Posts from the ‘MANAJEMEN PENELITIAN’ Category

Analisa hermeneutika


Metode adalah cara atau strategi menyeluruh untuk menemukan atau memperoleh data yang diperlukan. Menurut Bogdan dan Taylor, metodologi adalah suatu proses, prinsip, dan prosedur yang kita gunakan, untuk mendekati problem dan mencari jawaban. Dan sebenarnya metodologi dipengaruhi atau berdasarkan perspektif teoretis yang kita gunakan untuk melakukan penelitian, sementara perspektif teoretis itu sendiri adalah suatu kerangka penjelasan atau interpretasi yang memungkinkan peneliti memahami data dan menghubungkan data yang rumit dengan peristiwa dan situasi lain [1].

SEPERTI teori, metodologi juga diukur berdasarkan kemanfaatannya, dan tidak bisa dinilai apakah suatu metode benar atau salah. Untuk menelaah hasil penelitian secara benar, kita tidak cukup sekadar melihat apa yang ditemukan peneliti, tetapi juga bagaimana peneliti sampai pada temuannya berdasarkan kelebihan dan keterbatasan metode yang digunakannya.

Adapun pengertian dari metode penelitian adalah teknik-teknik spesifik dalam penelitian (Mulyana, 2001:146). Sebagian orang menganggap bahwa metode penelitian terdiri dari berbagai teknik penelitian, dan sebagian lagi menyamakan metode penelitian dengan teknik penelitian. Tetapi yang jelas, metode atau teknik penelitian apa pun yang kita gunakan, baik kuantitatif ataupun kualitatif, haruslah sesuai dengan kerangka teoretis yang kita asumsikan.

Sebelum penulis menggambarkan dan menjelaskan lebih jauh tentang pendekatan Hermeneutika dan juga pemetaan ideologi peneliti yang diambil oleh penulis  yakni teori hermeneutika dari Paul Ricoeur, maka ada baiknya terlebih dahulu diulas karakteristik dari metodologi kualitatif dalam presfektif hermeneutika. Banyak alasan ketika penulis harus menggunakan metodologi penelitian kualitatif untuk penelitian bahasa sebagai sebuah pendekatan. Salah satu aspek terpenting dari pendekatan ini adalah lebih mementingkan proses, yaitu sebuah keniscayaan dari komunikasi sebagai suatu proses yang diterima dari luar.

Lalu metode kualitatif  juga mempermudah untuk berhadapan dengan kenyataan ganda, dan metode ini menyajikan secara langsung hakikat hubungan  antara peneliti dan responden dan selanjutnya kualitatif lebih peka  dan lebih dapat menyesuaikan diri dengan banyak penajaman pengaruh bersama dan terhadap pola-pola nilai yang dihadapi. Oleh sebab itu, diharapkan dapat menganalisis lebih mendalam  dan menginterpretasikan kondisi atau hubungan yang ada, proses yang sedang berlangsung, akibat yang sedang terjadi atau fenomena yang sedang berkembang. Penelitian dilakukan dengan menganalisis dan menginterpretasikan  data yang tersedia. Pada dasarnya penelitian ini meletakkan penekanan pada subyektifitas untuk melakukan interpretasi terhadap suatu persoalan yang dikajinya.

Seperti yang ditegaskan Deddy Mulyana dalam bukunya Metodologi Penelitian Kualitatif, penelitian ini mencari respon subyektif individual. Hasil penelitian dari metodologi penelitian kualitatif selalu terbuka untuk persoalan baru. Ini sesuai dengan pandangan subyektif mengenai realitas sosial bahwa: fenomena sosial senantiasa bersifat sementara, bahkan bersifat polisemik (multimakna), dan tetap diasumsikan demikian hingga terjadi negosiasi berikutnya untuk menetapkan status realitas tersebut.

Lalu Denzim dan Lincoln (1987) mendefinisikan penelitian kualitatif yakni  penelitian yang menggunakan latar alamiah, dengan maksud menafsirkan fenomena yang terjadi dan dilakukan dengan jalan melibatkan berbagai metode yang ada. Dan bersifat multimetoda, dalam fokusnya menggunakan pendekatan naturalistik interpretatif kepada subyek yang diteliti (Rakhmat, 2004:4). Menurut Miles dan Huberman, penelitian kualitatif berusaha menelaah secara intensif kehidupan sehari-hari, selain itu juga bersifat holistik, berujung pada Verstehen (pemahaman), menghasilkan tema dan pernyataan dalam bentuknya yang asli, dan menjelaskan cara pandang orang dalam setting tertentu, mengungkapkan berbagai penafsiran, dengan instrumentasi yang tidak baku, juga menganalisis dalam bentuk kata (Rakhmat, 2004:2).

Penulis juga menyadari bahwa apapun metodologinya tetap memiliki keterbatasan, seperti yang dinyatakan Dedy Mulyana bahwa Suatu persepektif bersifat terbatas, dan mengandung bias, karena hanya memungkinkan manusia melihat satu sisi saja dari realitas “di luar sana”[2].  Dengan kata lain, tidak ada perspektif yang memungkinkan manusia dapat melihat semua aspek realitas secara simultan.

Dengan demikian penelitian kualitatif dengan menggunakan konsep cara kerja ideologi pun dapat mengalami pembiasan. Karena bagaimanapun suatu persepektif tak bisa lepas dari suatu tendensi, maksud, tujuan dan sebagainya. Dalam penelitian ini, yang menjadikan cara kerja ideologi seperti yang akan dibahas penulis yakni sebagai peran utama tak terkecuali mengalami pembiasan ketika meneliti suatu fenomena ilmiah, biasanya seorang peneliti menggunakan suatu perspektif yang ia anggap secara akurat menjelaskan fenomena yang ia teliti. Tentu saja dalam dunia keilmuan, penjelasan yang akurat merupakan tujuan dari suatu perspektif yang baik. Perspektif yang baik mengambarkan realitas secara jelas, dan membantu kita menemukan kebenaran.

Namun kebenaran itu berada di luar manusia, dengan suatu perspektif, realitas itu tidak pernah benar-benar hadir sempurna pada manusia. Sehingga dalam penelitian ini perspektif ini hanyalah mendekatkan pada kenyataan bukan pada kenyataan sebenarnya. Mengutip Stuart Hall, kenyataan atau kebenaran itu merupakan representasi dari teks-teks yang kita baca, pelajari kemudian kita terjemahkan dan tafsirkan lagi. Bahwa kenyataan mengandung distorsi atau dalam bahasa Dedy Mulyana kenyataan itu mengandung bias.

Namun pemilihan penelitian kualitatif dengan paradigma atau metodologi cara kerja ideologi menyediakan beberapa “kemudahan” yang signifikan dalam penelitian bahasa ini. Sebagai peneliti penulis lebih dimudahkan untuk memahami realitas-realitas ganda dalam proses penelitian, adanya interaksi yang intim antara peneliti dan diteliti, subyek penelitian juga merespon sistematika penelitian yang disusun, dan sebagainya.

Asal Usul Hermeneutika

Disepanjang sejarahnya, hermeneutika secara sporadis muncul dan berkembang sebagai teori interpretasi. Ketika setiap orang menuntut kebutuhan akan kepuasan fungsi otaknya dalam mencapai sesuatu yang ada disekelilingnya, ini berarti bahwa otak selalu bertanya-tanya dan aktif menafsirkan apa yang diterimanya, termasuk interaksi sesama manusia lewat bahasa yang memerlukan penafsiran plural. Proses tafsir dalam diri manusia akan terus berlangsung selama ia hidup. Melalui bahasalah pengalaman itu bisa digeneralisasikan ke setiap manusia. Ini arti penting dalam penelitian bahasa bisa dilihat dari sudut interpretasi yang mendalam.

Secara etimologis, akar kata hermeneutika berasal dari bahasa Yunani hermeneuein yang berarti ‘menafsirkan’. Maka, kata benda hermeneia secara harfiah dapat diartikan sebagai “penafsiran” atau interpretasi (Sumaryono,1999:23). Di dalam istilah itu secara langsung terkandung unsur-unsur penting yaitu: mengungkapkan, menjelaskan, dan menerjemahkan. Adapun asal-usul  hermeneutika sendiri yakni ketika Hermes  menyampaikan pesan para  dewa kepada manusia. Dan hermeneutika pada akhirnya diartikan sebagai ‘proses mengubah sesuatu atau situasi ketidaktahuan menjadi mengerti’.

Richard Palmer (2003:15-36) menyatakan ada tiga bentuk arti dari hermeneuein yaitu hermeneuein sebagai “mengatakan”, yang merupakan signifikansi teologis hermeneutika merupakan etimologi yang berbeda yang mencatat bahwa bentuk dari herme berasal dari bahasa Latin sermo, “to say” (menyatakan), dan bahasa Latin lainnya verbum, “word” (kata). Ini mengasumsikan  bahwa utusan, didalam memberitakan kata, adalah “mengumumkan” dan “menyatakan”. Lalu hermeneuein sebagai “to explain”, interpretasi sebagai penjelasan menekankan aspek pemahaman diskursif, ia menitikberatkan pada penjelasan ketimbang dimensi interpretasi akspresif. Dan terakhir hermeneuein sebagai “to translate”, yang mempunyai dimensi  “to interpret” (menafsirkan) bermakna “to translate” (menerjemahkan), yang merupakan bentuk khusus dari proses interpretatif dasar “membawa sesuatu untuk dipahami”. Jadi ketika suatu teks berada dalam bahasa pembaca, benturan antara dunia teks dengan pembaca itu sendiri dapat menjauhkan perhatian.

 Definisi Hermeneutika

Hermeneutika dapat didefinisikan secara longgar sebagai suatu teori atau filsafat interpretasi makna. Kesadaran bahwa ekspresi-ekspresi manusia berisi sebuah komponen penuh makna, yang harus disadari sedemikian rupa oleh subjek dan yang diubah menjadi system nilai dan maknanya sendiri, telah memunculkan persoalan-persoalan hermeneutika. Dalam pandangan klasik, hermeneutik mengingatkan kita pada apa yang ditulis Aristoteles dalam Peri Hermeneias atau De Interpretatione. Yaitu bahwa kata-kata yang kita ucapkan adalah simbol dari pengalaman mental kita, dan kata-kata yang kita tulis adalah simbol dari kata-kata yang kita ucapkan itu. Bahasa tidak boleh kita pikirkan sebagai yang mengalami perubahan. Menurut Gadamer bahasa harus kita pahami sebagai sesuatu yang memiliki ketertujuan (teleologi) di dalam dirinya. Karena kata-kata ataupun ungkapan mempunyai tujuan (telos) tersendiri atau penuh dengan maksud, demikian dikatakan Wilhelm Dilthey. Setiap kata tidak pernah tidak bermakna.

Disiplin ilmu pertama yang banyak menggunakan hermeneutika adalah ilmu tafsir kitab suci. Sebab semua karya yang mendapatkan inspirasi ilahi seperti Al-Quran, kitab Taurat, kitab-kitab Veda; dan Upanishad supaya dapat dimengerti memerlukan interpretasi atau hermeneutika. Tapi dalam bukunya Hermeneutika, teori baru mengenai interpretasi, Richard Palmer mengemukakan enam definisi modern hermeneutika:

“Pertama hermeneutika sebagai teori eksegesis Bibel yakni merujuk pada prinsip-prinsip interpretasi Bibel, dan hal tersebut memasuki penggunaan modern sebagai suatu kebutuhan yang muncul dalam buku-buku yang menginformasikan kaidah-kaidah eksegesis kitab suci (skriptur). Yang kedua hermeneutika sebagai metodelogis filogogis yang menyatakan bahwa metode interpretasi yang diaplikasikan terhadap Bibel juga dapat diaplikasikan terhadap buku yang lain, selalnjutnya yang ketiga hermeneutik sebagai ilmu pemahaman linguistik, schleiermacher punya distingsi tentang pemahaman kembali hermeneutika sebagai “ilmu” atau “seni” pemahaman, dan hermeneutik sebagai sejumlah kaidah  dan berupaya membuat hermeneutika sistematis-koheren, sebagai ilmu yang mendeskripsikan konsdisi-kondisi pemahaman dalam suatu dialog. Keempat, hermeneutika sebagai fondasi metodologi bagi geisteswissenschaften yang melihat inti disiplin yang dapat melayani sebagai fondasi bagi geisteswissenschaften (yaitu, semua disiplin yang memfokuskan pada pemahamn seni, aksi, dan tulisan manusia). Kelima, hermeneutika sebagai fenomenologi dasein dan pemahaman eksistensial, dalam konteks ini tidak mengacu pada ilmu atau kaidah interpretasi teks atau pada metodologi bagi geisteswissenschaften, tetapi pada penjelasan fenomenologisnya tentang keberadaan manusia itu sendiri. Yang terakhir hermeneutika  sebagai sistem interpretasi:menemukan makna vs ikonoklasme yakni sebuah interpretasi teks partikular atau kumpulan potensi tanda-tanda keberadaan yang dipandang sebagai teks”[3]

Hermeneutika adalah kata yang sering didengar dalam bidang teologi, filsafat, bahkan sastra. Dalam Webster’s Third New Internasional Dictionary dijelaskan bahwa hermeneutika adalah studi tentang prinsip-prinsip metodelogis interpretasi dan eksplanasi. Pada dasarnya hermeneutika adalah landasan filosofi dan merupakan juga modus  analisis data. Sebagaimana filosofi pada pemahaman manusia, hal itu menyediakan landasan filosofi untuk interpretativisme. Sebagai modus analisis hal itu berkaitan dengan pengertian data tekstual. Hermeneutika terutama berkaitan dengan pemaknaan suatu analog teks, seperti yang didefinisikan Palmer dalam salah satu definisi hermenutika modernnya. Pertanyaan dasar apa teks itu?, teks seperti apa yang dipahami hermeneutika? Artinya apa dasarnya sebagian para peneliti berpendapat kalau analisa penelitian kuantitatif lebih akurat tingkat kebenarannya sehingga menjadi kiblat utama dalam penelitian.

Menurut Ricouer (Bleicher,2003:357), teks yang dipahami Hermeneutika adalah adanya otonomi teks, konteks sosio cultural dan alamat aslinya mengijinkan prakondisi bagi penjarakan interpretor dari teks. Dalam memahami teks, maka antara teks, pengarang dan pengkaji harus dihubungkan dengan realitas masyarakat yang kontemporer, jadi ketiga unsur tersebut harus bersinergi, meskipun ada pemutusan antara teks dan pengarangnya dalam hal subjeknya.

Sebuah teks pada dasarnya bersifat otonom, untuk melakukan ‘dekonstekstualisasi’ , baik dari sudut pandang sosiologis, maupun psikologis, serta untuk melakukan ‘rekonstekstualisasi’ secara berbeda didalam tindakan membaca (‘dekontekstualisasi’ = proses ‘pembebasan’ diri dari konteks; ‘rekonstekstualisasi’ = proses masuk kembali kedalam konteks). Otonomi teks sendiri menurut Ricour ada tiga macam: intensi atau maksud pengarang, situasi kultural dan kondisi sosial pengadaan teks, dan untuk siapa teks itu dimaksudkan. Atas dasar otonomi  ini,  maka yang dimaksudkan dengan “dekonstekstualisasi” adalah bahwa materi teks “melepaskan diri” dari cakrawala intensi yang terbatas dari pengarangnya.

Mengutip pernyataan Paul  Ricoeur dalam buku Filsafat Wacana,  Membedah Makna dalam Anatomi Bahasa (2002:217) yang secara mendasar mengatakan  bahwa teks adalah  any discourse fixed by writing. Pertama Ricouer memahami arti discourse sendiri, merujuk kepada  bahasa sebagai event yaitu bahasa yang membicarakan sesuatu. Dalam hal ini  ada dua jenis artikulasi discourse yaitu bahasa lisan dan bahasa tulis atau teks. Jenis yang kedua dari artikulasi ini memperlihatkan  bahwa teks adalah  korpus yang otonom, mandiri dan totalitas, yang dicirikan dalam empat hal. Pertama, dalam sebuah teks terdapat makna dari apa yang dikatakan (what is said) terlepas dari proses pengungkapannya (the  act  of saying), kedua makna sebuah teks  tidak lagi terikat kepada pembicara atau tidak terkait dengan apa yang  dimaksudkan oleh penulisnya. Bukan berarti penulis tidak diperlukan, meskipun Ricouer sempat mengatakan  tentang “kematian penulis” yang maksudnya  kematian bukan dalam arti sebenarnya atau transidental tetapi maksudnya si penulis terhalang oleh teks  yang sudah membaku. Seperti juga yang dikatakan oleh Barthes bahwa “pengarang sudah mati”, ini tentunya hanya sebuah metafora untuk menggambarkan bahwa tidak lagi semangat dan jiwa pengarang dalam karyanta. Pengarang tidak lagi bicara. Menurut Barthes,

…adalah bahasa yang bicara, bukan pengarang; menulis, melalui prasyarat-prasyarat impersonalitasnya (jangan dikacaukan dengan objektivitas kebiri para novelis realis), adalah proses mencapai satu titik dimana hanya bahasa yang beraksi, memainkan peran, dan bukan saya (Piliang, 1999:119)

Matinya sang pengarang dalam era postmodern diiringi dengan lahirnya para pembaca (reader), dan berkembangnya model writerly text, yaitu teks yang menjadikan pembaca/ teks-teks sebagai pusat penciptaan , ketimbang pengarangnya sendiri. Matinya sang pengarang, juga diikuti dengan  dengan munculnya apa yang disebut oleh Catherine Belsey sebagai kekuatan pembaca (reader’s power). Dalam model ini, para pembaca dibebaskan dari tirani pengarang , dan mereka berpeluang untuk berpartisipasi dalam menghasilkan pluralitas makna dan diskursus. Ketiga makna tidak terikat lagi pada sebuah sistem dialog, maka sebuah teks  tidak lagi terikat pada sistem semula (ostensive reference), ia tidak terikat pada konteks asli dari pembicaraan. Apa yang ditunjuk sebuah teks , adalah dunia imajiner yang dibangun oleh teks itu sendiri, yang terakhir dengan demikian teks juga tidak terikat  kepada audience awal, sebuah teks ditulis bukan untuk pembaca tertentu tetapi siapapapun yang bisa membaca dan tidak terbatas oleh ruang dan waktu.

Cara Kerja Hermeneutika

Dalam buku Hermeneutik sebuah Metode Filsafat (Sumaryono,1993:30-33) menjelaskan bahwa dasar dari semua objek itu netral, sebab objek adalah objek. Sebuah meja di sini atau bintang di angkasa berada begitu saja. Benda-benda itu tidak bermakna pada dirinya sendiri. Hanya subjeklah yang kemudian memberi ‘pakaian’ arti pada objek. Arti atau makna diberikan kepada objek oleh subjek, sesuai dengan cara pandang subjek. Jika tidak demikian, maka objek menjadi tidak bermakna sama sekali. Husserl menyatakan bahwa objek dan makna tidak pernah terjadi secara serentak atau bersama-sama, sebab pada mulanya objek itu netral. Meskipun arti atau makna muncul sesudah objek atau objek menurunkan maknanya atas dasar situasi objek, semuanya adalah sama saja. Dari sinilah kita lihat keunggulan hermeneutika.

Semua lingkup interpretasi mencakup pada pemahaman. Namun pemahaman itu sangat kompleks di dalam diri manusia sehingga para pemikir ulung maupun psikolog tidak pernah mampu untuk menetapkan kapan sebenarnya seseorang itu mengerti. Sebagai contoh misalnya: Kapan seseorang dinyatakan mengetahui adanya bahaya laten? Kapan saatnya seorang anak dinyatakan sudah memahami matematika? Dapatkah kita melihat tepatnya waktu seseorang menangkap arti sebuah kalimat yang diucapkan?

Untuk dapat membuat interpretasi, orang lebih dahulu harus mengerti atau memahami. Namun keadaan ‘lebih dahulu mengerti’ ini bukan didasarkan atas penentuan waktu, melainkan bersifat alamiah. Sebab, menurut kenyataannya, bila seseorang mengerti, ia sebenarnya telah melakukan interpretasi, dan juga sebaliknya. Ada kesertamertaan antara mengerti dan membuat interpretasi antara mengerti dan membuat interpretasi. Keduanya bukan dua momen dalam satu proses. Mengerti dan interpretasi menimbulkan ‘lingkaran hermeneutik’.

Kegiatan interpretatif adalah proses yang bersifat ‘triadik’ (mempunyai tiga segi yang paling berhubungan). Dalam proses ini terdapat pertentangan antara pikiran yang diarahkan pada objek dan pikiran penafsir itu sendiri. Orang yang melakukan interpretasi harus mengenal pesan atau kecondongan sebuah teks, lalu ia harus meresapi isi teks sehingga pada mulanya ‘yang lain’ kini menjadi ‘aku’ penafsir itu sendiri. Oleh karena itulah, dapat ia pahami bahwa mengerti secara sungguh-sungguh hanya kan dapat berkembang bila didasarkan atas pengetahuan yang benar (correct). Sesuatu arti tidak akan  kita kenal jika tidak kita rekonstruksi.

Bila kita jabarkan lebih lanjut argumentasi tentang hermeneutika ke ruang lingkup yang lebih luas, akan kita dapatkan bahwa setiap objek tampil dalam konteks ruang dan waktu yang sama, atau sebagaimana yang disebut Karl Jaspers dengan istilah das Umgreifende atau cakrawala ruang dan waktu. Pada kenyataannya, tidak ada objek yang berada dalam keadaan terisolir, setiap objek berada dalam ruang. Selalu ada kerangka referensi, dimensi, sesuatu batas, nyata atau semu, yang semuanya memberi ciri khusus pada objek. Kita harus kembali kepada pengalaman orisinal dari para penulis (teks) dengan maksud untuk menemukan ‘kunci’ makna kata-kata atau ungkapan.

Kita harus kembali kepada pengalaman orisinal dari para penulis (teks) dengan maksud untuk menemukan ‘kunci’ makna kata-kata atau ungkapan. Kita mengungkapkan diri kita sendiri melalui  bahasa sehari-hari. Meskipun hermeneutika atau interpretasi termuat dalam kesusastraan dan linguisti, hukum, agama, dan disiplin ilmu yang lainnya yang berhubungan dengan teks, namun akarnya tetap filsafat.

Paul Ricoeur  Eksistensi dan Hermeneutika

Latar Belakang Pemikiran tentang Hermeneutika

            Paul Ricoeur adalah seorang filsuf, dalam karya-karyanya sepertinya ia memiliki persfektif kefilsafatan yang beralih dari analisis eksistensial kemudian ke analisis eidetik (pengamatan yang semakin mendetail), fenomenologis, historis, hermeneutika hingga pada akhirnya semantik. Dengan mengutif Nietzsche, ia mengatakan bahwa hidup itu sendiri adalah interpretasi (Ricoeur,1974:12). Bilamana terdapat pluralitas makna, maka disitu interpretasi dibutuhkan. Apalagi jika simbol-simbol dilibatkan. Interpretasi menjadi penting, sebab disini makna mempunyai multi lapisan.

Hermeneutika sendiri yaitu mengupas tentang makna tersembunyi dalam teks yang kelihatan mengandung makna, karena setiap interpretasi adalah usaha untuk “membongkar” makna-makna yang masih terselubung atau usaha membuka lipatan-lipatan dari tingkat-tingkat makna yang terkandung dalam makna kesusastraan. Menurut Ricoeur kata-kata adalah simbol, karena menggambarkan makna lain yang sifatnya ‘tidak langsung, tidak begitu penting serta figuratif (berupa kiasan) dan hanya dapat dimengerti melalui simbol-simbol tersebut’. Jadi, simbol-simbol dan interpretasi merupakan konsep-konsep yang mempunyai pluralitas makna yang terkandung di dalam simbol-simbol atau kata-kata.

Tampaknya, yang hendak dikatakan oleh Ricoeur adalah bahwa terdapat kebutuhan laten dalam bahasa untuk mengungkapkan konsep-konsep melalui kata-kata. Kebutuhan laten tersebut adalah kebutuhan akan hermeneutik. Namun Ricoeur kiranya berpikir jauh lagi. Setiap kata adalah sebuah simbol. Oleh karenanya, maka kata-kata penuh dengan makna dan intensi yang tersembunyi sehingga hermeneutika  bertujuan  menghilangkan misteri yang terdapat dalam sebuah simbol dengan  membuka selubung  daya-daya yang belum diketahui dan tersembunyi didalam simbol-simbol tersebut.

Jika kemudian Ricoeur kemudian memberikan kesan bahwa berbicara dengan menggunakan sesuatu bahasa adalah masalah jaket dan belati yang tersembunyi dibaliknya. Adanya simbol, mengundang kita untuk berpikir sehingga simbol itu  sendiri itu menjadi kaya akan makna dan kembali kepada maknanya yang asli. Hermeneutika membuka makna yang sesungguhnya, sehingga dapat mengurangi makna yang sesungguhnya, sehingga dapat mengurangi makna dari simbol-simbol.

Ruang Lingkup Hermeneutika Paul Ricoeur

Hermeneutika sebagai sistem interpretasi dalam menemukan makna vs ikonoklasme, dimana disini Paul Ricoeur mendefinisikan hermeneutika yang mengacu balik pada fokus eksegesis tekstual sebagai elemen distingtif dan sentral dalam hermeneutika. Maksudnya disini hermeneutika merupakan teori tentang kaidah-kaidah yang menata sebuah eksegesis, dengan kata lain, sebuah interpretasi teks partikular atau kumpulan potensi tanda-tanda keberadaan yang dipandang sebagai sebuah teks. Hermeneutika adalah proses penguraian yang beranjak dari isi dan makna yang nampak ke arah makna terpendam dan tersembunyi. Objeknya sendiri berupa simbol atau bahkan mitos-mitos dari simbol dalam masyarakat dan sastra.

Selanjutnya, Ricoeur  memperluas definisi kata sebagai simbolnya dengan menambahkan ‘perhatian kepada teks’. Teks sebagai penghubung bahasa isyarat dan simbol-simbol dapat membatasi ruang lingkup  hermeneutik karena budaya oral (ucapan) dapat dipersempit. Apa yang kita ungkapkan atau yang kita tulis mempunyai makna lebih dari satu bila kita hubungkan dengan konteks yang berbeda atau disebut ‘polisemi’. Dengan bahasa kita memahami sesuatu atau juga dengan bahasa kita juga bisa salah paham atau salah mengerti sehingga, memungkinkan kita salah persepsi dan dengan hermeneutika semua problem filsafat bahasa diatas dapat dijawab.

Dalam hal ini penulis mengikuti definisi yang diajukan oleh Ricoeur tentang hermeneutika ialah “teori pengoperasian pemahaman dalam hubungannya dengan interpretasi terhadap teks” (Ricoeur,1985:43). Apa yang kita ucapkan dan kita tulis mempunyai makna lebih dari satu bila kita hubungkan dengan konteks yang berbeda, yang disebut istilah “polisemi” yaitu ciri khas yang menyebabkan kata-kata mempunyai makna lebih dari satu. Dan manusia merupakan bahasa (Ricoeur,1967:350).

Selanjutnya Ricoeur menguraikan tentang proses pencangkokan hermeneutika ke fenomenologis kedalam tiga tahapan, yang pertama adalah level semantik bahwa bahasa merupakan wahana utama bagi ekspresi ontology oleh sebab itu kajiannya tidak dapat terlepas dari struktur bahasa dan kebahasaan yang tercakup dalam simbolisme. Kedua adalah level refleksi yaitu mengangkat lebih tinggi lagi posisi hermeneutika pada level filosofis. Proses ini dapat dilakukan melalui proses ulang balik antara pemahaman teks dengan pemahaman diri dan berlangsung seperti hermeneutika cycle yang telah penulis jelaskan. Tahap terakhir adalah level eksistensial, dalam tahap ini akan tersingkap bahwa pemahaman dan makna, bagi manusia ternyata berakar dari dorongan-dorongan yang bersifat instingtif.

Beberapa Kondisi Hermeneutik Penelitian bahasa 

Pada bagian ini penulis akan membahas tentang perkembangan sebuah kerangka metodologis yang diambil dari tradisi hermeneutika. Thompson mengatakan bahwa tradisi ini berawal dari perdebatan tentang kesusastraan pada masa Yunani kuno. Sejak pemunculannya telah mengalami beberapa perubahan dua milenia yang lalu. Dalam perkembangan ini dikaitkan dengan karya para filsof hermeneutik abad sembilanbelas dan duapuluh- terutama Dilthey, Heidegger, Gadamer dan Ricoeur. Pada tempat pertama, para filsof itu mengingatkan kita bahwa studi tentang bentuk-bentuk simbol secara mendasar dan mutlak merupakan pemahaman dan interpretasi.

Bentuk-bentuk simbol adalah konstruksi makna yang diinterpretasikan, ia dapat berupa tindakan, ucapan, teks yang—qua konstruksi makna—dapat dipahami. Penekanan mendasar pada proses memahami dan interpretasi yang tetap memiliki nilai (lebih) hingga saat ini. Oleh karena itu  dalam ilmu-ilmu sosial dan dalam disiplin yang concern dengan analisa bentuk-bentuk simbol dan warisan positivisme sangat kuat yang pada akhirnya akan persoalan pemahaman dan interpretasi. Oleh karena itu tradisi hermeneutika mengingatkan kita bahwa dalam kasus penelitian social, konstelasi persoalannya secara signifikan berbeda dari konstelasi persoalan yang terdapat dalam ilmu alam, karena dalam sosial objek penelitian kita adalah domain pra-tafsir.

Menurut Thompson bahwa dunia sosial-historis tidak sekadar domain obyek yang dapat diamati; ia juga domain subyek yang, sebagiannya, dibangun oleh subyek-subyek yang dalam rutinitas kehidupan sehari-harinya secara konstan melakukan pemahaman terhadap dirinya dan orang lain serta menafsirkan tindakan, ucapan dan peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekitarnya. Seperti Heidegger, yang telah menunjukkan  pentingnya melihat proses pemahaman, bukan sebagai prosedur khusus yang digunakan oleh para analis dalam ruang social histories, tetapi sebagai karakteristik umat manusia memahami (understanding) bukan prosedur interpretasi  yang lebih khusus digunakan oleh para analis social yang mengambil apa adanya (taken for granted) dan dasar pemahaman sehari-hari yang belum tersusun (pre-establised).

Jadi ketika seorang interpreter bahasa berusaha menginterpretasikan sebentuk simbol, maka dia berusaha menginterpretasikan sebuah objek yang ia sendiri dapat menjadi sebuah interpretasi. Seorang interpreter menawarkan interpretasi atas interpretasi, dia melakukan re-interpretasi terhadap domain pra-tafsir. Maka, menurut Thompson  hermeneutika mengingatkan  kita bahwa subyek yang membangun domain subyek-obyek, seperti para analisis sosial sendiri, merupakan subyek yang mampu memahami, memikirkan dan bertindak pada dasar pemahaman dan pemikiran.

Terdapat hal lebih lanjut yang berkaitan dengan hermeneutika yang masih relevan hingga saat ini, Thompson mengatakan bahwa subyek yang membangun dunia sosialnya selalu berada dalam tradisi sejarah. Manusia adalah bagian dari sejarah, dan bukan hanya pengamat atau penonton sejarah. Gadamer salah satunya telah membantu menyoroti apa yang kita sebut  historisitas pengalaman manusia, yang artinya pengalaman yang baru selalu mengasimilasi  bayangan masa lalu, dengan kata lain bahwa dalam upaya memahami sesuatu yang baru kita selalu dan perlu membangun sesuatu yang sudah ada. Jadi dari beberapa penjelasan yang thompson bangun mengindikasikan bahwa hermenutika  dapat dibenarkan ketika menekankan kenyataan bahwa manusia selalu terlibat dalam tradisi sejarah, hal ini dapat membantu menciptakan ruang bagi sebuah pendekatan yang dilakukan secara hermenutika terhadap analisa ideologi.

Kerangka Metodologis Hermeneutika-Mendalam

Setelah penulis menguraikan beberapa kondisi hermeneutika penelitian sosial historis, lalu selanjutnya penulis akan menjelaskan kerangka metodologi dengan karakter yang lebih kongkrit bagi studi bentuk-bentuk simbol pada umumnya, dan bagi analisa ideologi pada khususnya. Seperti karya Ricoeur yang memiliki perhatian khusus yang secara eksplisit dan sistematis menunjukkan bahwa hermeneutika menawarkan baik refleksi filosofis akan kehidupan dan pemahaman, maupun refleksi metodologis tentang sifat dan tugas interpretasi dalam penelitian sosial dengan kunci dari arah refleksi yang Ricoeur sebut dengan ‘hermeneutika-mendalam (dept hermenetics).

Hermeneutika mendalam dapat memberikan kerangka metodologis bagi arah pelaksanaan analisa budaya dalam konteks pemahaman. Selain itu juga dapat digunakan oleh Thompson dalam analisa ideologi seperti yang Thompson definisikan, juga memperhatikan bentuk-bentuk simbol hubungannya dengan konteks sosial-historis; karena itu analisa ideologi secara metodologis dapat dianggap sebagai bentuk partikular dari hermeneutika-mendalam. Tapi, dengan memfokuskan perhatian kita pada interelasi antara makna dan kekuasaan. Pada cara-cara bagaimana bentuk-bentuk simbol digunakan untuk membangun dan mempertahankan relasi dominasi, maka analisa ideologi mengasumsikan sesuatu yang berbeda, yang memiliki karakter kritis. Ia memunculkan pertanyaan baru tentang penggunaan bentuk-bentuk simbol dan keterkaitan antara interpretasi, refleksi-diri dan kritik.

Penulis akan memulai pembicaraan hermeneutika-mendalam dengan sebuah pendahuluan tapi merupakan pengamatan yang fundamental: sepanjang obyek penelitian kita adalah wilayah pra-tafsir, maka, pendekatan hermeneutika-mendalam harus mengakui dan memahami cara bentuk-bentuk simbol itu diinterpretasikan oleh subyek yang terdiri dari domain subyek-obyek. Dengan kata lain, hermeneutika kehidupan sehari-hari merupakan titik permulaan primordial dan tidak dapat dihindari dalam pendekatan hermeneutika-mendalam.

Karena itu, pendekatan hermeneutika mendalam harus didasarkan pada upaya penjelasan bentuk-bentuk simbol itu diinterpretasikan dan dipahami oleh individu-individu yang memproduksi dan menerimanya dalam konteks kehidupan sehari-hari. Tentu, rekonstruksi itu sendiri merupakan proses interpretasi; ia adalah interpretasi terhadap pemahaman sehari-hari, atau—Thompson menyebutnya dengan ‘interpretasi doksa’ (interpretation of doxa), yaitu interpretasi terhadap pandangan, keyakinan, dan pemahaman yang dipegang dan diakui bersama oleh individu yang menempati dunia sosial tertentu.

Hermeneutika-mendalam versi Thompson merupakan kerangka metodologi luas yang memuat tiga fase dasar atau prosedur.  Fase tersebut tidak akan dilihat sebagai tahapan khusus dari rentetan sebuah metode, tapi secara analistis sebagai dimensi yang berlainan dari sebuah proses yang kompleks. Dibawah ini penulis menggambarkan kesimpulan dari berbagai fase pendekatan hermeneutika-mendalam, dengan menempatkan pendekatan ini hubungannya dengan hermeneutika kehidupan sehari-hari.

Fase pertama dari pendekatan hermeneutika-mendalam apa yang disebut dengan analisa sosial-historis. Bentuk-bentuk simbol tidak berada dalam suasana yang vakum: ia dibuat, lalu ditransmisikan dan diterima dalam kondisi sosial dan historis tertentu. Tujuan analisa sosial-historis adalah untuk mengkonstruksi kondisi sosial dan historis dari produksi, sirkulasi, dan resepsi bentuk-bentuk simbol.

Pada urutan pertama, setting ruang-waktu menempatkan bentuk-bentuk simbol diproduksi (diucapkan, diperankan, dituliskan) dan diterima (dilihat, didengarkan, dibaca) oleh individu yang berada dalam lokal tertentu. Bentuk-bentuk simbol secara tipikal juga berada dalam bidang interaksi tertentu. Dalam menyoroti tindakan dalam suatu bidang interaksi, individu menggunakan berbagai jenis dari jumlah sumber daya atau ‘kapital’ yang tersedia bagi mereka, demikian juga berbagai aturan, konvensi dan ‘skemata’ yang fleksibel. Skemata tersebut bukan aturan yang sudah sangat mapan, tapi sebagai garis pedoman yang implisit dan kasar (unformulated).

Tingkatan analisa sosial-historis ketiga adalah institusi sosial. Institusi sosial dapat dianggap sebagai kumpulan aturan dan sumber daya yang relatif mapan, dengan relasi sosial yang terbangun di dalamnya. Menganalisa institusi sosial berarti merekonstruksi kumpulan aturan, sumber daya dan relasi yang menjadi landasannya, mengikuti perkembangannya dalam guliran waktu dan mengamati praktik dan sikap individu yang betindak untuk dan dengan institusi tersebut.

Pada tingkatan selanjutnya Thompson menggunakan istilah struktur sosial untuk mengacu pada asimetri dan perbedaan tetap yang menjadi karakter institusi sosial dan bidang interaksi sosial. Menganalisa struktur sosial berarti memfokuskan pada aspek asimetri, perbedaan dan pembagian. Hal ini untuk menunjukkan bahwa asimetri itu bersifat sistematis dan relatif mapan, yaitu manifestasinya tidak sekadar menunjukkan perbedaan individual, tapi juga perbedaan kolektif dan berlangsung lama bergantung pada distribusi, atau akses kepada, sumber daya, kekuasaan, peluang, dan kesempatan hidup.

Pada tingkatan terakhir dari analisa sosial-historis yaitu media teknik transmisi, sebagai bahan dasar dilakukannya produksi dan transmisi bentuk-bentuk simbol. Media teknik memberkati bentuk-bentuk simbol dengan karakteristik tertentu: yaitu tingkat fiksasi, reproduksi, dan lingkup partisipasi tertentu di antara para subyek yang menggunakan media tersebut.

Menurut Thompson media teknik tidak mewujud dalam keterasingan. Ia selalu menempati konteks sosial-historis tertentu; selalu mensyaratkan jenis keterampilan, aturan dan sumber daya untuk menulis (encode) dan menguraikan (decode) kode pesan, atribusi yang tersebar secara tidak merata di antara individu; ia selalu disebarkan dengan menggunakan sarana kelembagaan yang banyak memperhatikan upaya pengaturan (regulating) produksi dan penyebaran bentuk-bentuk simbol.

Tugas pada fase pertama pendekatan hermeneutika-mendalam menurut Thompson adalah untuk merekonstruksi kondisi dan konteks sosial-historis produksi; sirkulasi dan resepsi bentuk-bentuk simbol, serta untuk mengamati aturan dan konvensi, relasi dan institusi sosial, juga distribusi kekuasaan, sumber daya dan peluang yang mendasari suatu konteks dalam membentuk bidang struktur sosial yang berbeda-beda.

Obyek dan ekspresi makna yang beredar dalam bidang sosial juga merupakan konstruksi simbol yang kompleks yang menunjukkan struktur artikulasinya. Karakteristik inilah yang memerlukan fase analisa yang kedua, fase yang oleh Thompson sebut analisa formal atau diskursif. Bentuk-bentuk simbol menurutnya adalah produk tindakan tertentu yang menggunakan aturan, sumber daya, dll., yang tersedia bagi produser; tapi bentuk-bentuk simbol juga dapat berupa sesuatu yang berbeda, karena ia merupakan konstruksi simbol yang kompleks yang dari situ sesuatu itu diekspresikan dan dikatakan.

Thompson ingin mengatakan bahwa bentuk-bentuk simbol adalah produk yang dikonstekstualisasikan dan merupakan sesuatu yang lebih; karena itu, berdasarkan ciri strukturalnya ia adalah produk yang mampu, dan menegaskan untuk, mengatakan sesuatu tentang sesuatu. Di antara bentuk yang paling terkenal dan paling praktis dari analisa formal atau diskursif apa yang disebut, secara luas dikatakan, analisa semiotik. Analisis semiotik umumnya mencakup abstraksi metodologis dari kondisi sosial-historis produksi dan resepsi bentuk-bentuk simbol. Ia memfokuskan pada bentuk-bentuk simbol itu sendiri dan berusaha menganalisa ciri struktur internalnya, elemen pembentuknya serta inter-relasinya, dan semuanya dihubungkan dengan sistem dan kode yang menjadi bagiannya.

Ciri-ciri struktur suatu bahasa juga dapat dianalisa secara formal. Dalam konteks tersebut, kita dapat membahas ‘analisa wacana, yaitu analisa terhadap ciri-ciri struktur dan relasi wacana. Thompson menggunakan istilah ‘wacana’ (discourse) secara umum untuk mengacu pada terjadinya komunikasi secara aktual. Dasar metodologi utama analisa percakapan adalah untuk mempelajari contoh-contoh interaksi bahasa dalam setting aktual terjadinya tindakan tersebut; dan untuk menyoroti beberapa ciri-ciri ‘struktur’ interaksi bahasa dengan cara memperhatikan secara cermat susunannya. Interaksi tersebut digunakan oleh para partisipan untuk melahirkan interaksi yang rapi. Artinya, keteraturan interaksi bahasa sendiri merupakan hasil dari proses yang sedang berlangsung yang di dalamnya partisipan memproduksi susunan (produce order) melalui rutinitas dan perulangan aturan dan alat percakapan.

Contoh-contoh wacana juga dapat dipelajari berdasarkan apa yang kita sebut analisis sintaksis. Karakteristik gramatikal penting lainnya dari wacana adalah sarana modalitas, yang dengan menggunakan saran modalitas itu seorang yang berbicara (speaker) dapat menunjukkan tingkat kepastian atau realitas yang dikaitkan dengan suatu pernyataan (misalnya kata-kata yang semuanya bermakna mungkin). Juga sistem penggunaan kata ganti (pronouns) yang menyiratkan perbedaan berdasarkan kekuasaan dan keakraban (terutama dalam bahasa yang memiliki dua bentuk kata ganti untuk orang kedua tunggal). Selain itu sarana yang dikaitkan dengan perbedaan gender, dimana gender gramatikal dari ungkapan bahasa dapat menjadi alat untuk membawa asumsi tentang seks (misalnya penggunaan ‘man’ (laki-laki) atau kata ganti maskulin secara umum).

Bentuk analisa terakhir yang Thompson pertimbangkan di sini adalah apa yang disebut analisa argumentatif. Bentuk-bentuk wacana, sebagai konstruksi bahasa supra-kalimat, memuat rangkaian pemikiran yang dapat direkonstruksi dengan cara yang berbeda-beda. Tujuan analisa ini adalah untuk merekonstruksi dan membuat jelas bentuk-bentuk kesimpulan yang menjadi karakter wacana. Metodenya bisa dimulai dengan mengaitkan cara kerja logika, atau kuasi logika tertentu (implikasi, kontradiksi, perkiraan, pengeluaran, dll.).

Fase terakhir yang merupakan fase ketiga dari pendekatan hermeneutika-mendalam adalah interpretasi/re-interpretasi. Metode ini diawali dengan analisa: metode tersebut merinci, membagi-bagi, mendekonstruksi, berupaya menyingkap bentuk dan alat yang membentuk, dan bekerja dengan, sebuah simbol atau bentuk wacana. Interpretasi membangun analisa tersebut serta hasil-hasil dari analisa sosial-historis.

Dalam mengembangkan sebuah interpretasi yang dimediasi melalui metode pendekatan hermeneutika-mendalam, berarti kita melakukan re-interpretasi terhadap domain pra-tafsir; ia sudah ditafsirkan oleh subyek yang membangun dunia sosial-historisnya. Kita mengangankan sebuah makna yang mungkin berbeda dari makna yang dipahami oleh subyek yang membangun dunia sosial-historisnya. Sebagai re-interpretasi terhadap domain pra-tafsir kata Thompson, maka proses interpretasi mengandung resiko, memuat konflik, dan terbuka untuk diperselisihkan. Adanya konflik interpretasi merupakan unsur instrinsik dalam setiap proses interpretasi.

Interpretasi Ideologi sebuah Pendekatan Menuju Hermeneutika Kritis

            Mengelaborasi pendekatan interpretatif dan kritis terhadap studi ideologi merupakan kontribusi terhadap pengembangan ‘hermeneutika kritis’. Hermeneutika menisyaratkan satu hal kritis sebab kita memiliki budaya dan tradisi pada kondisi tertentu yang membatasi jarak kita pada masa lalu, jarak yang diekspresikan semuanya berada dalam distansi yang dialami teks. Kondisi distansi inilah yang mengarahkan hermeneutik pada kritik ideologi.

Lebih dari itu, dunia yang diproyeksikan melalui teks bergantung pada bagaimana teks itu ditafsirkan, sedangkan teks dapat ditafsirkan dengan cara yang bermacam-macam. Oleh karena wajar saja muncul pertanyaan di benak kita, dapatkah kita mengambil apa adanya standar-standar bukti—kriteria superioritas relatif yang secara mudah dapat diturunkan dari kemungkinan unsur subjektif?

Thompson bersikukuh bahwa dalam menginterpretasikan ideologi berarti masuk ke dalam proses metodologi yang kompleks dan berusaha menunjukkan bagaimana makna membenarkan relasi dominasi. Dapat dicatat bahwa sebuah interpretasi merupakan konstruksi makna dan formulasi dari apa yang dikatakan dalam wacana, memunculkan klaim kebenaran yang menuntut pengakuan.

Interpretasi melahirkan sebuah klaim yaitu untuk dapat diterima atau dibenarkan dengan segala cara. Karena itu kita dapat mengatakan bahwa klaim kebenaran akan dibenarkan jika interpretasi itu dapat dijustifikasi di bawah kondisi yang memasukkan penangguhan relasi kekuasan yang asimetris. Penangguhan ini akan berusaha mencari pembenaran suatu klaim.

Namun begitu, dalam menafsirkan ideologi, Thompson ingin menetapkan bahwa kriteria itu diatur dalam proses penolakan, yang disebut dengan prinsip refleksi diri. Karena itu, interpretasi yang dilahirkan dari hermeneutika-mendalam versi Thompson adalah tentang wilayah objek yang berisi subjek yang mampu melakukan refleksi; dan karena itu klaim kebenaran terus dipertahankan, dan interpretasinya harus dibenarkan melalui bukti apapun yang dibutuhkan untuk kondisi formal justifikasi—di mata subjek yang menjadi objek.

Interpretasi Ideologi

Untuk mencapai tujuan interpretasi ideology, kerangka metodologi hermeneutika-mendalam yang telah penulis jelaskan diatas, dapat juga  diterapkan. Interpretasi ideologi menerapkan fase yang berbeda yang terdapat dalam pendekatan hermeneutika-mendalam selain menganalisa kontekstualisasi sosial dan pembentukan makna bentuk-bentuk simbol; dan dengan memfokuskan pada aspek ideologis bentuk-bentuk simbol pendekatan tersebut memiliki sesuatu yang berbeda, yaitu perubahan kritis.

Interpretasi ideologi menerapkan masing-masing fase yang terdapat dalam pendekatan hermeneutika-mendalam, namun fase tersebut digunakan dengan cara tertentu, dengan maksud menyoroti kondisi makna yang diarahkan untuk membangun dan mempertahankan relasi dominasi. Seperti yang Thompson tegaskan, interpretasi ideologi merupakan interpretasi terhadap bentuk-bentuk simbol yang berusaha menjelaskan inter-relasi antara makna dan kekuasaan, yang berusaha menunjukkan bagaimana dalam kondisi tertentu makna yang dikerahkan oleh bentuk-bentuk simbol cenderung memlihara dan mempertahankan kepemilikan dan penerapan kekuasaan.

Pada tingkatan analisis sosial-historis, pengamatan terhadap ideologi dapat mengarahkan perhatian kita pada relasi dominasi yang menjadi karakter konteks produksi dan penerimaan bentuk-bentuk simbol. Seperti yang Thompson jelaskan sebelumnya, relasi dominasi merupakan bentuk khusus relasi kekuasaan; relasi kekuasaan yang secara sistematis bersifat asimetris dan relatif bertahan lama.

Jika concern ideologi akan mengarahkan analisa sosial-historis pada studi tentang relasi dominasi, maka pada analisa formal atau diskursif ia akan memfokuskan pada ciri struktur bentuk-bentuk simbol yang memfasilitasi mobilisasi makna. Thompson mengembangkan ciri struktur bentuk-bentuk simbol di satu sisi, dan interpretasi ideologi di sisi lain, dengan mengacu pada skema modus operandi umum ideologi (seperti yang telah penulis buat dalam bab II di tabel 1.1). Ia membedakan lima model umum cara kerja ideologi—legitimasi, dissimulation (penipuan), unifikasi, fragmentasi, dan reification (konkritisasi).

Lalu masih menurut Thompson sebuah interpretasi ideologi harus melampaui fase analisa formal atau diskursif dan melanjutkan pada apa yang ia sebut dengan interpretasi (atau re-interpretasi). Menginterpretasikan ideologi lanjut Thompson, berarti menjelaskan keterkaitan antara makna yang dimobilisir oleh bentuk-bentuk simbol dengan relasi dominasi yang di situ makna cenderung membangun dan mempertahankan relasi dominasi. Interpretasi ideologi merupakan proses sintesa kreatif. Kreatif dalam artian bahwa ia meliputi konstruksi makna yang aktif terhadap sesuatu yang dikatakan atau direpresentasikan. Dengan demikian dikatakan Thompson, interpretasi ideologi mengemban tugas ganda: penjelasan kreatif terhadap makna, dan penampakan sintesis bagaimana makna tersebut cenderung membangun dan mempertahankan relasi dominasi.


[1] Mulyana, Deddy; Metodologi Penelitian Kualitatif, PT Remaja Rosda Karya, Bandung; 2001:145

[2] Ibid, dedy mulyana, 2000:18

[3] Palmer, E. Richard; Hermeneutika Teori Baru Mengenai Interpretasi, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2003, hal.38-49.

Daftar pustaka :

Bleicher, Josef, Hermeneutika Kontemporer, Pajar Pustaka, Yogyakarta, 2003.
Moleong, J. Lexy; Metode Penelitian Kualitatif, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2004.
Mulyana, Deddy; Metodologi Penelitian Kualitatif, PT Remaja Rosda Karya, Bandung; 2001
Palmer, E. Richard; Hermeneutika Teori Baru Mengenai Interpretasi, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2003.
Ricoeur, Paul, The Interpretation Theory, Filsafat Wacana Membedah Makna dalam Anatomi Bahasa, IRCiSoD, Yogyakarta, 2002.
Sumaryono E.,  Hermeneutika Sebuah Metode Filsafat, Kanisius, Yogyakarta, 1999.
Thompson, Jhon B; Analisis Ideologi Kritik Wacana Ideologi-ideologi Dunia, IRCiSoD, Yogyakarta, 2003.
Thompson, Jhon B, Kritik Ideologi Global, Teori Sosial Kritis tentang Relasi Ideologi dan Komunikasi Massa, IRCiSoD, Yogyakarta, 2004.
Takwin, Bagus, Akar-Akar Ideologi: Pengantar Kajian Konsep Ideologi dari Plato hingga Bourdieu, Jalasutra, Yogyakarta, 2003.

PROFESIONALISME DALAM PENELITIAN


Oleh : Mayling Oey-Gardiner

Direktur Eksekutif Insan Hitawasana Sejahtera dan Guru Besar FEUI

The outside of the Muscarelle Museum of Art at...

Image via Wikipedia

ABSTRAK

Profesionalisme dalam penelitian ditandai oleh penelitian yang bertujuan menjawab pertanyaan untuk mengetahui keadaan lingkungan realita empiris, baik fisik maupun sosial. Dalam hal ini yang dimaksud dengan penelitian adalah jenis penelitian ilmiah, yang karenanya harus mengikuti kaedah-kaedah ilmiah, termasuk sumber informasi yang dipilih secara ilmiah dan dianalisa secara ilmiah kemudian hasilnya dipertanggung jawabkan kepada publik melalui publikasi. Pentingnya publikasi adalah kemungkinan adanya tantangan replikasi oleh pihak lain, syarat mutlak dari penelitian ilmiah yang profesional. Permintaan untuk menulis tentang Profesionalisme dalam Penelitian merupakan tantangan yang menarik, terutama pada waktu ini, dunia penelitian terasa pada persimpangan jalan.

Peneliti menjadi selebriti.

Banyak yang mengaku melakukan dan menghasilkan penelitian. Namun, hingga kini jarang ada hasil penelitian orang Indonesia yang diterbitkan dalam majalah internasional yang dijadikan referensi secara internasional pula. Sementara para akademisi yang bernaung di lembaga pendidikan tinggi terus ditantang melakukan Penelitian sebagai salah satu tugas Tri Dharma, di samping Pendidikan/Pengajaran dan Pengabdian pada Masyarakat dihadang kesulitan menghasilkan penelitian akademis yang dibuktikan oleh penerbitan di majalah ilmiah terakreditasi, terlebih dalam majalah ilmiah asing, yang umumnya memang lebih ketat menilai kewajaran suatu tulisan untuk diterbitkan.1 Seperti suatu penduduk di negara lain, sebenarnya cukup banyak orang Indonesia yang sangat pandai.

Hal ini ditunjukkan oleh keberhasilan anak-anak Indonesia meraih medali emas dalam berbagai Olympiade ilmiah. Atau remaja Maria Audrey Lukito, lulusan termuda dari College of William and Mary di Williamsburg, Virginia, Amerika Serikat, dengan predikat summa cum laude pada usia belia 16 tahun. Sebenarnya, ada pula alumni FEUI yang berkiprah di dunia akademis menghasilkan banyak tulisan di berbagai jurnal ilmiah internasional, Profesor Iwan Jaya Azis.

Namun, yang bersangkutan mengajar dan berkarya tidak di Indonesia tetapi di Cornell University di Amerika Serikat, di mana usaha penelitiannya terus berkembang. 1 Publikasi hasil penelitian dalam majalah ilmiah terakreditasi, terutama dalam majalah ilmiah asing, merupakan rintangan bagi banyak dosen mencapai jabatan akademis tertinggi sebagai Guru Besar. Rupanya mengajar merupakan kegiatan yang relatif mudah bagi para dosen kita. Demikian pula dengan melakukan pengabdian pada masyarakat. Namun, menghasilkan tulisan, terutama tulisan ilmiah masih merupakan momok bagi banyak dosen. 1 Kalau demikian, maka ada ‘sesuatu’ dalam dunia akademis kita yang menghambat pengembangan dunia ilmu pengetahuan.

Pendapat umum mengatakan bahwa penyebabnya terletak pada masalah finansial, bahwa penelitian kurang lukratif, kurang menghasilkan uang. Dengan pendidikan makin berkembang sebagai industri yang lukratif (ada yang menyebutnya komersial), berkembang pula kesempatan mengajar, di luar tugas utama seorang dosen berkaitan dengan kepegawaiannya. Pengajaran demikian langsung diberi imbalan tambahan untuk setiap kali seorang datang mengajar, secara kasar seperti kuli jam-jam-an. Tentu saja, karena manusia tergerak pada insentif moneter, tidak mengherankan bahwa dosen tergerak memperoleh imbalan yang mudah di depan mata, lebih ahli mengajar berdasar komunikasi lisan, dan makin enggan melakukan penelitian yang hasilnya harus ditulis dan diterbitkan dalam majalah ilmiah, suatu usaha besar yang hasil moneternya sering kurang sepadan dibanding dengan mengajar.

Sementara, pemerintah menjawab alasan keuangan dengan menyediakan berbagai sumber dana penelitian, seperti yang disediakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional dan Kementerian Riset. Namun, hingga kini, penyediaan dana inipun belum banyak menghasilkan penelitian unggul, yang diterima untuk diterbitkan dalam majalah ilmiah asing, yang umumnya cukup ketat menerima artikel untuk diterbitkan mengingat saingan global yang sangat ketat. Dengan latar belakang ruang lingkup penelitian yang seharusnya didorong oleh desakan rasa ingin tahu mengenai lingkungan realita si peneliti, tulisan ini dilanjutkan dengan bahasan tentang berbagai cara mengetahui termasuk cara ilmiah, penelitian ilmiah.

Dari uraian tersebut dapat disimpulkan pendapat penulis mengenai peneliti yang profesional atau profesionalisme dalam penelitian. Tulisan ini ditutup dengan usaha membahas pertanyaan yang diajukan oleh Redaksi eBAR FEUI berikut. Apakah penelitian merupakan komoditas jualan? Bagaimana dengan penelitian yang dapat dipesan. Bagaimana dengan integritas peneliti menghadapi isu yang ditemukan dilapangan. Bagaimana melakukan penelitian yang mendukung kebijakan pemerintah, baik legislatif maupun eksekutif, yang bebas kepentingan? Mengapa Melakukan Penelitian? Mengapa seseorang peneliti melakukan penelitian? Biasanya, sebagai manusia, seperti anak yang belum terkontaminasi dilarang bertanya di sekolah, maka apa yang dilihatnya dilingkungannya menimbulkan berbagai pertanyaan. Anak akan mencari jawaban dari orang tuanya, bertanya MENGAPA? Orang dewasa juga (diharapkan) bertanya MENGAPA, dan mencari jawaban sendiri, bagi akademisi dan peneliti, melalui penelitian ilmiah. Sang peneliti tergerak mencari jawaban terhadap apa yang dilihatnya dalam dunia nyata, secara empiris. Dunia empiris tidak terbatas pada dunia alamiah, tetapi bisa juga dalam dunia sosial, masyarakat.

Itulah misalnya yang menggerakkan seorang Sir Isaac Newton yang mengamati jatuhnya buah apel di kebunnya di Woolsthorpe pada tahun 1665 yang menjadi inspirasi teori gravitasi, 2 yang perkembangannya kita rasakan hingga sekarang.2 Atau, kejadian di masyarakat mendorong seorang Emile Durkheim mempelajari pola pembagian kerja (Durkheim 1933) dan bunuh diri (Durkheim 1967). Kalau hasil penelitian Durkheim mengenai pembagian kerja merupakan dasar atau pendahulu pengembangan teori organisasi, maka hasil penelitiannya tentang pola bunuh diri di Perancis semasa hidupnya merupakan pendahulu cara menerangkan perilaku seseorang dalam konteks sosial atau masyarakatnya serta penyajian hasil temuannya juga merupakan pendahulu yang ampuh dalam bentuk tabel serta peta tematik.

Pengembangan teori masyarakat Indonesia oleh Boeke tentang perekonomian dualistik yang memisahkan perekonomian pribumi dan kapitalis (Boeke 1930 dalam Wertheim 1966, Boeke 1953 dalam Ranis 1963) atau Geertz (1963) tentang involusi pertanian yang mengatakan bahwa peningkatan penduduk (Jawa terutama) dan karenanya pekerja sektor pertanian berakibat pada intensifikasi pertanian tanpa menurunkan tingkat produktivitas per petani. Cara Mengetahui Sebenarnya kepuasan memperoleh jawaban atau kebutuhan rasa ingin tahu dapat diperoleh melalui berbagai cara. Buku metode penelitian sosial sering memperkenalkan bidangnya dengan mengkontraskan berbagai cara mengetahui dengan cara ilmiah.3 Beberapa sumber pengetahuan atau informasi adalah ilham, otoritas, intuisi, dan berdasarkan pengalaman sehari-hari atau sesuai dengan akal sehat. Cara mengetahui tersebut sering ada benarnya dan tidak harus bertentangan dengan memperoleh pengetahuan atau informasi secara ilmiah. Seseorang dapat saja mengatakan bahwa ia ‘mengetahui’ keputusan atau pilihan yang harus dibuatnya berdasarkan ilham.

Namun, pengambilan keputusan berdasarkan ilham saja tentu saja tidak selalu merupakan keputusan ‘terbaik’ dari segi lain. Misalnya seseorang yang memutuskan melakukan investasi berdasarkan ilham saja sebenarnya tidak mengetahui apakah keputusan tersebut merupakan keputusan yang menguntungkan karena tidak berdasarkan informasi tentang ‘kualitas’ investasi yang dibuat, dan dibandingkan dengan investasi lain. Atau, jika kita ingin mengetahui sesuatu kadang-kadang kita berpaling pada ahlinya yang dianggap memiliki otoritas, yang diperoleh karena tradisi, pendidikan/ pelatihan, sertifikasi, atau reputasi. Tokoh tradisional seperti tokoh agama dan tokoh masyarakat masih sering menjadi sumber informasi bagi banyak pengikutnya, walaupun tidak selalu berdasarkan fakta. Karena ibu dianggap paling tahu oleh anak-anaknya, larangan makan permen dan coklat karena merusak gigi diterima oleh anak-anaknya tanpa keinginan pembuktian kebenarannya. Jika seorang ahli seperti guru, dokter, ahli hukum, ekonomi, dan sebagainya, membuat pernyataan 2 Walaupun ceritera Sir Isaac Newton yang kejatuhan buah apel tersebut dipertanyakan kebenarannya.

Mereka yang mempertanyakan ceritera tersebut berpendapat bahwa teorinya sudah ada dalam benaknya dan tidak terinspirasi oleh buah apel yang jatuh tersebut (http://www.trivia-library.com/). Beberapa contoh adalah. Michael H. Walizer dan Paul L. Wienir (1978), Research Methods and Analysis; Searching for Relationships, New York: Harper & Row Publishers.

Pamela J. Shoemaker, James William Tankard, Jr., and Dominic L. Lasorsa (2004), How to Build Social Science Theories. Sage Publications, Inc. Janet M. Ruane (2005), Essentials of Research Methods, A Guide to Social Science Research. Blackwell Publishing.  berkenaan dengan bidang pendidikannya, hal tersebut diterima sebagai kebenaran. Keputusan yang diambil berdasarkan intuisi, yang sering diasosiasikan dengan perempuan, mungkin saja merupakan keputusan yang benar walaupun keputusan tersebut diambil lebih berdasarkan ‘perasaan’ dari ‘fakta’.

Masalah dengan cara mengetahui melalui intuisi adalah ketidaktahuan tentang kebenarannya karena pemilik intuisi tersebut tidak selalu mengetahui dan dapat menerangkan mengapa keputusannya terbaik. Oleh karena itu ada pula kemungkinan bahwa keputusannya salah. Apapun, keputusan berdasarkan intuisi tidak dapat diperiksa, dites. Lain lagi cara mengetahui berdasarkan pengalaman sehari-hari atau dianggap masuk akal, wajar-wajar saja (common sense). Namun, jika seorang yang sangat suka durian ditanya mengapa makanan tersebut enak, ia sukar menerangkan. Atau, keikutsertaan orang miskin dalam penebangan liar masuk akal, wajar-wajar saja, bagi pencinta lingkungan tentu saja perbuatan tersebut tidak dapat dibenarkan. Masalah dengan hal yang dianggap masuk akal adalah bahwa apa yang dianggap masuk akal bagi seorang/sekelompok orang tidak pasti masuk akal bagi orang/kelompok orang lain. Pertanyaannya adalah “masuk akal siapa yang seharusnya kita terima?” Cara Mengetahui Secara Ilmiah Berbeda dari cara mengetahui yang dibahas di atas adalah cara ilmiah.

Pendekatan ilmiah untuk mengetahui berbeda secara mendasar dari cara yang dibahas di atas dalam persyaratan berikut: (1) bahwa bukti empiris mendasari pernyataan/pengetahuan kita mengenai dunia/lingkungan kita; (2) bahwa bukti empiris tersebut diperoleh melalui observasi secara langsung atau tidak langsung tentang gejala konkrit dengan mengikuti aturan metodologi pengumpulan data secara sistematis dan ilmiah, dan (3) bahwa bukti yang digunakan untuk mendukung suatu pendapat harus dapat diulang, direplikasi, mungkin oleh studi/penelitian lain sebelum hasilnya diterima.

Syarat terakhir merupakan usaha perlindungan terhadap kesimpulan yang salah. Replikasi juga merupakan bagian penting dari dunia pengetahuan ilmiah yang menghendaki temuan teratur atau ‘hukum’ atau lebih sering kita sebut teori mengenai dunia fisik atau sosial kita (Ruane 2005). Sebaliknya pengetahuan yang diperoleh dari atau berdasarkan ilham, otoritas, intuisi, pengalaman sehari-hari atau common sense tidak dikenakan keharusan pembuktian empiris, tidak harus diperoleh berdasarkan observasi gejala konkrit dengan menggunakan metodologi pengumpulan data secara sistematis dan ilmiah, dan tidak harus tunduk pada aturan tentang kemungkinan replikasi. Etika dalam Penelitian Ilmuan peneliti tentu saja harus tunduk pada etika dalam penelitian. Salah satu syarat utama sebagai peneliti adalah kejujuran akademis. Itulah sebabnya dalam dunia ilmiah dan akademis tidak dibenarkan ‘mencuri’ atau mengambil dari orang lain tanpa yang bersangkutan mengetahuinya.

Dalam dunia ilmiah bukti seseorang ‘mencuri’ adalah perilaku plagiat, yaitu mengklaim hasil karya orang lain sebagai hasil karyanya sendiri, atau menyalin hasil karya orang lain tanpa memberi tahu bahwa hasil karya tersebut bukanlah hasil usahanya sendiri. Mengenai plagiat 4 juga tidak dibenarkan seseorang menerbitkan suatu tulisan berulang kali, yang dikenal sebagi autoplagiarism, karena yang bersangkutan tidak memberi tahu bahwa sebenarnya tulisannya tersebut telah diterbitkan sebelumnya. Kemungkinan replikasi berdasarkan bukti empiris yang diperoleh secara ilmiah itulah merupakan bagian dari transparansi dan akuntabilitas peneliti. Jadi, kalaupun hasil penelitian yang menentukan kebijakan publik dari suatu lembaga penelitian ternama ditantang oleh peneliti lain bukan peneliti tersebut dihukum, tetapi seharusnya tantangan tersebut dihargai sebagai akuntabilitas lembaga atau peneliti bersangkutan.

Sebagai contoh kontemporer, memang bukan di Indonesia, dunia sedang dihebohkan oleh terbongkarnya pemalsuan oleh Dr. Hwang Woo-suk, peneliti Korea Selatan yang dulu dipuji-puji, tetapi kini telah tercemar namanya. Skandal tersebut dibongkar oleh panel investigasi Universitas Nasional Seoul yang menguak pemalsuan data dalam dua makalah yang diterbitkan dalam jurnal Science di Amerika Serikat tahun 2004 dan 2005. Panel tersebut, yang dipimpin oleh Dr. Chung Myung-hee mengulang hasil penelitian tim Dr. Hwang dalam sebuah laporan sementara akhir Desember lalu bahwa tidak ada data yang membuktikan Dr. Hwang menghasilkan sel induk embrio sebagaimana dikatakannya dalam terbitan Mei 2005. Tentu saja, seandainya benar Dr. Hwang akan dapat menjadi kaya raya karena hasilnya bisa digunakan untuk menciptakan jaringan yang khusus secara genetis untuk mengobati penyakit seperti cedera saraf tulang belakang yang diderita superman Michael Reed, atau penyakit kronis atau degeratif lainnya. Dr. Hwang sekarang tidak lagi muncul di depan umum sebaliknya Panel menghendaki agar pelaku pemalsuan dihukum berat (Kompas 11 Januari 2006). Demikianlah etika akademis, ilmiah, bahwa aturan etika harus ditegakkan dan pelanggarnya dihukum setimpal.

Peneliti Profesional Berbagai pengertian profesionalisme. Dalam bidang sport misalnya, atlit profesional dikontraskan dengan atlit amatir. Bedanya pegolf atau petenis profesional bertanding untuk memenangkan hadiah uang sedangkan kemenangan amatir tidak selalu menghasilkan imbalan moneter. Atau, pernyataan yang sering terdengar tentang kurang profesionalnya suatu hasil umumnya dapat ditafsirkan bahwa yang dimaksud adalah bahwa hasilnya, kurang atau tidak baik, kurang bermutu. Pernyataan serupa tidak terbatas pada hasil penelitian tetapi digunakan untuk berbagai hasil, apakah kegiatan olah raga, kesenian, seminar, akademis, dan sebagainya. Menarik untuk menyimak pendapat seorang pejabat tentang peneliti profesional berikut: Menjadi seorang peneliti yang profesional harus mampu membuat suatu desain penelitian dan merumuskan untuk kebijakan pemerintah daerahnya. Untuk itu peneliti dituntut memiliki daya pikir yang kritis, analitis, dan aktual. (Kepala Seksi Bidang Profesi Fungsional Badan Diklat Provinsi Jatim, Rachmat Djamalludin, SH, Mhum, pada Pembukaan Diklat Fungsional peneliti Angkatan III dan Diklat Pengembangan Ekonomi Lokal di Kampus Badan Diklat Provinsi Jatim Balonsari Tama Surabaya, 8 Desember 2003) Tentu saja penelitian tidak hanya dilakukan untuk merumuskan kebijakan pemerintah daerahnya. Pernyataan demikian agak sempit, agak lokal. Pejabat 5 tersebut mungkin tidak tahu bahwa aturan keilmiahan penelitian terletak pada universalisme dari pengetahuan dan penemuan realita dunia.

Di samping itu perlu diingat bahwa hasil penelitian tidak secara langsung menghasilkan kebijakan yang langsung dapat diterapkan. Biasanya kalaupun suatu penelitian menghasilkan penilaian tentang perlunya kebijakan baru atau perbaikan kebijakan yang ada, hasilnya masih harus diterjemahkan menjadi kebijakan yang sesuai, yang tidak pasti merupakan keahlian peneliti bersangkutan. Kalau begitu, apakah peneliti profesional atau profesionalisme dalam penelitian? Berdasarkan bahasan di atas, penulis berpendapat bahwa peneliti yang profesional adalah peneliti yang melakukan penelitian untuk menjawab pertanyaan mengenai dunia nyata dengan mengikuti kaidah ilmiah berdasarkan fakta empiris yang diperoleh dengan mengikuti metodologi ilmiah termasuk memilih sumber informasi secara ilmiah, dan hasilnya dapat dipertanggung jawabkan, dipublikasi, terbuka terhadap kritik, dapat direplikasi. Karenanya, tentu saja peneliti profesional tidak hanya melakukan penelitian untuk perumusan kebijakan, tetapi lebih penting untuk mengembangkan pengetahuan, teori, dan hasilnya diterbitkan. Segi Komersial dari Penelitian Kalau begitu apakah penelitian dapat merupakan komoditas jualan. Menyimak kebiasaan banyak lembaga penelitian, yang berinduk pada perguruan tinggi, yang melakukan penelitian pesanan, seringnya oleh pemerintah pusat dan/ atau daerah, fakta sosialnya memang hasil penelitian merupakan komoditas jualan.

Sejak Orde Baru, baik lembaga pendidikan tinggi maupun departemen sektoral diberi dana ‘penelitian’. Suara sinis mengatakan bahwa dana untuk perguruan tinggi diberikan untuk ‘menutup mulut’ para akademisi, agar tidak mengritik pemerintah, tidak lagi berdemonstrasi menentang kebijakan pemerintah, sedangkan dana untuk departemen yang diberikan pada bagian ‘penelitian dan pengembangan’ disediakan untuk ‘mainan’ orang ‘buangan’. Memang dana yang disediakan tidak banyak sehingga memang tidak cukup untuk melakukan penelitian ilmiah yang profesional, tetapi cukup untuk menghasilkan laporan yang tebal-tebal mengisi rak buku berbagai pejabat.4 Atau, penelitian bisa pula hanya menjadi kedok untuk yang saya sebut ‘money laundering’. Penguasa dana penelitian di departemen tidak bisa memperoleh bagian dari dana tersebut kecuali dengan mengeluarkan kontrak penelitian pada pihak luar dengan pembagian antara pelaksana penelitian dan penguasa dana. Ada isu beredar, tetapi sukar dibuktikan, bahwa jumlahnya cukup besar bisa sampai 30-40 persen, atau malah lebih. Dapat dibayangkan hasil penelitian demikian. Memang lebih banyak untuk pajangan rak buku. Sebaliknya, segi komersial dari hasil penelitian tidak harus dianggap negatif. Berbagai produk yang sudah menjadi barang kehidupan sehari-hari merupakan hasil penelitian yang didorong oleh perspektif komersial.

Malahan, dorongan komersial dapat merupakan insentif yang sangat ampuh mengembangkan 4 Pada waktu itu beredar kepercayaan bahwa laporan harus setebal mungkin, terserah apapun isinya karena umumnya tidak dibaca. 6 penelitian yang profesional, yang berkualitas, seperti atlit profesional bersaing menjadi terbaik didorong oleh hadiah uang. Sekali lagi dalam kehidupan sehari-hari kita dihadapkan pada contoh hasil penelitian yang memiliki nilai komersial, mungkin sekali cukup tinggi. Heboh laporan Badan Pengawas Obat dan Makanan tentang penggunaan formalin sebagai bahan pengawet makanan yang banyak dikonsumsi rakyat seperti bami basah, tahu, ikan asin maupun segar.

Dalam jangka panjang formalin bisa merusak limpa, sel-sel otak, saraf dan juga penyebab kanker. Terkuaknya berita tersebut membuka kesempatan bagi pemasaran Chitosan hasil penelitian Departemen Teknologi Hasil Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor (THP FPIK IPB) yang dipimpin oleh Dr. Linawati Hardjito. Malahan Chitosan lebih murah dari formalin sebagai bahan pengawet makanan. Penelitian untuk Mencari Kebenaran Bukan Pembenaran Intinya seorang ilmuan peneliti bertujuan mencari kebenaran tentang lingkungan empirisnya bukan mencari pembenaran. Jadi, jika seseorang mengaku dirinya seorang peneliti yang ingin menyenangkan kliennya dengan membenarkan kesimpulan kehendak kliennya bukan menghasilkan kesimpulan sesuai dengan fakta empiris yang diperoleh secara ilmiah, maka tentu saja yang bersangkutan bukanlah seorang peneliti ilmuan.

Ada pula yang mengaku melakukan penelitian dengan tujuan menyampaikan ‘hasil temuan di lapangan atau bukti empiris’ yang telah dipilah-pilah sesuai dengan pendapat yang telah terbentuk sebelumnya (preconceived ideas). Tentu saja penelitian demikian tidak dapat disebut penelitian ilmiah dan peneliti dan/atau lembaga pendukungnya tidak dapat disebut memiliki integritas ilmiah. Pencarian pembenaran bukan kebenaran banyak didukung oleh penelitian yang sayangnya juga dilakukan oleh staf akademis. Sering terdengar bahwa ketidak sediaan memberikan kesimpulan yang membenarkan kehendak klien akan berakibat pada tidak akan adanya kelanjutan dari hubungan mesra dengan klien, atau bahasa lain yang sering digunakan adalah ‘nanti tidak dapat proyek lagi’. Pengalaman pribadi penulis yang didorong oleh pimpinan agar menyesuaikan kesimpulan dengan kehendak klien tetapi tidak dilakukan oleh penulis dan penulis tidak tahu, dan juga tidak ingin tahu, hasil akhir laporan penelitian tersebut. Pada waktu itu banyak pejabat berkepentingan memberikan kredit, yang cukup lukratif untuk pemberi kredit dari ‘komisi’ yang dapat diperolehnya.

Namun, hasil penelitian terhadap usaha kecil dan menengah berkesimpulan bahwa kebutuhan utama pengusaha bukanlah kredit melainkan bantuan pemasaran, yang sayangnya tidak dapat diberikan oleh klien bersangkutan, dan juga kurang lukratif. Walaupun demikian, penulis tidak merasakan akibat negatif ‘tidak dapat proyek lagi’ karena hingga sekarang selama berpuluh tahun penulis tetap menjadi peneliti. Penelitian Pesanan Sebagaimana telah dibahas di atas, penelitian pesanan tentu saja sangat tidak terpuji dan merusak kredibilitas lembaga penelitian dan perguruan tinggi. Biasanya penelitian demikian tidak dibutuhkan karena yang dibutuhkan adalah kemungkinan pencairan dana.

Oleh karenanya hasilnya juga tidak dihargai. Penelitian demikian sering tidak harus mengikuti kaidah ilmiah karena memang juga tidak diperlukan dan klien juga tidak akan membaca hasilnya. Yang dibutuhkan adalah ‘bukti’ bahwa penelitian telah dilakukan, dengan menunjuk pada ‘hasil’ berupa sejumlah kopi laporan, yang dapat ditunjukkan pada bagian keuangan agar dana dapat dicairkan. Atau banyak pula penelitian kebijakan yang hasilnya merupakan dokumen rahasia, tertutup bagi publik, hanya diketahui oleh pejabat, terlebih jika hasilnya tidak sesuai dengan harapan pejabat. Penulis berpengalaman bekerja sama dengan instansi asing yang menghasilkan dokumen penelitian kebijakan yang rahasia, hanya untuk mata pejabat bersangkutan. Tentu saja hasil penelitian demikian tidak diharuskan mengikuti salah satu kaedah ilmiah penting, kemungkinan direplikasi oleh pihak lain. Keadaan demikian tentu saja sangat tidak mendukung perkembangan keilmuan kita, juga dapat merugikan rakyat yang pada dasarnya telah membiayai penelitian tersebut.

Kalau demikian, mungkinkah penelitian profesional dilakukan untuk mendukung kebijakan pemerintah, baik legislatif maupun eksekutif, yang bebas kepentingan? Tentu saja posisi penulis sudah nyata. Penelitian yang bertujuan mendukung kebijakan pemerintah tidak mungkin bebas kepentingan. Peneliti yang menempatkan dirinya dalam posisi demikian sudah tidak obyektif, tidak berperilaku sebagai ilmuwan yang bebas nilai karena bersedia membenarkan apapun yang dilakukan oleh pemerintah. Ia bukan peneliti ilmiah yang profesional. Kalau demikian apakah ada tempat bagi peneliti ilmiah untuk melakukan penelitian pesanan secara profesional. Tentu saja masih ada dan pasarnya cukup luas, tidak hanya secara global tetapi juga di Indonesia. Terdapat cukup banyak perusahaan penelitian, termasuk yang melakukan penelitian pasar (market research), penelitian sosial, penelitian obat-obatan, atau penelitian kebijakan. Di antara mereka ada yang melakukan penelitian pesanan secara profesional, mengikuti kaedah ilmiah, menghasilkan temuan sesuai dengan kenyataan empiris. Kebenaran hasilnya kesimpulannya berani mereka pertanggung jawabkan dengan membuka diri pada tantangan kemungkinan pengulangan oleh peneliti lain, jika memang dikehendaki.

 

REFERENCES

Boeke, J.H. (1930), ‘Dualistische Economie (Dualistic Economy), Inaugural Lecture of Professor Boeke at the University of Leiden, reprinted in W.F. Wertheim (1966), Indonesian Economics: The Concept of Dualism in Theory and Practice, W. van Hoeve, The Hague. Boeke, J.H. (1953), ‘Economies and Economic Policy in Dual Societies’, Institute of Pacific Relations, dalam Gustav Ranis (1963) Is Dualism Worth Revisiting? Yale University (http://www.econ.yale.edu/~egcenter/ Durkheim, Emile (1933), Division of Labor in Society. Free Press (English translation).

Durkheim, Emile (1951, 1967), Suicide, A Study in Sociology. Translated by John A. Spaulding and George Simpson, Free Press.

Geerz, Clifford (1963), Agricultural Involution: The Process of Ecological Change in Indonesia, University of California Press, dalam Gustav Ranis (1963) Is Dualism Worth Revisiting? Yale University (http://www.econ.yale.edu/~egcenter/.

Kompas (11 Januari 2006), ‘Hwang, Sang Peneliti Terkenal, Dipermalukan, bersumber pada AP/REUTERS/AFP/DI.

Ruane, Janet M. (2005), Essentials of Research Methods, A Guide to Social Science Research. Blackwell Publishing.

Shoemaker, Pamela J., James William Tankard, Jr., and Dominic L. Lasorsa (2004), How to Build Social Science Theories. Sage Publications, Inc.

Walizer, Michael H. dan Paul L. Wienir (1978), Research Methods and Analysis; Searching for Relationships, New York: Harper & Row Publishers. Jakarta, 16 Januari 2006

Penggunaan rumus dalam mencari sampel.


Jadi pertanyaan yang sering ditanyakan, berapa besar ukuran sampel yang sebaiknya harus diambil, agar sampel tersebut dapat mempresentasikan populasinya atau bisa diyakini benar.alasannya karena tidak semua anggot populasi diteliti, diyakini benar itu artinya seberapa tinggi hasil penelitian dari sampel itu taraf ”kebisa dipercayaannya” akan mencerminkan seluruh populasi. Walau bagaimanapun hasil penelitian itu tidak bisa diharapkan betu-betul benar, karena berbagai faktor, karena hasil penelitian itu dapat mengandung kesalahan (error, galat).seberapa besar taraf toleransi akan terjadinya kesalahan karena faktor kebetulan benar. Para ahli ilmu eksakta bersepakat sebesar 0.01 artinya hanya ada 0.01 atau 1% saja kesalahan karena kebetuluan itu terjadi. Dan diyakini sebesar 99% hasil penelitian itu benar. Sedangkan ilmu sosial disepakati yang terbaik itu sebesar 0.05, jadi hanya ada 0.05 atau 5% saja kesalahan karena kebetulan itu terjadi dan diyakini 95% hasil penelitian itu benar

Ada dua pendekatan, yaitu : a). Pendekatan statistika dan b). Pernekatan non-statistika. Pendekatan non-statistika lebih subjektif karena berdasarkan keinginan si peneliti, sehingga penggunaan penedkean sttaistik ada lkecendrungan lebih tinggi. Masalah lain masih banyak yang belum memahami statistika dengan baik dengan begutu banyaknya rumus yang digunakan. Sehingga ada kesan statistik itu rumit, sehingga membutuhkan pengobanan ektra sehingga dengan jalan pintas menngunakan statistik praktis dan sederhana yang terkadang penerapannya salah kaprah.

Berlandaskan tulisan karya Krejcie dan Morgan (1970), Sudjana (1989), Gaspersz (1991) dan Barlett, et.al (2001), ketika seorang peneliti dalam memutuskan untuk menggunakan pendekatan statistika dalam menentukan ukuran sampel, paling tidak harus sangat memperhatikan empat aspek mendasar yaitu :

  1. Apa tujuan penelitian yang akan dilaksanakan, apakah untuk menduga nilai rata-rata, total atau proporsi populasi dan bagaimana analisis data akan dilakukan, cukup deskript atau inferensi.
  2. Berapa besar tingkat keandalan pendugaan yang diinginkan yaitu dengan menetapkan nilai Z yang diambil dari tabel distribusi t atau X2 yang diambil dari tabel chi kuadrat berdasarkan pada nilai a tertentu.
  3. Berapa besar galat pendugaan yang akan ditolelir. Jika yang dikukur proporsi atau presentase, maka galat pendugaan dinyatakan dalam satuan persen sedangkan pengukuran lain disesuaikan dengan satuan yang dipakai.
  4. Bagaimanakah kondisi keragaman populasi yang akan diteliti.

Sehingga kita kenal rumus yang dikembangkan oleh Slovin[1], rumus lain kita temui berdasarkan indek tabel yang dikembangkan oleh Krejcie-Morgan[2] dimana peneliti bisa mengetahui langsung ukuran sampel (n) dengan mengetahui ukuran populasinya (N) dan ketika ingin menggunakan rumus tersebut agar tidak salah dalam menggunakannya maka peneliti harus mampu menjawab empat pertanyaan dasar sebagai berikut :

  1. Apakah rumus dan tabel tersebut diergunakan untuk penelitian yang ditunjukan mengukur rata-rata, total, proporsi populasi atau yang lainnya.
  2. Berapa nilai α yang digunakan dalam rumus dan tabel tersebut untuk menggambarkan tingkat kendalanya.
  3. Berap nilai galat pendugaan (d) yang dimasukan dalam perhitungan untuk memberi gambaran akbat dari kesalahan sampling.
  4. Berapa besar keragaman populasi yang dipakai dalam perhitungan dan bagaimana bentuknya, apakah varians atau proporsi P(1-P).

Rumus Slovin

Rumus Slovin[3] yang bisa dirumuskan :

n=N/(1 + N.e2 )

Keterangan :


[1] Hussein Umar, Metode Penelitian untuk Skripsi dan Tesis Bisnis, raja grafindo persada, Jakarta, 2004.

[2]Sugiono, Statistic Non-prametrik untuk Penelitian, alfabeta, bandung, 2009.

[3][3] Steph Ellen, eHow Blog, 2010 dari (rujukan principles and method of research, ariola, et.al, 2006)

[4] Toleransi terjadinya galat; taraf signifikansi, dengan ketentuan untuk social dan pendidikan lajimnya 0.05 atau 5% tingkat kesalahan.

Proposal Penelitian Kualitatif


A. Garis Besar Isi Proposal Penelitian Kualitatif
Garis-garis besar isi proposal penelitian kualitatif menurut McMillan & Schumacher (2001) menjelaskan sebagai berikut:

PENDAHULUAN
1. Pernyataan masalah secara umum
Rumusan permasalahan penelitian yang masih bersifat umum dinyatakan secara jelas dan tepat, agar mudah dipahami oleh pembaca yang bukan ahli dalam bidang yang diteliti. Rumusan masalah juga hendaknya menegaskan kedudukan masalah dalam bidang pendidikan. Rumusan permasalahan umum tersebut disimpan dalam awal alinea, diikuti oleh rumusan tentang latar belakang munculnya masalah. Masalah umum dirumuskan dalam kalimat yang berbunyi “menggambarkan dan menganalisis”, kegiatan atau proses yang diteliti.

2. Reviu kepustakaan
Dikemukakan kerangka konseptual awal yang digunakan dalam merumuskan masalah atau merumuskan pertanyaan awal, serta menegaskan pentingnya penelitian. Pentingnya penelitian dijelaskan dengan mengidentifikasi kesenjangan-¬kesenjangan yang ada. Dalam reviu kepustakaan juga dapat dikemukakan pemikiran para ahli dalam bidang yang lebih luas seperti tinjauan: sosiologis, psikologis, antropologis, politis. Reviu kepustakaan dalam penelitian kualitatif tidak mereviu secara tuntas tetapi berupa reviu awal untuk meng¬eksplisitkan kerangka pemikiran peneliti dalam memasuki lapangan, memulai wawancara dan melakukan pengamatan. Reviu kepustakaan diperlukan untuk memperkuat perlu¬nya melakukan studi deskriptif secara mendalam, dan meng¬gunaan pendekatan kualitatif.

3. Masalah bayangan (pertanyaan awal)
Masalah bayangan merupakan perkiraan atau dugaan tentang masalah utama yang dihadapi dalam sesuatu kegiatan atau sesuatu lokasi. Rumusan masalah masih bersifat umum, akan diperjelas secara lebih spesifik dalam pelaksanaan penelitian. Untuk merumuskan masalah bayangan peneliti harus mendapatkan informasi pendahuluan. Dalam merumus¬kan masalah ini biasanya peneliti mempunyai perkiraan tentang lokasi penelitian dan/ atau partisipan yang akan dilibatkan.

4. Manfaat penelitian
Menjelaskan pentingnya penelitian dalam pengembangan pengetahuan, implikasinya bagi penelitian lebih lanjut dan penyempurnaan pelaksanaan pendidikan. Penelitian kualitatif seringkali berupaya memberikan beberapa tambahan pengetahuan dalam deskripsi yang lebih mendetil tentang peristiwa yang bersifat alamiah yang tidak dideskripsikan secara sempurna dalam literatur. Penelitian kualitatif juga memberikan sumbangan dalam pengembangan konsep atau penjelasan teoretis dari apa yang diamati.

DESAIN DAN METODOLOGI
Desain dan metodologi dalam penelitian kualitatif meliputi: lokasi atau seting sosial yang dipilih, peranan peneliti, strategi penentuan sampel secara purposif, analisis data yang bersifat induktif, dan keterbatasan desain.

1. Pemilihan lokasi
Mendeskripsikan kecocokan keadaan lokasi dengan tujuan penelitian, menggambarkan fenomena-fenomena dan proses seperti yang dinyatakan dalam masalah awal. Deskripsi lokasi misalnya mencakup jenis satuan pendidikan (sekolah), tujuan atau peranannya di masyarakat, kegiatan atau proses yang spesifik, dan jenis partisipan. Rumusan tentang lokasi lebih diarahkan pada mendeskripsikan karakteristik khusus dari suatu lokasi serta perbedaanya dengan lokasi lain.

2. Jaringan (Setting) sosial yang dipilih
Mendeskripsikan anggota-anggota kelompok yang akan dilibat¬kan dalam penelitian. Pada bagian ini dideskripsikan peranan mereka dalam kegiatan serta bagaimana keterlibatan mereka di dalam penelitian. Perlu ditunjukan adanya hubungan logis antara informasi yang akan didapatkan melalui kontak pribadi dengan masalah bayangan.

3. Peranan peneliti
Peranan peneliti dikemukakan secara umum umpamanya sebagai pengamat partisipatif atau pewawancara (mendalam). Karena peranan peneliti sangat mempengaruhi hubungan dalam pengumpulan data yang bersifat interaktif, maka peranannya tersbeut harus disesuaikan dengan konteks sosial setempat. Peranan peneliti harus cocok dengan tugasnya untuk mengungkap masalah awal yang ditetapkan.

4. Strategi penentuan sampel purposif
Strategi penentuan sampel yang bersifat purposif dinyatakan dalam proposal, walaupun strategi ini akan dikembangkan lebih lanjut dalam pelaksanaan penelitian di lapangan. Tujuan dan pengambilan sampel secara purposif adalah untuk memperoleh sampel kecil dari individu-individu yang kaya akan informnasi, proses, atau wawasan sosial. Dalam pemilihan sampel juga dijelaskan bagaimana memelihara nama baik subyek yang diteliti, menjaga kerahasiaan data dan individu-individu yang akan dijadikan sebagai sumber data.

5. Strategi pengumpulan data
Walaupun strategi pengumpulan data akan dikembangkan dalam pelaksanaan pengumpulan data di lapangan, tetapi strategi secara umum dan beberapa prinsip yang menjadi pegangan perlu dijelaskan. Pada prinsipnya penelitian kualitatif menggunakan teknik pengumpulan data yang beragam (multi teknik). Dalam strategi pengumpulan data juga perlu dijelaskan lebih spesifik tentang tahap-tahap observasi, bentuk wawancara mendalam, dokumen yang diharapkan dikumpulkan termasuk perkiraan waktu pengumpulan data, bentuk format pencatat¬an data seperti catatan lapangan, rangkuman pengamatan, catatan interviu, transkrip, dan lain-lain. Meskipun strategi pengumpulan data sudah direncanakan dalam desain tetapi dalam pelaksa¬naannya di lapangan diperlukan penyesuaian-penyesuaian dan perubahan.

6. Analisis data yang bersifat induktif
Analisis data dilakukan bersamaan dengan proses pengumpulan data. Sambil mengumpulkan data dan mencari temuan-temuan dari lapangan, proses analisis data juga terus dilakukan. Proses analisis bersifat induktif menghimpun dan memadukan data-data khusus menjadi kesatuan-kesatuan informasi. Pengumpul¬an dan analisis dilakukan melalui pembuatan catatan lapangan, pemberian kode pada topik-topik, membuat kategori, teknik mencari pola, dan lain-lain. Hasil analisis data disajikan dalam bentuk diagram, tabel, grafik, profil, dan sebagainya dan biasanya akan disimpan dalam lampiran. Untuk analisis data bisa juga digunakan program software terutama untuk manajemen data.

7. Keterbatasan desain
Dijelaskan keterbatasan desain dalam kaitan dengan lingkup studi, desain, dan metodologi. Masalah awal yang ditetapkan biasanya dibatasi pada satu aspek dalam satu kegiatan, umpamanya hanya meneliti tentang bagaimana guru mengajar dan bukan menilainya, atau mengetahui dampaknya terhadap siswa. Keterbatasan metodologi karena kesulitan berkenaan dengan peranan peneliti sebagai instrumen penelitian, penentuan sampel secara purposif, kegiatan yang bersifat alamiah yang tidak bisa diinterupsi. Keterbatasan desain, terutama berkenaan dengan validitas, reliabilitas, dan perluasan temuan. Temuan¬-temuan dalam penelitian kualitatif tidak digeneralisasikan.

RUJUKAN
Memuat sumber-sumber apa yang dijadikan rujukan. Sumber tersebut bisa berbentuk buku, jurnal, hasil penelitian serta sumber¬-sumber dalam situs internet. Rujukan digunakan dalam identifikasi, perumusan masalah, penentuan sampel, penyusunan desain, pemilihan strategi pengumpulan data, analisis data dan interpretasi temuan, bahkan sampai pembahasan dan penyimpulan.

LAMPIRAN
Lampiran merupakan bahan pelengkap dan kegiatan atau temuan-temuan hasil penelitian.
Atas dasar garis-garis besar yang dikemukakan di atas, dalam uraian selanjutnya akan dibahas secara spesifik substansi masing-masing jenis proposal. Penjelasan setiap jenis dirinci berdasarkan pokok-pokok perbedaan dari jenis proposal yang telah diuraikan sebelumnya.

B. Penjelasan Unsur-unsur Proposal Penelitian Kualitatif
Penelitian kualitatif didasari oleh asumsi bahwa realitas adalah sesuatu yang kompleks, dinamis, penuh makna, dan mengandung pola fikir induktif. Dengan demikian, permasalahan penelitian kualitatif belum bisa terjelaskan sebelumnya. Oleh karena itu, proposal penelitian kualitatif bersifat sementara dan berpeluang untuk berberkembang setelah peneliti memasuki situasi lapangan. Sesuai karakteristik penelitian kualitatif, rencana maupun desain penelitian dapat diubah secara fleksibel sesuai situasi dan kondisi setting penelitian. Hal inilah yang membedakan proposal penelitian kuantitatif dengan kualitatif. Penelitian kuantitatif proposalnya spesifik dan sudah baku sedangkan proposal kualitatif masih bersifat umum dan sementara.

Proposal penelitian kualitatif komponen-komponen penting yang lebih menggambarkan urutan tindak¬an yang harus dilakukan untuk mendapatkan data peneliti¬an sebagai masukan utama pemecahan masalah penelitian. Komponen-komponen tersebut berguna bagi peneliti teruatama dalam mengawali kegiatan penelitian. Proposal penelitian kualitatif dapat dikembangkan atas dasar desain penelitian yang merupakan bagian dari ren¬ca-na penelitian. Desain penelitian menunjukkan gambaran alur penelitian yang akan dilakukan guna memecahkan masalah. Unsur-unsur penting da¬lam desain penelitian kualitatif antara lain:
1. Menentukan fokus penelitian yang pada umumnya berisi tentang uraian latar belakang permasalahan, permasalahan yang muncul, identifikasi fenomena permasalahan yang menunjukkan realitas permasalahan, menentukan fokus penelitian yang dapat berfungsi sebagai guide atau pe-tunjuk dalam eksplorasi data.
2. Membangun paradigma penelitian yang sesuai dengan kondisi di lapangan guna mengembangkan landasan teori.
3. Menentukan kesesuaian paradigma dengan teori yang dikembangkan, sehingga peneliti yakin ter¬hadap kebenaran teori yang dibangun yang pada umum¬nya masih saling berkaitan dengan paradigma yang di¬kembang¬kan.
4. Menentukan sumber data yang dapat digali.
5. Menentukan tahapan-tahapan dalam proses penelitian.
6. Mengembangkan instrumen penelitian yang dituangkan se¬cara tertulis sebagai pertanggungjawaban peneliti.
7. Merencanakan teknik pengumpulan data dan cara pencatatannya.
8. Rencana analisis data.
9. Merencanakan lokasi dan tempat penelitian agar peneliti memperoleh informasi dari tangan pertama (data primer).
10. Merencanakan lokasi penelitian yang sesuai dan relevan.
Berdasarkan desain tersebut di atas, proposal penelitian kualitatif dapat dikemas dalam sistematikan penulisan sebagai berikut:

JUDUL PENELITIAN

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
B. Fokus Penelitian
C. Rumusan Masalah
D. Tujuan Penelitian
E. Kegunaan/ Manfaat Penelitian

II STUDI KEPUSTAKAAN

III PROSEDUR PENELITIAN
A. Metode Penelitian
B. Tempat Penelitian
C. Instrumen Penelitian
D. Sumber Data
E. Teknik Pengumpulan Data
F. Teknik Analisis Data
G. Pengujian Keabsahan Data

JADWAL KEGIATAN PENELITIAN

ANGGARAN BIAYA PENELITIAN
Penelitian kualitatif naturalistik biasanya didesain secara longgar, tidak ketat, sehingga dalam pelaksanaan penelitian ber¬peluang mengalami perubahan dari apa yang telah direncanakan. Hal itu dapat saja terjadi bila apa yang direncanakan tidak sesuai dengan apa yang dijumpai di lapangan. Meski demikian, aktivitas penelitian tetap harus dirancang dalam bentuk proposal atau usulan penelitian. Uraian berikut, menjelaskan susbtansi yang harus disajikan dalam proposal penelitian kuantitatif.

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Dalam penelitian kualitatif masalah ini bersifat sementara, namun perlu dikemukakan dalam proposal penelitian. Masalah merupakan penyimpangan antara yang diharapkan dengan apa yang terjadi. Dalam latar belakang masalah ini perlu dikemukakan gambaran keadaan yang sedang terjadi yang dikaitkan dengan kebijakan, teori, perencanaan, tujuan dan pengalaman sehingga terlihat adanya kesenjangan yang merupakan masalah. Masalah yang berbentuk data dapat diperoleh melalui studi pendahuluan, pencermatan dokumen laporan penelitian, atau pernyataan orang-orang yang dianggap telah memiliki kredibilitas dalam bidangnya. Jika suatu permasalahan belum dapat diatasi maka diperlukan suatu penelitian. Dengan demikian, uraian dalam latar belakang masalah adalah menjawab pertanyaan mengapa penelitian ini dilakukan.

B. Fokus Masalah
Seperti langkah penelitian pada umumnya, salah satu tahapan yang dirasakan sulit dalam melakukan pe¬neliti¬an adalah mengidentifikasi masalah. Secara umum suatu masalah suatu keadaan yang menyebabkan seseorang bertanya-tanya, berpikir, dan berupaya menemukan kebenaran, dan dapat mengambil manfaatnya. Oleh karenanya, masa¬lah cenderung menggambarkan adanya suatu fenomena seperti kesenjangan, ketimpangan, ketidak¬cukupan, ketidaksesuaian, dan ke¬tidak¬laziman. Fe¬no¬mena masalah tersebut terjadi atau ada karena adanya se¬suatu yang diharapkan, dipikirkan, dirasakan, tidak sama de¬ngan kenyataan.

Atas dasar prinsip masalah tersebut, dalam meng¬identifikasi masalah dapat muncul pertanyaan yang terkait dengan apa(kah), mengapa, atau bagaimana. Dari pertanyaan yang muncul tergambar subtansi masalah yang akan terkait dengan jenis penelitian tertentu. Di dalam penelitian sebaiknya seorang peneliti me¬laku¬kan identifikasi masalah dengan mengungkapkan semua permasalahan yang terkait dengan bidang yang akan diteliti¬nya. Pada penelitian kuantitatif fokus masalah ini sama dengan pembatasan masalah. Pada penelitian kualitatif fokus masalah ini berdasarkan pada studi pendahuluan, pengalaman, referensi dan disarankan oleh orang yang dianggap ahli. Fokus masalah dalam penelitian ini masih bersifat sementara dan akan berkembang setelah penelitian dilapangan.

C. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah dan fokus masalah maka dibuatlah rumusan masalah. Rumusan masalah merupakan pertanyaan yang jawabannya akan dicari dalam penelitian. Rumusan masalah ini merupakan panduan awal bagi peneliti untuk melakukan penjelajahan pada obyektif yang diteliti. Rumusan masalah ini tidak berkenaan dengan variabel yang spesifik melainkan lebih bersifat makro.

D. Tujuan Penelitian
Secara umum tujuan penelitian adalah menemukan, mengembangkan dan membuktikan pengetahuan. Dengan metode kualitatif peneliti dapat menemukan pemahaman yang luas dan mendalam terhadap situasi sosial yang kompleks. Penelitian dapat memahami interaksi dalam situasi tersebut sehingga ditemukan hipotesis dan pola hubungan yang akhirnya dapat dikembangkan menjadi suatu teori. Namun demikian, tujuan penelitian ini juga masih bersifat sementara dan akan terus berkembang selama penelitian dilakukan.

E. Manfaat Penelitian
Dalam penelitian kualitatif manfaat penelitian lebih bersifat teoretis. Bila peneliti dapat menemukan suatu teori maka akan berguna untuk menjelaskan, memprediksikan atau mengendalikan suatu gejala.

II. STUDI KEPUSTAKAAN
Stusi kepustakaan pembahasannya lebih difokuskan pada informasi sekitar permasalahan penelitian yang hendak diteliti. Materi dapat diambil dari mualai yang sederhana menuju yang kompleks atau langsung berkaitan dengan kajian sosial budaya yang berkembang pada situasi sosial yang diteliti. Terdapat tiga kriteria terhadap teori yang digunakan sebagai landasan dalam penelitian yaitu relevansi, kemutakhiran, dan keaslian. Semakin banyak fokus penelitian yang ditetapkan maka akan Semakin banyak teori yang dikemukakan. Validasi awal bagi peneliti kualitatif adalah sejauh mana kemampuan peneliti mendeskripsikan teori-teori yang terkait dengan bidang serta konteks sosial yang diteliti. Dalam penelitian kualitatif, teori yang dikembangkan masih bersifat sementara dan akan berkembang selama penelitian dilakukan.

III. PROSEDUR PENELITIAN

A. Metode Penelitian
Pada bagian ini perlu dijelaskan kenapa penelitian ini dilakukan menggunakan metode kualitatif. Pada umumnya peneliti menggunakan metode ini karena permasalahan belum jelas, holistik, kompleks, dinamis dan penuh makna sehingga tidak mungkin data pada situasi sosial tersebut disaring dengan menggunakan metode kuantitatif. Selain itu peneliti juga berusaha memahami situasi sosial secara mendalam, menemukan pola, hipotesis dan teori.

B. Tempat Penelitian
Ketika menjelaskan tentang tempat penelitian, peneliti mendeskripsikan kecocokan tempat penelitian dengan tujuan penelitian, menggambarkan fenomena sosial dan proses yang terdapat dalam rumusan masalah. Deskripsi tentang lokasi lebih menjelaskan tentang karakteristik khusus lokasi dibandingkan dengan lokasi lainnya.

C. Instrumen Penelitian
Dalam penelitian kualitatif yang menjadi instrumen kunci adalah peneliti itu sendiri atau anggota tim peneliti. Disini perlu dijelaskan siapa yang akan menjadi instrumen penelitian dan instrumen tambahan setelah permasalahan dan fokus masalah jelas.

D. Sumber Data
Dalam penelitian kualitatif sampel sumber data dipilih secara purposive. Penentuan sampel sumber data pada proposal masih bersifat sementara. Pada tahap awal yang dijadikan sampel adalah sumber yang dapat memberikan informasi dan mampu menjembatani kemana saja peneliti akan melakukan pengumpulan data. Dalam penelitian ini sering sample diminta menunjukan orang lain yang bisa memberikan informasi tambahan.

E. Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian kualitatif ada beberapa teknik pengumpulan data yaitu observasi partisipan, wawancara secara mendalam, studi dokumentasi dan gabungan ketiganya (triagulasi). Pada tahap ini dijelaskan lebih spesifik strategi dari tahap-tahap observasi, bentuk wawancara, dokumen yang diharapkan bisa dikumpulkan, perkiraan lama waktu pengumpulan data, bentuk format pencatatan, dan lain-lain.

F. Teknik Analisis Data
Dalam penelitian kualitatif analisis data dilakukan secara bersamaan dengan pengumpulan data. Proses analisis bersifat induktif yaitu mengumpulkan informasi-informasi khusus menjadi satu kesatuan. Pengumpulan dan analisis data dilakukan melalui pembuatan catatan lapangan, pemberian kode pada topik-topik penting, membuat kategori dan mencari pola. Hasil analisis disajikan dalam bentuk diagram, tabel, grafik profil, dll.

G. Pengujian Keabsahan Data
Di bagian ini dijelaskan tentang uji keabsahan data yang meliputi uji kredibilitas data (validasi internal), uji dependabilitas (reliabilitas), uji transferabilitas (validasi eksternal), dan uji komfirmabilitas (obyektiftivitas)

DESAIN PENELITIAN KUALITATIF


Karena paradigma, proses, metode, dan tujuannya berbeda, penelitian kualitatif memiliki model desain yang berbeda dengan penelitian kuantitatif. Tidak ada pola baku tentang format desain penelitian kualitatif, sebab; (1) instrumen utama penelitian kualitatif adalah peneliti sendiri, sehingga masing-masing orang bisa memiliki model desain sendiri sesuai seleranya, (2) proses penelitian kualitatif bersifat siklus, sehingga sulit untuk dirumuskan format yang baku, dan (3) umumnya penelitian kualitatif berangkat dari kasus atau fenomena tertentu, sehingga sulit untuk dirumuskan format desain yang baku.

Namun demikian, dari pengalaman beberapa kali melakukan penelitian kualitatif format berikut, penulis menggunakan format berikut untuk dipakai sebagai contoh yang bisa dikembangkan lebih lanjut.

PENDAHULUAN

  1. Tema Penelitian
  2. Konteks  Penelitian
  3. Fokus Penelitian
  4. Tujuan Penelitian
  5. Tinjauan Pustaka

METODE PENELITIAN

  1. Objek dan Informan Penelitian
  2. Metode Perolehan dan Pengumpulan Data
  3. Metode Pengecekan  Keabsahan Data
  4. Metode Analisis Data
  5. Diskusi Hasil Penelitian
  6. Laporan Penelitian

B. CONTOH PROSES PENELITIAN KUALITATIF

Proses penelitian disajikan menurut tahap-tahapnya, yaitu: (1) Tahap Pra-lapangan, (2) Tahap Kegiatan Lapangan, dan (3) Tahap Pasca-lapangan.

1. Tahap Pra-lapangan

Beberapa kegiatan dilakukan sebelum peneliti memasuki lapangan. Masing-masing adalah: (1) Penyusunan rancangan awal penelitian, (2) Pengurusan ijin penelitian, (3) Penjajakan lapangan dan penyempurnaan rancangan penelitian,(4) Pemilihan dan interaksi dengan subjek dan informan, dan (5) Penyiapan piranti pembantu untuk kegiatan lapangan.

Perlu dikemukakan, peneliti menaruh minat dan kepedulian terhadap gejala menglaju dan akibat-akibat sosialnya. Pengamatan sepintas sudah dilakukan jauh sebelum rancangan penelitian disusun dan diajukan sebagai topik penelitian.

Berbekal pengamatan awal dan telaah pustaka, peneliti mengajukan usulan penelitian tentang mobilitas penduduk dan perubahan di pedesaan. Usulan yang diajukan dan diseminarkan dengan mengundang teman sejawat dan pakar.

Karena berpendekatan kualitatif, usulan penelitian itu dipandang bersifat sementara (tentative). Karena itu peluang seminar digunakan untuk menangkap kritik dan masukan, baik terhadap topik maupun metode penelitian. Berdasarkan kritik dan masukan tersebut, peneliti membenahi rancangan penelitiannya dan melakukan penjajakan lapangan.

Penjajakan lapangan dilakukan dengan tiga teknik secara simultan dan lentur, yaitu (a) pengamatan; peneliti mengamati secara langsung tentang gejala- gejala umum permasalahan, misalnya arus menglaju pada pagi dan sore hari, (b) wawancara; secara aksidental peneliti mewawancari beberapa informan dan tokoh masyarakat, (c) telaah dokumen; peneliti memilih dan merekam data dokumen yang relevan, baik yang menyangkut Bandulan maupun Kotamadya Dati II Malang.

Perumusan masalah dan pemilihan metode penelitian yang lebih tepat dilakukan lagi berdasarkan penjajakan lapangan (grand tour observation). Sepanjang kegiatan lapangan, ternyata pusat perhatian dan teknik-teknik terus mengalami penajaman dan penyesuaian.

Dalam ungkapan Lincoln dan Guba (1985: 208), kecenderungan rancangan penelitian yang terus-menerus mengalami penyesuaian berdasarkan interaksi antara peneliti dengan konteks ini disebut rancangan membaharu (emergent design).

Berdasarkan penjajakan lapangan, peneliti menetapkan tema pokok penelitian ini, yaitu: perubahan sosial di mintakat penglaju (commuters’ zone). Pusat perhatian diberika pada peran penglaju dalam perubahan sosial di Bandulan, Kecamatan Sukun, Kotamadya Malang.

Secara rinci pusat perhatian ini mencakup beberapa pertanyaan sebagaimana diajukan dalam bab pendahuluan, yaitu: (1) Faktor apa saja, baik dari dalam diri, dari dalam desa, maupun dari luar desa, yang mendorong perilaku menglaju pada sebagian penduduk Bandulan? Apakah makna menglaju sebagaimana dihayati oleh mereka?, (2) Bagaimanakah ragam gaya hidup, pola interaksi sosial, solidaritas dan peran sosial masing-masing kategori empiris penduduk dalam perubahan sosial di Bandulan?, dan (3) Akibat-akibat sosial apa saja yang terjadi karena banyaknya penduduk yang menglaju ke luar Bandulan, baik pada sistem nilai dan kepercayaan, pranata sosial dan ekonomi, dan pola pelapisan sosial sebagaimana dirasakan oleh masyarakat setempat?

2. Tahap Pekerjaan Lapangan

Sepanjang pelaksanaan penelitian, ternyata penyempurnaan tidak hanya menyangkut pusat perhatian penelitian, melainkan juga pada metode penelitiannya. Bogdan dan Taylor (1975:126) memang menegaskan agar para peneliti sosial mendidik (educate) dirinya sendiri. “To be educated is to learn to create a new. We must constantly create new methods and new approaches”.

Konsep sampel dalam penelitian ini berkaitan dengan bagaimana memilih informan atau situasi sosial tertentu yang dapat memberikan informasi mantap dan terpercaya mengenai unsur-unsur pusat perhatian penelitian.

Pemilihan informan mengikuti pola bola salju (snow ball sampling). Bila pengenalan dan interaksi sosial dengan responden berhasil maka ditanyakan kepada orang tersebut siapa-siapa lagi yang dikenal atau disebut secara tidak langsung olehnya.

Dalam menentukan jumlah dan waktu berinteraksi dengan sumber data, peneliti menggunakan konsep sampling yang dianjurkan oleh Lincoln dan Guba (1985), yaitu maximum variation sampling to document unique variations. Peneliti akan menghentikan pengumpulan data apabila dari sumber data sudah tidak ditemukan lagi ragam baru. Dengan konsep ini, jumlah sumber data bukan merupakan kepedulian utama, melainkan ketuntasan perolehan informasi dengan keragaman yang ada.

Tidak semua penduduk bisa memberikan data yang diperlukan. Karena itu, hanya 25 orang sumber data yang diwawancarai secara mendalam. Masing-masing adalah 14 orang penduduk asli penglaju, 6 orang penduduk asli bukan penglaju, dan 5 orang penduduk pendatang penglaju.

Karena data utama penelitian ini diperoleh berdasarkan interaksi dengan responden dalam latar alamiah, maka beberapa perlengkapan dipersiapkan hanya untuk memudahkan, misalnya : (1) tustel, (2) tape recorder, dan (3) alat tulis termasuk lembar catatan lapangan. Perlengkapan ini digunakan apabila tidak mengganggu kewajaran interaksi sosial.

Pengamatan dilakukan dalam suasana alamiah yang wajar. Pada tahap awal, pengamatan lebih bersifat tersamar. Teknik ini seringkali memaksa peneliti melakukan penyamaran. Misalnya: untuk mengamati aspek-aspek yang berhubungan dengan perilaku dan gaya hidup, peneliti beranjang-sana di rumah informan. Sambil berbincang-bincang, peneliti mencermati cara berbicara, berpakaian, penataan ruang, gaya bangunan rumah, benda-benda simbolik dan sebagainya.

Ketersamaran dalam pengamatan ini dikurangi sedikit demi sedikit seirama dengan semakin akrabnya hubungan antara pengamat dengan informan. Ketika suasana akrab dan terbuka sudah tercipta, peneliti bisa mengkonfirmasikan hasil pengamatan melalui wawancara dengan informan.

Dengan wawancara, peneliti berupaya mendapatkan informasi dengan bertatap muka secara fisik danbertanya-jawab dengan informan. Dengan teknik ini, peneliti berperan sekaligus sebagai piranti pengumpul data.

Selama wawancara, peneliti juga mencermati perilaku gestural informan dalam menjawab pertanyaan. Untuk menghindari kekakuan suasana wawancara, tidak digunakan teknik wawancara terstruktur. Bahkan wawancara dalam penelitian ini seringkali dilakukan secara spontan, yakni tidak melalui suatu perjanjian waktu dan tempat terlebih dahulu dengan informan. Dengan ini peneliti selalu berupaya memanfaatkan kesempatan dan tempat-tempat yang paling tepat untuk melakukan wawancara.

Selama kegiatan lapangan peneliti merasakan bahwa pengalaman sosialisasi, usia dan atribut- atribut pribadi peneliti bisa mempengaruhi interaksi peneliti dengan informan. Semakin mirip latar belakang informan dengan peneliti, semakin lancar proses pengamatan dan wawancara.

Sebaliknya, ketika mewawancarai informan yang berbeda latar belakang, peneliti harus menyesuaikan diri dengan mereka. Banyak ragam cara menyesuaikan diri. Di antaranya dengan cara berpakaian, bahasa yang digunakan, waktu wawancara, hingga penyamaran seolah-olah peneliti memiliki sikap dan kesenangan yang sama dengan informan. Karena kendala itu, pengumpulan data terhadap penduduk asli, baik penglaju dan lebih-lebih yang bukan penglaju, berjalan agak lamban.

Kejenuhan, bahkan rasa putus-asa kadang-kadang muncul dan menyerang peneliti. Dalam keadaan demikian, peneliti beristirahat untuk mengendapkan, membenahi catatan lapangan, dan merenungkan hasil-hasil yang diperoleh. Dengan cara ini, peneliti bisa menemukan informasi penting yang belum terkumpul.

Kedekatan antara tempat tinggal peneliti dengan informan ternyata sangat membantu kegiatan lapangan. Secara tidak sengaja peneliti bisa bertemu dengan informan, sehingga pembicaraan setiap saat bisa berlangsung. Kendati tidak dirancang, bila hasil percakapan itu memiliki arti penting bagi penelitian, akan dicatat dan diperlakukan sebagai data penelitian.

Pada dasarnya wawancara dilaksanakan secara simultan dengan pengamatan. Kadang-kadangwawancara merupakan tindak-lanjut dari pengamatan. Misalnya, setelah mengamati suasana rumah tangga dan keluarga informan, peneliti menuliskan hasilnya dalam bentuk catatan lapangan. Wawancara dilakukan setelah itu untuk mengungkapkan makna dari setiap hasil pengamatan yang menarik.

Penelaahan dokumentasi dilakukankhususnya untuk mendapatkan data konteks. Kajian dokumentasi di lakukan terhadap catatan-catatan, arsip- arsip, dan sejenisnya termasuk laporan-laporan yang bersangkut paut dengan permasalahan penelitian.

Perekaman dokumen menjadi lebih mudah karena dokumen, baik dari kelurahan maupun dari Kotamadya cukup lengkap. Agar tidak menyulitkan lembaga yang menyediakan, peneliti meminta ijin untuk menfoto-copy dokumen-dokumen yang diperlukan atau menyalinnya ke dalam catatan peneliti.

Pemeriksaan keabsahan (trustworthiness) data dalam penelitian ini dilakukan dengan empat kriteria sebagaimana dianjurkan oleh Lincoln dan Guba (1985: 289-331). Masing-masing adalah derajat: (1) kepercayaan (credibility), (2) keteralihan (transferability), (3) kebergantungan (dependability), dan (4) kepastian (confirmability).

Untuk meningkatkan derajat kepercayaan data perolehan, dilakukan dengan teknik: (1) perpanjangan keikut-sertaan, (2) ketekunan pengamatan, (3) triangulasi, (4) pemeriksaan sejawat, (5) kecukupan referensial, (6) kajian kasus negatif, dan (7) pengecekan anggota.

Kegiatan lapangan penelitian ini semula dijadwal tidak lebih dari enam bulan. Dengan pertimbangan bahwa peningkatan waktu masih memunculkan informasi baru, maka lama kegiatan lapangan diperpanjang. Dengan perpanjangan waktu ini, seperti dikemukakan Moleong (1989), peneliti dapat mempelajari “kebudayaan”, menguji kebenaran dan mengurangi distorsi.

Dengan mengamati secara tekun, peneliti bisa menemukan ciri-ciri atau unsur-unsur dalam suatu situasi yang sangat relevan dengan peran penglaju dalam perubahan sosial di Bandulan. Bila perpanjangan keikutsertaan menyediakan lingkup, maka ketekunan pengamatan menyediakan kedalaman.

Triangulasi dilakukan untuk melihat gejala dari berbagai sudut dan melakukan pengujian temuan dengan menggunakan berbagai sumber informasi dan berbagai teknik. Empat macam triangulasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik pemeriksaandengan memanfaatkan sumber, metode, penyidik dan teori.

Meskipun Lincoln dan Guba (1985) tidak menganjurkan triangulasi teori, tampaknya Patton (1987: 327) berpendapat lain. Menurutnya, triangulasi antar teori tetap dibutuhkan sebagai penjelasan banding (rival explanation).

Dalam penelitian ini, penempatan teori lebih mengikuti anjuran Bogdan dan Taylor (1975). Menurut mereka, teori memberikan suatu penjelasan atau kerangka kerja penafsiran yang memungkinkan peneliti memberi makna pada kekacauan data (morass of data) dan menghubungkan data dengan kejadian-kejadian dan latar yang lain. Karena itu, sangat penting bagi peneliti untuk mengetengahkan temuannya dengan perspektif teoretik lain, khususnya selama tahap pengolahan data penelitian yang intensif.

Pengamatan dan wawancara tidak terstruktur yang diterapkan dalam penelitian ini memang menghasilkan data yang masih kacau. Untuk memilah dan memberi makna pada data tersebut, peneliti tidak bisa tidak harus berpaling kepada teori-teori sosiologi dan antropologi yang relevan.

Pemeriksaan sejawat dilakukan dengan cara mengetengahkan (to expose) hasil penelitian, baik yang bersifat sementara maupun hasil akhir, dalam bentuk diskusi analitik dengan rekan-rekan sejawat. Dengan cara ini peneliti berusaha mempertahankan sikap terbuka dan kejujuran, dan mencari peluang untuk menjajaki dan menguji hipotesis yang muncul dari peneliti (pemikiran peneliti).

Sebelum menetapkan temuan sebagai kecenderungan pokok, peneliti melakukan pengecekan anggota. Ini dilakukan dengan mengajukan pertanyaan berapa proporsi kasus yang mendukung temuan, dan berapa yang bertentangan dengan temuan. Bila ada penyimpangan dalam kasus-kasus tertentu, peneliti menelaahnya secara lebih cermat.

Telaah lebih cermat terhadap kasus-kasus yang menyimpang sering disebut sebagai analisis kasus negatif. Teknik ini dilakukan untuk menelaah kasus-kasus yang saling bertentangan dengan maksud menghaluskan simpulan sampai diperoleh kepastian bahwa simpulan itu benar untuk semua kasus atau setidak-tidaknya sesuatu yang semula tampak bertentangan, akhirnya dapat diliput aspek-aspek yang tidak berkesesuaian tidak lagi termuat. Dengan kata-kata lain dapat dijelaskan “duduk persoalannya”.

Selain itu, peneliti juga menguji kecukupan acuan dalam menarik simpulan. Kecukupan acuan dalam penelitian ini dilakukan dengan mengajukan kritik internal terhadap temuan penelitian. Berbagai bahan digunakan untuk meneropong temuan penelitian.

Usaha meningkatkan keteralihan dalam penelitian ini dilakukan dengan cara “uraian rinci” (thick description). Untuk itu, peneliti melaporkan hasil penelitiannya secermat dan selengkap mungkin yang menggambarkan konteks dan pokok permasalahan secara jelas. Dengan demikian, peneliti menyediakan apa-apa yang dibutuhkan oleh pembacanya untuk dapat memahami temuan-temuan.

Kebergantungan penelitian ini diupayakan dengan audit kebergantungan. Dalam hal ini peneliti memberikan hasil penelitian dan melaporkan proses penelitian termasuk “bekas-bekas” kegiatan yang digunakan. Berdasarkan penelusurannya, seorang auditor dapat menentukan apakah temuan-temuan penelitian telah bersandar pada hasil di lapangan.

Kepastian penelitian ini diupayakan dengan memperhatikan topangan catatan data lapangan dan koherensi internal laporan penelitian. Hal ini dilakukan dengan cara meminta berbagai pihak untuk melakukan audit kesesuaian antara temuan dengan data perolehan dan metode penelitian.

3. Tahap Pasca Lapangan

Telah disinggung bahwa penelitian ini menerapkan metode kualitatif, yaitu suatu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata orang baik tertulis maupun lisan dan tingkah laku teramati, termasuk gambar (Bogdan and Taylor, 1975).

Walau peneliti tidak sependapat dengan teknik-teknik analisis data kualitatif menurut Miles dan Huberman (1987), model analisis interaktif yang digambarkannya sangat membantu untuk memahami proses penelitian ini. Model analisis interaktif mengandung empat komponen yang saling berkaitan, yaitu (1) pengumpulan data, (2) penyederhanaan data, (3) pemaparan data, dan (4) penarikan dan pengujian simpulan.

Mengacu model interaktif, analisis data tidak saja dilakukan setelah pengumpulan data, tetapi juga selama pengumpulan data. Selama tahap penarikan simpulan, peneliti selalu merujuk kepada “suara dari lapangan” untuk mendapatkan konfirmabilitas.

Analisis selama pengumpulan data (analysis during data collection) dimaksudkan untuk menentukan pusat perhatian (focusing), mengembangkan pertanyaan-pertanyaan analitik dan hipotesis awal, serta memberikan dasar bagi analisis pasca pengumpulan data (analysis after data collection). Dengan demikian analisis data dilakukan secara berulang-ulang (cyclical).

Pada setiap akhir pengamatan atau wawancara, dicatat hasilnya ke dalam lembar catatan lapangan (field notes). Lembar catatan lapangan ini berisi: (1) teknik yang digunakan, (2) waktu pengumpulan data dan pencatatannya, (3) tempat kegiatan atau wawancara, (4) paparan hasil dan catatan, dan (5) kesan dan komentar. Contoh catatan lapangan dapat diperiksa pada lampiran.

Pendirian ontologis penelitian adalah bahwa tujuan penyelidikan adalah mengembangkan suatu bangunan pengetahuan idiografik dalam bentuk “hipotesis kerja” yang menggambarkan kasus individual (Lincoln and Guba, 1985: 38). Implikasinya, konstruksi realitas, yang dalam hal ini adalah gejala menglaju dan pengaruh sosialnya, tidak dapat dipisahkan dari konteks (kedisinian, Bandulan) dan waktu (kekinian, 1996).

Untuk itu peneliti memandang penting untuk menyelidiki secara cermat akar-akar gejala menglaju sebagai konteks kajian. Berdasarkan asal faktor pemicu gejala menglaju peneliti menemukenali tiga kategori faktor, yaitu: (1) dari dalam diri, (2) dari dalam desa, dan (3) dari luar desa.

Empat teknik analisis data kualitatif sebagaimana dianjurkan oleh Spradley (1979) diterapkan dalam penelitian ini. Masing-masing adalah: (1) analisis ranah (domain analysis), (2) analisis taksonomik (taxonomic analysis), (3) analisis komponensial (componential analysis). dan (4) analisis tema budaya (discovering cultural themes).

Analisis ranah bermaksud memperoleh pengertian umum dan relatif menyeluruh mengenai pokok permasalahan. Hasil analisis ini berupa pengetahuan tingkat “permukaan” tentang berbagai ranah atau kategori konseptual. Kategori konseptual ini mewadahi sejumlah kategori atau simbol lain secara tertentu.

Pada tahap awal, berdasarkan pola mobilitas hariannya, peneliti menemukenali dua kategori pokok penduduk Bandulan. Masing-masing adalah penduduk penglaju dan bukan penglaju. Berdasarkan asalnya, peneliti menemukenali dua kategori pokok penduduk Bandulan, yaitu: penduduk asli dan penduduk pendatang.

Pada analisis taksonomik, pusat perhatian penelitian ditentukan terbatas pada ranah yang sangat berguna dalam upaya memaparkan atau menjelaskan gejala-gejala yang menjadi sasaran penelitian. Pilihan atau pembatasan pusat perhatian dilakukan berdasarkan pertimbangan nilai strategik temuannya bagi program peningkatan kualitas hidup subyek penelitian atau mengacu pada strategic ethnography (Faisal, 1990 : 43).

Analisis taknonomik tidak dilakukan secara murni berdasar data lapangan, tetapi dikonsultasikan dengan bahan-bahan pustaka yang telah ada. Beberapa anggota ranah yang menarik dan dipandang penting dipilih dan diselidiki secara mendalam. Dalam hal ini adalah bagaimana peran masing-masing kategori tersebut dalam proses perubahan sosial yang berlangsung di Bandulan.

Analisis komponensial dilakukan untuk mengorganisasikan perbedaan (kontras) antar unsur dalam ranah yang diperoleh melalui pengamatan dan atau wawancara terseleksi. Dalam hemat peneliti, kedalaman pemahaman tercermin dalam kemampuan untuk mengelompokkan dan merinci anggota sesuatu ranah, juga memahami karakteristik tertentu yang berasosiasi dengannya.

Dengan mengetahui warga suatu ranah, memahami kesamaan dan hubungan internal, dan perbedaan antar warga dari suatu ranah, dapat diperoleh pengertian menyeluruh dan mendalam serta rinci mengenai suatu pokok permasalahan. Dengan demikian akan diperoleh pemahaman makna dari masing-masing warga ranah secara holistik.

Hasil lacakan kontras di antara warga suatu ranah dimasukkan ke dalam lembar kerja paradigma (Spradley, 1979: 180). Kontras-kontras tersebut selalu diperiksa kembali sebagaimana dalam model analisis interaktif. Ringkasananalisis komponensial, yang digunakan sebagai pemandu penulisan paparan hasil penelitian inidisajikan dalam lampiran.

Dalam mengungkap tema-tema budaya, peneliti menggunakan saran yang diberikan oleh Bogdan dan Taylor (1975:82-93). Langkah-langkah yang dilakukan adalah: (1) membaca secara cermat keseluruhan catatan lapangan, (2) memberikan kode pada topik-topik pembicaraan penting, (3) menyusun tipologi, (4) membaca kepustakaan yang terkait dengan masalah dan konteks penelitian.

Berdasarkan seluruh analisis, peneliti melakukan rekonstruksi dalam bentuk deskripsi, narasi dan argumentasi. Beberapa sub-topik disusun secara deduktif, dengan mendahulukan kaidah pokok yang diikuti dengan kasus dan contoh-contoh. Sub-topik selebihnya disajikan secara induktif, dengan memaparkan kasus dan contoh untuk ditarik kesimpulan umumnya.

PENELITIAN KUALITATIF


  1. Pendahuluan

Setiap kegiatan penelitian sejak awal sudah harus ditentukan dengan jelas pendekatan/desain penelitian apa yang akan diterapkan, hal ini dimaksudkan agar penelitian tersebut dapat benar-benar mempunyai landasan kokoh dilihat dari sudut metodologi penelitian, disamping pemahaman hasil penelitian  yang akan lebih  proporsional apabila pembaca mengetahui pendekatan yang diterapkan.

Obyek dan masalah penelitian memang mempengaruhi pertimbangan-pertimbangan mengenai pendekatan, desain ataupun metode penelitian yang akan diterapkan. Tidak semua obyek dan masalah penelitian bisa didekati dengan pendekatan tunggal, sehingga diperlukan pemahaman pendekatan lain yang berbeda agar begitu obyek dan masalah yang akan diteliti tidak pas atau kurang sempurna dengan satu pendekatan maka pendekatan lain dapat digunakan, atau bahkan mungkin menggabungkannya.

Secara umum pendekatan penelitian atau sering juga disebut paradigma penelitian yang cukup dominan adalah paradigma penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif.  Dari segi peristilahan para akhli nampak menggunakan istilah atau penamaan yang berbeda-beda meskipun mengacu pada hal yang sama, untuk itu guna menghindari kekaburan dalam memahami kedua pendekatan ini, berikut akan dikemukakan penamaan  yang  dipakai  para akhli dalam penyebutan kedua istilah tersebut seperti terlihat dalam tabel  1 berikut  ini :

Tabel 1.

 Quantitative and Qualitative Research : Alternative Labels

Quantitative

Qualitative

Authors

Rasionallistic Naturalistic Guba &Lincoln (1982)
Inquiry from the Outside Inquiry from the inside Evered & Louis (1981)
functionalist Interpretative Burrel & Morgan (1979)
Positivist Constructivist Guba (1990)
Positivist Naturalistic-ethnographic

Hoshmand (1989)

Sumber : Julia Brannen (Ed): 1992 : 58)

Sementara itu Noeng Muhadjir (1994 : 12) mengemukakan beberapa nama yang dipergunakan para ahli tentang metodologi  penelitian kualitatif yaitu: grounded research, ethnometodologi, paradigma naturalistik, interaksi simbolik, semiotik, heuristik, hermeneutik, atau holistik . perbedaan tersebut dimungkinkan karena perbedaan titik tekan dalam melihat permasalahan serta latar brlakang disiplin ilmunya, istilah grounded research lebih berkembang  dilingkungan sosiologi dengan tokohnya Strauss dan Glaser (untuk di Indonesia istilah ini diperkenalkan/dipopulerkan oleh Stuart A. Schleigel dari Universitas California yang pernah menjadi tenaga ahli pada Pusat Latihan Penelitian Ilmu-ilmu soaial  Banda Aceh pada tahun 1970-an),  ethnometodologi lebih berkembang di lingkungan antropologi dan ditunjang  antara lain oleh Bogdan , interaksi simbolik lebih berpengaruh di pantai barat Amerika Serikat dikembangkan oleh Blumer, Paradigma naturalistik dikembangkan antara lain oleh Guba yang pada awalnya memperoleh pendidikan dalam fisika, matematika dan  penelitian kuantitatif.

Secara lebih rinci Patton (1990 : 88) mengemukakan-penamaan-  macam-macam  penelitian kualitatif (Qualitative inquiry) berdasarkan tradisi teoritisnya  yang diuraikan dalam bentuk tabel sebagai berikut :

 

Tabel 1.

variety in qualitative Inquiry : Theoritical traditions

No

Perspektif

Akar Ilmu

Pertanyaan Utama

1

Ethnography

Anthropology

Apa kebudayaan masyarakat ini ?

2

Phenomenology

Philosophy

Apa struktur dan esensi pengalaman atas gejala-gejala ini bagi masyarakat tersebut?

3

Heuristics

Psikologi Humanistik

Apa pengalaman saya mengenai gejala-gejala ini dan apa pengalaman essensial bagi yang lain yang juga mengalami gejala ini secara intens ?

4

Ethnomethodology

Sosiology

Bagaimana orang memahami kegiatan sehari-hari mereka sehingga berprilaku dengan cara yang dapat diterima secara sosial ?

5

Symbolic interactionism

Psikologi sosial

Apa simbul dan pemahaman umum yang telah muncul dan memberikan makna bagi interaksi sosial masyarakat ?

 

6

Echological Psychology

Psikologi lingkungan

Bagaimana  orang-orang mencapai tujuan mereka melalui prilaku tertentu dalam lingkungan yang tertentu ?              

7

System theory

interdisipliner

Bagaimana  dan kenapa sistem ini berfungsi secara keseluruhan ?

8

Chaos theory: non -linier dynamics

Fisika teoritis : ilmu-ilmu alam

Apa yang mendasari keteraturan gejala-gejala yang tak teratur jika ada ?

9

Hermeneutics

Teologi, filsafat, kritik sastra

Apa kondisi-kondisi yang melahirkan prilaku atau produk yang dihasilkan yang memungkinkan penafsiran makna ?

10

Orientaional, qualitative

Ideologi, ekonomi politik

Bagimana perspektif ideologi seseorang berujud dalam suatu gejala ?

 

Dalam perkembangannya, belakangan ini nampaknya istilah penelitian kualitatif telah menjadi  istilah yang dominan dan baku, meskipun mengacu pada istilah yang berbeda dengan pemberian karakteristik yang   berbeda pula, namun bila dikaji lebih jauh semua itu lebih bersifat saling melengkapi/memperluas dalam suatu bingkai  metodologi penelitian kualitatif.

Oleh karena itu dalam wacana metodologi  penelitian, umumnya  diakui terdapat dua paradigma utama dalam metodologi  penelitian yakni paradigma positivist (penelitian kuantitatif) dan paradigma naturalistik (penelitian kualitatif), ada ahli yang memposisikannya secara diametral, namun ada juga yang mencoba menggabungkannya baik dalam makna integratif maupun bersifat komplementer, namun apapun kontroversi yang terjadi kedua jenis penelitian tersebut memiliki perbedaan-perbedaan baik dalam tataran filosofis/teoritis maupun   dalam tataran praktis pelaksanaan  penelitian, dan justru dengan perbedaan tersebut akan nampak kelebihan dan kekurangan masing-masing, sehingga seorang peneliti akan dapat lebih mudah memilih metode yang akan diterapkan apakah metode kuantitatif atau metode kualitatif dengan memperhatikan obyek penelitian/masalah yang akan diteliti serta mengacu pada tujuan penelitian yang telah ditetapkan.

Meskipun dalam tataran praktis perbedaan antara keduanya seperti nampak sederhana dan hanya bersifat teknis, namun  secara esensial keduanya mempunyai landasan epistemologis/filosofis yang sangat berbeda. Penelitian kuantitatif merupakan pendekatan penelitian yang mewakili paham positivisme, sementara itu penelitian kualitatif  merupakan pendekatan penelitian yang mewakili paham naturalistik (fenomenologis).  Untuk lebih memahami landasan filosofis kedua paham tersebut, berikut ini akan diuraiakan secara ringkas kedua aliran faham tersebut.

1.1. Positivisme

Positivisme merupakan aliran filsafat yang dinisbahkan/ bersumber dari  pemikiran Auguste Comte seorang folosof  yang lahir di Montpellier Perancis pada tahun 1798, ia seorang yang sangat miskin, hidupnya banyak mengandalkan sumbangan dari murid dan teman-temannya antara lain  dari folosof inggeris John Stuart Mill (juga seorang akhli ekonomi), ia meninggal pada tahun 1857. meskipun demikian pemikiran-pemikirannya cukup berpengaruh yang dituangkan dalam tulisan-tulisannya antara lain Cours de Philosophie Positive (Kursus filsafat positif) dan Systeme de Politique Positive (Sistem politik positif).

Salah satu buah pikirannya yang sangat penting dan berpengaruh adalah tentang tiga tahapan/tingkatan cara berpikir manusia dalam berhadapan dengan alam semesta yaitu : tingkatan Teologi, tingkatan Metafisik, dan tingkatan Positif

Tingkatan Teologi (Etat Theologique). Pada tingkatan ini manusia belum bisa memahami  hal-hal yang berkaitan dengan sebab akibat. Segala kejadian dialam semesta merupakan akibat dari suatu perbuatan Tuhan dan manusia hanya bersifat pasrah, dan yang dapat dilakukan adalah memohon pada Tuhan agar dijauhkan dari berbagai bencana. Tahapan ini terdiri dari tiga tahapan lagi yang berevolusi yakni dari tahap animisme, tahap politeisme, sampai dengan tahap monoteisme.

Tingkatan Metafisik (Etat Metaphisique). Pada dasarnya tingkatan ini merupakan suatu variasi dari cara berfikir teologis, dimana Tuhan atau Dewa-dewa diganti dengan kekuatan-kekuatan abstrak misalnya dengan istilah kekuatan alam. Dalam tahapan ini manusia mulai menemukan  keberanian dan merasa bahwa kekuatan yang menimbulkan bencana dapat dicegah dengan memberikan berbagai sajian-sajian sebagai penolak bala/bencana.

Tingkatan Positif (Etat Positive). Pada tahapan ini manusia sudah menemukan pengetahuan yang cukup untuk menguasai alam. Jika pada tahapan pertama manusia selalu dihinggapi rasa khawatir berhadapan dengan alam semesta, pada tahap kedua manusia mencoba mempengaruhi kekuatan yang mengatur alam semesta, maka pada tahapan positif manusia lebih percaya diri, dengan ditemukannya hukum-hukum alam, dengan bekal  itu manusia mampu menundukan/mengatur (pernyataan ini mengindikasikan adanya pemisahan antara subyek yang mengetahui dengan obyek yang diketahui)  alam serta memanfaatkannya untuk kepentingan manusia, tahapan ini merupakan tahapan dimana manusia dalam hidupnya lebih mengandalkan pada ilmu pengetahuan.

Dengan memperhatikan tahapan-tahapan sepertti dikemukakan di atas nampak bahwa istilah positivisme mengacu pada tahapan ketiga (tahapan positif/pengetahuan positif) dari pemikiran Comte. Tahapan positif merupakan tahapan tertinggi, ini berarti  dua tahapan sebelumnya merupakan tahapan yang rendah dan primitif, oleh karena itu filsafat Positivisme merupakan filsafat yang anti metafisik, hanya fakta-fakta saja yang dapat diterima. Segala sesuatu yang bukan fakta atau gejala (fenomin) tidak mempunyai arti, oleh karena itu yang penting dan punya arti hanya satu yaitu mengetahui (fakta/gejala) agar siap bertindak (savoir pour prevoir).

Manusia harus menyelidiki dan mengkaji berbagai gejala yang terjadi beserta hubungan-hubungannya diantara gejala-gejala tersebut agar dapat meramalkan apa yang akan terjadi, Comte menyebut hubungan-hubungan tersebut dengan konsep-konsep dan hukum-hukum yang bersifat positif dalam arti berguna untuk diketahui karena benar-benar nyata bukan bersifat spekulasi seperti dalam metafisika.

  1.2. Fenomenologi

Edmund Husserl adalah filosof yang mengmbangkan metode Fenomenologi, dia lahir di  Prostejov Cekoslowakia dan mengajar di berbagai Universitas besar Eropa, meninggal pada tahun 1938 di Freiburg. Hasil pemikirannya dapat diselamatkan dari kaum Nazi, dengan membawa seluruh buku dan tulisannya  ke Universitas Leuven Belgia, sehingga kemudian dapat dikembangkan lebih lanjut oleh murid-muridnya. Diantara tulisan-tulisan pentangnya adalah : Logische Untersuchungen (Penyeliddikan-penyelidikan Logis) dan Ideen zu  einer reinen Phanomenologie und Phanomenologischen Philosophie (gagasan-gagasan untuk suatu fenomenologi murni dan filsafat fenomenologi)

Dalam faham fenomenologi sebagaimana diungkapkan oleh Husserl, bahwa kita harus kembali kepada benda-benda itu sendiri (zu den sachen selbst), obyek-obyek harus diberikan kesempatan  untuk berbicara melalui deskripsi fenomenologis guna mencari hakekat gejala-gejala (Wessenchau). Husserl berpendapat bahwa kesadaran bukan bagian dari kenyataan  melainkan asal kenyataan, dia menolak bipolarisasi  antara kesadaran dan alam, antara subyek dan obyek, kesadaran tidak menemukan obyek-obyek, tapi obyek-obyek diciptakan oleh kesadaran.

Kesadaran merupakan sesuatu yang bersifat intensionalitas (bertujuan), artinya kesadaran tidak dapat dibayangkan tanpa sesuatu yang disadari. Supaya kesadaran timbul perlu diandaikan tiga hal yaitu  : ada subyek, ada obyek, dan subyek yang terbuka terhadap obyek-obyek. Kesadaran tidak bersifat pasif karena menyadari sesuatu berarti mengubah sesuatu, kesadaran merupakan suatu tindakan, terdapat interaksi antara tindakan kesadaran dan obyek kesadaran, namun yang ada hanyalah kesadaran sedang obyek kesadaran pada dasarnya diciptakan oleh kesadaran.

Berkaitan dengan hakekat obyek-obyek, Husserl berpandapat bahwa untuk menangkap hakekat obyek-obyek diperlukan tiga macam reduksi guna menyingkirkan semua hal yang mengganggu dalam mencapai wessenchau yaitu:  Reduksi pertama. Menyingkirkan segala sesuatu yang subyektif, sikap kita harus obyektif, terbuka untuk gejala-gejala yang harus diajak bicara. Reduksi kedua. Menyingkirkan seluruh pengetahuan tentang obyek yang diperoleh dari sumber lain, dan semua teori dan hipotesis yang sudah ada Reduksi ketiga. Menyingkirkan seluruh tradisi pengetahuan. Segala sesuatu yang sudah dikatakan orang lain harus, untuk sementara, dilupakan, kalau reduksi-reduksi ini  berhasil, maka gejala-gejala akan memperlihaaaatkan dirinya sendiri/dapat menjadi fenomin

1.3. Perbandingan tataran Filosofis

Kedua aliran filsafat tersebut terus berkembang dengan dukungan prngikut-pengikutnya, yang dalam wacana metodologi penelitian telah mendorong lahirnya paradigma penelitian kuantitatif (positivisme) dan paradigma penelitian kualitatif (fenomenologi). Kedua paradigma pendekatan penelitian tersebut nampak sekali mempunyai asumsi/aksioma dasar filosofis dan paradigma  berbeda yang menurut Lincoln dan Guba perbedaan tersebut terletak dalam asumsi/aksioma tentang kenyataan, hubungan pencari tahu dengan tahu (yang diketahui), generalisasi, kausalitas, dan masalah nilai, untuk lebih rincinya dapat dilihat dalam tabel berikut :

Dalam pandangan positivisme dari sudut ontologi meyakini bahwa realitas merupakan suatu yang tunggal dan dapat dipecah-pecah  untuk dipelajari/dipahami secara bebas, obyek yang diteliti bisa dieliminasikan dari obyek-obyek lainnya, sedangkan dalam pandangan fenomenologi kenyataan itu merupakan suatu yang utuh, oleh karena itu obyek harus dilihat dalam suatu konteks natural tidak dalam bentuk yang terfragmentasi.

Dari sudut epistemologi, positivisme mensyaratkan adanya dualisme antara subyek peneliti dengan obyek yang ditelitinya, pemilahan ini dimaksudkan agar dapat diperoleh hasil yang obyektif, sementara itu dalam pandangan Fenomenologis subyek dan obyek tidak dapat dipisahkan dan aktif bersama dalam memahami berbagai gejala. Dari sudut aksiologi, positivisme mensyaratkan agar penelitian itu bebas nilai agar dicapai obyektivitas konsep-konsep dan hukum-hukum sehingga tingkat keberlakuannya bebas tempat dan waktu, sedangkan dalam pandangan fenomenologi penelitian itu terikat oleh nilai sehinggan hasil suatu penelitian harus dilihat sesuai konteks.

Untuk lebih jelasnya berikut ini akan dikemukakan perbandingan antara paradigma positivisme dan paradigma alamiah (fenomenologi) dengan mengacu pada pendapat Lincoln dan Guba, sebagaimana terlihat dalam tabel berikut :

Tabel 2.

Perbedaan Aksioma Paradigma Positivisme dan Alamiah

No

Aksioma Tentang

Paradigma

Positivisme

Paradigma Alamiah/Kualitatif

1

Hakikat kenyatan

Kenyataan adalah tunggal, nyata dan fragmentaris

Kenyataan adalah ganda,dibentuk, dan me-rupakan   keutuhan

2

Hubungan pencari tahu dan yang tahu

Pencari tahu dengan yang tahu adalah bebas, jadi ada dualisme

Pencari tahu dengan yang tahu aktif bersama, jadi tidak dapat dipisahkan

3

Kemungkinan Generalisasi

Generalisasi atas dasar bebas-waktu dan bebas-konteks (pernyataan nomotetik)

Hanya waktu dan konteks yang mengikat hipotesis kerja (pernyataan idiografis) yang dimungkinkan

4

Kemungkinan hubungan sebab akibat

Terdapat penyebab sebenarnya yang secara temporer terhadap, atau secara simultan terhadap akibatnya

Setiap keutuhan berada dalam keadaan mempe-ngaruhi secara bersama-sama sehingga sukar mem-bedakan mana sebab dan mana akibat

5

Peranan nilai

Inkuirinya bebas nilai

Inkuirinya terikat nilai

(Sumber : Lexy J. Moleong : 2000 : 31)

1.4. Perbandingan tataran Metodologis

Memahami landasan filosofis penelitian kualitatif dalam perbandingannya dengan penelitian kuantitatif merupakan hal yang penting sebagai dasar bagi pemahaman yang tepat  terhadap penelitian kualitatif, namun demikian bagi seorang peneliti penguasaan dalam tingkatan operasional lebih diperlukan lagi agar dalam pelaksanaan penelitian tidak terjadi kerancuan metodologis, dan penelitian benar-benar dilaksanakan dalam suatu bingkai pendekatan yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.

Dalam tataran metodologis perbedaan landasan filosofis terrefleksikan dalam perbedaan metode penelitian, dimana positivisme dimanifestasikan dalam metode penelitian kuantitatif sedangkan fenomenologi dimanifestasikan dalam metode penelitian kualitatif. Kedua pendekatan ini sering diposisikan secara diametral, meskipun belakangan ini terdapat upaya untuk menggabungkannya baik dalam bentuk paralelisasi maupun kombinasi, adapun perbedaan antara metode kuantitatif dengan kualitatif adalah sebagai berikut  :

Tabel 3.

Perbedaan Metode Kuantitatif dengan Kualitatif

No

Metode Kuantitatif

Metode Kualitatif

1

Menggunakan hiopotesis yang ditentukan  sejak awal penelitian

Hipotesis dikembangkan sejalan dengan penelitian/saat penelitian

2

Definisi yang jelas dinyatakan sejak awal

Definisi sesuai konteks atau saat penelitian berlangsung

3

Reduksi data menjadi angka-angka

Deskripsi naratif/kata-kata, ungkapan atau pernyataan

4

Lebih memperhatikan reliabilitas skor yang diperoleh melalui instrumen penelitian

Lebih suka menganggap cukup dengan reliabilitas penyimpulan

5

Penilaian validitas menggunakan berbagai prosedur dengan mengandalkan hitungan statistik

Penilaian validitas melalui pengecekan silang atas sumber informasi

6

Mengunakan deskripsi prosedur yang jelas (terinci)

Menggunakan deskripsi prosedur secara naratif

7

sampling random

Sampling purposive

8

Desain/kontrol statistik atas variabel eksternal

Menggunakan analisis logis  dalam mengontrol variabel ekstern

9

Menggunakan desain khusus untuk mengontrol bias prosedur

Mengandalkan peneliti dalam mengontrol bias

10

Menyimpulkan hasil menggunakan statistik

Menyimpulkan hasil secara naratif/kata-kata

11

Memecah gejala-gejala menjadi bagian-bagian untuk dianalisis

Gejala-gejala yang terjadi dilihat dalam perspektif keseluruhan

12

Memanipulasi aspek, situasi atau kondisi dalam mempelajari gejala yang kompleks

Tidak merusak gejala-gejala yang terjadi secara alamiah /membiarkan keadaan aslinya

                                                    (diadaptasi dari Jack R. Fraenkel &  Norman E. Wallen. 1993 : 380)

Penelitian Kualitatif

Seringkali mahasiswa dihadapkan pada dua jenis penelitian Kualitatif atau Kuantitatif ? Berikut adalah sedikit penjelasan berseri mengenai penelitian kualitatif. Berdasarkan pendekatan penelitian maka terdapat dua jenis penelitian utama yaitu Penelitian kualitatif dan Penelitian kuantitatif.Sepintas maka kedua jenis penelitian terlihat sangat kontras.  Penelitian  kualitatif dalam mengumpulkan data menganalisis data tidak berdasarkan angka, atau hanya sedikit menggunakan angka.  Sedangkan pada penelitian kuantitatif metode pokoknya adalah statistik deskriptif dan  inferensial yang berupa perhitungan angka, grafik dan tabel. Pada penelitian kualitatif dilaksanakan dengan alamiah yaitu dengan menggunakan data apa adanya, dan tidak dimanipulasi.  Peneliti menggunakan data lalu menganalisisnya berdasarkan teori yang ada dan lebih menekankan pada dekriptif secara apa adanya.  Penelitian kualitatif menggunakan pemahaman yang mendalam dengan menggunakan wawancara mendalam dan utuh, terhadap realitas sosial yang ada.

A.  Ciri Penelitian Kualitatif

Sebagai pedoman ringkas bagi mahasiswa calon sarjana, magister atau doktor yang akan memilih metode penelitian kualitatif bagi rancangan penelitiannya, maka dibutuhkan kesepakatan dan kesamaan persepsi ciri penelitian kualitatif, yaitu sebagai berikut :

1)      Paradigma penelitian kualitatif adalah Interpretive/Constructivist. Bahwa realitas dibangun (dikonstruksi) dalam suatu konteks dan kehidupan sosial. Studi ini mengarahkan peneliti kepada pemahaman dan penafsiran makna menurut apa yang dikontruksi subjek yang diteliti berdasarkan interaksi sosialnya, dan bukan menurut rumusan peneliti.  Variabel-variabel adalah kompleks, saling berkaitan, dan sulit untuk diukur.

2)      Studi dilakukan oleh peneliti dalam konteks alamiah subjek (naturalistic inquiry), peneliti melakukan kontaks langsung dengan subjek di lapangan.

3)      Manusia adalah alat instrument artinya peneliti sendiri atau dengan bantuan orang lain merupakan alat pengumpul data utama

4)      Alasan atau tujuan penelitian adalah untuk memperoleh pemahaman menyeluruh (holistic), penafsiran makna, yang bersifat kontekstual.

5)      Pendekatan analisis data induktif, dan kemungkinan berpeluang cukup tinggi untuk menghasilkan hipotesis dan teori-teori yang bersifat substansial.

6)      Penelitian kualitatif menekankan kepada proses.

7)      Desain penelitian adalah fleksibel (bersifat sementara)

8)      Aalat analisis bersifat deskriptif berupa gambar, kata-kata, foto bukti-bukti

9)      Pengambilan sampel purposive, sifat naturalistik menghindari pengambilan sampel acak, dengan maksud agar memperoleh kasus-kasus yang akan diteliti. 10)  Ada kesepakatan makna dan tafsir dari data yang diperoleh dengan sumber-sumbernya.

11)  Modus laporan studi kasus. 12)  Penafsiran idiografik (dalam arti keberlakuan khusus), bukan nomotetik (mencari hukum keberlakuan umum).

B.  Contoh Laporan Hasil Penelitian Kualitatif

Berdasarkan ciri karakteristik penelitian kualitatif maka penyusunan laporan hasil penelitian dapat mengikuti format laporan hasil penelitian sebagai berikut : DAFTAR ISI

BAB I        : PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah
  2. Identifikasi Masalah
  3. Perumusan Masalah
  4. Tujuan Penelitian
  5. Manfaat Penelitian

BAB II       : RUJUKAN  TEORI

Teoti tentang Faktor / Variabel atau Konsep yang mungkin terlibat dalam penelitian yang memang dijadikan acuan.

BAB III      : METODOLOGI PENELITIAN

  1. Tujuan Khusus Penelitian
  2. Tempat dan waktu penelitian
  3. Latar Penelitian (setting)
  4. Metode Penelitian Kualitatif yang mungkin:
    1. i. Bila aspek budaya yang diteliti, gunakan etnografi, naturalistic inquiry.
    2. Bila meneliti proses sosial di suatu organisasi, gunakan studi kasus
  5. Fokus Penelitian
  6. Pertanyaan Penelitian
  7. Prosedur Pengumpulan dan Perekaman Data
  8. Analisis Data
  9. Pemeriksaan atau Pengecekan Keabsahan Data (Triangulasi)

BAB IV     : TEMUAN-TEMUAN PENELITIAN (CULTURAL THEMES)

Didalamnya berisi tentang tema yang unik, ditulis dalam Box yang disebut critical insidance.

BAB V       : PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

Teori-teori yang mendukung atau tidak terhadap temuan-temuan yang sesuai dengan masalah-masalah penelitian.

BAB VI     : KESIMPULAN DAN SARAN

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN-LAMPIRAN

Demikian gambaran ringkas mengenai penelitian kualitatif,   semoga bermanfaat. (Admin)

Rujukan : Rexy J. Moleong,  2000.  Metodologi Penelitian Kualitatif.  Remaja Rosda Karya. Bandung

Varian dan Standar Deviasi


Salah seorang pembaca blog ini bertanya tentang maksud dari standar deviasi serta bagaimana mencari standar deviasi dari suatu kelompok data. Berangkat dari pertanyaan tersebutlah maka postingan tentang varian dan standar deviasi ini dibuat.

Berbicara tentang standar deviasi atau simpangan baku dalam bahasa Indonesia tidak bisa lepas dari varians. Hal ini karena standar deviasi adalah akar kuadrat dari varians atau sebaliknya, varians adalah kuadrat dari standar deviasi.

Salah satu ukuran variabilitas (measure of dispersion) yang paling sering digunakan jika data yang diukur berskala interval adalah varians. Varians didefinisikan sebagai rata-rata dari skor penyimpangan kuadrat. Untuk mencari varians, dibedakan antara varians populasi yang dilambangkan dengan (σ2) dengan varians sample yang dilambangkan dengan (s2).

Untuk varians populasi, dapat dicari dengan rumus:
Dimana:
µ = rata-rata populasi
N = total jumlah populasi
Adapun varians untuk sample dapat dicari dengan rumus yang sama namun mengurangkan N dengan 1 sebagai berikut:


Dimana :
s = rata-rata sample
n = jumlah sampel yang digunakan
untuk lebih memperjelas, baiklah kita coba dengan menghitung varians untuk populasi jika kita memiliki data pengukuran tentang nilai 5 siswa pada mata pelajaran matematika sebagai berikut:
7 7 9 8 6
Untuk menghitung varians dari data di atas maka kita harus mencari dahulu berapa mean (rata-rata) dari. Dengan rata-rata 6,9 maka kita tinggal memasukkan data di atas sebagai berikut:


Dengan varian sebesar 1,3 maka untuk mencari standar deviasi kita tinggal mengakar kuadratkan 1,3 yang akan menghasilkan 1,14. Karena varian adalah ukuran keberagaman data, maka semakin besar angkat varians maka semakin beragamlah data yang kita miliki dan semakin kecil nilai varians maka semakin homogenlah data yang kita miliki.
Nah, jika seandainya nilai varians yang kita miliki ternyata adalah 0, maka dapat disimpulkan bahwa dalam populasi atau sampel yang kita miliki tidak terdapat variabilitas. Keadaan demikian dapat terjadi jika sekor untuk setiap sampel/populasi adalah sama.

Selain rumus di atas, kita juga dapat menggunakan rumus-rumus lain untuk mencari varians. Pada dasarnya, pemilihan rumus yang digunakan tergantung pengguna yang merasakan rumus manakah yang paling mudah digunakan. Rumus-rumus yang lain tersebut diantaranya adalah:
Untuk varians sampel:

%d blogger menyukai ini: