Oleh: Gede Prama

Beberapa kejadian besar di tahun 1997 ini, memberikan indikasi kuat bahwa kita termasuk bangsa yang hidup dari krisis ke krisis. Jatuhnya pesawat Sempati di Bandung, tenggelamnya kapal feri di danau Toba, terbakarnya ribuan hektar hutan, goncangnya nilai tukar rupiah, dan terakhir jatuhnya pesawat Garuda di medan adalah sebagian dari krisis-krisis tersebut.

Jika diamati lebih cermat, sebagian besar dari krisis-krisis tadi sudah pernah terjadi sebelumnya. Kendati dalam skala dan waktu yang berbeda. Oleh karena itu, bila benar pendapat sejumlah orang arif bahwa hanya serigala yang masuk lobang dua kali. Saya termasuk orang yang tidak tega menyebut bangsa ini sebagai bangsa serigala.

Jauh dari niat untuk sekadar mencari siapa yang salah, krisis-krisis tadi sebenarnya sebuah pelajaran berguna untuk segera melakukan reorientasi dalam sejumlah manajemen publik. Dikatakan demikian, karena tidak ada satupun anggota bangsa ini yang menginginkan krisis yang sama terulang kembali. Disamping itu, harga yang telah kita bayar untuk itu sudah terlalu mahal.

Salah satu segi dari manajemen publik yang ingin saya ungkap dalam kolom pendek ini adalah public discourse. Ada banyak pakar, manajer, konsultan, pengusaha, pengamat dan aparat pemerintah yang hanya bersemangat bila diajak berdiskusi tentang persoalan-persoalan ‘besar’. Lihat saja diskusi tentang gejolak nilai tukar rupiah, kebakaran hutan, dan terakhir jatuhnya pesawat Garuda di Medan. Tidak ada media yang absen dari pemberitaan ini. Hampir semua pakar dan pengamat bersemangat dengan topik seksi ini. Banyak manajer dan pengusaha yang getol sekali membicarakannya. Aparat pemerintah tentu saja tidak pernah ketinggalan dalam hal ini.

Bila saya ibaratkan dengan kebakaran, public discourse kita ditandai oleh lebih banyak diskusi tentang kebakaran setelah rumah kita sebagian besar terbakar. Jarang sekali – kalau tidak mau dikatakan tidak ada – ada diskusi dengan tema-tema kecil yang antisipatif.

Dibandingkan dengan diskusi sebab-sebab kebakaran – apa lagi mencari siapa yang salah – setelah rumah terbakar, jauh lebih berguna berdiskusi tentang bagaimana menggunakan kompor yang benar. Bagaima menghindari korsleting listrik. Bagaimana mendidik anak-anak agar sadar akan bahaya kebakaran, dan seterusnya.

Sayangnya, setiap ada upaya melempar tema-tema kecil yang antisipatif – seperti mendidik anak-anak agar sadar akan bahaya kebakaran – tidak sedikit orang yang alergi. Pers menyebutnya tidak memiliki nilai berita. Manajer dan pengusaha menyimpulkan sebagai tidak relevan. Pengamat dan pakar menganggapnya tidak perlu. Pejabat pemerintah merasa terlalu sibuk memikirkan hal-hal ‘kecil’.

Sebagai contoh kebakaran hutan. Bila sudah ada sinyal kemarau panjang, kenapa tidak sejak awal ada diskusi tentang bahaya kebakaran hutan yang menyeramkan ini ? Mengenai gejolak nilai tukar rupiah, bila kita sepakat dengan konsep globalisasi, kenapa tidak satupun pihak yang berani melempar isu nilai tukar sebagai konsekwensinya, jauh-jauh hari sebelum kita tenggelam oleh isu mendebarkan ini ?

Sebagaimana pohon besar, ia selalu mulai dengan sebuah biji benih yang kecil. Demikian juga dengan persoalan yang berakhir dengan krisis. Kebakaran mulai dengan percikan api yang kecil. Challenger meledak mulai dengan tidak berfungsinya spare part kecil yang disebut O-ring. Namun, tetap saja kita memiliki keengganan untuk berdiskusi tentang hal-hal kecil yang antisipatif.

Aspek kedua dari manajemen publik yang mau saya angkat ke permukaan setelah public discourse adalah cara berfikir di baliknya. Sebagaimana kita tahu, cara berfikir di balik banyak keputusan manajemen publik kita terlalu banyak bertumpu pada memori. Pada data dan informasi. Pada pengalaman-pengalaman masa lalu.

Ibarat piringan hitam, kita sudah diformat untuk menyanyikan lagu yang sama secara berulang-ulang. Sementara, persoalan yang muncul jarang sekali yang sama. Sebagai bukti, lihat saja diskusi bolak-balik tentang fundamentalisme ekonomi setelah gejolak nilai tukar rupiah. Atau tuduhan kiri kanan terhadap spekulan sejenis Soros. Sebagai hasilnya, bila sering timbul krisis, saya yakin karena banyak diantara kita yang memperkosa persoalan dengan kerangka-kerangka usang.

Padahal, manajemen sebenarnya berkaitan dengan apa yang perlu dilakukan. Bukan berkaitan dengan apa yang sudah dilakukan. Pengelola publik yang sedikit-sedikit menoleh ke data dan informasi, pengalalaman-pengalaman masa lalu, atau singkatnya pada memori, sebaiknya jadi pengurus museum saja !.

Belajar dari ini semua, mungkin sudah saatnya kita keluar dari segala bentuk kerutinan berfikir, dan mencoba memulai public discourse yang rada berbeda. Karena rutinitas mudah sekali menyebabkan kejenuhan dalam imajinasi, energi dan semangat.

Persoalan-persoalan penting yang membentuk masa depan – setidaknya menurut saya – tidak terdapat pada tema-tema seminar, lokakarya, berita besar media, atau bahan-bahan pidato pejabat. Melainkan tersembunyi di balik hal-hal yang sering kita anggap kecil dan sepele. Bila kita menunggu sampai persoalan dibicarakan secara besar-besaran – sebagaimana kebakaran hutan, gejolak nilai tukar dan kecelakaan pesawat terbang – sebenarnya sudah sangat terlambat. Tanpa ini, saya khawatir kita akan menghabiskan sebagian besar hidup dari krisis ke krisis. Dan kemudian, tegakah kita menyebut diri kita sebagai bangsa serigala ?

 

 

 

Iklan