Archive for Juni, 2012

Money games : “Cari untung dengan mudah dan cepat dengan investasi”


Suatu harapan yang sedang trend saat ini lupa kalau semuanya hanya semu. Itu yang terjadi saat ini ketika maraknya penipuan berkedok investasi, bahkan ini menimpa orang pintar yang punya modal dan malas untuk investasi yang untung lama.

Padahal sebenarnya semua orang dituntut bekerja keras dan ini menyangku harta dan secara gamblang dalam al-qur’an sebanyak 25 kali kata Maal (uang) diungkapkan dalam bentuk tunggal dan Anwaal dalam bentuk jamak sebanyak 61 kali (dalam Mu’jam Almufaras oleh Fuad Abdul Faqi) dan harta yang kita cari hal yang baik dan didapatkan dengan cara yang baik pula.

Trend semu dengan kedok investasi kita kenal dengan money game, banyak korban dari mulai orang biasa yang tidak paham bisnis, ataupun para intelektual yang silap mata dengan iming-iming keuntungan yang luar biasa sampai orang yang secara intelektual memahami bisnis.

DEFINISI

Money game adalah kegiatan penghimpunan dana  masyrakat atau penggnadan uang dengan praktik memberikan komisi, margin atau profit dengan besaran tertnetu kepada investor atau hasil dari pendaftaran mitra usaha yang bergabung kemudian dan bukan dari hasil penjualan produk. Produk yang dijual tersebut hanya sebaai kamuflase atau tidak mempunyai mutu/kualitas dan volume yang dapat di[ertanggungjawabkan. Salah satu daya pikat money game adalah janji-janji mendapatkan keuntungan besar dalam waktu singkat dengan usaha yang amat minimal. Investor cukup menanamkan dananya saja kepada pengelola usaha (praktisi money game) dan akan menerima margin rutin secara berkalas ecara tetap, besarannya atraktif dan nyaris tanpa resiko, semacam passive incomes tetapi tidak diperoleh daru suatu usaha bisnis yang benar.

Pada titik tertentu dana akan habis atau tidak cukup untuk member margin yang disepakati, bahkan untuk mengembalikan investasi pokok sekalipun. Hal ini dikarenakan dana tersebut pada dasarnya tidak tumbuh dari perputaran bisnis yang normal, melainkan dari perekrutan anggota atau investor baru. Kemudian dana pokok tersebut digunakan untuk membayar margin investor, membiayai operasional bahkan tentu saja memperkaya pengelola utamanya secara dramatis.

Kalaupun ada perputaran bisnis yang real, volume bisnisnya dan marginnya amat jauh memadai untuk menutupi kewajibannya. Pada saat dana semakin besar terkumpul dan semakin banyak anggota bergabung, namun pada saat yang sama tergerus untuk memenuhi kewajiban margin sekaligus penyimpangan sebagaimana disebut diatas, maka biasanya terjadi krisis likuiditas dan pada puncaknya dana pokok investor macet dan tidak dapat dikembalikan. Kejadian ini berlangusng lama bahakn bertahun-tahun,berjalan dengan manis tanpa ada gejolak. Semakin lama berlangsung, biasanya ledakan kasusnya juga semakin besar dan komplikasi maslah yang ditimbulkan semakin berat.

SEJARAH

Money games sering kali dinamakan modus / skema ponzi yang diambil dari seorang penipu yang bernama Charles Ponzi yang tinggal di Boston, AS yang menawarkan investasi berupa transaksi spekulasi prangko AS terhadap prangko asing di era tahun 1919-1920. Ponzi mendirikan The Security Exchange Company pada tanggal 26 Desember 1919 yang menjanjikan investasi dengan balas jasa 40% dalam 90 hari.

Padahal kala itu bunga bank hanya 5% pertahun. Tidak sampai satu tahun, diperkirakan sekitar 40.000-an orang mempercayakan sekitar US$15 juta atau sekarang senilai US$140 juta dalam perusahaannya. Untung yang dijanjikan ponzi ternyata hasil tambal sulam. Pada pertengahan agustus 1920, audit oleh pemerintah terhadap usaha ponzi menemukan bahwa ponzi sudah bangkrut. Total asset yang dimilikinya sekitar US$1,6 juta, jauh dibawah nilai uangnya kepada investor.

CIRI-CIRI BISNIS

1)    Pola penawaran : peluang investasi

Pada awalnya, penawaran bisnis yang diberikan berupa peluang investasi untuk suatu kegiatan usaha, nyaris sama dengan penawaran bisnis yang normal pada umumnya. Calon investor akan didekati dan ditawarkan keuntungan dari suatu prospek bisnis. Objek bisnis yang ditawarkan biasanya satu jenis, misalnya bisnis sapi. Intan, voucher pulsa, peternakan ayam, dsb. Pola investasinya-pun biasanya menawarkan satu margin yang flat (tetap). System pelaksanaan dan prosedurnya biasanya juga distandardisasikan dan seragam karena dirancang untuk menjaring volume nasabah yang banyak.

2)    Margin : atraktif dan tetap (flat)

Pesona lain dari money games ini adala margin keuntungan yang atraktif, besar dan tetap (flat) serta dianggap nyaris tanpa resiko dan berkeringat. Misalnya dijanjikan margin 10% perbulan dari dana yang ditanamkan atau 120% pertahun. Bandingkan dengan bunga deposito yang hanya 6-8% pertahun, obligasi 10-14% pertahun, saham 12-50% pertahun yang itupun sangat fluktuatif dan besar resikonya. Jadi kalau ada yang menjanjikan keuntungan 120-180%, palagi sampai 800% pertahun, hamper dipastikan money games. Apalagi bersifat flat atau tetap. Selain itu margin tersebut umumnya bersifat flat/tetap. Ada pengelola money games yang terang-terangan menawarkan margin flat persis seprti bunga bank, ada pula yang menawarkan pola bagi hasil namun pada dasarnya sama yaitu member margin yang flat. Ketidak logisan diri ini adalah dari segi : margin yang besar (hamper tidak mungkin member margin yang amat bear mengingat produk yang diperdagngkan umumnya komoditi umum yang memiliki persaingan ketat dan dengan demikian marginnya harus kompetitif. Besaran margin ini belum tentu 10% perbulan, bisa saja lebih kecl dari itu apalagi kalau lebih besar. Margin falt/tetap (hamper tidak mungkin sautu bisnis sellau memiliki keuntungan yang tetap sepanjang waktu, selama bertahun-tahun. Pasti fluktuatf, bahkan sekali merugi. Selain itu, margin flat secara nyata bernuansa transaksi ribawi yang sudah jelas hukumnya.)

3)    Bisnis : size riil kecil, spekulatif dan manipulative

Bisa saja produk bisnis yang akan dikelola dari dana investor tersebut adalah sesuatu yang riil namun dipastikan volume perputaran tersebut tidak seimbang dengan volume dana yang terkumpul atau bahkan hanya sebagai kulit atau kamuflase belaka. Misalnya penawaran investasi terhadap bisnis voucher pulsa. Dana digunakan utuk transaksi real perdagangan pulsa jauh lebih sedikit dibandingkan volume dana keseluruhan yang dapat mengakibatkan moral hazard dan penyimpangan.

4)    Tranparansi : minim.

Umunya ara investor tidak diberi akses untuk mengetahui, mengawasi palagi mengaudit secara mendalam operasinal bisnis tersebut. Ummnya hanya diberi informasi permukaan saja, mislanya fisik beberapa sample dokumen, fisik tempat usaha, inipun hanya bersifat sekadar showcase atau etalase saja yang bagi orang awam dirasa memadai, aplagi bila setoran margin bulanan yang janjkan lancar diberikan, maka sangat mungkin mengurangi kewaspadaan, kehati-hatian dan daya kritis dari investor. Bagi investor yang jeli, ia kaan segera mengetahui kejangglan dengan melihat secara fisik bisnis tersebut dan apalagi bila dilengkapi dengan logika dan bukti-bukti trasaksinya dan segera keluar dan menarik dananya sebelum segalanya menjadi terlambat.

5)    Anggota

Pada dasarnya sumber dana dari uang/investasi para anggota. Karena dana harus tumbuh terus dengan pesat untuk memenuhi kewajiban dan penyimpangan tanpa diiringi perputaran usaha yang memadai, maka jalan satu-satunya adalah meekrut secara terus menerus anggota baru. Maka aktiftas yangs angat menonjol adalah kegitan merekrut anggota baru yang jauh lebih dominan ketimbang membicarakan bisnis realnya itu sendiri. Seringkali biaya bergabung menjadi anggota jauh lebih tinggi dibadning umumnya bergabung kesuatu jaringan MLM yang baik dan wajar. Terkadang dirancang dengan pola MLM secara terttup dimana investor sangat boleh jadi tidak mengerti aliran dananya akan mengalir dan terhenti kemana. Pola ini klai dipilih ileh oknum pengelola money games, selain sebagai teknis pemasara yang murah dan efektif adalah juga untuk mendistribusikan tanggungajawab dan resiko bila dikemudian hari kepada para jejaringnya yang juga bertugas mencari dana.sering kali pola ini sengaja tidak diiringi dengan akd perjanjian yang memadai atau bahan tidak ada sama sekali.

6)    Tenik

Berbagai cover biasa dijalankan oleh para pelaku.  Bisa perorangan tanpa badan hokum (man to man), menggunakan cover PT/perusahaan, pemasaran jaringan (multi level marketing)

7)    Legalitas

Umunya pebgelola bisnis ini tidak memiliki izin yang memenuhi persyaratan UU alias illegal. Dalam hal investasi ada  aturan dari bapepam dan hal kegiatan penghimpuna dana dari masyrakat diatur dalam UU no 10 tahu 1998 tentang perbankan, khsuusnya pasal 46 ayat 1 yang menjelaskan ancaman pidana dan denda bagi siapa yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpana   tanpa ijin usaha dari pimpinan bank indoensia.

  TINJAUAN SYARI’AH

a)    Setiap transaksi yang mengandung unsure ketidaktransparanan atau ketidak jelasan maka termasuk jual beli gharar yang dilarang oleh syara’ berdasarkan hadis ; “ Rsululah SAW melarang jual beli gharar (HR. Muslim). bentuk gharar (ketidakjelasan) yaitu : jahalatul-‘aqidain (setiap bentuk bisnis yang tdiak jelas para phak yang terlibat dalam aqad (al aqidain-antara investor dan pengelola) seperti muncul operator seolah-olah sebagai pengelola atau kolektor, seolah-olah sebagai manajer, hali itu tidak memenuhi syarat wudhuh al aqidain (kejelasan pelaku transaksi yang memiliki hak dan kewajiban), jahalatul-ma’qud ‘alaih (setiap bentuk bisnis yang tidak jelas objek transaksinya (ma’qud alaih) atau objeknya ada tetapi tidak sepadan dengan harga yangdialokasikan yang merupakan dua substitusi (‘iawadhain) termasuk juga aqad yang jelas namanya tetapi tidak jelas karakteristik (muwashofat) turunannya.

b)    Setiap bentuk bisnis yang menawarkan keuntungan yang tidak wajar seperti saah satu substitusinya tidak jelas atau tidak wajar nilai ekonomisnya adalah tidak syar’I termasuk kategori akli amwaalinnaas bil baathil.

c)    Setiap bentuk jual beli yang menawarkan fixed return/ flat/ tetap adalah tidak syar’I sebab bertentangan dengan kaidah syar’iyyah al g ghunmu bil ghurmi

AKIBAT

a)    Harta pribadi terkuras.

b)    Asset ludes dan terjerat hutang yang amat besar

c)    Menyuburkan mentalitas malas berusaha

d)    Mengurangi perputaran sector dan memperburuk ekonomi bangsa

e)    Resiko bagi para pelaku hanya penjara 4-5 tahun dan sita asset yang terdeteksi sementara para korban mengikin harus menderita seumur hidupnya bahkan hingga turunannya.

KESIMPULAN

BISNIS yang bersifat money game adalah haram karena merupakan bisnis spekulatf yang mengnadung unsure ketidak wajaran, penipuan, pendhaliman dan merugikan masyarakat.

Sumber :

Disesuaikan dan disarikan dari Tadzkiroh DPP PKS Bidang Pengembangan Ekonomi Dan Kewirausahaan


Iklan

10 Lokasi Strategis Bazar Ramadhan di Jakarta


Beragam cara ditempuh untuk menggaet konsumen selama bulan ramadhan dan menjelang Hari Raya. Wirausahawan jeli memanfaatkan peluang promosi dengan biaya minim.

Seperti memanfaatkan bazar ramadhan yang banyak digelar perusahaan hingga pengelola gedung perkantoran. Bahkan di beberapa kantor pemerintah seperti departemen perindustrian, departemen luar negeri,  departemen agama dan jamsostek rutin menyelenggarakan event ini.

Biarpun disebut bazar event ini bukannya tidak bayar, menggunakan lokasi perkantoran event bazar biasanya dikelola oleh event organizer melalui pendaftaran satu stan dijual beragam mulai dari 500 ribu hingga 2 juta rupiah. Harga yang dikenakan sesuai dengan lokasi pameran, semakin strategis stan semakin mahal harga yang dikenakan. Bazar biasa berlangsung 2 hingga 3 hari.

Bagi wirausahawan, bazar ini cukup menarik karena cukup efektif menghasilkan penjualan dan relatif rendah biaya yang harus dikeluarkan hanya dengan 500 ribu hingga 5 juta bisa menghasilkan omset jutaan hingga belasan juta.

Untuk di Jakarta beberapa lokasi yang sering menyelenggarakan bazar adalah :

1. Plaza Bapindo

Terletak di jalan Sudirman, diantara beberapa perkantoran besar yang memiliki ribuan karyawan. Diantaranya Citybank, SCBD, BEJ, Widjojo Center, Abda. Lokasi ini sangat strategis dan mampu mendatangkan omset puluhan juta.

2. Jamsostek

Terletak di Jalan Gatot Subroto dan berada di dekat beberapa perkantoran dan perumahan widya candra. Perkantoran seperti LIPI, Wisma Mulia, Dirjen Pajak. Potensi daya beli yang tinggi cukup prospektif bagi omset anda selama menggikuti bazar.

3. Deperin

Sebagai motor bagi berkembangnya industri kreatif, departemen perindustrian secara konsisten sering menyelenggarakan pameran produk ataupun bazar  di area kantor. Berlokasi di jalan gatot subroto yang sangat strategis berdekatan dengan gedung Adhi Graha, Departemen Transmigrasi dan Bulog.  Lokasi inipun mampu mendatangkan omset puluhan juta bagi wirausahawan.

4. Departemen Agama

Lokasi gedung Departemen agama yang berdekatan dengan departemen keuangan, dan beberapa perkantoran lain cukup strategis untuk memasarkan produk. Daya beli yang cukup tinggi juga menjadi pertimbangan Anda untuk mengikuti bazar di lokasi ini.

5. Departemen Luar Negeri

Pameran Departemen luar negeri kadangkala mengambil lokasi di wisma Deplu berdekatan dengan Senayan city. Lokasi ini tidak terlalu menonjol meskipun berada di tempat yang cukup strategis di kawasan Senaya.

6. Depkominfo

Berlokasi di jalan medan merdeka utara bersebelahan dengan gedung mahkamah konstitusi dan Departemen Transpotasi.

7. Departemen Keuangaan

Berlokasi di lapangan banteng, bukan sekedar lokasi yang strategis namun daya beli dari PNS di Departemen Keuangan jika menjadi point strategis untuk mengikuti bazar atau pameran disana.

8. Gedung Bidakara

Gedung Bidakara lokasi berkantornya beberapa perusahaan besar salah satunya Medco. Berdekatan dengan Gedung Mustika Ratu menjadi point strategis bagi bazar dan pameran. Mengambil tempat di Lobby yang cukup strategis tempat lalu lalang para karyawan.

9. Gedung Patra jasa

Gedung yang terletak di jalan Gatot Subroto ini terdapat kantor BP Migas dan berseberangan dengan Menara Mulia. Memiliki prospek daya beli yang bagus.

10. Gedung Pertamina

Bazar dilokasi ini memiliki prospek yang bagus, namun biasanya mengenakan charge yang relatif lebih mahal dari lokasi-lokasi lain. Karyawan Pertamina memiliki potensi daya beli yang tinggi, jadi meskipun hanya berada di lokasi Pertamina namun Bazar disini memiliki potensi penjualan yang cukup tinggi.

Bazar biasanya diselenggarakan oleh perusahaan event organizer, bahkan beberapa bazar pada lokasi yang berbeda biasanya diselenggarakan oleh event organizer yang sama. Anda dapat mengumpulkan informasi jadwal bazar sekaligus biaya yang dikenakan pada satu perusahaan event organizer. Mintalah diskon bila anda mengikuti bazar pada event organiser yang sama.

Mengikuti Bazar memudahkan anda menjangkau konsumen dengan biaya relatif murah. Anda tidak diharuskan memiliki syarat-syarat legal wirausaha. Cukup dengan informasi atau keterangan jenis produk yang anda jual dan informasi kontak anda. Jangan lupa membuat kartu nama anda untuk membuat potensi bisnis berikutnya dengan konsumen anda selama mengikuti Bazar.

Banyak wirausaha yang sukses dengan mengikuti Bazar di beberapa lokasi bahkan menjadikan bazar/pameran satu-satunya cara berjualan mampu mendatangkan omset yang tidak sedikit.

DAFTAR WEBSITE DENGAN HARTA KARUN MELMPAH


Internet merupakan gudang bagi ilmu pengetahuan. Sebagai media global, internet menyediakan banyak sekali sumber-sumber pengetahuan maupun file-file media yang bisa kita gunakan secara gratis.

Berikut beberapa situs yang menyimpan banyak “harta karun” melimpah yang menarik menurut versi saya tentunya :

1. Gary L. Gray’s Homepage. Koleksi video berformat Quicktime mengenai iklan komersial Apple, kumpulan keynote Steve Jobs, dan beberapa video menarik lainnya.

2. Billsportsmaps. Situs yang berisi file-file gambar mengenai informasi turnamen olahraga (Sepakbola, NFL, MLB, NBA) yang disajikan berbentuk infografis dengan peta.

3. GUIdebook: Graphical User Interface gallery. Merupakan situs yang berisi arsip tampilan screenshot dari seluruh GUI dan elemen-elemennya (Icon, Splash Screen, Window) yang pernah dibuat. Sangat lengkap dan tersusun dengan rapi, dan merupakan referensi yang sangat komprehensif mengenai sejarah GUI sebagai antar-muka penggunaan komputer mulai dari zaman Xerox Star, Apple Lisa, Macintosh, sampai era Windows XP/Vista.

4. Pakdenono.com. Situs yang berisi ebook Islam gratis, ceramah da’wah dan kristologi dalam format mp3, dan juga konten lainnya.

5. Mifka weblog. Salah satu blog favorit saya untuk men-download wayang golek mp3, Cepot, artikel Islam, cerpen, kumpulan humor bahasa Sunda, sawer panganten, ebook, dan banyak banget konten yang menurut saya sangat jarang ditemukan di website lainnya.

6. Link Matematika. Berisi modul pembelajaran matematika, ebook, dan materi lainnya seputar matematika.

 

SUMBER : http://kangpriyanto.wordpress.com/category/komputer-internet/

Loyalitas Bankir


Oleh: Gede Prama

Kejadian tragis dalam bentuk dilikuidasinya enam belas bank swasta, telah membawa banyak sekali implikasi. Dari digugatnya transparansi pemerintah, menurun drastisnya kepercayaan masyarakat terhadap dunia perbankan, dipertanyakannya nasib karyawan yang terkena likuidasi, sampai dengan kecurigaan jangan-jangan akan ada likuidasi tahap kedua.

Bagi saya, kejadian ini menimbulkan pertanyaan sederhana, kepada siapa sebenarnya loyalitas para bankir diperuntukkan ? Kepada pemerintah, pemegang saham, konsumen, diri mereka sendiri atau karyawan ?

Terus terang, tidak mudah untuk menjawabnya. Hanya saja, rontoknya keenambelas bank swasta tadi memberi beberapa indikasi menarik.

Pertama, rupanya banyak bank yang lebih takut pada pemerintah dibandingkan takut pada supremasi pasar. Buktinya, dengan memasang ‘satpam’ di atas dalam bentuk menempatkan mantan pejabat tinggi sebagai komisaris, kemudian mereka berani melanggar aturan-aturan pemerintah. Padahal, pemerintah sendiri sedang tidak berdaya menghadapi supremasi pasar.

Kedua, kalau benar sinyalemen Bambang Trihatmojo bahwa sembilan puluh persen bank melanggar kaidah tiga L, tampak jelas bahwa banyak spekulan yang berbaju bankir di negeri ini. Bila spekulan lebih banyak bermain dengan uang sendiri – kalaupun memakai uang orang lain biasanya sepengetahuan sang empu – maka bankir-bankir ini seenak perutnya saja mempermainkan uang orang.

Ketiga, setelah lebih dari sembilan tahun pakto diluncurkan. Tampaknya, upaya pemerintah membuat dunia perbankan yang kokoh dan mandiri, masih jauh panggang dari api. Sebaliknya, malah diisi oleh tidak sedikit pemain ‘cengeng’ yang setiap kali bertemu kesulitan, lantas menangis ke pemerintah minta perlindungan.

Keempat, dari segi jumlah tenaga kerja yang dibajak dari industri lain. Perbankan bisa dikategorikan sebagai industri yang paling rakus melakukan pembajakan. Nyaris tidak ada industri yang luput dari pembajakan industri perbankan. Yang mengecewakan, kendati membajak tenaga kerja paling banyak, ia malah menyimpan tangis profesionalisme yang paling menyedihkan. Lihat saja PHK masal yang terjadi akibat likuidasi, dan kinerja perbankan kita yang demikian menyedihkan.

Dirangkum menjadi satu, keempat indikasi ini bukannya mempermudah pertanyaan sederhana saya di awal tulisan ini. Bahkan, menjadi semakin tidak jelas kemana loyalitas bankir berjalan.

Dilihat dari cara pemerintah melakukan pembinaan di dunia perbankan, loyalitas bankir diukur lebih banyak dari segi seberapa sering bankir menganggukkan kepala terhadap imbauan pemerintah. Siapa yang mengangguk, ia yang loyal, dan kemudian aman. Siapa yang menggelengkan kepala, apa lagi membangkang, maka tahu sendirilah kemudian nasibnya.

Akan tetapi, kalau kita mau berfikir sedikit lebih dalam, sebenarnya ada satu persoalan mendasar yang tersembunyi di balik pengertian loyalitas terakhir.

Bila di balik anggukan kepala banyak bankir, tersembunyi prestasi bankir yang membanggakan, ini loyalitas yang kita inginkan.

Akan tetapi, jika dibalik badan yang membungkuk tadi, tersembunyi persoalan dan bahkan petaka yang mengejutkan, layak sekali kalau kita bertanya, kemana loyalitas para bankir sedang dibawa ?.

Ibarat pendayung perahu, mereka serius dan patuh sekali mendayung. Akan tetapi, mereka tidak bertanya apakah perahu sedang bergerak ke tempat yang diinginkan atau malah sebaliknya. Kesadaran baru timbul setelah mereka semua mau mati masuk jurang.

Tidak banyak berbeda dengan sekumpulan pendayung perahu yang patuh tadi, bankir kita juga sedang bergerak ke tempat yang sama. Lihat saja, mereka bekerja keras, berani membayar mahal untuk ‘menjinakkan’ pemerintah, melakukan pembajakan kemana-mana. Namun, dengan kejadian likuidasi ini, adakah yang pernah bertanya kalau mereka sedang pergi ke tempat yang tepat ?

Kalau Anda setuju dengan pengandaian saya tentang sekumpulan pendayung tadi, inilah persisnya yang saya sebut sebagai the disloyalty of loyal bankers.

Mereka loyal, tetapi kepada hal-hal yang keliru. Lihat saja, mereka memilih membungkukkan badan berlebihan pada otoritas moneter, dibandingkan dengan melakukan pembenahan substansial pada sektor kepercayaan masyarakat. Mereka mengalokasikan dana jauh lebih besar untuk menyembunyikan isu, ketimbang melakukan perbaikan mendasar yang memungkinkan hal yang sama tidak terulang kembali.

Dalam keadaan demikian, adakah kontribusi jangka panjang yang bisa diharapkan dari mereka untuk penyehatan ekonomi ? Terlalu dini untuk bisa menjawab pertanyaan semendasar ini melalui artikel pendek ini

Mengacu pada hasil penelitian yang pernah dilakukan US News and World Report – sebagaimana dikutip Wilson and Wilson dalam buku berpengaruh mereka yang berjudul Stop Selling Start Partnering – sebab utama (69 %) konsumen menghentikan hubungan bisnis dengan perusahaan atau bank karena mereka diperlakukan buruk oleh karyawannya. Sebagai konsultan manajemen dan pengamat, saya yakin angka ini juga ada gunanya untuk direnungkan buat dunia bisnis kita.

Akan tetapi, di tengah kenyataan seperti ini, kita mesti rela menelan pil pahit bahwa karyawan – yang menjadi sebab utama larinya pelanggan – sering didudukkan dalam urutan prioritas ke sekian dalam bisnis. Biaya pendidikan dan pengembangan mereka, hanya diberi angka basa basi lima persen. Dalam keadaan demikian, salahkah saya kalau bertanya ke mana loyalitas bankir sedang dibawa ?

 

Babu Edan


Oleh: Gede Prama

Dalam sejarah perbankan kita, mungkin tidak akan ada lagi merger bank dengan nilai sebesar merger Bank Mandiri. Baik dari segi jumlah manusia yang dimerger, jumlah masalah kredit yang ditinggalkan, maupun aktiva yang digabungkan, semuanya menunjukkan jumlah yang besar. Kalau benar logika sapu lidi yang terlalu sederhana, di mana semakin banyak unsur yang bergabung akan membuat sapu semakin kuat, betapa dahsyatnya kekuatan bank hasil gabungan ini.

Sayangnya, sebagaimana dituturkan oleh sejarah merger banyak perusahaan, merger tidak sesederhana logika sapu lidi yang naif. Semakin banyak manusia yang berkumpul, bisa semakin kuat, bisa juga semakin hancur. Semakin banyaknya harta yang digabungkan, bisa membuat produktivitas aktiva semakin baik, atau malah menimbulkan godaan korupsi yang menghancurkan. Semakin banyak persoalan yang dikeluarkan dari organisasi, bisa membuat beban organisasi lebih ringan, bisa juga membuatnya lumpuh tidak bisa bergerak. Demikian juga dengan kehadiran hero leader. Ia bisa memperbaiki keadaan, bisa juga menjadi sumber demotivasi yang meruntuhkan.

Dilihat dalam perspektif terakhir, masa depan Bank Mandiri, tentu saja masih tanda tanya. Justru di situ indahnya kehidupan. Jika sudah tahu apa yang akan terjadi, tentu saja tidak enak bangun di pagi hari.

Titik berangkat merger yang dilakukan Bank Mandiri sebenarnya sudah tepat. Dari dikeluarkannya beban kredit bermasalah, dipilihnya pemimpin ‘diktator’ yang akan menyetrika bagian-bagian lecek dari organisasi, komitmen pemilik yang amat tinggi, sampai dengan persiapan dari sisi teknologi informasi.

Benar kata seorang penulis, bahwa permulaan yang tepat adalah sebagian dari keberhasilan, namun membiarkan merger Bank Mandiri berjalan alami tanpa rekayasa ekstra, agaknya akan mengembalikan merger ke titik semula. Bahkan, bisa lebih buruk.

Pengalaman saya menjadi konsultan merger sejumlah perusahaan, memberi saya sejumlah titik krusial dalam merger. Titik krusial pertama adalah kampungan tidaknya pemilik. Titik krusial kedua, habisnya sebagian energi untuk menunjukkan bahwa punya kami lebih baik dari punya mereka. Titik krusial ketiga, lama dan rumitnya proses membangun trust sebagai lem perekat organisasi.

Kita mulai dengan titik kritis pertama sekaligus yang paling utama. Sudah menjadi kenyataan yang sulit dibantah, bahwa pemilik adalah kekuatan yang maha dahsyat dalam kehidupan bank. Betapa jelas dan hebatpun konsultan bekerja, namun bila ada satu saja pemilik yang tidak rela dengan perubahan, maka rumitlah cerita.

Bagi Bank Mandiri, titik krusial pertama ini menjadi lebih rumit, karena pemilik terpecah dalam beberapa kekuatan. Dari departemen keuangan, BPPN, BI, kantor menneg BUMN sampai dengan pemilik-pemilik tidak kelihatan lainnya.

Munculnya ke permukaan skandal piutang Bank Bali yang menghebohkan beberapa waktu lalu, adalah salah satu indikasi yang amat kuat, bahwa Bank Mandiri sedang berhadapan dengan sepasukan pemilik yang tidak mudah diatur. Demikian hebatnya skandal terakhir, sampai-sampai dikaitkan dengan perebutan kursi orang nomer satu di republik ini.

Bayangkan, hero leader mana yang berdaya untuk menghadapi kekuasaan korup yang sudah demikian menggurita ? Peraturan mana yang tidak bisa ditemukan celahnya oleh pengusaha ?. Pegawai profesional mana yang tahan dengan todongan pistol ke kepala anak ?.

Titik krusial kedua berkaitan dengan mentalitas kami-mereka. Sudah menjadi cerita klasik hampir setiap merger, kalau organisasi pasca merger dipecah-pecah kedalam kelompok identitas lama. Lebih-lebih bila tercipta banyak manusia tertindas, atau dipimpin oleh manusia super diktator.

Lingkaran-lingkaran manusia terpecah dan saling menarik, terutama di awal merger, sulit dihindari. Kecurigaan mudah sekali timbul. Bahkan oleh persoalan sepele sekalipun. Faktor kepemimpinan memang amat menentukan.

Titik krusial terakhir, dan di sini tampaknya Bank Mandiri memiliki modal yang amat besar adalah kepercayaan. Pemerintah sebagai lembaga jaminan, kepemimpinan yang baru, titik berangkat yang sudah tepat, adalah serangkaian faktor yang membuat kepercayaan mudah diraih. Setidak-tidaknya kepercayaan dari luar seperti nasabah, kreditur dan debitur, lebih mudah diraih. Lain halnya dengan kepercayaan dari dalam. Interaksi antara pemilik yang rumit, dengan tarik menarik kepentingan di dalam yang menyengsarakan, membuat kepercayaan di dalam tidak cepat tercipta.

Saya tidak tahu bagaimana prediksi Anda tentang pemerintahan ke depan, namun memperhatikan permainan di Komisi Pemilihan Umum, mencermati skandal Tanjung Jati B dan Bank Bali, dan masih kokohnya gurita rezim lama, membuat saya pesimis. Apa lagi memperhatikan warisan orde bau (meminjam istilah usil Hartojo Wignjowijoto) yang masih tersisa di mana-mana.

Saya doakan Bank Mandiri agar berhasil. Namun ciri-ciri pemilik seperti di atas, bukan tidak mungkin membuat bank terakhir menjadi Babu Edan (bank bumi daya, eksport import dan dagang negara). Cirinya dua, terpecah-pecah kembali seperti sedia kala, bahkan bisa lebih buruk. Dan, menjadi babu bau bagi pemiliknya yang belum menunjukkan sinyal-sinyal perubahan.

 

 

 

Bali : Bagian Atas Licin


Oleh: Gede Prama

Dalam urusan gangguan rambut, saya sering diledek sudah sampai di tingkat satu : agus (agak gundul sedikit). Di tingkat dua, nama berganti menjadi robert (rontok berat). Berikutnya, bermetamorfose menjadi umar bakri (untung masih ada rambut belakang kanan dan kiri). Kemudian sebutannya wagub (wah gundul banget). Selanjutnya menjadi gunawan (gundul namun menawan). Dan yang paling parah, diberi nama bali (bagian atas licin).

Mencermati skandal drama panjang Bank Bali, yang disertai banyak plintat-plintut, maju-mundur, sana-sini, bohong membohongi, sehingga demikian menjengkelkan, saya teringat lagi dengan penyakit rambut yang paling parah tadi : bagian atas licin.

Bagaimana tidak licin, mereka yang berada di pucuk piramida skandal, tidak hanya lihai, licik dan tidak tahu malu. Namun juga demikian lincahnya, sampai-sampai menteri sekretaris kabinet, yang nota bene secara formal berada amat dekat dengan pusat kekuasaan, dan dijabat bukan oleh orang bodoh, didikte harus membacakan surat pernyataan, yang kemudian di depan DPR disangkal oleh Rudi Ramli.

Ibarat menempuh perjalanan, aktor-aktor skandal bank Bali telah memilih jalan yang amat licin. Sebagaimana nasehat orang tua, bila bermain air basah. Bermain api terbakar. Ada saatnya mereka yang menempuh jalan licin pasti akan terpeleset.

Lebih-lebih berjalan licin dilakukan oleh manusia-manusia yang dibuat gelap oleh nafsu, keinginan dan keserakahan kekuasaan. Lihat saja pada catatan sejarah. Tidak ada satupun penguasa licin dan licik yang tidak berakhir di jurang kekuasaan yang mengenaskan. Marcos, Pinochet, Mugabe adalah sebagian kecil dari manusia yang mengambil jalur licin dan licik, dan berakhir menyedihkan.

Sayangnya, sejarah hanya menjadi pelajaran yang amat berguna setelah tragedi terjadi pada diri kita sendiri. Ini juga yang menyebabkan, kenapa setiap era selalu memproduksi pemain-pemain kekuasaan yang licin dan licik.

Mungkin saja saya sejenis manusia yang amat naif. Akan tetapi, berspekulasi hidup di jalan licin, adalah satu hal yang tidak pernah saya coba. Oleh karena itulah, saya menaruh sangat sedikit respek pada manusia-manusia licin ala pemain skandal bank Bali. Lebih-lebih, kalau mereka menyandang predikat sebagai pemimpin. Disamping membohongi diri sendiri, ia juga meracuni masyarakat.

Coba perhatikan secara lebih cermat, bagaimana orang-orang biasa yang berjalan di jalan yang amat licin. Hidup akan senantiasa dibayangi ketegangan dan katakutan terpeleset. Situasi damai, tentu saja jauh dari jangkauan orang-orang terakhir. Ini tentu saja normal, wajar dan biasa. Yang tidak normal dan kurang ajar, bila ada orang yang berjalan di jalur amat licin, tetapi tenang, tegar, tidak pernah dihantui ketakutan, dan bahkan berani mengancam orang lain.

Piramid bagian atas dari skandal bank Bali, dihuni oleh manusia-manusia jenis terakhir. Orang-orang seperti ini, kala berada di kursi pemimpin, memang akan mendemokratisasikan banyak hal. Dan yang paling menonjol, meminjam argumennya Syahrir, mendemokratisasikan korupsi. Wajah korupsi, sebagaimana kita alami sekarang-sekarang ini, memang hingar bingar. Kalau di zaman orde baru, korupsi dilakukan secara tersembunyi, tidak ada yang berani malu mengembalikan uang jarahan. Di zaman reformasi ini, uang jarahan dikembalikan di depan umum, oknum yang sudah jelas-jelas tidak mengenal malu akan korupsi, justru berdiri pongah dengan bintang maha puteranya.

Inilah zaman yang amat licin. Demikian licinnya, sampai-sampai publik terpeleset dengan banyak sekali kebingungan. Hari ini Rudy Ramli mengumumkan catatan harian, beberapa minggu kemudian dibantah dengan surat bermeterai yang diumumkan mensesneg. Tak lama kemudian, di depan anggota DPR yang terhormat, surat bantahan terakhir tidak diakui oleh Rudy Ramli sendiri.

Hebohnya, segala bentuk kelicinan tadi semuanya dilakukan oleh piramida atas kekuasaan negeri ini. Persis seperti akronim bali (bagian atas licin), negeri ini bagian atasnya diisi sebagian oleh manusia-manusia berlidah dan bermulut licin.

Namun, dengan kepala sedikit jernih perlu dicermati, nasib kita sebagai bangsa tidak ditentukan oleh orang-orang yang kita lengserkan, namun didikte oleh manusia yang kita biarkan bertahan di atas.

Belajar dari sini, dibandingkan teramat sibuk melengserkan orang pasca Suharto, akan jauh lebih berguna dan produktif memikirkan manusia yang akan kita angkat.

Saya menghargai sekali rekan-rekan yang berjuang keras menuntaskan skandal bank Bali. Apa lagi rekan lain yang punya misi membersihkan negeri ini dari korupsi. Namun jangan pernah lupa, nasib kita lebih banyak ditentukan oleh orang-orang yang tidak kita lengserkan dari atas.

Bila agenda diskursus publik kita dihabiskan hanya untuk melengserkan orang, jangan-jangan kita akan berputar di lingkaran sejarah yang sama. Melengserkan orang, melengserkan orang dan terus menerus melengserkan orang. Betapa licinnya sejarah bangsa ini. Sama licinnya dengan skandal bank Bali.

 

 

 

Berumah Di Langit


Oleh: Gede Prama

Saat mata uang Baht pertama kali guncang, banyak pejabat pemerintah, pakar ekonomi, bankir dan pengusaha yang masih yakin akan kuatnya fundamen ekonomi kita. Sekarang, setelah hampir semua pihak dibuat babak belur oleh nilai tukar rupiah, tidak ada lagi yang berani berargumen demikian. Lebih-lebih, setelah sebagian besar sektor yang menjadi hajat hidup orang banyak ikut tersentuh. Sebutlah menggilanya tingkat bunga KPR, sektor properti yang meradang, perbankan yang dagdigdug, bayang-bayang kenaikan harga bahan pokok.

Setelah melihat semua ini, saya khawatir apa yang kita sebut sebagai fundamen ekonomi yang kokoh, jangan-jangan hanya sekadar argumen untuk konsumsi politik tingkat rendah saja. Namun, diberikan legitimasi berlebihan oleh mereka yang menyebut diri pejabat, pakar, politisi atau pengusaha. Setelah sekarang megap-megap semua, tidak sedikit orang yang merasa dirinya dikadalin.

Sebagaimana kejadian yang disertai oleh langkanya transparansi, spekulasipun beredar di sana sini. Dari tidak jalannya regenerasi ekonom pada zamannya Widjojo, banyak proyek tidak feasible namun dipaksakan, terlalu banyaknya vested interest dalam banyak kebijakan publik kita, sampai dengan kecurigaan penggembosan menjelang sidang umum MPR 1998.

Terlepas dari semua spekulasi ini, kita – dan juga sejumlah negara Asia Tenggara – sebenarnya sudah terlalu lama dibuai oleh banyak pujian. Baik oleh IMF, bank dunia maupun sederetan lembaga bereputasi internasional lainnya. Disebut sebagai daerah dengan keajaiban ekonomi, daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi, dan masih banyak lagi pujian sejenis.

Konsekwensinya, tidak sedikit policy maker kita yang dibuat over optimistic oleh pujian-pujian ini. Seperti seorang anak yang sering dipuji, ia mudah sekali menilai kemampuan dirinya jauh di atas realitas yang sebenarnya. Alias berumah di langit.

Ini yang bisa menjelaskan kenapa banyak proyek-proyek besar kita seperti berlari cepat, mau melompat, bila mana perlu terbang meniggalkan bangsa lain. Yang menyedihkan, kita bersedia membayar sangat mahal hanya untuk mempertahan pujian orang. Urbanisasi yang tidak pernah berhenti, petani cengkeh yang berteriak, petani jeruk yang loyo, nilai tukar barang desa dan barang kota yang cenderung semakin tidak seimbang, kebakaran hutan yang tidak tanggung-tanggung akibat dana reboisasi yang disunat, adalah sebagian kecil contoh dari besarnya biaya yang kita bayar untuk mempertahankan pujian tadi.

Belum lagi kalau bukti-bukti ini digabungkan dengan berbagai kontroversi. Seperti penduduk terbanyak di sektor pertanian, tetapi mengimport buah dan barang pertanian lainnya dalam jumlah yang tidak kecil. Pesawat terbang ditukar dengan barang pertanian yang sebenarnya kita bisa hasilkan sendiri. Teknologi pertanian kita yang tertinggal terus dibandingkan negara lain.

Melihat semua ini, ekonomi kita mirip dengan usaha membuat rumah di langit. Hampir semuanya serba mengambang. Tercabut dari akarnya. Petani yang merupakan mayoritas penduduk kita mau ditinggalkan. Sekarang, di tengah-tengah gejolak nilai tukar yang tidak menentu, tiba-tiba orang banyak mesti merogoh kantong untuk membayar bunga KPR yang melangit. Berdebar melihat harga kebutuhan pokok menaik secara pasti. Agaknya, tidak berlebihan kalau hal ini disebut sebagai harga mahal yang harus dibayar untuk mempertahankan pujian orang lain.

Sebagaimana rumah, kita bisa hidup tanpa langit-langit. Tetapi, kita tidak bisa hidup tanpa tanah dan bumi yang kita injak setiap saat. Perekonomian juga – saya kira – sama saja.

Merebaknya akibat yang ditimbulkan oleh krisis nilai tukar rupiah, mungkin merupakan saat yang tepat untuk segera melakukan koreksi. Bila anak-anak yang terlalu banyak ‘bermandi’ pujian, kedewasaannya sering terhambat. Perekonomian juga sama saja. Sebagai kumpulan manusia, kita tentu saja membutuhkan pujian. Akan tetapi, perlu diwaspadai bahwa tidak ada pembunuh kewaspadaan yang lebih sadis dari pujian orang lain.

Kalau mau jujur, early warning system dalam perekonomian kita sudah lama dibuat tidak berfungsi. Bukan oleh ketiadaan ekonom kaliber, tetapi oleh perasaan mabok dipuji orang lain.

Bagi saya, dibandingkan dengan hidup mentereng tetapi pada saat yang sama menginjak hidup banyak saudara, masih jauh lebih arif tampil sederhana namun hidup bahagia bersama saudara yang lain.

Dengan spirit ini, mungkin sudah saatnya melakukan evaluasi ulang terhadap kedewasaan perekonomian kita. Pertama-tama tentu saja mewaspadai pisau pembunuh kewaspadaan yang paling sadis yang bernama pujian. Kemudian, belajar hidup lebih realistis. Jika tanah tempat kita berdiri penuh dengan kebakaran hutan – bahkan sampai mengganggu tetangga – mari kita alokasikan energi untuk tidak mengulangi kekeliruan yang sama. Bila kebanyakan dari saudara kita menggantungkan hidup dari tanah dan pertanian, mari kita bangun kemajuan di atas apa yang kita punya. Jika banyak orang menjerit karena ketiadaan pekerjaan, mari kita upayakan cara biar mereka bisa menjadi manusia lebih bermartabat.

Keengganan untuk memperhatikan hal-hal terakhir ini. Apa lagi secara over optimistic beranggapan bahwa kita bisa melompat tanpa harus bertumpu pada apa yang kita punya, hanya akan membuat kita sebagai kumpulan manusia yang berumah di langit. Sayangnya, ia tidak pernah nyata. Berawal dari mimpi dan berakhir dengan mimpi serupa. Yang lebih menghawatirkan, kita harus membayar mimpi tadi dengan harga yang teramat mahal.

Sebagai salah satu komponen kecil bangsa ini, saya akan senang sekali kalau kita bisa berumah di langit. Akan tetapi, kalau ongkos yang harus dibayar demikian mahal. Lebih-lebih sangat tidak jelas kapan kita bisa berumah di sana. Saya memilih untuk berkesimpulan : ‘langit memang bukan rumah kita’.

 

%d blogger menyukai ini: