Karakter-Karakter Yang Mesti Dimiliki Seorang Pengajar

  1. Bercanda Bersama Anak Didiknya

Canda adalah berdendau gurau dengan orang lain tanpa mencela dan menghinanya. Pengaruh positif yang ditimbulkan oleh canda dalam mengakrabkan suasana belajar dan menghilangkan rasa bosan yang dialami siswa. Selain itu guru juga harus memperhatikan diri agar tidak terlalu memperbanyak canda supaya tidak mengeluarkan proses belajar dari jalurnya dan faidah yang diharapkan darinya hilang. Dampak buruk juga ada pada banyak bercanda yakni dapat menghilangkan wibawa dan harga diri. Terdapat aturan yang harus dilakukan saat ingin bercanda yaitu tidak boleh bercanda kecuali dalam perkara yang haq (Benar), dan tidak boleh menyakiti atau menghinakan salah satu anak didik dengan candaan tersebut.

2. Menghindari Perkataan Keji yang Tidak Pantas

Berkata keji, mencaci, dan merendahkan orang lain merupakan sifat tercela yang ditentang oleh jiwa, dienggani oleh tabiat, dan dijauhi oleh orang-orang yang mulia. Guru seharusnya menjadi teladan yang diikuti jejaknyadan dititi jalan (hidup) nya. Jika guru berperangai dengan beberapa sifat-sifat ini, maka merupakan akhlak yang paling buruk. Dan jika sifat-sifat ini terkumpul pada seorang guru, maka itu merupakan bencana besar, karena siswa akan terpengaruh dengan gurunya, baik itu negatif maupun positif. Beberapa jenis perkataan keji yang wajib dihindari oleh seorang guru adalah : Ejekan, Laknat dan Caci maki, dan kata kotor atau perkataan yang sia-sia.

Tugas Dan Kewajiban Guru

  1. Memberikan Nasihat Kepada Anak Didik

Nasihat dan Pengarahan tidak kalah penting dari Ta’lim, maka seorang siswa berhak untuk mendapatkan nasihat yang sudah menjadi haknya. Nasihat adalah tuntutan syar’i sebelum menjadi tuntutan pendidikan dan pengajaran. Jadi utamakanlah memberikan nasihat kepada para siswa. Mengarahkan siswa dengan arahan yang benar, menuntunnya kepadaq apa yang berguna baginya, meluruskannya jika dia menyimpang dari jalan yang lurus, dan perkara-perkara lainnya; itu merupakan tugas dan kewajiban guru. Cobalah memberikan nasihat secara empat mata, hal itu dilakukan karena dengan empat mata nasihat kita akan cepat direspon oleh orang yang kita nasehati.

2. Tidak Menyebutkan Nama Secara Langsung Ketika Memberikan Teguran

Menjelaskna kesalahan bukan bermaksud menjelekkan pelaku kesalahan tersebut, melainkan sebagai peringatan dan penjelasan terhadap kelakuan dan ucapan yang buruk, dan agar orang tidak terjerumus kedalamnya. Tidak menyebutkan nama secara langsung ketika menjelaskan kesalahan, walaupun pelaku kesalahan tersebut diketahui oleh sebagian orang. Jika orang yang melakukan sengaja dan mengetahuinya, maka guru berhak untuk berijtihad dalam menciptakan cara yang paling tepat dalam menangani dan meluruskan pelaku kesalahan. Yang terpenting ialah kepiawaian guru terletak pada bagaimana dia membenahi kesalahan tanpa menyebutkan langsung nama orang yang bersalah.

Sistem Dan Metode Mengajar

  1. Kontak Pendengaran dan Penglihatan Antara Guru dan Siswa

            Metode menyampaikan pada saat mengajar, atau metode menyajikan materi pelajaran –menjelaskan- adalah media paling efektif di dalam kontak antara guru dan muridnya, yakni suara guru memiliki keistimewaan kontak lebih banyak daripada yang lainnya. Beberapa hal yang harus dilatih oleh seorang guru dalam mendidik anak muridnya yaitu berupa : Kontak Pendengaran dan Kontak Penglihatan / Pandangan. Berikut adalah penjelasannya.

Petama : Kontak Pendengaran

  1. Metode ceramah

Menyajikan materi pelajaran dengan cepat bisa membingungkan siswa, membuat pikirannya tidak karuan, dan menghalanginya ntuk mengambil manfaat dari berbagai faidah dan permasalahan, yang berlaku secara cepat dan tidak sempat dan tidak sempat ditangkap oleh otak. Cara yang paling tepat adalah memberikan jeda antara satu kata dengan kata yang lain, dimana antara kata yang satu dengan kata lain yang dipisahkan, tidak saling tumpang tindih supaya tidak merepotkan dan menyulitkan siswa. Begitu juga harus pertengahan dalam pembicaraan; tidak terlalu cepat dan tidak juga terlalu lambat.

2. Tidak Tasyadduq dalam ucapan dan tidak pula memaksakan bersajak

Tasyadduq adalah berbicara nagolr ngidul tanpa disertai kehati-hatian dan berjaga-jaga. Barangkali hadits Jabir radhiyallahu ‘anhu mencukupkan kita dari memperluas kata dalam bab ini.

Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu  Bahwa Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا وَإِنَّ أَبْغَضَكُمْ إِلَيَّ وَأَبْعَدَكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الثَّرْثَارُونَ وَالْمُتَشَدِّقُونَ وَالْمُتَفَيْهِقُونَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَدْ عَلِمْنَا الثَّرْثَارُونَ وَالْمُتَشَدِّقُونَ فَمَا الْمُتَفَيْهِقُونَ قَالَ الْمُتَكَبِّرُونَ

“Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian dan yang paling dekat kedudukannya denganku di hari kiamat kelak adalah orang yang terbaik akhlaqnya. Dan orang yang paling aku benci dan paling jauh dariku pada hari kiamat kelak adalah ats-tsartsarun, al-mutasyaddiqun dan al-mutafaihiqun.” Sahabat berkata: “Ya Rasulallah, kami sudah tahu arti ats-tsartsarun dan al-mutasyaddiqun, lalu apa arti al-mutafaihiqun?” Beliau menjawab, “Orang yang sombong.” (HR. Tirmidzi).

  1. Sikap terus-menerus guru didalam menyampaikan dan tidak memutusnya

Sebagian siswa kadang terpaksa menghentikan penjelasan guru untuk memperjelas sebuah poin yang rumit atau mengulangi penjelasan yang telah lewat. Adakalanya guru mengabulkan permintaan ini dan kadangkala tidak mengabulkannya. Sikap pengabulan guru ini mengandung beberapa bahaya :

  1. Mengedapankan keehendak satu atau dua siswa dengan mengorbankan sekelompok besar siswa.
  2. Memutus pembicaraan sebagian dari sebagiannya yang lain, padahal seharusnya disampaikan secara berkesinambungan.
  3. Mengacaukan pikiran siswa dengan adanya pemotongan yang muncul ini.
  4. Menggangu pikiran guru sendiri dan memutuskan rantai pikirannya

4. Diam di tengah-tengah menyampaikan (penjelasan)

Diam ditengah-tengah penjelasan guru memiliki bebrapa faidah yang sangat baik untuk kita renungkan sebentar. Pertama, bahwa hal itu dapat menarik perhatian siswa, dimana seorang guru berbicara pada tema tertentu kemudian berhenti secara tiba-tiba, maka hal ini tidak diragukan lagi akan menarik perhatian orang yang mendengar. Kedua, bahwa hal itu memberikaqn kesempatan bagi guru untuk menarik nafas dan mengambil sedikit relaks. Ketiga, hal itu memberikan guru kesempatan menata idenya, dan itu adalah aktivitas otak yang tidak akan menghabiskan waktu kecuali beberapa detik saja.

Kedua : Kontak Pandangan

  1. Kontak pandangan yang berkesinambungan antara guru dan siswa

Memelihara kontak pandangan antara guru dan muridnya bermanfaat sekali bagi guru dan anak didik. Guru mempertahankan para siswanya tetap tinggal dibawah kekuasaannya melalui pengawasan terhadap mereka dengn pandangannya, dari sana dia bisa memperhatikan yang malas lalu mengingatkannya, yang mengantuk lalu membangunkannya, yang bermain lalu mencegahnya, dan seterusnya. Karena itu, seyogyanya bagi guru agar mengarahkan pandangannya keseluruh siswanya sehingga masing-masing siswa meyakini bahwa dialah yang dimaksudkan dengan pembicaraan. Jangan sampai dia lalai memperhatikan siswa-siswanya pada saat menjelaskan. Sebagian guru mengarahkan pandangannya hanya ke satu arah tertentu pada saat mengajar, tindakan ini salah, karena dapat menyebabj=kan hilangnya penguasaan terhadap para siswanya, dan dapat memberikan kesempatan bagi siswa untuk sibuk tidak mendengar dan menyimak pelajaran.

2. Menggunakan ekpresi wajah

Cara ini sangat efektif dipraktikkan kepada sekelompok orang, karena ada orang-orang yang cukup menegurnya dengan pandangan tajam dan tidak membutuhkan dengan menghardiknya dan mengomelinya, dan ada orang-orang yang lebih terpengaruh dengan senyuman dan muka manis daripada anda katakan kepadanya “bagus kamu” atau, “Ini bagus”, tanpa diiringi dengan ekspresi wajah yang menunjukkan terhadap perasaan lega dan suka.

3. Metode Dialog dan Pendekatan Logika

Menggunakan metode pendekatan logika adalah sarana bagus yang menjamin sampainya pelajaran kepada otak pendengar sesuai dengan yang dikehendaki pembicara. Selain itu perhatikanlah kesederhanaan dalam dialog rasional dan mengikutsertakan murid dalam dialog tersebut agar terjadi reaksi balik. Walaupun dialog mempunyai kesan menggunakan bahasa yang rumit dan sulit dicerna, akan tetapi sebisa mungkin guru harus mendekatkan dialog rasional agar mudah dipahami oleh anak didiknya. Akan tetapi janganlah memaksakan metode dialog kepada semua anak didik karena tidak semua anak didik mampu dengan mudah mencerna isi atau kesimpulan dari sebuah dialog.

4. Menggunakan isyarat (gerakan tangan dan kepala) dalam mengajar

Memfungsikan isyarat kedua tangan dan kepala untuk kemashlahatan mengajar menjadi salah satu cara untuk para anak didik merasa nyaman saat belajar bersama gurunya. Isyarat dapat membantru guru untuk menyingkat, atau memberi penekanan terhadap ucapan, atau melakukan pendalaman dengan kokoh dan menguatkan sebagian dari perkara-perkara yang penting, atau menarik perhatian pendengar, atau membantu guru mengungkapkan sebagian makna yang kadang tidak bisa diungkapkan oleh lisan dan lainnya. Masih banyak lagi fungsi isyarat yang sudah diketahui oleh khalayak, dan ia dikenal oleh kita dengan hukum adat kebiasaan. Seperti isyarat meminta untuk diam, isyarat yang menunjukkan tidak ada, isyarat untuk meminta dating dan pergi, dan yang lainnya. Akan tetapi berlebihan dalam mengerakkan tangan dapat menggangu siswa, dan sebaliknya menonaktifkan sarana ini akan menghilangkan sebagian sarana yang dapat membantu guru dalam menerangkan sebagian materi yang harus dijelaskan. Kedua tujuan perkara yang berlawanan ini tercela.

5. Menggunakan gambar untuk menjelaskan dan menerangkan

Mendukung penjelasan dengan gambar dan tulisan akan menambah kuat penjelasan. Selain itu menggabungkan antara gambar dan tulisan dengan penjelasan (Metode Ceramah) itu dapat membantu untuk menyampaikan pelajaran dengan mudah dan cepat. Sehingga tulisan dan gambar haruslah jelas, dapat dilihat oleh semua siswa dengan memperhatikan tidak adanya penghalang-penghalang yang bisa menghalangi penglihatan siswa kepadanya.

6. Menggunakan metode tanya jawab pada saat mengajar

Metode pertanyaan adalah metode yang sangat efektif untuk menarik perhatian pendengar dan mempersiapkannya untuk menerima apa yang disampaikan padanya. Adakalanya pertanyaan dilontarkan diawal pelajaran dan bisa juga ditengah-tengahnya, sesuai dengan tuntunan dan kebutuhan. Hendaknya guru melontarkan pertanyaan kepada para siswanya secara umum kemudian memberikan waktu yang cukup untuk menghadirkan jawaban, kemudian baru menentukan siswa yang akan menjawab pertanyaan tersebut. Guru juga tidak boleh menunjuk siswa tertentu sebelum melontarkan pertanyaan, karena itu akan menghilangkan keikutsertaan aktifitas otak siswa-siswa yang lain karena mencukupkan diri dengan teman mereka yang ditunjuk. Dan yang terpenting adalah guru hendaknya menunjuk siswa tertentu sebelum melontarkan pertanyaan berdasarkan kondisi-kondisi tertentu, seperti ketika guru hendak mengetahui kemampuan siswa menjawab dengan cepat, atau mengingatkan siswa dari kelalaian atau tidur dajn semisalnya, akan tetapi jangan sampai guru menjadikan cara ini sebagai kebiasannya.

7. Guru memotivasi siswanya untuk mengajukan pertanyaan

Bagi sebagian besar orang, pepatah “Malu bertanya sesat dijalan” sudah sangat populer di Indonesia. Bertanya akan menghilangkan selimut kehajilan dan meluruskan makna dan pemahaman. Dorongan dan motivasi guru kepada muridnya agar mengajukan pertanyaan itu mengandung banyak faidah, diantaranya :

  • Menilai kondisi siswanya dari segi daya paham
  • Mendorong dan memberanikan siswa yang pemalu untuk mengajukan pertanyaan
  • Siswa yang lain dapat memperoleh manfaat ketika mendegar jawaban
  • Penawaran guru (kepada murid) untuk (Bertanya kepada) dirinya di awal pertemuan, dan peninjauan kembali terhadap cara penyampaian materi pelajarannya, ketika tampak baginya ketidakpahaman siswa sebagaimana yang seharusnya dari sela-sela pertanyaan

Selain itu guru harus pandai menolak pertanyaan-pertanyaan yang bertujuan menampakkan kelemahan guru atau pertanyaan-pertanyaan yang mengolok serta mengecam, dan harus menegur pelakunya.

8. Ucapan guru “saya tidak tahu” pada apa yang tidak diketahuinya, adalah bagian dari ilmu

Ketika Allah bertanya kepada para rasulNya pada hari kiamat,

يَوْمَ يَجْمَعُ اللَّهُ الرُّسُلَ فَيَقُولُ مَاذَا أُجِبْتُمْ قَالُوا لا عِلْمَ لَنَا إِنَّكَ أَنْتَ عَلامُ الْغُيُوبِ (١٠٩

  1. (Ingatlah), pada hari ketika Allah mengumpulkan para rasul[26], lalu Dia bertanya (kepada mereka), “Apa jawaban (kaummu) terhadap (seruan)mu?” Mereka menjawab, “Kami tidak tahu (tentang itu). Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui segala yang gaib”

Saat ini banyak orang yang sombong dengan cara mengatakan apapun baik jujur atau bohong untuk menutupi kebodohannya. Akan tetapi orang yang berbicara tanpa dasar ilmu selamanya tercela di dalam kitab Allah dan melalui lisan RasulNya SAW.

Orang yang berbicara tanpa dasar ilmu adalah merusak, tidak memperbaiki. Tidak tahu bukanlah aib, dan bukan pula cacat bagi guru. Perasaan tidak enak dan malu (takut) dari mengatakan “saya tidak tahu” bukanlah sebab yang bisa diterima untuk terus menyampaikan pengetahuan yang salah kepada murid. Hendaknya guru wajib menanamkan prinsip ini pada jiwa anak didiknya dan menekankannya. Selain itu “ucapan tidak tahu” adalah bagian dari ilmu, bahkan Abu ad-Darda berkata tentangnya bahwa ia adalah setengah dari ilmu.

Fu’ad bin Abdul Aziz asy-Syalhub,  Begini Seharusnya Menjadi Guru (Panduan Lengkap Metodologi Pengajaran Cara Rasulullah SAW) Darul Haq,  Jakarta, 2015

 

Iklan