Sebuah catatan perkuliahan sekitar perkembangan pemasaran yang semakin kompleks serta stigma yang negatif terhadap profesi Salesman dimasyarakat menempatkan marketing dipandang sebelah mata sebagai sebuah profesi, bila dibandingkan dengan profesi lainnya dengan keterikatan dengan salary dan status sosial yang tidak memungkinkan adanya remunirasi jabatan.

Padahal Konsep marketing bagi objek konsumen selalu terpokus pada Kebutuhan(need), keinginan (want), kepuasan (satisfaction) dan pencitraan positif (branch image) yang meningkatkan kualitas hidup dan kemandirian seseorang untuk lepas dari kultur priyayi yang cenderung pada profesi formal dan kehidupan tanpa adanya kemandirian.

Negara maju ada kecenderungan berkurangnya kultur primodial berubah ke kultur enterpreneurshif yang tinggi sehingga kita jumpai lebih banyak orang yang berwiraswasta dibanduingkan sebagai pemakai dan neegri kita lebih banyak customer daripada produsennya sehingga pondasi negara menjadi rapuh saat terjadinya krisis ekonomi seperti sekarang ini dengan melambungnya harga barang pokok di masyarakat.

Bagi produsen sendiri konsep marketing menyangkut dengan upaya memaksimalkan perubahan nilai guna suatu material sehingga bisa menghasilkan produk yang berkualitas, ada jaminan kemanan dan lebih memperhatikan pemeliharaan lingkungan hidup serta humanisasi SDM serta perbaikan kehidupan yang serasi antara produsen, karyawan, konsumen dan pemerintah.

perubahan nilai guna ini bisa dilihat dari kegunaan waktu (time utility), kegunaan tempat (place utility), kegunaan kepemilikan (owner utility) dan kegunaan bentuk (form utility) melalui proses produksi sehingga menghasilkan sebuah produk yang berkualitas dan aman bagi manusia.

Tentu saja porsi aktiftas marketing menempatkan posisi yang sangat fundamental dalam perusahaan dan berbagai institusi lainnya sehingga ilmu ini sebenarnya wajib diketahui oleh berbagai institusi sehingga bisa berperan dalam perubahan sosial yang positif.