SEJAK nama Mohammad Yunus muncul ke permukaan, banyak orang bertanya–tanya, usaha yang ditekuninya ini bisnis atau sosial?

Di satu pihak,Yunus membebaskan masyarakatnya dari kemiskinan, namun di lain pihak, lembaga yang ditanganinya dikelola secara profesional bisnis. Upaya Yunus tentu berbeda dengan upaya yang dilakukan para aktivis yang bergelut di hutan menghentikan penebangan liar,menjaga kelestarian alam, atau terlibat sebagai relawan yang mengajarkan anak–anak rimba mengenal huruf dan angka.

Mereka ini kita sebut sebagai aktivis atau relawan. Sebagian di antara mereka adalah aktivis lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang memiliki warna ideologis tertentu sehingga gerakan-gerakannya cenderung radikal, dialektis, dan kadang terlihat agresif.Bahkan,sebagian lagi adalah aktivis–aktivis sosial yang menghindari konflik dan fokus pada pemberdayaan masyarakat.

Entrepreneurship dalam Bersosial

Wujud peran sosial yang diambil berbagai kalangan sangat beragam. Dari pengamatan di lapangan ditemukan dua ciri kegiatan.Pertama, kelompok nonmandiri yaitu kelompok yang memperjuangkan peran sosialnya dengan menggalang dana–dana sumbangan tiada henti.

Kedua, kelompok mandiri yang gerakan-gerakannya murni dibiayai dari kegiatan sendiri. Kelompok nonmandiri cenderungfokuspadapembuatanproposal dan laporan. Mereka mencari-caridana sumbangan dan mengorganisasi kegiatan.

Sadar atau tidak sadar,bahkan sering kali berpura-pura tidak sadar, kegiatan mereka dibiayai lembaga-lembagabesarasing(donor) yang diberi dana oleh sponsor dari perusahaan-perusahaan tertentu. Maka dapat diduga,sasaran kegiatan mereka adalah penekanan-penekanan pada perusahaan-perusahaan domestik yang diberi label ”jahat”,”merusak”,” tidak peduli”,”membalak”, dan sebagainya.

Sebenarnya, kegiatan seperti itu lebih banyak merusak daripada membangun karena mereka bukan memperbaiki masyarakat,melainkan menimbulkan masalah-masalah baru.Di balik semua itu adalah sebuah kegiatan konspiratif yang tersembunyi dari persaingan yang tidak sehat.

Terlepas dari koreksi positif yang harus dilakukan untuk menekan perusahaan-perusahaan yang nakal dan benar-benar merusak alam dan masyarakat, peranperan sosial yang demikian telah banyak dibajak oleh para ”preman sosial”. Kelompok kedua adalah kelompok mandiri yang mewujudkan paham sosialnya dengan upayaupaya entrepreneurship.

Mereka tidak ingin bergantung pada danadana sumbangan meski tidak menolak bantuan-bantuan yang datang baik dari pemerintah maupun swasta. Mereka mengelola perannya menggunakan prinsip-prinsip kewirausahaan. Mereka sadar betul, di balik peran sosial itu ada peluang- peluang bisnis yang bisa membuat mereka mandiri.

Dengan kata lain, kegiatan-kegiatan sosial itu dibuat berkelanjutan dengan adanya kegiatan ekonomi. Maklumlah manusia, perilakunya selalu di dorong oleh motif-motif ekonomi.Dengan menghasilkan reward ekonomi,manusia akan terpacu dan terus memelihara usahanya.

Peran sosial tercapai,kemiskinan bisa diatasi, dan keberlanjutan (sustainability) kegiatan lebih terjamin. Entrepreneurship itu tampak dalam kegiatan sehari-hari dari pemimpin yang berwatak wirausaha. Mereka adalah pengusaha, bukan politikus, sehingga cenderung menghindari konflik.

Mereka adalah pengambil risiko yang bersedia menggunakan harta pribadi,memberikan pelayanan prima,menjunjung tinggi nilai etika-etika, dan cenderung tidak berorientasi pada aktivitas populis. Sebagai pribadi, mereka cenderung panjang akal (resourcefulness), mudah bergaul, berwawasan dan pergaulan luas, tidak mudah curiga atau tersinggung, dan memenuhi komitmen. Karena itu,mereka sangat kreatif dan penuh terobosan (inovatif).

Maka, hasil yang mereka capai sungguh mengagumkan. Mereka dikenal sebagai sosok yang sosial, namun hidup mereka sejahtera, tidak anti terhadap korporasi ataupun investasi-konsumsi. Kita bisa melihat sosok-sosok yang demikian ada di mana–mana, mulai seorang tentara yang membuat arang dari dedaunan di Garut, Jawa Barat, seorang ibu yang membuat puluhan pembangkit listrik tenaga hidro,warga-warga masyarakat yang mengelola sampah,sampai para pengelola simpan pinjam (kredit mikro),serta masih banyak lagi.

Rumah Perubahan

Saya ingin bercerita sedikit mengenai filosofi social entrepreneur yang kami kembangkan dalam wadah yang sedang saya geluti di Rumah Perubahan. Di dalam wadah ini kami melakukan berbagai macam kegiatan,mulai dari pengolahan sampah, pelatihan-pelatihan manajemen, sampai pemberdayaan masyarakat.

Namanya saja Rumah Perubahan, sudah pasti kami berpikir untuk merealisasikan ”believe”kami,yaitu perubahan sosial dan ekonomi. Ketika mencari kegiatan,bertemulah kami dengan masalah sampah. Kami berpikir sampah erat hubungannya dengan masalah kesehatan dan lingkungan hidup. Namun yang lebih penting,di balik itu semua ada masalah perubahan.

Masyarakat cenderung enggan diatur dan seenaknya membuang sampah, sementara aparat dari dinas-dinas kebersihan bekerja dengan pola-pola lama yang justru menciptakan masalah. Kalau ini didiamkan,lambat laun alam Indonesia akan rusak. Tapi bagaimana kami melakukannya? Bisakah kami melakukan sendiri? Dari mana biayanya? Bagaimana agar perubahan segera terwujud bukan hanya di satu tempat, melainkan di banyak tempat? Kamimulaiduludisekitarrumah kami.

Di situ sampah-sampah kami angkat, kami olah sendiri dan menjadi kegiatan ekonomi.Supaya berjalan, sampah diolah dengan caracara yang mudah dan menguntungkan. Sekitar dua tahun sudah berjalan, sampah terolah dengan baik, produk-produk turunan baru dari sampah telah dihasilkan dan kegiatan ini mulai menyebar ke seluruh Indonesia.

Setiap bulan kami memberikan pelatihan dan berbagai kelompok masyarakat mulai mengolah sampahnya sendiri. Apa yang mendorong partisipasi masyarakat? Jawabnya adalah ada kegiatan ekonomi.Mereka bisa menolong sesama,namun keluarga mereka tetap memperoleh penghasilan dan sejahtera.(*)

 

Iklan