Posts from the ‘MANAJEMEN PENELITIAN’ Category

Mengenal Roadmap (Peta jalan) penelitian


Peta jalan penelitian memberikan gambaran yang jelas tentang sPETA+JALAN+(ROADMAP)+PENELITIANtatus kegiatan yang diusulkan oleh ketua tim, terhadap hasil kegiatan sebelumnya (dari pustaka dan karya sendiri) dan terhadap kemungkinan pengembangan kegiatan tersebut di masa depan dan diakhiri dengan tujuan yang ingin dicapai.  Rekam jejak kerjasama penelitian yang sudah berlangsung selama ini dan hasilnya (bila sudah ada) serta peta jalan (road map) penelitian kerjasama tersebut secara garis besar.

A.Definisi Roadmap .

Peta pemikiran dan hasil penelitian yang ada terkait tema penelitian (jurnal) (state of the art), hasil penelitian yang telah dilakukan peneliti sebelumnya dan posisinya dalam peta pemikiran, rencana pengembangan luaran ke depan, rencana dan tahapan riset yang akan dialakukan mendukung luaran yang akan dicapai

B. Isi dari Roadmap Penelitian.

Roadmap mencakup kegiatan penelitian yang telah dilakukan pengusul beberapa tahun sebelumnya dalam topik ini, penelitian yang direncanakan dalam usulan ini, serta rencana arah penelitian setelah kegiatan yang diusulkan ini selesai. Road map penelitian atau peta jalan penelitian memiliki tiga komponen penting yang harus saling terkait satu dengan yang lainnya.  Ketiga komponen tersebut adalah:

  1. Aktifitas penelitian yang telah dilakukan,
  2. Aktifitas penelitian yang pada periode ini akan dilakukan, dan
  3. Aktifitas penelitian pada periode berikutnya yang akan menuntun seorang peneliti mencapai tujuan akhirnya.

Dengan demikian jelas bahwa peta jalan akan dapat memperlihatkan keterkaitan antara aktifitas penelitian yang telah, sedang dan akan dilakukan oleh seorang peneliti. sedangkan berdasarkan Standar kemenristekdikti tentang roadmap adalah :

  1. Mile stones kegiatan penelitian dalam ruang waktu tertentu (5-20 tahun) yang dilakukan oleh peneliti (mono disiplin) dan atau kelompok peneliti baik secara multidispliner atau intra/inter disiplin atau industri R&D
  2. Peta jalan R & D (Research & pengembangan), peta jalan teknologi dan peta jalan produk.
  3. Satu peta jalan penelitian dapat mencakup 3 bagian sekaligus: risetdasar (R & D), riset terapan (Teknologi) dan riset pengembangan (produk).
  4. Peta jalan sebaiknya ditampilkan sebagai bentuk grafik (sumbu x sebagai waktu, dan sumbu y (sumbu kegiatan penelitian) atau diagram fishbone. Atau bentuk lain diagram, dengan tujuan untuk memudahkan dalam visualisasi peta jalan
  5. Peta jalan penelitian bukan alur penelitian atau metoda
  6. Luaran (outcome) peta jalan dapat berupa hak Kekayaan intelektual (HKI)

Salah satu kekeliruan yang umum terjadi adalah pada saat seorang peneliti membangun road map penelitiannya maka seringkali yang diletakkan pada bagian penelitian terdahulu adalah milik peneliti lain. Hal ini kurang tepat, karena sepatutnya road map penelitian memang menggambarkan aktifitas perseorangan dari seorang peneliti. Road map penelitian dapat dibuat dalam berbagai bentuk diagram seperti misalnya fishbone diagram ataupun diagram dalam bentuk lainnya selama substansinya tetap tersampaikan.

C. Unsur-unsur dalam penyusunan roadmap.

Roadmap  harus menampilkan dalam rencana penelitian antara lain berhubungan dengan unsur-unsur :

  1. Data SDM, judul, fokus, tema/topik, luaran dan hilirisasi
  2. Proyeksi tantangan dan peluang swot
  3. Pemilihan keunggulan
  4. Proyeksi tahun dan tahapan
  5. Alokasi anggaran, sarana, dan organsiasi
  6. Penetapan tinjauan mutu

Demikianlah semoga bermanfaat bagi semua.

Iklan

Publikasi hasil penelitian skripsi?


Sebuah pertanyaan besar kenapa baru sekarang diberlakukan setelah budaya teksbook kita begitu kuat dalam kurikulum pendidikan kita, mahasisiwa terbiasa dengan hapalan-hapalan teks yang tak berimbang dengan apliaksi kasus. Sehingga mereka terbiasa dengan asupan-asupan imu dalam diktat dan buku paket yang baku yang tidak mengarah pada apresiasi dan kreatiftas kita.

Mereka hebat berteori tapi lemah dalam aplikasi. Saat skripsi mereka membolak-balikan  hasil skripsi sudah menjadi budaya sehari-hari di perpustakaan kampus. mereka skripsi hanya melihat karya orang lain dan menduplikasikannya, kalau bisa dbuatkan sekripsi yang bertebaran di sudut kampus Apalagi persepsi penelitian sekedar syarat kelulusan bukan untuk pembuktian kualitas mereka sebagai intelektual dan  pembelajaran mereka selama delapan semester kuliah di perguruan tinggi.

Begitu juga karya ilmiah dan hasil riset dosen di Indonesia sangat kurang mendapat perhatian, kurangnya subsidi bagai penelitian, belum ada publikasi luas sebatas jurnal kampus atau hanya sekedar persyaratan sertifikasi dosen atau kepangkatan yang bisa copy paste dan hanya formalitas semata.orang lain  Lebih parah lagi dengan budaya plagiator dikalangan ilmuwan, seperti tahun 90-an Ismet Fanany menuduh desertasi hasil karya Dr. Yahya Muhaimin dalam judul “Bisnis Dan Politik Di Indonesia” sebagai duplikasi dari karya ilmuwan Australia Dr. Richard robinson, “Capitalism An The Bureaucratic State In Indonesia” [1]

Walaupun begitu kebijakan baru untuk mewajibkan kelulusan setelah hasil karya ilmiah mereka S1, S2 dan S3 harus terpublikasikan secara nasional. Sebuah gebrakan baru yang sebenarnya sudah diterapkan dinegara lain, walaupun dirasakan apriori mengenai beberapa hal yang harus dipikirkan oleh pemerintah dalam hal ini dikti dalam hal :

  1. Siapa yang menjadi media publikasi nasional, bagi PTN jelas dari pemerintah resmi dalam hal ini mendiknas, lalu PTS dengan bermacam grade kulaitas-nya.
  2. Berapa jumlah calon sarjana yang harus ngantri untuk dipublikasikan, kualitas karya ilmiahnya bagaimana yang gagal, kapan kelarnya?
  3. kualitas pembimbing riset yang alakadarnya  dan bagaimana fee, termasuk resiko semakin menumpuk calon sarjana yang tertunda dengan kebijakan ini terutama kampus yang kualitasnya masih dibawah standar nasional.

Kita akui program publikasi hasil penelitian ini akan meningkatkan budaya penelitian yang kuat setelah mereka menjadi sarjana, karena merasa hasil penelitian mereka terbaca semua orang dan menjadi promosi personal. Tapi masalah diatas terutama media publikasinya benar-benar qualified dan memikirkan kualitas PTS yang masih belum standar baik dalam perangkat kuirkulum maupun infrastruktur. Sebanrnya seandainya mau secara bertahap dengan memperhatikan dosen untuk meningkatkan kegiatan penelitian dan menyediakan penerbitan dengan memperhatikan royalty ilmiah mereka sehingga memberikan motivasi penelitian mereka semakin kuat, plus ada bantuan yang proporsional antara dosen negeri dan swasta untuk riset.

[1] Plagiat-plagiat dim it tragedy akademis di indonesia, ismet fanany, KOMPAS, 22 November 1992.

REFERENSI JURNAL UNTUK MENENTUKAN UKURAN SAMPEL


Ada beberapa referensi yang bermanfaat untuk dijadikan pedoman penentuan ukuran sampel, diantaranya :

Bartlet., J.E, Kotrlik. J.W, Higgins, C.C. (2001). Organizational Research: Determining Appropriate Sample Size in Survey Research. Information Technology, Learning, and Performance Journal, Vol. 19, No. 1, Spring 2001

Lewis. K.P. (2006). Statistical Power, Sample Sizes, and the Software to Calculate Them Easily. BioScience, Vol. 56, No. 7 (July 2006), pp. 607-612

Ejigou, A. (1996). Power and Sample Size for Matched Case-Control Studies. Biometrics, Vol. 52, No. 3 (Sep., 1996), pp. 925-933

Guenther, W.C. (1977). Power and Sample Size for Approximate Chi-Square Tests. The American Statistician, Vol. 31, No. 2 (May, 1977), pp. 83-85

Harris, R.J, Quade, D. (1992). The Minimally Important Difference Significant Criterion for Sample Size. Journal of Educational Statistics, Vol. 17, No. 1 (Spring, 1992), pp. 27-49

Jun-mo Nam. (1998). Power and Sample Size for Stratified Prospective Studies Using the Score Method for Testing. Biometrics, Vol. 54, No. 1 (Mar., 1998), pp. 331-336

Shieh, G. (2000). On Power and Sample Size Calculations for Likelihood Ratio Tests in Generalized Linear Models. Biometrics, Vol. 56, No. 4 (Dec., 2000), pp. 1192-1196

Jiroutek, M.R, et. al. (2003). A New Method for Choosing Sample Size for Confidence Interval-Based Inferences. Biometrics, Vol. 59, No. 3 (Sep., 2003), pp. 580-590

Luis Saldanha and Patrick Thompson. (2003). Conceptions of Sample and Their Relationship to Statistical Inference. Educational Studies in Mathematics, Vol. 51, No. 3 (2002), pp. 257-270

Woolson R.F, et.al. (1986). Sample Size for Case-Control Studies Using Cochran’s Statistic. Biometrics, Vol. 42, No. 4 (Dec., 1986), pp. 927-932

William C. Guenther. (1981).  Sample Size Formulas for Normal Theory T Tests. The American Statistician, Vol. 35, No. 4 (Nov., 1981), pp. 243-244

Connor R.J. (1987). Sample Size for Testing Differences in Proportions for the Paired-Sample Design. Biometrics, Vol. 43, No. 1 (Mar., 1987), pp. 207-211

Sumber : http://teorionline.wordpress.com/category/metodologi-penelitian/

 

INSTRUMEN PENGUMPULAN DATA


 

A. Metode dan Instrumen Pengumpulan Data

Dari arti kata kedua istilah tersebut segera dapat dikemukakan pengertiannya demikian:

“Metode pengumpulan data adalah cara-cara yang dapat digunakan olph peneliti untuk mengumpulkan data”

“Cara” menunjuk pada sesuatu yang abstrak, tidak dapat diwujudkan dalam benda yang kasat mata, tetapi hanya dapat dipertontonkan penggunaannya. Terdaftar sebagai metode-metode penelitian adalah: angket (questionnaire), wawancara atau interviu (interview), pengamatan (observation), ujian atau tes (test), dokumentasi (documentation), dan lain sebagainya.

2.  Instrurnen pengumpulan data adalah alat bantu yang dipilih dan digunakan oleh peneliti dalam kegiatannya mengumpulkan agar kegiatan tersebut menjadi sistematis dan dipermudah olehnya.

“Instrumen penelitian” yang diartikan sebagai “alat bantu” merupakan saran yang dapat diwujudkan dalam benda, misalnya angket (question­naire), daftar cocok (checklist) atau pedoman wawancara (interview guide atau interview schedule), lembar pengamatan atau panduan pengamatan (observation sheet atau observation schedule) soal tes (yang kadang-kadang hanya disebut dengan “ter” saja, inventors (invertory), skala (scale), dan lain sebagainya.

Melihat daftar jenis-jenis metode dan daftar jenis-jenis instrumen tersebut diatas, terdapat istilah-istilah yang sama, yaitu angket dan tes. Dengan demikian ada metode angket dan instrumen angket. Demikian juga ada metode tes dan instrumen tes. Memang instrumen angket digunakan sebagai alat bantu dalam penggunaan metode angket; demikian juga halnya dengan tes. Namun ada kalanya peneliti memilih metode angket tetapi menggunakan daftar cocok sebagai instrumen.

Menurut pengertiannya, angket adalah kumpulan dari pertanyaan yang diajukan secara tertulis kepada seseorang (yang dalam hal ini disebut responden), dan cara menjawab juga dilakukan dengan tertulis. Daftar cocok, menunjuk pada namanya, merupakan kumpulan dari pernyataan atau pertanyaan yang pengisiannya oleh responder dilakukan dengan memberikan tanda centang atau tanda cocok (ü) pada tempat-tempat yang sudah disediakan. Jadi “daftar cocok” sebenarnya merupakan semacam angket juga tetapi cara pengisiannya dengan memberikan tanda cocok itulah yang menyebabkan ia disebut demikian.

Instrumen merupakan alat bantu bagi peneliti di dalam menggunakan metode pengumpulan data. Dengan demikian terdapat kaitan antara metode dengan instrumen pengumpulan data. Pemilihan satu jenis metode pengumpulan data kadang-kadang dapat memerlukan lebih dari satu jenis instrumen. Sebaliknya satu jenis instrumen dapat digunakan untuk berbagai macam metode.

Jika daftar metode dan daftar instrumen tersebut dipasangkan, akan terlihat kaitan dalam tabel berikut ini.

Tabel 1. Pasangan Metode dan Instrumen Pengumpulan Data

 

No. Jenis Metode Jenis Instrumen
1 Angket (questionnaire) Angket (questionnaire)

Daftar cocok (checklist)

Skala (scala), inventori (inventory)

2 Wawancara (interview) Pedoman wawancara (interview guide)

Daftar cocok (checklist)

3 Pengamatan/Observasi (Observation) Lembar Pengamatan, panduan pengamatan, panduan observasi (observation sheet, observation schedule), (checklist).
4 Ujian/Tes (test) Soal ujian, soal tes atau tes (test), inventori (inventory).
5 Dokumentasi Daftar cocok (checklist)

Tabel

 

 

Dari tabel tersebut dapat diketahui bahwa:

  1. Inventors dapat digunakan sebagai angket (tidak digunakan untuk mengetahui sesuatu yang sifatnya “ketat” seperti tes, (misalnya angket minat) tetapil ada yang berkedudukan seperti tes.
  2. Daftar cocok (checklist) dapat digunakan dalam berbagai metode, karena nama “daftar cocok” lebih menunjuk pada cara mengerjakan dan wujud tampiIan instrumen dibandingkan dengan jenis instrumen sendiri.

Mengenai jenis-jenis instrumen yang disebutkan di atas, penulis yakin bahwa para pembaca telah mengenalnya. Dalam buku-buku penelitian sudah banyak diuraikan. Meskipun demikian untuk memperoleh penjelasan menyeluruh tentang metode dan instrumen pengumpul data ini, dalam bagian berikut diberikan sekadar gambaran singkat tentang pengertian dan contoh-contoh instrumen terutama dalam mengenai persamaan dan perbedaannya.

 

1. Angket

Angket, seperti telah dikemukakan pengertiannya di atas, merupakan daftar pertanyaan yang diberikan kepada orang lain dengan maksud agar orang yang yang diberi tersebut bersedia memberikan respons sesuai dengan permintaan pengguna. Orang yang diharapkan memberikan respons ini disebut responden. Menurut cara memberikan respons, angket dibedakan menjadi dua jenis yaitu: angket terbuka dan angket tertutup.

a.  Angket terbuka

adalah angket yang disajikan dalam bentuk sedemikan rupa sehingga responden dapat memberikan isian sesuai dengan kehendak dan keadaannya.

Angket terbuka digunakan apabiia peneliti belum dapat memperkirakan atau menduga kemungkinan altematif jawaban yang ada pada responden.

Contoh pertanyaan angket terbuka:

Penataran apa saja yang pernah Anda ikuti yang menunjang tugas Anda mengajarkan bidang studi yang sekarang Anda ajarkan? Tuliskan apa, di mana, dan berapa lama!

Jawab:

No. Jenis Penataran Tempat Penataran Berapa Hari
1. …………………………. …………………………. …………………..
2. …………………………. …………………………. …………………..
3. …………………………. …………………………. …………………..
4. dan seterusnya kira-kira 5-7 nomor

 

Menggali informasi mengenai identitas responden biasanya dilakukan dengan membuat pertanyaan terbuka. Keuntungan pertanyaan terbuka terdapat pada dua belah pihak yakni pada responden dan pada peneliti:

(1).  Keuntungan pada responden: mereka dapat mengisi sesuai dengan keinginan atau keadaannya.

(2).  Keuntungan pada peneliti: mereka akan memperoleh data yang bervariasi, bukan hanya yang sudah disajikan karena sudah diasumsikan demikian.

 

b.  Angket tertutup

adalah angket yang disajikan dalam bentuk sedemikian rupa sehingga responden tinggal memberikan tanda centang (x) pada kolom atau tempat yang sesuai.

Contoh pertanyaan angket tertutup:

1)  pernahkan Anda memperoleh penataran yang menunjang tugas Anda mengajarkan bidang studi yang sekarang Anda ajarkan?

Jawab: …………………………….  ….a. Pernah ….b. Tidak

  1. Jika pernah, penataran tentang apa saja? (dapat memberikan centang lebih dari satu)

….a.    materi bidang studi

….b.    metode mengajar/strategi belajar-mengajar

….c.    memilih dan penggunaan media/alat pelajaran

….d.    menyusun alat evaluasi

 

c. Angket campuran

yaitu gabungan antara angket terbuka dan tertutup.

Contoh pertanyaan angket campuran:

1)  Pernahkah Anda memperoleh penataran yang menunjang tugas Anda mengajarkan bidang studi yang sekarang Anda ajarkan? Jika pernah berapa kali?

….a.    Tidak pernah (langsung ke nomor 3)

….b.    Pernah, yaitu …kali (teruskan nomor 2)

2)  Penataran tentang apa saja yang Anda ikuti dan berapa hari lamanya?

  1. Materi pelajaran                                           …..hari
  2. Metode mengajar                                         …..hari
  3. Pemilihan dan penggunaan media                  …..hari
  4. Penyusunan alat evaluasi                               …..hari

 

2. Daftar Cocok (Checklist)

Di dalam penjelasan mengenai angket dikemukakan juga bahwa dalam mengisi angket tertutup responden diberi kemudahan dalam memberikan jawabannya. Di lain tempat, yakni di dalam penjelasan umum mengenai instrumen disebutkan bahwa daftar cocok adalah angket yang dalam pengisiannya responden tinggal memberikan tanda cek (ü). Dengan keterangan tersebut tampaknya angket tertutup dapat dikategorikan sebagai checklist. Namur demikian angket bukan khusus merupakan daftar. Daftar cocok mempunyai pengertian tersendiri. Daftar cocok bukanlah angket. Daftar cocok mempunyai bentuk yang lebih sederhana karena dengan daftar cocok peneliti bermaksud meringkas penyajian pertanyaan Berta mempermudali responden dalam memberikan respondennya. Daftar cocok memuat beberapa pertanyaan yang bentuk dan jawabannya seragam. Agar responden tidak diharapkan pada beberapa pertanyaan mengenai berbagai hal tetapi dalam bentuk membaca, maka disusunlah daftar cocok tersebut sebagai pengganti.

Contoh:

Berikan tanda silang tepat pada kolom yang menunjukkan kebiasaan Anda melakukan pekerjaan di rumah yang tertera di bawah ini.

No. Jenis kegiatan di rumah Dikerjakan oleh Anda Dikerjakan bersama Dikerjakan pembantu
1. Menyiapkan makan pagi      
2. Membersihkan rumah      
3. Mencuci pakaian sendiri      
4. Mencuci sprei, korden, dan seterusnya.      
5. Mencuci alat-alat makan …dan seterusnya      

 

Dari contoh di atas dapat diketahui bahwa variasi jawaban yang harus diberikan oleh responden hanya empat macam yakni:. “Dikerjakan oleh Anda”, “Dikerjakan bersama”, dan “Dikerjakan pembantu”. Dengan daftar cocok ini barang kali peneliti hendak mengungkap seberapa besar tanggung jawab responden terhadap pekerjaan di dalam rumah tangga. Jika pertanyaan dan alternatif jawaban tersebut disajikan dalam bentuk angket, alternatif jawaban hanya tiga macam itu akan disebutkan secara berulang-ulang dengan bentuk dan isi yang sama. Daripada memakan tempat padahal responden sudahtahu (dan hafal!) apa yang harus dipilih maka altematif tersebut disingkat dalam bentuk kolom-kolom yang apabila sudah diisi oleh responden terlihat adanyadaftar tanda centang yang disebut daftar cocok. Istilah “daftar cocok” juga dapat datang dari apa yang diharapkan dari responden, yakni memberi tanda cocok atau tanda centang pada daftar pernyataan yang disediakan.

 

3. Skala(scale)

Skala menunjuk pada sebuah instrumen pengumpul data yang bentuknya seperti daftar cocok tetapi alternatif yang disediakan merupakan sesuatu yang berjenjang. Di dalam Encyclophedia of Educational Evaluationdisebutkan: The term scale in the measurement sense, comes from the Latin word scale, meaning “ladder” or “flight of stairs”. Hence, anything with gradation can be thought of as “scaled”. 

Contoh:

Peneliti ingin mengungkapkan bagaimana seseorang mempunyai sesuatu kebiasaan. Alternatif yang diajukan berupa frekuensi orang tersebut dalam melakukan suatu kegiatan. Gradasi frekuensi dibagi atas: “Selalu”, “Sering”,. “Jarang”, “Tidak pernah”. Skala yang diberikan kepada responden adalah sebagai berikut:

No. Jenis kegiatan di rumah Selalu Sering Jarang Tidak Pernah
1. Bangun sebelum jam 5 pagi        
2. Menyiapkan makan pagi        
3. Membersihkan rumah        
4. Mencuci pakaian sendiri        
5. Mencuci perabot rumah tangga… dan seterusnya        

 

Skala banyak digunakan untuk mengukur aspek-aspek kepribadian atauaspek kejiwaan yang lain. Selain skala, penelitian yang berhubungan dengdn aspek-aspek kejiwaan memerlukan jenis instrumen-instrumen pengumpul data lain, baik yang berupa tes, inventori untuk hal-hal umum (general inventories, misalnya Minnesota Multiphasic Personality Inventory – MMPI, dan inventori untuk aspek-aspek khusus (Specific Inventories seperti: Rokeach Dogmatism Scala, Fundamental Interpersonal Relations Orientation – Behavior – FIRO – B, Study of Values, dan lain-lain). Untuk penelitian pendidikan, walaupun dapat dikatakan tidak terlalu sering menggunakan instrumen-instrumen seperti disebutkan, tetapi bagi penelitinya perlu juga mengenal ragam alat pengumpul data aspek-aspek psikologi tersebut.

Problematika pendidikan seperti kerancuan dalam mengikuti pelajaran, lambatnya siswa menyelesaikan studi serta masalah-masalah yang berhubungan dengan proses belajar, menjadi topik yang tetap aktual di kalangan pendidikan sekolah formal. Selain penelitian yang tidak terlalu menyangkut aspek-aspek kejiwaan secara langsung, masih banyak problem pendidikan yang terkait dengan aspek kejiwaan tersebut, misalnya rendahnya prestasi disebabkan rendahnya harga diri siswa. Lemahnya semangat belajar dikarenakan adanya lesu kreativitas dan seterusnya. Itulah sebabnya dalambagian ini akan disajikan pula beberapa contoh instrumen untuk mengungkap aspek-aspek kejiwaan agar para peneliti pendidikan dapat terperinci menggali penyebab timbulnya masalah pendidikan melalui aspek kejiwaan siswa dan guru yang terlibat di dalam kegiatan pendidikan tersebut. Namun demikian untuk dapat menggunakan alat-alat pengungkap gejala kejiwaan seperti tes, inventori khusus dan lain-lain, diperlukan suatu kemampuan khusus. Pada umumnya mahasiswa lulusan faktultas Psikologi dapat diminta untuk membantu melaksanakan pengumpulan data yang diungkap melalui instrumen-instrumen tersebut.

Skala seperti dicontohkan di atas merupakan skala bentuk gradasi dari satu jenis kualitas. Dalam contoh di atas, alternatifnya ada empat sehingga terdapat empat tingkatan kualitas kes eringan. Skala yang berasal dari ide yang dikemukakan oleh Likert dan dikenal dengan skala Likert ini biasanya menggunakan lima tingkatan. Tentu saja peneneliti dapat membuat variabel dengan menyingkat menjadi tiga tingkatan:

Selalu          –  Kadang-kadang       – Tidak Pernah

Baik             –  Cukup                   – Jelek

Besar           –  Sedang                  –  Kecil

Jauh            –   Cukup                  –  Dekat

 

dan dapat pula memperbesar rentangan menjadi lima tingkatan:

Selalu          – Sering Sekali     –  Sering      – Jarang   – Jarang Sekali

Selalu          –  sering sekali      –  Sering      –  Jarang   – Tidak Pernah

Baik Sekali    – Baik                –  Cukup      –  Jelek      –  Jelek Sekali

Besar Sekali  – Besar              –   Cukup       –  Kecil      – Kecil Sekali

 

Misalnya:

Sangat setuju Setuju Abstain Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju
(SS) (S) (A) (TS) (STS)

Pemilihan alternatif diserahkan pada keinginan dan kepentingan peneliti yang menciptaka instrumen tersebut. Ada Jenis lain yang telah dikembangkan oleh Inkels, bukan menyajikan alternative jenjang kualitas untuk sesuatu predikat, tetapi jenjang dari kualitas mini suatu perbuatan. Bentuk skala model. indeks ini menyerupai tes objektif bentuk pilihan ganda, tetapi alternatifnya menunjuk pada gradasi.

 

Langkah-Langkah Dalam Menyusun Instrumen

Secara umum penyusunan instrumen pengumpul data dilakukan dengan penahapan sebagai berikut:

1.  Mengadakan identifikasi terhadap variabel-variabel yang ada di dalam rumusan judul penelitian atau yang tertera di dalam problematika penelitian.

2.  Menjabarkan variabel menjadi sub atau bagian variabel.

3.  Mencari indikator setiap sub atau bagian variabel.

4.  Menderetkan deskriptor dari setiap indikator.

5.  Merumuskan setiap deskriptor menjadi butir-butir instrumen.

6.  Melengkapi instrumen dengan (pedoman atau instruksi) dan kata pengantar.

 

TEKNIK PENGAMBILAN SAMPEL


 

Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi. Ronald (1995) mendefinisikan sampel adalah suatu himpunan bagian dari populasi. Apabila populasi besar dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi, maka dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi. Beberapa teknik sampling ditunjukkan pada gambar:

teknik pengambilan sampelDari gambar teknik sampling dapat diketahui bahwa secara umum terdapat dua kelompok teknik sampling yaitu: (1) probability sampling, dan (2) non-probability sampling.

  1. Probability Sampling

    Non-probability sampling merupakan teknik penarikan sampel yang memberi peluang /kesempatan yang sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk terpilih menjadi sampel. Teknik sampling ini meliputi:

    1. Simple Random Sampling

      Untuk menghilangkan kemungkinan bias, kita perlu mengambil sampel random sederhana atau sampel acak. Pengambilan sampel dari semua anggota populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam anggota poipulasi. Hal ini dapat dilakukan apabila anggota poipulasi dianggap homogen. Teknik sampling ini seperti pada gambar berikut:

      teknik pengambilan sampel

    2. Proportinate Stratified Random Sampling

      Teknik ini digunakan apabila populasi mempunyai anggota/karakteristik yang tidak homogen dan berstrata secara proportional. Sebagai contoh suatu organisasi mempunyai personil yang terdiri dari latar belakang pendidikan yang berbeda yaitu: SLTP, SLTA, S1, dan S2 dengan jumlah setiap kelas pendidikan juga berbeda. Jumlah anggota populasi untuk setiap strata pendidikan tidak sama atau bervariasi. Jumlah sampel yang harus diambil harus meliputi strata pendidikan yang ada yang diambil secara proporsional.

      teknik pengambilan sampel

    3. Disproportionate Random Sampling

      Teknik ini digunakan untuk menentukan jumlah sampel, bila populasi berstrata tetatpi kurang proporsional. Sebagai contoh sebuah perusahaan mempunyai personil sebagai berikut: 3 orang S3, 5 orang S2, 100 orang S1, 800 orang SLTA, dan 700 orang SLTP. Dalam penarikan sampel maka personil yang berijazah S2 dan S3 semuanya diambil sebagai sampel, karena kedua kelompok tersebut jumlahnya terlalu kecil jika dibandingkah dengan kelompok lainnya.

    4. Cluster Sampling (sampling daerah)

      Teknik sampling daerah (cluster sampling) digunakan untuk menentukan sampel bila obyek yang akan diteliti atau sumber data sangat luas, misalnya penduduk suatu negara, propinsi atau kabupaten. Untuk menentukan penduduk mana yang akan dijadikan sumber data, maka pengambilan sampelnya berdasarkan daerah dari populasi yang telah ditetapkan.

      Sebagai contoh Indonesia terdiri dari 30 propinsi, sampel yang akan diambil sebanyak 5 propinsi, maka pengambilan 5 propisnsi dari 30 propinsi dilakukan secara random. Suatu hal yang perlu diingat adalah bahwa karena propinsi yang ada di Indonesia juga berstrata, maka pengambilan sampel untuk 5 propinsi juga dilakuykan dengan menggunakan teknik stratified random sampling. Teknik cluster sampling dilakukan dalam dua tahap yaitu: (1) menentukan sampel daerah, dan (2) menentukan orang-orang yang ada pada daerah dengan cara sampling juga.. teknik ini digambarkan seperti pada gambar berikut:

      teknik pengambilan sampel

  2. Non-probability Sampling

    Non-probability sampling merupakan teknik penarikan sampel yang memberi peluang /kesempatan yang sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk terpilih menjadi sampel. Teknik sampling ini meliputi:

    1. Sampling Sistematis

      Teknik sampling ini merupakan teknik penarikan sampel dengan cara penentuan sampel berdasarkan urutan dari anggota populasi yang telah diberi nomor urut. Sebagai contoh jumlah anggota populasi sebanyak 200 orang. Anggota populasi diberi nomor urut dari no 1 sampai nomor 200. Selanjutnya pengambilan sampel dilakukan dengan memilih nomor urut ganjil, atau genap saja, atau kelipatan dari bilangan tertentu, seperti bilangan 5 dan lainnya.

    2. Sampling Kuota

      Sampling kuota adalah teknik penarikan sampling dari populasi yang mempunyai ciri-ciri tertentu sampai pada jumlah (quota) yang diinginkan. Sebagai contoh akan melakukan penelitian terhadap pegawai golongan II pada suatu instansi, dan penelitian dilakukan secara kelompok. Jumlah sampel ditetapkan 100 orang sementara penelitian sebanyak 5 orang, maka setiap anggota peneliti dapat memilih sampel secara bebas dengan karakteristik yang telah ditentukan (golongan II) sebanyak 20 orang.

    3. Sampling Aksidental

      Sampling aksidental adalah teknik penentuan sampel, berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang secara kebetulan bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila orang yang ditemukan pada waktu menentukan sampel cocok dengan yang diperlukan sebagai sumber data.

    4. Purposive Sampling

      Purposive sampling, adalah teknik penarikan sampel yang dilakukan untuk tujuan tertentu saja. Misalnya akan melakukan penelitian tentang disiplin pegawai, maka sampel yang dipilih adalah orang yang ahli dalam bidang kepegawaian saja.

    5. Sampling Jenuh

      Sampling jenuh adalah teknik penarikan sampel apabila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Hal ini sering dilakukan bila jumlah npopuloasi relatif kecil, kurang dari 30 orang. Istilah lain dari sampling jenuh ini adalah sensus, dimana semua anggota populasi dijadikan sampel.

    6. Snowball Sampling

      Snowball sampling adalah teknik penarikan sampel yang mula-mula dilakukan dalam jumlah kecil (informan kunci) kemudian sampal yang terpilih pertama disuruh memilih sampel berikutnya, yang akhirnya jumlah sampel akan bertambah banyak seperti bola salju yang bergelinding makin lama makin besar.

    7. Sampling Seadanya

      Merupakan pengambilan sampel sebagian dari populasi berdasarkan seadanya data atau kemudahannya mendapatkan data tanpa perhitungan apapun mengenai derajat kerepresesntatipannya. Dalam pembuatan kesimpulan masih sangat kasar dan bersifat sementara.

    8. Sampling Purposif (sampling pertimbangan)

      Sampling purposif dikenal juga dengan sampling pertimbangan, terjadi apabila pengambilan sampel dilakukan berdasarkan pertimbangan perorangan atau pertimbangan peneliti. Sampling purposif akan baik hasilnya di tangan seorang akhli yang mengenal populasi. Cara penarikan sampel ini sangat cocok digunakan untuk studi kasus.

  3. Menentukan Jumlah Sampel

    Untuk dapat menentukan dengan tepat banyaknya jumlah subyek penelitian yang harus diambil, paneliti harus mengetahui terlebih dahulu apa yang menjadi unit analisis dari penelitian. Unit analisis atau satuan subyek yang dianalisis sangat tergantung pada siapa yang diteliti. Apabila penelitian tentang siswa maka sebagai unit analisis adalah siswa.

    Besarnya jumlah sampel sering dinyatakan dengan ukuran sampel. Jumlah sampel yang meakili 1oo% populasi adalah sama dengan jumlah populasi. Makin besar jumlah sampel mendekati jumlah populasi maka peluang kesalahan dalam melakukan generalisasi akan semakin kecil, dan sebaliknya makin kecil jumlah sampel penelitian maka diduga akan semakin besar kemungkinan kesalahan dalam melakukan generalisasi.

    Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan besarnya sampel adalah sebagai berikut: a) Unit analisis, b) Pendekatan atau model penelitian, c) Banyaknya karakteristik khusus yang ada pada populasi, dan d) Keterbatasan Penelitian.

    Untuk jumlah subyek dalam populasi sebanyak 100 sampai 150 subyek, maka jumlah sampel yang diambil sebanyak lebih kurang 25-30%. Besarnya sampel juga diambil dengan menggunakan rumus Cohran sebagai berikut:

    teknik pengambilan sampel

  4. Menentukan Anggota Sampel

    Secara umum terdapat dua teknik sampling, yaitu: (1) teknik probaility, dan (2) teknik non-probability. Teknik sampling probability adalah teknik yang memberi peluang yang sama kepada seluruh anggota populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel. Pengambilan sampel secara acak/random dapat dilakukan engan bilangan random, komputer, maupun dengan undian. Apabila pengambilan sampel dilakukan dengan undian maka setiap anggota populasi diberi nomor sesuai dengan jumlah populasi. Penarikan sampel dengan cara mencabut satu demi satu nomor yang ada pada kotak undian sampai mencapai jumlah sampel yang telah ditetapkan dengan rumus cohran atau dengan persentase.

 

PENELITIAN EXPOST FACTO


Penelitian eksperimen merupakan desain yang terbaik untuk menguji pengaruh suatu variable terhadap variable lain karena adanya manipulasi dan kontrol terhadap kondisi atau perlakuan yang diberikan pada subjek. Akan tetapi, karena dalam bidang pendidikan banyak kondisi yang tidak memungkinkan atau secara etis tidak diperkenankan untuk melakukan manipulasi terhadap suatu atau sejumlah variable, seperti broken home, orang tua tunggal, mengulang kelas, dan lain-lain sebagainya, penelitian eksperimen tidak dapat dilakukan. Untuk menguji variabel-variabel tersebut terhadap prestasi, hubungan sosial, perkembangan kognitif dapat menggunakan ex post facto.  

PENELITIAN  ex post facto menguji apa yang telah terjadi pada subjek. Ex post facto secara harfiah berarti “sesudah fakta”, karena kausa atau sebab yang diselidiki tersebut sudah berpengaruh terhadap variabel lain. Penelitian ini disebut penelitian kausal komparatif karena dimaksud untuk menyelidiki kausa yang mungkin untuk suatu pola prilaku yang dilakukan dengan cara membandingkan subjek dimana pola tersebut ada dengan subjek yang serupa dimana pola tersebut tidak ada atau berbeda (Glass & Hopkin, 1979). Tujuan utama penelitian ini adalah untuk menyelidiki apakah satu atau lebih kondisi yang sudah terjadi mungkin menyebabkan perbedaan perilaku pada subjek. Dengan kata lain, penelitian ini untuk menentukan apakah perbedaan yang terjadi antar kelompok subjek (dalam variabel independen) menyebabkan terjadinya perbedaan pada variabel dependen.

Penelitian ex post facto mempunyai kesamaan dengan penelitian eksperimen dalam hal : (a) Tujuan : untuk menentukan hubungan kausa. (b) Kelompok perbandingan, dan (c) Teknik analisis statistik yang digunakan (Mc Millan & Schumacher, 1989). Hanya saja dalam penelitian ex Post facto tidak ada manipulasi kondisi karena kondisi tersebut sudah terjadi sebelum penelitian ini mulai dilaksanakan. Karena itu penelitian ini memerlukan waktu yang relatif singkat.

Sebagai contoh, seorang peneliti tertarik untuk menyelidiki pengaruh broken home (perpecahan antar orang tua) terhadap tingkat kenakalan remaja. Dalam hal ini peneliti tidak mungkin melakukan eksperimen karena ia tidak mungkin memanipulasi kondisi subjek (membuat agar terjadi broken home pads keluarga/orang tua mereka) kemudian mengukur tingkat kenakalan remaja. Meskipun demikian, pengaruh tersebut dapat diuji dengan cara membandingkan tingkat kenakalan remaja yang berasal dari keluarga yang broken home dan yang harmonis jika pengaruh tersebut memang ada, maka anak yang berasal dari keluarga broken home mempunyai tingkat kenakalan yang lebih tinggi daripada mereka yang berasal dari keluarga yang harmonis.

Karena tidak melibatkan manipulasi, maka interprestasi hasil penelitian ini perlu dilakukan dengan hati-hati. Dalam kasus contoh diatas, misalnya peneliti tidak yakin bahwa perbedaan tingkat kenakalan antar kelompok subjek tersebut terjadi karena broken home yang dialami oleh orang tua salah satu kelompok subjek. Hal ini karena tingkat kenakalan tersebut hanya diukur sekali, yakni setelah terjadinya broken home. Karena itu dalam menafsirkan hasil penelitian ini, peneliti dihadapkan pada pertanyaan : apakah broken home mendorong kenakalan pada anak?. Apakah tingkat kenakalan yang tinggi pads anak dari keluarga broken home sudah terjadi sebelum timbulnya broken home?. Apakah perbedaan tersebut karena pengaruh orang tua yakni, tingkat “kenakalan” orang tua yang broken home lebih tinggi daripada orang tua yang harmonis? Ataukah kenakalan tersebut muncul karena adanya faktor lain, misalnya kurangnya perhatian orang tua mereka, yang dapat terjadi pada keluarga broken home maupun yang harmonis?. Meskipun interprestasinya terbatas, dalam bidang pendidikan hasil penelitian ini sangat bermanfaat untuk mengidentifikasi kemungkinan adanya hubungan kausal dari pola variasi kondisi yang diamati.

Pelaksanaan Penelitian ExPost Facto:

Tidak adanya manipulasi perlakuan dan penempatan subjek secara acak menyebabkan validitas internal dalam penelitian ex post facto kurang dapat dikendalikan. Dengan kata lain hipotesis tandingan yang logis sulit dibatasi. Akan tetapi dengan perencanaan yang balk, hal ini dapat ditekan seminimal sehingga hasilnya akan mendekati penelitian eksperimen. Untuk mendapatkan hasil yang demikian peneliti perlu melalui langkah-­langkah berikut.

1. Perumusan masalah, masalah yang ditetapkan harus mengandung sebab atau kausa bagi munculnya variabel dependen, yang dapat diketahui berdasarkan hasil-hasil penelitian yang pernah dilakukan atau penafsiran peneliti terhadap hasil observasi fenomena yang sedang diteliti. Masalah penelitian ini dapat berbentuk pernyataan hipotesis atau tujuan. Rumusan hipotesis digunakan jika sifat dasar perbedaan dapat diprediksi oleh peneliti sebelum data dikumpulkan. Sedangkan rumusan pernyataan tujuan digunakan bila peneliti tidak dapat memprediksi perbedaan antar kelompok subjek yangdibandingkan dalam variabel tertentu.

2. Setelah masalah dirumuskan, peneliti harus mampu mengidentifikasi hipotesis tandingan atau alternatif yang mungkin dapat menerangkan hubungan antar variabel independen dan dependen.

3. Penentuan kelompok subjek yang akan dibandingkan. Pertama-­tama, kelompok yang dipilih harus memiliki karakteristik yang menjadi konsen penelitian. Selanjutnya peneliti memilih kelompok yang tidak memiliki karakteristik tersebut atau berbeda tingkatannya.

4. Pengumpulan data. Hanya data yang diperlukan yang dikumpulkan, balk yang berkenan dengan variabel dependen maupun berkenaan dengan faktor yang dimungkinkan memunculkan hipotesis tandingan. Karena penelitian ini menyelidiki fenomena yang sudah terjadi, seringkali data yang diperlukan sudah tersedia sehingga peneliti tinggai memilih sumber yang sesuai. Disamping itu berbagai instrumen seperti Les, angket, interview, dapat digunakan untuk mengumpulkan data bagi peneliti.

5. Analisis data. Teknik analisis data yang digunakan serupa dengan yang digunakan dalam penelitian diferensial maupun eksperimen, dimana perbandingan nilai variabel dependen dilakukan antar kelompok subjek atas dasar faktor yang menjadi konsen. Hal ini dapat dilakukan dengan teknik analisis Uji-T, independen atau ANAVA, tergantung dari jumlah kelompok dari faktor tersebut. Apapun teknik analisis statistik inferensial yang digunakan, biasanya analisistersebut diawali dengan penghitungan nilai rata-rata atau mean dan standar deviasi untuk mengetahui perbandingan antar kelompok secara deskriptif.

6. Penafsiran basil. Pernyataan sebab akibat dalam penelitian ini perlu dilakukan secara hati-hati. Kualitas hubungan antar variabel independen dan dependen sangat tergantung pada kemampuan peneliti untuk memilih kelompok perbandingan yang homogen dan keyakinan bahwa munculnya hipotesis tandingan dapat dicegah.

Manajemen Penelitian


RESENSI BUKU

 

Judul buku : Manajemen Penelitian

Penulis : Prof Dr Suharsimi Arikunto

Penerbit : Rineka Cipta, Jakarta

Cetakan : VII, April 2005

Tebal : xiv + 504 halaman; 23 cm

Bidang penelitian dewasa ini mendapat prioritas terutama bagi mereka yang menginginkan penemuan-penemuan atau hal yang baru. jika ditelaah lebih jauh, kegiatan penelitian dan segenap unsur yang terkait baik administrasi maupun metode-metode yang digunakan adalah kunci keberhasilan pengembangan ilmu pengetahuan yang diteliti tersebut.

Bab-bab yang dibahas dalam buku ini adalah sama pentingnya antara satu dengan bab lainnya. namun apabila seorang peneliti ingin mengetahui hasil dan kegiatan penelitiannya, maka seorang peneliti hendaklah menggunakan metode-metode yang sudah ada dan hasilnyapun harus dapat dipertanggungjawabkan.

Mengingat pentingnya kegiatan penelitian di Lembaga pendidikan dan pengembangan, maka buku ini kirany dapat dijadikan sebagai referensi atau pedoman teoritis. disamping itu, sejalan dengan SK Menteri apratur Negara No 26 tahun 1989 yang memberikan kesempatan kepada guru untuk kenaikan pangkat berdasarkan angka kredit, maka buku ini sangat membantu nereka dalam mengisi butir kegiatan penelitian. Dengan demikian semua guru, mahasiswa tingkat akhir bisa menggunakan buku karya ahli penelitian ini dan kualitas buku karya Pak Suharsimi ini tidak diragukan sederhana tapi bisa diikuti, bahkan saya menjadikan buku wajib perkuliahan bagi mahasiswa yang mengambil mata kuliah metode penelitian, selamat mencoba.

 

 

 

%d blogger menyukai ini: