Sejak lama Bob Sadino meyakini bahwa, sekolah formal tidak mampu mendukung potensi seseorang untuk menjadi wirausahawan tangguh.Menurutnya seorang pengusaha tidak memerlukan sekolah formal. Yang diperlukan hanyalah segera melangkah, dan belajar dari proses kehidupan. Dan itu semua harus dilakukan secara terus-menerus dan berulang-ulang sehingga menjadi terampil.Sebab repetisi atau pengulangan jauh lebih penting daripada teori di sekolah formal.

1004971_222550534603057_1862754251_nBAGI Bob Sadino sekolah hanya menjadikan seseorang memperoleh informasi, sementara informasi itu sifatnya sudah terjadi.Untuk menjadi wirausaha, seseorang tidak perlu menjejali otaknya hanya dengan informasi melainkan perlu adanya sebuah tindakan.Bahkan Om Bob dengan berani bisa mengatakan bahwa para sarjana sebagian besar otaknya hanyalah ‘sampah’.Bagi sebagian orang jelas bahwa konotasi ‘sampah’ tersebut bernada negatif, tapi memang seperti itulah Om Bob menyatakannya.

Dengan sekolah formal, setiap orang hanya dituntut kepintaran. Padahal menurut Bob Sadino kepintaran itu hanya akan membuat orang terbelenggu. Menurutnya belenggu tersebut mencengkram banyak orang, khususnya orang pintar.

Misalnya, orang pintar terbelenggu oleh rasa takut.Hal ini membuat seseorang tidak mampu berbuat apapun.Mau jadi pengusaha takut gagal.Ingin bepergian jauh, takut naik pesawat.Hendak melaut, khawatir tenggelam.Habislah semuanya gara-gara belenggu rasa takut.Jika ingin bergerak maka belenggu rasa takut itu harus dihilangkan.

Selanjutnya orang pintar selalu banyak berharap.Hal ini memang sering tidak disadari, karena dalam ilmu manajemen modern justru harapan ini diwajibkan.Namun, banyak mengharap justru makin membuat tidak berdaya.Sebab, sebagian besar dari harapan tersebut biasanya lebih banyak yang tidak terkabul.Maka bebaskanlah diri dari harapan.

Terakhir, belenggu pikiran sendiri.Banyak orang yang tidak menyadari ketika dirinya dibelenggu oleh pikiran sendiri. Kadang belenggu itu datang dari pikiran orang lain, tapi kemudian mengendap dalam pikirin diri sendiri. Salah satu belenggu semacam ini misalnya ‘tujuan’.Jangan mau dibelenggu oleh tujuan. Sebab dengan tidak memiliki tujuan Bob Sadino menyampaikan bahwa otak akan lebih bebas tanpa tekanan.

Itulah belenggu kehidupan yang antara lain disumbang oleh ilmu manajemen modern. Seorang Bob Sadino bukan berarti anti dengan ilmu manajemen, tapi ia mencoba mengubah pandangannya terhadap ilmu tersebut sebagai sebuah seni. Sangat bagus bagi seseorang mengetahui teori manajemen, tapi yang tidak tahu teorinya pun belum tentu jelek.Bahkan bisa saja lebih bagus dari yang mengetahui teori.

Anak Guru

Bob Sadino memiliki nama lengkap Bambang Mustari Sadino, dilahirkan di Tanjung Karang Lampung pada 9 Maret 1933, dari pasangan Jawa yang hijrah ke Sumatera. Bob Sadino hanya satu tahun menikmati udara Sumatera, karena pada 1934 dia harus mengikuti orang tuanya ke Jakarta.Bapaknya, Sadino adalah seorang guru dan kemudian menjadi kepala sekolah. Saat itu Sadino termasuk  amtenaar atau pegawai negeri pemerintahan Hindia Belanda.

Bob kecil hidup dalam kecukupan, tidak seperti bocah Hindia Belanda yang kebanyakan masih kurang makan dan kasih sayang. Pendidikan pun ia dapatkan dengan leluasa mulai SR (sekolah rakyat setingkat SD) sampai SMA. Orang tuanya sebagai guru membuat Bob kecil memperoleh pelajaran yang memadai.

Sejak kecil Bob Sadino sudah bergaul dengan orang-orang berada, terutama dengan anak-anak keturunan Cina.Sehari-hari, Bob biasa bercengkrama dengan mereka dan melakukan banyak hal bersama.Berkat pergaulan masa kecilnya itu pula yang membuat Bob menjadi pria yang hebat dalam menjalin hubungan dengan banyak pihak.Sebuah pengalaman yang mendukungnya menjalani hidup sebagai pengusaha yang harus punya jaringan luas.

Selepas SMA pada 1953, Bob memulai kariernya sebagai pekerja di Unilever. Namun, karena ikut-ikutan temannya kuliah, ia pun sempat mencicipi bangku kuliah di Universitas Indonesia di Fakultas Hukum, tetapi Bob hanya bertahan beberapa bulan saja di FH UI karena merasa tidak betah akhirnya ia berhenti kuliah dan bekerja kembali.

Melanglang Buana ke Eropa

Setelah bertahun-tahun di Unilever Bob memutuskan untuk memperbaiki kariernya dengan pindah kerja ke McLain and Watson Coy (Djakarta Llyod), sebuah perusahaan pelayaran dan ekspedisi.Pekerjaan barunya mengharuskan Bob berkelana ke mancanegara khusus Eropa. Dua kota yang paling lam disinggahinya adalah Amsterdam dan Hamburg. Disana Bob menghabiskan waktu sampai 9 tahun, sehingga tak heran ia fasih berbahasa Inggris, Belanda, Jerman, dan belakangan juga fasih berbahasa Jepang. Selain itu, ia pun memiliki pergaulan yang sngat luas dan jaringan pertemanan di berbagai Negara.

