Oleh : Mayling Oey-Gardiner

Direktur Eksekutif Insan Hitawasana Sejahtera dan Guru Besar FEUI

The outside of the Muscarelle Museum of Art at...

Image via Wikipedia

ABSTRAK

Profesionalisme dalam penelitian ditandai oleh penelitian yang bertujuan menjawab pertanyaan untuk mengetahui keadaan lingkungan realita empiris, baik fisik maupun sosial. Dalam hal ini yang dimaksud dengan penelitian adalah jenis penelitian ilmiah, yang karenanya harus mengikuti kaedah-kaedah ilmiah, termasuk sumber informasi yang dipilih secara ilmiah dan dianalisa secara ilmiah kemudian hasilnya dipertanggung jawabkan kepada publik melalui publikasi. Pentingnya publikasi adalah kemungkinan adanya tantangan replikasi oleh pihak lain, syarat mutlak dari penelitian ilmiah yang profesional. Permintaan untuk menulis tentang Profesionalisme dalam Penelitian merupakan tantangan yang menarik, terutama pada waktu ini, dunia penelitian terasa pada persimpangan jalan.

Peneliti menjadi selebriti.

Banyak yang mengaku melakukan dan menghasilkan penelitian. Namun, hingga kini jarang ada hasil penelitian orang Indonesia yang diterbitkan dalam majalah internasional yang dijadikan referensi secara internasional pula. Sementara para akademisi yang bernaung di lembaga pendidikan tinggi terus ditantang melakukan Penelitian sebagai salah satu tugas Tri Dharma, di samping Pendidikan/Pengajaran dan Pengabdian pada Masyarakat dihadang kesulitan menghasilkan penelitian akademis yang dibuktikan oleh penerbitan di majalah ilmiah terakreditasi, terlebih dalam majalah ilmiah asing, yang umumnya memang lebih ketat menilai kewajaran suatu tulisan untuk diterbitkan.1 Seperti suatu penduduk di negara lain, sebenarnya cukup banyak orang Indonesia yang sangat pandai.

Hal ini ditunjukkan oleh keberhasilan anak-anak Indonesia meraih medali emas dalam berbagai Olympiade ilmiah. Atau remaja Maria Audrey Lukito, lulusan termuda dari College of William and Mary di Williamsburg, Virginia, Amerika Serikat, dengan predikat summa cum laude pada usia belia 16 tahun. Sebenarnya, ada pula alumni FEUI yang berkiprah di dunia akademis menghasilkan banyak tulisan di berbagai jurnal ilmiah internasional, Profesor Iwan Jaya Azis.

Namun, yang bersangkutan mengajar dan berkarya tidak di Indonesia tetapi di Cornell University di Amerika Serikat, di mana usaha penelitiannya terus berkembang. 1 Publikasi hasil penelitian dalam majalah ilmiah terakreditasi, terutama dalam majalah ilmiah asing, merupakan rintangan bagi banyak dosen mencapai jabatan akademis tertinggi sebagai Guru Besar. Rupanya mengajar merupakan kegiatan yang relatif mudah bagi para dosen kita. Demikian pula dengan melakukan pengabdian pada masyarakat. Namun, menghasilkan tulisan, terutama tulisan ilmiah masih merupakan momok bagi banyak dosen. 1 Kalau demikian, maka ada ‘sesuatu’ dalam dunia akademis kita yang menghambat pengembangan dunia ilmu pengetahuan.

Pendapat umum mengatakan bahwa penyebabnya terletak pada masalah finansial, bahwa penelitian kurang lukratif, kurang menghasilkan uang. Dengan pendidikan makin berkembang sebagai industri yang lukratif (ada yang menyebutnya komersial), berkembang pula kesempatan mengajar, di luar tugas utama seorang dosen berkaitan dengan kepegawaiannya. Pengajaran demikian langsung diberi imbalan tambahan untuk setiap kali seorang datang mengajar, secara kasar seperti kuli jam-jam-an. Tentu saja, karena manusia tergerak pada insentif moneter, tidak mengherankan bahwa dosen tergerak memperoleh imbalan yang mudah di depan mata, lebih ahli mengajar berdasar komunikasi lisan, dan makin enggan melakukan penelitian yang hasilnya harus ditulis dan diterbitkan dalam majalah ilmiah, suatu usaha besar yang hasil moneternya sering kurang sepadan dibanding dengan mengajar.

Sementara, pemerintah menjawab alasan keuangan dengan menyediakan berbagai sumber dana penelitian, seperti yang disediakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional dan Kementerian Riset. Namun, hingga kini, penyediaan dana inipun belum banyak menghasilkan penelitian unggul, yang diterima untuk diterbitkan dalam majalah ilmiah asing, yang umumnya cukup ketat menerima artikel untuk diterbitkan mengingat saingan global yang sangat ketat. Dengan latar belakang ruang lingkup penelitian yang seharusnya didorong oleh desakan rasa ingin tahu mengenai lingkungan realita si peneliti, tulisan ini dilanjutkan dengan bahasan tentang berbagai cara mengetahui termasuk cara ilmiah, penelitian ilmiah.

Dari uraian tersebut dapat disimpulkan pendapat penulis mengenai peneliti yang profesional atau profesionalisme dalam penelitian. Tulisan ini ditutup dengan usaha membahas pertanyaan yang diajukan oleh Redaksi eBAR FEUI berikut. Apakah penelitian merupakan komoditas jualan? Bagaimana dengan penelitian yang dapat dipesan. Bagaimana dengan integritas peneliti menghadapi isu yang ditemukan dilapangan. Bagaimana melakukan penelitian yang mendukung kebijakan pemerintah, baik legislatif maupun eksekutif, yang bebas kepentingan? Mengapa Melakukan Penelitian? Mengapa seseorang peneliti melakukan penelitian? Biasanya, sebagai manusia, seperti anak yang belum terkontaminasi dilarang bertanya di sekolah, maka apa yang dilihatnya dilingkungannya menimbulkan berbagai pertanyaan. Anak akan mencari jawaban dari orang tuanya, bertanya MENGAPA? Orang dewasa juga (diharapkan) bertanya MENGAPA, dan mencari jawaban sendiri, bagi akademisi dan peneliti, melalui penelitian ilmiah. Sang peneliti tergerak mencari jawaban terhadap apa yang dilihatnya dalam dunia nyata, secara empiris. Dunia empiris tidak terbatas pada dunia alamiah, tetapi bisa juga dalam dunia sosial, masyarakat.

Itulah misalnya yang menggerakkan seorang Sir Isaac Newton yang mengamati jatuhnya buah apel di kebunnya di Woolsthorpe pada tahun 1665 yang menjadi inspirasi teori gravitasi, 2 yang perkembangannya kita rasakan hingga sekarang.2 Atau, kejadian di masyarakat mendorong seorang Emile Durkheim mempelajari pola pembagian kerja (Durkheim 1933) dan bunuh diri (Durkheim 1967). Kalau hasil penelitian Durkheim mengenai pembagian kerja merupakan dasar atau pendahulu pengembangan teori organisasi, maka hasil penelitiannya tentang pola bunuh diri di Perancis semasa hidupnya merupakan pendahulu cara menerangkan perilaku seseorang dalam konteks sosial atau masyarakatnya serta penyajian hasil temuannya juga merupakan pendahulu yang ampuh dalam bentuk tabel serta peta tematik.

Pengembangan teori masyarakat Indonesia oleh Boeke tentang perekonomian dualistik yang memisahkan perekonomian pribumi dan kapitalis (Boeke 1930 dalam Wertheim 1966, Boeke 1953 dalam Ranis 1963) atau Geertz (1963) tentang involusi pertanian yang mengatakan bahwa peningkatan penduduk (Jawa terutama) dan karenanya pekerja sektor pertanian berakibat pada intensifikasi pertanian tanpa menurunkan tingkat produktivitas per petani. Cara Mengetahui Sebenarnya kepuasan memperoleh jawaban atau kebutuhan rasa ingin tahu dapat diperoleh melalui berbagai cara. Buku metode penelitian sosial sering memperkenalkan bidangnya dengan mengkontraskan berbagai cara mengetahui dengan cara ilmiah.3 Beberapa sumber pengetahuan atau informasi adalah ilham, otoritas, intuisi, dan berdasarkan pengalaman sehari-hari atau sesuai dengan akal sehat. Cara mengetahui tersebut sering ada benarnya dan tidak harus bertentangan dengan memperoleh pengetahuan atau informasi secara ilmiah. Seseorang dapat saja mengatakan bahwa ia ‘mengetahui’ keputusan atau pilihan yang harus dibuatnya berdasarkan ilham.

Namun, pengambilan keputusan berdasarkan ilham saja tentu saja tidak selalu merupakan keputusan ‘terbaik’ dari segi lain. Misalnya seseorang yang memutuskan melakukan investasi berdasarkan ilham saja sebenarnya tidak mengetahui apakah keputusan tersebut merupakan keputusan yang menguntungkan karena tidak berdasarkan informasi tentang ‘kualitas’ investasi yang dibuat, dan dibandingkan dengan investasi lain. Atau, jika kita ingin mengetahui sesuatu kadang-kadang kita berpaling pada ahlinya yang dianggap memiliki otoritas, yang diperoleh karena tradisi, pendidikan/ pelatihan, sertifikasi, atau reputasi. Tokoh tradisional seperti tokoh agama dan tokoh masyarakat masih sering menjadi sumber informasi bagi banyak pengikutnya, walaupun tidak selalu berdasarkan fakta. Karena ibu dianggap paling tahu oleh anak-anaknya, larangan makan permen dan coklat karena merusak gigi diterima oleh anak-anaknya tanpa keinginan pembuktian kebenarannya. Jika seorang ahli seperti guru, dokter, ahli hukum, ekonomi, dan sebagainya, membuat pernyataan 2 Walaupun ceritera Sir Isaac Newton yang kejatuhan buah apel tersebut dipertanyakan kebenarannya.

Mereka yang mempertanyakan ceritera tersebut berpendapat bahwa teorinya sudah ada dalam benaknya dan tidak terinspirasi oleh buah apel yang jatuh tersebut (http://www.trivia-library.com/). Beberapa contoh adalah. Michael H. Walizer dan Paul L. Wienir (1978), Research Methods and Analysis; Searching for Relationships, New York: Harper & Row Publishers.

Pamela J. Shoemaker, James William Tankard, Jr., and Dominic L. Lasorsa (2004), How to Build Social Science Theories. Sage Publications, Inc. Janet M. Ruane (2005), Essentials of Research Methods, A Guide to Social Science Research. Blackwell Publishing.  berkenaan dengan bidang pendidikannya, hal tersebut diterima sebagai kebenaran. Keputusan yang diambil berdasarkan intuisi, yang sering diasosiasikan dengan perempuan, mungkin saja merupakan keputusan yang benar walaupun keputusan tersebut diambil lebih berdasarkan ‘perasaan’ dari ‘fakta’.

Masalah dengan cara mengetahui melalui intuisi adalah ketidaktahuan tentang kebenarannya karena pemilik intuisi tersebut tidak selalu mengetahui dan dapat menerangkan mengapa keputusannya terbaik. Oleh karena itu ada pula kemungkinan bahwa keputusannya salah. Apapun, keputusan berdasarkan intuisi tidak dapat diperiksa, dites. Lain lagi cara mengetahui berdasarkan pengalaman sehari-hari atau dianggap masuk akal, wajar-wajar saja (common sense). Namun, jika seorang yang sangat suka durian ditanya mengapa makanan tersebut enak, ia sukar menerangkan. Atau, keikutsertaan orang miskin dalam penebangan liar masuk akal, wajar-wajar saja, bagi pencinta lingkungan tentu saja perbuatan tersebut tidak dapat dibenarkan. Masalah dengan hal yang dianggap masuk akal adalah bahwa apa yang dianggap masuk akal bagi seorang/sekelompok orang tidak pasti masuk akal bagi orang/kelompok orang lain. Pertanyaannya adalah “masuk akal siapa yang seharusnya kita terima?” Cara Mengetahui Secara Ilmiah Berbeda dari cara mengetahui yang dibahas di atas adalah cara ilmiah.

Pendekatan ilmiah untuk mengetahui berbeda secara mendasar dari cara yang dibahas di atas dalam persyaratan berikut: (1) bahwa bukti empiris mendasari pernyataan/pengetahuan kita mengenai dunia/lingkungan kita; (2) bahwa bukti empiris tersebut diperoleh melalui observasi secara langsung atau tidak langsung tentang gejala konkrit dengan mengikuti aturan metodologi pengumpulan data secara sistematis dan ilmiah, dan (3) bahwa bukti yang digunakan untuk mendukung suatu pendapat harus dapat diulang, direplikasi, mungkin oleh studi/penelitian lain sebelum hasilnya diterima.

Syarat terakhir merupakan usaha perlindungan terhadap kesimpulan yang salah. Replikasi juga merupakan bagian penting dari dunia pengetahuan ilmiah yang menghendaki temuan teratur atau ‘hukum’ atau lebih sering kita sebut teori mengenai dunia fisik atau sosial kita (Ruane 2005). Sebaliknya pengetahuan yang diperoleh dari atau berdasarkan ilham, otoritas, intuisi, pengalaman sehari-hari atau common sense tidak dikenakan keharusan pembuktian empiris, tidak harus diperoleh berdasarkan observasi gejala konkrit dengan menggunakan metodologi pengumpulan data secara sistematis dan ilmiah, dan tidak harus tunduk pada aturan tentang kemungkinan replikasi. Etika dalam Penelitian Ilmuan peneliti tentu saja harus tunduk pada etika dalam penelitian. Salah satu syarat utama sebagai peneliti adalah kejujuran akademis. Itulah sebabnya dalam dunia ilmiah dan akademis tidak dibenarkan ‘mencuri’ atau mengambil dari orang lain tanpa yang bersangkutan mengetahuinya.

Dalam dunia ilmiah bukti seseorang ‘mencuri’ adalah perilaku plagiat, yaitu mengklaim hasil karya orang lain sebagai hasil karyanya sendiri, atau menyalin hasil karya orang lain tanpa memberi tahu bahwa hasil karya tersebut bukanlah hasil usahanya sendiri. Mengenai plagiat 4 juga tidak dibenarkan seseorang menerbitkan suatu tulisan berulang kali, yang dikenal sebagi autoplagiarism, karena yang bersangkutan tidak memberi tahu bahwa sebenarnya tulisannya tersebut telah diterbitkan sebelumnya. Kemungkinan replikasi berdasarkan bukti empiris yang diperoleh secara ilmiah itulah merupakan bagian dari transparansi dan akuntabilitas peneliti. Jadi, kalaupun hasil penelitian yang menentukan kebijakan publik dari suatu lembaga penelitian ternama ditantang oleh peneliti lain bukan peneliti tersebut dihukum, tetapi seharusnya tantangan tersebut dihargai sebagai akuntabilitas lembaga atau peneliti bersangkutan.

Sebagai contoh kontemporer, memang bukan di Indonesia, dunia sedang dihebohkan oleh terbongkarnya pemalsuan oleh Dr. Hwang Woo-suk, peneliti Korea Selatan yang dulu dipuji-puji, tetapi kini telah tercemar namanya. Skandal tersebut dibongkar oleh panel investigasi Universitas Nasional Seoul yang menguak pemalsuan data dalam dua makalah yang diterbitkan dalam jurnal Science di Amerika Serikat tahun 2004 dan 2005. Panel tersebut, yang dipimpin oleh Dr. Chung Myung-hee mengulang hasil penelitian tim Dr. Hwang dalam sebuah laporan sementara akhir Desember lalu bahwa tidak ada data yang membuktikan Dr. Hwang menghasilkan sel induk embrio sebagaimana dikatakannya dalam terbitan Mei 2005. Tentu saja, seandainya benar Dr. Hwang akan dapat menjadi kaya raya karena hasilnya bisa digunakan untuk menciptakan jaringan yang khusus secara genetis untuk mengobati penyakit seperti cedera saraf tulang belakang yang diderita superman Michael Reed, atau penyakit kronis atau degeratif lainnya. Dr. Hwang sekarang tidak lagi muncul di depan umum sebaliknya Panel menghendaki agar pelaku pemalsuan dihukum berat (Kompas 11 Januari 2006). Demikianlah etika akademis, ilmiah, bahwa aturan etika harus ditegakkan dan pelanggarnya dihukum setimpal.

Peneliti Profesional Berbagai pengertian profesionalisme. Dalam bidang sport misalnya, atlit profesional dikontraskan dengan atlit amatir. Bedanya pegolf atau petenis profesional bertanding untuk memenangkan hadiah uang sedangkan kemenangan amatir tidak selalu menghasilkan imbalan moneter. Atau, pernyataan yang sering terdengar tentang kurang profesionalnya suatu hasil umumnya dapat ditafsirkan bahwa yang dimaksud adalah bahwa hasilnya, kurang atau tidak baik, kurang bermutu. Pernyataan serupa tidak terbatas pada hasil penelitian tetapi digunakan untuk berbagai hasil, apakah kegiatan olah raga, kesenian, seminar, akademis, dan sebagainya. Menarik untuk menyimak pendapat seorang pejabat tentang peneliti profesional berikut: Menjadi seorang peneliti yang profesional harus mampu membuat suatu desain penelitian dan merumuskan untuk kebijakan pemerintah daerahnya. Untuk itu peneliti dituntut memiliki daya pikir yang kritis, analitis, dan aktual. (Kepala Seksi Bidang Profesi Fungsional Badan Diklat Provinsi Jatim, Rachmat Djamalludin, SH, Mhum, pada Pembukaan Diklat Fungsional peneliti Angkatan III dan Diklat Pengembangan Ekonomi Lokal di Kampus Badan Diklat Provinsi Jatim Balonsari Tama Surabaya, 8 Desember 2003) Tentu saja penelitian tidak hanya dilakukan untuk merumuskan kebijakan pemerintah daerahnya. Pernyataan demikian agak sempit, agak lokal. Pejabat 5 tersebut mungkin tidak tahu bahwa aturan keilmiahan penelitian terletak pada universalisme dari pengetahuan dan penemuan realita dunia.

Di samping itu perlu diingat bahwa hasil penelitian tidak secara langsung menghasilkan kebijakan yang langsung dapat diterapkan. Biasanya kalaupun suatu penelitian menghasilkan penilaian tentang perlunya kebijakan baru atau perbaikan kebijakan yang ada, hasilnya masih harus diterjemahkan menjadi kebijakan yang sesuai, yang tidak pasti merupakan keahlian peneliti bersangkutan. Kalau begitu, apakah peneliti profesional atau profesionalisme dalam penelitian? Berdasarkan bahasan di atas, penulis berpendapat bahwa peneliti yang profesional adalah peneliti yang melakukan penelitian untuk menjawab pertanyaan mengenai dunia nyata dengan mengikuti kaidah ilmiah berdasarkan fakta empiris yang diperoleh dengan mengikuti metodologi ilmiah termasuk memilih sumber informasi secara ilmiah, dan hasilnya dapat dipertanggung jawabkan, dipublikasi, terbuka terhadap kritik, dapat direplikasi. Karenanya, tentu saja peneliti profesional tidak hanya melakukan penelitian untuk perumusan kebijakan, tetapi lebih penting untuk mengembangkan pengetahuan, teori, dan hasilnya diterbitkan. Segi Komersial dari Penelitian Kalau begitu apakah penelitian dapat merupakan komoditas jualan. Menyimak kebiasaan banyak lembaga penelitian, yang berinduk pada perguruan tinggi, yang melakukan penelitian pesanan, seringnya oleh pemerintah pusat dan/ atau daerah, fakta sosialnya memang hasil penelitian merupakan komoditas jualan.

Sejak Orde Baru, baik lembaga pendidikan tinggi maupun departemen sektoral diberi dana ‘penelitian’. Suara sinis mengatakan bahwa dana untuk perguruan tinggi diberikan untuk ‘menutup mulut’ para akademisi, agar tidak mengritik pemerintah, tidak lagi berdemonstrasi menentang kebijakan pemerintah, sedangkan dana untuk departemen yang diberikan pada bagian ‘penelitian dan pengembangan’ disediakan untuk ‘mainan’ orang ‘buangan’. Memang dana yang disediakan tidak banyak sehingga memang tidak cukup untuk melakukan penelitian ilmiah yang profesional, tetapi cukup untuk menghasilkan laporan yang tebal-tebal mengisi rak buku berbagai pejabat.4 Atau, penelitian bisa pula hanya menjadi kedok untuk yang saya sebut ‘money laundering’. Penguasa dana penelitian di departemen tidak bisa memperoleh bagian dari dana tersebut kecuali dengan mengeluarkan kontrak penelitian pada pihak luar dengan pembagian antara pelaksana penelitian dan penguasa dana. Ada isu beredar, tetapi sukar dibuktikan, bahwa jumlahnya cukup besar bisa sampai 30-40 persen, atau malah lebih. Dapat dibayangkan hasil penelitian demikian. Memang lebih banyak untuk pajangan rak buku. Sebaliknya, segi komersial dari hasil penelitian tidak harus dianggap negatif. Berbagai produk yang sudah menjadi barang kehidupan sehari-hari merupakan hasil penelitian yang didorong oleh perspektif komersial.

Malahan, dorongan komersial dapat merupakan insentif yang sangat ampuh mengembangkan 4 Pada waktu itu beredar kepercayaan bahwa laporan harus setebal mungkin, terserah apapun isinya karena umumnya tidak dibaca. 6 penelitian yang profesional, yang berkualitas, seperti atlit profesional bersaing menjadi terbaik didorong oleh hadiah uang. Sekali lagi dalam kehidupan sehari-hari kita dihadapkan pada contoh hasil penelitian yang memiliki nilai komersial, mungkin sekali cukup tinggi. Heboh laporan Badan Pengawas Obat dan Makanan tentang penggunaan formalin sebagai bahan pengawet makanan yang banyak dikonsumsi rakyat seperti bami basah, tahu, ikan asin maupun segar.

Dalam jangka panjang formalin bisa merusak limpa, sel-sel otak, saraf dan juga penyebab kanker. Terkuaknya berita tersebut membuka kesempatan bagi pemasaran Chitosan hasil penelitian Departemen Teknologi Hasil Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor (THP FPIK IPB) yang dipimpin oleh Dr. Linawati Hardjito. Malahan Chitosan lebih murah dari formalin sebagai bahan pengawet makanan. Penelitian untuk Mencari Kebenaran Bukan Pembenaran Intinya seorang ilmuan peneliti bertujuan mencari kebenaran tentang lingkungan empirisnya bukan mencari pembenaran. Jadi, jika seseorang mengaku dirinya seorang peneliti yang ingin menyenangkan kliennya dengan membenarkan kesimpulan kehendak kliennya bukan menghasilkan kesimpulan sesuai dengan fakta empiris yang diperoleh secara ilmiah, maka tentu saja yang bersangkutan bukanlah seorang peneliti ilmuan.

Ada pula yang mengaku melakukan penelitian dengan tujuan menyampaikan ‘hasil temuan di lapangan atau bukti empiris’ yang telah dipilah-pilah sesuai dengan pendapat yang telah terbentuk sebelumnya (preconceived ideas). Tentu saja penelitian demikian tidak dapat disebut penelitian ilmiah dan peneliti dan/atau lembaga pendukungnya tidak dapat disebut memiliki integritas ilmiah. Pencarian pembenaran bukan kebenaran banyak didukung oleh penelitian yang sayangnya juga dilakukan oleh staf akademis. Sering terdengar bahwa ketidak sediaan memberikan kesimpulan yang membenarkan kehendak klien akan berakibat pada tidak akan adanya kelanjutan dari hubungan mesra dengan klien, atau bahasa lain yang sering digunakan adalah ‘nanti tidak dapat proyek lagi’. Pengalaman pribadi penulis yang didorong oleh pimpinan agar menyesuaikan kesimpulan dengan kehendak klien tetapi tidak dilakukan oleh penulis dan penulis tidak tahu, dan juga tidak ingin tahu, hasil akhir laporan penelitian tersebut. Pada waktu itu banyak pejabat berkepentingan memberikan kredit, yang cukup lukratif untuk pemberi kredit dari ‘komisi’ yang dapat diperolehnya.

Namun, hasil penelitian terhadap usaha kecil dan menengah berkesimpulan bahwa kebutuhan utama pengusaha bukanlah kredit melainkan bantuan pemasaran, yang sayangnya tidak dapat diberikan oleh klien bersangkutan, dan juga kurang lukratif. Walaupun demikian, penulis tidak merasakan akibat negatif ‘tidak dapat proyek lagi’ karena hingga sekarang selama berpuluh tahun penulis tetap menjadi peneliti. Penelitian Pesanan Sebagaimana telah dibahas di atas, penelitian pesanan tentu saja sangat tidak terpuji dan merusak kredibilitas lembaga penelitian dan perguruan tinggi. Biasanya penelitian demikian tidak dibutuhkan karena yang dibutuhkan adalah kemungkinan pencairan dana.

Oleh karenanya hasilnya juga tidak dihargai. Penelitian demikian sering tidak harus mengikuti kaidah ilmiah karena memang juga tidak diperlukan dan klien juga tidak akan membaca hasilnya. Yang dibutuhkan adalah ‘bukti’ bahwa penelitian telah dilakukan, dengan menunjuk pada ‘hasil’ berupa sejumlah kopi laporan, yang dapat ditunjukkan pada bagian keuangan agar dana dapat dicairkan. Atau banyak pula penelitian kebijakan yang hasilnya merupakan dokumen rahasia, tertutup bagi publik, hanya diketahui oleh pejabat, terlebih jika hasilnya tidak sesuai dengan harapan pejabat. Penulis berpengalaman bekerja sama dengan instansi asing yang menghasilkan dokumen penelitian kebijakan yang rahasia, hanya untuk mata pejabat bersangkutan. Tentu saja hasil penelitian demikian tidak diharuskan mengikuti salah satu kaedah ilmiah penting, kemungkinan direplikasi oleh pihak lain. Keadaan demikian tentu saja sangat tidak mendukung perkembangan keilmuan kita, juga dapat merugikan rakyat yang pada dasarnya telah membiayai penelitian tersebut.

Kalau demikian, mungkinkah penelitian profesional dilakukan untuk mendukung kebijakan pemerintah, baik legislatif maupun eksekutif, yang bebas kepentingan? Tentu saja posisi penulis sudah nyata. Penelitian yang bertujuan mendukung kebijakan pemerintah tidak mungkin bebas kepentingan. Peneliti yang menempatkan dirinya dalam posisi demikian sudah tidak obyektif, tidak berperilaku sebagai ilmuwan yang bebas nilai karena bersedia membenarkan apapun yang dilakukan oleh pemerintah. Ia bukan peneliti ilmiah yang profesional. Kalau demikian apakah ada tempat bagi peneliti ilmiah untuk melakukan penelitian pesanan secara profesional. Tentu saja masih ada dan pasarnya cukup luas, tidak hanya secara global tetapi juga di Indonesia. Terdapat cukup banyak perusahaan penelitian, termasuk yang melakukan penelitian pasar (market research), penelitian sosial, penelitian obat-obatan, atau penelitian kebijakan. Di antara mereka ada yang melakukan penelitian pesanan secara profesional, mengikuti kaedah ilmiah, menghasilkan temuan sesuai dengan kenyataan empiris. Kebenaran hasilnya kesimpulannya berani mereka pertanggung jawabkan dengan membuka diri pada tantangan kemungkinan pengulangan oleh peneliti lain, jika memang dikehendaki.

 

REFERENCES

Boeke, J.H. (1930), ‘Dualistische Economie (Dualistic Economy), Inaugural Lecture of Professor Boeke at the University of Leiden, reprinted in W.F. Wertheim (1966), Indonesian Economics: The Concept of Dualism in Theory and Practice, W. van Hoeve, The Hague. Boeke, J.H. (1953), ‘Economies and Economic Policy in Dual Societies’, Institute of Pacific Relations, dalam Gustav Ranis (1963) Is Dualism Worth Revisiting? Yale University (http://www.econ.yale.edu/~egcenter/ Durkheim, Emile (1933), Division of Labor in Society. Free Press (English translation).

Durkheim, Emile (1951, 1967), Suicide, A Study in Sociology. Translated by John A. Spaulding and George Simpson, Free Press.

Geerz, Clifford (1963), Agricultural Involution: The Process of Ecological Change in Indonesia, University of California Press, dalam Gustav Ranis (1963) Is Dualism Worth Revisiting? Yale University (http://www.econ.yale.edu/~egcenter/.

Kompas (11 Januari 2006), ‘Hwang, Sang Peneliti Terkenal, Dipermalukan, bersumber pada AP/REUTERS/AFP/DI.

Ruane, Janet M. (2005), Essentials of Research Methods, A Guide to Social Science Research. Blackwell Publishing.

Shoemaker, Pamela J., James William Tankard, Jr., and Dominic L. Lasorsa (2004), How to Build Social Science Theories. Sage Publications, Inc.

Walizer, Michael H. dan Paul L. Wienir (1978), Research Methods and Analysis; Searching for Relationships, New York: Harper & Row Publishers. Jakarta, 16 Januari 2006

Iklan