Oleh: Gede Prama

Krisi nilai tukar yang melanda negara-negara Asia telah menghadirkan banyak sekali nuansa. Pengamat barat yang ‘sentimen’ terhadap nilai-nilai Asia, meragukan kalau ada The Asian Way sebagaimana di-claim banyak pihak. Politisi yang telah lama tertindas, mau memancing di air keruh dengan memanfaatkan suasana. Dunia keilmuan, tiba-tiba diguncang oleh diskursus yang mencurigai mulai matinya ilmu ekonomi.

Menyangkut hal terakhir, disamping baru, sekaligus menggedor kemapanan berfikir dunia praktek sekaligus dunia akademis. Ilmu ekonomi, yang teramat lama diyakini sebagai obat mujarab banyak penyakit peradaban. Dari kemiskinan, keterbelakangan, sampai dengan ketertinggalan. Tiba-tiba saja diumumkan telah mati.

Untuk sampai pada kesimpulan benar atau salah terhadap sinyalemen terakhir, tentu saja banyak hal yang mesti dilakukan terlebih dahulu. Pertama, ilmu ekonomi mana yang dinyatakan mati. Kedua, penelitian empiris mana yang menguatkan atau melemahkan kesimpulan ini. Ketiga, atas dasar konstruksi ide bagaimana penelitian empiris terakhir dilakukan. Keempat, bagaimana dengan metodologinya. Dan masih ada lagi rangkaian pertanyaan sejenis yang mesti diajukan sebelum kesimpulan diambil.

Tidak mudah memang. Namun, diantara demikian banyak konstruksi ide yang dikandung oleh ilmu ekonomi, penempatan dirinya sebagai obat dan resep, bagi saya, adalah yang paling meragukan.

Lihat saja, kalau benar rumus-rumus moneter bisa mengobati keadaan, krisis tidak perlu berlanjut. Jika saja harga betul-betul terbentuk pada titik equilibrium antara penawaran dan permintaan – sebagaimana dimodelkan banyak ekonom – kenapa banyak ekonom yang terkaget-kaget oleh nilai tukar. Seumpama benar model-model ekonometri cukup canggih untuk mewakili keadaan, kenapa banyak ekonom yang dibuat pusing oleh keadaan yang memburuk ? Bila betul kapitalisme adalah obat mujarab peradaban – sebagaimana diyakini banyak ekonom – kenapa kita sekarang dibuat terkaget-kaget oleh mahluk ini ? Seumpama benar globalisasi tidak bisa dihindari, kenapa harga yang mesti dibayar demikian mahal. Dan, masih banyak lagi pertanyaan yang masih bisa dilontarkan.

Dalam pandangan saya, yang paling naif dari upaya penempatan ilmu ekonomi dalam posisi resep, adalah asumsi bahwa masyarakat adalah kumpulan manusia yang hanya bisa mengangguk. Obatnya dipegang oleh ekonom, dan masyarakat hanya boleh meminum. Masalah ada di masyarakat, dan ekonom yang membawa obat. Dulu, mungkin banyak orang yang percaya dengan hal ini. Sekarang, di tengah-tengah kemajuan pendidikan dan teknologi informasi, manusia bodoh mana yang mau larut dalam argumen terakhir ?.

Disamping asumsi tentang masyarakat mengangguk, kenaifan kedua dari ilmu ekonomi sebagai resep adalah keyakinan tentang masyarakat terorganisir. Kemajuan ekonomi – demikian sejumlah ekonom yakin – lebih mungkin terjadi dalam masyarakat yang stabil secara politis.

Dalam banyak studi tentang masyarakat terorganisir, tidak sedikit peneliti yang mulai menempatkan masyarakat terorganisir hanya sekadar fatamorgana. Atau mimpi kosong di siang melompong. Lihat saja, runtuhnya komunisme di Eropa Timur, Soviet, Cina dan bagian lain dunia, yang bermimpi bisa mengontrol semua kegiatan bernegara adalah bukti paling meyakinkan dalam hal ini.

Guru saya di Universitas Lancaster Inggris (Scott Lash dan John Urry), pernah melakukan penelitian melalui analisis ruang, kelas dan budaya terhadap kapitalisme terorganisir di lima negara maju (Inggris, AS, Prancis, Jerman Barat dan Swedia). Hasilnya, sebagaimana telah mereka publikasikan melalui buku ‘The End of Organized Capitalism’ (Polity Press 1987), kapitalisme di lima negara tadi semakin tidak terorganisir.

Kendati banyak kaum Weberian dan pengikut Marx yang berkeyakinan bahwa kapitalisme semakin terorganisir, kedua peneliti ini sampai pada kesimpulan yang berbeda.

Bukti-bukti pendukungnya antara lain terlihat jelas dalam dekonsentrasi modal dari negara ke masyarakat, pemisahan jelas antara bank swasta dan pemerintah, antara kegiatan swasta dengan pemerintah, dan redistribusi kekuasaan yang lebih merata.

Digabung secara total, asumsi bahwa pertumbuhan ekonomi mempersyaratkan ‘kestabilan politik’, lebih-lebih kestabilan yang hanya menguntungkan kaum berkuasa, sekarang sudah kelihatan batas-batasnya.

Kenaifan ketiga dari ilmu ekonomi sebagai resep adalah pola hubungan antara ekonom dengan masyarakat. Mirip sekali dengan hubungan dokter dengan klien, ekonom juga menempatkan masyarakat sebagai klien. Dan, setiap jenis persoalan, pasti ada obatnya di benak sang ekonom. Setelah lama ditimpa krisis, adakah obat ekonom yang belum dikeluarkan ? Saya ragu, kalau mereka masih menyimpan obat dan jurus simpanan. Bahkan, diantara mereka sendiri, sebutlah penulis buku the death of economy, mulai menyadari batas-batas ilmu ekonomi.

Belajar dari ketiga kenaifan ilmu ekonomi sebagai resep ini, mungkin sudah saatnya untuk menempatkan ilmu ekonomi pada proporsinya. Bagi saya, tidak ada ilmu yang secara ces pleng bisa menyembuhkan segala penyakit, sebagaimana di-claim iklan obat balsem zaman dulu.

Sebagai seorang social constructionist, saya meyakini, masalah dan jalan keluarnya, penyakit dan obatnya, adalah hasil konstruksi sosial anggota masyarakat secara bersama. Baik ekonom maupun non ekonom, pemerintah maupun masyarakat terlibat di dalamnya. Pemerkosaan dan penjauhan dari persoalan akan terjadi, bila ada yang meng-claim bahwa salah satu anggota masyarakat (sebagai contoh ekonom dan pemerintah) membawa obat, sedangkan yang lain hanya menimbulkan penyakit.

Dalam bingkai konstruksi sosial, semua orang berpotensi membuat masalah dan menemukan jalan keluar. Dan, hal terakhir ini lebih mungkin ketemu jika terjadi aliansi dinamis yang memungkinkan rekonstruksi terjadi. Bukan dengan menempatkan salah satu pihak sebagai pemegang obat, sedangkan yang lain hanya boleh meminum.

Saya tidak tahu, seberapa kuat keyakinan ilmu ekonomi tentang hal terakhir. Namun, bila ada konstruksi ide dalam ilmu ekonomi yang berkeyakinan demikian, saya khawatir inilah kebohongan terbesar ilmu ekonomi.

Iklan