George A. Akerlof & Robert J. Shiller, Animal Spirits: How Human Psychology Drives the Econoy and Why It Matters for Global Capitalism, Princeton University Press, Maret 2009, 230 Halaman.

Strategi manajemen organisasi sumber daya manusia (SDM) didalamnya termasuk bagaimana cara manusia itu meredam emosi, dalam hal ini di khususkan tentang bagaimana meredam nafsu kebinatangan dalam ekonomi.

Ekonom besar J.H.Keynes pernah mengatakan bahwa ekonomi tidak hanya dikendalikan oleh aktor ekonomi klasik, melainkan juga dipengaruhi oleh nafsu kebinatangan (animal spirit) yang ada diantara para individu pelaku ekonomi yang tidak rasional. Manusia ternyata memiliki pula motivasi nonekonmi dalam tindakan ekonomi, dan manusia tidak selalu rasional dalam memenuhi kepentingan ekonominya. Dalam pandangan Keynes, nafsu kebinatangan yang ada pada pelaku ekonomi inilah yang serinh kali menimbulkan gejolak ekonomi, tetapi factor nonekonomi ini sering berada di luar pertimbangan para ahli ekonomi.

Pembahasan mengenai nafsu kebinatangan dalam ekonomi yang pernah di ungkap oleh Keynes tahun 1930-an diungkapkan lagi dan merupakan bahasan inti dari buku ini. Lebih lanjut dikatakan, jika kata kunci dalam ekonomi klasik menurut Adam Smith adalah tangan yang tidak kelihatan (invisible hand), maka kata kunsi ekonomi versi Keynes adalah nfsu kebinatangan yang telah memberi sudut pandang yang berbeda dalam memandang ekonomi kapitalis.

Berbeda dengan Adam Smith yang percaya pada kedigdayaan tangan-tangan yang tidak kelihatan dalam mengatur ekonomi, sehingga menciptakan teori tentang peran minimal pemerintah dalam lapangan ekonomi, Keynes berpendapat bahwa peran pemerintah dalam lapangan ekonomi adlah sama dengan peran orang tua dalam sebuah keluarga. Seperti halnya orang tua, pemerintah juga berkewajiban member rumah yang menyenangkan bagi anggota keluarga, dimana mereka bisa member kebebasan pada anak-anaknya sekaligus juga mampu melindunginya dari tindakan tercela dari anak-anak itu. Pemerintah harus bisa mengatur dan mengendalikan para pelaku ekonomi dari watak jelek yang kemungkinan muncul.

Secara khusus Arkelof dan Shiller menyebutkan terdapat lima kelompok nafsu kebinatangan yang ada pada diri manusia.

Pertama , kepercayaan (confidence). Manusia dalam mengambil keputusan tidaklah benar-benar rasional, melainkan lebih berdasarkan keyakinan dari keputusan yang diambil. Walaupun dia memproses informasi yang datang kepadanya secara rasional, manusia masih saja bisa bertindak secara irasional. Manusia bertindak tidak semata-mata berdasarkan hal-hal yang rasional , melainkan bertindak sesuai atas dasar keyakinan bahwa apa yang diputuskan adalah sesuatu yang diyakini paling benar , dan hal ini sering terjadi.  Dari sini kemudian muncul istilah pengganda kepercayaan (confidence multiplier) yang diperlukan untuk mengatasi krisis yang terjadi. Oleh karenanya dalam mengatasi krisis ekonomi sekarang ini bukan hanya injeksi modal dalam lapangan ekonomi tetapi diperlukan pula injeksi kepercayaan. Jika kepercayaan telah ada, kepercayaan itu akan mengganda untuk kembali menggerakkan roda ekonomi. Paket ijeksi ekonomi dalam paket besar yang telah disediakan pemerintah saat ini, tidak akan berarti tanpa adanya kepercayaanyang memadai dari apra pelaku ekonomi bahwa kondisi ekonomi menuju pada arah perbaikan.

Kedua , keadilan (fairness). Pertimbangan akan masalah diperlakukan adil atau tidak ternyata dapat lenih berpengaruh daripada motivasi ekonomi yang rasional.

Ketiga, keyakinan yang buruk (bad faith). Ini yang menjelaskan kenapa bisa terjdi kasus skandal korupsi yang semakin marak akhir-akhir inI.

Kempat , ilusi uang (money illusion). Ekonom pada umumnya berasumsi bahwa orang akan mempertimbangkan masalah inflansi, padahal sebenarnya tidak. Orang secara umum tidak akan mempertimabngkan masalah inflansi , khisusnya ketika tingkat inflansi rendah.

Kelima, cerita (stories). Asumsi yang telah berurat berakar sering dipandang sebagai sesuatu yang benar padahal tidak selamanya demikian. Sebagai contoh , bhawa harga rumah akan selalu naik, menjadikan orang sangat mudah mengambil keputusan untuk membeli rumah, padahal kenyataannnya harga rumah bisa saja turun.

Kelima factor ekonmi yang lebih bersifat psikologis, tetapi berpotensi besar dalam mempengaruhi perilaku ekonomi sesorang. Selain membahas tentang cirri nafsu kebinatangan dalam ekonomi, buku ini juga menbahas berbagai solusi atas pemasalahan ekonomi dengan menggunakan sudut pandang yang terkait dengan cirri-ciri yang terdapat dalam nafsu keinatangan manusia. Terdapat 9 permasalahan ekonomi yang dibahas dalam buku ini. Dari masalah mengapa ekonomi mengalami depresi hingga mengapa kemiskinan selalu melanda kelompok minoritas. Masing-masing persoalan ekonomi kontemporer itu dijawab dengan elegan dan mengasikkan berdasarkan sudut pangan yang baru yang terkait dengan masalah nafsu kebinatangan yang ada dalam ekonomi.

Terkait dengan kapitalisme, penulis buku ini menyatakan bahwa kita telah lupa akan pelajaran yang bisa diambil dari krisis besar yang terjadi pada tahun 1930-an. Kapitailsme memag daoat mendatangkan kemakmuran. Namun hal itu hanya akan terjadi jika pemerintah menetapkan suatu aturan dan betindak sebagai wasit yang adil. Kapitalisme harus hidup  dalam kerangka aturan tertentu. Tidak bisa bebas seenaknya saja. Pasalnya dalam ekonomi terdapat nafsu kebinatangan yang merusak , yang hanya bisa dikendalikan oleh aturan permainan yang dokeluarkan oleg pemerintah.

Teori ekonomi perilaku selama ini hanya diterapkan dalam kancah ekonomi mikro. Buku ini memberikan pendapat yang kuat bahwa teori ekonomi perilakudfapat pula diterapkan dalam ekonomi makro. Ditengah krisis ekonomi yang melanda dunia saat ini , merupakan alas an yang tepat untuk mengkaji teori ekonomi perilaku untuk member solusi permasalahan ekonomi makro, yang beberapa diantaranya telah diungkapkan dalam buku ini.

Buku ini penting dibaca oleh para pengambil kebijakan dalam dunia ekonomi, karena disamping dapat member pandangan alternative terhadap solusi masala ekonomi, juga karena ditulis oleh orang yang b erpengalaman dalam bidangnya, George A.Arkelof adalah perintis ekonomi perilaku (behavioral economic) dari University of California Berkeleydan penerima hadiah nobel ekonomi tahun 2001. Sementara Robert J.Shiller adalah professor ekonomi dari Yle University dan pengaranh buku best seller dalam ilmu ekonomi perilaku yang berjudul Irrational Exuberance.

Buku ini merupakan salah satu buku terkini yang mencoba mengedepankan teori ekonomi perilaku dalam mengatasi tanyangan ekonomi yamg ada.

Karya : Dian Sukma Kurnianingtyas (Sastra Jepang / Semester 2, STBA JIA Bekasi, Juli 2010)

Iklan