Hanya beberapa jam sebelum bom meledak, saya masih menikmati makan malam bersama ahli hukum terkenal, Mas Ahmad Santosa di kafe Airlangga hotel RitzCarlton. Kafe Airlangga menjadi terkenal karena banyak korban yang meninggal dunia, akibat bom bunuh diri beberapa saat kemudian.

 

Saya juga sempat memberikan seminar tentang cara menghadapi krisis ekonomi di ballroom hotel tersebut yang dihadiri nasabah-nasabah penting HSBC. Saya yakin tak seorang pun di antara tamu-tamu penting di hotel mewah itu mempunyai firasat sesuatu yang luar biasa akan terjadi di sana. Keramahan para pelayan restoran, pelayanan yang baik, interior hotel yang cozy, serta ketatnya pengamanan di pintu-pintu masuk membuat kita semua merasa aman dan nyaman. Namun begitu bom meledak, persepsi kita terhadap rasa aman pun berubah.

”Hukuman” Ringan Membutakan
Tidak seperti di masa-masa lalu, ”hukuman” yang diberikan para pelaku usaha dan pelancong terhadap perekonomian Indonesia kali ini, tampaknya relatif ringan. Indeks Harga Saham Gabungan hanya terkejut sejenak, tingkat hunian hotel dan nilai transaksi belanja hanya turun beberapa hari, demikian pula dengan indikator-indikator ekonomi lainnya. Kenyataan ini berbeda dengan fakta-fakta di masa lalu saat Jakarta atau Bali diganggu teroris. Semua indeks segera melorot tajam ke bawah. Di satu pihak kita merasa lega, namun di lain pihak, hal ini bisa membutakan mata kita terhadap tuntutan keamaan.
Padahal di luar sana, pelaku-pelaku kejahatan terus meningkatkan keahliannya dan cara-cara baru dalam merampas nyawa dan mempermalukan lawan-lawannya. Bila sebelumnya bom bunuh diri diledakkan dari mobil, mungkin sekarang dilakukan dengan merakit di dalam, atau ”menanam” orang di dalam. Demikian pula dengan teknologi, pembentukan jaringan, penggalangan dana, pemilihan sasaran dan lain sebagainya. Semakin dibatasi ruang lingkupnya, semakin sulit bergerak, penjahat-penjahat yang cerdik juga akan menjadi lebih pintar.

”Hukuman ringan” yang dirasakan perekonomian yang juga begitu singkat ini, tentu ada bahayanya bagi kita semua. Apalagi bila Anda mengetahui alertness masyarakat kita terhadap bahaya sangat rendah. Kita membangun banyak gedung tinggi, namun sedikit sekali menyediakan peralatan pemadam kebakaran yang dapat menjangkau gedung-gedung tinggi itu. Penempatan fasilitas-fasilitas keamanan pun sangat jauh dari titik sasaran sehingga petugas-petugas yang dibutuhkan selalu datang terlambat.
Misalnya tak seorang pun mempermasalahkan mengapa kita tidak berhasil menyelamatkan nyawa Timothy McKay, CEO Holcim Indonesia. Kita saksikan di televisi, Tim yang terluka parah diangkat sejumlah orang ke tepi jalan, lalu ditaruh begitu saja di trotoar. Dimana ambulans dan P3K? Mengapa Ia terlalu lama untuk segera diselamatkan dan dibawa ke rumah sakit?

Tim meninggal karena penanganan keselamatan yang lamban. Kita perlu tahu berapa lama sejak bom meledak, polisi dan ambulan mampu tiba di tempat! Mengapa kita tidak pernah memikirkan pentingnya penyelamatan dengan menaruh aparat-aparat petugas pelayan masyarakat itu sedekat mungkin dengan masyarakat? Kita juga sering berpura-pura tidak mengetahui bahwa Jakarta telah menjadi lebih padat dan lebih macet sehingga perlu upaya-upaya khusus untuk menangani bencana dan menembus kemacetan. Belum lagi pelaku para pengemudi yang senang menonton kecelakaan di jalan, sehingga melambatkan arus lalu lintas saat terjadi kecelakaan, dan tidak adanya respek pengemudi terhadap mobil bersirene.

Kalau Anda pernah mengunjungi kota industri dan perdagangan terkenal di Shanghai, Cina, barang kali Anda akan merasa kesal dengan prilaku masyarakatnya yang selfish, kompetitif, agresif, dan padat sekali. Di mana-mana padat, berebutan, saling menyikut dan sungguh tidak menghargai orang lain. Tidak ada service excelence.
Namun ada satu hal yang membuat pelancong dan pembeli tidak pernah kapok untuk datang dan datang lagi, untuk memborong barang-barang buatan Cina yang relatif murah itu. Benar! Itulah keamanan. Setiap kali keributan, dalam sekejap, banyak polisi yang tiba di tempat dan mengambil tindakan.

Di negara-negara yang memberi perhatian pada keamanan, petugas tidak pernah datang terlambat. Mereka datang lebih cepat sebelum maut menjemput, memadamkan api sebelum ia menghanguskan gedung. Namun hal sebaliknya terjadi di negara-negara yang perhatiannya terhadap keamanannya rendah. Rasa aman atau tidak segera tercium begitu seseorang menginjakkan kakinya di bandara suatu kota.

”Alertness” Rendah
Gubernur DKI mengatakan Jakarta tetap aman dengan tingkat yang kurang lebih sama seperti London dan New York. Keduanya adalah kota besar yang sering menerima ancaman bom dan tentu saja tingkat kriminalitasnya tinggi. Kalau Anda tiba di New York, Anda harus waspada dan harus tahu persis Anda berada di mana. Kantong-kantong bahaya ada di sejumlah titik. Namun yang membedakan New York, London dan kita adalah lemahnya kesadaran menjaga keamanan di sini.

Saya masih ingat betul beberapa kali gunting logam yang saya bawa lolos dari amatan petugas pemeriksa bandara international Soekarno-Hatta, namun tidak lolos di negara transit. Sudah jelas gunting adalah benda tajam yang tidak boleh di bawa ke dalam kabin pesawat. Namun karena terburu-buru, orang di rumah – atau saya sendiri – sering terlupa dan salah memasukkannya. Saya pun tidak ingat lagi dan kadang merasa yakin tas kabin bawaan saya telah aman dari barang terlarang.

Kejadian itu bukan hanya sekali, namun ada dua-tiga kali. Sekali gunting kuku kecil Swiss Army disita petugas di bandara Changi, sekali gunting besar ditemukan petuga bandara di Sidney, dan sekali lagi di bandara Dubai.

Saya tentu menyesali sekali gunting yang saya perlukan itu disita petugas, namun saya lebih malu lagi karena datang dari sebuah negara yang tidak peduli terhadap keamanan. Bayangkan, betapa mudahnya mengecoh keamanan di Indonesia? Apakah artinya teknologi tinggi kalau manusia-manusia yang bekerja menjaganya kurang peduli, masa bodoh dan menganggap enteng hal-hal berbahaya seperti ini? Tidak tahukah mereka kesadaran yang lemah ini membuat hidup kita fragile (rentan) terhadap bahaya dan perbuatan-perbuatan teror?

Seorang teman pernah kehilangan hand phone-nya di muka ruang sebuah seminar di sebuah hotel berbintang di Surabaya. Kejadiannya begitu singkat, sehingga ia segera melapor. Di luar dugaan, petugas berpura-pura bodoh. Bahkan saat diminta membuka rekaman CCTV yang kameranya tak jauh dari TKP, ia dipersulit habis-habisan. Perlu izin khusus lah, di sini aman lah, tidak ada dalam rekaman, pura-pura tidak penting dan sebagainya. Baru setelah beberapa jam kemudian, setelah acara bubar dan manajemen hotel kami tekan dengan nada tinggi, rekaman baru boleh dibuka.

Tampak jelas seseorang telah mengambil hand phone itu namun petugas keamanan berkali-kali mengatakan sudah membuka dan tak menemukan apa-apa. Semua fakta tak berguna lagi karena ruangan telah kosong, acara sudah bubar, dan CCTV tidak bisa merekam dari jarak dekat sehingga wajah pencuri menjadi kabur.

Hal yang sama juga saya lihat dalam rekaman yang disajikan televisi saat orang yang diduga sebagai teroris memasuki lobi hotel. Terlihat jelas tas tamu diperiksa seadanya. Bahkan saat seseorang memakai topi pet dan memakai ransel berjalan tergopoh-gopoh mendekati restoran, ia bisa lolos begitu saja menuju restoran.

Kita semua tahu, itu adalah ancaman dan berpotensi bahaya. Namun apakah kita cukup terlatih untuk bertindak dan mencegahnya? Terus terang saya meragukannya. Kecuali bapak-bapak polisi turun tangan, melatih warga negara dan petugas-petugas keamanannya dengan penuh kesungguhan. Kita perlu lebih rewel, lebih galak, lebih serius dan rela turun ke bawah membenahi kembali tata nilai, yaitu nilai-nilai kesungguhan dalam bekerja. Nilai-nilai tanggung jawab dan peduli terhadap nyawa orang lain. Tanpa itu, teknologi tak ada gunanya dan nyawa terlalu murah harganya di negeri ini. Saya menyesali dan berduka, tapi rasa duka tak cukup memecahkan masalah bila kita mendiamkannya. Menjajal Magnet

Di berbagai kesempatan saya juga bertemu dengan anak-anak muda yang menjajal kekuatan magnetnya menggairahkan audience yang hadir dalam berbagai seminar. Menurut teman-temannya, anak muda itu mendapat julukan motivator. Suaranya menggelegar, sangat percaya diri, bahkan kadang over confidence.

Mereka mengajak audience bangkit berdiri atau mengikuti kata-kata mereka. Ada di antara mereka yang kocak dan berhasil menggairahkan peserta seminar, tapi tak sedikit pula yang mendapatkan umpatan. Yang berhasil tentu sangat membantu mood peserta sebelum mereka memulai presentasi. Namun mereka yang gagal, mengakibatkan keadaan sebaliknya.

Motivator-motivator seperti itu juga menciptakan penampilan khusus. Jaket, potongan rambut yang khas lengkap dengan gel yang membuat mereka tampil fresh. Sepatu mengkilap. Dan jargon-jargon seperti ”Semangat pagi!”, ”Apa kabar?” atau mengikuti senior-senior mereka yang sering diucapkan komedian Tukul seperti: Luar biasa, dahsyat, dan bombastis.

Seperti yang dipertontonkan senior-senior, mereka percaya pengetahuan tidak perlu tinggi-tinggi amat, yang penting bisa bicara, pandai berkelit, dan bisa menumbuhkan kepercayaan. Supaya magnetnya makin kuat, mereka juga menulis buku, mengaku sebagai ”pembicara terbaik”, penulis best seller, mengklaim punya ribuan pengikut, dan didukung klien-klien penting.

Mereka juga mengisi acara-acara radio dan meniru senior-seniornya dalam segala hal. Sayangnya mereka telah meniru melalui jalan pintas, mengambil sepotong-sepotong, dan berpikir menjadi motivator itu mudah, bahkan kadang seenak perut melanggar tata cara dan etika.

Tempaan Sejarah

Seseorang tentu saja tidak dengan sendirinya bisa mengklaim dirinya sebagai motivator. Dalam banyak hal julukan sebagai motivator justru datang dari masyarakat, bukan dari motivator itu sendiri. Julukan itu diberikan oleh masyarakat karena kontribusi dan daya magis yang terbukti mampu mengubah banyak orang dalam berbagai hal.

Jadi terlalu naif bila seseorang mengklaim dirinya adalah motivator. Sekali lagi julukan itu datang dari luar, dari bukti-bukti, bukan ucapan promosi. Lantas apa yang membuat seseorang mampu memotivasi orang lain? Tempaan hidup!

Tempaan hidup berbicara, membentuk seseorang dan mengalirkan berbagai jawaban dari berbagai persoalan. Solusi-solusi yang direnungi, dipetakan, ditelusuri, dan dituangkan ke dalam rangkaian cerita untuk menumbuhkan kekuatan bagi orang lain.

Tempaan sejarah setiap orang memang berbeda-beda, sehingga membentuk keunikan bagi orang tersebut. Oleh karenanya sejarah hidup bukanlah sebuah preskripsi atau resep sukses untuk orang lain. Melainkan pembelajaran apa yang terkandung dalam sejarah hidup itu.

Maka terlalu naif bila seseorang merasakan baju sejarahnya untuk dipakai pada tubuh orang lain. Sayangnya sejarah itu kaya cerita, penuh warna, getaran emosi, dan menuai rasa keingin-tahuan yang tinggi di kalangan pendengar. Cerita yang terlalu mengasyikkan dapat mengaburkan tujuan dan beralih menjadi novel atau sinetron, sehingga at the end of the story, setiap orang memiliki kesimpulan yang berbeda-beda. Setiap orang hanya ingat cerita dan sejarah hidup, bukan inspirasi atau pembelajaran yang membentuk langkah-langkah baru.

Bingkai Ilmu

Tempaan hidup memberikan pembelajaran dan sekaligus meniupkan ruh motivasi. Ia memberi energi yang sangat kuat dan memberikan kegairahan. Namun pengalaman atau tempaan hidup bukanlah segala-galanya. Di dunia ini ada jutaan orang yang mengalami tempaan hidup yang berat dan berhasil keluar dari berbagai krisis namun tidak bisa membangkitkan kegairahan orang lain.

Oleh karena itu diperlukan bingkai ilmu sebab motivasi bukanlah pekerjaan mudah. Kita cukup belajar dari pengalaman orang lain saja, melainkan juga perlu kajian-kajian ilmu. Dengan begitu didapatlah sebuah roadmap dan desain yang ditiupkan oleh ruh-ruh pengalaman. Belajar dari ilmuwan akan mendapatkan prinsip-prinsip untuk membingkai motivasi menjadi sesuatu yang berkelanjutan.

Adalah suatu kenaifan mengharapkan perubahan hanya dari omongan-omongan dan cerita saja. Tempaan sejarah orang itu baru bisa menggugah kegairahan. Lebih dari itu diperlukan rangkaian tindakan. Saran-saran dari motivator yang tak menguasai pengetahuan. Saran-saran dari sejarah hidupnya. Sedangkan hari esok seorang karyawan dan manajer dibentuk oleh desain bangunan dan kultur budaya organisasi dimana dia berada.

Maka betapa pun menggairahkannya ulasan seorang motivator, ia belum tentu menghasilkan efek perubahan yang memadai, kecuali seorang pemimpin sadar betul bahwa perubahan memerlukan konsep. Seseorang itu termotivasi bukan hanya oleh ceramah, melainkan juga oleh sistem insentif, bentuk-bentuk hubungan yang diciptakan, kinerja yang dituntut, struktur organisasi, pemenuhan kebutuhan, dan tentu saja pengaruh yang muncul dari luar.

Seperti kata Isaac Newton, ”Kalau saya bisa melihat jauh ke depan, itu tak lain karena saya berdiri di atas pundak raksasa.” Pundak yang diduduki Newton itu adalah pengetahuan yang harus diperoleh dengan keringat yang sama pentingnya dengan pengalaman hidup.

Sayangnya, sebagian orang yang berpengetahuan, miskin tempaan hidup yang mampu memotivasi orang lain, dan sebaliknya mereka yang kaya pengalaman, miskin pengetahuan. Satu-dua orang mungkin dapat Anda temui memiliki keduanya. Tetapi mereka sangat langka. Jadi semua terpulang pada Anda, ingin mengambil yang pertama, kedua atau berupaya keras menunggu yang ketiga.

Akan lebih mudah lagi, Anda sendiri mampu memacu semangat bawahan dan kaya pengetahuan. Itulah tugas eksekutif di zaman yang serba bergerak dan dinamis ini. Menjadi manajer sekaligus motivator akan datang bila saatnya tiba, yaitu saat magnet Anda bekerja karena Anda memiliki keduanya. Liburan belum datang tetapi saya sudah mendahuluinya. Akhir Mei lalu saya mendapat undangan untuk mengunjungi 3 negara sekaligus: Perancis, Italia, dan Yunani. Selama berlibur, saya juga bekerja dan mempelajari pariwisata, mendeteksi dampak krisis di Benua Eropa. Tetapi dalam pengalaman itu saya menemukan kisah-kisah inspiratif yang mungkin bisa membangkitkan spirit Anda.

Di Italia, saya berkunjung ke Rocca di Papa, sebuah kawasan yang sejuk di daerah perbukitan yang terletak 1 jam sebelah selatan kota Roma. Di tepi danau yang airnya biru itu, puluhan jenis burung berkicauan tiada henti. Angin semilir yang tertiup ke atas ke arah perbukitan membuat pemandangan menjadi semakin mengesankan. Tak ada yang menyangka pada salah satu bukit itu terdapat sebuah vila yang dioperasikan seorang gadis desa asal pulau Dewata.

Vila itu diberi nama sesuai nama asli pemiliknya: Dewi Francesca. Sambil meneguk secangkir kopi late, saya melihat suami Dewi mengoperasikan air mancur yang bisa melesat dari bawah bukit setinggi 15 meter. Dewi pun bercerita bagaimana ia membuka usaha di Rocca di Papa. Ketika media massa di Italia tak henti-hentinya menyuarakan krisis, vila Dewi Francesca yang ramai diminati para honey mooners itu sudah full-book hingga 2 tahun ke depan. Nuansa Bali yang dipadu dengan interior Italia terlihat dominan.

Potensi Menemukan “Pintu”-nya

Bagaimana kita menjelaskan seorang gadis desa, anak seorang petani yang selepas sekolah bekerja sebagai seorang pelayan restoran di sebuah hotel di Bali dapat menjadi seorang usahawan yang terhormat di luar negeri? Bagi kebanyakan orang hal ini adalah sebuah keniscayaan. Namun kalau itu dijalani dengan tekun, maka akhirnya manusia menemukan juga ”pintu keluarnya”.

Setahun yang lalu, di tengah-tengah padang pasir di Mesir, saya memandang lama piramid-piramid besar yang dibangun begitu megah ribuan tahun silam. Melihat gambarnya saja sudah indah, apalagi Anda berada di hadapannya. Kepada pasangan hidup yang menemani perjalanan, saya mengatakan ”Pantaslah Tuhan bersuara di tanah berpasir ini dan menyebar ke berbagai penjuru dunia.” Semua itu berawal dari keseriusan nenek moyang bangsa Mesir dalam mencari Tuhan.

Dalam antropologi piramid, saya melihat sebuah perjalanan manusia mencari Tuhan, dan di dalam kitab suci, saya membaca bagaimana Tuhan bertutur kepada nabi-nabi besar. Tuhan pun datang karena manusia mengetuk pintunya berkali-kali. Itulah esensi pencarian sesuatu dalam kehidupan. Manusia menemukan atas apa yang mereka cari.

Malcom Gladwell (2008) yang meneliti tentang kesuksesan manusia menemukan karya-karya besar ternyata tidak ditentukan oleh tingginya skor IQ yang dimiliki manusia, latar belakang keluarga, tanggal lahir, darah biru atau bukan, melainkan oleh dedikasi suci dalam mencari pintu keluar dari berbagai labirin kesulitan. Ia menyebut dedikasi itu sebagai suatu kecerdasan praktis.

Temuan ini sejalan dengan apa yang dikatakan John C. Maxwell dalam bukunya yang berjudul Talent is Never Enough (2007). Maxwell mengatakan, bakat itu hanyalah sebuah kesempatan, namun untuk menjadi ”sesuatu”, bakat itu harus diasah agar ia mengeluarkan aura cahayanya dan menemukan pintunya. Namun lebih dari itu, kesempatan atau sebuah potensi harus bergerak menemukan pintunya.
Di Indonesia, ada banyak orang pintar dan orang-orang kreatif. Namun sayang pemilik otak dan bakat-bakat pintar itu tidak menemukan pintunya. Kadang saya berpikir sangat dalam untuk menemukan jawaban atas pertanyaan yang diajukan para peserta seminar, mengapa mereka sulit untuk maju. Lama-lama saya pun mulai menemukan jawabannya.

Jawaban itu sebenarnya sederhana saja, yaitu ada pada cara berpikir yang kurang tepat. Ketika orang-orang pintar telah merasa dirinya pintar, maka ia pun tamat. Ia sudah selesai. Padahal di dunia ini ada banyak orang pintar (juga banyak yang bodoh). Namun yang mereka lupakan adalah ada orang yang makin pintar, namun juga banyak orang yang makin bodoh. Jadi pintar saja tidak cukup.

Memancing Keberuntungan

Saya pun menemukan jawaban itu di Vila Dewi Francesca. Semakin lama Dewi berbicara, semakin keluar auranya. Saya mengatakan pada istri saya betapa cerdasnya gadis desa ini. Ia memang bukan orang yang pintar, tetapi hidupnya berkembang dan ia menjadi semakin pintar. Namun ia memulainya bukan dengan IQ, uang, atau gelar sekolah, melainkan dengan sebuah dedikasi yang suci.

Buat orang-orang yang suci tidak ada kelicikan, pikiran-pikiran untuk menjatuhkan semangat orang lain. Sebagai pelayan di salah satu restoran pada sebuah hotel di Bali, Dewi melayani tamu-tamu asingnya dengan penuh ketulusan. Ketulusan itu akhirnya mempertemukan dia dengan seorang ibu tua keturunan Sicilia yang jatuh cinta dengan Bali. Ibu itu, Nyonya Francesca, rupanya juga tertarik dengan Dewi. Setelah beberapa kali datang ke Bali, ia menawarkan Dewi berkunjung ke Italia, dan membantunya di sana. Ketulusan dan kejujuran Dewi membuat Nyonya Francesca semakin menyayanginya. Selain merawat ibu tua itu, ia juga merawat kebun mawar Nyonya Francesca.

Anda yang kenal watak dan budaya orang-orang Italia Selatan, mungkin tahu bahwa mereka sangat hangat dan berorientasi pada keluarga. Ibu sangat dominan, dan anak-anak laki-laki selalu taat pada ibunya. Sampai ketika Nyonya Francesca mengangkat Dewi sebagai anaknya sendiri, dan sebelum meninggal dunia ia menawarkan anak laki-laki kesayangannya sebagai pasangan hidup Dewi. Mereka menikah dan sejak itu lahirlah vila baru yang ditujukan untuk para honey-mooners.

Suatu kebetulan?

Barang kali ada tangan Tuhan di sana, namun studi-studi tentang kesuksesan dan kebahagiaan yang dilakukan para ahli beberapa tahun belakangan ini menunjukkan bahwa hoki atau keberuntungan pun tak akan datang tiba-tiba. Seperti yang banyak dipelajari dari praktek-praktek penerapan ilmu keberuntungan China (Fengshui), keberuntungan harus dipancing agar ia mau datang. Dan keberuntungan hanya datang pada orang-orang yang siap, yang sejak awal cocok menerimanya. Itulah yang disebut ”pintu” oleh Maxwell atau kecerdasan praktis oleh Gladwell, atau dedikasi suci. Selamat berlibur dan menemukan inspirasi-inspirasi baru untuk meningkatkan produktivitas Anda di hari yang lebih cerah.