Posts from the ‘RESENSI BUKU’ Category

Kiat-Kiat Membesarkan Anak Yang Memiliki Kecerdasan Emosional


 

Seperti kebanyakan orang tua, mereka ingin memperlakukan anak mereka dengan adil, dengan sabar, dan dengan rasa hormat. Mereka tahu bahwa dunia menghadapkan anak-anak dengan banyak tantangan, dan mereka ingin mendampingi anak-anak mereka, memberi ilham dan dukungan. Mereka ingin mengajarkan anak mereka bagaimana menangani masalah secara efektif dan ingin menjalin hubungan yang kuat dan sehat.

Para orang tua yang gagal mengajarkan kecerdasan emosional kepada anak-anak mereka itu, peneliti telah mengidentifikasinya menjadi tiga tipe :

  1. Orangtua yang mengabaikan, yang tidak menghiraukan, menganggap sepi, atau meremehkan emosi-emosi negatif anak mereka.
  2. Orangtua yang tidak menyetujui, yang bersifat krisi terhadap ungkapan perasaan-perasaan negative anak mereka dan barangkali memarahi atau menghukum mereka karena mengungkapkan emosinya,
  3. Orangtua Laissez-Faire, yang menerima emosinya anak mereka dan berempati dengan mereka, tetapi tidak memberikan bimbingan atau menentukan batas-batas pada tingkah laku anak mereka.

Proses pelayihan emosi yang ditemukan para peneliti dalam kajian-kajian terhadap interaksi-interaksi yang sukses antara orangtua dengan anak. Proses tersebut biasanya terjadi dalam lima langkah. Orangtua :

  1. Menyadari emosi anaknya,
  2. Mengakui emosi itu sebgai peluang untuk kedekatan dan mengajar,
  3. Mendengarkan dengan penuh empati dan meneguhkan perasaan anak tersebut,
  4. Menolong anaknya menemukan kata-kata untuk memberi nama emosi yang sedang didalaminya, dan
  5. Menentukan batas-batas sambil membantu anak memecahkan masalah yang dihadapi.

Pelatihan emosi membutuhkan keterlibatan dan kesabaran yang cukup besar. Seandainya kita ingin menyaksikan anak-anak kita mengatasi perasaan-perasaan, menangani stres, dan membina hubugan-hubungan sehat, kita tidak akan menutup diri atau mengabaikan ungkapan-ungkapan perasaan negatif, kita berhubungan dengan anak kita dan memberi bimbingan.

Meskipun kakek-nenek, guru, dan orang dewasa lainnya dapat berfungsi sebagai pelatih emosi dalam kehidupan seorang anak, sebagai orangtua, kita berada dalam posisi yang terbaik untuk tugas itu.

Hasil-hasil kajian tindak lanjut ini memperlihatkan kepada kami bahwa anak-anak dengan orangtua yang melatih emosi itu menjadi lebih baik dalam bidang-bidang unjuk kerja akademis, keterampilan bergaul, kesejahteraan emosional, dan kesehatan jasmaniah. Bahkan sewaktu menguji IQ-nya, perolehan matematika dan mambacanya lebih bagus.

Pengalaman itu menolong mereka untuk menanggapi satu sama lain dengan cara yang cerdas secara emosional. Langkah pertama yang diambil orangtua kea rah mendidik anak-anak yang secara emosional cerdas adalah memahami gaya mereka sendiri dalam menghadapi emosi dan bagaimana hal itu mempengaruhi anak-anak mereka.

Menilai Gaya Kita Sebagai Orangtua

Banyak keluarga mempunyai falsafah campur aduk tentang emosi, artinya sikap mereka terhadap ungkapan emosional barangkali berbeda-beda tergantung pada emosi yang diungkapkan. Orangtua barangkali berpendapat, misalnya, bahwa boleh-boleh saja kadang-kadang merasa sedih, tetapi ungkapan-ungkapan amarah itu dianggap tidak pantas atau berbahaya. Sebaliknya, mereka boleh jadi sangat menghargai amarah dalam diri anak mereka karena mereka melihatnya sebagai sikap tegas, tetapi mereka menganggap rasa takut atau rasa sedih sebagai pengecut atau kekanak-kanakan. Selain itu, masing-masing keluarga menerapkan pedoman yang berbeda-beda terhadap anggota-anggota keluarga.

Ada 4 gaya sebagai orangtua :

  1. Orangtua yang mengabaikan, akibat terhadap anak : mereka belajar bahwa perasaan-perasaan mereka itu keliru, tidak tepat, atau tidak sah.
  2. Orangtua yang tidak menyetujui, akibat terhadap anak : sama dengan gaya orangtua yang mengabaikan.
  3. Orangtua yang Laissez-Faire, akibatnya : mereka tidak belajar mengatur emosi mereka, mereka menghadapi kesulitan berkonsentrasi, menjalin persahabatan, bergaul dengan anak lain.
  4. Orangtua yang pelatih emosi, akibatnya : mereka belajar mempercayai perasaan-perasaan mereka, mengatur emosi-emosi mereka sendiri, dan menyelesaikan masalah-masalahnya. Mereka mempunyai harga diri yang tinggi, belajar dengan baik, dan bergaul dengan orang lain secara baik-baik.

Sifat orangtua yang mengabaikan, lama kelamaan mulai menganggap semua ungkapan kesedihan atau amarah anak-anak mereka sebagai tuntutan yang mustahil. Karena merasa frustasi atau dimanfaatkan, orangtua –orangtua ini bereaksi dengan meremehkan atau memperkecil kesedihan anak-anak mereka. Mereka mencoba memperkecil permasalahannya, membungkusnya, dan membuangnya sehingga dapat dilupakan.

Sebagai anak-anak, semacam orangtua seperti ini hanya mendapat sedikit bantuan sewaktu belajar mengatur emosi mereka sendiri. Oleh karena itu, sebagai orang dewasa, ketika mereka merasa sedih, mereka khawatir bahwa mereka akan tergelincir masuk ke dalam depresi yang tiada akhir. Atau, mereka merasa marah, mereka takut bahwa mereka akan menjadi marah besar dan melukai seseorang.

Sifat orangtua yang tidak menyetujui hampir sama dengan orangtua yang mengabaikan dengan berberapa perbedaan :secara mencolok orangtua tersebut kritis dan tidak tisak berempati saat mereka menggambarkan pengalaman-pengalaman emosional anaknya. Mereka bukan sekedar mengabaikan, menyangkal, atau meremehkan emosi-emosi negatif anaknya, mereka tidak menyetujui. Oleh karena itu, anak-anak mereka sering kali dimarahi, ditertibkan, atau dihukum karena mengungkapkan kesedihan, amarah, dan ketakutan.

Orangtua Laissez-Faire adalah orangtua yang penuh dengan empati bagi anak-anak mereka dan mereka memberitahukan kepada anak-anak itu bahwa apa pun yang mereka alami, ayah dan ibu akan memperbolehkannya. Masalahnya adalah, orangtua ini sering kali cenderung tidak terampil dan tidak bersedia memberikan bimbingan kepada anak-anak mereka tentang bagaimana cara mengatasi emosi-emosi mereka.

Orangtua pelatih berfungsi sebagai pemandu anak-anak mereka menempuh dunia emosi. Kajian-kajiannya memperlihatkan bahwa orangtua pelatih emosi mempunyai kesadaran yang kuat akan emosi-emosi mereka sendiri maupun emosi-emosi yang mereka kasihi.

Lima Langkah Penting Untuk Melatih Emosi

Langkah no. 1 menyadari emosi-emosi anak

Orangtua yang sadar terhadap emosi-emosi mereka sendiri dapat menggunakan kepekaan mereka untuk menyelaraskan diri dengan perasaan-perasaan anak mereka, tanpa memperhatikan betapa halus atau hebatnya. Namun, menjadi seorang yang peka dan sadar secara emosional bukan berarti kita selalu merasa mudah memahami perasaan-perasaan anak. Sering kali anak-anak mengungkapkan emosi mereka secara tidak langsung dan dengan cara membingungkan bagi orang dewasa. Bagaimanapun, jika kita mendengarkan secara seksama dan dengan hati yang terbuka, kita dapat memecahkan isyarat pesan yang secara tidak sadar tersembunyi oleh anak-anak dalam pergaulan mereka, permainan mereka, tingkah laku sehari-hari mereka.

Seandainya kita menduga bahwa anak sedang merasa sedih, marah, atau takut, ada baiknya mencoba meletakkan diri sendiri dalam posisi mereka, untuk melihat dunia dari sudut pandang mereka. Dan setiap kali kita merasa bahwa hati kita berpihak pada anak kita, maka kita tahu kita sedang merasakan apa yang dirasakan anak itu, kita sedang mengalami empati, yang merupakan landasan pelatihan emosi.

Langkah no. 2 mengakui emosi sebagai peluang untuk kedekatan dan mengajar

Bagi banyak orangtua, mengenali emosi negatif anak-anak mereka sebagai peluang untuk menjalin ikatan dan mengajar muncul sebagai suatu kelegaan, suatu pembebasan, suatu pengalaman besar “ini dia”. Menangani perasaan-perasaan yang rendah intensitasnya sebelum perasaan-perasaan itu meningkat memberikan pula suatu peluang kepada keluarga untuk melatih keterampilan mendengarkan dan menyelesaikan masalah sementara taruhannya masih kecil. Bila kita mengungkapkan minat dan keprihatinan terhadap mainan anak yang rusak atau ada goresan kecil, pengalaman itu merupakan batu-batu pembangun. Anak kita belajar kalau kita adalah sekutunya dan kita berdua memikirkan cara berkerja sama.

Langkah no. 3 mendengarkan dengan empati dan meneguhkan perasaan anak

Sewaktu mendengarkan anak pada saat-saat emosional, sadarlah bahwa menyampaikan pengamatan-pengamatan sederhana biasanya jauh lebih bermanfaat daripada mengajukan pertanyaan-pertanyaan menyelidik. Sebagai seorang anak kecil, mereka tidak memiliki keunggulan (atau kerugian) mawas diri bertahun-tahun, jadi barangkali mereka tidak siap memberikan jawabannya. Hindarilah pertanyaan-pertanyaan yang sudah diketahui jawabannya.

Langkah no. 4 menolong anak memberi nama emosi dengan kata-kata

Memberi nama emosi berjalan berdampingan dengan empati. Oleh karena itu, bagi para orangtua bantulah anak-anak menemukan kata-kata untuk melukiskan apa yang sedang mereka rasakan. Bukan berarti memberitahu anak-anak bagaimana seharusnya mereka merasa. Ini berarti membantu mereka menyusun kosakata yang dapat mereka gunakan untuk mengungkapkan emosi mereka. Orangtua dapat membantu dalam suatu situasi dengan membimbing anak menjajaki rangkaian emosinya, dan dengan meyakinkannya bahwa sering kali wajar-wajar saja merasakan dua perasaan sekaligus.

Langkah no. 5 menentukan batas-batas sambil membantu anak memecahkan masalah

Keluarga-keluarga lebih baik menggunakan metode-metode mematok batas sehingga memungkin anak-anak untuk tetap mempertahankan rasa harga diri, martabat diri, dan kekuasaannya. Jika anak-anak diberitahukan aturan-aturannya dan pengendalian diri, mereka cenderung tidak nakal. Apabila anak-anak memilih suatu pemecahan terhadap sebuah masalah yang tidak berhasil, tolonglah mereka menganalisis mengapa hal itu gagal. Kemudian kita dapat memecahkan itu dengan cara baru.

STRATEGI MELATIH EMOSI

Hindari anak kita dari kritik yang berlebihan, komentar yang menghina, atau mengolok-olok. Jika orangtua melakukan hal tersebut anak mereka tidak akan mempercayai orangtuanya. Gunakan “anjang-anjang” dan pujian untuk melatih anak. Abaikan “agenda mengasuh anak”. Lalu ciptakan sebuah denah mental tentang kehidupan sehari-hari. Jangan “berpihak kepada musuh”. Jangan mencoba memaksakan pemecahan orantua dengan anak. Bagilah mimpi-mimpi dan khayalan anak. Bersikap jujur pada anak. Bacalah buku bersama-sama. Bersabarlah dengan prosesnya. Memahami basis kekuasaan sebagai orangtua. Percayalah pada kodrat baik perkembangan manusia.

Semua itu tidak tepat apabila orangtua tidak memiliki waktu yang banyak. Apabila orangtua terlalu marah dan terlalu lelah sehingga latihan emosi tidak berguna. Apabila harus menangani kenakalan berat. Apabila anak “berpura-pura” mengalami emosi untuk menipu.

PERKAWINAN, PERCERAIAN, DAN KESEHATAN EMOSIONAL ANAK

Tetap bersama-sama dalam sebuah perkawinan yang bermasalah dan bercerai dapat sama-sama memiliki pengaruh buruk bagi anak-anak. Karena secara tidak langsung hal itu membuat psikis anak terganggu.

Hal itu dapat dikurangi dengan beberapa metode. Yang pertama melatih emosi dalam perkawinan orangtua. Hindarilah empat pelari estafet yang menghancurkan. Pelari No. 1 kecaman, No.2 penghinaan, No. 3 sikap bertahan, No.4 diam seribu bahasa. Mengelola konflik perkawinan.

PERAN PENTING SANG AYAH

Terlibatlah dalam perawatan anak sejak kehamilan. Tetaplah peka terhadap kebutuhan sehari-hari anak sewaktu tumbuh. Usakanlah keseimbangan antara kehidupan kerja dengan kehidupan keluarga. Tetaplah terlibat dalam kehidupan anak tanpa mengingat status pernikahan. Ingatlah bahwa dengan mendengarkan secara penuh empati, dengan menolong anak memberi label pada perasaan mereka, dan membimbing mereka dalam cara menangani amarah dan kesedihan mereka, para ayah dapat menjadi semakin dekat dengan anak mereka dalam saat-saat krisis emosional.

PELATIHAN EMOSI SEWAKTU ANAK TUMBUH

Saat bayi kurang lebih tiga tahun dimana bayi berminat dalam interaksi social tatap muka. Bersemangatlah dan gunakanlah perasaan bila orangtua bermain dengan anaknya, dengan mengulangi ungkapan-ungkapan aneh dan tindakan-tindakan yang lembut dan berirama. Jika itu berhasil, bayi akan belajar menyampaikan rasa senangnya dengan tersenyum, tertawa terkekeh, menendang-nendang kegirangan, dan berteriak-teriak. Tanggapan semacam itu mendorong orangtua untuk menjadi lebih suka bermain, sambil menciptakan suatu lingkaran interaksi yang penuh kasih, penuh suka cita, dan bergerak ke atas, yang lebih lanjut memperkuat ikatan emosional antara anak bayi dengan orangtuanya.

Umur enam sampai delapan bulan merupakan penjajakan luarbiasa bagi bayi, suatu masa saat mereka menemukan dunia benda-benda, manusia-manusia, dan tempat-tempat. Secara serentak, mereka juga menemukan cara-cara baru untuk mengungkapkan dan menyampaikan perasaan-perasaan seperti  gembira, rasa ingin tahu, rasa takut, dan kecewa dengan dunia di sekitar mereka. Kesadaran yang mekar semacam itu berlanjut sampai membuka peluang-peluang baru untuk pelatihan emosi.

Umur Sembilan sampai dua belas bulan merupaka periode di mana bayi mulai memahami bahwa manusi dapat membagi gagasan-gagasan dan emosi-emosi mereka satu sama lain. Pada umur Sembilan bulan, bayi mulai memahami bahwa orangtuanya tahu perasaan hatinya.

Masa satu atau dua tahun merupakan saat yang menyenangkan dan menggairahkan sewaktu anak mengembangkan makna tentang dirinya sendiri dan mulai menajajki kemandiriannya. Tetapi, ada alasan yang baik bahwa periode ini pun diberi nama dua tahun yang mengerikan. Inilah saatnya anak-anak menjadi jauh lebih menonjol diri dan untuk pertama kalinya, mereka membangkang.

Terkadang umur dua sampai tiga tahun, anak-anak mulai mewujudkan tingkah laku yang mereka amati terlebih dahulu pada anggota-anggota keluarga lainnya. Kemampuan si anak untuk menyimpan ingatan tentang tindakan-tindakan dan peristiwa-peristiwa di benaknya dan kemudian mengambilnya kembali untuk ditirukan di kemudian hari.

Masa kanak-kanak awal (umur empat sampai tujuh tahun). Pada umur empat tahun, anak-anak lazimnya sudah keluar dan pergi ke mana-mana, bertemu teman baru, menghabiskan waktu dalam berbagai macam lingkungan.

Permainan khayalan digemari saat periode ini mungkin ada kaitannya dengan manfaatnya untuk menolong anak-anak mengatasi sejumlah besar rasa cemas yang cenderung memuncak pada awal taman kanak-kanak. Faktor dasar ketakutan adalah rasa takut akan ketidakberdayaan, takut ditinggalkan, takut akan kegelapan, takut akan mimpi-mimpi buruk, rasa takut akan pertengkaran orangtua, takut mati.

Periode pertengahan usia anak-anak (umur delapan sampai dua belas tahun) ini, anak-anak mulai berhubungan dengan suatu kelompok sosial yang lebih luas dan memahami pengaruh sosial. Mereka mungkin menjadi orang yang masuk atau keluar diantara rekan-rekan sebayanya. Pada waktu yang sama, anak-anak mulai tumbuh secara kognitif, dengan mempelajari kekuatan intelek atas emosi.

Karena semakin besar kesadarab anak terhadap pengaruh rekan sebayanya, mungkin kita mulai membedakan salah satu motivasinya yang utama dalam hidupnya adalah, bagaimanapun, menghindari rasa malu. Anak-anak seusia ini perlu merasa dekat secara emosional dengan orangtua mereka dan mereka membutuhkan bimbingan penuh kasih saying yang ditimbulkan oleh kedekatan tersebut.

Masa remaja merupakan periode yang ditandai oleh keprihatinan besar terhadap pertanyaan-pertanyaan identitas : Siapakah aku? Aku ini sedang menjadi apa? Aku ini harus menjadi apa? Oleh karena itu, jangan terperanjat bila anak tampaknya menjadi benar-benar terserap pada dirinya sendiri pada salah satu tahap di masa remaja itu.

Inilah beberapa nasihat dari seorang ahli psikologi :

Terimalah bahwa remaja merupakan masa bagi anak-anak untuk memisahkan diri dari orangtua mereka. Tunjukkanlah rasa hormat kepada anak kita yang sudah remaja. Doronglah pengambilan keputusan secara mandiri sementara tetap menjadi pelatih emosi bagi anak.

Kita harus awas terhadap apa yang terjadi dalam kehidupan anak. Terimalah dan teguhkanlah pengalaman-pengalaman emosional anak. Apabial timbul masalah, dengarkanlah dan dengarkanlah dengan penuh empati, tanpa mengadili. Dan jadilah sekutu bila ia datang kepada kita untuk minta pertolongan akan suatu masalah. Meskipun langkah-langkah ini sederhana, sekarang kita tahu bahwa langkah-angkah itu merupakan basis dukungan emosional seumur hidup antara orangtua dengan anak.

Sumber :John Gottman,Ph. D. & Joan Declaire Kiat-Kiat Membesarkan Anak Yang Memiliki Kecerdesan Emosional Pt. Gramedia Pustaka Utama: 1997

 

Iklan

Spirit Hidup Samurai


1Seseorang yang akan menjadi Prajurit harus selalu ingat akan kematian sepanjang waktu, setiap hari, setiap malam, dari pagi Tahun Baru hingga malam Akhir Tahun. Kesadaran siap mati harus ditanamkan di dalam otak, karena bila selalu ingat kematian di sepanjang waktu tentu akan menunjang untuk siap mengemban tugas dan setia pada kaisar serta menghindari dari segala perbuatan setan  dan kejahatan serta dapat memelihara fisik agar tetap sehat dan kuat serta menjadi pribadi yang lebih baik. Kehidupan setiap manusia ibarat embun pagi hari yang sangat rapuh dan gampang lenyap karena terkena sinar matahari, tiupan angin, gerakan daun, atau lainnya. Jika itu merupakan kehidupan rata-rata manusia maka kehidupan Prajurit jauh lebih rawan karena Prajurit lebih terkait dengan peperangan. Sebagai Prajurit harus menyadari bahwa hidup adalah hanya saat ini dan tidak tahu pasti apa yang akan terjadi besok, jika mengemban tugas dari Kaisar/Majikan atau memenuhi memenuhi kewajiban untuk orang tua maka akan punya perasaan bahwa itu adalah kesempatan terakhir. Dan memotivasi diri untuk tidak boleh gagal dalam mengemban tugas dan membantu orang tua.

  • Pendidikan

Kaum prajurit berada di posisi lebih atas daripada tiga kelas lainnya. Kaum perajurit juga diharapkan menjadi administratur profesional. Karena itu, mereka perlu mempelajari dan mendapatkan pemahaman sangat ekstentif tentang berbagai prinsip apa saja. Para prajurit uang hidup dalam zaman perang sudah terjun pertama kalinya dalam perang sungguhan di usia 17 atau 16 tahun dan langsung melakukan pekerjaan mereka sebagai ksatria, sehingga mereka harus berlatih bela diri saat usia 12 atau 13 tahun. Dalam era Zaman Perang, ada sejumlah prajurit yang sama sekali tidak bisa membaca huruf dalam kamus. Hal itu terjadi karena mereka harus kosentrasi pada seni militer. Bagi prajurit yang dilahirkan di era sekarang saat suasana sudah damai, dari usia 7 atau 8 tahun mereka harus tetap diajari sastra klasik, membaca, dan menulis. Kemudian saat di usia 15 atau 16 tahun mereka juga harus diajari berlatih memanah, berkuda dan semua bentuk seni bela diri.

  • Kewajiban Keluarga

Bagi prajurit, menyayangi orang tua adalah hal yang sangat fundamental. Jika seseorang tidak lagi memperdulikan orang tua, meski ia luar biasa pandai, ganteng, atau bertutur cukup bagus maka, ia bukanlah oarang yang baik. Untuk paham Bushido, kau harus menjalan kan dari akar sampai ranting. Jika tidak bisa memahami dari akar sampai rantingnya, kau tidak akan bisa tahu apa kewajibanmu. Seseorang yang tidak tahu kewajibannya tentu sangat tidak layak untuk disebut prajurit. Ada dua cara untuk menyayangi dan memperdulikan orang tua dengan baik. Pertama, jika mereka tekah memperlakukan kita dengan baik dan pernah  membantu kita secara personal maupun finansial, kita tidak boleh meremehkannya jika mereka membutuhkan pertolongan. Kita harus bersedia menyisihkan sejenak urusan pribadi kita untuk menolong mereka. Kedua, harus menghargai, menghormati, menghibur dan membantu saat menghadapi proses penuaan dan penurunan kualitas hidup, serta harus merawat dengan setulus hati. Ini adalah tujuan anak yang berbakti. Prajurit dengan spirit seperti ini menunjukan bahwa ia paham persyaratan-persyaratan tentang loyalitas (kesetiaan) dan kewajiban. Sehingga, dapat menjadi prajurit yang setia mengabdi pada majikannya dan rela mengorbankan nyawanya sendiri.

  • Prinsip-Prinsip Keprajuritan

Dalam Bushido, ada dua jenis prinsip dengan empat level; kedua prinsip itu adalah prinsip kedaaan normal dan prinsip keadaan darurat perang. Prinsip keadaan normal meliputi prinsip kesatriaan dan prinsip persenjataan, prinsip keadaan darurat perang meliputi prinsip kerentaraan dan prinsip tempur. Di depan publik, meski sedang tidak bertugas, kau tidak boleh sembarangan bersantai. Lebih baik membaca, berlatih kaligrafi, mengkaji kisah-kisah kuno atau tata krama keprajuritan kuno. Seorang prajurit yang sudah menjalani empat level prinsip keadaan normal dan prinsip keadaan darurat perang dengan sempurna akan dianggap sebagai ksatria level tinggi. Jika sudah menampung dua prinsip keadaan normal, maka cukup kompeten untuk mengemban tugas ksatria. Namun, jika belum menguasai dua level dalam prinsip keadaan darurat perang, maka tidak akan bisa menjadi komandan samurai, pemimpin kelompok, hakim atau yang setara dengan itu. Untuk itu diperlukan keteguhan hati untuk menjadi ksatria kelas tinggi.

  • Selalu Waspada Pertempuran

Bagi prajurit penting untuk terus memelihara spirit tempur di dalam hati selama 24 jam sehari, saat berjalan atau berdiri, saat duduk atau bersandar dan tidak pernah melupakan kewajibannya. Adat istiadat orang Jepang berbeda dengan adat istiadat negara lain. Di Jepang orang dari kelas rendah seperti petani, pedagang dan seniman tetap membawa pedang meski pendek dan berkarat. Namun, adat istiadat Jepang pulalah yang menentukan bahwa ketiga kelas rendah ini tidak menjadikan ketentaraan sebagai profesi. Jika kau tidak pernah melupakan spirit bertempur, kau juga akan secara spontan bertindak seiring dengan realita tetap memikirkan kematian di sepanjang waktu. Seorang prajurit yang mengenakan dua pedang di pinggang namun, tidak memiliki spirit tempur bukanlah seorang prajurit melainkan hanya seorang petani atau pedagang yang berkulit prajurit.

  • Biarawan-Prajurit

Sejak era sangat lama, sudah ada tradisi yang mengkaitkan biarawan dengan prajurit. Maka, atas dasar itu selalu ada kesamaan antar biarawan dan prajurit. Misalnya dalam sekolah-sekolah Zen, orang yang disebut Pustakawan dan Pemimpin Majelis adalah bara niarawan biasa sama dengan status para prajurit. Level berikutnya yang lebih tinggi, dalam biara adalah Asisten Guru, yang setara dengan tatanan dlam milliter, seperti kelompok dalam keksatriaan, atau kepala pasukan darat. Yang lebih tinggi lagi, meski tanpa gelar saat biarawan sudah mengenakan pakaian keagamaan penuh warna, memegang simbol-simbol otorita dan sudah memimpin sekelompok besar, maka mereka sudah patut disebut Sesepuh atau Master. Para biarawan ini levelnya sudah setara dengan prajurit yang sudah memiliki bendera sendiri, lencana sendiri serta tongkat komando, memimpin para ksatria atau infanri, yang memimpin tentara dan mngekomando pasukan atau komndan regu pemanah. Saat seorang prajurit yang memegang komando melakukan kekeliruan dalam kepemimpinannya, maka itu bisa membahayakan nyawa tentaranya dan menyebakan musibah besar. Karena itu, sangat penting untuk memahami hal ini, gunakan waktu senggangmu diluar masa tugasmu untuk menyempurnakan pemahaman prinsip-prinsip militer. Belajarlah dan berlatihlah sehingga tidak ada posisi yang kau tidak bisa jalankan bahkan saat posisi tertinggi sebagai komandan.

  • Benar dan Salah

Sepanjang, itu disadari dan diterima, para prajurit harus paham mana yang benar dan yang salah serta berusaha keras melakukan yang benar dan menhindari yang salah dengan cara itulah Bushido bisa hidup. Benar dan salah bisa berarti baik dan jahat, benar adalah baik, salah adalah jahat. Prajurit sangat perlu untuk mengetahui yang keliru dan yang benar, serta menghindari yang keliru dan memburu yang benar. Proses memanen manfaat dari praktik melakukan hal yang benar itu diawali dengan ketakutan akan tidak dihargai oleh orang-orang yang dekat dengan dirimu, diawali dari anggota keluarga dan pembantu. Proses ini kemudian berkembang ke menjaga diri dari melakukan yang keliru dan melakukan yang benar. Bila kau terbiasa melakukan ini maka akan menjadi kebiasaan dan kau bisa mengembangkan mentalitas yang lebih memilih mengikuti yang benar dan menghindari yang salah.

  • Pemberani

Dalam Bushido, ada tiga hal yang dipertimbangkan sangat esensial; kesetiaan, tugas dan keberanian. Prajurit yang memiliki kombinasi tuga sosok, baik berupa kesetiaan, pengembanan tugas dan keberanian, bisa dipertimbangkan sebagai ksatria dengan orde tinggi. Seseorang yang batinnya memang pemberani akan menunjukan loyalitas dan kasih sayang pada majikannya dan orang tuanya. Jika ada waktu luang ia akan mempelajari literatur dan terus berlatih seni bela diri. Ia menghindari kemewahan personal, tidak berfoya-foya atau menghambur-hamburkan sepersen uang. Ia juga tidak tamak, ia membelanjakan uang hanya jika memang diperlukan. Ia juga menjaga tubuh agar tetap fit, karena selalu ingin menuntaskan kewajiban di dalam hidupnya. Ia akan selalu menjaga kesehatannya, memoderatkan makanan dan tidak minum-minuman keras. Semua ini merupakan cerminan mentalitas pemberani.

  • Sopan Santun dan Rasa Hormat

Saat orang muda atau samurai secara tidak sopan melakukan pembicaraan atau interaksi lain dengan majikan atau orang tuanya dan tidak sempat diperhatikan sepanjang mereka tetap santun terhadap majikan atau orang tua, maka, kewajiban dan loyalitas keluarga lah yang membedakan tiga kelas lebih rendah ini. Dalam Bushido, tak peduli seberapa banyak kau menanamkan loyalitas dan kewajiban keluarga didalam hati, jika tanpa perilaku yang baik untuk mengekspresikan ras hormat pada majikan dan orang tua maka kau tidak bia diakatakan sudah menghargai cara hidup seorang samurai.

  • Berkuda

Pada era emas, dikatakan bahwa prajuit dari semua peringkat bependapatan memanah atau berkuda adalah seni bela diri tertinggi. Prajurit di masa kini lebih terkonsentrasi pada berlatih pedang, tombak, dan berkuda, yang tak kalah pentingnya. Seperti halnya seni bela diri lain seperti, memanah, menembak dan jujitsu, tentu para prajurit muda berlatih rutin setiap pagi dan sore. Prajurit dijajaran lebih rendah sangat diharapkan bisa belajar berkendara kuda dengan baik. Ini akan membuat mereka bisa mengendarai kuda apa saja, bahkan yang masih liar dan yang susah di atur. Kuda bagus dan gampang dinaiki jaranga ada. Kalau ada, kuda-kuda seperti itu digunakan untuk para prajurit besar dan jarang di temukan di istal-istal untuk prajurit berpangkat lebih rendah. Maka, jika kau jago berkuda, maka kau bisa mengenali kuda yang bagus meski masih terlalu liar, terlalu tempramental,atau susah diatur, lalu kau bisa selalu memiliki kuda lebih baik daripada kau secara normal mendapatkannya.

  • Prinsip Tentara dan Prinsip Tempur

Jika ingin mempelajari ilmu militer, jangan sekali-sekali berhenti ditengah jalan. Kau harus berlatih hingga mencapai rahasia-rahasia terdalamnya lalu akhirnya kembali ke kesederhanaan sejati dan hidup dalam damai. Namun, jika kau menggunakan waktu untuk belajar dan berlatih ilmu militer dengan setengah-setengah, lalu tidak tahu jalan kembali kesederhanaannya, maka itu akan membuat kau menjadi frustasi dan kehilangan moral. Dalam konteks ini yang dimaksud dengan kembali kesederhanan adalah merujuk pada kondisi-kondisi fikiranmu sendiri saat sebelum mempelajari ilmu militer.

  • Mengelola Rumah Tangga

Jika prajurit kecewa atas perilaku istrinya, maka ia harus menjelaskan alasannya lalu membimbing istrinya sedemikian rupa sehingga mengerti. Jika kekecewaan itu terkait hal-hal yang remeh, maka lebih baik ia memaafkan dan toleran untuk menyisihkannya. Namun, jika sang istri itu memiliki sifat dan perilaku buruk dan tampaknya tidak akan bisa diubah jadi lebih baik, maka si prajurit disarankan menceraikannya lalu mengembalikannya kepada orang tuanya. Jika kau tidak mengikuti nasehat ini dan malahan memaki-maki istri yang harusnya dihargai sebagai orang kedua. Didalam rumah tangga dan menyiksanya dengan kata-kata kasar seperti umpatan kotor orang-orang dijalanan, maka tentu itu bukan perilaku yang patut bagi prajurit ksatria. Yang juga sangat tidak patut adalah mengacungkan pedang atau melontarkan tinju ke istri. Ini sungguh perilaku yan tidak terhormat dan karakteristik dari prajurit yang pengecut. Menyiksa orang yang tidak bisa membalas adalah sesuatu yang tidak patut dilakukan oleh prajurit. Jika ada prajurit yang melakukannya prajurit itu tergolong pengecut.

  • Keluarga Besar

Suatu dari garis keturunan langsung kepala keluarga besar, atau dari garis keturunan langsung nenek moyang tiba-tiba menderita kehancuran dan tumbang dalam urusan dunia. Sikap layaknya ksatria adalah tidak menjauhkan diri dari mereka. Kau harus tetap memelihara hubungan baik dan menghubungi mereka dari waktu ke waktu. Menjadi oportunis, Cuma manghargai saat mereka berjaya namun meningalkan mereka saat jatuh adalah mentalitas petai atau pedagang bukan mentalitas prajurit.

  • Hemat

Prajurit dalam dinas publik, tak peduli statusnya besar atau kecil harus selalu hemat dan berhati-hati agar tidak belanja berlebihan. Kehidupan individual adalah urusan pribadi. Maka bila hidup dengan belanja yang sedang-sedang saja, berusaha keras untuk menghindari belanja yang tidak berguna , bahkan meski hanya sedikit. Belanjakan uang hanya kenutuhan yang memang sangat dibutuhkan, inilah salah satu cara berhemat. Namun, saat kau terobsesi dengan berhemat, enggan membelanjakan uang dan terkonsentrasi hanya untuk menabung. Kemudian, saat kau bisa dengan cepat memulihkan kondisi keuangan dan bahkan menjadi lebih kaya daripada sebelumnya, kau menjadi lebih serakah dan kikir pda akhirnya mengabaikan tugas dan kewajiban karena semua yang kau fikirkan hanya lah menghemat uang, maka ini disebut pelit atau kikir. Orang-orang kuno bilang ‘kikir’ adalah kata lain dari ‘pengecut’.

  • Membangun rumah

Saat seorang prajurit dalam dinas publik membangun rumah, bisa dipahami jika ia ingin membuat penampilan luarnya, misalnya; pagarnya, petak penjaganya, berandanya dan tuang tamunya sebagus mungkin untuk mencerminkan statusnya. Dalam setiap kota kastil, orang dari tempat lain dan dari provinsi lain diperbolehkan masuk sejauh mungkin hanya di lingkaran luar dan boleh melihat-lihat sekitar. Jika rumah prajurit itui bagus dan tampak damai, ini akan tampak menjadi nilai plus bagi si empunya kastil.  Dalam era peperangan, bahkan baron  terbesar yang jadi master dalam kastil pun selalu khawatir akan dikepung lalu di sergap di dalam istananya sendiri. Maka, rumah-rumah untuk para prajurit di lingkar kedua dan ketiga dibuat rendah, sempit dan di bangun ringan-ringan saja. Bahkan, untuk para prajurit di lingkar terluar yang akan membakar rumah-rumah mereka sendiri saat ada krisis tidak ada keperluan untuk membangun rumah secara permanen. Bahkan, rumah-rumah dengan kontruksi yang sangat ringan sampai-sampai digambarkan seperti sekedar tenda untuk tidur. Dari sudut pandang ini, bahkan saat era damai, ksatria yang menjalankan Bushido tidak diperkenankan membangun rumah terlalu indah yang seolah-olah akan mereka tinggali selamanya.

  • Perlengkapan Militer

Ksatria yang sedang dalam tugas publik harus menjaga dan memelihara perlengkapan militernya dan persenjataannya denga sebaik-baiknya seiring dengan status mereka. Ini meliputi barang-barang yang ada dalam kode-kode militer di dalam setiap rumah dan yang diperintahkan oleh majikan mereka, misalnya; emblem individu, tutup kepala, emblem tombak, emblem tameng dan emblem pengangkut. Maka, pengenalan emblem-emblem semacam itu harus selalu di berikan untuk rumah secara keseluruhan. Seorang ksatria harus selalu siap untuk bertugas, tak peduli betapa damainya keadaan, jika sudah mau menerima gaji untuk dinas militer namun, gagal mempertimbangkan kemungkinan perang dan gagal melengakapi diri sepenuhnya dengan persenjataan dan perlengkapan militer, maka ia seratus kali lebih lalai daripada mereka yang mengganti bilah pedang dengan keping bambu atau pemuda dan ksatria muda yang tidak mengenakan pelindung tubuh.

  • Mempersenjatai Anak Buah

Seorang prajurit level rendah tidak boleh mengomando satu kontigen besar pengikut bahkan dalam keadaan darurat. Maka, ia tidak bisa mempersenjatai mereka lebih dari sebatang tombak. Jika tombak itu patah, maka akan ada satu batang tombak yang hilang, sehingga masuk akal jika menyiapkan mata tombaknya dan memasangkannya dengan apa saja yang cocok pada saat itu. Misalnya, dengan batang bambu. Juga, pasok pedang-pedang panjang yang kokoh, bahkan jika sedikit rusak untuk digunakan para prajurit pemula. Beri juga baju besi dan helm besi untuk kaum muda pemberani, alat pelindung dada,  pelindung kepala, dan bahkan topi baja untuk pesuruh dan calon ksatria; bahkan jiak kau prajurit tingkat lebih rendah, kau juga harus mengenakan pelindung tubuh.

  • Prajurit

Prajurit adalah fungsionaris yang harusnya bisa menghukum penjahat pengganggu masyarakat dan memberikan keamanan bagi tiga kelas lainnya. Karena itu, meski kau hanya prajurit di peringkat sangat bawah, sebagai prajurit kau tidak boleh melanggar dan mengganggu tiga kelas lainnya. Prajurit tugasnya memberantas penyamun, dan jangan sampai bertindak seperti penyamun.

  • Rendah Hati

Para prajurit yang sedang mencari pekerjaan pada majikan, harus selalu merendahkan diri saat berurusan dengan gaji. Sikap rendah hati dan sopan-santun prajurit seperti itu masih ada. Ekspresi semacam itu bermuasal dari ketidak-sediaan untuk menyuarakan jumlah spesifik untuk gaji. Kala itu ada pepatah “Seekor elang, meski sangat kelaparan, tidak akan makan padi; seorang prajurit, bahkan meski belum makan, tetap memainkan tusuk gigi.” Orang muda tidak akan berbicara tentang hal-hal semacam gaji atau harga komoditas dan wajah mereka akan memerah malu jika mendengar pembicaraan tentang seks. Bagi mereka-mereka yang bakal menjadi prajurit, sangat diharapkan mencoba meniru sikap para prajurit era lama.

  • Melilih Teman

Seorang prajurit dalam tugas boleh punya banyak kolega, namun sangat alami jika mengembangkan pertemanan khusus dengan prajurit yang berani, cerdas, adil dan berpengaruh. Sayangnya, tidak banyak prajurit yang seperti itu. Maka, jika ada bahkan cuma seorang saja yang bisa menghubungkan dengan teman-teman lain seperti itu, bisa menjadi bantuan besar saat kau sedang membutuhkan. Para prajurit bisa menjadi sahabat dekat hanya saat mereka bisa saling melihat hati masing-masing. Prajurit tidak boleh bergaul secara kasual hanya untuk saat luang yang bagus atau dalam obrolan santai. Jika mereka tiba-tiba kehilangan total perilaku taat adat, bertindak terlalu familiar, bergadang malam-malam, jika mereka harus merasa dalam keadaan tidak baik sehingga akhirnya bicara sembrono, maka mereka tidak akan bicara lebih banyak lagi, karena tidak akan bisa dipercaya. Jika sudah tidak ada lagi orang yang mendamaikan mereka, maka pada akhirnya mereka akan angkat bahu tanpa ada kebanggaan untuk meluruskan omongan. Penampilan luar mereka boleh saja sebagai prajurit, namun jiwa mereka tak lebih dari buruh kasar biasa.

  • Hubungan Bersahabat

Bagi prajurit menjadi bergantung pada orang lain itu boleh sepanjang masih sesuai dengan Bushido. Akan tetapi, jika kau menunjukan kebergantungan tanpa alasan yang tepat, menunjuk-nunjukan diri saat kau seharusnya tidak ada urusan, berbicara tentang beban yang sebenarnya tidak terlalu memberatkanmu, maka kau pantas disebut sebagai oarang yang suka mencampuri urusan orang lain. Ini sama sekali tidak baik. Jika kau tidak ada kepentingan dan tidak diminta, maka lebih baik tidak usah terlibat. Jika kau prajurit, saat kau menerima permintaan untuk membantu seseorang maka kau harus siap mengembannya sendiri tak peduli seberapa sulit. mengekspersikan pda orang lain atau menunjukan penolakan pada pandangan orang lain adalah hal yang harus dipertimbangkan dengan matang. Apapun yang dikatakan prajurit harus bijaksana dan dengan penuh perhatian. Seberapa banyak kau berbicara dengan teman atau kolega; bijaksana adalah lebih pas dalam keadaan seperti itu. Jika seseorang mendatangimu meminta nasihat, beranilah dengan tegas menolaknya atas dasar jika hal itu jauh di luar wewenangmu. Begitu kau sudah menjadi orang kepercayaan seseorang, itu sudah menunjukan ketergantungan untuk memburu kebenaran dan mengungkapkan fikiranmu lebih bebas bahkan jika orang lain itu tidak suka apa yang kau katakan. Jika ada orang yang begitu kurang kecerdasan sehingga menolak nasihat dan membuat kekeliruan karena berkepala batu serta bersikeras melakukan sesuatu dengan cara mereka sendiri, maka kau tidak perlu membina hubungan persahabatan dengan mereka.

  • Hubungan yang Sulit

Seorang prajurit dalam tugas publik mungkin saja memiliki beberapa kolega yang sulit membina hubungan dengan beberapa alasan. Bukan karena bermusuhan atau bersaing, namun hanya merasa kurang cocok. Anggap saja ada seorang prajurit yang kurang baik. Ia melihat ada pendatang baru yang kurang pengalaman, namun berusaha keras untuk menjalankan tugasnya. Ia ingin dan senang sekali melihat pendatang baru melakukan kesalahan.ini jelas mentalitas yang tidak baik. Prajurit dengan mentalitas seperti itu pasti bakal melakukan sesuatu yang pengecut jika berada dalam masa-masa kritis, misalnya mencuri piala peperangan orang lain demi kepentingannya sendiri atau membunuh orang dari pihaknya sendiri.

  • Kemasyuran

Seorang prajurit harus membaca kitab-kitab lama secara rutin untuk memperkuat jati diri. Dalam buku-buku terkenal semisal Koyo Gunkan, Nobunaga-ki, Taiko-ki dan lain-lain. Serta dalam rekaman kisah-kisah peperangan, tercatat nama-nama orang yang melakukan hal-hal yang luar biasa hebat dan tercatat jumlah kematian. Diantara ribuan kematian tentu ada sejumlah ksatria denga status tinggi yang nama-namanya tidak tercatat karena mereka tidak melakukan hal yang patut. Hany prajurit dengan prestasi militer hebatlah yang namanya tercatat meski status prajurit itu rendah. Sikap dasar bagi parjurit sejati adalah bertekad jika haru mempertaruhkan nyawa. Maka, secara heroik, disegani oleh kawan maupun lawan, sehingga kematian justru membuat majikan dan komandan merasa sangat kehilangan, serta menjadi kehormatan bagi keturunan sepanjang masa.

  • Omong Besar dan Kritik

Dikalangan prajurit ada sebagian yang suka omong besar dan ada yang hanya suka mengkritik. Kedua jenis ini tampaknya serupa namun harus disadari bahwa mereka sangan berbeda. Mereka yang punya omongan besar itu sudah melakukan beberapa kali tugas militer besar dan tak kurang apa pun dalam hal kode peperangan; namun mereka terhambat secara sosial dan profesional oleh fakta bahwa mereka kadang bisa sangat keras kepala, sehingga mereka tidak bisa diandalkan sebagai penasihat. Gaji dan posisi mereka tidak bisa menjangkau reputasi terkenal mereka. Jadi mereka mengembangkan sikap ‘masa bodoh’ dengan mengatakan apapun yang mereka inginkan kapanpun mereka mau. Meski demikian, atasan dan konselor tinggi tidak mengindahkan mereka sehingga mereka menjadi semakin tak terkendali, menyatakan kebaikan dan kejelekan orang lain tanpa ampun atau tanpa maaf dan menjadi pembual hingga akhir hayat.

  • Berpergian

Saat para ksatria sedang melakukan perjalanan, mereka yang diperingkat rendah mungkin harus naik kuda beban. Dalam kasus itu, mereka harus mengamankan pedang panjang dan pedang pendek mereka agar tidak terlontar dari sarungnya jika terjatuh dari kuda. Ada puisi dari jaman kuno yang berbunyi sebagai berikut :

Bahkan jika menyeberangi Jembatan Panah

Adalah jalan pintas bagi prajurit,

Jika kau sedang terburu

Tetap saja ambil jalan memutar di jembatan

Panjang Seta

Instruksi ini tidak hanya berlaku untuk mereka yang melakukan perjalanan; orang harus memiliki sikap seperti ini di segala hal.

  • Jangan Menyakiti Hati

Bagi ksatria yang dipekerjakan dalam dinas publik, penting untuk selalu waspada tidak menggosip, bahkan jika kau melihat atau mendengar hal-hal buruk tentang kolega. Alasan untuk ini adalah kau tidak pernah tahu jenis kaesalahan atau kesalah pahaman apa yang kau buat sendiri. Terlebih, para eksekutif dan perwira senior ditunjuk oleh majikan yang memperkerjakan kau akan menilai menurut persepsi dia sendiri. Maka, berbicara buruk tentang mereka adalah setara dengan mencela majikanmu sendiri.

  • Pengasuhan

Dalam era Zaman Perang, jika seorang ksatria tumbang dalam peperangan setelah melakukan pertarungan sengit atau jika ia terluka fatal dan akhirnya mati, dengan pertimbangan tertentu maka majikan atau komandan akan membolehkan putra ksatria itu untuk mewarisi posisinya tanpa harus tes dulu, bahkan jika si putra itu baru dilahirkan beberapa tahun sebelumnya. Karena si anak masih terlalu muda untuk dinas militer, jika adik ayahnya tidak dalam tugas, maka si adik ini bisa ditunjuk oleh komandan tertinggi untuk mengantikan kakaknya sementara dan mendidik si anak saat masih kecil, ini disebut sebagai pengasuhan.

  • Menghadapi Maut

Perhatian paling utama bagi prajurit, tak peduli apapun pangkatnya, adalah bagaimana ia akan bertindak dan bersikap saat sedang menghadapi ajal. Tak masalah betapa cerdas dan lancar kau berbicara sebagaimana tampak dalam kondisi normal, jika kau sudah kehilangan bentuk menjelang ajal dalam kondisi yang tak terbayangkan, lalu tiba-tiba sikapmu itu berubah menjadi kecongkakan, maka kau setelah mati akan dipandang rendah oleh orang lain. Membuat pernyataan akhir yang definitif adalah tugas dari prajurit sejati. Bahkan, ada saga yang mengatakan “saat orang menjelang ajal, biarkan kata-katanya yang bagus saja.” Jika kau masuk ke medan tempur dengan sikap pengecut, tidak ada cara lain buat kau untuk menjalani kematian yang baik dengan membawa kesetiaan mengemban tugas. Karena itulah, mereka yang paham betul tentang keprajuritan akan merujuk kematian bahkan saat di tempat tidur karena sakit sebagai “Peristiwa besar sekali seumur hidup.”

  • Pelayanan

Sejak era kuno, bahkan hingga sekarang, sudah ada aturan baku di rumah-rumah samurai untuk selalu bersama-sama dan saling membantu saat sang majikan sedang dalam kesulitan. Sebaliknya, majikan juga menggunakan kekuasaannya untuk membantu rumah-rumah samurai jika dalam kesulitan. Saat majikan sedang dalam masalah keuangan, maka ini akan berpengaruh pada publik. Bahkan, hal-hal yang seharusnya dilakukan majikan, misalnya urusan kantor tuan tanah, umumnya harus di tunda. Bagi para samurai, memang mengecewakan jika majikan saat itu sedang tidak bisa berbuat banyak. Dalam era damai, prosesi pasukan bela diri di depan mata publik semua kelas adalah pemandangan yang bagus. Karena hal ini untuk kekuatan, jika barisan manusia dan kuda bagianmu tampak inferior daripada pasukan dari majikan lainnya, maka itu akan menjadi pemandangan yang timpang. Itu juga akan bisa menjadi sumber rasa malu sepanjang hidup bagi majikan dan komandan. Dalam periode saat mana uang gajimu terpangkas, kau harus berfikir untuk berhemat di segala bidang, mengurangi jumlah personel dan kuda, mengenakan pakaian kertas dan katun pada musim dingin dan pakaian rami pada musim panas, makan beras kasar dan sup miso tambah sekam pada pagi dan sore. Ambil sendiri air untuk minum dan mandi, belahan kayu bakar sendiri; perintahkan istri sendiri untuk masak. Bertahanlah, sebaik-baiknya dalam kondisi berat ini, fokuskan pada kehendak untuk membantu agar kondisi finansial majikan membaik; ini adalah motivasi dasar dari pelayanan terhadap majikan.

  • Pengabdian

Ada dua level orang yang mengabdi di rumah-rumah prajurit. Ksatria muda dan prajurit tingkat rendah memang harus bekerja keras, sehingga tampak sibuk baik siang maupun malam. Namun, tidak ada konvensi bahwa mereka harus rela mengorbankan nyawa untuk kepentingan majikan. Karena itu, jika mereka bertindak tidak tegas di medan tempur, maka tidak ada sanksi khusus terhadap mereka dalam keadaan itu. Jadi, mereka bisa disebut sebagai pembantu yang hanya menjual raga. Sebaliknya, seorang ksatria mempersembahkan seluruh hidupnya untuk melakukan pelayanan tugas. Karena pekerjaan pada majikan itu pada dasarnya adalah tugas militer, maka dalam kondisi darurat si tuan harusnya menyiapkan milisi yang setara dengan statusnya. Sebagai samurai yang tugasnya membantu majikan, kau harus mengetahui hubungan khusus dengan majikanmu sendiri diantara semua majikan-majikan lain di level lokal maupun level provinsi di seantero Jepang. Ksatria yang loyal dan bertanggung jawab atau mereka yang dikatakan cerdas adalah orang yang menyadari betul hal diatas, bisa menahan diri dari keterlibatan dengan pertengakaran dan mengingatkan diri bahwa ia telah menyerahkan raga dan jiwa pada tuannya.

  • Dinas Militer

Umumnya tugas-tugas militer resmi dari prajurit ada dua jalur; perang dan kontruksi. Saat dunia sedang dalam peperangan, hari-hari berjalan dipenuhi dengan pertempuran dan perkelahian sehingga prajurit tidak akan bisa istirahat bahkan cuma sehari. Dalam masa damai, tidak ada peperangan sehingga tidak ada konstruksi khusus untuk tujuan itu. Karena itu, para ksatria di bawah seorang komandan militer mendapat berbagai tugas semisal penjagaan, pengawalan, jadi utusan dan lain-lain.

  • Penilaian yang Baik

Saat ada sakit parah atau peristiwa tragis di kediaman kolega yang masih tergolong bertetangga meski kau tidak terlalu kenal dengan dia kau harus menjaga diri agar tidak tertawa keras-keras, menyanyi riang dan sejenisnya. Kau harus memerintahkan istrimu, anak-anakmu dan pembantumu untuk melakukan hal serupa. Ini bukan sekedar karena apa yang akan difikirkan orang tertentu. Ini sebenarnya juga masalah diskresi malu karena dipandang orang lain sebagai individu yang tidak sopan dan tidak peka.

  • Ekspresi Verbal

Saat seorang ksatria dalam tugas di beri tugas pentung berupa tarung sampai mati oleh tuannya, maka ia harus berkata tegas, “Bagi saya, di tunjuk untuk tugas penting ini, diantara bnyak orang di dalam tatanan ini, adalah takdir yang tepat sebagai seorang prajurit; dan saya sangat berterima kasih. Tentu saya menerimanya tanpa ragu.” Jika kau yakin berani menjalankan eksekusi itu dengan sikap terpuji dihadapan tuanmu, maka ituakan memberi tanda kebaikan. Jika kau beruntung dan semua berjalan baik, orang akan memujimu. Meski kau sudah cukup meyakinkan bisa menjalankan tugas itu begitu kau menerimanya. Pada akhirnya kau memang bisa menjalankannya dengan baik. Perhatian paling utama bagi semua prajurit adalah jangan pernah sampai melakukan kekeliruan konyol atau terpeleset kedalam kesalahan.

  • Sejarah Keluarga

Ksatria yang dalam tugas, bahkan jika ia masih pendatang baru, harus menanyakan pada senior sehingga ia jadi tahu betul tentang asal-usul tatanan rumah majikannya, para pendahulunya, kerabat sedarah, kerabat hasil pernikahannya, dan bahkan para kolega tertentu yang belum banyak dikenal dunia luar.

  • Pengawalan

Saat seorang ksatria sedang mengawal tuannya dalam suatu perjalanan, saat mereka tiba di suatu tempat penghentian maka ia harus segera bicara dan bertanya pada penduduk setempat. Ia harus segera bisa menemukan arah utama terkait gunung, hutan, kuil, atau tempat suci, yang bisa dilihat di lingkungan terdekat. Ia juga harus bisa mendapatkan semua informasi itu dengan ketepatan tinggi sebelum matahari terbenam. Alasannya adalah; jika ada masalah pada malam hari, misalnya ada kebakaran, maka ia bisa membimbing dan menunjukan jalan pada tuannya untuk menyelamatkan diri. Kemudian, saat bertugas melakukan pengawalan dengan jalan kaki, ia harus bisa memastikan diri berada di depan tuannya saat menuruni bukit. Ini tampaknya biasa-biasa saja, namun sebenarnya ini bagian dari tugas utama.

  • Pejabat

Ada ucapan umum mengatakan, “Jaket putih dan penjabat itu sama-sama bagusnya hanya kalau masih baru.” Saat jaket putih masih baru, penampilannya memang sangat bagus. Namun, setelah digunakan berapa lama, jaket putih itu mulai menampakan warna kotor terutama di krah leher dan ujung lengannya. Tak lama kemudian, warnanya semakin memudar dan bahkan kelabu. Kalau sudah begini, jaket itu sudah jadi kotor dan jelek. Hal itu serupa dengan penjabat yang masih baru dalam pekerjaan tertentu yang merasa berdosa, selalu mengikuti perintah atasan dengan tepat dan cermat serta selalu memperhatikan atas hal-hal kecil sekalipun. Dalam proses, mereka amat sadar untuk tidak melanggar sumpah jabatan. Maka, mereka menjalankan tugas hingga di atas garis batas celaan. Bahkan, penjabat yang bagus, tegas, lurus dan tidak egois suatu saat bisa menjadi tidak terlalu efektif setelah menduduki jabatan dalam waktu lama dan sudah mempelajari semua sela dari aturan-aturan.

  • Meminjam Kewenangan dan Mencuri Kewenangan

Bagi ksatria yang dalam tugas, ad asatu hal yang harus disebut dengan ‘meminjam kewenangan’ tuannya dan ada hal lain yang disebut ‘mencuri kewenangan’ dari tuannya. Bagi sang tuan, juga ada hal yang disebut ‘meminjamkan kewenangan’ pada pembantunya dan ada hal lain saat ‘kewenangannya dicuri’ oleh pembantunya. Bagi sang tuan, meminjamkan kewenangan pada para pembantu untuk meningkatkan powernya. Hal ini membuat para ksatria juga pada akhirnya mempertimbangakan untuk mendapatkan keuntungan sendiri dan tidak memikirkan kepentingan tuannya lagi.

  • Ketepatan

Bagi ksatria yang dalam pelayanan publik, tugas-tugas yang terkait dengan dinas keuangan adalah sangat sulit. Itu karena sulit bagi seseorang dengan kecerdasan dan kemampuan biasa untuk mengurusi pembelanjaan sang tuan tanpa menyebabkan kesulitan di pihak fungsionaris besar dan kecil di rumah besar itu, orang-orang kota yang hidup di sekitar kastil, hingga petani di pedesaan. Jika hanya memikirkan kepentingan sang tuan, itu hanya akan menimbulkan kesulitan bagi mereka yang ada dibawah. Jika hanya mencoba memuaskan mereka yang ada dibawah, maka kondisi keuangan sang tuan akan jadi hancur. Pada era lama ada perbedaan jelas antara pembantu yang mencuri dan pembantu yang memeras, orang kuno mengatakan pembantu yang mencuri lebih baik dari pada pembantu yang memeras.

  • Menjadi Komandan atau Pengawas

Ksatria dari jajaran rendah dalam tugas di bawah pengawasan komandan dan superintendent (pengawas) menyadari betul bahwa ia harus mengemban tanggung jawab personal atas suasana hati para atasannya dan harus mengemban tanggung jawab personal atas atribut baik atau buruk terhadap sekelompoknya. Pemimpin harus memperlakukan anggota kelompok secara simpatik sebagaimana menjalankan tugas-tugas kantornya. Tentu setiap orang menyadari bahwa harus tidak ada keberpihakan atau favoritisme bagi semua.

  • Kemalasan

Kebiasaan menunda-nunda pekerjaan hingga hari berikutnya atau mengklain pekerjaan yang sudah tertata dan terencana atau mengalihkan pekerjaan pada kolega atau orang baru. Tak ada orang yang tidak mengemban bertangung jawab personal untuk mengawasi, tugas-tugas akan menumpuk untuk orang yang keliru bahwa masih ada hari esok.

  • Menghadapi Keadaan Darurat

Kau harus menyadari bahwa ‘permasalahan itu bisa muncul dari bawah.’ Maka, kau harus ekstra hati-hati saat mengawal majikanmu dalam perjalanan. Tidak hanya waspada untuk diri sendiri tapi juga harus waspada pada kolega. Penting bagimu untuk memberi peringatan pada mereka yang ada dibawahmu, bahkan hingga ke jajaran terbawah, untuk tidak melakukan hal-hal yang bodoh. Saat kau mengawal majikanmu ke ibukota dan berpapasan dengan rombongan pengawalan tuan besar lain di jalanan, jika para pegawai muda pemberani di masing-masing pengawalan mulai saling olok dan berselisih sehingga terlibat pertengkaran maka segeralah mengambil tindakan dengan mengambil tombak majikanmu dari pembawa senjata dan bawa kesisi majikan.

  • Ekspresi Diri

Para ksatria pada Zaman Perang pergi ke medan tempur tak terhitung beberapa kali jumlahnya di sepanjang umur. Mereka rela mengorbankan nyawa demi tuan besar dan para komandan. Tentu, mereka tidak akan menggembar-gemborkan diri karena telah mendapat kemasyuran atas prestasi tertentu. Pada sikap loyalitas dan pengembanan tugas, tak ada bedanya antara era perang atau era damai. Itu adalah kewajiban resmi bagi ksatria yang sedang bertugas. Apapun yang sebenarnya patut untuk dihargai khusus sebagai sesuatu yang luar biasa adalah sepenuhnya tertanggung pada pertimbangan tuan besar. Yang bisa dan harus kau lakukan adalah yakin kau sudah melakukan tugas prefesionalmu dan kau tidak punya alasan untuk mengekspresikan ketidak puasan.

  • Masalah Mati

Ksatria yang sedang bertugas adalah begitu diistimewakan oleh majikannya sehingga tidak perlu bagi mereka membayar hutang. Sebagai imbalan atas kebaikan itu, mungkin saja para ksatria ingin setidaknya mengikuti majikannya menuju kematian dengan cara mereka melakukan bunuh diri. Namun, sekarang sudah tidak diperkenankan bersadarkan hukum. Para ksatria pada dasarnya sama saja dengan sudah mati jika mereka harus menghabiskan sisa waktu di dalam ruang untuk mengerjakan tugas-tugas awam. Terkait dengan mati, rumah milik orang dengan status tinggi bisa ‘dihantui’ oleh arwah yang menaruh dendam.

Ada dua cara arwah pendendam itu menimbulkan permasalahan.

  1. Dengan cara kematian yang belum datang pada waktunya.
  2. Arwah pendendam menyebabkan masalah dengan cara mengambil alih fikiran para ksatria yang khususnya disukai oleh majikannya.

Berikut 6 cara seorang ksatria samurai bisa memperdaya tuannya :

  1. Menutup mata dan telinga sang majikan, sehingga tidak ada penjabat atau siapapun yang bisa mengekspresikan pendapat.
  2. Kstria bisa mengelabui majikannya dengan mengatur rotasi tugas para ksatria di seputar rumah besar majikan.
  3. Ksatria menipu majikannya dengan menjejali otak tuannya dengan godaan wanita. Secara bertahap godaan ini dilakukan semakin intensif.
  4. Saat banyak pengeluaran ksatria turut ikut campur sedemikian rupa untuk menghambat apa yang seharusnya dilakukan anggota.
  5. Ksatria memperdaya majikan terjadi saat ia sendiri tidak terlalu peduli pada seni bela diri dalam era damai.
  6. Saat sang tuan suka mabuk-mabukan dan gila kerusakan modal.

Hal yang paling logis menghadapi ksatria yang memperdaya tuanya adalah dengan meringkus di ksatria jahat, si setan didalam istana, si musuh dalam selimut majikan  lalu memperlakukan dia sekehendak hatimu.

  • Penyulingan Budaya

Jika hanya kekuatan yang kau miliki, maka kau akan hanya tampak seperti petani yang menjadi samurai dan tidak akan pernah berhasil. Kau juga harus mendapatkan pendidikan, yang patut dipertimbangkan adalah harus mempelajari puisi atau tata cara minum teh. Jika punya pemahaman tentang Jepang dan negara-negara lain, jika dengan hati-hati mempertimbangkan elemen-elemen waktu, tempat dan posisi dalam upaya untuk mengatur hal-hal sesuai dengan apa yang sepatutnya, maka tidak akan melakukan banyak kekeliruan dalam menjalankan tugas. Jika terlalu menyisihkan hal-hal lain sejenak untuk berkonsentrasi sepenuhnya pada puisi, sebelum menyadarinya maka hati dan wajahmu akan lebih melunak. Akan tampak lebih mirip sebagai samurai aristokratik dan sudah kehilangan wajah prajurit. Lebih khusus bila menjadi terlalu sayang pada model modern haikai maka bahkan dalam kumpulan teman-teman akan cenderung memainkan kata-kata. Itu mungkin agak membingungkan namun, itu sesuatu yang perlu dihindari oleh seseorang prajurit. Jika prajurit mulai menjadi seperti pedagang yang hanya bicara tentang apapun dari segi komersial, maka akan kehilangan makna sejati dari keksatriaan Bushido.

 SUMBER : 

Taira Shigesuke, Spirit Hidup Samurai, terj. Teguh Wahyu Utomo,  Selasar Surabaya Publishing, 2009.

 

Pendidikan Karakter Dalam Keluarga


DSCF0492Masalah terbesar (The Great Problem) yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini sebenarnya bukanlah krisis ekonomi atau pangan, tetapi masalah krisis moral atau akhlak. Krisis inilah yang menyebabkan timbulnya krisis-krisis lain seperti krisis ekonomi, politik, social, budaya, pertahanan dan keamanan.

HANCURNYA moral bangsa ini ditunjukan dengan merajalelanya berbagai tindakan kejahatan dan criminal di tengah-tengah masyarakat seperti penipuan, pencopetan, pencurian, perampokan, perkosaan, pembunuhan, dan termasuk juga tindakan kekerasan, baik atas nama ras, suku, budaya dan agama. Kerusakan moral juga terjadi di kalangan pelajar dan remaja. Hal ini ditandai dengan maraknya seks bebas, penyalahgunaan narkoba, peredaran foto dan video porno, serta tawuran pada kalangan pelajar dan remaja.

Direktur Remaja dan Perlindungan Hak-Hak Reproduksi BKKBN, M. Masri Muadz, mengatakan bahwa 63% remaja Indonesia pernah melakukan seks bebas, Sedangkan remaja korban narkoba di Indonesia ada 1,1 juta orang atau 3,9% dari total jumlah korban. Selain itu, berdasarkan data Pusat Pengendalian Gangguan Sosial DKI Jakarta, pelajar SD, SMP, dan SMA, yang terlibat tawuran mencapai 0,8% atau sekitar 1.318 siswa dari total 1.645.835 siswa di DKI Jakarta ( Dharma Kesuma dkk, 2011:2-3).

Sexsual Behavior Survey telah melakukan penelitian di 5 kota besar di Indonesia, yaitu Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya dan Bali pada bulan Mei 2011. Dari 663 responden yang diwawancarai secara langsung mengakui bahwa 39% responden remaja usia antara 15-19 tahun pernah melakukan hubungan seksual di luar nikah, sisanya 61% berusia antara 20-25 tahun. Lebih memprihatinkan lagi, berdasarkan profesi, peringkat tertinggi yang pernah melakukan free sex ditempati oleh para mahasiswa 31%, karyawan kantor 18%, sisanya pengusaha, pedagang, buruh dan sebagainya, termasuk pelajar SMP/SMA sebanyak 6%.

Fenomena kerusakan moral/akhlak yang menimpa masyarakat tersebut telah mendorong pemerintah Indonesia untuk menerapkan Kebijakan Nasional Pembangunan Karakter Bangsa (KN-PKB). Salah satu mewujudkan kebijakan tersebut adalah dengan menekankan pentingnya pendidikan karakter untuk diimplementasikan dalam setiap institusi pendidikan, baik formal ( sekolah ), informal ( keluarga ), maupun non formal ( masyarakat ).

Pendidikan karakter akan berjalan efektif dan utuh jika melibatkan tiga institusi, yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat. Pendidikan keluarga berperan penting karena keluargalah yang membentuk karakter seorang anak. Untuk merumuskan kerangka model pendidikan karakter dalam keluarga dapat dikonseptualisasi melalui pendekatan system pendidikan. Jika istilah system dikaitkan dengan pendidikan ( system pendidikan ), maka dapat mengandung makna “ suatu kesatuan komponen yang terdiri dari unsure-unsur pendidikan yang bekerjasama dan berhubungan antara satu dengan yang lainnya untuk mencapai tujuan pendidikan.” Dalam suatu system terdapat unsure-unsur, bagian-bagian, atau komponen-komponen yang saling berkaitan dan teratur, serta mekanismenya saling berhubungan dalam satu kesatuan yang semuanya di tujukan untuk mencapai satu tujuan. Isi kerangka model pendidikan karakter meliputi komponen: tujuan, pendidik, peserta didik, materi, metode, alat, program, dan evaluasi.

A. Model Pendidikan Karakter Dalam Keluarga

Model adalah contoh, pola, acuan, ragam, macam dan sebagainya yang dibuat menurut aslinya. Model merupakan kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman atau acuan dalam melakukan suatu kegiatan. Model juga dapat diartikan sesuatu yang dapat memvisualisasikan sebuah konsep dengan nyata. Model berbeda dengan konsep dalam bentuk teori. Fungsi model adalah menjembatani konsep dalam bentuk teori menjadi kenyataan.

Menurut fungsinya, model dibagi dalam tiga bentuk. Pertama, model deskriptif, yaitu model yang hanya menggambarkan situasi sebuah system tanpa rekomendasi dan peramalan, contohnya peta organisasi, Kedua, model prediktif, yaitu model yang menunjukan apa yang akan terjadi atau bila sesuatu terjadi, contohnya model alat peraga atau alat pendeteksi gempa. Ketiga, model normatife, yaitu model yang menyediakan jawaban terbaik terhadap satu persoalan. Model ini member rekomendasi tindakan-tindakan yang perlu diambil, contohnya model pemasaran, model ekonomi, model konseling, model pendidikan, model pembelajaran, dan sebagainya.

Pendidikan Karakter
Secara etimologis, kata karakter berasal dari bahasa Latin kharakter atau bahasa Yunani kharassein yang berarti member tanda (to mark), atau bahasa Perancis carakter, yang berarti membuat tajam atau membuat dalam (Majid dan Andayani, 2012:11). Dalam bahasa Inggris character, memiliki arti: watak, karakter, sifat, peran, dan huruf (Echols dan Shadiliy, 2003:110).Dalam Kamus Bahasa Indonesia, karakter diartikan sebagai tabiat, watak, sifat-sifat kejiwaan, akhlak, atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari pada yang lain (Poerwadarminta, 2007:521).

Secara terminologis karakter bisa diartikan sebagai totalitas ciri-ciri pribadi yang melekat dan dapat diidentifikasi pada perilaku individu yang bersifat unik, dalam arti secara khusus cirri-ciri ini membedakan antara satu individu dengan yang lainnya, dank arena cirri-ciri karakter tersebut dapat diidentifikasi pada perilaku individu dan bersifat unik, maka karakter sangat dekat dengan kepribadian individu. Suatu perbuatan dikatakan karakter/akhlak apabila perbuatan tersebut memlh ipaya memiliki cirri-ciri: perbuatan itu telah tertanam kuat dalam jiwa seseorang dan telah menjadi bagian dari kepribadiannya, perbuatan itu dilakukan dengan spontan tanpa pemikiran terlebih dahulu, perbuatan itu dilakukan tanpa ada paksaan atau tekanan dari luar, perbuatan itu dilakukan dengan sungguh-sungguh, bukan pura-pura atau sandiwara.

Pendidikan karakter adalah upaya membentuk/mengukir kepribadian manusia melalui proses knowing the good (mengetahui kebaikan), loving the good (mencintai kebaikan), yaitu proses pendidikan yang melibatkan tiga ranah: pengetahuan moral (moral knowing), perasaan moral (moral feeling/moral loving), dan tindakan moral (moral acting/moral doing), sehingga perbuatan mulia bisa terukir menjadi habit of mind, heart, and hands. Tanpa melibatkan tiga ranah tersebut pendidikan karakter tidak akan berjalan efektif.

  1. Pengetahuan Moral (Moral Knowing)

Pengetahuan moral (moral knowing) adalah kemampuan mengetahui, memahami, mempertimbangkan, membedakan dan menginterpretasikan jenis-jenis moral yang harus dilakukan dan yang mesti ditinggalkan.Pengetahuan moral sebagai pilar pertama pendidikan karakter mempunyai enam komponen, yaitu:

  1. Kesadaran moral (moral awareness) yaitu kemampuan menggunakan kecerdasan untuk melihat kapan sebuah situasi mempersyaratkan pertimbangan moral dan kemudian berpikir secara cermat tentang tindakan apa yang sebaiknya dilakukan.
  2. Pengetahuan nilai moral (knowing moral values) yaitu kemampuan memahami berbagai nilai-nilai moral seperti menghargai kehidupan dan kemerdekaan, tanggungjawab terhadap orang lain, kejujuran, keadilan, toleransi, penghormatan disiplin diri, integritas, kebaikan hati, berbelas kasih dan keberanian.
  3. Memahami sudut pandang lain (perspective taking) yaitu kemampuan menerima sudut pandang orang lain, memahami sebuah situasi sebagaimana orang lain memahaminya, mengimajinasikan bagaimana orang lain berfikir, mereaksi dan berperasaan.
  4. Penalaran moral (moral reasoning) yaitu memahami apa itu makna bermoral dan mengapa harus bermoral.
  5. Keberanian mengambil keputusan (decision making)
  6. Pengenalan diri (self knowledge) yaitu kemampuan mengenali perilaku kita dan mengevaluasinya secara kritis/jujur.
  1. Perasaan Moral ( moral feeling)

PeraSaan moral (moral feeling) adalah kemampuan merasa bersalah dan meras harus/wajib untuk melakukan tindakan moral. Memiliki enam komponen yaitu:

  1. Mendengarkan hati nurani (conscience)
  2. Harga diri (self-esteem)
  3. Empati ( empathy)
  4. Cinta kebaikan (loving the good)
  5. Kontrol diri (self control)
  6. Rendah hati (humility)

3. Tindakan Moral ( Moral Acting)
Tindakan moral merupakan hasil dari kedua karakter moral diatas. Mempunyai tiga komponen yaitu:

  1. Kompetensi (competence)
  2. Keinginan (will)
  3. Kebiasaan (habit)

B.  Keluarga

Keluarga merupakan tempat pendidikan pertama dan utama bagi seseorang. Pendidikan dalam keluarga sangat berperan dalam mengembangkan watak, karakter, dan kepribadian sesorang. Oleh karena itu pendidikan karakter dalam keluarga perlu diberdayakan secara serius.

  1. Fungsi Edukasi

     Fungsi edukasi keluarga adalah fungsi yang berkaitan dengan pendidikan anak khususnya dan pendidikan anggota keluarga pada umumnya. Bagi seorang anak, keluarga merupakan jenjang pendidikan pertama sebelum menapaki pendidikan formal (sekolah) dan masyarakat, disinilahkedua orang tuanya menjadi guru terbaiknya.

2. Fungsi Proteksi

     Fungsi proteksi maksudnya keluarga menjadi tempat perlindungan yang memberikan rasa aman, tentram lahir dan batin sejak anak-anak berada dalam kandungan ibunya sampai mereka menjadi dewasa dan lanjut usia. Perlindungan disini termasuk fisik, mental dan moral.

3. Fungsi afeksi

     Fungsi afeksi adalah sebagai pemupuk dan pencipta rasa kasih sayang dan cinta antara sesame anggota keluarga.

4. Fungsi sosialisasi

  Fungsi sosialisasi keluarga terkait erat dengan tugas mengantarkan anak ke dalam kehidupan social yang lebih nyata dengan tugas mengantarkan anak kedalam kehidupan  social yang lebih nyata dan luas.

5. Fungsi Reproduksi

   Keluarga sebagai sebuah organism memiliki fungsi reproduksi, dimana setiap pasangan suami istri yang diikat dengan tali perkawinan yang sah dapat memberi keturunan yang berkualitas sehingga dapat melahirkan anak sebagai  keturunan yang akan mewarisi dan menjadi penerus tugas kemanusiaan.

6. Fungsi Religi

  Artinya keluarga berkewajiban memperkenalkan dan mengajak serta anak dan anggota keluarga lainnya kepada kehidupan beragama.

7. Fungsi Ekonomi

    Fungsi ekonomi bertujuan agar setiap keluarga meningkatkan taraf hidup yang tercerminkan pada pemenuhan alat hidup seperti makn, minum, kesehatan, dan sebagainya yang menjadi prasarat dasar dalam memenuhi kebutuhan hidup keluarga dalam perspektif ekonomis.

8. Fungsi rekreasi

  Fungsi rekreasi keluarga adalah fungsi yang berkaitan dengan peran keluarga menjadi lingkungan yang nyaman, menyenangkan, hangat dan penuh gairah bagi setiap anggota keluarga untuk dapat menghilangkan rasa keletihan.

9. Fungsi Biologis

  Fungsi biologis keluarga berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan biologis anggota keluarga seperti makan, minum, kesehatan.

10. Fungsi Transformasi

   Fungsi transformasi adalah berkaitan dengan peran keluarga dalam hal pewarisan tradisi dan budaya kepada generasi setelahnya baik tradisi baik maupun buruk.

Dari uraian diatas dapat di pahami bahwa yang dimaksud “Model Pendidikan Karakter dalam Keluarga” adalah kerangka konseptual dan prosedur yang sistematis berkenaan dengan penanaman nilai-nilai karakter pada anak yang dilakukan oleh orang tua dalam keluarga yang meliputi komponen pengetahuan (kognitif), perasaan (afektif), dan tindakan (psikomotorik) untuk melakukan nilai-nilai tersebut , baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesame manusia, maupun lingkungan sekitar. Kerangka konseptual itu kemudian dapat dijadikan rujukan oleh orang lain yang ingin mengimplementasikan pendidikan karakter dalam keluarga.

C. Nilai-Nilai Karakter Yang Ditanamkan Dalam Keluarga

Nilai-nilai yang ditanamkan dalam pendidikan karakter dalam keluarga antara lain:

1. Religius yaitu sikap dan perilaku yang patuhdalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.

2.   Jujur yaitu perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan dan pekerjaan.

3.   Toleransi yaitu sikap dan tindakan menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.

4.  Disiplin yaitu tindakan yang menunjukan perilaku tertib dan patuh terhadap berbagai peraturan dan ketentuan.

5.  Kerja Keras yaitu perilaku yang menunjukan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan dan tugas, serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya.

6.   Kreatif yaitu berfikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki.

7.  Mandiri yaitu sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.

8.  Demokratis yaitu cara berfikir, bersikap dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.

9.   Rasa ingin tahu yaitu sikap dan tindakan yang ingin selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat dan di dengar.

10. Semangat kebangsaan yaitu cara berfikir, bertindak dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan Negara diatas kepentingan diri dan kelompoknya.

11. Cinta Tanah Air yaitu cara berfikir, bersikap dan berbuat yang menunjukan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, social, budaya, ekonomi dan politik bangsa.

12. Menghargai Prestasi yaitu sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat dan mengakuai serta menghormati keberhasilan orng lain.

13. Bersahabat/Komunikatif yaitu tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul dan bekerja sama dengan orang lain.

14. Cinta Damai yaitu sikap, perkataan dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa tenang dan aman atas kehadiran dirinya.

15. Gemar Membaca yaitu kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya.

16. Peduli Lingkungan yaitu sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam disekitarnya, dan mengembangkan upaya untuk memperbaiki kerusakan-kerusakan alam yang sudah terjadi.

17. Peduli Sosial yaitu sikap dan tindakan yang selalu ingin member bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.

Tanggung Jawab Yaitu sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya yang seharusnya dia lakukan baik terhadap diri sendiri masyarakat, lingkungan, Negara dan Tuhan Yang Maha Esa.

D.Tujuan Pendidikan Karakter Dalam Keluarga

Tujuan penting pendidikan karakter adalah memfasilitasi pengetahuan dan pengembangan nilai-nilai tertentu sehingga terwujud dalam perilaku anak. Pengetahuan dan pengembangan memiliki makna bahwa pendidikan karakter bukanlah dogmatisasi nilai kepada peserta didik tetapi sebuah proses yang membawa peserta didik untuk memahami dan merefleksi bagaimana suatu nilai menjadi penting untuk diwujudkan dalam perilaku keseharian manusia termasuk bagi anak.

Tujuan lainnya adalah membangun kepribadian dan budi pekerti luhur sebagai modal dasar dalam berkehidupan ditengah-tengah masyarakat, baik sebagai umat beragama, maupun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.Pendidikan karakter mengajarkan, membina, membimbing dan melatih peserta didik agar memiliki karakter, sikap mental positif, dan akhlak yang terpuji.

Tujuan pendidikan karakter dalam keluarga adalah membentuk karakter positif atau akhlak terpuji pada diri anak, untuk membina anak-anak agar menjadi pribadi yang taat pada agama, berbakti kepada orang tuanya, bermanfaat untuk masyarakatnya, dan berguna bagi agama, nusa dan bangsanya.

E. Pendidik Pada Pendidikan Karakter Dalam Keluarga

Pendidik dibagi dalam tiga kategori, yaitu life educator, semi professional, professional educator. Life educator adalah orang yang secara alamiah menjalankan tugas dan kewajibannya mengasuh dan membesarkan anaknya atau membantu perkembangannya menuju kedewasaan. Itulah orang tua kita. Semi professional educator adalah orang yang menjalankan tugas pendidikan, mengembangkan kecakapan orang dengan bantuan sarana prasarana pendidikan atau keahlian orang lain. Termasuk dalam kategori ini adalah petugas perpustakaan, petugas museum, petugas pameran dan sejenisnya. Adapun professional educator adalah orang yang menjalankan tugasnya sebagai pendidik dengan keahlian khusus dan kompetensi yang tinggi. Termasuk dalam kategori ini adalah guru dan dosen.

Tanggung jawab pendidikan yang menjadi beban orang tua sekurang-kurangnya harus dilaksanakan dalam rangka:

  1. Memelihara dan membesarkan anak
  2. Melindungi dan menjamin kesehatan, baik jasmaniah maupun rohaniyah dari berbagai gangguan penyakit dan dari penyelewengan kehidupan dari tujuan hidup yang sesuai dengan agama dan falsafah hidup yang dianutnya.
  3. Memberi pengajaran dalam arti luas sehinggaanak memperoleh peluang untuk memiliki pengetahuan dan kecakapan seluas dan setinggi mungkin yang dapat dicapainya.
  4. Membahagiakan anak baik di dunia maupun diakhirat sesuai dengan pandangan dan tujuan hidup muslim.

F.Peserta Didik Pada Pendidikan Karakter Dalam Keluarga

Dalam arti sempit, peserta didik diartikan sebagai anak yang belum dewasa yang tanggung jawabnya diserahkan kepada pendidik. Dalam perspektif pendidikan secara umum bahwa yang disebut peserta didik adalah setiap orang atau sekelompok orang yang harus mendpatkan bimbingan, arahan dan pengajaran dari proses pendidikan.

Dalam rumah tangga yang menduduki sebagai peserta didik adalah anak. Alquran memandang anak semenjak dalam kandungan harus sudah mendapatkan pendidikan. Proses pendidikan ini biasa disebut dengan pendidikan prenatal atau pendidikan anak dalam kandungan. Demikian juga setelah anak lahir tampak jelas terdapat beberapa fakta yang mengharuskan anak mendapatkan pendidikan. Fakta-fakta tersebut antara lain: setiap anak lahir dalam keadaan lemah tidak berdaya, setiap anak lahir membawa potensi dan butuh dikembangkan, setiap anak butuh bimbingan dan arahan untuk mengenal sesuatu, dan setiap anak butuh perhatian dan kasih sayang dari orang tuanya.

Dapat juga dikatakan bahwa peserta didik adalah mereka yang sedang berkembang baik secara fisik maupun psikis. Peserta didik bukanlah miniature orang dewasa. Selain itu mereka juga memiliki berbagai potensi yang harus diarahkan dan di bina agar potensi tersebut  bermanfaat. Oleh karenamya pendidikan karakter adalah sarana yang tepat untuk itu.

G.Materi Pendidikan Karakter Dalam Keluarga

Salah satu komponen operasional pendidikan sebagai suatu system adalah materi. Materi pendidikan adalah semua bahan pelajaran (pesan, informasi, pengetahuan dan pengalaman) yang disampaikan kepada peserta didik.

Jika mengacu kepada Pedoman Pelaksanaan Pendidikan Karakter yang dikeluarkan Kemendiknas, materi pendidikan karakter di lembaga pendidikan formal (sekolah), setidaknya memuat 18 nilai karakter yaitu religious, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli social, dan tanggung jawab.

Sedangkan dalam keluarga, materi pendidikan karakter pada garis besarnya ialah materi untuk mengembangkan karakter atau akhlak anak. Orang tua harus memperhatikan perkembangan karakter anaknya. Karakter tersebut lebih diutamakan pada praktik berperilaku, bertutur kata yang baik, tidak mengucapkan kata-kata kotor atau kasar, berjalan dengan sopan dan tidak sombong, patuh dan hormat kepada orang tua, menyatakan permisi ketika melewati orang lain, mau mengucapkan terimakasih jika diberikan atau menerima sesuatu dari orang lain serta dilakukan dengan tangan kanan, tidak ragu untuk meminta maaf jika merasa bersalah pada orang lain, membuang sampah pada tempatnya, dan sebagainya. Dalam hal ini orang tua harus menjadi teladan bagi anaknya.

H. Metode Pendidikan Karakter Dalam Keluarga

Metode dapat diartikan sebagai jalan atau cara untuk mencapai tujuan. Jika kata metode dikaitkan dengan pendidikan karakter maka dapat diartikan metode sebagai jalan untuk menanamkan karakter  pada diri seseorang sehingga terlihat dalam pribadi objek sasaran, yaitu pribadi yang berkarakter.

Untuk menanamkan karakter pada diri anak ada beberapa metode yang bisa digunakan, antara lain:

1. Metode Internalisasi

  Metode Internalisasi adalah upaya memasukan pengetahuan (knowing) dan ketrampilan melaksanakan pengetahuan (doing) ke dalam diri seseorang sehingga pengetahuan itu menjadi kepribadiannya (being) dalam kehidupan sehari-hari.

2. Metode Keteladanan

   “Anak adalah peniru yang baik.” Berbagi keteladanan dalam mendidik anak menjadi sesuatu yang sangat penting. Seorang anak akan tumbuh dalam kebaikan dan memiliki karakter yang baik jika ia melihat orang tuanya member teladan yang baik. Sebaliknya, seorang anak akan tumbuh dalam penyelewengan dan memiliki karakter yang buruk, jika ia melihat orang tuanya memberikan teladan yang buruk.

3. Metode Pembiasaan

  Metode pembiasaan dalam membina karakter anak sangatlah penting. Jika metode pembiasaan sudah diterapkan dengan baik dalam keluarga, pasti akan lahir anak-anak yang memiliki karakter yang baik dan tidak mustahil karakter mereka pun menjadi teladan bagi orang lain.

4. Metode Bermain

  Dunia anak adalah dunia bermain.Bermain merupakan cara yang paling tepat untuk mengembangkan kemampuan anak sesuai kompetensinya.Kegiatan bermain yang mendukung pembelajaran anak yaitu bermain fungsional atau sensorimotor, bermain peran, dan bermain konstruktif.

5. Metode Cerita

  Metode cerita adalah metode mendidik yang bertumpu pada bahasa baik lisan maupun tulisan. Bercerita dapat meningkatkan kedekatan hubungan orang tua dan anak. Selain itu, bercerita juga bisa mengembangkan imajinasi dan otak kanan anak.

6. Metode Nasihat

  Metode nasihat merupakan penyampaian kata-kata yang menyentuh hati dan disertai keteladanan. Agar nasihat dapat membekas pada diri anak, sebaiknya nasihat bersifat cerita, kisah, perumpamaan, menggunakan kata-kata yang baik dan orang tua memberikan contoh terlebih dahulu sebelum memberikan nasihat.

7. Metode Penghargaan dan Hukuman

   Metode penghargaan penting untuk dilakukan karena pada dasarnya setiap orang dipastikan membutuhkan penghargaan dan ingin dihargai. Anak adalah fase perkembangan manusia yang sangat membutuhkan penghargaan.Penghargaan harus didahulukan dari pada hukuman. Jika hukuman terpaksa harus diberikan, maka hati-hatilah dalam mempergunakannya, jangan menghukum anak secara berlebihan, jangan menghukum ketika marah, jangan memukul bagian-bagian tertentu dari anggota tubuh anak seperti wajah, dan usahakan hukuman itu bersifat adil (sesuai dengan kesalahan anak).

I. Alat pendidikan karakter dalam keluarga

Yang dimaksud dengan alat pendidikan yaitu segala sesuatu yang digunakan oleh pelaksana kegiatan pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan. Dalam proses pendidikan informal seperti mendidik karakter anak dirumah, alat pendidikan yang bisa digunakan sesungguhnya sangat banyak, yakni apa saja yang ada dirumah, mulai dari perabotan rumah tangga, permainan anak sampai alat-alat elektronik. Tapi penggunaan alat itu bermanfaat atau tidak sangat tergantung pada pengaturan orangtua.

Dalam keadaan yang normal dan mampu, sebaiknya setiap rumah memiliki fasilitas pendidikan setidaknya berupa: ruang belajar, mushola besrta kelengkapan shalat dan Alquran, ruang perpustakaan dan buku-bukunya, ruang computer dan jaringan internet dan sebagainya. Penyediaan buku-buku agama dan buku-buku lainnya patut untuk dilengkapi karena dari buku-buku itulah kita dapat menambah wawasan dan pengetahuan anak. Yang juga tidak boleh dilupakan orang tua, sebaiknya ia menyediakan Alquran sesuai dengan jumlah anggota keluarga yang ada dirumah. Gambar-gambar yang tidak sopan sebaiknya diganti dengan gambar-gambar yang menyejukan dan memberikan ilmu bagi yang melihatnya.

J. Program Pendidikan Karakter Dalam Keluarga

Program pendidikan karakter dapat dilakukan melalui cara-cara berikut ini:

1. Pengajaran

     Dalam konteks pendidikan karakter di keluarga, pengajaran dapat diartikan sebagai suatu upaya yang dilakukan oleh orang tua untuk memberikan pengetahuan kepada anak tentang nilai-nilai karakter tertentu, dan membimbing serta mendorongnya untuk mengaplikasikan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

2. Pemotivasian

  Pemotivasian adalah proses mendorong dan menggerakkan seseorang agar mau melakukan perbuatan-perbuatan tertentu sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Dalam konteks pendidikan karakter di keluarga, pemotivasian dapat dimaknai sebagai upaya-upaya menggerakkan atau mendorong anak untuk mengaplikasikan nilai-nilai karakter. Berkaitan dengan itu, orang tua dituntut untuk mampu menjadi motivator bagi anak-anaknya.

3. Peneladanan

     Dalam kehidupan sehari-hari perilaku yang dilakukan anak-anak pada dasarnya mereka peroleh dari meniru, sehingga penting bagi orang tua untuk member teladan yang baik bagi anak-anaknya.

4. Pembiasaan

     Peranan orang tua sangat besar untuk membina karakter anak dengan pola apapun. Dengan pembiasaan salah satunya, dapat mengantarkan kea rah kematangan dan kedewasaan, sehingga anak dapat mengendalikan dirinya menyelesaikan persoalannya, dan menghadapi tantangan hidupnya, sehingga perlu penerapan disiplin.

5. Penegakan aturan

   Langkah awal untuk mewujudkan penegakan aturan dalam keluarga adalah dengan membuat peraturan keluarga yang disepakati bersama dan dapat mengikat semua pihak dirumah, tak terkecuali orang tua.

K. Evaluasi Pendidikan Karakter Dalam Keluarga

Evaluasi adalah penilaian terhadap sesuatu. Sasaran evaluasi adalah semua komponen yang berkaitan dengan pendidikan seperti pendidik, peserta didik, materi, metode, alat pendidikan dan sebagainya. Peserta didik merupakan sasaran evaluasi yang utama karena letak keberhasilan proses pendidikan biasanya dilihat dari keberhasilan peserta didiknya. Objek evaluasi peserta didik harus mencangkup dimensi/ranah, kognitif, afektif, dan psikomotor.

Evaluasi kognitif pesrta didik berarti mengukur keberhasilan perkembangan pengetahuan mereka termasuk di dalamnya fungsi ingatan dan kecerdasan. Evaluasi aspek afektif peserta didik berarti mengukur keberhasilan perkembangan perasaan mereka pada pengetahuan termasuk di dalamnya fungsi internalisasi dan karakterisasi. Evaluasi psikomotor peserta didik berarti mengukur keberhasilan tindakan mereka yang berkaitan dengan pengetahuan termasuk di dalamnya fungsi kehendak dan kemauan.

Dalam pendidikan informal (keluarga), evaluasi biasanya lebih kepada penilaian yang bersifat normative tanpa disertai soal tes dan penentuan angka dengan skala tertentu. Evaluasi yang dilakukan cukup dengan menilai atau mengukur apakah pekerjaan yang diberikan orang tua sudah dilaksanakan atau belum oleh anak, apakah nasihat yang disampaikan oleh orang tua sudah dipraktekan atau belum, dan apakah larangan yang di kemukakan  sudah di tinggalkan atau belum. Dengan demikian evaluasi dalam keluarga lebih dekat kepada fungsi pengawasan dan control.

Selanjutnya jika dikaitkan dengan pendidikan karakter dalam keluarga, maka evaluasi di sini lebih di tekankan kepada ranah psikomotor anak, karena hakikat keberhasilan pendidikan karakter adalah dapat di lihat dari performance atau penampilan diri anak dalam berbicara, berpikir, bersikap, bertindak, dan berkarya dalam kehidupan sehari-hari.

Penutup

Pendidikan karakter pada hakikatnya adalah upaya sistematis untuk membimbing peserta didik agar memahami nilai-nilai kebaikan (kognitif), dan melaksanakan nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan sehari-hari (psikomotorik).

Untuk merumuskan pendidikan karakter dalam keluarga dapat dikonseptualisasi melalui pendekatan system pendidikan yang meliputi:

  1. Tujuan

    Tujuan adalah sasaran atau hasil akhir yang ingi dicapai melalui proses pendidikan karakter dalam keluarga.

  1. Pendidik

   Pendidik adalah semua orang dewasa yang ada dalam rumah yang berkewajiban melakukan kegiatan mendidik karakter anak.

  1. Peserta Didik

    Peserta didik pada pendidikan karakter dalam keluarga adalah setiap anak yang belum dewasa dan perlu mendapatkan bimbingan dan arahan dari pendidik, baik itu anak kandung, anak angkat, maupun anak asuh.

  1. Materi

  Materi adalah sekumpulan pesan, pengetahuan, informasi, pengalaman, dan nilai-nilai karakter yang akan diberikan kepada peserta didik.

  1. Metode

   Metode adalah semua cara atau jalan yang ditempuh untuk mencapai tujuan pendidikan karakter.

  1. Alat

   Alat adalah sesuatu yang digunakan oleh pelaksana kegiatan pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan.

  1. Program

    Program adalah segala bentuk kegiatan/usaha yang dilakukan dalam menanamkan karakter pada diri anak.

  1. Evaluasi

    Evaluasi adalah penilaian/pengukuran tingkat keberhasilan anak mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam sebuah program.

Sumber :

Amirullah Syarbini Model Pendidikan Karakter dalam keluarga Elex Media Komputindo, Jakarta, 2013

Sekolah Saja Tidak Pernah Cukup


RESENSI BUKU

Judul buku : Sekolah Saja Tidak Pernah Cukup
Penerbit      : PT. Gramedia Pustaka Utama
Penulis       : Andrias Harefa
Halaman     : xi + 177
Kategori     : Perilaku manusia pembelajar.

Semua orang ingin berubah. Ya, kita tentu sangat setuju dengan pernyataan tersebut. Tetapi kita juga tahu bahwa tak banyak orang yang bisa melakukannya, apalagi menyelesaikannya. Selain banyak yang tidak bisa melihat kesempatan itu, sebagian besar lainnya justru tidak bergerak. Jika pun bergerak tetapi gagal menyelesaikan misi mulia itu. Sehingga perubahan itu tak kunjung terjadi.

Menurut versi majalah dan lembaga survei di amerika orang-orang terkaya di dunia  dijadikan tolak ukur untuk membedakan antara mereka (winners?) dengan para pecundang (losers). Tetapi untuk menjadi kaya raya dan sukses dalam bisnis, orang tidak perlu harus memiliki gelar akademis.

Tanpa keberanian dan kemampuan untuk menerobos pola pikir dan kebiasaan universitas, orang tidak dimungkinkan untuk mencapai prestasi puncak seperti yang dicapai oleh orang-orang yang sukses tanpa gelar akademis.paling-paling ia akan menjadi bagian dari kelas menengah yang mungkin cukup mapan, tetai belum mencapai puncak prestasi (peak performance).

Sesungguhnya menjadi kaya dan sukses dalam berbisnis, pertama-tama memang tidak ditentukan oleh ada atau tidak adanya gelar kesarjanaan, tetapi lebih ditentukan oleh faktor-faktor lain. Dan orang-orang yang kaya raya selalu mendemontrasikan hal-hal seperti:

Pertama, ide, keyakinan dan visi kuat mengenai masa depan masyarakat dunia dan bagaimana menangguk keuntungan dari semua hal itu; kedua, mereka mamiliki sensitivitas terhadap kebutuhan pasar; ketiga, mereka sangat kreatif untuk menciptakan produk yang sesuai dengan kebutuhan pasar; keempat, mereka mengambangkan keberanian untuk mengambil risiko dalam usia muda (risk-taker); kelima, mereka memiliki kebiasaan bekerja keras, yang bafi mereka justru menyenangkan karena pilihan kerja mereka bertalian erat dengan minat dan bakat  atau talenta pribadi; keenam, mereka memiliki toleransi terhadap kegagalan dan tidak menganggapnya sebagai hal yang “haram” atau “najis”, tetapi justru perlu untuk dapat sungguh-sungguh berhasil; ketujuh, mereka pantang menyerah dan mendemontrasikan ketekunan bekerja yang luar biasa; dan seterusnya. Itulah beberapa paktor yang lebih dominan daripada atribut tempelan yang diberikan universitas ( gelar akademis ).

Para agen dan perintis perubahan adalah orang-orang yang selalu menerobos batas-batas konvensional karena dipandu oleh keyakinan, visi dan misi hidup mereka yang relatif jelas. Mereka adalah pengambil risiko yang suka ‘menjemput’ tantangan karena merasa tahu dan yakin dapat meminimalisasi risiko-risiko tersebut  ( bukan gambler yang lebih banyak mengandalkan peruntungan, hoki, atau nasib baik semata).

Sudah waktunya, juga di indonesia, visi, misi, dan strategi pendidikan ditata ulang dengan secara seksama memeriksa asumsi-asumsi yang selama ini dipegang teguh tanpa sikap kritis yang seharusnya menjadi jiwa akademis. Universitas harus berhenti memproduksi beo-beo dan mesin penghafal yang melecehkan potensi manusia sebagai satu-satunya ciptaan yang diciptakan o;eh sang pencipta dengan dianugrahi daya cipta untuk mencipta dalam proses belajar berbakti, beriman dan bertakwa hanya kepada sang pencipta.

Persekolahan formal tidak pernah cukup membekali angkatan muda untuuk menapaki kehidupan di awal abad 21 ini

Robert T. Kiyosaki dalam buku “Rich Dad, Poor Dad” ia menjabarkan enam pelajaran berikut : pertama, orang kaya tidak bekerja untuk mendapatkan uang, tetapi membuat uang bekerja untuk mereka; kedua, untuk dapat membuat uang bekerja bagi kita, kita harus melek secara finansial (financial literacy), mampu membaca angka dan memaknainya dengan jitu; ketiga, berupaya untuk menciptakan bisnis sendiri, dan tidak puas dengan hanya menjadi karyawan(dengan bayaran dan fasilitas yang bagaimmanapun juga); keempat, ketauhilah sejarah perpajakan dan kekuasaan dari perusahaan; kelima, orang kaya menginvestasikan uangnya; keenam, bekerjalah untuk belajar jangan bekerja untuk mendapatkan uang.

Orang-orang muda perlu diajar dan dilatih untuk mulai memahami cara mmendapatkan penghasilan pada usia sedini mungkin, sesaat mereka belajar menghitung, membaca dan menulis. Tujuannya bukan menjadi kaya secepat mungkin, tetapi memppelajari bagaimana uang “bekerja” atau bagaimana uang dapat “dipekerjakan” sebagai budak manusia, sehingga ia bisa terhindar dari kecendrungan menjadi budak uang.

Menjadi kaya itu sendiri hanyalah salah satu pilihan bagi manusia. Sekalipu orang dimungkinkan untuk menjadi kaya, ia dapat memilih untuk tidak menjadi demikian. Sebagai contoh Nabi Muhammad SAW dan yesus kristus memilih mengajarkan pentingnya beriman dan bertakwa kepada ALLAH dalam keadaan kaya maupun miskin, dibandingkan memilih memperkaya diri sendiri.

Satu hal yang pantas kita syukuri adalah kenmyataan bahwa ditengah maraknya sentimen kedaerahan dan berbagai wujud primordialisme sebagai dampak pelaksanaan desentralisasi pemerintahan dan otonomi daerah, kampus relatif masih merupakan tempat yang aman dimana kegiatan lintas-agama, lintas-suku, lintas-bahasa, lintas budaya, dan lintas-generasi dilaksanakan.

Pengetahuan dikaitkan tidak hanya dengan tindakan, tetapi dikaitkan dengan kajian tentang pekerjaan, analisis pekerjaan, dan rekayasa pekerjaan atau untuk memperbaiki pekerjaan. Ini dirintis oleh Frederick Winslow Taylor (1856-1915).

Driyarkara menmgatakan pendidikan itu sendiri hakikatnya adalah proses pemanusiawian manusia muda, proses “humanisasi”, yang tentu saja tidak boleh dibonsaikan demi kepentingan pasar saja.

Resep klasik “ jika kamu mau sukses di masa depan, bellajarlah disekolah terkenal” rasanya sudah tidak berlaku lagi. Sekolah paling elite pun tidak mampu lagi membekali murid-muridnya dengan pengetahuan dan pegangan yang memadai untuk menghadapi tantangan jaman ini.

Sesungguhnya pemujaan terhadap “ sertifikat akademis” adalah dampak dari pemujaan sekolah sebagai satu-satunya lembaga “pendidikan”. Dan dalam banyak kasus  kita sudah saksikan bagaimana gelar akademis sedikit sekali menggambarkan kemampuan pemiliknya. Kalau proses-proses pembelajaran berbasiskan keluarga, komunitas, perusahaan, dan masyarakat dapat diselenggarakan dengan relatif memadai, maka proses perekrutan kerja harus pula dibebaskan dari kewajiban memiliki “sertifikat akademis”.

Untuk masa yang sangat lama kita telah mencoba hidup dalam masyarakat yang menganggap dan memperlakukan sekolah sebagai satu-satunya tempat belajar. Hasilnya adalah apa yang sekarang kita petik. Sebagai masyarakat dan negara bangsa, indonesia makin dekat dengan apa yang dulu disebut Bung Karno sebagai “banggsa kuli-babu” kita nyaris tidak memiliki kelompok asyarakat yang oleh Romo Mangunwijaya disebut “bermental swasta”.

Publikasi hasil penelitian skripsi?


Sebuah pertanyaan besar kenapa baru sekarang diberlakukan setelah budaya teksbook kita begitu kuat dalam kurikulum pendidikan kita, mahasisiwa terbiasa dengan hapalan-hapalan teks yang tak berimbang dengan apliaksi kasus. Sehingga mereka terbiasa dengan asupan-asupan imu dalam diktat dan buku paket yang baku yang tidak mengarah pada apresiasi dan kreatiftas kita.

Mereka hebat berteori tapi lemah dalam aplikasi. Saat skripsi mereka membolak-balikan  hasil skripsi sudah menjadi budaya sehari-hari di perpustakaan kampus. mereka skripsi hanya melihat karya orang lain dan menduplikasikannya, kalau bisa dbuatkan sekripsi yang bertebaran di sudut kampus Apalagi persepsi penelitian sekedar syarat kelulusan bukan untuk pembuktian kualitas mereka sebagai intelektual dan  pembelajaran mereka selama delapan semester kuliah di perguruan tinggi.

Begitu juga karya ilmiah dan hasil riset dosen di Indonesia sangat kurang mendapat perhatian, kurangnya subsidi bagai penelitian, belum ada publikasi luas sebatas jurnal kampus atau hanya sekedar persyaratan sertifikasi dosen atau kepangkatan yang bisa copy paste dan hanya formalitas semata.orang lain  Lebih parah lagi dengan budaya plagiator dikalangan ilmuwan, seperti tahun 90-an Ismet Fanany menuduh desertasi hasil karya Dr. Yahya Muhaimin dalam judul “Bisnis Dan Politik Di Indonesia” sebagai duplikasi dari karya ilmuwan Australia Dr. Richard robinson, “Capitalism An The Bureaucratic State In Indonesia” [1]

Walaupun begitu kebijakan baru untuk mewajibkan kelulusan setelah hasil karya ilmiah mereka S1, S2 dan S3 harus terpublikasikan secara nasional. Sebuah gebrakan baru yang sebenarnya sudah diterapkan dinegara lain, walaupun dirasakan apriori mengenai beberapa hal yang harus dipikirkan oleh pemerintah dalam hal ini dikti dalam hal :

  1. Siapa yang menjadi media publikasi nasional, bagi PTN jelas dari pemerintah resmi dalam hal ini mendiknas, lalu PTS dengan bermacam grade kulaitas-nya.
  2. Berapa jumlah calon sarjana yang harus ngantri untuk dipublikasikan, kualitas karya ilmiahnya bagaimana yang gagal, kapan kelarnya?
  3. kualitas pembimbing riset yang alakadarnya  dan bagaimana fee, termasuk resiko semakin menumpuk calon sarjana yang tertunda dengan kebijakan ini terutama kampus yang kualitasnya masih dibawah standar nasional.

Kita akui program publikasi hasil penelitian ini akan meningkatkan budaya penelitian yang kuat setelah mereka menjadi sarjana, karena merasa hasil penelitian mereka terbaca semua orang dan menjadi promosi personal. Tapi masalah diatas terutama media publikasinya benar-benar qualified dan memikirkan kualitas PTS yang masih belum standar baik dalam perangkat kuirkulum maupun infrastruktur. Sebanrnya seandainya mau secara bertahap dengan memperhatikan dosen untuk meningkatkan kegiatan penelitian dan menyediakan penerbitan dengan memperhatikan royalty ilmiah mereka sehingga memberikan motivasi penelitian mereka semakin kuat, plus ada bantuan yang proporsional antara dosen negeri dan swasta untuk riset.

[1] Plagiat-plagiat dim it tragedy akademis di indonesia, ismet fanany, KOMPAS, 22 November 1992.

Manajemen dengan Kecerdasan Emosi


Di dalam sebuah perusahaan tentu saja terdapat suatu organisasi, yang merupakan kumpulan orang – orang yang bekerjasama dengan satu tujuan tertentu, yaitu demi kemajuan dan memperoleh keuntungan yang sebanyak – banyaknya. Grafik organisasi  merupakan suatu dokumen perusahaan yang sangat berharga, tetapi sedikit orang yang beranggapan seperti itu.

Di dalam sebuah organisasi tentu saja terdapat tim yang bekerjasama guna tercapainya suatu tujuan, yang menjadi pertanyaan ialah : Apakah setiap tim sudah ditempatkan sesuai dengan kemampuannya baik bakat, potensi, dan tingkat pendidikannya?? Tetapi hal yang paling penting ialah bukan hanya grafik perusahaan, akan tetapi grafik setipa anggota timnya. Dimana seseorang harus mampu untuk memanage emosionalnya, contohnya seorang bos pada waktu tertentu berhak marah, akan tetapi tidak berhak menjadi kejam dan bengis, seorang bos juga pada waktu tertentu berkewajiban untuk memberikan pujian. Karena pujian adalah obat dan juga empati yang merupakan terapi termurah untuk seorang bawahan, tentu saja hal ini berpengaruh pada tingkat emosional para pekerja. Jika semua pekerja menjalankan tugasnya dengan bangga, semangat, dan penuh energi, maka disitulah letak seorang bos yang cerdas secara emosional. Akan tetapi dalam sebuah tim pasti terjadi perbedaan pandangan dalam mencapai sebuah tujuan, karena memiliki tingkatan emosional yang berbeda – beda, produktifitas, dan kesehatan yang berubah – ubah dari waktu ke waktu. Dan tidak semua individu suka bekerjasama secara kelompok, untuk itulah dibutuhkan semacam grafik kepribadian untuk mengenal tingkat emosional masing – masing anggotanya.

 Jadi penempatan seseorang dalam tugas / jabatan bukan hanya dilihat dari tingkat pendidikan, bakat, potensinya saja, tetapi juga kemampuan seseorang dalam memanage emosionalnya dalam berbagai kondisi. Seorang yang sukses ialah orang yang mempunyai tingkat keseimbangan antara IQ dan EQ, seorang pemimpin yang baik ialah seorang yang baik secara akademik maupun emosional. Bersikap bijak, berempati, dan peka terhadap lingkungan kerja, tentu saja hal ini dapat membantu mempertahankan relasi yang baik dengan bawahan dalam jangka waktu yang lama. Bersikap optismistik dan positif dapat menempatkan seseorang dalam kerangka pikiran yang jauh lebih baik dalam memotivasi diri, akan tetapi sikap negatif hanya akan mempersulit dalam menjalan kan hal – hal yang fundamental ini dalam manajemen relasi, karena watak seseorang merupakan problem utama dalam psikologi.

Di dalam sebuah rencana bisnis tidak akan sempurna tanpa tehnik manajemen plus dosis strategi kecerdasan emosional yang baik, karena hal itu seorang pelaku bisnis harus mampu mengelola emosionalnya, tentu saja hal ini sangat dibutuhkan untuk menrik minat para pelanggan, karena pelanggan akan menukai para pembisnis yang melayani dengan hati. Berarti anda sedang membangun suatu jaringan kerja. Dan di dalam sebuah organisasi dibutuhkan perencanaan yang terkonsep dengan matang guna mencapai mencapai suatu tujuan tertentu, setiap pemimpin organisasi sebuah perusahaan harus memiliki pemahaman watak setiap pekerjanya, hal ini sangat membantu dalam membangun relasi antara pimpinan dengan bawahannya. Misalnya saja seorang bos harus pandai memotivasi dirinya sendiri dan juga bawahannya, karena motivasi adalah seni membuat orang lain merasa penting, baik, dan berbakat, belajar memotivasi seseorang orang lain dapat mengubah kepribadian seseorang, yakni yang lain sebelum dirinya sendiri, tetapi satu hal yang harus diperhatikan anda dapat saja memotivasi seseorang tetapi anda tidak dapat merubah kepribadian seseorang sesuai dengan yang anda inginkan. Anda baru dapat memotivasi seseorang jika anda telah mampu mengembangkan rasa empati dan kasih saying, motivasi merupakan manajerial terbaik, bahkan tindakan kecil kebaikan dapat berlangsung lama, karena motivasi bagian terpenting dari kecerdasan emosional, tetapi ingat pujian yang berlebihan adalah motivasi yang terbalik.

 Setiap perusahaan tentu saja memiliki kultur organisasi yang berbeda, hal inilah yang mendorong seseorang harus benar – benar memahami kultur dimana tempat ia bekerja, untuk itulah kecerdasan emosional di sini berperan, di mana seseorang berusaha untuk mengembangkan kepribadian di dalam suatu relasi antar individu dalam sebuah organisasi perusahaan, di sinilah akan terbentuknya suatu kearifan emosional. Kearifan emosional dapay menjadi suatu pengalaman yang sanggup merubah hidup seseorang melalui pengembangan potensi diri baik secara akademik maupun secara emosional, seorang pemimpin tentu saja harus memiliki kearifan emosional, seorang pejabat di sebuah perusahaan yang baik adalah pelajar sejati, di mana ia akan selalu berusaha membengun relasi yang baik dengan bawahannya, karena kesuksesan sebuah perusahaan dapat dilihat dari gaya kepemimpinanya ( manajemennya ).

Itulah faktor kunci yang akan diperhitungkan dalam nasib sebuah perusahaan, jika seorang pejabat perusahaan dalam menjalankan manajemennya menerapkan rasa egois, ketidaksabaran, dan penuh dengan ancaman, hal ini akan menghambat perkembangan sebuah perusahaan bahkan kelangsungan hidup suatu perusahaan, untuk itu jadilah seorang pejabat perusahaan yang mengedepankan kecerdasan emosional bukan kepandaian semata, karena otak yang baik jika diimbangi dengan temperamen yang buruk akan sia – sia.

Seorang pemimpin yang buruk ialah seorang yang tidak memiliki kearifan emosional, seorang baru dikatakn menjadi pemimpin yang baik jika ia telah belajar bagaimana menjadi orang yang lebih baik dahulu, seorang yang mempunyai tingkat IQ yang tiggi, tetapi tidak diimbangi dengan EQ hanya akan menjadi manusia setengah terdidik  Karena itulah banyak pejabat perusahaan yang korupsi, bahkan para pejabat pemerintahan di nagara ini. Di dalam pengelolaan sebuah organisasi tentu saja terdapat persaingan, di mana seseorang akan memainkan cara – cara politik demi tercapainya tujuan sekelompok orang, karena sebagian orang selalumemiliki justifikasi bagi penyalahgunaan wewenang, politik jabatan adalah kanker dalam manajemen.

Untuk itu diperlukan tingkat kesadaran moral yang tinggi, untuk dapat mendeteksi virus tersebut sebelum menyebar kepada anda, karena tidak jarang sebagian orang menjalankan politik dagang sapi, persaingan yang penuh dengan kecemburuan, ketamakan serta ambisi semata, yang merasa dirinya berhak atas hidup orang lain. Untuk itulah memanajemeni suatu usaha / organisasi dengan kecerdasan emosional akan mendatangkan banyak keuntungan meskipun hal ini tidak dapat dengan mudah direalisasikan, dan meskipun kita tidak dapat sepenuhnya menghapus politik organisasi setidaknya kita dapat mereduksinya dengan menciptakan iklim kerja yang sehat. 10 % politik dalam organisasi memiliki pandangan yang sehat, tetapi sisa yang 90 % itu dapat merampok keuntungan, peluang, dan kualitas sumber daya yang baik bagi perusahaan, bertnvestasilah dalam kearifan emosional karena hal ini sangat penting untuk menjaga hubungan anda dengan orang lain, karena anda adalah seorang manusia sosial yang perlu berinteraksi, tinggalkanlah politik – politik kasar serta birokrasi yang membuat orang tercekik, karena hanya dengan kearifanlah anda menjadi manusia yang cerdas. Kecerdasan emosional adalah tulang punggung sebuah organisasi dan harus menjadi asset yang sangat berharga dalam setiap kultur perusahaan, seorang bos yang cerdas berinvestasi kearifan dalam pekerja dan berupaya memutivasi serta selalu berusaha memberdayakan bawahannya menuju produktifitas yang lebih tinggi dan perilaku organisasi yang lebih baik.

Di dalam sebuah bisnis menjaga hubungan dapat meningkatkan peluang bagi bidang perdagangan yang lebih luas, karena pengenalan karakter dan budaya melalui orang perorang dapat mendatangkan bisnis dan keuntungan yang lebih besar. Berinteraksi dengan kecerdasan emosional memang bermanfaat  di dalam menjalin hubungan kerjasama dalam sebuah bisnis, dan hal yang paling penting ialah integritas, karena integritas merupakan dasar sebuah kepercayaan. Pelanggan adalah raja yang harus dilayani dengan sebaik – baiknya, baik secara sosial maupun professional, memberi pelayanan kepada pelanggan adalah kewajiban,karena dalam kondisi yang merubah dewasa ini, produk yang baik dan tehnik pemasaran yang baik saja tidaklah cukup, Karen bukan hanya menawarkan produk saja tetapi harus mampu mengantarkan kecerdasan emosional dalam layanan bagi para pelanggan.

 Seorang bos yang cerdas tentu tidak akan menempatkan anggota stafnya yang tidaki pandai tersenyum atau tidak memiliki bakat untuk melayani secar sopan dan tanggung jawab, Karena para pelanggan adalah salah satu komponen penting di dalam menjaga kelangsungan perusahaan, pelajarilah strategi pemasaran dengan menempatkan pelanggan di atas segalanya, karena pelanggan masa depan terbaik anda dalah pelanggan terdahulu anda, dan jika anda menjaga pelanggan anda dengan baik, mereka akan terus kembali. di dalam pengorganisasian dibutuhkan sistem untuk merealisasikan tujuan perusahaan, karena dengan sistem kita dapat bekerja secara sistematis, efektif, dan efisien. Yang akan menciptakan suasana kerja yang kondusif, penempatan organisasi yang cerdas secara emosional dapat diwujukan dengan cara yaitu : Membangun sistem yang benar, menciptakan kultur perusahaan yang benar, merekrut orang – orang yang tepat, dan  penerapan strategi yang tepat.  

Setiap pekerjaan yang dilakukan dengan marah atau kecemasan yang tinggi bukanlah pekerjaan yang produktif atau berrkualitas karena tanpa EQ sebuah organisasi praktis mati. EQ sangat diperlukan dalam menvisualisasikan diri di dalam sebuah organisasi. Visulisasi adalah sebuah imajinasi yang dibuat untuk dikerjakan, karena melalui visualisasi ini daya piker dan kreatifitas anda benar – benar akan diuji, untuk itu kembangkanlah visualisasi anda secara positif, dengan mengedepankan optismistik, pikiran positif, kepercayaan, dan harapan anda. Hal ini akan membangun kekuatan visualisasi yang besar, dan hal terpenting adalah anda selalu fokus terhadap tujuan anda.

Kecerdasan emosional menawarkan visi baru tentang kesadaran diri yang memungkunkan seseorang menilai perasaan, kemampuan, dan bakat anda sendiri, manakala kita telah mampu mengidentifikasikan pola emosional dalam kehidupan kita dan orang lain. Maka kita mampu mengelola kebutuhan kita melalui kekuatan visualisasi diri, dan  kecerdasan emosional mengajarkan seseorang untuk mengeluarkan dari pikirannya segala pemikiran dan perasaan negatif unyuk menjadi orang yang lebih baik lagi.

Sumber    : Manajemen Dengan Kecerdasan Emosional, DR. Henry R. Meyer, Nuansa, jakarta, 2010.

 

Sekuat  Apakah Visi Anda?


Berbicara visioner tak lepas dari potensi sukses yang mungkin tercapai sesuai dengan kualifikasi dan standar kualitas yang bisa meningkatkan preferensi. Makna ini seiring dengan konstelasi bagi peningkatan kualitas mahasiswa yang akhir-akhir ini jadi kendala besar sistem pendidikan kita.

KUALITAS  mahasiswa berkaitan dengan kemapanan kampus yang secara ideologis berbalik pada kemampuan internalisasi dimasa yang akan datang dan kemajuan personal tergantung sejauhmana visi kita dimasa yang akan datang dapat diaplikasikan secara empiris.eberapa Istilah visioner selalu mengingatkan pada manajemen visioner atau pimpinan visioner yang penulis adopsi untuk mahasiswa visioner. Ada beberapa buku yang mengungkapkan makna visioner[1] yang intinya adalah Cirri-ciri ….punya wawasan kedepan bukan berarti meramalkan apa yang terjadi kelak tapi lagi-lagi visinoer berpatokan pada kemampuan untuk merencanakan suatu target sehingga bisa tercapai dengan baik dimasa yang akan datang. Impian Ikal dalam cerita film “laskar pelangi” yang ingin kuliah di Sorbonne perancis[2]. Tercapai dimasa depan. Coba anda lihat kutipan yang baik ketika Ikal bertemu :

Sudut lain, visi itu niat yang ingin direalisasikan, masalah utama sejauh apa dan sebesar apa niat kita untuk sukses? Ukuran besar kecilnya kesuksesan inilah sangat berkaitan dengan sebesar apa mimpi kita ingin sukses. Sekali lagi kesuksesan adalah relative tetapi ada standard dan ukuran secara material, selain kesuksesan nisbi yang berhubungan dengan visi ilahiyah yang ukurannya adalah kesuksesan secara spiritual yang merupakan bagian dari dimensi kehidupan kita kenal sebagai sebuah kecerdasan spiritual[3]

Sehingga kesuksesan butuh strategi pencapaiannya baik secara teoritis, empiris maupun spiritual. Masalah lain banyak calon sarjana yang sulit menuangkan visi secara jelas, tegas dan aplikatif. Terkadang visi personal tidak tertulis karena anggapan sulit untuk diaplikasikan secara real karena ada anggapan visi kehidupan yang terkadang relatif berbeda dengan visi perusahaan atau organsiasi yang terukur sehingga banyak anggapan visi hanya sebatas wacana dan aplikasinya mengalir seperti aliran sungai yang tak bertepi. Sehingga pemahaman sukses salah satunya sejauhmana memahami urgensi visi dalam kehidupan personal, pekerjaan dan organisasi.

Urgensi Visi

Ketegasan visi harus jelas dan terukur sangat penting bagi seorang untuk menentukan arah dan tujuan ketika ingin melangkah dan mencapai suatu harapan dan cinta-cita setelah melalui adanya tahapan perencanaan. Dengan visi semua yang akan kita capai terfokus pada beberapa pertanyaan : untuk apa kita kuliah?apa yang harus kita lakukan ketika kuliah berlangsung dan bagaimana strategi setelah kuliah selesai?

Banyak sarjana yang bingung setelah lulus karena tidak tahu apa yang akan dilakukan dengan kualifikasi pendidikannya yang diperoleh, sekedar kuliah atau hanya mengejar ijazah semata tanpa kompetensi dan nilai yang bisa dijadikan sebagai spirit awal untuk memperjuangkan seluruh kehidupan dengan baik. Artinya Kita membutuhkan efikasi personal (self efication) [4] dalam menentukan visi yaitu keyakinan untuk melakukan prilaku khusus dengan sukses.

Arti penting visi bagi kesuksesan mahasiswa adalah sebagai

a). Arah dan tujuan hidup.

Harapan dimasa yang akan datang lebih baik itulah yang sering dijadikan tujuan seseorang dengan melakukan sesuatu seperti bekerja, kuliah, bisnis.

b).Menguatkan spirit ketika terjadi guncangan dan krikil tajam yang menghambat pencapaian tujuan.

Kehidupan selalu ada hambatan dan kerikil tajam yang menguji ketahanan kita untuk bertahan atau jatuh, menanggap ketidakadilan atau sebuah ujian, sebuah penurunan atau pintu gerbang suatu kemajuan.

c).Meyakinkan hati akan kemampuan efikasi ketika melakukan apapun aktifitas.

Keyakinan akan kemampuan kita untuk menghadapi apapun persoalan hidup itulah sebuah visi ketika mau dijalankan, bukan sebuah perencanaan semata tapi visi dijalankan karena kita mengetahui kapasitas kemampuan kita.

d).Visi penting juga dalam mengarahkan prioritas kita. ketika sedang dan sesudah lulus kuliah. Beberapa ahli mengungkapkan arti penting visi bagi organisasi dan personal.

Visi dan impian

Visi dan impian menjadi suatu hal yang berbeda dalam pencapaian suatu tujuan, tapi sesuatu diawali dari impian. Seseorang tidak bisa kuliah sampai jenjang tinggi kalau tidak punya impian yang jauh kedepan kalau pendidikan bisa jadi tonggak kemajuan suatu negara. Seseorang juga tidak akan berani untuk mencoba terjun berbisnis tanpa ada impian dan harapan menjadi pebisnis sukses dimasa yang akan datang dan kemapanan hidup dimasa yang akan datang selalu menjadi impian sebuah keluarga kecil melalui perkawinan, begitu juga dimasa muda impian mahasiswa juga menjadi cahaya yang bisa menuntun kita bisa berjalan dalam kegelapan malam. Begitu juga, Impian penulis dengan bukunya bisa diterima dan menjadi inspirasi bagi kemanfaatan public untuk menapaki suatu tahapan pencapaian hidup, dimana semua orang berbeda dalam prosesnya. Ada orang sukses karena secara proses didukung oleh kemapanan keluarganya, ataupun ada orang sukses harus melalui tahapan terjal seerpti layaknya kita mendaki gunung sampai mencapai puncak tertinggi dimana terkadang tidak bermakna lagi, karena tujuannya hanya penaklukan.

[1] Berbagai definisi visioner yang diambil dari konsep kepemimpinan dan SDM…

[2] Lascar pelangi, Adrea Hirata, hal….

[3] Kecerdasan spiritual,

[4] Jennifer M. Georges & Gareth R. Joner, Understanding And Managing Organizational Behavior, prentice-hal, 2009.

%d blogger menyukai ini: