KAJIAN yang dikeluarkan Danareksa Research Institute beberapa hari lalu sungguh merisaukan. Kalau pemerintah tak segera bertindak, maka dalam empat bulan ke depan Indonesia segera memasuki resesi.  Indikator-indikator ekonomi makro memang sulit untuk dibantah. Namun, masih ada satu celah yang membuat kita masih bisa tersenyum: indeks keyakinan konsumen masih positif. Gejala apa ini?

Semua Orang Sulit Membaca Krisis

Tak dapat disangkal lagi, dunia telah berubah menjadi sangat kompleks. Ilmu pengetahuan saja sangat tidak cukup untuk menafsirkan apa yang tengah terjadi. Maka, dua orang doktor ekonomi yang bertemu bisa saja berbeda pandangan, seperti antara Dr Sri Mulyani Indrawati dan Dr Rizal Ramli.

Yang satu meramalkan ekonomi kita akan tumbuh kisaran 5–6%,yang satunya mengatakan sekitar 3%. Kita juga semakin sulit membedakan mana ramalanramalan yang benar-benar ilmiah—bebas nilai; dan mana ramalan yang bersifat politis–populis. Sama seperti iklaniklan politik, yang satu menunjukkan ekonomi sekarang jauh lebih sulit,yang lain berteriak sebaliknya.

Kita juga sulit membedakan mana sinyal yang sengaja dikirim agar pemerintah segera bertindak (dengan spirit sense of urgency) dan mana sinyal alamiah. Itu semua diingatkan oleh pelaku sektor keuangan yang sangat disegani, George Soros,yang mengatakan telah terjadi hukum refleksivitas di dunia ini.

Inti dari hukum itu sederhana saja,bahwa manusia menafsirkan data bukan semata-mata untuk memahaminya (to understand), melainkan juga untuk memanfaatkan dan memanipulasinya demi kepentingan pribadi (to manipulate). Data-data seperti ini semakin marak saat masyarakat mulai sinis terhadap masa depan dan situasi hidupnya di hari ini.

Mereka mengajukan pandangan-pandangan seperti para politisi yang menyajikan hasil-hasil angket (policy) yang bukan sekadar menyajikan,namun diarahkan untuk membentuk opini. Kalau sudah demikian sulit, maka perilaku ekonomi masyarakat akan selalu mendua.

Di satu sisi ada kelompok yang mempercayainya sebagai suatu kebenaran, di sisi lain ada kelompok yang hanya berpegang pada apa yang dilihat sendiri di lapangan. Kelompok pertama biasanya terdiri atas mereka yang bisnisnya terkena imbas langsung dari krisis seperti para profesional di pasar modal, pemasar kondominium yang sedang kesulitan menjual, atau para eksportir produkproduk tertentu dan para pengusaha tambang yang harga produknya sedang ambruk.

Adapun kelompok kedua adalah para pengusaha yang bisnisnya sedang dapat limpahan seperti airlines domestik, retailer (departement store) tertentu, restoran, dan jasa-jasa tertentu lainnya. Bisnis limpahan ini saya sebut sebagai fenomena downshifting, yang terjadi akibat krisis.

Seperti biasa, krisis bukan hanya menghilangkan daya beli dan mengurangi pasar, melainkan juga memunculkan pasar-pasar baru. Downshifting terjadi karena saat krisis konsumen mengalihkan konsumsinya pada produk-produk yang lebih murah, lebih terjangkau.

Jadi jangan heran bila samasama pengusaha restoran pandangannya berbeda.Restoran di daerah perkantoran di Jakarta yang biasa dikunjungi eksekutif yang menjamu relasinya mungkin sudah sangat dirugikan dan merasakan langsung dampak krisis.

Sebaliknya di daerah pinggiran,menerima limpahan kunjungan karena harganya lebih murah.Itu pula yang terjadi dalam dunia pariwisata, karena kunjungan ke Bali jauh lebih murah daripada melancong ke Eropa atau Amerika Serikat.

Marketing Therapy

Selain kedua fenomena di atas, krisis ekonomi biasanya lebih banyak menelan korban para pemula yang belum berpengalaman.Para pemula ini biasanya sangat terpengaruh oleh, apa yang dikatakan orang,data-data resmi serta pemberitaanpemberitaan yang bernada negatif.

Maka, sekalipun bisnis yang mereka tekuni belum terpengaruh krisis dan konsumen mereka masih sangat optimis, bisa jadi mereka mengurangi kapasitas dan ekspansi sebelum krisis itu benar-benar datang. Mereka menyebut perbuatannya itu sebagai antisipatif dan proaktif karena mereka merasa pandai.

Padahal yang sesungguhnya terjadi tetaplah sebuah misteri dan tak seorang pun mengetahuinya. Namun, krisis yang kita pikirkan itu bisa saja datang sungguhan karena kita bertindak secara kolektif dengan pikiran yang sama. Dari berbagai pengalaman menangani krisis seperti ini, saya menyimpulkan halhal berikut.

Pertama, krisis itu sesungguhnya tidaklah melulu membawa bencana. Ia juga membawa peluangpeluang baru dan belum tentu menyerang semua pihak. Kedua, kalau Anda jeli, bisa saja Anda mendapatkan limpahan dari perginya konsumen pada segmen-segmen yang setingkat berada di atas segmen Anda.

Ketiga, krisis hanya akan menyerang perusahaan-perusahaan yang daya tahan tubuh dan mentalnya lemah. Yang terakhir tadi akan banyak Anda temui, yaitu perusahaan-perusahaan yang teamwork para pemimpinnya tidak efektif, penuh konflik dan kecurigaan, dan tentu saja yang memiliki situasi over-commitment.

Selain itu juga ditemui di perusahaan-perusahaan yang terlalu mengedepankan paperworks sehingga kurang mendorong eksekutifnya mengedepankan intuitive reasoning dalam pengambilan keputusan. Karena krisis pertamatama akan menyerang sisi revenue perusahaan, maka sudah pasti diperlukan marketing therapy.

Itu sebabnya minggu-minggu ini saya menulis buku memotivasi diri, bangkit dari keterpurukan dan membongkar core-belief anak buah-anak buahnya agar kembali bekerja dengan hukum-hukum bisnis yang baru.Kita perlu mengajukan terapi untuk mereka agar didapat cara pandang baru yang lebih positif dan optimistis, namun tetap realistis. Proses terapi ini bisa berlangsung singkat, bisa juga satu-dua minggu dengan membongkar cara-cara melihat pasar dengan paradigma baru.Selamat mencoba.

* Guru besar program MM-UI