Oleh : Muhaimin Iqbal*

Di dunia bisnis modern, sukses tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan produk, baik berupa barang atau jasa. Sukses bisnis bisa dilahirkan dari produk barang atau jasa yang ‘biasa-biasa’ saja, tetapi yang dibawakan secara luar biasa.

Di masa kecil saya sampai SMA misalnya, tidak terbayang minum air putih harus beli. Di kantin sekolah yang harus beli, kalau kita minum cendol, dawet, es sirup, dan sejenisnya. Tetapi sejak air putih dikemas dalam botol dan kemudian juga dalam gelas, maka air putih yang biasanya gratis ini kini menjadi barang dagangan yang laris manis, lebih laris dari kacang goreng.

Contoh lain business model yang dekat dengan kita adalah koin emas. Di pusat-pusat perdagangan emas di Jakarta, di Melawai, Cikini, dan lain sebagainya, Anda bisa jumpai banyak koin emas dari berbagi model di toko-toko. Kalau Anda tanya si engkoh yang jaga toko, apakah koin-koin emas tersebut laris dibeli orang ? Jawabannya pasti tidak.

Terkadang kolektor datang mencari koin tertentu, tetapi ini sangat jarang. Jadi tempatnya sudah berada di pusat perdagangan emas yang mudah dijangkau, produknya indah dengan kadar yang bagus, tetapi jarang dibeli orang.

Sebaliknya, kami tidak memajang barang dagangan kami berupa koin emas yang sama. Lokasi kami pun ‘ngumpet’ di Depok yang tidak mudah dijangkau oleh pasar utama kami –penduduk menengah atas Jakarta, tetapi koin emas kami laris dibeli orang. Mengapa? Karena koin emas yang sama ini kami bawakan secara berbeda. Koin emas kami istilah bisnisnya, memiliki Value Proposition yang fit dengan kebutuhan pasar kami.

Kebutuhan tersebut adalah kebutuhan akan instrumen investasi alternatif, yang juga berperan sekaligus sebagai store of value yang sempurna, yang tidak dimiliki oleh instrumen investasi lainnya selain bisnis sektor riil. Kita semua kenal ada instrumen investasi tabungan, deposito, reksadana, dlsb, yang semuanya berperan sebagai instrumen investasi tetapi tidak dapat berperan sebagai proteksi nilai –store of value– karena hasilnya akan tergerus inflasi.

Model bisnis yang tidak biasa, seperti mengemas air dalam botol atau gelas, memperkenalkan koin emas sebagai instrumen investasi dan proteksi nilai, dlsb, awalnya kelihatan ‘konyol’. Tetapi setelah pasar bisa menerimanya, hasilnya insya Allah akan luar biasa. Dalam dunia saya yang dulu, saya banyak sekali mengenal ahli-ahli investasi yang mentertawakan ide Gerai Dinar saya.

Di benak mereka saya akan membuka toko emas, tetapi tidak di pusat perdagangan emas. Dagangannya cuma satu pula, koin emas yang diberi nama Dinar. Apa menariknya? Hal yang sama saya pikir juga terjadi ketika seorang pengusaha brillian mengungkapkan idenya akan mengemas air dalam botol dan menjualnya, apa menariknya?

Dua contoh business model tersebut di atas sudah luar biasa, namun keduanya masih bisa saja merugi. Sekarang maukah Anda saya bawa ke business model yang lebih luar biasa lagi? Business model yang tidak akan pernah merugi, yaitu berbisnis dengan Allah, business model amal saleh namanya.

Berbeda dengan bisnis duniawi yang hanya berjalan dua arah; si pengusaha dengan value proposition-nya mencari untung langsung dari pembeli barang atau jasanya; dalam bisnis model amal saleh ada pembeli lain yang Dia tidak memerlukan barang atau jasa yang kita tawarkan, tetapi Dia pula yang akan membayar dengan sangat mahal. Siapa pembeli ini? Dialah Allah yang Maha Pemurah.

Barang dagangan apa yang Dia tertarik membeli dengan harga yang luar biasa ini? Harta dan jiwa kita yang kita pergunakan untuk berjuang di jalanNya. Untuk dua barang dagangan ini, bahkan dalam Al-Quran, Allah benar-benar menggunakan istilah ‘membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka, dengan memberi mereka surga…’ (QS 9:111). Di tempat lain Allah menggunakan istilah perniagaan (atau bisnis), “Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih ?” (QS 61:10).

Memang barang dagangan luar biasa yang ditawarkan Allah tersebut dalam konteks jihad, dalam arti perang di jalan Allah. Namun kalau jihad ini belum menjadi kesempatan kita, maka kini juga sangat banyak ‘pasar’ lain yang memerlukan inovasi kita untuk melayaninya; pasar ini mungkin tidak sedang memiliki daya beli untuk membeli barang dan jasa yang akan kita tawarkan; tetapi yang akan membeli tetap Dia yang Maha Kaya, yang Maha Benar janjiNya ?.

Melayani orang-orang miskin, menciptakan lapangan kerja untuk mereka, membantu saudara-saudara kita yang lagi terkena musibah, membela saudara-saudara kita yang lagi dizalimi, memperjuangkan keadilan dan kedaulatan ekonomi yang kini masih ‘terjajah’, dan masih banyak lagi pasar-pasar amal yang insya Allah pembelinya tidak pernah mengingkari janji.

Inilah model bisnis baru, yang di dunia Barat dicoba dilahirkan dengan istilah social business. Kita menyebutnya busnis amal saleh, bisnis yang tidak akan pernah merugi sebagaimana janji Allah berikut:

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan salat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi.” (QS 35 :29).

Jadi bila kita ingin bisnis yang tidak pernah merugi, jawabannya hanya satu, yaitu berbisnis dengan Allah. Mau? Insya Allah.

*Penulis adalah Direktur Gerai Dinar dan kolomnis www.hidayatullah.com

Iklan