Pada tahun 1967, Bob memutuskan kembali ke Jakarta, setelah bosan terus-menerus menjadi bawahan dan berkali-kali ia mengatakan stress karena tekanan atasan. Bersama Soelami Soejoed, karyawan Bank Indonesia di Amerika Serikat, Bob pulang ke Indonesia untuk menikah. Kehidupan yang mapan dan gaji yang besar mereka tinggalkan.Ia hanya membawa oleh-oleh dua sedang Mercedes sebagai hasil jerih payahnya selama bertahun-tahun di Eropa. Satu dijual, uangnya dibelikan sebidang tanah di kemang, sedangkan satu lagi dijadikan taksi gelap tetapi kadang-kadang taksinya disewakan kepada pihak lain.

Hidup Penuh Peluh dan Air Mata

Awalnya semua berjalan lancer, kehidupan Bob bersama istrinya pun tercukupi dari hasil taksinya, tetapi belum genap setahun taksinya mengalami tabrakan karena Bob tidak memiliki dana untuk memperbaikinya sehingga ia harus rela taksinya hanya menjadi seonggok sampah. Bob pun merasa sangat hancur dengan kejadian tersebut. Maka untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Bob muda menjalani profesi sebagai tukang bangunan walupun belum punya keahlian di bidang itu. Setiap minggu ia mendapatkan upah Rp 100 dari pekerjaannya itu. Kurang lebih ia menjalankan profesi sebagai tukang bangunan selama setahun.

Mulai Berternak Ayam

Kondisi Bob pun terdengar oleh kawannya baik yang dulu bekerja di Jakarta maupun Eropa. Mereka ikut prihatin dengan keadaan Bob, sampai akhirnya datanglah pertolongan dari kawannya yang bernama Sri Mulyono Herlambang yang menyarannkan untuk berternak ayam, dan bob pun setuju dengan usulan kawannya itu. Mulailah Bob berternak ayamm dengan 50 ekor ayam Broiler yang didatangkan dari Belanda oleh temannya. Bob kemudian belajar berternak dari berbagai sumber bacaan salah satunya majalah-majalah terbitan Belanda.

Ayam memberikan pelajaran barharga bagi Bob dalam menjalani hidup. Ketika pertama kali memelihara ayam, ia berpikir “ayam yang hanya diberi paruh dan kaki saja bisa hidup dan mencari makan sendiri, kenapa manusia tidak?” dari situlah motivasi Bob bertambah berlipat-lipat, sehingga ia serius memelihara ayam, sampai akhirnya menjajakan telur di Kemang dan dikenal senagai Bandar telur.  Ayam pula yang membuat Bob terus mencari ilmu melalui majalah-majalah Belanda yang berisi segala macamhal berkaitan dengan peternakan dan perkebunan.Isinya memang luar biasa karena banyak hal yang belum ada di Indonesia. Bob menjadi pihak pertama di Indonesia yang mengetahui berbagai temuan baru ilmuan mancanegara di bidang peternakan dan perkebunan. Sehingga tak jarang ia diundang oleh IPB untuk mendiskusikan masalah peternakan, perkebunan, dan pertanian.

 

BIODATA

  • Nama        : Bob (Bambang Mustari) Sadino
  • Lahir         : Tanjung Karang, 9 Maret 1933
  • Agama      : Islam
  • Istri           : Soelami Soejoed
  • Anak        : Myra Andiani dan Shanti Dwi Ratih
  • Kegemaran: Mendengarkan music jazz dan klasik
  • Kenangan terindah: saat salat berjamaah dengan istri dan dua putrinya.

Pendidikan:

  • SD, Yogyakarta (1947)
  • SMP, Jakarta (1950)
  • SMA, Jakarta (1953)

Pekerjaan:

  •  Karyawan Unilever (1954-1955)
  • Karyawan Djakarta Llyod, Amsterdam dan Humburg (1950-1967)
  • Pemilik tunggal supermarket Kem Chicks
  • Dirut PT Boga Catur Rata (Bidang Retail)
  • PT Kem Foods

Dagang Telur dengan Sekuntum Anggrek

Bob Sadino yang sekarang menjadi buruan bnayak orang, ternyata mengawali usahanya dengan berjualan telur secara eceran.Ia bersama istrinya menjajakan telur hasil peternakannya sendiri di kawasan kemang. Beragam tanggapan dari konsumen, ada yang menolak, ada yang mau beli, bahkan ada yang komentar tentang kualitas telurnya.

Saat itu sekitar tahun 1970, telur ayam negeri belum popular di Indonesia, masyarakat pribumi hanya mengkonsumsi telur ayam kampong.Sehingga sulit memasarkan hal baru, kata ilmu manajemen perlu adanya edukasi pasar. Tetapi Bob tidak mengenal kata edukasi pasar, yang ia lakukan hanya terus menjajakan telur hasil ternaknya bersama istrinya di kawasan Kemang.

Beruntunglah Bob, karena di kawasan Kemang sudah banyak orang asing, dan mereka pun sudah familiar dengan telur ayam broiler dibandingkan dengan masyarakat pribumi. Untuk menambah greget dagangannya, Bob memasukan setangkai bunga anggrek ke dalam plastic telur dagangannya itu.Benar saja, telur dagangannya laku dan orang asing tersebut lambat laun menjadi pelanggan setia Bob Sadino.

Penambahan bunga anggrek merupakan ide yang tidak direncanakan tetapi bernilai luar biasa. Ide tersebut berawal dari pengalaman Bob yang tinggal di Eropa bertahun-tahun, sehingga ia tahu bunga anggrek dinilai istimewa bagi orang asing karena harganya mahal, padahal di Indonesia bisa didapatkan dengan gratis. Ini sebuah strategi dagang yang dahsyat.

Street Smart vs Pintar Sekolahan (Bisa vs Tahu)

       Dalam buku “Belajar Goblok dari Bob Sadino”, Bob menguraikan bahwa orang sekolahan diajari tahu, sedangkan orang jalanan diajarkan bisa. Sehingga orang bisa tentu berada beberapa langkah di depan orang yang hanya tahu. Lebih parah lagi, orang sekolahan biasanya hanya tahu dan belum tentu mengerti, sehingga dalam melangkah banyak ragu-ragunya.Takut begini, takut begitu, karena terlalu banyak rambu. Pintar jalanan hanya mengajarkan lakukan saja! Tidak ada teori dan pikiran negative. Orang yang pintar dijalanan berani melawan ketakutan yang biasanya membisikan terror: “bagaimana nanti kalau gagal,” “jangan-jangan nanti rugi” dan lain-lain.

Bob Sadino Memulai segalanya dari jalanan, bukan dari sekolahan.Dia memulai dengan berjualan telur, lalu daging ayam kemudian sayur-mayur dan buah-buahan.Dia tidak menghadapi segala masalah dengan senjata teori, melainkan dengan praktik dan praktik.

Manajemen Gila “Ala Bob Sadino”

Tidak ada satu pun perusahaan besar di muka bumi ini, yang menerapkan manajemen seperti Bob Sadino. Dalam banyak kesempatan, pria yang masih terlihat segar dalam usia lewat 70 tahun ini, selalu mengatakan tidak pernah punya perencanaan dan tidak pernah mau membuatnya. Pernyataan ini dibuktikan dengan tindak tanduknya yang memang tidak pernah punya rencana di atas kertas.Rencana cukup di kepalanya saja, dan sangat mungkin berubah-ubah sesuai dengan situasi dan kondisi.

Tentu sangat berbeda dengan perencanaan dalam manajemen modern. Bahkan sejumlah pakar manajemen mengatakan tidak mungkin seseorang akan berhasil tanpa perencanaan. Bob sadino dengan segala keunikannya, sukses menjungkirbalikan teori para pakar. Tidak ada plan A, plan B, plan C dan seterusnya. Yang ada adalah sejuta kemungkinan.

Sama seperti perencanaan, salah satu unsur manajemen yaitu pengorganisasian juga dilanggar oleh Bob Sadino.Dia tidak mau memiliki organisasi seperti yang dijabarkan dalam buku-buku teori manajemen.

Bob Sadino mempunyai cara unik dalam melakukan pengawasan. Dengan cara ikut bekerja bersama para karyawannya. Bahkan Bob Sadino akan“nongkrong” seharian di kantor ikut bekerja, dan tidak jarang dia juga mengajak serta istri dan anaknya berada di tempat kerja.

Bob Sadino tidak ragu-ragu bergaul dengan para karyawan mulai dari top level sampai pegawai paling rendah seperti tukang sapu atau “office boy”. Dan cara dia memperlakukan para bawahannya tidak seperti seekor singa yang sedang mengawasi mangsanya. Bob Sadino justru memosisikan diri seperti rekan kerja, teman, sahabat dan keluarga.Itulah sebabnya semua karyawan rela diangkat menjadi anak oleh Bob Sadino.

Tidak ada seorang pun anggota keluarga Bob Sadino yang sedarah, baik keluarga dekat maupun keluarga jauh yang bekerja di perusahaannya. Semua pekerjanya adalah orang lain yang tidak ada hubungan darah sedikitpun. Bob Sadino sengaja membatasi keluarganya ikut campur dalam perusahaan, apalagi menjadi bagian dari perusahaan. Dia berkeyakinan, manajemen semacam itu akan menghindarkan keluarga dari keretakan.

Sebagian besar perusahaan melakukan perekrutan pegawai dengan prosedur dan sistem yang sangat profesional.Tetapi tidak demikian dengan Bob Sadino.Dia tidak pernah membuka pengumuman lowongan pekerjaan. Dia merekrut pegawai dengan cara jalanan. Dia tidak peduli latar belakang calon pegawainya.Mau sarjana S1 atau Master, mau lulusan SMA/SMP, bekas pegawai hebat atau bahkan gelandangan. Mereka bisa bekerja di sana dengan satu syarat, mau bekerja dan belajar.

Bob Sadino membagi perjalanan bisnisnya ke dalam tiga bagian waktu:

  1. 10 tahun pertama, sebagai masa penjajakan antara bos dengan para anak buah.Pada masa ini, bos yang melakukan dan memimpin semua hal sendirian. Pada masa ini, bos mulai mencari tahu kemampuan anak buah dan anak buah mencari tahu gaya kepemimpinan dan apa yang diinginkan bos.
  2. 10 tahun kedua, sebagai masa tahu sama tahu. Bos sudah sangat mengetahui kemampuan para anak buahnya, sedangkan anak buah sudah mengerti apa yang diinginkan bos. Anak buah juga paham gaya kepemimpinan bos, sehingga bisa menjalankannya sendirian.
  3. 10 tahun ketiga, sebagai masa desentralisasi penuh.Bos mulai meninggalkan segala urusan perusahaan dan memutuskan untuk tidak ikut ambil bagian dalam segala urusan perusahaan. Bos mempercayakan sepenuhnya segala urusan kepada para anak buah, dan membiarkan mereka berbuat apa yang dianggapnya benar.

Jika percaya kepada anak buah, maka berikanlah kepercayaan sepenuhnya.Termasuk membiarkan dia berbuat kesalahan dan memperbaikinya sendiri. Bob Sadino sangat percaya diri mundur dari operasional perusahaannya karena beberapa alasan sebagai berikut:

  1. Dia membangun usaha mulai dari nol. Dia tahu betul bagaimana beratnya memulai usaha dari nol.
  2. Dia pantau para karyawannya sejak pertama kali masuk perusahaan. Akibatnya, dia tahu betul kualitas mereka.
  3. Bob Sadino mengembangkan sikap selau terbuka dalam banyak hal kepada anak buah.Salah satu dampaknya, anak buah sangat hormat dan percaya kepadanya.Demikian pula sebaliknya.
  4. Tidak segan-segan mengajarkan anak  buah cara berbisnis. Dia sama sekali tidak khawatir, ketika anak buahnya makin pintar bisnis, mereka akan kabur dan membuka usaha sendiri.
  5. Menerapkan sikap saling percaya kepada anak buah.

Sebagai entrepreneur, Bob justru menggunakan ilmu manajemen sebagai seni bukan ilmu dan memanfaatkannya lebih daripada yang dilakukan orang lain. Manajemen itu sesungguhnya adalah memanfaatkan kemampuan orang lain untuk mencapai sesuatu. Bob Sadino tidak mengenal istilah kerja keras atau kerja cerdas.Yang ada adalah lakukan saja lalu nikmati.Jika seseorang sudah menikmati sebuah pekerjaan, tidak ada kata kerja keras atau cerdas.Yang ada hanyalah menikmati pekerjaannya. Kalau sudah begitu tidak ada lagi kata capek, malas dan kata sifat sejenisnya, karena seseorang sudah menikmatinya. Menikmati berbeda dengan malas.Kalau, malas berarti tidak mengerjakan sesuatu.

Ada tiga langkah atau alternatif  Bob Sadino dalam menciptakan pasar, yaitu:

  1. Jadilah yang pertama

Dengan menjadi yang pertama di bidang tertentu, kita pasti akan mendapatkan perhatian konsumen. Ketika orang lain mengikuti, kita sudah lebih dulu mantap sebagai yang pertama.

  1. Jadilah yang berbeda

Jangan pernah memilih bisnis yang sama dengan orang lain. Kalau kita meniru bisnis orang lain, kita tidak akan memiliki nilai tambah apa-apa, sehingga pasti kalah bersaing dengan pebisnis lain. Konsep yang bisa dipakai adalah ATM (Amati,Tiru,Modifikasi). Jadi, boleh-boleh saja meniru asal ada modifikasi di dalamnya.

  1. Menjadi yang terbaik

Jika kita sudah mampu menjalankan dua langkah di atas, pasti kita mampu menjadi yang terbaik.

Konsumen adalah Paspor Saya

Dalam menjalankan usahanya, Bob Sadino sangat mengapresiasi peran konsumen. Baginya tanpa mereka Ia bukan apa-apa dan tentu saja usahanya tidak akan menjadi seperti sekarang ini.

Untuk urusan kualitas barang dagangannya, Ia tidak pernah benar-benar mengerti apa itu kualitas. Yang Ia tahu hanya berusaha menyediakan apa yang dibutuhkan oleh konsumennya. Apa yang diminta oleh konsumen maka itulah yang akan disediakan oleh seorang Bob Sadino.

Kenapa Kem Chick Tidak Mau Buka Cabang?

Jawabannya karena 2 hal.Pertama, konsisten dan kedua adalah konsep Kem Chick ‘Kembali ke Rumah’.Terkait alasan pertama, Bob Sadino berusaha konsisten untuk fokus mengembangkan satu Kem Chick.Hal ini dilakukan untuk menjaga pelayanan agar tetap prima dan menjaga kualitas produk agar tetap sesuai dengan harapan konsumen. Bisa Anda bayangkan jika Kem Chick bercabang, fokus pengembangan akan pecah dan tidak terkonsentrasi.

Untuk alasan kedua, hal ini berkaitan dengan perlakuan istimewa Bob Sadino terhadap konsumen.Ia ingin ketika konsumen datang ke Kem Chick mereka merasakan nuansa kekeluargaan. Tak jarang Ia dan istrinya turun langsung untuk melayani konsumen dan bercengkrama dengan pelanggan. Kesan itulah yang ingin dipertahankan oleh Bob Sadino.Dengan konsep ‘kembali ke rumah’ tersebut, nampaknya agak rumit jika Kem Chick harus bercabang.Pada teirinya saja rumah itu biasanya hanya satu atau dua. Jika lebih apa bedanya dengan hotel atau appartment? Yang pasti sudah sangat minim rasa kekeluargaannya.

Fokus Di Agribisnis

Untuk mendiversifikasi usaha bukan sesuatu yang mustahil dilakukan oleh seorang Bob sadino, tapi nampaknya hal itu sangat dihindari.Baginya dunia agribisnis saja belum sepenuhnya tergrap. Dengan berpegang teguh pada prinsipnya itu  Bob sadino menjelma menjadi pebisnis agri yang sangat paham akan seluk beluk dunia dunia agribisnis.

Bob bersikukuh bergerak di bidang agribisnisdengan mengoptimalkan =nya secara maksimal. Fokus pada bidang ini dan terus mempertajam kemampuannya mengembangkan produk sekaligus meninggikan nilai jual.

Tidak Mau Berpartner

Keyakinan Bob Sadino akan hal-hal yang mungkin terjadi bila berpartner dalm bisnis:

  1. Merusak hubungan yang baik menjadi buruk akibat urusna bisnis.
  2. Kerja sama selevel pasti berakhir dengan kata bubar.
  3. Memancing sifat serakah di salah satu pihak.
  4. Saling curiga satu sama lain.

Sekolah=Racun

Dalam konteks untuk menjadi seorang pengusaha, sekolah hanya mewariskan sejumlah ketakutan.Sekolah hanya menghambat seseorang untuk bertindak bebas dan melakukan sesuatu.Di sekolah, diajarkan sebelum memulai suatu usaha harus menentukan tujuan, punya rencana jangka panjang dan jrencana jangka pendek.Diajarkan marketing dan menejemen, tapi bagi Bob Sadino itu semua hanya racun.Semua itu bisa lebih sederhana dalam kacamata seorang Bob Sadino. Misalnya dalam hal marketing, sebenarnya yang diperlukan hanyalah menyediakan apa yang dibutuhkan konsumen. Ketika konsumen meminta A, maka berikanlah A.

Memilih Tidak Punya Tujuan

Pendirian Bob Sadino memang berbeda dengan banyak orang. Tidak heran bila ia disebut unik atau aneh. Namun keunikan dan keanehannya itu mampu membuatnya berhasil menjalani hidup. Hampi semua pemikiran, ucapan, tindak-tanduknya sama seklai berbeda dengan kebanyakan orang. Tapi bukan berarti dia gila, karena keunikannya menjadi sangat masuk akal bagi orang yang mau berpikir panjang.

Salah satu keanehan Bob Sadino adalah, sebagai seorang pebisnis dia sama sekali tidak memiliki tujuan dalam hidupnya. Hal sangat bertentangan dengan beragam ilmu manajemen yang selalu mengajarkan tujuan dalam menjalani sebuah bisnis atau usaha.Namun menurut Bob Sadino tujuan justru hanya membelenggu.Sebab dengan tujuan seseorang hanya tertuju pada satu titik yang namanya tujuan itu. Orang tersebut tidak akan berusaha untuk mendapatkan hasil, yang melebihi titik tersebut. Padahal potensi setiap orang sangat mungkin bisa melampaui titik itu.

Bob Sadino memilih tidak memiliki tujuan, karena dia yakin bisa mencapai apapun melebihi tujuan banyak orang.Sejak memulai bisnisnya puluhan tahun silam, Bob tidak menentukan tujuan untuk mendapatkan apapun.Ia tidak pernah membiarkan dirinya ditekan oleh tujuan.

“Kalau saya punya tujuan, bagaimana mungkin bisa sampai sekarang ini.Masa Bob yang memulai dengan dagang telur keliling punya tujuan bisnis sebesar sekarang?Jalani aja lah, kalau anda melakukan dengan terus menerus pasti akan ada hasilnya”.

Rencana Sama dengan Bencana

Rencana itu buat orang yang belajar manajemen. Menurut orang-orang manajemen, rencana itu linier dari A sampai Z. Sedangkan dalam hidup atau bisnis, jalannya berkelok-kelok, tidak ada yang lurus dan berurutan. Sayangnya rencana itulah yang diajarkan sekolah.Menurut Bob hanya orang goblok yang membuat rencana matang, persiapan yang lama, dan rencana-rencana cadangan lainnya. Padahal jika sudah memiliki perencanaan yang matang, maka buat apa membuat rencana cadangan.

Sebab biasanya, rencana yang dibuat sangat matang pelaksanaannya akan tertunda lama. Belum lagi jika harus meyiapkan rencana cadangan. Waktu yang tersita akan lebih lama lagi. Maka akan kalah cepat nantinya dengan orang-orang yang sama sekali tidak membuat perencanaan.

Sebenarnya, alternatif dalam hidup itu akan mengalir apa adanya tanpa harus dituangkan dalam rencana. Semua itu sudah ada dengan sendirinya.Lagi pula, dalam hidup ini semua sudah terencana degan baik.Semua rencana sudah diatur dengan baik oleh Tuhan Yang Maha Esa. Jadi buat apa punya rencana, karena Tuhan yang akan menetukan semuanya. Maka ikuti saja semua perencanaan Tuhan.

Menurut Bob Sadino orang yang berpikir lateral tidak memerlukan rencana yang sangat matang. Orang lateral akan berjalan, segera melakukan, dan menuai hasil yang mungkin diluar dugaan orang kebanyakan.

“Buat saya rencana justru sama saja dengan bencana.Karena rencana membuat seseorang lambat bertindak, dan membuat orang banyak harapan”.

Tidak Pernah Berharap

Dalam ilmu manajemen, setiap manusia dianjurkan agar memiliki mimpi atau harapan. Dengan harapan, seseorang dianggap akan memiliki motivasi untuk mencapai sebuah titik yang dinamakan tujuan. Mereka meyakini benar, bahwa tanpa harapan seorang anak manusia bagaikan anak panah yang lepas dari busurnya, tanpa bidikan yang jelas.

Namun menurut Bob Sadini harapan justru membuat seseorang akan nampak goblok. Betapa tidak, karena sebagian harapan tidak pernah terwujud 100 persen tapi tetap saja terus berharap.

Beberapa efek negatif dari mengharap:

  1. Menimbulkan mimpi dan keinginan yang terlalu banyak, padahal sebagian besar belum tentu tercapai.
  2. Kian banyak berharap, maka bersiaplah untuk kecewa.
  3. Menutup alternatif lain dalam memotivasi diri untuk menggapai sesuatu.

Dengan tanpa harapan. Bob Sadino menjalani saja seluruh proses hidupnya. Sehingga terlihat tanpa beban.Memang itu menjadi salah satu kunci kenapa Bob Sadino begitu santai menjalani hidup.Tanpa kerja keras, tanpa tujuan, dan bahkan tanpa rencana melainkan mengalir saja seperti air.

Jangan Memfotokopi Saya!

Bob Sadino mau membuka seluruh hidupnya untuk kemanfaatan banyak orang. Tapi ia sama sekali tidak mau orang lain meniru atau bahkan menjiplak jalan hidupnya. Dia menilai kebanyakn orang mau instan mendapatkan kesuksesan sehingga maunya enak saja menjiplak orang lain yang dianggapnya sudah sukses. Padahal itu keliru dan tidak mungkin.

Semua karena belenggu yang sangat kuat mencengkeram kebanyakan orang Indonesia, yang sudah ada sejak kecil. Ketika seseorang hanya meniru orang lain yang telah terlebih dahulu sukses, maka ia tidak jauh hanya seperti mesin fotokopi. Alami saja setiap pengalaman yang dialami.

Sekali lagi, Bob Sadino meminta semua orang tidak meniru jejak langkahnya, apalagi memfotokopinya. Bob sangat sebal terhadap orang yang tidak mau berproses untuk mencapai sesuatu. Padahal hidup ini proses. Keberhasilan hanyalah sebuah titik kecil di puncak proses yang dipenuhi kegagalan dan kesalahan.

Modal Intangible Jauh Lebih Penting

Jika mendengar kata modal, biasanya yang terlintas pertama kali adalah uang. Sebab modal sama dengan uang. Tanpa uang maka tidak akan ada modal. Namun apa kata Bob Sadino? Ia sangat tidak sepaham dengan pernytaan tersebut. Karena terlalu sempit memandang arti modal.Di mata Bob modal utama itu bukan uang.Menurutnya modal intangible justru jauh lebih penting. Dari modal intangible itulah nantinya modal tangible akan mengikuti.

Modal intangible bagi seorang calon pengusaha terdiri dari:

  1. Kemauan jadi pengusaha. Untuk hidup mandiri, butuh niat dan kemauan menjadi pengusaha.Tidak ada keterpaksaan, melainkan sukarela karena adanya kemauan. Tanpa kemauan modal uang yang setimpuk tidak akan berarti apa-apa.
  2. Dengan komitmen untuk tetap menjadi pengusaha, maka cobaan seperti apapun tidak akan menggoyahkan pendirian.
  3. Berani mengambil peluang. Sebenarnya peluang di muka bumi ini sangat banyak, bahkan teramat banyak bahkan masih ada yang belum tersentuh.Tinggal berani atau tidak dalam mengambil peluang tersebut.Sering kali seseorang ragu untuk mengambil peluang.Padahal, seorang pengusaha harus berani untuk mengambil peluang. Urusan lain belakangan.
  4. Tahan banting dan tidak cengeng. Seorang pengusaha akan mengalami banyak sekali kegagalan dan tantangan. Maka dari itu jika tidak bisa menghadapi kegagalan, seseorang tidak layak dikatakan seorang pengusaha.
  5. Bersyukur pada Yang Maha Kuasa. Ini penting untuk membuat sikap mental yang sempurna.Karena semua hal yang didapatkan seorang manusia di bumi ini, tidak lepas dari campur tangan Tuhan.

Kenapa modal tak terlihat begitu penting sehingga mengalahkan modal uang?Sebab kemampuan tak terlihat sebagai modal menjadi pengusaha tidak bisa dibeli, karena harus melekat pada diri.Sedangkan uang, bisa dicari setelah modal tak terlihat itu melekat di dalam diri.Sudah banyak pengusaha yang memulai bisnisnya hanya dengan modal seadanya, modal konsep dan lain-lain.Mereka sukses menjalaninya, karena puny modal intangible yang kuat.

Emang Gue Pikirin

Dalam beberapa kesempatan, setiap selesai mengatakan sesuatu Om Bob selalu mengakhirinya dengan kalimat “emang gue pikirin”.Ucapan itu seringkali menyinggung perasaan lawan bicaranya, atau mendapat ketidaksepahaman. Sebenarnya maksud dari ucapannya tersebut, bahwa ia tidak peduli apakah ucapannya akan mendapat prsetujuan atau tidak dari orang lain. Dia juga tidak perduli apakah orang lain akan menjadi positif atau negatif akibat dari ucapannya. Yang dia yakini, apa yang diucapkannya adalah benar, tidak bohong.

Namun ada juga sebagian orang yang menganggap ucapan “emang gue pikirin” Om Bob justru bermakna sangat dalam.Provokator enterpreneur asal Batam-Jaya, menganggap ucapan itu sebagai bentuk kedalaman jiwa seorang Bob Sadino.

Dalam beberapa kesempatan, Bob Sadino selalu mengungkapkan keikhlasannya dalam bertindak.Inti dari perjalanan hidupnya sekarang sebagai seorang pengusaha yang ikhlas.

Dalam kesehariannya, Bob Sadino selalu ceplas-ceplos dalam berbicara. Kata-kata yang mungkin bagi orang lain tidak patut, buat Om Bob pantas-pantas saja. Dan sekali lagi, dia tidak peduli tanggapan orang lain terhadap perkataannya. Apakah akan bersimpati atau malah menjadi benci. Seperti kataGoblok, yang berulang kali diungkapkannya untuk menyebut seseorang yang belum faham jalan hidup enterpreneur ala Bob Sadino.

Kosongkan Diri Sebelum Belajar ‘Goblok’

Jika anda ingin mendapatkan sebanyak mungkin ilmu dan pengalaman dari Bob Sadino, maka anda harus mengosongkan seluruh gelas ilmu anda.Anda mesti membuat diri anda “goblok” dulu, dan jangan pernah menjadi sok tahu. Begitu mulai sok tahu, maka ilmu yang mengalir dari Om Bob atau dari siapa pun, akan tumpah ruah dan tidak tertampung di gelas ilmu yang dimiliki.

Ternyata itulah makna kata “goblok” yang sering dilontarkan Om Bob, ketika membalas pertanyaan atau pernyataan lawan bicara.Kesannya memang kasar dan menyakitkan hati, namun bagi seseorang yang membutuhkan ilmu kata tersebut menjadi semacam refleksi. Om Bob selalu mengajak lawan bicaranya agar selalu merasa goblok bila belajar dari orang lain. Dan itulah yang dilakukan Om Bob dalam setiap kesempatan.

Banyak yang sudah merasa pintar tidak mau mengosongkan gelas ilmunya.Gelas itu terisi penuh, sehingga ketika diminta untuk mengosongkan diri mereka menolak. Mereka tidak sadar bahwa sedang berlaku goblok dalam arti sesungguhnya karena tidak mau menerima ilmu baru dari orang lain. Padahal setiap orang serendah apapun memiliki pengalaman dan ilmu.

Tidak Pernah Pelit Bagi Ilmu

Semakin banyak kita memberi, kian banyak pula kita menerima. Memberi dalam arti memberi apapun kepada orang lain. Apakah memberi dalam bentuk materi, harta benda, pertolongan dalam bentuk tenaga, semangat, inspirasi atau motivasi, dan tentu saja menyebarkan ilmu kepada orang lain. Semua akan berdampak yang sama kepada si pemberi.

Sama halnya seperti Om Bob, ia tidak pernah pelit dalam berbagi ilmu. Untuk sebagian pengusaha mungkin akan sayang untuk membagi ilmunya, namun Om Bob tidak berpikir dengan demikian. Dia justru menyebarkan seluruh ilmu bisnisnya kepada orang lain. Misalnya ilmu peternakan ayam, dia bagikan kebanyak peternak.Makin banyak justru makin baik baginya. Lalu ilmu bercocok tanaman juga ia sebarkan ke ribuan petani. Semua ilmu tidak dikunyah sendiri, melainkan mengalir ke banyak orang.

“Kalau saya membagi ilmu kepada orang lain, lalu orang lain itu menjadi lebih pintar dari kita, wah itu sangat bagus. Kita pun terpacu untuk lebih pintar lagi..”

Aliran ilmu Om Bob tidak berhenti sampai disitu saja.Banyak pihak yang mengundangnya sebagai pembicara.Dan Om Bob selalu memenuhi undangan tersebut, asalkan waktunya tepat. Dia juga tidak pernah mempermasalahkan honor seperi yang diterapkan oleh sejumlah pembicara lain.

Mau Berhasil? Cari Kegagalan Sebanyak-banyaknya

“Buat saya kalu mau berhasil, carilah kegagalan sebanyak-banyaknya.Karena sukses itu hanyalah sebuah titik puncak segunung kegagalan”.

Kebanyakan orang menghindari kegagalan.Sekolah mengajarkan agar semua muridnya menjauhi kegagalan. Hukum ekonomi pun  meyebutkan, risiko sekecil-kecilnya untuk mendaptkan keuntungan sebesar-besarnya. Padahal semakin banyak kegagalan kemungkinan untuk berhasil akan semakin besar. Tanpa kegagalan tidak mungkin ada keberhasilan.

Setelah kegagalan itu jangan baca depannya, tapi baca belakangnya.Kenapa gagal?Itulah yang merupakan hal luar biasa.Maka dari itu, memandang segala sesuatu itu harus positif. Buat Om Bob kian banyak kegagalan, akan semakin banyak pertanyaan muncul darinya. “kenapa gagal?”. Tentu karena makin banyak pertanyaan, akan makin banyak jawaban. Jawaban itu menjadi input baru, dalam melangkah lebih jauh. Ingat, setelah gagal harus terus melangkah dan jangan pernah berhenti.Karena kegagalan yang sesungguhnya adalah ketika berhenti. Itu sebabnya Om Bob sangat senang dengan kegagalan, karena akan banyak mendapat input.

Untung Masih Pake Celana

Ciri khas Bob Sadino dari dulu adalah celana pendeknya.Dengan celana pendeknya itu dia pergi kemanapun dan menemui siapapun, bahkan menemui orang nomor satu di Indonesia yaitu Presiden. Bob penah bertemu dengan beberapa Presiden Negara ini hanya dengan menggunakan celana pendek. Tapi bukan tidak ada kisah pahit dengan celana pendeknya itu.Bob pernah ditolak masuk ke DPR karena dia menggunakan celana pendek, padahal pada saat itu dia diundang untuk mengikuti rapat dengar pendapat di DPR. Dengan kenyentrikannya itu, banyak orang bertanya-tanya akan penampilan Bob yang sering menggunakan celana pendek. Ternyata dulu saat Bob bekerja di Eropa, dia melihat orang-orang Eropa sangat menghargai matahari, karena di Eropa mengganggap cahaya matahari sangat mahal dan berharga.Bahkan banyak dari mereka berlomba-lomba menjemur kulitnya sampai ada yang tanpa menggunakan sehelai kain ditubuhnya.Setelah kembali ke Indonesia, kebiasaan Bob itu dia tanamkan, karena menurutnya dengan menggunakan celana pendek, dia lebih leluasa menikmati cahaya matahari yang merupakan karunia Sang Pencipta.Jika ingin melihat Bob tanpa celana pendeknya yaitu ketikan menghadiri keluarganya yang meninggal dan juga ketika menjalankan solat.

Keluarga Adalah Segalanya

Bob sadino adalah orang yang sangat menjaga betul hubungan dengan keluarganya, harmonis adalah kunci utama, dimana dia menjaga betul hubungan dengan istri dan anak-anaknya. Menurut Bob, dampak dari hubungan segitiga suami-istri dan anak akan berpengaruh ke semua bidang, termasuk urusan bisnis. Waktu makan dapat dirasakan sebagai rahmat Sang Pencipta, dimana seluruh anggota keluarganya berkumpul, akan terasa kenikmatannya. Maka meskipun dalam keluarga Bob Sadino terjadi pertentangan atau pertengkaran kecil, waktu makan dan berkumpul bersama, semua pertentangan tersebut haruslah hilang, itu semua yang ditanamkan oleh Bob pada keluarganya. Dan tanpa dukungan istrinya Bob berkata dia tidak akan pernah sukses seperti sekarang ini.

Mendidik Anak? Biarkan Saja

Dalam mendidik anak-anaknya Bob tidak pernah membimbing anaknya untuk menjadi apapun.Dia memberikan kebebasan secara utuh kepada semua anaknya. Dia hanya menyediakan yang terbaik apa yang diinginkan anak-anaknya karena  anaknya beruntung memiliki orang tua yang kaya. Bob membebaskan betul apa yang anak-anaknya lakukan, dia hanya berpesan pada anaknya silahkan berbuat apa saja semau kalian, tapi kalau saya sudah mati, rasain luh! Hanya itu saja yang Bob katakan.Contohnya anak pertama Bob yang ingin melanjutkan kuliah dijurusan perhotelan, maka Bob mencarikan universitas terbaik, anaknya itu berkuliah di Universitas Perhotelan terbaik di Swiss. Setelah anaknya lulus, dia tidak memaksakan anaknya untuk meneruskan usahanya, dia membiarkan anaknya untuk memilih apa yang diinginkannya. Ketika anaknya memilih untuk menjadi pedagang pecel lele dipinggir jalan, Bob tidak melarang sama sekali.

Iqro Itu Bukan Hanya Membaca

Meski Bob tidak memiliki pendalaman agama yang memadai, tapi bebrapa pandangan Bob dari sisi spiritual jauh melebihi kebanyakan orang.Seperti kketika dia memaknai ayat pertama yang diturunkan Tuhan yaitu Iqra, yang arti harfiahnya adalah membaca.Mungkin semua orang sepakat membaca yang dimaksud bukan hanya membaca deretan huruf dalam kitab suci atau buku.Membaca bisa bermakna melihat segala sesuatu yang terhampar dimuka bumi, dan yang terbentang di angkasa.Semua harus dibaca, dimaknai, serta dimengerti sebagai maha karya Tuhan.Tapi menurut Bob membaca bukan hanya seperti itu, Bob memaknai Iqra sebagai perintah Tuhan untuk bertanya. Karena dengan banyak bertanya manusia akan terus terpacu untuk mendapatkan jawabannya saja, tetapi jika hanya membaca saja manusia hany punya dua pilihan yaitu menolak atau menerima. Membaca merupakan kunci kesuksesan, oleh karena itu baca apa yang bisa kamu baca, bukan hanya sekedar buku teori tapi juga gerak-gerik menusia beserta alam semesta, maka nanti kalian akan temukan apa itu sukses.

Doa Saya: “Semoga Masuk Neraka”

Tidak banyak yang tahu bagaimana kehidupan spiritual Bob Sadino. Sebuah jawaban yang membuat orang terkejut ketika Bob menjawab bahwa doa yang setiap hari dia panjatkan adalah semoga masuk neraka. Tapi jika menelisik dan mendengarkan penjelasan dari Bob Sadino, maka tentu penjelasan itu akan bisa diterima. “Saya menyadari sudah berlumuran banyak dosa. Maka saya malu sama Tuhan jika meminta masuk surga,”  Yang terbaik yang bisa dilakukan yaitu memperbaiki hidup anda, jangan lagi berbuat terlalu banyak dosa dan perbanyaklah berbuat kebaikan. Tanpa minta masuk surge pun tuhan pasti akan menempatkan anda kesana.

Di Depan Ka’bah Hanya Bisa Tersenyum

Bob sadino mengku beragama Islam sejak lahir, tapi sampai tahun 1982 dia tidak mengerti agama dan tidak pula menjalankan kewajibannya seperti solat. Sampai suatu hari di tahun 1982, pertanyaan keluar dari mulut putri pertamanya,”Pa, koq aku ga pernah liat papah solat?” kontan pertanyaan itu terus terpikirkan.Setelah itu dia mengajak istrinya untuk pergi Umroh. Ketika berada didepan ka’bah Bob hanya bisa tersenyum karena dia yang tidak bisa gerakan solat, belum bisa menghapal surat dalam al-quran bahkan Al Fatihah pun sulit dihapalkannya masih dipanggil untuk hadir ke Ka’bah. Setelah kejadian itu Bob langsung dapat menghafal Al Fatihah dan menjalankan solat dengan lancar.

Bob Sadino Itu, Menyebalkan tapi Menarik

Untuk orang yang baru mengenal Bob, sosok kontroversi ini memang menyebalkan.Semua gerak-gerik serta perkataannya terkadang kurang mengenakan.Tapi ketika beberapa saat berbincang dengannya, maka banyak hal dari ucapannya yang bisa kita amini. Lama kelamaan akan telihat bahwa Bob seorang yang low profile.

Beberapa kisah yang bisa mengambarkan rendah hatinya seorang bob. Suatu hari Bob sedang mengendarai sepeda motor besarnya, dia melihat seorang pemuda lalu tanpa sungkan menghampiri dan mengajak ngobrol pemuda itu, setelah beberapa lama berbincang, Bob mengajak pemuda yang baru dikenalnya itu masuk kedalam rumahnya. Betapa kaget pemuda itu mengetahui bahwa Bob Sadino yang sering dia lihat di televise atau media cetak ternyata seorang yang supel dalam bergaul. Lalu ketika Bob dikerjai dalam sebuah acara reality show. Saat itu Bob hendak bertemu dengan rekan bisnisnya, tetapi ketika Bob hendak keluar rumah, sebuah mobil menghalangi didepan rumahnya, dengan santai Bob meminta pemilik mobil itu untuk menjalankan mobilnya. Setelah itu kembali sebuah mobil menghalangi dengan  alasan ban kempes, jika itu terjadi bukan pada Bob mungkin kata kasar sudah keluar, tapi ketika itu Bob dengan santai menghadapi sebuah masalah padahal bisnis puluhan miliar dipertaruhkan.

Main Film dan Sinetron

Bob Sadino pernah bermain film dan sinetron, kemunculannya bukan didasarkan atas kebutuhan karena Bob memang seorang miliyarder.Selain film dan sinetron, Bob juga membintangi beberapa produk iklan. Hebat, seorang pengusaha mau membintangi iklan produk orang lain. padahal bisnisnya sendiri tidak pernah dia iklankan di media cetak maupun elektronik. Akan tetapi nama dan perusahaannya melejit serta selalu diliput oleh media, karena kenyentrikan Bob Sadino.

Kepada siapapun media masaa, Bob selalu terbuka, tidak pernah menolak diwawancara, bahkan ketika dia sedang berada diluar negri sekalipun. Sebenarnya apa yang dilakukan Bob Sadino merupakan kategori publikasi. Dia tidak perlu mengeluarkan uang banyak untuk mempromosikan produknya karena media selalu menjadikan dirinya sebagai sumber berita.

KESIMPULAN

Hal-hal yang bisa dipetik dari buku “Belajar Goblok dari Bob Sadino” adalah “Ilmu berserak di mana-mana di seluruh muka bumi, jauh lebih banyak dibandingkan yang ada di dalam gedung sekolah atau kampus.Bahkan, seekor ayam pun bisa memberikan ilmu (inspirasi) yang sangat berharga.”

Kutipan diatas mengajarkan kita bahwa mencari ilmu itu tidak hanya di sekolah, kampus, atau lembaga pendidikan lainnya, tapi hal-hal disekitar kita adalah ilmu yang berharga, asalkan kita mau belajar dan berusaha.

“Cukup satu langkah awal.Ada kerikil saya singkirkan.Melangkah lagi.Bertemu duri saya sibakkan.Melangkah lagi.Bertemu lubang saya lompati. Berjumpa api saya mundur. Melangkah lagi.Berjalan terus dan mengatasi masalah.” (Bob Sadino)

Kutipan di atas merupakan kegigihan dari seorang Bob Sadino dalam menjalani hidupnya sampai menjadi pengusaha sukses.Ia tak butuh banyak teori yang penting lakukan saja! Dan menghadapi segala rintangan dan mengatasinya.

Resume :

Marwadi, Dodi. 2009. Belajar Goblok dari Bob Sadino. Jakarta: Kintamani Publishing.