Dalam beberapa kesempatan acara halal bihalal saya amati banyak undangan yang hadir mengadakan diskusi kecil-kecilan seputar pailitnya Lehman Brothers, salah satu bank investasi Amerika yang sudah berusia ratusan tahun.

Rupanya isu pailit susulan oleh sederet raksasa finansial Amerika lainnya adalah salah satu topik yang paling hangat dibicarakan saat ini. Tidak heran para undangan mendiskusikan hal yang kurang lebih sama mengenai arah pasar ke depan dan apa yang harus mereka lakukan terkait investasi mereka di sektor finansial saat ini.

Jika kita tarik kebelakang, kebanyakan investor sudah menikmati kenaikan harga saham setelah masa krisis 1997-1998. Saat krisis, IHSG melorot dari 740 ke 300-400-an. Tapi, memasuki 2007, indeks naik sekitar tujuh kali lipat. Ini bisa membuat para pelaku investasi menjadi sangat percaya diri (super confidence). Namun agaknya keyakinan ini mulai goyah sebab sampai saat ini indeks kembali terkoreksi dan terjerembab ke level 1.600-an.

Dalam teori investasi kita mengenal behavior of finance, dan salah satu perilaku yang biasa kita temui adalah sikap investor yang over-reaction ketika harga naik tajam, begitu pula saat harga turun drastis.

Buat mereka yang belum lama berinvestasi di sektor finansial, koreksi indeks sungguh meresahkan. Sebab total nilai investasi yang makin terpangkas dari sejak awal tahun 2008. Seorang ibu rumah tangga yang rajin berinvestasi beberapa kali meng-sms saya menanyakan hal; mengapa NAB reksa dana saham turun? Haruskah setoran investasi kami hentikan dulu? Apakah lebih baik sebagian portfolio investasi kami jual saja?

Hati-hati jangan sampai Anda terkena krisis kepercayaan diri yang mengakibatkan panic selling. Padahal para pakar justru meyakini bahwa penurunan IHSG merupakan sinyal beli dan saat yang tepat untuk masuk pasar.

Apalagi panic selling biasanya ibarat department store yang menggelar obralan sehingga menjadikan harga barang murah meriah. Ada banyak saham dengan valuasi sangat murah, padahal mempunyai fundamental yang sangat kokoh.

Itu terjadi karena banyak investor amatir yang terlalu takut dan panik. Umumnya saham-saham bervaluasi murah namun punya fundamental bagus itu akan mencapai titik pembalikan.

Yang penting saat ini jangan panik, tapi tetap harus waspada. Untuk mengantisipasi kemungkinan harga turun lagi dalam jangka pendek, investor bisa mengoleksi saham secara bertahap, jangan sekaligus.

4 R

Selain mengatasi krisis percaya diri tadi, secara teknis dari waktu ke waktu portofolio investasi kita harus dimonitor. Sebab alokasi aset dalam portofolio cenderung berubah-ubah, termasuk profil trade-off return dan risiko – sejalan dengan fluktuasi harga.

Untuk menghadapi perubahan komposisi susunan aset atau portofolio maka reoptimasi investasi perlu dilakukan. Reoptimasi sendiri terdiri dari empat kegiatan yang nyaris kelihatannya hampir sama, namun sesungguhnya berbeda :

Reevaluating adalah tindakan menguji dengan cara mengamati, mempelajari, memahami, mengidentifikasi perubahan yang belakangan atau saat ini terjadi dalam kehidupan pribadi Anda yang berpengaruh langsung terhadap portofolio investasi. Banyak hal yang terjadi sejak Anda mendesain dan membangun portfolio Anda. Hal ini bisa menimbulkan dampak bagi pencapaian tujuan-tujuan keuangan dan profil risiko Anda. Mungkin Anda sudah pindah kerja, menikah, bercerai, memiliki lebih banyak anak, atau mengalami musibah yang menimbulkan kerugian finansial. Pada saat itulah Anda harus melihat kembali gambaran kondisi hidup Anda dan keseluruhan rencana keuangan serta portofolio dan melakukan penyesuaian jika perlu.

Rebalancing adalah tindakan menjual dan membeli produk investasi dalam portofolio investasi dengan tujuan untuk mengembalikan komposisi aset dalam portofolio saat ini kepada komposisi aset portofolio optimal yang ditetapkan sebelumnya. Rebalancing melibatkan tindakan menjual sejumlah kelas aset tertentu yang porsinya kelebihan dan melakukan pembelian pada sejumlah kelas aset tertentu yang porsinya kurang. Tujuannya adalah untuk memaksimalkan return dan risiko suatu portfolio. Beberapa pakar investasi menyarankan untuk melakukan rebalancing setahun sekali daripada melalukannya berulang kali tiap kali terjadi pergerakan, atau bahkan tidak pernah sama sekali kecuali terjadi pergerakan.

Relocating adalah tindakan mempertukarkan suatu aset dengan aset lainnya pada kelas aset yang sama sehingga tidak mengubah komposisi susunan aset atau tidak juga mengubah profil return dan risiko. Relocating bisa saja melibatkan pertukaran suatu jenis obligasi yang satu dengan obligasi yang lain untuk memperoleh tingkat kupon bunga yang lebih tinggi atau yang lebih rendah yang dilakukan berdasarkan perubahan kebutuhan investor terhadap imbal hasil investasi berupa pendapatan tetap.

Reallocating adalah tindakan penyesuaian jumlah yang Anda kontribusikan dan bagaimana kontribusi itu akan dilakukan terhadap suatu jenis kelas aset tertentu dalam portfolio Anda. Dalam konteks ini reallocating juga tidak mengubah komposisi susunan aset, hanya bagaimana kontribusi tersebut ingin diterima atau akan dilaksanakan suatu saat nanti.

Biaya reoptimasi

Ada dua jenis biaya yang harus kita pertimbangkan sebelum melakukan reoptimasi investasi, yaitu saat kita akan melakukan rebalancing, relocating dan reallocating.

Hal ini disebabkan terjadinya perubahan komposisi aset karena tindakan menjual, membeli dan menukar aset yang satu dengan yang lain.

Yang pertama adalah biaya transaksi, yaitu selisih harga jual belinya (bid-ask spread) dan komisi transaksi yang dikenakan. Melakukan switching (pengalihan) dari suatu jenis reksa dana ke reksa dana yang lain pada manajer investasi yang sama umumnya juga dikenakan biaya.

Yang kedua adalah pajak transaksi yang dikenakan terhadap potensi capital gain (keuntungan) dari penjualan surat-surat berharga.

 

 

Iklan