Di dalam sebuah perusahaan tentu saja terdapat suatu organisasi, yang merupakan kumpulan orang – orang yang bekerjasama dengan satu tujuan tertentu, yaitu demi kemajuan dan memperoleh keuntungan yang sebanyak – banyaknya. Grafik organisasi  merupakan suatu dokumen perusahaan yang sangat berharga, tetapi sedikit orang yang beranggapan seperti itu.

Di dalam sebuah organisasi tentu saja terdapat tim yang bekerjasama guna tercapainya suatu tujuan, yang menjadi pertanyaan ialah : Apakah setiap tim sudah ditempatkan sesuai dengan kemampuannya baik bakat, potensi, dan tingkat pendidikannya?? Tetapi hal yang paling penting ialah bukan hanya grafik perusahaan, akan tetapi grafik setipa anggota timnya. Dimana seseorang harus mampu untuk memanage emosionalnya, contohnya seorang bos pada waktu tertentu berhak marah, akan tetapi tidak berhak menjadi kejam dan bengis, seorang bos juga pada waktu tertentu berkewajiban untuk memberikan pujian. Karena pujian adalah obat dan juga empati yang merupakan terapi termurah untuk seorang bawahan, tentu saja hal ini berpengaruh pada tingkat emosional para pekerja. Jika semua pekerja menjalankan tugasnya dengan bangga, semangat, dan penuh energi, maka disitulah letak seorang bos yang cerdas secara emosional. Akan tetapi dalam sebuah tim pasti terjadi perbedaan pandangan dalam mencapai sebuah tujuan, karena memiliki tingkatan emosional yang berbeda – beda, produktifitas, dan kesehatan yang berubah – ubah dari waktu ke waktu. Dan tidak semua individu suka bekerjasama secara kelompok, untuk itulah dibutuhkan semacam grafik kepribadian untuk mengenal tingkat emosional masing – masing anggotanya.

 Jadi penempatan seseorang dalam tugas / jabatan bukan hanya dilihat dari tingkat pendidikan, bakat, potensinya saja, tetapi juga kemampuan seseorang dalam memanage emosionalnya dalam berbagai kondisi. Seorang yang sukses ialah orang yang mempunyai tingkat keseimbangan antara IQ dan EQ, seorang pemimpin yang baik ialah seorang yang baik secara akademik maupun emosional. Bersikap bijak, berempati, dan peka terhadap lingkungan kerja, tentu saja hal ini dapat membantu mempertahankan relasi yang baik dengan bawahan dalam jangka waktu yang lama. Bersikap optismistik dan positif dapat menempatkan seseorang dalam kerangka pikiran yang jauh lebih baik dalam memotivasi diri, akan tetapi sikap negatif hanya akan mempersulit dalam menjalan kan hal – hal yang fundamental ini dalam manajemen relasi, karena watak seseorang merupakan problem utama dalam psikologi.

Di dalam sebuah rencana bisnis tidak akan sempurna tanpa tehnik manajemen plus dosis strategi kecerdasan emosional yang baik, karena hal itu seorang pelaku bisnis harus mampu mengelola emosionalnya, tentu saja hal ini sangat dibutuhkan untuk menrik minat para pelanggan, karena pelanggan akan menukai para pembisnis yang melayani dengan hati. Berarti anda sedang membangun suatu jaringan kerja. Dan di dalam sebuah organisasi dibutuhkan perencanaan yang terkonsep dengan matang guna mencapai mencapai suatu tujuan tertentu, setiap pemimpin organisasi sebuah perusahaan harus memiliki pemahaman watak setiap pekerjanya, hal ini sangat membantu dalam membangun relasi antara pimpinan dengan bawahannya. Misalnya saja seorang bos harus pandai memotivasi dirinya sendiri dan juga bawahannya, karena motivasi adalah seni membuat orang lain merasa penting, baik, dan berbakat, belajar memotivasi seseorang orang lain dapat mengubah kepribadian seseorang, yakni yang lain sebelum dirinya sendiri, tetapi satu hal yang harus diperhatikan anda dapat saja memotivasi seseorang tetapi anda tidak dapat merubah kepribadian seseorang sesuai dengan yang anda inginkan. Anda baru dapat memotivasi seseorang jika anda telah mampu mengembangkan rasa empati dan kasih saying, motivasi merupakan manajerial terbaik, bahkan tindakan kecil kebaikan dapat berlangsung lama, karena motivasi bagian terpenting dari kecerdasan emosional, tetapi ingat pujian yang berlebihan adalah motivasi yang terbalik.

 Setiap perusahaan tentu saja memiliki kultur organisasi yang berbeda, hal inilah yang mendorong seseorang harus benar – benar memahami kultur dimana tempat ia bekerja, untuk itulah kecerdasan emosional di sini berperan, di mana seseorang berusaha untuk mengembangkan kepribadian di dalam suatu relasi antar individu dalam sebuah organisasi perusahaan, di sinilah akan terbentuknya suatu kearifan emosional. Kearifan emosional dapay menjadi suatu pengalaman yang sanggup merubah hidup seseorang melalui pengembangan potensi diri baik secara akademik maupun secara emosional, seorang pemimpin tentu saja harus memiliki kearifan emosional, seorang pejabat di sebuah perusahaan yang baik adalah pelajar sejati, di mana ia akan selalu berusaha membengun relasi yang baik dengan bawahannya, karena kesuksesan sebuah perusahaan dapat dilihat dari gaya kepemimpinanya ( manajemennya ).

Itulah faktor kunci yang akan diperhitungkan dalam nasib sebuah perusahaan, jika seorang pejabat perusahaan dalam menjalankan manajemennya menerapkan rasa egois, ketidaksabaran, dan penuh dengan ancaman, hal ini akan menghambat perkembangan sebuah perusahaan bahkan kelangsungan hidup suatu perusahaan, untuk itu jadilah seorang pejabat perusahaan yang mengedepankan kecerdasan emosional bukan kepandaian semata, karena otak yang baik jika diimbangi dengan temperamen yang buruk akan sia – sia.

Seorang pemimpin yang buruk ialah seorang yang tidak memiliki kearifan emosional, seorang baru dikatakn menjadi pemimpin yang baik jika ia telah belajar bagaimana menjadi orang yang lebih baik dahulu, seorang yang mempunyai tingkat IQ yang tiggi, tetapi tidak diimbangi dengan EQ hanya akan menjadi manusia setengah terdidik  Karena itulah banyak pejabat perusahaan yang korupsi, bahkan para pejabat pemerintahan di nagara ini. Di dalam pengelolaan sebuah organisasi tentu saja terdapat persaingan, di mana seseorang akan memainkan cara – cara politik demi tercapainya tujuan sekelompok orang, karena sebagian orang selalumemiliki justifikasi bagi penyalahgunaan wewenang, politik jabatan adalah kanker dalam manajemen.

Untuk itu diperlukan tingkat kesadaran moral yang tinggi, untuk dapat mendeteksi virus tersebut sebelum menyebar kepada anda, karena tidak jarang sebagian orang menjalankan politik dagang sapi, persaingan yang penuh dengan kecemburuan, ketamakan serta ambisi semata, yang merasa dirinya berhak atas hidup orang lain. Untuk itulah memanajemeni suatu usaha / organisasi dengan kecerdasan emosional akan mendatangkan banyak keuntungan meskipun hal ini tidak dapat dengan mudah direalisasikan, dan meskipun kita tidak dapat sepenuhnya menghapus politik organisasi setidaknya kita dapat mereduksinya dengan menciptakan iklim kerja yang sehat. 10 % politik dalam organisasi memiliki pandangan yang sehat, tetapi sisa yang 90 % itu dapat merampok keuntungan, peluang, dan kualitas sumber daya yang baik bagi perusahaan, bertnvestasilah dalam kearifan emosional karena hal ini sangat penting untuk menjaga hubungan anda dengan orang lain, karena anda adalah seorang manusia sosial yang perlu berinteraksi, tinggalkanlah politik – politik kasar serta birokrasi yang membuat orang tercekik, karena hanya dengan kearifanlah anda menjadi manusia yang cerdas. Kecerdasan emosional adalah tulang punggung sebuah organisasi dan harus menjadi asset yang sangat berharga dalam setiap kultur perusahaan, seorang bos yang cerdas berinvestasi kearifan dalam pekerja dan berupaya memutivasi serta selalu berusaha memberdayakan bawahannya menuju produktifitas yang lebih tinggi dan perilaku organisasi yang lebih baik.

Di dalam sebuah bisnis menjaga hubungan dapat meningkatkan peluang bagi bidang perdagangan yang lebih luas, karena pengenalan karakter dan budaya melalui orang perorang dapat mendatangkan bisnis dan keuntungan yang lebih besar. Berinteraksi dengan kecerdasan emosional memang bermanfaat  di dalam menjalin hubungan kerjasama dalam sebuah bisnis, dan hal yang paling penting ialah integritas, karena integritas merupakan dasar sebuah kepercayaan. Pelanggan adalah raja yang harus dilayani dengan sebaik – baiknya, baik secara sosial maupun professional, memberi pelayanan kepada pelanggan adalah kewajiban,karena dalam kondisi yang merubah dewasa ini, produk yang baik dan tehnik pemasaran yang baik saja tidaklah cukup, Karen bukan hanya menawarkan produk saja tetapi harus mampu mengantarkan kecerdasan emosional dalam layanan bagi para pelanggan.

 Seorang bos yang cerdas tentu tidak akan menempatkan anggota stafnya yang tidaki pandai tersenyum atau tidak memiliki bakat untuk melayani secar sopan dan tanggung jawab, Karena para pelanggan adalah salah satu komponen penting di dalam menjaga kelangsungan perusahaan, pelajarilah strategi pemasaran dengan menempatkan pelanggan di atas segalanya, karena pelanggan masa depan terbaik anda dalah pelanggan terdahulu anda, dan jika anda menjaga pelanggan anda dengan baik, mereka akan terus kembali. di dalam pengorganisasian dibutuhkan sistem untuk merealisasikan tujuan perusahaan, karena dengan sistem kita dapat bekerja secara sistematis, efektif, dan efisien. Yang akan menciptakan suasana kerja yang kondusif, penempatan organisasi yang cerdas secara emosional dapat diwujukan dengan cara yaitu : Membangun sistem yang benar, menciptakan kultur perusahaan yang benar, merekrut orang – orang yang tepat, dan  penerapan strategi yang tepat.  

Setiap pekerjaan yang dilakukan dengan marah atau kecemasan yang tinggi bukanlah pekerjaan yang produktif atau berrkualitas karena tanpa EQ sebuah organisasi praktis mati. EQ sangat diperlukan dalam menvisualisasikan diri di dalam sebuah organisasi. Visulisasi adalah sebuah imajinasi yang dibuat untuk dikerjakan, karena melalui visualisasi ini daya piker dan kreatifitas anda benar – benar akan diuji, untuk itu kembangkanlah visualisasi anda secara positif, dengan mengedepankan optismistik, pikiran positif, kepercayaan, dan harapan anda. Hal ini akan membangun kekuatan visualisasi yang besar, dan hal terpenting adalah anda selalu fokus terhadap tujuan anda.

Kecerdasan emosional menawarkan visi baru tentang kesadaran diri yang memungkunkan seseorang menilai perasaan, kemampuan, dan bakat anda sendiri, manakala kita telah mampu mengidentifikasikan pola emosional dalam kehidupan kita dan orang lain. Maka kita mampu mengelola kebutuhan kita melalui kekuatan visualisasi diri, dan  kecerdasan emosional mengajarkan seseorang untuk mengeluarkan dari pikirannya segala pemikiran dan perasaan negatif unyuk menjadi orang yang lebih baik lagi.

Sumber    : Manajemen Dengan Kecerdasan Emosional, DR. Henry R. Meyer, Nuansa, jakarta, 2010.

 

Iklan