Posts from the ‘MANAJEMEN RESIKO’ Category

MANAJEMEN ASURANSI


stroryeum_2Mengenal Sejarah Asuransi

Zaman Purbakala
Karena langkanya bukti-bukti yang dapat dipercaya, maka terdapat perbedaan pendapat mengenai asal-usul yang kita kenal sekarang. Akan tetapi, benih asuransi dapat terlihat dari cara-cara manusia purba menangani risiko harta dan jiwa mereka.

Benih asuransi
Beberapa ahli menganggap bahwa benih asuransi harta sudah ada di lembah Euphrat, Babylonia, beberapa ribu tahun lalu . pada waktu itu, perniagaan Babylonia telah berkembang pesat sehingga para saudagar mengirim penjual mereka ke daerah sekitar Babilon untuk menjual barang-barang mereka. Dengan berjalannya waktu, maka perjualan sampai ke luar negeri sehingga semakin cukup memakan waktu. Para penjual ini bekerja berdasarkan presentase keuntungan dari perjalanan dagang mereka. Mereka dipercaya membawa barang-barang kepunyaan majikan mereka.

Majikan ini tentu saja meminta suatu jamina untuk meyakinkan mereka bahwa para penjual itu akan kembali dengan membawa laba dan tidak akan melarikan diri. Demikianlah para penjual itu menjadikan harta mereka sendiri sebagai jaminan bahwa mereka tidak akan menipu majika mereka.

Tetapi tidak semua daerah yang mereka lalui adalah daerah yang aman, adakalanya barang-barang dan uang kepunyaan majikan mereka di rampas pada saat perjalanan sehingga para penjual kembali dengan tangan hampa dan harta mereka yang dijadikan jaminan disita oleh majikan mereka. Pengorbanan ini jelas tidak adil dan menimbulkan protes dari para penjual sehingga lahirnya perubahan pengaturan perjanjian. Dengan system baru ini, majikan dan penjual membagi rata keuntungan yang diperoleh dari perjalanan dagang itu. Tetapi, jika terjadi pencurian atau perampokan maka itu bukanlah kesalahan para penjual maka harta penjual tidak akan dista oleh majikan. Jadi, sebagian dari usaha itu dipindahkan atau dikisarkan dari para penjual ke majikannya. Pemindahan atau pengisaran risiko yang merupakan slah satu ciri-ciri inilah yang merupakan benih asuransi harta.

Konsep seperti ini dapat kita jumpai di yunani. Apabila seorang pelepas uang yunani memberikan pinjaman kepada pemilik kapal untuk membiayai suatu pelayaran . maka kapal itu dijadikan jaminan atau agunan. Akan tetapi, pinjaman ini batal apabila kapal gagal kembali pulang. Pada hakekatnya, pemberi pinjaman mengasuransikan kapal untuk jumlah pinjaman tersebut, karena besarnya resiko usaha tersebut. Maka tingkat bunga yang dipinjam lebih tinggi dari yang biasa. Perbedaan antara tingkat yang dibayar peminjam dengan tingkat bunga normal inilah yang sekarang disebut premi asuransi.

Suatu contoh, mengenai mengatasi masalah risiko yang terjadi pada zaman purba adalah ketika para saudagar china mengirimkan banyak jumlah barang dengan perahu melalui sungai karena cara inilah yang paling cocok untuk pengangkutan besar-besaran. Beberapa sungai itu sangat berbahaya dilalui, tidak jarang perahu dan muatannya hilang. Karena hal itu, maka pemilik barang memikul seluruh beban kerugian sendiri. Akhirnya timbul ide untuk melakukan penyebaran risiko, yaitu dengan mengirim barang tidak hanya di satu perahu saja tetapi membaginya di antara sejumlah perahu. Jadi, jika tejadi sesuatu seperti perahunya tenggelam maka beban kerugian tidak hanya dipikul satu orang saja melainkam bersama-sama. Asuransi modern juga menggunakan prinsip penyebaran risiko yang sama
Perintis asuransi jiwa dan kesehatan modern juga dijumpai di Yunani dan Romawi kuno. Di Yunani terdapat kelompok-kelompok keagamaan untuk melakukan kegiatan pengumpulan dana dari para anggotanya untuk menjamin biaya penguburan. Kegiatan ini mungkin awal mulanya asuransi penguburan.

Sewaktu Romawi menggantikan Yunani sebagai pemimpin dunia kuno. Orang Romawi ini menggunakan system yang sama untuk asuransi jiwa. Akan tetapi, dengan berkembangnya system Romawi ini titik berat kegiatan bukan lagi unsure keagamaan. Tetapi , terbuka untuk masyarakat umum. Dalam beberapa hal, berkembang penutupan yang lebih luas untuk kelompok-kelompok tertentu seperti serdadu.

ZAMAN PERTENGAHAN

Asuransi oleh Gilda
Kegilaan gilda-gilda di abad pertengahan banyak membantu berkembangnya ide asuransi.
Mereka mengadakan rancangan asuransi yang dibiayai dengan iuran regular para anggotanya. Kegunaannya untuk membayarkan berbagai macam kerugian. Di antaranya kerugian kebakaran, kapal karam, pencurian, dan kebanjiran. Misalnya, Gilda Blessed Mary di Chesterfield, tahun 1218 memasukan anggaran rumah tanggannya hal-hal berikut :“bantuan akan diberikan jika terjadi kerugian karena kebakaran, perampokan atau musibah lainnya.” Kira-kira tahun 1310, Gilda Kylyngholen, Lincolnshire menyatakan dalam anggaran rumah tangganya, “jika rumah seseorang terbakar karena suatu kecelakaan maka setiap saudaranya akan membantu setengah biayanya untuk membangun sebuah rumah baru.” Manfaat seperti yang diberikan oleh perusahaan asuransi kesehatan ini, juga tersedia melalui system Gilda.

ZAMAN MODERN

Asuransi Laut
Perkembangan asuransi laut didorong oleh disahkannya suatu undang-undang di inggris dalam tahun 1574 yang menciptakan suatu dewan Asuransi untuk menjual tersebut. Beberapa tahun kemudian, didirikanlah penngadilan istimewa untuk menangani perselisihan-perselisihan asuransi. Dengan perkembangan lanjutan ini, pengadaan asuransi laut berubah dari yang hanya kegiatan part time menjadi bisnis full time bagi para saudagar.

Lloyd’s of London, mula-mula para underwriter (penulis dibawah, penanggung) menjelajahi jalan-jalan distrik perkapalan untuk mencari bisnis. Kemudian, berkembang praktek pertemuan di coffee houses untuk mengadakan transaksi-transaksi bisnis. Seorang pemilik coffee houses bernama Edward Lloyd, menarik orang-orang asuransi untuk datang ke tempatnya dengan mengumpulkan informasi perkapalan untuk mereka yang diterbitkan dengan nama Lloyd’s News (berita Lloyds). Popularitas coffee houses Lloyd’s terus meningkat dan akhirnya dalam tahun 1769 berdirilah organisasi yang sekarang terkenal dengan nama Lloyd’s of London.
Pada masa inilah lahir istilah underwriter. Mereka yang mencari asuransi akan mencantumkan usul untuk diperiksa oleh calon penanggung. Setiap orang yang ingin ikut serta dalam risiko tersebut akan menuliskan namanya dibawah usul itu dan menunjukan bagian risiko yang bersedia dipikulnya. Jadi orang yang “menulis dibawah” usul itu yang dikenal sebagai “underwriter” (penulis dibawah penanggung).

MENANGGUNG RISIKO

Sifat Risiko

  • Penyimpangan dari harapan

Risiko adalah kemungkinan penyimpangan yang tak diharapkan. Kemungkinan itu adalah terjadinya hal yang tidak diinginkan atau diharapkan. Kejadian seperti itu disebut kerugian atau loss. Dalam buku ini loss berarti menurunnya atau hilangnya nilai. Disini terkandung arti bahwa kerugian dapat diukur dalam uang misalnya rupiah. Tetapi tidak semua kerugian dapat diukur dengan satuan uang, misalnya matinya seekor kucing kesayangan keluarga mungkin dirasakan kerugian besar bagi keluarga dan ini tidak dapat diukur dengan uang.

Hubungan antara risiko dengan keraguan ini perlu di dijelaskan karena ada penulis yang mendefinisikan risiko itu keraguan dan ada pula yang menyebutkan risiko sebagai keraguan akan kerugian menurut pendapat penulis. Menyamakan risiko dengan keraguan adalah menyamakan penyebab dengan akibat. Risiko adalah keadaan dunia yang menyebabkan keraguan.

  • Reaksi terhadap keraguan

Pada umumnya, orang tidak menyukai keraguan atau ketidak pastian karena ia khawatir. Bila perasaan ini cukup besar maka ia akan mencurahkan perhatiannya terhadap masalah itu. Contoh, orang yang meragukan kemampuan penghasilannya untuk membiayai kebutuhan hidupnya dimasa depan, mungkin akan mulai membuat program tabungan. Keraguan akan masa depan investasi mungkin menyebabkan orang memilih likuiditas dalam tabungan.

  • Jenis Risiko

Risiko dapat digolongkan kedalam Risiko spekulatif dan Risiko murni. Kejadian sesungguhannya kadang-kadang menyimpang dari perkiraan(expectations) ke salah satu dari dua arah. Artinya, ada kemungkinan penyimpangan yang menguntungkan dan ada pula yang merugikan. Risiko adalah kemungkinan kerugian tetapi bila di samping kemungkinan kerugian terdapat pulan keuntungan, maka risiko itu dinamakan risiko spekulatif. Lawan dari risiko spekulatif adalah risiko murni yaitu yang ada hanya kemungkinan kerugian.
Seorang pemilik rumah terbuka terhadap kemungkinan kerugian karena kebakaran. Risiko ini hanya mempunyai kemungkinan kerugian dan tidak mempunyai kemungkinan untung. Hal ini disebut risiko murni karena hanya bergerak ke satu arah saja yaitu kearah kemungkinan kerugian.

  • Penyebab Risiko

Risiko adalah kemungkinan penyimpangan yang tak diharapkan, tetapi penyimpangan ini barulah nyata bila sudah berbentuk kerugian. Jika tidak ada kemungkinan kerugian maka tidak ada risiko. Fakto-faktor yang menyebabkan atau menimbulkan terjadinya kerugian adalah penting dalam analisa risiko. Dua factor yang bekerja sama menimbulkan kerugian adalah bencana (perils) dan bahaya (hazards).

Bencana adalah penyebab penyimpangan peristiwa sesungguhnya dari yang diharapkan dan penyebab langsung kerugian. Kehadirannya menimbulkan risiko dengan menyebabkan kemungkinan penyimpangan yang tak diharapkan. Sebab kita dikelilingi oleh risiko adalah karena lingkungan kita mengandung bencana-bencana seperti banjir, pencurian, kematian, dan banyak lagi.

Bahaya adalah keadaan yang melatar belakangi terjadinya kerugian oleh bencana tertentu. Bahaya mempengaruhi risiko dengan meningkatkan kemungkinan terjadinya kerugian. Keadaan-keadaan tertentu disebut sebagai “berbahaya”. Makin bahaya keadaan, makin besar kemungkinan terjadinya kerugian. Ada tiga macam bahaya, yaitu :
1. Fisik
2. Moral
3. Morale
Bahaya fisik adalah aspek fisik dari harta yang terbuka terhadap risiko. Lokasi, konstruksi, dan pemakaian adalah bahaya fisik yang mempengaruhi risiko. Lokasi sebuah gedung mempengaruhi kepekaannya terhadap kerugian karena kebakaran, banjir, dan gempa bumi. Jika gedung terletak dekat dengan pemadam kebakaran maka kemungkinan kerugian besar Karena kebakaran sangat kecil dibandingkan dengan daerah terpencil dimana tidak ada air dan pemadam kebakaran.
Konstruksi adalah bahaya fisik yang merupakan suatu factor penting dalam analisa risiko. Walaupun memang tidak ada gedung yang tahan api, tetapi beberapa bangunan lebih kebal terhadap api dari bangunan lainnya.

Akan tetapi, belum tentu kebal terhadap bencana yang lainnya seperti rumah kayu, mudah terbakar tapi lebih tahan terhadap gempa bumi. Bahaya moral juga mempengaruhi kemungkinan kerugian. Ketidakjujuran seseorang dapat meningkatkan kemungkinan kerugian sampai 100%. Seorang yang tidak jujur mungkin membakar rumahnya sendiri atau merampok tokonya sendiri untuk dapat menagih asuransi.

Bahaya morale kadang-kadang disamakan orang saja dengan bahaya moral, padahal keduanya berbeda. Bahaya morale tidak menyangkut ketidakjujuran tetapi menyangkut sikap tidak hati-hati dan kurang perhatian yang dapat meningkatkan terjadinya kerugian.

Sumber Risiko
Bahaya menimbulkan kondisi yang kondusif terhadap banana yang menyebabkan kerugian. Walaupun ada beberapa overlapping (tumpang tindih ) di antara kategori-kategori ini, namun sumber penyebab kerugian (dan risiko) dapat diklasifikasikan sebagai risiko social, risiko fisik, dan risiko ekonomi. Menentukan sumber risiko sangat penting karena mempengaruhi cara penanganannya.

a. Risiko Sosial
Sumber utama risiko adalah masyarakat, artinya tindakan orang-orang menciptakan kejadian yang menyebabkan penyimpangan yang merugikan dari harapan kita. Berikut adalah contoh yang menggambarkan sifat dan peranan sumber risiko, Di Amerika serikat lebih dari 777.800 mobil dicuri setiap tahun. Baru-baru ini survey terhadap 680 kota yang berpeduduk 25.000 lebih menunjukan bahwa dalam satu tahun total hampir $6 milyar harta yang dicuri. Dengan berkembangnya toko-toko self-service, maka tokowan akan menghadapi risiko besarnya pencomotan (shoplifting). Tetapi , tidak semua pencurian itu adalah orang luar melainkan ada juga penggelapan dan penyalahgunaan oleh orang dalam yang jumlahnya lebih dari $4 juta sehari atau $1,5 biliun setahun.

b. Risiko Fisik
Ada banyak sumber risiko fisik yang sebenarnya adalah fenomena alam, sedangkan lainnya disebabkan oleh kesalahan manusia. Kebakaran adalah penyebab utama cedera, kematian, dan kerusakan. Kebakaran besar dapat disebabkan oleh alam seperti petir, atau oleh penyebab fisik seperti kabel yang cacat atau karena keteledoran manusia.
Cuaca iklim adalah risiko yang serius kadang-kadang hujan terlalu banyak sehingga panen terkena banjir dan sungai meluap. Banjir terjadi setiap tahun, yang berubah hanya lokasinya saja, malahan kadang berulang pada lokasi yang sama. Banjir dapat menimbulkan kerugian jiwa dan jutaan dollar kerusakan harta.

c. Risiko Ekonomi
Banyak risiko yang dihadapi manusia itu bersifat ekonomi. Contoh risiko ekonomi adalah inflasi, fluktuasi local, dan ketidakstabilan perusahaan individu. Selama periode inflasi, daya beli uang merosot dan para pensiunan serta mereka yang berpenghasilan tetap tidak mungkin lagi mempertahankan tingkat hidup yang biasa.

Metode Menangani Risiko
Metode yang digunakan untuk menangani risiko tergantung pada sifat orang atau kesatuan yang menghadapi risiko itu.

Menghindari Risiko
Seseorang tidak dapat menghindari seluruh risiko, tetapi dalam beberapa hal ia dapat menghindari risiko tertentu. Akan tetapi, walaupun menghindari risiko itu mungkin, namun seringkali tidak menguntungkan. Seseorang dapat menghindari risiko kerugian terhadap barang tertentu dengan jalan tidak memiliki barang tersebut dan tidak bertanggung jawab atasnya. Itulah sebabnya beberapa orang lebih suka menyewa barang daripada membelinya.
Mencegah dan Mengendalikan Risiko

Telah diuraikan di atas bahwa beberpa risiko dapat dihindari dengan menarik diri dari kegiatan yang berkenaan dengan risiko tersebut. Jadi seseorang yang tidak bermain ski tidak akan tertimpa risiko cedera kecelakaan dalam main ski. Jadi ia menghindar, tetapi jika ia ingin main sekalipun adanya risiko tersebut. Ia dapat mengambil langkah-langkah untuk mengurangi kemungkinan cedera misalnya dengan mengikuti program pelajaran dan latihan ski. Ini untuk mencegah dan mengendalikan risiko. Akan tetapi, risiko cedera masih tetap ada dan kerugian masih mugkin terjadi.
Tujuan usaha pencegahan dan pengendalian kerugian adalah menghilangkan segala kerugian, atau kalau tidak berhasil, megurangi kerugian sampai seminimum mungkin.

Menahan Risiko
Menahan risiko berarti memikul risiko kemungkinan kerugian. Ini mungkin terjadi bila seseorang yang terbuka terhadap risiko itu tidak menyadarinya. Jadi, risiko itu tidak menimbulkan kekhawatirannya sehingga diabaikannya.

Ada pula hal-hal di mana sebagian atau seluruh risiko itu ditahan sesudah pertimbangan yang matang dengan menganalisanya. Cara memikul beban seperti ini adalah dengan menanggapnya sebagai biaya operasio perusahaan. Ada pula cara dimana perusahaan itu membentuk suatu dana atau cadangan untuk pembayar kerugian-kerugian sesungguhnya yang diderita. Dana atau cadangan demikian dapat berbentuk uang tunai atau aktiva yang segera dapat diuangkan. Cara ini disebut sebagai “Asuransi sendiri”.

Memindahkan Risiko
Cara terpenting untuk memindahkan risiko adalah asuransi. Denga asuransi, seseorang atau perusahaan dapat memindahkan atau menggeser risiko tertentu yang dipikulnya kepada perusahaan asuransi dengan membayar premi.

MEMAHAMI ASURANSI

Sifat Asuransi

  • Berbagai pandangan

Ada tiga aliran pemikiran mengenai asuransi. Aliran pertama memandang asuransi dalam hubungan tertanggung dengan penanggung yaitu asuransi sebagai alat pemindahan risiko. Aliran kedua mengabaikan hubungan ini dan memandanang asuransi sebagai teknik atau mekanisme penanggungan. Aliran ketiga menggabungkan kedua pandangan ini.

Menurut aliran pertama (aliran transfer). Asuransi adalah pemindahan risiko murni dari tertanggung kepada penanggung. tertanggung adalah orang atau perusahaan yang menghadapi suatu risiko dan penanggung adalah orang atau perusahaan yang mengkhususkan diri memikul risiko. Bisnis utama penanggung adalah memikul risiko dengan menerima fee.

Aliran kedua mengabaikan aspek transfer dan memusatkan perhatian pada aspek teknik. Professor Mehr dan Cammack misalnya, mendefinisikan asuransi sebagai “alat social untuk mengurangi risiko dengan menggabungkan sejumlah yang memadai unit-unit yang terbuka terhadap risiko sehingga kerugian-kerugian individual mereka secara kolektif dapat diramalkan.
Kemudian kerugian yang dapat diramalkan itu dipikul merata oleh semua mereka yang bergabung itu.”

Aliran ketiga menggabungkan kedua pandangan ini. Professor willet mendefinisikan asuransi sebagai “alat sosial untuk penumpukan dana untuk mengatasi kerugian modal yang tak tentu yang dilaksanakan melalui pemindahan risiko dari banyak individu kepada seorang atau sekelompok.” Tampaklah bahwa apa asuransi itu bergantung pada siapa yang melihatnya. Professor kulp mengatakan bahwa “asuransi dapat dianggapsebagai bisnis, sebagai ilmu matematik-statistik terperinci atau sebagai alat atau teknik sosial yang luas.”

  • Tujuan Asuransi

Asuransi memeratakan beban kerugian dengan memakai dana-dana yang disumbangkan oleh para anggota kelompok itu untuk pembayarnya. Jadi asuransi itu adalah alat pemerataan kerugian. Untuk mengurangi beban ekonomi para anggota kelompok itu maka penanggung juga ikut serta dalam kegiatan pencegahan kerugian. Akan tetapi, tujuan pokok asuransi bukanlah pemerataan ataupun pencegahan kerugian, melainkan uncertainty (ketidakpastian, keraguan) yang disebabkan oleh kesadaran oleh kesadaran akan kemungkinan kerugian. Asuransi memberikan kepastian kepada masing-masing anggota kelompok itu dengan memeratakan biaya kerugian.

  • Asuransi dan Perjudian

Tidak jarang orang menganggap asuransi itu semacam perjudian. Itu tidak benar karena perjudian adalah kegiatan yang menciptakan risiko bagi para pesertanya, sedangkan asuransi adalah alat untuk memindahkan risiko yang ada dari satu pihak ke pihak lain.

  • Cara Kerja Asuransi

Untuk memahami cara kerja asuransi kita perlu mengerti prinsip-prinsip dasar asuransi, Yaitu :
• Memikul Risiko
• Probabilitas (kebolehjadian, kemungkinan); dan
• Hukum bilangan besar

  • Memikul Risiko

Asuransi diciptakan oleh perusahaan asuransi sebagai pemikul risiko professional yang menanggung risiko yang dipindahkan kepadanya oleh tertanggung. Umumnya kontrak asuransi dinyatakan dalam jumlah uang walaupun ada penanggung yang mengganti tertanggung bukan dengan uang tetapi dengan jasa-jasa.

Kontrak asuransi jiwa misalnya mewajibkan penanggung membayar sejumlah uang tertentu pada waktu meninggalnya orang yang jiwanya ditanggung pada saat itu. Sebaliknya polis asuransi tanggung gugat bukan saja mengharuskan penanggung membayar uang tetapi juga memberikan jasa-jasa hukum dan penyelidikan yang dibutuhkan bila kejadian yang diasuransikan itu terjadi. Syarat-syarat polis asuransi kesehatan menetapkan pelayanan pengobatan dan rumah sakit untuk tertanggung bila ia sakit atau cedera. Apakah penanggung memenuhi kewajibannya dengan uang atau jasa-jasa(services). Namun beban itu adalah beban financial. Penanggung tidak menjamin bahwa kejadian yang diansurasikan itu tidak akan terjadi. Di samping itu, ia tidak dapat mengganti nilai perasaan atau memikul beban psikologis dari suatu kerugian.

  • Probabilitas

Penanggung yang memikul risiko berbuat berbuat demikian dengan perkiraan dapat mensubtitusi kerugian sesungguhnya dengan kerugian rata-rata sehingga memberikan kepastian kepada tertanggung. Karena dana yang dibayarkan untuk kerugian yang diderita tertanggung itu biasanya dikumpulkan dari para anggota kelompok itu sebelumnya. Maka penanggung harus dapat meramalkan kerugian dengan akurat. Premi yang dibebankan pada tertanggung itu didasarkan atas ramalan tersebut dan ramalan itu didasarkan atas taksiran probabilitas (kebolehjadian , kemungkinan). Probabilitas adalah ukuran kemungkinan terjadinya sesuatu kejadian. Jika tak ada kemungkinan terjadinya suatu kejadian, maka probabilitasnya adalah nol. Bila suatu kejadian pasti terjadi maka probabilitasnya adalah satu. Probabilitas dapat dinyatakan sebagai pecahan atau presentase.

Syarat Ideal untuk dapat Diasuransikan
Asuransi tercipta bila seseorang atau suatu perusahaan memindahkan risikonya pada penanggung. Sebagai sesialis penanggung risiko, perusahaan asuransi lebih mampu meramalkan kerugian-kerugian daripada masing-masing tertanggung. Akan tetapi, alat yang bernama asuransi ini tidak sesuai untuk segala risiko , contohnya seperti risiko spekulatif yang tidak dapat diasuransikan. Yang dapat diasuransikan hanyalah risiko murni. Tetapi banyak risiko murni karena satu dan lain hal, tidak dapat diasuransikan.

Risiko yang dapat diasuransikan haruslah memenuhi syarat-syarat berikut:
1. Kerugian potensial cukup besar,tetapi probabilitasnya tidak tinggi, sehingga membuat asuransi terhadapnya secara ekonomis mungki (kelayakan ekonomis).
2. Probabilitas kerugian dapat diperhitungkan.
3. Terdapat sejumlah besar unit yang terbuka terhadap risiko yang sama (massal dan homogeny).
4. Kerugian yang terjadi bersifat kebetulan.
5. Kerugiannya tertentu.

  • Kelayakan Ekonomis

Untuk layaknya suatu asuransi secara ekonomis, maka kerugian yang mungkin terjadi haruslah cukup besar bagi tertanggung, sedangkan biaya asuransinya jangan terlalu tinggi dibandingkan dengan kemungkinan kerugian tersebut. Banyak risiko ditahan sendiri oleh tertanggung dan tidak diasuransikan karena kemungkinan kerugiannya sedemikian kecil sehingga tidak merupakan beban.

Di samping kemungkinan kerugian itu cukup besar bagi tertanggung, ia juga harus cukup besar disbanding dengan besarnya premi. Asuransi itu paling cocok untuk risiko kemungkinan kerugian yang besar tetapi probabilitasnya rendah. Kerugian besar itu penting bagi tertanggung karena ia tak mampu memikulnya, sedangkan probabilitas yang rendah memungkinkan premi yang relatif kecil dibandingkan dengan kemungkinan kerugian itu.

Probabilitas Dapat Diperhitungkan
Tingkat premi asuransi itu didasarkan atas ramalan tentang masa depan. Ramalan ini didasarkan atas taksiran probabilitas. Probabilitas ini umumnya didasarkan atas pengalaman masa lampau. Cara inilah yang digunakan oleh perusahaan asuransi untuk menaksir probabilitas. Tetapi cara ini hanya bermanfaat bila dapat dianggap bahwa factor-faktor penentu masa depan itu akan sama dengan factor-faktor penentu masa lampau tersebut. Jika tidak, maka pengalaman masa lampau itu tidak bias dijadikan pedoman untuk masa depan. Apabila probabilitas kerugian yang hendak diasuransikan itu tak dapat dihitung, maka risikonya tidak dapat diasuransikan.

Massal dan Homogen
Syarat utama untuk dapat diasuransikan adalah missal, artinya harus ada sejumlah besar unit. Sebagaimana telah diuraikan, untuk memperoleh taksiran probabilitas yang akurat diperlukan pengamatan terhadap sejumlah besar kejadian. Sesudah probabilitas kerugian itu diketahui, maka ia dijadikan dasar untuk ramalan, tetapi ramalan ini hanya berlaku suatu kelompok besar. Perusahaan asuransi tidak lebih mampu meramalkan kerugian seseorang tertentu daripada orang itu sendiri.

Pengertian homogeny di sini tidaklah berarti 100% sama karena tidak ada dua benda atau orang yang betul-betul sama. Namun demikian, unit-unit dalam suatu kelompok itu haruslah cukup sama untuk mendapatkan ramalan yang akurat.

Kerugian yang Terjadi Bersifat Kebetulan
Risiko yang ditanggung oleh penanggung haruslah hanya bersifat kemungkinan kerugian bagi tertanggung. Kerugian haruslah bersifat kebetulan karena idealnya, tertanggung tidak boleh memiliki kontrol atau pengaruh terhadap kejadian yang hendak diasuransikan. Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya bahaya moral dan bahaya morale mempengaruhi kemungkinan kerugian. Peristiwa yang diamati sebagian besar adalah kejadian kebetulan. Pemakaian taksiran probabilitas untuk meramalkan kerugian masa depan itu didasarkan atas asumsi bahwa ia juga merupakan kejadian kebetulan. Jika tidak demikian ramalan itu tidak bias akurat.

Kerugian tertentu
Umumnya perusahaan asuransi berjanji akan membayar kerugian jika terjadi selama waktu tertentu dan ditempat tertentu. Contoh, perjanjian ini mungkin menutup kerugian kebakaran pada lokasi tertentu. Untuk berlakunya kontrak ini haruslah diketahui “kapan” dan “dimana” kerugian itu terjadi.

Asuransi Sebagai Bisnis
Disamping sebagai alat sosial, asuransi adalah juga suatu bisnis. Bisnis asuransi ini mirip dengan perbankan dalam hal ia mempunyai fungsi ganda yaitu memberikan dua macam jasa-jasa kepada dua kelompokm yang berbeda. Perusahaan asuransi memikul risiko dan memberikan jasa-jasa untuk tertanggung disamping menyediakan dana-dana untuk dipinjam. Jadi, perusahaan asuransi itu adalah organisasi jasa-jasa dan juga lembaga keuangan.

Perusahaan jasa-jasa
Sebagaimana telah dijelaskan di atas, fungsi primer dari asuransi adalah mengurangi keraguan(uncertainty = ketidakpastian). Perusahaan asuransi misalnya tidak akan dapat mencegah badai, kecelakaan mobil, kematian, atau sakit. Akan tetapi, peruasahaan asuransi dapat mengurangi ketidakpastian dalam hal beban ekonomi dari kerugian yang tidak pasti itu, jika seorang pemilik rumah mengasuransikan rumahnya itu terhadap kerugian karena kebakaran, pemilik rumah dapat terbebas dari kekhawatiran karena ia tahu kerugian yang akan ditanggung oleh perusahaan asuransi. Ketentraman hati inilah salah satu jasa-jasa utama yang diterima tertanggung bila ia telah membayar premi asuransi.

Dengan ditentukannya biaya kerugian, maka asuransi itu mengurangi beban risiko yang dihadapi para pengusaha. Jika tidak ada asuransi, setiap pengusaha akan mengadakan dana untuk membayar kerugian yang tak terduga. Makin besar dan makin tak teramalkan kerugian, maka makin besar dana yang diperlukan. Setidaknya ini dapat bermanfaat bagi perusahaan sehingga menurunkan tingkat kaum ekonomi.

MEMAHAMI KONTRAK ASURANSI

  • Bagian-bagian Polis

1). Deklarasi
Deklarasi adalah pernyataan yang dibuat oleh tertanggung yang menerangkan mengenai dirinya, memberikan informasi tentang risiko dan memberikan dasar pengeluaran polis dan penentuan premi. Walaupun umumnya asuransi dan bukan dibeli, namun pembeli seringkali diharuskan mengajukan permohonan untuk membeli asuransi. Fungsi agen adalah untuk membujuk tertanggung mengajukan permohonan itu dan mengisi formulir aplikasi untuk tertanggung dan kemudian meminta tertanggung untuk membaca dan menandatanganinya.

Kadang-kadang penutupan asuransi diberikan sebelum aplikasi diolah dan polis dikeluarkan yaitu dengan menggunakan apa yang disebut binder. Binder adalah kontrak penutupan sementara sebelum polis dikeluarkan oleh agen atau perusahaan asuransinya. Semua polis asuransi memperinci periode berlakunya penutupan. Polis asuransin jiwa dan kesehatan mungkin untuk penutupan selama hidup, beberapa tahun atau sampai usia tertentu.

Semua polis asuransi mempunyai klausule yang membatasi kewajiban (liability) penanggung. Polis asuransi jiwa menjanjikan pembayaran nilai nominal polis. Polis asuransi kesehatan membatasi pembayaran sampai suatu jumlah tertentu perminggu. Polis asuransi kerugian memperinci nilai tunai sesungguhnya, sedang polis tanggung gugat tidak menentukan batas biaya pembelaan tetapi menetapkan batas dollar yang alan dibayarkannya untuk tertanggung.

2). Klausule pertanggungan
Polis dapat diadakan untuk all-risks (segala risiko) atau untuk bencana tertentu. Polis untuk bencana tertentu memberikan proteksi terhadap kerugian yang disebabkan oleh bencana yang disebabkan oleh bencana yang tersebut dalam polis itu. Biasanya definisi yang terkandung dalam polis itu dijumpai dalam bagian kondisi. Arti istilah “ kerugian langsung “ dan “ kebakaran “ sebagaimana yang digunakan dalam polis asuransi kebakaran melukiskan bagaimana penafsiran pengadilan menentukan ruang lingkup klausule pertanggungan.

Kerugian langsung dalam asuransi kebakaran berarti nilai harta itu bukan nilai pemakaiannya. Penanggung akan menanggung kerusakan atau kehancuran harta fisik yang disebabkan oleh suatu bencana yang ditanggungkan tetapi tidak kerugian yang disebabkan oleh kehilangan penghasilan karena kerusakan fisik harta itu.

“kebakaran” berarti oksidasi yang sedemikian cepat sehingga menimbulkan nyala api atau sinar. Pembakaran (combustion) mungkin menyebabkan kerusakan tetapi jika ia tidak menimbulkan nyala api atau sinar, maka ia bukanlah kebakaran. Walaupun polis asuransi tidak menjelaskan secara rinci tetapi api yang menyebabkan kerugian langsung haruslah api yang bersifat bermusuhan. Api yang bermusuhan adalah api yang terlepas dari tempatnya, misalnya api di kompor adalah api yang bersahabat adalah api yang bersahabat tetapi jika bunga api memercik ke luar dan membakar sofa, maka api itu adalah api yang bersifat bermusuhan. Arti ini ditetapkan oleh keputusan pengadilan yang memberikan dasar untuk penyelesaian perbedaan pendapat mengenai kebakaran.

3). Pengecualian-pengecualian
Baik polis all-risk (segala risiko) maupun polis bencana tertentu, tidak dapat ditentukan penutupannya tanpa memeriksa pasal-pasal pengecualian. Tidaklah mungkin tertanggung mengetahui hal-hal yang ditutup oleh polis sebelum ia mengetahui hal-hal yang tidak ditutupnya. Polis dapat mengecualikan bencana-bencana tertentu, harta-harta tertentu, dan kerugian-kerugian tertentu.

4).Kondisi-kondisi
Bagian keempat dari polis adalah kondisi. Kondisi ini memperinci tugas masing-masing pihak dan kadang memberikan definisi dari istilah yang digunakan. Karena polis adalah kontrak bersyarat (conditional contracts) maka adalah esensil bagi tertanggung untuk memahami kondisi ini. Ia tidak dapat mengharapkan tertanggung penanggung akan memenuhi kewajibannya menurut kontrak jika tidak memenuhi kondisi yang diharuskan. Jika tertanggung gagal memenuhi kondisi atau syarat, maka penanggung terbebas dari kewajibannya.

Semua polis mengharuskan tertanggung memberitahukan penanggung apabila terjadi peristiwa, kejadian kecelakaan, atau kerugian yang diasuransikan. Jika pemberitahuan tidak dilaksanakan dalam jangka waktu yang ditetapkan maka, penanggung akan terbebas dari segala kewajiban menurut kontrak tersebut.

Semua polis asuransi menetapkan bahwa kondisi tertentu menunda penutupan atau membebaskan penanggung dari kewajibannya. Misalnya, polis asuransi jiwa menetapkan bahwa pembayaran tidak akan dilakukan jika tertanggung bunuh diri dalam jangka waktu yang tertentu sejak awal permulaan kontrak. Perusahaan asuransi hanya diwajibkan mengembalikan (refund) premi.
Kebanyakan polis asuransi kerugian memuat pasal-pasal yang mengharuskan tertanggung menjaga hartanya sesudah suatu kerugian untuk mengurangi kerugian sebanyak mungkin. Misalnya, dalam hal kebakaran, tertanggung diharapkann melindungi hartanya yang tidak rusak dri cuaca dan bencana lain untuk mengurangi kerugian.

  • Struktur Polis

Struktur polis dari berbagai polis asuransi itu sangat berbeda-beda, tetapi persamaannya lebih banyak daripada perbedaannya. Walaupun dari waktu ke waktu telah dilakukan perbaikan untuk lebih mudah menangani dan membaca polis. Namunn masih banyak orang bingung membaca polis tersebut. Ini bukan saja karena istilah-istilahnya saja, tetapi juga karena cara penggabungannya.

Polis dasar
Polis dasar digunakan sebagai dasar untuk seluruh kontrak dengan menambahkan formulir-formulir dan endorsemen-endorsemen kepada polis dasar. Polis standar kebakaran adalah contoh polis dasar. Polis ini terbagi dua, halaman pertama disebut “muka” polis. Halaman ini memuat baik deklarasi maupun perjanjian pertanggungan dasar. Halamn kedua dari polis standar kebakaran memuat pengecualian-pengecualian dan kondisi-kondisi. Polis dasar ini disebut kerangka karena ia hanyalah kerangka atau dasar untuk kontrak dan tidak merupakan kontrak lengkap sendirinya.

Formulir-formulir
Polis dasar kebakaran dilengkapi dengan menambahkan suatu formulir, dan endorsemen atau rider. Formulir ini yang ditambahkan pada polis dasar harta tertentu akan menyempurnakan kontrak tersebut.

Endorsemen
Rider dan endorsemen adalah dua buah istilah yang artinya sama. Rider mengubah kontrak yang dilampirinya, ia dapat menambah atau mengurangi penutupan, merubah premi, membuat pembetulan atau membuat perubahan-perubahan lain.

Polis paket
Polis paket ini menguntungkan baik tertanggung maupun penanggung. keuntungannya bagi tertanggung adalah ia biasanya dapat menerima penutupan yang lebih lengkap dengan biaya premi yang lebih rendah daripada ia membeli polis-polis terpisah untuk menutup berbagai risiko.
Kelemahan polis paket adalah preminya relatif lebih tinggi karena ia merupakan gabungan dari beberapa penutupan. Akan tetapi, kelemahan ini terhadap tertanggung dapat diringankan dengan menggunakan system pembayaran cicilan. Cara ini menyenangkan bagi penanggung tap menambah pekerjaan bagi pegawai perusahaan asuransi.

Bagaimana membaca polis asuransi

Pendekatan yang keliru
Kebanyakan orang benar-benar bingung membaca polis asuransi karena mereka membacanya seolah-olah polis itu adalah cerita pendek atau novel. Polis seperti sebuah kamus, dalam arti apa yang ingin diketahui orang dapat ditemukan disitu, tetapi ia harus memusatkan apa ini sebelum mulai mencarinya.

Pendekatan yang keliru
Dalam membaca polis asuransi, langkah pertama bagi tertanggung adalah memusatkan apa yang ingin diketahuinya. Langkah berikutnya adalah memeriksa struktur polis itu untuk mengetahui di mana lokasi itu. Langkah ketiga adalah membaca bagian-bagian yang relevant. Langkah terakhir adalah memeriksa silang (cross check) untuk memastikan tidak ada hal yang terlangkahi. Ini penting karena struktur dan penyusunan polis asuransi itu tidak selalu logis, sekurang-kurangnya dari sudut pandang tertanggung.

Daftar pemeriksaan (checklist)
Agar dapat memusatkan apa yang ingin diketahuinya dari polis asuransi, tertanggung hendaklah membuat sebuah daftar pemeriksaan yang berisi pertanyaan-pertanyaan yang penting. Pertanyaan-pertanyaan itu sebagai berikut :
1. Siapa yang diasuransikan?
2. Harta apa yang diasuransikan?
3. Terhadap bencana apa diasuransikan?
4. Sampai berapa jauh penutupan terhadap harta atau bencana itu memenuhi syarat (qualified)?
5. Bencana-bencana apa, penyebab kerugian mana, atau harta apa yang dikecualikan?
6. Kapankah polis ini berlaku?
7. Dimanakah perlindungannya berlaku?
8. Kondisi-kondisi apa yang dapat menskorsing penutupan?
9. Alternatif-alternatif apa yang tersedia dalam hubungannya dengan penyelesaian klaim dan siapakah yang berhak memilih?
Memang tidak semua pertanyaan ini dapat digunakan untuk setiap polis, tetapi dengan mengikuti checklist ini memungkinkan untuk “mengetahui penutupan”.

MENETAPKAN HARGA ASURANSI
Menetapkan harga asuransi disebut ratemaking, yaitu menghitung kontribusi setiap pemegang polis.

  • Prinsip-prinsip ratemaking

Penetapan tariff ilmiah tunduk kepada sejumlah prinsip-prinsip dasar, yaitu :

1. Tarif itu hendaklah memadai
Tarif asuransi hendaklah cukup tinggi untuk dapat menutup semua kerugian dan semua biaya operasi perusahaan. Memadai tidaknya suatu tarif yang memadai dapat ditentukan dengan membandingkan ratio kerugian yang diperkirakan. “Ratio kerugian yang diperkirakan” adalah perkiraan presentase total premi yang diperlukan untuk membayar beban kerugian termasuk biaya penyelesaian kerugian itu.

2. Tarif itu jangan diskriminasi
Sepintas lalu tampaknya tarif yang memadai itu sudah merupakan kriteria yang cukup. Tetapi ini tidak benar, penting pula baik bagi tertanggung maupun bagi penanggung agar tarif tidak diskriminatif. Walaupun keadilan ituu mudah dirumuskan, namun tidak mungkin diperoleh dalam praktek. Karena keadilan yang sempurna itu tidak realistis.

3. Tarif itu jangan berlebih-lebihan
Tarif asuransi dapat berlebih-lebihan. Tidak heran, kadang-kadang pejabat negara tidak sependapat dengan perusahaan asuransi mengenai apakah tarif tertentu itu berlebihan atau tidak.

4. Tarif itu secara ekonomis haruslah layak
Sejauh yang menyangkut negara, sudah cukup kalau tarif itu sudah memadai, sudah adil, dan tidak berlebihan. Tetapi bagi perusahaan asuransi ini belum cukup, ia harus pula mempertimbangkan prinsip-prinsip ratemaking lain, kalau bisnisnya hendak maju.
Asuransi tabrakan mobil merupakan sebuah contoh penutupan asuransi yang mungkin di luar kesanggupan budget pembeli. Penutupan penuh untuk kerusakan tabrakan mobil membutuhkan premi yang sedemikian tinggi sehingga hampir-hampir tidak dapat diperoleh.

5. Tarif itu hendaklah merangsang usaha pencegahan kerugian
Tarif itu hendaklah ditetapkan sedemikian rupa sehingga merangsang kegiatan pencegahan kerugian. Jika struktur tarif dapat dibuat sedemikian rupa sehingga memberikan penghargaan pada kegiatan pencegahan kerugian, maka dapat diduga akan lebih sedikit terjadinya kerugian dibandingkan dengan bila tidak ada perhatian pada usaha pencegahan kerugian.

Aplikasi ratemaking

Asuransi Kebakaran
Dalam asuransi kebakaran, banyak dipakai tariff manual dan tarif schedule. Sebuah contoh tarif manual adalah tarif kelas untuk rumah kediaman. Di amerika serikat, misalnya semua rumah kayu yang didiami satu keluarga per rumah beratap bahan bangunan standar yang tahan api, dibebani $ 0,18 premi per $100. Tidak ada potongan kuantitas dalam asuransi kebakaran. Tarif untuk setiap $100 peunutupan adalah konstan. Jadi premi yang asuransi kebakaran untuk sebuah rumah yang berharga $20.000 adalah $0.18 X $20.00/100 = $36 pertahun.

Faktor-faktor pokok yang mempengaruhi bahaya kebakaran adalah occupancy, lokasi, bangunan, dan proteksi. Occupancy menunjukan penggunaan bangunan itu. Pabrik bahan peledak termasuk kategori yang berbeda dengan rumh, sekolah, dan tentu saja lebih tinggi tariff preminya. Lokasi bangunan sangat penting untuk mengukur kemungkinan menjalarnya api dari bangunan tertanggung ke sekitarnya. Proteksi adalah tersedianya peralatan dan personalia pemadam kebakaran. Ini mencakup sistem penyemprotan dan alat-alat pemadam kebakaran lainnya.

Asuransi Lautan
Ratemaking dalam asuransi laut adalah penetapan tarif berdasarkan pertimbangan dalam bentuk termurni. Untuk hampir semua jenis risiko tidak ada tarif manual. Tarifnya ditentukan dengan negosiasi antara makelar yang mewakili kapal atau pengirim barang dengan agen asuransi.
Banyak faktor harus dipertimbangkan oleh pihak-pihak dalam menentukan tarif, di antaranya yang terpenting adalah cirri-ciri fisik dari kapal. Kebanyakan kapal dibuat di bawah pengawasan biro klasifikasi yang bertujuan mengawasi pembangunan kapal. Biro-biro inilah yang menerbitkan data tentang kapal-kapal. Laporan biro klasifikasi sangat penting dalam ratemaking (penetapan tarif).

Faktor penting kedua dalam penetapan tarif premi asuransi laut adalah daerah yang dilayari oleh kapal itu. Beberapa daerah laut relatif bebas dari bahaya, sedangkan daerah lain sering tertimpa gangguan. Faktor ketiga adalah faktor waktu berlalunya polis. Tarif untuk pelayaran menyeberangi Lautan Atlantik Utara lebih tinggi daripada di musim panas. Faktor terakhir adalah faktor pemilik kapal. Mungkin saja dua buah kapal yang sama digunakan untuk tujuan yang sama dan melayari laut yang sama namun berbeda tarif premi asuransinya karena pemiliknya berbeda atau nakhodanya memiliki rekor atau reputasi yang berbeda.

Asuransi Harta dan Tanggung Gugat lainnya
Asuramsi harta dan tanggung gugat lainnya pada umumnya memakai tarif kelas dimana risiko yang lebih besar tunduk pada perubahan-perubahan berdasarkan pengalaman. Klasifikasi dalam kebanyakan asuransi tanggung gugat didasarkan atas bisnis tertanggung dalam asuransi mobil, klaifikasinya didasarkan atas tipe-tipe mobil(mobil pribadi, truk, pengangkutan umum, dan lain-lain) dan daerah perjalanan mobil itu. Kelas ini dapat dibagi lagi menurut taksiran mil perjalanan, usia dan status perkawinan serta jenis kelamin pengendara, dan penggunaan mobil itu.

Asuransi jiwa
Premi asuransi jiwa dihitung berdasarkan tingkat mortalitas (kematian), bunga, dan biaya. Tingkat mortalitas adalah perkiraan tingkat kematian pada setiap usia yang biasanya dinyatakan sekian per 1.000 orang dan untuk mudahnya dibuat berbentuk daftar. contoh , daftar kematian CSO (commissioners Standard Ordinary) 1958, menunjukan hubungan antara kemungkinan jumlah kematian dan kemungkinan jumlah hidup pada setiap usia dari 0 sampai 100 tahun. Dengan asumsi 10 juta orang yang pada permulaannya.

Setiap perusahaan asuransi mempekerjakan aktuarisnya sendiri dan membuat preminya sendiri. Aktuaris ini adalah ahli matematika asuransi jiwa yang menghitung premi. Untuk ini harus ditetapkan suatu tingkat bunga. Karena polis asuransi jiwa adalah suatu kontrak jangka panjang, maka tingkat bunga yang digunakan berpengaruh besar terhadap premi akhir yang dibebankan pada tertanggung. Perusahaan asuransi jiwa umumny mengenakan 21/2% sampai 31/2%

Asuransi kesehatan
Prosedur menghitung premi asuransi kesehatan adalah sama dengan menghitung premi asuransi jiwa: premi netto ditambah dengan suatuu jumlah untuk penutup biaya, cadangan, pajak, dan laba. Premi netto adalah hasil perkalian tingkat frekuensi klaim dengan rata-rata nila klaim. Tingkat frekuensi klaim adalah presentase klaim yang terjadi dalam setahun dari sejumlah tertentu exposures. Jadi tingkat frekuensi klaim adalah probabilitas terjadinya suatu klaim. Rata-rata nilai klaim disebut juga tingkat kegawatan klaim dan merupakan ukuran rata-rata jumlah klaim.

Apakah yang harus dilakukan jika terjadi kerugian
Umumnya agen perusahaan memberikan booklet kecil kepada kliennya yang menjelaskan apa yang harus dilakukan jika terjadi kerugian. Ide pokoknya adalah untuk memberitahu perusahaan asuransi anda bahwa telah terjadi suatu kerugian. Dalam perusahaan asuransi jiwa, pemberitahuan kepada agen dapat dilakukan dengan telepon dan agen itu akan memproses klaimnya. Dalam asuransi kesehatan, seringkali penyelesaian dilaksanakan melalui kantor rumah sakit atau dokter.

KESIMPULAN

Dapat kita lihat betapa pentingnya asuransi dalam kehidupan kita, selain untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu hal yang tidak kita inginkan, seperti kecelakaan mobil, kebakaran rumah, dan kejadian lainnya yang dapat menyebabkan kerugian. Walaupun perusahaan asuransi tidak dapat mencegah bencana yang akan terjadi,tetapi dapat mengurangi beban kerugian yang akan kita tanggung.
Penulis berharap dengan membaca buku ini dapat membuat para pembaca memahami arti asuransi dan bagaimana menjadi polis yang baik serta tata cara klaim asuransi yang sesuai dengan pembuat asuransi tersebut. Asuransi ada untuk mempersiapkan diri kita dan keluarga untuk menjalani kehidupan yang lebih baik.
Sumbet :
Mehr & Cammark,terj.Drs. A.Hasymi, Manajemen Asuransi, Balai Aksara, Jakarta,1988.

24

MANAJEMEN PROYEK


1.1      Pendahuluan

Kemajuan dalam kegiatan industry pada beberapa aspek memerlukan manajemen atau pengelolaan yang dituntut memiliki kinerja, kecermatan, keekonomisan, keterpaduan, kecepatan, ketetapan, ketelitian serta keamanan yang tinggi dalam rangka memperoleh hasil akhir yang sesuai harapan. Pengelolaan suatu kegiatan dengan investasi berskala besar dan tingkat kompleksitas yang sangat sulit membutuhkan cara teknis/metode yang teruji, sumber daya yang berkualitas, serta penerapan ilmu pengetahuan yang tepat dan up to date.

Manajemen sebagai ilmu mengelola suatu kegiatan yang skalanya dapat berskala kecil atau bahkan sangat besar, mempunyai ukuran tersendiri terhadap hasil akhir. Dengan menrapkan prinsip-prinsip dasar manajemen yang sama oleh individu atau organisasi yang berbeda, hasil akhir proses manajemen dapat berbeda satu sama lain. Ini karena ada perbedaan-perbedaan budaya, pengalaman, lingkunga, kondisi social, tingkat ekonomi, karakter sumber daya manusia serta kemampuan untuk menguasai prinsip-prinsip dasar manajemen.

Untuk memberikan gambaran tentang manajemen, selanjutnya diuraikan ruang lingkup manajemen, seperti definisi dan kegiatan-kegiatan dalam mananejmen, manajemen proyek, karakteristik proyek, stakeholder (pemangku kepentingan) pada proyek serta organisasi proyek, kontrak-kontrak pada proyek, kinerja proyek, manajemen lingkungan, manajemen risiko serta system informasi manajemen proyek yang dijelaskan dalam uraian berikut.

 

1.2      Definisi dan Aspek-aspek dalam Manajemen Proyek

 

Manajemen

 

Suatu ilmu pengetahuan tentang seni memimpin organisasi yang terdiri atas kegiatan perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian terhadap sumber-sumber daya yang terbatas dalam usaha mencapai tujuan dan sasaran yang efektif dan efisien.

Tujuan Manajemen

 

Mendapatkan metode atau cara teknis yang paling baik agar dengan sumber-sumber daya yang terbatas diperoleh hasil maksimal dalam hal ketetapan, kecepatan, penghematan dan keselamatan kerja secara komprehensif.

Unsur-unsur Manajemen

  • Tujuan : sasaran yang hendak dicapai dalam optimasi biaya, mutu, waktu, dan keselamatan.
  • Pemimpin : mengarahkan organisasi dalam mencapai sasaran dan tujuan.
  • Sumber-sumber daya yang terbatas : manusia, modal/biaya, peralatan dan material.
  • Kegiatan  : Perencanaan, Pengorganisasian, Pelaksanaan dan Pengendalain.

Perencanaan (Planning)

 

Perencanaan harus dibuat dengan cermat, lengkap, terpadu dan dengan tingkat kesalahan paling minimal. Namun hasil dari perencanaan bukanlah dokumen yang bebas dari koreksi karena sebagai acuan bagi tahapan pelaksanaan dan pengendalian, perencanaan harus terus disempurnakan secara iterative untuk menyesuaikan dengan perubahan dan perkembangan yang terjadi pada proses selanjutnya.

Pengorganisasian (Organizing)

 

Pada kegiatan ini dilakukan identifikasi dan pengelompokan jenis-jenis pekerjaan, menurut pendelegasian wewenang dan tanggung jawab personel serta meletakkan dasar bagi hubungan masing-masing unsur organisasi. Untuk menggerakkan organisasi, pimpinan harus mampu mengarahkan organisasi dan menjalin komunikasi antarpribadi dalam hierarki organisasi. Semua itu dibangkitkan melalui tanggung jawab dan partisipasi semua pihak.

Struktrur organisasi yang sesuai dengan kebutuhan proyek dan kerangka penjabaran tugas personel penanggung jawab yang jelas, serta kemampuan personel yang sesuai keahliannya, akan diperoleh hasil positif bagi organisasi.

Pelaksanaan (Actuating)

 

Kegiatan ini adalah implementasi dari perencanaan yang telah ditetapkan, dengan melakukan tahapan pekerjaan yang sesungguhnya secara fisik atau nonfisik sehingga produk akhir sesuai dengan sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan. Karena kondisi perencanaan sifatnya masih ramalan dan subyektif serta masih perlu penyempurnaan, dalam tahapan ini sering terjadi perubahan-perubahan dari rencana yang telah ditetapkan.

Pengendalian (Controlling)

 

Kegiatan yang dilakukan pada tahapan ini dimaksudkan untuk memastikan bahwa program dan aturan kerja yng telah ditetapkan dapat dicapai dengan penyimpangan paling minimal dan hasil paling memuaskan. Untuk itu dilakukan bentuk-bentuk kegiatan seperti berikut :

  •  Supervise : melakukan serangakaian tindakan koordinasi pengawasan dalam batas wewenang dan tanggung jawab menurut prosedur organisasi yang telah ditetapkan, agar dalam operasional dapat dilakukan secara bersama-sama oleh personel dengan kendali pengawas.
  • Inspeksi : melakukan pemeriksaan terhadap hasil pekerjaan dengan tujuan menjamin spesifikasi mutu dan produk sesuai dengan yang direncanakan.
  • Tindakan Koreksi : melakukan perbIKn dan perubahan terhadap rencana yang telah ditetapkan untuk menyesuaikan dengan kondisi pelaksanaan.

Proyek :

Gabungan dari sumber-sumber daya seperti manusia, material, peralatan dan modal/biaya yang dihimpun dalam suatu wadah organisasi sementara untuk mencapai sasaran dan tujuan.

Dari semua uraian diatas, dapat ditarik kesimpulan bahawa Manajemen Proyek adalah penerapan ilmu pengetahuan, keahlian dan keterampilan, cara teknis yang terbaik dan dengan sumber daya yang terbatas, untuk mencapai sasaran dan tujuan yang telah ditentukan agar mendapatkan hasil yang optimal dalam hal kinerja biaya, mutu dan waktu, serta keselamatan kerja.

1.2.1Aspek-aspek dalam Manajemen Proyek

Dalam manajemen proyek, yang perlu dipertimbangkan agar output proyek sesuai dengan sasaran dan tujuan yang direncanakan adalah mengidentifikasi berbagai masalah yang mungkin timbul ketika proyeek dilaksanakan. Beberapa aspek yang dapat diidentifikasi dan menjadi masalah dalam manajemen proyek serta membutuhkan penanganan yang cermat adalah sebagai berikut :

  • Aspek Keuangan : Masalah ini berkaitan dengan pembelanjaan dan pembiayaan proyek. Biasanya berasal dari modal sendiri dan/atau pinjaman dari Bank atau investor dalam jangka pendek atau jangka panjang. Pembiayaan proyek menjadi sangat krusial bila proyek berskala besar dengan tingkat kompleksitas yang rumit, yang membutuhkan analisis keuangan yang cepat dan terencana.
  • Aspek Anggaran Biaya : Masalah ini berkaitan dengan perencanaan dan pengendalian biaya selama proyek berlangsung. Perencanaan yang matan dan terperinci akan menudahkan proses pengendallian biaya, sehingga biaya yang dikeluarkan sesuai dengan anggaran yng direncanakan. Jika sebaliknya, akan terjadi peningkatan biaya yang besar dan merugikan bila proses perencanaannya salah.
  • Aspek Manajemen Sumber Daya Manusia : Masalh ini berkaitan dengan kebutuhan dan alokasi SDM selama proyek berlangsung yang berfluktuatif. Agar tidak menimbulkan masalah yang kompleks, perencanaan SDM didasarkan atas organisasi proyek yeng dibentuk sebelumnya dengan melakukan langkah-langkah, proses staffing SDM, deskripsi kerja, perhitungan beban kerja, deskripsi wewenang dan tanggung jawab SDM serta penjelasan tentang sasaran dan tujuan proyek.
  • Aspek Manajemen Produksi : Masalah ini berkaitan dengan hasil akhir dari proyek; hasil akhir proyek negative bila proses perencanaan dan pengendaliannya tidak baik. Agar hal ini tidak terjadi, maka dilakukan berbagai usaha untuk meningkatkan produktivitas SDM, meningkatkan efisiensi prose produksi dan kerja, meningkatkan kualitas produksi melalui jaminan mutu dan pengendalian mutu.
  •   Aspek Harga : Masalah ini timbul karena kondisi eksternal dalam hal persaingan harga, yang dapat merugikan perusahaan karena produk yang diahasilkan membutuhkan biaya produksi yang tinggi dan kalah bersaing dengan produk lain.
  • Aspek Efektifitas dan Efisiensi : Masalah ini dapat merugikan bila fungsi produk yang dihasilakn tidak terpenuhi/tidak efektif atau dapat juga terjadi bila factor efisiensi tidak terpenuhi, sehingga usah produksi membutuhkan biaya yang besar.
  • Aspek Pemasaran : Masalah ini timbul berkaitan dengan perkembangan factor eksternal sehubungan dengan persaingan harga, strategi promosi, mutu produk serta analisi pasar yang salah terhadap produksi yang dihasilkan.
  • Aspek Mutu : Masalah ini berkaitan dengan kualitas produk akhir yang nantinya dapat meningkatkan daya saing serta memberikan kepuasan bagi pelanggan.
  •   Aspek Waktu : Masalah waktu dapat menimbulkan kerugian biaya bila terlambat dari yang direncanakan serta akan menguntungkan bila dapat dipercepat.

 

1.3      Karakteristik dan Siklus Proyek

Timbulnya suatu proyek, dalam kurun waktu yang dibatasi, bisanya dibatasi dengan kebutuhan-kebutuhan yang sifatnya mendesak karena tuntutan pengembangan dan tingkat pertumbuhan social dan ekonomi dari suatu lokasi atau daerah tertentu. Proyek biasanya difasilitasi oleh pemerintah atau dapat juga dilatarbelakangi semata-mata oleh manfaat ekonomis, yang biasanya dilakukan oleh sector swasta.

Masing-masing proyek biasanya karakteristik tersendiri dalam hal kegiatan yang dilakukan, tujuan dan sasaran, serta produk akhir. Untuk lebih jelas, berikut ini diuraikan jenis proyek berdasarkan komponen kegiatan utama dan produk akhir.

  1. Proyek Konstruksi : Kegiatan utamanya adalah studi kelayakan, design engineering, pengadaan dan konstruksi. Hasilnya berupa pembangunan jembatan, gedung, pelabuhan, jalan raya, dan sebagainya, yang biasanya menyerap kebutuhan sumber daya yang besar serta dapat dimanfaatkan oleh orang banyak.
  2. Proyek Industri Manufaktur : Kegiatan utamanya adalah design engineering, pengembangan produk, pengadaan, manufaktur, perakitan, uji coba terhadap produk serta pemasaran. Produknya dapat berupa kendaraan, alat elektronik, bahan tekstil, pakaian, serta lainnya yang dapat diproduksi dalam jumlah missal, penggunannya dapat bersifat individu atau dapat digunakan banyak orang.
  3.   Proyek Penelitian dan Pengembangan : Kegiatan utama pada proyek ini adalah melakukan penelitian dan pengembangan dalam rangka menghasilkan produk tertentu. Proses pelaksanaan serta lingkup kerja yang dilakukan sering mengalami perubahan untuk menyesuaikan dengan tujuan akhir proyek. Tujuan proyek dapat berupa memperbaiki atau meningkatkan produk, pelayanan, atau metode produksi.
  4.   Proyek Padat Modal : Jenis proyek ini tidak diartikan berdasarkan komponen kegiatannya saja, tetapi lebih kepada jumlah dana capital yang digunakan dengan jumlah cukup besar. Proyek padat modal tidak selalu berarti padat tenaga kerja, namun dapat saja proyek dengan teknologi tinggi yang menbutuhkan biaya besar dengan tenaga kerja secukupnya. Sebagai contoh adalah proyek pembebasan lahan, pembelian material, dan peralatan dengan jumlah besar, membangun fasilitas produksi, dan lain sebagainya.
  5.   Proyek Pembangunan Produk Baru : Proyek ini merupakan gabungan anatara proyek penelitian dan pengembangan dengan proyek padat modal, lalu dilanjutkan dengan mendirikan unit percobaan dalam bentuk pilot plan. Setelah hasil uji coba berhasil dan dapat diproduksi secara missal, dilanjtkan dengan proyek padat modal untuk membangun fasilitas produksi sesuai dengan kapasitas yang diinginkan.
  6.   Proyek Pelayanan Manajemen : Proyek ini berkenaan dengan kegiatan-kegiatan spesifik suatu perusahaan dimana produk akhirnya berupa jasa atau dalam bentuk nonfisik. Laporan akhir dari proyek dapat dipakai oleh perusahaan pemilik proyek sebagai rekomendasi untuk pedoman pelaksanaan, standar operasional prosedur dari suatu pekerjaan. Contoh jenis proyek ini adalah proyek pengembangan system informasi perusahaan, perbaikan efisiensi kinerja perusahaan, dan sebagainya.
  7.   Proyek infrastruktur : proyek ini biasanya berkaitan dengan penyediaan kebutuhan masyarakat secara luas dalam hal prasarana transportasi, pembangunan waduk pembangkit tenaga listrik, pengairan sawah, sarana instalasi telekomunikasi dan penyediaan sumber air minum. Biasanya proyek ini padat modal dan padat karya yang mendapat bantuan pinjaman dari donator luar negeri dengan pinjaman jangka panjang, yang pembayarannya serta pengelolaan dananya dilakukan oleh pemerintah atau dapat juga dengan investasi pihak swasta kemudian pemerintah member konsesi.

Kompleksitas proyek dapat ditunjukkan berdasarkan skala proyek, modal yang ditanamkan, sumber daya, tingkat keunikan, hubungan internal dan eksternalpada proyek, serta toleransi penyimpangan yang dapat diterima. Besar kecil proyek tidak dapat menerima kompleksitas proryek karena proyek kecil dapat saja lebih kompleks pengelolaannya daripada proyek besar.

1.3.1Siklus Proyek

dari beberapa jenis proyek tersebut, tahapan kegiatan pada siklus proyeknya dapat berbeda karena pola penanganan dan penanganannya cukup berbeda. Siklus proyek menggambarkan urutan langkah-langkah sejak proses awal hingga proses berakhirnya proyek. Untuk lebih memahami tahapan kegiatan dalam siklus proyek, dibawah ini dijelaskan siklus proyek konstruksi, manufaktur dan proyek infrastruktur berdasarkan durasi waktu dan biaya yang harus dikeluarkan.

Siklus Proyek Konstruksi

  1. Tahap Konsektual Gagasan : Tahapan ini terdiri atas kegiatan, perumusan gagasan, kerangka acuan, studi kelayakan awal, indikasi awal dimensi, biaya dan jadwal proyek.
  2.  Tahap Studi Kelayakan : Studi kelayakan dengan tujuan mendapatkan keputusan tentang kelanjutan investasi pada proyek yang akan dilakukan. Informasi dan data dalam implementasi perencanaan proyek lebih lengkap dari langkah diatas, sehingga penentuan dimensi dan biaya proyek lebih akurat lagi dengan tinjauan terhadap aspek social, budaya, ekonomi, financial, legal, teknis dan administrative yang komprehensif.
  3. Tahap Detail Design : Tahapan ini terdiri atas kegiatan, pendalaman berbagai aspek persoalan, design engineering dan pengembangan, pembuatan jadwal induk dan anggaran serta menentuksan perencanaan sumber daya, pembelian dini, penyiapan perangkat dan penentuan peserta proyek dengan program lelang.
  4. Tujuan tahap ini adalah menetapkan dokumen perencanaan lengkap dan terperinci, secara teknis dan administrative, untuk memudahkan pencapaian sasaran dan tujuan proyek.
  5. Tahap Pengadaan : Tahapan ini adalah memilih kontraktor pelaksana dengan menyertakan dokumen perencanaan, aturan teknis dan administrasi yang lengkap, produk tahapan detail design. Dari proses ini diperoleh penawaran yang kompetitif dari kontraktor dengan tingkat akuntabilitas dan transparansi yang baik.
  6.   Tahap Implementasi : Tahap ini terdiri atas kegiatan, design engineering yamg rinci, pembuatan spesifikasi dan criteria, pembelian peralatan dan material, fabrikasi dan konstruksi, inspeksi mutu, uji coba, start-up, demobilisasi dan laporan penutup proyek. Tujuan akhir proyek adalah mendapatkan kinerja biaya, mutu, waktu dan keselamatan kerja paling maksimal, dengan melakukan proses perencanaan, penjadwalan, pelaksanaan dan pengendalian yang lebih cermat serta trperinci dari proses sebelumnya. Pada tahap ini kontraktor memilki peran dominan dengan tujuan akhir sasaran proyek tercapai dan mendapatkan keuntungan maksimal. Peran memiliki proyek pada tahapan ini dilakukan oleh agen pemilik sebagai konsultan pengawas pelaksanaan, dengan tujuan mereduksi segala macam penyimpangan serta melakukan tindakan koreksi yang diperlukan.
  7. Tahap Operasi dan Pemeliharan : Tahap ini terdiri atas kegiatan operasi rutin dan pengamatan prestasi akhir proyek serta pemeliharaan fasilitas bangunan yang dapat digunakan untuk kepentingan social dan ekonomi masyarakat. Biaya yang dikeluarkan pada tahap ini bersifat rutin dan nilainya cenderung menurun dan pada tahap ini adanya pemasukan dana dari operasional proyek.

Siklus Proyek Manufaktur

  1. Tahap Perumusan Gagasan : Tahap ini terdiri atas kegiatan, perumusan gagasan, kerangka acuan, studi kelayakan, indikasi dimensi proyek dan biaya serta jadwal.
  2.   Tahap Detail Design : Tahap ini terdiri atas kegiatan analisis fungsi dan preliminary design terhadap produk yang akan dibuat, design engineering terinci serta pengembanagan produk dengan acuan spesifikasi, criteria dan gambar design yang telah dibuat sebelumnya.
  3.   Tahap Pengembangan dan Integrasi Sistem : Tahap ini melakukan studi dan pengembangan fasilitas dan peralatan yang akan digunakan, lalu melakukan proses integrasi terhadap system.
  4. Membuat Prototipe : Sebelum produk akhir dihasilkan, biasanya di buat prototype yang kemudian langsung di uji coba untuk mendapat masukan bagi kegiatan berikutnya.
  5.   Manufaktur : Kegiatan tahap ini adalah melakukan pembelian material dan peralatan secara fabrikasi komponen produk untuk mempersiapkan produksi missal.
  6. Perakitan dan Instalasi : Kegiatan ini terdiri atas merakit komponen-komponen produk menjadi produk akhir, mengadakan tes, inspeksi dan uji coba sebelum sampai ke konsumen.

Siklus Proyek Infrastruktur

  1. Tahap Komseptual Proyek : Pada thapan ini biasanya pemerintah membuat rancangan konseptual untuk proyek jalan tol dengan mengacu kepada kebutuhan yang mendesak serta mempunyai cukup akses dengan jaringan jalan yang sudah ada. Pihak swasta dapat juga mengajukan proposal kepada pemerintah dengan pertimbangan-pertimbangan teknis serta financial yang cukuo memadai.
  2.   Tahap promosi : Tahap promosi terdiri atas design pendahuluan, evaluasi studi kelayakan dan penyerahan konsesi oleh pemerintah kepada pihak swasta yang di beri wewenang menyelenggarakan proyek,dengan pertimbangan kesepakatan kedua belah pihak sudah memennuhi ketentuan yang berlaku.
  3.   Tahap Detail Design dan Pengadaan : Tahap ini adalah design terperinci, terdiri atas kegiatan pendalaman aspek persoalan, seperti : design engineering, pembuatan jadwal induk atau anggaran, penyiapan perangkat dan peserta proyek untuk program lelang pelaksana konstruksi.
  4. Tahap Konstruksi : Pelaksanaan konstruksi membutuhkan biaya sangat besar, pembiayaannya dapa diperoleh dari pasar modal atau pinjaman sindikasi bank atau dapat juga dengan penyertaan modal oleh stake-holder lainnya.
  5. Tahap Operasi dan Pemeliharaan : Pada tahap ini pihak swasta dapat bekerja sama dengan operatot yang telah berpengalaman dalam hal pengoperasian jalan tol sebagai bagian dari konsorsium proyek. Pihak operator melakukan kegiatan pemungutan biaya kepada masyarakat, pemeliharaan terhadap fasilitas proyek yang semuanya diawasi secara penuh oleh pihak konsorsium dalam rangka mencapai tujuan dan sasaran proyek dengan kinerja biaya, waktu, mutu dan keselamatan kerja yang paling maksimal.

1.4      Organisasi Proyek

Organisasi proyek biasanya adalah bagian dari organisasi yang lebih besar seperti pemerintah, institusi, badan atau lembaga atau dapat juga dengan skala lebih kecil seperti perusahaan, lembaga pendidikan, lembaga kesehatan, lembaga penelitian, kumpulan dari kelompok kepentingan, dan lainnya.

Agar tujuan organisasi dapat dicapai, dilakukan proses sebagai  berikut :

  1. Identifikasi dan pembagian kegiatan : identifikasi dan pembagian kegiatan proyek perlu diketahui untuk menentukan volume pekerjaan, macam dan jenisnya, kebutuhan sumber daya, jadwal pelaksanaan serta anggarannya sehingga dapat dilaksanakan oleh penanggung jawab kegiatan sesuai dengan sasaran dan tujuan proyek.
  2. Pengelompokan penanggung jawab kegiatan : agar hasilnya maksimal, pemilihan penanggung jawab organisasi disesuaikan dengan keahlian, keterampilan dan kemampuan personel di bidangnya sehingga sasaran dan tujuan proyek dapat tercapai.
  3. Penentuan wewenang dan tanggung jawab : setiap personel penanggung jawab kegiatan harus mengetahui wewenang dan tanggung jawab pekerjaannya, dengan membuat penjabaran kerja serta standar prosedur operasional pekerjaan yang dikelolanya.
  4. Menyusun mekanisme pengendalian : karena organisasi proyek melibatkan banyak pihak, maka agar tidak terjadi penyimpangan, mekanisme pengendalian dan kordinasi dibuat dalam format yang dapat menggerakkan organisasi dalam mengidentifikasi, memecahkan masalah, serta melakukan tindakan koreksi untuk mengatasi penyimpangan.

Struktur organisasi proyek dibuat dengan situasi kultur dan keunikan berbeda berdasar kebutuhan system manajemen proyek. Oleh karena itu, organisasi proyek mempunyai susunan dan hierarki yang berlainan pula. Pemilihan organisasi proyek didasarkan atas tingkat kebutuhan dan kompleksitas proyek; semakin kompleks proyek, semakin kompleks pula susunan organisasinya. Beberapa macam susunan organisasi proyek dapat dijelaskan seperti di bawah ini.

  1. Organisasi Proyek Fungsional : Struktur organisasi jenis ini dikelompokkan menurut fungsinya, memiliki struktur dengan konsep otoritas dan hierarki vertical. Tanggung jawab organisasi proyek biasanya dirangkap dengan tugas sehari-hari pada organisasi fungsional perusahaan, karena itulah untuk proyek yang besar dapat mengganggu kegiatan keseluruhan, bila organisasi fungsional digunakan.
  2. Organisasi Proyek Murni : Struktur organisasi proyek jenis ini merupakan bagian tersendiri dari organsasi fungsional perusahaan, di mana manajer mempunyai otoritas penuh terhadap proyek. Dengan status ini, tim proyek memiliki komitmen dan wewenang mandiri, namun tetap dalam koordinasi perusahaan.
  3. Organisasi Proyek Matriks : Struktur organisasi proyek ini biasanya gabungan dari organisasi proyek murni dan fungsional, memanfaatkan ahli dari berbagai disiplin ilmu yang terlibat dalam organsasi fungsional sebagai bagian dari proyek, tetapi tidak mengganggu proses pelaksanaan proyek serta organisasi fungsional perusahaan.

1.5      Kontrak-kontrak pada Proyek

Kontrak pada proyek menentukan hak dan kewajiban antara dua belah pihak atau lebih yang terlibat dalam kontrak, biasa dilakukan antara pemilik dengan konsultan atau kontraktor, kontraktor dengan pemasok, dan lain sebagainya. Kontrak bersifat mempunyai aspek hokum yang kuat serta mengikat, sehingga para pihak yang terlibat mempunyai kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhi, ditulis dengan jelas dalam dokumen kontrak.

1.5.1Kontrak Proyek Konstruksi

Proyek konstruksi mempunyai dua jenis kontrak, yaitu kontrak penawaran bersaing dan kontrak penawaran dengan negosiasi, masing-masing penjelasannya seperti diuraikan di bawah ini.

Kontrak Penawaran Bersaing

Setelah penawaran lelang dilakukan dan didapat secara bertanggung jawab serta dengan studi dan evaluasi penawaran diterima, proyek pun diserahkan kepada kontraktor terpilih lalu ditrbitkanlah Surat Perintah Kerja (SPK). Hal-hal yang perlu diprhatikan dalam kontrak dengan penawaran bersaing :

1.   Pelaksanaan pekerjaan diserahkan pada peserta penawaran yang bertanggung jawab dan mempunyai harga penawaran yang bertanggung jawab dan mempunyai harga penawaran terendah. Kontraktor yang bertanggung jawab adalah :

  • Lulus prakualifikasi dengan criteria yang telah ditentukan.
  • Mempunyai tanggung jawab trhadap mutu, kemampuan dan kapasitas yang dibutuhkan.
  • Tidak curang, tidak melakukan kolusi dan tidak ada catatan buruk.
  • Mempunyai reputasi yang baik dalam hal kerja sama.

2.       Kontrak penawaran bersaing dilakukan untuk proyek public dan pribadi.

3.       Estimasi biaya dilakukan oleh owner, dengan ketentuan :

  •  Lelang gagal bila penawaran terendah dari kontraktor lebih besar dari estimasi owner.
  • Dapat dijadikan acuan untuk mengoreksi kesalahan dalam penawaran/lelang seperti ketidakseimbangan dalam unit price dan kesalahan pelaksanaan peserta lelang.

4.       Pernyataan tentang penyerahan bukanlah wewenang pernyataan untuk memualai pekerjaan.

Kontrak penawaran bersaing terdiri atas :

1.          Kontrak lump sump, di mana biaya yang harus dikeluarkan pemilik proyek adalah suatu jumlah tetap yang didapat dari perhitungan seluruh aspek pekerjaan sesuai dengan dokumen kontrak, seperti gambar design, spesifikasi umum dan teknis serta aturan-aturan administrative lainnya. Jenis kontrak ini mempunyai karakteristik sebagai berikut :

  •  Jenis kontrak ini meliput semua biaya yang tetap terdiri dari semua aspek pekerjaan.
  • Jumlah biaya yang ditetapkan sudah memperhitungkan kesulitan-kesulitan di lapangan serta biaya-biaya tak terduga, sehingga tidak ada tambahan biaya lagi untuk kondisi tersebut, sehingga perencanaan proyek diusahakn dengan sempurna.
  • Kondisi yang diperhitungkan adalah dalam keadaan force major.
  • Banyak dipakai karena beresiko minimal bagi pemilik proyek.
  • Biaya yang harus disediakan dapat diketahui lebih awal
  •   Banyak dipakai oleh pemilik proyek dengan harapan pekerjaan tambah kurang diminimalisir.
  •   Kontrak ni tidak cocok untuk volume pekerjaan yang tidak pasti seperti pekerjaan penggalian tanah dan pekerjaan pondasi.

2.Kontrak unit price, didasarkan atas estimasi volume pekerjaan yang telah diklarifikasi berssama-sama pemilik proyek dengan jumlah biaya per unit pekerjaan. Jenis kontrak ini mempunyai karakteristik sebagai berikut Kontrak penawaran bersaing mempunyai keuntungan-keuntungan, seperti pelaksanaan dilakukan oleh kontraktor dengan penawaran terendah serta dilakukan oleh kontraktor dengan penawaran terendah serta dengan kriteria sebagai berikut :

  •  Telah lulus prakualifikasi, mempunyai tanggung jawab terhadap mutu.
  • Kemampuan andal serta kapasitas sesuai yang dibutuhkan.
  • Tidak pernah melakukan kecurangan atau catatan buruk lainnya.
  • Mempunyai reputasi yang baik dalam koordinasi internal proyek dan hasil akhir proyek selalu memuaskan pemilik proyek.

Kontrak Penawaran Negosiasi Biaya

Kontrak penawaran negosiasi biaya adalah melakukan transaksi dengan cara penawaran yang dilakukan oleh dua belah pihak, yaitu pemilik proyek dan kontraktor pelaksana yang dikenal pemilik, dengan harapan diperoleh harga penawaran yang sesuai dengan keinginan pihak-pihak tersebut. Kontrak ini biasanya terdiri atas :

  1. Kontrak lump sum, harga ditentukan dari negosiasi penawaran yang dilakukan oleh pemilik proyek dengan klotraktor dengan catatanharga yang disepakati sesuai dengan volume pekerjaan yang dihitung pemilik proyek berdasarkan klarifikasi kedua belah pihak.
  2.   Unit price, jenis ini juga sama dengan cara kontrak penawaran bersaing, namun harga ditentukan berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak.
  3. Kontrak cost plus free, pembayaran oleh pemilik proyek didasarkan atas daftar biaya yang dikeluarkan oleh kontraktor setelah proyek selesai ditambah dengan keuntungannya. Jenis kontrak ini mempunyai karakteristik sebagai berikut :
  • Kontrak pembayaran, prosedur dan metode kerja, hasil akhir proyek serta jumlah keuntungan buat kontraktor harus diuraikan secara jelas agar tidak terjadi perselisihan di kemudian hari.
  • Diperlukan metode akunting, yang telah disetujui oleh pemilik proyek, untuk perhitungan-perhitungan pembiayaan oleh kontraktor.
  • Memakai prosedur subletting-contract.
  • Risiko terbesar, yang ada pad pemilik proyek, terjadi bila kontraktor melakukan kecurangan karena pengawasan yang tidak ketat.
  • Daftar biaya pekerjaan yang dibayarkan oleh pemilik proyek kepada kontraktor pelaksana berdasarkan hasil kesepakatan.
  • Kontrak ini dapat memuaskan kedua belah pihak bila kesepakatan-kesepakatan yang dibuat sebelumnyadijalani sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing pihak.
  • Biasanya keuntungan yang diperoleh kontraktor sebesar 10% atau berdasarkan kesepakatan.

Sistem Kontrak pada Proyek Konstruksi

Sistem kontrak diberlakukan dalam proyek konstruksi. Yang mengatur hubungan  kontrak dan koordinasi terhadap semua pihak yang terlibat.

  1. Kontraktor Utama Tunggal (Single Prime Contract): Kontraktor utama yang sudah melakukan kontrak dengan pemilik proyek melakukan hubungan koordinasi dan hubungan kontrak dengan hierarki organisasi dibawahnya seperti berbagai sunkontraktor spesialis dan pemasok material. Pada sistem ini, hanya kontraktor utama yang bertanggung jawab terhadap seluruh pekerjaan proyek kepada pemilik.
  2. Kontraktor Utama Terpisah (Separate Prime Contract): Proyek yang mempunyai skala pembangunan fisik sangat esar membutuhkan banyak kntraktor utama, masing-masing melakukan hubungan kontrak dan hubungan koordinasi dengan hierarki organisasi di bawahnya, seperti berbagai subkontraktor spesialis dan pemasok material, selain hubungan kontrak dengan pemilik proyek.
  3. Desain dan Bangun (Design and Build): Tim kosep dalam proyek sistem ini adalah pemilik dengan satu perusahaan yang terdiri atas perencana dan kontraktor. Perusahaan tersebut menyediakan dana, merencanaka serta melaksanakan pembangunan konstruksi. Setelah proyek berakhir, bangunan dialihkan kepada pemilik proyek dengan sisten turn key.
  4.   Manajemen Konstruksi (Construction Management): Kontraktor melakukan pekerjaan dengan koordinasi dan diawali oleh wakil pemilik proyek dalam organisasi manajemen konstruksi.
  5. Desain dan Kelola (Design and Manage): Kontraktor melaksanakan pekerjaan perencanaan, serta melakukan pekerjaan konstruksi secara keseluruhan.

Pembayaran Kontrak Proyek Konstruksi

Fee kontraktor bervariasi, bergantung pada karakteristik proyek seperti :

  • Kompleksitas proyek
  • Lokasi
  • Kebutuhan sumber daya
  • Estimasi waktu
  • Risiko yang dihadapi

Pembayaran Kemajuan/Prestasi Proyek (Progress Payment)

Pembayaran kemajuan/prestasi proyek dilakukan secara periodik dengan batasan waktu: harian, fase, bulanan, atas presentasi/bobot yang disetujui oleh konsultan pengawas atau manajemen konstruksi. Bila kontrak dengan cara fixed price, biasanya kontraktor mengajukan aplikasi tagihan tiap periode dan owner membayar 10 hari sesudahnya. Untuk kontrak lump sum digunakan cara periodik dan presentasi/bobot, sedangkan pada kontrak cost plus fee, kontraktor mengajukan tagihan owner pada setiap interval waktu selama pelaksanaan proyek.

Jaminan yang Ditahan (Retainage) Serah Terima dan Pembayaran Akhir

Dalam kontrak proyek konstruksi, khususnya untuk penawaran bersaing kontraktor harus menediakan persentase tertentu dari pembangunan kemajuan proyek yang ditahan (retain), gunanya untuk menjamin kontraktor agar terpacu dalam progres mutu dan jadwal waktu.

Serah terima dilakukan bila kontraktor telah menyatakan bahwa pekerjaan telah selesai secara substansial, kemudian dilakukan inspeksi dengan mengacu pada daftar check list kemudian diterbitkan sertifikat penyelesaian substansial pada saat serah terima. Owner membayar 95% total biaya proyek di mana owner menempati bangunan, sedangkan 5% sisanya untuk penjaminan perbaikan yang dibayarkan setelah masa pemeliharaan selesai.

Dokumen Kontrak

Dokumen Kontrak adalah dokumen tertulis untuk menetukan secara tepat hak dan kewajiban setiap pihak. Isi dokumen kontrak :

1.          Surat Penawaran

2.          Instruksi Kepada Penawar

3.          Syarat-syarat Umum

4.          Syarat-syarat Tambahan

5.          Spesifikasi Teknik

6.          Gambar

7.          Adendum

8.          Proposal

9.          Surat Jaminan Penawaran

10.      Persetujuan

11.      Surat Jaminan Pelaksanaan

12.      Surat Jaminan Pembayaran Tenaga dan Material

13.      Skedul Waktu

14.      Kondisi Kerja (Umum dan Khusus)

15.      Dokumen Maintenance dan Training.

Kesepkatan oleh dua pihak, yaitu kontraktor dan owner, dalam dokumen kontrak:

  •  Spesifikasi lebih kuat/berlaku dari pada syarat-syarat umum.
  • Tulisan tangan lebih berlaku daripada yang dicetak.
  • Ketentuan yang diketik lebih berlaku daripada yang dicetak.
  • Kata-kata lebih berlaku daripada nomor-nomor angka.
  • Bila ada yang merugikan, diinterpretasikan melalui gambar.
  • Spesifikasi lebih berlaku dari gambar.

1.5.2. Kontrak Proyek Infrastruktur

Beberapa proyek infrasturktur sudah banyak dilakukan dengan cara privatisasi, di mana pera swasta lebih dominan dibanding pemerintah. Kondisi ini mempengaruhi kontrak kedua belah pihak, masing-masing mempunyai posisi dengan hak dan kewajiban dengan konsekuensi yang sama. Semua ini dimaksudkan untuk memberikan pelayanan publik dengan standar yang lebih tinggi, transparan, dan bertanggung jawab. Kontrak proyek infrastruktur dapat diuraikan seperti di bawah ini :

  1.  Build Operate Transfer (BOT). Suatu rancangan kontrak dimana sektor swasta membangun suatu fasilitas dengan biaya sendiri, lalu mengoperasikannya dan memungut pembayaran terhadap pengguna fasilitas, lalu sektor swasta mengalihkannya kepada pemerintah setelah kurun waktu tertentu yang telah disepakati.
  2. Build Transfer Operate (BTO). Suatu rancangan kontrak dimana sektor swasta membangun suatu fasilitas, yang setelah selesai dialihkan kepada pemerintah sebagai pemilik yang kemudian mengoperasikan fasilitas tersebut.
  3.   Build Own Operate (BOO). Suatu rancangan kontrak di mana pihak swasta membangun suatu fasilitas dengan biaya sendiri, mengoperasikannya dan memungut pembayaran terhadap pengguna fasilitas tersebut. Pihak swasta mengoperasikan dan memiliki fasilitas tersebut tanpa waktu yang ditentukan. Kontrak proyek BOO hampir sama dengan BOT. Perbedaannya, tidak adanya kewajiban bagi pihak swasta untuk mengalihkan aset kepemilikan kepada pemerintah.

1.6  Manajemen Sunber Daya

Perencanaan sumber daya yang matang dan cermat sesuai dengan kebutuhan logis proyek akan membantu pencapaian sasaran dan tujuan proyek secara maksimal, dengan tingkat efektifitas dan efisiensi yang tinggi. Kebutuhan sumber daya pada tiap-tiap proyek tidak selalu sama, bergantung pada skala, lokasi serta tingkat keunikan masing-masing proyek. Namun demikin, perencanaan sumber daya dapat dihitumg dengan pendekatan matematis yang memberikan hasil optimal dibandingkan hanya dengan perkiraan pengalaman, yang tingkat efektivitas dan efisiensi nya rendah.

Dalam menetukan alokasi sumber daya untuk proyek, beberapa aspek yang perlu diperhatikan dan dipertimbangkan adalah sebagai berikut :

  •  Jumlah sumber daya yang tersedia sesuai dengan kebutuhan proyek.
  •   Konidsi keuangan membayar sumber daya yang akan digunakan.
  •   Produktivitas sumber daya.
  • Kemapuan dan kapasitas sumber daya yang akan digunakan.
  • Efeketivitas dan efisiensi sumber daya yang digunakan.

1.6.1 Manajemen Sumber Daya Manusia

Sumber daya manusia yang ada pada suatu proyek dapat dikategorikan sebagai tenaga kerja tetap dan tenaga kerja tidak tetap. Pembagian kategori ini dimaksudkan agar efisiensi perusahaandalam mengelola sumber daya dapat maksimal dengan beban ekonomis yang memadai.  Tenaga kerja/karyawan yang berstatus tetap biasanya dikelola perusahaan dengan pembayaran gaji tetap setiap bulannya dan diberi beberapa fasilitas lain dalam rangka memelihara produktivitas kerja karyawan serta rasa kebersamaan dan rasa memiliki perusahaan. Hal ini dilakukan agar karyawan tetap sebagai aset perusahaan dapat memberikan karya terbaiknya serta memberikan keuntungan bagi perusahaan sesuai dengan keahlian yang dimiliknya. Adanya tenaga kerja tidak tetap dimaksudkan agar perusahaan tidak terbebani oleh pembayaran gaji tiap bulan bila proyek tidak ada atau jumlah kebutuhan tenaga kerja pada saat tertentu dalam suatu proyek dapat disesuaikan dengan jumlah yang seharusnya.

1.6.2 Manajemen Sumber Daya Peralatan

Dalam penentuan alokasi sumber daya peralatan yang akan digunakn dalam suatu proyek, kondisi kerja serta kondisi peralatan perl diidentifikasi dahulu. Beberapa yang perlu diidentifikasi adalah :

  1. Medan Kerja, identifikasi ini untuk menentukan kondisi medan kerja dari tingkat mudah, sedang, atau berat. Kapasitas peralatan yang digunakan dapat disesuaikan dengan kondisi-kondisi tersebut.
  2. Cuaca, identifikasi ini perlu dilakukan khususnya pada proyek dengan keadaan lahan terbuka. Cuaca basah/hujan cenderung menyulitkan pengendalian peralatan, baik mobilisasinya atau manuver-manuver yang akan dilakukan di lokasi setempat.
  3. Mobilitas peraltan ke lokasi proyek perlu didrencanakan dengan detail, khususnya untuk peralatan berat. Akan ada kesulitan bila rute perjalanan menuju proyek bila tidak didukung oleh keadaan jalan atau jembatan kecil atau tidak memadai.
  4. Komunikasi yang memadai antar-operator pengendali dengan pengendali pekerjaan harus terjalin baik, denga perlatan komunikasi yang cukup dan harus tersedia agar langkah-langkah pekerjaan yang dilakuka sesuai rencana.
  5. Fungsi peralatan harus sesuai dengan pekerjaan yang dilakukan untuk menghidari tingkat pemakaian yang tidak efektif dan efisien.
  6. Kondisi peralatan harus layak pakai agar pekerjaan tidak tertunda karena peraltan rusak. Bila perlu tenaga mekanikal harus disiapkan guna mengatasi kerusakan-kerusakan alat.

1.6.3 Manajemen Sumber Daya Material

Dalam pengelolaan material dibutuhkan beragam informasi tentang spesfikasi, harga maupun kualitas yang diinginkan, agar beberapa penawaran pemasok dapat dipilih sesuai dengan spesifikasi proyek dengan harga yang paling ekonomis, seperti diuraikan di bawah ini.

  • Kualitas material yang dibutuhkan menggunakan tipe tertentu dengan mutu harus sesuai dengan persyaratkan dalam spesifikasi proyek.
  • Spesifikasi teknik material, merupakan dokumentasi persyaratan teknis material yang direncanakan dan menjadi acuan untuk pemenuhan kebutuhan maerial.
  •   Lingkup penawaran yang diajukan oleh beberapa pemasok adalah dengan memilih harga yang paling murah dengan kualitas material terbaik.
  •   Waktu pengiriman/delivery menyesuaikan dengan jadwal pemakaian material, biasanya beberpa material dikrim sebelum pekerjaan dimulai.
  • Pajak penjualan material, dibebankan pada pemilik proyek yang telah dihitung dalam harga satuan material atau dalam harga proyek keseluruhan.
  •   Termin pembayaran logistik material harus disesuaikan dengan cashflow proyek agar likuiditas keuangan proyek tetap aman.
  • Pemasok material adalah rekanan terpilih, telah bekerja sama dengan baik dan memberikan pelayanan yang memuaskan pada proyek sebelumnya.
  •   Gudang penimbunan material harus cukup untuk menampung material yang siap dipakai, sehingga kapasitas dan lalu lintas materialnya harus diperhitungkan.
  • Harga material dapat naik sewaktu-waktu saat proyek dilaksanakan, sehngga eskalasi harga harus dimasukan dalam komponen harga satuan.
  • Jadwal penggunaan material harus sesuai, antara kebutuhan proyek dengan waktu pengiriman material dan pemasok. Oleh karena itu, penggun subschedule material yang untuk tiap-tiap item pekerjaan mutlak dilakukan agar tidak mempengaruhi ketersediaan material dalam proyek.

Manajemen Sumber Daya Modal/Keuangan

Dalam mengelola suatu proyek, dibutuhkan perencanaan matang dalam hal aliran kas masuk dan kas keluar, yang disebut Aliran Kas (Cashflow). Aliran kas memuat penggunaan dana selama proyek berlangsung, berupa :

  1. Kas keluar, seperti : penggunaan modal, pembayaran tenga kerja dan staff kantor, pembelian material, sewa/beli peralatan, pembayaran subkontraktor dan pemasok pembayaran pajak, pembayaran asuransi, retensi, pembayaran pinjaman serta bung bank serta biaya overhead.
  2. Kas masuk, seperti: modal awal, pinjaman dari bank,uang muka proyek, penerimaan termin pembayaran.

1.7 Manajemen Lingkungan

Wawasan pengetahuan terhadap lingkungan memberikan polarisasi dalam cara pandang di negara-negara maju dan di negara-negara berkembang. Cara pandang ini berbeda, dipengaruhi oleh tingkat kemajuan teknologi, kesejahteraan, keamanan dan kepedulian masing-masingnegara tersebut.

Pada negara maju, kerusakan ligkungan dipandang sebagai ancaman terhadap kehidupan. Sebaliknya, pada negara berkembang yang masih bergulat dengan pemenuhan kebutuhan dasar hidup, kepedulian terhadap lingkungan masih rendah dan mereka belum mempunyai sistem penanganan lingkungan yang memadai. Beberapa kerusakan lingkungan mencuat ke permukaan disebabkan kelalaian manusia, penguasaan pengetahuan tentang ligkungan yang rendah, serta bencan alam.

Pengendalian Manajemen Lingkungan

Pengendalian lingkungan adalah fase terakhir dari perencanaan, pelaksanaan, dan pemeriksaan Sistem Manajemen Lingkungan. Hal pertama yang dilakukan dalam pengendalian adalah melakukan pengendalian terhadap dokumen sehingga perusahaan dapat menyusun dan memelihara dokumen, memenuhi persyaratan elemen-elemen yang memadai dalam menerapkan Sistem Manajemen Lingkungan.

1.7.1 Audit Sistem Manajemen Lingkungan

Dalam ISO 14001, organisasi perusahaan diwajibkan melakukan audit agar sistem manajemen lingkungan yang direncanakan dapat dilaksansakan, diperiksa dan dilakukan tindakan koreksi bila terjadi penyimpangan. Jadwal waktu program audit dilakukan atas dasar pentingnya aspek-aspek lingkungan yang terdokumentasi dalam penilaian. Perencanaan yang termasuk dalam program sistem manajemen lingkungan dapat dievaluasi dengan kegiatan-kegiatan terkait dan dengan hasil audit sebelumnya.

1.8 Manajemen Risiko

Kata risiko berasal dari bahasa Arab yang berarti hadiah yang tidak diharap-harap datangnya dari surga. Atau dalam kamus Webster, risiko dikonotasikan negatif sebagai kemungkinan kerugian akibat kecelakaan, ketidakberuntungan dan kerusakan. Menurut Wideman (1992), risisko proyek dalam manajemen risiko adalah efek kumulasi dari peluang kejadian yang tidak pasti, yang mempengaruhi sasaran dan tujuan proyek. Secara ilmiah risiko didefinisikan sebagai kombinasi fungsi dari frekuensi kejadian, probabilitas dan konsekuensi dari bahaya risiko yang terjadi.

Frekuensi kejadian dengan tingkat pengulanganyang tinggi akan memperbesar probabilitas atau kemungkinan kejadiannya. Frekuensi kejadian boleh tidak dipakai seperti perumusan di atas, karena itu risiko dapat dituliskan sebgai fungsi dan probabilitas dan konsekuensi saja, dengan asumsi frekuensi telah termasuk dalam probabilitas.

Nilai probabilita adalah nilai dari kemungkinan risiko akan terjadi berdasarkan pengalaman-pengalaman yang sudah ada, berdasarka nilai kualitas dan kuantitasnya. Jika tidak memiliki cukup pengalaman dalam menetukan probabilitas risiko, maka probabilitas risiko harus dilakukan dengan hati-hati serta dengan langkah sistematis agar nilainya tidak banyak menyimpang. Untuk itu studi literatur dan studi banding pada perusahaan/proyek lain yang pernah mengalaminya perlu dilakukan guna mereduksi ketidakpastian yang lebih besar.

1.8.1 Identifikasi Risiko

Identifikasi risiko dilakukan agar variable risiko yang dinilai dan dievaluasi dapat diketahui dan diidentifikasi dan ditangani, dengan metode sebagai berikut :

  1. Check list, didasarkan atas pengalaman yang digunakan untuk situasi proyek yang sama dengan kejadian yang berulang-ulang.
  2. Thinking prompts, menggunakan data check list kemudian diturunkan menjadi lebih spesifik dengan risiko penting tidak dihilangkan.
  3. HAZOP (Hazard and Operability), metode ini mengidentifikasi bahaya dan masalah operasional yang timbul.
  4.   Past data, metode ini dilakukan dengan mengidentifikasi kerugian yang sering terjadi, dengan menggunakan data masa lampau.
  5. Audits, bertujuan memonitor sistem, dengan mengidentifikasi dan meguji beberapa masalah, bukan mengidentifikasi risiko yang terjadi.
  6. FMEA (Failure Mode and Effect Analysis), hampr sama seperti HAZOP tetapi motode ini mengidentifikasi ‘bagaimanapun kejadian bisa terjadi’, bukannya ‘apa yang terjadi jika ada kegagalan’ seperti identifikasi metode HAZOP.
  7. Critical Incident Analysis, dengan melakukan curah gagasan dalam tim lalu mengidentifikasi dan mencegah masalah agar tidak menjadi lebih rumit.

1.9.2 Penilaian Risiko

Penilaian risiko dilakukan dalam tiga tahapan guna memastikan objektivitas variable risiko dengan cara menilai tingkat pentingnya, menganalisis kategori risiko untuk mengetahui klasifikasinya, serta menilai potensi risiko dengan memberikan kriteria-kriteria tertentu.

1.          Evaluasi penentuan Tingkat Penting Risiko dilakukan guna mendapatkan variable risiko yang menjadi prioritas terpilih dari proyek yang ditangani. Evaluasi dapat dilakukan dengan cara survei responden terhadap varible risikonya, kemudian hasilnya dianalisis dengan cara statistik diskriptif atau bisa saja dari catatan data masa lampau terhadap proyek sejenis lalu dilakukan justifikasi oleh pakarnya.
2.          Analisis Risiko, membuat klasifikasi risiko berdasarkan probabilitas kejadian serta konsekuensi yang harus dilakukan, baik secara kualitatif maupun kuantitatif pada masing-masing langkah penilaian.
3.          Menetukan besar porsi risiko, yang dinominalkan dalam bentuk biaya risiko dihitung berdasarkan nilai Expected Monetary Value (EMV), yang merupakan hasil dari penggandaan probabilitas kejadian.

1.8.3 Penanganan Risiko

Penanganan risiko dimaksudkan agar jenis dan biaya risiko yang nilai nominalnya telah dihitung, dapat dikelola atau ditangani sehingga solusi serta penanggung jawab risikonya dapat ditentukan. Ada beberapa cara menentukan penanganan risiko berdasarkan klarifikasi bentuk risikonya, yaitu:

  1. Risiko yang dapat diterima, yaitu bentuk risiko yang ditanggulangi oleh individu/perusahaan karena konsekuensinya dinilai cukup kecil.
  2.   Risiko yang direduksi, yaitu bentuk risiko yang dapat ditangani dengan cara menangani suatu tindakan alternatif yang nilai konsekuensinya dapat saja nihil atau paling tidak  konsekuensi yang ditangani lebih kecil.
  3. Risisko yang dikurangi, yaitu suatu bentuk risiko yang dampak kerugiannya dapat dikurangi dengan cara memperkecil kejadiannya atau konsekuensi yang ditimbulkannya.
  4. Risiko yang dipindahkan, yaitu suatu bentuk risiko yang dapat dipindahkan kepada pihak lain sebagian atau keseluruhan.

1.9 Manajemen Sistem Informasi

Sistem informasi sangat berperan pada proyek, khususnya dalam hubungan pengiriman dan pertukaran informasi dan data proyek dari dan ke perusahaan pusat. Sistem manajemen informasi bertujuan meningkatkan kinerja proyek dan kinerja perusahaan dengan skala luas dalam hal fungsi ekonomi, fungsi teknis, fungsi jaminan kualitas (quality assurance), fungsi waktu, serta fungsi evaluasi proyek dengan beberapa tampilan data dan informasi lengkap yang berguna dalam pengambilan keputusan. Pengolahan database memuat sumber-sumber data atau dari pengumpulan data primer proyek yang akan dikerjakan, tujuannya untuk meningkatkan pengetahuan serta mengurangi ketidakpastian dalam pengambilan keputusan.

Databse yang baik, sistematis, serta mudah pengolahannya akan memberikan informasi yang akurat, sehingga fungsi informasinya serta tingkat efisiensi penggunaannya makin tinggi. Databse harus mudah di akses oleh berbagai pihak yang memerlukan sesuai dengan wewenang dan dengan tingkat keamanan yang tinggi. Membuat database yang baik memerlukan pengetahuan komprehensif mengenai sistematika berpikir input, proses maupun ouput sistem informasi. Kemampuan peralatan perangkat keras dan perangkat lunaknya harus diidentifikasi terlebih dulu agar memenuhi kapasitas pengolahan data maupun kinerja. Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi overload kapasitas, sementara kemampuan peralatan tidak mencukupi. Sebaliknya kemampuan peralatan yang tinggi akan menjadi tidak ekonomis bila dipakai dengan kapasitas yang rendah.

1.10 Kinerja Proyek

Kinerja proyek dapat diukur dari indikator kinerja biaya, mutu, waktu, serta keselamatan kerja dengan merencanakan secara cermat, teliti, dan terpadu seluruh alokasi sumber daya manusia, peralatan,material, serta biaya yang sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan. Semua ini diselaraskan dengan sasaran dan tujuan proyek.

1.10.1 Manajemen Biaya

Seluruh urutan kegiatan proyek perlu memiliki standar kinerja biaya proyek yang dibuat dengan akurat dengan cara membuat format  perencanaan seperti di bawah ini.

  1. Kurva S, selain dapat mengetahuo progres waktu proyek, kurva S berguna juga untuk mengendalikan kinerja biaya, hal ini duitunjukkan dari bobot pengeluaran kumulatif masing-masing kegiatan yang dapat dikontrol dengan membandingkannya dengan baseline periode tertentu sesuai dengan kemajuan aktual proyek.
  2. Diagram Cash Flow, diagram yang menunjukkan rencana aliran pengeluaran dan pemasukan biaya selama proyek berlangsung. Diagram ini diharapkan dapat mengendalikan keseluruhan biaya proyek secara detail sehingga tidak mengganggu keseimbngan kas proyek.
  3. Kurva Earned Value yang menyatakan nilai uang yang telah dikeluarkan pada baseline  tertentu sesuai dengan kemajuan aktual proyek. Bila ada indikasi biaya yang dikeluarkan melebihi rencana, maka biaya itu dikoreksi dengan melakukan penjadwalan ulang dan meramalkan seberapa besar biaya yang harus dikeluarkan sampai akhir proyek karena penyimpangan tersebut.
  4. Balance Sheet, yang menyatakan besarnya aktiva dan pasiva keuangan perusahaan selama periode satu tahun dengan keseluruhan proyek yang telah dikerjakan beserta aset-aset yang dimiliki perusahaan.

1.10.2 Manajemen Mutu

Jaminan mutu (quality assurance) dapat diperoleh dengan melakukan proses berdasarkan kriteria material atau kerja yang telah ditetapkan hingga didapat standar produk akhir, dapat pula dengan melaukukan suatu proses prosedur kerja yang berbentuk sistem mutu hingga didapat standar sistem mutu terhadap produk akhir. Pengendalian tiap-tiap proses (quality control) dimaksudkan untuk menjamin mutu material atau kerja yang diperoleh sesuai dengan sasaran dan tujuan yang diterapkan.

  1. Mendapatkan Sistem Manajemen Mutu ISO 9000 dengan menjalankan prosedur sebagai bagian dari keseluruhan sistem untuk mendapatkan produk akhir yang sesuai dengan yang direncanakan. Prinsip-prinsip dasar yang dilakukan adalah membuat dan menulis perencanaan (say what you do), melaksanakan dan mengendalikan sesuai rencana (what you say) serta mencatat apa yang telah dilakukan (record what you did).
  2.   Sedangkan untuk melengkapi persyaratan sistem mutu diatas sehingga didapat mutu terbaik terhadap standar produk akhir, dilakukan dengan cara membuat gambar kerja yang detail dan akurat, lalu membuat spesifikasi umum dan teknis terhadap pekerjaan dan material yang digunakan.
  3. Untuk pengendalian selama pelaksanaan proyek, jadwal pengiriman material harus tepat waktu, proses penyimpanan material aman dan terlindung, selain itu dibuatkan format standar prosedur operasinya mengikuti spesifikasi yang telah ditetapkan dalam penggunaan materialnya.
  4. Melengkapi pengendalian kinerja mutu dapat dilakukan dengan membuat prosedur dan instruksi kerja dari total quality control (Pengendalian Mutu Terpadu), yaitu dengan melakukan kegiatan perencanaan (plan), pelaksanaan (do), pemeriksaan (check), tindakan koreksi corrective action).

1.10.3 Manajemen Waktu

Standar kinerja waktu ditentukan dengan merujuk seluruh tahapan kegiatan proyek beserta durasi dan penggunaan sumber daya. Dari semua informasi dan data yang telah diperoleh, dilakukan proses penjadwalan sehingga akan ada output berupa format-format laporan lengkap mengenai indikator progres waktu,  sebagai berikut :

  1. Barchart, diagram batang yang secara sederhana dapat menunjukkan informasi rencana jadwal proyek beserta durasinya, lalu dibandingkan dengan progres aktual sehingga diketahui apakah proyek terlambat atau tidak.
  2. Network Planning, sebagai jaringan kerja berbagai kegiatan dapat menunjukkan kegiatan-kegiatan kritis yang membutuhkan pengawasan ketat agar pelaksanaannya tidak keterlambatan. Format Network Planning juga digunakan untuk mengetahui kegiatan-kegiatan yang longgar waktu penyelesaiannya berdasarkan total float-nya, sehingga kesemua itu dapat digunakan untuk memperbaiki jadwal dan agar alokasi sumber dayanya menjadi lebih efektif serta efisien.
  3. Kurva S, yang berguna dalam pengendalian kinerja waktu. Hal ini ditunjukkan dari bobot penyelesaian kumulatif masing-masing kegiatan dibandingkan dengan keadaan aktual, sehingga apakah proyek terlambat atau tidak dapat dikontrol dengan memberikan baseline pada periode tertentu.
  4. Kurva Earned Value yang dapat menyatakan progres waktu berdasarkan baseline yang telah ditentukan untuk periode tertentu sesuai dengan kemajuan aktual proyek. Bila ada indikasi waktu terlambat dari yang direncanakan, maka hal itu dapat dikoreksi dengan menjadwal ulang proyek dan meramalkan seberapa lama durasi yang diperlukan untuk penyelesaian proyek karena penyimpangan tersebut, serta dengan menambah jumlah tenaga kerja waktu bergantian.

1.10.4 Manajemen K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja)

K3 merupakan faktor yang paling penting dalam pencapaian sasaran tujuan proyek. Hasil yang maksimal dalam kinerja biaya, mutu dan waktu tiada artinya bila tingkat keselamatan kerja terabaikan. Indikatornya dapat berupa tingkat kecelakaan kerja yang tinggi.

Integrasi diperlukan untuk memastikan bahwa tugas menjalankan program K3 dapat dicapai sesuai sasaran dan tujuan yang ditetapkan.

Sistem keselamatan dan kesehatan kerja diperlukan karena alasan-alasan berikut :

1.  Perusahaan mempunyai tanggung jawab moral terhadap keselamatan dan kesehatan kerja, tenaga kerja, sifat perusahaan, masyarakat pengguna fasilitas proyek, pemilik proyek serta menjaga keawetan dan umur dari fasilitas yang telah dibuat. Selain itu, program K3 yang efekktif akan meningkatkan produktivitas dan kualitas kerja banyak pihak.

2.  Sebagai antisipasi perusahaan untuk pemenuhan aspek legal hukum yang berlaku sebagaimana diatur dan dipersyaratkan dalam :

  • Undang-Undang Kerja tahun 1948-1951, yang mengatur keselamatan kerja beserta pencegahannya.
  • Undang-Undang No.14/1969, perlindungan keselamatan tenaga kerja.
  • Undang-Undang No.1 tahun 1970, mengatur tentang keselamatan kerja.
  • Keputusan Bersama Menteri Pekerjaan Umum No. Kep. 174/Men/1986/104/KPTS/1986, tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada tempat dilakukan kegiatan konstruksi.
  • Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No. 195/KPTS/1989, mengenai Pelaksanaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja di lingkungan Departemen Pekerjaan Umum.
  •   Instruksi Menteri Pekerjaan Umum No. 1/IN/M/1990, mengenai Pelaksanaan Kampanye Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di lingkungan DPU.

3.   Dengan menerapkan konsep keselamatan kerja, berarti perusahaan telah menerapkan salah satu fungsi manajemen di mana kinerja program K3 dpat menampilkan hasil program dengan tingkat kecelakaan paling minimal atau tidak sama sekali.

4.     Secara ekonomis K3 mempunyai banyak manfaat, seperti :

  • Menghemat biaya yang tak terduga.
  • Meningkatkan moral dan produktivitas kerja.
  • Mengurangi risiko dan menghemat biaya asuransi karenapremiumnya lebih rendah karena sejarah kecelakaan yang rendah.
  • Reputasi yang baik bagi perusahaan dalam hal keselamatan dan kesehatan kerja dapat meningkatkan permintaan pasar terhadap keahlian perusahaan.
  •  Tingkat efisiensi dan efektif kerja bagi perusahaan menjadi lebih tinggi dengan menekan risiko kecelakaan yang akan terjadi.

1.11 Peraturan-peraturan yang Berlaku

1.11.1 Persyaratan Teknis dan Administrasi Hukum

Aspek Teknis Proyek

Beberapa aproyek seperti infrasturktur, peukiman, tata kota dan wilayah, manufaktur dan industri mempunyai aturan-aturan teknis yang dikeluarkan oleh instansi berikut:

  1.  Indonesia telah memiliki beberapa persyaratan teknis yang berkaitan dengan proyek konstruksi. Persyaratan ini selalu diperbarui secara berkala mengikuti perkembangan teknis perencanaan dan pelaksanaan proyek, teknologi material serta efisiensi biaya, mutu dan waktu.
  2.  Standar Industri Indonesia (SII) yang mengatur tentang standar uji klarifikasi, syarat mutu, syarat penandaan, pengambilan sampel material diterbitkan oleh Departemen Perindustrian.
  3. Peraturan teknis bangunan dan proyek kelautan yang dikeluarkan oleh Dirjen Perhubungan Laut serta Departemen Kelautan dan Perikanan.
  4.  Peraturan teknis bangunan dan proyek bangunan udara yang dikeluarkan oleh Dirjen Perhubungan Udara serta lembaga terkait.
  5.   Peraturan-peraturan teknis dari negara lain yang telah diakui dan banyak dipakai sebagai referensi dalam pelaksanaan proyek dan industri.

Aspek Administratif Hukum Proyek

Beberapa proyek dan industri mempunyai aturan-aturan administratif hukum yang dikeluarkan oleh instansi terkait seperti:

  1. Undang-undang RI No. 18, Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi dan lain sebagainya, diterbitkan melalui Keputusan Presiden dan Menteri dari Departemen Pekerjaan Umum.
  2. Keputusan Presiden RI No. 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah.
  3. Keputusan Presiden RI No. 61 Tahun 2004 tentang Perubahan atas Keputusan Presiden RI No. 80 Tahun 2003.
  4. Undang-undang RI No. 13 Tahun 1980 tentang Jalan Tol serta Peraturan Pemerintah RI No. 8 Tahun 1990 tentang Jalan Tol sebagai petunjuk pelaksanaannya yang diterbitkan melalui Keputusan Presiden dan instansi PT. Jasa Marga sebagai badan hukum dari wakil pemerintah.
  5. Undang-undang RI No. 38, Tahun 2004 tentang Jalan
  6. Undang-undang RI No. 4, Tahun 1997 serta Peraturan Pemerintah No. 23 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup sebagai petunjuk pelaksanaannya yang diterbitkan melalui Keputusan Presiden dan instansi terkait Kementrian Lingkungan Hidup. Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). Jenis Rencana Usaha dan Kegiatan Kerja Yang Wajib Dilengkapi dengan AMDAL diputuskan oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup pada PP No. 17 Tahun 2001.
  7. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No. 195/KPTS/1989 mengenai Pelaksanaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja di lingkungan Departemen Pekerjaan Umum.
  8. Instruksi Menteri Pekerjaan Umum No. 1/IN/M/1990, mengenai Pelaksanaan Kampanya Keselamatan dan Ksehatan Kerja (K3) di lingkungan Departemen Pekerjaan Umum.
  9. Undang-undang RI No. 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang.

Aspek Hukum Proyek Konstruksi

Produktifitas di dalam proyek banyak bergantung pada proses waktu pelaksanaan proyek, di mana waktu kerja produktif harus sesuai dengan metode dan sistem yang digunakan. Produktivitas kerja yang rendah biasanya disebabkan oleh:

  • Moivasi tenaga kerja yang rendah
  • Kondisi tempat kerja yang buruk
  • Peralatan yang digunakan buruk
  • Material di bawah standar
  • Komunikasi yang buruk di proyek, pengawas yang tidak adil

Produktivitas di dalam proyek juga memerlukan komitmen perusahaan dalam hal pelatihan studi dan penghapusan lembur, yang menyebabkan faktor pengembalian (revenue) dn kerugian yang tinggi bagi suatu perusahaan industri jasa konstruksi.

Karakteristik Industri Konstruksi terdiri atas:

  • Sumbangan ke Produk Domestik Bruto : 5-14 %
  • Sangat rendahnya jaminan manajemen yang baik
  • Penggunaan tenaga kerja: tetap dan tidak tetap
  • Dengan tenaga kerja tak terlatih sekiar 90%
  • Banyak pihak yang terlibat
  • Riset dan pengembangannya sangat rendah

Ketentuan-ketentuan Hukum Proyek Konstruksi

Selama ini perkembangan aspek-aspek hukum konstruksi di Indonesia tidak seperti negara-negara maju. Pihak kontraktor banyak diikat oleh aturan-aturan ketat, tetapi pemilik dan arsitek/engineer posisinya lebih superior dibanding kontraktor.

Ketentuan-ketentuan peninggalan zaman Belanda serta ketentuan lamanya yang masih menjadi acuan  adalah sebagai berikut:

1.          Keputusan Pemerintah Hindia Belanda No. 9 Tahun 1941

2.          Undang-undang Pembangunan Kota No. 168 Tahun 194

3.          Peraturan Konstruksi Kayu Indonesia Tahun 1961

4.          Peraturan Beton Bertulang Indonesia (1971)

Hak dan Kewajiban Pengada Jasa (Kontraktor)

Hak pengada jasa dalam hal ini kontraktor adalah sebagai berikut:

1.          Mendapaykan bayaran untuk kemajuan pekerjaan

2.          Mencari jalan lain bila pemilik gagal melakukan pembayaran

3.          Mengakhiri kontrak karena sesuatu sebab

4.          Mendapatkan pembayaran ekstra dan perpanjangan waktu

5.          Melakukan banding terhadap keputusan owner

6.          Kontraktor bebas memilih subkontraktor

7.          Kontraktor bebas memilih subkontraktor

8.          Memilih tempat pembelian barang/material

9.          Melakukan kegiatan dengan caranya, sesuai dengan yang diizinkan

Kewajiban kontraktor meliputi hal-hal sebagai berikut:

  1.  Walaupun ada kesulitan, keterlambatan, ketidakcocokan, kecelakaan dalam kegiatan pelaksanaan, kontraktor harus menyelesaikan proyek sesuai dengan aturan yang disepakati.
  2. Kontraktor harus memberikan perhatian terhadap karyawan dan tenaga kerjanya.
  3. Kontraktor diminta konfirmasinya terhadap hukum yang dimaksud dalam hal keamanaan pekerjaan, lisensi, rekomitmen tenaga kerja, kebersihan lingkungan, pengawasan lalu lintas serta barang yang mudah meledak.
  4. Kontraktor berkewajiban mengikuti gambar dan spesifikasi yang ditentukan.
  5. Kontraktor berkewajiban menjamin semua material, ketenagakerjaan yang harus ada pada organisasinya maupun subkontrkator.
  6. Penjamin asuransi adalah kewajiban kontrak bagi kontraktor.

Kewajiban Penyedia Jasa (Owner)

1.          Membuat dokumen lelang

2.          Melengkapi kebutuhan desain

3.          Menerbitkan dokumen lelang

4.          Menetapkan pemenang

Tugas dan Wewenang Konsultan Pengawas/Perencana

Konsultan adalah pihak ketiga yang mempunyai hak dan wewenang selama proses konstruksi sejak kontrak belaku umum antara owner dan kontraktor.

Tugas dan wewenangnya meliputi:

1.          Mewakili owner dalam administrasi dan operasional konstruksi

2.          Memberikan advis dan konsultasi kepada owner

3.          Menengahi komunikasi antara owner dan kontrakto

4.          Mengawasi kemajuan proyek

5.          Memeriksa mutu pekerjaan

6.          Menyetujui material, peralatan dan shop drawing

7.          Membuat instruksi untuk mempercepat, memberhentikan dan mengoreksi pekerjaan

8.          Tidak tunduk terhadap prosedur dan atauran kontraktor

9.          Menerjemahkan ketentuan kontrak dan menilai pekerjaan kontraktor

10.      Bertanggung jawab pada pihak ketiga karena kelalaian yang di perbuat

Klaim dan Peselisihan

Penyelesaian sengketa jasa konstruksi dapat dilakukan melalui pengadilan maupun di luar pengadilan berdasarkan pilihan sukarela para pihak yang bersangkutan.

Sengketa biasanya muncul karena adanya:

  • Perbedaan penafsiran
  • Wan prestasi
  • Adanya aturan-aturan yang tidak jelas

Penyelesaian di luar pengadilan dengan cara-cara sebagai berikut:

  •  Negosiasi
  • Konsiliasi
  • Mediasi
  • Arbitrase

Biasanya hasil penyelesaian sengketa ini dapat berupa kesepakatan. Penyelesaian melalui pengadilan adalah pilihan terakhir karena prosesnya cukup lama dan kompleks serta biaya yang cukup besar. Penyelesaian sengketa dan proses penadilan ini adalah putusan akhir dan mengikat.

Penyelesaian di Luar Pengadilan

Karena sedapat mungkin menghindari proses pengadilan, penyelesaian di luar lebih disukai karena lebih cepat, lebih murah, dan cenderung dalam suasana musyawarah mufakat. Pada pasal 77 UU No. 18/1999 disebutkan:

  1. Penyelesaian jasa konstruksi di luar pengadilan dapat ditempuh untuk masalah-masalah yang timbul dalam kegiatan pengikatan dan penyelenggaraan pekerjaan konstruksi serta dalam hal terjadi kegagalan bangunan.
  2. Penyelesaian jasa konstruksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat menggunakan jasa pihak ketiga yang disepakati oleh para pihak.
  3.  Pihak ketiga sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat dibentuk oleh pemerintah dan atau masyarakat jasa konstruksi.

Intisari Manajemen Proyek

Dari seluruh uraian manajemen proyek pada Bab ini, dapat diberikan suatu konklusi terpadu yang memberikan informasi struktur area manajemen proyek berupa langkah-langkah kegiatan yang dilakukan , proses, objek dan area manajemen proyek serta indikator kinerja yang diharapkan sebagai sasaran dan tujuan proyek.

Pendekatan mengenai tahapan proyek secara umum adalah mengidentifikasi urutan langkah yang harus diselesaikan. Dalam “pendekatan tradisional” ini, lima komponen perkembangan proyek dapat dibedakan (empat tahap ditambah kontrol) dan ditambah lagi tahapan penyelesaian proyek, yang dapat juga dapat disebut “Siklus Kehidupan Proyek” (Project Life Cycle). Secara umum, siklus hidup proyek merupakan suatu metode yang digunakan untuk menggambarkan bagaimana sebuah proyek direncanakan, dikontrol, dan diawasi sejak proyek disepakati untuk dikerjakan hingga tujuan akhir proyek tercapai. Terdapat lima tahap kegiatan utama yang dilakukan dalam siklus hidup proyek yaitu :

  •   inisiasi;
  • perencanaan dan desain;
  •  pelaksanaan dan konstruksi;
  • pemantauan dan sistem pengendalian;
  •   penyelesaian.

Daftar Pustaka

Ir. Husen, Abrar, MT, Manajemen Proyek, Penerbit C.V ANDI Offset, Yogyakarta, 2009.

www.wikipedia.org/wiki

8 Level Proses Analisa Untuk Pengambilan Keputusan


Risk management merupakan strategi untuk mengelola risiko dalam rangka mencapai tujuan. Hal yang sangat dibutuhkan oleh manajemen risiko adalah data dan analisa. Keduanya punya peranan yang sangat penting dalam menentukan pengambilan keputusan krusial dalam manajemen risiko.


Menurut SAS, terdapat delapan level proses analisa (analytics) yang digunakan dalam bisnis. Empat level pertama merupakan business intelligence dan umum dilakukan oleh semua perusahaan, serta lebih melihat aktivitas yang sudah berlalu. Keempatnya mendukung pengambilan keputusan reaktif, yakni memahami fakta setelah terjadinya sesuatu. Sementara itu, empat level terakhir mendukung pengambilan keputusan proaktif, dimana berusaha untuk berinovasi dan memprediksikan apa yang terjadi di masa mendatang.

Dalam manajemen risiko, kebutuhannya tentu hingga level terakhir, karena manajemen risiko memang harus mampu memprediksikan risiko-risiko apa saja yang potensial, dan mengukur bagaimana dampaknya, serta tindakan apa yang akan dilakukan.

Berikut ini adalah kedelapan level proses analisa:

1. Standard Report

Report ini hanya berisikan informasi-informasi yang standar, dihasilkan secara rutin, dan hanya menjelaskan apa yang terjadi dan kapan terjadinya. Sederhana namun bermanfaat, hanya saja tidak dapat dimanfaatkan untuk mengambil keputusan jangka panjang. Contohnya adalah laporan keuangan kuartalan.

2. Ad Hoc Report

Report ini memberikan informasi yang lebih banyak dibandingkan dengan report standar, dan lebih customized. Report ad hoc memungkinkan Anda untuk mengajukan pertanyaan serta mendesain laporan yang customized untuk memperoleh jawaban dari pertanyaan yang lebih detail seperti dimana, seberapa banyak, hingga seberapa sering.

3. Query Drilldown

Tingkat analisa selanjutnya lebih mendalam lagi, yakni query drilldown, yang sudah berusaha untuk menemukan jawaban akan sesuatu. Pada tahap ini Anda berusaha mencari tahu dimana letak permasalahan, serta bagaimana solusinya. Contohnya adalah perusahaan berusaha untuk melakukan observasi terhadap perilaku konsumennya yang berbeda-beda.

4. Alerts

Tingkat selanjutnya adalah Alerts, yang akan memberikan indikasi ketika terjadi masalah, dan memberikan notifikasi jika hal yang serupa terjadi di masa depan. Alerts bisa muncul di mana saja, mulai dari RSS feeds, email, hingga indicator merah pada scorecard ataupun dashboard Anda. Di tahap ini, Anda selanjutnya akan merespon alert tersebut dengan mengambil tindakan yang diperlukan.

5. Statistical Analysis

Kemudian di tingkat kelima ada analisa statistic yang merupakan perhitungan rumit seperti regresi, korelasi dan sebagainya. Analisa statistic ini digunakan untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dan menjawab pertanyaan, berdasarkan pada data yang dimiliki. Selain dapat berfungsi untuk menjelaskan suatu data, analisa statistic juga dapat memperlihatkan pada Anda peluang yang mungkin terlewatkan.

6. Forecasting
Forecasting merupakan aktivitas yang diperlukan oleh semua bisnis, karena memungkinkan kita untuk melakukan perkiraan terhadap permintaan. Sehingga, kita dapat melakukan estimasi terhadap persediaan, sehingga tidak kurang ataupun berlebih. Forecasting juga memungkinkan estimasi terhadap kebutuhan finansial.

7. Predictive Modeling

Selanjutnya, Predictive Modeling memungkinkan kita untuk melakukan prediksi jika terdapat suatu pemicu (event) tertentu. Misalnya, jika kita mau meluncurkan promosi tertentu, maka harus diperkirakan terlebih dahulu bagaimana respon masing-masing segmen pasar, sehingga Anda dapat menerapkan promosi yang paling sesuai dengan masing-masing target pasar.

8. Optimization
Optimization adalah usaha untuk pengambilan keputusan terbaik, dengan mengalokasikan sumber daya secara optimal sesuai dengan kebutuhan, sehingga dapat mencapai tujuan yang diinginkan. Misalnya, Anda berusaha untuk mengalokasikan SDM, materi dan dana yang dialokasikan untuk proyek tertentu.

Langkah-langkah analisa tersebut sangat bermanfaat untuk melaksanakan manajemen risiko ataupun menyusun strategi. Hanya saja, dengan melakukannya tidak lantas menjamin suksesnya sebuah organisasi. Data-data yang ada harus terintegrasi dengan baik, dianalisa, kemudian dicarikan solusi yang tepat. Solusi atau implementasi dari pengambilan keputusan inilah yang kemudian menentukan kesuksesan dari organisasi.

 

Sumber: http://managementfile.com/journal.ph…riskmgt&awal=0

Manajemen Risiko Pada Perusahaan dan Birokrasi


Judul                            :  Manajemen Risiko Pada Perusahaan dan Birokrasi
Seri                               :  Manajemen
No.ISBN                     :  9789792756449
Penulis                        :  HINSA SIAHAAN
Penerbit                     :  ELEX MEDIA 234091582|22
Terbit                           :  2009
Jumlah Halaman     :  464
Berat Buku                 :  550 gram
Jenis Cover                :  Soft Cover
Dimensi (L x P)         :  150 X 230

Risiko adalah sama dengan ketidakpastian (uncertainty) akan terjadinya suatu kejadian yang menimbulkan masalah, dan peluang bagi organisasi perusahaan, pemerintah, dan perorangan dalam kehidupan sehari-hari. Para birokrat, eksekutif, industraialis, karyawan, investor, mahasiswa, rumah tangga, para pelancong, nelayan, dan petani, siapa saja selalu berhadapan dengan berbagai jenis risiko. Suka dan atau tidak suka, kita harus menggaulinya. Kadang-kadang risiko dianalisis, dan dikelola secara sadar, akan tetapi kadang-kadang diabaikan, dan tidak menyadari akibatnya. Buku ini membahas tentang manajemen risiko sebagai proses identifikasi risiko, evaluasi risiko, memilih teknik manajemen risiko, implementasi dan mengkaji ulang keputusan manajemen risiko.

Buku ini diharapkan dapat membantu orang-orang yang terkait dalam bidang ini, bagaimana cara menyikapi sebuah risiko yang suatu saat pasti akan terjadi.  Sehingga pembaca dapat mempersiapkan diri dalam menghadapi risiko tersebut.  Isinya bagus dan berkualitas dengan gaya bahasa penulis yang mudah dimengerti.  Penulis dapat memberikan wawasan baru bagi pembaca tentang cara mengelola dan mengatur risiko yang dapat terjadi sewaktu-waktu, tanpa dapat diperkirakan kapan akan terjadi.

Buku dengan tebal 464 halaman ini sangat bermanfaat jika pembaca dapat menerapkan dengan sederhana dan konsisten.  Penulis menuturkan tentang manajemen risiko sebagai proses mengidentifikasi sebuah permasalahan, mengevaluasi risiko, memilih teknik atau cara yang tepat dalam memanajemen risiko, implementasi dan mengkaji atau mendalami ulang keputusan yang telah diambil dalam manajemen risiko itu sendiri.  Pembaca dapat menentukan sikap yang tepat dalam menghadapi resiko yang akan terjadi.

Penulis menuturkan isi buku dengan gaya bahasa yang sederhana, mudah dimengerti dan tepat sasaran atau tidak bertele-tele.  Sehingga pembaca dapat dengan mudah menangkap isi atau pesan yang ingin disampaikan oleh penulis.  Sebagai seorang mahasiswa yang baru belajar tentang ilmu manajemen, buku ini diharapkan dapat menambah wawasan bagi mahasiswa untuk berfikir ke depan dalam mengelola bidang usaha atau pekerjaan yang akan digelutinya nanti.

Semoga ulasan mengenai buku yang berjudul “Manajemen Risiko Pada Perusahaan dan Birokrasi” diatas dapat bermanfaat bagi para pembaca dalam menjalankan tugas dan pekerjaan yang bersangkutan.  Dan semoga dapat diterapkan guna mempersiapkan diri dalam menghadapi risiko yang sewaktu-waktu dapat terjadi tanpa bisa diperkirakan sebelumnya.  Diharapkan juga penulis dapat terus berkarya dalam menuangkan ide-ide atau gagasan yang dapat membantu orang lain demi memajukan ilmu manajemen pada khususnya dan kemajuan bangsa dan negara pada umumnya.  Terima kasih untuk pihak-pihak yang telah memberikan perhatian dan kerja samanya selama ini.

Disusun untuk melengkapi Tugas Manajemen.

Nama               :  SRI HARTATI
NPM               :  043131.52193.020
JURUSAN       :  JEPANG SEMESTER IV

Cara menjual asuransi yang baik dan memperbesar kemungkinan untuk closing


mudikSemua orang pasti setuju kalau seorang sales atau pamasar bisa dibilang jago dan master kalau sudah menjual asuransi. Kenapa? Jelas saja menjual asuransi adalah salah satu perkerjaan “terberat” dan “termulia” di alam semesta ini. Kenapa?, menjual asuransi itu membutuhkan mental yang sangat kuat, seorang asuransi yang sukses pasti akan melewati penghinaan dan cercaan saat menjual asuransi. Belum lagi tantangan mental dari dia sendiri yang takul claim dari klien nya tidak dibayar.

Jadi menjadi untuk menjadi seorang agent asuransi yang sukses tidak lah mudah, tetapi tidak sulit asal tau caranya. Ada berbagai buku yang mengajarkan cara-cara berjualan asuransi yang bisa membuat proses bejualan menjadi lebih mudah, dan dari pada beli mendingan baca ini aja ya.

1. Anda harus sadar ada hitungan atau rumus dalam suatu penjualan asuransi, misalnya setelah prospecting 10 orang akan closing 1, sehingga jika anda tau dan sadar dengan proses tersebut anda akan lebih semangat dan terus prospecting pantang menyerah (heheh..), biasanya kalau agent properti 100 prospecting 1 closing, jadi masih lebih mudah jadi agent asuransi ya.

2. Jaga semangat dan ilmu anda, anda bisa mengikuti seminar-seminar motivasi yang dibuat oleh perusahaan asuransi tempat anda bekerja atau pembicara nasional, seperti Tung Desem Waringin, James Gwee dan lain-lain, dan siapapun orangnya, sesemangat apapun kalau terus menerus ditolak, pasti akan jenuh dan bosan juga, jadi anda juga harus belajar cara jualan yang baik dan benar dari yang terbaik di bidang anda. Bisa leader-leader anda, atau agent-agent terbaik di perusahaan anda. Sehingga probabilitas keberhasilan akan semakin besa.

3. Mintalah refrensi dari klien-klien anda, dan minta tolong kepada klien anda untuk memberi tau teman-teman mereka kalau asuransi itu penting dan minta supaya klien anda menceritakan kredibilitas dari perusahaan anda. Mayoritas orang akan lebih percaya pada temannya dari pada orang asing yang tiba-tiba menawarkan asuransi kepadanya.

4. Saat kedatangan pertama anda jangan langsung menawarkan asuransi, usahakan untuk menjadi teman dan membina hubungan dahulu dengan prospect anda. Karena seperti yang tadi saya katakan, mayoritas orang akan lebih terbuka dan lebih senang berbicara kepada temannya dari pada kepada agent asuransi yang tiba-tiba datang untuk menawarkan asuransi.

5. Agent asuransi banyak di Indonesia, selalu fokus memberikan nilai tambah agar anda dinilai berbeda dari pada yang lain. Bisa anda lakukan dengan membuat website yang memberikan informasi seluruh seluk-beluk tentang asuransi anda, sehingga jika nasabah anda butuh informasi yang cepat tentang cara claim dan lain-lain, mereka bisa langsung akses secara cepat ke website pribadi anda. Bisa juga anda lakukan dengan datang berdua dan menawarkan jasa doubel agent, sehingga jika nanti nasabah butuh bantuan anda segera dan anda benar-benar sedang sibuk nasabah anda bisa menghubungi agent yang satunya lagi. Sehingga anda bisa menjamin layanan untuk nasabah anda,

6. Jangan datang untuk merampas uang mereka, datanglah untuk membantu masalah mereka, coba diskusikan dan gali masalah-masalah keuangan dan kesehatan serta masa depan prospect anda, kemudian tawarkan bantuan untuk mereka, sekali lagi tawarkan bantuan, sehingga mereka akan senang karena merasa dibantu dan anda sendiri tidak akan meresa terlalu kecewa jika penawaran ini gagal, kan anda yang mau membantu, jika dia tidak mau dibantu ya cari yang lain yang mau dibantu.

7. Pahami seluruh materi dan product knowledge dari perusahaan anda, sehingga jika ada prospect anda yang bertanya sesuatu anda dapat menjawab dengan mantap dan dapat menghilangkan keraguan dari prospect anda.

8. Mayoritas prospect akan menanyakan tentang cara claim, ini persoalan yang paling krusial, jadi anda harus dapat membuktikan dan meyakinkan prospect kalau perusahaan anda menjamin claim akan dibayarkan dan proses claim pun tidak akan berlibet-libet.

9. Beritahu semua hal-hal yang penting, termasuk dokumen-dokumen untuk claim, sehingga mereka tidak akan merasa bingung saat nanti akan mengajukan claim dan dapat menghilangkan keraguan mereka tentang perusahaan asuransi.

10. Beritahu mereka kenapa harus beli asuransi sekarang bukan nanti, bukan ketika sudah sakit, beritu apa keuntungan jika ambil sekarang dan kerugian jika tidak ambil sekarang.

11. Jika anda masih melihat keraguan dari prospect anda, anda bisa menanyakan satu pertanyaan yang sangat powerfull, yaitu “supaya anda mau syaratnya apa?” asalkan masuk akal dan anda dapat anda kabulkan silahkan penuhi permintaan dan calon nasabah anda.

12. Jumlah penduduk indonesia lebih dari 170 juta jiwa yang telah memiliki KTP jadi kalau satu orang gagal, masih banyak yang lain ya.

13. Pernah nonton film kungfu panda? Jika belum saya sangat sarankan anda untuk menonton film ini, kenapa karena ada suatu pesan yang sangat dahsyat didalam film ini. Yaitu “The Secret is no secret”, wowww.. ya, rahasianya adalah tidak ada rahasia anda bisa memulai menjual asuransi dengan style anda, dengan gaya anda, dengan ilmu yang berbeda beda. Trus mencoba dan dapatkan gaya mana yang paling bisa memperbesar kemungkinan closing dari prospecting anda.

Sumber : http://maksumpriangga.com

SEKILAS MANAJEMEN RESIKO


Definisi Manajemen risiko

Manajemen resiko adalah suatu pendekatan terstruktur/metodologi dalam mengelola ketidakpastian yang berkaitan dengan ancaman; suatu rangkaian aktivitas manusia termasuk: Penilaian risiko, pengembangan strategi untuk mengelolanya dan mitigasi risiko dengan menggunakan pemberdayaan/pengelolaan sumberdaya. Strategi yang dapat diambil antara lain adalah memindahkan risiko kepada pihak lain, menghindari risiko, mengurangi efek negatif risiko, dan menampung sebagian atau semua konsekuensi risiko tertentu. Manajemen risiko tradisional terfokus pada risiko-risiko yang timbul oleh penyebab fisik atau legal (seperti bencana alam atau kebakaran, kematian, serta tuntutan hukum. Manajemen risiko keuangan, di sisi lain, terfokus pada risiko yang dapat dikelola dengan menggunakan instrumen-instrumen keuangan.

Sasaran dari pelaksanaan manajemen risiko adalah untuk mengurangi risiko yang berbeda-beda yang berkaitan dengan bidang yang telah dipilih pada tingkat yang dapat diterima oleh masyarakat. Hal ini dapat berupa berbagai jenis ancaman yang disebabkan oleh lingkungan, teknologi, manusia, organisasi dan politik. Di sisi lain pelaksanaan risk manajemen melibatkan segala cara yang tersedia bagi manusia, khususnya, bagi entitas manajemen risiko (manusia, staff, dan organisasi).

Dalam perkembangannya Risiko-risiko yang dibahas dalam manajemen risiko dapat diklasifikasi menjadi

  • Risiko Operasional
  • Risiko Hazard
  • Risiko Finansial
  • Risiko Strategik

Hal ini menimbulkan ide untuk menerapkan pelaksanaan Manajemen Risiko Terintegrasi Korporasi (Enterprise Risk Management).

Manajemen Risiko dimulai dari proses identifikasi risiko, penilaian risiko, mitigasi,monitoring dan evaluasi.

KONSEP RISIKO

Risiko adalah ketidakpastian tentang kejadian di masa depan. Beberapa definisi tentang risiko, sebagai berikut:

  1. Risk is the change of loss, risiko diartikan sebagai kemungkinan akan terjadinya kerugian,
  2. Risk is the possibility of loss, risiko adalah kemungkinan kerugian,
  3. Risk is Uncertainty, risiko adalah ketidakpastian,
  4. Risk is the dispersion of actual from expected result, risiko merupakan penye-baran hasil actual dari hasil yang diharapkan,
  5. Risk is the probability of any outcome different from the one expected, risiko adalah probabilitas atas sesuatu outcome berbeda dengan outcome yang diharapkan.

Dari beberapa definisi diatas, maka risiko dihubungkan dengan kemungkinan terjadinya akibat buruk (kerugian) yang tak diinginkan atau tidak terduga. Dengan kata lain “kemungkinan” itu sudah menunjukkan adanya ketidakpastian. Ketidakpastian itu merupakan kondisi yang menyebabkan tumbuhnya risiko. Dan jika dikaji lebih lanjut “kondisi yang tidak pasti” itu timbul karena berbagai sebab, antara lain; jarak waktu dimulai perencanaan, keterbatasan informasi yang diperlukan, keterbatasan pengetahuan pengambil keputusan dan sebagainya.

Konsep lain yang berkaitan dengan risiko adalah Peril, yaitu suatu peristiwa yang dapat menimbulkan terjadinya suatu kerugian, dan Hazard, yaitu keadaan dan kondisi yang dapat memperbesar kemungkinan terjadinya suatu peril.

Hazard terdiri dari beberapa tipe, yaitu:

  1. Physical Hazard, suatu kondisi yang bersumber pada karakteristik secara fisik dari obyek yang dapat memperbesar terjadinya kerugian.
  2. Moral Hazard, suatu kondisi yang bersumber dari orang yang berkaitan dengan sikap mental, pandangan hidup dan kebiasaan yang dapat memperbesar kemungkinan terjadinya peril.
  3. Morale Hazard, suatu kondisi dari orang yang merasa sudah memperoleh jaminan dan menimbulkan kecerobohan sehingga memungkinkan timbulnya peril.
  4. Legal Hazard, suatu kondisi pengabaian atas peraturan atau perundang-undangan yang bertujuan melindungi masyarakat sehinga memperbesar ter-jadinya peril.

Kejadian sesungguhnya terkadang menyimpang dari perkiraan. Artinya ada kemungkinan penyimpangan yang menguntungkan maupun merugikan. Jika kedua kemungkinan itu ada, maka dikatakan risiko itu bersifat spekulatif. Sebaliknya, lawan dari risiko spekulatif adalah risiko murni, yaitu hanya ada kemungkinan kerugian dan tidak mempunyai kemungkinan keuntungan. Manajer risiko utamanya menangani risiko murni dan tidak menangani risiko spekulatif kecuali jika adanya risiko spekulatif memaksanya untuk menghadapi risiko murni tersebut.

Menentukan sumber risiko adalah penting karena mempengaruhi cara penanganannya. Sumber risiko dapat diklasifikasikan sebagai risiko sosial, risiko fisik, dan risiko ekonomi.

Biaya-biaya yang ditimbulkan karena menanggung risiko atau ketidak-pastian dapat dibagi sebagai berikut:

  1. Biaya-biaya dari kerugian yang tidak diharapkan.
  2. Biaya-biaya dari ketidakpastian itu sendiri.

MENGIDENTIFIKASI RISIKO

Pengidentifikasian risiko merupakan proses analisa untuk menemukan secara sistematis dan berkesinambungan atas risiko (kerugian yang potensial) yang dihadapi perusahaan. Karenanya diperlukan checklist untuk pendekatan yang sistematik dalam menentukan kerugian potensial. Salah satu alternatif sistem pengklasifikasian kerugian dalam suatu checklist adalah; kerugian hak milik ( property losses), kewajiban mengganti kerugian orang lain ( liability losses) dan kerugian personalia (personnel losses). Checklist yang dibangun sebelumnya untuk menemukan risiko dan menjelaskan jenis-jenis kerugian yang dihadapi oleh sesuatu perusahaan.

Perusahaan yang sifat operasinya kompleks, berdiversifikasi dan dinamis, maka diperlukan metode yang lebih sistematis untuk mengeksplorasi semua segi. Metode yang dianjurkan adalah;

  1. Questioner analisis risiko (risk analysis questionnaire).
  2. Metode laporan Keuangan (financial statement method).
  3. Metode peta-aliran (flow-chart).
  4. Inspeksi langsung pada objek.
  5. Interaksi yang terencana dengan bagian-bagian perusahaan.
  6. Catatan statistik dari kerugian masa lalu.
  7. Analisis lingkungan.

Dengan mengamati langsung jalannya operasi, bekerjanya mesin, peralatan, lingkungan kerja, kebiasaan pegawai dan seterusnya, manajer risiko dapat mempelajari kemungkinan tentang hazard. Untuk itu keberhasilannya dalam mengidentifikasi risiko tergantung pada kerjasama yang erat dengan bagian-bagian lain yang terkait dalam perusahaan.

Manajer risiko dapat menggunakan tenaga pihak luar untuk proses meng-identifikasikan risiko, yaitu agen asuransi, broker, atau konsultan manajemen risiko. Hal ini tentunya punya kelemahan, dimana mereka membatasi proses hanya pada risiko yang diasuransikan saja. Dalam hal ini diperlukan strategi manajemen untuk menentukan metode atau kombinasi metode yang cocok dengan situasi yang dihadapi.

Daftar Pustaka

Manajemen RISIKO oleh Drs. Herman Darmawi Bumi Aksara 1992, 172 Halaman   979-526-147-9

SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA


Dalam dunia persaingan terbuka pada era globalisasi ini , masyarakat dan internasional menerapkan standart acuan terhadap berbagai hal terhadap industri seperti kualitas, manajemen kualitas, manajemen lingkungan, serta keselamatan dan kesehatan kerja.

Apabila saat ini industri pengekspor telah dituntut untuk menerapkan Manajemen Kualitas (ISO-9000, QS-9000) serta Manajemen Lingkungan (ISO-14000) maka bukan tidak mungkin tuntutan terhadap penerapan Manajemen Keselamatan dan Kesehatan kerja juga menjadi tuntutan pasar internasional. Untuk menjawab tantangan tersebut Pemerintah yang diwakili oleh Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi telah menetapkan sebuah peraturan perundangan mengenai Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) yang tertuang dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomuor : PER.05/MEN/1996.

Definisi SMK3

Secara normatif sebagaimana terdapat pada PER.05/MEN/1996 pasal 1, Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) adalah bagian dari sistem manajemen keseluruhan yang meliputi struktur organisasi, perencanaan, tanggungjawab, pelaksanaan, prosedur, proses dan sumberdaya yang dibutuhkan bagi pengembangan, penerapan, pencapaian, pengkajian dan pemeliharaan kebijakan Keselamatan dan kesehatan kerja dalam rangka pengendalian risiko yang berkaitan dengan kegiatan kerja guna terciptanya tempat kerja yang aman, efisien dan produktif.

Tujuan dan Sasaran

Tujuan dan sasaran sistem Manajemen K3 adalah terciptanya sistem K3 di tempat kerja yang melibatkan segala pihak sehingga dapat mencegah dan mengurangi kecelakaan dan penyakit akibat kerja dan terciptanya tempat kerja yang aman, efisien, dan produktif.

Alasan Penerapan SMK3

Karena SMK3 bukan hanya tuntutan pemerintah, masyarakat, pasar, atau dunia internasional saja tetapi juga tanggung jawab pengusaha untuk menyediakan tempat kerja yang aman bagi pekerjanya. Selain itu penerapan SMK3 juga mempunyai banyak manfaat bagi industri kita antara lain :

Manfaat Langsung :

1. Mengurangi jam kerja yang hilang akibat kecelakaan kerja. 2. Menghindari kerugian material dan jiwa akibat kecelakaan kerja. 3. Menciptakan tempat kerja yang efisien dan produktif karena tenaga kerja merasa aman dalam bekerja.

Manfaat tidak langsung :

a. Meningkatkan image market terhadap perusahaan. b. Menciptakan hubungan yang harmonis bagi karyawan dan perusahaan. c. Perawatan terhadap mesin dan peralatan semakin baik, sehingga membuat umur alat semakin lama.

Klausa dan elemen pada SMK3

Sebagai mana terdapat pada lampiran I PERMENAKER NO:PER.05/MEN/1996 sebagai berikut :

1. Komitmen dan Kebijakan

1.1. Kepemimpinan dan Komitmen

1.2. Tinjauan Awal K3

1.3. Kebijakan K3

2. Perencanaan

2.1. Perencanaan Identifikasi Bahaya, Penilaian dan Pengendalian Resiko

2.2. Peraturan Perundangan dan Persyaratan Lainnya

2.3. Tujuan dan Sasaran

2.4. Indikator Kinerja

2.5. Perencanaan Awal dan Perencanaan Kegiatan yang Sedang Berlangsung

3. Penerapan

3.1 Jaminan Kemampuan

3.1.1. SDM, Sarana dan Dana

3.1.2. Integrasi

3.1.3. Tanggung Jawab dan Tanggung Gugat

3.1.4. Konsultasi, Motivasi dan Kesadaran

3.1.5. Pelatihan dan Kompensasi

3.2. Kegiatan Pendukung

3.2.1. Komunikasi

3.2.2. Pelaporan

3.2.3. Pendokumentasian

3.2.4. Pengendalian Dokumen

3.2.5. Pencatatan dan Manajemen Informasi

3.3. Identifikasi Sumber Bahaya, Penilaian dan Pengendalian Resiko

3.3.1. Identifikasi Sumber Bahaya

3.3.2. Penilaian Resiko

3.3.3. Tindakan Pengendalian

3.3.4. Perancangan dan Rekayasa

3.3.5. Pengendalian Administratif

3.3.6. Tinjauan Ulang Kontrak

3.3.7. Pembelian

3.3.8. Prosedur Menghadapi keadaan darurat dan Bencana

3.3.9. Prosedur Menghadapi Insiden

3.3.10. Prosedur Rencana Pemulihan Keadaan Darurat

4. Pengukuran dan Evaluasi

4.1. Inspeksi dan Pengujian

4.2. Audit SMK3

4.3. Tindakan Perbaikan dan Pencegahan

5. Tinjauan Ulang dan Peningkatan oleh Pihak Manajemen

Perbandingannya Dengan Sistem Manajemen Lainnya Dari data diatas tampak bahwa SMK3 yang dilaksanakan di Indonesia sudah cukup representatif dibandingkan dengan standard internasional seperti OHSAS atau ILO OSH guidelines.

Kekurangan yang ada pada SMK3 dibandingkan dengan Manajemen K3 Lainnya

Kekurangan yang paling dasar adalah peraturan pendukung mengenai K3 yang masih terbatas dibandingkan dengan organisasi internasional. Tapi hal ini masih dapat dimaklumi karena masalah yang sama juga dirasakan oleh negara-negara di Asia dibandingkan negara Eropa atau Amerika, karena memang masih dalam tahap awal. Selain itu sertifikasi SMK3 yang hanya dapat dikeluarkan oleh Menteri Tenaga Kerja (Pemerintah) dirasakan kurang membantu promosi terhadap SMK3 dibandingkan dengan sertifikasi ISO series, OHSAS, KOHSA (korea), yang juga menggunakan badan sertifikasi swasta. Dan yang utama tentunya adalah peran aktif dari pengusaha Indonesia yang masih belum mengutamakan K3 di Industrinya karena masalah klasik yaitu cost (biaya).

Kesimpulan

Dengan banyaknya keuntungan dalam penerapan SMK3 serta standarisasi SMK3 di Indonesia yang cukup representatif bukankah saatnya bagi Industri Indonesia untuk melaksanakan SMK3 sesuai PER.05/MEN/1996 baik industri skala kecil, menengah, hingga besar. Sehingga bersama-sama menjadi industri yang kompetitif, aman, dan Efisien dalam menghadapi pasar terbuka.

Sumber :http://okasatria.blogspot.com/

%d blogger menyukai ini: