Oleh: Rhenald Kasali

Dalam era Cyber sekarang ini dimana media massa bergairah untuk masuk kedalam new economy dalam bentuk masuk keportal. Tetapi malah sebuah portal news terjun ke bidang old economy dengan menerbitkan Koran Cepat Detikcom. Terbit sejak pertengahan maret lalu Koran Cepat Detikcom meramaikan dunia percetakan bersama koran Tempo yang terbit 2 April 2001.

Terjunnya detik.com ke bisnis media harian ini dilatar belakangi oleh permintaan dari para netter detik.com online. Karena tidak semua dari mereka sempat membuka laptop atau komputer mereka di kantor atau ditempat kerja. Mereka ingin sesuatu yang dapat dibawa kemana-mana dan bisa dibaca dimana saja. Dan tanpa disadari ongkos untuk masuk ke internet lebih mahal dibanding membaca Koran yang harganya dibawah seribu ruiah. Sudah bisa membaca semua berita yang ada di detik.com online. Karena infra struktur telekomunikasi kita belum menunjang. Satu jam paling tidak lima ribu rupiah dan waktu downloadnya lama. Kemudian untuk orang yang gatek atau gagap teknologi tidak mengerti apa itu internet dan sampai sekarang diajarin pun tidak mau. Padahal mereka ingin tahu berita-berita yang paling baru. Begitu cepatnya Koran Detikcom ini terbit tanpa aba-aba terlebih dahulu bukannya tanpa alasan. Mereka melihat permintaan detik.com print out yang makin kuat dan juga ingin memanfaatkan momentum situasi politik. Karena media massa bisa besar kalau momentumnya pas. Seperti Kontan yang berkembang karena dia terbit ketika krismon dan bisa membongkar kasus-kasus yang menarik contohnya kasus Busang.

Koran Cepat Detikcom ini terbit dua kali sehari (edisi siang dan edisi sore). Dari penampilannya di hari-hari pertama terlihat jelas bahwa pengelola KCD menginginkan agar medianya benar-benar menjadi Koran yang menyajikan berita dalam ukuran jam. Berita dari jam dua pagi sampai jam sepuluh langsung terbaca siang hari jam 12 siang. Sedangkan berita sore dapat dibaca pada jam empat sore. Distribusinya dipusatkan pada para agen pengecer dan food court-food court yang dituju ketika makan siang. Untuk menghindari macet dan agar distribusi Koran tepat waktu Koran Cepat Detikcom mengantar menggunakan armada bermotor. Armada ini dilengkapi dengan terpal plastik yang melindungi Koran dan pengendara dari hujan. Memang masalah distribusi ini merupakan masalah utama pada Koran Detikcom. Kalau telat sedikit tidak dibawa pengecer. Sehingga pertimbangan mencetak diluar kota yaitu di Cibubur perlu dipertimbangkan kembali. Pencetakannya sendiri dengan system online.

Sebetulnya Koran Cepat Detikcom ingin terbit tiga kali dengan memasuki pasar koran pagi. Tetapi pasar koran pagi itu banyak sekali lawannya dan ada raksasa-raksasa media didalmnya. Dari segi cost Koran Detikcom lebih unggul karena content tinggal diambil dari detik.com online dan tak perlu rekrut wartawan baru. Jadi secara teknis tidak ada kesulitan masuk pagi dan materi jauh lebih banyak ketimbang sore dan siang. Tetapi dicoba dulu dua kali sehari baru kemudian dilihat perkembangannya.

Dari tingkat penjualan kalau para pengecer membawa 10-20 eksempelar diatas 50% lakunya. Cetakan pertama 50 ribu eksempelar ditargetkan sampai akhir tahun mencapai 80 ribu eksemplar. Koran ini merupakan Koran 30 menit. Selesai dibaca kira-kira selama 30 menit semua berita telah selesai dibaca. Karena para pembaca memiliki waktu yang sempit. Dengan membaca headline dan berita yang tersaji secara bersifat hard news. Didukung dengan desain yang simple dan uma 2 lembar kertas Koran sehigga gampang dibaca, gampang dibuang dan gampang dibeli. Isi Koran Cepat Detikcom mengambil dari detik.com online dengan sedikit editing.

PT. Koran Detikcom berbeda kepemilikan dengan Detik.com Online. Pemilik PT. Koran Cepat Detikcom adalah PT. AgraKom dan beberapa orang dari kalangan finansial. Dimana skema kerja samanya adalah joint venture dengan bagi hasil keuntungan yuang didapat. Modal awal yang dialokasikan untuk Koran Cepat Detikcom adalah 2 milyar rupiah. Dari segi modal Koran detikcom berhemat 1/20 dibandingkan dengan perusahaan media lainnya. Juga dari segi penghematan Koran Detikcom ini dapat berhemat 1/25.Karena content tinggal diambil dari detik.com online dan tidak perlu rekrut wartawan baru lagi. Kertasnya Cuma 2 lembar jadi ongkos kertasnya sedikit sekali dibandingkan Koran-koran kita yang tebel banget nih. Dengan hitung-hitungan kasar Koran ini seharusnya umurnya lebih panjang dari Koran-koran biasa. Tetapi dengan syarat pertumbuhan penjualan meningkat 5% setiap bulan.Bila tiras yang terjual mencapai 30 ribu eksemplar maka usaha dapat berjalan terus.

Bila Koran Detikcom ini sukses maka peluang ini tampaknya akan dengan mudah di tiru oleh portal news yang lain.

 

 

 

 

Iklan