Bibit-bibit animator lokal mulai bermunculan. Meski bakat menjadi modal utama profesi ini, tak sedikit yang berhasil karena tekun mempelajarinya.

Suasana ruang itu lebih mirip sebagai kamar pribadi daripada tempat kerja. Sebuah poster pahlawan animasi yang berukuran cukup besar menempel di dinding. Di pojok, berdiri sebuah lemari kecil yang penuh dengan disk film dan software. Sebuah dipan dan kulkas kecil berdampingan mengisi sudut lain ruangan.

Hampir tidak ada yang aneh di ruang tersebut, kecuali perangkat keras yang memenuhi ruang itu. Ada empat buah komputer berderet dan sebuah monitor. Di atas tempat tidur tergolek sebuah laptop. Jangan salah, ruang ini bukan tempat reparasi komputer. Kamar itu adalah tempat kerja seorang animator alias tukang membuat rangkaian gambar hidup di layar kaca.Adalah Patar Ferry Christian Pardamaean Napitupulu, seorang animator freelance yang menyulap ruang garasi rumahnya menjadi tempat kerja sekaligus kamar tidur. Ruang seluas sekitar 15 meter dan peralatan seharga tak kurang dari Rp 50 juta itu kini menjadi kebanggaannya.

Padahal, merunut masa lalu, Patar perlu perjuangan yang tak mudah untuk meraih itu semua. Ketika merintis kariernya enam tahun lalu, banyak orang yang menganggap profesi animator tak dapat menjanjikan sebuah hidup yang layak. “Ketika saya mau menekuni profesi ini, orang tua bilang itu tidak akan ada uangnya,tuturnya.

Namun, boleh jadi kini orang tua Patar menyesali ucapannya. Faktanya, profesi itu kini menjadi salah satu pekerjaan yang menjanjikan. Besarnya fulus yang beredar di bisnis animasi membuat sejumlah orang tak ragu lagi untuk mengucurkan dana. Tengok saja salah satu kantor griya animasi Dimensia yang terletak di sebuah apartemen cukup mewah di kawasan bisnis Cempaka Mas di Cempaka Putih, Jakarta.

Lantai delapan apartemen yang sebenarnya untuk rumah hunian itu disulap menjadi kantor. Warna-warni cerah menghiasi dindingnya. Pada salah satu ruang yang terletak di sudut berjajar sepuluh komputer terbaru lengkap dengan peranti multimedia.

Peranti komputer dengan spesifikasi terbaru memang menjadi salah satu senjata seorang animator. Seperti layaknya ilustrator, tugas utama seorang animator adalah menggambar. Bedanya, media gambar mereka tidak lagi kertas lusuh di atas meja dengan penerang seadanya. Seluruh proses kerja animator, mulai membesut gambar, memberi tekstur warna atau merangkai adegan, dilakukan dengan komputer.

Meski terlihat sederhana, untuk menghasilkan sebuah gambar animasi tidaklah mudah. Minimal ada dua tahapan kerja yang mesti dilakukan. Pertama adalah proses animad alias membuat desain model, membangun cerita dan gambar, serta menentukan angle kamera. Selanjutnya hasil kerja itu dimasukkan ke dalam komputer. Sementara proses kedua adalah pasca-animad, yaitu mengedit dan memberi pencahayaan, efek, musik, dan suara.

Tak pelak, karena berhubungan dengan program-program komputer, untuk menggeluti profesi ini, selain mesti jago menggambar, seorang calon animator juga harus menguasai teknologi. Tidak heran jika saat ini yang menekuni profesi animator umumnya jebolan perguruan tinggi, dengan jurusan-jurusan yang dekat dengan desain. “Kebanyakan dari jurusan arsitektur, ujar Deswara Aulia, produser eksekutif rumah produksi Dimensia.

Bermunculan sekolah dengan jurusan animasi
Seorang animator, ujar Deswara, umumnya juga mempunyai hobi yang sama. Biasanya mereka menyukai membaca komik dan menonton film. Banyak pula yang menempuh profesi ini karena hobi tadi. “Saya suka sekali membaca komik dan menonton film,ujarnya.

Saking sukanya, hampir setiap hari dia menonton film. Bahkan sebuah film animasi bisa ditontonnya berkali-kali. Film The Lord of the Ring misalnya, ditontonnya hingga puluhan kali. “Dari menonton, saya mendapat banyak ide tentang desain, kata animator yang pernah bekerja di banyak rumah produksi ini.

Namun menurut Patar, meski kebanyakan yang menekuni profesi itu adalah jebolan universitas, untuk menggelutinya tidaklah sulit. Bahkan itu bisa dilakukan secara autodidak. Caranya dengan banyak membaca buku tentang animasi dan rajin mengutak-atik komputer.

Hal paling membantu, ujar Patar, adalah dengan mengikuti mailing list pencinta animasi di luar negeri. Dari sana pula ia terus tertantang untuk dapat membuat animasi. Jika dikirimi gambar animasi yang bagus, saya seperti tertantang untuk dapat membuatnya. Saya juga tanya-tanya bagaimana cara membuatnya,ujarnya.

Rupanya meningkatnya minat orang untuk mempelajari ilmu animasi ini mendapat respons cepat dari lembaga pendidikan. Sejak dua tahun lalu mulai bermunculan sekolah yang membuka jurusan animasi. Paling tidak di Jakarta terdapat lebih dari lima sekolah animasi seperti Digital Studio, Cyber Media, Lasalle Colege, Next Academy, dan Institut Kesenian Jakarta.

Hanya saja, ujar Deswara, sekolah tidak menjamin seseorang menjadi animator yang baik. Masih ada hal lain yang harus dipelajari oleh seorang animator pemula, yaitu melatih kepekaan. Bagian ini rupanya yang paling sulit. “Ini tidak bisa dipelajari, cetus alumnus Arsitektur Universitas Parahyangan itu, “Ini terbentuk sendiri melalui jam terbang.

Bagi Deswara, profesi ini memang cukup unik. Sebagai animator, ia merasa seperti pencipta suatu dunia yang tidak mengacu sama sekali dengan realitas. Seorang animator benar-benar seperti mencipta dari nol, dari sesuatu yang sebelumnya belum ada sama sekali. “Sepertinya menciptakan sebuah dunia baru, katanya.

Dan karena masih baru, demikian Deswara, sampai sekarang masih sedikit orang yang terjun di profesi ini. Mungkin, belum sampai seratus orang yang benar-benar total terjun ke bidang ini. Apalagi yang menguasai berbagai spesialisasi animasi. Misalnya, untuk spesialis character animation yang bertugas mendesain suatu obyek sehingga benar-benar tampak hidup dan bernyawa. Demikian pula dengan spesialis visual efek animasi yang bertugas memberi efek-efek tertentu pada gambar. Saat ini untuk kedua bidang itu tidak lebih dari lima orang yang dianggap benar-benar menguasai.

Tak pelak, karena masih langka dan banyak yang membutuhkan, harga jual profesi ini pun semakin tinggi. Seorang animator freelance seperti Patar biasanya mematok harga berdasarkan lama kerja dan tingkat kesulitan pengerjaan. Bayaran yang mereka peroleh dihitung berdasarkan proyek. Jika mengerjakan animasi iklan, bayarannya dihitung per iklan. Sementara, untuk sinetron dihitung per episode.

Waktu pengerjaan proyek pun umumnya bervariasi. Tergantung suasana hati dan keseriusan,ujar Patar. Tetapi untuk sinetron, Patar sudah mematok satu episode selesai dalam waktu satu minggu, sedangkan untuk iklan biasanya lebih cepat, sekitar 3 hari. Tapi itu semua tergantung juga tingkat kesulitannya, ujarnya.

Saat ini sebagai freelancer, ia dipastikan menyelesaikan satu episode sinetron per minggu. Harga satu episode yang ia patok ke rumah produksi adalah Rp 5 juta per episode. Artinya, dalam satu bulan Patar mempunyai pendapatan pasti sekitar Rp 20 juta.

Kocek Patar akan makin menggelembung jika ditambah proyek lainnya, seperti membuat iklan dan company profile sebuah perusahaan. Wajar apabila Patar berani meninggalkan pekerjaan lamanya sebagai animator tetap di Starvision. “Padahal saya digaji sebulan Rp 10 juta di sana, ujarnya.

Hanya saja, seorang animator freelance harus siap bekerja berdasarkan musiman. Artinya order pembuatan animasi tak selalu banyak sepanjang tahun. Musim paling ramai untuk para animator adalah ketika tahun ajaran baru. Biasanya pada saat itu banyak iklan yang menggunakan tenaga animator. “Akhir tahun biasanya [order] sepi. Untung saja masih ada sinetron yang ada terus sepanjang tahun,ujar Patar.

Sementara, animator yang bekerja di griya produksi pembayarannya dilakukan dengan sistem gaji tiap bulan. Biasanya seorang animator dengan kualitas biasa saja akan mendapat bayaran sekitar Rp 2,5 juta per bulan. “Sedangkan yang memiliki kualitas lebih baik akan mendapat gaji minimal Rp 5 juta,ujar Patar.

Nah, yang punya bakat menggambar silakan mencoba.

Iklan