Keutamaan Mempelajari Adab-Adab Dalam Menuntut Ilmu

Sebagai seorang muslim sudh sepatutnya kita harus mencontoh Rasulullah dalam menuntut dan mengamalkan ilmu yang telah dipelajari. Diantara adab beliu adalah ikhlas dalam menuntut ilmu, ikhlas dalam mengamalkan ilmu, dan ikhlas dalam mengajarkan dan mendakwahkan ilmu. Selain itu juga agar ilmu yang dikaji dan dipelajari menjadi ilmu yang bermanfaat.

Adab dan akhlak yang baik merupakan suatu amal shaleh yang dapat membawa pemiliknya masuk surga.Rasulullah shallallahualaihi wa salam bersabda : “tidak ada satupun yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin pada hari kiamat dari pada akhlak yang baik, dan sesungguhnya Allah sangat membenci orang yang berbicara keji dan kotor”.

Beliau shallallahualaihi wa salam bersabda pula: “Sesungguhnya yang paling aku cintai di antara kalian dan yang paling dekat majelisnya denganku pada hari kiamat adalh yang paling baik akhlaknya…”

Para ulama terdahulu seperti Imam Sufyan Ats-Tsauri (wafat tahun 161 H), Imam Abdullah Ibnul Mubarak(wafat tahun 181 H) dan Imam Muhammad bin Sirin ( wafat tahun 110 H) mengatakan bahwa sebelum menuntut ilmu haruslah mempelajari adab-adabnya terlebih dahulu sebagaimana adab-adab yang dipelajari oleh Rasulullah.

Penuntut ilmu wajib mengetahui dan mempelajari adab-adab menuntut ilmu yang harus ia kuasai dan juga wajib beradab dan berakhlak yang mulia, wajib mengamalkan ilmunya dengan menerapkan akhlak yang mulia, baik terhadap dirinya maupun orang lain.Para ulama terdahulu selalu mengajarkan anak-anaknya untuk mempelajari adab lebih dulu sebelum menuntut ilmu.

Adab-Adab Utama Seorang Muslimdalam Menuntut Ilmu Syar’i

Adab Pertama

Mengikhlaskan Niat Dalam Menuntut Ilmu

Dalam menuntut ilmu haruslah ikhlas dan hanya karena Allah semata. Jika menuntut ilmu dengan ikhlas maka ilmu yang dipelajari akan mudah dipahami dan dapat mengamalkannya dengan baik. Aabila menuntut ilmu bukan karena Allah Ta’ala adalah merupakan suatu dosa besar, bahkan orang yang menuntut ilmu bukan karena allah Ta’ala termasuk orang yang pertama kali dipnaskan api neraka umtuknya.

Rasulullah shallalahualaihi wa salam bersabda:

“Janganlah kalian mencari ilmu dengan tujuan untuk berbangga-bangga di hadapan para ulama, membantah orang-orang bodoh, dan janganlah kalian memilih majelis untuk mencari perhatian orang. Barang siapa yang melakukan hal itu, maka tempatnya di neraka’.(H.R.Ibnu Majah No.254).

Seseorang tidak dianggap sebagai orang yang berilmu selama ia belum mengamalkan ilmunya.Bagaimana Seorang Muslim Dapat Ikhlas dalam Menuntut Ilmu Syar’i? Jika seseorang dalam menuntut ilmu hanya benar-benar karena Allah Ta’ala dan hanya mengharap ridho Allah Ta’ala maka akan dimudahkan jalan dalam menuntut ilmu. Tujuan menuntut ilmu bukan karena untuk memperoleh keuntungan duniawi semata seperti kepemimpinan, jbatan, kehormatan, dan harta, berbangga dihadapan teman-temannya, diaagungkan manusia,dan yang sepertinya.

Adab Kedua

Memohon Ilmu Yang Bermanfaat Kepada Allah Ta’ala

Sebagai penuntut ilmu hendaknya selalu memohon ilmu yang bermanfaat baik di dunia maupun di akhirat kelak.Dijauhkan dari ilmu yang tidak bermanfaat. Rasulullah pernah berdo’a:

“Ya Allah,aku berlindung kepadaMu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusuk, nafsu yang tidak pernah puas, dan do’a yang tidak dikabulkan”.(H.R.Muslim No.2722).

Adab Ketiga

Bersungguh-Sungguh Dalam Menuntut Ilmu Dan Rindu Untuk Mendapatkannya

Penuntut ilmu harus bersungguh-sungguh, sebab tanpa kesungguhan maka tidak akan memperoleh ilmu yang bermanfaat.

Imam asy-syafi’i rahimahullah pernah mengatakan dalam syairnya yaitu sebagai berikut:“Saudaraku engkau tidak akan mendapat ilmu melinkan dengan enam perkara.Ku kabarkan kepadamu rinciannya dengan jelas, kecerdasan, kemauan keras, bersungguh-sungguh, bekal yang cukup, bimbingan ustad, dan waktunya yang lama”.(H.R.Muslim No.2664).

Rasulullah shalallahualaihi wa salam bersabda “Sesungguhnya ilmu diperoleh dengan (sungguh-sungguh)belajar, dan sikap sabar ( penyantun) diperoleh dengan membiasakan diri untuk sabar. Barang siapa yang berusaha (keras) mencari kebaikan maka ia akan memperoleh kebaikan, dan barang siapa yang menjaga dirinya dari kejelekan (kejahatan) maka ia akan dilindungi Allah dari kejelekan (kejahatan)”. (H.R.Muslim No.612(175).

Adab Keempat

Menjauhkan Diri Dari Dosa Dan Maksiat Dengan Bertaqwa Kepada Allah ‘Azza wa Jalla

Ibnu Mas’ud (wafat tahun 32 H) Radhiyalahu’anhu mengatakan,”Sungguh aku mengetahui bahwa seseorang lupa terhadap ilmu yang pernah diketahuinya dengan sebab dosa yang dilakukannya”.

Dosa dan maksiat dapat menjadi penghalang ilmu, keberkahannya,dan manfaatnya.

Adab Kelima

Tidak Boleh Sombong Dan Tidak Boleh Malu Dalam Menuntut Ilmu

Sombong dan malu menyebabkan pelakunya tidak akan mendapatkan ilmu selama kedua sifat itu masih ada dalam dirinya.

Imam Mujahid bin Jabr (wafat tahun 104H) rahimahullah mengatakan,”Tidak akan mendapatkan ilmu orang yang malu dan orang yang sombong”.(al-jaami’ I/534-535 no.879).

Adab Keenam

Mendengarkan Baik-Baik Pelajaran Yang Disampaikan Ustadz, Syaikh, Atau Guru

Seorang penuntut ilmu harus berusaha menjadi pendengar yang baik, mendengarkan yang baik-baik, yaitu Al-Qur-an dan hadist-hadist Nabi shalallahualaihi wa sallam agar ia mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan dapat mengamalkan keduanya. Para Salafush Shalih adalah manusia yang sangat antusias terhdap ilmu. Apabila seorang syaikh atau guru menyampaikan pelajaran, mereka pun mendengarkan dengan sungguh-sungguh.

Adab Ketujuh

Diam Ketika Pelajaran Disampaikan

Ketika belajar ilmu syar’i kita tidak boleh berbicara yang tidak bermanfaat, tanpa ada keperluan, dan tidak ada hubungannya dengan ilmu syar’i yang disampikan serta tidak boleh mengobrol.

Imam an-Nawawi rahimahullah menjelaskan tentang adab penuntut ilmu syar’i ketika menghadiri majelis ilmu, “(seorang murid) tidak boleh mengangkat suara tanpa keperluan, tidak boleh tertawa, tidk boleh banyak bicara tanpa kebutuhan, tanpa adanya keperluan yang sangat, bakan ia harus menghadapkan wajahnya kearah gurunya… ” (Syarah Muqaddimah al-Majmuu’(hal.143).

Adab Kedelapan

Berusaha Memahami Ilmu Syar’i Yang Disampaikan

Dalam memahami pelajaran, manusia berbeda-beda keadaannya, ada yang langsung tanggap dan memahami pelajaran yang disampaikan, ada pula yang lambat.Namun,kita harus senantiasa berusaha memahami dan memohon kepada Allah agar diberikan pemahaman.

Kiat memahami pelajaran yang disampaikan antara lain: Mencari tempat duduk yang teapt dihadapan guru, memperhatikan penjelasan guru dan bacaan murid yang berpenglaman, bersunggug-sungguh untuk mengikat (mencatat) faedah-faedah pelajaran, tidak banyak bertanya saat pelajaran disampaikan, tidak membaca satu kitab kepada banyak guru pada waktu yang sama, mengulang pelajaran setelah kajian selesai, bersungguh-sungguh mengamalkan ilmu yang telah dipelajari.

Adab Kesembilan

Menghafalkan Ilmu Syar’i Yang Disampaikan

Para ulama salaf sangat bersemangat untuk menghafalkan ilmu. Mereka menghafalkan sekian banyak hadist yang mereka dengar langsung dari Rasulullah shalallahualaihi wa sallam. Begitu pula para ulama setelah mereka yang menghafalkan beribu-ribu hadist dengan sanad-sanadnya sehingga nama mereka tetap harum sampai hari kiamat.

Adab Kesepuluh

Mengikat Ilmu Atau Pelajaran Dengan Tulisan

Ketika belajar, seorang penuntut ilmu harus mencatat pelajaran, point-point penting, faedah dan manfaat dari ayat,hadist dan perkataan para sahabat dan ulama atau berbagai dalil bagi suatu permasalahan yang dibawakan oleh syaikh atau gurunya. Seorang penuntut ilmu tidak boleh pelit untuk membeli berbagai sarana yang dapat membantunya untuk mendapatkan ilmu. Dalam memenuhu kebutuhannya tidak boleh bergantung kepada orang lain dan memimnta-minta serta merepotkan orang lain.

Adab Kesebelas

Mengamalkan Ilmu Syar’i Yang Telah Dipelajari, Ilmu yang sudah dipelajari hendaknya diamalkan.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, ”ilmu memiliki enam tingkatan, yang pertama baik dalam bertanya, kedua diam dan mendengarkan dengan baik, ketiga memahami dengan baik, keempat menghafalkannya, kelima mengajarkannya, keenam mengamalkannya dan memperhatikan batasan-batasanya” (Miftaah Daaris Sa’adah:I/511).

Adab Keduabelas

Mendakwahkan Ilmu

Dakwah memiliki keutamaan yang sangat besar. Dakwah dijalan Allah merupakan amal yang sangat mulia, ketaatan yang besar dan ibadah yang agung kedudukannya di sisi Allah.Seorang yang berdakwah, mengajak umat kepada islm yang benar maka harus beramal dengan benar dan mencontoh Rasulullah shalallahualaihi alaihi wa sallam.

Rasulullah shalallahualaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa mengajak (manusia) kepada petunjuk, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun..”(H.R.Muslim no.2674).

Adab Terhadap Rasulullah Shalallahualaihi Wa Sallam

Di antara adab-adab penuntut ilmu terhadap Rasulullah shalallahualaihi wa sallam antara lain:

  1. Mengimani beliau sebagai Nabi dan Rasul terakhir bagi seluruh manusia, sebagai pemberi peringatan dan pembawa kabar gembira, dan penyeruke jalan Allah dengan izinnya, serta mengimani kebenaran segala apa yang beliau bawa dari Allah Ta’ala.
  2. Wajib mencintai Rasulullah shalallahualaihi wa saallam lebih dari kecintaan kepada diri sendiri, orang tua, anak, dan lainnya.
  3. Mentaati apa yang beliau perintahkan dan menjauhi apa yang beliau larang.
  4. Meneladani beliau dalam setiap perkataan, perbuatan, dan pergaulannya.
  5. Wajib ittiba’ hny kepada beliau saja.
  6. Banyak bersalawat kepada beliau shalallahualai wa sallam.
  7. Tidak boleh sembarangan dalam bershalawat kepada beliau shalllahulai wa sallam.

Adab Kepada Kedua Orang Tua

Adab-adab penuntut ilmu terhadap orang tua antara lain:

  1. Berbakti dan mentaati keduanya selama keduanya tidak menyuruh berbuat dosa dan memutus silaturahmi.
  2. Merendahkan diri di hadapan kedunya, dengan tawadhu’ dan penuh kasih sayang. Allah Ta’ala berfirman:”Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang…” .(QS. Al-Israa’:24).
  3. Berdo’a untu keduanya dengan memohonkan rahmat dan ampunan dari Allah Ta’ala. Berdasarkan firman Allah Ta’ala: “Dan ucapkanlah,’Wahai Rabb-ku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil”(QS.Al-Israa:24).
  4. Memenuhi segala kebutuhan keduanya dengan cara membantu, memberikan nafkh, melayani keduanya dengan senang hati, dan berusaha sungguh-sungguh dalam berbuat baik kepada keduanya.Rasulullah shalallahualahi wa sallam bersabda:”Seorang anak tidak akan dapat membalas jasa orang tuanya, kecuali jika ia mendapati (orang tua) nya sebagai seorang hamba sahaya, lalu ia membelinya kemudian memerdekakanny”.(H.R Muslim no.1510).
  5. Berbakti dan menyambung kekerabatan selama keduanya masih hidup dan setelah salah satu atau keduanya meninggal, serta melaksanakan wasiatnya.

Adab Terhadap Diri Sendiri

Di antara adab-adab penuntut ilmu terhadap dirinya sendiri adalah:

  1. Hendaklah dia mengetahui dan meyakini bahwa ilmu adalah ibadah.
  2. Memperhatikan pendidikan jiwa dn pensuciannya (tazkiyatun nufus), yang akan memnbawanya pada ketaatan, dan menjauhkannya dari maksiat.
  3. Mengikuti dan meneladani para sahabat Rasulullah shalallahualai wa sallam.
  4. Menghiasi dirinya dengan akhlak yang mulia dan adab yang baik serta menjauhi akhlak dan adab yang jelek.
  5. Selalu mengintrospeksi diri dan tidak mencari alas an untuk membenarkan kesalahan.
  6. Menghiasi diri dengan rasa takut kepada Allah Ta’ala secara lahir dan batin dengan cara melaksanakn perinth dan menjauhi laranganNya.
  7. Merasa selalu diawasi oleh Allah Ta’ala.
  8. Bertaubat dengan sungguh-sungguh bila melakukan perbuatan dosa.
  9. Bersifat Qana’ah dan Zuhud.
  10. Berbudu pekerti yang baik dan memiliki rasa malu serta senantiasa istiqomah.

Adab Terhadap Karib Kerabat Serta Terhadap Tetangga Dan Masyarakat

Di antara adab-adab penuntut ilmu terhadap karib kerabatnya adalah:

  1. Mengetahui hak-hak kekerabatan yaitu kewajiban menyambung silaturahmi dan tidak boleh memutuskannya.
  2. Mengunjungi mereka, member hadiah, berkata yang baik,dan berwajah ceria ketika bertemu mereka.
  3. Bersabar atas gangguan mereka dan memaafkan kesalahan mereka.
  4. Membantu kebutuhan mereka dan bersadaqah kepada mereka yang faqir.
  5. Memperhatikan petunjuk islam dalam tingkatan prioritas menyambung kekerabatan: kepada ibu, lalu bapak; nenek lalu kakek; bibi lalu paman;kemudian yang terdekat dan yang terdekat.

Adab-adab penuntut ilmu terhadap tetangga dan masyarakatnya antara lain:

  1. Mengetahui hak-hak mereka dan melaksanakannya.
  2. Beretika dengan adab-adab islamketika bertemu,yaitu dengan mengucapkan salam, wajah berseri dan merendahkan suara ketika berbicara dengan mereka.
  3. Menghormati mereka, berbuat kebaikan kepada mereka, menolong mereka bila mereka membutuhkan bantuan, memenuhi undangan mereka (selama tidak melanggar syari’at).
  4. Membimbing mereka dengan lemah lembut, ajarkan mereka dengan bertahap dan sabar.
  5. Tidak boleh mengganggu dan menyakiti baik dengan lisan, tangan, maupun lainnya. Tidak menggunjing, mencari kejelekan atau kesalahan. Hendaknya menutupi aib mereka.
  6. Sabar atas gangguan mereka.
  7. Berusaha menghadapi sikap buruk dengan kebaikan.

Adab Terhadap Syaikh, Ustadz, Atau Gurunya

Adab-adab penuntut ilmu terhadap syaikh, ustadz, atau gurunya antara lain:

  1. Menghormati dan memuliakan kedudukannya baik ketika ada maupun ketika tidak ada.
  2. Memulai mengucapkan salam, meminta izin ketika akan duduk atau pergi dari majelis ilmu karena ada keperluan.
  3. Hendaklah duduk di majelis ilmu dengan cara duduk seorang pelajar dengan penuh kesopanan, tidak duduk sambil bersandar atau dengan membelakanginya.
  4. Berbaik sangka apabila guru memberikan hukuman bahwa hal tersebut merupakan untuk suatu kebaikan bukan karena ingin menyakiti.
  5. Tidak boleh sombong atau malu untuk bertanya kepada guru, berbicara dengan sopan santun, tidak menggunakan kata-kata kasar.
  6. Mengikuti akhlah baik, perilaku yang terpuji dan amal shalih guru.
  7. Datang lebih awal dari pada gurunya.
  8. Memperhatikan apa yang disampaikan guru.
  9. Membalas kebaikan guru.

Adab-Adab Ketika Di Masjid

Adab-adab penuntut ilmu ketika dimasjid adalah:

  1. Bersungguh-sungguh dalam menghadiri shalat berjamaah, shalat jum’at dan selalu di shaff yang paling depan.
  2. Menyampaikan semaksimal mungkin ilmu yang dimiliki.
  3. Penuntut ilmu yang di angkat menjadi imam hendaklah tidak berlebihan dalam bergaul dan tidak menutup diri terhadap jama’ah shalat.
  4. Memelihara kebersihan, kesucian, dan kehormatan masjid.
  5. Menjaga perabot dan segala sesuatunya yang ada di masjid.
  6. Tidak mengeraskan suara, baik dalam membaca al-qur’an, dzikir, maupun berbincang-bincang karena dapat mengganggu orang lain.
  7. Memasuki masjid dengan tenang serta melaksanakan shalat tahiyatul masjid.

Adab-Adab Di Rumah

Diantara adab penuntut ilmu dirumahnya adalah:

  1. Memasuki rumah dengan mendahulukan kaki kanan dan mengucapkan ‘bismillah’ serta mengucapkan salam. Apabila keluar rumah mendahulukan kaki kiri dan membaca do’a keluar rumah.
  2. Menyampikan ilmu yang bermanfaat kepada keluarga.
  3. Berupaya mengajarkan anak-anak kecil dalam bentuk perbuatan dan perkataan.
  4. Berusaha menghidupkan rumah dengan membaca al-qur’an, banyak berdzikir, dan mengerjakan shalat-shalat sunnah.
  5. Mengajarkan adab islam terhadap anak.

Adab-Adab Penuntut Ilmu Terhadap Waktu

Seorang penuntut ilmu harus memanfaatkan waktu luangnya dengan sebaik-baiknya. Tidak boleh menunda-nunda melakukan berbagai kebaikan.

  • Pentingnya waktu dalam menuntut ilmu

Kewajiban penuntut ilmu adalah memelihara waktu dan memanfaatkannya dengan baik. Waktu akan terus berlalu dan tidak akan kembali lagi sehingga tidak ada waktu bagi penuntut ilmu untuk bermain-main dengan sesuatu yang tidak bermanfaat.

  • Begadang antara manfaat dan mudharatnya

Diantara bentuk menyia-nyiakan waktu yang sering dilakukan oleh penuntut ilmu adalah begadang.Begadang dengan melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat dapat menimbulkan dosa bagi pelakunya. Apabila memang harus begadang maka tidak boleh melalaikan keajiban dan amal-amal yang lebih utama.

  • Teladan para ulama dalam menjaga waktu

Di dalam perjalanan hidup para ulama terdapat sesuatu yang mendorong kita agar menjaga waktu dan meninggalkan semua yang sia-sia dan tidak bermanfaat.

Beberapa Kesalahan Yang Wajib Dijauhi Penuntut Ilmu

Seorang penuntut ilmu harus senantiasa mengintrospeksi diri dan berusaha untuk menghilangkan kesalahan-kesalahan dari dalam dirinya. Diantaranya:

Pertama

Hasad (Dengki/Iri)

Hasad adalah kebencian seseorang terhadap nikmat yang Allah berikan kepada orang lain. Hasad/dengki akan mengurangi pahala seseorang dalam mencari ilmu, memperlemah hafalannya, dan mengurangi konsentrasinya dalam menghadiri dan memahami ilmu. Allah Ta’ala melarang seseorang mengharapkan segala apa yang Allah Ta’ala lebihkan dan utamakan atas sebagian manusia dari sebagian yang lainnya.

Kedua

Berfatwa Tanpa Ilmu

Fatwa adalah kedudukan yang agung, pelakunya mencurahkan fikiran untuk menjelaskan apa yang smar bagi ummat tentang urusan agama mereka dan membimbing mereka ke jalan yang lurus. Oleh karena itu, kedudukan ini tidak bisa disandang, kecuali oleh ahlinya.

Allah Ta’ala berfirman:“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yng disebut-sebut oleh lidah secara dusta ini halal dan ini haram untuk mengadakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Nama Allah tidak kn beruntung”.(QS.An-Nahl:116-117).

Ketiga

Kibr (Sombong)

Rasulullah shalallahualaihi wa sallam bersabda:

“Kibr (sombong) adalah menolak kebenaran dan merendahkan (meremehkan) manusia”. (H.R Muslin No.91(147)).

Termasuk sombong adalah jika membantah orang yang mengajarinya dan menaganggap rendah orang yang belajar kepadanya.

Keempat

Fanatik Kepada Madzhab Dan Pendapat

Penuntut ilmu wajib menghindari sikap berkelompok dan bergolong-golongan dimana ia mengikat loyalitas kepada kelompok tertentu atau golongan tertentu. Penuntut ilmu seharusnya mengambil perkataan dari orang yang ucapannya sesuai dengan Al-qur’an dan Assunnah serta ucapan para Shahabat Rasulullah Shalallahualaihi wa sallam.

Kelima

Merasa Mampu (‘Alim) Sebelum Layak

Diantara hal yang wajib dijauhi penuntut ilmu adalah merasa dirinya mampu dan mersa menguasai suatu ilmu padahal belum mengetahui dengan baik. Seorang yang tidak berilmu tidak boleh berdakwah karena berdakwah haruslah orang yang sudah mengerti dengan baik suatu ilmu.

Keenam

Buruk Sangka

Allah Ta’ala berfirman,

“Wahai orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prsangka, sesunggunya sebagian prasangka itu dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada diantara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada diantara kamu yang suka memakn daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kmu merasa jijik. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sungguh Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”.( QS.Al-Hujuraat:12).

Ketujuh

Bertengkar Dan Debat Kusir

Jauhilah bertengkar dan debat kusir dalam berbagi masalah syari’at. Seorang penuntut ilmu niat belajar harus ikhlas karena Allah bukan dengan niat untuk membantah orang atau berdebat dan lainya.

Rasulullah shalallahualaihi wa sallam bersabda:  “sesungguhnya orang yang dibenci Allah adalah orang yang paling keras berdebat dan suka bertengkar”.(H.R Bukhari No.2457 dan No.4523).

Dalam perkara yang sudah jelas dalilnya dalam Al-Qur’an dan Assunnah yang sahih dilarang untuk bertengkar dan berbantah-bantahan.

Kedelapan

Penuntut Ilmu Tidak Boleh Futur

Futur yaitu rasa malas, enggan, lamban, dan tidak semangat padahal sebelumnya rajin, bersungguh-sungguh dan penuh semangat.

Ada tiga golonganorang yang terkena penyakit futur, yaitu:

  1. Golongan yang berhenti sama sekali dari aktivitasnya dengan sebab futur.
  2. Golongan yang terus dalam kemalasan dn patah semangat, namun tidak sampai berhenti sama sekali dari aktifitasnya.
  3. Golongan yang kembali pada keadaan semula.

Sebab-sebab penyakit futur:

  1. Hilangnya keikhlasan.
  2. Lemahnya ilmu syar’i.
  3. Ketergantungan hati kepada dunia dan melupakan akhirat.
  4. Fitnah (cobaan) berupa istri, anak, dan harta.
  5. Hidup ditengah masyarakat yang rusak.
  6. Berteman dengan orang-orang yang memiliki keinginan yang lemah dan cita-cita duniawi.
  7. Melakukan dosa dan maksiat serta memakan barang haram.
  8. Tidak mempunyai tujuan yang jelas (baik dalam menuntut ilmu ataupun berdakwah).
  9. Lemahnya iman.
  10. Menyendiri (tidak mau berjamaah).
  11. Lemahnya pendidikan.

Obat penyakit futur adalah:

  1. Memperbaharui keimanan.
  2. Merasa selalu diawasi Allah Ta’ala dan banyak berdzikir kepadanya.
  3. Ikhlas dan taqwa.
  4. Mensucikan hati dari segala penyakit hati.
  5. Rajin dan tekun menuntut ilmu.
  6. Mengatur waktu dan mengintrospeksi diri.
  7. Mencari teman yang baik (shalih)
  8. Memperbanyak mengingat kematian dan takut terhadap su-ul khatimah.
  9. Sabar dan belajar untuk sabar.
  10. Berdo’a dan memohon pertolongan Allah.

Kesimpulan

Seorang penuntut ilmu harus senantiasa bertaqwa kepada Allah Ta’ala dimanapun berada, melaksanakan perintahNya dan menjauhi laranganNya dan juga harus selalu merasa diawasi oleh Allah Ta’ala.Mempunyai adab atau sikap yang baik terhadap diri sendiri ataupun orang lain, terhadap lingkungan sekitar serta bermuamalah dengan sikap yang santun. Berusaha menjalankan, mengamalkan serta mendakwahkan ilmu yang sudah dipelajari sehinnga menjadi ilmu yang bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang lain, bermanfaat di dunia maupun di akhirat.

SUMBER         :

Yazid Bin Abdul Qadir Jawas, Adab dan akhlaq penuntut ilmu, Pustaka At-Taqwa,  Bogor, 2010

 

 

Iklan