Motif bisa diartikan sebagai dorongan kuat. Dorongan kuat berasal dari jiwa dan jasmani kita untuk melakukan sesuatu yang bisa bermanfaat dan sesuai dengan fitrahnya sebagai makhluk yang senantiasa bergerak dinamis.

            Dorongan bergerak awalnya hanya untuk mempertahankan hidup dengan menyesuaikan dengan kondisi alam, tapi dorongan itu berkembang seiring dengan perubahan kultur dan tingkat pemahaman manusia terhadap kehidupan. Motivasi yang bisa menciptakan driving force justru berasal dari nilai ilahiah yang begitu dahsyat bila dibandingkan dengan dorongan fisik semata yang bisa mencapai titik jenuh. Manusia makhluk lemah dan sering mudah bosan dalam melakukan aktiftas.

Apabila kita tinjau dari sudut bahasa,  motivasi berasal dari kata movere berati menggerakan dan banyak pengertian dasar dari motivasi ini. Ada yang mengatakan motivasi sebagai ”sesuatu yang mewakili proses psikologikal yang menyebabkan timbulnya, diarahkannya dan terjadinya persistensi kegiatan-kegiatan sukarela yang diarahkan kearah tujuan tertentu” (winardi, 2002:1). Bisa juga diartikan sebagai ”kekuatan yang terdapat pada diri seseorang individu yang menjadi penyebab timbulnya tingkat, arah, dan persestensi upaya yang dilaksanakan dalam hal kerja”.(R.Schermerhorn).

lain lagi pendapat Abraham maslow, sorang ahli motivasi yang berpendapat kalau manusia merupakan makhluk yang serba beringinan (man is a wanting being), bahkan sebuah kebutuhan yang dipenuhi bukanlah sebuah motivator prilaku sehingga kebutuhan manusia diatur dalam suatu seri tingkatan-suatu hirakhi menurut tingkat prioritas kepentingannya. Motivasi ini terkadang turun naik seiring dengan pola perubahan prilaku manusia yang senantiasa berubah-rubah sesuai dengan tingkat kepentingan dan kebutuhannya dan terkadang tidak bisa terbaca oleh orang lain karena motivasi ini berasal dari gejolak hati manusia. Hati yang menggerakan manusia untuk merubahnya. Terkadang motif ini juga tidak disadari perubahanya. Coba kita tengok kenapa banyak terjadi penurunan semangat kerja, penurunan semangat ibadah, penurunan semangat keimanan diakibatkan apabila kepentingan individu bertabrakan dengan situasi yang tidak menguntungkan. Manusia cenderung menekan dibawah sadarnya.

Dan kualiats motivasi seseorangpun berbeda dengan yang lainnya. Oleh karena motivasi bukan sebuah prilaku tapi sebuah konstruk hipotetikal yang menerangkan sebuah prilaku manusia selain kausa prilaku jauh lebih kompleks bila dinbandingkan denagan motivasi itu sendiri.

Motivasi kerja seorang muslim.

Sorang muslim bekerja bukan sekedar materi semata tapi didalamnya ada nilai terkandung yang lngsung berhadapan dengan pemilik dunia ini. Nilai kerja ini juga akan dipertnggungkan kelas di alam perhitungan amal manusia. Nilai kerja ini juga berhbungan dengan hati bahkan Ibnu Qoyim mengungkapkan betapa pengendalian hati sebagai motivasi instrinsik yang dimiliki manusia oleh karena hidup dan bersinarnya hati adalah modal segala kebaikan dan mati serta gelapnya hati adalah modal segala keburukan.(2004:20)

Artinya seorang muslim harus bekerja sesuai dengan hati bukan sekedar sebuah motivasi materi semata, alasannya secara logika bekerja dengan motivasi duniawi akan susut dan membosankan tapi dengan motivasi hati akan melahirkan sebuah disiplin dan loyaliatas kerja tanpa perlu adanya pengawasan dan merasa diawasi oleh manusia, karena ada pengawasan yang Maha tahu dan maha Melihat yang sulit manusia manapun berkelit. Banyak para penyelia SDM yang mencoba melatih para karyawannya bukan sekedar skill semata tapi lebih terpokus pada pembentukan hati dan nilai spritulanya dimana dalamnya lebih pada pemupukan pemahaman religiousitas. Sentuahan hati ini jauh lebih mendasar bila dibandingkan dengan terapi motivasi yang terkadang mereka menyadarinya saat pelatihan dan setelah keluar kembali kepada wujud asal kepribadiannya.

Coba kita tinjau pemahaman muslim terhadap nilai keimanannya selalu diawali dengan pembenaran dengan hati (tasdiqun bil qolbi) sebagai sautu motivasi kerja instrinsik kemudian, mengungkapkan dengan lisannya (iqrorun bil lisan) dalam berbagai perencanaan hidup sebagai sebuah dream life dan menggerakan hatinya dengan anggota badannya (amalun bil arkan)