• JUDUL BUKU          :           THE HONDA WAY
  • AUTHOR                  :           Masaaki Sato
  • PENERBIT               :           Hikmah (Mizan)
  • TAHUN TERBIT     :           2009

Ringkasan Buku The Honda Way

       Sukses adalah 99 persen kegagalan, Soichiro Honda Kejayaan Honda terlahir dari dua individu paling bertentangan. Satu, insinyur genius yang tidak pernah kuliah tetapi menjadi cikal bakal perusahaan ini dengan ide-ide liarnya, Soichiro Honda. Sedangkan yang lain, pengusaha ulung yang sangat realistis akan keuangan, Takeo Fujisawa.

Keduanya bagaikan gas dan rem yang mampu bekerja sama dengan baik. Masaaki Sato, jurnalis bisnis ini, menuliskan secara dramatis gelombang naik dan turun yang dialami Honda sejak awal berdirinya saat, Melewati krisis ekonomi di Jepang Bertahan ketika kebijakan politik industri otomotif di Jepang sedang tidak ramah Berkompetisi di bidang F1 Mengatasi kecacatan produksi yang mengakibatkan pembalap F1 Honda Berjuang menciptakan teknologi bensin rendah emisi Menembus pasar internasional Persaingan kepentingan antara Soichiro Honda dan Takeo Fujisawa Sebuah investigasi personal yang mewarnai jalan Honda menjadi salah satu perusahaan otomotif terbesar termuda di Asia.

Sato berhasil memadukan ambisi dan konflik dengan kepribadian kuat para pendiri Honda ketika berhadapan dengan pergolakan ekonomi, industri, dan politik yang menggoncang secara global bisnis otomotif di Jepang, namun justru membawa Honda sebagai The Big Three di Jepang atas perjuangannya mengatasi semua itu.

Maryanne Keller, analis industri otomotif Masyarakat penuh dengan orang-orng tua yang bodoh. Saya percaya ketika orang-orang beranjak tua, mereka harus mundur secepatnya. Dulu yang mudalah yang dipandang kurang bijak. Sekarang situasinya terbalik. Orang-orang tua tidak bisa mengimbangi perubahan masyarakat modern yang begitu cepat, Soichiro Honda Kisah Honda merupakan contoh, bahwa sukses itu bisa diraih seseorang dengan modal seadanya, tidak pintar di sekolah, dan hanya berasal dari keluarga miskin.

Soichiro Honda itu generator unik,Business Week Online Tentang Penulis Kepiawaian Masaaki Sato dalam jurnalisme industri otomotif Jepang sudah tidak perlu diragukan lagi. Memulai kariernya sejak tahun 1980-an ketika menjadi penanggung jawab kolom otomotif di Nikkei. Baru-baru ini Sato menjabat eksekutif di Nikkei Business Publications. Dia juga penulis sejarah-sejarah populer termasuk di antaranya, VHS vs Betamax yang telah diangkat ke layar lebar. Buku lain karyanya adalah, The House of Toyota.    

 Soichiro Honda Kejayaan Honda terlahir dari dua individu paling bertentangan. Satu, insinyur genius yang tidak pernah kuliah tetapi menjadi cikal bakal perusahaan ini dengan ide-ide liarnya, Soichiro Honda. Sedangkan yang lain, pengusaha ulung yang sangat realistis akan keuangan, Takeo Fujisawa. Keduanya bagaikan gas dan rem yang mampu bekerja sama dengan baik. Masaaki Sato, jurnalis bisnis ini, menuliskan secara dramatis gelombang naik dan turun yang dialami Honda sejak awal berdirinya saat, Melewati krisis ekonomi di Jepang Bertahan ketika kebijakan politik industri otomotif di Jepang sedang tidak ramah Berkompetisi di bidang F1 Mengatasi kecacatan produksi yang mengakibatkan pembalap F1 Honda Berjuang menciptakan teknologi bensin rendah emisi Menembus pasar internasional Persaingan kepentingan antara Soichiro Honda dan Takeo Fujisawa Sebuah investigasi personal yang mewarnai jalan Honda menjadi salah satu perusahaan otomotif terbesar termuda di Asia.

Sato berhasil memadukan ambisi dan konflik dengan kepribadian kuat para pendiri Honda ketika berhadapan dengan pergolakan ekonomi, industri, dan politik yang menggoncang secara global bisnis otomotif di Jepang, namun justru membawa Honda sebagai The Big Three di Jepang atas perjuangannya mengatasi semua itu.

Kisah Honda merupakan contoh, bahwa sukses itu bisa diraih seseorang dengan modal seadanya, tidak pintar di sekolah, dan hanya berasal dari keluarga miskin,

Kisah dibuka dengan cerita pengunduran diri Soichiro Honda dan Takeo Fujisawa, pendiri Honda. Kemungkinan besar Masaaki Sato mengambil prolog seperti ini untuk menjelaskan mengenai peristiwa besar mundurnya kedua pendiri dari tampuk pimpinan perusahaan. Yang membuat saya terpaksa meraba-raba alur cerita selanjutnya adalah karena Masaaki Sato melanjutkannya dengan peristiwa pengunduran diri Soichiro Irimajiri yang bertahun-tahun dikenal sebagai Pangeran Honda. Baru setelah 2 pembahasan itu, dibahas mengenai awal mula pendirian Honda.

Cerita mengalir mengenai kisah kerjasama 2 pendiri yang masing-masing memiliki pendekatan dan minat yang berbeda. Soichiro Honda menangani sisi teknikal sedangkan Takeo Fujisawa menangani aspek pemasaran dan manajemen. Keduanya bisa saling mengisi dan menghormati posisi masing-masing.

Soichiro Honda adalah insinyur dengan temperamen keras. Di awal-awal pendirian Honda, Soichiro mengecek langsung produksi dilapangan dan tidak segan-segan melempar kunci Inggris kearah orang yang salah (halaman 128). Temperamen keras yang dibawa sejak Soichiro bekerja di Art Shokai cabang Hamamatsu dan berlanjut di Honda sendiri membuat ia dijuluki sebagai geledek dan berakibat pengunduran diri para karyawan yang tidak tahan. Meski terdengar kasar, sifat Soichiro sendiri saat itu cukup bisa dimaklumi karena Soichiro lebih bersikap sebagai guru dengan murid dibandingkan sebagai atasan bawahan. Para pekerja  yang melewati fase-fase awal pendirian Honda mengingat Soichiro sebagai pribadi yang mudah didekati dan jujur dan melakukan sesuatu atas dasar pertimbangan yang kuat.

Hal yang sama berlaku pada Fujisawa. Ia dijuluki sebagai “Godzilla” karena ia juga keras pada ketidakdisiplinan. Jika ia menemukan meja yang berantakan disalah satu kunjungan ke cabang Honda, atau menemukan staff penjualan yang cenderung jalan mudah, ia akan mengumpulkan para staff dan berpidato mengenai arti penting pemasaran. Yang lucu, karena Fujisawa berpidato, para staff kemudian mencatat ucapannya. Hal ini justru membuat Fujisawa marah,”Tugas seorang salesman adalah menarik perhatian konsumennya! Bagaimana mungkin kalian melakukan itu tanpa melihat mata mereka! Kalau kalian terus-terusan mencatat, kalian tidak akan menjual apa-apa…”. Tentu saja para pekerja menjadi gugup dan terdiam. Fujisawa berhenti sejenak, menatap mereka dan berkata, “Honda bukan perusahaan pemakaman. semuanya tunjukkan senyum kalian. Semuanya, senyum !”

Kisah lain yang menarik adalah sosok Irimajiri. Sosok yang disebut sebagai Mr Honda dan dikenal sebagai pangeran Honda ini dianggap oleh media sebagai calon presiden Honda berikutnya meski pada akhirnya ia tidak terpilih (Kawamoto, salah satu wakil presiden seperti halnya Irimajiri yang akhirnya terpilih). Ia pernah membuat kesalahan dan diminta keluar oleh Soichiro namun ia menolaknya. Irimajiri tak menolak andaikan ia dihukum karena kesalahannya namun menolak dikeluarkan karena ia harus memperbaiki kesalahannya itu.

Irimajiri juga sosok yang sukses sewaktu memimpin Honda Amerika. Memimpin karyawan asing di tempat mereka sendiri tentu tidak semudah memimpin karyawan bangsa sendiri. Tentu jauh lebih mudah menjelaskan prinsip dan filosofi Honda pada karyawan Jepang dibandingkan pada karyawan Amerika namun nyatanya Irimajiri sukses. Ia belajar cara menghadapai resistensi pekerja lokal, melindungi kepentingan Honda di Amerika dan menyiapkan orang-orang Amerika sendiri untuk memimpin Honda Amerika.

Selain pergulatan para pimpinan Honda menghadapi berbagai gelombang perubahan naik dan turun yang dialami Honda sejak awal berdiri, buku ini juga berkisah mengenai

  • Saat Honda melewati krisis ekonomi di Jepang.
  • Saat Honda  bertahan ketika kebijakan politik industri otomotif di Jepang sedang tidak ramah.
  • Saat Honda  berkompetisi di bidang F1.
  • Saat Honda mengatasi kecacatan produksi yang mengakibatkan pembalap F1 Honda tewas.
  • Saat Honda berjuang menciptakan teknologi bensin rendah emisi.
  • Saat Honda menembus pasar internasional.
  • Persaingan kepentingan antara Soichiro Honda dan Takeo Fujisawa.

Soichiro Honda lahir tanggal 17 November 1906 di Iwatagun (kini Tenrryu City) yang terpencil di Shizuoka prefecture. Daerah Chubu di antara Tokyo, Kyoto, dan Nara di Pulau Honshu yang awalnya penuh tanaman teh yang rapi, yang disela-selanya ditanami arbei yang lezat. Namun kini daerah kelahiran Honda sudah ditelan Hamamatsu yaitu kota terbesar di provinsi itu.

Ayahnya bernama Gihei Honda seorang tukang besi yang beralih menjadi pengusaha bengkel sepeda, sedangkan ibunya bernama Mika, Soichiro anak sulung dari sembilan bersaudara, namun hanya empat yang berhasil mencapai umur dewasa. Yang lain meninggal semasa kanak-kanak akibat kekurangan obat dan juga akibat lingkungan yang kumuh.

Walaupun Gihei Honda miskin, namun ia suka pembaharuan. Ketika muncul pipa sigaret modal Barat, ia tidak ragu-ragu mengganti pipa cigaret tradisionalnya yang bengkok, tidak peduli para tetangganya menganggapnya aneh. Rupanya sifat itu dan juga keterampilannya menangani mesin menurun pada anak sulungnya.

Sebelum masuk sekolah pun Soichiro sudah senang, membantu ayahnya di bengkel besi. Ia juga sangat terpesona melihat dan mendengar dengum mesin penggiling padi yang terletak beberapa kilometer dari desanya.

Di sekolah prestasinya rendah. Honda mengaku ulangan-ulangannya buruk. Ia tidak suka membaca, sedangkan mengarang dirasakannya sangat sulit. Tidak jarang ia bolos. “Sampai sekarang pun saya lebih efisien belajar dari TV daripada dari membaca. Kalau saya membaca, tidak ada yang menempel di otak,” katanya.

Ketika sudah kelas lima dan enam, bakat Soichiro tampak menonjol di bidang sains. Walaupun saat itu baru belasan tahun, namun dalam kelas-kelas sains di Jepang sudah dimunculkan benda-benda seperti baterai, timbangan, tabung reaksi dan mesin. Dengan mudah Soichiro menangkap keterangan guru dan dengan mudah ia menjawab pertanyaan guru.

Beberapa waktu sebelum itu, untuk pertama kalinya Soichiro melihat mobil. “Ketika itu saya lupa segalanya. Saya kejar mobil itu dan berhasil bergayut sebentar di belakangnya. Ketika mobil itu berhenti, pelumas menetes ke tanah. Saya cium tanah yang dibasahinya. Barangkali kelakuan saya persis seperti anjing. Lalu pelumas itu saya usapkan ke tangan dan lengan. Mungkin pada saat itulah di dalam hati saya timbul keinginan untuk kelak membuat mobil sendiri. Sejak saat itu kadang-kadang ada mobil datang ke kampung kami. Setiap kali mendengar deru mobil, saya berlari ke jalan, tidak peduli pada saat itu saya sedang menggendong adik.”

Soichiro hanya mengalami duduk di bangku sekolah selama sepuluh tahun. Sesudah lulus SD, anak nakal itu dikirim ke sekolah menengah pertama di Futumata yang tidak jauh dari kediamannya. Lulus dari sekolah menengah itu ia pulang ke rumah ayahnya. Gihei Honda sudah beralih dari pandai besi menjadi pengusaha bengkel sepeda. Gihei Honda memiliki majalah “The World of Wheels” yang dibaca Soichiro dengan penuh minat.

Di majalah itu sebuah bengkel mobil dari Tokyo memasang iklan mencari karyawan. Soichiro buru-buru melamar dan ia diterima. Walaupun ayahnya khawatir, namun Soichiro diantar juga ke kota besar itu.

Honda hampir tidak percaya pada telinganya Honda merasa saat menunggu dipanggil belajar menjadi montir itu benar-benar merupakan ujian ketabahan yang paling berat, yang pernah dihadapinya seumur hidupnya. Di masa-masa setelah itu ia sudah tidak takut lagi menghadapi rintangan apa pun berkat ketabahan yang diperolehnya selama menjadi kacung.

Honda yang selama kariernya tidak tahu banyak mengenai uang, Cuma mendapat keuntungan sedikit sekali tahun pertama itu. Tetapi Honda merasa beruntung karena bengkelnya sukses. Ia memutuskan untuk menabung dan memperkirakan selama masa kerjanya akan mampu mengumpulkan sampai 1.000 yen.

Selama hidupnya Honda terkenal sebagai penemu. Ia memegang hal paten lebih dari 100 penemuan pribadi. Yang pertama, ditemukannya ialah teknik pembuatan jari-jari mobil dari logam. Ketika itu mobil-mobil di Jepang memakai jari-jari kayu yang mudah terbakar. Perusahaan-perusahaan Jepang segera mengekspor jari-jari logam itu sampai ke India. Pada umur 25 tahun ia memperoleh keuntungan 1.000 yen sebulan.

Perusahaan juga menghargai orang-orang muda dan selalu merekrut orang-orang muda untuk memberi “darah baru” dan gagasan segar. Ketika Honda mengundurkan diri tahun 1973, yang dipilihnya sebagai pengganti ialah Kyoshi Kawashima, kepala bagian riset perusahaan Honda. Selama sejarahnya, perusahaan Honda hanya pernah mengalami pemogokan sekali pada tahun 1954. Ketika itu Honda dan manajemen di satu pihak menghadapi pekerja-pekerja dan adik Honda di Pihak lain. Tetapi sebagai layaknya perusahaan di Jepang semuanya itu diselesaikan dengan musyawarah.

Sejak tahun 1973 Honda pindah ke pasaran kendaraan beroda empat untuk bisa tetap mengembangkan jumlah penghasilan perusahaan. Stafnya yang pada masa Honda bertambah 10% setiap tahun. Kalau mereka bertambah tua, artinya beban perusahaan akan bertambah berat. Padahal Honda menghadapi persaingan berat di pasaran dalam negeri dan luar negeri. Untuk bisa tetap menciptakan pasaran baru mereka harus selalu mencari teknik yang unik dan efisien serta menjual produk dengan harga bersaing.

Namun ketika Honda dan Fujisawa mengundurkan diri pada musim gugur tahun 1973, Honda berkata, “Saya bisa mundur tanpa perasaan khawatir, karena saya yakin perusahaan akan terus maju dengan penuh semangat, menanggulangi pelbagai kesulitan dan luwes, tanpa kehilangan kesegarannya.”

“Terus terang saya merasa muda dalam hal mental maupun fisik,” kata Honda. “Saya kira kalian tidak bisa menang dari saya. Namun saya mesti mengakui sekarang saya sering merasa iri hati pada orang muda. Saya diberi tahu bahwa di Amerika pemimpin umum perusahaan berumur 40-an dan perusahaan yang dipimpin orang berusia 60-an tahun sering mengalami stagnasi. Kita sekarang memang memasuki zaman baru yang memerlukan nilai-nilai baru. Walaupun saya dan wakil pemimpin umum merasa kami masih muda, kami kira umur kami sudah lewat untuk memimpin.”

Kalau saya menengok kembali ke belakang, saya lihat bahwa yang saya buat tidak lain daripada kesalahan, serentetan kegagalan dan serentetan sesalan,” kata Honda. “Tetapi saya juga bangga untuk keberhasilan saya. Walaupun saya sering membuat kesalahan dan kegagalan, namun semua itu tidak pernah disebabkan oleh hal sama. Saya tidak pernah mengulangi kesalahan dan saya selalu berusaha sekuat mungkin untuk memperbaiki diri. Dalam hal itu saya berhasil.

“Ia tetap memegang saham terbesar di perusahaannya. Ketika mengundurkan diri tahun 1973 penghasilannya mendekati 1,7 miliar dolar. Walaupun sudah pensiun omongannya masih didengar. Katanya, masa depan industri Jepang bukan ditentukan oleh untuk cepat, tetapi oleh mutu barang yang kita buat dan pengaruhnya terhadap kepentingan sesama manusia. Kalau kita membuat barang yang menyebabkan banyak polusi kemungkinan kita akan untung, tetapi hanya sebentar, sesudah itu bangkrut. Kami di perusahaan Honda sering bergurau: Enak juga ada perusahaan-perusahaan besar yang kerjanya hanya memikirkan untung besar saja. Akibatnya perusahaan kecil seperti Honda mendapat kesempatan untuk membuat barang yang baik.

 

Iklan