Gerai Indomaret dan Alfamart banyak menguasai tempat-tempat strategis di sekitar perumahan, pemukiman, dan perkantoran. Gerai keduanya pun banyak berdempetan. Kok bisa?

Pertumbuhan minimarket di Tanah Air cukup fantastik sejak pemerintah mengeluarkan kebijakan waralaba tahun 1997. Perkembangan minimarket tersebut tidak lepas dari konsep yang ditawarkan para perancangnya yang berusaha mendekati konsumen. Setidaknya, ada dua nama yang terus berkibar dan saling bersaing merebut pasar, yaitu Indomaret dan Alfamart. Berdasarkan data Aprindo (Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia) per Juni-Juli 2004, gerai Indomaret mencapai 842 unit sejak didirikan tahun 1998. Sedangkan Alfamart yang didirikan tahun 1999 telah mempunyai 669 gerai.

Menurut Ignatius Didit Setiadi, PR Manager PT Sumber Alfaria Trijaya (Alfamart), potensi bisnis mimimarket masih sangat besar. Sebagai gambaran, di Jepang perbandingan antara jumlah minimarket dengan total populasi mencapai 1:15.000. Artinya, satu minimarket melayani 15.000 orang. Di Singapura rasionya 1:13.000, sementara di Indonesia 1:35.000. “Dengan rasio seperti itu, bisa dibayangkan besarnya potensi minimarket di Indonesia,” kata Ignatius.

Besarnya pasar minimarket menjadikan dua pemain utama, Indomaret dan Alfamart, semakin mengukuhkan sayapnya di bisnis ini. Seperti Indomaret, Alfamart juga berusaha mendekatkan diri ke konsumen lewat tempat-tempat potensial dari sisi kelayakan bisnis. Hingga saat ini, Alfamart masih melebarkan sayap di Jabotabek, Bandung, Jawa Barat dan Jawa Timur. Hal yang sama juga disasar oleh Indomaret.

Persaingan keduanya terlihat makin sengit ketika banyak dijumpai gerai mereka yang berdempetan. Di mana ada Indomaret, di situ ada pula Alfamart. Adakah ini menjadi concern dari masing-masing pemain? Menurut Ignatius, pihaknya tidak bersaing dengan cara seperti itu. Yang pasti, katanya, pertimbangan Alfamart dalam memilih lokasi adalah potensi bisnisnya. Menurutnya, lokasi potensial yang dipilih berdasarkan kalkulasi kalau jalan 5 menit dapat 50 rumah. “Kalau kebetulan ada yang berdempetan dengan kompetitor, itu kebetulan saja,” ungkapnya.

Sayangnya, ketika dihubungi, pihak Indomaret yang diwakili oleh PR Manager PT Indomarco Prismatama, A Nenny K, enggan memberi komentar. “Maaf dengan menyesal, kami belum dapat memenuhi permintaan Anda. Mudah-mudahan di lain kesempatan,” kilahnya.

Namun begitu, terlihat bahwa pemilihan lokasi toko mereka dibuat berdasarkan sasaran ke kawasan perumahan, pemukiman, dan perkantoran. Target lokasi inilah yang menjadikan keduanya sering berdempetan.

Tak bisa dimungkiri, persaingan itu memang terlihat dan menjadi sesuatu yang rasional. Misalnya, persaingan keduanya dari sisi layanan. Alfamart tidak hanya menjadikan gerai-gerainya sebagai tempat belanja belaka, tapi juga menawarkan layanan dan kualitas produk. Sebagai contoh, Alfamart menyediakan member card yang memungkinkan anggotanya mendapatkan harga khusus dan layanan personal seperti hadiah ulang tahun. Minimarket ini pun mewajibkan karyawannya melakukan “tatap, senyum, sapa” untuk menjadikan “belanja puas, harga pas” sebagai trade mark Alfamart.

Hal serupa juga tampaknya dilakukan Indomaret. Dengan konsep layanan yang nyaris sama, Indomaret diperkirakan mampu menggaet omzet penjualan dari masing-masing gerai sekitar 10 juta per hari. Dari situ, setiap bulan mereka mampu meraup laba Rp 300 juta. Keuntungan itu belum termasuk pajak dan pembayaran royalti.

Plus minus
Pengamat pemasaran dari Arrbey Indonesia, Handito Hadi Joewono, mengungkapkan, kedekatan sejumlah gerai dari masing-masing pemain merupakan hal biasa sebagai strategi bisnis. Namun, menurutnya, yang menarik dari keduanya adalah latar belakang pendirian dari minimarket dari kedua pemain tersebut. Handito menuturkan, Indomaret didirikan (ketika itu masih grup Salim) dengan tujuan untuk memudahkan penetrasi pasar dari produk-produk Salim Group ke konsumen. Jadi tujuannya waktu itu lebih menyangkut coverage atau distribusi. Sementara Alfamart, yang dimiliki perusahaan rokok Sampoerna, lebih kepada pengembangan bisnis karena distribusi rokok Sampoerna sudah terbilang profesional. Artinya, tidak dimaksudkan untuk mengembangkan distribusi produk sendiri.

Dengan perbedaan latar belakang itu, maka kekuatannya pun berbeda. Menurut Handito, Indomaret lebih kuat di otletnya, di mana tampilan tokonya lebih bagus, lebih terurus, dan item produknya lebih diperhatikan. Sedangkan Alfamart dari sisi gerai tidak sebagus kompetitor. Alfamart, tegas Handito, lebih menekankan kepada bagaimana mengelola supply chain sehingga menjadi tangguh. “Ini menjadi kekuatan Alfa di masa depan dalam menghadapi goncangan,” katanya. (Tajwini Jahari/Rofian Akbar/Majalah Marketing Oktober 04)