TEKAD kalangan perguruan tinggi di negeri ini masuk dalam jajaran kampus bertaraf dunia (word class university), tampaknya, tidak main-main. Kendati masih dinilai terlalu dini, indikasi ke arah sana sudah mulai tampak. Salah satunya, berdasarkan pemeringkatan 500 Worlds Top Universities versi The Times Higher Education SupplementQS World University Rankings yang dilansir tahun lalu, paling tidak, sudah ada empat perguruan tinggi nasional (Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Universitas Gajah Mada, dan Universitas Airlangga) yang dinilai patut masuk dalam daftar tersebut.

Maklum saja, di kalangan perguruan tinggi dunia, pemeringkatan tersebut—tak lain merupakan hasil penilaian 3.000 pakar pendidikan dari seluruh dunia—dipandang cukup bergengsi. Lebih dari itu, pemeringkatan ini bisa dijadikan ukuran menilai kualitas pendidikan yang diselenggarakan perguruan tinggi. Contohnya saja Institut Teknologi Bandung (ITB), dalam daftar The Times Higher Education Supplement- QS World University Rankings 2006 menduduki ranking ke-258. Menurut Djoko Santoso, Rektor ITB, ranking yang didapat institut ini pada tahun itu mengalami peningkatan. Pada tahun sebelumnya, peringkat ITB berada di urutan 420.

Selain kualitas pendidikan, uniknya, pemeringkatan juga dinilai berdasarkan banyaknya mahasiswa asing yang belajar di perguruan tinggi tersebut. Seperti di ITB, dalam beberapa tahun belakangan, minat mahasiswa asing swadaya yang kuliah di institut ini semakin banyak. ”Kini sudah lebih dari 100 orang,” kata Djoko. Mereka kebanyakan mengambil studi di bidang teknik mesin, penerbangan, farmasi, dan planologi.

Dengan kata lain, pemeringkatan tersebut bisa dijadikan media promosi bagi perguruan tinggi yang dimaksud untuk lebih banyak lagi menarik minat mahasiswa asing. Peluangnya ke arah sana memang masih terbuka. Hal itu terungkap dari hasil survei Institute of Internationale Education (lembaga riset dari Amerika) pada tahun lalu.
Dari 2,5 juta responden, notabene dari kalangan mahasiswa di seluruh dunia yang disurvei, tak sedikit di antara mereka—tak terkecuali mahasiswa berasal dari negara maju—yang mulai berminat menimba ilmu di sejumlah perguruan tinggi negara berkembang. Di antaranya, sekitar 6% berminat memilih kuliah di Cina. Angka ini mengalahkan peminat yang ingin belajar di Jepang (hanya 5%) dan Kanada (3%). Sementara, kebanyakan dari mereka (22%), memang masih memilih Amerika sebagai tujuan utama untuk meraih gelar kesarjanaan.

Atas dasar itu, antara lain, berbagai upaya pun dilakukan ITB guna menarik mahasiswa asing lebih banyak lagi agar berminat kuliah di perguruan ini. Di antaranya, secara terus-menerus memperbaiki kurikulum pendidikan. Untuk itu ITB menjalin kerja sama dengan puluhan universitas, baik di kawasan Asia maupun Eropa. Strategi ini juga merupakan bentuk promosi ITB agar lebih dikenal di berbagai negara.

Semua langkah itu perlu dilakukan, mengingat ”daya jual” ITB dibandingkan dengan sejumlah perguruan tinggi lainnya di Indonesia tergolong lemah. Terutama di kalangan perguruan tinggi yang memiliki fakultas kedokteran, pertanian, atau perikanan.

Fakultas kedokteran misalnya, yang dipandang memiliki daya pikat tersendiri karena berpeluang bisa dikembangkan lewat berbagai kajian mengenai pengobatan penyakit khas yang kerap ditemui di daerah tropis. Atau daya tarik di bidang pertanian dan perikanan. Maklum saja, di mata dunia, negeri ini amat kesohor oleh ragam kekayaan sumber daya alamnya yang sangat eksklusif. Semua itu, tentunya, sangat menarik dipelajari.

Berbeda dengan ITB, sebagai perguruan tinggi yang mengkaji masalah teknologi, sudah barang tentu akan kalah bersaing dengan perguruan tinggi beken lainnya, terutama yang bercokol di negara maju. Toh, ”Belajar soal mesin, di mana saja sama,” kata Djoko.

LADANG BISNIS YANG MENJANJIKAN
Hal yang hampir serupa juga gencar dilakukan oleh para pengelola di Universitas Indonesia (UI). ”Kami memang memiliki target, 10% dari mahasiswa yang belajar di UI berasal dari mancanegara,” kata Gumilar Rusliwa Somantri, Rektor Universitas Indonesia. Sekadar informasi, saat ini mahasiswa asing yang belajar di UI baru mencapai 1% dari total 40 ribu mahasiswanya.

Seiring dengan itu, UI juga menargetkan dalam lima tahun mendatang akan menjadi perguruan tinggi terbaik di Asia Tenggara. ”Setidaknya masuk dalam kelompok lima besar,” ujar Gumilar. Untuk mencapai target itu UI telah mempersiapkan berbagai langkah. Di antaranya, mempersiapkan layanan yang maksimal bagi mahasiswa asing. Untuk itu, universitas ini telah mendirikan international office yang berfungsi sebagai pusat pelayanan dan informasi bagi mahasiswa asing yang berminat belajar atau melakukan penelitian di UI.
Langkah nyata lainnya, sampai saat ini UI telah menyelenggarakan lima fakultas khusus bagi mahasiswa dari luar negeri yang ingin mengambil jenjang strata 1 (S1), yakni Fakultas Kedokteran, Mesin, Psikologi, Ilmu Komputer, dan Ekonomi. Sebelum mengikuti perkuliahan di UI, lazimnya mahasiswa asing tersebut harus mengikuti pendidikan Program Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing, yang lamanya antara enam bulan hingga dua tahun.

Soal sarana pendidikan, UI juga sudah siap. Staf pengajar misalnya, dari 3.000 dosen yang ada, 700 di antaranya menyandang gelar doktor dan 250 lainnya bergelar profesor. Ditambah lagi dengan fasilitas ruang kuliah yang memadai, laboratorium yang lengkap, pusat bahasa, perpustakaan, serta sarana olahraga. Satu lagi yang dinilai menjadi nilai jual kampus ini, yakni lingkungan kampus yang asri. ”Jadi tak ada alasan bagi UI untuk tidak mampu bersaing dengan perguruan tinggi lain di luar negeri,” kata Gumilar.
Lebih dari semua itu, biaya kuliah yang ditawarkan UI juga relatif lebih kompetitif, paling tidak jika dibandingkan dengan biaya di negara maju. Di luar ongkos hidup, untuk setiap semesternya, berkisar antara US$ 2.500 hingga US$ 5.000.

Sejatinya, berikhtiar menjaring mahasiswa asing bukan semata untuk meningkatkan citra perguruan tinggi yang dimaksud. Di negeri maju seperti di Amerika, pendidikan sudah menjadi ladang bisnis yang amat menggiurkan. Negara adikuasa ini, setiap tahunnya berhasil mengeduk devisa hingga US$ 13 miliar, hanya dari ”menjual” kampus.
Begitu juga di Singapura. Jumlah mahasiswa dan pelajar asing yang belajar di negara jiran itu, saat ini mencapai sekitar 80 ribu orang, bisa dibilang, sudah menjadi indikator kemajuan ekonominya. Ada yang memperkirakan, hanya dari sektor pendidikan saja, setiap tahunnya Pemerintah Singapura mendapatkan pemasukan sekitar Rp 4 triliun. Tak heran, Singapura begitu gencar berpromosi ke mancanegara lewat lembaga Singapura Education Service Centre (SESC). Dus, tanpa perjuangan yang memadai, target yang diharapkan mustahil tercapai. 

Iklan