1Seseorang yang akan menjadi Prajurit harus selalu ingat akan kematian sepanjang waktu, setiap hari, setiap malam, dari pagi Tahun Baru hingga malam Akhir Tahun. Kesadaran siap mati harus ditanamkan di dalam otak, karena bila selalu ingat kematian di sepanjang waktu tentu akan menunjang untuk siap mengemban tugas dan setia pada kaisar serta menghindari dari segala perbuatan setan  dan kejahatan serta dapat memelihara fisik agar tetap sehat dan kuat serta menjadi pribadi yang lebih baik. Kehidupan setiap manusia ibarat embun pagi hari yang sangat rapuh dan gampang lenyap karena terkena sinar matahari, tiupan angin, gerakan daun, atau lainnya. Jika itu merupakan kehidupan rata-rata manusia maka kehidupan Prajurit jauh lebih rawan karena Prajurit lebih terkait dengan peperangan. Sebagai Prajurit harus menyadari bahwa hidup adalah hanya saat ini dan tidak tahu pasti apa yang akan terjadi besok, jika mengemban tugas dari Kaisar/Majikan atau memenuhi memenuhi kewajiban untuk orang tua maka akan punya perasaan bahwa itu adalah kesempatan terakhir. Dan memotivasi diri untuk tidak boleh gagal dalam mengemban tugas dan membantu orang tua.

  • Pendidikan

Kaum prajurit berada di posisi lebih atas daripada tiga kelas lainnya. Kaum perajurit juga diharapkan menjadi administratur profesional. Karena itu, mereka perlu mempelajari dan mendapatkan pemahaman sangat ekstentif tentang berbagai prinsip apa saja. Para prajurit uang hidup dalam zaman perang sudah terjun pertama kalinya dalam perang sungguhan di usia 17 atau 16 tahun dan langsung melakukan pekerjaan mereka sebagai ksatria, sehingga mereka harus berlatih bela diri saat usia 12 atau 13 tahun. Dalam era Zaman Perang, ada sejumlah prajurit yang sama sekali tidak bisa membaca huruf dalam kamus. Hal itu terjadi karena mereka harus kosentrasi pada seni militer. Bagi prajurit yang dilahirkan di era sekarang saat suasana sudah damai, dari usia 7 atau 8 tahun mereka harus tetap diajari sastra klasik, membaca, dan menulis. Kemudian saat di usia 15 atau 16 tahun mereka juga harus diajari berlatih memanah, berkuda dan semua bentuk seni bela diri.

  • Kewajiban Keluarga

Bagi prajurit, menyayangi orang tua adalah hal yang sangat fundamental. Jika seseorang tidak lagi memperdulikan orang tua, meski ia luar biasa pandai, ganteng, atau bertutur cukup bagus maka, ia bukanlah oarang yang baik. Untuk paham Bushido, kau harus menjalan kan dari akar sampai ranting. Jika tidak bisa memahami dari akar sampai rantingnya, kau tidak akan bisa tahu apa kewajibanmu. Seseorang yang tidak tahu kewajibannya tentu sangat tidak layak untuk disebut prajurit. Ada dua cara untuk menyayangi dan memperdulikan orang tua dengan baik. Pertama, jika mereka tekah memperlakukan kita dengan baik dan pernah  membantu kita secara personal maupun finansial, kita tidak boleh meremehkannya jika mereka membutuhkan pertolongan. Kita harus bersedia menyisihkan sejenak urusan pribadi kita untuk menolong mereka. Kedua, harus menghargai, menghormati, menghibur dan membantu saat menghadapi proses penuaan dan penurunan kualitas hidup, serta harus merawat dengan setulus hati. Ini adalah tujuan anak yang berbakti. Prajurit dengan spirit seperti ini menunjukan bahwa ia paham persyaratan-persyaratan tentang loyalitas (kesetiaan) dan kewajiban. Sehingga, dapat menjadi prajurit yang setia mengabdi pada majikannya dan rela mengorbankan nyawanya sendiri.

  • Prinsip-Prinsip Keprajuritan

Dalam Bushido, ada dua jenis prinsip dengan empat level; kedua prinsip itu adalah prinsip kedaaan normal dan prinsip keadaan darurat perang. Prinsip keadaan normal meliputi prinsip kesatriaan dan prinsip persenjataan, prinsip keadaan darurat perang meliputi prinsip kerentaraan dan prinsip tempur. Di depan publik, meski sedang tidak bertugas, kau tidak boleh sembarangan bersantai. Lebih baik membaca, berlatih kaligrafi, mengkaji kisah-kisah kuno atau tata krama keprajuritan kuno. Seorang prajurit yang sudah menjalani empat level prinsip keadaan normal dan prinsip keadaan darurat perang dengan sempurna akan dianggap sebagai ksatria level tinggi. Jika sudah menampung dua prinsip keadaan normal, maka cukup kompeten untuk mengemban tugas ksatria. Namun, jika belum menguasai dua level dalam prinsip keadaan darurat perang, maka tidak akan bisa menjadi komandan samurai, pemimpin kelompok, hakim atau yang setara dengan itu. Untuk itu diperlukan keteguhan hati untuk menjadi ksatria kelas tinggi.

  • Selalu Waspada Pertempuran

Bagi prajurit penting untuk terus memelihara spirit tempur di dalam hati selama 24 jam sehari, saat berjalan atau berdiri, saat duduk atau bersandar dan tidak pernah melupakan kewajibannya. Adat istiadat orang Jepang berbeda dengan adat istiadat negara lain. Di Jepang orang dari kelas rendah seperti petani, pedagang dan seniman tetap membawa pedang meski pendek dan berkarat. Namun, adat istiadat Jepang pulalah yang menentukan bahwa ketiga kelas rendah ini tidak menjadikan ketentaraan sebagai profesi. Jika kau tidak pernah melupakan spirit bertempur, kau juga akan secara spontan bertindak seiring dengan realita tetap memikirkan kematian di sepanjang waktu. Seorang prajurit yang mengenakan dua pedang di pinggang namun, tidak memiliki spirit tempur bukanlah seorang prajurit melainkan hanya seorang petani atau pedagang yang berkulit prajurit.

  • Biarawan-Prajurit

Sejak era sangat lama, sudah ada tradisi yang mengkaitkan biarawan dengan prajurit. Maka, atas dasar itu selalu ada kesamaan antar biarawan dan prajurit. Misalnya dalam sekolah-sekolah Zen, orang yang disebut Pustakawan dan Pemimpin Majelis adalah bara niarawan biasa sama dengan status para prajurit. Level berikutnya yang lebih tinggi, dalam biara adalah Asisten Guru, yang setara dengan tatanan dlam milliter, seperti kelompok dalam keksatriaan, atau kepala pasukan darat. Yang lebih tinggi lagi, meski tanpa gelar saat biarawan sudah mengenakan pakaian keagamaan penuh warna, memegang simbol-simbol otorita dan sudah memimpin sekelompok besar, maka mereka sudah patut disebut Sesepuh atau Master. Para biarawan ini levelnya sudah setara dengan prajurit yang sudah memiliki bendera sendiri, lencana sendiri serta tongkat komando, memimpin para ksatria atau infanri, yang memimpin tentara dan mngekomando pasukan atau komndan regu pemanah. Saat seorang prajurit yang memegang komando melakukan kekeliruan dalam kepemimpinannya, maka itu bisa membahayakan nyawa tentaranya dan menyebakan musibah besar. Karena itu, sangat penting untuk memahami hal ini, gunakan waktu senggangmu diluar masa tugasmu untuk menyempurnakan pemahaman prinsip-prinsip militer. Belajarlah dan berlatihlah sehingga tidak ada posisi yang kau tidak bisa jalankan bahkan saat posisi tertinggi sebagai komandan.

  • Benar dan Salah

Sepanjang, itu disadari dan diterima, para prajurit harus paham mana yang benar dan yang salah serta berusaha keras melakukan yang benar dan menhindari yang salah dengan cara itulah Bushido bisa hidup. Benar dan salah bisa berarti baik dan jahat, benar adalah baik, salah adalah jahat. Prajurit sangat perlu untuk mengetahui yang keliru dan yang benar, serta menghindari yang keliru dan memburu yang benar. Proses memanen manfaat dari praktik melakukan hal yang benar itu diawali dengan ketakutan akan tidak dihargai oleh orang-orang yang dekat dengan dirimu, diawali dari anggota keluarga dan pembantu. Proses ini kemudian berkembang ke menjaga diri dari melakukan yang keliru dan melakukan yang benar. Bila kau terbiasa melakukan ini maka akan menjadi kebiasaan dan kau bisa mengembangkan mentalitas yang lebih memilih mengikuti yang benar dan menghindari yang salah.

  • Pemberani

Dalam Bushido, ada tiga hal yang dipertimbangkan sangat esensial; kesetiaan, tugas dan keberanian. Prajurit yang memiliki kombinasi tuga sosok, baik berupa kesetiaan, pengembanan tugas dan keberanian, bisa dipertimbangkan sebagai ksatria dengan orde tinggi. Seseorang yang batinnya memang pemberani akan menunjukan loyalitas dan kasih sayang pada majikannya dan orang tuanya. Jika ada waktu luang ia akan mempelajari literatur dan terus berlatih seni bela diri. Ia menghindari kemewahan personal, tidak berfoya-foya atau menghambur-hamburkan sepersen uang. Ia juga tidak tamak, ia membelanjakan uang hanya jika memang diperlukan. Ia juga menjaga tubuh agar tetap fit, karena selalu ingin menuntaskan kewajiban di dalam hidupnya. Ia akan selalu menjaga kesehatannya, memoderatkan makanan dan tidak minum-minuman keras. Semua ini merupakan cerminan mentalitas pemberani.

  • Sopan Santun dan Rasa Hormat

Saat orang muda atau samurai secara tidak sopan melakukan pembicaraan atau interaksi lain dengan majikan atau orang tuanya dan tidak sempat diperhatikan sepanjang mereka tetap santun terhadap majikan atau orang tua, maka, kewajiban dan loyalitas keluarga lah yang membedakan tiga kelas lebih rendah ini. Dalam Bushido, tak peduli seberapa banyak kau menanamkan loyalitas dan kewajiban keluarga didalam hati, jika tanpa perilaku yang baik untuk mengekspresikan ras hormat pada majikan dan orang tua maka kau tidak bia diakatakan sudah menghargai cara hidup seorang samurai.

  • Berkuda

Pada era emas, dikatakan bahwa prajuit dari semua peringkat bependapatan memanah atau berkuda adalah seni bela diri tertinggi. Prajurit di masa kini lebih terkonsentrasi pada berlatih pedang, tombak, dan berkuda, yang tak kalah pentingnya. Seperti halnya seni bela diri lain seperti, memanah, menembak dan jujitsu, tentu para prajurit muda berlatih rutin setiap pagi dan sore. Prajurit dijajaran lebih rendah sangat diharapkan bisa belajar berkendara kuda dengan baik. Ini akan membuat mereka bisa mengendarai kuda apa saja, bahkan yang masih liar dan yang susah di atur. Kuda bagus dan gampang dinaiki jaranga ada. Kalau ada, kuda-kuda seperti itu digunakan untuk para prajurit besar dan jarang di temukan di istal-istal untuk prajurit berpangkat lebih rendah. Maka, jika kau jago berkuda, maka kau bisa mengenali kuda yang bagus meski masih terlalu liar, terlalu tempramental,atau susah diatur, lalu kau bisa selalu memiliki kuda lebih baik daripada kau secara normal mendapatkannya.

  • Prinsip Tentara dan Prinsip Tempur

Jika ingin mempelajari ilmu militer, jangan sekali-sekali berhenti ditengah jalan. Kau harus berlatih hingga mencapai rahasia-rahasia terdalamnya lalu akhirnya kembali ke kesederhanaan sejati dan hidup dalam damai. Namun, jika kau menggunakan waktu untuk belajar dan berlatih ilmu militer dengan setengah-setengah, lalu tidak tahu jalan kembali kesederhanaannya, maka itu akan membuat kau menjadi frustasi dan kehilangan moral. Dalam konteks ini yang dimaksud dengan kembali kesederhanan adalah merujuk pada kondisi-kondisi fikiranmu sendiri saat sebelum mempelajari ilmu militer.

  • Mengelola Rumah Tangga

Jika prajurit kecewa atas perilaku istrinya, maka ia harus menjelaskan alasannya lalu membimbing istrinya sedemikian rupa sehingga mengerti. Jika kekecewaan itu terkait hal-hal yang remeh, maka lebih baik ia memaafkan dan toleran untuk menyisihkannya. Namun, jika sang istri itu memiliki sifat dan perilaku buruk dan tampaknya tidak akan bisa diubah jadi lebih baik, maka si prajurit disarankan menceraikannya lalu mengembalikannya kepada orang tuanya. Jika kau tidak mengikuti nasehat ini dan malahan memaki-maki istri yang harusnya dihargai sebagai orang kedua. Didalam rumah tangga dan menyiksanya dengan kata-kata kasar seperti umpatan kotor orang-orang dijalanan, maka tentu itu bukan perilaku yang patut bagi prajurit ksatria. Yang juga sangat tidak patut adalah mengacungkan pedang atau melontarkan tinju ke istri. Ini sungguh perilaku yan tidak terhormat dan karakteristik dari prajurit yang pengecut. Menyiksa orang yang tidak bisa membalas adalah sesuatu yang tidak patut dilakukan oleh prajurit. Jika ada prajurit yang melakukannya prajurit itu tergolong pengecut.

  • Keluarga Besar

Suatu dari garis keturunan langsung kepala keluarga besar, atau dari garis keturunan langsung nenek moyang tiba-tiba menderita kehancuran dan tumbang dalam urusan dunia. Sikap layaknya ksatria adalah tidak menjauhkan diri dari mereka. Kau harus tetap memelihara hubungan baik dan menghubungi mereka dari waktu ke waktu. Menjadi oportunis, Cuma manghargai saat mereka berjaya namun meningalkan mereka saat jatuh adalah mentalitas petai atau pedagang bukan mentalitas prajurit.

  • Hemat

Prajurit dalam dinas publik, tak peduli statusnya besar atau kecil harus selalu hemat dan berhati-hati agar tidak belanja berlebihan. Kehidupan individual adalah urusan pribadi. Maka bila hidup dengan belanja yang sedang-sedang saja, berusaha keras untuk menghindari belanja yang tidak berguna , bahkan meski hanya sedikit. Belanjakan uang hanya kenutuhan yang memang sangat dibutuhkan, inilah salah satu cara berhemat. Namun, saat kau terobsesi dengan berhemat, enggan membelanjakan uang dan terkonsentrasi hanya untuk menabung. Kemudian, saat kau bisa dengan cepat memulihkan kondisi keuangan dan bahkan menjadi lebih kaya daripada sebelumnya, kau menjadi lebih serakah dan kikir pda akhirnya mengabaikan tugas dan kewajiban karena semua yang kau fikirkan hanya lah menghemat uang, maka ini disebut pelit atau kikir. Orang-orang kuno bilang ‘kikir’ adalah kata lain dari ‘pengecut’.

  • Membangun rumah

Saat seorang prajurit dalam dinas publik membangun rumah, bisa dipahami jika ia ingin membuat penampilan luarnya, misalnya; pagarnya, petak penjaganya, berandanya dan tuang tamunya sebagus mungkin untuk mencerminkan statusnya. Dalam setiap kota kastil, orang dari tempat lain dan dari provinsi lain diperbolehkan masuk sejauh mungkin hanya di lingkaran luar dan boleh melihat-lihat sekitar. Jika rumah prajurit itui bagus dan tampak damai, ini akan tampak menjadi nilai plus bagi si empunya kastil.  Dalam era peperangan, bahkan baron  terbesar yang jadi master dalam kastil pun selalu khawatir akan dikepung lalu di sergap di dalam istananya sendiri. Maka, rumah-rumah untuk para prajurit di lingkar kedua dan ketiga dibuat rendah, sempit dan di bangun ringan-ringan saja. Bahkan, untuk para prajurit di lingkar terluar yang akan membakar rumah-rumah mereka sendiri saat ada krisis tidak ada keperluan untuk membangun rumah secara permanen. Bahkan, rumah-rumah dengan kontruksi yang sangat ringan sampai-sampai digambarkan seperti sekedar tenda untuk tidur. Dari sudut pandang ini, bahkan saat era damai, ksatria yang menjalankan Bushido tidak diperkenankan membangun rumah terlalu indah yang seolah-olah akan mereka tinggali selamanya.

  • Perlengkapan Militer

Ksatria yang sedang dalam tugas publik harus menjaga dan memelihara perlengkapan militernya dan persenjataannya denga sebaik-baiknya seiring dengan status mereka. Ini meliputi barang-barang yang ada dalam kode-kode militer di dalam setiap rumah dan yang diperintahkan oleh majikan mereka, misalnya; emblem individu, tutup kepala, emblem tombak, emblem tameng dan emblem pengangkut. Maka, pengenalan emblem-emblem semacam itu harus selalu di berikan untuk rumah secara keseluruhan. Seorang ksatria harus selalu siap untuk bertugas, tak peduli betapa damainya keadaan, jika sudah mau menerima gaji untuk dinas militer namun, gagal mempertimbangkan kemungkinan perang dan gagal melengakapi diri sepenuhnya dengan persenjataan dan perlengkapan militer, maka ia seratus kali lebih lalai daripada mereka yang mengganti bilah pedang dengan keping bambu atau pemuda dan ksatria muda yang tidak mengenakan pelindung tubuh.

  • Mempersenjatai Anak Buah

Seorang prajurit level rendah tidak boleh mengomando satu kontigen besar pengikut bahkan dalam keadaan darurat. Maka, ia tidak bisa mempersenjatai mereka lebih dari sebatang tombak. Jika tombak itu patah, maka akan ada satu batang tombak yang hilang, sehingga masuk akal jika menyiapkan mata tombaknya dan memasangkannya dengan apa saja yang cocok pada saat itu. Misalnya, dengan batang bambu. Juga, pasok pedang-pedang panjang yang kokoh, bahkan jika sedikit rusak untuk digunakan para prajurit pemula. Beri juga baju besi dan helm besi untuk kaum muda pemberani, alat pelindung dada,  pelindung kepala, dan bahkan topi baja untuk pesuruh dan calon ksatria; bahkan jiak kau prajurit tingkat lebih rendah, kau juga harus mengenakan pelindung tubuh.

  • Prajurit

Prajurit adalah fungsionaris yang harusnya bisa menghukum penjahat pengganggu masyarakat dan memberikan keamanan bagi tiga kelas lainnya. Karena itu, meski kau hanya prajurit di peringkat sangat bawah, sebagai prajurit kau tidak boleh melanggar dan mengganggu tiga kelas lainnya. Prajurit tugasnya memberantas penyamun, dan jangan sampai bertindak seperti penyamun.

  • Rendah Hati

Para prajurit yang sedang mencari pekerjaan pada majikan, harus selalu merendahkan diri saat berurusan dengan gaji. Sikap rendah hati dan sopan-santun prajurit seperti itu masih ada. Ekspresi semacam itu bermuasal dari ketidak-sediaan untuk menyuarakan jumlah spesifik untuk gaji. Kala itu ada pepatah “Seekor elang, meski sangat kelaparan, tidak akan makan padi; seorang prajurit, bahkan meski belum makan, tetap memainkan tusuk gigi.” Orang muda tidak akan berbicara tentang hal-hal semacam gaji atau harga komoditas dan wajah mereka akan memerah malu jika mendengar pembicaraan tentang seks. Bagi mereka-mereka yang bakal menjadi prajurit, sangat diharapkan mencoba meniru sikap para prajurit era lama.

  • Melilih Teman

Seorang prajurit dalam tugas boleh punya banyak kolega, namun sangat alami jika mengembangkan pertemanan khusus dengan prajurit yang berani, cerdas, adil dan berpengaruh. Sayangnya, tidak banyak prajurit yang seperti itu. Maka, jika ada bahkan cuma seorang saja yang bisa menghubungkan dengan teman-teman lain seperti itu, bisa menjadi bantuan besar saat kau sedang membutuhkan. Para prajurit bisa menjadi sahabat dekat hanya saat mereka bisa saling melihat hati masing-masing. Prajurit tidak boleh bergaul secara kasual hanya untuk saat luang yang bagus atau dalam obrolan santai. Jika mereka tiba-tiba kehilangan total perilaku taat adat, bertindak terlalu familiar, bergadang malam-malam, jika mereka harus merasa dalam keadaan tidak baik sehingga akhirnya bicara sembrono, maka mereka tidak akan bicara lebih banyak lagi, karena tidak akan bisa dipercaya. Jika sudah tidak ada lagi orang yang mendamaikan mereka, maka pada akhirnya mereka akan angkat bahu tanpa ada kebanggaan untuk meluruskan omongan. Penampilan luar mereka boleh saja sebagai prajurit, namun jiwa mereka tak lebih dari buruh kasar biasa.

  • Hubungan Bersahabat

Bagi prajurit menjadi bergantung pada orang lain itu boleh sepanjang masih sesuai dengan Bushido. Akan tetapi, jika kau menunjukan kebergantungan tanpa alasan yang tepat, menunjuk-nunjukan diri saat kau seharusnya tidak ada urusan, berbicara tentang beban yang sebenarnya tidak terlalu memberatkanmu, maka kau pantas disebut sebagai oarang yang suka mencampuri urusan orang lain. Ini sama sekali tidak baik. Jika kau tidak ada kepentingan dan tidak diminta, maka lebih baik tidak usah terlibat. Jika kau prajurit, saat kau menerima permintaan untuk membantu seseorang maka kau harus siap mengembannya sendiri tak peduli seberapa sulit. mengekspersikan pda orang lain atau menunjukan penolakan pada pandangan orang lain adalah hal yang harus dipertimbangkan dengan matang. Apapun yang dikatakan prajurit harus bijaksana dan dengan penuh perhatian. Seberapa banyak kau berbicara dengan teman atau kolega; bijaksana adalah lebih pas dalam keadaan seperti itu. Jika seseorang mendatangimu meminta nasihat, beranilah dengan tegas menolaknya atas dasar jika hal itu jauh di luar wewenangmu. Begitu kau sudah menjadi orang kepercayaan seseorang, itu sudah menunjukan ketergantungan untuk memburu kebenaran dan mengungkapkan fikiranmu lebih bebas bahkan jika orang lain itu tidak suka apa yang kau katakan. Jika ada orang yang begitu kurang kecerdasan sehingga menolak nasihat dan membuat kekeliruan karena berkepala batu serta bersikeras melakukan sesuatu dengan cara mereka sendiri, maka kau tidak perlu membina hubungan persahabatan dengan mereka.

  • Hubungan yang Sulit

Seorang prajurit dalam tugas publik mungkin saja memiliki beberapa kolega yang sulit membina hubungan dengan beberapa alasan. Bukan karena bermusuhan atau bersaing, namun hanya merasa kurang cocok. Anggap saja ada seorang prajurit yang kurang baik. Ia melihat ada pendatang baru yang kurang pengalaman, namun berusaha keras untuk menjalankan tugasnya. Ia ingin dan senang sekali melihat pendatang baru melakukan kesalahan.ini jelas mentalitas yang tidak baik. Prajurit dengan mentalitas seperti itu pasti bakal melakukan sesuatu yang pengecut jika berada dalam masa-masa kritis, misalnya mencuri piala peperangan orang lain demi kepentingannya sendiri atau membunuh orang dari pihaknya sendiri.

  • Kemasyuran

Seorang prajurit harus membaca kitab-kitab lama secara rutin untuk memperkuat jati diri. Dalam buku-buku terkenal semisal Koyo Gunkan, Nobunaga-ki, Taiko-ki dan lain-lain. Serta dalam rekaman kisah-kisah peperangan, tercatat nama-nama orang yang melakukan hal-hal yang luar biasa hebat dan tercatat jumlah kematian. Diantara ribuan kematian tentu ada sejumlah ksatria denga status tinggi yang nama-namanya tidak tercatat karena mereka tidak melakukan hal yang patut. Hany prajurit dengan prestasi militer hebatlah yang namanya tercatat meski status prajurit itu rendah. Sikap dasar bagi parjurit sejati adalah bertekad jika haru mempertaruhkan nyawa. Maka, secara heroik, disegani oleh kawan maupun lawan, sehingga kematian justru membuat majikan dan komandan merasa sangat kehilangan, serta menjadi kehormatan bagi keturunan sepanjang masa.

  • Omong Besar dan Kritik

Dikalangan prajurit ada sebagian yang suka omong besar dan ada yang hanya suka mengkritik. Kedua jenis ini tampaknya serupa namun harus disadari bahwa mereka sangan berbeda. Mereka yang punya omongan besar itu sudah melakukan beberapa kali tugas militer besar dan tak kurang apa pun dalam hal kode peperangan; namun mereka terhambat secara sosial dan profesional oleh fakta bahwa mereka kadang bisa sangat keras kepala, sehingga mereka tidak bisa diandalkan sebagai penasihat. Gaji dan posisi mereka tidak bisa menjangkau reputasi terkenal mereka. Jadi mereka mengembangkan sikap ‘masa bodoh’ dengan mengatakan apapun yang mereka inginkan kapanpun mereka mau. Meski demikian, atasan dan konselor tinggi tidak mengindahkan mereka sehingga mereka menjadi semakin tak terkendali, menyatakan kebaikan dan kejelekan orang lain tanpa ampun atau tanpa maaf dan menjadi pembual hingga akhir hayat.

  • Berpergian

Saat para ksatria sedang melakukan perjalanan, mereka yang diperingkat rendah mungkin harus naik kuda beban. Dalam kasus itu, mereka harus mengamankan pedang panjang dan pedang pendek mereka agar tidak terlontar dari sarungnya jika terjatuh dari kuda. Ada puisi dari jaman kuno yang berbunyi sebagai berikut :

Bahkan jika menyeberangi Jembatan Panah

Adalah jalan pintas bagi prajurit,

Jika kau sedang terburu

Tetap saja ambil jalan memutar di jembatan

Panjang Seta

Instruksi ini tidak hanya berlaku untuk mereka yang melakukan perjalanan; orang harus memiliki sikap seperti ini di segala hal.

  • Jangan Menyakiti Hati

Bagi ksatria yang dipekerjakan dalam dinas publik, penting untuk selalu waspada tidak menggosip, bahkan jika kau melihat atau mendengar hal-hal buruk tentang kolega. Alasan untuk ini adalah kau tidak pernah tahu jenis kaesalahan atau kesalah pahaman apa yang kau buat sendiri. Terlebih, para eksekutif dan perwira senior ditunjuk oleh majikan yang memperkerjakan kau akan menilai menurut persepsi dia sendiri. Maka, berbicara buruk tentang mereka adalah setara dengan mencela majikanmu sendiri.

  • Pengasuhan

Dalam era Zaman Perang, jika seorang ksatria tumbang dalam peperangan setelah melakukan pertarungan sengit atau jika ia terluka fatal dan akhirnya mati, dengan pertimbangan tertentu maka majikan atau komandan akan membolehkan putra ksatria itu untuk mewarisi posisinya tanpa harus tes dulu, bahkan jika si putra itu baru dilahirkan beberapa tahun sebelumnya. Karena si anak masih terlalu muda untuk dinas militer, jika adik ayahnya tidak dalam tugas, maka si adik ini bisa ditunjuk oleh komandan tertinggi untuk mengantikan kakaknya sementara dan mendidik si anak saat masih kecil, ini disebut sebagai pengasuhan.

  • Menghadapi Maut

Perhatian paling utama bagi prajurit, tak peduli apapun pangkatnya, adalah bagaimana ia akan bertindak dan bersikap saat sedang menghadapi ajal. Tak masalah betapa cerdas dan lancar kau berbicara sebagaimana tampak dalam kondisi normal, jika kau sudah kehilangan bentuk menjelang ajal dalam kondisi yang tak terbayangkan, lalu tiba-tiba sikapmu itu berubah menjadi kecongkakan, maka kau setelah mati akan dipandang rendah oleh orang lain. Membuat pernyataan akhir yang definitif adalah tugas dari prajurit sejati. Bahkan, ada saga yang mengatakan “saat orang menjelang ajal, biarkan kata-katanya yang bagus saja.” Jika kau masuk ke medan tempur dengan sikap pengecut, tidak ada cara lain buat kau untuk menjalani kematian yang baik dengan membawa kesetiaan mengemban tugas. Karena itulah, mereka yang paham betul tentang keprajuritan akan merujuk kematian bahkan saat di tempat tidur karena sakit sebagai “Peristiwa besar sekali seumur hidup.”

  • Pelayanan

Sejak era kuno, bahkan hingga sekarang, sudah ada aturan baku di rumah-rumah samurai untuk selalu bersama-sama dan saling membantu saat sang majikan sedang dalam kesulitan. Sebaliknya, majikan juga menggunakan kekuasaannya untuk membantu rumah-rumah samurai jika dalam kesulitan. Saat majikan sedang dalam masalah keuangan, maka ini akan berpengaruh pada publik. Bahkan, hal-hal yang seharusnya dilakukan majikan, misalnya urusan kantor tuan tanah, umumnya harus di tunda. Bagi para samurai, memang mengecewakan jika majikan saat itu sedang tidak bisa berbuat banyak. Dalam era damai, prosesi pasukan bela diri di depan mata publik semua kelas adalah pemandangan yang bagus. Karena hal ini untuk kekuatan, jika barisan manusia dan kuda bagianmu tampak inferior daripada pasukan dari majikan lainnya, maka itu akan menjadi pemandangan yang timpang. Itu juga akan bisa menjadi sumber rasa malu sepanjang hidup bagi majikan dan komandan. Dalam periode saat mana uang gajimu terpangkas, kau harus berfikir untuk berhemat di segala bidang, mengurangi jumlah personel dan kuda, mengenakan pakaian kertas dan katun pada musim dingin dan pakaian rami pada musim panas, makan beras kasar dan sup miso tambah sekam pada pagi dan sore. Ambil sendiri air untuk minum dan mandi, belahan kayu bakar sendiri; perintahkan istri sendiri untuk masak. Bertahanlah, sebaik-baiknya dalam kondisi berat ini, fokuskan pada kehendak untuk membantu agar kondisi finansial majikan membaik; ini adalah motivasi dasar dari pelayanan terhadap majikan.

  • Pengabdian

Ada dua level orang yang mengabdi di rumah-rumah prajurit. Ksatria muda dan prajurit tingkat rendah memang harus bekerja keras, sehingga tampak sibuk baik siang maupun malam. Namun, tidak ada konvensi bahwa mereka harus rela mengorbankan nyawa untuk kepentingan majikan. Karena itu, jika mereka bertindak tidak tegas di medan tempur, maka tidak ada sanksi khusus terhadap mereka dalam keadaan itu. Jadi, mereka bisa disebut sebagai pembantu yang hanya menjual raga. Sebaliknya, seorang ksatria mempersembahkan seluruh hidupnya untuk melakukan pelayanan tugas. Karena pekerjaan pada majikan itu pada dasarnya adalah tugas militer, maka dalam kondisi darurat si tuan harusnya menyiapkan milisi yang setara dengan statusnya. Sebagai samurai yang tugasnya membantu majikan, kau harus mengetahui hubungan khusus dengan majikanmu sendiri diantara semua majikan-majikan lain di level lokal maupun level provinsi di seantero Jepang. Ksatria yang loyal dan bertanggung jawab atau mereka yang dikatakan cerdas adalah orang yang menyadari betul hal diatas, bisa menahan diri dari keterlibatan dengan pertengakaran dan mengingatkan diri bahwa ia telah menyerahkan raga dan jiwa pada tuannya.

  • Dinas Militer

Umumnya tugas-tugas militer resmi dari prajurit ada dua jalur; perang dan kontruksi. Saat dunia sedang dalam peperangan, hari-hari berjalan dipenuhi dengan pertempuran dan perkelahian sehingga prajurit tidak akan bisa istirahat bahkan cuma sehari. Dalam masa damai, tidak ada peperangan sehingga tidak ada konstruksi khusus untuk tujuan itu. Karena itu, para ksatria di bawah seorang komandan militer mendapat berbagai tugas semisal penjagaan, pengawalan, jadi utusan dan lain-lain.

  • Penilaian yang Baik

Saat ada sakit parah atau peristiwa tragis di kediaman kolega yang masih tergolong bertetangga meski kau tidak terlalu kenal dengan dia kau harus menjaga diri agar tidak tertawa keras-keras, menyanyi riang dan sejenisnya. Kau harus memerintahkan istrimu, anak-anakmu dan pembantumu untuk melakukan hal serupa. Ini bukan sekedar karena apa yang akan difikirkan orang tertentu. Ini sebenarnya juga masalah diskresi malu karena dipandang orang lain sebagai individu yang tidak sopan dan tidak peka.

  • Ekspresi Verbal

Saat seorang ksatria dalam tugas di beri tugas pentung berupa tarung sampai mati oleh tuannya, maka ia harus berkata tegas, “Bagi saya, di tunjuk untuk tugas penting ini, diantara bnyak orang di dalam tatanan ini, adalah takdir yang tepat sebagai seorang prajurit; dan saya sangat berterima kasih. Tentu saya menerimanya tanpa ragu.” Jika kau yakin berani menjalankan eksekusi itu dengan sikap terpuji dihadapan tuanmu, maka ituakan memberi tanda kebaikan. Jika kau beruntung dan semua berjalan baik, orang akan memujimu. Meski kau sudah cukup meyakinkan bisa menjalankan tugas itu begitu kau menerimanya. Pada akhirnya kau memang bisa menjalankannya dengan baik. Perhatian paling utama bagi semua prajurit adalah jangan pernah sampai melakukan kekeliruan konyol atau terpeleset kedalam kesalahan.

  • Sejarah Keluarga

Ksatria yang dalam tugas, bahkan jika ia masih pendatang baru, harus menanyakan pada senior sehingga ia jadi tahu betul tentang asal-usul tatanan rumah majikannya, para pendahulunya, kerabat sedarah, kerabat hasil pernikahannya, dan bahkan para kolega tertentu yang belum banyak dikenal dunia luar.

  • Pengawalan

Saat seorang ksatria sedang mengawal tuannya dalam suatu perjalanan, saat mereka tiba di suatu tempat penghentian maka ia harus segera bicara dan bertanya pada penduduk setempat. Ia harus segera bisa menemukan arah utama terkait gunung, hutan, kuil, atau tempat suci, yang bisa dilihat di lingkungan terdekat. Ia juga harus bisa mendapatkan semua informasi itu dengan ketepatan tinggi sebelum matahari terbenam. Alasannya adalah; jika ada masalah pada malam hari, misalnya ada kebakaran, maka ia bisa membimbing dan menunjukan jalan pada tuannya untuk menyelamatkan diri. Kemudian, saat bertugas melakukan pengawalan dengan jalan kaki, ia harus bisa memastikan diri berada di depan tuannya saat menuruni bukit. Ini tampaknya biasa-biasa saja, namun sebenarnya ini bagian dari tugas utama.

  • Pejabat

Ada ucapan umum mengatakan, “Jaket putih dan penjabat itu sama-sama bagusnya hanya kalau masih baru.” Saat jaket putih masih baru, penampilannya memang sangat bagus. Namun, setelah digunakan berapa lama, jaket putih itu mulai menampakan warna kotor terutama di krah leher dan ujung lengannya. Tak lama kemudian, warnanya semakin memudar dan bahkan kelabu. Kalau sudah begini, jaket itu sudah jadi kotor dan jelek. Hal itu serupa dengan penjabat yang masih baru dalam pekerjaan tertentu yang merasa berdosa, selalu mengikuti perintah atasan dengan tepat dan cermat serta selalu memperhatikan atas hal-hal kecil sekalipun. Dalam proses, mereka amat sadar untuk tidak melanggar sumpah jabatan. Maka, mereka menjalankan tugas hingga di atas garis batas celaan. Bahkan, penjabat yang bagus, tegas, lurus dan tidak egois suatu saat bisa menjadi tidak terlalu efektif setelah menduduki jabatan dalam waktu lama dan sudah mempelajari semua sela dari aturan-aturan.

  • Meminjam Kewenangan dan Mencuri Kewenangan

Bagi ksatria yang dalam tugas, ad asatu hal yang harus disebut dengan ‘meminjam kewenangan’ tuannya dan ada hal lain yang disebut ‘mencuri kewenangan’ dari tuannya. Bagi sang tuan, juga ada hal yang disebut ‘meminjamkan kewenangan’ pada pembantunya dan ada hal lain saat ‘kewenangannya dicuri’ oleh pembantunya. Bagi sang tuan, meminjamkan kewenangan pada para pembantu untuk meningkatkan powernya. Hal ini membuat para ksatria juga pada akhirnya mempertimbangakan untuk mendapatkan keuntungan sendiri dan tidak memikirkan kepentingan tuannya lagi.

  • Ketepatan

Bagi ksatria yang dalam pelayanan publik, tugas-tugas yang terkait dengan dinas keuangan adalah sangat sulit. Itu karena sulit bagi seseorang dengan kecerdasan dan kemampuan biasa untuk mengurusi pembelanjaan sang tuan tanpa menyebabkan kesulitan di pihak fungsionaris besar dan kecil di rumah besar itu, orang-orang kota yang hidup di sekitar kastil, hingga petani di pedesaan. Jika hanya memikirkan kepentingan sang tuan, itu hanya akan menimbulkan kesulitan bagi mereka yang ada dibawah. Jika hanya mencoba memuaskan mereka yang ada dibawah, maka kondisi keuangan sang tuan akan jadi hancur. Pada era lama ada perbedaan jelas antara pembantu yang mencuri dan pembantu yang memeras, orang kuno mengatakan pembantu yang mencuri lebih baik dari pada pembantu yang memeras.

  • Menjadi Komandan atau Pengawas

Ksatria dari jajaran rendah dalam tugas di bawah pengawasan komandan dan superintendent (pengawas) menyadari betul bahwa ia harus mengemban tanggung jawab personal atas suasana hati para atasannya dan harus mengemban tanggung jawab personal atas atribut baik atau buruk terhadap sekelompoknya. Pemimpin harus memperlakukan anggota kelompok secara simpatik sebagaimana menjalankan tugas-tugas kantornya. Tentu setiap orang menyadari bahwa harus tidak ada keberpihakan atau favoritisme bagi semua.

  • Kemalasan

Kebiasaan menunda-nunda pekerjaan hingga hari berikutnya atau mengklain pekerjaan yang sudah tertata dan terencana atau mengalihkan pekerjaan pada kolega atau orang baru. Tak ada orang yang tidak mengemban bertangung jawab personal untuk mengawasi, tugas-tugas akan menumpuk untuk orang yang keliru bahwa masih ada hari esok.

  • Menghadapi Keadaan Darurat

Kau harus menyadari bahwa ‘permasalahan itu bisa muncul dari bawah.’ Maka, kau harus ekstra hati-hati saat mengawal majikanmu dalam perjalanan. Tidak hanya waspada untuk diri sendiri tapi juga harus waspada pada kolega. Penting bagimu untuk memberi peringatan pada mereka yang ada dibawahmu, bahkan hingga ke jajaran terbawah, untuk tidak melakukan hal-hal yang bodoh. Saat kau mengawal majikanmu ke ibukota dan berpapasan dengan rombongan pengawalan tuan besar lain di jalanan, jika para pegawai muda pemberani di masing-masing pengawalan mulai saling olok dan berselisih sehingga terlibat pertengkaran maka segeralah mengambil tindakan dengan mengambil tombak majikanmu dari pembawa senjata dan bawa kesisi majikan.

  • Ekspresi Diri

Para ksatria pada Zaman Perang pergi ke medan tempur tak terhitung beberapa kali jumlahnya di sepanjang umur. Mereka rela mengorbankan nyawa demi tuan besar dan para komandan. Tentu, mereka tidak akan menggembar-gemborkan diri karena telah mendapat kemasyuran atas prestasi tertentu. Pada sikap loyalitas dan pengembanan tugas, tak ada bedanya antara era perang atau era damai. Itu adalah kewajiban resmi bagi ksatria yang sedang bertugas. Apapun yang sebenarnya patut untuk dihargai khusus sebagai sesuatu yang luar biasa adalah sepenuhnya tertanggung pada pertimbangan tuan besar. Yang bisa dan harus kau lakukan adalah yakin kau sudah melakukan tugas prefesionalmu dan kau tidak punya alasan untuk mengekspresikan ketidak puasan.

  • Masalah Mati

Ksatria yang sedang bertugas adalah begitu diistimewakan oleh majikannya sehingga tidak perlu bagi mereka membayar hutang. Sebagai imbalan atas kebaikan itu, mungkin saja para ksatria ingin setidaknya mengikuti majikannya menuju kematian dengan cara mereka melakukan bunuh diri. Namun, sekarang sudah tidak diperkenankan bersadarkan hukum. Para ksatria pada dasarnya sama saja dengan sudah mati jika mereka harus menghabiskan sisa waktu di dalam ruang untuk mengerjakan tugas-tugas awam. Terkait dengan mati, rumah milik orang dengan status tinggi bisa ‘dihantui’ oleh arwah yang menaruh dendam.

Ada dua cara arwah pendendam itu menimbulkan permasalahan.

  1. Dengan cara kematian yang belum datang pada waktunya.
  2. Arwah pendendam menyebabkan masalah dengan cara mengambil alih fikiran para ksatria yang khususnya disukai oleh majikannya.

Berikut 6 cara seorang ksatria samurai bisa memperdaya tuannya :

  1. Menutup mata dan telinga sang majikan, sehingga tidak ada penjabat atau siapapun yang bisa mengekspresikan pendapat.
  2. Kstria bisa mengelabui majikannya dengan mengatur rotasi tugas para ksatria di seputar rumah besar majikan.
  3. Ksatria menipu majikannya dengan menjejali otak tuannya dengan godaan wanita. Secara bertahap godaan ini dilakukan semakin intensif.
  4. Saat banyak pengeluaran ksatria turut ikut campur sedemikian rupa untuk menghambat apa yang seharusnya dilakukan anggota.
  5. Ksatria memperdaya majikan terjadi saat ia sendiri tidak terlalu peduli pada seni bela diri dalam era damai.
  6. Saat sang tuan suka mabuk-mabukan dan gila kerusakan modal.

Hal yang paling logis menghadapi ksatria yang memperdaya tuanya adalah dengan meringkus di ksatria jahat, si setan didalam istana, si musuh dalam selimut majikan  lalu memperlakukan dia sekehendak hatimu.

  • Penyulingan Budaya

Jika hanya kekuatan yang kau miliki, maka kau akan hanya tampak seperti petani yang menjadi samurai dan tidak akan pernah berhasil. Kau juga harus mendapatkan pendidikan, yang patut dipertimbangkan adalah harus mempelajari puisi atau tata cara minum teh. Jika punya pemahaman tentang Jepang dan negara-negara lain, jika dengan hati-hati mempertimbangkan elemen-elemen waktu, tempat dan posisi dalam upaya untuk mengatur hal-hal sesuai dengan apa yang sepatutnya, maka tidak akan melakukan banyak kekeliruan dalam menjalankan tugas. Jika terlalu menyisihkan hal-hal lain sejenak untuk berkonsentrasi sepenuhnya pada puisi, sebelum menyadarinya maka hati dan wajahmu akan lebih melunak. Akan tampak lebih mirip sebagai samurai aristokratik dan sudah kehilangan wajah prajurit. Lebih khusus bila menjadi terlalu sayang pada model modern haikai maka bahkan dalam kumpulan teman-teman akan cenderung memainkan kata-kata. Itu mungkin agak membingungkan namun, itu sesuatu yang perlu dihindari oleh seseorang prajurit. Jika prajurit mulai menjadi seperti pedagang yang hanya bicara tentang apapun dari segi komersial, maka akan kehilangan makna sejati dari keksatriaan Bushido.

 SUMBER : 

Taira Shigesuke, Spirit Hidup Samurai, terj. Teguh Wahyu Utomo,  Selasar Surabaya Publishing, 2009.

 

Iklan