Posts from the ‘Profesi’ Category

Si Pemberes di Tengah Duka


Perias mayat harus memiliki jiwa seni, panggilan jiwa, dan tidak penakut.

Merias pengantin, selebriti, atau orang yang hendak merayakan sesuatu, itu hal biasa. Namun merias mayat, itu luar biasa. Bayangkan saja, ia mesti berkutat mendandani mayat yang, boleh jadi, tidak keruan rupanya akibat penyakit yang diderita atau kecelakaan yang menimpa. Tak heran bila cuma sedikit yang menjalani profesi ini. Padahal, penghasilannya tidak sedikit.

Sudah tentu, perias mayat tak melulu bermodalkan keberanian. Ia juga mesti memiliki jiwa seni dan panggilan jiwa untuk menekuni profesi ini. Karena inti dari pekerjaan merias adalah membuat obyek riasannya menjadi lebih indah, jiwa seni menjadi hal yang penting. Pasalnya, wajah setiap mayat memiliki kontur berbeda-beda. Nah, jiwa seni inilah yang bakal menuntun si perias dalam memoles wajah mayat agar tampak berseri-seri atau tersenyum. Dengan demikian, keluarga yang ditinggalkan tidak terlampau sedih.Mungkin yang khusus adalah tempatnya. Sebab, tak sembarang tempat menyediakan fasilitas merawat mayat, mulai dari memandikan, merapikan semua organ tubuh jika keadaan tubuhnya rusak, hingga mendandani mayat tersebut supaya tampil layaknya ketika ia masih hidup. Kami jamin pihak keluarga yang ditinggalkan akan puas, ujar Rantje Langkun, Manajer Yayasan Pelayanan Pemakaman (YPP) St. Carolus. Fasilitas salon kecantikan kematianini hanya bisa ditemui di rumah-rumah duka, misalnya, rumah duka RS St. Carolus di Salemba, Jakarta Pusat, dan RS Atmajaya di Pluit, Jakarta Utara.

Meskipun tugas intinya adalah merias, kata Daniel Rusmondo, satu dari lima orang perias mayat di rumah duka St. Carolus, Tapi ada beberapa rambu yang mesti diperhatikan ketika akan merias mayat.Pertama, sang perias harus memakai baju khusus seperti baju dokter, kaus tangan, sepatu karet, dan penutup mulut. Ini untuk menghindari bahaya infeksi atau tertular penyakit yang ditimbulkan dari mayat. Misalnya, mayat yang terkena penyakit kencing manis biasanya kondisinya mudah membusuk, kulitnya mudah terkelupas, dan mengeluarkan cairan dengan bau yang tak sedap.

Penjelasan Daniel tersebut diamini Maria Magdalena Lena Mulyana (Lena), perias mayat dari rumah duka Atmajaya.
Selanjutnya si perias dengan dibantu staf, biasanya tiga orang, mempersiapkan peralatan mandi seperti sabun, sampo, wash lap, dan handuk. Setelah kondisi mayat bersih (baik dalam maupun luar tubuh), mayat diberi pengawet formalin agar tidak cepat busuk dan kulit tidak kisut.

Maka, dimulailah ritual merias: pemberian alas bedak (foundation), bedak, memperindah alis, hingga lipstik. Semuanya membutuhkan waktu sekitar satu jam. Agar wajah obyek tidak tampak pucat, terlebih dahulu dibaluri ramuan dempul seperti lilin buatan Switzerland. Bahan ini bisa tersamar dengan warna kulit. Saya tinggal memoleskan foundation dan bedak, maka mayat akan tampak segar, ujar Lena.

MASIH LANGKA
Boleh jadi, karena syaratnya seperti di atas, itulah yang membuat profesi ini agak langka. Sebagian besar orang yang menekuni profesi ini mengaku terperosok dan tidak ada pilihan lain di tengah sulitnya mencari pekerjaan.
Simak saja pengakuan Daniel yang ditemui TRUST saat sedang merawat mayat yang baru tiba. Saya terpaksa waktu itu. Di tengah susahnya mencari pekerjaan, saya coba melamar ke sini [rumah duka St. Carolus] dan ternyata diterima, ujarnya. Mulanya ia sempat ragu untuk meneruskan pekerjaan ini. Namun, setelah berpikir dan merenung, akhirnya Daniel bisa menerima. Kini, setelah lima tahun berselang, ia sudah mahir merawat dan merias mayat dengan apik dan resik, baik mayat pria maupun wanita.

Dari profesi ini, Daniel mengantongi gaji Rp 750 ribu per bulan. Ini belum termasuk tip dari keluarga yang berduka yang jumlahnya cukup bervariasi, minimal Rp 100 ribu. Dengan penghasilan ini, Daniel mengaku mampu menghidupi keluarga kecilnya, istri dan dua orang anak. Pokoknya, dicukup-cukupin, Mas, ujarnya sambil tersenyum.
Kisah kecantol jadi perias mayat yang dialami Lena lain lagi. Pada 1984, ia diutus ke Lampung untuk melakukan pelayanan kerohanian dari Gereja St. Yosep di Mangga Besar, Jakarta. Di sana, ia sempat bertemu dan akrab dengan seorang perempuan cantik, primadona di kampungnya. Pertemuan itu hanya sesaat saja.

Singkat cerita, perempuan cantik itu kemudian menetap di Jakarta. Namun, malang tak dapat ditolak, ia menderita kanker leher rahim stadium lanjut hingga akhirnya meninggal dunia. Saya merasa bertanggung jawab untuk merawat mayatnya, tutur Lena.

Dari situlah ia mulai mengenal dan tertarik menggeluti profesi ini. Sampai-sampai, di kalangan perias mayat rumah duka Atmajaya, ia dikenal sebagai Lena Mayat. Pasalnya, pada ID badge Yayasan Naga Sakti, pengelola rumah duka Atmajaya, tertulis Lena M. Nah, huruf “M “inilah yang kerap dipelesetkan sebagai singkatan dari kata mayat. Kini, Lena harus merawat 5-10 mayat setiap bulan. Soal penghasilan, ia hanya menyebut kisaran antara Rp 1,5 juta dan Rp 2 juta per bulan, belum termasuk tip minimal Rp 100 ribu.

Pendapatan yang diperoleh Daniel dan Lena sebagai perias mayat tersebut memang bagian dari biaya prosesi pemakaman yang digelar rumah duka tempat mereka bekerja. Kisaran biaya prosesi tersebut sangat relatif. Sebab, kata Rantje dari rumah duka St. Carolus, hal itu berkaitan dengan harga peti mati yang berkisar antara Rp 1 juta dan Rp 25 juta. Khusus untuk keluarga yang tidak mampu, St. Carolus membebaskan segala macam biaya termasuk penyediaan peti jenazah.

Sementara itu, rumah duka Atmajaya memasang tarif sedikit lebih mahal. Konon, pelanggannya adalah orang-orang yang berkantong tebal, khususnya yang beragama Hindu dan Nasrani. Tak heran jika harga petinya berkisar antara Rp 10 juta dan ratusan juta rupiah. Harga ini sudah meliputi peti, perawatan mayat, sewa tempat, dan dekorasi ruangan.

ORANG ASING LEBIH RUMIT
Bagaimana mengurus mayat orang asing? Baik Daniel maupun Lena sepakat bahwa prosesnya lebih rumit. Dimulai dari persiapan peti mati khusus yang harganya minimal Rp 9 juta, pengurusan dokumen, mengurus mayat, hingga mengantarkannya sampai ke negeri asal. Pengiriman mayat harus dilengkapi dokumen keimigrasian dan segel dari Bea dan Cukai.

Karena prosesnya yang rumit, sedikit sekali orang berpengalaman yang mengurus jenazah orang asing. Mungkin hanya Josaphat R. Ranuadmadja (Yosef) yang mampu melaksanakannya. Ia, yang kini berusia sekitar 70 tahun, menekuni pekerjaan tersebut sejak 1983 di Balikpapan, Kalimantan Timur, lewat Yayasan Kasimo. Orang asing yang menggunakan jasanya merupakan karyawan perusahaan modal asing dan lokal di situ.

Kasus Busang pada medio 1990-an meninggalkan kesan mendalam bagi Yosef. Ialah yang mengurus jenazah Antonio de Guzman, geolog penemu cadangan emasterbesar di dunia. Konon, de Guzman tewas bunuh diri meloncat dari helikopter ketika skandal terbuka. Mayatnya sudah rusak ketika ditemukan sepuluh hari kemudian. Pihak kepolisian kesulitan membersihkannya. Akhirnya, Saya masukkan empat liter cairan Baygon lewat anus, dipompa dengan kompresor untuk mengusir belatung, ujar Yosef. Ia ikut dalam proses evakuasi jenazah dari pedalaman Kalimantan Timur hingga mengantar ke Manila.

Begitulah liku-liku profesi perias mayat. Kehadirannya sangat bermakna ketika semua orang tengah berduka. Ia membereskan semuanya, membuat yang meninggal tampak cantik atau gagah, sehingga yang ditinggal tidak begitu bersedih.

Sumber : Majalah TRUST

Susah Melompat Terlalu Jauh


Saat ini makin banyak industri yang berinvestasi untuk mengembangkan produknya. Perusahaan pun kini banyak memburu orang yang ahli membuat desain produk.

BOLEH dibilang hampir semua barang yang kita pergunakan sehari-hari tak lepas dari sentuhan seorang desainer produk. Entah itu peniti, pulpen, telepon genggam, kendaraan bermotor, hingga pesawat terbang. Ironisnya banyak orang bahkan industriwan belum mengenal profesi ini. Singkat kata, hanya sedikit industri yang menggunakan keterampilan mereka.
Padahal menurut Janardana Gandasubrata, seorang desainer produklah yang memadukan beragam fungsi sehingga sebuah benda enak dipandang dan digunakan. Mereka menggabungkan fungsi estetis, material, dan fungsional serta ergonomi sehingga disukai konsumen. Dan untuk menggabungkan tiga fungsi itu bukanlah pekerjaan yang gampang. Tidak semua visi dipenuhi dalam sebuah desain, ada yang menonjolkan estetisnya, ada yang menonjolkan fungsionalnya,ujar desainer produk PT Indovickers Furnitama kepada TRUST.

Umpamanya saja sebuah kursi. Menurut Janardana, sebuah kursi yang bagus kadang tidak memenuhi aspek fungsional. “Kalau diduduki bisa enggak enak, katanya. Tapi, ia menambahkan, kursi seperti itu masih bisa diproduksi karena barangkali orang akan membelinya untuk barang pajangan di sudut rumah.Di sebuah industri, desainer produksi alias despro seolah berfungsi sebagai jembatan antara bagian marketing dan produksi. Biasanya bagian marketing mendapat input tentang hasil penjualan yang bisa menggambarkan kecenderungan selera pasar. Dengan informasi itu despro lalu menerjemahkannya dalam bentuk visual. “Biasanya marketing memiliki data yang menjelaskan selera pasar yang tersegmentasi itu, ujar Hendro Witjaksono, desainer produk PT Kreasindo Jayatama Sukses.

Selain itu, dalam mendesain, despro harus paham betul siapa konsumen yang menjadi sasaran produknya. Ia juga harus tahu, dipatok dengan harga jual berapa benda hasil rancangannya itu. Karena itu, saat menarik garis pada desain grafis, seorang despro harus menemukan bentuk yang memungkinkan diproduksi secara massal dengan harga yang telah ditentukan sebelumnya,tutur Hendro.

Syarat lain, seorang despro mesti bisa bekerja di dua bidang, yakni teknik dan seni. Tak pelak mereka juga mesti terampil menggambar sketsa. “Karena seorang despro pertama kali harus menuangkan gagasannya dalam bentuk sketsa dua dimensi, ujar Hendro.

Tak hanya itu. Seorang desainer produk juga harus punya kemampuan seorang teknisi yang mengerti benar apakah benda yang akan dibuat itu bisa diproduksi dengan mudah. Untuk itu despro harus mengenal sifat-sifat materi dengan baik, apakah itu logam, kayu, atau benda-benda kimia lainnya. Ini juga menjadi alasan lain kenapa despro disebut profesi gabungan antara seni dan teknik. “Despro tidak hanya menciptakan visualisasi dengan baik, tapi juga harus paham cara mewujudkan rancangannya dan dengan materi apa rancangan itu dibuat,tutur Janardana menjelaskan.

Karena seorang despro harus mewujudkan desainnya dalam bentuk jadi, tak jarang dia juga harus memotong besi, menggerinda, mengelas, mengamplas, dan mengecatnya bila perlu. Makanya jarang ada cewek yang tertarik menjadi desainer produk, karena pekerjaannya seperti tukang, kata Hendro.

Menurut Zainuddin Eko Putro, despro PT Malka, perusahaan furnitur yang berlokasi di daerah Cikarang, proses kerja seorang despro lumayan panjang. Mula-mula ia mengumpulkan data-data yang biasa diperolehnya dari marketing. Ia juga mendapat data berupa produk yang sedang tren dan desain yang sudah out of date serta produk kompetitor yang sedang booming.

Dan seperti laiknya desainer pada umumnya, seorang despro pun mesti mengikuti perkembangan desain dunia. Hendro misalnya, agar tak ketinggalan, dia sering kali menjelajah perkembangan desain mobil di internet dan berbagai majalah. Tapi tak hanya majalah mobil yang ia baca, majalah gaya hidup pun disantapnya. Dari membuka-buka majalah itulah, dia bisa mendapatkan inspirasi membuat garis-garis saat mendesain. “Kami bisa terinspirasi dari benda-benda yang sering digunakan konsumen dalam segmen tertentu, katanya.

Selain itu, dari hasil penjelajahannya lewat majalah dan internet, seorang despro bisa menguji apakah sebuah desain bisa diterapkan di Indonesia. Diuji? Ya, karena tidak semua model mobil baru, misalnya, bisa diterapkan di Indonesia. Penyebabnya, kata Hendro, selera desain masyarakat Indonesia tertinggal beberapa tahun dari negara lain. “Karena itu tidak semua model baru bisa diterapkan di sini, mobil bisa tidak laku, ungkap desainer yang mengaku bergaji Rp 3 juta sebulan ini.

Hendro lantas menceritakan sebuah pengalaman uniknya. Suatu ketika ia dan beberapa rekannya mendesain truk dengan model yang sangat futuristik. Saat dipamerkan, banyak orang GAIKINDO yang menilai desainnya bagus. Tapi perusahaan otobus merasa heran dengan desain itu, ujarnya mengenang. Menurut mereka, desainnya tidak mungkin diterapkan di Indonesia karena selera pasar masih pada model-model lama. Dari pengalaman itu ia belajar untuk tidak mendesain produk yang terlalu jauh dari model yang sudah ada. Kalaupun harus ada inovasi model, cukup satu atau dua tingkat di atasnya. Kami sih inginnya melompat jauh, tapi masyarakat belum bisa menerima,ungkapnya.

Setelah mendapatkan ide, proses selanjutnya adalah mempelajari kelemahan dan kelebihan produk itu. Juga, produk kompetitor baik dari sisi kualitas maupun harga. Kemudian despro, engineering, dan marketing menganalisis secara bersama-sama. Mereka meninjau desain itu dari sudut pandang tiap-tiap departemen, kata Zainuddin yang tercatat sebagai alumnus ITS jurusan Desain Produk tahun 1998.

Setelah tercapai kesepakatan, hasil pertemuan itu diolah kembali oleh despro. Setelah despro menindaklanjutinya dengan membuat sketsa untuk mengungkapkan ide-ide yang akan didiskusikan, lalu diambil beberapa alternatif. Biasanya kami mengambil maksimal tiga sketsa untuk dibuat dua dimensional dan tiga dimensional. Setelah itu dirapatkan lagi secara intern, terutama dengan owner dan marketing,ujar Zainuddin. Dari pertemuan itu, diambillah satu alternatif untuk dibuat mock-up atau prototipe.

Bukan berarti dengan selesainya prototipe itu kerja seorang despro sudah berakhir. Hasil prototipe itu akan dibahas lagi dengan mempertimbangkan masukan-masukan dan pengembangan-pengembangan lain dari pihak terkait. Jika semua sepakat, artinya produk yang masih berupa desain itu siap diproduksi secara massal.

Lebih suka beli lisensi ketimbang merancang sendiri
Di Indonesia, sebenarnya profesi ini mulai ada sejak tahun 1980-an. Saat itu Institut Teknologi Bandung mulai menelurkan lulusannya di bidang ini. Tapi dunia industri belum banyak yang membutuhkan sehingga banyak lulusan desain produk lari ke desain grafis, ujar Maya Rakhmi, Design & Engineer PT Indovickers Furnitama. Lulusan Institut Teknologi Sepuluh November tahun 2001 itu adalah salah satu dari sedikit desainer produk perempuan yang terjun di bidang ini. “Kalau tidak salah, baru saya desainer produk wanita yang terjun di bidang ini”,katanya mengaku.

Hal lain yang membuat profesi ini kurang dikenal adalah karena baru sedikit industriwan yang mengenal profesi ini. “Hanya beberapa perusahaan saja yang mengenal profesi ini. Lagi pula, banyak perusahaan yang lebih suka melakukan copy and development dari pada research and
development,” ujar Hendro.

Selain itu banyak industri yang belum merasa butuh. Karena, demikian kata Maya, sering kali industri lokal hanya memunculkan produk yang desainnya beda sedikit dari produk yang sudah ada. Mereka merasa lebih yakin dengan membeli lisensi dari perusahaan luar negeri. Alasannya, biayanya lebih murah dibanding jika harus merancang desain sendiri.

Saat ini, industri yang benar-benar mengakui adanya desainer produk di Indonesia baru industri otomotif, elektronika, dan mebel. Meski begitu, Hendro, Zainuddin, Janardana, maupun Maya pun optimistis dengan masa depan profesi ini. Sebab, ungkap Maya, selain apresiasi dan kesadaran akan desain di Indonesia semakin tinggi, “Perlahan tapi pasti semakin banyak industri yang mulai memakai despro”, ujar wanita yang mengaku bergaji antara Rp 2 juta dan Rp 3 juta per bulan ini.

Sumber : Majalah TRUST

Sang Pencipta Dunia Baru


Bibit-bibit animator lokal mulai bermunculan. Meski bakat menjadi modal utama profesi ini, tak sedikit yang berhasil karena tekun mempelajarinya.

Suasana ruang itu lebih mirip sebagai kamar pribadi daripada tempat kerja. Sebuah poster pahlawan animasi yang berukuran cukup besar menempel di dinding. Di pojok, berdiri sebuah lemari kecil yang penuh dengan disk film dan software. Sebuah dipan dan kulkas kecil berdampingan mengisi sudut lain ruangan.

Hampir tidak ada yang aneh di ruang tersebut, kecuali perangkat keras yang memenuhi ruang itu. Ada empat buah komputer berderet dan sebuah monitor. Di atas tempat tidur tergolek sebuah laptop. Jangan salah, ruang ini bukan tempat reparasi komputer. Kamar itu adalah tempat kerja seorang animator alias tukang membuat rangkaian gambar hidup di layar kaca.Adalah Patar Ferry Christian Pardamaean Napitupulu, seorang animator freelance yang menyulap ruang garasi rumahnya menjadi tempat kerja sekaligus kamar tidur. Ruang seluas sekitar 15 meter dan peralatan seharga tak kurang dari Rp 50 juta itu kini menjadi kebanggaannya.

Padahal, merunut masa lalu, Patar perlu perjuangan yang tak mudah untuk meraih itu semua. Ketika merintis kariernya enam tahun lalu, banyak orang yang menganggap profesi animator tak dapat menjanjikan sebuah hidup yang layak. “Ketika saya mau menekuni profesi ini, orang tua bilang itu tidak akan ada uangnya,tuturnya.

Namun, boleh jadi kini orang tua Patar menyesali ucapannya. Faktanya, profesi itu kini menjadi salah satu pekerjaan yang menjanjikan. Besarnya fulus yang beredar di bisnis animasi membuat sejumlah orang tak ragu lagi untuk mengucurkan dana. Tengok saja salah satu kantor griya animasi Dimensia yang terletak di sebuah apartemen cukup mewah di kawasan bisnis Cempaka Mas di Cempaka Putih, Jakarta.

Lantai delapan apartemen yang sebenarnya untuk rumah hunian itu disulap menjadi kantor. Warna-warni cerah menghiasi dindingnya. Pada salah satu ruang yang terletak di sudut berjajar sepuluh komputer terbaru lengkap dengan peranti multimedia.

Peranti komputer dengan spesifikasi terbaru memang menjadi salah satu senjata seorang animator. Seperti layaknya ilustrator, tugas utama seorang animator adalah menggambar. Bedanya, media gambar mereka tidak lagi kertas lusuh di atas meja dengan penerang seadanya. Seluruh proses kerja animator, mulai membesut gambar, memberi tekstur warna atau merangkai adegan, dilakukan dengan komputer.

Meski terlihat sederhana, untuk menghasilkan sebuah gambar animasi tidaklah mudah. Minimal ada dua tahapan kerja yang mesti dilakukan. Pertama adalah proses animad alias membuat desain model, membangun cerita dan gambar, serta menentukan angle kamera. Selanjutnya hasil kerja itu dimasukkan ke dalam komputer. Sementara proses kedua adalah pasca-animad, yaitu mengedit dan memberi pencahayaan, efek, musik, dan suara.

Tak pelak, karena berhubungan dengan program-program komputer, untuk menggeluti profesi ini, selain mesti jago menggambar, seorang calon animator juga harus menguasai teknologi. Tidak heran jika saat ini yang menekuni profesi animator umumnya jebolan perguruan tinggi, dengan jurusan-jurusan yang dekat dengan desain. “Kebanyakan dari jurusan arsitektur, ujar Deswara Aulia, produser eksekutif rumah produksi Dimensia.

Bermunculan sekolah dengan jurusan animasi
Seorang animator, ujar Deswara, umumnya juga mempunyai hobi yang sama. Biasanya mereka menyukai membaca komik dan menonton film. Banyak pula yang menempuh profesi ini karena hobi tadi. “Saya suka sekali membaca komik dan menonton film,ujarnya.

Saking sukanya, hampir setiap hari dia menonton film. Bahkan sebuah film animasi bisa ditontonnya berkali-kali. Film The Lord of the Ring misalnya, ditontonnya hingga puluhan kali. “Dari menonton, saya mendapat banyak ide tentang desain, kata animator yang pernah bekerja di banyak rumah produksi ini.

Namun menurut Patar, meski kebanyakan yang menekuni profesi itu adalah jebolan universitas, untuk menggelutinya tidaklah sulit. Bahkan itu bisa dilakukan secara autodidak. Caranya dengan banyak membaca buku tentang animasi dan rajin mengutak-atik komputer.

Hal paling membantu, ujar Patar, adalah dengan mengikuti mailing list pencinta animasi di luar negeri. Dari sana pula ia terus tertantang untuk dapat membuat animasi. Jika dikirimi gambar animasi yang bagus, saya seperti tertantang untuk dapat membuatnya. Saya juga tanya-tanya bagaimana cara membuatnya,ujarnya.

Rupanya meningkatnya minat orang untuk mempelajari ilmu animasi ini mendapat respons cepat dari lembaga pendidikan. Sejak dua tahun lalu mulai bermunculan sekolah yang membuka jurusan animasi. Paling tidak di Jakarta terdapat lebih dari lima sekolah animasi seperti Digital Studio, Cyber Media, Lasalle Colege, Next Academy, dan Institut Kesenian Jakarta.

Hanya saja, ujar Deswara, sekolah tidak menjamin seseorang menjadi animator yang baik. Masih ada hal lain yang harus dipelajari oleh seorang animator pemula, yaitu melatih kepekaan. Bagian ini rupanya yang paling sulit. “Ini tidak bisa dipelajari, cetus alumnus Arsitektur Universitas Parahyangan itu, “Ini terbentuk sendiri melalui jam terbang.

Bagi Deswara, profesi ini memang cukup unik. Sebagai animator, ia merasa seperti pencipta suatu dunia yang tidak mengacu sama sekali dengan realitas. Seorang animator benar-benar seperti mencipta dari nol, dari sesuatu yang sebelumnya belum ada sama sekali. “Sepertinya menciptakan sebuah dunia baru, katanya.

Dan karena masih baru, demikian Deswara, sampai sekarang masih sedikit orang yang terjun di profesi ini. Mungkin, belum sampai seratus orang yang benar-benar total terjun ke bidang ini. Apalagi yang menguasai berbagai spesialisasi animasi. Misalnya, untuk spesialis character animation yang bertugas mendesain suatu obyek sehingga benar-benar tampak hidup dan bernyawa. Demikian pula dengan spesialis visual efek animasi yang bertugas memberi efek-efek tertentu pada gambar. Saat ini untuk kedua bidang itu tidak lebih dari lima orang yang dianggap benar-benar menguasai.

Tak pelak, karena masih langka dan banyak yang membutuhkan, harga jual profesi ini pun semakin tinggi. Seorang animator freelance seperti Patar biasanya mematok harga berdasarkan lama kerja dan tingkat kesulitan pengerjaan. Bayaran yang mereka peroleh dihitung berdasarkan proyek. Jika mengerjakan animasi iklan, bayarannya dihitung per iklan. Sementara, untuk sinetron dihitung per episode.

Waktu pengerjaan proyek pun umumnya bervariasi. Tergantung suasana hati dan keseriusan,ujar Patar. Tetapi untuk sinetron, Patar sudah mematok satu episode selesai dalam waktu satu minggu, sedangkan untuk iklan biasanya lebih cepat, sekitar 3 hari. Tapi itu semua tergantung juga tingkat kesulitannya, ujarnya.

Saat ini sebagai freelancer, ia dipastikan menyelesaikan satu episode sinetron per minggu. Harga satu episode yang ia patok ke rumah produksi adalah Rp 5 juta per episode. Artinya, dalam satu bulan Patar mempunyai pendapatan pasti sekitar Rp 20 juta.

Kocek Patar akan makin menggelembung jika ditambah proyek lainnya, seperti membuat iklan dan company profile sebuah perusahaan. Wajar apabila Patar berani meninggalkan pekerjaan lamanya sebagai animator tetap di Starvision. “Padahal saya digaji sebulan Rp 10 juta di sana, ujarnya.

Hanya saja, seorang animator freelance harus siap bekerja berdasarkan musiman. Artinya order pembuatan animasi tak selalu banyak sepanjang tahun. Musim paling ramai untuk para animator adalah ketika tahun ajaran baru. Biasanya pada saat itu banyak iklan yang menggunakan tenaga animator. “Akhir tahun biasanya [order] sepi. Untung saja masih ada sinetron yang ada terus sepanjang tahun,ujar Patar.

Sementara, animator yang bekerja di griya produksi pembayarannya dilakukan dengan sistem gaji tiap bulan. Biasanya seorang animator dengan kualitas biasa saja akan mendapat bayaran sekitar Rp 2,5 juta per bulan. “Sedangkan yang memiliki kualitas lebih baik akan mendapat gaji minimal Rp 5 juta,ujar Patar.

Nah, yang punya bakat menggambar silakan mencoba.

SIAPA DIBALIK KREASI LOGO-LOGO GOOGLE?


Google adalah salah satu Search Engine terbesar dan paling populer setelah Yahoo!. Google bukan hanya inovasi – inovasi teknologi terkini yang banyak dikembangkan,tetapi masalah logo pun mereka yang paling menarik, seperti perayaan tahun baru, olimpiade kemaren, atau peringatan-peringatan lainnya.

Lalu pertanyaannya,siapakah di balik kreasi logo-logo Google? Dennis Hwang (Hwang Jeong-mok) adalah desainernya. Dennis adalah warga Korea-Amerika, lahir di Knoxville , Tenesse dan di kampung halamannya di Korea (Gwacheon) ia dibesarkan.

Dennis adalah pelukis Doodle yang selalu mengambar logo logo Google yang biasa ditampilkan di hari penting, festival, ataupun holiday. Doodle sendiri adalah logo Google yang ditampilkan itu. Sekarang, Dennis menduduki posisi sebagai international webmaster di google.

Dia mulai menggambar logo nyentrik untuk hari-hari raya pada google dalam peringatan Bastile Day, pada tanggal 14 juli 2000 berdasarkan permintaan dari Larry Page dan Sergey Brin. Nah ini adalah video Dennis sedang menunjukan bagaimana ia menggambar logo Google dengan pensil ajaibnya..

Ketika Google mengadakan kompetisi untuk melukis Doodle ke anak-anak, Dennis Hwang sempat memberikan tips.. Semoga bermanfaat untuk adik-adik sekalian walaupun tidak relevan tapi tetapi aja tips yang sangat bagus dijadikan masukan..

1. Make sure your design complements the shape of the letters in the Google logo, but don’t let that restrict your creativity. Pastikan design kamu cocok dengan bentuk dari huruf didalam logo Google, tapi jangan biarkan itu membataskan kreatifitas kamu

2. Experiment with different media to see which one works best for your design (you can even create your doodle on your PC). Eksperimenkan dengan berbagai media (tools) untuk melihat yang mana paling cocok dengan design kamu (kamu juga bisa membuat doodle kamu di pcmu sendiri)

3. Don’t over-complicate your design & simpler images often have the most impact. Jangan membuat design anda terlalu ribet, gambar2 yang simple mempunyai impact paling besar

4. Remember that your design could end up on the Google homepage, so imagine how it will look on screen. Ingat bahwa design kamu mungkin berakhir di halaman utama Google, jadi bayangkan bagaiman kira2 tampilannya dalam layar Google

5. To find inspiration around the “What I Wish for the World?” theme, try thinking about the future and how you would like it to differ from the present. Untuk mencari inspirasi tema “What I Wish for the World?”, coba pikirkan masa depan dan apa yang kamu jadikan beda dengan sekarang.

6. Remember to use color well and think about how it interacts with a white background. Ingatkan selalu menggunakan warna dengan benar dan bagaimana warnanya berinteraksi dengan sebuah background putih

7. Avoid commercial or copyrighted images. Hindari unsur komersial dan gambar yang di copyright

8. Think outside the box & try to create a doodle that’s different from your classmates and hasn’t been done before. Mainkan imaginasi kamu, coba buat sebuah doodle yang beda dengan yang lain dan belum pernah dibuat sama sekali.

9. Feel free to use the space behind and in front of the Google letters, but try to maintain your design’s overall balance. Silahkan gunakan ruang kosong dibelakang ataupun didepan huruf Google, tetapi coba seimbangkan design kamu

10. Have fun! “Doodle 4 Google” is all about creativity and enjoying designing fun things. Think about how you want to change the world. Have fun! “Doodle 4 Google” adalah gak lain tentang creativity dan menikmati membuat sesuatu yang fun

Sumber : wordfusion.co.cc

%d blogger menyukai ini: