Rasulullah Muhammad SAW adalah seorang pebisnis tangguh. Bisnis yang dijalankan beliau cukup stabil dan semakin berkembang dengan sangat pesat. Apa rahasia dan bagaimanakah beliau memanage bisnisnya tersebut ?

Inilah rahasianya :

  1. Meluruskan Niat

Perasaan tahu diri , merasa bahwa dirinya tidaklah hidup bersama kedua orangtuanya yang membuat perilaku Muhammad sangatlah santun. Karena perasaan tersebut juga akhirnya Muhammad selalu serius dalam setiap apa yang dikerjakannya. Mulai dari menggembala kambing sampai berbisnis dia jalani dengan serius, sama sekali tidak main-main apalagi bermaksud merugikan orang lain .

Kembali kepada keseriusan Muhammad, beliau selalu menyandarkan setiap tindakan yang dilakukan dalam satu niat tulus. Niat bahwa apa yang dikerjakannya adalah untuk beribadah kepada Allah SWT. Keinginan kuatnya untuk bertahan hidup dalam kejujuran dan kemuliaan martabat beliau sungguh gigih sehingga tak ada niatan buruk sedikitpun di hati yang suci itu. Segala sesuatu yang baik memanglah harus diawali dengan niatan yang baik pula. Ketika niatan kita sudah melenceng, maka jadilah hal baik tersebut menjadi tercemar. Mungkin malahan menjadi awal yang mengharuskan kita berhubungan dengan hal-hal yang kurang baik di kemudian hari, hanya karena salah meniatkannya.

Niat baik, itulah awal dari usaha bisnis Rasulullah Muhammad SAW. Niat semata-mata beribadah kepada Allah , niat untuk mencukupi kebutuhan hidup beliau beserta keluarganya, niat ingin menolong orang-orang yang kurang mampu, niat mmemberikan pekerjaan kepada orang-orang yang jujur dan dapat dipercaya. Hal-hal tersebut yang mendasari awal usaha bisnis Muhammad sehingga dapat menjadi fondasi atau dasar yang kuat bagi beliau untuk menjalankan perdagangannya dengan sungguh-sungguh , jujur, serta memiliki tujuan yang mulia.

Begitulah rahasia utama Muhammad SAW dalam berbisnis, benar-benar meluruskan niat beliau hanya untuk mencari ridha Allah SWT. Segala sesuatu yang baik tentulah harus diniatkan untuk kebaikan pula. Sesuatu yang lebih baik manalagi selain meniatkan segala hal yang akan kita lakukan semata-mata untuk beribadah kepada Allah dan untuk mencapai ridha-Nya. Inilah yang secara tidak langsung dilakukan oleh muhammad SAW dalam memulai usaha perdagangannya, mencari ridha Allah yang Esa, yang tauhid, yang satu tidak beranak maupun diperanakkan.

Begitu pentingnya niat yang akan kita jalankan, begitu pula dalam bidang bisnis dan pekerjaan. Dengan niatan ikhlas mencari ridha Allah SWT, niatan tulus untuk mencukupi kebutuhan keluarga , niatan untuk memperbesar sedekah, sungguh Insya Allah akan terbentang jalan bagi kita. Dengan adanyua niatan tulus dan ikhlas , maka rasanya semua pintu terbuka lebar, semua jalan seakan lenggang menyambut kehadiran kita. Tak ada macet, tak ada pula persinggungan dengan para pebisnis lainnya.

Banyak sekali macam pekerjaan, usaha, bisnis, atau kesibukan lain yang dijalani oleh seluruh manusia di muka bumi ini. Namun, semua itu akan terasa indah dan berkah apabila kita memiliki niat dan tujuan hanya mencari keridhaan dari Allah SWT.

Perjalanan hati dan spiritualitas seseorang memang berbeda-beda, namun perlu kita ingat bahwa dengan niatan yang ikhlas maka perjalanan tersebut Insya Allah selalu dilindungi oleh-Nya. Amin.

 

  1. Kuat , Cerdas, dan Cekatan

Kekuatan fisik dan hati yang ditunjukkan oleh Rasulullah benar-benar termanifestasi dengan baik dalam keseharian beliau. Demikian pula dalam menjalankan bisnis, Muhammad yang tangguh tak pernah putus asa menjalankan bisnis dan perdagangannya. Beliau sangat kuat menghadapi segala proses dalam berbisnis. Kejujuran yang cerdas , yang mampu membuat semua orang percaya kepada beliau.

Dengan kondisi  fisik dan psikis yang begitu tangguh, Muhammad SAW juga memiliki kecerdasan luar biasa hebat. Jika pada zaman dahulu sudah ada pembahasan tentang multiple intellegence, maka dapat dipastikan bahwa Rasulullah Muhammad SAW memiliki kesemua komponen kecerdasan tersebut.

 

  • Kecerdasan Intelektual Muhammad SAW

Kemampuan Muhammad menghafal dan mengerti suatu hal patut diacungi dua buah jempol. Bagaimana mungkin seorang anak yang buta huruf dapat memahami prinsip dalam berdagang yang diajarkan oleh pamannya? Hal ini tidak lain karena tingkat kecerdasan intelektual beliau yang sangat tinggi.

Inilah anutan kita, dalam membangun bisnis kita pun perlu untuk melatih kecerdasan intelektual diri kita. Dunia bisnis begitu banyak persaingan dan pernak-pernik lain yang mengharuskan kita untuk cerdas. Perlu diingat, sebaiknya kita perlu untuk mengetahui semua hal tentang bisnis yang akan kita bangun terlebuih dahulu.

