JAKARTA – Kendati dokter asing dilarang berpraktik di sini, tapi hal itu tak menghalangi para sinse dari China berkiprah di negeri ini. Nyatanya, keberadaan klinik tradisional asal “Negeri Leluhur” makin menjamur saja. Bagaimana kiatnya?

Tren pengobatan China di negeri ini cenderung makin marak. Selain populasi kliniknya terus meningkat, kita juga mulai akrab dengan sejumlah brand nan khas, seperti Tong Ren Tang, Chang Yen Chen, JiSheng Cancer Centre, Fu Shaw Tang, dan Matahari Traditional Chinese Medical Center. Semua itu, adalah nama-nama kondang rumah pengobatan tradisional asal “Negeri Leluhur” yang mulai meramaikan pasar di sini.

Menariknya pula, kalangan peminatnya makin meluas. Selain masyarakat Tionghoa, juga banyak kalangan eksekutif (non-keturunan) yang mulai meminati kehadiran mereka. Lihat saja sebarannya. Dulu, toko-toko obat China dan rumah sinse hanya ada di kawasan peChinan. Tapi kini, juga mulai jamak terlihat di kawasan bisnis modern. Di Jakarta misalnya, selain di kawasan Kota, klinik China juga bisa ditemui di Kelapa Gading, Kuningan, dan Menteng.

Klinik-klinik di kawasan elite itu, bisa dipastikan, menyasar segmen dari kalangan atas berduit. Terobosan tergolong berani. Maklum, berada di sana, juga berarti harus menghadapi kekuatan rumah sakit modern yang sudah lebih dulu mengakar dengan pasar di sini. Belum lagi harus bertempur dengan sesama klinik China lainnya.

Oleh sebab itu, sebagai pendatang baru, seyogianya mereka harus memiliki strategi tersendiri agar bisa diterima pasar. Di antaranya, gencar beriklan di berbagai media massa. Selain itu, kiat yang tengah dikembangkan oleh JiSheng Cancer Centre of Traditional Chinese Medicine Indonesia, patut disimak. Agar tak serta-merta tergusur oleh kekuatan rumah sakit modern, klinik yang bercokol di pusat bisnis Kelapa Gading, Jakarta Utara, ini memosisikan dirinya sebagai rumah pengobatan alternatif.

Upayanya itu, tampaknya berhasil. Sejak mulai beroperasi empat tahun lalu, menurut Hermanto Wijaya, Presiden Direktur JiSheng Cancer Centre, pihaknya memang banyak menangani pasien yang putus asa karena mengidap kanker dan tumor kritis. Uniknya, “Mereka datang ke klinik kami karena dirujuk oleh tim dokter yang pernah menanganinya,” kata Hermanto. Kendati hanya sebagai “rumah” rujukan, setidaknya mereka bisa membuktikan bahwa metodenya tergolong manjur.

Sebenarnya pula, bila menilik “isi perutnya”, semisal klinik tradisional sekaliber JiSheng, ternyata tak kuno-kuno amat. Lihat saja peralatan pengobatan yang ada di sana, bahkan tak kalah modern ketimbang peralatan medis yang dimiliki rumah sakit swasta paling mutakhir. Selain laboratorium dengan peralatan nan lengkap, klinik ini juga dilengkapi sejumlah peranti lain berteknologi canggih. Mulai dari unit USG, CT Scan, Sinar X, electronic chemistry therapy, hingga alat terapi yang memanfaatkan gelombang mikro dan sinar gamma.

Modalnya Relatif Tak Mahal
Untuk semua itu, menurut Hermanto, modalnya minimal Rp300 juta. Relatif tak mahal, lantaran sebagian besar peralatan diimpor dari China. Keuntungan lainnya, berkat bantuan berbagai teknologi itu, memungkinkan klinik ini seminimal mungkin melakukan tindakan pembedahan (operasi), metode yang sebenarnya paling didambakan banyak pasien.

Untuk menjalankan semua peralatan canggih itu, sudah barang tentu perlu dukungan tenaga ahli yang memadai. Tentunya pula, tim medik yang sudah teruji kepiawaiannya. “Di setiap klinik JiSheng, setidaknya ada tiga-empat dokter ahli pengobatan China, yang lazim disebut sinse,” ujar Hermanto. Kebanyakan dari mereka memang tergolong sinse berpengalaman yang didatangkan langsung dari China. Agar pengobatannya optimal, “Setiap sinse dibatasi menangani paling banyak 15 pasien per hari,” imbuhnya.

Membatasi kunjungan pasien bukan berarti menekan pendapatan. Sebagai penyeimbang, pengelola JiSheng menyiasatinya lewat kebijakan tarif. Nyatanya, ongkos berobat di klinik ini cukup tinggi, yakni hanya untuk sekali berkonsultasi atau terapi setiap pasiennya akan dikenakan minimal Rp500 ribu. Harga obat yang ditawarkannya pun terbilang mahal, sebutirnya ada yang dibanderol Rp50 ribu.

Dengan begitu, klinik ini tak membuka peluang bagi kalangan tak mampu? Tidak juga. Buat mereka, pengelola JiSheng memberlakukan kebijakan tersendiri, di antaranya tarif khusus yang bisa dijangkau.
Berkat berbagai kiat yang dijalankannya, bisa dibilang, perjalanan JiSheng di ranah Nusantara tergolong sukses. Malah mampu berkembang. Awalnya hanya di Surabaya, kini bertambah hingga 13 cabang yang berserak di sejumlah kota besar, antara lain, Makassar, Jakarta, Medan, Banten, Surakarta, Pontianak, dan Semarang. Pada Agustus nanti, rencananya klinik ke-15 yang di Bandung mulai dioperasikan.

Sebenarnya pula, memulai usaha klinik tradisional China di negeri ini, tidak semudah dibayangkan banyak kalangan. Kendala utamanya bermuara pada regulasinya. Salah satunya menyangkut izin bagi dokter asing, sampai saat ini pemerintah masih melarang mereka membuka praktik di sini. Kalaupun ada sejumlah dokter asing yang membuka praktik di sini, menurut Fachmi Idris, Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI), jelas itu ilegal. Karena itu, “Sudah seharusnya pemerintah menindak mereka dengan tegas,” katanya.

Lalu, bagaimana pula halnya dengan para sinse dari China–notabene juga bisa digolongkan sebagai ahli medik alias dokter? Untuk menyiasati masalah ini, para pengelola JiSheng punya cara unik. Kiatnya, di antaranya, dengan menggandeng mitra dokter ahli dari Indonesia. Seperti klinik yang di Kelapa Gading, sebenarnya izin praktiknya atas nama dr Bertha Herlina, MD, tak lain pemilik Klinik ProVitalitas. Akan halnya para sinse yang ada di sana, sesungguhnya bukan dokter, melainkan konsultan kesehatan.

Strategi yang agak berbeda diterapkan oleh Tong Ren Tang. Untuk memudahkan penetrasi pasarnya, klinik pengobatan China yang berdomisili di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, ini cenderung lebih mengandalkan nama besar brand-nya. Menurut Zhu Yu, Business Development Manager Tong Ren Tang, metode pengobatan yang berhasil dikembangkan di klinik ini sudah dikenal sejak ratusan tahun lalu. Di negara asalnya, Tong Ren Tang yang telah berdiri sejak 1669, kesohor sebagai rumah obat kepercayaan Kaisar Yongzheng (Dinasti Qing). Sampai saat ini, Tong Ren Tang telah merebak di 20 negara, di antaranya di Indonesia (sejak Juni 2004).

Metode pengobatannya, sebenarnya, tak ubahnya dengan model ala Barat. Setiap pasiennya akan didiagnosis terlebih dahulu. Setelah itu, terapi baru dilakukan, di antaranya dengan cara akupunktur atau tuina (pijat untuk pengobatan) serta pengobatan berdasarkan resep.
Kalangan peminatnya tergolong beragam, alias tak hanya dari warga keturunan. Mereka, kata Zhu, umumnya para pengidap stroke, infertility (mandul), kista, tumor, gangguan pada ginjal, dan diabetes. Dalam sehari, klinik ini melayani rata-rata 30 pasien. Bila mereka berminat, lantaran tarif berobatnya cukup bersaing. Untuk sekali datang, setiap pasiennya dikenakan biaya sekitar Rp360 ribu. (Trust//rhs)

Sumber : www.okezone.com