Pengertian
Riba menurut pengertian bahasa berarti tambahan (az-ziyadah), berkembang (an-nuwuw), meningkat (al-irtifa’), dan membesar (al-‘uluw). Dengan kata lain riba adalah penambahan, perkembangan, peningkatan, dan pembesaran atas pinjaman pokok yang diterima pemberi pinjaman dari peminjam sebagai imbalan karena menangguhkan atau berpisah dari sebagian modalnya selama periode waktu tertentu.

Menurut Sayyid Sabiq dalam kitab Fikih Sunah, yang dimaksud riba adalah tambahan atas modal baik penambahan itu sedikit atau banyak. Demikian juga menurut Ibn Hajar ‘Askalani, riba adalah kelebihan, baik dalam bentuk barang ataupun uang.

Sementara itu pengertian senada juga dilontarkan oleh sebagian besar ulama sepanjang sejarah Islam dari berbagai mazhab fiqhiyah, di antaranya sebagai berikut:

a)      Badr ad-Din al-Ayni, pengarang Umdatul Qari Syarah Shahih al-Bukhari
Prinsip utama dalam riba adalah penambahan. Menurut syariah, riba berarti penambahan atas harta pokok tanpa adanya transaksi bisnis riil.”

b)      Imam Saraskhi dari Mazhab Hanafi
Riba adalah tambahan yang disyaratkan dalam transaksi bisnis tanpa adanya iwadh (padanan) yang dibenarkan syariah atas penambahan tersebut.”

c)      Raghib al-Asfahani
Riba adalah penambahan atas harta pokok.”

d)     Imam Nawawi dari Mazhab Syafi’i
Salah satu bentuk riba yang dilarang Al Quran dan as-Sunah adalah penambahan atas harta pokok karena unsur waktu. Dalam dunia perbankan, hal tersebut dikenal dengan bunga kredit sesuai lama waktu perjanjian.”

e)      Qatadah
Riba jahiliyyah adalah seseorang yang menjual barangnya secara tempo hingga waktu tertentu. Apabila telah datang saat pembayaran dan si pembeli tidak mampu membayar, ia memberikan bayaran tambahan atas penangguhan.”

f)       Zaid bin Aslam
Yang dimaksud dengan riba jahiliyyah yang berimplikasi pelipatgandaan sejalan dengan waktu adalah seseorang yang memiliki piutang atas mitranya. Pada saat jatuh tempo, ia berkata, ‘Bayar sekarang atau tambah’.”

g)      Mujahid
Mereka menjual barang dagangannya dengan tempo. Apabila jatuh tempo dan (tidak mampu bayar), si pembeli memberikan ‘tambahan’ atas tambahan waktu.”

h)      Ja’far ash-Shadiq dari Kalangan Syi’ah
Ja’far ash-Shadiq berkata ketika ditanya mengapa Allah SWT mengharamkan riba, ia menjawab,
“Supaya orang tidak berhenti berbuat kebajikan. Hal ini karena ketika diperkenankan untuk mengambil bunga atas pinjaman, seseorang tidak berbuat makruf lagi atas transaksi pinjam-meminjam dan sejenisnya, padahal qard bertujuan untuk menjalin hubungan yang erat dan kebajikan antar manusia.”

i)        Imam Ahmad bin Hanbal, pendiri mazhab Hanbali.
Ketika Imam Ahmad bin Hanbal ditanya mengenai riba, ia menjawab,
Sesungguhnya riba itu adalah seseorang memiliki utang maka dikatakan kepadanya apakah akan melunasi atau membayar lebih. Jikalau tidak mampu melunasi, ia harus menambah dana (dalam bentuk bunga pinjam) atas penambahan waktu yang diberikan.”

Dalil-dalil tentang riba
Dalil-dalil tentang riba terdapat dalam Al Quran, as-Sunah, Ijma’ maupun berdasar pada kaidah fiqhiyah.
a) Al Quran
Ayat-ayat yang membicarakan tentang riba di dalam Al Quran diturunkan secara bertahap, yaitu sebanyak empat tahapan. Secara urut tahap-tahap penurunan ayat-ayat tersebut adalah, tahap pertama; surat Ar-Rum ayat 39, kedua; surat An-Nisa’ ayat 160 – 161, ketiga; surat Ali Imron ayat 130, dan tahap terakhir adalah surat Al Baqarah ayat 275 – 279.

1) Ar Rum: 39
Dan, sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia menambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipatgandakan (pahalanya).
Ayat tersebut menolak anggapan bahwa pinjaman riba yang pada zahirnya seolah-olah menolong mereka yang memerlukan sebagai suatu perbuatan mendekati atau taqarrub kepada Allah.

2) An-Nisa’: 160-161
Maka disebabkan kelaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan atas mereka (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah, dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih.
Ayat tersebut menggambarkan bahwa riba adalah sesuatu yang buruk, kemudian Allah SWT mengancam akan memberi siksa berat kepada orang Yahudi yang memakan riba.

3) Ali Imron: 130
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.

4) Al Baqarah 275-279
Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (2:275)
“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.” (2:276)

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan sembahyang dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (2:277)

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman.” (2:278)

“Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertobat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.” (2:279)

Mengenai kandungan dari kelima ayat (2: 275-279) tentang riba yang tersebut di atas tertulis dalam rincian sebagai berikut:

  1. Ilustrasi pemakan riba digambarkan sebagai orang yang tidak dapat berdiri secara benar seperti orang yang kerasukan syaitan. Fenomena ini terjadi nanti di akhirat setelah hari kebangkitan serta di dunia, mereka gila akibat mengejar materi dan tidak pernah puas atau selalu meminta tambahan mangsa.
  2. Bantahan atas dalil akal-akalan mengidentikkan riba dengan jual beli, mereka berpendapat bahwa jual beli itu sama dengan riba, padahal jual beli mendatangkan untung dan riba mendatangkan bunga. Mereka menyebut riba sama dengan jual beli. Asumsi keliru tersebut dibantah oleh Al Quran secara tegas, lugas dan tajam. “Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”. Jadi tidak ada lagi dalih dan ijtihad. Allah tidak menghalalkan kecuali yang baik dan tidak mengharamkan kecuali yang keji dan kotor. Karena Allah maha mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui”.

3) Allah membuka pintu ampunan bagi orang yang ingin bertobat, setelah datangnya pemberitaan dari Allah. Jika tidak, maka ancamannya kekal dalam neraka sebagai tempat kembali yang amat buruk.

4) Ancaman Illahi akan memusnahkan riba di satu sisi, dan janjinya yang akan menyuburkan sedekah. Tetapi secara tegas pelaku riba disiksa dengan azab tanpa mereka sadari saat ini, adanya malapetaka hancurnya sistem ekonomi, sabda rasul:
”Apabila riba dan zina sudah merata di suatu daerah, maka mereka telah menghalalkan dirinya untuk mendapat siksa dari Allah.” (HR. Hakim dan Abu Ya’la dengan sanad hasan)

5) Ancaman Allah sangat keras bagi pemakan riba, karena mereka memiliki dua karakter yang berbahaya, yaitu berlebihan dalam kekafiran dan keterlaluan dalam dosa.

6) Al Quran memerintahkan agar melepas seluruh sisa-sisa riba berapapun besarnya, dan mengisyaratkan bahwa orang yang berpaling dari perintah Allah ini bukanlah orang beriman.

7) Celakalah bagi orang yang diperangi Allah dan Rasulnya, tidak meninggalkan riba maka Allah dan RasulNya mengancam keras akan memeranginya pasti dia akan hancur dan konyol.

8) Al Quran mengakhiri pembicaraan tentang kasus riba dengan memperingatkan mengenai hari pertemuan dengan Allah SWT, yang pada hari itu tak seeorang pun dapat menolong orang lain. Masing-masing bertanggung jawab atas dirinya sendiri.

b) As Sunah
1) “Diriwayatkan oleh Samurah bin Jundub bahwa Rasulullah saw. Bersabda, “malam tadi aku bermimpi, telah datang dua orang dan membawaku ke tanah suci. Dalam perjalanan, sampailah kami ke suatu sungai darah, di mana di dalamnya berdiri seorang laki-laki. Di pinggir sungai tersebut berdiri seorang laki-laki lain dengan batu di tangannya. Laki-laki yang di tengah sungai itu berusaha untuk keluar, tetapi laki-laki yang di pinggir sungai itu tadi melempari mulutnya dengan batu dan memaksanya kembali ke tempat asal. Aku bertanya, “siapakah itu? Aku diberitahu bahwa laki-laki yang di tengah sungai itu ialah orang yang memakan riba.(HR. Bukhari)

2) “Jabir berkata bahwa rasulullah saw mengutuk orang yang menerima riba, orang yang membayarnya, dan orang yang mencatatnya, dan dua orang saksinya, kemudian beliau bersabda, mereka itu semuanya sama.” (HR. Muslim)

3) “Riba itu mempunyai 73 pintu (tingkatan), yang paling rendah (dosanya) sama dengan seorang yang melakukan zina dengan ibunya.” (HR. Al Hakim jilid II hal 37; Ibnu Majah, Hadits no. 2278, dan Ibnu Mas’ud dengan sanad yang sahih)

4) “Sungguh akan datang pada manusia suatu masa tiada seorangpun di antara mereka yang tidak akan memakan riba. Siapa saja yang berusaha tidak akan memakannya, maka ia akan tetap terkena debu (ribanya)” (HR. Ibnu Majah, hadits no. 2278; dan sunah Abu Dawud, hadits no. 3331; dan Abu Hurairah)

c) Ijma’
Seluruh ulama sepakat bahwa riba diharamkan dalam Islam.

d) Qaidah Fikih
1) Ustadz Dja’far Amir menuliskan kaidah kesepuluh:
Sesuatu yang haram diambil atau diperolehnya, maka haram pula memberikannya kepada orang lain”.
Dasar kaidah di atas adalah firman Allah SWT, Q.S Al Hasyr:7
Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumanNya.

2) Kaidah keduapuluh enam dari buku Qaidah Ushuliyah dan Fiqhiyah:
“Apa saja yang penggunaannya diharamkan, maka diharamkan pula memperolehnya.”

3) Mirip dengan kaidah di atas:
“Apa-apa yang haram menjalankannya, maka haram pula mencarinya.”

4) Dalam buku Asnawi dikutip dari Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah, cetakan 12 (Bandung: al Ma’arif, 2001) XII: 44:
“Apa-apa yang mendekati sesuatu, hukumnya sama dengan sesuatu itu.”

Macam-macam riba
Macam-macam riba menurut sebagian besar ulama, terbagi menjadi dua, yaitu riba fadhl dan riba nasi’ah.
Sedangkan menurut Syafi’i secara garis besar riba dikelompokkan menjadi dua. Masing-masing adalah riba utang-piutang dan riba jual beli. Kelompok pertama terbagi lagi menjadi riba qardh dan riba jahiliyah. Adapun kelompok kedua terbagi menjadi riba fadhl dan riba nasiah.

a. Riba Qardh
Suatu manfaat atau tingkat kelebihan tertentu yang disyaratkan terhadap yang berutang (muqtaridh).

a. Riba Jahiliyah
Utang dibayar lebih dari pokoknya karena si peminjam tidak mampu membayar utangnya pada waktu yang ditetapkan.

b. Riba Fadhl
Riba fadhl disebut juga riba buyu yaitu riba yang timbul akibat pertukaran barang sejenis yang tidak memenuhi kriteria sama kualitasnya, sama kuantitasnya, dan sama waktu penyerahannya.

c. Riba Nasiah
Riba nasiah disebut juga riba duyun yaitu riba yang timbul akibat utang piutang yang tidak memenuhi kriteria untung muncul bersama resiko dan hasil usaha muncul bersama biaya.

Bunga
Pengertian
Berbagai pendapat mengenai pengertian dari bunga antara lain sebagai berikut:

Pertama, Maulana Muhammad Ali mengatakan bahwa sistem bunga yang dimaksud adalah tambahan pembayaran atas uang pokok pinjaman.

Kedua, menurut Karnaen Perwataatmaja, bunga adalah biaya yang dikenakan kepada peminjam uang atau imbalan yang diberikan kepada penyimpanan uang yang besarnya telah ditetapkan di muka, biasanya ditentukan dalam bentuk prosentase dan terus dikenakan selama masih ada sisa simpanan atau pinjaman sehingga tidak hanya terbatas pada jangka waktu kontrak.

Ketiga, bunga adalah tambahan yang dikenakan untuk transaksi pinjaman uang yang diperhitungkan dari pokok pinjaman tanpa mempertimbangkan pemanfaatan atau hasil pokok tersebut, berdasar tempo waktu, dan diperhitungkan secara pasti di muka berdasarkan prosentase.

Keempat, pengertian bunga dapat dilihat dari batasan-batasan bunga, antara lain:
a. Bunga adalah tambahan yang dibayarkan pada transaksi pinjam meminjam .
b. Besarnya tambahan pada bunga ditetapkan di muka.
c. Besarnya tambahan pada bunga dihitung berdasarkan prosentase pokok modal yang dihitung dalam satuan tahun.

Dari berbagai pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa, bunga adalah tambahan yang dibayarkan pada transaksi pinjam meminjam di mana tambahan itu ditetapkan di muka berdasarkan prosentase pokok modal.

1. Karakateristik Bunga
Bunga sebagai alat untuk mendapatkan keuntungan pada bank-bank konvensional mempunyai beberapa karakteristik, yang sesungguhnya apabila dilihat dari karakteristik-karakteristik tersebut dapat menggambarkan bentuk kedzaliman dalam bunga. Karakteristik tersebut antara lain:
a. Penentuan bunga dibuat pada waktu akad dengan asumsi harus selalu untung.
b. Besarnya prosentase berdasarkan pada jumlah uang (modal) yang dipinjamkan.
c. Pembayaran bunga tetap seperti dijanjikan tanpa pertimbangan apakah proyek yang dijalankan oleh pihak nasabah untung atau rugi.
d. Jumlah pembayaran bunga tidak meningkat sekalipun jumlah keuntungan berlipat atau keadaan ekonomi sedang booming.
e. Eksistensi bunga diragukan (kalau tidak dikecam) oleh semua agama termasuk Islam.

2. Akibat negatif penerapan sistem bunga
Beberapa akibat negatif diterapkannya sistem bunga antara lain:

a. Masyarakat sebagai nasabah menghadapi suatu ketidakpastian, bahwa hasil perusahaan dari kredit yang diambilnya tidak dapat diramalkan secara pasti, sementara itu dia tetap wajib membayar prosentase berupa pengambilan sejumlah uang tertentu yang tetap berada di atas jumlah pokok pinjaman, hal ini akan semakin memberatkan nasabah karena dengan penetapan prosentase jumlah bunga akan menjadi kelipatan perseratus dari sisa pinjaman dikalikan jangka waktu pinjaman, sehingga dalam jangka waktu tertentu bisa terjadi suatu saat jumlah yang harus dikembalkan nasabah berlipat ganda dari pokok pinjaman.

b. Penerapan sistem bunga mengakibatkan eksploitasi atau pemerasan oleh orang kaya terhadap orang miskin, hal ini karena modal besar yang dikuasai oleh orang kaya tidak disalurkan ke dalam usaha-usaha produktif yang dapat menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat, melainkan modal besar itu justru digunakan untuk kredit berbunga yang tidak produktif.

c. Sistem perbankan dengan bunga memiliki kecenderungan terjadinya konsentrasi kekuatan ekonomi di tangan kelompok elit, para bankir dan pemilik modal. Selanjutnya alokasi kekayaan yang tidak seimbang ini bisa menimbulkan kecemburuan sosial yang pada akhirnya dikhawatirkan akan mengakibatkan kerawanan berupa konflik antar kelas sosial.

d. Bunga dalam perbankan akan dapat menimbulkan laju inflasi semakin tinggi, karena ada kecenderungan bank-bank untuk memberikan kredit secara berlebih-lebihan, selain itu dalam makro ekonomi seringkali suku bunga dan laju inflasi berkaitan erat, di satu pihak inflasi dianggap sebagai sumber penurunan daya beli yang terjadi karena jumlah uang yang beredar terlalu besar, sehingga untuk menangkalnya harus mengurangi jumlah uang yang beredar. Untuk mengurangi jumlah uang yang beredar bank sentral sebagai penentu kebijakan akan meningkatkan suku bunga, tingginya suku bunga akan mengakibatkan laju investasi terhambat, hilangnya kesempatan kerja, menurunya pertumbuhan ekonomi, berkurangnya kesejahteraan sosial serta penderitaan usaha-usaha kecil peminjam dana.

e. Dalam jangka panjang sistem bunga akan merusak lingkungan terutama pada negara-negara kreditur, yaitu dengan mengeksploitasi sumber daya alam secara besar-besaran untuk menutupi atau membayar utang dan bunganya kepada negara debitur.

3. Kontroversi Masalah Bunga
Sebagian besar ulama mengatakan bahwa suku bunga dalam perbankan adalah termasuk dalam kategori riba yang diharamkan dalam Al Quran dan As Sunah, namun sampai saat ini masih saja terdapat perbedaan pendapat di kalangan pemikir dan fikih Islam mengenai hal tersebut, apakah ia boleh dimanfaatkan ataukah haram untuk dimanfaatkan.

Pendapat-pendapat yang membolehkan suku bunga perbankan itu antara lain sebagai berikut:
a. Islam telah melarang riba, tetapi bukan melarang bunga bank. Mereka berpendapat bahwa bunga yang dibayarkan pada pinjaman investasi dalam kegiatan produksi tidak bertentangan dengan hukum Al Quran, karena hukum tersebut hanya mengacu pada riba yang bermakna pinjaman yang bukan untuk produktif di masa pra Islam. Di masa itu orang tidak mengenal pinjaman produktif dan pengaruhnya pada perkembangan ekonomi.

Jawaban dari pernyataan tersebut adalah bahwa secara mutlak Allah telah melarang praktek riba seperti disebutkan dalam Al Baqarah ayat 275-279.

Praktek membungakan uang biasa dilakukan oleh individu atau lembaga keuangan. Individu atau badan hukum yang meminjamkan uang kepada perorangan atau menyimpan uangnya di lembaga keuangan, maka akan memperoleh imbalan yang disebut bunga simpanan.

Sebaliknya individu atau badan hukum yang meminjam uang harus mengembalikan uang yang dipinjam dengan tambahan, sehingga disebut bunga pinjaman. Dari peristiwa tersebut tercatat beberapa hal:

  1. Bunga adalah tambahan terdapat uang yang disimpan pada lembaga keuangan atau uang yang dipinjamkan.
  2. Besarnya bunga yang harus dibayar ditetapkan di muka tanpa mempedulikan peminjam berhasil dalam usaha atau tidak.
  3. Besar bunga yang harus dibayar dicantumkan dalam angka prosen (%) dalam setahun.

Oleh karena itu, menyebut riba dengan nama bunga tidak akan merubah sifatnya. Sehingga larangan terhadap riba berarti dilarangnya semua jenis ekses atas modal yang dipinjam, entah disebut bunga yang tinggi, bunga rendah ataupun penghasilan modal. Demikian pula tidak tepat mengatakan bahwa masa pra Islam pinjaman tidak diberikan untuk tujuan produksi (Mannan, 1997: 120).

Praktik riba di jaman Rasul menunjukkan bahwa orang Yahudi Madinah meminjamkan tidak hanya untuk tujuan konsumsi saja, tetapi juga untuk perdagangan. Pada kenyataannya, perbedaan antara pinjaman produktif dengan yang tidak produktif adalah perbedaan dalam tingkat. Jika bunga pada konsumsi berbahaya, maka bunga pinjaman produktif sebenarnya juga berbahaya, karena dimasukkan dalam biaya produksi sehingga akan berpengaruh menaikkan tingkat harga. Dari penjelasan tersebut dapat dipahami bahwa riba yang dilarang Allah (terhadap orang Arab pada masa lalu) sama dengan bunga pada praktek perbankan saat ini (Mannan, 1997: 120).

b. Hanya bunga yang berlipat ganda saja yang dilarang, adapun jika bunga yang wajar dan tidak mendzalimi diperkenankan. Mereka berpendapat bahwa huruf “al” pada lafadz “wa harrama al-riba” menunjuk kepada sesuatu yang telah disebut terdahulu. Sementara kalam Allah di sini telah mendahului dengan kalam yang lain tentang riba, maka riba dalam ayat tersebut mencakup riba yang disebut dan dijelaskan sebelumnya, artinya riba yang dilarang oleh Allah dalam surat Ali Imron ayat 130 “Laa ta’kulu al-riba adl’aafan mudlaa’afah” maka diharamkan riba yang berlipat ganda, adapun jika tidak berlipat ganda tidak dilarang.
Jawaban dari pernyataan tersebut di atas adalah, bahwa:

  1. Pentakhsisan ayat tentang riba yaitu, surat Ali Imron ayat 130 terhadap surat Al Baqarah ayat 275 tidak berlaku, hal ini disebabkan karena Surat Ali Imron ayat 130 turun terlebih dahulu daripada surat Al Baqarah ayat 275, dan surat Al Baqarah ayat 275 merupakan ayat tentang riba yang turun paling akhir.
  2. Pentakhsisan ayat tidak berlaku karena ayat tersebut tidak memenuhi syarat untuk diambil mafhum mukhalafahnya, jika ayat tersebut menunjuk kepada fakta yang terjadi pada waktu itu.
  3. Kenyataan yang terjadi pada saat ini bahwa suku bunga perbankan adalah suku bunga majemuk dan berlipat ganda.

c. Dalam keadaan dharurat bunga halal hukumnya, sebab apabila tidak ada bunga bank, sistem perbankan menjadi tidak bernyawa dan seluruh perekonomian akan lumpuh, karenanya tidak mungkin lepas dari bunga bank atau bisa dikategorikan sebagai kondisi dharurat.
Jawaban dari pernyataan tersebut adalah, bahwa kebolehan mengambil dalil dharurat harus memenuhi syarat, antara lain:

  1. Terpaksa
  2. Menurut Imam Suyuthi kondisi dharurat adalah “suatu keadaan yang gawat dharurat (emergency) di mana jika seseorang tidak melakukan suatu tindakan dengan cepat, maka akan membawanya ke jurang kehancuran dan kematian” (Kitab Al Asybah Wan Nadhair)
  3. Tidak menginginkan
  4. Tidak melampaui batas

Sementara itu, fakta tentang suku bunga perbankan apabila dihubungkan dengan permasalahan ini adalah, bahwa: pertama; apabila tidak mengambil bunga tidak menyebabkan kematian secara cepat, kedua; banyak alternatif yang dapat dilakukan seseorang untuk memperoleh penghasilan yang halal, ketiga; sistem perbankan bukan hanya dengan berdasar konsep bunga saja, tetapi bank masih dapat berjalan dengan konsep bagi hasil.

Oleh karena itu, kesimpulannya adalah, bahwa adanya suku bunga perbankan tidak bisa dikatakan dalam kondisi dharurat sehingga hukum bunga bank tidak bisa berubah menjadi mubah atau halal.

d. Sesuatu yang diterima dari si peminjam dianggap sebagai pinjaman kebaikan, yaitu sumbangan dari pihak peminjam kepada pihak yang menyimpan uangnya di bank, sumbangan yang diberikan peminjam kepada pihak yang meminjamkan melalui bank dimaksudkan sebagai rasa terima kasih atas bantuan yang telah diberikan. Dalil yang dipergunakan untuk membenarkan praktek tersebut adalah hadits Bukhori dan Muslim, bersumber dari Abu Hurairah, ia berkata:

“Nabi saw punya tanggungan hutang kepada seorang laki-laki berupa seekor unta. Suatu hari laki-laki itu datang untuk menagih beliau, nabi saw bersabda: “Berikanlah padanya”. Para sahabat lalu mencari unta yang dimaksud tetapi mereka tidak mendapatkannya selain daripada seekor unta (yang mutunya) seatasnya. Nabi saw bersabda: berikan unta ini kepadanya”. Laki-laki tadi berkata: anda telah memenuhiku, mudah-mudahan saja Allah pun memenuhi anda”. Nabi saw bersabda: “Sesungguhnya sebaik-baiknya kalian adalah yang paling baik dalam membayar hutangnya”. (HR. Imam Bukhari dan Muslim)

Jawaban dari pernyataan di atas adalah

  1. Dalam mengembalikan unta pinjamannya nabi tetap mengembalikan seekor unta, yang membedakan pengembalian nabi adalah dalam hal kualitasnya saja.
  2.   Secara konsep, pinjaman kebaikan (qardh) tidak sama dengan bunga, yaitu dengan alasan: Pertama, qardh tidak diperjanjikan di muka, sementara suku bunga diperjanjikan di muka. Kedua, qardh besarnya tidak ditentukan sedangkan besarnya suku bunga ditentukan berdasarkan prosentase pokok modal. Ketiga, qardh diberikan atas dasar kerelaan pihak yang meminjam sedangkan suku bunga mengikat perjanjian transaksi pinjam meminjam.  Keempat, jika qardh tidak diberikan tidak ada konsekuensi apapun, sedangkan dalam suku bunga terdapat konsekuensi hukum.

e. Jumlah uang masa kini mempunyai nilai yang lebih tinggi daripada jumlah yang sama di masa yang akan datang, oleh karena itu bunga yang diberikan dimaksudkan untuk mengimbangi penurunan nilai antara daya beli uang. Dengan kata lain bunga diberikan untuk mengimbangi laju inflasi yang mengakibatkan menyusutnya nilai uang tersebut.

Jawaban dari pernyataan di atas adalah, bahwa adanya suku bunga terhadap uang justru menimbulkan inflasi, yaitu dengan alasan bahwa ada kecenderungan bank-bank untuk memberikan kredit secara berlebih-lebihan. Dengan suku bunga yang rendah, maka orang akan berbondong-bondong untuk memanfaatkan kredit dari bank, sehingga jumlah uang beredar meningkat. Meningkatnya JUB dalam masyarakat akan mendorong meningkatnya permintaan akan barang-barang, sehingga mendorong harga-harga naik, dan terjadilah inflasi. Inflasi seperti ini biasa disebut dengan Demand Pull Inflation (DPI), atau inflasi karena permintaan agregat tinggi (naik) sementara penawaran agregat tetap (konstan).

Oleh karena itu kesimpulannya adalah, karena suku bunga uang sebagai penyebab inflasi maka suku bunga uang sebaiknya dihapus, bukan sebaliknya.

Iklan