Posts from the ‘TOKOH MANAJEMEN’ Category

Internet Raksasa Ekonomi Baru Sebuah Inspirasi Peter Drucker


“There is no new economy. The internet greatly extends the old economy,” ujar Peter Drucker. Hal ini diucapkan Drucker pada saat para venture capitalist sedang menciptakan hype dan janji-janji baru bahwa new economy adalah bisnis internet. Saat itu prediksi-prediksi yang tak masuk akal sedang menjejali para pebisnis yang sedang terkagum-kagum pada keajaiban yang dijanjikan bisnis dotcom. Namun, Peter Drucker-lah, pakar manajemen kelahiran 1909, yang berhasil memberikan penjelasan yang lebih memadai tentang the new way of doing business.

Hebatnya, Drucker telah berpikir tentang dahsyatnya teknologi komputer akan mengubah dunia bisnis secara radikal sejak tahun 1950-an. Bayangkan, bos Microsoft Bill Gates—yang secara riil banyak mengubah cara berbisnis dengan teknologi komputernya—saja baru dilahirkan pada tahun 1955. Bahkan, pada saat itu juga Drucker telah melahirkan istilah “knowledge worker”. Tak heran kalau dia sempat dijuluki “Pakar bisnis yang pendapatnya tetap segar dan mampu mendahului zamannya”.

Yang istimewa, Drucker mampu memahami dunia bisnis tanpa pernah sekali pun dia terlibat dalam dunia bisnis itu sendiri. Walaupun cukup banyak perusahaan yang pernah mencoba mengontraknya, Drucker dengan halus menolak, untuk mempertahankan objektivitas dan kredibilitasnya. Ketidakmauannya terlibat secara langsung ke dalam dunia bisnis inilah yang menyebabkan pada akhirnya Drucker berkembang menjadi guru manajemen kelas dunia.

Pemahaman manajemen Drucker sendiri dimulai pada saat cara kerja di perusahaan masih ditandai oleh mandor-mandor yang galak versus serikat buruh yang kuat. Di mana saat itu banyak perusahaan AS yang mencoba meningkatkan produktivitas dengan cara menakut-nakuti dan mengintimidasi. Di era “kegelapan manajemen” inilah Drucker mulai memetakan pentingnya manajer, bagaimana memotivasi orang, dan, ujung-ujungnya, bagaimana meningkatkan value perusahaan.

Perubahan terbesar Drucker terjadi pada tahun 1942, ketika ia—yang saat itu menjabat sebagai profesor politik dan filosofi di Bennington College di Vermont—mengeluarkan buku The Future of Industrial Man. Saat itu bukunya banyak dikritik karena dianggap mencampuradukkan masalah ekonomi dengan social science. Untungnya bos General Motors (GM), Alfred P. Sloan, tertarik dengan buku Drucker. Lebih dari itu, Sloan malah kemudian mengundang Drucker untuk mempelajari GM dari sisi dalam GM itu sendiri. Hasilnya adalah sebuah buku legendaris, Concept of Corporation (1946), yang edisi aslinya tetap dicetak sampai tahun 1993. Buku ini juga membuka pasar baru bagi dunia perbukuan, yakni buku-buku yang khusus membahas bisnis, yang sebelumnya tak mendapat tempat di toko buku.

Apa yang relevan bagi dunia bisnis masa kini tentang pemikiran Drucker? “Dunia bisnis pada dasarnya tidak eksis untuk ‘membuat dan menjual benda’, tetapi untuk ‘memenuhi kebutuhan manusia’”. Banyak perusahaan besar yang tetap berjalan hingga sekarang yang memegang teguh prinsip ini. Sebuah prinsip dasar yang kelihatannya gampang, tetapi akan cukup susah membayangkan bahwa dari prinsip yang penuh penghayatan inilah lahir CSR (Corporate Social Responsibility) yang justru “banyak membuang uang” untuk kepentingan perusahaan jangka panjang.

Lebih dari itu, Drucker juga masih mengajarkan bagaimana meningkatkan produktivitas bagi knowledge worker. Inilah cara-cara baru berbisnis di mana “Anda tidak lagi memegang komando seperti seorang jenderal, tetapi harus bekerja melalui aliansi, partnership, kontrak, dan outsourcing”. Bagi seorang penulis seperti saya, barangkali mudah untuk memahaminya. Namun, percayalah, bagi praktisi eksekutif di lapangan, tanpa pelatihan yang memadai, akan susah menjalankan prinsip-prinsip ini pada anak buah Anda.

Tak heran, di tengah banyaknya praktek the new way of doing business akibat revolusi informasi ini, banyak pebisnis yang cemas melihat situasi chaos ini. Padahal, seperti berkali-kali diucapkan oleh Andy Groove, chairman Intel, kecemasan ini bersifat global. Jadi, justru di sini banyak peluang bagi para pemain baru yang berani. Tidak percaya? Ikut saja e-auction di BUMN yang sekarang banyak ditawarkan. Kalau Anda berani menawarkan harga bersaing, perusahaan-perusahaan raksasa asal AS pun bisa Anda kalahkan. Sebab, “kebutuhan manusia” di BUMN sekarang adalah dianggap bersih.

Source : http://www.asmakmalaikat.com

Iklan

Peter Drucker, Maha guru Ekonomi*


peter_druckerResume : Robert Heller, Peter Drucker, Esensi, Jakarta, 2008

Dia maha guru semua guru manajemen. Peter Druker. Dialah yang pertama mendefinisikan seni manajemen yang efektif. Pengaruh kepionirannya pada gagasan dan praktek manajemen yang ada dewasa ini belum tertandingi di seluruh dunia.

Buku ini mencoba untuk membangkitkan inspirasi berasal dari sang maestro manajemen. Peter Druker dilahirkan tahun 1909 di Vienna. Meskipun dia hidup di Amerika selama lebih dari 60 tahun, namun pengaruh dan kenangan Eropa Tengah pada umumnya, dan Vienna pada khususnya, masih kuat. Meskipun aksen Jermanya masih kental, Druker adalah pembicara Bahasa Inggris dengan kejernihan dan kepasihan yang mengagumkan. Logikanya tanpa cela dan selalu mampu mengingatkan fakta, angka dan lelucon segar.
Minat yang tinggi terhadap ilmu pengetahuan membuatnya dikenal seorang yang multi disiplin dan pemikir humaniter. Berbagai tulisan dan buku-buku ia tulis selalu menarik minat untuk dibaca.

Minatnya terhadap peristiwa aktual dan angka-angka, secara alami menjadikannya seorang wartawan keuangan. Inilah modal ia melahirkan pemikiran tentang manajemen disusul dengan gelar doktor yang diraihnya di Frankfurt. Susul menyusul buku-buku manajemen ekonomi ia relis, selalu mendapat sambutan hangat dari pembaca. Sebagai seorang penulis, tulisannya mudah dipahami, sebagai seorang pembicara yang fasih ia sangat disenangi pendengarnya.

Apa pemikiran yang monumental dari pemikir manajemen satu ini? Druker mengajarkan struktur desentralisasi. Ini didapatkan dari studi kasus di General Motors. Ia menyebutkan, kantor pusat harus menahan diri untuk tidak mengatur suatu divisi bagaimana melakukan pekerjaanya.
“Apa yang terbaik bagi General Motors adalah bagi pula pagi Amerika,” ungkap Wilson dari General Motors. Drucker berkomentar: Apa yang baik bagi Amerika adalah baik pula bagi  General Motors (1953).

Beberapa gagasan yang baik untuk jadi tindakan dikemukakan Drucker setiap waktu. Misalnya, luangkan waktu sebanyak yang diperlukan dalam membuat keputusan yang mempengaruhi orang banyak. Kemudian memastikan semua orang memahami mengenai apa sebenarnya bisnis yang dilakukan. Dan jangan pernah tinggalkan untuk mempelajari apa yang terjadi di luar bisnis dan diantara pelanggan maupun non pelanggan.
Pemikiran Druker tidak jauh dari manajemen berdasarkan sasaran. Desentralisasi dan delegasi. Mengelola pekerjaan pengetahuan. Menggunakan fokus pelanggan. Melakukan manajemen waktu. Mengembangkan kekuatan inovasi.

“Pada akhirnya, visi dan tanggung jawab moral yang mendefinisikan seorang manajer,” ungkap Peter Drucker. Sayangnya, realitas pada banyak tempat dan badan usaha, trik individualitas sering kali merasuk dan membusukkan keadaan. Karena ambisi pribadi telah mengaduk diri dalam kepentingan bisnis. Menyaru bagai hantu.

*Robert Heller, Peter Drucker, Esensi, Jakarta, 2008

Peter F. Drucker: Ayah dari Teori Manajemen


peterdrucker Peter F. Drucker dikenal sebagai pencipta dan penemu dari manajemen modern.

“Dunia tahu dia yang paling besar dari manajemen pemikir abad terakhir,” Jack Welch, mantan ketua dari General Electric Co

Dia adalah sebagian dari kontribusi ia dibuat untuk manajemen

Dimulai pada 1940 dari

  • Memperkenalkan gagasan tentang desentralisasi, yang menjadi prinsip untuk bedrock hampir setiap organisasi besar di dunia.
  • Dia adalah yang pertama untuk menegaskan, pekerja yang harus diperlakukan sebagai aset, bukan sebagai kewajiban yang harus dihilangkan.
  • Dia berasal dari tampilan korporasi sebagai masyarakat manusia, sekali lagi, dibangun berdasarkan kepercayaan dan kehormatan bagi pekerja dan bukan hanya keuntungan mesin, sebuah perspektif yang memenangkan Drucker yang hampir ilahiyah penghormatan di antara Jepang.
  • Ia menjadi jelas bahwa ada “no bisnis tanpa pelanggan,” sederhana bahwa ushered baru dalam pemasaran pikiran-set.
  • Pada tahun 1960-an jauh sebelum Dia berpendapat lain bagi pentingnya substansi lebih gaya, untuk institutionalized melalui praktek karismatik, pemimpin agama.
  • And it was Drucker lagi yang menulis tentang kontribusi pengetahuan pekerja lama sebelum orang tahu atau memahami bagaimana pengetahuan akan truf sebagai bahan baku yang penting ibukota Ekonomi Baru.

Mengingat negara bisnis di Amerika, dengan total hampir roboh dari tembok jalanan dan industri perbankan. Kepemimpinan yang tidak ada integritas, yang memimpin oleh keserakahan dan pelestarian diri keluar dengan hal lain. Mungkin ini saatnya untuk kembali dasar kebenaran yang ditemukan oleh Drucker dan menempatkan mereka kembali ke dalam praktek.

Pada tahun 1981 Drucker posed dua pertanyaan ke Jack Welch yang arguably berubah kebebangan Welch dari jabatan: “Jika Anda sudah tidak dalam bisnis, Anda akan masuk hari ini?” Ia bertanya. “Dan jika jawabannya tidak, apa yang Anda akan lakukan itu?”

Pertanyaan mereka yang dipimpin Welch kepada pertama transformatif gagasan besar: bahwa setiap usaha di bawah payung GE harus baik No 1 atau No 2 di kelasnya. Jika tidak, Welch menetapkan bahwa bisnis harus tetap, dijual, atau ditutup. Itu adalah inti strategi yang membantu Welch remake GE menjadi salah satu perusahaan paling sukses di Amerika selama 25 tahun.

Saya pikir setiap manajer / pemimpin bisnis di Amerika dan kebutuhan mereka sendiri untuk bertanya sama dua pertanyaan dan bertindak atas mereka.

Berikut adalah daftar dari penawaran Drucker pada manajemen, semua pemimpin harus membawa mereka ke jantung.

  • The best way to predict the future is to create it.
  • Tujuan dari usaha ini adalah untuk membuat pelanggan.
  • Kecuali komitmen dibuat, hanya ada janji-janji dan harapan … tapi tidak ada rencana.
  • So much dari apa yang kita panggil manajemen terdiri dalam sehingga sulit bagi mereka untuk bekerja.
  • Saya sangat kuat sebagai seorang konsultan harus mengetahui dan menanyakan beberapa pertanyaan.
  • Menerima kenyataan bahwa kita harus hampir semua memperlakukan sebagai seorang sukarelawan.
  • Usaha, yang ditetapkan dengan mudah – itu uang orang lain.
  • Peringkat tidak memberi hak atau memberi kuasa. It menyebabkan tanggung jawab.
  • Memeriksa hasil keputusan terhadap harapan para eksekutif menunjukkan apa yang mereka kekuatan, di mana mereka harus memperbaiki, dan di mana mereka tidak memiliki pengetahuan atau informasi.
  • Budaya perusahaan seperti negara budaya. Jangan pernah mencoba untuk mengubah satu. Coba, sebagai gantinya, bekerja dengan apa yang Anda punya.
  • Efektif tentang kepemimpinan tidak membuat pidato atau tidak suka; kepemimpinan adalah hasil tidak ditentukan oleh atribut.
  • Efisiensi adalah melakukan sesuatu kanan; efektivitas adalah melakukan sesuatu yang tepat.
  • Ikuti efektif refleksi tindakan dengan tenang. Sepi dari refleksi akan datang lebih efektif tindakan.
  • Orang yang tidak mengambil risiko umumnya membuat kesalahan besar sekitar dua tahun. Orang yang mengambil risiko umumnya membuat kesalahan besar sekitar dua tahun.

Sumber : Transformational leadershif

Sekilas tentang Peter F. Drucker


Peter Ferdinand Drucker (19 November 190911 November 2005) adalah seorang penulis, konsultan manajemen, dan “ekolog sosial.”[1] Ia sering disebut sebagai bapak “manajamen modern.” Ratusan artikel ilmiah dan populer serta 39 bukunya menjelaskan bagaimana manusia diorganisir pada setiap sektor masyarakat—bisnis, pemerintah, maupun organisasi non-profit.[2] Tulisan-tulisannya juga berhasil memprediksi berbagai peristiwa yang terjadi di abad ke-20 seperti privatisasi dan desentralisasi; kebangkitan Jepang sebagai kekuatan ekonomi dunia; peran pemasaran yang semakin meningkat; dan kebutuhan akan sebuah masyarakat informasi.[3] Pada tahun 1959, Drucker memperkenalkan istilah “Pekerja pikiran” (knowledge worker).”[4]

Beberapa kutipan beliau tentang manajemen :

  • “Cara terbaik memprediksi masa depan adalah dengan menciptakannya.”
  • Management is doing things right; leadership is doing the right things.
  • “Apa yang bisa diukur pasti bisa ditingkatkan.”
  • “Budaya perusahaan memiliki sifat yang mirip dengan budaya sebuah negara. Jangan pernah mencoba mengubahnya. Alih-alih begitu, cobalah untuk bekerja dengan budaya yang ada.”
  • The most important thing in communication is hearing what isn’t said.
  • “Tujuan dari bisnis adalah menciptakan dan mempertahankan pelanggan.”
  • People who don’t take risks generally make about two big mistakes a year. People who do take risks generally make about two big mistakes a year.
  • “Tak ada yang lebih tak berguna daripada berusaha melakukan efesiensi untuk hal-hal yang sebenarnya tidak perlu dilakukan sama sekali.”

Referensi :

  1. Drucker, Peter F., “Reflections of a Social Ecologist,” Society, May/June 1992
  2. Drucker Institute – About Peter Drucker
  3. Byrne, John A., “The Man Who Invented Management,” BusinessWeek, Nov. 28, 2005
  4. Drucker, Peter F., Concept of the Corporation, Preface to the 1983 edition, p. xvii, (1983)

Perjalanan Philip Kotler


Posted by yoki kuncoro on January 3, 2007

philipkotler2.jpgTanggal 7 Agustus 2006 ini terasa sangat istimewa bagi para akademisi maupun praktisi bisnis. Pasalnya, Philip Kotler—salah satu guru marketing yang banyak berjasa dalam pengembangan ilmu marketing di dunia, telah memasuki usia ke-75. Sebuah usia yang bisa dikatakan sebagai masa penuh kebahagiaan setelah banyak memberikan karya dan pemikiran yang menginspirasi semua orang.

Sampai saat ini, Kotler telah banyak memberikan kontribusi yang sangat signifikan di dunia marketing. Banyak buku yang telah ditulis dan memberikan pemikiran baru di dunia marketing. Mulai dari textbook, sampai buku-buku praktis telah banyak ditulis. Sehingga para akademisi dan praktisi bisnis menjadikan ide-ide Kotler sebagai pegangannya. Tidak heran bila Kotler menjadi salah satu pemikir yang berpengaruh di dunia bisnis.

Sampai-sampai Kotler berhasil dinobatkan oleh Financial Time, media harian internasional bergengsi di dunia, sebagai ”Most Influential Business Writer or Management Guru”, dibelakang Jack Welch, Bill Gates, dan Peter Drucker.

Namun, ada cerita menarik bila kita coba melihat kebelakang proses perjalanan hidup Kotler hingga akhirnya menjadi guru marketing dunia. Ternyata, sebelum menjadi guru marketing, Kotler adalah seorang ekonom yang cukup banyak menyumbangkan pemikirannya di jurnal-jurnal ekonomi.

Proses pendidikan yang ditekuninya pun selalu seputar ilmu ekonomi. Gelar Masternya didapat dari University of Chicago, sedangkan gelar PhD dari MIT. Keduanya dalam bidang ekonomi. Dengan maksud memperkuat daya analisis ilmu ekonominya, Kolter kemudian melanjutkan studi post-doctoral-nya di Harvard Universerty dalam bidang matematika dan di University of Chicago dalam bidang ilmu pengetahuan perilaku (behaviour science).

Kesuksesan Kotler sebagai ilmuwan memang tidak diragukan. Hal ini terlihat dari berbagai peghargaan sebagai doktor kehormatan dari berbagai universitas terkenal di dunia, diantaranya Stockholm University, University of Zurich, Athens University of Economics and Business, DePaul University, the Cracow School of Buisness and Economics, Groupe H.E.C. di Paris, the University of Economics and Buisness Adminsitration di Vienna.

Menariknya, guru marketing yang lahir 7 Agustus 1931 di Chicago, Amerika, sering merasa kurang puas terhadap penjelasan-penjelasan yang ada dalam ilmu ekonomi. Kotler merasa bahwa ilmu ekonomi terlalu menyederhanakan pasar dalam konteks yang sebenarnya. Ilmu ekonomi banyak fokus ke harga dalam kaitannya dengan permintaan dan penawaran. Padahal peran dari iklan, tenaga penjualan, dan saluran penjualan dalam menciptakan permintaan sangatlah besar.

Akhirnya, Kotler pun berkesimpulan bahwa marketing adalah bagian dari ekonomi dan mempercaya ilmu ekonomi untuk menghasilkan ilmu ekonomi modern.

Perjalanan hidup Kotler yang menarik tidak hanya di bidang ilmu saja, dari ekonomi ke marketing. Tetapi juga perjalanan panjangnya dalam memberikan pemikiran-pemikiran barunya dari dunia akademis ke dalam dunia praktis.

Selain menjadi guru besar ilmu marketing di Kellog School of Managment, kotler juga banyak membantu perusahaan-perusahaan besar dunia dalam lingkup strategi dan perencanaan marketing, marketing organisasi, dan internasional marketing. IBM, General Electric, AT&T, Honeywell, Bank of America dan Merck adalah beberapa perusahaan yang pernah mendapatkan insprasi dari Kotler.

Perjalanan hidup lainnya yang cukup menarik adalah, ketertarikan Kotler untuk berkontribusi lebih luas ke banyak negara di luar Amerika dan Eropa, yaitu Asia. Hal ini dibuktikannya dengan banyak memberikan seminar, pengajaran, dan menulis buku bersama dengan para akademisi dan praktisi bisnis di Asia. Kotler juga banyak menganalisis kasus-kasus perusahaan dan isdustri di Asia.

Misalnya saja buku “Rethinking Marketing” yang mencoba untuk menawarkan pemikiran baru ilmu marketing. Buku ini ditulis bersama ahli-ahli marketing Asia seperti Hooei Dan Huan, Sandra Liu, dan Hermawan Kartajaya. Selain itu ada juga buku “Repositioning Asia” dan “Attracting Investor” yang berusaha menganalisis kasus dan strategi bisnis perusahaan-perusahaan di Asia.

Intensitas keterlibatan Kotler dalam pengembangan dunia marketing di Asia memang tidak setengah-setengah. Hal ini dibuktikan Kotler dengan mendirikan Philip Kotler Center for ASEAN Marketing yang diresmikan pada November 2005 lalu di kantor sekertariat ASEAN. Philip Kotler Center yang bertempat di MarkPlus Institute of Marketing (MIM), Jakarta, merupakan organisasi nirlaba yang sengaja didirikan bagi pengembangan ilmu marketing di negara-negara ASEAN.

Melihat perjalanan hidup Kotler yang sarat kontribusi terhadap dunia marketing, menyebabkan banyak institusi yang mempersiapkan diri untuk memberikan penghargaan kepada Kotler pada saat berulang tahun. Seperti misalnya Kellogg School of Mangement yang mengadakan acara Kotler’s Day dengan tujuan mengundang seluruh kolega Kotler untuk memberi apresiasi di hari ulang tahunnya.

Tidak ketinggalan, Philip Kotler Center yang bertempat di kampus MIM Jakarta juga mengadakan Kotler’s Day dengan tema Revisiting Kotler’s Influence to the Marketing World. Acara ini akan diisi beberapa praktisi bisnis dan akademisi dari perguruan tinggi terkenal di Indonesia seperti Jacky Mussry dari MarkPlus&Co, Budhi Sugarda dari Universitas Indonesia, Danie Prakosa dari Indonesian Business Links, dan Y.W. Junardy dari Indonesian Marketing Association.

Alhasil, perjuangan dan perjalanan Philip Kotler baik sebagai ilmuwan maupun praktisi bisnis yang banyak berkontribusi di dunia marketing tidaklah sia-sia. Hal ini bisa terlihat dari sangat banyaknya penghargaan dan apresiasi dari semua kalangan terhadap usaha Kotler selama ini. Kotler pun berhasil menjadi salah satu pemikir yang cukup berpengaruh di dunia bisnis, khususnya dunia marketing***

Sumber :http://yokikuncoro.wordpress.com

Rumus Warren Buffett


Siapa orang jenius selain Albert Einstein, penemu teori relativitas E = MC2 (E: energi, M: massa, dan C: kecepatan)? Robert P. Miles, penulis buku asal Amerika Serikat, tak akan ragu menjawabnya: Warren Buffett. Ya, Buffett. Dia investor ulung yang mampu meroketkan duit US$ 3.700 (Rp 36 juta) pada 1965 menjadi US$ 100 miliar (sekitar Rp 920 triliun) pada 2006.
Buffett, kata dia, juga punya rumus E = MC2. E atau earning, yang artinya investasi harus untung; M atau management (investasi harus dikelola dengan benar); dan C atau character (karakter). “Investasi tanpa manajemen ibarat Menara Eiffel tanpa elevator (tangga berjalan),” ujarnya mengutip prinsip Buffett dalam seminar yang digelar Danareksa Sekuritas di Jakarta kemarin.
Miles, yang juga sahabat Buffett, sudah menulis tiga buku tentang orang terkaya di dunia saat ini. Ketiga buku itu adalah The Warren Buffett CEO: Secrets from the Berkshire Hathaway Managers, 101 Reason to Own the Greatest Investment: Warren Buffett’s Berkshire Hathaway, dan Warren Buffett Wealth: Principles and Practical Method Used by the World Greatest Investor. “Dia bijaksana dan tidak emosional dalam berinvestasi,” ujarnya

Teori Investasi Nilai Ala Buffett


Siapa tak kenal Warren Buffett? Orang terkaya sekaligus investor jempolan asal negeri Paman Sam ini terbilang investor jenius yang menciptakan pemikiran-pemikiran dalam memutar uang untuk menjadi investor tulen.

Salah satu kejeniusan pemikirannya adalah teori nilai yang diringkas menjadi kesadaran bahwa harga pasar harus lebih rendah dari nilai.

Siapa sangka dengan teorinya itu, seorang Buffett yang memulai investasi dengan US$ 3.700 pada tahun 1965 berhasil melipatgandakannya menjadi US$ 100 miliar di tahun 2006.

Hal ini disampaikan oleh Robert P. Miles seorang penulis sekaligus sahabat Warren Buffett dalam acara Danareksa Sekuritas Investor Gathering, the science of investing and the art of managing yang di paparkan oleh penulis Robert Miles, di Hotel Ritz Carlton Pacific Place, SCBD, Sudirman, Jakarta, Selasa (12/8/2008).

Menurut Miles, Buffett adalah sosok investor yang jenius yang memiliki teori value investing, yang selalu mengedepankan investasi dibawah nilai. Ia tidak takut masuk ke pasar pada saat nilai pasar sedang turun, namun ia akan mendapatkan keuntungan (gain) pada saat harga pasar naik.

“Ia juga tidak lupa selalu mengontrol emosinya,” kata Miles.

Miles menambahkan, Buffett seorang investor yang tidak hanya terpaku dengan harga pasar karena hal itu tidak benar-benar mewakili bisnis tertentu. Menurutnya, sosok Buffet selalu berprinsip bahwa market adalah pelayan kita bukan tuan bagi kita (investor).

Ia juga menambahkan, sosok Buffett adalah fenomena baru dalam dunia investasi sekarang ini, ia telah memadukan kemampuan berfikir, matematika dan keterampilan dirinya.

Perjalanan pertualangan memutar uangnya, berawal saat mendirikan sebuah perusahaan tekstil kecil, dan menyulapnya menjadi sebuah konglomerat dunia yang paling dihormati. Kisah hidupnya ini sering dinilai sebagai sebuah dongeng ajaib yang dipadukan dengan kejeniusan dan karakter.

Pria berusia 77 tahun ini telah menyandang sebagai orang terkaya, menggeser orang terkaya sebelumnya Bill Gates yang telah menyandangnya selama 8 tahun berturut-turut.

Dikatakan oleh Miles, bahwa Buffett orang yang mampu membedakan antara karakter dan reputasi, serta menggunakannya dalam berinvestasi.

Melalui bendera Berkshire Hathaway Inc, Buffett juga memiliki anak usaha bisnis yang beragam, mulai dari properti, asuransi dan reasuransi, perlengkapan dan energi, keuangan, manufaktur, hingga jasa dan ritel.

Salah satu anak usahanya yang menjadi satu dari empat perusahaan asuransi terbesar di AS, dan satu dari dua perusahaan reasuransi terbesar didunia adalah GEICO.

Buffett juga memiliki International Dairy Queen yang merupakan pemegang lisensi dan pelayanan di lebih dari 6.000 outlet yang menawarkan Dairy Treats and Food. Bahkan induk usaha (Berkshire Hathaway Inc) yang dimilikinya tersebut berhasil membukukan Compounded Annual Gain (1965-2007) sebesar 21,1% berbanding 10,3% yang dimiliki oleh indeks S&P 500 di AS.

Buffet sangat konsisten dengan portofolio investasinya, ia memiliki komposisi investasi 30% di asuransi, 10% di energi, dan 60% di manufaktur serta jasa dan ritel.

Ia juga pernah mengalami kegagalan, pernah merugi ketika berinvestasi pada sebuah maskapai yang membuatnya kehilangan uang hingga ratusan ribu bahkan jutaan dolar. Namun sebagai investor ulung Buffet tidak melihat itu sebagai aksi yang salah, namun ia memandangnya sebagai jalan yang berbeda.

Dan Buffet di tahun 2008 sukses menjadi orang terkaya versi majalah Forbes dengan harta US$ 62 miliar, sekaligus mengalahkan cadangan devisa Indonesia yang per akhir Juli hanya mencapai US$ 60,56 miliar.

Pria kelahiran Nebraska, 30 Agustus 1930 itu sukses mendepak sahabatnya, Bill Gates yang sudah bertahun-tahun menduduki tahta sebagai orang terkaya di dunia.

%d blogger menyukai ini: