BAB I

PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG MASALAHBerdasarkan kenyataan yang universal dan alamiah bahwa manusia itu berbeda suatu sama lain dalam berbagai hal, seperti dalam hal intelegensi, bakat, kepribadian, kondisi jasmani dan sebagainya. Oleh karena itu perlu dipikirkan bagaimana menangani penyaluran berbagai perbedaan ini. Pendidikan anak berbakat merupakan bagian integrasi pendidikan pada umumnya, dengan kekhususan memberi kesempatan maksimal bagi anak berbakat untuk berfungsi sesuai dengan potensinya, dengan harapan bahwa pada suatu saat anak juga akan memberi sumbangan yang maksimal bagi  peningkatan kehidupan sesuai dengan aktualisasi potensinya itu. Hal itu sesuai dengan citra masyarakat yang kita anut dengan memperhatikan kaitan fungsional antara individu dengan masyarakat  Menurut definisi yang dikemukakan Renzuli, anak berbakat memiliki pengertian.

Anak berbakat merupakan satu interaksi diantara tiga sifat dasar manusia yang menyatu ikatan terdiri dari kemampuan umum dengan tingkatnya di atas kemampuan rata-rata, komitmen yang tinggi terhadap tugas’tugas dan kreativitas yang tinggi. Anak berbakat ialah anak yang memiliki kecakapan dalam mengembangkan gabungan ketiga sifat ini dan mengaplikasikan dalam setiap tindakan yang bernilai”.

Upaya pemerintah untuk memberikan pelayanan pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa sebenarnya telah dilakukan sejak tahun 1974 dengan pemberian beasiswa bagi siswa Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang berbakat dan berprestasi tinggi tetapi lemah kemampuan ekonomi dan keluarganya. Selanjutnya pada tahun 1982, Balitbang Dikbud membentuk Kelompok Kerja Pengembangan Pendidikan Anak Berbakat (KKPPAB). Tahun 1998 Depdiknas memberikan Surat Keputusan Penetapan Penyelenggaraan Program Percepatan Belajar.

Kelompok Kerja ini mewakili unsur-unsur struktural serta unsur-unsur keahlian seperti Balitbang Dikbud, Ditje Dikdasmen, Ditjen Dikti, Perguruan Tinggi, serta unsur keahlian di bidang sains, matematika, teknologi (elektronika, otomotif, dan pertanian), bahasa dan humaniora, serta psikologi. Kelompok kerja tersebut antara lain bertugas untuk mengembangkan ”Rencana Induk Pengembangan Pendidikan Anak Berbakat”, serta merencanakan, mengembangkan, menyelenggarkan, dan menilai kegiatan-kegiatan yang sesuai dengan rencana induk pengembangan anak berbakat kemudian, pada tahun 1984 Balitbang Dikbud menyelenggarakan perintisan pelayanan pendidikan anak berbakat dari tingkat SD, SMP, dan SMA di satu daerah perkotaan (Jakarta) dan satu daerah pedesaan (Kabupaten Cianjur). Program pelayanan yang diberikan berupa pengayaan (enrichment) dalam bidang sains (Fisika, Kimia, Biologi, dan Ilmu Pengetahuan Bumi dan Antariksa) matematika, teknologi Informatika  dan ajang kompetisinya adalah Olimpiade sains nasional dikelola oleh Universitas Pelita Harapan di bawah bimbingan bapa Johanes Surya bahkan pada saat ini program tersebut menghabiskan biaya yang luar biasa besar namun biaya yang  luar biasa besar tersebut  belum terlihat seimbang antara biaya yang dikeluarkan dengan kontribusinya terhadap Negara karena nampaknya anak berbakat ditujukan hanya untuk meraih piala dalam even kejuaraan dalam ajang bergengsi tingkat Internasional dan Nasional untuk menutupi gengsi Negara kita yang terpuruk dalam rekayasa Sains Teknologi setelah itu anak-anak cerdas lepas keluar negeri dan tidak kembali lagi sehingga kebrilianan dan biaya yang sangat besar untuk pendidikan anak berbakat istimewa belum dapat membangun bangsa ini dalam kemajuan Iptek yang berbudaya Indonesia dan memanfaatkan kekayaan alam milik Indonesia belum tewujud dan juga dikarenakan faktor politik dan kebijakan Negara kita yang tidak menghargai Kekayaan Intelektual secara layak membuat mereka diincar untuk oleh Negara-negara tetangga untuk bersekolah dan diberikan fasilitas yang tidak mereka dapatkan di Negara kita  Indonesia tercinta ini dan yang kemudian dirayu untuk  bekerja  dengan berbagai fasilitas yang sama sekali tidak diberikan oleh Indonesia  dan kemudian   mereka dimanfaatkan oleh negara-negara luar untuk mengelola industri dan mengembangkan Iptek di negara orang Indonesia hanya menjadi produksi  dan kolektor anak berbakat dengan medali olimpiade yang menghabiskan biaya milyaran tanpa dilakukan Evaluasi kebermanfaatannya dan menjadikan kelompok tertentu menguasai sendiri dan tidak melakukan desiminasi kesekolah-sekolah regular dan jika kaita membutuhkan mentoring pun harganya luar biasa dan tidak mungkin terjangkau oleh sekolah negeri level standar  sehingga anak-anak cerdas berbakat yang berada di luar kelompok tersebut tidak tersentuh dan para guru juga tidak tersentuh untuk menangani dan mendapatkan pengetahuan bagi palayanan  anak berbakat cerdas dan istimewa.

Faktor yang tak kalah pentingnya adalah faktor guru dalam proses PBM di ruang-ruang kelas yang memasung kreatifitas anak karena para guru selalu mengajar mereka dengan model pembelajaran sama rata dan berkutat dengan pembelajaran kognitip dan model  evaluasi yang didominasi model tes pilihan ganda membuat anak berbakat istimewa menjadi kehilangan kesempatan untuk berkembang sesuai dengan kecerdasannya dan kadang lebih mengenaskan mereka terpojok karena kritis dan guru tidak siap di keritik atau dipojokan karena persoalannya guru kalah pintar dengan anak cerdas terutama di tingkat SMA  dimana penulis berkiprah berdasarkan pengalaman  beberapa anak menjadi anak pemalas dan tidak suka berada di kelas karena mereka merasa bosan dan menjadi anak drop-out kebijakan pengangkatan guru  (GBS) diangkat menjadi guru tanpa pelatihan dan kompetensi  mereka sangat rendah dan kurang memiliki bahkan tidak memiliki kompetensi bahkan untuk mengajar anak yang standar apalagi untuk  peserta didik yang berbakat cerdas dan istimewa  dan banyak sekali para guru yang diangkat  diantara mereka bukan berasal dari keguruan dan pemerintah tidak memberikan pendidikan lagi mereka langsung mengajar di SMA banyak diantara mereka menjadi persoalan bagi sekolah dan inilah salah satu penyebab carut marut dunia pendidikan. Indonesia dan diantaranya mematikan anak-anak berbakat yang memiliki kecerdasan istimewa yang bersekolah di sekolah regular kehilangan bakat istimewa mereka.

Pola Pelayanan pendidikan untuk anak berbakat istimewa dilakukan di kelas khusus di luar program kelas reguler pada waktu-waktu tertentu atau dikumpulkan dalam satu sekolah di setiap Provinsi yang juga mengeluarkan biaya yang luar biasa besar yang dialokasikan oleh pemerintah daerah perintisan pelayanan pendidikan bagi anak berbakat ini pada tahun 1986 dihentikan tetapi daerah masih terus melanjutkan pada tahun 1994 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan mengembangkan program Sekolah Unggul (Schools of Excellence) di seluruh propinsi sebagai langkah awal kembali untuk menyediakan program pelayanan khusus bagi peserta didik dengan cara mengembangkan aneka bakat dan kreativitas yang dimilikinya. Namun akhirnya, program ini dianggap tidak cukup memberikan dampak positif pada siswa berbakat untuk mengembangkan potensi intelektualnya yang tinggi. Keluhan yang muncul di lapangan secara bersamaan didukung oleh temuan studi terhadap 20 SMA Unggulan di Indonesia yang menunjukkan 21,75 % siswa SMA Unggulan hanya mempunyai kecerdasan umum yang berfungsi pada taraf di bawah rata-rata, sedangkan mereka yang tergolong anak memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa hanya 9,7 % (Reni H., dkk., 1998 – pedoman penyelenggaraan program percepatan belajar  Depdiknas hal 4).

  1. LANDASAN YURIDIS

Kesungguhan pemerintah untuk memberikan pelayanan pendidikan bagi anak yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa secara tegas telah dinyatakan sejak Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) Tahun 1983, dan 2004 yang menyebut kan : “… Demikian pula perhatian khusus perlu diberikan kepada anak -anak yang berbakat istimewa agar mereka dapat mengembangkan kemampuannya secara maksimal”. Tekad ini berlanjut terus dan dipertahankan dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara berikutnya yaitu GBHN Tahun 1988, yang berbunyi: “Anak didik berbakat istimewa perlu mendapat perhatian khusus agar mereka dapat mengembangkan kemampuan sesuai dengan tingkat pertumbuhan pribadinya“; GBHN Tahun 1993 menyatakan “Peserta didik yang memiliki tingkat kecerdasan luar biasa perlu mendapat perhatian khusus agar dapat dipacu perkembangan prestasi dan bakatnya”; dan selanjutnya GBHN Tahun 1998 mengamanatkan bahwa : “Peserta didik yang memiliki tingkat kecerdasan luar biasa mendapat perhatian dan pelajaran lebih khusus agar dapat dipacu perkembangan prestasi dan bakatnya tanpa mengabaikan potensi peserta didik lainnya. ” Demikian pula di dalam Undang–Undang Nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional dalam Pasal 8 ayat (2) menegaskan bahwa:“Warga negara yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa berhak memperoleh perhatian khusus.” Begitu pula dalam Pasal 24 dinyatakan bahwa “setiap peserta didik pada suatu satuan pendidikan mempunyai hak-hak sebagai berikut: (1) mendapat perlakuan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya; (2) mengikuti program pendidikan yang bersangkutan atas dasar pendidikan berkelanjutan, baik untuk mengembangkan kemampuan diri, maupun untuk memperoleh pengakuan tingkat pendidikan tertentu yang telah dibakukan; (6) menyelesaikan program pendidikan lebih awal dari waktu yang telah ditentukan”. Kesungguhan untuk mengembangkan pendidikan bagi anak yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa ditekankan pula oleh Presiden Republik Indonesia ketika menerima anggota Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional (BPPN) tanggal 19 Januari 1991, yang menyatakan bahwa: “ Agar lebih memperhatikan pelayanan pendidikan terhadap anak-anak yang mempunyaikemampuan dan kecerdasan luar biasa.

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional kembali menegaskan bahwa: “Warga Negara yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa berhak memperoleh pendidikan khusus ” (pasal 5 ayat 4). Begitu pula dalam pasal 12 ayat 1 dinyatakan bahwa: “setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak: (b) mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya; (f) menyelesaikan program pendidikan sesuai dengan kecepatan belajar masing-masing dan tidak menyimpang dari ketentuan batas waktu yang ditetapkan”

2. LANDASAN TEORI

1.   Heller (2004) mengembangkan model multifaktor yang merupakan pengembangan dari Triadic Interdependence model Monks serta Multiple Intellegences dari Howard Gardner. Menurut Heller konsep keberbakatan dapat ditinjau berdasarkan empat dimensi multifaktor yang saling terkait satu sama  lain:

  1. Faktor talenta (talent) yang relatif mandiri,
  2. Faktor kinerja (performance)
  3. Faktor kepribadian, dan
  4. Faktor lingkungan;

Dua faktor terakhir menjadi perantara untuk terjadinya transisi dari talenta menjadi kinerja. Faktor bakat (talent) sebagai potensi yang ada di dalam individu dapat meramalkan aktualisasi kinerja (performance) dalam area yang spesifik. Bakat ini mencakup tujuh area yang masing -masing berdiri sendiri, yaitu : kemampuan intelektual, kemampuan kreatif, kompetensi sosial, kecerdasan praktis, kemampuan artistik, musikalitas, dan keterampilan psikomotor. Sementara itu faktor kinerja (performance) meliputi delapan area kinerja, yaitu matematika, ilmu pengetahuan alam, teknologi, komputer, seni (musik, lukis), bahasa, olah raga, serta relasi sosial.

2. The “three-Ring Conception” atau Konsepsi Tiga Cincin menurut Renzulli (1981, 2005) yang menyatakan bahwa tiga ciri pokok yang merupakan kriteria (persyaratan) keberbakatan (giftedness) adalah keterkaitan antara:

  1. Kemampuan umum (kapasitas intelektual) dan/atau kemampuan khusus di atas rata-rata.
  2. Kreativitas di atas rata-rata.
  3. Pengikatan diri terhadap tugas (task commitment) yang cukup tinggi.

 

3. The Triadich dari Renzulli-Monks yang merupakan pengembangan dari Konsepsi Tiga Cincin Keberbakatan dari Renzulli. Model Renzulli-Monks ini disebut model multifactor yang melengkapi Konsepsi Tiga Cincin Keberbakatan dari Renzulli. Dalam model multi faktornya Monks mengatakan bahwa potensi kecerdasan istimewa (giftedness) yang dikemukakan oleh Renzulli tidak akan terwujud jika tidak mendapatkan dukungan yang baik dari sekolah, keluarga, dan lingkungan dimana anak tinggal (Monks dan Ypenburg, 1995).

sekolah                                                                 keluarga

lingkungan

 

 

 

 

multifaktor maka pendidikan anak cerdas istimewa tidak dapat dilepaskan dari peran orangtua dan lingkungan dalam menanggapi gejala-gejala kecerdasan istimewa yang dimiliki, toleran terhadap berbagai karakteristik yang ditampilkannya baik yang positif maupun berbagai gangguan tumbuh kembangnya yang menjadi penghambat baginya, serta dalam mengupayakan layanan pendidikanyang terbaik baginya. Lebih lanjut model pendekatan ini menuntut keterlibatan pihak orangtua dalam pengasuhan di rumah agar berpartisipasi secara penuh dan simultan dengan layanan pendidikan di sekolah.

Berkaitan dengan konsepsi keberbakatan ini, menarik pula model multipleintelligence dari Gardner. Gardner menjelaskan bahwa intelegensi bukan merupakan suatu konstruk unit tunggal namun merupakan konstruk sejumlah kemampuan yang masing-masing dapat berdiri sendiri (Gardner, 1983). Pendapatnya ini seiring dengan upaya dari sejumlah pakar psikologi yang giat meneliti kembali apa yang dimaksud dan bagaimana cara mengukur intelegensi dan mereka berpandangan bahwa intelegensi tidak dapat diukur melalui pengukuran kemampuan skolastik semata. Gardner berpendapat bahwa manusia memiliki 7 dimensi yang semi otonom, bahkan akhir-akhir ini berkembang lagi menjadi 9 dan bahkan 10 jenis intelegensi.

  1. Teori The Psychometric Approach-Munich  Multidimensional of Gifted

Heller, 1991, 2001; Heller & Hany, 1986; Perleth & Heller 1994, mengembangkan teori  yang telah dipelopori  oleh  Renzuli,(1978), Monk (1985), Gardner (1983-1993), Gagne (1985-1993-2000), The Munich Model of Giftedness (MMG) yang saat ini sedang dikembangkan di Eropa untuk memberikan layanan pendidikan bagi anak cerdas berbakat-istimewa yang dikenal dengan “The Munich Model of Giftedness” – model 7 Dimensi yang mempengaruhi faktor-faktor kemampuan independen siswa cerdas berbakat istimewa.  Multidimensional model consists of seven relatively independent ability factor groups (predictors), and various performance domains (criterion variables), as well as personality (e.g., motivational) and social environ-mental factor that serve as moderators for the transition of individual potentials into excellent performances in various domains.

The Munich Model of Giftedness (MMG) as an example of multidimensional, tpological conceptions (according to Heller et al., 1992, 2001).

Teori Synthetic ApproachesPerleth and Ziegler (1997) mengembangkan Model Munich of Giftdness dengan pendekatan sintetik (Snthetic Approaches) pada anak cerdas berbakat-istimewa,  dalam pengembangan model tersebut dilambangkan dengan segitiga ahli pembentukan pengetahuan dan rutinitas dalam perjalanan yang panjang dan intens proses belajar. Extended the original Munich Giftedness Model to the Munich Process Model, The triangle symbolizes the formation of expert knowledge and routines in the course of a long and intense learning process.

BAB II : PEMBAHASAN

2.1. POTENSIBeberapa hasil penelitian menunjukan bahwa anak-anak berbakat memiliki potensi yang unggul. Potensi  ini dapat disebabkan oleh faktor keturunan, seperti
studi yang dilakukan U. Branfenbrenner (1972) dan Scarr Salaptek (1975)
terhadap tingkat kecerdasan. U. Branfenbrenner dan Scarr Salaptek menyatakan
secara tegas bahwa sekarang tidak ada kesangsian mengenai faktor genetika
mempunyai andil yang besar terhadap kemampuan mental seseorang
(Kitano, 1986). Dilihat dari sudut ilmu pendidikan untuk menjelaskan hal tersebut di atas, kita  dapat mengikuti penjelasan dari Jane Healy. Penjelasan itu menyatakan bahwa semua wanita harus menyadari pentingnya nutrisi yang baik demi anak yang dikandungnya. Selain itu janin harus terhindar dari keracunan atau pengaruh sinar x yang datang dari luar (Healy, 1978). Dari sudut proses belajar maka faktor kesadaran seperti yang disarankan oleh Healy adalah satu prestasi belajar yang sebelumnya melibatkan proses kompleks. Faktor intelegensi, motivasi, emosi dan sosialisasi sangat menentukan pencapaian hasil atau prestasi belajar.

Menurut penelitan Terman (1925) pada saat anak berbakat dilahirkan memiliki  berat badan diatas berat badan normal. Dari segifisik pada umumnya mereka juga memiliki keunggulan seperti terlihat dari berat dan tinggi badan, koordinasi, daya tahan tubuh dan kondisi kesehatan pada umumnya (French, 1959). Mereka juga sangat energik (Meyen, 1978) sehingga orang salah mendiagnosa sebagai anak yang hyperactive (Swassing, 1985)

Anak-anak berbakat berkembang lebih cepat atau bahkan sangat cepat bila dibandingkan dengan ukuran perkembangan yang normal. Bila guru menemukan
anak seperti itu maka guru dapat menduga bahwa itu anak-anak yang berbakat.
Hal ini disebabkan anak berbakat memiliki superioritas intelektual (Gearheart,
1980), mampu dengan cepat melakukan analisis (Sunan, 1983), dan dalam irama
perkembangan kemajuan yang mantap (Swassing, 1985). Bahkan dalam berfikir mereka sering meloncat dari urutan berfikir yang normal (Gearheart, 1980).

            CARA MENGHADAPI MASALAH

Cara menghadapi masalah disini adalah keterlibatan seluruh aspek psikologis dan biologis setiap anak berbakat pada saat mereka berhadapan dengan masalah tersebut. Mereka akan memilih metode, pendekatan dan alat yang strategis sehingga diperoleh pemecahan masalah yang efisien dan efektif. Langkah awal
dapat dilihat bahwa setiap anak berbakat mempunyai keinginan yang kuat untuk
mengetahui banyak hal (Gearheart, 1980) kemudian mereka akan melakukan
ekspedisi dan eksplorasi terhadap pengukuran saja. Setelah berfikir dengan baik
maka mereka akan memunculkan hasil pemikiran dalam bentuk tingkah laku.
Tingkah laku yang dimunculkan ialah mengajukan pertanyaan-pertanyaan secara
kritis. Pertanyaan ini ditujukan pada diri sendiri atau orang lain (sebaya atau
orang dewasa). Karakteristik yang dimiliki anak berbakat dalam menghadapi masalah diantaranya:

  • Mereka mampu melihat hubungan permasalahan itu secara komprehensif dan juga mengaplikasikan konsep-konsep yang kompleks dalam situasi yang kongkrit. Mereka akan terpusat pada pencapai tujuan yang ditetapkan (Gearheart, 1980).
  • Mereka suka bekerja secara independent dan membutuhkan kebebasan dalam bergerak dan bertindak.
  • Mereka menyukai cara-cara baru dalam mengerjakan sesuatu dan mempunyai intens untuk berkreasi (Meyen, 1978).

2.2. PRESTASI

Prestasi anak berbakat dapat ditinjau dari segi fisik, psikologis, akademik dan sosial. Prestasi fisik yang dapat dicapai oleh anak-anak berbakat ialah mereka
memiliki daya tahan tubuh yang prima serta koordinasi gerak fisik yang harmonis (French, 1959). Anak berbakat mampu berjalan dan berbicara lebih awal dibandingkan dengan masa berjalan anak-anak normal (Swanson, 1979). Secara psikologis anak berbakat memiliki kemampuan emosi yang unggul dan secara sosial pada umumnya mereka adalah anak-anak yang populer serta lebih mudah diterima (Gearheart, Heward,1980). Berdasarkan prestasi akademik, anak berbakat pada dasarnya memiliki sistem syaraf pusat (otak dan spinal cord) yang prima. Oleh karena itu anak-anak berbakat dapat mencapai tingkat kognitif yang tinggi. Menurut Bloom kognitif tingkat tinggi meliputi berfikir aplikasi, analisis, sintesis, evaluasi dan kognitif tingkat rendah terdiri dari berfikir mengetahui dan komprehensif. Dalam usia yang lebih muda dari anak-anak normal, anak-anak berbakat sudah mampu membaca dan kemampuan ini berkembang terus secara konsisten (Swassing, 1985, French, 1959). Mereka mampu menggunakan perbendaharaan kata yang sudah maju (Ingram, 1983).

KARAKTERISTIK/PRILAKU  SISWA CERDAS-BERBAKAT

  1. Mampu mengaktualisasikan pernyataan secara fisik berdasarkan memahaman  pengetahuan yang sedikit
  2. Dapat mendominasi diskusi
  3. Tidak sabar untuk segera maju ke tingkat berikutnya
  4. Sukaribut
  5. Memilih kegiatan membaca dari pada berparfsipasi aktif dalam kegiatan masyarakat, atau kegiatan fisik
  6. Suka melawan aturan, petunjuk-petunjuk atau prosedur tertentu
  7. Jika memimpin diskusi akan membawa situasi diskusi ke situasi yang harus selalu tuntas.
  8. Frustasi disebabkan tidak jalannya aktivitas sehari-hari
  9. Menjadi bosan karena banyak hal yang diulang-ulang
  10. Menggunakan humor untuk memanipulasi sesuatu
  11. Melawan jadwal yang (hanya) didasarkan atas pertimbangan waktu saja bukan  atas pertimbangan tugas
  12. Mungkin akan kehilangan interns dengan cepat.

PERSONALITY TRAITS OF GIFTED STUDENTS

Gifted students possess some common characteristics. Recognizing these general traits and understanding how they may reveal themselves in the classroom is an important step toward working effectively with this unique group of children.

Some of these behaviors are listed and described below. Positive traits are included along with those behaviors that may frustrate you as a teacher. If a student in your classroom exhibits these characteristics on a consistent basis, there is a good chance he or she is gifted.

The gifted Students

POSITIVE TRAITS

NEGATIVE TRAITS

Asks many questions and is very curious

  • Possesses a large amount of information
  • Has a good memory
Easily gets “off task” and “off topic”

  • Is impatient when not called on in class
Learns new information quickly

  • Retains information easily
  • Masters reading skills earlier
  • Demonstrates strong abilities in math
  • Displays unusual academic achievement
  • Finishes class work quickly
Is easily bored

  • Can become disruptive in class
  • Shows strong resistance to repetitive activities and memorization
  • Completes work quickly but sloppily
 Is interested in many things

  • Becomes involved in a variety of activities
  • Is motivated to try new things
  • Enjoys a challenge
May resist working on activities apart from areas of interest

  • Leaves projects unfinished
  • Takes on too much and becomes overwhelmed
Thinks independently

  • Expresses unique and original opinions
  • Is self-motivated
Challenges authority

  • Does not handle criticism well
  • Does not work well in groups

Recognizing the Characteristics of Gifted Children ERIC Clearinghouse on Handicapped and Gifted Children (1985) cites three types of characteristics of gifted children: general behavioral, learning, and creative characteristics.

2.3. Behavioral Characteristics

  1. Gifted children’s behavior differs from that of their age-mates in the following ways:
  • Many gifted children learn to read early, with better comprehension of the nuances of language. As much as half the gifted and talented population has learned to read before entering school.
  • Gifted children often read widely, quickly, and intensely and have large vocabularies.
  • Gifted children commonly learn basic skills better, more quickly, and with less   practice.
  • They are better able to construct and handle abstractions.
  • They often pick up and interpret nonverbal cues and can draw inferences that other    children need to have spelled out for them.
  • They take less for granted, seeking the “hows” and “whys.”
  • They can work independently at an earlier age and can concentrate for longer periods.
  • Their interests are both wildly eclectic and intensely focused.
  • They often have seemingly boundless energy, which sometimes leads to a misdiagnosis of hyperactivity.
  • They usually respond and relate well to parents, teachers, and other adults. They may prefer the company of older children and adults to that of their peers.
  • They like to learn new things, are willing to examine the unusual, and are highly inquisitive.
  • They tackle tasks and problems in a well-organized, goal-directed, and efficient manner.
  • They exhibit an intrinsic motivation to learn, find out, or explore and are often very persistent. “I’d rather do it myself” is a common attitude.

2.3.  Learning Characteristics 
Gifted children are natural learners who often show many of these haracteristics:

  • They may show keen powers of observation and a sense of the significant; they have an eye for important details.
  • They may read a great deal on their own, preferring books and magazines written for children older than they are.
  • They often take great pleasure in intellectual activity.
  • They have well-developed powers of abstraction, conceptualization, and synthesis.
  • They readily see cause-effect relationships.
  • They often display a questioning attitude and seek information for its own sake as much as for its usefulness.
  • They are often skeptical, critical, and evaluative. They are quick to spot inconsistencies.
  • They often have a large storehouse of information about a variety of topics, which they can recall quickly.
  • They readily grasp underlying principles and can often make valid generalizations about events, people, or objects.
  • They quickly perceive similarities, differences, and anomalies.
  • They often attack complicated material by separating it into components and analyzing it systematically.

3.      Creative Characteristics  Gifted children’s creative abilities often set them apart from their age-mates. These characteristics may take the following forms:

  • Gifted children are fluent thinkers, able to generate possibilities, consequences, or related ideas.
  • They are flexible thinkers, able to use many different alternatives and approaches to problem solving.
  • They are original thinkers, seeking new, unusual, or unconventional associations and combinations among items of information.
  • They can also see relationships among seemingly unrelated objects, ideas, or facts.
  • They are elaborate thinkers, producing new steps, ideas, responses, or other embellishments to a basic idea, situation, or problems.
  • They are willing to entertain complexity and seem to thrive on problem solving.
  • They are good guessers and can readily construct hypotheses or “what if” questions.
  • They often are aware of their own impulsiveness and irrationality, and they show emotional sensitivity.
  • They are extremely curious about objects, ideas, situations, or events.
  • They often display intellectual playfulness and like to fantasize and imagine.
  • They can be less intellectually inhibited than their peers are in expressing opinions and ideas, and they often disagree spiritedly with others’ statements.
  • They are sensitive to beauty and are attracted to aesthetic values.

 

BAB III : CARA MENANGANI ANAK BERBAKAT

3.1. FAKTOR-FAKTOR YANG HARUS DIPERTIMBANGKANKemampuan dasar atau bakat luar biasa yang dimiliki seorang anak memerlukan serangkaian perangsang (stimulasi) yang sistematis, terencana dan terjadwal agar apa yang ada, yang dimiliki menjadi aktual dan berfungsi sebaik-baiknya. Membiarkan seorang anak berkembang sesuai dengan azas kematangan saja akan menyebabkan perkembangan menjadi tidak sempurna dan bakat-bakat luar biasa yang sebetulnya memiliki potensi yang dapat dikembangkan menjadi tidak berfungsi. Peran lingkungan sebagai pemicu rangsang sangat besar dalam ikut menentukan sampai di mana tahapan, terealitas dan hasil akhir dari suatu perkembangan dicapai.

Pendidikan khusus yang direncanakan diberikan kepada anak-anak khusus (anak berbakat luar biasa), jelas mempunyai tujuan mengaktualisasikan seluruh potensi yang dimiliki seorang anak agar bisa mencapai prestasi yang luar biasa, sesuai dengan apa yang diharapkan oleh pendidik, masyarakat dan pemerintah. Dalam usaha mempengaruhi perkembangan anak untuk mengaktualisasikan seluruh potensi yang dimiliki agar berfungsi secara optimal terdapat beberapa faktor yang perlu diperhatikan agar mencapai hasil yang diharapkan, ialah :

  1. Faktor yang ada pada anak itu sendiri, yaitu mengenal anak. Mengenali alam arti mengetahui semua ciri khusus yang ada pada anak secara obyektif. Dalam usaha memberikan pendidikan khusus kepada anak berbakat perlu terlebih dahulu membedakan beberapa pengertian, yakni:
    1. Berbakat luar biasa pada fungsi-fungsi yang berhubungan dengan proses informasi (kognitif) dan karena itu mempengaruhi aspek-aspek lain.
    2. Berbakat luar biasa hanya pada salah satu atau beberapa aspek, bisa mengenai aspek kognitif atau aspek yang berhubungan dengan keterampilan-keterampilan khusus. Sedangkan aspek-aspek lain secara umum tergolong biasa saja.
  2. Faktor kurikulum
    1. Isi dan cara pelaksanaan yang disesuaikan dengan keadaan anak (Childentered) dan dengan sendirinya telah dilakukan identifikasi mengenai keadaan khusus yang pada anak secara obyektif.
    2. Perlu ditekankan bahwa kurikulum pada pendidikan khusus hendaknya tidak terlepas dari kurikulum dasar yang diberikan untuk anak lain, perbedaan hanya terletak pada penekanan dan penambahan sesuatu bidang sesuai dengan kebutuhannya dan tetap terpadu dengan kurikulum dasar.
    3. Kurikulum khusus diarahkan agar perangsangan yang diberikan mempunyai pengaruh untuk menambah atau memperkaya program (enrichment program) dan tidak semata-mata untuk mempercepat (accelerate) berfungsi sesuai bakat luar biasa yang dimiliki.
    4. Isi kurikulum harus mengarah pada perkembangan kemampuan anak yang berorientasi inovatif dan tidak reproduktif serta berorientasi untuk hasil yang maksimal.

    3.2. PELAKSANAAN PENDIDIKAN ANAK BERBAKAT

Percepatan (akselerasi) ada 2 cara melaksanakan percepatan ini yakni:

1. Meloncatkan anak pada kelas-kelas yang lebih tinggi (skipping).

Sesuai dengan keadaannya di mana usia mental (mental age) pada anak berbakat lebih tinggi dari usia sebenarnya (cronological age), maka mudah timbul perasaan tidak puas belajar bersama dengan anak-anak lain seumurnya. Meskipun banyak aspek perkembangan lain pada anak ternyata memang lebih maju dari pada anak-anak seumurnya, misalnya aspek sosial, akan tetapi cara percepatan dengan meloncatkan anak pada kelas-kelas yang yang lebih ‘tinggi dianggap kurang baik, antara lain karena mempermudah timbulnya masalah-masalah penyesuaian, baik disekolah, di rumah maupun di lingkungan sosialnya. Kecuali norma yang dipakai adalah norma dari kelas tinggi, yang belum tentu sesuai seluruhnya bagi anak karena norma yang diikuti bukan norma dari percepatan yang diberikan kepada anak berbakat untuk menyelesaikan bahan pelajaran dalam waktu yang lebih singkat sesuai dengan kemampuannya yang istimewa.Cara seperti ini oleh Samuel A. Klik dan James Gallagher disebut sebagai “telescoping grades”, Sebenarnya cara ini tergolong cara yang baik karena diberikan dan diselesaikan ditentukan oleh keadaan, kebutuhan dan kemampuan anak itu sendiri.

Kesulitannya ialah pengaturan administrasi sekolah yang meliputi pengaturan-pengaturan tenaga pengajaran karena harus memberikan pelajaran secara individual kepada anak. Pada anak sendiri dikhawatirkan oleh para ahli akan timbul kesulitan dalam penyesuaian diri, baik sosial maupun emosional karena terbatasnya hubungan-hubungan sosial dengan teman-teman sebayanya.

2. Pendidikan dalam kelompok khusus (special grouping segregation) Ada beberapa kemungkinan untuk melaksanakan ini, yakni:1)     Model A

Kelas biasa penuh ditambah kelas khusus (mini). Cara ini bisa dilakukan disetiap sekolah karena anak berbakat mengikuti secara penuh acara di sekolah dan setelah itu memperoleh pelajaran tambahan dalam kelas khusus. Waktu belajarnya bertambah dan mata pelajaran dasar atau yang berhubungan dengan kemampuan khusus (misalnya matematika) ditambah kerugian pada anak ialah :

a)      Berkurangnya waktu untuk melakukan kegiatan lain yang diperlukan untuk memperkembangkan aspek kepribadiannya, misalnya pergaulan, olah raga dan kesenian.

b)      Pada waktu anak mengikuti kelas biasa, ia merasa bosan dan pada anak-anak yang masih kecil, kemungkinan mengganggu teman-temannya bertambah.

c)      Di kelas biasa anak tidak terlatih bersaing dan bekerja keras untuk mencapai hasil yang sebaik-baiknya.

2)     Model B

Pada model ini anak mengikuti kelas biasa tetapi tidak seluruhnya (bisa 75%, 60%, 50%) dan ditambah dengan mengikuti kelas khusus. Jumlah jam pelajaran tetap dan hal ini menguntungkan anak sehingga ia masih mempunyai waktu untuk melakukan dalam mengembangkan aspek-aspek kepribadiannya. Keuntungan lain ialah jumlah jam belajar yang cukup lama di kelas khusus (meskipun mungkin kelas mini) masih memperoleh kesempatan bersaing dengan teman-teman yang mempunyai potensi berbeda.

Kerugian pada anak sendiri ialah seperti pada model A yakni ketika berada di kelas bisa tumbuh perasaan bosan dan mungkin mengganggu semua mata pelajaran adalah mudah akibat mudah tumbuhnya perasaan sombong dan terlalu percaya diri.

3)     Model C

Pada model ini semua anak berbakat dimasukan dalam kelas secara penuh. Kurikulum dibuat secara khusus demikian pula guru-gurunya. Keuntungan pada model ini ialah mudah mengatur pelaksanaannya dan pada murid sendiri merasa ada persaingan dengan teman-temannya yang seimbang kemampuannya dan jumlah pelajaran serta kecepatan dalam menyelesaikan suatu mata pelajaran bisa disesuaikan dengan keadaan dan kebutuhan anak. Kerugian akan terjadi pada anak-anak normal yang sebaya, sehinga proses sosialisasi di sekolah menjadi berkurang. Perlakuan istimewa oleh pihak sekolah dan guru-guru mudah menimbulkan perasaan harga diri yang berlebihan (Superiority Complex) Karena dalam kenyataannya ia berada dalam kelas yang eksklusif.

4)     Model D

Pada model ini, merupakan sekolah khusus yang hanya mendidik anak berbakat. Dari sudut administrasi sekolah jelas mudah diatur. Tapi dari sudut anak banyak kerugiannya karena dengan mengikuti pendidikan sekolah khusus, anak terlempar jauh dari lingkungan sosialnya dan menjadi anggota kelompok sosial khusus dan istimewa. Perkembangan aspek kepribadian sangat mengkhawatirkan.


BAB IV

 4.1. KESIMPULAN

Model layanan siswa unggul–cerdas berbkat (gifted students) hingga kini masih menjadi wacana yang sangat menarik, baik bagi pemerintah maupun masyarakat tentang pola layanan pendidikan anak cerdas berbakat. Bahkan menjadi lebih menarik lagi, karena banyak terjadi miskonsepsi terhadap keberbakatan. Layanan pendidikan khusus bagi anak berbakat diperlukan setidaknya atas empat pertimbangan faktor berikut ini :

  1. Adanya bakat yang berbeda, perkembangan fisik, mental, dan sosial yang lebih cepat, juga minat intelektual serta perspektif masa depan yang jauh melampaui rata-rata orang.
  2. Pemenuhan kebutuhan aktualisasi potensi yang dimiliki seoptimal mungkin.
  3. Merupakan aset masyarakat dan bangsa, serta peluang sebagai calon pemimpin
  4. Mencegah kemubadziran potensi dan harapan kontribusi mereka nantinya kepada masyarakat, bangsa, dan negara.

Banyak istilah yang dapat dipakai untuk menyebut anak berbakat, di antaranya: anak unggul, anak berkemampuan istimewa, anak superior, anak genius, anak cerdas istimewa, dan masih banyak sebutan lainnya. Secara konseptual pengertian anak berbakat juga berkembang dari tahun ke tahun. Di antara pendapat yang berkembang menyatakan bahwa anak berbakat adalah anak yang ditunjukkan dengan kemampuan tingkat kecerdasan atau kemampuan umum (g factor) di atas rata-rata.

Talent Factors (Predictors)

  • Intelligence (language, mathematical, technical, abilities, etc.)
  • Creativity (language, mathematical, technical, Artistic, etc.
  • Social competence
  • Musicality
  • Artistic abilities
  • Psycho-motor skills
  • Practical intelligence

4.2. SARAN

  • Sebaiknya layanan  bagi siswa cerdas berbakat  perlu mendapatkan layanan khusus yang dapat dilakukan disetiap sekolah dengan mengunakan model layanan seperti yang telah dikemukakan dalam makalah ini dengan menyesuaikan dengan kondisi sekolah..dan menetukan ukuran kecerdasan dengan melakukan model tes yang benar-benar  valid dan terstandar.
    Untuk mempasilitasi anak-anak unggul cerdas istimewa dapat dilakukan pelayanan dengan, model layanan sebagai berikut :

    1. Meloncatkan anak pada kelas-kelas yang lebih tinggi (skipping).
    2. Pendidikan dalam kelompok khusus (special grouping segregation)
  • Kelas biasa penuh ditambah kelas khusus (mini).
  • anak mengikuti kelas biasa tetapi tidak seluruhnya (bisa 75%, 60%, 50%) dan ditambah dengan mengikuti kelas khusus
  • semua anak berbakat dimasukan dalam kelas secara penuh. Kurikulum dibuat secara khusus demikian pula guru-gurunya
  • sekolah khusus yang hanya mendidik anak berbakat.
  • Pemerintah dalam hal ini Kementrian Pendidikan Nasional dan Pemerintahan menyelenggarakan perintisan pelayanan pendidikan anak berbakat dari tingkat SD, SMP, SMA dan PTN serta memberikan perhatian khusus dengan menyekolahkannya di dalam negri maupun luar negri dengan beasiswa penuhi kewajiban mereka untuk mengabdi pada negara dan setelah mereka menyelesaikan study diberikan lapangan pekerjaan yang sesuai dengan bidangnya dan gaji yang layak  untuk memajukan dan mengolah sumberdaya alam demi kemakmuran bangsa dengan menempatkan mereka di seluruh wilayah Indonesia karena saat ini semua potensi dan sumber daya manusia yang handal terpusat di Jakarta.

 

DAFTAR PUSTAKA

Robert J. Sternberg, Janet E. Davidson, Conceptions of Giftedness, Cambridge University Press, 1986.

Departement Pendidikan Nasional, Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah, Pedoman Penyelenggaraan Program Percepatan Belajar SD, SMP, dan SMA, Tahun 2003.

Balitbang Depdikbud. Hasil Identifikasi Siswa Berbakat di Sembilan SMP/SMA.Jakarta : Balitbang Depdikbud Pusat Pengembangan Kurikulum dan Sarana Pendidikan, 1986.

Balitbang Depdikbud Materi Penataran Lokakarya Pelayanan Pendidikan Untuk Anak Berbakat. Jakarta : Balitbang De pdikbud Pusat Pengembangan Kurikulum dan Sarana Pendidikan, 1986.

Balitbang Depdikbud. Penelitian Alat identifikasi Sederhana Siswa Berbakat. Jakarta : Balitbang Depdikbud Pusat Pengembangan Kurikulum dan Sarana Pendidikan, 1986.

Balitbang Depdikbud. Hasil Lokakarya Persiapan Pelaksanaan Program Pendidikan Untuk Anak Berbakat. Jakarta : Balitbang Depdikbud Pusat Pengembangan Kurikulum dan Sarana Pendidikan, 1986.

Balitbang Depdikbud. Penelitian Alat Identifikasi Sederhana Siswa Berbakat. Jakarta : Balitbang Depdikbud Pusat Pengembangan Kurikulum dan Sarana Pendidikan, 1986.

Clark, Barbara Growing Up Gifted. Colombus Ohio: Charles E. Merril Publishing Company, 1983.

Renzulli, JS., SM Reis, LH Smith. The Revolving Door Identification Model.Connecticut: Creative Learning Press, 1981.