Dengan banyak belajar hal baru, keterkaitan antar neuron di otak kita pun semakin bertambah. Secara fisik, jaringan otak akan semakin mantap dan cerdas dengan berbagai jenis pengetahuan baru yang kita pelajari tanpa bermalas-malasan.

Kita tidak boleh cepat berpuas diri terhadap kemampuan yang telah ada. Belajarlah pada siapa saja yang dianggap mampu menambah wawasan dan pengalaman kita. Namun, berhati-hatilah terhadap ajakan-ajakan untuk menyekutukan Allah atau malah menyeret kita kepada kekafiran.

 

  • Kecerdasan Emosional Muhammad SAW

Kecerdasan emosional Muhammad SAW tidak bisa dipungkiri lagi, begitu besar dan cermat. Kejujuran dan kepribadiannya sangat menarik sehingga dijuluki dengan Al Amin, yaitu orang yang dapat dipercaya. Muhammad muda menyaksikan perjanjian Hilful Fudhul, yaitu perjanjian yang melibatkan para pembesar Quraisy. Isinya adalah tentang pembelaan terhadap orang yang teraniaya, menjalankan perdagangan dengan jujur, dan tidak berperilaku buruk kepada orang lain. Tempaan keterampilan tersebut semakin membangun kecerdasan emosional Muhammad yang telah tertata dengan baik. Hal tersebut terbawa sampai beliau dewasa dan menjalankan sendiri roda bisnisnya.

Satu peristiwa besar yang menguji kecerdasan emosional Muhammad SAW yaitu ketika terjadi perbaikan terhadap Ka’bah, saat itu usia beliau menginjak 35 tahun. Kecerdasan emosional Muhammad tampak ketika mereka akan meletakkan kembali Hajar Aswad. Semua pemuka Quraisy menginginkan batu hitam itu dipindahkkan oleh mereka. Muhammad SAW berpikirdan menemukan ide brilian yang merupakan signal dari kecerdasan emosional beliau. Muhammad meminta sebuah kain atau selendang, kemudian meletakkan Hajar Aswad di atas kain tersebut. Pemuka setiap kabilah dimintanya memegang ujung selendang, kemudian Hajar Aswad diangkat secara bersama-samadan akhirnya Muhammad SAW yang meletakkannya pada posisi semula. Semua pihak sangat senang dan tidak merasa dirugikan. Inilah EQ Muhammad SAW , kecerdasan emosional yang tentu tidak bisa dimiliki begitu saja oleh sembarang orang.

Dengan menumbuhkan empati dari dalam hati kita maka kecerdasan emosional tersebut akan tumbuh secara perlahan. Dengan demikian kita akan mudah diterima oleh orang lain. Kecerdasan emosional yang terlatih membuat kita dapat dekat dengan siapa saja tanpa kesan memanfaatkan. Wajar, Smart, dan harmonis menjadi perilaku keseharian kita. Siapapun yang dapat sedikit memiliki EQ ini, maka akan lancarlah urusan bisnisnya dengan orang lain.

 

  • Kecerdasan Spiritual

Rasulullah Muhammad SAW merupakan seorang manusia dengan kecerdasan spiritual di atas rata-rata, tentu saja. Beliau adalah seorang yang memiliki konsep diri dengan jelas, mampu menjabarkan segala maknadalam kehidupan, menjalani nilai-nilai yang dianutnya dengan penuh konsistensi, dan memiliki keutuhan diri.

Semua yang kita lakukan sebagai seorang pebisnis hanya merupakan usaha, merupakan ikhtiar lahiriah saja. Ikhtiar batinnya tentu saja kita harus pasrah dan berdoa kepada Allah SWT agar dimudahkan semua yang kita tuju. Inilah SQ yang  bisa terbentuk karena kita selalu bertakwa kepada Allah SWT. Jika ingin mendapatkan kesuksesan bisnis yang bermartabat, pastikan kita memiliki kecerdasan spiritual ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ketiga komponen kecerdasan yang harus dimiliki setiap pebisnis.

 

Itulah kecerdasan kompleks seorang Muhammad SAW , yang patut kita contoh, meskipun tidak mungkin kita bisa seperti beliau.

Keberhasilan bagi seseorang yang memiliki ketiga kecerdasan tersebut lebih pada makna holistik dari sebuah kebahagiaan. kebahagiaan ketika sudah dapat berbisnis dengan jujur, berarti bagi sesama, dan bahagia karena selalu dapat mewarnai hari dengan ketauhidan kepada-Nya.

Namun satu yang perlu kita ingat sebagai kaum muslim, yaitu sumber dari semua kecerdasan yang bisa dimiliki oleh manusia adalah Allah SWT. Tanpa izin dan panduan-Nya rasanya sulit bagi kita untuk dapat mempelajari semua hal baik yang terekam dalam benak kita.

Tebersit makna tersurat dari pelajaran membaca , yaitu membaca situasi, membaca kondisi, dan kesemua hal yang menyangkut kehidupan kita sehari-hari. Begitu pula dalam membaca peluang bisnis dan mencari celah agar kita dapat bersaing dengan wajar serta profesional.

Membaca bisa jadi kita lakukan di pasar, di Mall, di bandara, stasiun, sekolah, perkantoran, atau tempat manapun yang rasanya tidak sulit untuk ditemukan.

Lalu, bagaimana dengan cekatan ? Cekatan berarti tanggap, tidak menghadapi hidup dengan bermalas-malasan. Cekatan merupakan aksi selanjutnya dalam memajukan bisnis kita. Membaca saja tidak disertai dengan aksi atau tindakan nyata sama dengan no thing. Membaca harus disertai dengan usaha untuk pencapaian apa yang telah terangkum dalam benak kita tersebut. menuliskan goal yang akan dicapai, memikirkan cara terbaik untuk mencapainya, dan akhirnya merefleksikan dalam tindakan nyata.

Ketentuan untuk jujur dan amanah tidak akan membatasi kecekatan manusia. Cekatan tak harus melanggar perintah-Nya dan tak harus mendekat pada larangan-Nya. Tindakan nyata dan cekatan yang bisa dilakukan untuk mengaplikasikan rencana sebelumnya, bisa dijalankan dengan tetap mematuhi hukum-hukum Allah SWT.

Cekatan adalah setia kepada janji yang telah dibuat, tidak berniatan ingkar, dan melakukan segala hal dengan semestinya. Ketika seseorang diserahi sebuah tanggungjawab terhadap suatu pekerjaan, maka jalankanlah tanggungjawab tersebut dengan baik. Jangan merasa bahwa tidak ada benefit yang besar sehingga membuat kita bermalas-malasan.

Disaat nanti kita menjadi sosok pemimpin dalam bisnis kita, maka tidak ada anak buah kita yang bersikap lelet, karena semua kembali kepada diri kita sendiri. Bukankah memberi contoh jauh lebih mengena daripada menasihati orang lain ?

Dengan selalu teguh memegang janji, maka selanjutnya rekanan bisnis maupun anak buah menjadi nyaman dan senang hati bekerja sama dengan kita.

Cekatan juga merupakan tanggap terhadap suatu hal. Dengan menjadikan cekatan sebagai salah satu sikap yang harus dikembangkan, maka seseorang akan lebih tanggap terhadap bisnisnya. Tanggap kapan harus mengubah model, membeli bahan yang murah dan berkualitas, bersaing harga, dan tanggap pula dengan cara-cara marketing terkini.

Dengan terusa mengasah diri, mencermati setiap keadaan , namun tetap memakai pikiran dan hati yang jernih maka Insya Allah kita akan lebih tenang.

 

  1. Keseimbangan Hati, Pikiran, dan Tindakan Nyata

Keseimbangan dan keterkaitan antara hati, pikiran, dan tindakan nyata sangat sulit untuk dilakukan. Apalagi kalau kita masih memiliki berbagai prasangka buruk terhadap lingkungan, atau bahkan malah prasangka buruk kepada Sang Maha Pencipta. Oleh karena itu, kembali meluruskan niatdan berbaik sangka menjadi pijakan yang kuatbagi kita untuk teerus melangkah menuju kesuksesan bisnis yang tengah dirintis.

Seperti Muhammad SAW, hatinya tentu tidak dapat diragukan lagi kesuciannya. Ketika beliau masih balita, Malaikat Jibril datang untuk membelah dada dan mencuci hati beliau dengan air Zam-zam. Hati kanak-kanak itu disucikan, dibuang segala sifat buruk yang berkemungkinan mengganggu jalannya syiar dan dakwah yang akan dijalankan sebagai seorang rasul kelak.

Hal yang bisa kita lakukan saat ini untuk menjernihkan hati adalah :

  • Memelihara lisan, tidak berkata kotor, kasar, atau dengan nada tinggi. Mencoba menjadi orang yang dapat menggunakan bahasa dan makna tepat pada waktu dan tempatnya. Tidak suka menggunjing, mencemooh, atau berkata kotor.
  • Berbaik sangka kepada orang lain, husnudzan kepada orang lain sebelum kita mengetahui dengan pasti keburukannya. Apabila kita sudah mengetahui sendiri keburukan seseorang, maka simpanlah untuk diri kita sendiri. Simpanlah sebagai pembelajaran untuk lebih waspada. Namun, jangan mengumbar keburukan orang lain tersebut kepada semua orang.
  • Mencermati setiap kesalahan diri untuk tidak diulang kembali, itulah cara yang bisa kita lakukan untuk menjernihkan hati. Dengan selalu berkaca dan mencermati kesalahan diri maka kita akan menjadi pebisnis tangguh yang sabar.

Dalam berbisnis, kesucian hati Muhammad menjadikan pegangan bagi pemikiran dan tindakan yang dilakukan selanjutnya. Dengan selalu menjaga hati dan menghilangkan prasangka buruk, maka beliau mampu berpikir dengan jernih pula. Menjaga kesucian hati mutlak diperlukan bagi seorang pebisnis tangguh. Jangan hanya kakrena cerita dari orang lain lalu kita menjadi berprasangka buruk terhadap saingan kita. Apalagi kalau prasangka buruk tersebut terjadi pada rekanan atau bahkan karyawan kita. Sungguh sia-sia waktu yang kita gunakan untuk menuruti prasangka yang belum tentu benar adanya.

Beberapa cara menghilangkan pikiran dan hati yang kotor :

  • Ikhlas

Keikhlasan hati dan pikiran membuat diri kita terhindar dari segala pikiran dan hati yang buruk. Ikhlas bukan berarti tidak berbuat apapun, namun ikhlas adalah menerima konsekuensi dari apa yang kita perbuat sebelumnya.

  • Zikir

Pebisnis yang mengikuti majelis zikir merasakan adanya perbedaan di dalam penerimaan mereka tentang hakikat kebahagiaan. Mereka merasa justru dengan aktif berzikir maka bisnisnya menjadi lancar karena hatinya selalu jernih.

  • Shalat Malam

Shalat malam merupakan sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT yang bisa kita lakukan setiap hari. Dengan mencoba selalu ingat pada-Nya maka kita sangat berharap agar Dia juga mau membimbing jalan kita supaya  tetap dalam kebaikan. Membimbing hati dan pikiran kita supaya penuh dengan kejernihan dalam berpikir, berbicara, dan bertindak.

Setelah kita memiliki hati yang jernih , maka tugas selanjutnya adalah memanifestasikan kejernihan hati tersebut ke dalam pikiran. Pikiran memuat niat yang terkandung dalam benak seseorang untuk berbuat sesuatu. Ketika hati kita telah jernih dalam menjalankan bisnis yang tengah dirintis atau bahkan sudah berjalan, maka selanjutnya kita landasi bisnis tersebut dengan niat yang ikhlas. Niat hanya mencari ridha Allah semat, bukan niat untuk berfoya-foya apalagi ingin membangga-banggakan diri di depan orang lain.

Rasulullah Muhammad SAW tidak pernah sedikit pun memiliki pikiran buruk. Bahkan ketika berhadapan dengan orang-orang munafik pun beliau tetap sabar, tidak menghadapinya dengan kekerasan.

Langkah selanjutnya adalah menjaga pembicaraan. Rasulullah SAW memang manusia yang sempurna, beberapa hal penting yang perlu kita ketahui dalam ucapan dan pembicaraan beliau adalah :

  • Bicaranya fasih, tidak tersendat-sendat
  • Ucapannya jelas, selalu disampaikan pada kesempatan dan tempat yang paling tepat
  • Lancar dan jernih kata-katanya
  • Jelas pengucapan dan maknanya sangat mendalam
  • Logat yang sedikit tertahan, tidak berapi-api
  • Menyisipkan kata-kata yang bermakna luas
  • Mengkhususkan pada penekanan-penekanan hukum
  • Berlogat dan berbahasa seperti yang diajak bicara, sehingga menarik untuk didengar
  • Kekuatan berbicara seseorang yang beradab, tidak menyinggung, berbudi pekerti luhur.

 

Dengan mengetahui kaidah-kaidah  berbicara seperti Rasulullah, kita akan bisa diterima berbisnis dengan siapapun dan dimanapun berada. Berbisnislah dengan siapapun haruslah didasari dengan niat baik, pikiran jernih, dan tutur kata yang sopan.

Bila kita telaah dari tindakan yang diambil oleh Muhammad SAW dalam menghadapi para kaum munafik, maka kita bisa mencontohnya untuk bertindak sebagai berikut :

  • Membiarkan kaum munafik tersebut, membiarkan berarti tidak terlalu dekat dengan mereka dan tidak mempercayai apa yang mereka katakan.
  • Berhati-hati terhadap pujian yang terlalu manis.
  • Mendekati mereka yang amanah.
  • Menjaga perkataan, berarti menjaga lidah dan segala yang keluar dari bibir kita.

 

Rasulullah bukanlah seseorang yang tak terjangkau, pemikirannya yang tawadhu begitu jauh dari sifat sombong. Beliau menyatu dalam setiap sendi kehidupan umat muslim. Tindakan yang dilakukan oleh rasul dalam keseharian sama dengan umat pada umumnya. Beliau memberi contoh bagaimana hidup dengan sewajarnya, hidup yang selalu berpegang teguh pada Al-Quran dan Hadits. Beliau bukanlah seorang pemimpin yang sombong, yang takut kewibawaannya hilang ketika harus bersama orang papa. Inilah suatu tindakan yang mencerminkan kejernihan hati dan pikiran beliau.

Dalam berbisnis, Muhammad SAW adalah seorang yang paling jujur, paling adil, peling suka memaafkan, dan lapang dada. Bisnis yang dijalaninya tidak terlepas dari sentuhan akhlak yang mulia, budi pekerti luhur seorang utusan Allah.

Inilah hal penting yang perlu untuk diteladani, menjalankan bisnis dengan santun dan sentuhan akhlak yang mulia. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menjalankan kesantunan dalam berbisnis :

  • Menghormati rekan kerja

Hormat kepada rekan kerja adalah saling memahami tugas masing-masing. Berkomitmen terhadap tugas yang telah dibagi, dan membantu sebisa mungkin ketika mereka memerlukan.

  • Menghargai anak buah

Apabila kita ingin mereka menghargai kita maka sebaliknya kita juga berusaha semaksimal mungkin untuk menghargai mereka. Memberikan contoh yang baik, memberikan pengarahan yang mendidik, justru akan membuat mereka nyaman.

  • Melayani pelanggan

Melayani di sini tentu harus di artikan sebagai suatu hal yang positif. Memberikan barang yang sesuai dengan keterangan awal,merupakan salah satu jenis pelayanan yang baik kepada para pelanggan tersebut.

  • Tidak mencela seseorang

Mencela berarti berkata kasar, bertindak kasar, dan menjatuhkan kewibawaan seseorang di hadapan orang lain. Dengan berkata lemah lembut, bukan berarti kita tidak tegas. Justru ketegasan yang disampaikan dengan sabar dan baik akan memperoleh hasil luar biasa dalam pencapaian sukses seseorang.

  • Tidak menghina orang lain

Membatasi diri untuk tidak menghina orang lain bisa dicapai dengan cara-cara berikut :

  • Selalu berkaca akan kekurangan diri sendiri.
  • Bersyukur atas apa yang telah dilimpahkan oleh-Nya.
  • Dapat menerima segala kelebihan dan kekurangan orang lain.
  • Tidak mencari-cari kesalahan seseorang

Agar kita tidak terlalu mudah untuk mencari-cari kesalahan orang lain maka ada hal-hal yang perlu untuk dicermati :

  • Introspeksi diri
  • Menerima konsekuensi atas apa yang telah kita lakukan
  • Sabar

 

Satu hal yang banyak dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad SAW terhadap kita para umat muslim yaitu kesabaran. Beliau sungguh merupakan orang yang paling sabar, paling cepat ridha, dan suka memanfaatkan kesalahan orang lain.

 

  1. Kejujuran, Tanggung Jawab dan Komitmen

Dalam menjalankan usaha dan  bisnis apa pun, perlu kiranya kita memperhatikan hal-hal yang berhubungan dengan kejujuran. Kejujuran merupakan kunci pokok bahwa seseorang tersebut dinilai dapat dipercaya oleh orang lain.

Kakek dan paman Rasulullah mengajarkan kepada beliau tentang integritas, yaitu mencakup beberapa hal yang menjadi contoh dalam kehidupan sehari-hari Muhammad SAW :

  • Belajar bertanggung jawab
  • Belajar Berdisiplin
  • Jujur

Dalam berbisnis kita yang terbiasa bertindak jujur akan menjalaninya dengan tenang. Jujur akan membawa kitamenjadi orang yang bisa dipercaya, baik oleh kolega, rekanan, pelanggan, maupun oleh kompetitor. Bisnis pun akan maju dan tak ada yang perlu dikhawatirkan di kemudian hari. Karena tidak ada yang kita tutupi dan tidak ada pula yang harus kita sembunyikan.

  • Sederhana

Kesederhanaan berarti berbagi dengan orang miskin. Tidak memandang rendah dan hina kepada mereka. Selalu mawas diri, dan menempatkan sesuatu  dengan adil. Unsur dari  kesederhanaan  yang bisa kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari :

  • Hemat
  • Bersyukur
  • Rendah hati
  • Kerja keras

Kerja keras adalah mengerjakan sesuatu sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepada kita. Dengan bekerja keras maka perasaan kekurangan akan musnah. Kita juga bisa lebih menghargai segala yang kita capai.

  • Mandiri

Tidak bergantung kepada orang lain secara berlebihan.

  • Adil

Bertanggung jawab, menempatkan sesuatu pada yang seharusnya, dan menjawab pertanyaan rekan kerja dengan sabar, serta tidak membeda-bedakan antara rekan bisnis maupun anak buah.

  • Berani

Dengan keberanian maka kita bisa berinovasi, mencari peluang pasar yang lebiih menjanjikan, dan berbisnis dengan amanah. Bayangkan kalau kita selalu takut melakukan hal yang memang diperlukan, maka bisnis kita pun tidak bisa berkembang dengan pesat. Namun , sekali lagi keberanian harus dilandasi oleh niat Lillahita’alla. Keberanian bukan semata menunjukkan keunggulan diri pada sesama manusia, karena hal tersebut tidak akan ada artinya.

  • Peduli

Sebuah nilai kemanusiaan yang sangat jarang dimiliki oleh seorang pebisnis sukses. Kita perlu untuk membiasakan diri mengulurkan tangan justru pada saat kita sendiri juga tidak berlebihan. Kita harus pandai membangun rasa persaudaraan, tenggang rasa, dan penuh empati. Kita harus mengetahui kapan kita harus memberikan ucapan selamat atau berbela sungkawa atas suatu kejadian yang menimpa rekan kita.

 

  1. Bisnis-bisnis Nabi

Telah banyak kita ulas pada pembahasan sebelumnya bahwa perlu adanya sifat-sifat luhur yang kita contoh dari Rasulullah Muhammad SAW agar tercapainya keseimbangan hidup. Dalam hal ini juga berarti tercapainya kesuksesan dalam bisnis yang akan, sedang, maupun tengah kita rintis dan jalani bersama pasangan, rekan,dan berbagai komponen lainnya. Pada zaman Rasulullah SAW, beliau menjalankan bisnis perdagangan. Kalau istilah sekarang bisalah kita samakan dengan menjalankan bisnis ekspor-impor.

Rasulullah tidak memproduksi barang, beliau membeli barang atau hasil bumi produksi penduduk Mekkah untuk didagangkan di luar negeri. Setelah beliau sampai di negara tujuan, kemudian dibelinya barang dan hasil bumi negara setempat untuk dijual kembali di Mekkah. Sebuah prinsip dagang yang sangat menguntungkan, karena ketika berangkat tujuannya berdagang begitu pula pulang kembali membawa barang dagangan.

Berikut beberapa poin sukses dari bisnis  Muhammad SAW :

Ikhlas dan jujur merupakan kesatuan utuh yang mutlak diperlukan dalam memulai dan menjalani bisnis apapun.

Menjalankan bisnis dengan ikhlas adalah menerima segala hal baik maupun buruk  yang dihadapi dalam berbisnis tersebut. Adanya sikap lapang dada di dalam menjalani kehidupan sesuai dengan sunatullah inilah yang membuat diri seseorang mampu menjadi pebisnis sukses tanpa melakukan hal-hal yang tercela. Menjalani bisnisnya tanpa merasa terbebani, tanpa mengeluh, dan tanpa secuil pun merasa bahwa Allah telah berlaku tidak adil kepadanya.

Berbaik sangka kepada Allah SWT akan segala pertolongannya, juga berbaik sangka kepada manusia lain yang tengah berhubungan dengan kita. Melihat kelebihan rekanan, bawahan, dan bahkan saingan kita dengan hati yang  jernih. Agar kita bisa mengambil pelajaran berharga dari kesemua itu. Dengan sikap ikhlas maka secara tidak langsung kita juga berarti penuh rasa syukur ke hadirat Allah SWT atas segala hal yang terjadi dan atas segala nikmat serta karunia-Nya kepada kita dan kehidupan kita bersama keluarga, istri/suami, anak-anak, serta saudara dan teman-teman kita.

Manifestasi sikap ikhlas serta jujur di dalam perdagangan yang dilakukan oleh Rasulullah Muhammad SAW yaitu

  1. Mengutamakan adanya kejujuran dalam berdagang

Menunjukkan barang dagangan kita dengan sesungguhnya merupakan salah satu cara bersikap jujur dalam berbisnis. Kita katakan hal yang sebenarnya, segala kebaikan barang dagangan kita dan juga lengkap dengan kelemahannya. Semuanya agar terjadi rasa ikhlas pada diri pelanggan apabila di kemudian hari ada cacat atau ketidaksempurnaan barang yang kita tawarkan.

Dalam menjalankan bisnis apa pun satu kata yang harus kita pegang dalam menawarkan dan membeli barang dagangan yaitu “JUJUR”. Sikap terhormat tersebut membuat semua orang yang berhubungan dengan kita akan merasa senang dan percaya. Dengan memiliki sifat yang jujur, maka bisnis yang kita jalankan  dapat dipercayai, dampaknya di kemudian hari sangatlah besar. Dengan banyaknya orang yang percaya, maka mudah bagi kita untuk mengembangkan sayap ke mana pun melangkah.

Kepercayaan adalah hal utama yang perlu dipegang oleh setiap pebisnis, karena kepercayaan itu mahal harganya dan sulit untuk dicari gantinya. Apabila kepercayaan terhadap bisnis yang kita jalankan atau bahkan kepercayaan terhadap diri pribadi kita telah pudar maka yang ada hanyalah penyesalan. Menyesal kemudian sungguh tidak akan bermanfaat karena kita akan ditinggalkan oleh pelanggan, rekanan, dan bahkan orang kepercayaan. Rasulullah bersabda tentang kejujuran di dalam berdagang atau berbisnis ini :

“Tidak dibenarkan seorang muslim menjual suatu jualan yang mempunyai aib, kecuali ia menjelaskan aibnya.” (HR. Al Quzwani)

Cara bisnis nabi menggunakan esensi dari pelayanan tanpa penipuan. Beliau tidak pernah menyembunyikan keadaan barang dagangan yang dibawanya. Kalau baik ya dikatakan baik, kalaupun ada kekurangan ya dijelaskan disebelah mana kekurangannya.

Menjalankan perdagangan dengan jujur dan berkata apa adanya lebih membuat kita menjadi tenang. Perasaan tenang inilah yang akan terpancar dari raut muka kepada para pelanggan. Dengan menunjukkan raut muka tenang, berseri, dan jujur maka pelanggan secara otomatis akan tertarik dengan apa yang kita tawarkan.

 

  1. Tidak melakukan sumpah palsu

Kadang kita melihat seorang pebisnis bersumpah kepada rakanannya bahwa apa yang dilakukannya sudah transparan. Perkataan sumpah tersebut  penuh dengan risiko, risiko kalau apa yang kita katakan berbeda dari yang sebenarnya terjadi.

Rasulullah sangat tidak suka kepada kepalsuan dan beliau pun melarang para pelaku bisnis melakukan sumpah palsu, seperti sabda Rasulullah Muhammad SAW berikut :

“dengan melakukan sumpah palsu, barang-barang memang terjual tetapi tidak berkah.”(HR. Bukhari).

Bahkan dalam hadits riwayat Abu Zar, Rasulullah SAW mengancam dengan azab yang pedih bagi orang yang bersumpah palsu dalam bisnis, dan Allah tidak akan memedulikannya nanti di hari kiamat (HR. Muslim).

Namun, yang terlihat sekarang justru praktik sumpah palsu ini dipakai sebagai daya pikat bagi seseorang yang ingin barang dagangannya cepat terjual. Sumpah palsu juga dipakai oleh mereka yang tertuduh menyelewengkan jabatan, mereka yang membuang limbah ke sungai, dan perilaku buruk lainnya.

Konsumen sekarang sangat pandai mebedakan mana yang benar dan mana yang penuh kepalsuan. Percayalah, tidak mudah untuk menarik pelanggan atau kolega bisnis dengan perkataan sumpah. Lebih baik menunjukkan komitmen dan kerjasama yang baik dan saling menguntungkan dengan mereka. Dengan adanya komitmen, maka mereka yang berhubungan kerja dengan kita tidak perlu lagi mencari kepastian. Mereka akan lebih percaya dengan apa yang dilihat dan bukannya yang didengarkan.

 

  1. Tidak melakukan Najsya

Yang dimaksud dengan Najsya adalah bersekongkol dengan pembeli lainnya untuk menawar harga dengan tinggi agar ada pembeli lainnya lagi yang mau benar-benar membeli dengan harga yang tinggi tadi. Contohnya kita memiliki toko komputer. Ada seorang pelanggan menawar harga laptop terbaru di toko kita, kemudian datanglah teman kita yang berpura-pura sebagai pembeli juga. Teman tersebut menawar dengan harga yang jauh lebih tinggi sehingga penawar pertama akhirnya ikut membeli dengan harga yang telah disepakati antara kita dengan teman kita yang menyamar tadi. Sungguh jangan pernah dilakukan persekongkolan seperti ini, berdaganglah dengan wajar seperti yang telah dicontohkan oleh Rasulullah dalam setiap tindak tanduk beliau. Meskipun pelanggan tidak mengerti tentang akal licik persekongkolan kita namun percayalah Allah SWT Maha Mengetahui semua yang dilakukan oleh makhluknya.

 

  1. Tidak menjelek-jelekkan bisnis atau barang dagangan orang lain

Mengunggulkan bisnis yang kita miliki sehingga memikat investor untuk melakukan permodalan tidak disalahkan. Justru cara tersebut sangat bermanfaat bagi perkembangan bisnis kita pada masa mendatang. Hanya saja keunggulan yang kita sebutkan tadi harus benar-benar terjadi dan bukan isapan jempol belaka. Janganlah sekali-kali menjelek-jelekkan bisnis atau dagangan orang lain sehingga pembeli memutuskan untuk membeli barang kita, karena hal tersebut bukan hanya tidak disukai oleh Allah dan rasul-Nya namun juga tidak disukai oleh sesama manusia yang memiliki bisnis atau barang dagangan serupa dengan milik kita.

Rasulullah Muhammad SAW bersabda :

“Janganlah seseorang di antara kalian menjual dengan maksud untuk menjelekkan apa yang dijual oleh orang lain.”(HR. Muttafaq ‘alaih)

Berdaganglah dengan gentle, berbisnislah dengan kepribadian yang baik dan sopan. Dengan menjaga hati, pikiran, pembicaraan, dan perilaku kita dalam berbisnis Insya Allah selalu saja ada pertolongan dari-Nya yang kadang kala tidak pernah kita duga sebelumnya. Oleh karena itu, lebih berhati-hati dalam berpikir, berkata, dan bertindak menjadi kunci mulusnya bisnis yang kita lakukan.

 

  1. Tidak melakukan Ihtikar

Melakukan ikhtiar dalam berbisnis itu sangat dianjurkan, namun kalau melakukan ihtikar itu yang tidak diperbolehkan. Perbedaan mencolok terdapat di antara kedua kata tersebut. Kalau ikhtiar berarti usaha yang kita lakukan, jadi kita berusaha semaksimal mungkindalam menjalankan bisnis yang kita gawangi. Namun kalau ihtikar diartikan sebagai menumpuk dan menyimpan barang dalam masa tertentu, dengan tujuan agar harganya suatu saat menjadi naik dan keuntungan besar pun diperoleh.

Di Indonesia ihtikar diistilahkan dengan menimbun barang. Misalnya ketika kita tahu bahwa harga beras akan naik, maka beras kita sembunyikan di gudang. Penjualan beras dibatasi sehingga ketika harganya benar-benar naik maka kita memperoleh hasil yang banyak. Ihtikar biasa juga dilakukan oleh penjual BBM.

rasulullah melarang keras perilaku bisnis semacam itu. Cara berbisnis seperti ini merugikan pelanggan, dan pada akhirnya akan merugikan diri kita sendiri, karena semua orang akan tahu bahwa kita suka menyimpan barang sehingga nantinya harganya menjadi naik beberapa kali lipat dan barulah dijual. Dengan mengetahui perangai kita yang buruk seperti itu, maka pelanggan lama-kelamaan enggan membeli barang dagangan kita.

Berbisnislah dengan wajar, kalau memeang pembeli merasa cocok dan tertarik maka akadnya sudah jelas yaitu kita menjual dan dia membeli. Tidak ada batasan keuntungan yang boleh kita tetapkan, nemun dengan mengambil keuntungan secukupnya justru barang dagangan kita menjadi lebih laku dan omzetnya juga semakin besar.

 

  1. Takaran, ukuran, dan timbangan yang benar

Mengurangi takaran, ukuran, maupun timbangan tidak diperbolehkan dalam ajaran Islam. Hal tersebut memicu adanya sikap tidak jujur, seenaknya sendiri, dan merugikan orang lain. Mudharat pertama yang akan menimpa kita tentu saja kita berdosa karena melakukan hal yang dilarang oleh Allah SWT. Yang berikutnya adalah jatuhnya kepercayaanterhadap diri dan bisnis kita.

Pengurangan terhadap takaran maupun timbangan merupakan permasalahan hati yang keruh, tidak dapat lagi berpikir dengan jernih. Sulit untuk mengubah kebiasaan seseorang yang suka berbisnis dengan nakal seperti ini. Perlu waktu, kesempatan, dan izin dari Allah SWT untuk mengubah ke arah yang lebih baik. Oleh karenanya hal-hal semacam ini memang harus mulai dibiasakan semenjak kecil sehingga ketika dewasa, anak-anak kita akan menjadi seseorang yang memiliki integritas dan martabat.

Lebih baik kita berkata jujur kalau harga barang tersebut telah naik. Mungkin satu dua kali orang akan memilih membelidi toko yang belum menaikkan harga. Namun, ketika mereka tahu bahwa takaran yang kita pakai tersebut pas dan tidak dikurangi maka lambat laun para pelanggan tersebut akan kembali kepada kita.

 

  1. Tidak monopoli

Monopoli berarti keinginan untuk mmenguasai sesuatu dengan berbagai cara. Monopoli biasanya terdapat dalam sistem ekonomi kapitalis. Perekonomian kapitalis melegitimasikan monopoli dan oligopoli.

Contoh sederhana adalah eksploitasi (penguasaan) individu tertentu atas hak milik sosial, seperti air, udara dan tanah serta kandungan isinya seperti barang tambang dan mineral. Individu tersebut mengeruk keuntungan secara pribadi, tanpa memberi kesempatan kepada orang lain. Ini dilarang Islam. Kalau sesuatu tersebut dilarang di dalam Islam pastilah ada mudharat yang sangat krusial termasuk monopoli yang bisa merusak pasar dan tatanan persaingan antar pebisnis atau pengusaha pada umumnya.

Monopoli memang terasa menguntungkan bagi seorang pebisnis, namun di satu sisi keberadaannya merugikan masyarakat di sekitar. Inilah yang selalu diingatkan dalam perekonomian Islam. Perekonomian yang didasari oleh kejernihan hati. Tidak ingin merugikan salah satu atau kedua belah pihak, pembeli dan penjual. Monopoli bisa dilakukan oleh negara atas sebesar-besarnya kepentingan rakyat tentunya. Bukan untuk kepentingan  pribadi yang semakin menambah kesengsaraan masyarakat.

 

  1. Tidak boleh melakukan bisnis dalam kondisi eksisnya bahaya (mudharat) yang dapat merugikan dan merusak kehidupan individu dan sosial

Melakukan bisnis di saat bahaya misalnya dengan melakukan jual-beli saham jepang pada hari kedua setelah serangan tsunami. Bisa juga kita contohkan dengan impor tembak ketika situasi politik sedang tidak menentu. Bisa juga diartikan sebagai tidak menjual produk halal kepada perusahaan yang akan mengolahnya menjadi barang haram. Misalnya menjual anggur pada perusahaan minuman keras, atau contoh lainnya. Esensi hubungan sosial yang justru harus dijaga dan diperhatikan secara cermat.

 

  1. Perdagangan harus dilakukan dengan ikhlas antara kedua belah pihak yang berdagang, baik pembeli atau penjual

Perdagangan atau bisnis yang dilakukan diharuskan untuk sama-sama ikhlas baik bagi penjual maupun bagi pembeli. Keikhlasan disini menunjuk pada diketahuinya sebuah bisnis dengan benar baik sisi baik maupun buruknya. Misalnya mengetahui bahwa membeli telur berarti bersiap dengan kemungkinan untuk busuk apabila kita kurang teliti memilih.

Tidak boleh kita membeli barang dengan memaksa si penjual atau menjual barang dengan memaksa si pembeli. Perhatikan dengan saksama segala transaksi yang akan dilakukan, buatlah akad jual-beli yang benar, maka Insya Allah semua akan menjadi berkah.

 

  1. Bebas dari unsur RIBA

Riba adalah mengambil atau menerima bunga dari uang yang kita tanamkan atau kita simpan pada sebuah lembaga keuangan tertentu atau kepada seseorang.

Allah berfirman dalam QS. Al Baqarah ayat 275, yang artinya :

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba[174] tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila[175]. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual-beli itu sama dengan riba, padahal Allah SWT telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang Telah sampai kepadanya larangan dari tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang Telah diambilnya dahulu[176] (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal didalamnya.”

Keterangan :

[174] Riba itu ada dua macam : Nasiah dan Fadhl. Riba nasiah ialah pembayaran lebih yang disyaratkan oleh orang yang meminjamkan. Riba Fadhl ialah penukaran suatu barang dengan barang yang sejenis, tetapi lebih banyak jumlahnya karaena orang yang menukarkan mensyaratkan demikian, seperti penukaran emas dengan emas, padi dengan padi, dsb. Riba yang dimaksud dalam ayat ini riba nasiah yang berlipat ganda yang umum terjadi dalam masyarakat Arab zaman Jahiliah.

[175] Maksudnya : orang-orang yang mengambil riba tidak tenteram jiwanya seperti orang kemasukan setan.

[176] Riba yang sudah diambil (dipungut) sebelum turun ayat ini, boleh tidak dikembalikan.

Bisnis yang dijalankan harus mendasarkan pada hubungan dengan pelanggan yang dikenal dengan istilah saat ini Customer Relationship Management atau istilah yang lebih baru Customer Experience Management yang tidak hanya memahami kebutuhan dan keinginan pelanggan tetapi juga memahami yang dipikirkan pelanggan.

Strategi dagang Rasulullah Muhammad SAW meliputi berpenampilan menawan, membangun relasi, mengutamakan keberkahan, memahami pelanggan, mendapatkan kepercayaan, memberikan pelayanan hebat, berkomunikasi, menjalin hubungan yang bersifat pribadi, tanggap terhadap permasalahan, menciptakan perasaan satu komunitas, berintegrasi, menciptakan keterlibatan dan menawarkan pilihan yang saling melengkapi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan