Posts from the ‘MANAJEMEN KOMUNIKASI’ Category

Pengantar Psikologi Komunikasi


1.1. PENDAHULUAN.

Para ahli tentang perilaku manusia bukan hal yang baru dan menjadi kajian dalam ilmu psikologi dan komunikasi. Ada beberapa alasan penting, kenapa kita harus memahami perilaku manusia dalam berkomunikasi?

Manusia semass-mediabagai makhluk sosial senang menjalin hubungan dengan orang lain sebagai upaya mencari eksistensi dan pengakuan diri dalam lingkungan sosial sehingga lahirlah komunitas, paguyuban, kelompok sosial dan organisasi masyarakat serta keagamaan yang memperkokoh komunikasi antar anggotanya. Pemahaman perilaku manusia dalam berkomunikasi juga akan  mengetahui hakikat manusia secara utuh dan akan meningkatkan keyakinan kita kalau manusia termasuk makhluk yang unik dalam penciptaannya.

Psikologi komunikasi yang terdiri dari dua kata yang berdiri sendiri sebagai suatu ilmu yaitu dari kata “psikologi” dan kata “komunikasi”. Kata Psikologi biasa di sebut ilmu jiwa itu berasal dari kata Bahasa Inggris “Psychology”. Kata psychology merupakan dua akar kata yang bersumber dari bahasa Greek (Yunani), yaitu: 1) Psyche yang berarti jiwa; 2) Logos yang berarti ilmu. Jadi secara harfiah psikologi adalah ilmu jiwa atau bisa di sebut ilmu yang mempelajari kejiwaan atau ilmu yang mempelajari tentang gejala-gejala jiwa manusia.

Chaplin (1972) dalam Dictionary of psychology Dalam Dictionary of Psychology mendefinisikan psikologi sebagai “ …the science of humen and animal behavior, the study of the organism in all its variety and complexity as it responds to the flux and flow of the physical and social events which make up the environment”. (Psikologi ialah ilmu pengetahuan mengenai prilaku manusia dan hewan, juga penyelidikan terhadap organisme dalam segala ragam kerumitannya ketika bereaksi arus dan perubahan alam sekitar dan peristiwa-peristiwa kemasyarakan yang mengubah lingkungan).

Kenneth Clark dan George Millter (2001) Psikologi biasanya didefinisikan sebagai studi ilmiah mengenai perilaku. Lingkungan psikologi mencakup berbagai proses perilaku yang dapat diamati, seperti gerak tangan; cara berbicara dan perubahan kejiwaan dan proses yang hanya dapat diartikan sebagai pikiran dan mimpi. Begitu juga menurut Norman Munn(2005) Sekarang psikologi secara umum didefinisikan sebagai “ilmu mengenai perilaku”, tetapi hal yang menarik pengertian “perilaku” yang telah mengalami perkembangan sehingga sekarang ikut menangani hal yang pada masa lampau disebut pengalaman. Hal-hal pribadi seperti proses-proses (subjektif) seperti berpikir, sekarang berhubungan dengan “perilaku dalam”.

Lebih mendalam pendapat dari Mussen dan Rosenzwieg (2006) mengartikan psikologi pada masa lampau psikologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang  “mind” (pikiran) atau the study of mind, tapi dalam perkembangannya, kata mind berubah menjadi “behavior” (tingkah laku), sehingga psikologi  didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang tingkah laku manusia.

Begitu juga pendapat Bruno (1987) Pengertian Psikologi dibagi dalam tiga bagian, yaitu: Pertama, psikologi adalah studi (penyelidikan) mengenai “roh”. Kedua, psikologi adalah ilmu pengetahuan mengenai “kehidup mental”. Ketiga, psikologi adalah ilmu pengetahuan mengenai “tingkah laku” organisme.

Para ahli jiwa mempunyai penekanan yang berbeda, maka definisi yang dikemukakan juga berbeda-beda. Beberapa pengertian yang dirumuskan oleh para ahli psikologi dan ensiklopedia antara lain sebagai berikut:

  1. Ensiklopedi Nasional Indonesia (1990) Jilid 13, Psikologi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia dan binatang baik yang dapat dilihat  secara langsung maupun yang tidak dapat dilihat secara langsung.
  2. Plato dan Aritoteles Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang hakikat jiwa serta prosesnya sampai akhir.
  3. Jhon Broadus Watson, Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku lahiriah dengan menggunakan metode observasi yang objektif terhadap rangsangan.
  4. Wilhem Wundt, Psikologi adalah ilmu yang mempelajari pengalaman-pengalaman yang timbul pada diri manusia, seperti perasaan panca indra, pikiran, feeling, dan kehendak.
  5. Knight and Knight mengartikan Psychology may be defined as the systematic study of ekperience and behavior human and animal, normal and abnormal, individual and social.(Psikologi adalah ilmu yang  mempelajari secara sistematis tentang pengalaman dan tingkah laku manusia dan hewan, normal dan abnormal, individu atau social).
  6. Munn dan Fernald Psychology is defined  as the science of human behavior, itsinvestigations are not limited to human beings and they sometimes extend beyond observable behavior.
  7. Moskowitz dan Orgel Psychology is  an empirical science based on objective observation and experimental investigation, its focus is on behavior, its purpose is to provide on understanding  of the mechanisms of human activity and adaptation so that man might improve himself. Artinya,  psikologi adalah suatu ilmu pengetahuan empirik yang berdasarkan atas observasi dan penelitian eksperimental, pokok persoalannya adalah tentang tingkah laku manusia.

Psikologi menurut para pakar diatas dapat disimpulkan bahwa Psikologi adalah ilmu yang mempelajari kondisi kejiwaan (kesadaran) manusia dalam melakukan aktifitas-aktifitasnya, baik aktivitas motorik, kognitif maupun emosionalnya. Seperti yang dikemukakan di atas mengenai pengertian psikologi merupakan ilmu yang membicarakan tentang jiwa itu sendiri tidak nampak, maka yang dapat dilihat atau diobsevasi ialah perilaku atau aktivitas-aktivitas yang merupakan manifestasi atau penjelmaan kehidupan jiwa. Psikologi merupakan suatu ilmu yang meneliti dan mempelajari perilaku,  aktivitas-aktivitas dan perilaku sebagai manifestasi hidup kejiwaan. Perilaku dalam hal ini yaitu meliputi perilaku yang nampak (overt behavior) dan perilaku yang tidak menampak (innert behavior).

Kata yang kedua adalah ’komunikasi’ yaitu sebuah seni dan keterampilan dalam hal pengembangan dan pencapaian suatu pengertian. Komunikasi sangat berguna bagi seorang pemimpin ketika ingin menyampaikan sebuah visi dan misi organisasi, penyelesaian konflik dan proses pengambilan keputusan. Bagi individu bermanfaat untuk meningkatkan pemahaman proses sosial antara dirinya dengan orang lain. Sedangkan  bagi organisasi untuk meningkatkan pola hubungan yang kokoh antar dan inter anggota organisasi, pimpinan dan dunia luar sehingga akan melahirkan ethos dan budaya organisasi yang secara positif bisa meningkatkan peran sosial dan kinerja organisasi.

Ada beberapa definisi lain tentang komunikasi antara lain :

  • Komunikasi adalah suatu upaya yang disengaja serta mempunyai tujuan. Komunikasi adalah suatu kegiatan yang dilakukan secara sadar, disengaja, serta sesuai dengan tujuan atau keinginan dari pelakunya.
  • Komunikasi adalah suatu proses Komunikasi sebagai suatu proses artinya bahwa komunikasi merupakan serangkaian tindakan atau peristiwa yang terjadi secara berurutan (ada tahapan atau sekuensi) serta berkaitan satu sama lainnya dalam kurun waktu tertentu.
  • Komunikasi menuntut adanya partisipasi dan kerja sama dari para pelaku yang terlibat kegiatan komunikasi akan berlangsung baik apabila pihak-pihak yang berkomunikasi (dua orang atau lebih) sama-sama ikut terlibat dan sama-sama mempunyai perhatian yang samaterhadap topik pesan yang disampaikan.
  • Komunikasi bersifat simbolis Komunikasi pada dasarnya merupakan tindakan yang dilakukan dengan menggunakan lambang-lambang. Lambang yang paling umum digunakan dalam komunikasi antar manusia adalah bahasaverbal dalam bentuk kata-kata, kalimat, angka-angka atau tanda-tanda lainnya.
  • Komunikasi bersifat transaksional Komunikasi pada dasarnya menuntut dua tindakan, yaitu memberi dan menerima. Dua tindakan tersebut tentunya perlu dilakukan secara seimbang atau porsional.
  • Komunikasi menembus faktor ruang dan waktu Maksudnya adalah bahwa para peserta atau pelaku yang terlibat dalam komunikasi tidak harus hadir pada waktu serta tempat yang sama.
  • Dengan adanya berbagai produk teknologi komunikasi seperti telepon, internet, faximili, dan lain-lain, faktor ruang dan waktu tidak lagi menjadi masalah dalam berkomukasi.

Bagaimana hubungan antara komunikasi dan psikologi dari pengertian diatas dapat dilihat dua aspek yaitu Secara Historis, Sesungguhnya psikologi adalah  akar dari ilmu komunikasi, selain sosiologi, antropologi, dan filsafat dan founding fathers ilmu komunikasi juga terdiri dari  sarjana psikologi  seperti  Wilbur Schraam, Kurt Lewin, Paul Lazarfeld dan Carl I Hovland. Sedangkan Secara Taxonomi  Keilmuan bisa dikatakan Komunikasi merupakan instrumen atau bagian dari psikologi sosial sebagai sarana  memenuhi kebutuhan dorongan untuk berhubungan dengan orang lain. Walaupun begitu,  komunikasi bukan sub disiplin dari psikologi, apa yang menjadi bahan kajian dalam komunikasi juga dipelajari dalam psikologi. George A. Miller (2006) mengartikan psikologi komunikasi sebagai “ilmu yang berusaha menguraikan, meramalkan, dan mengendalikan peristiwa mental dan behavioral (perilaku) dalam komunikasi  atau bisa diartiak Psikologi komunikasi diartikan sebagai ilmu perilaku yang berhubungan dengan cara dan etika dalam berkomunikasi antara personal, interpersonal, antara pimpinan dan bawahan, antara institusi dan struktur kepemimpinan sehingga tercapai keharmonisan maksimal, dll.

1.2. FUNGSI KOMUNIKASI

Dalam pembahasan fungsi komunikasi terlihat ada tiga tolak ukur untuk menyatakan bahwa komunikasi itu efektif atau tidaknya, yaitu : a) Pemahaman diri sendiri dan orang lain. b) Mapannya hubungan sosial yang bermakna. c) Perubahan sikap dan perilaku. Sedangkan menurut Tubbs dan Moss dalam Jalaluddin Rakhmat (1994) menyebutkan lima tolok ukur efektivitas komunikasi

  1. Pengertian, artinya peneriman yang cermat dari isi stimuli seperti yang dimaksudkan komunikator.
  2. Kesenangan.Tidak semua komunikasi ditujukan untuk menyampaikan informasi dan membentuk pengertian.
  3. Pengaruh pada sikap. Inilah komunikasi yang paling sering kita lakukan, yakni untuk mempengaruhi orang lain. Dalam hal ini dikenal apa yang disebut persuasi.
  4. Hubungan yang makin baik. Komunikasi juga bertujuan untukmenumbuhkan hubungan sosial yang baik.
  5. Tindakan. Terkait dengan persuasi maka komunikasi dimaksudkan untuk melahirkan tindakan yang dikehendaki.

1.3. RUANG LINGKUP KOMUNIKASI

Komunikasi bisa ditinjau dari berbagai sudut ilmu yang masing-masing-masing berdiri sendiri sebagai suatu ilmu. Sehingga melahirkan kajian komunikasi seperti komunikasi bisnis, komunikasi organisasi, komunikasi manajemen, komunikasi psikologi, komunikasi sosial, dll.

Psikologi komunikasi pada Intinya sama tapi berbeda dalam persepsi dan tinjauannya, dimana psikologi komunikasi dapat dilihat  dari sudut komunikasi sebagai suatu perilaku. Perilaku manusia dalam berkomunikasi dapat dilihat dari  pola perilaku dan keunikannya, pola hubungan, tingkatan hubungan, metode hubungan dan konteks dalam berkomunikasi. Konteks komunikasi terbagi menjadi enam bagian yang memiliki ciri khas, namun memiliki kesamaan yaitu menciptakan makna diantara dua orang atau lebih yang melibatkan komunikasi antar budaya.

Keenam konteks komunikasi tersebut antara lain adalah

a). Komunikasi dua orang (Dyadic communication)

Komunikasi dyadic sebagai satuan dasar komunikasi yang hanya dilakukan oleh dua orang yang saling bergantian menjadi komunikator maupun komunikan. Dengan alasan inilah maka kita memilih melukiskan konteks ini dalam model komunikasi Tubbs. Komunikasi diadik juga merupakan komuniksi yang mencangkup hubungan antar manusia yang paling erat.

b). Wawancara.

Jika dua orang berbicara dengan maksud tertentu, maka dapat disebut sebagai wawancara. Dapat juga dipandang sebagai bentuk komunikasi dyadic khusus.Wawancara dimaksudkan untuk mendapatkan sesuatu yang spesifik dengan lebih jauh dibandingkan dengan kebanyakan komunikasi dua orang lainnya.Biasanya digunakan dalam kegiatan penelitian dan observasi dilapangan.

c). Komunikasi dalam kelompok kecil.

Dapat diartikan sebagai “ proses pertukaran verbal dan nonverbal, antara tiga orang atau lebih anggota kelompok yang bertujuan untuk saling mempengaruhi ”. Komunikasi kelompok kecil ini dapat terjadi dimana saja ruang kelas, ruang dosen, ataupun ruang rapat, karena konteks komunikasi ini melibatkan tiga orang atau lebih, maka tingkat kearaban, partisipasi, dan kepuasannya cenderung lebih kecil dibanding dengan komunikasi diadik.

d). Komunikasi Publik Biasa (public speaking.)

Public speaking memiliki beberapa ciri dari konteks ini pertama, komunikasi publik lebih sering muncul di tempat umum daripada tempat pribadi dan juga memiliki peserta yang lebih banyak misanya saja ruang kelas, ruang pertemuan, auditorium dan lain – lain. Kedua, komunikasi publik cenderung lebih normal dibandingkan dengan komunikasi yang informal serta tidak terstruktur. Ketiga, ada sejumlah norma yang cukup jelas, yang harus dipatuhi. Misalnya saja pertanyaan hanya boleh diajukan bila si pembicara telah menyelesaikan pembicaraannya, terkadang kita harus mengangkat tangan untuk mengajukan pertanyaan dan beberapa norma yang lain.Biasanya pembicara dalam komunikasi publik melakukan persiapan yang matang, dan harus menghadapi keadaan yang lebih formal daripada dalam komunikasi dua orang atau komunikasi kelompok kecil.

e) Komunikasi Organisasi

Didefinisikan sebagai arus pesan dalam suatu jaringan hubungan yang saling bergantung. Definisi ini sesuai untuk komunikasi dalam perusahaan, rumah sakit, dan lain–lain. Yang diperhatikan dalam komunikasi ini bukan hanya efektifitas komunikasi perseorangan saja namun juga peranan komunikasi dalam meningkatkan atau menurunkan kinerja secara keseluruhan.

f) Komunikasi yang menggunakan media.

Secara sederhana diistilahkan komunikasi massa yang diartikan Bittner dalam Jalaludin Rakhmat (2007:188) adalah, “mass communication is meddages communicated through a mass medium to large number of people ” (komunikasi massa adalah pesan yang dikomunikasikan melalui media massa pada sejumlah besar orang).

Akhirnya ruang lingkup psikologi komunikasi secara khusus akan dibahas dalam beberapa bab selanjutnya yaitu:

a) Komunikasi Intrapersonal

Komunikasi intrapribadi atau Komunikasi intrapersonal adalah penggunaan bahasa atau pikiran yang terjadi di dalam diri komunikator sendiri antara dirinya (Self) dengan Alloh SWT. Komunikasi intrapersonal merupakan keterlibatan internal secara aktif dari individu dalam pemrosesan simbolik dari pesan-pesan yang diterimanya. Seorang individu menjadi pengirim sekaligus penerima pesan, memberikan umpan balik bagi dirinya sendiri dalam proses internal yang berkelanjutan.

Komunikasi intrapersonal dapat menjadi pemicu bentuk komunikasi yang lainnya. Pemahaman individu terhadap komunikasi  mengenai diri pribadi melalui proses-proses psikologis seperti persepsi (perception), kesadaran (awareness), berfikir (thinks) terjadi saat berlangsungnya komunikasi intrapribadi oleh komunikator. Untuk memahami apa yang terjadi ketika orang saling berkomunikasi, maka seseorang perlu untuk mengenal diri mereka sendiri dan orang lain. Karena pemahaman ini diperoleh melalui proses persepsi. Maka pada dasarnya letak persepsi adalah pada orang yang mempersepsikan, bukan pada suatu ungkapan ataupun obyek.

b)  Komunikasi Interpersonal

Kita dapat memahami makna komunikasi interpersonal dengan mudah,  jika sebelumnya sudah memahami makna atau pengertian dari komunikasi intrapersonal. Seperti menganonimkan saja, komunikasi intrapersonal dapat diartikan sebagai penggunaan bahasa atau pikiran yang terjadi di dalam diri komunikator sendiri.

Jadi dapat diartikan bahwa komunikasi interpersonal adalah komunikasi yang membutuhkan pelaku atau personal lebih dari satu orang. R. Wayne Pace (1998) mengatakan bahwa komunikasi interpersonal adalah Proses komunikasi yang berlangsung antara dua orang atau lebih secara tatap muka. Komunikasi Interpersonal menuntut berkomunikasi dengan orang lain dan berlaku secara kontekstual bergantung kepada keadaan, budaya, dan juga konteks psikologikal. Komunikasi jenis ini dibagi lagi menjadi komunikasi diadik (Dyadic Communication), komunikasi publik (Public Communication), dan komunikasi kelompok kecil.

c) Komunikasi Kelompok

Komunikasi kelompok adalah komunikasi yang berlangsung antara beberapa orang dalam suatu kelompok “kecil” seperti dalam rapat, pertemuan, konferensi, seminar dan sebagainya (Anwar Arifin, 1984).

Michael Burgoon & Michael Ruffner (2005) dalam bukunya
Human Communiation, A Revisian of Approaching Speech Comumunication mendefinisikan komunikasi kelompok sebagai interaksi secara tatap muka antara tiga orang atau lebih, dengan tujuan yang telah diketahui, seperti berbagi informasi, menjaga diri, pemecahan masalah, yang mana anggota-anggotanya dapat mengingat karakteristik pribadi anggota-anggota yang lain secara tepat. Kedua definisi komunikasi kelompok di atas mempunyai kesamaan, yakni adanya komunikasi tatap muka, peserta komunikasi lebih dari dua orang, dan memiliki susunan rencana kerja tertentu untuk mencapai tujuan kelompok.

d)  Komunikasi Massa

Bittner (1980:10) mendefinisikan komunikasi massa adalah “pesan yang dikomunikasikan melalui media massa pada sejumlah besar orang.” Sedangkan Garbner(1967) mengartikan komunikasi massa adalah “produksi dan distribusi yang berlandaskan teknologi dan lembaga dari arus pesan yang kontinyu serta paling luas dimiliki orang dalam masyarakat industry.” Begitu juga Ruben (1992)  “Komunikasi massa adalah proses di mana informasi diciptakan dan disebarkan oleh organisasi untuk dikonsumsi oleh khalayak.”

Dari definisi-definisi diatas dapat diambil suatu rangkuman definisi bahwa komunikasi massa diartikan sebagai jenis komunikasi yang ditujukan kepada sejumlah khalayak yang tersebar, heterogen, dan anonim melalui media cetak atau media elektronik sehingga pesan yang sama dapat disampaikan secara serempak dan sesaat. Atau dengan kata lain, komunikasi massa adalah proses penyampaian pesan yang berlangsung dimana pesannya dikirim dari sumber yang melembaga kepada klayak yang sifatnya missal melalui alat-alat yang bersifat mekanis.

Ada tiga bagian fungsi utama ruang lingkup komunikasi, yaitu :

  1. Memahami diri sendiri dan orang lain.

Salah satu yang harus kita perhatikan dari komunikasi adalah memahami diri sendiri dan orang lain. Dengan kata lain, kita bergantung pada komunikasi untuk membangun kesadaran diri kita. Pakar komunikasi Thomas Hora menyatakan, “ untuk memahami dirinya sendiri orang lain ia butuh untuk memahami orang lain “. Melalui proses komunikasi, kita sampaikan dengan jelas, pada kondisi apa sajakah kita memiliki kekuatan untuk mempengaruhi orang lain, serta apakah kita mampu secara efektif membuat keputusan atau menyelesaikan konflik dan masalah.

2. Memapankan Hubungan yang Bermakna.

Komunikasi menawarkan kita kesempatan untuk memuaskan apa yang disebut oleh psikologi William Schutz sebagai “ kebutuhan kita untuk inkluisi, control, dan efeksi”. Inkluisi adalah kebutuhan kita untuk bersama dengan orang lain, untuk mengadakan kontak sosial. Kebutuhan untuk control adalah kebutuhan kita untuk merasa bahwa kita itu mampu bertanggung jawab bahwa kita mampu untuk bekerja sama dan mengelola lingkungan kita. Kebutuhan efeksi adalah kebutuhan kita untuk menyatakan dan menerima cinta atau kasih sayang.

3. Mengubah Sikap dan Perilaku.

Kita menghabiskan banyak waktu untuk mencoba mempengaruhi orang lain agar berpikir, seperti apa yang kita pikir, bertindak sebagaimana kita lakukan, dan menyukai apa yang kita suka. Kadangkala upaya kita berhasil dan kadangkala kita gagal.

Baca lebih lanjut…

Iklan

MANAJEMEN EVEN


Manajemen even adalah bagian dari ilmu Manajemen yang menciptakan dan mengembangkan sebuah kegiatan dengan tujuan untuk mengumpulkan orang-orang di satu tempat, melakukan serangkaian aktivitas yang teratur untuk memperoleh suatu informasi atau menyaksikan suatu kejadian.

hospitalityEven dalam arti sempit dapat didefinisikan sebagai pameran, pertunjukan atau festival, dengan syarat ada penyelenggara, peserta dan pengunjung. Namun dalam arti luas even diartikan sebagai suatu kurun waktu kegiatan yang dilakukan oleh sebuah organsasi dengan mendatangkan orang-orang ke suatu tempat agar mereka memperoleh informasi atau pengalaman penting serta tujuan lain yang diharapkan oleh penyelenggara. Even termasuk kegiatan pemasaran dan komunikasi. Komunikasi pemasran adalah aplikasi komunikasiyang bertujuan untuk membantu kegiatan pemasaran dari sebuah perusahaan.
Keberhasilan dalam menyelenggarakan even ditentukan oleh kualitas manajemen, yaitu dalam pengambilan keputusan. Menurut Darmawan (2004),”Model keputusan, baik rasional maupun rasionalitas, yang dibatasi menunjukkan sejumlah langkah dalam penyelesaian masalah dan pengambilan keputusan. Seluruh aktivitas itu dibantu oleh adanya informasi yang berkualitas.”

“Eksekutif yang efektif tidak banyak mengambil keputusan luar biasa. Mereka berkonsentrasi pada hal-hal penting. Mereka mencoba membuat keputusan penting berdasarkan tingkat pemahaman konseptual tertinggi.mereka mencoba menemukan hal-hal yang konstan dalam suatu yang sifatnya strategis dan generik, alih alih “memecahkan masalah”. Oleh karenanya mereka tidak terlalu tertarik pada kecepatan pengambilan keputusan.”Justru mereka menganggap bahwa keterampilan dalam memanipulasi banyak variabel adalah gejala berfikir yang ceroboh. Mereka ingin tahu segala sesuatu di balik sebuah keputusan dan alasan keputusan itu dibuat. Mereka lebih menhendaki dampak ketimbang teknik. Mereka ingin terdengar alih-alih terlihat pintar.” (Drucker, 2007: 53)

Sebaiknya keputusan yang diambil oleh eksekutif puncak, komitmen, koordinasi, rekrutmen, perencanaan dan eksekusi sangat mempengaruhi apakah sebuah even berjalan sesuai harapan.
Manajemen Even

Saat ini telah banyak jasa pendidikan yang menawarkan pengajaran mengenai manajemen even. Karena semakin meningkat  peluang karir yang dibutuhkan di industri, contohnya sebagai:

  1. Manajemen even perusahaan
  2. Konsultasi manajemen even
  3. Industri hotel, travel dan hospitalitas
  4. Perusahaan periklanan
  5. Perusahaan konsultan PR
  6. Pemerintah
  7. Media Pemberitaan (media massa dan nirmassa)
  8. Ornop atau LSM
  9. Perusahaan konsultan yang bergerak di bidang komunikasi pemasaran atau IMC

Manajer even dalam stuktur perusahaan biasanya berada dalam dua departemen, yaitu pemasaran dan PR.Tugas menejer even adalah mengelola pameran, melakukan koordinasi dengan pihak-pihak pendukung, dan melakukan negosiasi dengan peserta. Pada saat pelaksanaan, manajer even mengelola operasional pameran, mengawasi pekerjaan tiap-tiap departemen, berkoordinasi dengan kontraktor, berkomunikasi dengan peserta dan pengunjung.
Berikut beberapa kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang menejer even:

  1.  Menguasai langkah-langkah menyelenggarakan pameran
  2.  Memiliki pengalaman pameran
  3.  Memiliki wawasan yang luas tentang berbagai hal
  4. Memiliki kemampuan dalam berkomunikasi
  5.  Memiliki kemampuan dalam menganalisis hasil kegiatan
  6. Memiliki kreativitas yang tinggi dalam pengembangan gagasan kegiatan
  7. Memiliki kemampuan dalam mengendalikan tim kerja
  8. Memiliki daya tahan fisik yang baik
  9. Memiliki konsistensi dalam pemikiran, ucapan, dan tindakan
  • Manajemen Even Dalam Promosi Penjualan

Perusahaan menujukan promosi penjualan pada dua sasaran, yaitu: Pertama adalah konsumen sebagai pengguna akhir (end user); kedua adalah pedagang grosir dan paritel yang akan mendistribusikan produk mereka kepada konsumen untuk merangsang permintaan.
“We have two promotional strategies from wich choose, push and pull. We push our promotion onto retailers who in turn push the brand to consumers, and we pull consumers to our brand by offering price promotions directly to them.”(Harvest Private Publishing, 2006: 27)
Belch (2004) disebutkan ada delapan bentuk kegiatan promosi penjualan yang ditujukan kepada konsumen, yaitu sampel, kupon, hadiah, kontes dan undian, rabat, bonus kemasan, dan even pemasaran. Kegiatan-kegiatan itu ditujukan untuk meraih tujuan dasar, yaitu:

  • Memperkenalkan produk baru atau termasuk dalam tahapan awareness konsumen kepada produk.
  • Memosisikan kekuatan produk (product equity)di benak konsumen.
  • Merangsang pembelian sebagai akibat turunnya penjualan.
  • Mempertahankan posisi produk karena gerakan pesaing atau masuknya pesaing baru.
  • Menciptakan atau mendorong terjadinya perubahan perilaku konsumen.

Program promosi bagi non-user ditujukan untuk uji coba dan daya tarik:

  •  Kupon
  • Sampel
  • Undian
  • Bonus kemasan
  •  Rabat

Program promosi bagi user ditujukan untuk meningkatkan loyalitas:

  • Kupon
  • Kontes
  • Rabat
  • Program frequency
  • Premium
  • Event Marketing atau Event Sponsorship
  • Bonus kemasan

Promosi penjualan berorientasi-middleman

  •  Point-of-Purchase Display dilakukan perusahaan untuk mempromosikan produk. Contohnya rak, poster atau flier.
  • Coorperative Advertising Progam dengan cara memberikan pembayaran sejumlah biaya yang dikeluarkan distributor/peritel dalam promosi atau iklan.
  • Specialty Advertising adalah daya tarik lain yang diberikan pada para middleman dan konsumen puncak, diberikan dalam bentuk barang atau aksesoris yang dapat mengingatkan konsumen, distributor, dan paritel akan kebearadaan produk perusahaan.
  •  Push Money adalah komisi penjualan
  • Trade show atau pameran dagang

Kegiatan yang dilaksanakan oleh bagian promosi selalu bersinergi dengan bagian penjualan dan bagian periklanan. Koordinasi ini diperlukan sebagai dukungan terhadap kegiatan promosi.

Beberapa perusahaan biasanya lebih banyak mengeluarkan biaya untuk program promosi penjualan ketimbang untuk program periklanan. Alokasi ini didasarkan pada pertimbangan atas beberapa faltor, temasuk pencapaian tujuan promosidari sebuah kampanye penjualan, situasi persaingan, upaya penguatan pasar, dan upaya mempertahankan bran di benak konsumen.
Dalam promosi penjualan ini dibutuhkan pula dukungan media dan perencanaan waktu, perencanaan media promosi, serta pameran keliling. Bagian terpenting dalam menjalankan program, menejer even perlu merumuskan rencana secara mendetail dan berkoordinasi dengan bagian promosi penjualan, bagian penjualan, dan bagian kreatif perusahaan tentang apa saja yang dilakukan, alat ukur keberhasilan, dan strategi promosi yang sinergi.
 Strategi Dalam Kegiatan Pameran

Pameran adalah alat bantu pemasaran yang merupakan bagian dari aktivitas promosi penjualan.

Menurut Munshi (1995) ada enam bentuk pameran yang merupakan peluang perusahaan dalam melaksanakan kegiatan pemasaran, yaitu:

  1. Trade exhibition merupakan pameran dagang yang bercirikan pengunjung dan dibatasi hanya para pihak yang memiiki tiket atau undangan serta para pebisnis yang berkaitan dengan pameran yang diselenggarakan.
  2. Public Exhibition merupakan pameran yang terbuka untuk umum sehingga para pengunjung tidak dibatasi atau tidak ada aturan ketat.
  3. Overseas Trade Exhibition memiliki ciri yaitu pengunjung berasal dari kalangan profesional, spesialis, dan pengusaha yang berhubungan dengan tema pameran.
  4. Outdoor Exhibition adalah pameran yang dilaksanakan di luar ruang.
  5. Portable Exhibition biasa disebut dengan Mobile Exhibition ataupun pameran keliling, pameran yang dilakukan secara berpindah tempat dari satu kota ke kota lain.
  6. Small Exhibition merupakan pameran terkecil bila dilihat dari luas ruang dan jumlah peserta.

Dalam pengambilan keputusan untuk mengikuti sebuah pameran diperlukan beberapa pertimbangan yang harus diperhatikan, yaitu:

  1.  Pertimbangan positioning perusahaan di pasar
  2. Pertimbangan kapabilitas penyelenggara pameran
  3. Pertimbangan sumberdaya manusia
  4. Pertimbangan keuangan
  5. Pertimbangan periode atau jangka waktu pameran

Perencanaan Kegiatan

Sebelum menyusun rencana untuk menjadi peserta pameran, pertama-tama yang harus dilakukan adalah menentukan tujuan yang ingin dicapai. Untuk itu perlunya dibuat sebuah analisis kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman (SWOT).
Ada dua ha yang harus dianalisissecara mendalam sebelum mengikuti pameran, yaitu

  1. Analisis kekuatan perusahaan meliputi analisis situasi internal perusahaan dan analisis produk atau brand
  2. Analisis pameran, yaitu menganalisis perkiraan jumlah pengunjung yang akan hadir, membuat daftar pesaing langsung dan tidak langsung, mempelajari secara fisik layout pameran, melihat laporan hasil pameran tahun terdahulu yang diberikan penyelenggara untuk mempelajari siapa saja pesaing yang muncul dalam presentasi teknis (technical seminar), serta tanggapan pengunjung terhadap informasi-informasi yang disampaikan.

Untuk memperoleh keberhasilan dalam pameran diperlukan sebuah analisis terutama analisis keluaran sehingga dari analisis itu dapat ditentukan strategi komunikasi yang akan digunakan.

Perencanaan Waktu

  1. Sebelum pameran

Biasanya, waktu persiapan minimal bagi perusahaan untuk mengikuti pameran adalah dua bulan. Waktu ini digunakan untuk mengatur persiapan dan melakukan kordinasi dengan para mitra kerja serta departemen-departemen lain. Selain itu juga digunakan untuk mendisain stan serta kebutuhan-kebutuhan yang digunakan saat pameran, dan juga mempersiapkan hal-hal yang di berikan oleh penyalenggara even.

Sebelum melakukan pameran hendaknya dilakukan beberapa langkah guna melancarkan jalannya pameran, yaitu:

    • Membuat bagan perencanaan waktu
    • Seleksi tim
    • Kerjasama dengan kontrakto
    • Presentasi teknis
    • Perencanaan strategi promosi
    • Perencanaan distribusi barang
    • Perencanaan biaya kegiatan meliputi: biaya dasar pameran; biaya stuktur, grafis, dan display produk; biaya promosi dan presentasi; biaya hospitalitas pelanggan; biaya transportasi; biaya servis di lokasi; biaya personel; biaya riset.
  1. Pelaksanaan Pameran

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam kelangsungan pameran, yaitu:

  • Perjanjian sewa stan haruslah di mengerti sebelum disetujui dan di tandatangani
  • Menjelang pameran hal-hal yang harus diperhatikan adalah pertama pameran dagang dikunjungi oleh orang-orang yang penting bagi perusahaan, kedua untuk menarik perhatian orang lain haruslah bersaing dengan peserta lain.
  • Bagian terakhir yang harus diingat pada saat pameran adalah melakukan pemesanan untuk mengikuti pameran berikutnya.
    Manajemen Seminar, Konferensi, Lokakarya, Dan Dengar Pendapat

Seminar adalah suatu bentuk kegiatan pertemuan yang membahas masalah terkini di berbagai bidang.

Konferensi merupakan bentuk yang hampir sama dengan seminar, tetepi lebih luas dan menyangkut masalah internasional atau nasional.
Lokakarya adalah kegiatan yang bersifat peningkatan keahlian dari suatu profesi, seperti lokakarya pengolahan limbah, kontruksi, pemberdayaan manusia dan lain-lain.
Dengar pendapat biasa dilakukan oleh organisasi internasional atau pemerintah yang berfungsi melakukan diskusi publik tentang berbagai hal menyangkut hajat hidup orang banyak yang selanjutnya akan menjadi bahan masukan dalam pemuatan kebijakan.

Merencanakan dan Melaksanakan Seminar

Pertama adalah menentukan tema seminar, hendaklah memilih tema yang segar dan menarik. Kemudian menyusun tujuan dan sasaran. Berikut tahap-tahap kegiatan yang harus dilaksanakan yang biasa disingkat dengan 5P:

  1. Perencanaan: hendaknya membuat kerangka kegiataan yang tersusun mulai dari minggu ke-24 sebelum seminar dilaksanakan, sehingga proses pengumpulan dana yang dibutuhkan mendapatkan hasil yang diharapkan.
  2. Pengorganisasian: membentuk tim inti untuk membantu melaksanakan berbagai kegiatan tahap awal atau persiapan. Seperti menyusun rencana detail, menghubungi pembicara, menyusun proposal sponsorship, menyusun daftar perlengkapan, dan menentukan jadwal promosi serta periklanan.
  3. Promosi: keberhasilan promosi tergantung pada strategi dan media yang digunakan, pesan dan visual, berapa banyak undangan yang disebar, dan sebagainya. Banyak yang menganggap promosi ini tidak penting, padahal sponsor hanya tertarik pada bentuk promosi dan media promosi yang digunakan.
  4. Pelaksanaan: pada H-14 harus dilakukan berbagai kegiatan persiapan sepert konfirmasi pembicara dan peserta, mengumpulkan materi dari pembicara, memesan catering, membayar sewa ruang, mengecek kesiapan perlengkapan seminar, serta mengurus perizinan ke kepolisian dan pemerintah setempat.
  5. Pelaporan: menyusun laporan bagi sponsor dan donatur yang berisikan jumlah peserta, laporan promosi dan bukti-buktinya.

Persiapan:

  1. Minggu 24: perekrutan staf inti; penyusunan detail kegiatan atau modul kegiatan; pembuatan proposal kegiatan dan sponsorship; menghubungi pembicara untuk menanyakan kesediaannya; menyusun daftar perlengkapan dan perlengkapan yang dibutuhkan; membuat perencanaan promosi kegiatan dan mailing.
  2. Minggu 20: menghubungi calon sponsor; mengontak kembali pembicara untuk memperoleh informasi judul materi yang akan dipaparkan kepada peserta seminar; memesan tempat dan membayar deposit ( booking fee); menghubungi pembicara untuk menanyakan kesediaannya; menyusun daftar perlengkapan dan peralatan yang dibutuhkan; mengecek material promosi dan menyusun dftar tujuan mailing.
  3. Minggu 16: negosiasi dan kontrak kerja dengan sponsor; membayar sewa tempat tahap pertama; mencetak material promosi dan pemesanan tempat untuk iklan di majalah, surat kabar, televisi dan radio; promosi dan mailing dapat dilakukan pada minggu ke-13.
  4. Minggu 12: konfirmasi peserta dan pendaftaran peserta; pembelian matrial dan perlengkapan seminar yang dibutuhkan; pembayaran sewa tempat tahap kedua; konfirmasi pembicara dan pengumpulan materi.
  5. Minggu 8: konfirmasi peserta dan pendaftaran peserta; pemesanan sewa perlengkapan seperti infokus, sound system, dan lain-lain; iklan di surat kabar, radio dan televisi; konfirmasi pembicara dan pengumpulan materi.
  6. Minggu 4: konfirmasi peserta dan pendaftaran peserta; rekrutmen staf operasional; iklan di surat kabar, radio dan televisi; rechek kesiapan perlengkapan; konfirmasi pembicara dan pengumpulan materi.
  7. H-3 sampai H-1: konfirmasi peserta dan pendaftaran peserta; distribusi perlengkapan ke lokasi seminar; tes perlengkapan dan peralatan; menjemput pembicara dan mengantarkan ke hotel/penginapan; iklan di surat kabar, radio, dan televisi; cetak materi pembicara dan menggandakan sejumlah peserta seminar; mendekorasi ruangan dan menyusun tempat duduk serta penempatan peralatan seminar.
  8. H-0: regristrasi ulang peserta; penjemputan pembicara; menyiapkan coffee break dan lunch; meyiapkan sertifikat untuk peserta; menyiapkan pembayaran untuk pembicara; membereskan perlengkapan dan peralatan setelah seminar selesai.
  9. H+1 sampai H+12: membawa kembali perlengkapan yang masih bisa digunakan; mengamankan dokumen dan catatan kegiatan serta bukti-bukti pembayaran; menyusun laporan keuangan dan laporan kegiatan; menyampaikan laporan kegiatan kepada sponsor atau penyandang dana kegiatan.

PENYELENGGARAAN PERTEMUAN BISNIS
Hal-hal yang perlu dipersiapkan:

  1. TO Whom: siapa saja sasaran pertemuan yang menjadi kunci dari keberhasilan pertemuan ini? Memikirkan cara untuk mendatangkan mereka.
  2. Who: ada tiga macam perencana pertemua bisnis yaitu staf perusahaan, anggota asosiasi atau organisasi, dan perencanaan independen. Yang harus dilakukan adalah mendefinsikan pencapaian dari pertemuan secara rinci, pencapaian harus dapat diukur, tujuan harus mudah dicapai, acara sesuai dengan tema, kedisiplinan terhadap waktu. Serta menyusun prosedur pendaftaran mengumpulkan informasi secara cermat “sebelum, selama, dan setelah pertemuan”.
  3. When: kapan waktu yang tepat bai penyelenggaraan kegiatan?
  4. Why
  5. Where: Hal-hal yang tidak boleh dilupakan oleh perencana lokasi adalah kelengkapan fasilitas, kenyamanan, daya tampung, akses menuju lokasi.

Tahap-tahap perencanaan pertemuan:

  1. Premeeting: menentukan tema pertemuan, menentukan pilihan tempat pertemuan, merancang pos-pos pembiayaan, mengatur tim, membangun tim kerja dan pengarahan kerja, menyusun proposal pertemuan, menentukan struktur acara termasuk para pembicara, menentukan penginapan dan fasilitas antar jemput untuk undangn dan atau pembicara, mengatur posisi ruangan (set arrangement) dan menu makanan.
  2. Meeting: hal-hal yang harus diperhatikan adalah cara untuk terlibat penuhdalam semua kegiatan.
  3. Post-meeting: menyusun laporan kegiatan dan keuangan.

Akomodasi bagi tamu, yang perlu disiapkan jika pembicara atau tamu undangan bertempat tinggal di luar kota, yaitu penginapan, transportasi, makan pagi dan lain-lain.
Proses kegiatan

  1. Registrasi tamu atau undangan
  2. Protokol: perlunya dipahami mengenai aturan protokoler yang berupa bentuk-bentuk penyampaian pidato, perkenaan atau pemberitahuan undangan, program acara, bersulang, penempatan bendera, upacara ala militer, pengaturan tempat duduk, penyebutan pangkat dan jabatan, kartu nama dan sebagainya.
  3. Pengaturan tempat duduk:
  • Power position
  • Cooperative position
  • Competitive position
  • Autonomous position
  • Meeting position

Etika jamuan makan siang:

  1. Rencana jadwal makan siang, persiapan makan siang harus sudah siap tepat satu jam sebelum acara dimulai, karena tamu biasanya datang 30 menit lebih awal.
  2. Perhatikan siapa saja yang anda undang dan pastikan nama mereka sudah tertulis di tiap meja. Kalau tidak, anda perlu menugaskan penerima tamu agar mengantar para tamu ke meja masing-masing.
  3. Jadilah pembuka makan siang dan perkenalkan pimpinan anda yang akan membuka jamuan.
  4. Pilihlah musik yang tepat, lebih baik musik instrumental.
  5. Berdirilah berjajar di pintu keluar untuk mengucapkan salam perpisahan atau terimakasih kepada para undangan yang akan meninggalkan ruangan.

  KONFERENSI PERS

If a dog bites a man, that is not news; but if a man bites a dog that is news.”(Mott, 1958)

Mott menyampaikan sebuah pameo, “Jika anjing menggigit manusia, itu bukan berita; tetapi jika manusia menggigit anjiang , itu baru berita.” (Effendy, 1993: 131)
Pameo ini menggambarkan pengertian bahwa berita itu adalah sebuah informasi penting dan luar biasa sehingga banyak orang tertarik untuk membaca.
Arronson dan Spetner berkata,”In proposing and planing event, the single most importan question you must always ask yourself is ‘will anybody care?’ or, to use david Mc Clinticks phrase, ‘how board will the public reaction?”(1993: 93).
Konferensi pers adalah mengundang media masa ke lokasi dan waktu yang tepat untuk menerima informasi penting dan menerima jawaban atas pertanyaanmereka.
Kebutuhan perlengkapan konferensi pers:

  • Informasi (siaran pers, biodata perusahaan, foto, naskah sambutan, dll)
  • Penentuan lokasi dan waktu
  • Pengaturan kegiatan: sewa ruangan, menu makanan, perlengkapan audio visual, backdrop dan podium, meja kursi pembicara, stan untuk kamera, lampu penarangan, susunan kursi dan meja, papan nama dan kartu nama, kartu pengenal undangan, tiket parkir, buku tamu, alat tulis.
  • Undangan: data media, nama-nama yang diundang, daftar kontak undangan untuk konfirmasi kehadiran.
  • Kemungkinan pertanyaan yang akan diajukan oleh wartawan dan draf jawaban.

Informasi berupa media–kit yang berisikan informasi singkat tentang apa saja yang akan diberitakan, biasanya sepanjang 1-2 halaman; biografi pembicara yang akan tampil; riwayat perusahaan atau sponsor kegiatan; foto dan CD/DVD interaktif audio-visual.

Biodata perusahaan secara singkat menjelaskan latar belakang dan sejarah singkat perusahaan kepada para wartawan.
Biografi pembicara guna membantu wartawan menyusun pemberitaan.”Sometimes I check the fact in them, while other reporter I know rely on them solely. Most reperters trust bios and use them more then press release. I look for the kinds of information, I would ask about if given the opportunity to interview the client, myself,” kata Andrew Edelstein, redaktur New York Newsday (dalam Aranson dan Spetner, 1993:52)
Dalam menulis biografi, garis besar (outline) merupakan awal dari penuisan berita, dan harus ditulis secara logis serta lengkap. Pada paragraf awal harus dituliskan ringkasan riwayat hidup yang menunjukkan kekuatan atau kekuasaannya.
Dibutuhkan pul factsheet guna merinci informasi rumit menjadi ringkas sepanjang satu halaman, sehingga editor dapat mudah memahami dan mengambilnya sebagai bahan tulisan.
Hal-hal lain yang perlu disiapkan dalam penyelenggaraan konferensi pers adalah sebagai berikut:

  1. Menyiapkan sambutan
  2. Penulisan naskah pidato
  3. Mengatur lokasi konferensi pers
  4. Menyiapkan draf jawaban
  5.  Mengundang wartawan
  6. Pengaturan di lokasi

Belajar dari Kampanye Obama: Event Management (1)


 

Tak Perlu Wah, Yang Penting Pesan Sampai

Waktu sudah menunjukkan pukul 2.50 PM Mountain Time. Namun Profesor Cindy Price, dosen pembimbing kami dalam tour kelas mata kuliah “Management of Promotions” belum juga memberi tanda-tanda akan mengakhiri kunjungan di Barnhart Communication, sebuah advertising agency terkemuka di Denver, ibukota Negara bagian Colorado, AS. Sebelumnya dia berjanji, kita semua akan meninggalkan agency yang menangani promosi wisata Negara bagian Wyoming itu, tempat saya tinggal sekarang, tepat pukul 3.00. Karena semua ingin segera bergegas pulang, menyaksikan langsung sang penyebar virus “harapan” senator Barrack Obama beraksi dalam seri kampanye konvensi kandidat Presiden dari Partai Demokrat di stadion universitas kami, University of Wyoming, Jum’at (8/3) pukul 7.15 malam ini.

 

Obama-Clinton rally in Orlando. Barack Obama a...

Obama-Clinton rally in Orlando. Barack Obama and Hillary Clinton in Orlando, Florida on October 20, 2008. (Photo credit: Wikipedia)

Sebagaimana mayoritas masyarakat AS lainnya, semua ingin menjadi saksi sejarah bagaimana politisi asal Illinois yang pernah melewatkan masa kecilnya di kawasan Menteng, Jakarta itu menyapa publik Laramie, Wyoming, sebuah kota kecil berpenduduk 26 ribu jiwa di kawasan pegunungan Rocky Mountain yang super dingin. Momentum ini begitu dinanti oleh warga. Apalagi sudah lebih dari 34 tahun, Laramie tak pernah kedatangan politikus kelas nasional. Terakhir kali mantan presiden Jhon F Kennedy lah yang berkampanye disini tanggal 25 September 1963 silam, atau sekitar 2 bulan sebelum kematiannya yang tragis.

Kampanye kali ini menjadi semakin menarik, mengingat Wyoming, bukan lah basis pendukung Demokrat. Sebagai wilayah koboi di daerah pedalaman Amerika, Negara bagian dengan berpenduduk terkecil ini (hanya 515 ribu penduduk dengan luas wilayah kira-kira sebesar provinsi papua) mempunyai garis politik yang konservatif, bukan liberal yang merupakan haluan Partai Demokrat. Inilah kandangnya Partai Republik.

Namun fenomena Obama mengubah itu semua. Beberapa pekan sebelumnya, supporter kandidat presiden kulit hitam pertama ini, membuka kantor di pusat kota Laramie, suatu hal yang tak pernah terjadi dalam beberapa dekade terakhir. Maka ramai-ramailah orang mendaftar sebagai relawan. Laramie, kota yang tenang dan damai menjadi hiruk pikuk, demam politik.

Dan tak dinyana pula, dua hari lalu tersiar kabar Obama akan datang langsung. Begitu pula dengan kubu pesaingnya Hillarry yang mengirimkan sang suami mantan presiden Bill Clinton yang menggelar kampanye sehari sebelumnya di hall pertemuan yang lebih kecil. Inilah buah dari persaingan ketat kedua kubu Partai Demokrat yang sama-sama tak mau kehilangan satu delegates (utusan partai) pun dalan konvensi nanti. Dan warga jelas bergembira, kota mereka diperhitungkan.

****

“Hei Agung, ayo lekas naik ke Van segera. Kamu tak mau ketinggalan kan,” teriak Prof Price, begitu saya memanggilnya, membuyarkan lamunan.

“Apakah kamu menikmati tour ini?”, lanjutnya. Berkali-kali dia bertanya senada untuk memastikan saya enjoy dalam kelas dan tour ini. Mungkin karena saya satu-satunya mahasiswa internasional yang berasal dari jurusan Ilmu politik yang kebetulan tertarik untuk mengambil mata kuliah yang senyatanya berada di jurusan ilmu komunikasi ini. Sehingga mungkin professor muda ini merasa berkewajiban agar saya kerasan ada di kelasnya.

“Tentu Prof Price, ini pengalaman yang luar biasa. Disini saya jadi banyak belajar bagaimana para profesional di bisnis kampanye ini bekerja. Di perusahaan Public Relations yang kita kunjungi tadi pagi, juga saya jadi tahu banyak bagaimana mereka mengelola isu media untuk para klien. Suatu hal yang menarik bagi riset yang saya,” timpal saya yang memang mengambil tema thesis tentang model kampanye Amerika khususnya di bidang politik dibandingkan dengan model kampanye parpol di Indonesia.

Yah, dua hari ini memang saya belajar banyak bagaimana para professional PR, creative director, ghost writer, spin doctor , event management dan awak bisnis kampanye lainnya bekerja. Mereka sungguh bekerja dalam framework yang jelas dan terukur. Dan mempunyai iklim kebebasan yang kuat untuk berekspresi. Tak heran, kalau produk-produk kampanye PR dan advertising kelas wahid datang dari Negara adidaya ini. Amerika menjadi kiblat model kampanye dunia.

****

Sungguh tak sabar saya segera menjejakkan kaki di Laramie. Walaupun van yang kami tumpangi sudah dipacu dengan kecepatan rata-rata 125 km jam di atas jalan interstate (semacam jalan tol penghubung antar Negara bagian) yang diselimuti salju tipis, perjalanan terasa lambat. Baru dua setengah jam kemudian saya sampai di kampus.

Tak disangka, antrian di depan stadion indoor kampus tempat kampanye sudah mengular hampir 4 kilometer. Padahal jam baru menunjukkan pukul 5.45 sore, berarti masih sekitar satu setengah jam lagi acara pembukaan dimulai. Bahkan, kata seorang rekan, massa sudah mengantri sejak pukul 3 sore tadi, walaupun pintu stadion sendiri baru dibuka pukul 5.00. Massa memang benar-benar antusias. Walaupun cuaca cukup dingin, sekitar minus 10 derajat Celsius, tak menyurutkan massa yang mayoritas kulit putih, untuk hadir di arena stadium yang berkapasitas sekitar 30 ribu jiwa itu. Untunglah malam ini salju tak turun, sehingga penderitaan kami tak bertambah. Sekalipun dinginnya angin tetap terasa menusuk tulang, setidaknya kami tak kena siraman salju. Dan massa pun tetap antri dengan tertib dibantu oleh para relawan yang berjejer di sepanjang jalan masuk stadion.

Menariknya, relawan disini tak mengenal batas umur. Bahkan anak-anak seumuran kelas IV SD sudah ikut terlibat aktif bersama orang tuanya. Para senior citizen yang kalau di Indonesia mungkin sudah masuk panti jompo, kira-kira umur di atas 65 tahun, juga sama antusiasnya. Mereka menyapa massa, mendatanya, mengatur barisan antrian dan mengingatkan massa agar mempersiapkan diri menghadapi pemeriksaan ketat ketika ketika nanti masuk pintu stadion.

Pengamanan event kampanye ini memang sangat ketat. Selain polisi-polisi lokal, puluhan polisi federal atau FBI pun diterjunkan. Anjing-anjing pelacak di sebar di seputar stadion dan pintu masuk untuk mengendus hal-hal yang mencurigakan. Bahkan detector metal standar bandara-bandara Amerika di pasang. Tak tanggung-tanggung, petugas pemeriksa pun berasal dari TSA (Transportation Security Administration), badan pemeriksa transportasi yang biasanya ditempatkan di pintu-pintu masuk bandara dan pelabuhan Amerika. Mereka melakukan prosedur pemeriksaan persis ketika kita di masuk bandara. Tas, kamera, handphone, dipindai secara cermat. Pengunjung diminta lewat sensor logam. Petugas TSA akan memicingkan mata dan memeriksa ulang secara personal ketika alarm detector berbunyi.

Saya pun sempat kena penggeledahan khusus. Entah mengapa, ketika lewat sensor logam setelah satu jam lamanya saya mengantri, tiba-tiba saja terdengar bunyi alarm. Karuan saja saya langsung dibawa oleh petugas TSA ke bagian khusus untuk digeledah. Persis seperti ketika kunjungan tahun lalu ketika saya singgah di berbagai bandara AS (San Fransisco, Minneapolis, Washington DC, New York, Seattle, Springfield, Chicago, dan Florida) pasti selalu kena tanda “SSS” di tiket pesawat dan harus melalui penggeledahan detil. Padahal saat itu berangkat sebagai undangan resmi Department of State.Saya pun mempunyai “surat sakti” dari otoritas mereka untuk itu. Namun semua embel-embel dan surat itu hanya macan ompong di hadapan TSA. Atas nama keamanan, seluruh orang atau bangsa yang dianggap mencurigakan wajib digeledah ulang.

Petugas perempuan TSA yang sudah berumur itu pun meminta saya melepas sepatu, jaket, dan mengeluarkan semua barang-barang yang ada di kantong. Tak ada barang mencurigakan. Hanya notes, pulpen, kamera dan obat-obatan. Tak puas dengan itu, saya diminta membentangkan tangan,memastikan tak ada bagian yang terlewat untuk diperiksa.

Anjing pelacak di depan mulai bereaksi. Wuih, saya sempat bergidik dan gugup lantaran Anjing itu agaknya diperintahkan untuk mengendus seluruh badan saya. Benar saja, dalam sekejap mata, anjing besar itu langsung menerima instruksi dari petugas lainnya untuk mengendus dada. Wah saya terkejut luar biasa. Benar-benar gugup. Sampai-sampai tak menghiraukan instruksi petugas untuk memeriksa bagian lainnya.

“Are you speaking English, Sir?” tanyanya dengan sedikit ketus ketika tahu saya tak bereaksi atas instruksinya.

“Yes, I do.”

“So, please do what I said!”

****

Akhirnya setelah mereka benar-benar yakin, petugas mempersilahkan saya masuk stadion melalui pintu-pintu yang tersedia. Saya ambil duduk di tribun atas stadion yang persis menghadap panggung. Sengaja demikian, agar saya bisa leluasa melihat sekeliling dan mempelajari setting kampanye. Namun di pertengahan acara nanti, saya bakal turun ke dekat panggung, agar bisa mengamati suasana lebih jelas.

Panggung kampanye sendiri terlihat sederhana. Berupa panggung terbuka berukuran kira-kira 3 X 7 meter luasnya. Tingginya hanya sekitar 1 meter saja dengan tangga naik di kanan kirinya. Tak ada sekat sama sekali baik di sisi samping maupun belakang. Tampaknya setting panggung ini dirancang agar sang kandidat bisa bergerak bebas 360 derajat, berputar-putar menghadap audiens. Hanya tampak backdrop besar yang sengaja di pasang di tribun audiens yang membelakangi panggung. Backdrop yang dengan dominasi warna biru bertuliskan “Change, We Can Believe In” yang menjadi tagline kampanye Obama letaknya kira 6 meter dari panggung.

Diantara panggung dan backdrop ada ratusan audiens khusus yang sengaja ditempatkan disana. Mereka membawa banner lebih kecil bertuliskan serupa. Tampaknya mereka semacam “cheerleader” kampanye yang mempunyai tugas khusus untuk memancing massa meneriakkan yel-yel khas Obama “Yes we Can” ketika Obama mengucapkan kata-kata dramatis dalam pidatonya, Mereka pula lah yang terus menyemarakkan stadion dengan mengacung-acungkan banner-banner yang dibawanya.

Apakah relawan khusus ini adalah gadis-gadis cantik seperti banyak kita temui dalam kampanye-kampanye terbuka di Indonesia yang sering mendatangkan artis-artis dangdut nan seksi? Sama sekali tidak. Relawan khusus ini tampaknya disetting untuk menunjukkan keragaman pendukung Obama. Disana tampak ras kulit putih, hitam, Hispanic, bahkan keturunan Asia. Laki-laki dan perempuan sama banyaknya. Tua dan muda bercampur menjadi satu. Bahkan Matteo Highem, bocah berumur 9 tahun, yang malah ditunjuk sebagaii dirigen korps “cheerleader” ini. Dia lah yang mengomando teriakan yel-yel dan gerakan-gerakan atraktif lainnya.

Tingkahnya yang lucu dan antusias betul-betul menyedot perhatian dan menghibur massa yang hadir. Mungkin kalau di Indonesia kubu Obama sudah kena pasal eksploitasi anak karena melibatkan anak-anak dalam kampanye. Namun entah mengapa di AS yang anak-anak disini sangat dilindungi hak-haknya, mereka malah banyak terlibat dalam ajang kampanye politik.

Adapun di depan panggung persis, pelataran seukuran lapangan bola basket dibiarkan untuk para supporter. Tampaknya tempat ini disetting sebagai kerumunan massa yang ingin lebih dekat dengan Obama. Atau kalau beruntung, mungkin bisa bersalaman dengan kandidat yang pernah berayahtirikan orang Indonesia ini. Sehingga massa bisa mengelu-elukan dengan lebih erat dan personal. Dan mungkin ini pula lah yang diharapkan tim kampanye Obama, sehingga image kandidat presiden mereka sebagai orang yang cool, ramah, rendah hati, dan didambakan banyak orang akan lebih tampak. Entahlah

Sedangkan di depan pelataran massa ini, kembali tampak panggung terbuka memanjang setinggi panggung utama. Disini tripod-tripod kamera berderet-deret dipancangkan. Jaringan televisi nasional maupun internasional sudah standby disana. Bahkan mereka sudah menyiapkan siaran langsung seperti yang dilakukan jaringan televisi Fox. Tak ketinggalan pula kantor-kantor berita International seperti AP, Reuters, AFP atau media cetak nasonal sekelas New Yorks Times atau USA today menurunkan fotographer- fotographer kawakannya. Mereka kebanyakan mengambil tempat di panggung khusus wartawan lainnya yang terletak di sisi kiri panggung utama.

Dari perspektif panggung wartawan inilah saya jadi tahu, mengapa misalnya ada backdrop besar mencolok mata dan relawan khusus di belakang panggung utama? Mengapa Matteo Highem begitu atraktif mengomando rekan-rekannya untuk mengacungkan banner-banner “Change” yang dibawanya? Atau mengapa diberikan ruang luas untuk kerumunan massa di depan panggung? Tak lain dan tak bukan semuanya untuk kebutuhan publikasi dan image . Agar kamera-kamera tertuju kuat kepada mereka. Mengambil gambar-gambar dramatis,memunculka n pesan-pesan yang tertulis di banner, dan menunjukkan antusiasme besar massa. Para fotographer dan cameramen secara professional “digiring” untuk mengambil gambar-gambar yang diinginkan tim kampanye agar memuncul kesan-kesan tertentu dalam layar televisi maupun foto di Koran-koran. Mereka di framing dalam permainan strategi kampanye tim Obama. Mungkin agar Obama tampak sebagai kandidat yang tepat dalam membawa perubahan di Amerika. Walaupun tentunya, hasil editing newsroom tiap-tiap media lah yang menentukan bagaimana hasil akhirnya.

****

Waktu telah menunjukkan pukul 7 malam. Suasana stadion mulai penuh. Sekitar 15 ribu massa mulai mengambil tempat duduk di tribun. Sedangkan ratusan supporter fanatik terlihat memenuhi pelataran lapangan depan panggung. Sementara ribuan lainnya masih mengantri di luar.

Tak ada kegiatan yang mencolok di stadion. Tak ada live music sebagaimana panggung kampanye politik di Indonesia. Ataupun acara bagi-bagi kaos dan doorprize. Hanya musik-musik pop yang diperdengarkan dari sound system stadion. Dan sesekali tampak Matteo Highem mengomando yel-yel, menghangatkan suasana. Sementara sebagian besar lainnya asyik mengobrol, menikmati musik background, atau sekedar mengambil foto-foto lewat kamera digital atau ponsel yang dibawanya.

Yang tampak sibuk tim kampanye Obama di lapangan. Para petugas event tampak telah siap di posisi masing-masing. Petugas keamanan berjas lengkap tampak berjaga di sudut-sudut lapangan. Rapi dan berdasi layaknya eksekutif muda. Petugas media relations, fotographer, videographer, stage manager, juga tampak standby di posisi sekitar panggung. Yang unik, seorang petugas disiapkan di sisi kiri panggung khusus untuk menerjemahkan pidato kampanye dalam bahasa isyarat untuk audiens yang tunarungu.

Layar besar stadion kemudian menarik perhatian massa. Video perjalanan karir politik Obama pun ditayangkan. Juga video-video klip Obama dalam balutan musik yang menghentak. Suasana pun mulai terbangun.

Tepat pukul 7.15 musik berganti dengan genderang drum bertalu-talu. Bendera-bendera universitas raksasa berwarna kuning, bergambar koboi kemudian muncul dan dibawa berlari mengelilingi pelataran stadion. Dibelakangnya maskot University of Wyoming, sang koboi Joe berjingkrak- jingkrak mengikuti irama musik country. Suasana benar-benar meriah. Massa spontan berdiri dan bertepuk tangan panjang.

Tak berapa lama, salah seorang tim kampanye naik panggung. Berputar-putar layaknya peragawan, menyapa audiens. Namun tak berapa lama dia di atas. Kurang lebih sepuluh menit saja. Benar-benar singkat, tanpa banyak basa-basi, tanpa banyak sambutan sana sini. Dan langsung saja, dia perkenalkan, sang kandidat yang ditunggu-tunggu telah tiba di pintu masuk samping kiri panggung.

Spontan perhatian massa tertuju ke pintu yang dituju. Dengan langkah tegap, Obama melangkah masuk. Senyum lebar dia tebar ke seantero penjuru stadion. Sang senator tak langsung menuju panggung. Dia sapa massa di sekitarnya, bersalaman dengan mereka, berbincang singkat, dan melambaikan tangan. Kontan massa berebut hanya sekedar untuk mengambil foto atau bersentuhan tangannya. Massa benar-benar histeris, mirip para fans berat yang bertemu selebritis pujaaannya. Obama benar-benar menghipnotis mereka dengan pesonanya.

Namun suasana tetap tertib, dan sepuluh menit kemudian politisi muda ini pun naik panggung. Dia tak langsung bicara. Hanya senyumnya yang mengembang, dan lambaian tangannya yang terus terangkat ke udara. Dia terus bergerak memutari panggung, kembali menyapa massa, menebarkan pesonanya.

Tampaknya Obama mengerti betul psikologi massa. Dia tak banyak bicara, tapi bahasa tubuh dan paralinguistiknya, sangat kuat untuk mempengaruhi massa. Entah dia pernah membaca atau tidak riset Albert Mehrabian yang menyatakan 93 % komunikasi lebih banyak dipengaruhi oleh bahasa non verbalnya, yang jelas malam ini dia betul-betul menguasainya. Jas hitam yang dipakainya semakin menegaskan dirinya sebagai orang kuat bagi rakyat Amerika. Tatapan matanya yang tajam, seperti mencerminkan dia pemimpin yang visioner. Senyumnya yang kelihatan lebih tulus, semakin meyakinkan para pendukungnya dia adalah politisi yang jujur dengan janji-janjinya. Jujur dan komitmen untuk membawa perubahan dalam politik Amerika ke depan yang sudah didominasi ambisi pribadi keluarga Bush.

Malam ini, Obama tak bicara banyak. Dia hanya mengulang-ulang visinya untuk perubahan dan janjinya untuk memperbaiki ekonomi Amerika dengan platform baru di bidang kesehatan. Serta komitmennya untuk menarik pasukan dari Irak jika terpilih menjadi presiden di Negara superpower ini. “Saya akan tarik langsung pasukan AS di Irak begitu saya terpilih menjadi presiden,” janji Obama di hadapan sekitar 20 ribu orang yang memadati stadium indoor terbesar di negara bagian kaya batubara dan minyak ini. Spontan teriakan “Yes We Can, Yes We can” terdengar membahana di stadium menimpali janji tersebut.

Obama juga kembali mengkritik calon presiden Partai Republik John Mc Cain yang bersikeras meneruskan tradisi perang di Irak. Menurut Obama, perang di Irak tidaklah seharusnya terjadi. Kehadiran Al-Qaeda di sana justru dipicu setelah kedatangan AS untuk menggulingkan rezim Saddam Hussein. “Perang di Irak telah menghabiskan ratusan milyar dolar uang rakyat. Dana besar yang seharusnya bisa kita alihkan untuk memperbaiki pembangunan ekonomi AS dan kesehatan masyarakat,” tandasnya.

Sesekali Obama juga melontarkan joke-joke segar dalam pidatonya. Utamanya yang terkait dengan situasi politik saat ini. Sehingga suasana menjadi lebih segar.

Relatif memang tak ada yang baru dalam isi kampanyenya. Namun cara membawakannya yang sistematis, ringkas, to the point, dengan nada dinamis, yang kadang merendah ketika bericara kondisi lesu sekarang, dan meninggi ketika memberikan janji perubahan, membuat setiap kampanyenya selalu terlihat berbeda. Penampilanya yang begitu percaya diri didukung oleh setting event yang tepat dalam mengantarkan pesan,membuat penampilan Obama begitu mempesona dilayar kaca maupun di foto halaman depan surat kabar. Sehingga image Obama semakin kuat di media. Sampai-sampai saat ini media-media di Amerika dituduh bias dalam pemberitaan kandidat persaingan kandidat presiden Partai Demokrat. Mereka cenderung dianggap lebih menguntungkan Obama daripada Hillary.

Tim kampanye Obama mungkin mengerti betul apa yang disampaikan oleh pakar komunikasi Marshall Mc Luhan bahwa “medium is the message”. Sehingga benar-benar mengemas medium dalam hal ini, event kampanye dan faktor Obama sebagai message tersendiri. Mereka totalitas dalam mengemas even kampanye terbuka sebagai alat promosi yang efektif. Campaign Manager, creative director, ghost writer, spin doctor, dan event management crew dalam tim kampanye Obama mampu bersinergi satu sama lain menghasilkan replikasi pesan yang kuat bagi bagi publik Amerika, bahwa Obama orang yang tepat untuk perubahan. Sementara di sisi lain, Obama pun tangkas untuk memainkan management of impression nya, sehingga menghasilkan personal branding tersendiri yang membedakan dengan karakter pesaingnya. Dalam dunia political marketing, faktor pembeda ini menjadi sangat krusial untuk mengeluarkan kandidat yang dipasarkan dari kerumunan. Sehingga massa bisa mudah mengenalinya dibandingkan dengan pesaing yang lain.

****

Hanya sekitar 25 menit saja Obama di atas berpidato. Selebihnya dia turun gelanggang, kembali menyapa para pendukungnya. Kali ini pria yang sering disepadankan dengan tokoh legendaris Martin Luther King ini lebih berlama-lama menebarkan pesona, melempar senyum ke sana kemari, dan menjulurkan tangan menggapai para pendukungnya . Bahkan ayah dari dua anak perempuan Malia dan Natasha ini, sempat memangku seorang bayi kecil yang dibawa ibunya. Si ibu yang tak menyangka mendapatkan kehormatan demikian begitu sumringah, begitupula ribuan ibu lainnya yang menyaksikan momentum ini. Ehm..mungkin dia berupaya menarik pemilih perempuan khsususnya ibu-ibu yang merupakan pangsa besar Hillary.

Obama pun terus berputar di sekeliling tribun bawah diiringi teriakan yang mengelu-elukan namanya. Massa terus berdesakan untuk bisa bersalaman dengannya. Seorang gadis kulit putih tiba-tiba saja menyeruak dari kerumunan ke arah saya yang telah berdiri di dekat panggung. “Jangan pegang tanganku, jangan pegang tanganku. Aku telah salaman dengan Obama,” teriaknya dengan gembira sambil berusaha melindungi tangan kanannya dari massa yang masih menyemut. Massa akhirnya baru berangsur pulang setelah Obama benar-benar hilang dari pandangan mata ditelan pintu keluar stadion. (Agung SB)

———— ——— ——— ——— ——— ——— ——— ——-

Pelajaran yang mungkin bisa diambil:

Berkaca dari pengalaman event kampnye Obama ini, ada beberapa poin penting yang bisa kita jadikan pelajaran:

1. Walaupun waktu sosialisasi event kampanye terbuka sempit (cuma 2 hari), stadion tetap penuh, walaupun tak dimobilisasi atau diming-imingi sesuatu. Karena pembicara yang ditampilkan mempunyai personal branding yang begitu kuat dan benar-benar menarik perhatian.

2. Rund down kampanye lapangan dibuat efektif dan tak bertele-tele. Tak banyak kata sambutan dari berbagai pihak. Hal terpenting adalah penampilan tokoh utama yang akan berbicara. Mungkin dalam konteks Indonesia ini tetap perlu adaptasi. Semisal dengan menambah unsur hiburan penarik massa di panggung.

3. Panggung kampanye tak perlu mewah dan wah, yang penting sesuai untuk kebutuhan terutama untuk setting media (media orientied). Sehingga kamera bisa dengan mudah mengambil gambar menarik dari acara di panggung dan pesan-pesan utama yang ingin diantarkannya.

4. Diperlukan tim kampanye yang solid yang sudah merancang even dengan apik jauh-jauh hari sbelumnya. Semisal:

  • Creative director: bertanggung jawab atas rencana kreatifitas di panggung,termasuk menyiapkan tim kreatif atau relawan yang mengeksekusinya di lapangan.
  • Stage manager: bertanggung jawab atas semua acara di panggung
  • ghost writer: bertanggung jawab rancangan pidato kandidat, termasuk di dalamnya merancang statement2, fakta2 manarik, yang layak kutip oleh media
  • Spin doctor: bertanggung jawab atas pengendalian isu media, mana angle berita yang menarik, gambar yang menarik, mengamati isu dari pesaing, dan menjalin hubungan erat dengan newsroom dalam pemunculan berita.
  • Media relations officers: petugas yang berhubungan langsung dengan wartawan di lapangan.

5. Perlu penataan khusus terhadap tokoh yang akan dikampanyekan. Dengan kata lain merancang personal branding sebelumnya, dan konsisten dengan hal itu. Mulai dari penataan bahsa verbal maupun non verbalnya. Ada baiknya, ada riset personal branding sbelumnya terhadap si tokoh sehingga tampilan yang akan dibentuk akan lebih mapan dan konstan dari waktu ke waktu dan tak berubah-rubah. Personal branding ini harus mampu menggali keunikan si tokoh yang membedakan dari yang lainnya.

6. Pastikan momentum kampanye ini terliput luas dengan baik di media. Bukan sekedar banyak di cover saja saja, tapi juga mampu mengantarkan pesan kampanye yang diinginkan.

7. Diatas semuanya, seluruh penataan kampanye lapangan selalu berada dalam umbrella message (pesan payung) kampanye. Sehingga seluruh perangkat, setting, dan acara diarahkan untuk mengantarkan pesan utama itu.

Ada yang kurang? Mungkin bisa kita diskusikan

Sumber : Kiriman dari email teman dari mahasiswa Indonesia (Agung Setia Bakti) yang kuliah di, Graduate School, Political Science Department, University of Wyoming, WY, US.

Komunikasi dalam sebuah organisasi


Komunikasi Efektif
Seperti darah, bagi suatu organisasi komunikasi yang efektif sangat penting, dan miskomunikasi akan memberi kontribusi yang dapat disamakan dengan rusaknya sistim peredaran darah dalam lebih dari satu sistim organisasi. Sesuatu yang nampaknya sederhana, seperti lokasi fisik tempat bekerja ternyata mampu memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap proses keberhasilan komunikasi. Tanpa komunikasi yang efektif diantara berbagai pihak yang terlibat didalamnya, pola hubungan dalam suatu organisasi tidak akan mampu melayani kebutuhan berbagai pihak dengan baik.

Komunikasi yang efektif penting bagi para manajer karena tiga alasan utama. Pertama, komunikasi menyediakan saluran umum untuk proses manajemen, yaitu merencanakan, mengorganisasikan, memimpin, dan mengendalikan. Manajer mengembangkan rencana lewat komunikasi dengan orang lain dalam organisasi dan mengorganisasikan untuk melaksanakan rencana tadi dengan berdialog dengan para karyawannya mengenai cara terbaik untuk mendistribusikan wewenang dan desain pekerjaan. Manajer mengetahui bahwa kebijakan yang menimbulkan motivasi, kepemimpinan, dan mengelompokan serta membentuk tim diaktifkan lewat pertukaran informasi secara teratur.

Kedua, ketrampilan komunikasi yang efektif dapat membuat manajer menggunakan berbagai bakat yang tersedia dalam dunia multibudaya dari organisasi. Globalisasi bisnis pasti menempatkan tantangan bagi kemampuan berkomunikasi manajer. Ketika manajer mempunyai kebiasaaan dan ekspresi serta arti yang mungkin tampak amat asing, mereka mungkin tergoda untuk mengelak dan menghindar untuk mencoba berkomunikasi. Itu kemungkinan merupakan peluang yang hilang. Komunikasi, seperti aktifitas intelektual lain, dapat diasah dengan menghadapi keadaan yang baru dan menantang. Organisasi dapat merupakan wahana yang tepat untuk mempelajari hal itu.

Ketiga, ternyata manajer menghabiskan banyak waktunya untuk berkomunikasi. Jarang sekali kita menjumpai manajer sendirian dimejanya berpikir, membuat rencana, atau mempertimbangkan berbagai alternatif. Kenyataannya, waktu manajerial banyak dihabiskan dalam komunikasi bertatap muka, elektronik, atau lewat telepon dengan karyawan, supervisor, pemasok, atau pelanggan.

Komunikasi Antar Pribadi

Komunikasi didefinisikan sebagai proses yang dipergunakan oleh manusia untuk mencari kesamaan arti lewat transmisi pesan simbolik. Pesan sendiri merupakan suatu informasi yang sudah disandikan dan dikirimkan oleh pengirim kepada penerima.

Di sini terdapat tiga butir penting yaitu (1) komunikasi melibatkan orang, dan bahwa memahami komunikasi termasuk mencoba memahami cara manusia saling berhubungan, (2) komunikasi meliputi “kesamaan makna”, yang berarti bahwa agar manusia dapat berkomunikasi, mereka harus menyetujui definisi istilah yang dipergunakan, dan (3) komunikasi termasuk simbol (gerakan badan, suara, huruf dan angka) dan kata hanya dapat mewakili atau mendekati ide yang mereka maksudkan untuk dikomunikasikan.

Proses Komunikasi

Komunikasi terjadi dalam hubungan antara pengirim dengan penerima. Komunikasi dapat mengalir dalam satu arah dan berakhir di sana. Atau sebuah pesan dapat menimbulkan respon (yang secara formal dikenal dengan sebutan “umpan balik”) dari penerima.

Pengirim (sumber pesan) merupakan pihak yang mengawali komunikasi. Dalam sebuah organisasi, pengirim dapat berupa seseorang dengan informasi, kebutuhan, atau keinginan dan dengan tujuan mengkomunikasikannya kepada satu atau beberapa orang lain.
Penerima adalah orang yang inderanya menerima pesan dari pengirim. Mungkin terjadi jumlah penerima banyak, seperti kalau sebuah memo dikirimkan kepada seluruh anggota organisasi, atau hanya satu orang, seperti kalau seseorang mendiskusikan sesuatu secara rahasia kepada seorang rekan. Pesan harus disesuaikan dengan latar belakang penerima. Manajer produksi seyogyanya menghindari penggunaaan istilah yang sangat teknis dalam berkomunikasi dengan seseorang di departemen pemasaran.

Dari rangkaian pengertian tersebut, “bila pesan tidak sampai kepada penerima, maka komunikasi belum terjadi”. Di sisi lain, kerap terjadi situasi dimana pesan sudah sampai kepada penerima, tetapi penerima tidak mampu memahaminya. Tiga faktor yang mempengaruhi efektifitas komunikasi meliputi penyandian, pengartian dan gangguan.

a) Penyandian
Penyandian terjadi ketika pengirim menterjemahkan informasi untuk dikirimkan menjadi serangkaian simbol. Penyandian itu diperlukan karena informasi hanya dapat dikirimkan dari seseorang kepada orang lain lewat perwakilan atau simbol.
Karena komunikasi merupakan obyek dari penyandian, pengirim berusaha menetapkan arti “yang dapat dipahami bersama” dengan penerima dengan cara memilih simbol, biasanya dalam bentuk kata atau gerakan tubuh, yang dipercaya oleh pengirim mempunyai arti yang sama dengan penerimanya. Kerap dijumpai, kurangnya kerjasama adalah merupakan salah satu penyebab umum dari salah pengertian atau kegagalan dalam berkomunikasi.

b. Pengartian
Merupakan proses yang dilakukan oleh penerima untuk menginterprestasikan pesan dan menterjemahkannya ke dalam informasi yang mempunyai arti. Ini merupakan proses dua langkah, yaitu (1) menerima pesan, dan kemudian (2) mengartikannya. Pengartian dipengaruhi oleh pengalaman penerima, penilaian pribadi mengenai simbol dan gerakan tubuh yang dipakai, harapan (orang cenderung mendengar apa yang ingin mereka dengar), dan kesamaan arti dengan pengirimnya. Secara umum, semakin banyak pengartian penerima yang sama dengan pesan yang dimaksud oleh pengirim, semakin efektif komunikasi.

c. Gangguan
Meliputi segenap faktor yang mengganggu, membingungkan, atau mencampuri komunikasi. Gangguan dapat timbul dalam saluran komunikasi, atau metode pengiriman. Gangguan dapat terjadi karena faktor internal (misalnya penerima kurang mengindahkan) ataupun faktor eksternal (misalnya pesan terganggu oleh suara lain dari lingkungan. Gangguan dapat terjadi pada tahap manapun dari proses komunikasi, terutama pada tahap penyandian dan pengartian.

Memperbaiki Proses Komunikasi

Efektifitas komunikasi dapat dideteksi melalui “sampai seberapa jauh pihak-pihak yang terlibat menangani empat aspek komunikasi” yang meliputi : perbedaan persepsi, emosi, ketidakkonsistenan antara komunikasi verbal dan non-verbal, dan kepercayaan (maupun ketidakpercayaan) awal antara pihak yang terlibat.

a. Perbedaan Persepsi
Merupakan salah satu hambatan komunikasi yang lazim dijumpai. Orang yang mempunyai latar belakang pengetahuan dan pengalaman berbeda kerap menerima fenomena sama dari prespektif yang berbeda.
Perbedaan bahasa sering berkaitan dengan perbedaan dalam persepsi individu. Agar suatu pesan dapat dikomunikasikan secara tepat, kata-kata yang dipergunakan harus mempunyai arti yang sama bagi pengirim maupun penerima.
Untuk mengatasi hal tersebut, pesan harus dijelaskan sehingga dapat dipahami oleh penerima yang mempunyai pandangan dan pengalaman berbeda.

b. Emosi
Reaksi emosional (seperti marah, cinta, mempertahankan opini, cemburu, takut, malu, dan lain-lain) akan berpengaruh terhadap cara orang memahami pesan dari orang lain dan cara orang lain memahami pesan orang tersebut. Pendekatan terbaik untuk berhubungan dengan emosi adalah menerimanya sebagai bagian dari proses komunikasi dan mencoba memahaminya ketika emosi menimbulkan masalah.

c. Ketidakkonsistenan
Banyak kalangan yang berpendapat bahwa bahasa lisan dan tertulis merupakan medium utama komunikasi. Pada kenyataannya, pesan yang dikirimkan maupun diterima kerap dipengaruhi oleh faktor non-verbal seperti gerakan tubuh, pakaian, jarak fisik pelaku komunikasi, postur tubuh, gerakan anggota badan, ekspresi wajah, gerakan mata, sentuhan badan, dan lain-lain.
Kunci untuk mengatasinya adalah dengan mewaspadainya dan berjaga-jaga agar tidak mengirimkan pesan palsu. Untuk itu pesan verbal haruslah selalu selaras dengan aspek non-verbalnya.

d. Ke(tidak)percayaan awal
Tingkat kepercayaan penerima pesan pada umumnya merupakan fungsi kredibilitas dari pengirim dalam benak penerima pesan tersebut. Kredibilitas pengirim pesan sangat dipengaruhi oleh lingkungan dalam konteks yang bersangkutan mengirimkan pesan. Disinilah sejarah hubungan kerja mempunyai hubungan komunikasi.
Kredibilitas merupakan hasil dari proses jangka panjang yang mana kejujuran seseorang, niat baik dan keadilan dikenal dan dipahami oleh orang lain. Hubungan yang baik dalam bekomunikasi hanya dapat dikembangkan melalui tindakan yang konsisten.

Komunikasi dalam Organisasi

Keseluruhan faktor yang telah dibahas dalam hubungan dengan komunikasi antar pribadi juga berlaku untuk komunikasi dalam organisasi, yang juga mencakup penyampaian pesan secara akurat dari satu orang kepada satu atau lebih orang lain. Selain faktor-faktor tersebut, struktur, wewenang, desain pekerjaan organisasi, dan lain-lain merupakan faktor-faktor unik yang turt berpengaruh terhadap efektifitas komunikasi, sebagai mana dinyatakan oleh Simon (1977) bahwa “organisasi perlu untuk membantu manusia berkomunikasi”.

Komunikasi yang terbuka dan efektif akan merupakan aset berharga bagi organisasi.
a. Berbagai faktor yang mempengaruhi komunikasi organisasi.

Lesikar menguraikan adanya empat faktor yang mempengaruhi keefektifan komunikasi organisasi yaitu meliputi :

  1. Saluran komunikasi formal. Merupakan cara komunikasi yang didukung, dan mungkin dikendalikan oleh manajer. Contohnya adalah newsletter, memo reguler, laporan, rapat staf, dan lain-lain.
  2. Struktur wewenang. Perbedaan status dan kekuasaan dalam organisasi membantu menentukan siapa yang akan berkomunikasi dengan enak kepada siapa. Selain itu, isi dan akurasi komunikasi juga dipengaruhi oleh perbedaan wewenang.
  3. Spesialisasi pekerjaan. Biasanya akan mempermudah komunikasi dalam kelompok yang berbeda-beda. Anggota suatu kelompok kerja biasanya memiliki jagron, pandangan mengenai waktu, sasaran, tugas dan gaya pribadi yang sama.
  4. Kepemilikan informasi, Setiap individu mempunyai informasi yang unik dan pengetahuan mengenai pekerjaan mereka, yang merupakan semacam kekuasaan bagi individu-individu yang memilikinya.

b. Komunikasi vertikal
Terdiri dari komunikasi ke atas dan ke bawah melalui rantai organisasi. Dalam beberapa perusahaan, tersedia saluran khusus sebagai sarana tambahan. Saluran ini banyak dipergunakan untuk memberi tahu manajer mengenai situasi yang melibatkan karyawan, seperti pernyataan tanpa bukti mengenai pelecehan seksual.
Komunikasi ke bawah biasanya disaring, dimodifikasi, atau dihentikan di setiap tingkat ketika manajer memutuskan apa yang seharusnya diteruskan kepada karyawan mereka. Sedangakn komunikasi ke atas biasanya sisaring, dipadatkan, atau diubah oleh manajer menengah yang melihatnya sebagai bagian dari pekerjaan mereka untuk melindungi manajer tingkat atas dari data yang tidak penting/relevan.

c. Komunikasi lateral dan informal
Komunikasi ini pada umumnya mengikuti pola arus pekerjaan dalam sebuah organisasi, terjadi antar anggota kelompok kerja, antara kelompok kerja, antar anggota departemen yang berbeda, dan antara karyawan lini dan staf. Tujuan utamanya adalah menyediakan saluran langsung untuk koordinasi dan memecahkan masalah. Dengan cara ini, dapat dihindari prosedur yang jauh lebih lambat yaitu mengarahkan komunikasi lewat rantai komando. Keuntungan tambahan lainnya adalah anggota organisasi menjadi mampu untuk membentuk hubungan dengan rekan sekerja.

Komunikasi oleh Organisasi

Organisasi juga memperhatikan pesan yang dikirimkannya kepada pihak yang berkepentingan di luar, seperti pelanggan, pemasok, distributor, pesaing, perbankan, dan lain-lain, terutama dengan pihak di luar negeri. Terlalu banyak komunikasi dalam hal ini dapat sama merugikannya dengan terlalu sedikit. Tim komunikasi (pada umumnya representasikan oleh departemen kehumasan) harus bekerja keras untuk mengatasi perbedaan dalam peradaban maupun budaya tiap-tiap negara asal pihak-pihak yang berkepentingan berasal.

Negosiasi dan Konflik
Konflik melibatkan ketidaksepakatan mengenai alokasi sumberdaya yang jarang atau pertentangan mengenai sasaran, nilai, persepsi, atau kepribadian. Banyak konflik yang muncul dari komunikasi mengenai keinginan, kebutukan dan penilaian terhadap pihak lainnya. Manajer dapat menggunakan dominasinya dan menekan dalam menangani konflik dengan karyawan. Tetapi negosiasi akan membantu menangani konflik dari type apapun lebih efektif dan memberi hasil yang memuaskan kedua belah pihak. Negosiasi adalah merupakan proses interaksi kedia pihak lewat berbagai saluran komunikasi untuk menyelesaikan konflik.

Negosiasi adalah proses komunikasi yang amat penting. Ini merupakan bagian dari pekerjaan setiap manajer, seperti peran antar pribadi menurut kategori Mintzberg.
Menurut Lewicki dan Litterer, seluruh “situasi negosiasi” ditentukan oleh tiga karakteristik yaitu:

  1. Ada “konflik kepentingan” antara dua pihak atau lebih, yang berarti apa yang diinginkan oleh suatu pihak tidak selalu merupakan apa yang dikehendaki oleh pihak lain.
  2. Mungkin “tidak ada peraturan yang pasti” atau prosedur untuk menyelesaikan konflik, atau pihak-pihak tersebut memilih bertindak di luar peraturan dan prosedur untuk menemukan penyelesaiannya sendiri terhadap konflik.
  3. Semua pihak, sekurang-kurangnya pada suatu saat, lebih senang “mencari persetujuan” daripada bertentangan secara terbuka, menyerah kepada satu pihak, memutuskan hubungan secara permanen, atau membawa perselisihan mereka kepada pemegang wewenang yang lebih tinggi untuk mendapatkan pemecahan.

Negosiasi adalah proses komunikasi yang kompleks, semuanya semakin jelas kalau satu babak negosiasi hanya merupakan episode hubungan dalam jangka yang lebih panjang. Keadaan seperti itu seringkali merupakan kasus dalam hubungan karyawan dengan pihak manajemen.

Persiapan merupakan perhatian kunci bagi negosiator. Persiapan tersebut harus menyertakan tinjauan proses negosiasi yang terjadi sebelumnya dan hasil dari negosiasi tersebut. Negosiator mengambil resiko cukup besar bila dia beranggapan bahwa sejarah tidak penting bagi pihak lain.

Kaitan antara hubungan dengan waktu dalam proses negosiasi sangatlah masif. Strategi organisasi dan rencana fungsional akan berfungsi sebagai pedoman dan nilai ambang yang menentukan batas mengenai apa yang harus dan tidak boleh dilakukan oleh negosiator.

Daftar Pustaka

Shapiro, A. J., 1994, Foundations of Multinational Financial Management, A Simon Schustler Company, Englewood Cliffs, New Jersey.
Shimizu, R., 1989, The Japanesse Business Success Factor, Chikura Shobo, Tokyo.
Stoner, James A.F., Freeman R.E., Gilbert D.R., 1995, Management, Prentice-Hall, Inc., A Simon Schustler Company, Englewood Cliffs, New Jersey.

Dunia PR dalam Tantangan Globalisasi


Banyak sekali informasi yang negatif yang berkeliaran di samudra global tentang Indonesia dan termasuk diantaranya berkaitan erat dengan dunia bisnis Indonesia. Sementara dunia bisnis seolah tak berdaya menghadapinya. Sehingga bukan hanya rupiah saja yang menjadi bulan-bulanan inforamsi global, tetapi juga aspek bisnis lain, seperti investasi, hutang bahkan produk ekspor kita. Isu-isu seperti lingkungan hidup untuk produk-produk hasil hutan, dan isu-isu lain seperti dumping, sangat mempersulit ekspor kita.

Ini jelas mencerminkan betapa lemahnya kemampuan PR kita. Termasuk kurang handalnya pemanfaatan teknologi. Teknologi dalam era globalisasi sekarang ini tidak hanya sekedar suatu alat. Teknologi menawarkan kebebasan untuk mempraktekkan kemampuan pemasar melalui cara-cara baru, diantaranya dalam bidang komunikasi pemasaran.

Public relations (PR) sebagai salah satu pilar terpenting dalam komunikasi pemasaran untuk menciptakan reputasi perusahaan, juga mengalami dampaknya. Dalam strategi komunikasi global para praktisi PR memposisikan diri di front line yang mengkomunikasikan sasaran, pesan-pesan utama, target publics, dan rencana-rencana perusahaan.

PR bukanlah fungsi manajemen yang dapat berdiri sendiri. Bersama sarana komunikasi pemasaran lainnya akan membentuk integrated marketing communications, merupakan cara yang paling efektif dalam mengkomunikasikan pesan-pesan utama kepada pelanggan, shareholders, karyawan dan staf perusahaan, serta target publics yang lain.

Integrated marketing communications, yang didukung oleh Internet, memperkecil error dan miscommunications yang dapat menimbulkan kebingungan pelanggan. Gabungan upaya-upaya pemasaran ini membantu untuk meyakinkan target publics untuk membeli produk, menggunakan layanan atau berinvestasi.

Dalam keterkaitannya dengan globalisasi pula, terdapat sejumlah persoalan yang timbul dalam public affairs dewasa ini. Salah satunya adalah hukum dan budaya yang beraneka serta persoalan yang berhubungan dengan news media. Muncul pula tantangan untuk mencapai konsistensi citra dan policy di seluruh dunia. Dan yang tak kalah pentingnya adalah perbedaan yang mendasar pada struktur politik antar daerah dan negara.

Menghadapi situasi ini, tantangan terberat bagi praktisi PR adalah perannya sebagai pengelola dan pendamai sistem nilai, kepercayaan dan ideologi perusahaan dengan lingkungan sekitarnya. Peran ini mesti didukung oleh status PR sebagai interpreter perusahaan dan pencipta social policy yang menempatkan organizational behavior sebagai panduan. Mereka juga mempengaruhi dan men’damai’kan persepsi publik dalam konteks global.

Selain itu, peran praktisi PR saat ini, sebagai penasihat public relations, menjadikan praktisi PR untuk memfokuskan diri pada strategi komunikasi dan pemberi saran pada hal-hal yang signifikan seperti nilai-nilai dan kultur yang dianut masyarakat.

Praktisi PR harus selalu menjadi well-informed persons dengan strong sense pada riwayat dan pengetahuan akan kejadian-kejadian yang terkini. Praktisi PR juga harus mempunyai nalar yang tajam dan mempunyai wawasan kosmopolitan, dalam arti sensitif terhadap nuansa multikultural dan internasional yang /melingkupi publik perusahaan.

Berbagai ragam cara dapat ditempuh. Mempelajari bahasa asing selain bahasa Inggris, mempelajari hal-hal penting bagi perusahaan yang bermacam-macam, meningkatkan pengetahuan internasional dengan melakukan perjalanan ke luar negeri yang cukup sering, menjalin relasi dengan orang-orang dari berbagai macam kultur dan negara.

Peran Internet

Berkat teknologi, praktisi PR dapat menerima dan mengirimkan informasi lebih cepat dan mendapatkan instant response time di tingkat lokal maupun internasional. Dua puluh lima tahun yang silam, media cetak dan media visual dianggap cukup untuk mengirimkan pesan atau berita mengenai perusahaan, namun dirasa masih sangat mahal.

Lima belas tahun yang lalu, berkat adanya desktop publishing, kita bisa menerbitkan newsletter walaupun harga printing dan mailing masih relatif mahal. Sekarang, berkat internet, kita bisa melakukan apa saja yang berkaitan dengan upaya berhubungan dengan publik melalui e-mails dengan sistem global, voice mail, situs perusahaan, dan worldwide video conferencing network.

Internet memberikan sederet keuntungan bagi praktisi PR. untuk menciptakan peluang menghadirkan pelanggan-pelanggan tanpa harus disaring terlebih dahulu, menyeleksi sendiri informasi-informasi yang penting, meningkatkan two-way communications melalui kemudahan memberikan dan menerima feedback, memfokuskan pada more active information-seeking publics.

Dengan menggunakan jasa Internet, praktisi PR harus juga menjadi synthesizer. Ia bisa menciptakan homepage dan menyempurnakannya setiap hari, membuat iklan, mendesain brosur, menaruh cerita-cerita yang relevan dengan perkembangan bisnis perusahaan, menulis ceramah, mengkoordinasikan event atau seminar, merencanakan dan menjalankan sales meeting.

Efektifitas & Komitmen

Praktisi PR juga harus mempunyai cara berpikir dan memecahkan masalah yang unik dan efektif. Terdapat beberapa langkah untuk meningkatkan efektivitas kegiatan PR, diantaranya adalah mengadakan kontak yang lebih efektif dengan the right customers, menyampaikanpesan-pesan utama yang relevan dan konsisten, serta mengindentifikasi apa saja tentang perusahaan yang ingin didengar oleh pelanggan.

Hal lain yang tidak boleh ditinggalkan adalah mengatur proses komunikasi dengan menggabungkan dan mengkoordinasikan pesan-pesan marketing, produksi, customer service dan distribusi.

Komitmen merupakan prasyarat menuju suksesnya PR yang harus dipahami diantarangnya adalah komitmen terhadap usaha-usaha yang berlandaskan etika, komitmen terhadap teknologi komunikas, komitmen terhadap perkembangan profesionalitas, serta kemampuan untuk menciptakan “interconnectedness”, di mana perusahaan sebagai bagian dari ekosistem bisnis harus mengembangkan kerja sama dengan kompetitor, supplier, dan pelanggan.

PR merupakan representatif perusahaan baik bagi media, pelanggan, community leaders, atau government officials. PR harus mempunyai kemampuan untuk membuat major impact dalam lingkungan bisnis. Berkat teknologi dan globalisasi, PR dapat memainkan peran yang penting dalam mendefinisikan hubungan perusahaan dengan seluruh bagian dunia. PR harus memperkirakan dan mempertimbangkan perubahan-perubahan yang digerakkan oleh teknologi dan globalisasi dalam komunikasi, sehingga mereka dapat mempersiapkan diri mereka sebagai komunikator yang handal dan profesional.

< A.B. Susanto, Bisnis Indonesia>

 

 

 

 

Seni Propaganda: 7 Taktik Untuk Mempengaruhi Perilaku


Propaganda diciptakan untuk mempengaruhi pikiran dan perilaku orang, dengan tujuan menghasilkan respon yang memenuhi sasaran pelaku propaganda. Politikus, media, dan pemerintah sering menggunakan propaganda untuk memperoleh dukungan atas kebijakan yang dikeluarkan.

LECTURE RESUME’S – Propaganda memiliki banyak kesamaan dengan pemasaran (marketing) atau periklanan (advertising), terutama dalam hal pesan yang dibuat secara khusus dan selektif untuk mendorong/menggugah emosi penerima pesan (recipient).

Cara ini juga dapat anda terapkan untuk kepentingan promosional.

Bukan berarti bahwa anda menipu konsumen atau pembaca dengan memberikan fakta dan informasi palsu yang menyesatkan, namun metode propaganda ini berguna untuk mengkondisikan kampanye pemasaran dalam frame yang menarik minat audien anda.

Pada tahun 1939, Institute for Propaganda Analysis di New York menerbitkan artikel tentang tujuh alat propaganda.

Propaganda dan Masalah Atensi

Internet adalah jaringan informasi yang sangat besar. Terlalu banyak informasi untuk dikonsumsi, sementara terlalu sedikit waktu yang tersedia. Pengguna internet belajar untuk menyaring pengalaman berinternet mereka dengan menggunakan mesin pencari (search engine), RSS feed, dan situs-situs social media. Mencari informasi atau hiburan dengan memonitor berbagai saluran.

Anda mungkin sudah berlangganan sejumlah blog dan pengumpan (feed) informasi dengan topik tertentu. Jumlah konten yang sedemikian banyak berujung pada terpecahnya perhatian (atensi). Publisher blog dan marketer serta pelaku e-business harus mengatasi masalah information overload ini.

Although few studies have looked at this topic, it seems fair to suggest that many people respond to this pressure [of information overload] by processing messages more quickly and, when possible, by taking mental short-cuts.

Propagandists love short-cuts — particularly those which short-circuit rational thought. They encourage this by agitating emotions, by exploiting insecurities, by capitalizing on the ambiguity of language, and by bending the rules of logic.

Dari tujuh teknik yang akan dijelaskan di bawah, kebanyakan menekankan penggunaan picu emosi (emotional triggers) untuk mendorong dilakukannya tindakan segera. Tujuannya untuk menghubungkan audien dengan pesan dalam waktu yang singkat secara mendalam, yaitu dengan cara mengasosiasikan pesan tersebut dengan nilai-nilai (values) dan konsep yang dimiliki audien.

Bernice Fitz-Gibbon, seorang pionir dalam dunia retail advertising mengatakan; «A good ad should be like a good sermon: It must not only comfort the afflicted, it also must afflict the comfortable.»

Tujuh Teknik Propaganda

Studi propaganda telah mengalami perkembangan pesat sejak awal abad ke-20. Ketujuh teknik propaganda ini adalah model awal propaganda dan tidak terlalu komprehensif, meski demikian model awal ini akan memberi anda pengenalan tentang bagaimana propaganda dapat berperan dalam lingkungan sosial.

Saya tuliskan deskripsi singkat untuk masing-masing teknik tapi sengaja tidak mencantumkan tentang bagaimana anda dapat menggunakannya untuk kampanye pemasaran/branding yang anda upayakan, karena sebetulnya tidak sulit untuk mengadopsi taktik ini dan menerapkannya sendiri.

 

Beberapa metode seperti name-calling kurang cocok untuk tujuan pemasaran, kecuali tujuan anda adalah untuk mendapat publisitas dengan membangitkan kontroversi. Namun mungkin anda bisa memanfaatkan teknik tersebut (dan semua teknik propaganda lainnya) secara lebih cerdas.

1. Name-calling

Teknik ini menggunakan kata-kata yang menghubungkan seseorang atau ide dengan konsep yang negatif. Tujuannya untuk membuat orang menolak sesuatu karena asosiasi negatif yang melekat pada orang atau ide tersebut tanpa melihat kenyataannya.

Contoh kata yang digunakan ; ‘Teroris’, ‘Nazi’, ‘Rasis‘, ‘Homo’.

Name Calling is used as a substitute for arguing the merits of an idea, belief, or proposal. It is often employed using sarcasm and ridicule in political cartoons and writing.

2. Glittering Generalities

Kebalikan dari name-calling, taktik ini menggunakan highly valued concepts dan beliefs yang membuat audien merasa positif dan mengundang tepuk tangan meriah bila di-orasikan di depan massa. Kata-kata yang digunakan biasanya bermakna rancu, namun atraktif seperti ; ‘Freedom’, ‘Honor’, ‘Love’.

Arti kata di atas bisa berbeda untuk tiap pendengar, namun teknik ini dapat berfungsi karena secara umum mempunyai konotasi positif.

When someone talks to us about democracy, we immediately think of our own definite ideas about democracy, the ideas we learned at home, at school, and in church.

Our first and natural reaction is to assume that the speaker is using the word in our sense, that he believes as we do on this important subject. This lowers our ‘sales resistance’ and makes us far less suspicious..

3. Transfer

Ini adalah teknik yang digunakan oleh pelaku propaganda untuk «memindahkan» otoritas dan penerimaan atas sesuatu yang anda hormati atau puja menjadi sesuatu yang ingin anda miliki. Cara yang digunakan yaitu dengan memproyeksikan sifat-sifat entitas, orang, atau simbol ke dalam wujud lainnya melalui asosiasi/penghubungan visual atau mental.

Hal ini menstimulasi penerima pesan/resipien untuk mengidentifikasikan dirinya dengan otoritas tersebut.

In the Transfer device, symbols are constantly used. The cross represents the Christian Church. The flag represents the nation. Cartoons like Uncle Sam represent a consensus of public opinion. Those symbols stir emotions. At their very sight, with the speed of light, is aroused the whole complex of feelings we have with respect to church or nation.

4. Testimonial

Tujuan testimonial adalah untuk menguatkan pengalaman, otoritas dan rasa hormat seseorang dan menggunakannya untuk mempromosikan sebuah produk atau hal. Testimonial memiliki daya tarik yang jauh lebih kuat terhadap emosi daripada terhadap logika, karena testimonial sejatinya memberikan pembenaran yang lemah atas suatu produk atau tindakan.

‘The Times said,’ ‘John L. Lewis said…,’ ‘Herbert Hoover said…’, ‘The President said…’, ‘My doctor said…,’ ‘Our minister said…’ Some of these Testimonials may merely give greater emphasis to a legitimate and accurate idea, a fair use of the device; others, however, may represent the sugar-coating of a distortion, a falsehood, a misunderstood notion, an anti-social suggestion…»

5. Plain Folks

Teknik di mana pelaku propaganda menempatkan dirinya sebagai orang biasa seperti halnya target audience, untuk menunjukkan kemampuannya ber-empati dan memahami kepedulian/perasaaan massa.

Pelaku menunjukkan perilaku atau menggunakan bahasa dan sikap yang menyatu dengan sudut pandang audien.

We are all familiar with candidates who campaign as political outsiders, promising to «clean out the barn» and set things straight in Washington. The political landscape is dotted with politicians who challenge a mythical «cultural elite,» presumably aligning themselves with «ordinary Americans.» As baby boomers approach their sixth decade, we are no longer shocked by the sight of politicians in denim who listen to rock n roll.

6. Card Stacking

Sebuah cara yang memanipulasi persepsi audien dengan menekankan satu sisi argumen yang memperkuat posisi anda, sambil di sisi lain menekan/meminimalisir opini yang bertentangan. Contohnya memperbandingkan best possible scenarios dengan worse examples.

Assume a newspaper editor were in favor of the non-enforcement of immigration laws. Should the issue of immigration law enforcement ever be debated among legislators, the editor might publish articles and editorials that ignore all mention of illegal alien criminals, gang members, and prisoners and report only on decent, hard-working foreigners instead. This sort of card stacking could go on for weeks and influence public opinion on the issue.

7. Bandwagon

Dalil dasar teknik bandwagon adalah ‘since everyone is doing it, you should too‘. Tujuannya mem-persuasi orang lain untuk mengikuti trend umum dengan cara memperkuat keinginan manusia untuk berada pada sisi yang menang. Pelaku ‘mengompori’ audien bahwa mereka akan kehilangan atau ketinggalan sesuatu bila tidak ikut bergerak dengan massa lainnya. Memanipulasi rasa takut dan rasa tidak aman.

With the aid of all the other propaganda devices, all of the artifices of flattery are used to harness the fears and hatreds, prejudices and biases, convictions and ideals common to a group. Thus is emotion made to push and pull us as members of a group onto a Band Wagon.

Sumber berasal dari Propaganda Critic. Lebih lengkapnya ada di sana. Tujuh teknik propaganda umum yang mungkin sudah sering anda alami dari media massa.

 

APLIKASI FILSAFAT DALAM ILMU KOMUNIKASI


Tine Silvana R*)

Media massa telah menjadi fenomena tersendiri dalam proses komunikasi massa dewasa ini bahkan ketergantungan manusia pada media massa sudah sedemikian besar. Media komunikasi massa abad ini yang tengah digandrungi masyarakat adalah televisi. Joseph Straubhaar & Robert La Rose dalam bukunya Media Now, menyatakan; the Avarege Person spend 2600 Hours per years watcing TV or listening to radio. That,s 325 eight-hourdays, a full time job. We spend another 900 hours with other media, including, newpaper, books, magazines, music, film, home video, video games and the internet, that about hours of media use – more time than we spend on anything else, including working or sleeping (straubhaar & La Rose, 2004 : 3)

Di Indonesia berdasarkan survey Ac Nielsen di tahun 1999 bahwa 61% sampai 91% masyarakat Indonesia suka menonton televisi, hasil ini lebih lanjut dijelaskan bahwa “hampir 8 dari 10 orang dewasa di kota-kota besar menonton televisi setiap hari dari 4 dari 10 orang mendengarkan radio” ( Media Indonesia, 16- Nopember 1999). Hal ini menunjukkan bahwa menonton televisi merupakan “aktivitas” utama masyarakat yang seakan tak bisa ditinggalkan. Realitas ini sebuah bukti bahwa televisi mempunyai kekuatan menghipnotis pemirsa, sehingga seolah-olah televisi telah mengalienasi seseorang dalam agenda settingnya.

Perkembangan pertelevisian di Indonesia dua tahun terakhir ini memang amat menarik, televisi-televisi swasta bermunculan melengkapi dan memperkaya TV yang sudah ada. Tercatat lebih dari 17 TV yang ada di Indonesia adalah TVRI, RCTI, SCTV, TPI, AN-TV, Indosiar, Trans-TV, Lativi, TV-7, TV Global, dan Metro TV ditambah TV-TV lokal seperti Bandung TV, STV, Padjadjaran TV dan sebagainya. Fenomena ini tentu saja menggembirakan karena idealnya masyarakat Indonesia memiliki banyak alternatif dalam memilih suguhan acara televisi.

Namun realitasnya, yang terjadi adalah stasiun-stasiun TV di Indonesia terjebak pada selera pasar karena tema acara yang disajikan hampir semua saluran TV tidak lagi beragam tetapi seragam di mana informasi yang sampai kepada publik hanya itu-itu saja tidak menyediakan banyak alternatif pilihan. Beberapa format acara TV yang sukses  di satu stasiun TV acapkali diikuti oleh TV-TV lainnya, hal ini terjadi hampir pada seluruh format acara TV baik itu berita kriminal dan bedah kasus, tayangan misteri, dangdut,  film india, telenovela, serial drama Asia, Infotainment, dan lain-lain.

Media watch mencatat bahwa selama ini atas nama mekanisme pasar, pilihan format isi pertelevisian tak pernah lepas dari pertimbangan ”tuntunan khalayak” menurut  perspektif pengelola. Berbagai program acara dibuat hanya untuk melayani kelompok budaya mayoritas yang potensial menguntungkan, sementara kelompok minoritas tersisihkan dari dunia simbolik televisi.

Ukuran televisi hanya dilihat berdasarkan rating tidak memperhatikan faktor fungsional, akibatnya ada kelompok masyarakat yang dapat menikmati berbagai stasiun TV karena berada di wilayah yang berpotensi, tapi ada masyarakat yang tak terlayani sama sekali atau menangkap acara televisi namun isinya secara kultural tidak sesuai dengan kebutuhan mereka.

Keadaan ini sebelumnya terjadi juga pada negara adi kuasa seperti Amerika Serikat penelitian di negara ini menunjukkan bahwa surat kabar dan televisi mengarahkan sasaran liputan mereka terutama pada kelompok elite dan tak memperdulikan sebagian besar warga (Kovach, 2003:66) dalam pemenuhan fungsi informasi dan hiburan belakangan ini, TV-TV gencar menayangkan berita-berita yang disebut dengan infotainment. Kehadiran infotainment amat mewarnai program-program acara di televisi bahkan menempati posisi rating tertinggi yang berarti acara-acara model seperti ini amat digemari oleh masyarakat. Pengiklan pun tak urung berbondong—bondong memasang iklan pada setiap tayangannya tentu saja semakin mamacu pengelola media untuk berloma-lomba membuat heboh acara infotainment yang dikemasnya.

Dipelopori oleh tayangan kabar-kabari lima tahun silam di RCTI, saat ini tidak kurang dari 50 judul acara serupa muncul menyebar di semua stasiun TV termasuk TVRI bahkan Metro TV. Semua format yang tampil mengatasnamakan infotainment sebagai penggabungan dari kata ”Information’ dan Entertainment’ (Informasi dan Hiburan) wujudnya merupakan paket tayangan informasi yang dikemas dalam bentuk hiburan & informasi yang menghibur.

Jika kita cermati tampaknya tayangan-tayangan infotainment yang mengklaim sebagai sebuah produk jurnalisme seringkali berorientasi bukan pada efek yang  timbul dalam masyarakat tetapi produk komersial tersebut apakah mampu terjual dan mempunyai nilai ekonomis atau tidak, sehingga tidak memperhatikan apa manfaatnya bagi pemirsa ketika menginformasikan adegan ”syur” Mayangsari – Bambang Soeharto, exploitasi kawin cerai para selebritis, konflik, gaya hidup, serta kebohongan publik yang kerap digembar-gemborkan oleh kalangan selebritis.

Fenomena ini menandakan satu permasalahan di dalam kehidupan nilai-nilai ”filosofis” televisi di Indonesia. Televisi Indonesia semakin hari semakin memperlihatkan kecenderungan mencampuradukan berita dan hiburan melalui format tayangan ”infotainment”. Kebergunaan berita menjadi berkurang bahkan menyimpang. Hal ini disebabkan di antaranya oleh tekanan pasar yang makin meningkat.

1.  Kerangka Teoritis

Louis O. Katsoff dalam bukunya ”Elements of Philosophy” menyatakan  bahwa kegiatan filsafat merupakan perenungan, yaitu suatu jenis pemikiran yang meliputi kegiatan meragukan segala sesuatu, mengajukan pertanyaan, menghubungkan gagasan yang satu dengan gagasan yang lainnya, menanyakan ”mengapa”’ mencari jawaban yang lebih baik ketimbang jawaban pada pandangan mata. Filsafat sebagai perenungan mengusahakan kejelasan, keutuhan, dan keadaan memadainya pengetahuan agar dapat diperoleh pemahaman. Tujuan filsafat adalah mengumpulkan pengetahuan manusia sebanyak mungkin, mengajukan kritik dan menilai pengetahuan ini. Menemukan hakekatnya, dan menerbitkan serta mengatur semuanya itu dalam bentuk yang sistematik. Filsafat membawa kita kepada pemahaman & pemahaman membawa kita kepada tindakan yang lebih layak. Tiga bidang kajian filsafat ilmu adalah epistemologis, ontologis, dan oksiologis. Ketiga bidang filsafat ini merupakan pilar utama bangunan filsafat.

Epistemologi: merupakan cabang filsafat yang menyelidiki asal, sifat, metode, dan batasan pengetahuan manusia yang bersangkutan dengan kriteria bagi penilaian terhadap kebenaran dan kepalsuan. Epistemologi pada dasarnya adalah cara bagaimana pengetahuan disusun dari bahan yang diperoleh  dalam prosesnya menggunakan metode ilmiah. Medode adalah tata cara dari suatu kegiatan berdasarkan perencanaan yang matang & mapan, sistematis & logis.

Ontologi: adalah cabang filsafat mengenai sifat (wujud) atau lebih sempit lagi sifat fenomena yang ingin kita ketahui. Dalam ilmu pengetahuan sosial ontologi terutama berkaitan dengan sifat interaksi sosial. Menurut  Stephen Litle John, ontologi adalah mengerjakan terjadinya pengetahuan dari sebuah gagasan kita tentang realitas. Bagi ilmu sosial ontologi memiliki keluasan eksistensi kemanusiaan.

Aksiologis: adalah cabang filsafat yang berkaitan dengan nilai seperti etika, estetika, atau agama. Litle John menyebutkan bahwa aksiologis, merupakan bidang kajian filosofis yang membahas value (nilai-nilai) Litle John mengistilahkan kajian menelusuri tiga asumsi dasar teori ini adalah dengan nama metatori. Metatori adalah bahan spesifik pelbagai teori seperti tentang apa yang diobservasi, bagaimana observasi dilakukan dan apa bentuk teorinya. ”Metatori adalah teori tentang teori” pelbagai kajian metatori yang berkembang sejak 1970 –an mengajukan berbagai metode dan teori, berdasarkan perkembangan paradigma sosial. Membahas hal-hal seperti bagaimana sebuah knowledge itu (epistemologi) berkembang. Sampai sejauh manakah eksistensinya (ontologi) perkembangannya dan bagaimanakah kegunaan nilai-nilainya (aksiologis) bagi kehidupan sosial. Pembahasan ; Berita infotainment dalam kajian filosofis. Kajian ini akan meneropong lingkup persoalan di dalam disiplin jurnalisme, sebagai sebuah bahasan dari keilmuan komunikasi, yang telah mengalami degradasi bias tertentu dari sisi epistemologis, ontologis bahkan aksiologisnya terutama dalam penyajian berita infotainment di televisi.

2.  Kajian Aspek Epistemologis:

Dalam berita hal terpenting adalah fakta. Pada titik yang paling inti dalam setiap pesannya pelaporan jurnalisme mesti membawa muatan fakta. Setiap kepingan informasi mengimplikasikan realitas peristiwa kemasyatakatan. Tiap pesan menjadi netral dari kemungkinan buruk penafsiran subyektif yang tak berkaitan dengan kepentingan–kepentingan kebutuhan masyarakat. Charnley (1965 : 22.30) mengungkapkan kunci standardisasi bahasa penulisan yang memakai pendekatan ketepatan pelaporan faktualisasi peristiwa, yaitu akurat, seimbang, obyektif, jelas dan singkat serta mengandung waktu kekinian. Hal-hal ini merupakan tolok ukur dari ”The Quality of News” dan menjadi pedoman yang mengondisikan kerja wartawan di dalam mendekati peristiwa berita & membantu upaya tatkala mengumpulkan & mereportase berita. Secara epistemologis cara-cara memperoleh fakta ilmiah yang menjadi landasan filosofis sebuah berita infotainment yang akan ditampilkan berdasarkan perencanaan yang matang, mapan, sistematis & logis.

3.  Kajian Aspek Ontologis

Dalam kajian berita infotainment ini bahasan secara ontologis tertuju pada keberadaan berita infotainment dalam ruang publik. Fenomena tentang berita infotainment bukan gejala baru di dunia jurnalisme. Pada abad 19, pernah berkembang jurnalisme yang berusaha mendapatkan audiensnya dengan mengandalkan berita kriminalitas yang sensasional, skandal seks, hal-hal, yang menegangkan dan pemujaan kaum selebritis ditandai dengan reputasi James Callender lewat pembeberan petualangan seks, para pendiri Amerika Serikat, Alexande Hamilton & Thomas Jeferson merupakan karya elaborasi antara fakta dan desus-desus. Tahun itu pula merupakan masa kejayaan William Rudolf Hearst dan Joseph Pulitzer yang dianggap sebagai dewa-dewa ”Jurnalisme kuning.”

Fenomena jurnalisme infotainment kembali mencuat ketika terjadi berita hebohnya perselingkuhan Presiden Amerika ”Bill Clinton- Lewinsky”. Sejak saat itu seakan telah menjadi karakteristik pada banyak jaringan TV di dunia. Di Indonesia, fenomena ini juga bukan terbilang baru. Sejak zaman  Harmoko (Menteri Penerangan pada saat itu) banyak surat kabar–surat kabar kuning muncul & diwarnai dengan antusias masyarakat. Bahkan ketika Arswendo Atmowiloto menerbitkan Monitor semakin membuat semarak ”Jurnalisme kuning di Indonesia”. Pasca Orde Baru ketika kebebasan pers dibuka lebar-lebar semakin banyak media baru bermunculan, ada yang memiliki kualitas tetapi ada juga yang mengabaikan kualitas dengan mengandalkan sensasional, gosip, skandal dan lain-lain. Ketika tayangan Cek & Ricek dan Kabar Kabari berhasil di RCTI, TV lainnya juga ikut-ikut menayangkan acara gosip. Dari sinilah cikal bakal infotainment marak di TV kita. Fenomena infotainment merupakan hal yang tidak bisa terhindarkan dari dunia jurnalisme kita. Pada realitasnya ini banyak disukai oleh masyarakat dengan bukti rating tinggi (public share tinggi)

4.  Kajian pada aspek aksiologis

Secara aksiologis kegunaan berita infotainment dititik beratkan kepada hiburan. Pengelola acara ini menarik audiens hanya dengan menyajikan tontonan yang enak dilihat sebagai sebuah strategi bisnis jurnalisme. Hal ini akan berdampak pada menundanya selera dan harapan sejumlah orang terhadap sesuatu yang lain. Ketika etika infotainment telah salah langkah mencoba untuk ”menyaingkan” antara berita & hiburan. Padahal nilai dan daya pikat berita itu berbeda, infotainment pada gilirannya akan membentuk audiens yang dangkal karena terbangun atas bentuk bukan substansi.

Pengelola media melalui berita infotainment terkadang tidak lagi mempertimbangkan moral sebagai pengontrol langkah mereka sehingga begitu mengabaikan kepentingan masyarakat.Hal itulah yang terjadi dengan berita infotainment di Indonesia, beberapa kaidah yang semestinya dijalankan malah diabaikan demi kepentingan mengejar rating dan meraup keuntungan dari pemasang iklan.

*) Dosen pada Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran

DAFTAR PUSTAKA

Andersen., Kenneth E., 1972, Introduction to Communication Theory and Practice, Philippines: Cumming Publ Company.

Anshari., Endang Saefuddin, 1991. Ilmu Filsafat dan Agama, PT. Bina Ilmu, Surabaya.

Asante., Molefi Kete, 1989, Handbook of International and Intercultural Communication, California: sage Publ Inc.

Bagus., Lorens, 1991, Metafisika, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Berger., Charles R., 1987, Handbook of Communication Science, California: Sage publ Inc.

Cobley., Paul, 1996, The Communication Theory Reader, London: Routledge.

DeFleur., Melvin L., 1985, Understanding Mass Communication, Boston: Houghton Mifflin Company.

Effendy., Onong Uchjana, 2000, Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi,  Penerbit PT. Citra Aditya Bakti, Bandung.

Fisher., B. Aubrey, 1987, Interpersonal Communication: Pragmatics of Human Relation 2 nd ed., McGraw-Hill

Little John., Stephen W., 1996, Theories of Human Communication, Ohio: Charles E. Merril Company

Muhadjir., Noeng, 1998, Filsafat Ilmu Telaah Sistematis Fungsional Komparatif,  Rake Sarasin, Yogyakarta

Mulyana., Deddy, 2002, Metodologi Penelitian Kualitatif Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya,  PT. Rosdakarya, Bandung

Mulyana., Deddy, 2001, Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar,  PT. Rosdakarya, Bandung

Poerwadarminta., W.J.S, 1985, Kamus Umum Bahasa Indonesia,  PN. Balai Pustaka, Jakarta

Susanto., Astrid S, 1976, Filsafat Komunikasi,  Penerbit Binacipta, Bandung.

Suriasumantri, Jujun S, 1985, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer,  Penerbit Sinar Harapan, Jakarta

Syam., Nina Winangsih, Rekonstruksi Ilmu Komunikasi Perspektif Pohon Komunikasi dan Pergeseran Paradigma Komunikasi Pembangunan Dalam Era Globalisasi. Pidato Pengukuhan Guru Besar Dalam Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran pada tanggal 11 Septe

%d blogger menyukai ini: