Oleh: Gede Prama

Saat mata uang Baht pertama kali guncang, banyak pejabat pemerintah, pakar ekonomi, bankir dan pengusaha yang masih yakin akan kuatnya fundamen ekonomi kita. Sekarang, setelah hampir semua pihak dibuat babak belur oleh nilai tukar rupiah, tidak ada lagi yang berani berargumen demikian. Lebih-lebih, setelah sebagian besar sektor yang menjadi hajat hidup orang banyak ikut tersentuh. Sebutlah menggilanya tingkat bunga KPR, sektor properti yang meradang, perbankan yang dagdigdug, bayang-bayang kenaikan harga bahan pokok.

Setelah melihat semua ini, saya khawatir apa yang kita sebut sebagai fundamen ekonomi yang kokoh, jangan-jangan hanya sekadar argumen untuk konsumsi politik tingkat rendah saja. Namun, diberikan legitimasi berlebihan oleh mereka yang menyebut diri pejabat, pakar, politisi atau pengusaha. Setelah sekarang megap-megap semua, tidak sedikit orang yang merasa dirinya dikadalin.

Sebagaimana kejadian yang disertai oleh langkanya transparansi, spekulasipun beredar di sana sini. Dari tidak jalannya regenerasi ekonom pada zamannya Widjojo, banyak proyek tidak feasible namun dipaksakan, terlalu banyaknya vested interest dalam banyak kebijakan publik kita, sampai dengan kecurigaan penggembosan menjelang sidang umum MPR 1998.

Terlepas dari semua spekulasi ini, kita – dan juga sejumlah negara Asia Tenggara – sebenarnya sudah terlalu lama dibuai oleh banyak pujian. Baik oleh IMF, bank dunia maupun sederetan lembaga bereputasi internasional lainnya. Disebut sebagai daerah dengan keajaiban ekonomi, daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi, dan masih banyak lagi pujian sejenis.

Konsekwensinya, tidak sedikit policy maker kita yang dibuat over optimistic oleh pujian-pujian ini. Seperti seorang anak yang sering dipuji, ia mudah sekali menilai kemampuan dirinya jauh di atas realitas yang sebenarnya. Alias berumah di langit.

Ini yang bisa menjelaskan kenapa banyak proyek-proyek besar kita seperti berlari cepat, mau melompat, bila mana perlu terbang meniggalkan bangsa lain. Yang menyedihkan, kita bersedia membayar sangat mahal hanya untuk mempertahan pujian orang. Urbanisasi yang tidak pernah berhenti, petani cengkeh yang berteriak, petani jeruk yang loyo, nilai tukar barang desa dan barang kota yang cenderung semakin tidak seimbang, kebakaran hutan yang tidak tanggung-tanggung akibat dana reboisasi yang disunat, adalah sebagian kecil contoh dari besarnya biaya yang kita bayar untuk mempertahankan pujian tadi.

Belum lagi kalau bukti-bukti ini digabungkan dengan berbagai kontroversi. Seperti penduduk terbanyak di sektor pertanian, tetapi mengimport buah dan barang pertanian lainnya dalam jumlah yang tidak kecil. Pesawat terbang ditukar dengan barang pertanian yang sebenarnya kita bisa hasilkan sendiri. Teknologi pertanian kita yang tertinggal terus dibandingkan negara lain.

Melihat semua ini, ekonomi kita mirip dengan usaha membuat rumah di langit. Hampir semuanya serba mengambang. Tercabut dari akarnya. Petani yang merupakan mayoritas penduduk kita mau ditinggalkan. Sekarang, di tengah-tengah gejolak nilai tukar yang tidak menentu, tiba-tiba orang banyak mesti merogoh kantong untuk membayar bunga KPR yang melangit. Berdebar melihat harga kebutuhan pokok menaik secara pasti. Agaknya, tidak berlebihan kalau hal ini disebut sebagai harga mahal yang harus dibayar untuk mempertahankan pujian orang lain.

Sebagaimana rumah, kita bisa hidup tanpa langit-langit. Tetapi, kita tidak bisa hidup tanpa tanah dan bumi yang kita injak setiap saat. Perekonomian juga – saya kira – sama saja.

Merebaknya akibat yang ditimbulkan oleh krisis nilai tukar rupiah, mungkin merupakan saat yang tepat untuk segera melakukan koreksi. Bila anak-anak yang terlalu banyak ‘bermandi’ pujian, kedewasaannya sering terhambat. Perekonomian juga sama saja. Sebagai kumpulan manusia, kita tentu saja membutuhkan pujian. Akan tetapi, perlu diwaspadai bahwa tidak ada pembunuh kewaspadaan yang lebih sadis dari pujian orang lain.

Kalau mau jujur, early warning system dalam perekonomian kita sudah lama dibuat tidak berfungsi. Bukan oleh ketiadaan ekonom kaliber, tetapi oleh perasaan mabok dipuji orang lain.

Bagi saya, dibandingkan dengan hidup mentereng tetapi pada saat yang sama menginjak hidup banyak saudara, masih jauh lebih arif tampil sederhana namun hidup bahagia bersama saudara yang lain.

Dengan spirit ini, mungkin sudah saatnya melakukan evaluasi ulang terhadap kedewasaan perekonomian kita. Pertama-tama tentu saja mewaspadai pisau pembunuh kewaspadaan yang paling sadis yang bernama pujian. Kemudian, belajar hidup lebih realistis. Jika tanah tempat kita berdiri penuh dengan kebakaran hutan – bahkan sampai mengganggu tetangga – mari kita alokasikan energi untuk tidak mengulangi kekeliruan yang sama. Bila kebanyakan dari saudara kita menggantungkan hidup dari tanah dan pertanian, mari kita bangun kemajuan di atas apa yang kita punya. Jika banyak orang menjerit karena ketiadaan pekerjaan, mari kita upayakan cara biar mereka bisa menjadi manusia lebih bermartabat.

Keengganan untuk memperhatikan hal-hal terakhir ini. Apa lagi secara over optimistic beranggapan bahwa kita bisa melompat tanpa harus bertumpu pada apa yang kita punya, hanya akan membuat kita sebagai kumpulan manusia yang berumah di langit. Sayangnya, ia tidak pernah nyata. Berawal dari mimpi dan berakhir dengan mimpi serupa. Yang lebih menghawatirkan, kita harus membayar mimpi tadi dengan harga yang teramat mahal.

Sebagai salah satu komponen kecil bangsa ini, saya akan senang sekali kalau kita bisa berumah di langit. Akan tetapi, kalau ongkos yang harus dibayar demikian mahal. Lebih-lebih sangat tidak jelas kapan kita bisa berumah di sana. Saya memilih untuk berkesimpulan : ‘langit memang bukan rumah kita’.

 

Iklan