasakan sehari-hari bisa saling terkait jika dipikirkan secara kreatif.

Prinsip 9 Orang tua memberikan kesempatan anak untuk bercerita, anak belajar mengungkapkan apa yang dipikirkan dan mengungkapkan gagasan secara lebih terstruktur

Bagaimana agar bisa lancar berbicara di depan orang lain? Salah satu jawabannya adalah banyak latihan. Latihan ini bisa dimulai ketika masih anak-anak. Orang tua berusaha memberikan kesempatan sebanyak mungkin bagi anak untuk mengungkapkan gagasannya dalam setiap kesempatan. Dan ketika anak sudah mampu menguasai banyak kosa kata, kita dorong anak untuk mau bercerita. Bercerita akan membuat anak belajar mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya, tidak saja kepada orang tuanya, tetapi juga kepada orang lain.

Prinsip 10  Orang tua membimbing anak tampil di depan forum, anak belajar berani berkreasi di depan banyak orang

Berbicara dan menjelaskan gagasan dengan baik di depan orang lain memerlukan banyak latihan, membutuhkan pengalaman dan keberanian. Keberanian tampil di depan forum sebaiknya dilatih ketika masih usia kanak-kanak. Hal ini akan berpengaruh terhdap kepercayaan dirinya. Kalau anak sudah mampu menguasai dirinya untuk tampil di depan orang banyak, maka akan meningkat pula keberanian anak menampilkan kemampuannya di depan umum. Dengan bimbingan dan pendamping orang tua, secara perlahan-lahan anak akan membangun keberaniannya tampil di depan banyak orang.

Prinsip 11 Orang tua melakukan pendampingan secara pribadi kepada anak, anak memiliki keamanan psikologis untuk berkreasi

Berkomunikasi dengan baik kepada anak bukan berarti bisa memberi instruksi, atau menyuruh anak melakukan apa yang diinginkan orang tua. Komunikasi yang kita lakukan kepada anak tidk akan efektif jika kita menyampaikan instruksi saja, kemudian membiarkan anak memahami pesan tersebut, tanpa arahan. Ketika anak tengah menjalankan apa yang kita sampaikan, maka pendampingan akan membuat anak merasa aman karena ia merasa ada yang siap memberikan pertolongan jika ia membutuhkan.

Prinsip 12 Orang tua melayani pertanyaan-pertanyaan anak, anak nyaman untuk berpendapat dan terpuaskan rasa ingin tahunya

            Dunia anak adalah dunia serba ingin tahu. Anak yang normal dan kreatif selalu menanyakan banyak hal sebagai wujud keingintahuannya. Apabila pertanyaan yang disampaikan selalu mendapat respons, maka anak akan merasa terpenuhi keingintahuannya. Hal ini akan mendorong anak untuk lebih berani dan banyak bertanya dalam usaha mengetahui berbagai macam hal. Sebaliknya apabila kita tidak merespons jawaban anak, kemungkinan anak menjadi enggan untuk menyampaikan pertanyaan karena keingintahuannya tidak terpenuhi.

Prinsip 13 Orang tua memberikan kesempatan kepada anak untuk mencoba lagi, anak belajar menyelesaikan pekerjaan dengan berbagai inovasi baru

Maju terus, pantang mundur! Kata-kata mutiara itu mungkin telah menjadi tradisi dalam perjuangan bangsa kita, terutama ketika mempertahankan kemerdekaan dulu. Malu dong, jadi anak Indonesia jika belum apa-apa sudah mundur atau menyerah. Namun anak tetaplah anak, dengan emosi yang masih labil mereka masih harus didampingi agar tidk menyerah dalam melakukan suatu pekerjaan, sampai dia berhasil menyelesaikannya.

Ketika anak mengalami kegaglan pertama, kita dorong untuk mencobanya kembali dengan cara-cara baru. Orang tua dapat memberikan semangat, hiburan, sehingga anak terhindar dari rasa putus asa. Maka ketika sudah berhasil menyelesaikan pekerjaannya, meski harus berulang kali gagal dan bersusah payah mencobanya, orang tua tetap memberikn pujian dari hasil kerja kerasnya.

Prinsip 14 Orang tua menjalin kedekatan, anak memiliki rasa aman secara psikologis untuk berkreasi

            Anak akan mudah menjalin komunikasi dengan kita bila ia merasa dekat. Maka, sebaiknya kita menghilangkan jarak dengan anak ketika berkomunikasi sehingga anak bisa merasa bebas untuk mengeluarkan isi hatinya. Dalam berbagai hal lain, kedekatan ini akan mendorong anak melakukan berbagai hal lain, kedekatan ini akan mendorong anak melakukan berbagai hal dengan kreasinya tanpa merasa dipantau dan disalahkan ketika mengeluarkan ide-ide baru.

Prinsip 15 Orang tua melibatkan anak secara aktif dalam belajar, anak merasa ikut memiliki dan tumbuh minat belajarnya

            “Libatkan saya, dan saya akan memahami apa yang anda ajarkan’, begitu ungkapan Cina kuno. Maka, melibatkan anak secara aktif dalam belajar akan membuat lebih efektif penyampaian materi yang tengah diajarkan. Rasa memiliki terhadap materi yang disampaikan lambat laun akan menumbuhkan minat anak dengan sendirinya untuk memahami dan mengikuti materi yang disampaikan. Ia juga akan bertanggungjawab dalam menjalankannya karena merasa materi itu telah menjadi miliknya.

Prinsip 16 Orang tua melibatkan diri dalam kegiatan anak, anak lebih bersemangat dalam berkreasi

            Anak akan merasa lebih bersemangat atau menyatu dalam suatu kegiatan bersama orang tua ketika orang tua melibatkan diri dengan kegiatan anak. Anak merasa sejajar dengan orang tua. Anak merasa tidk canggung dan bersemangat untuk berkreasi dalam kegiatan yang dilakukan.

Prinsip 17 Orang tua menciptakan suasana menyenangkan, anak menyenangi materi dan memiliki kepuasan pribadi dalam berkreasi

            Dalam suasana yang menyenangkan anak terbebas dari tekanan sehingga mempermudah penerimaan pesan yang disampaikan oleh orang tua. Kondisi dimana anak berada dalam suasana yang menyenangkan juga menjadi syarat penting bagi anak untuk dapat berkreasi (bebas dari tekanan).

Prinsip 18 Orang tua menciptakan suasana bersemangat dalam belajar, anak lebih termotivasi

Suasana bersemangat harus diciptakan untuk mendorong anak memusatkan perhatiannya pada materi yang sedang disampaikan dan memahami pesannya sehingga anak termotivasi dalam belajar.

Orang tua bisa membangun semangat anak dengan cara memposisikan diri sebagai partner atau teman bagi anak dalam memahami materi atau mencapai suatu hasil. Jadi anak tidak merasa harus berjuang sendiri ketika menemui materi yang sulit, tetapi ada orang tua yang memosisikan diri sebagai teman untuk bersama-sama mempelajari materi tersebut.

Prinsip 19 Orang tua menjaga konsentrasi anak, anak efektif dalam mendalami materi

Bukan anak-anak kalau konsentrasinya tidak mudah terbelah. Sudah menjadi sifat alami anak, jika ia tengah asyik bermain sesuatu, lalu ada mainan lain yang lebih menarik, maka ia meninggalkan permainannya yang lama menuju permainan yang baru. Ini menjadi kendala utama anak dalam menyerap dan memahami suatu hal, konsentrasi. Maka dalam menerima pesan yang disampaikan, perhatian adalah hal yang utama yang harus dijaga anak agar pesan dapat diterima. Untuk itu orang tua hendaknya selalu menjaga perhatian anak dengan berbagai cara agar pesan yang disampaikan dapat diterima.

Prinsip 20 Orang tua memberikan penghargaan (reward) yang bervariasi, anak mempunyai motivasi untuk menghasilkan karya yang terbaik

Pemberian penghargaan yang paling sederhana adalah memberikan pujian. Misalnya dalam kegiatan belajar mengenal buah-buahan dalm bahasa inggris. Ketika anak mampu mengelompokkan buah-buahan berdasarkan rasanya, menyebut nama buah dengan bahasa inggris yang benar, kita dapat memberikan penghargaan. Penghargaan dapat diciptakan dalam bentuk kretif, misalnya jika anak dapat memberikan jawaban yang benar, maka ia berhak mendapatkan pin dari buah-buahan itu.

Prinsip 21 Orang tua mengembangkan cara inovatif dalam mengajar, anak belajar berfikir luas

Belajar hampir sama dengan makan. Bila makan yang disantap adalah bahan makanan agar menjadi energy untuk pertumbuhan, maka belajar adalah proses menyantap berbagai informasi menjadi pengetahuan yang terstruktur. Jika makanan disajikan tanpa variasi, akan menyebabkan bosan, begitu pula dengan belajar. Anak perlu mendapat perlakuan variatif dalam belajar, agar ia terhindar dari rasa bosan. Orang tua hendaknya mengembangkan cara-cara baru atau inovatif dalam menyampaikan pesannya kepada anak. Hal lain selain untuk menghindari kebosanan anak dalam menerima pesan, juga melatih anak untuk berfikir divergen, tidak terpaku pada satu cara tetapi mampu melihat cara-cara lain yang mungkin diterapkan.

Prinsip 22 Orang tua menggunakan ekspresi mimik dan gerak, anak belajar untuk menghayati pekerjaan

Raut muka atau mimik wajah sanggup menceritakan apa isi hati kita, dan tidak pernah bohong. Kita bisa mengetahui anak kita sedih jika raut mukanya ditekuk, mata mulai berair, meski ia tidak mengatakan apa-apa tentang kesedihannya. Sebaliknya ekspresi wajah suka cita juga akan terlihat jelas, misalnya bila anak menerima hadiah dari kita dengan suka cita. Raut wajah, mimik memang bisa memperkuat suasana yang tercipta, dan ini menjadi modal kita dalam berkomunikasi dengan anak. Orang tua dapat menggunakan ekspresi wajah, mimik, dan gerakan, ketika berkomunikasi dengan anak. Ekspresi ini berfungsi untuk membangkitkan suasana, membuat anak memjadi bagian dari komunikasi yang tengah dibangun.

kesimpulan

Kurangnya pemahaman pada anak terhadap cara anak berkomunikasi menyebabkan sering terjadinya miss communication. Mulai dari orang tua yang terlalu memanjakan anaknya, hingga terlalu mengekangnya tidaklah baik juga. Membebaskannya dalam berekspresi namun tetap memperhatikan atau memberikan pengawasan apa yang dilakukan, serta kurang pahamnya orang tua terhadap apa yang anak sebenarnya inginkan.

Dalam buku ini kita banyak membahas tentang kesenangan-kesenangan anak dalam belajar yang banyak kita salah artikan, bagaimana cara anak belajar, meskipun terkesan main-main, namun anak sebenarnya banyak belajar dari apa yang mereka lakukan dan apa kesalahan mereka. Oleh karena itu, dukungan dari orang tua sangatlah penting terhadap tumbuh kembang anak. Bukan memanjakan atas apa yang selalu anak inginkan, namun tetap memberikan pengawasan pada saat anak melakukan sesuatu.

Daftar Pustaka

Junita, Ekomadyo. 2009. 22 Prinsip Komunikasi Efektif Untuk Meningkatkan Minat Belajar Anak. Bandung: Simbiosa Rekatama Media

Resume Buku : “Philosophy of Science after Feminism


ClickHandler.ashx1Penulis : Janet A. Kourany
Penerbit : Copyright © 2010 by Oxford University Press, Inc.
ISBN 978-0-19-973262-3; 978-0-19-973261-6 (pbk.)
Halaman : 162 halaman

Filsafat Ilmu setelah Feminisme
Studi dalam Filsafat feminis dirancang untuk menampilkan monograf mutakhir dan koleksiyang menampilkan berbagai pendekatan feminis terhadap filsafat, yang mendorongpemikiran feminis dalam arah baru yang sangat penting, dan menampilkan kualitas luar biasa dari pemikiran filsafat feminis.

Penulis (JanetA.Kourany) menyebutkan bahwa tujuan Filsafat Ilmu setelah Feminisme adalah untuk menyediakan cetak biru bagi sebuah filsafat ilmu social agar lebih terlibat dan bertanggung jawab secara sosial dari filsafat ilmu yang ada sekarang, filsafat ilmu pengetahuan yang dapat membantu untuk mempromosikan ilmu pengetahuan sosial terlibat dan bertanggung jawab secara sosial dari ilmu yang ada sekarang. Feminis-feminis ilmuwan dan sejarawan ilmu pengetahuan, serta filsuf feminis ilmu, telah mengejarjenis filsafat ilmu dalam bidang yang berkaitan dengan gender selama tiga dekade sekarang. Strategi yang digunakan oleh penulis bukuini dengan mengadopsi danmengembangkan pekerjaan mereka, yaitu sebuah program baru penelitian yang komprehensifuntuk filsafat ilmu. Untuk menjelaskan hal ini penulis membaginya menjadi lima bab.

Bab satuA Feminist Primer for Philosophers of Science ,meliputi; The Role of Science, Toward a new Role for Science, Toward a new Role for Pholosophy of Science dan Plan of the Book.

Di banyak Negara ada reverensi yang lebih besar untuk anak laki-laki dibandingkan perempuan, dan banyak di Negara lain, bayi perempuan dibunuh karena seks yang “salah”. Kekerasan melawan perempuan dan gadis tidak tertangani di setiap benua, Negara dan budaya dan ini adalah masalah yang pandemic. Satu dari tiga wanita di dunia di pukuli, dilibatkan dengan sex, atau dilecehkan seumur hidup (UNIFEM 2007). Apalagi, “wanita beresiko lebih besar dari kekerasan laki-laki yang mereka kenal. Di Australia, Kanada, Israel, Afsel, dan Amerika, 40-70% korban pembunuhan yang dibunuh pasangannya.” (UNEPA 2005)
Prostitusi dan pornografi dan penyeludupan wanita, multilasi genetika wanita, dan pembunuhan, restriksi yang berhubungan dengan reproduksi dan sosialisasi gender dan penyalahgunaan seksual dan masih banyak lagi masalah yang komplek bagi keberadaan wanita. Wanita di dunia selalu inferior dibanding laki-laki, mendapatperlakuan kasar, gaji yang kecil, perlakuan yang buruk di dalam atau di luar rumah.
Sains dapat menjadi kekuatan perjuangan dalam persamaan bagi wanita. Sains, dapat mengekpos tanggapan masyarakat melawan wanita atas persoalan ini, dan sains dapat menjustifikasi penempatan dalam perspektif kesamaan. Sebagi contoh, secara histrois, wanita lebih inferior dari laki-laki-secara intelektual, social, seks, bahkan moral (Marecek 1995; Wilkinson 1997). Di beberapa abad, diklaim bahwa otak wanita lebih kecil dari otak laki-laki, bahkan membenarkan perbedaan tubuh.
Benar bahwa dengan estimasi lebih dari 15,000: kajian kognitif manusia berbeda sex (kelamin); mereka gagal menemukan tidak ada perbedaan sex, mereka gagal melaporkan efek dari ukuran perbedaan kelamin, mereka gagal memasukan sample, mereka mengasumsikan sebagai basis biologis data crossculture (Halpern 2000). Tapi laporan berbeda mengatakan :
Kita dapat mengatakan dengan pasti bahwa ada perbedaan seks yang subtansial dalam fungsi kognitif seperti kemapuan rotasi (laki-laki), matematik (wanita), kemampuan motoric (wanita), dekteriti jari (wanita). Kita juga dapat menyatakan bahwa fungsi yang sangat berbeda secara seksual dengan kuat terpengaruhi oleh lingkungan hormonal (Kimura 2006, 181)
Sebagai hasil dari representasi lalu, perkumpulan laki-laki inti dari evolusi laki-laki, laki-laki itu aktif, instrumental, penyedia, innovator,. Pada saat yang sama, wanita sebagai pinggiran, tidak aktif dan justifikasi persamaan gender masih ditemukan hari ini (Conkey dan William 1991)
Sains, telah banyak mengerjakan untuk menguatkan dan menambah masalah wanita berkonfrontasi daripada menyelesaikannya. Tapi, tentunya, sains telah mengasilkan banyak informasi berkaiatan dengan masalah ini, dan ilmuwan juga telah menyediakan beberapa usaha untuk mengatasinya.
Inti dari bab ini mengenalkan jenis pertanyaan normative berdasarkan sain feminisme yang telah diyakini. Pertanyaan ini menempatkankan sains dengan kontek social yang lebih luas, investigasi aspek epistemic sain seperti mereka melihat dengan aspek ekonomi, sosiopolitik dan etik sain. Pertanyaan ini berseberangan dengan pertanyaan normative berdasarkan mainstream pilosofi sekarang. Filsafat ilmu lebih bertanggungjawab secara social dibanding filsafat yang ada sekarang.

Bab duaThe Legacy of Twentieth-Century Philosophy of Science, meliputi; The Professionalization of Philosophy of Science,Obstacles to Success, A Further Obstale,Early-Twentieth-Century Philosophy of Science: The Vienna Circle, Diagnostic Reflections, Prognostic Reflections, Therapeutic Reflections,

Departemen Pendidikan baru dan swasta telah memformat secara khusus terhadap filsafat ilmu, jurnal, buku seri yang di launching, dan pemerintah telah mensupport penelitian melalui sumber anggarannegara.
Dalam bukunya, Reichenbach telah mengatakan bahwa tugas filsafat ilmu adalah menganalisis “struktur internal” dari ilmu saintifik, bukan “relasi eksternal” (Reichenbach 1938, 3-8)
Pada akhir tahun 1950-an, Thomas Kuhn, Paul feyerabend, Norwood Russel hanson, Stephen Toulmin, dan banyak lagi pilosof dan ahli sejarah yang berbeda sains mengeluh bahwa filsat ilmu gagal membuat kontak dengan sains yang aktual. Masalahnya pada logika sains. Logika, tentunya relevan dengan rasionalitas saintifik. Tapi logika jauh dari cerita keseluruhan.
Program empiris logika pada abad pertengahan memfokuskan perhatiannya pada hasil teoritis sains. Ini yang dikeluhkan oleh Stephen Toulmin dan yang lainnya (1953, 1961)
Abad pertengahan kontek social dari sains dipengaruhi oleh sains militer secara masif:
Pertama, ini dipengaruhi oleh efek metodelogi dan organisasional. Kedua, efek subtansif. Dan ketiga, efek social.
Banyak beasiswa abad 20 pilosof sains di Vienna Circle, ini dimotivasi oleh kontek social dan politis.
Di pertengahan abad duapuluh, Vienna Cicle dan konsepsi dunia saintifik mampu menjalankan peran yang signifikan, dalam sain atau kehidupan social. Pilosof sains feminism, berkolaborasi dengan sejarawan feminis dan sosiolog, telah mengabadikan analisis komprehensif dari sain dalam masyarakat selama bertahun-tahun. Mereka memberi kita model bagaiman melakukan hal itu.

Bab tigaWhat Feminist Science Studies Can Offer, meliputi; The Methodological Approach to Sexism in Science, The Ideal of Value-Free Science, The Social Value of Science: A Social Approach to Sexism in Science, The Empiricist Ideal of Science: A Naturalist Approach to Sexism in Science, The Ideal of Socially Responsible Political Approach to Sexism in Science, Where You Take Over the Examination of the ideal of Socially Responsible Science, Where You Come to a Decision.

Melawan androcentrisme ( karakter laki-laki & wanita) dan sexisem (dualisme seksual) adalah hal pertama yang dilakukan oleh feminists (para ahli feminisme) dalam masyarakat, melawan androcentric dan sexism dalam ilmu pengetahuan adalah hal utama bagi semua feminist. Tapi bagaimana melakukannya?
Ahli feminist dan sejarah menyingkap sexism dan androcentrisme dalam bidang seperti antropologi, sosiologi, politik, penelitian medis, psikologi, biologi, dan arkologi, mereka menyingkap halangan yang dihadapi oleh ahli feminisme dengan baik dari persoalan tersebut. Mereka menginvestigasi dengan tindakan yang diperlukan untuk merespo. Dari penelitian dihasilkan tidak hanya sekedar perhiasan yang ‘wah’ tapi juga sebuah perangkat yang penting bagi kontekstual Filsafat ilmu dengan eksistensi rasisme, heteroseksual, pengkelasan.

Pendekatan Metodologi terhadap Sexism dalam Ilmu Pengetahuan
Banyak ilmuwan feminisme menunjuk bahwa paham sexism dan androsentris adalah hal yang gagal dalam standar konsep dari formasi atau design eksperimental atau analisis data atau yang lainnya melalui metodelogi ilmu tradisional yang kurang baik. (lihat, Hubbard 1979; Bleier 1984; Fausto-Sterling 1985).
Isu premenstrual syndrome (PMS-sindrom menstruasi) adalah kasus yang dicatat. Tahun 1980-an, PMS menjadi masalah biomedical dalam proporsi yang signifikan. PMS di Inggris menjadikan wanita kurang mampu mengendalikan posisinya dan tanggungjawabnya dalam masyarakat dibanding laki-laki (Riitenhouse 1991; Easteal 1991; Chrisler and Caplan 2002).
Masalah metodelogi yang serius yang sama berkenaan dengan penelitian sexist (seksual) dan androsentris dijelaskan dalam bab 1. Sosiolog feminisme Margit Eichler (1998) memperkenalkan sebuah “metode penelitian untuk non-seksual” untuk membantu pelajar atau peneliti yang diharapkan untuk melakukannya. Dia berkata : “Metode saya simple. Saya mengunjungi perpustakaan dan mengambil apapun issu terakhir dari jurnal dari berbagai disiplin ilmu, sehingga saya menemukan paling sedikit satu contoh dari sexism di setiap jurnal. Sedihnya, ini benar terjadi”. Psikolog feminisme Carolyn Sherif, sebagai contoh, menyarankan bahwa “ kepercayaan tentang cara proporsional untuk meyakinkan ilmu pengetahuan yang telah membuat penelitian psikologi secara ganjil cenderung bias dalam konsep, eksekusi dan interpretasi” (Sherif 1979, 63).

Ilmu yang Ideal Bebas Nilai
Menurut ilmu bebas nilai, investigasi saintifik harus dijaga kebebasannya dari komitmen politis dan etis. Akhir abad ke-20, nilai ilmu bebas yg ideal telah gagal hampir tidak dihargai. Nilai ilmu bebas yang ideal, dari semua kepentingan politik dan etis, menawarkan harapan yang dapat menyelesaikan, bahwa akhirnya, ilmu pengetahuan tersebut dapat menyediakan informasi yang objektif tentang wanita, dan dalam prosesnya, menyingkap dan memindahkan prasangka masyarakat melawan wanita, dengan tidak benar-benar menguatkan. Baik dari bidang politik, ekonomi dan sosiologi.

Manajemen Nilai Sosial yang Ideal dari Ilmu Pengetahuan: Sebuah Pendekatan Sosial Terhadap Sexism dalam Ilmu Pengetahuan.
Objektivitas saintifik harus melakukan dengan kebenaran dari saintifik klaim terhadap ilmu pengetahuan. “ sains adalah pikiran untuk menyediakan kita pandangan dunia yang objektiv dalam dua hal yang berbeda dari term tersebut” (Longino 1990, 62).
Masalahnya menurut Longino, ahli feminis pada masa lalu mefokuskan pada metode saintifik individual untuk membuka nilai social seperti sexism dan androsentris.
Manajemen nilai social dari Longino, rasionlaitas saintifik (objektivitas) adalah fungsi kerja komunitas, bukan sikap dan kebiasaan ilmuwan secara individual seperti nilai ilmu bebas dan pendekatan metodelogi yang rasional. (pendekatan Longino ini sangat berbeda dengan ilmuwan feminisme).
Empiris yang Ideal dari Sains: Sebuah Pendekatan Natural terhadap Sexism dalam Sains.
Ketika kita melihat praktisi saintifik yang sukses selama tiga dekade terakhir, kita menemukan bahwa yang menangani masalah gender dan relavansinya telah dihasilkan oleh ahli feminisme. Ada dua hal yang ditawarkan oleh naturalis feminisme ; pertama ‘standpoint hypotesis’ –wanita berkeinginan sama/lebih baik posisinya dengan laki-laki dalam mendeteksi sexism dan androsentris dalam sains dan menempatkan mereka dalam perspektif yang sama. Kedua ‘hypotesis nilai’ –feminisme memiliki pengaruh dalam perkembangannya.
Antonio (1993) dan Campbell (2001) mengklasifikasi sexism dan rasisme dengan nilai social feminis sebagai “bias”. Mereka kemudian membuat sebuah jarak antara “bias yg baik” (membimbing kita kpd kebenaran) dan ‘bias yg jelek’ (menjauhui kita dari kebenaran). Tegasnya, “kita harus memperlakukan kebaikan dan kejelekan dari bias sebagai pertnyaan empiric (Antony 1993, 215). Solomon (2001) juga mengklasifikasi bersama-sama nilai social dari egalitarian, rasisme dan sexism sebagai “ideology”.

Cita-cita dari Sain yang bertanggung Jawag terhadap Sosial: Pendekatan Politis terhadap Sexism dalam Sains.
Cita-cita dari responsibility secara social adalah mampu memenuhi peranan politik dari sain yang bebas nilai. Carolyn West , concern dengan penelitian psikologinyadalam masalah kekerasan domestic di Amerika (West 2002; and see West 2004). Meneliti kekerasan antara wanita kulit putih dan kulit hitam. Kekerasan yang dilakukan lawan intimnya. Disana, wanita kulit hitam memiliki streotip bahwa mereka lebih yang melakukan kekerasan daripada etnis lain. Dia melihat dari motif, kontek dan outcome dari aksi-aksi kekerasan. Metode yg digunakan qualitative dan quantitative. Masalah rasisme, kejahatan bersenjata dan pelecehan seksual.
Satu contoh dari West : selama era perbudakan, mereka mengalami trauma, yang bersaksi atas penculikan suami, saudara laki-laki, anak dan bapaknya dari pemilik budak. Diskiriminasi, manipulasi dan pelecehan (2002, 229).West telah menerima penghargaan dari komunitas kulit hitam untuk hal yang dikerjakannya-Outstanding Researcher Award- dari Lembaga Kekerasan domestic di Komunitas Amerika Afrika dimana aman untuk mengatakan bahwa program penelitian berfokuskan stereotype akan menemui respon yang berbeda.

Dimana Anda Menemui Sebuah Keputusan
Debat yang complicated tentang hubungan feminisme dengan multikulturalisme in Okin 1999. Bahwa wanita kulit hitam tidak menerima kesempatan yang sama dengan wanita kulit putih untuk hidup tanpa takut mendapat kekerasan dari partner domestic.
Apa hasilnya? Ini dapat memenuhi peran politik dan epistemic dari cita-cita lama dari nilai sain yang ideal.

Bab empatChallenges from Every Direction, meliputi; The Epistimological Challenge, The Historical Challenge, The Sociological and Economic Challenges, The Political Challenge.

Tantangan yang harus dihadapi, diterima dan direspon adalah gender, feminisme dan permasalahannya: Pertama; justifikasi epistemology -sains-ahli terlatih yang proporsional, Kedua ; justifikasi historis –efek epistemic yang dihasilkan dari sains, Ketiga; justifikasi sosiologis – menekankan kognitif unik pelembagaan social dalan sains, Keempat; justifikasi ekonomik – menekankan kemajuan sosioekonomi yang luar biasa yang dihasilkan dari kemajuannya. Terakhir, Kelima; justifikasi politik – pemaksaan bahwa ilmuwan memiliki hak kebebasan meneliti dan kebebasan berbicara.
Tantangan Epistimologi (campur tangan sains)
John Stuart Mill terkenal dengan strategi “marketplace of idea” ; strategi menurut akuisisi ilmu pengetahuan dengan investigasi bebas berdasarkan opini (Mill [1859] 1956,21)
Thomas Kuhn, di sisi lain, strategi optimal bertolak belakang; sesuatu harus diungkapkan melalui sains apa yang dilihat atau dimana yang dicari dan pendidikan seseorang sebagai sains yang menyuplainya (Kuhn 1963,)

Tantangan Historis
Tantangan historis focus pada episode khusus dari produk ilmu pengetahuan saintifik lebih dari strategi umum untuk menghasilkan ilmu pengetahuan (knowledge).Di buku ini menjelaskan contoh penelitian Lysenko pada era Hitler berkaitan dengan genetika. Syarat dari sebuah sains yang harus di-judge oleh dua standar ; standar politis dan epistemic (sains) dan harus memenuhi kemajuan sains dan progress sains.

Tantangan Ekonomi dan Sosiologis
Pertama, tantangan sosiologis,. Ini adalah formulasi klasik yang diberikan pada tahun 1942 oleh arsitek utama dari sosiologi modern, Robert K. Merton. Menurut Merton, institusi sains ditandai dengan “etos” atau “norma dan nilai yang kompleks dilakukan pada sains” ([1942] 1973, 268-269). Etos ini menggabungkan dua elemen; kognitif dan social, ditransmisi oleh “contoh dan aturan” dan di tegakkan oleh reward dan hukuman. Dan ini dilegitimat oleh tujuan sains. Ini adalah yang membentuk etos dari sains. Bagi Merton the original four (4 yang asli)-“komunisme, universalisme, ketidaktertarikan / disinterest” dan “skeptism menjadi inti dari etos sains.
Merton menekankan bahwa “institusi sain adalah bagian dari struktur social yang lebih luas yang tidak selalu terintegrasi”. Ketika kultur yang lebih besar melawan universalisme- “atau komunisme atau disinteresisme atau skeptisisme-“ etos dari sains di subjeksi pada tekanan yang serius (271). Ini terjadi pada system totalitarian NAZI Jerman dan Uni Soviet.Menurut tantangan ekonomi, apalagi, ketika peningktan sians dijamin, seperti juga kemajuan sosioekonomi. Menurut laporan kajian Vannevar Bush :
Kemajuan dalam sains membuat banyak lapangan pekerjaan, upah tinggi, jam yang lebih pendek, panen yang bagus, makin banyak tempat rekreasi, untuk belajar, tidak seperti masa yang lalu. Ini juga membawa standar hidup yang lebih tinggi, membawa pencegahan atau pengobatan penyakit. (Bush 1945, 5)

Kebalikannya, “tanpa kemajuan sains tidak ada yang dapat menjamin kesehatan, perumahan, dan keamanan sebagai sebuah Negara dalam dunia modern”. Menurut Bush juga bahwa penelitian dasar akan menyediakan capital (modal) saintifik, dengan meningkatkan aplikasi ilmu pengetahuan. Ini akan menciptakan kemajuan teknologi. Ini juga akan menciptakan pengembangan dan inovasi teknologi. Hal ini yang akan membuat dukungan subtansial dan terus-menerus terhadap basic research (penelitian dasar). Tanpa keterlibatan hal tersebut tidak akan membuat keuntungan sosioekonomik yang akan menjadikan kontrak social bagi sains.
Menurut tantangan ekonomi, kemajuan sains akan membuat keuntungan social, sedangkan menurut tantangan sosiologis, etos sains akan memfasilitasi kemajuan tersebut. Menurut tantangan economic dan sosiologis, jelasnya, tujuan motivasi yang mengadopsi ideal dari sains yang bertanggung jawab secara social akan terpuaskan.
Dari keterangan diatas, penelitian sosiologis dan historis yang dimulai pada tahun 1950-an masih gagal mekonfirmasi eksistensi dari sebuah etos Mertonian (Barnes and Dolby 1970).
Pengalaman 30 tahun atau lebih menunjukan fenomena dari sains dan teknologi berdasarkan pertumbuhan ekonomi terlihat diikuti dengan meningkatnya kualitas distribusi keuntungan ekonomik (Sarewitz, Foladori, Invernizzi, dan garfinkel 2004, 69)
Kemajuan teknologi dan saintifik saat ini diperlakukan untuk membuat ideal dari sain yang bertanggung jawab secara social bahkan dibutuhkan.

Tantangan Politis
Penelitian saintifik harus bebas dari represif laten dan pengaruh birokrasi, politik, agama dan perintah/pengaruh uang (Rabounski 2006, 57). Lebih jelasnya : Sebuah pekerjaan sains untuk institusi, otoritas, atau agency akademik, menjadi kebebasan yang lengkap sebagai sebuah penelitian, yang dibatasi oleh kemampuan intelektual dan dukungan yang ditawarkan melalui institusi, otoritas atau agency pendidikan. Semua ilmuwan memiliki hak untuk mempresentasikan penelitiannya kepada public melalui media yang tersedia, tanpa pengaruh dogma agama, politik, opini orang. Dan dijamin tidak akan diblacklist hanya karena penelitiannya.

Bab limaThe Prospects for Philosophy of Science in the Twenty-First Century, meliputi; A Glance, Again, at the Past, Challenges of the Present, Philosophy of Science: A Subject with a Great Future,Final Thoughts.

Sebuah janji telah dibuat pada permulaan buku ini untuk menyediakan sebuah program penelitian baru dari filsafat ilmu. Apa janji tersebut dipegang? Kita lihat.
Bab 1 dimulai dengan riview beberapa problem yang sangat menekan wanita berada dalam masyarakat hari ini.
Bab 2 eksplore akar dari filsafat ilmu terkini abad 20 dihubungankan dengan sain yang telah eksis dari vakum sosial, politik, ekonomi.
Bab 3 berbicara tentang metodelogi pendekatan feminsme, nilai social, dengan masalah andosentris dan sexism
Bab 4 ideal sain yang bertanggung jawab secara social dengan melawan 5 tantangan penting (epistomologi, historis, sosiologis, ekonomi dan tantangan politik).

Tantangan Hari ini
Hari ini, sains menderita dari masalah imej yang serius, terhadap masyarakat, generasi masa depan dan masalah lingkungan (global warming). Amerika telah menghabiskan 25 milyar dollar pada penelitian sistim iklim-globaldalam menciptakan kebijakan iklim tapi belum menjadi aksi yang berarti di kebijakan tersebut (Sarewitz 2006). Masalahnya, malah, semakin memburuk.

Filsafat Ilmu : Sebuah Subjek dengan Masa Depan yang Benar
Pertama, Penelitian AIDS. Lebih dari 25 juta orang di seluruh dunia meninggal karena AIDS. 33 juta orang terkontraksi AIDS. Tapi 9 dari 10 orang yang terjangkit HIV tidak mengetahui mereka terjangkit penyakit tersebut. (UNAID 2008, 15). Kedua, Penelitian kanker. NCI dan ACS (badan yang menangani kanker) di amerika telah melakukan penelitian dan bertanggung jawab terhadap perang melawan kanker.

Pemikiran Akhir
Akhirnya, terlihat penerimaan yang cepat dari Filsafat Ilmu feminis dan beasiswa kajian sains feminis secara umum, diantara Filsafat ilmu lainnya. (Rouse 1997, 210). Paling tidak ini menjadi harapan dari buku ini. Tentunya, pengejaran kerja tidak akan menjamin fisafat ilmu menjadi intelektual public. Tapi ini dapat dijadikan sebuah awal dari sebuah pandagan tentang gender.

QUANTUM LEARNING SEBAGAI ALTERNATIF SOLUSI


5134654297_cb4487f426_mPENDAHULUAN

Masalah mendasar yang dihadapi oleh dunia pendidikan di Indonesia, saat ini adalah rendahnya mutu outputnya, dan itu terjadi di semua tingkat pendidikan. Sebagai indikatornya adalah rendahnya hasil nilai Ujian Akhir Nasional (UAN) baik tingkat Sekolah Dasar, Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama, Sekolah Lanjutan Tingkat Atas, terutama untuk ilmu-ilmu Dasar.

Jika dibandingkan dengan negara-negara lain, misalnya laporan Bank Dunia berdasarkan studi IAEA (Internasional Association for the Education of Educational Achievement) tahun 1992, bahwa ketrampilan membaca siswa kelas IV SD Indonesia adalah terendah di Asia Timur. Rata-rata skor tes yang diperoleh siswa kelas IV SD Indonesia adalah 51, 7, dibandingkan dengan Filipina 52,6, Thailand 65,1, Singapura 74,0 dan Hongkong 75,5. selain itu, hasi studi The Third International Matematics and Science Study (IAEA 1999) memperlihatkan bahwa dari 38 negara peserta, prestasi siswa kelas 2 SLTP Indonesia berada pada urutan ke 32 untuk IPA dan ke 34 untuk Matematika.

Oleh karena itu pendidikan merupakan sistem terbuka, maka banyak faktor yang dapat dijadikan kambing hitam penyebabnya. Akan tetapi karena sekolah merupakan sentral dan ujung tombak pendidikan maka sekolah layak pula dijadikan sebagai terdakwa sumber penyebab rendahnya mutu pendidikan di Indonesia. Hal ini bisa terjadi kalau sekolah bukanlah tempat yang nyaman untuk belajar, dan bukan lagi tempat yang layak mengembangkan kemampuan serta kreativitas anak, bahkan malah menjadi penghambat bagi anak mencapai kecerdasan serta kebebasan berfikir.
SISTIM PENDIDIKAN KITA

1. Pendidikan = Penjara

Pada usia 0-5 tahun seorang anak mampu mempelajari 90 % semua kata yang selalu digunakan oleh orang dewasa. Namun setelah anak memasuki usia 6-7 tahun dan masuk sekolah, kecerdasan anak-anak ini turun 200 %. Mengapa ?

Pada tahun 1982 Jack Canfield, pakar masalah kepercayaan diri melaporkan hasil penelitiannya dimana seratus anak ditunjuk seorang periset untuk satu hari. Tugas periset adalah mencatat berapa banyak komentar positif dan negatif yang diterima oleh seorang anak dalam sehari. Penemuan Canfield adalah bahwa setiap anak rata-rata menemui 460 komentar negatif atau kritik dan hanya 75 komentar positif atau yang bersifat mendukung. Jadi komentar negatif 6 kali lebih banyak dibandingkan komentar positif.

Umpan balik negatif yang kontinue ini sangat berbahaya setelah beberapa tahun bersekolah, kemandegan belajar yang sesungguhnya terjadi, dan anak-anak menghalangi/menutupi pengalaman belajar mereka secara tidak sadar. Setelah lulus dari Sekolah Dasar kata belajar itu sendiri bisa membuat murid merasa tegang dan terbebani, “learning is not fun”.

Bernard Shaw dalam parents and children mengomentari dampak pendidikan dan kebijakan pendidikan yang menyebabkan para guru secara ekonomis nasibnya terpuruk sebagai berikut :
“Di muka bumi ini tidak satupun yang menimpa orang-orang tak berdosa separah sekolah, sekolah adalah penjara. Tapi dalam beberapa hal sekolah lebih kejam ketimbang penjara. Dipenjara misalnya anak tidak dipaksa membeli dan membaca buku-buku karangan sipir atau kepala penjara”. Selanjutnya Filusuf Bernard Rassell (1872-1970) dalam Sceptical Essays : Kini kita dihadapkan pada sebuah fakta paradoksal bahwa pendidikan menjadi salah satu kendala utama bagi usaha mencapai kecerdasan dan kebebasan berfiki.

Walaupun apa yang dikemukakan oleh ketiga ahli tersebut diatas belum tentu sepenuhnya benar, akan tetapi kondisi seperti itulah yang banyak mendominasi wajah sekolah dan pendidikan kita dewasa ini. Apa yang kita saksikan adalah mulai dari lingkungan sekolah yang gersang, fasilitas yang kurang, guru yang galak, disiplin yang kaku dan sebagainya. Kondisi itu diperparah lagi dengan proses belajar mengajar yang tidak berkualitas, masih kovensional yang hanya mengandalkan metode ceramah. Proses belajar yang demikian ini berjalan satu arah menempatkan siswa sebagai pihak yang pasif hanya sebagai pendengar dan pencatat, sehingga bagi siswa membosankan dan tidak menarik. Apa lagi kalau para guru kondisinya miskin pengetahuan, miskin metode dan miskin inovasi. Adalah sulit untuk dibayangkan upaya peningkatan mutu pendidikan dan outputnya berhasil dengan kondisi sistem pendidikan kita yang seperti ini.

2. Mengapa pendidikan kini lebih sadis dari penjara ?

Sekiranya boleh mengajukan hipotesis mengapa pendidikan lebih sadis dari penjara, hal ini disebabkan :
Sistem pendidikan kita yang lebih berorientasi kepada target-target lingkungan.
Anak-anak tidak pernah diajak apa lagi diserahkan menentukan apa yang mereka ingin sebagai bekal dimasa depan. Padahal kita mengetahui bahawa potensi dan bakat anak tidak sama. Seharusnya pendidikan kita dapat mengembangkan dan memfasilitasi semua tujuh kecerdasan yang dimiliki oleh anak.

Adanya penyeragaman dalam hal belajar mengajar, termasuk dalam hal ini bahan kurikulum.
Hal ini tentu sangat menghambat kreatifitas dan inovasi baik guru maupun siswa. Kerancuan sistem pembelajaran kita, baik di sekolah dan universitas, bahkan sampai ketempat orang bekerja mencari nafkah (perusahaan swasta maupun milik negara) berakar pada penyamaan secara semberono beberapa hal yang secara esensial berbeda.

3. Pengajaran tidak memperhatikan sistem otak manusia bekerja.
Bahwa manusia memiliki dua belah otak, yakni otak kiri dan otak kanan. Otak kiri berperan dalam kaitannya dengan kegiatan motorik (motor scquence), angka-angka, kata-kata, logika, urutan dan rincian, sedangkan otak kanan beperan dalam kaitan dengan sensor-sensor rasa (sensor scquence), gambar, imajimasi, warna dan ruang. Seharus pengajaran dapat mengembangkan otak kiri dan kanan. Akan tetapi dalam kenyataannya, pengajaran hanya mengembangkan otak kiti saja. Indikatornya adalah evaluasi yang digunakan oleh guru, maupun ujian nasional hanya seputar aspek kognitif saja. Akibatnya belajar bagi siswa adalah sesuatu yang memberatkan. Tidak diajarkannya bagaimana cara belajar yang baik kepada siswa, sehingga mereka tidak memiliki keterampilan belajar. Akibat dari hal ini maka siswa selalu tergantung kepada gurunya.

QUANTUM LEARNING SEBAGAI ALTERNATIF SOLUSI

Apa Quantum Learning itu ?

Quantum Learning didefinisikan sebagai “interaksi-interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya” semua kehidupan adalah energi. Tubuh manusia secara fisik adalah materi. Sebagai pelajar, tujuan kita adalah merah sebanyak-banyak mungkin cahaya, interaksi, hubungan, inspirasi agar menghasilkan energi cahaya. Quantum Learning menggabungkan sugestologi, teknik pemercepatan belajar, dan NLP dengan teori, kenyakinan dan metode. Termasuk diantaranya konsep-konsep kunci dari berbagai teori dan strategi yang lain seperti ;

  1. Teori otak kiri/kanan
  2. Teori otak triune (3 in 1)
  3. Pilihan modalitas
  4. Teori kecerdasan ganda
  5. Pendidikan holistik
  6. Belajar berdasarkan pengalaman
  7. Belajar dengan simbol
  8. Simulasi/permainan

 

Bagaiman Quantum Learning itu ?

Misteri otak
Quantum Learning dimulai dari memahami otak manusia susunan syarafnya, fungsi-fungsinya dan jenis perkembangan kecerdasan manusia.

Kekuatan AMBAK (Apa Manfaatnya Bagi Ku) ?
Segala sesuatu yang ingin kita kerjakan harus menjanjikan manfaat bagi kita. Jika bermanfaat kita kan termotivasi untuk mengerjakannya. AMBAK biasanya muncul di benak kita, kadang-kadang kita harus mencarinya atau bahkan menciptakannya.

  1. Menata Lingkungan Belajar Yang Tepat
    • Perabotan jenis dan penataan
    • Pencahayaan
    • Musik
    • Visual poster, gambar, papan pengumuman
    • Penempatan persediaan
    • Temperatur
    • Tanaman
    • Kenyamanan
    • Suasana hati secara umum

2. Memupuk Sikap Juara (Berpikir Positif)
Suatu sikap dimana kita mempunyai harapan yang tinggi, harga diri yang tinggi dan kenyakinan bahwa kita akan berhasil, kita akan memperoleh prestasi yang tinggi.
Berfikir Positif berarti : Kegagalan = Umpan balik dan membawa pada keberhasilan

3. Menemukan gaya belajar
Cara belajar adalah kombinasi dari bagaiman kita menyerap, lalu mengatur, dan mengolah informasi, meliputi modalitas dan dominasi otak.
4. Teknik Mencatat Tingkat Tinggi
Teknik mencatat tingkat tinggi mengajarkan kepada kita bagaimana catatan bisa digunakan untuk :

  • Melihat seluruh gambaran secara sekilas
  • Mengingat detail secara mudah
  • Melihat hubungan antara gagasan dan konsep
  • Bekerja sama dengan otak kita, bukan bertentangan dengannya.
  • Menyingkirkan “format outline” yang membosankan, selamanya.

 

5. Menulis Dengan Penuh Percaya Diri
Menulis dengan penuh percaya diri ini mengajarkan kepada kita :

  • Menemukan teknik-teknik curah gagasan yang cepat dan mudah
  • Menciptakan bahasa yang hidup dengan menggunakan cara dan ungkapan kita sendiri
  • Melakukan proyek penulisan dari awal hingga akhir dengan hanya sedikit stress
  • Selalu berharap untuk menulis

 

6. Keajaiban Memori
Keajaiban memori dapat memberikan kemudahan-kemudahan :

  • Mengembangkan kapasitas kita untuk mengingat fakta-fakta, detail-detail, dan “hal-hal yang harus dilakukan”.
  • Dengan mudah mengingat daftar nama-nama, nomor-nomor dan hal-hal lain.
  • Mengingat nama-nama orang yang kita kenal

 

7. Melaju Dengan Kekuatan Membaca.
Melaju dengan kecepatan membaca mensuport kita dalam :

  • Mengembangkan kecepatan membaca kita secara dramatis
  • Meningkatkan pemahaman dan daya ingat
  • Menambah perbendaharaan kata dan menambah bank data kita
  • Menghabiskan sedikit waktu untuk membaca sehingga kita dapat mengerjakan hal-hal lain

 

8. Berfikir Logis dan Berfikir Kreatif.
Berfikir logis dan kreatif dapat mendorong kita untuk :

  • Memaksimumkan proses-proses pemecahan masalah secara kreatif.
  • Membiarkan otak kanan kita bekerja pada situasi-situasi yang menantang.
  • Memahami peran paradigma pribadi dalam proses-proses kreatif.
  • Mempelajari bagaimana curah gagasan dapat memberikan pemecahan inovatif bagi berbagai masalah
  • Menemukan keberhasilan dalam berfikir tentang hasil

 

Demikianlah gambaran quantum learning yang dapat mengubah “learning is not fun” menjadi “learning is fun”, mengubah pendidikan yang tadinya penjara menjadi taman bunga yang indah.

Quantum learning ini akan lebih efektif apabila disertai political will pemerintah dibidang pendidikan dengan memberikan keluasaan yang sebenar-benarnya kepada sekolah, guru dan murid untuk berkreasi dan berinovasi.

Tanpa ini Quantum Learning tidak akan tumbuh subur seperti yang ingingkan. School base management bisa menjadi salah satu jalan keluar bagi keterpurukan sistem pendidikan nasional.

KEPUSTAKAAN

  • Andrian Harefa. Menjadi Manusia Pembelajar , Kompas, Jakarta, 2000.
  • Taufik Baharudin. Brain Inware Management, Elex Media Komputindo, Jakarta, 2001

 

%d blogger menyukai ini: