A. Perkembangan Bahasa Bayi

Perkembangan Bahasa merupakan sebuah proses dari motoric otak kiri manusia. Kemampuan tersebut meliputi pengucapan kalimat, memahami pembicaraan orang, Kemampuan berhitung, dan menulis. Sedangkan fungsi otak kananmencangkup Bahasa nonverbal seperti penekanan dan irama, pengenalan situasi dan kondisi, pengendalian emosi, kesenian dan kreativitas.

Dalam perkembangannya, kedua otak anak akan mengalami spesialisasi. Kemudian, apa yang terjadi pada tahun pertama? Kemampuan anak akan mengalami perkembangan yang pesat. Namun, tahap itu harus tetap menjadi perhatian khusus bagi orang tua. Sebab tahapan itu dapat dijadikanparameter ada atau tidaknya gangguan perkembangan pada bayi.

Menjadi orang tua harus jeli terhadap segala perubahan pada anaknya. Perkembangan Bahasa dan bicara pada anak biasanya digambarkan sebagai berikut:

  1. Masa Preliguistik, 0-3 Bulan.

Pada periode ini, bayi belum bias menggabungkan elemen Bahasa, baik secara isi, bentuk, atau dari pemakaian Bahasa.

  1. Masa Transisi, 3-9 Bulan.

Salah satu perkembangan Bahasa utama milestone pada bayi ialah pengucapan kata kata pertama yang terjadi pada akhir tahun pertama.

  1. Masa Perkembangan Kosakata, 9-18 Bulan.

Inilah masa dimulainya produksi kalimat. Perkembangan komprehensif secara produksi kata-kata berlangsug cepat pada usia sekitar 18 bulan. Ia mulai dapat berbicara menggunakan kata kata yang tersimpan dalam memorinya.

  1. Masa Prasekolah, 18-36 bulan.

Pada masa ini, bayi akan memiliki mobilitas yang tinggi, sehingga mempunyai akses ke jaringan social yang lebih luas. Hal itu akan membuat perkembangan kognisinya menjadi semakin tajam. Anak mulai berpikir tentang konsep, jenis dan peristiwa.

Anda harus mengetahui tahap tahap perkembangan kemampuan bicara bayi. Sehingga, anda menjadi peka dan bisa secara menangkap pesan-pesan darinya.

Anda pun perlu mengetahui bahwa perkembangan Bahasa bayi dan tangisan pertama sampai mampu bertutur kata terbagi atas dua periode besar.  Periode linguistic terbagi dalam tiga fase besar, yaitu sebagai berikut:

  1. Fase Satu Kata atau Holofrase

Dalam fase ini, bayi menggunakan satu kata guna menyatakan pemikirannya yang kompleks, baik yang berupa keinginan maupun perasaan.

  1. Fase Lebih dari Satu Kata

Fase dua kata muncul ketika bayi berusia sekitar 18 bulan. Pada fase itu, ia sudah bisa membuat kalimat sederhana yang terdiri dari dua kata.

  1. Fase Diferensiasi

Periode ini berlangsung pada bayi yang berusia 2,5-5 tahun. Pada fase yang lain, saat usia bayi sekitar 15-18 bulan, perkembangan bahasanya menunjukan ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Tanggap terhadap kata-kata tanpa gerak
  2. Mulai ikut bernyanyi
  3. Menggerakan tangan
  4. Bayi berinteraksi dengan ucapan
  5. Orang tua mulai menyesuaikan diri

B. Perkembangan Bicara

Perkembangan awal bicara pada bayi biasa disebut dengan reflexive vocalization, yaitu terjadi pada usia 0-3 minggu. Pada tahap tersebut, bayi masih menyuarakan tangisan yang berupa reflex belaka atau tanpa disadari.

Tahap kedua ialah babbling, yaitu terjadi saat bayi berusia 3 minggu sampai 2 bulan. Sekarang, ia sudah mengeluarkan suara, tetapi terdengar tidak jelas.

Lalling merupakan tahap ketiga, terjadi pada bayi berusia sekitar 2-7 bulan. Saat tersebut, ia sudah dapat mendengar dan mengulang suku kata, seperti ba, pa, ma, mik dan sebagainya.

Saat berusia 10 bulan, Bayi dapat mendengar suara suara disekitarnya. Kemudian ia meniru suara suara yang terekam diotaknya menggunakan ekspresi wajah dan isyarat tangan.

Selanjutnya ialah tahap true speech atau berbicara dengan benar, terjadi pada bayi berusia 18 Bulan. Alhasil, ia akan lebih terampil berbicarih terampil berbicara pada umur 5-6 tahun.

Bayi merupakan “penyerap” yang konstruktif. Bayi mempelajari bBayi mempelajari Bahasa dan konsep-konsep pentingahasa dan konsep-konsep penting tanpa melalui pengajaran yang terencana sectanpa melalui pengajaran yang terencana secara khusus.

Setiap bayi memiliki perkembangan Bahasa lisan yang berbeda beda. Hal itu terjadi Karena muatan informasi yang dikumpulkan oleh setiap bayi berbeda.

Masing masing bayi belajar mendapatkan informasi yang tersedia dengan cara sendiri. Beberapa bayi berinteraksi degan dunia menggunakan sentuhan, sedangkan yang lain mungkin lebih bergantung pada pengelihatan dan pendengaran.

C. Perkembangan Awal Bahasa

Sebelum mampu berbicara, biasanya bayi memiliki kebiasaan mengeluarkan kebiasaan mengeluarkan suara suara yang bersifat sederhana, kemudian berkembang menjadi kompleks dan memiliki arti.

  1. Kematangan Fisiologis

Setiap bayi dibekali kemampuan berkomunikasi menggunakan Bahasa sejak dalam kandungan (innate). Tetapi, kemampuan ini tidak dapat langsung digunakan. Masih dibutuhkan sebuah proses perubahaan evolutive yang panjang, sampai seorang bayi bisa berbahasa kepada orang tua dan lingkungan sekitarnya.

2. Perkembangan system saraf dalam otak

Sistem perkembangan saraf pada janin pada masa prenatal tergolong sederana. Bahkan dapat dikatakan jika perkembangan yang dimaksud terjadi Bersamaan dengan pembentukan organ organ eksternal pada masa triwulan pertama. Menginjak akhir triwulan kedua proses perkembangan organ organ tubuh internal maupun ekstenal pada janin  berkembang pesat, yang salah satunya adalah otak.

Setelah berkembangan, otak mempu bekerja guna menerima rangsangan eksternal yang diberikan oleh lingkungannya.

Setiap rangsangan eksternal yang diterima akan menjadi bahan bahan jejak ingatan dalam otak janin. Janin akan merasakan getaran getaran sebagai tanda dirinya memperoleh perhatian dan kasih saying ketika orang tuanya memberikan rangsangan berupa cerita, nyanyian, atau Bahasa. Setelah lahir bayi yang pernah memperoleh pengalaman berkomunikasi dengan orang tuanya saat masih janin akan bekembang dengan baik.

D. Kesiapan anak dalam belajar membaca

Selama ini, teori psikologi perkembangan yang dimotori oleh Jean Piaget menjadi rujukan utama bagi kurikulum taman kanak kanak. Akibatnya, pelajaran membaca, menulis, dan berhitung secara tidak langsung dilarang diperkenalkan kepada anak dibawah usia 7 tahun. Sebab, Piaget beranggapan bahwa anak berusia dibawah 7 tahun dianggap belum mencapai fase oprasional konkret. Fase yang dimaksud ialah saat anak dianggap sudah bisa berfikir secara terstruktur.

Sehingga, calistung didefinisikan sebagai kegiatan yang memerlukan cara berpikir secara berpola. Hal inilah yang membuat calistung tidak cocok diajarkan kepada anak TK.

Banyak ahli yang menngeluarkan berbagai teori gna menemukan cara agar anak mendapatkan pelajaran membaca sejak dini, salah satunya Glenn Doman. Ia menjadi pelopor dalam pengembangan metode belajar membaca dan matematika pada anak sejak dini. Ia merupakan prndobrak dari teori yang dicetuskan oleh Piaget.

Doman bukan praktisi pendidikan. Ia adalah seorang bedah otak yang berhasil menyembukan orang-orang yang mengalami cedra otak lewat metode flash card. Ia membuat kartu berisi kata yang ditulis dedngan tinta berwarna merah pada karton tebal. Kartu-kartu tersebut ditampilkan dihadapan pasien dalam waktu cepat, hanya satu detik per kartu. Karena singkatnya waktu yang diberikan, maka akan membuat otak bereaksi terhadap kata yang ditampilkan.

Bagi sebagian orang, metode Falsh card dinilai mustahil. Sebab, bisa saja anak-anak telah menghafal kata-kata yang diperkenalkan

Sesuatu yang dilakukan doman tentu menghadirkan berbagai macam kritik, termasuk dari beberapa ahli psikologo. Hal itu dikarenakan metode flash card dianggap sebagai cara yang kurang rasional serta bisa merusak pembelajaran nalar dan logika. Metode flash card berbasis hafalan, sedangkan menurut para psikolog dan orang umum, kemampuan membaca harus diproses melalui tahapan-tahapanfonemik dan fonetiik. Anak terlebih dulu harus mengenal huruf dan mampu membedakan bunyi, sampai akhirnya bisa menggabungkan huruf-huruf tersebut menjadi sebuah kata.

E. Tahapan Perkembangan Kemampuan Membaca Anak

Pada saat mengajarkan calistung kepada anak TK atau prasekolah, guru wajib mengetahui kemampuan membaca pada anak. Menurut seorang pakar yang bernama Cochrane Efal, perkembangan dasar kemampuan membaca pada anak berusia 4-6 tahun berlangsung dalam lima tahap berikut:

  1. Fantasi

Tahap ini merupakan saat anak belajar menggunakan buku. Anak mulai berpikir tentang pentingnya sebuah buku.

  1. Pembentukan Konsep Diri

Anak sudah memposisikan diri sebagai pembaca dan mulai sibuk dalam kegiatan membaca atau “pura-pura membaca buku”. Orang tua wajib memberikan rangsangan dengan cara membacakan buku terhadap anak.

  1. Membaca gambar

Anak sudah menyadari tulisan yang tampak dan menemukan kata yang dikenal

  1. Pengenalan Bacaan

Pada tahap ini, anak sudah menggunakan tiga sistem isyarat, yaitu Graphoponic, semantik, dan sintaksis secara bersama-sama. Anak sudah tertarik pada bacaan dan mulai membaca tanda-tanda yang ada di lingkungan.

  1. Membaca Lancar

Ini merupakan masa pada anak yang dapat membaca berbagai jenis buku secara bebas. Adapun orang tua dan guru tetap wajib membacakan buku kepada anak.

F. Dinamika Kemampuan Membaca

Seorang pengamat pendidikan, Jeanne Chall, mengemukakan bahwa belajar membaca mencangkup rangkuman kecakapan yang dibangun pada keterampilan sebelumnya.Guna mencapai hal ini, ada lima tahap perkembangan kemampuan membaca. Berikut kelima tahapan tersebut:

  1. Tahap Dasar

Tahap dasr bermula saat anak mulai menguasai prasyarat membaca. Setelah masuk sekolah, anak bisa membedakan huruf dalam alfabet.

  1. Tahap 1

Ini merupakan tahun pertama sekolah. Pada masa tersebut, anak sedang belajar mengenai kemampuan “merekam” fonologi.

  1. Tahap 2

Selanjutnya, di kelas dua dan tiga, anak sudah membaca dengan fasih.

  1. Tahap 3

Pada tahamp tersebut anak sudah mendapatkan informasi dan materi tertulis.

  1. Tahap 4

Tahap ini bermula di sekolah tinggi, saat kemampuan baca yang fasih sudah dikuasai. Anak gampang memahami beragam materi bacaan dan menarik kesimpulan dari bacaan.

G. Kemampuan Membaca dan Perkembangan Daya Pikir

Ada istilah yang disebut phonemic awareness, ini merupakan salah satu kemampuan yang dapat dimiliki siapa pun. Sederhananya, merupakan pengetahuan tentang huruf yang dapat dipisahkan dari suara. Kemampun tersebut biasanya belum muncul pada anak usia prasekolah.

Selain itu ada juga istilah yang dikenal dengan nama phonologic recording. Istilah tersebut ialah kesadaran terhadap fonologis dalam kemampuan awal membaca. Aanak-anak diajarkan mendengar huruf, kemudian mencoba mencocokan antara huruf huruf dan suara.

Selain beberapa istilah tersebut, guna memperkenalkan membaca kepada anak, orang tua dan guru harus memahami apa dan bagaimana konsep membaca. Sebab membaca merupakan salah satu fungsi tertinggi dalam otak manusia.

H. Cara mengajarkan Membaca Kepada Anak Usia Dini

Banyak pendekatan yang bisa dilakukan guna mengajarkan membaca kepada anak sejak usia dini. Selengkapnya sebagai berikut:

  1. Menitikberatkan pada Pemahaman Simbol atau Huruf.

Pendekatan ini dilakukan guna mengenalkan sistem simbol bunyi kepada anak sejak dini.Cara tersebut dapat dilakukan dengan cara memperkenalkan nama alfabet serta bunyinya. Proses yang akan berjalan dimulai huruf yang paling sederhana dan paling tinggi intensitas penggunaannya, seperti huruf vokal.

  1. Menekankan Belajae Membaca Kata dan Kalimat secara Utuh

Dengan pendekatan ini, anak diharapkan dapat mencari sendiri sitem huruf serta bunyi yang berlaku.

Singkat kata, orang tua hanya mengajarkan cara membaca, tanpa menjelaskan hukum-hukumnya.

  1. Cara membangkitkan Minat Baca pada Anak
  2. Banyak cara yang dapat ditempuh guna menumbuhkan serta membangkitkan minat baca pada anak, di antaranya adalah sebagai berikut:
  3. Semakin sering Anda membacakan cerita atau hal yang menarik, semakin sering pula anak belajar membaca.
  4. Biarkan anak menyaksikan serta memperhatikan cara kita membaca. Dengan sendirinya, ia akan berpikir bahwa kita menikmati buku.
  5. Ikut sertakan anak dalam kegiatan berbahasa yang berbeda-beda
  6. Berikan referensi tentang buku, majalah anak, serta gambar-gambaryang sesuai dengat minat dan kesukaan anak.
  7. Biasakan anak untuk pergi ke perpustakaan dan toko buku.
  8. Jika ada kesempatan, izinkan anak membaca bersama orang-orang yang lebih tua.
  9. Pujilah anak saat membaca, apalagi bila berhasil mengeja bacaanya. Sebab, pada umumnya semua anak suka dipuji.

I. Berbagi Metode Guna Mengajarkan Anak membaca

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh para ahli, diketahui bahwa meningkatkan kecerdasan anak bisa dilakukan sejak dalam kandungan. Selama proseskehamilan, janin akan menyerap segala bentuk latihann yang Anda berikan, sehingga berpengaruh terhadap perkembangan otaknya dikemudian hari.

Banyak hal yang bisa dilakukan untuk mendukung perkembangan otak janin. Dalam penelitiannya, Rene van De Carr dan Marc Lehre membahas mengenai metode yang mengajarkan membaca kepada anak-anak sejak dalam kandungan.

(a)  Metode Rene van De Carr dan Marc Lehreh

Metode ini dikembangkan dari sebuah penelitian yang dimulai pada tahun1979 oleh Dr. Rene van De Carr, seorang ahli kebidanan yang bekerja sama dengan seorang psikolog bernama Marc Lehrer guna mengembangkan stimulasi pralahir. Pendidikan pralahir pertama kali diterbitkan pada tahun 1992, setelah melewati proses penelitian semenjak 1979. Dari penelitian itu diyakini bahwa di dalam rahim, janin dapat melakukan banyak hal, seperti belajar serta merasakan perbedanna terang dan gelap.

Saat kandungan berusia 20 minggu, kemampuan janin berkembang pesat. Pada masa ini, biasanya para ibu melakukan stimulasi berupa permainan permainan belajar. Pada prinsipnya, janin dalam kandungan mendengarberbagai bunyi yang ada di lingkungannya. Tetapi, kebanyakan bunyi tersebut tidak beraturan. Jadi, langkah -langkah yang dapat Anda lakukan ialah sebagai berikut:

  1. Dirangsang menggunakan Selo atau Alat Musik Lainnya
  2. Berilah Tanggapan terhadap segala Aktivitas Bayi Anda
  3. Berbicara dengan Nada Teratur

(b)  Metode Gelnn Doman

Ada dua faktor yang sangat penting dalam mengajar anak. Pertama, sikap dan pendekatan orang tua. Kedua, mwmbatasi waktu dalam melakukan permainan, sehingga betul betul singkat. Hentikan permainan tersebut sebelum anak yang ingin menghentikannya.

(c)  Mendongeng menggunakan Alat peraga

Bercerita menggunakan Alat peraga sangat efektif bila digunakan oleh orang tua kepada anaknya. Aalat peraga yang digunakan berupagambar dan huruf yang ditulis berwarna warni pada kertas karton.

(d)  Bermain Gambar sambil Mengenal Huruf

Banyak orang tua yang tidak tahu bahwa melihat gambar termasuk salah satu bentuk membaca. Salah satu tugas orang tua dalam mempersiapkan nama depan anak ialah memastikan saat berusia 3-5 tahun sudah memiliki ketertarikan terhadap kegiatan “membaca” gambar, simbol, dan logo disekitarnya.

(e)  Metode Role Play

Metode ini sederhana, caranya ialah anak diajak bermain menggunakan berbagai macam permainan yang sudah ada atau kreasi sendiri. Anak bisa diajak bermain mencari huruf yang hilang, dan lainnya. Beri anak pujian setiap berhasil menebak huruf dengan benar.

(f)  Belajar Membaca dan Cerita

Bercerita di waktu santai juga bagus dalam rangka melatih kemampuan anak guna membaca keras. Membaca keras sangat penting bagi anak, karena membantu perkembangan daya serap serta konsentrasi.

Selain itu, Anda bisa melakukan beberapa kegiatan pendukung. Diantaranya ialah sebagai berikut:

  1. Selalu Membaca
  2. Perkenalkan Media Cetak
  3. Jadilah pendengar yang Baik
  4. Mengobrol dengan anak

(g)  Beberapa Metode Sederhana Lainnya

  1. Huruf dinding
  2. Memperkenalkan Alfabet melalui Komputer
  3. Memperkenalkan Alfabet dengan Bermain
  4. Metode Mengeja
  5. Metode Bertahap
  6. Metode Suku Kata
  7. Metode Games

Karya:

Aulia Revolusi pembuat Anak Candu Membaca, Aulia, Penerbit  DIVA Press, www.diovapress-onlie.com, No ISBN 978-602-7723-33-7